Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan kepada Allah SWT, yang mana atas limpahan rahmat dan hidayah Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini. Dimana dalam tugas makalah Anatomi Fisiologi Manusia yang berjudul glukokortikoid. Makalah ini menjelaskan mengenai bagaimana sekresi glukokortikoid serta perannya dalam tubuh. Penyusun berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya. Namun makalah ini masih banyak kekurangannya. Karena itu penyusun membutuhkan kritik dan saran yang dapat membangun makalah ini. Tak lupa pula penyusun ucapakan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.

Pekanbaru, 23 Desember 2011

Penyusun

GLUKOKORTIKOID

PENDAHULUAN Glukokortikoid bahasa Inggris Glucocorticoids, glukokortikoid adalah golongan hormon steroid yang memberikan pengaruh terhadap metabolisme nutrisi. Penamaan glukokortikoid glukosa + korteks + steroid menunjukkan keberadaan golongan ini sebagai regulator glukosa yang disintensis pada korteks adrenal dan mempunyai struktur steroid. Hormon golongan glukokortikoid mengaktivasi konversi protein menjadi glukosa melalui lintasan glukoneogenesis di dalam hati dan menstimulasi konversi lebih lanjut menjadi glikogen. Peningkatan senyawa nitrogen pada urin yang terjadi setelah peningkatan glukokortikoid merupakan akibat dari mobilisasi asam amino dari protein yang mengalami reaksi proteolitik dan adanya senyawa glukoneogenesis. Glukokortikoid juga merupakan hormon steroid dari kelas kortikosteroid, yang memiliki kapasitas untuk membinasakan limfosit, mengembangkan timosit dan menginduksi apoptosis, sehingga sering digunakan untuk penanganan peradangan seperti artritis, collagen vascular diseases, radang paru dan asma, beberapa jenis radang hati, beberapa penyakit kulit dan granulomatous diseases, sub-akut tiroiditis dan amiodarone-associated thyroiditis. Pada model tikus, glukokortikoid menyebabkan apoptosis pada prekursor sel T CD8+ yang disebut splenosit CD8+, namun tidak pada sel T CD8+ dewasa, yang disebut sel T pmel-1 CD8+, dan tidak menghambat aktivitas anti-tumor yang diemban sel T CD8+ tersebut. Seperti halnya hormon lain dalam golongan kortikosteroid, glukokortikoid juga memengaruhi fungsi kelenjar tiroid. Pada dosis tinggi, glukokortikoid menurunkan laju konversi hormon T4 ke T3, menurunkan sekresi hormon TSH dari kelenjar hipofisis, menginduksi hiperkatabolisme dan malnutrisi. Kortikosteroid adalah suatu kelompok hormon steroid yang dihasilkan di bagian korteks kelenjar adrenal sebagai tanggapan atas hormon adrenokortikotropik (ACTH) yang dilepaskan oleh kelenjar hipofisis, atau atas angiotensin II. Hormon ini berperan pada banyak sistem fisiologis pada tubuh, misalnya tanggapan terhadap stres, tanggapan sistem kekebalan tubuh, dan pengaturan inflamasi, metabolisme karbohidrat, pemecahan protein, kadar elektrolit darah, serta tingkah laku. karbon yang terjadi sepanjang lintasan

Kortikosteroid dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan atas aktivitas biologis yang menonjol darinya, yakni glukokortikoid (contohnya kortisol) yang berperan mengendalikan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, juga bersifat anti inflamasi dengan cara menghambat pelepasan fosfolipid, serta dapat pula menurunkan kinerja eosinofil. Kelompok lain dari kortikosteroid adalah mineralokortikoid (contohnya aldosteron), yang berfungsi mengatur kadar elektrolit dan air, dengan cara penahanan garam di ginjal. Beberapa kortikosteroid menunjukkan kedua jenis aktivitas tersebut dalam beberapa derajat, dan lainnya hanya mengeluarkan satu jenis efek. Hormon kortikosteroid dihasilkan dari kolesterol di korteks kelenjar adrenal yang terletak di atas ginjal. Reaksi pembentukannya dikatalisis oleh enzim golongan sitokrom P450. Hormon korteks adrenal semuanya tidak menyebabkan efek yang tepat sama dalam tubuh. Dua jenis hormon utama, mineralkortikoid dan glukokrtikoid yang disekresikan oleh korteks adrenal. Selain kedua hormon ini, hormon-hormon androgen juga juga disekresi dalam jumlah kecil, yang menunjukkan efek yang sama dalam tubuh sebagai hormon seks pria, testosteron. Hormon ini dalam keadaan normal tidak penting, walaupun pada kelainan korteks adrenal tertentu dapat disekresi dalam jumlah yang ekstrem dan kemudian dapa mengakibatkan efek maskulinsasi. Glukokrtikoid, mendapat nama tersebut karena mereka menunjukkan efek penting yang meningkatkan konsentraasi glukosa darah. Akan tetapi, glukokortikoid mempunyai efek tambahan pada metabolisme protein dan lemak yang mungkin sama pentingnya dalam fungsi tubuh seperti efeknya pada metabolisme karbohidrat. Aldosteron paling sedikit menunjukkan 95% aktivitas mineralkortikoid dari sekresi korteks adrenal, tetapi kortisol, glukokortikoid utama yang disekresi oleh korteks adrenal juga memberikan aktivitas mineralkortikoid dalam jumlah sedikit. Steroid-steroid adrenal lain yang kadang-kadang mempunyai efek mineralkortikoid yang bermakna adalah kortikosteron yang juga menunjukkan efek glukokortikoid dan deoksikortikosteron yang disekresi dalam jumlah sedikit tetapi mempunyai efek yang hampir sama seperti aldosteron dengan kekuatan satu pertiga belas kekuatan aldosteron.

FUNGSI GLUKOKORTIKOID Walaupun mineralkortikoid dapat menelamatkan hidup pada binatang yang mengalami adrenaloktomi akut, binatng tetap jauh dari normal. Sebagai gantinya, sistem metabolisme untukmenggunakan karbohidrat, protein dan lemak sangat terganggu. Selanjutnya tidak tahan terhadap berbagai jenis stres fisik dan mental dan sakit ringan seperti infeksi saluran pernapasan dapat mengakibatkan kematian. Oleh karena itu, glukokortikoid mempunyai fungsi yang hampir sama pentingnya dengan mineralkortikoid untuk mempertahankan hidup untuk waktu yang lama.

Paling sedikit 95 % aktivitas glukokortikoid dari sekresi korteks adrenal akibat dari sekresi kortisol, yang juga dikenal sebagai hidrokortison. Selain itu, sejumlah kecil aktivitas glukokortikoid diberikan oleh kortikosteron dan dalam jumlah kecil oleh kortison.

1. Efek Kortisol Atas Metabolisme Karbohidrat Hingga saat ini efek metabolisme yang paling dikenal dari kortisol dan glukokortikod lain pada metabolisme adalah kemampuannya merangasang glukogenesis oleh hati, sering meningkatkan kecepatan glukoneogenesis sebanyak 6-10 kali. Hal ini akibat dari beberapa efek kortisol: Pertama, kortisol meningkatkan transpor asam amino dari cairan ekstrasel masuk sel-sel hati. Hal ini jelas meningkatkan peresdiaan asam amino untuk diubah menjadi glukosa. Kedua, beberapa enzim yang dibutuhkan untuk mengubah asam amino menjadi glukosa meningkat dalam sel hati. Juga konsentrasi RNA menigkat dalam sel hati. Oleh karena itu, diduga bahwa glukokortikoid mengaktifkan pembentukan inti yang selanjutnya menyebabkan penyusunan enzim-enzim yang dibutuhkan untuk glukoneogenesis. Ketiga, kortisol menyebabkan mobilisasi asam amino dari jaringan ekstra-hepatik, terutama dari otot. Sebagai akibatnya, banyak asam amino yang tersedia di dalam plasma untuk amsuk kedalam proses glukoneogenesis dalam hati dan karena itu mempermudah pembentukan glukosa. Jadi diketahui bahwa glukokortikoid sedikit menekan transport glukosa kedalan sel, yang mungkin merupakan faktor tambahan yang menekan penggunaan glukosa sel. Bila terdapat karbohidrat dalam jumlah normal pad sel, glandula hipofisis anterior karena alasan yang sepenuhnya tidak diketahui saat ini, mulai menyekresi kortikotropin dalam jumlah meningkat, yang merangsang korteks adrenal untuk menghasilkan sejumlah besar hormon gluokortikoid khususnya kortisol. Selanjutnya kortisol memobilisasi protein pada hakekatnya pada semua sel tubuh menyebabkan ia tersedia dalm bentuk asam amino dalam cairan tubuh. Sebagian besar asam amino ini segera mengalami deminasi dalam hati dan karena itu menyediakan substrat yang ideal untuk perubahan menjadi glukosa. Jadi salah satu cara terpenting agar glukoneogenesis dipermudah adalah melalui pengeluaran glukokortikoid dari korteks adrenal. 2. Efek Kortisol Pada Metabolisme protein Salah satu efek kortisol yang paling penting pada sistem metabolisme tubuh adalah penguraian cadangan protein yang pada hakekatnya terjadi pada semua sel tubuh kecuali hati. Hal ini disebabkan oleh pengurangan sintesis protein dan peningkatan katabolisme protein yang telah terjadi dalam sel. 3. Efek Kortisol Pada Metabolisme Lemak

Dengan cara yang banyak persamaannya, kortisol meningkatkan mobilisasi asam amino dari otot, kortisol juga meningkatkan mobilisasi asam lemak dari jaringan adiposa. Hal ini selanjutnya meningkatkan konsentrasi asam lemak bebas dalam plasma, yang juga meningkatkan penggunaannya untuk energi. Kortisol secara moderat meningkatkan oksidasi asam lemak dalam sel juga, mungkin akibat sekunder terhadap berkurangnya persediaan hati-hati glikolitik untuk metabolisme. Peningkatan mobilisasi lemak, bersamaan dengan peningkatan oksidasinya dalam sel merupakan salah satu faktor yang membantu menggeser sistem metabolisme sel pada saat kelaparan atau stress lain dan penggunaan glukosa untuk energi ke penggunaan asam lemak sebagai penggantinya. Akan tetapi mekanisme kortisol ini memerlukan waktu beberapa jam agar dapat bekerja sepenuhnya, tidak secepat atau sekuat efek pergeseran serupa yang ditimbulkan oleh penurunan insulin. Walaupun demikian, mungkin ini merupakan faktor penting untuk konversi jangka panjang glukosa dan glikogen tubuh. 4. Efek Lian Kortisol Beberapa jenis stres yang meningkatkan pengeluaran kortisol adalah sebagai berikut : a. Hampir semua jenis trauma b. Infeksi c. Panas atau dingin hebat d. Penyuntikan norepinefrin dan obat simpatomimetik lain e. Operasi pembedahan f. Penyuntikan zat-zat penyebab nekrosis dibawah kulit g. Pengikatan sehingga tidak dapat bergeraj h. Hampir setiap penyakit yang melemahkan. Jadi, sangat banyak rangsang nonspesifik yang dapat menebabkan peningkatan jelas kecepatan sekesi kortisol oleh korteks adrenal.

PENGARUH SEKRESI KORTISOL HORMON ADRENOKORTIKOTROPIN (ACTH) Tidak seperti sekresi aldosteron oleh korteks adrenal, yang terutama diatur oleh kalium dan angiotensin yang bekerja langsung pada sel korteks adrenal sendiri, hampir tidak ada rangsangan yang berefek langsung pada sel adrenal untuk mengatur sekresi kortisol. Sebagai gantinya, sekresi kortisol hampir seluruhnya diatur oleh hormon adrenokortikotropin (ACTH) yang disekresi oleh kelrnjar hipofisis anterior. Hormon ini juga dinamakan kortikotropin atau adrenikortikotropin, yang juga meningkatkan pembentukan adrogen adrenal oleh korteks adrenal. ACTH dalam jumlah sedikit dibutuhkan untuk sekresi aldosteron, memberikan peranan primisif yang memungkinkan faktor lain yang lebih penting untuk menimbulkan pengaturannya yang lebih kuat.

Dengan cara yang sama seperti hormon-hormon hipofisis anterior diatur oleh releasing factor dari hipotalamus. Releasing factor juga penting dalam pengaturan sekresi ACTH. Corticotropin releasing hormon (CRH) disekresi terutama dalam pleksus kapiler primer sistem portal hipofisis kedalam emenensia mediana hipotalamus yang kemudian diangkut kekelenjar hipofisis asnterior, tempat ia merangsang sekresi ACTH. Kelenjar hipofisis anterior dapat mensekresi ACTH dalam jumlah sedikt tanpa adanya CRH, tetapi sebagian besar keadaan yang menyebabkan timbulnya sekresi ACTH yang tinggi memulai sekresi ini dengan isyarat yang mulai pada hipotalamus yang kemudian dihantarkan oleh CRH ke kelenjat hipofisis anterior. Hampir setiap jenis stres fisik atau mental dapat mengakibatkan peningkatan sekresi ACTH dan akibatnya kortisol dalam jumlah besar dalam beberapa menit. Sering meningkatnya kortisol sebanyak 20 kali. Misalnya, diakui bahwa rangsang nyeri atau isyarat saraf jenis lain yang disebabkan oleh stres mula-mula dihantarkan keberbagai area di hipotalamus dan selanjutnya isyarat in dipancarkan kembali keemenensia mediana, tempat CRH disekresi kedalam sistem porta hipofisis. Dalam beberapa menit seluruh rangkaian pengaturan mengakibatkan kortisol dalam darah meningkat dalam jumlah besar. Kortisol mempunyai efek umpan balik negatif langsung pada hipotalamus untuk menurunkan pembentukan CRH dan kelenjar hipofisis anterior yang menngurangi pembentukan ACTH. Umpan balik ini membantu mengatur konsentrasi kortisol plasma. Yaitu bila konsentrasi terlalu besar, umpan balik ini sevara otomatis mengurangi konsdentrasi ini kembali ketingkat pengaturan normal. Kunci penting pengaturan ini adalah eksitasi hipotalamus oleh berbagai jenis stres. Hal ini mengaktifkan seluruh sistem untuk menyebabkan pengeluaran kortisol dengan cepat, dan kortisol selanjutnya menimbulkan serangkaian efek metabolisme yang diatahkan untuk menghilangkan sifat merusak pada keadaan stres. Selain itu juga terdapat umpan langsung kortisol terhadap hipotalamus dan kelenjar hipofisis anterior untuk menstabilkan konsentrasi kortisol dalam plasma pada saat tubuh tidak berada dalam kedaan stres. Akan tetapi rangsangan stres merupakan rangsang prepoten mereka selalu dapat merusak pengaturan umpan ballik penghambat langsung kortisol.

Efek glukokortikoid antara lain : 1. meningkatkan glukoneogenesis, yaitu pembentukan glukosa dari protein, sehingga beresiko meningkatkan kadar gula darah. Karena itu, orang dengan resiko diabetes dapat mengalami kenaikan kadar gula darah yang nyata. 2. efek katabolik, yaitu mengurai protein sehingga mengurangi pembentukan protein, termasuk protein yang diperlukan untuk pembentukan tulang. Akibatnya terjadi osteoporosis atau keropos tulang, karena matriks protein tulang menyusut. Efek ini

juga menyebabkan gangguan pertumbuhan jika digunakan pada anak-anak dalam jangka waktu lama. 3. mempengaruhi metabolisme lemak tubuh dan distribusinya, sehingga menyebabkan pertambahan lemak di bagian-bagian tertentu tubuh, yaitu di wajah (jadi membulat), bahu, dan perut. 4. mengurangi menghambat proses radang, sehingga merupakan obat pilihan berbagai penyakit peradangan, 5. menurunkan fungsi jaringan limfa sehingga menyebabkan berkurangnya dan mengecilnya sel limfosit. Efek ini menyebabkan menurunnya kekebalan tubuh atau imunosupresan.Sedangkan efek mineralokortikoid utamanya adalah mengatur keseimbangan garam mineral dan air dalam tubuh

KESIMPULAN

Hormon glukokortikoid adalah hormon yang dihasilkan pada bagian korteks adrenal. Salah satu bentuk hormon glukokortikoid adalah kortison. Dengan adanya rangsangan stress pada hipotalamus akan mengaktifkan adrenokortikotropin (ACTH) yang akan mensekresikan kortison pada korteks adrenal. Glukokortikoid sangat berperan dalam metabolime karbohidrat terutama dalam proses glukoneogenesis, selain itu juga berperan dalam metabolisme protein, lemak, dan lisosom.

DAFTAR PUSTAKA

Guyton, arthur C. 1987. Guyton fisiologi manusia dan mekanisme penyakit.penerbit buku kedokteran ECG http://artikelkedokteran.net/news/jenis2golonganhormongluokortikoid.html Http://id.wikipedia.org/wiki/glukokortikoid http://artikelkedokteran.net/news/hormonglukokortikoiddanjenis2obatglukokortikoid. html http://artkelkedokteran.net/news/jurnalsistemendokrinhormonglukokortikoid.pdf.html

ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA GLUKOKORTIKOID

OLEH : KELOMPOK 4 Sarjono (1001089) Septaria (1001090) Siti Fatimah (1001091) Soraya Eka Putri (1001092) Suci Ramadhani(1001094) Sulfa Anggraini(1001095) Sumardyanto(1001096) Syamsul Khairi(1001097) Syarifah Istiqomah(1001099) Titi Sunjaya (1001100) Tri Haryani (1001101)

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU PEKANBARU 2011