Anda di halaman 1dari 16

Kelompok 4 A/kelas B

Farmakologi II

PERCOBAAN VI ANESTESI

I.

Tujuan Percobaan 1. Mengenal dan menguasai teknik untuk mencapai anastetik lokal pada hewan 2. Mengetahui cara pemberian anastetik lokal 3. Mengetahui cara kerja anastetik lokal 4. Memahami faktor-faktor yang melandasi perbedaan-perbedaan dalam sifat dan potensi anastetik lokal 5. Mengenal berbagai faktor yang mempengaruhi kerja anastetik lokal 6. Dapat mengkaitkan daya kerja anastetika lokal dengan manifestasi gejala keracunan serta pendekatan rasional untuk mengatasi keracunan ini.

II. 2.1

Tinjauan Pustaka
Pengertian Umum

Anestesi (pembiusan; berasal dari bahasa Yunani an-"tidak, tanpa" danaesthtos, "persepsi, kemampuan untuk merasa"). Secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Tipe anestesi Anestesi Lokal : Pembiusan atau anestesi lokal biasa dimanfaatkan untuk banyak hal. Misalnya, perawatan kecantikan seperti sulam bibir, sulam alis, dan liposuction, kegiatan sosial seperti sirkumsisi (sunatan), mencabut gigi geraham terakhir atau gigi berlubang, mengangkat mata ikan, hingga merawat luka terbuka yang disertai tindakan penjahitan.

Kelompok 4 A/kelas B

Farmakologi II

Anestesi lokal merupakan tindakan memanfaatkan obat bius yang cara kerjanya hanya menghilangkan rasa di area tertentu yang akan dilakukan tindakan. Caranya, menginjeksikan obat-obatan anestesi tertentu pada area yang akan dilakukan sayatan atau jahitan. Obat-obatan yang diinjeksikan ini lalu bekerja memblokade saraf-saraf tepi yang ada di area sekitar injeksi sehingga tidak mengirimkan impuls nyeri ke otak. Anestesi lokal ini bersifat ringan dan biasanya digunakan untuk tindakan yang hanya perlu waktu singkat. Oleh karena efek mati rasa yang didapat hanya mampu dipertahankan selama kurun waktu sekitar 30 menit seusai injeksi, bila lebih dari itu, maka akan diperlukan injeksi tambahan untuk melanjutkan tindakan tanpa rasa nyeri. Anestesi Regional : Anestesi jenis ini biasanya dimanfaatkan untuk kasus bedah yang pasiennya perlu dalam kondisi sadar untuk meminimalisasi efek samping operasi yang lebih besar, bila pasien tak sadar. Misalnya, pada persalinan Caesar, operasi usus buntu, operasi pada lengan dan tungkai. Caranya dengan menginjeksikan obat-obatan bius pada bagian utama pengantar register rasa nyeri ke otak yaitu saraf utama yang ada di dalam tulang belakang. Sehingga, obat anestesi mampu menghentikan impuls saraf di area itu. Sensasi nyeri yang ditimbulkan organ-organ melalui sistem saraf tadi lalu terhambat dan tak dapat diregister sebagai sensasi nyeri di otak. Dan sifat anestesi atau efek mati rasa akan lebih luas dan lama dibanding anestesi lokal. Pada kasus bedah, bisa membuat mati rasa dari perut ke bawah. Namun, oleh karena tidak mempengaruhi hingga ke susunan saraf pusat atau otak, maka pasien yang sudah di anestesi lokal masih bisa sadar dan mampu berkomunikasi, walau tak merasakan nyeri di daerah yang sedang dioperasi. Anestesi Umum : Anestesi umum atau bius total adalah anestesi yang biasanya dimanfaatkan untuk tindakan operasi besar yang memerlukan ketenangan pasien dan waktu pengerjaan lebih panjang. Misalnya pada kasus bedah jantung, pengangkatan batu empedu, bedah rekonstruksi tulang, dan lainnya.

Kelompok 4 A/kelas B

Farmakologi II

Caranya, memasukkan obat-obatan bius baik secara inhalasi (pernafasan) maupun intravena (pembuluh darah vena) beberapa menit sebelum pasien dioperasi. Obat-obatan ini akan bekerja menghambat hantaran listrik ke otak sehingga sel otak tak bisa menyimpan memori atau mengenali impuls nyeri di area tubuh manapun, dan membuat pasien dalam kondisi tak sadar (loss of consciousness). Empat rangkaian kegiatan yang merupakan kegiatan sehari-hari dokter anestesi adalah: 1.Mempertahankan jalan napas 2.Memberi napas bantu 3.Membantu kompresi jantung bila berhenti 4.Membantu peredaran darah 5.Mempertahankan kerja otak pasien. Penggolongan Anastesi Lokal Struktur dasar anstetika local pada umumnya terdiri dari tiga bagian, yaknisuatu gugus amino hidrofil (sekunder atau tersier) yang dihubungkan oleh suatuikatan ester (alcohol) atau amida dengan suatu gugus-aromatis lipofil. Semakin panjang gugus alkoholnya, semakin besar daya kerja anastetiknya, tetapitoksisitasnya juga meningkat. Anastetika local dapat digolongkan secara kimiawi dalam beberapa kelompok sbb: 1. Senyawa-ester: prokain,tetrakain) 2. Senyawa-amida: lidokain dan prilokain, mepivakain, bupivakain, dancinchokain 3. Lainnya : fenol, benzialkohol dan etilklorida 4. Semua obat tersebut di atas adalah sintetris kecuali kokain yang alamiah. kokain dan ester-PABA (benzokain, prokain, oksibu

Kelompok 4 A/kelas B Mekanisme Kerjanya

Farmakologi II

Anatetika local mengakibatkan kehilangan rasa dengan jalan beberapacara. Misalnya dengan jalan menghindarkan untuk sementara pembentukan dantransmisi impuls melalui sel saraf ujungnya. Pusat mekanisme kerjanya terletak dimembrane sel. Seperti juga alcohol dan barbital, anastetika local menghambat penerusan impuls dengan jalan menurunkan permeabilitas membrane sel saraf untuk ion-natrium, yang perlu bagi fungsi saraf yang layak. Hal ini disebabkanadanya persaingan dengan ionkalsium yang berada berdekatan dengan saluran-saluran natrium di membrane neuron. Pada waktu bersamaan, akibat turunnya lajudepolarisasi, ambang kepekaan terhadap rangsangan listrik lambat launmeningkat, sehingga akhirnya terjadi kehilangan rasa setempat secara reversible. Penggunaan obat-obatan dalam anestesi Dalam membius pasien, dokter anestesi memberikan obat-obatan (suntik, hirup, ataupun lewat mulut) yang bertujuan menghilangkan rasa sakit (pain killer), menidurkan, dan membuat tenang (paraytic drug). Pemberian ketiga macam obat itu disebut triangulasi. Bermacam obat bius yang digunakan dalam anestesi saat ini seperti: 1. Thiopental 2. Benzodiazepine Intravena 3. Propofol (2,6-di-isopropyl-phenol) 4. Etomidate (suatu derifat imidazole) 5. Ketamine (suatu derifat piperidine, dikenal juga sebagai 'Debu Malaikat'/'PCP' (phencyclidine) 6. Halothane 7. Enflurane (d 1963 u 1972), isoflurane (d 1965 u 1971), desflurane, sevoflurane 8. Opioid-opioid sintetik baru - fentanyl, alfentanil, sufentanil (1981), remifentanil, meperidine 9. Neurosteroid.

Kelompok 4 A/kelas B Beberapa cara penggunaan anestesi ini di antaranya: 1. Melalui Pernafasan

Farmakologi II

Beberapa obat anestesi berupa gas seperti isoflurane dan nitrous oxide, dapat dimasukkan melalui pernafasan atau secara inhalasi. Gas-gas ini mempengaruhi kerja susunan saraf pusat di otak, otot jantung, serta paru-paru sehingga bersama-sama menciptakan kondisi tak sadar pada pasien. Penggunaan bius jenis inhalasi ini lebih ditujukan untuk pasien operasi besar yang belum diketahui berapa lama tindakan operasi diperlukan. Sehingga, perlu dipastikan pasien tetap dalam kondisi tak sadar selama operasi dilakukan.

2.

Injeksi Intravena Sedangkan obat ketamine, thiopetal, opioids (fentanyl, sufentanil) dan propofol

adalah obat-obatan yang biasanya dimasukkan ke aliran vena. Obat-obatan ini menimbulkan efek menghilangkan nyeri, mematikan rasa secara menyeluruh, dan membuat depresi pernafasan sehingga membuat pasien tak sadarkan diri. Masa bekerjanya cukup lama dan akan ditambahkan bila ternyata lamanya operasi perlu ditambah.

3.

Injeksi Pada Spinal/ Epidural Obat-obatan jenis iodocaine dan bupivacaine yang sifatnya lokal dapat

diinjeksikan dalam ruang spinal (rongga tulang belakang) maupun epidural untuk menghasilkan efek mati rasa pada paruh tubuh tertentu. Misalnya, dari pusat ke bawah. Beda dari injeksi epidural dan spinal adalah pada teknik injeksi. Pada epidural, injeksi dapat dipertahankan dengan meninggalkan selang kecil untuk menambah obat anestesi jika diperlukan perpanjangan waktu tindakan. Sedang pada spinal membutuhkan jarum lebih panjang dan hanya bisa dilakukan dalam sekali injeksi untuk sekitar 2 jam ke depan. 4. Injeksi Lokal Iodocaine dan bupivacaine juga dapat di injeksi di bawah lapisan kulit untuk menghasilkan efek mati rasa di area lokal. Dengan cara kerja memblokade impuls saraf dan sensasi nyeri dari saraf tepi sehingga kulit akan terasa kebas dan mati rasa.

Kelompok 4 A/kelas B III. Alat dan Bahan Hewan yang digunakan : Kelinci 2 ekor Obat yang digunakan Alat yang digunakan Stopwatch Alat suntik Jarum suntik oral Jarum pentul

Farmakologi II

: Lar. NaCl fis 0,5 ml, Lar. Prokain HCl 2% 0,5ml.

IV. Prosedur Percobaan a. b. Gunting bulu mata kelinci. Teteskan kedalam kantong konjungtiva lar. Anastetik lokal prokain Hcl 2% 0,5 ml pada mata kanan kelinci dan Lar. NaCl fis 0,5%ml pada mata kiri kelinci. c. d. Tutup mata masing-masing kelopak mata selama satu menit. Catat ada atau tidaknya refleks mata setiap 5 menit selama 45 menit dengan menggunkan aplikator tiap 5 menit sebanyak 5 kali tusukan pada permukaan kornea masing-masing mata tiap kelinci. Bandingkan pada mata kiri sebagai control. e. Catat dan tabelkan pengamatan dengan penentuan secara seksama saat muncul dan hilangnya reflek.

Kelompok 4 A/kelas B V.
Kel. 1.Y X 2.Y X 3.Y X 4.Y X 5.Y X 6.Y X

Farmakologi II

Hasil dan Pembahasan


Mata Kiri (NaCl) Mata Kanan (Prokain HCl)

5 10 15 20 25 30 35 40 45 5 10 15 20 25 30 35 40 45 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 1 4 5 5 5 5 5 1 4 5 5 5 5 5 1 4 3 3 2 5 2 5 5 2 3 3 2 3 5 3 4 1 4 1 1 4 2 3 2 3 4 3 3 2 3 2 2 3 2 3 3 2 3 2 3 2 3 2 4 1 2 3 4 1 3 1 2 3 2 3 4 1

Ket : Y = berkedip X = tidak berkedip Berdasarkan percobaan yang dilakukan pada mata kiri yang ditetesi NaCl fisiologis untuk semua kelompok tidak memiliki efek anestesi sehingga tiap tusukan mata kelinci berkedip. Pada mata yang diberi larutan Prokain HCl akan memberikan efek anestesi lokal sehingga kornea yang ditusuki tidak akan memberikan efek berkedip pada mata kelinci.

Kelompok 4 A/kelas B

Farmakologi II

Untuk mata kanan yang ditetesi larutan Prokain HCl untuk kelompok 1 mulai memberikan efek pada menit ke-25; kelompok 2 memberikan efek pada menit ke-25; kelompok 3 memberikan efek pada menit ke-35; kelompok 4 memberikan efek pada menit ke-30; kelompok 5 memberikan efek pada menit ke-30 dan kelompok 6 memberikan efek yang sangat signifikan yaitu pada 5 menit pertama telah memberikan efek anestesi. Prokain HCl / Procain HCl

INDIKASI KONTRA INDIKASI PERHATIAN

: : :

Anestesi (obat bius) lokal. Bradikardia sinus atau nodal. Epilepsi, gangguan konduksi jantung, syok,

kerusakan hati, miastenia gravis, lansia, pasien debilitasi, anak, kehamilan. EFEK SAMPING : Gangguan saluran pencernaan, kejang otot (kedutan), gemetar, kejang, lidah baal/mati rasa, mengantuk, kegagalan pernapasan, koma, hipotensi, bradikardia, methemoglobinemia, intoksikasi janin. KONTRAINDIKASI : Obat digunakan untuk pasien alergi (asma, urticarial), epilepsy, anak-anak dibawah 30 bulan gangguan kondiksi jantung, kerusakan hati, lansia, syok

Kelompok 4 A/kelas B FARMAKOKINETIK :

Farmakologi II Variasi koefisien procain=0,02 dan pH 8,9. setelah injeksi difusi sangat cepat dan luas, memberikan efek optimal dr 2 menit-40 menit. Masuk ke dalam hati, kemudian dihidrolisis di plasma oleh

pseudocholinesterase dalam asam paraaminobenzoid. 80% dari asam paraminobenzoid di kombinasikan atau dikeluarkan dalam unit, 20% di metabolis di hati. Eliminasi berakhir beberapa menit. KEMASAN DOSIS : : Ampul 40 mg/ml x 2 ml x 100. Kurang dari atau sama dengan 250 mg secara subkutan (SC). PABRIK : Ethica.

Anestesi Lokal, Sebagian besar antagonis H1 merupakan anestesi lokal yang efektif. Ia menghambat saluran natrium pada membran yang dapat dirangsang dengan cara yang sama seperti prokain dan lidokain. Sebernarnya difenhidramin dan prometazin lebih kuat sebagai anestesi lokal daripada prokain. Kadang-kadang dipakai untuk menimbulkan anestesi lokal pada penderita yang alergi terhadap obat anestesi lokal konvensional. Anestesi lokal menghambat impuls konduksi secara revesibel sepanjang akson saraf dan membran eksitabel lainnya yang menggunakan saluran natrium sebagai alat utama pembangkit potensi aksi. Secara klinik, kerja ini dimamfaatkan untuk menghambat sensasi sakit dari-atau impuls vasokontstriktor simpatis ke-bagian tubuh tertentu. Kokain, obat anestesi pertama, yang diisolasi oleh Niemann pada tahun 1860. Kimiawi Umumnya obat anestesis lokal terdiri dari sebuah gugus lipolifit (biasanya sebuah cincin aromatik) yang diberikatan dengan sebuah rantai perantara (umumnya termasuk suatu ester atau sebuah amida) yang terikat pada satu gugus terionisasi. Aktivitas optimal memerlukan keseimbangan yang tepat antara gugus lipofilik dan kekuatan hidrofilik.

Kelompok 4 A/kelas B

Farmakologi II

Farmakokinetik Anestesi lokal biasanya diberikan secara suntikan ke dalam daerah serabut saraf yang akan menghamba. Oleh karena itu, penyerapan dan distribusi tidak terlalu penting dalam memantau mula kerja efek dalam menentukan mula kerja anestesi dan halnya mula kerja anestesis umum terhadap SPP dan toksisitasnya pada jantung. Farmakodinamik Mekanisme kerja Membran yang mudah terangsang dari akson saraf, mirip dengan membran otot jantung dan badan sel saraf, mempertahankan pontesial transmembran sekitar-90 sampai-60 mV. Saluran natrium terbuka, dan arus natrium yang masuk cepat kedalam sel dengan cepat mendeplorisasi membran ke arah keseimbangan potensial natrium (+40). Sebagai akibat ari deplorisasi ini, maka saluran natrium menutup (inaktif) dan saluran kalium terbuka. VI. Kesimpulan 1. Anestesi berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Anestesi lokal merupakan tindakan memanfaatkan obat bius yang cara kerjanya hanya menghilangkan rasa di area tertentu yang akan dilakukan tindakan. Caranya, menginjeksikan obat-obatan anestesi tertentu pada area yang akan dilakukan sayatan atau jahitan. Obat-obatan yang diinjeksikan ini lalu bekerja memblokade saraf-saraf tepi yang ada di area sekitar injeksi sehingga tidak mengirimkan impuls nyeri ke otak. 2. Berdasarkan percobaan yang dilakukan pada mata kiri yang ditetesi NaCl fisiologis untuk semua kelompok tidak memiliki efek anestesi sehingga tiap tusukan mata kelinci berkedip. Pada mata yang diberi larutan Prokain HCl akan memberikan efek anestesi lokal sehingga kornea yang ditusuki tidak akan memberikan efek berkedip pada mata kelinci.

Kelompok 4 A/kelas B

Farmakologi II

3. Untuk mata kanan yang ditetesi larutan Prokain HCl untuk kelompok 1 mulai memberikan efek pada menit ke-25; kelompok 2 memberikan efek pada menit ke-25; kelompok 3 memberikan efek pada menit ke-35; kelompok 4 memberikan efek pada menit ke-30; kelompok 5 memberikan efek pada menit ke-30 dan kelompok 6 memberikan efek yang sangat signifikan yaitu pada 5 menit pertama telah memberikan efek anestesi.

VI. Jawaban Pertanyaan-Pertanyaan 1. Penggolongan kimia dari anestetsi lokal : Jawab : a. Senyawa-ester : kokain dan ester-PABA (benzokain, prokain,

oksibuprokain,tetrakain) b. Senyawa-amida : lidokain dan prilokain, mepivakain, bupivakain, dancinchokain c. d. Lainnya : fenol, benzialkohol dan etilklorida Semua obat tersebut di atas adalah sintetris kecuali kokain yang alamiah.

2. Cara pemberian dan jenis anestetika Melalui-Pernafasan Beberapa obat anestesi berupa gas seperti isoflurane dan nitrous oxide, dapat dimasukkan melalui pernafasan atau secara inhalasi. Gas-gas ini mempengaruhi kerja susunan saraf pusat di otak, otot jantung, serta paruparu sehingga bersama-sama menciptakan kondisi tak sadar pada pasien. Injeksi Intravena Sedangkan obat ketamine, thiopetal, opioids (fentanyl, sufentanil) dan propofol adalah obat-obatan yang biasanya dimasukkan ke aliran vena. Obat-obatan ini menimbulkan efek menghilangkan nyeri, mematikan rasa secara menyeluruh, dan membuat depresi pernafasan sehingga membuat pasien tak sadarkan diri.

Kelompok 4 A/kelas B Injeksi Pada Spinal/Epidural

Farmakologi II

Obat-obatan jenis iodocaine dan bupivacaine yang sifatnya lokal dapat diinjeksikan dalam ruang spinal (rongga tulang belakang) maupun epidural untuk menghasilkan efek mati rasa pada paruh tubuh tertentu. Misalnya, dari pusat ke bawah. Beda dari injeksi epidural dan spinal adalah pada teknik injeksi.

Injeksi Lokal Iodocaine dan bupivacaine juga dapat di injeksi di bawah lapisan kulit untuk menghasilkan efek mati rasa di area lokal. Dengan cara kerja memblokade impuls saraf dan sensasi nyeri dari saraf tepi sehingga kulit akan terasa kebas dan mati rasa.

3. Mekanisme kerja dan penerapan dalam bidang anestesi a. Anestesi umum Mekanisme Kerja Sebagai anastesi inhalasi digunakan gas dan cairan terbang yang masing masing sangat berbeda dalam kecepatan induksi, aktivitas, sifat melemaskan ototmaupun menghilangkan rasa sakit. Untuk mendapatkan reaksi yang secepat cepatnya, obat ini pada permulaan harus diberikan dalam dosis tinggi, yangkemudia diturunkan sampai hanya sekadar memelihara keseimbangan antara pemberian dan pengeluaran (ekshalasi). Keuntungan anastetika-inhalasi dibandingkan dengan anastesi-intravena adalah kemungkinan untuk dapat lebihcepat mengubah kedalaman anastesi dengan mengurangi konsentrasi dari gas/uapyang diinhalasi. Kebanyakan anastesi umum tidak di metabolisasikan oleh tubuh,karena tidak bereaksi secara kimiawi dengan zat-zat faali. Mekanisme kerjanya berdasarkan perkiraan bahwa anastetika umum di bawah pengaruh protein SSP dapat membentuk hidrat dengan air yang bersifat stabil. Hidrat gas ini mungkindapat merintangi transmisi rangsangan di sinaps dan dengan demikian mengakibatkan anastesia.

Kelompok 4 A/kelas B b. Anestesi lokal Mekanisme Kerjanya Anatetika local mengakibatkan kehilangan rasa

Farmakologi II

dengan

jalan

beberapacara. Misalnya dengan jalan menghindarkan untuk sementara pembentukan dantransmisi impuls melalui sel saraf ujungnya. Pusat mekanisme kerjanya terletak dimembrane sel. Seperti juga alcohol dan barbital, anastetika local menghambat penerusan impuls dengan jalan menurunkan permeabilitas membrane sel saraf untuk ion-natrium, yang perlu bagi fungsi saraf yang layak. Hal ini disebabkanadanya persaingan dengan ionkalsium yang berada berdekatan dengan saluran-saluran natrium di membrane neuron. Pada waktu bersamaan, akibat turunnya lajudepolarisasi, ambang kepekaan terhadap rangsangan listrik lambat laun meningkat, sehingga akhirnya terjadi kehilangan rasa setempat secara reversible. 4. Dampak yang ditimbulkan bila permukaan kornea dianestesi untuk periode waktu yang lama dan apa alasannya ! Jawab : Pada awalnya pasien akan menderita distorsi ringan kabur dan visi mereka yang dapat dikoreksi dengan kacamata atau kontak. Pada tahap ini, kehilangan visi sering muncul tidak berbeda bias lainnya cacat mata seperti miopia (sightedness pendek) dan Silindris. Akan tetapi, sering perubahan pada resep lensa mungkin diperlukan sebagai kornea makin menipis. Mata tidak selalu berlangsung pada kecepatan yang sama, sehingga beberapa pasien mungkin menemukan satu mata secara signifikan lebih buruk daripada yang lain. Menyebabkan kornea menipis, kornea kering sehingga mudah timbul keratitis. kelumpuhan saraf, adanya endapan di kornea (reversibel), dampak pada kualitas air mata.

Kelompok 4 A/kelas B

Farmakologi II

Kematian Jaringan Kornea (Ulkus Kornea) Kematian Jaringan Kornea (Ulkus Kornea)Ulkus kornea merujuk pada hilangnya sebagian kornea akibat kematian jaringan kornea. Kedoteran menyebut fenomena ini dengan ulkus kornea. Gejala Gejala dari penyakit ini; mata merah, sakit ringan, fotofobia, penglihatan menurun, kadang kotor. Pada pemeriksaan sering ditemui kekeruhan berwarna putih pada kornea. Penyebabnya, bakteri, jamur, cairan pencuci lensa kontak. Pengobatan Pengobatan untuk penyakit ini bertujuan membatasi hidup bakteri dengan pemberian antibiotik.

5. Diantara anestesi lokal yang digunakan pada percobaan ini, mana yang lebih potensial ?jelaskan. Jawab : Persyaratan obat yang boleh digunakan sebagai anestesi lokal: Tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara permanen Batas keamanan harus lebar Efektif dengan pemberian secara injeksi atau penggunaan setempat pada membran mukosa Mulai kerjanya harus sesingkat mungkin dan bertahan untuk jangka waktu yang yang cukup lama Dapat larut air dan menghasilkan larutan yang stabil, juga stabil terhadap pemanasan. Anatesi lokal yang bersifat ideal Anastesi local sebaiknya tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara permanen. Kebanyakan anastesi local memenuhi syarat ini. Batas keamanan harus lebar, sebab anastesi local kan diserap dari tempat suntikan.

Kelompok 4 A/kelas B

Farmakologi II

Mula kerja harus sesingkat mungkin, sedangkan masa kerja harus cukup lama sehingga cukup waktu untuk melakukan tindakan operasi, tetapi tidak demikian lama sampai memperpanjang masa pemulihan, zat anastesi local juga harus larut dalam air stabil dalam larutan dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan. Mekanisme kerja Anastesi lokal mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf, tempat kerja utamanya di aksoplasma hanya sedikit saja. Sebagaimana diketahui, potensial aksi saraf terjadi krena adanya adanya peningkatan sesaat (sekilas) permeabilitas membrane terhadap ion Na+ akibat depolarisasi ringan pada membrane. Proses fundamental inilah yang dihambat oleh anastesi local hal ini terjadi karenma adanya interaksi langsung antara zat anastesik lokal dengan kanal Na+ yang peka terhadap adanya perubahan voltase muatan listrik ( voltage sensitive channels) dengan semakin bertambahnya efek anastesi local didalam saraf, maka ambang rangsang membrane akan meningkat secara bertahap, kevcepatan peningkatan potensial aksi menurun, konduksi impuls melambat dan factor pengaman ( safety factor ) konduksi saraf juga berkurang. Factor factor ini akan mengakibatkan penurunan menjalarnya potensial aksi dengan demikian mengakibatkan kegagalan konduksi saraf.

Kelompok 4 A/kelas B VII. Daftar Pustaka

Farmakologi II

Ganong, F.William. 1995. Buku ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi II. Jakarta : EGC. Penerjemah H. M Djuahari Wdjokusumah. Terjemahan dari review off Medical Physiology. Ganiswara, S.G.et.al. (1999). Farmaklogi dan Terapi. Edisi ke-4. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Silva, M.L. (2004) Diabetes Means Siphon! Insulin Comes from the Island. http://www.apol.net/dightonrock/diabetes_history.html. 10/05/2004 Sekolah Farmasi ITB http://bahan-alam.fa.itb.ac.id Source : http://www.scribd.com/doc/47807605/Pengertian-Anastesi http://arifahpratidina.blogspot.com/2011/12/makalah-anestesi.html http://farmamedicine.blogspot.com/