Anda di halaman 1dari 32

Kultur Jaringan 2012

K U LT U R JA R I N GA N
PENINGKATAN PRODUKSI METABOLIT SEKUNDER SECARA KULTUR JARINGAN Agrobacterium rhizogenes.

Oleh :

N urmawita

(1001071)
Dosen Pembimbing:
I r . Fetmi Silvina, MP

Program Studi S1 Farmasi Sekolah Tinggi Farmasi (STIFAR) Riau Pekanbaru 2012
BAB I

Kultur Jaringan 2012

PENDAHULUAN

1.1

LatarBelakang Perbanyakan tanaman atau propagasi tanaman dapat dilakukan secara generatif

atau secara vegetatif. Perbanyakan secara vegetatif dilakukan dengan menggunakan bagian dari tanaman tersebut. Secara konvensional teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif antara lain cangkok, stek, okulasi dan sebagainya. Sedangkan perbanyakan vegetatif secara modern dilakukan dengan teknik kultur jaringan. Kultur jaringan (Tissue Culture) atau Kultur In Vitro adalah suatu teknik untuk mengisolasi, sel, protoplasma, jaringan, dan organ dan menumbuhkan bagian tersebut pada nutrisi yang mengandung zat pengatur tumbuh tanaman pada kondisi aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman sempurna. Disebut sebagai kultur in vitro (bahasa Latin, berarti "di dalam kaca") karena jaringan dibiakkan di dalam tabung kaca, botol kaca, cawan Petri dari kaca, atau material tembus pandang lainnya. Kultur jaringan tanaman secara teoritis dapat dilakukan terhadap semua jaringan, namun masing-masing jaringan memerlukan komposisi media tertentu. Dasar teori teknik kultur jaringan adalah teori Totipotensi Sel yang dikemukakan oleh Schwann dan Schleiden (1838). Menurut mereka setiap sel memiliki kemampuan untuk tumbuh menjadi individu yang sempurna apabila diletakkan pada lingkungan yang sesuai. Keberhasilan kultur jaringan pertama kali dilakukan oleh Harberlandt (1902), dan dilanjutkan dengan berbagai penelitian, penemuan dan keberhasilan hingga sekarang.

Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif.

Kultur Jaringan 2012 Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang seragam dan identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar tanpa membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional, pengadaan bibit tidak tergantung musim, biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah. Teknik kultur jaringan tanaman kini dimanfaatkan secara luas untuk perbanyakan berbagai macam jenis tanaman, baik pada tanaman hortikultura (sayuran, buah, tanaman hias) serta pada tanaman keras (tanaman industri dan kehutanan). Sedangkan pada skala laboratorium untuk keperluan penelitian mencakup berbagai spesies tanaman, antara lain Mawar, Bugenvil, Sansivera, Puring, Anyelir, Gerbera, Melon, Begonia, African violet, Gladiol, dan masih banyak lagi. Di Indonesia, teknik kultur jaringan sudah dilakukan dalam skala komersial pada beberapa tanaman yaitu Berbagai jenis Anggrek, Pisang Cavendish, Pisang Abaca, Krisan, Jati, Anthurium, dan Tebu.

Kultur jaringan itu termasuk salah satu usaha untuk pengembang biakan tanaman dengan metode yang mutakhir. Karena dunia sudah mengalami perkembangan yang makin lama makin maju, maka dunia pengembangan pertanian

Kultur Jaringan 2012 juga mengalami kemajuan yang salah satunya adalah dengan teknologi bioteknologi kultur jaringan. Dengan ini maka untuk mengembangkan suatu tanaman yang langka akan semakin mudah dan tak perlu repot lagi dengan teknik teknik budidaya tanaman lainnya. Perbanyakan tanaman secara besar-besaran telah dibuktikan keberhasilannya pada perkebunan kelapa sawit dan tebu. Dengan cara kultur jaringan dapat klon suatu komoditas tanaman dalam relatif cepat. Manfaat yang dapat diperoleh dari kloning ini cukup banyak, misalnya: di luar pulau Jawa akan didirikan suatu perkebunan yang membutuhkan bibit tanaman dalam jumlah ribuan, maka sudah dapat dibayangkan betapa mahalnya biayanya hanya untuk trasnportasi saja. Hal ini dapat diatasi denga usaha kloning melalui budaya jaringan, karena hanya perlu membawa beberapa puluh botol planlet yang berisi ribuan bibit. Dengan cara ini dapat menghemat waktu dan biaya yang cukup banyak dalam persiapan pemberangkatan ataupun transportasinya. Pada ekspor anggrek, misalnya, orang luar negeri menghendaki bunga anggrek yang seragam baik bentuk maupun warnanya. Dalam hal ini dapat dipenuhi juga dengan usaha kloning. Bibit-bibit tanaman dari usaha mericlono (tanaman hasil budidaya meristem) akan berharga lebih mahal, karena induknya dipilih dari tanaman yang mempunyai sifat paling bagus (unggul). Kultur jaringan tanaman telah dikenal banyak orang sebagai usaha mendapatkan varietas baru (unggul) dari suatu jenis tanaman dalam waktu yang relatif lebih singkat dari pada dengan cara pemuliaan tanaman yang harus dilakukan penanaman secara berulang-ulang sampai beberapa generasi.

Kultur Jaringan 2012 Untuk mendapatkan varietas baru melalui kultur jaringan dapat dilakukan dengan cara isolasi protoplas dari 2 macam varietas yang difusikan : 1. Dengan cara isolasi khloroplas suatu jenis tanaman yang dimasukkan kedalam protoplas jenis tanaman yang lain, sehingga terjadi penggabungan sifat-sifat yang baik dari kedua jenis tanaman tersebut hingga terjadi hibrid somatik. 2. Dengan menyuntikkan protoplas dari suatu tanaman ketanaman lain. Contohnya transfer khloroplas dari tanaman tembakau berwarna hijau ke dalam protoplas tanaman tembakau yang albino, hasilnya sangat memuaskan karena tanaman tembakau menjadi hijau pula. Contoh lain adalah keberhasilan mentrasnfer khloroplas dari tanaman jagung kedalam protoplas tanaman tebu hasilnya memuaskan (Anik Herawati, 1991).

1.2

Tujuan Adapun tujuan dari penulisah makalah ini yaitu mampu memahami dan

menjelaskan tujuan, manfaat, metode yang dikembangkan dan aplikasinya dalam perbanyakan, produksi metabolit sekunder, penelitian-penelitian fundamental dalam kultur jaringan tumbuhan, serta mampu melakukan tahapan-tahapan kerja dalam metoda kultur jaringan tumbuhan.

Kultur Jaringan 2012

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Kultur Jaringan Secara Umum Menurut Suryowinoto (1991), kultur jaringan dalam baha asing disebut sebagai tissue culture. Kultur adalah budidaya dan jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. jadi, kultur jaringan berarti

membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang mempunyai sifat seperti induknya. Kultur jaringan akan lebih besar presentase keberhasilannya bila menggunakan jaringan meristem. Jaringan meristem adalah jaringan muda, yaitu jaringan yang terdiri dari sel-sel yang selalu membelah, dinding tipis, plasmanyapenuh dan vakuolanya kecil-kecil. Kebanyakan orang menggunakan jaringan iniuntuk tissue culture. Sebab, jaringan meristem keadaannya selalu membelah,sehingga diperkirakan mempunyai zat hormon yang mengatur pembelahan. Teknik kultur jaringan sebenarnya sangat sederhana, yaitu suatu sel atau irisan jaringan tanaman yang sering disebut Eksplan secara aseptik diletakkan dan dipelihara dalam medium pada atau cair yang cocok dan dalam keadaan steril. Dengan cara demikian sebaian sel pada permukaan irisan tersebut akan mengalami proliferasi dan membentuk kalus. Apabila kalus cok, maka akan terbentuk tanaman kecil yang lengkapdan disebut planlet. Dengan teknik kultur jaringan ini hanya dari satu irisan kecil suatu jaringan tanaman dapat dihasilkan kalus yang dapat menjadi planlet dalma jumlah yang besar.

Kultur Jaringan 2012 Pelaksanaan teknik kultur jaringan tanaman ini berdasarkan teori sel seperti yang dikemukakan oleh Schleiden, yaitu bahwa sel mempunyai kemampuan autonom, bahkan mempunyai kemampuan totipotensi. Totipotensi adalah kemampuan setiap sel, darimana saja sel tersebut diambil, apabila diletakkan dilingkungan yang sesuai akan tumbuh menjadi tanaman yang sempurna. Teknik kultur jaringan akan berhasil dengan baik apabila syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi. Syarat-syarat tersebut meliputi pemilihan eksplan sebagai bahan dasar untuk pembentukkan kalus, penggunaan medium yang cocok, keadaan yang aseptik dan pengaturan udara yang baik terutama untuk kultur cair. Meskipun pada prinsipnya semua jenis sel dapat ditumbuhkan, tetapi sebaiknya dipilih bagian tanaman yang masih muda dan mudah tumbuh yaitu bagian meristem, seperti: daun muda, ujung akar, ujung batang, keping biji dan sebagainya. Bila menggunakan embrio bagian bji-biji yang lain sebagai eksplan, yang perlu diperhatikan adalah kemasakan embrio, waktu imbibisi, temperatur dan dormansi. 2.2 Manfaat Kultur Jaringan Kegunaan utama dari kultur jaringan adalah untuk mendapatkan tanaman baru dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat, yang mempunyai sifat fisiologi dan morfologi identik sama persis dengan induknya, dapat memperoleh sifatsifat yang dikehendaki, metabolit sekunder tanaman segera didapat tanpa menunggu tanaman dewasa. Dari teknik kultur jaringan tanaman ini diharapkan juga memperoleh tanaman baru yang bersifat unggul. Secara lebih rinci dan jelas berikut ini akan dibahas secara khusus kegunaan dari kultur jaringan terhadap berbagai ilmu pengetahuan. Perbanyakan tanaman secara besar-besaran telah dibuktikan

keberhasilannya pada perkebunan kelapa sawit dan tebu.

Kultur Jaringan 2012 Manfaat Kultur Jaringan Tanaman 1. Perbanyakan cepat dari klon Kecepatan multiplikasi sebanyak 5 akan memeberikan 2 juta plantlet dalam 9 generasi yang memerlukan waktu 9-12 bulan. 2. Keseragaman genetik Karena kultur jaringan merupakan perbanyakan vegetatif, rekombinasi karakter genetik acak yang umum terjadi pada perbanyakan seksual melalui biji, dapat dihindari. Karenanya, anakan yang dihasilkan bersifat identik. Akan tetapi, mutasi dapat terjadi pada kultur jaringan pada saat sel bermultiplikasi, terutama pada kondisi hormon dan hara yang tinggi. Mutasi genetik pada masa multiplikasi vegetatif ini, disebut variasi somaklonal. 3. Kondisi aseptik Pada kultur jaringan membutuhkan kondisi yang aseptik, sehingga pemeliharaan kultur pada tanaman dalam kondisi aseptik memberikan tanaman yang bebas patogen. 4. Seleksi tanaman Adanya kemungkinan untuk memiliki tanaman dalam jumlah besar pada wadah kultur yang relatif kecil. Variasi genetik mungkin terjadi juga kemungkinan untuk memberikan perlakuan kultur untuk meningkatkan kecepatan mutasi. Perlakuan dengan bahan kimia (bahan mutasi, hormon) atau fisik (radiasi) dapat dilakukan. 5. Stok mikro Memelihara stok tanaman dalam jumlah besar mudah dilakukan pada in vitro culture. Stok induk biasanya dipelihara in vitro, dan stom mikro diambil untuk diakarkan dikultur pengakaran atau dengan perbanyakan biasa. 6. Lingkungan terkontrol

Kultur Jaringan 2012 7. Konservasi genetik Kultur jaringan dapat digunakan untuk menyelamatkan spesies tanaman yang terancam (rare and endangered species). Metode dengan pemeliharaan minimal, penyimpanan jangka panjang telah dikembangkan. 8. Teknik kultur jaringan dapat digunakan utnuk menyelamatkan hibrida dari spesies yang tidak kompatibel melalui kultur embrio atau kultur ovule. 9. 10. 11. Tanaman haploid dapat diperoleh melalui kultur anther. Produksi tanaman dapat diperoleh sepanjang tahun. Perbanyakan vegetatif untuk spesies yang sulit diperbanyak secara normal dapat dilakukan melalui kultur jaringan. 2.3 Teori Dasar Kultur Jaringan Kultur jaringan/Kultur In Vitro/Tissue Culture adalah suatu teknik untuk mengisolasi, sel, protoplasma, jaringan, dan organ dan menumbuhkan bagian tersebut pada nutrisi yang mengandung zat pengatur tumbuh tanaman pada kondisi aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman sempurna kembali. Teori Dasar Kultur Jaringan a. Sel dari suatu organisme multiseluler di mana pun letaknya, sebenarnya sama dengan sel zigot karena berasal dari satu sel tersebut (Setiap sel berasal dari satu sel). b. Teori Totipotensi Sel (Total Genetic Potential), artinya setiap sel memiliki potensi genetik seperti zigot yaitu mampu memperbanyak diri dan

berediferensiasi menjadi tanaman lengkap. Sifat TOTIPOTENSIAL tanaman, dapat diterapkan untuk kultur jaringan. Kultur jaringan (sel) adalah mengkultur/membiakkan jaringan (sel) untuk memperoleh individu baru. Penemu F.C. Steward menggunakan jaringan floem akar wortel.

Kultur Jaringan 2012

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Regenerasi 1. Bentuk Regenerasi dalam Kultur In Vitro : pucuk aksilar, pucuk adventif, embrio somatik, pembentukan protocorm like bodies, dll. 2. Eksplan adalah bagian tanaman yang dipergunakan sebagai bahan awal untuk perbanyakan tanaman. Faktor eksplan yang penting adalah genotipe/varietas, umur eksplan, letak pada cabang, dan seks (jantan/betina). Bagian tanaman yang dapat digunakan sebagi eksplan adalah pucuk muda, batang muda, daun muda, kotiledon, hipokotil, endosperm, ovari muda, anther, embrio, dll. 3. Media Tumbuh. Di dalam media tumbuh mengandung komposisi garam anorganik, zat pengatur tumbuh, dan bentuk fisik media. Terdapat 13 komposisi media dalam kultur jaringan, antara lain: Murashige dan Skoog (MS), Woody Plant Medium (WPM), Knop, Knudson-C, Anderson dll. Media yang sering digunakan secara luas adalah MS. 4. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman Faktor yang perlu diperhatikan dalam penggunaan ZPT adalah konsentrasi, urutan penggunaan dan periode masa induksi dalam kultur tertentu. Jenis yang sering digunakan adalah golongan Auksin seperti Indole Aceti Acid(IAA), Napthalene Acetic Acid (NAA), 2,4-D, CPA dan Indole Acetic Acid (IBA). Golongan Sitokinin seperti Kinetin, Benziladenin (BA), 2I-P, Zeatin, Thidiazuron, dan PBA. Golongan Gibberelin seperti GA3. Golongan zat penghambat tumbuh seperti Ancymidol, Paclobutrazol, TIBA, dan CCC. 5. Lingkungan Tumbuh Lingkungan tumbuh yang dapat mempengruhi regenerasi tanaman meliputi temperatur, panjang penyinaran, intensitas penyinaran, kualitas sinar, dan ukuran wadah kultur.

10

Kultur Jaringan 2012 Zat pengatur tumbuh pada tanaman adalah senyawa organik bukan hara, yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat, dan dapat merubah proses fisiologi tanaman (Hendaryono & Wijayani, 1994). Menurut Heddy (1983) zat pengatur tumbuh mempunyai peranan yang penting terhadap pembelahan sel, perbesaran sel dan diferensiasi sel mulai perkembangan zigot sampai perkecambahan biji juga pada fase vegetatif dan reproduktifnya. Penggunaan zat pengatur tumbuh adalah untuk menambah kadar yang ada guna mempercepat pertumbuhan tanaman dengan harapan agar diperoleh hasil yang lebih cepat dan mungkin lebih besar (Kusumo, 1990). Hormon tanaman itu sendiri terbagi dalam beberapa kelompok diantaranya: auksin, giberelin, sitokinin, etilen dan retardan (Tjionger, 2006). Pada kultur embrio, keberhasilan perkecambahan in vitro juga ditentukan oleh media dan zat pengatur tumbuh yang ditambahkan ke dalam media untuk menggantikan peran endosperma (Kosmiatin & Mariska, 2005). Dalam kultur jaringan, ada dua golongan zat pengatur tumbuh yang sangat penting yaitu auksin dan sitokinin. Zat pengatur tumbuh ini mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur sel, jaringan dan organ. Interaksi dan keseimbangan zat pengatur tumbuh yang diberikan dalam media dan yang diproduksi oleh sel secara endogen menentukan arah perkembangan suatu kultur (Gunawan, 1995). Auksin Auksin adalah suatu hormon tumbuh yang tidak terlepas dari proses pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman. Pengaruh auksin terhadap perkembangan sel menunjukkan bahwa terdapat indikasi yaitu auksin dapat menaikkan tekanan osmotik, meningkatkan permeabilitas sel terhadap air, menyebabkan pengurangan tekanan pada dinding sel, meningkatkan sintesa protein, meningkatkan plastisitas dan pengembangan dinding sel (Abidin, 1983).

11

Kultur Jaringan 2012 Irvine et al., (1983) dalam katuuk (1989), melakukan percobaan kultur jaringan pada tanaman tebu, menemukan bahwa 2,4-D paling banyak berpengaruh untuk inisiasi kalus. Untuk induksi kalus tanaman berdaun lebar 2,4-D banyak digunakan dengan konsentrasi 1-3 mg/l. Sitokinin Sitokinin adalah turunan dari adenine. Golongan ini sangat penting dalam pengaturan pembelahan sel dan morfogenesis. Seperti juga auksin, sitokinin ada yang alamiah dan sintetis. Sitokinin yang pertama kali ditemukan adalah kinetin, yang diisolasi dari DNA ikan Herring yang diautoklaf dalam larutan yang asam oleh Skoog di Laboratorium Botany University of Wisconsin. Persenyawaan dari DNA tersebut sewaktu ditambahkan ke dalam media untuk tembakau dapat mempergiat pembelahan sel atau sitokinesis. Sitokinin mempengaruhi proses fisiologi dalam tanaman. Sitokinin juga berpengaruh di dalam perkembangan embrio (Wattimena, 1988).

2.4

Media In Vitro Media merupakan faktor utama dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.

Media adalah tempat bagi jaringan untuk tumbuh dan mengambil nutrisi yang mendukung kehidupan jaringan. Media tumbuh menyediakan berbagai bahan yang diperlukan jaringan untuk hidup dan memperbanyak dirinya. Media yang digunakan biasanya terdiri dari unsur hara makro dan mikro dalam bentuk garam mineral, vitamin, dan zat pengatur tumbuh (hormon). Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti gula, agar, arang aktif, bahan organik lain (air kelapa, bubur pisang, ekstrak buah, ekstrak kecambah) . Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol kaca dan disterilisasi. Komposisi media yang digunakan tergantung dari tujuan dan jenis tanaman yang dikulturkan.

12

Kultur Jaringan 2012 Media tanam kultur jaringan terdiri dari dua jenis yaitu media cair dan media padat. Media cair digunakan untuk menumbuhkan eksplan sampai terbentuk PLB (Protocorm Like Body). Media padat digunakan untuk menumbuhkan PLB sampai terbentuk planlet (tanaman kecil). Media padat dibuat dengan melarutkan nutrisi dan agar-agar ke dalam akuades dan disterilkan. Berdasarkan komposisi dan kesesuaian media terhadap jenis tanaman yang akan dikulturkan, dikenal beberapa jenis media dasar : Media VW yang diformulasikan dan diperkenalkan oleh E. Vacin dan F. Went (1949), untuk tanaman Anggrek. Media MS yang diformulasikan dan diperkenalkan oleh Murashige dan Skoog (1962) untuk berbagai tanaman hortikultura. Media Euwen untuk tanaman kelapa. Media B5 atau Gamborg, digunakan untuk kultur suspense sel kedelai, alfafa dan legume lain. Media White, untuk kultur akar. Media Woody Plant Madium (WMP) untuk tanaman berkayu. Media N6 untuk tanaman serealia. Media Nitsch dan Nitsch untuk kultur sel dan kultur tepung sari. Media Schenk dan Hildebrandt untuk tanaman berkayu. Dalam media tanam diberikan berbagai garam mineral, air, gula, asam amino, vitamin, zat pengatur tumbuh, pemadat media untuk pertumbuhan dan perkembangan, dan kadang-kadang arang aktif untuk mengurangi efek penghambatan dari persenyawaan polifenol (warna coklat hitam) yang keluar akibat pelukaan jaringan pada jenis-jenis tanaman tertentu. Gula, asam amino, dan vitamin ditambahkan karena eksplan yang ditanam tidak lagi sepenuhnya hidup secara autotrof melainkan secara heterotrof atau mendapat suplai organik (Gunawan, 1995).

13

Kultur Jaringan 2012 Media tanam dalam kultur jaringan adalah tempat untuk tumbuh eksplan. Media tanam ini harus berisi semua zat yang dibutuhkan untuk menjamin pertumbuhan eksplan. Dengan demikian keberhasilan kultur jaringan jelas ditentukan oleh media tanam dan macam tanaman. Campuran media yang satu mungkin cocok untuk jenisjenis tanaman lainnya (Rahardja, 1994).

Selain unsur hara, vitamin dan hormon, perlu juga diperhatikan adalah derajad keasaam (pH) media, yakni sekitar 4,8-5,6. Untuk menyesuaikan pH campuran media dapat ditambahkan larutan NaOH 0,1 N bila larutan terlalu asam (pH rendah). Sedangkan bila pH terlalu tinggi ditambah HCl 0,1 N untuk menurunkan pH sesuai dengan yang dikehendaki. 2.5 Keuntungan Pemanfaatan Kultur Jaringan Tumbuhan sangat penting tidak hanya sebagai bahan sandang, pangan, papan tetapi juga sebagai penghasil bermacam-macam senyawa kimia. Sebagian besar dari senyawa kimia yang diambil dari tumbuhan berupa metabolit sekunder (Mann, 1989). Metabolit sekunder merupakan hasil yang khas dari tumbuhan, dibentuk dan diakumulasikan pada bagian-bagian tertentu dari tumbuhan.

14

Kultur Jaringan 2012 Lindsey & Jones (1989) menyatakan bahwa manfaat metabolit sekunder adalah : a. b. Sebagai bahan-bahan kimia alami yang bernilai komersial. Berperan sebagai proteksi, digunakan tumbuhan untuk melawan penyakit, serangan serangga atau binatang pemangsanya (predator). Kultur jaringan yang berdasar pada teori totipotensi memiliki beberapa kegunaan diantaranya adalah untuk mendapatkan tanaman baru dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang relatif singkat, yang memiliki sifat fisiologi dan morfologi sama persis dengan tanaman induknya. Selain itu kultur jaringan juga mempunyai manfaat yang besar di bidang farmasi karena dari usaha ini dapat dihasilkan metabolit sekunder sebagai upaya pembuatan obat-obatan (Hendaryono & Wijayani, 1994). Menurut Tabata (1977) keuntungan produksi metabolit sekunder melalui kultur jaringan tumbuhan adalah sebagai berikut : 1. Melalui kultur jaringan tumbuhan dapat dibentuk senyawa yang bermanfaat dalam kondisi terkontrol dan dalam waktu yang relatif lebih singkat. 2. Sel-sel tumbuhan dapat diperbanyak dengan mudah untuk memperoleh metabolit tertentu. 3. Pertumbuhan sel secara otomatis terawasi dan proses metabolisme dapat diatur secara rasional. 4. Hasil produksi yang diperoleh lebih konsisten, baik dalam kualitas maupun kuantitas. 5. Melalui kultur jaringan tumbuhan dapat dibentuk senyawa baru yang tidak terdapat dalam tanaman induknya dan senyawa baru ini mungkin berguna untuk dikembangkan atau dimanfaatkan lebih jauh. 6. Kultur tidak bergantung pada kondisi lingkungan seperti keadaan geografis, iklim, musim dan tidak memerlukan lahan yang luas.

15

Kultur Jaringan 2012 2.6 Kekurangan Pemanfaatan Kultur Jaringan

1. Bagi orang tertentu, cara kultur jaringan dinilai mahal dan sulit. 2. Membutuhkan modal investasi awal yang tinggi untuk bangunan (laboratorium khusus), peralatan dan perlengkapan. 3. Diperlukan persiapan SDM yang handal untuk mengerjakan perbanyakan kultur jaringan agar dapat memperoleh hasil yang memuaskan. 4. Produk kultur jaringan pada akarnya kurang kokoh.

2.7

Kendala dan Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Propagasi In Vitro Disamping keberhasilan dan kemajuan teknik perbanyakan tanaman in vitro, ada

beberapa kendala yang masih dihadapi dalam pelaksanaan, antara lain: Keterbatasan peralatan dan fasilitas pendukung operasi. Kemampuan manajerial dan operasional personal laboran. Protokol / Prosedur yang tidak dapat berlaku untuk seluruh spesies tanaman. Harga bahan media relatif masih mahal. Perlu penyesuaian dengan standar industri.

2.8

Dampak yang Dihasilkan dengan adanya Pengembangan KJ

a. Bidang pertanian, perkebunan dan kehutanan akan lebih bergairah dengan tersedianya bibit unggul dengan harga yang relatif lebih murah dan kontinu. b. Produktifitas pertanian, perkebunan dan kehutanan akan semakin meningkat dengan dipakainya bibit berkualitas. c. Agribisnis sayuran dan buah-buahan dengan teknik budidaya yang intensif (hidroponik dan aeroponik) akan semakin berkembang dengan mudah didapatnya bibit-bibit yang diperlukan dengan harga yang murah. d. Dihasilkannya anggrek dan bunga potong dengan kualitas yang tinggi akan memacu agribisnis anggrek dan tanaman hias di daerah.

16

Kultur Jaringan 2012 e. Dihasilkannya kayu dengan jumlah yang memadai dengan kualitas yang tinggi.akan menjadikan daerah sebagai salah satu daerah pemasok kayu dengan kualitas yang tinggi. f. Terdapatnya varitas baru atau jenis unggul baru akan memacu produktifitas dan daerah dapat berperan sebagai pemasok jenis unggul baru yang berasal dari tanaman potensial endemik daerah. g. Dihasilkannya metabolit sekunder langsung dari laboratorium ke pabrik bersifat lebih stabil dan dapat direncanakan karena tidak terlalu dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Sehingga daerah dapat berperan sebagai pemasok kebutuhan bahan baku bioaktif bagi kebutuhan industri farmasi maupun industri tumbuhan obat tradisional. h. Terbentuknya sentra-sentra produksi akan meningkatkan dinamika agribisnis daerah sehingga perekonomian akan semakin berkembang dengan baik dan sehat. i. Dengan tersedianya bibit yang berkualitas dean mencukupi maka kebutuhan bibit untuk reboisasi akan terpenuhi sehingga program reboisasi dan rehabilitasi akan berjalan dengan baik sehingga daerah akan menjadi lebih hijau dan sehat. j. Dengan adanya kegiatan tersebut diatas akan membuka peluang terbukanya lapangan pekerjaan yang cukup besar sehingga dapat menyerap pengangguran dengan berbagai level pendidikan. k. Dengan kemampuan yang dapat dilakukan dengan kultur jaringan dalam memproduksi bibit unggul maka daerah dapat bersaing dengan luar negeri dalam hal pengadaan bibit unggul khususnya bibit unggul yang masih sulit di dapat maupun bibit unggul endemik daerah yang bibit tersebut tidak terdapat di luar negeri. (misalnya jenis-jenis endemik).

17

Kultur Jaringan 2012

BAB III METODE/ TEKNIK PENINGKATAN METABOLIT SEKUNDER SECARA KULTUR JARINGAN

3.1

Teknik Kultur Jaringan Kultur adalah budidaya, sedangkan jaringan adalah sekelompok sel yang

mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. Berarti kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan dan organ serta menumbuhkannya dalam kondisi aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali (Gunawan, 1999). Kegunaan utama dari kultur jaringan adalah untuk mendapatkan tanaman baru dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat, yang mempunyai sifat fisiologi dan morfologi sama persis dengan tanaman induknya (Hendaryono & Wijayani, 1994). Cara kerja kultur jaringan adalah berdasarkan prinsip totipotensi. Berdasarkan prinsip ini sebuah sel atau jaringan tumbuhan yang diambil dari bagian manapun akan dapat tumbuh menjadi tumbuhan sempurna jika diletakkan pada media yang cocok. Perbanyakan dengan sistem kultur jaringan harus dilakukan dalam keadaan steril (Widarto, 1996). Usaha pengembangan tanaman dengan kultur jaringan merupakan usaha perbanyakan vegetatif tanaman yang dapat dikatakan masih baru. Namun saat ini sudah banyak sekali penemuan-penemuan tentang ilmu pengetahuan kultur jaringan dalam bidang pertanian, biologi, farmasi, kedokteran, dan sebagainya (Hendaryono & Wijayani, 1994). Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan dalam wadah yang steril. Dengan demikian Kultur Jaringan Tanaman dapat

18

Kultur Jaringan 2012 didefinisikan sebagai teknik menumbuh kembangkan bagian tanaman, baik berupa sel, jaringan maupun organ dalam kondisi aseptik secara in vitro. Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah: 1) Pembuatan media 2) Inisiasi 3) Sterilisasi 4) Multiplikasi 5) Pengakaran 6) Aklimatisasi.

19

Kultur Jaringan 2012

1)

Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.

2)

Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas.

3)

Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.

4)

Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.

5)

Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri

20

Kultur Jaringan 2012 ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri). 6) Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif. Persyaratan Lokasi Laboratorium kultur jaringan hendaknya jauh dari sumber polusi, dekat dengan sumber tenaga listrik dan air. Untuk menghemat tenaga listrik, ada baiknya bila laboratorium kultur jaringan ditempatkan di daerah tinggi, agar suhu ruangan tetap rendah. Kapasitas Labotarium Ukuran laboratorium tergantung pada jumlah bibit yang akan diproduksi. Untuk ukuran laboratorium sekitar 250 m2, bibit yang dapat diproduksi tiap tahun sekitar 400500.000 planlet/bibit, yang dapat memenuhi pertanaman seluas 500800 ha. Dalam suatu laboratorium minimal terdapat 5 ruangan terpisah, yaitu gudang (ruang) untuk penyimpanan bahan, ruang pembuatan media, ruang tanam, ruang inkubasi (untuk pertunasan dan pembentukan planlet/bibit tanaman) dan rumah kaca. Peralatan Dan Bahan Kimia Untuk memproduksi bibit melalui kultur jaringan peralatan minimal yang perlu disediakan adalah: laminar air flow, pinset, pisau, rak kultur, AC, hot plate + stirrer, pH meter, oven, dan kulkas serta bahan kimia (garam makro + mikro, vitamin, zat pengatur tumbuh, asam amino, alkohol, clorox).

21

Kultur Jaringan 2012

Proses Produksi Proses perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan terdiri atas seleksi pohon induk (sumber eksplan), sterilisasi eksplan, inisiasi tunas, multiplikasi, perakaran, dan aklimatisasi seperti terlihat pada diagram. Sumber Eksplan Eksplan adalah bagian dari tanaman yang digunakan dalam mikropropagasi atau kultur jaringan tanaman. Seluruh bagian tanaman (daun, batang, dan akar) dapat dipergunakan sebagai eksplan, namun yang biasanya dipergunakan adalah meristem (jaringan muda), mata tunas dan tunas pucuk (shoot tip). Eksplan dapat juga berupa embrio (kelapa), benih (anggrek), biji (sengon), umbi (wortel), keping biji (kotiledon), benang sari dan putik.

Eksplan diambil dari tanaman, baik tanaman yang tumbuh di lapang atau tanaman hasil kultur jaringan in vitro. Calon tanaman induk sebaiknya adalah tanaman yang diketahui varietasnya dan dari jenis yang unggul. Tanaman induk dipilih yang sehat dan sedang dalam fase pertumbuhan cepat (bersemi). Sebelum dilakukan pengambilan bagian tanaman yang akan dipergunakan sebagai eksplan, tanaman induk yang tumbuh di lapang, perlu disemprot dengan fungisida dan insektisida untuk mencegah serangan hama dan penyakit tanaman.

22

Kultur Jaringan 2012 Pembuatan eksplan dari bahan induk dilakukan dengan mempergunakan peralatan yang bersih dan tajam. Eksplan selanjutnya dibawa ke dalam laboratorium untuk dilakukan sterilisasi. Tahapan sterilisasi, bahan sterilisasi, dan durasi sterilisasi tiap jenis eksplan tidak sama, namun secara umum sterilisasi eksplan dilakukan dengan mencuci eksplan dalam air bersih yang mengalir, merendam dalam larutan deterjen, merendam dalam larutan fungisida, merendam dalam larutan sublimat (HgCl2), sterilisasi bertingkat dengan larutan Clorox (pemutih pakaian, Bayclin), serta pembilasan dengan aquadest steril.

3.2

Teknik Kultur Jaringan Sederhana Teknik kultur jaringan sangat sederhana, yaitu suatu sel atau irisan jaringan

tanaman yang sering disebut eksplan secara aseptik diletakkan dan dipelihara dalam medium pada atau cair yang cocok dan dalam keadaan steril. dengan cara demikian sebaian sel pada permukaan irisan tersebut akan mengalami proliferasi dan membentuk kalus. Apabila kalus yang terbentuk dipindahkan kedlam medium diferensiasi yang cocok, maka akan terbentuk tanaman kecil yang lengkap dan disebut planlet. Dengan teknik kultur jaringan ini hanya dari satu irisan kecil suatu jaringan tanaman dapat dihasilkan kalus yang dapat menjadi planlet dalam jumlah yang besar.

Pelaksanaan teknik kultur jaringan tanaman ini berdasarkan teori sel sperti yang dikemukakan oleh Schleiden, yaitu bahwa sel mempunyai kemampuan autonom, bahkan mempunyai kemampuan totipotensi.

23

Kultur Jaringan 2012 Totipotensi adalah kemampuan setiap sel, darimana saja sel tersebut diambil, apabila diletakkan dilingkungan yangsesuai akan tumbuh menjadi tanaman yang sempurna.Teknik kultur jaringan akan berhasil dengan baik. Kultur jaringan secara umum dibagi menjadi 5 kelas berdasar atas bahan yang menjadi eksplan: 1. Kultur kalus. Merupakan kultur dari masa sel pada media agar dan dihasilkan dari tanaman eksplan . 2. Kultur sel merupakan kultur sel dalam media cair dengan wadah yang diaerasi dengan agitasi. 3. Kultur organ merupakan kultur aseptik dari embrio, serbuk sari,akar,tunas atau organ tanaman yang lain pada media nutrisi. 4. Kultur meristem dan morfogenensis merupakan kultur aseptik dari meristem tunas atau eksplan jaringan lainnya pada media nutrisi dengan tujuan untuk menumbuhkan tanaman lengkap. 5. Kultur protoplas merupakan kultur dari sel-sel yang dinding selnya telah dihilangkan atau dipisahkan (gamborg dan shyluk, 1981, plan tissue culture new york, academic press). 3.3 Metode Perbanyakan dengan Kultur Jaringan Agrobacterium rhizogenes Metode perbanyakan tanaman secara in vitro dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu melalui perbanyakan tunas dari mata tunas apikal, melalui pembentukan tunas adventif, dan embriogenesis somatik, baik secara langsung maupun melalui tahap pembentukan kalus. Ada beberapa tipe jaringan yang digunakan sebagai eksplan dalam pengerjaan kultur jaringan. Pertama adalah jaringan muda yang belum mengalami diferensiasi dan masih aktif membelah (meristematik) sehingga memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi. Jaringan tipe pertama ini biasa ditemukan pada tunas apikal, tunas aksiler, bagian tepi daun, ujung akar, maupun kambium batang.

24

Kultur Jaringan 2012 Tipe jaringan yang kedua adalah jaringan parenkima, yaitu jaringan penyusun tanaman muda yang sudah mengalami diferensiasi dan menjalankan fungsinya. Contoh jaringan tersebut adalah jaringan daun yang sudah berfotosintesis dan jaringan batang atau akar yang berfungsi sebagai tempat cadangan makanan. Akar berambut adalah anak akar yang berupa akar kecil berbentuk seperti rambut halus. Sedangkan yang dimaksud dengan kultur akar berambut adalah suatu metode budidaya akar berambut secara invitro dengan kondisi yang terkendali dan aseptis. Kultur akar merupakan kultur jaringan akar yang hidup dan berdiferensiasi secara terorganisir membentuk biomasa akar tanpa kehadiran tipe organ lain dari tanaman seperti batang, tunas ataudaun secara in vitro (Payne et al. 1992). Akar yang dikulturkan dapat berupa akar normal atau akar transgenik hasil transformasi genetik. Kultur akar normal diperoleh dengan menanam ujung akar tanaman atau kecambah secara in vitro dalam media yang mengandung zat pengatur tumbuhtanaman. Sedangkan kultur akar transgenik diperoleh dengan menanam akar rambut (hairy root)yang dihasilkan dari transformasi genetik dengan bantuan Agrobacterium rhizogenes. Akar yang dikulturkan dapat berupa akar normal atau akar transgenik hasil transformasi genetik. 1. Kultur akar normal diperoleh dengan menanam ujung akar tanaman atau kecambah secara in vitro dalam media yang mengandung zat pengatur tumbuh tanaman (ZPT). 2. Kultur akar transgenik diperoleh dengan menanam akar rambut (hairy root) yang dihasilkan dari transformasi genetik dengan bantuan bakteri tanah Agrobacterium rhizogenes. Transformasi genetik dengan Agrobacterium rhizogenes diketahui dapat menginduksi pembentukan akar rambut akibat proses transfer T-DNA dari Ri- (root inducing) plasmid ke genom tanaman (dalam sel) (Payne et al. 1992;

25

Kultur Jaringan 2012 Nillsson & Olson 1997 sit Sukma Dewi,2004) melalui pelukaan. T- DNA akan mengekspresikan gen-gen untuk mensintesis senyawa opin dan mengandung onkogen yang berperan untuk menyandi hormon pertumbuhan auksin dan sitokinin. Kegunaan Agrobacterium rhizogenes Kultur akar berambut digunakan untuk mengantisipasi ketidakmampuan kultur sel menghasilkan metabolit sekunder karena sel belum berdiferensiasi. Teknik merupakan metode yang ideal untuk mempelajari kandungan senyawa aktif yang diproduksi tanaman karena akar rambut dapat melakukan sintesis senyawa aktif yang diinginkan dan dapat tumbuh stabil dalam media in vitro (Savary & Flores 1994; Toppi et al. 1996). Kultur akar berambut merupakan kultur organ pada teknik kultur jaringan tanaman yang utamanya digunakan untuk memproduksi metabolit sekunder. Kaitan Kultur Akar Berambut dengan Metabolit Sekunder Kultur akar berambut yang telah dilakukan yaitu kultur dari akar yang merupakan hasil transformasisel tanaman dengan Agrobacterium rhizogenes. Agrobacterium merupakan bakteri tanah yangmempunyai kemampuan untuk mentransfer T-DNA dari plasmid yang dikenal dengan Ri plasmid(root inducing plasmid) ke dalam sel tanaman melalui pelukaan (Nilson & Olsson, 1997). Prosesnya adalah sebagai berikut, T-DNA akan terintegrasi pada kromosom tanaman dan akanmengekspresikan gen-gen untuk mensintesis senyawa opine, di samping itu T-DNA juga mengandung onkogen yaitu gen-gen yang berperan untuk menyandi hormon pertumbuhan auksindan sitokinin. Ekspresi onkogen pada plasmid Ri mencirikan pembentukan akar adventif secara besar-besaran pada tempat yang diinfeksi dan dikenal dengan hairy root (Nilson & Olsson, 1997).

26

Kultur Jaringan 2012

Penyerangan terhadap akar oleh bakteri Agrobacterium rhizogenes yang menyebabkan tumbuhnyaakar berambut secara cepat pada eksplan. akandapat menghasilkan metabolit sekunder. Kultur akar rambut tersebut telah digunakan untuk mempelajari keberadaan senyawa bioaktif seperti ribosome inactivating protein (RIP) atau senyawa bioaktif lainnya (alkaloida, flavonoida, poliaetilena dan fitoaleksin) (Toppi et al. 1996; Savary & Flores 1994). Akar rambut dari L.cylindrical dilaporkan memproduksi RIP yang diberi nama luffin dengan kuantitas dan aktivitasyang lebih tinggi dibandingkan dengan yang diproduksi oleh bagian tanaman lainnya (Toppi et al.1996).

Kaitan Kultur Akar Berambut Dengan Metabolit Sekunder Kultur akar berambut merupakan perkembangan dari kultur akar yang menjanjikan. Hal ini disebabkan kultur akar berambut dapat meningkatkan produksi metabolit sekunder menggunakan elisitasi.

Aplikasi Kultur Akar Berambut Teknik ini merupakan suatu pilihan kultur organ yang digunakan ketika metabolit sekunder tidak dapat dihasilkan oleh sel. Metabolit sekunder umumnya muncul saat sel telah terdiferensiasi.

27

Kultur Jaringan 2012 Metode Pelaksanaan 1. Pemilihan eksplan 2. Eksplan dicuci lalu disterilkan dengan sterilan, kemudian dibilas dengan air steril selanjutnya ditumbuhkan dalam media padat yang sesuai. 3. Eksplan yang dipilih kemudian dikecambahkan dalam media padat selama waktu yang ditentukan. 4. Inokulasi bakteriAgrobacterium rhizogenes strain LBA9457 ditumbuhkan dalam media yeast manitol broth (YMB) padat yang tersusun dari yeast extract (0,4 g/l), manitol (10 g/l), NaCl (0,1 g/l), MgSO4.7H2O (0,2g/l), KH2PO4 (0,5 g/l), dan agar-agar (7 g/l) sebagai bahan pemadat. Induksi pembentukan akar rambut dilakukan dengan cara menusukkan jarum preparat yang telah dicelupkan ke koloni bakteri umur 3 hari ke bagian hipokotil dari eksplan.

Pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang diinfeksi Agrobacterium diamati selama 21 hari. Induksi yang dilakukan menyebabkan infeksi dan menghasilkan akar berambut. Morfologi akar rambut yang terbentuk bervariasi dari yang tebal, kaku, dan pendek atau langsing dan memanjang.

Akar rambut yang muncul dari hipokotil maupun dari bagian kecambah yang lain diisolasi dan ditanam dalam media MS padat tanpa penambahan ZPT (MS-0) yang mengandung antibiotika. Antibiotika ditambahkan dalam media untuk mematikan Agrobacterium yang tersisa.

28

Kultur Jaringan 2012 Akar rambut yang tumbuh disubkultur ke dalam media dengan antibiotika yang masih segar setiap 14 hari dan subkultur dilakukan sampai tiga kali. Setelah tiga kali subkultur, akar rambut yang berhasil tumbuh dengan baik dalam media MS-0 padat tersebut selanjutnya dipindahkan ke media MS-0 cair tanpa antibiotik, diinkubasikan diatas pengocok (shaker) dengan kecepatan putaran 100 rpm, dan diletakkan dalam ruang kultur yang diatur pencahayaannya (1000 lux) selama 12 jam, dengan suhu ruangan rata-ratanya antara 25 27C.

Faktor-Faktor yang Berpengaruh pada Kultur Akar Berambut 1) Galur Agrobacterium rhizogenes 2) spesies tanaman yang akan dikultur 3) Bagian eksplan yang akan digunakan 4) komposisi media 5) Inisiasi meliputi pertumbuhan, perkembangan, dan figure kultur. Kelimanya berpengaruh terhadap inisiasi, pertumbuhan, perkembangan dan vigor akar rambut.

Keuntungan Kultur Akar Berambut 1) Hasilnya yang relatif seragam 2) Memiliki kestabilan genetik yang tinggi. 3) Mudah dilakukan elisitasi untuk peningkatan jumlah produksi metabolit sekunder. 4) Kapasitas metabolit sekunder lebih besar daripada tanaman asal. 5) Merupakan metode yang ideal untuk mempelajari kandungan senyawa aktif yang diproduksitanaman karena akar rambut dapat melakukan sintesis senyawa aktif yang diinginkan dandapat tumbuh stabil dalam media in vitro 6) Prosesnya yang relatif mudah yaitu penggunaan media untuk tumbuh tidak memerlukan penambahan zat pengatur tumbuh.

29

Kultur Jaringan 2012 7) Mudah untuk memanipulasi berbagai faktor dalam kultur jaringan yang digunakan dengantujuan untuk meningkatkan produksi biomasa atau senyawa aktif yang diinginkan.Manipulasi yang dapat dilakukan antara lain seleksi galur akar rambut yang produktif,optimasi kondisi media kultur dan induksi produksi senyawa aktif dengan perlakuan elisitasi(Fu 1999).
8)

Kultur akar ini bisa di regenerasi. sedangkan pada kultur sel, viabilitas sel dapat hilang dengan beberapa kali subkultur.

Kerugian Kultur Akar Berambut 1) Pembentukan akar berambut tidaklah mudah karena keberhasilan

transformasinya rendah. 2) Tidak semua yang dihasilkan oleh kultur akar berambut adalah metabolit sekunder yang kita inginkan, sehingga hasil metabolit sekunder dari kultur akar berambut tidak dapat dipastikan. 3) Rendahnya tingkat keberhasilan transformasi eksplan dengan Agrobacterium rhizogenes dan pertumbuhannya yang lambat
4)

Sulitnya scaling-up dengan rancang bangun bioreaktor.

30

Kultur Jaringan 2012

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan Kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuh kembangkan bagian tanaman, baik berupa sel, jaringan maupun organ dalam kondisi aseptik secara in vitro. Mikropropagasi memungkinkan diperolehnya bibit tanaman secara cepat dengan kualitas yang baik, bebas penyakit dan seragam. Teknik mikropropagasi tanaman hortikultura dan tanaman kehutanan dengan mutu tinggi menciptakan peluang baru dalam perdagangan global. Teknik mikropropagasi pada dasarnya adalah poliferasi secara cepat dari suatu jaringan meristem, tunas, embrio somatik dan kumpulan sel. Proses mikropropagasi terdiri dari beberapa tahap, yaitu persiapan, inisiasi eksplan, multiplikasi atau subkultur eksplan, penumbuhan tunas, perakaran,dan aklimatisasi. Keberhasilan mikropropagasi in vitro ini tergantung pada faktor tanaman (genotip dan kondisi eksplan), dan lingkungan tumbuh (cahaya, kelembaban, suhu, dan media). Tahap kritis dalam mikropropagasi adalah tahap aklimatisasi, sehingga aklimatisasi perlu ditangani dengan hati-hati dan secara bertahap. Dari beberapa kelebihan kultur akar berambut dapat digunakan untuk meningkatkan produksi metabolit sekunder pada tanaman. Salah satunya adalah kestabilan genetik dan mudah dimanipulasi untuk peningkatan produktivitasnya. Manipulasi ini bisa dalam bentuk elisitasi dsb.

4.2

Saran Untuk meningkatkan produktivitas kultur akar berambut ini dapat dilakukan

salah satunya adalah dengan cara elisitasi menggunakan elisitor pada sel tumbuhan dengan tujuan untuk menginduksi dan meningkatkan pembentukan metabolit sekunder.

31

Kultur Jaringan 2012

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Kultur_jaringan http://nicedaysblue.web.id/index.php/my-project/39-science-and-tech/62-kulturjaringan http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081029045234AAwuqCD http://www.scribd.com/doc/21288531/Kultur-jaringan?olddoc=1 http://habib.blog.ugm.ac.id/kuliah/produksi-metabolit-sekunder-dengan-kulturjaringan-tanaman-melalui-elisitasi/
http://siskhana.blogspot.com/2010/01/produksi-metabolit-sekund http://penyuluhthl.wordpress.com/2012/01/04/tentang-kultur-jaringan http://www.scribd.com/ryanuarista/d/56216134-Laporan-Kultur-Jaringan-PembuatanMedia-Induksi-Kalus http://www.scribd.com/doc/34148374/36/Kultur-kalus http://www.scribd.com/cmayit/d/48676664-akar-jaringan

32