Anda di halaman 1dari 13

Kelompok 2 A/kelas B

FARMAKOGNOSI

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM


FARMAKOGNOSI
Pembuatan Simplisia Rimpang Kencur (Kaempferia galangar Rhizoma)

Oleh : Kelompok : 2 A/ kelas B

Novtafia Endri Nurmawita Vika Amalia Wiwi Permata Sari Mei - Juni 2012

(1001065) (1001071) (10010 (10010

Tanggal Praktikum Dosen :

Dr. Emrizal, M.Si., Apt. Noveri Rahmawati, M,Farm., Apt.

Asisten :

Muhammad Zoefli Ardiansyah Gustri Zakriani Fitria

PROGRAM STUDI S-1 FARMASI SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU PEKANBARU 2012

Kelompok 2 A/kelas B

FARMAKOGNOSI

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM


Pembuatan Simplisia Rimpang Kencur (Kaempferia galanga Rhizoma)

I.

Tujuan Percobaan 1. Mengenal dan menguasai teknik untuk mencapai anastetik lokal pada hewan 2. Mengetahui cara pemberian anastetik lokal

II.

Tinjauan Pustaka

2.1. Obat Tradisional 2.1.1. Pengertian Umum Obat Tradisional Obat tradisional telah berada dalam masyarakat dan digunakan secara empiris dapat memberikan manfaat dalam meningkatkan kesehatan tubuh dan pengobatan berbagai penyakit. Departemen Kesehatan mengklasifikasikan obat tradisional sebagai jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka (Anonim, 2005). Obat tradisional adalah ramuan dari berbagai macam jenis dari bagian tanaman yang mempunyai khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Obat tradisional di Indonesia dikenal dengan nama jamu. Obat tradsional sendiri masih mempunyai berupa senyawa. Sehingga khasiat obat tradisional mungkin terjadi dengan adanya interaksi antar senyawa yang mempunyai pengaruh yang lebih kuat (Rukmana, 1994). Obat dapat menginduksi stimulasi perilaku dan perangsangan psikomotor. Jika digunakan secara tidak berlebihan, stimulasi tersebut dapat mengatasi kelelahan dan peningkatan kewaspadaan (Van Steenis, 1947).

Kelompok 2 A/kelas B 2.1.2. Macam-Macam Obat Tradisional

FARMAKOGNOSI

Jamu adalah obat tradisional Indonesia. Obat herbal berstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keaamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah distandarisasi. Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keaamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya telah distandarisasi (Anonim, 2005). Instan adalah sediaan jamu yang siap dikonsumsi dengan penambahan air matang atau air mendidih. Jamu instan adalah jamu dalam bentuk instan yang siap diminum dengan menambahkan air matang sesuai dengan aturannya. Jamu instan merupakan jenis jamu yang dimaksudkan untuk digunakan dalam mengurangi, menghilangkan dan menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit (Anonim, 1985). Instan kencur dibuat dari bahan simplisia yang berupa serbuk kencur dan bahan non simplisia yang berupa gula. Instan kencur merupakan salah satu bentuk sediaan minuman olahan dalam bentuk padat yang dibuat dari serbuk kencur dengan penambahan gula dan dipadukan dengan rasa lainnya. Serbuk instan yaitu suatu sediaan berbentuk serbuk dengan penambahan satu atau lebih bahan tambahan sehingga sediaan instan tersebut lebih praktis, mudah dikonsumsi dan rasanya juga lebih enak (Anonim, 1985).

2.2. Kencur Bahan alamiah kering berupa rimpang (rhizoma) dari tanaman kencur (Kaempferia galanga L.) yang gunakan untuk obat dan belum mengalami pengolahan apapun. Tanaman ini sudah berkembang di Pulau Jawa dan di luar Jawa seperti Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Kalimantan Selatan. Sampai saat ini karakteristik utama yang dapat dijadikan sebagai pembeda kencur adalah daun dan rimpang. Berdasarkan ukuran daun dan rimpangnya, dikenal 2 tipe kencur, yaitu kencur berdaun lebar dengan ukuran rimpang besar dan kencur berdaun sempit dengan ukuran rimpang lebih kecil.

Kelompok 2 A/kelas B

FARMAKOGNOSI

Biasanya kencur berdaun lebar dengan bentuk bulat atau membulat, mempunyai rimpang dengan ukuran besar pula, tetapi kandungan minyak atsirinya lebih rendah daripada kencur yang berdaun kecil berbentuk jorong dengan ukuran rimpang lebih kecil. Salah satu varietas unggul kencur dengan ukuran rimpang besar adalah varietas unggul asal Bogor (Galesia-1) yang mempunyai ciri sangat spesifik dan berbeda dengan klon dari daerah lain yaitu warna kulit rimpang cokelat terang dan daging rimpang berwarna kuning, berdaun membulat, ujung daun meruncing dengan warna daun hijau gelap. Varietas unggul kencur yang sudah dilepas, yaitu Galesia-1, 2 dan 3, dengan sifat dan keunggulan seperti tercantum pada tabel berikut. Tabel. Karakteristik tiga varietas unggul kencur

Selain itu, meskipun ukuran rimpangnya tidak sebesar varietas Galesia-1, calon varietas unggul Galesia-2 dan Galesia-3 dengan ciri utama warna kulit rimpang coklat gelap dan daging rimpang berwarna putih bergaris ungu, bentuk daun bulat dengan ujung daun runcing dan warna daun hijau terang, potensi produksinya mencapai 14-16 ton per ha dengan kandungan minyak atsiri 4 7,6%.

Kelompok 2 A/kelas B

FARMAKOGNOSI

Oleh karena itu, untuk menjamin stabilitas dan kepastian hasil dalam budidaya kencur, diperlukan bahan tanaman bermutu yang berasal dari varietas unggul yang jelas asal usulnya, bebas hama dan penyakit, serta tidak tercampur dengan varietas lain.

2.2.1. Nama dan Klasifikasi Ilmiah Tanaman Kencur (Kaempferia galanga L.) Nama Lokal : Kencur (Indonesia, Jawa), Cikur (Sunda), Ceuko (Aceh); Kencor (Madura), Cekuh (Bali), Kencur, Sukung (Minahasa); Asauli, sauleh, soul, umpa (Ambon), Cekir (Sumba). Kencur (Kaempferia galanga L.; East-Indian Galangal), adalah terna aromatik yang tergolong kedalam famili Zingiberaceae (temutemuan). Pembeda utama kencur dengan tanaman temu-temuan lainnya adalah daunnya yang menutup tanah.

Tanaman Kaemferia galanga mempunyai klasifikasi dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) sebagai berikut: Kingdom Subkingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae (Tumbuhan) : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) : Spermatophyta (Menghasilkan biji) : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Liliopsida (berkeping satu / monokotil) : Commelinidae : Zingiberales : Zingiberaceae (suku jahe-jahean) : Kaempferia : Kaempferia galanga L.

Kelompok 2 A/kelas B 2.2.2. Morfologi Tanaman Kencur (Kaempferia galanga L.)

FARMAKOGNOSI

Secara umum dikenal dua tipe kencur, yaitu jenis berdaun lebar dan berdaun sempit (Syukur dan Hernani, 2001). Kencur merupakan terna kecil daunnya lebar, letaknya mendatar, hampir rata dengan permukaan tanah. Bunganya tersusun dalam bulir. Mahkota bunga berjumlah 4-12, rimpangnya bercabang-cabang banyak sekali, dibagian terletak diatas tanah. pada akarnya sering kali terdapat umbi yang betuknya bulat. Warnanya putih kekuningan, bagian tengahnya berwarna putih, sedangkan pinggirnya berwarna coklat, berbau harum (Syukur dan Hernani, 2001). Kencur digolongkan sebagai tanaman jenis empon-empon yang mempunyai daging buah yang lunak dan tidak berserat. Kencur merupakan terna kecil yang tumbuh subur didaerah dataran atau pegunungan yang tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air. Rimpang kencur mempunyai aroma yang spesifik. Daging buah kencur berwarna putih dan kulit luarnya berwarna coklat.jumLah helaian daun kencur tidak lebih dari 2-3 lembar dengan susunan berhadapan. Bunganya tersusun setengah duduk dengan mahkota bunga berjumLah antara 4-12 buah, bibir bunga berwarna lembayung dengan warna putih lebih dominan. Kencur tumbuh dan berkembang pada musim tertentu, yaitu pada musim penghujan kencur dapat ditanam dalam pot atau dikebun yang cukup sinar matahari, tidak terlalu basah dan di tempat terbuka (Thomas, 1989).

2.3. Kandungan dan Manfaat Tanaman Kencur (Kaempferia galanga L.) Rimpang mengandung minyak atsiri yang tersusun -pinene (1,28%), kampen (2,47%), benzene (1,33%), borneol (2,87%), pentadecane (6,41%), eucaliptol (9,59%), karvon (11,13%), metilsinamat (23,23%), dan etil-p-metoksisinamat (31,77%) (Tewtrakul et al., 2005). Selain itu, terdapat pula golongan senyawa flavonoid dalam rimpang ini (Gunawan, 1989; Duke, 1985; Pandji, 1993). Ekstrak rimpang kencur (Kaempferia galanga) berpotensi aktif terhadap infeksi bakteri (Tewtrakul et al., 1983). Ekstrak aseton memiliki efek inhibisi pada monoamina oksidase (Noro et al., 1983). Selain itu, ekstrak etanol 95% tanaman ini memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan ekstrak air panas terhadap Escherichia coli (Songklanakarin et al., 2005). Rimpang kencur ditemukan

Kelompok 2 A/kelas B

FARMAKOGNOSI

memiliki aktivitas antikanker, antihipertensi dan aktivitas larvacidal dan untuk berbagai penyakit kulit, rematik dan diabetes mellitus (Tara et al., 1991). Kencur (Kaempferia galanga L.) banyak digunakan sebagai bahan baku obat tradisional (jamu), fitofarmaka, industri kosmetika, penyedap makanan dan minuman, rempah, serta bahan campuran saus rokok pada industri rokok kretek. Secara empirik kencur digunakan sebagai penambah nafsu makan, infeksi bakteri, obat batuk, disentri, tonikum, ekspektoran, masuk angin, sakit perut. Minyak atsiri didalam rimpang kencur mengandung etil sinnamat dan metil pmetoksi sinamat yang banyak digunakan didalam industri kosmetika dan dimanfaatkan sebagai obat asma dan anti jamur. Banyaknya manfaat kencur memungkinkan pengembangan pembudidayaannya dilakukan secara intensif yang disesuaikan dengan produk akhir yang diinginkan.

Produksi, mutu dan kandungan bahan aktif didalam rimpang kencur ditentukan oleh varietas yang digunakan, cara budidaya dan lingkungan tempat tumbuhnya. Selain itu, karena kualitas mutu simplisia bahan baku industri ditentukan oleh proses budidaya dan pascapanennya, maka perlu disosialisasikan GAP (Good Agricultural Practices) dan GMP (Good Manufacture Practices), melalui penerapan standar prosedur operasional (SPO) budidaya tanaman. Etil p-metoksi sinamat (EPMS) adalah salah satu senyawa hasil isolasi rimpang kencur ( Kaempferia galanga L.) yang merupakan bahan dasar senyawa tabir surya yaitu pelindung kulit dari sengatan sinar matahari. EPMS termasuk dalam golongan senyawa ester yang mengandung cincin benzena dan gugus metoksi yang bersifat nonpolar dan juga gugus karbonil yang mengikat etil yang bersifat sedikit polar sehingga dalam ekstraksinya dapat menggunakan pelarut-pelarut yang mempunyai variasi kepolaran yaitu etanol, etil asetat, metanol, air, dan heksana. Dalam ekstraksi

Kelompok 2 A/kelas B

FARMAKOGNOSI

suatu senyawa yang harus diperhatikan adalah kepolaran antara pelarut dengan senyawa yang diekstrak, keduanya harus memiliki kepolaran yang sama

ataumendekati (Firdausi, 2009). Kelarutan suatu zat padat dan zat cair pada suatu pelarut akan meningkat seiring dengan kenaikan suhu bila proses pelarutannya adalah endoterm, sedangkan untuk proses pelarutan yang bersifat eksoterm pemanasan justru menurunkan harga kelarutan zat. Fenomena yang kedua ini jarang dijumpai di alam yang umum adalah proses pelarutan yang bersifat endoterm yaitu memerlukan kalor. Beberapa zat dalam larutan akan rusak atau terurai dam menguap dengan pemanasan sehingga suhu ekstraksi harus diperhatikan agar senyawa yang diharapkan tidak rusak. Oleh karena itu ekstraksi etil p-metoksi sinamat dari kencur tidak boleh menggunakan suhu yang lebih dari titik lelehnya yaitu 48 49oC. (Bachtiar,2005). Salah satu reaksi yang mudah dilakukan terhadap etil-p-metoksi sinamat adalahmenghidrolisisnya menghasilkan asam p-metoksi sinamat. NaOH yang ditambahkan pada hidrolisis etil p-metoksi sinamat, akan terurai menjadi Na+ dan OH-. Ion OH- ini akanmenyerang gugus C karbonil yang bermuatan positif yang menyebabkan kelebihan elektron. Hal ini akan menyebabkan pemutusan ikatan rangkap antara atom O dan atom C sehingga atom O akan bermuatan negatif. Namun, atom O akan membentuk ikatan rangkap lagi dengan atom C, sehingga atom C akan menstabilkan diri dengan melepaskan -OC2H5. Hal ini akan menyebabkan terbentuknya asam p-metoksisinamat.

2.4. Profil Farmakologi Tanaman Kencur (Kaempferia galanga L.)

Kelompok 2 A/kelas B Organoleptik

FARMAKOGNOSI

Bau khas aromatik kencur dan rasa pedas, hangat, agak pahit, akhirnya menimbulkan rasa tebal khas kencur.

Deskriptif Kencur merupakan temu kecil yang tumbuh subur di daerah dataran rendah atau pegunungan yang tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air. Jumlah helaian daun kencur tidak lebih dari 2-3 lembar (jarang 5) dengan susunan berhadapan, tumbuh menggeletak di atas permukaan tanah. Bunga majemuk tersusun setengah duduk dengan kuntum bunga berjumlah antara 4 sampai 12 buah, bibir bunga (labellum) berwarna lembayung dengan warna putih lebih dominan. Tumbuhan ini tumbuh baik pada musim penghujan. Kencur dapat ditanam dalam pot atau di kebun yang cukup sinar matahari, tidak terlalu basah dan setengah ternaungi.

Kelompok 2 A/kelas B Penyebaran dan Etnobotani

FARMAKOGNOSI

Kaempferia galanga kemungkinan berasal dari India, di mana ia tersebar luas. Tanaman ini dibudidayakan secara meluas di Asia Tenggara, Cina selatan, Nusantara hingga Maluku; dan kemungkinan pula diintroduksi ke Australia utara. Kencur (nama bahasa Jawa dan bahasa Indonesia) dikenal di berbagai tempat dengan nama yang berbeda-beda: cikur (bahasa Sunda); ceuko (bahasa Aceh); kaciwer (bahasa Karo); kencor (Madura); cekuh (bahasa Bali); kencur, sukung (bahasa Melayu Manado); asauli, sauleh, soul, umpa (bahasa-bahasa di Maluku); serta cekir (Sumba). Berbagai masakan tradisional Indonesia dan jamu menggunakan kencur sebagai bagian resepnya. Kencur dipakai orang sebagai tonikum dengan khasiat menambah nafsu makan sehingga sering diberikan kepada anak-anak. Jamu beras kencur sangat populer sebagai minuman penyegar pula. Di Bali, urap dibuat dengan menggunakan daun kencur.

Irisan/makroskopis Irisan melintang dengan penampakan makroskopis kepingan, pipih, bentuk hampir bundar sampai jorong atau tidak beraturan, tebal keping 1 mm sampai 4 mm, panjang 1 cm sampai 5 cm, lebar 0,5 cm sampai 3 cm, bagian tepi berombak dan berkeriput, warna coklat sampai coklat kemerahan, bagian tengah berwarna putih sampai putih kecoklatan. Korteks sempit, lebar lebih kurang 2 mm, warna putih, berkas pembuluh tersebar tampak sebagai bintikbintik berwarna kelabu atau keunguan. Silinder pusat lebar, banyak tersebar berkas pembuluh seperti pada korteks. Bekas patahan rata, berdebu, berwarna putih.

Kelompok 2 A/kelas B Mikroskopis

FARMAKOGNOSI

Penampakan mikroskopis seperti pada Gambar 1. Periderm terdiri dari 5 sampai 7 lapis sel, sel berbentuk segi panjang berdinding tipis. Jaringan parenkim korteks terdapat di bawah periderm, sel parenkim isodiametrik, berdinding tipis, berisi butirbutir pati, sel idioblas minyak berbentuk hampir bulat dan bergaris tengah 50 m sampai 100 m, dalam idioblas minyak terdapat minyak yang tidak berwarna sampai berwarna putih semu kekuningan. Butir pati umumnya tunggal, besar, bentuk bulat, bulat telur atau bulat telur tidak beraturan dengan salah satu ujungnya mempunyai puting, lamella dan hilus tidak jelas, panjang butir pati 10 m sampai 40 m, umumnya 25 m, lebar butir pati 6 m sampai 25 m, umumnya 23 m. Berkas pembuluh tersebar dalam korteks dan silinder pusat; pembuluh kayu terdiri dari pembuluh spiral, pembuluh tangga dan pembuluh jala, tidak berlignin. Endodermis mempunyai dinding radial yang agak menebal, tidak berisi butir pati. Silinder pusat lebar, parenkimatik, berisi butir pati dan idioblas minyak seperti pada korteks, berkas pembuluh di bawah endodermis tersusun teratur dalam suatu lingkaran dan berdekatan satu sama lainnya.

Keterangan: 1. 2. 3. 4. periderm idioblas minyak parenkim korteks berkas pembuluh dikorteks 5. butir pati 6. endodermis 7. berkas pembuluh di silinder pusat 8. parenkim

Gambar 1. Penampang melintang rimpang kencur Tahapan pengolahan kencur meliputi penyortiran, pencucian, pengirisan, pengeringan, pengemasan dan penyimpanan. Setelah panen, rimpang harus secepatnya dibersihkan untuk menghindari kotoran yang berlebihan serta mikroorganisme yang tidak diinginkan. Rimpang dibersihkan dengan disemprot air yang bertekanan tinggi,

Kelompok 2 A/kelas B

FARMAKOGNOSI

atau dicuci dengan tangan. Bila mengalami kesulitan, rimpang harus direndam dalam air untuk beberapa lama, kemudian disikat dengan sikat halus agar tidak melukai kulit rimpang.

Rimpang siap panen Pemanenan Pembersihan Air Pencucian Sortasi Penirisan/kering angin Rimpang segar Pengirisan Rimpang rusak, busuk Kotoran

Pengemasan Pengeringan dgn diangin-anginkan Pengangkutan Penyimpanan Penggunaan Diagram 1.Alur Penanganan pasca panen kencur

Kelompok 2 A/kelas B III. Daftar Pustaka

FARMAKOGNOSI

Anonim, 1985, Cara Pembuatan Simplisia, Depkes RI, Dirjen POM, Jakarta. Anonim, 1995, Farmakologi dan Terapi, Edisi IV, 124-147, 202; 207-222; 208; 209 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Anonim, 2005, Springhouse Nurses Drug Guide, 997-998, Lippincott William and Wilkins, New York Esvandiary,dkk, 2005, http://www.usd.ac.id yang diakses tanggal 15 April 2010 Katzung, B.G., 2000, Basic and Clinical Pharmacology, 8th Edition, 474-493,449, Salemba Medika, Jakarta Source :
http://www.plantamor.com/index.php?plant=735 http://id.wikipedia.org/wiki/Kencur http://www.scribd.com/doc/94116456/Laporan-Kencur-Gabung-Fix