Anda di halaman 1dari 11

IDENTIFIKASI FORMALDEHID DALAM MAKANAN DENGAN METODE DESTILASI DAN KOLORIMETRI

I.

TUJUAN Mahasiswa dapat mengidentifikasi formaldehid dalam makanan dengan metoda destilasi dan kolorimetri.

II. PRINSIP Sampel makanan dipanaskan dalam penangas air yang mendidih atau didestilasi, formaldehid yang telah terpisah direaksikan dengan asam kromotropat (chromotropic acid 1,8-dihidroxynaphthalene 3,6 disulfonate, disodium salt). III. TEORI Formalin merupakan larutan komersial dengan konsentrasi 10-40% dari formaldehid. Bahan ini biasanya digunakan sebagai antiseptic, germisida, dan pengawet. Formalin mempunyai banyak nama kimia diantaranya adalah : Formol, Methylene aldehyde, Paraforin, Morbicid, Oxomethane, Polyoxymethylene glycols, Methanal, Formoform, Superlysoform, Formic aldehyde, Formalith, Tetraoxymethylene, Methyl oxide, Karsan, Trioxane, Oxymethylene dan Methylene glycol. Di pasaran, formalin bisa ditemukan dalam bentuk yang sudah diencerkan, dengan kandungan formaldehid 10-40 persen.

Formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Di sektor industri sebenarnya formalin sangat banyak manfaatnya. Formaldehid memiliki banyak manfaat, seperti anti bakteri atau pembunuh kuman sehingga dimanfaatkan untuk pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian, pembasmi lalat dan berbagai serangga lain. Dalam dunia fotografi biasaya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas. Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea, bahan pembuatan produk parfum, pengawet produk kosmetika, pengeras kuku dan bahan untuk insulasi busa. Formalin juga dipakai sebagai pencegah korosi untuk sumur minyak. Di bidang industri kayu sebagai bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood). Dalam konsentrasi yang sangat kecil (<1 persen) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet. Di industri perikanan, formalin digunakan untuk menghilangkan bakteri yang biasa hidup di sisik ikan. Formalin diketahui sering digunakan dan efektif dalam pengobatan penyakit ikan akibat ektoparasit seperti fluke dan kulit berlendir. Meskipun demikian, bahan ini juga sangat beracun bagi ikan. Ambang batas amannya sangat rendah, sehinggga terkadang ikan yang diobati malah mati akibat formalin daripada akibat penyakitnya. Formalin banyak digunakan dalam pengawetan specimen ikan untuk keperluan penelitian dan identifikasi. Di dunia kedokteran formalin digunakan untuk pengawetan mayat manusia untuk dipakai dalam pendidikan mahasiswa kedokteran. Untuk pengawetan biasanya digunakan formalin dengan konsentrasi 10%. Besarnya manfaat di bidang industri ini ternyata disalahgunakan untuk penggunaan pengawetan industri makanan. Biasanya hal ini sering ditemukan dalam industri rumahan, karena mereka tidak terdaftar dan tidak terpantau oleh Depkes dan Balai POM setempat. Bahan makanan yang diawetkan dengan formalin biasanya adalah mi basah, tahu, bakso, ikan asin dan beberapa makanan lainnya. Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Di dalam formalin terkandung sekitar 37 persen formaldehid dalam air, sebagai bahan pengawet biasanya ditambahkan metanol hingga 15 persen. Bila

tidak diberi bahan pengawet makanan seperti tahu atau mi basah seringkali tidak bisa tahan dalam lebih dari 12 jam. Formaldehid juga dipakai untuk reaksi kimia yang bisa membentuk ikatan polimer, dimana salah satu hasilnya adalah menimbulkan warna produk menjadi lebih cerah. Sehingga formalin dipakai di industri plastik. bahan pembuatan sutra buatan, zat pewarna, cermin kaca. Sehingga formalin juga banyak dipakai di produk rumah tangga seperti piring, gelas dan mangkuk yang berasal dari plastik atau melamin. Bila piring atau gelas tersebut terkena makanan atau minutan panas maka bahan formalin yang terdapat dalam gelas akan larut. Dari penelitian hasil air rebusan yang kemudian dibawa ke Laboratorium Kimia Universitas Indonesia, ini didapatkan hasil, bahwa kandungan formalin pada hampir semua produk yang diteliti, kandungan formalin sangat tinggi antara 4,76 9,22 miligram per liter. Barang-barang tersebut bila digunakan dalam keadaan dingin sebenarnya tidak berbahaya. Tetapi sangat berbahaya bila wadah-wadah ini dipakai untuk menaruh bahan makanan panas seperti membuat minuman teh, kopi, atau makanan berkuah panas. Makanan di atas adalah bahan makanan yang biasanya banyak dicampur formalin, maka harap berhati-hati dalam memilihnya.Formalin masuk ke dalam tubuh manusia melalui dua jalan, yaitu mulut dan pernapasan. Sebetulnya, seharihari kita menghirup formalin dari lingkungan sekitar. Polusi yang dihasilkan oleh asap knalpot dan pabrik, mengandung formalin yang mau tidak mau kita hirup, kemudian masuk ke dalam tubuh. Asap rokok atau air hujan yang jatuh ke bumi pun sebetulnya juga mengandung formalin. Formalin sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan. Akibat yang ditimbulkan dapat berupa : luka bakar pada kulit, iritasi pada saluran pernafasan, reaksi alergi dan bahaya kanker pada manusia. Jika kandungan dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel, sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel yang menyebabkan kerusakan pada organ tubuh. Formalin merupakan zat yang bersifat karsinogenik atau bisa menyebabkan kanker. Beberapa penelitian terhadap tikus dan anjing pemberian formalin dalam dosis tertentu jangka panjang secara bermakna mengakibatkan kanker saluran cerna seperti adenocarcinoma pylorus, preneoplastic hyperplasia pylorus dan

adenocarcinoma duodenum. Penelitian lainnya menyebutkan pengingkatan resiko kanker faring (tenggorokan), sinus dan cavum nasal (hidung) pada pekerja tekstil akibat paparan formalin melalui hirupan. Dalam jumlah sedikit, formalin akan larut dalam air, serta akan dibuang ke luar bersama cairan tubuh. Sehingga formalin sulit dideteksi keberadaannya di dalam darah. Imunitas tubuh sangat berperan dalam berdampak tidaknya formalin di dalam tubuh. Jika imunitas tubuh rendah atau mekanisme pertahanan tubuh rendah, sangat mungkin formalin dengan kadar rendah pun bisa berdampak buruk terhadap kesehatan. Usia anak khususnya bayi dan balita adalah salah satu yang rentan untuk mengalami gangguan ini. Secara mekanik integritas mukosa (permukaan) usus dan peristaltik (gerakan usus) merupakan pelindung masuknya zat asing masuk ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi zat berbahaya tersebut. Secara imunologik sIgA (sekretori Imunoglobulin A) pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal zat asing masuk ke dalam tubuh. Pada usia anak, usus imatur (belum sempurna) atau sistem pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan bahan berbahaya masuk ke dalam tubuh sulit untuk dikeluarkan. Hal ini juga akan lebih mengganggu pada penderita gangguan saluran cerna yang kronis seperti pada penderita Autism, penderita alergi dan sebagainya. Menurut IPCS (International Programme on Chemical Safety), secara umum ambang batas aman di dalam tubuh adalah 1 miligram per liter. IPCS adalah lembaga khusus dari tiga organisasi di PBB, yaitu ILO, UNEP, serta WHO, yang mengkhususkan pada keselamatan penggunaan bahan kimiawi. Bila formalin masuk ke tubuh melebihi ambang batas tgersebut maka dapat mengakibatkan gangguan pada organ dan system tubuh manusia. Akibat yang ditimbulkan tersebut dapat terjadi dalam waktu singkat atau jangka pendek dan dalam jangka panjang, bisa melalui hirupan, kontak langsung atau tertelan. Akibat jangka pendek yang terjadi biasanya bila terpapar formalin dalam jumlah yang banyak, Tanda dan gejala akut atau jangka pendek yang dapat terjadi adalah bersin, radang tonsil, radang tenggorokan, sakit dada, yang berlebihan,

lelah, jantung berdebar, sakit kepala, mual, diare dan muntah. Pada konsentrasi yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian. Bila terhirup formalin mengakibatkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernafasan, rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan serta batuk-batuk. Kerusakan jaringan sistem saluran pernafasan bisa mengganggu paru-paru berupa pneumonia (radang paru) atau edema paru (pembengkakan paru). Bila terkena kulit dapat menimbulkan perubahan warna, kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa dan ada rasa terbakar. Apabila terkena mata dapat menimbulkan iritasi mata sehingga mata memerah, rasanya sakit, gata-gatal, penglihatan kabur dan mengeluarkan air mata. Bila merupakan bahan berkonsentrasi tinggi maka formalin dapat menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan terjadi kerusakan pada lensa mata. Apabila tertelan maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, mual, muntah dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan , sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi (tekanan darah rendah), kejang, tidak sadar hingga koma. Selain itu juga dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal. Meskipun dalam jumlah kecil, dalam jangka panjang formalin juga bisa mengakibatkan banyak gangguan organ tubuh. Apabila terhirup dalam jangka lama maka akan menimbulkan sakit kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung, mual, mengantuk, luka pada ginjal dan sensitasi pada paru. Gangguan otak mengakibatk efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, gangguan emosi, keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrasi, daya ingat berkurang dan gangguan perilaku lainnya. Dalam jangka panjang dapat terjadi gangguan haid dan kemandulan pada perempuan. Kanker pada hidung, ronggga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan otak juga bisa terjadi. Apabila terkena kulit, kulit terasa panas, mati rasa, gatal-gatal serta memerah, kerusakan pada jari tangan, pengerasan kulit dan kepekaan pada kulit, dan terjadi radang kulit yang menimbulkan gelembung. Jika terkena mata, bahaya yang paling menonjol adalah terjadinya radang selaput mata. Jika tertelan akan

menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan, muntah-muntah dan kepala pusing, rasa terbakar pada tenggorokan, penurunan suhu badan dan rasa gatal di dada. PENANGANAN BILA TERPAPAR FORMALIN Bila terkena hirupan atau terkena kontak langsung formalin, tindakan awal yang harus dilakukan adalah menghindarkan penderita dari daerah paparan ke tempat yang aman. Bila penderita sesak berat, kalau perlu gunakan masker berkatup atau peralatan sejenis untuk melakukan pernafasan buatan. Bila terkena kulit lepaskan pakaian, perhiasan dan sepatu yang terkena formalin. Cuci kulit selama 15-20 menit dengan sabun atau deterjen lunak dan air yang banyak dan dipastikan tidak ada lagi bahan yang tersisa di kulit. Pada bagian yang terbakar, lindungi luka dengan pakaian yag kering, steril dan longgar.

Bilas mata dengan air mengalir yang cukup banyak sambil mata dikedipkedipkan. Pastikan tidak ada lagi sisa formalin di mata. Aliri mata dengan larutan dengan larutan garam dapur 0,9 persen (seujung sendok teh garam dapur dilarutkan dalam segelas air) secara terus-menerus sampai penderita siap dibawa ke rumah sakit atau ke dokter. Bila tertelan segera minum susu atau norit untuk mengurangi penyerapan zat berbahaya tersebut. Bila diperlukan segera hubungi dokter atau dibawa ke rumah sakit. Yang lebih menyulitkan adalah pemantauan efek samping jangka panjang. Biasanya hal ini terjadi akibat paparan terhadap formalin dalam jumlah kecil. Dalam jangka pendek akibat yang ditimbulkan seringkali tanpa gejala atau gejala sangat ringan. Jangka waktu tertentu gangguan dan gejala baru timbul.

ALTERNATIF PENGGANTI FORMALIN DALAM PRODUK MAKANAN Untuk mengawetkan produk makanan, kita dapat menggunakan bahan pengawet yang diijinkan oleh pemerintah. Bahan pengawet yang diijinkan digunakan untuk produk makanan tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 722/Menkes/Per/IX/88 Tentang Bahan Tambahan Makanan, yang mencakup :

Bahan pengawet yang diijinkan digunakan untuk produk makanan 1. Asam Benzoat 2. Asam Propionat 9. Kalium Nitrat 10. Kalium Nitrit 17. Natrium Benzoat 18. Metil-p-hidroksi Benzoat 3. Asam Sorbat 4. Belerang Oksida 5. Etil p-Hidroksida Benzoat 6. Kalium Benzoat 7. Kalium Bisulfit 8. Kalium Meta Bisulfit 14. Kalsium benzoat 15. Kalsium Propionat 16. Kalsium Sorbat 22. Natrium Nitrit 23. Natrium Propionat 24. Natrium Sulfit 25. Nisin 11. Kalium Propionat 12. Kalium Sorbat 13. Kalium Sulfit 19. Natrium Bisulfit 20. Natrium Metabisulfit 21. Natrium Nitrat

Bahan pengawet diatas memang telah diijinkan oleh pemerintah, tetapi ada beberapa dari bahan tersebut diindikasikan menimbulkan efek negatif jika dikonsumsi oleh individu tertentu, semisal yang alergi atau digunakan secara berlebihan. Dari paparan diatas bahaya formalin pada kesehatan manusia dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1. Bersifat akut Dimana efek pada kesehatan manusia langsung terlihat yaitu: iritasi, alergi, kemerahan, mata berair, mual, muntah, rasa terbakar, sakit perut, dan pusing. 2. Kronis Diman aefek pada kesehatan manusia terlihat setelah terkena dalam jangka waktu yang lama dan berulang, iritasi kemungkin parah, mata berair kemungkin parah, gangguan pada pencernaan, gangguan pada hati, gangguan pada ginjal, gangguan pada pankreas, gangguan pada sistem saraf pusat, dan gangguan pada menstruasi

PEMBAHASAN

Praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi formaldehid dalam makanan dengan metoda destilasi dan kolorimetri. Sampel percobaan berupa tahu kuning, mie basah, ikan asin, dan susu segar. Pada metode ini digunakan asam kromatofat dengan rumus molekul C10H6O8S2Na2.2H2O untuk mengikat formalin agar terlepas dari bahan. Formalin juga bereaksi dengan asam kromatofat menghasilkan senyawa kompleks yang berwarna merah keunguan. Reaksinya dapat dipercepat dengan cara

menambahkan asam sulfat, asam fosfat, dan hidrogen peroksida (Ramadhan, 2008). Asam sulfat mempunyai rumus kimia H2SO4, merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Asam sulfat dalam praktikum metode destilasi dan kolorimetri ini berfungsi sebagai katalisator, dimana tujuannya untuk

mempercepat reaksi dimana asam sulfat sendiri tidak ikut berekasi dan kembali ke bentuk senyawa awal setelah proses reaksi selesai. Menurut BPOM (2008), hasil deteksi formalin menggunkan asam kromatofat jelas terlihat pada penentuan

warna setelah dipanaskan. Warna yang terlihat adalah ungu yang menandakan sampel tersebut positif mengandung formalin. Formalin mudah larut dalam air, mudah menguap, berbau tajam dan bersifat iritatif pada saluran pernafasan dan saluran pencernaan. Formalin termasuk kelompok senyawa desinfektan kuat yang dapat membasmi berbagai jenis bakreri pembusuk, cedawan dan kapang juga dapat mengawetkan mayat, bahan biologi dan preparat patologi. Formalin juga mempunyai sifat antimikrobial yang sangat tinggi, sangat efektif membunuh mikroba dan merupakan salah satu jenis alkil, selanjutnya dikatakan bahwa sifat antimikrobial formalin melalui beberapa cara seperti merusak asam deoksiribonukleat (DNA), denaturasi protein, mengganggu selaput dalam dinding sel. Karena sifat formalin sangat mudah larut dalam air, maka jika dicampurkan dengan ikan asin, tahu kuning, mie basah formalin

dengan mudah terserap oleh bahan makanan tersebut. Selanjutnya, formalin akan

mampu membunuh mikroba sehingga bahan makanan tidak akan mengalami pembusukan. Tahu sebagai bahan makanan dari hasil olahan kedelai yang mempunyai nilai gizi seperti protein, lemak, vitamin dan mineral dalam jumlah yang cukup tinggi. Selain memiliki kelebihan tahu juga mempunyai kelemahan, yaitu kandungan airnya yang tinggi sehingga mudah rusak/mudah basi karena mudah ditumbuhi mikroba. Untuk memperpanjang masa simpan, kebanyakan industri tahu yang ada di Indonesia menambahkan pengawet. Bahan pengawet yang digunakan tidak terbatas pada bahan pengawet yang diizinkan, akan tetapi banyak pengusaha yang nakal dengan menambahkan formalin sebagai bahan

pengawetnya. Bahan pengawet memang dibutuhkan untuk mencegah aktivitas mikroorganisme ataupun mencegah proses peluruhan yang terjadi sesuai dengan pertambahan waktu. Dengan demikian, pengawet diperlukan dalam pengolahan makanan, namun harus tetap mempertimbangkan keamanannya (Republika, 2005). Penggunaan bahan formalin sebagai bahan pengawet makanan sebenarnya sudah dilarang oleh Pemerintah dengan Peraturan Menteri Kesehatan (MenKes) Nomor 1168/MenKes/PER/X/1999 (Nuryasin, 2006). Penggunaan formalin dalam bahan pangan sangat dilarang karena akan berdampak buruk bagi kesehatan, dalam jangka waktu lama akan terakumulasi dalam tubuh, yang menyebabkan keluarnya air mata, pusing, tenggorokan serasa terbakar, serta kegerahan. Jika terpapar formaldehida dalam jumlah banyak, misalnya terminum, bisa menyebabkan kematian. Dalam tubuh manusia, formaldehida dikonversi menjadi asam format yang meningkatkan keasaman darah, tarikan nafas menjadi pendek dan sering, hipotermia, juga koma, atau sampai kepada kematian. Di dalam tubuh, formaldehida bisa menimbulkan terikatnya DNA oleh protein, sehingga mengganggu ekspresi genetik yang normal (Fahruddin, 2007). Sebenarnya batas toleransi formalin yang dapat diterima tubuh manusia dengan aman adalah dalam bentuk air minum, menurut International Programme on Chemical Safety (IPCS), adalah 0,1 mg per liter atau dalam satu hari asupan yang dibolehkan adalah 0,2 mg. Sementara formalin yang boleh masuk ke tubuh

dalam bentuk makanan untuk orang dewasa adalah 1,5 mg hingga 14 mg per hari. Berdasarkan standar Eropa, kandungan formalin yang masuk dalam tubuh tidak boleh melebihi 660 ppm (1000 ppm setara 1 mg/liter). Sementara itu, berdasarkan hasil uji klinis, dosis toleransi tubuh manusia pada pemakaian secara terusmenerus (Recommended Dietary Daily Allowances/RDDA) untuk formalin sebesar 0,2 miligram per kilogram berat badan. Hasil penelitian identifikasi formalin pada beberapa produk tahu, mie basah, ikan asin dan susu murni yang diambil acak di kota Bandung menunjukkan semua produk mengandung formalin. Tetapi tidak dilakukan analisa kadarnya sehingga tidak dapat dipastikan apakah kadar formalin dalam makanan tersebut melewati batas toleransi formalin untuk tubuh, tetapi karena makanan tersebut dikonsumsi secara terus menerus maka formalin yang terpapar dalam jumlah sangat sedikit sekalipun tetap akan memberikan efek sangat berbahaya bagi tubuh dan kesehatan karena formalin masuk ke dalam tubuh secara rutin dan terus menerus akan mengakibatkan penumpukan pada tubuh. Solusi penyalahgunaan formalin harus dilakukan secara komprehensif, berkesinambungan dan konsisten melalui pendekatan demand side, dengan melakukan peningkatan kesadaran dan kepedulian pelaku usaha dan masyarakat secara edukasi, informasi dan komusikasi efekti untuk tidak menggunakannya sebagai pengawet makanan.

KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tentang identifikasi formalin pada beberapa produk makanan seperti tahu, mie basah, ikan asin dan susu segar dapat diambil kesimpulan bahwa tahu, mie basah, ikan asin dan susu segar yang diambil acak di kota bandung mengandung formalin dan tidak layak dikonsumsi karena masih adanya kandungan formalin.

DAFTAR PUSTAKA Bakohumas. 2005. Hindari Pangan http://Bakohumas.Depkominfo.go.id yang Menggunakan Formalin.

Briliantono, E. 2006. Industri Pengolahan Ikan Pakai Formalin, Pewarna dan Borax. http:/www.Polban.Ac.Id Depkes. 2006. Penggunaan Formalin. http://www.tehindonesianinstitute.or.id Harmoni, D. 2006. Seluk Beluk Formalin. www.hd.co.id Judarwanto, W. 2006. http://www.pdpersi.co.id Ancaman Formalin Bagi Kesehatan.

Kompas. 2006. Formalin Sangat Berbahaya Bagi Kesehatan Manusia. www.kompas.com Kowara, S. 1992. Teknologi Pengolahan Kedelai. Pustaka Sinar Harapan : Jakarta. Nuryasin, A. 2006. Bahaya Formalin. http://ikap=kdk.com/arpan/content/view/III Sampurno. 2006. Keterangan Pers Kepala BPOM RI. No. Kh. 00.01.1241.029 Tentang Hasil Tindak Lanjut Pengawasan Terhadap Penyalahgunaan Formalin sebagai Pengawet TahudDan Mi Basah. Jakarta Anonim. 2005. Formaldehida www.wikipedia.com