Anda di halaman 1dari 27

Metode Deskriptif

DEFINISI Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek atau objek dalam penelitian dapat berupa orang, lembaga, masyarakat dan yang lainnya yang pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau apa adanya. Menurut Nazir (1988: 63) dalam Buku Metode Penelitian, metode deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. Menurut Sugiyono (2005: 21) menyatakan bahwa metode deskriptif adalah suatu metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas. Menurut Whitney (1960: 160) metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Dapat dikatakan bahwa penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa yang terjadi pada saat sekarang atau masalah aktual. CIRI-CIRI METODE DESKRIPTIF Terdapat ciri-ciri yang pokok pada metode deskriptif, antara lain adalah: 1. Memusatkan perhatian pada permasalahan yang ada pada saat penelitian dilakukan atau permasalahan yang bersifat aktual 2. Menggambarkan fakta tentang permasalahan yang diselidiki sebagaimana adanya, diiringi dengan interpretasi rasional yang seimbang. 3. Pekerjaan peneliti bukan saja memberika gambaran terhadap fenomena-fenomena, tetapi juga menerangkan hubungan, menguji hipotesis, membuat prediksi, serta mendapatkan makna dan implikasi dari suatu masalah. JENIS PENELITIAN DESKRIPTIF Menurut Nazir (1988: 64-65) mengemukakan bahwa ditinjau dari jenis masalah yang diselidiki, teknik dan alat yang digunakan, serta tempat dan waktu, maka penelitian dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

a.

Metode survei

Metode survei adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejalagejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual, baik tentang institusi sosial, ekonomi, atau politik dari suatu kelompok ataupun suatu daerah. (Nazir, 1988: 65) Kerlinger mengemukakan bahwa metode survei adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif distribusi, dan hubungan antar variabel. Sosiologi, maupun psikologis. Survei pada dasarnya tidak berbeda dengan research (penelitian). Pemakaian kedua istilah ini kerap kali hanya dimaksudkan untuk memberikan penekanan mengenai ruang lingkup. Research memusatkan diri pada salah satu atau beberapa aspek dari objeknya. Sedangkan survei bersifat menyeluruh yang kemudian akan dilanjutkan secara khusus pada aspek tertentu bilamana diperlukan studi yang lebih mendalam (Zulnaidi, 2007: 11) Lebih lanjut lagi Zulnaidi (2007: 11-12) mengemukakan beberapa studi yang termasuk dalam metode survei yakni:

Survei kelembagaan (institutional survei) Analisis jabatan/ pekerjaan (job analysis) Analisis dokumen (documentary analysis) Analisis isi (content analysis) Survei pendapat umum (public oppinion survey) Survey kemasyarakatan (community survey)

Nazir (1988: 65) dalam bukunya Metode Penelitian, mengemukan terdapat banyak sekali penelitian yang dapat dilakukan dengan menggunakan metode survei, diantaranya adalah survei masalah kemasyarakatan, survei komunikasi dan pendapat umum, survei masalah politik, survei masalah pendidikan, dan lain sebagainya. b. Metode deskriptif kesinambungan

Metode deskriptif dapat diartikan sebagai penelitian yang dilakukan secara terus menerus atau berkesinambungan sehingga diperoleh pengetahuan yang menyeluruh mengenai masalah, fenomena, dan kekuatan-kekuatan sosial yang diperoleh jika hubungan-hubungan fenomena dikaji dalam suatu periode yang lama. Menurut Nazir (1988: 65) mendefinisikan metode deskriptif berkesinambungan atau continuity descriptive research sebagai kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. Salah satu contoh metode penelitian deskriptif berkesinambungan ini dilakukan oleh Whitney dan Milholland (1930) yang mempelajari status akademis dari mahasiswa tingkat persiapan dari Colorado State College of Education pada tahun 1930. Penelitian dilakukan dalam waktu empat tahun, dengan menelusuri status akademis sejak tingkat persiapan sampai dengan lulus sarjana muda.

c.

Penelitian studi kasus

Penelitian studi kasus memusatkan diri secara intensive terhadap satu objek tertentu, dengan cara mempelajari sebagai suatu kasus. Berbagai unit sosial seperti seorang murid menunjukkan kelainan, sebuah kelompok keluarga, sebuah kelompok anak nakal, sebuah desa, sebuah lembaga sosial dan lain-lain dapat diselidiki secara intensive, baik secara menyeluruh maupun mengenai aspek-aspek tertentu yang mendapat perhatian khusus. (Zulnaidi, 2007: 13) Menurut Bogdan dan Bikien (1982) merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu. Menurut Maxfield (1930: 117-122) dalam Nazir (1988: 66) mendefinisikan penelitian studi kasus adalah penelitian tentang status subjek penelitian yang berkenan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus, ataupun status dari individu, yang kemudian, dari sifat-sifat khas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umum. Penelitian studi kasus menurut Stake (2005) terdapat 3 jenis penelitian studi kasus yang dibagi berdasarkan karakteristik dan fungsinya, yakni:

Penelitian studi kasus mendalam Penelitian studi kasus instrumental Penelitian studi kasus jamak

Tidak berbeda jauh, Creswell (2007) juga membagi penelitian studi kasus menjadi 3 jenis. Dalam penelitian studi kasus tentunya terdapat langkah-langkahnya. Menurut Yin (1994), terdapat langkah-langkah dalam melakukan penelitian studi kasus yakni secara singkat seperti di bawah ini: a) Merancang studi kasus

Dalam merancang studi kasus, terdapat dua langkah yakni melakukan pembekalan pengetahuan dan keterampilan serta melakukan pengembangan dan pengkajian ulang penelitian. b) Melakukan studi kasus

Dalam langkah kedua ini terdapat tiga langkah yakni 1) penentuan teknik pengumpulan data; 2) penyebaran alat pengumpulan data; dan 3) penganalisisan bukti studi kasus yang terkumpul. c) Melakukan pengembangan, implikasi, dan saran

Tahap ini merupakan tahap akhir dari setiap penelitian sebagai upaya melaporkan hasil penelitiannya kepada semua orang.

Nazir (1988: 68) mengemukakan bahwa langkah-langkah pokok dalam meneliti kasus adalah sebagai berikut: 1) menemukan rumusan tujuan penelitian; 2) tentukan unit-unit studi, sifat-sifat serta proses-proses apa yang akan menuntun penelitian; 3) tentukan rancangan serta pendekatan dalam memilih unit-unit dan teknik pengumpulan data mana yang digunakan. Sumber-sumber data apa yang tersedia; 4) kumpulkan data; 5) organisasikan informasi serta data yang terkumpul dan analisa untuk membuat interpretasi serta generalisasi; 6) susun laporan dengan memberikan kesimpulan serta implikasi dari hasil penelitian. d. Penelitian analisa pekerjaan dan aktivitas

Menurut Nazir (1988: 71) dalam buku Metode Penelitian mengemukakan bahwa penelitian analisa pekerjaan dan aktivitas merupakan penelitian yang ditujukan untuk menyelidiki secara terperinci aktivitas dan pekerjaan manusia, dan hasil penelitian tersebut dapat memberikan rekomendasi-rekomendasi untuk keperluan masa yang akan datang. Lebih lanjut Nazir mengemukakan bahwa studi yang mendalam dilakukan terhadap kelakuankelakuan pekerja, buruh, petani, guru, dan lain sebagainya terhadap gerak-gerik mereka dalam melakukan tugas, penggunaan waktu secara efisien dan efektif. e. Penelitian tindakan (action research)

Penelitian tindakan merupakan penelitian yang berfokus pada penerapan tindakan yang dengan tujuan meningkatkan mutu atau memecahkan permasalahan pada suatu kelompok subjek yang diteliti dan diamati tingkat keberhasilannya atau dampak dari tindakannya. Menurut Grundy dan Kemmis (1990: 322) mengemukakan bahwa penelitian tindakan memiliki dua tujuan pokok, yaitu meningkatkan (improve) dan melibatkan (involve). Maksudnya, penelitian tindakan bertujuan meningkatkan bidang praktik, meningkatkan pemahaman praktik yang dilakukan oleh praktisi, dan meningkatkan situasi tempat praktik dilaksanakan. Penelitian tindakan juga berusaha melibatkan pihak-pihak terkait, jika penelitian tindakan dilaksanakan di sekolah, maka pihak terkait antara lain adalah kepala sekolah, guru, siswa, karyawan, dan orang tua siswa. Penelitian ini sering digunakan oleh para peneliti di bidang pendidikan yang sering disebut sebagai penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Menurut Kemmis dan McTaggart (1982) mengungkapkan bahwa dalam penelitian tindakan kelas ini terdapat model yang digunakan yakni siklus yang akan selalu berputar, seperti pada gambar berikut ini:

Dari gambar tersebut dapat kita ketahui bahwa model di atas merupakan model siklus yang akan selalu berputar. Di awali oleh langkah perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.

Bilamana peneliti belum puas dengan hasil yang diperoleh, maka dapat dilanjutkan pada siklus yang kedua, ketiga, dan seterusnya dengan langkah-langkah yang sama sampai peneliti tersebut puas dengan hasil yang diperoleh. f. Penelitian perpustakaan

Penelitian perpustakaan merupakan kegiatan mengamati berbagai literatur yagn berhubungan dengan pokok permasalahan yang diangkat baik itu berupa buku, makalah ataupun tulisan yang sifatnya membantu sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam proses penelitian. Menurut Kartini Kartono (1986: 28) dalam buku Pengantar Metodologi Research Sosial mengemukakan bahwa tujuan penelitian perpustakaan adalah untuk mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam material yang ada di perpustakaan, hasilnya dijadikan fungsi dasar dan alat utama bagi praktek penelitian di lapangan. g. Penelitian Komparatif

Menurut Sugiono (2005: 11) penelitian komparatif adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan. Dalam buku metode penelitian karangan M. Nazir (1988: 69-70) terdapat keunggulan dan kelemahan dari metode penelitian komparatif. Keunggulannya adalah sebagai berikut:

Metode komparatif dapat mensubtitusikan metode eksperimental karena beberapa alasan: 1) jika sukar diadakan kontrol terhadap salah satu faktor yang ingin diketahui atau diselidiki hubungan sebab akibatnya; 2) apabila teknik untuk mengadakan variabel kontrol dapat menghalangi penampilan fenomena secara normal ataupun tidak memungkinkan adanya interaksi secara normal; 3) penggunaan laboratorium untuk penelitian untuk dimungkinkan, baik karena kendala teknik, keuangan, maupun etika dan moral. Dengan adanya teknik yang lebih mutakhir serta alat statistik yang lebih maju, membuat penelitian komparatif dapat mengadakan estimasi terhadap parameter-parameter hubungan kausal secara lebih efektif. Sedangkan kelemahannya adalah sebagai berikut: Penelitian komparatif yang bersifat ex post facto, mengakibatkan penelitian tersebut tidak mempunyai kontrol terhadap variabel bebas Sukar memperoleh kepastian, apakah faktor-faktor penyebab suatu hubungan kausal yang diselidiki benar-benar relevan. Interaksi antarfaktor-faktor tunggal sebagai penyebab atau akibat terjadinya suatu fenomena menjadi sukar untuk diketahui. Ada kalanya dua atau lebih faktor memperlihatkan adanya hubungan, tetapi belum tentu bahwa hubungan yang diperlihatkan adalah hubungan sebab akibat. Mengkategorisasikan subjek dalam dikhotomi untuk tujuan perbandingan dapat menjurus pada pengambilan keputusan dan kesimpulan yang salah, akibatnya kategori dikhotomi yang dibuat mempunyai sifat kabur, bervariasi, samar, menghendaki value judgement dan tidak kokoh.

Lebih lanjut lagi Nazir (1988: 70) menjabarkan beberpa langkah pokok dalam studi komparatif, yaitu: 1) rumuskan dan definisikan masalah; 2) jajaki dan teliti literatur yang ada; 3) rumuskan kerangka teoritis dan hipotesa-hipotesa serta asumsi-asumsi yang dipakai; 4) buatlah rancangan penelitian dengan cara memilih subjek yang digunakn dengan teknik pengumpulan data yang diinginkan, dan mengkategorikan sifat-sifat atau atribut-atribut atau hal-hal lain yang sesuai dengan masalah yang ingin dipecahkan, untuk mempermudah analisa sebab akibat; 5) uji hipotesa, membuat interpretasi terhadap hubungan dengan teknik statistik yang tepat; 6) membuat generalisasi, kesimpulan, serta implikasi kebijakan; dan 7) menyusun laporan dengan cara penulisan ilmiah. KRITERIA POKOK METODE DESKRIPTIF Nazir (1988: 72-73) dalam buku Metode Penelitian, terdapat dua kriteria pokok dalam metode penelitian deskriptif, yakni kriteria umum dan kriteria khusus. Kriteria umum Kriteria umum dari penelitan dengan metode deskriptif adalah:

Masalah yang dirumuskan harus patut, ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum Data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini Standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas Harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan Hasil penelitian harus berisi secara detail yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisa data serta studi kepustakaan yang dilakukan. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoritis yang digunakan, jika kerangka teoritis untuk itu telah dikembangkan

Kriteria khusus Kriteria khusus dari penelitian dengan metode deskriptif adalah:

Prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) Fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status Sifat penelitian adalah ex post facto, karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel, dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. Variabel dilihat sebagaimana adanya.

LANGKAH-LANGKAH UMUM DALAM METODE DESKRIPTIF Secara singkat dapat diketahui terdapat beberapa langkah-langkah dalama metode penelitian deskriptif, yakni 1) Mengidentifikasi adanya permasalahan yang signifikan untuk dipecahkan melalui metode deskriptif; 2) Membatasi dan merumuskan permasalahan secara jelas; 3) Menentukan tujuan dan manfaat penelitian; 4) melakukan studi pustaka yang berkaitan dengan permasalahan; 5) menentukan kerangka berfikir dan pertanyaan penelitian dan atau hipotesis

penelitian; 6) mendesain metode penelitian yang hendak digunakan termasuk menentukan populasi, sampel, teknik sampling, instrument pengumpulan data, dan menganalisis data; 7) mengumpulkan, mengorganisasi, dan menganalisis data dengan menggunakan teknik statistik yang relevan; dan 8) membuat laporan penelitian. Untuk lebih rincinya, Nazir (1988: 73-74) mengungkapakan terdapat berbagai langkah yang sering diikuti adalah sebagai berikut: 1. Memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. Menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. Tujuan dari penelitian harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 3. Memberikan limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. Termasuk di dalamnya daerah geografis di mana penelitian akan dilakukan, batasan-batasan kronologis, ukuran tentang dalam dangkal serta sebarapa utuh daerah penelitian tersebut akan dijangkau 4. Pada bidang ilmu yang telah mempunyai teori-teori yang kuat, maka perlu dirumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual yang kemudian diturunkan dalam bentuk hipotesa-hipotesa untuk diverifikasikan. Bagi ilmu sosial yang telah berkembang baik, maka kerangka analisa dapat dijabarkan dalam bentuk-bentuk model matematika 5. Menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. Merumuskan hipotesa-hipotesa yang ingin diuji, baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. Melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data, gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. Membuat tabulasi serta analisa statistik dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan. Kurangi penggunaan statistik sampai kepada batas-batas yang dapat dikerjakan dengan unit-unit pengukuran sepadan 9. Memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi sosial yang ingin diselidiki serta dari data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. Mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan serta hipotesa-hipotesa yang ingin diuji. Berikan rekomendasi-rekomendasi untuk kebijakan-kebijakan yang dapat ditarik dari penelitian 11. Membuat laporan penelitian dengan cara ilmiah

Sumber : http://idtesis.com/metode-deskriptif/

Pengertian Penelitian Deskriptif


Penelitian deskriptif adalah salah satu jenis metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya ( Best,1982 : 119). Penelitian Deskriptif ini juga sering disebut noneksperimen, karena pada penelitian ini peneliti tidak melakukan kontrol dan manipulasi variabel penelitian. Dengan penelitian metode deskriptif, memungkinkan peneliti untuk melakukan hubungan antar variabel, menguji hipotesis, mengembangkan generalisasi, dan mengembangkan teori yang memiliki validitas universal (west, 1982). Di samping itu, penelitian deskriptif juga merupakan penelitian dimana pengumpulan data untuk mengetes pertanyaan penelitian atau hipotesis yang berkaitan dengan keadan dan kejadian sekarang. Mereka melaporkan keadaan objek atau subjek yang diteliti sesuai dengan apa adanya. Pada umumnya tujuan utama penelitian deskriptif adalah untuk menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan subjek yang diteliti secara tepat. Dalam perkembangannya, akhir-akhir ini metode penelitian deskriptif banyak digunakan oleh peneliti karena dua alasan. Pertama, dari pengamatan empiris didapat bahwa sebagian besar laporan penelitian dilakukan dalam bentuk deskriptif. Kedua, metode deskriptif sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia. Di samping kedua alasan tersebut di atas, penelitian deskriptif pada umumnya menarik bagi para peneliti muda, karena bentuknya sangat sederhana dengan mudah dipahami tanpa perlu memerlukan teknik statiska yang kompleks. Walaupun sebenarnya tidak demikian kenyataannya. Karena penelitian ini sebenarnya juga dapat ditampilkan dalam bentuk yang lebih kompleks, misalnya dalam penelitian penggambaran secara faktual perkembangan sekolah, kelompok anak, maupun perkembangan individual. Penenelitian deskriptif juga dapat dikembangkan ke arah penenelitian naturalistic yang menggunakan kasus yang spesifik malalui deskriptif mendalam atau dengan penelitian seting alami fenomenologis dan dilaporkan secara thick description (deskripsi mendalam) atau dalam penelitian ex-postfacto dengan hubungan antarvariabel yang lebih kompleks. Penelitian deskriptif yang baik sebenarnya memiliki proses dan sadar yang sama seperti penelitian kuantitatif lainnya. Disamping itu, penelitian ini juga memerlukan tindakan yang teliti pada setiap komponennya agar dapat menggambarkan subjek atau objek yang diteliti mendekati kebenaranya. Sebagai contoh, tujuan harus diuraikan secara jelas, permasalahan yang diteliti signifikan, variabel penelitian dapat diukur, teknik sampling harus ditentukan secara hati-hati, dan hubungan atau komparasi yang tepat perlu dilakukan untuk mendapatkan gambaran objek atau subjek yang diteliti secara lengkap dan benar. Dalam penelitian deskriptif, peneliti tidak melakukan manipulasi variabel dan tidak menetapkan peristiwa yang akan terjadi, dan biasanya menyangkut peristiwa-peristiwa yang terjadi saat ini. Dengan penelitian deskriptif, memungkinkan peneliti untuk menjawab pertanyaan penelitian yang berkaitan dengan hubungan variabel atau asosiasi, dan juga mencari hubungan komparasi antar variabel.

Keunikan yang ada pada metode penelitian deskriptif antara lain seperti berikut : 1. Penelitian deskriptif menggunakan kuesioner dan wawancara, seringkali memperoleh responden yag sangat sedikit, akibatnya bias dalam membuat kesimpulan. 2. Penelitian deskriptif yang menggunakan observasi, terkadang dalam pengumpulan data tidak memperoleh data yang memadai. Untuk itu diperlukan para observer yang terlatih dalam observasi, dan jika perlu membuat chek list lebih dahulu tentang objek yang perlu dilihat, sehingga peneliti memperoleh data yang diinginkan secara objektif dan reliable. 3. Penelitian deskriptif juga membutuhkan permasalahan yang harus diindentifikasi dan dirumuskan dengan jelas, agar peneliti tidak mengalami kesulitan dalam menjaring data ketika di lapangan.

Sumber : http://ridwanaz.com/umum/bahasa/pengertian-penelitian-deskriptif/

Metode Deskriptif
Penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi. Beberapa penulis memperluas penelitian deskriptif kepada segala penelitian selain penelitian historis dan eksperimental. Mereka menyebut metode yang melulu deskriptif sebagai penelitian survai( isaac dan Michael,1981:46) atau penelitian obeservasional(wood,1977:29). Pengertian metode deskriptif diartikan melukiskan variabel demi variable,satu demi satu.pengertian ini sama dengan analisis deskriptif dalam statistik, sebagai lawan dari analisis inferensial. pada hakikatnya,metode deskriptif mengumpulkan data secara univariat. deskriptif, menurut Jalalludin Rakhmat penelitian deskriptif hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa. Penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi. Penelitian dapat memahami bahwa dalam penelitian deskriptif peneliti ditempatkan sebagai pengamat agar dapat terjun langsung untuk mengumpulkan informasi, mengidentifikasi masalah, membuat perbandingan serta menentukan apa yang dilakukan untuk memperoleh data yang akurat. Kata deskriptif berasal dari bahasa Inggris, descriptive, yang berarti bersifat menggambarkan atau melukiskan sesuatu hal. Menggambarkan atau melukiskan dalam hal ini dapat dalam arti sebenarnya (harfiah), yaitu berupa gambar-gambar atau foto-foto yang didapat dari data lapangan atau peneliti menjelaskan hasil penelitian dengan gambar-gambar dan dapat pula berarti menjelaskannya dengan kata-kata. Keduanya dalam laporan penelitian dapat digunakan agar saling melengkapi. Ada ungkapan bahwa gambar atau lukisan dapat memberi makna lebih dari sejuta kata. Pelaku atau responden yang menjadi objek dan subjek penelitian, kegiatan atau kejadian yang diteliti, dan konteks (lingkungan) tempat penelitian dilakukan dilaporkan dengan cara deskriptif sehingga pembaca memahami dengan baik laporan hasil penelitiannya. Banyak sekali penelitian deskriptif yang dapat dilakukan oleh peneliti. Ciri-ciri Penelitian Deskriptif Penelitian deskriptif dapat berupa kuantitatif (angka), kualitatif (angka), dan dapat pula kombinasi keduanya. Penelitian deskriptif kualitatif diuraikan dengan kata-kata menurut pendapat responden, apa adanya sesuai dengan pertanyaan penelitiannya, kemudian dianalisis pula dengan kata-kata apa yang melatarbelakangi responden berperilaku (berpikir, berperasaan, dan bertindak) seperti itu tidak seperti lainnya, direduksi, ditriangulasi, disimpulkan (diberi makna oleh peneliti), dan diverifikasi dikonsultasikan kembali kepada responden dan teman sejawat). Minimal ada tiga hal yang digambarkan dalam penelitian kualitatif, yaitu karakteristik pelaku, kegiatan atau kejadiankejadian yang terjadi selama penelitian, dan keadaan lingkungan atau karakteristik tempat penelitian berlangsung. Penelitian deskriptif gabungan kuantitatif dengan kualitatif mengandung kedua hal yang telah dijelaskan di atas. Jenis-jenis penelitian deskriptif kuantitatif ada empat jenis, yaitu biasa, komparasi, korelasi, dan regresi. Sesuai dengan fungsi ilmu, yaitu untuk menerangkan, memprediksikan, dan mengontrol; maka statistik deskriptif bertugas untuk menerangkan. Statistik komparasi, korelasi, dan regresi bertugas untuk memprediksi dan mengontrol. Penelitian deskripsi biasa umumnya menggunakan statistik sederhana, seperti persentase, diagram, grafik, median, modus, distribusi frekuensi, mean, simpangan baku, dan angka baku; komparasi (perbedaan) dengan menggunakan uji t untuk dua kelompok atau analisis of

varians (anova atau anava) untuk lebih dari dua kelompok; hubungan (korelasi) dengan menggunakan teknik korelasi; pengaruh dengan menggunakan teknik regresi atau analisis jalur (path analysis). Penelitian Deskriptif ditunjukan untuk 1. mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan suatu gejala yang ada. 2. mengidentifikasi masalah atau memeriksa kondisi dan praktek-praktek yang berlaku 3. membuat perbandingan atau evaluasi 4. menentukan apa yang di lakukan orang lain dalam menghadapi masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan datang. jadi penelitian deskriptif bukan saja menjabarkan (analisis), tetapi juga memandukan (sintesis). bukan saja melakukan klasifikasi,tetapi juga organisasi. dari penelitian deskriptiflah dikembangkan berbagai penelitian korelasional dan eksperimental.

SUMBER : Drs.Jalaluddin Rakhmat, M.SC,Metode Penelitian Komunikasi,cetakkan kelimabelas,PT.Remaja RosdaKarya,Bandung,2012, hal 24-25 Drs.Jalalludin Rakhmat,M.SC Metode Penelitian Komunikasi, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 1985, hal. 34. http://radencahyoprabowo.blogspot.com/2012/12/metode-deskriptif.html

Metode Penelitian Deskriptif


Pada dasarnya, teori psikologi yang penting berkembang dari penelitian deskriptif. dengan tujuan mengamati dan merekam perilaku. begitu pula dengan anda, sebelum anda memulai penelitian, ada baiknya anda mempelajari Metode Penelitian terlebih dahulu agar sesuai dan hasilnya pun bisa membanggakan. sebagai contoh mengenai psikologi, seorang psikolog mungkin mengamati tingkatan dimana Manusia saling membutuhkan sesamanya. penelitian deskriptif tidak dapat mengungkapkan apa penyebab beberapa gejala yang terjadi, tetapi dapat mengungkapkan informasi penting mengenai perilaku dan sikap manusia. Metode penelitian deskriptif meliputi pengamatan, survei dan wawancara, tes-tes yang terstandardisasi. kita akan mempelajari ketiga metode tersebut secara ringkas namun sederhana. adapun ketiga metode penelitian deskriptif adalah sebagai berikut : 1. Pengamatan Kita harus memiliki beberapa gagasan mengenai apa yang kita cari. kita harus mengetahui siapa yang kita amati, kapan dan dimana kita akan mengamati, dan bagaimana kita akan melakukan pengamatan. Jenis pengamatan ini menuntut sekumpulan keterampilan yang penting. kita mungkin tidak mengetahui apa yang ingin kita cari, tidak mengingat apa yang kita lihat, tidak menyadari bahwa apa yang kita cari bisa berubah dari waktu ke waktu, dan tidak mengomunikasikan pengamatan kita secara efektif. Oleh karena itu, kita juga perlu mengetahui dalam bentuk apa pengamatan akan dicatat. tertulis, dengan perekam suara, atau video. 2. Survei dan Wawancara Salah satu teknik atau metode terbaik dalam mendapatkan informasi adalah dengan wawancara, metode terkait yang secara khusus berguna untuk mendapatkan informasi dari berbagai orang adalah dengan survei atau kuesioner. survei dan wawancara dapat menggali pokok bahasan yang luas, dari keyakinan agama sampai kebiasaan seksual misalnya. Namun, satu masalah dengan survei dan wawancara adalah kecenderungan untuk menjawab pertanyaan. mereka akan menjawab pertanyaan yang mereka pikir bisa membuat pewawancara terkesan dengan menambah-nambahkan ataupun mengurangi apa yang ada. 3. Tes Terstandardisasi Menuntut Orang-orang untuk menjawab serangkaian pertanyaan tertulis atau lisan atau terkadang keduanya. sebuah tes terstandardisasi memiliki dua ciri khas: jawaban individu dihitung untuk menghasilkan skor tunggal, atau sekumpulan skor yang mencerminkan sesuatu mengenai individu, dan skor individu dibandingkan dengan skor pada kelompok yang lebih besar yang terdiri atas orang-orang serupa untuk menentukan bagaimana jawaban individu dibandingkan secara relatif dengan orang lain. salah satu tes terstandardisasi yang digunakan secara luas adalah tes kecerdasan dan skor-skor pada tes ini seringkali dinyatakan dalam persentil (perbandingan). Sumber : http://pintarpsikologi.blogspot.com/2012/10/metode-penelitian-deskriptif.html

Teori Penelitian Deskriptif


A. Pengertian Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya (Best,1982:119). Penelitian ini juga sering disebut noneksperimen, karena pada penelitian ini penelitian tidak melakukan kontrol dan manipulasi variabel penelitian. Dengan metode deskriptif, penelitian memungkinkan untuk melakukan hubungan antar variabel, menguji hipotesis, mengembangkan generalisasi, dan mengembangkan teori yang memiliki validitas universal (west, 1982). Di samping itu, penelitian deskriptif juga merupakan penelitian, dimana pengumpulan data untuk mengetes pertanyaan penelitian atau hipotesis yang berkaitan dengan keadan dan kejadian sekarang. Mereka melaporkan keadaan objek atau subjek yang diteliti sesuai dengan apa adanya. Penelitian deskriptif pada umumnya dilakukan dengan tujuan utama, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan sobjek yang diteliti secara tepat. Dalam perkembangan akhir-akhir ini, metode penelitian deskriptif juga banyak di lakukan oleh para penelitian karena dua alasan. Pertama, dari pengamatan empiris didapat bahwa sebagian besar laporan penelitian di lakukan dalam bentuk deskriptif. Kedua, metode deskriptif sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia. Disamping kedua alasan seperti tersebut di atas, penelitian deskriptif pada umumnya menarik para peneliti muda, karena bentuknya sangat sedarhana dengan mudah di pahami tanpa perlu memerlukan teknik statiska yang kompleks. Walaupun sebenarnya tidak demikian kenyataannya. Karena penelitian ini sebenarnya juga dapat ditampilkan dalam bentuk yang lebih kompleks, misalnya dalam penelitian penggambaran secara faktual perkembangan sekolah, kelompok anak, maupun perkembangan individual. Penenelitian deskriptif juga dapat dikembangkan ke arah penenelitian naturalistic yang menggunakan kasus yang spesifik malalui deskriptif mendalam atau dengan penelitian setting alami fenomenologis dan dilaporkan secara thick description (deskripsi mendalam) atau dalam penelitian ex-postfacto dengan hubungan antarvariabel yang lebih kompleks. Penelitian deskriptif yang baik sebenarnya memiliki proses dan sadar yang sama seperti penelitian kuantitatif lainnya. Disamping itu, penelitian ini juga memerlukan tindakan yang teliti pada setiap komponennya agar dapat menggambarkan subjek atau objek yang diteliti mendekati kebenaranya. Sebagai contoh, tujuan harus diuraikan secara jelas, permasalahan yang diteliti signifikan, variabel penelitian dapat diukur, teknik sampling harus ditentukan secara hati-hati, dan hubungan atau komparasi yang tepat perlu dilaukan untuk mendapatkan gambaran objek atau subjek yang diteliti secara lengkap dan benar. Dalam penelitian deskriptif, peneliti tidak melakukan manipulasi variabel dan tidak menetapkan peristiwa yang akan terjadi, dan biasanya menyangkut peristiwa-peristiwa yang saat sekarang terjadi. Dengan penelitian deskriptifi, peneliti memungkinkan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang berkaitan dengan hubungan variabel atau asosiasi, dan juga mencari hubungan komparasi antarvariabel. B.Langkah-langkah pelaksanaan penelitian deskriptif

Penelitian dengan metode deskriptif mempunyai langkah penting seperti berikut: 1.Mengidentifikasi adanya permasalahan yang signifikan untuk dipecahkan melalui metode deskriptif. 2.Membatasi dan merumuskan permasalahan secara jelas. 3.Menentukan tujuan dan manfaat penelitian. 4.Melakukan studi pustaka yang berkaitan dengan permasalahan. 5.Menentukan kerangka berpikir, dan pertanyaan penelitian dan atau hipotesis penelitian. 6.Mendesain metode penelitian yang hendak digunakan termasuk dalam hal ini menentukan populasi, sampel, teknik sampling, menentukan instrumen, mengumpulkan data, dan menganalisis data. 7.Mengumpulkan, mengorganisasikan, dan menganalisis data dengan menggunakan teknik statistika yang relevan. 8.Membuat laporan penelitian C.Macam-macam penelitian deskriptif Banyak jenis penelitian yang termasuk sebagai penelitian deskriptif. Setiap ahli penelitian sering dalam memberikan infomasi tentang pengelompokan jenis penelitian deskriptif, cenderung sedikit bervariasi. Perbedaan itu biasanya dipengaruhi oleh pandangan dan pengetahuan yang menjadi latar belakang para ahli tersebut. Perbedaan pandangan tersebut, salah satu diantaranya bila dilihat dari apek bagaimana proses pengumpulan data dalam penelitian deskriptif dilakukan oleh peneliti. Dari aspek bagaimana proses pengumpulan data dilakukan, macam-macam penelitian deskrptif minimal dapat dbedakan menjadi tiga macam, yaitu laporan dari atau self-report, studi perkembangan, studi lanjutan, (follow-up study), dan studi sosiometrik. 1.Penelitian Laporan Dari (Self-Report research) Dari kaitannya dengan data yang dikumpulkan maka penelitian deskriptif mempunyai beberapa macam jenis termasuk di antaranya laporan diri dengan menggunakan observasi. Dalam penelitian self-report, informasi dikumpulkan oleh orang tersebut yang juga berfungsi sebagai peneliti. Dalam penelitian self-report ini penelitian dianjurkan menggunakan teknik observasi secara langsung, yaitu individu yang diteliti dikunjungi dan dilihat kegiatanya dalam situasi yang alami. Tujuan obsevasi langsung adalah untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian. Dalam penelitian self-report, peneliti juga dianjurkan menggunakan alat bantu lain untuk memperoleh data, termasuk misalnya dengan menggunakan perlengkapan lain seperti catatan, kamera, dan rekaman. Alat-alat tersebut digunakan terutama untuk memaksimalkan ketika mereka harus menjaring data dari lapangan. Yang perlu diperhatikan oleh para peneliti yang dengan model self-report adalah bahwa dalam menggunakan metode observasi dalam melakukan wawancara, para peneliti harus dapat menggunakan secara simultan untuk memperoleh data yang maksimal. Salah satu contoh penelitian menggunakan self-report dapat dilihat dalam laporan tentang studi Kelembagaan dan Sistem Pembiayaan Usaha Kecil dan Menengah.

2.Studi Perkembangan (Developmental Study) Studi perkembangan atau devlopmental study banyak dilakukan oleh peneliti di bidang pendidikan atau bidang psikologi yang berkaitan dengan tingkah laku, sasaran penelitian perkembangan pada umumnya menyangkut variabel tingkah laku secara individual maupun dalam kelompok. Dalam penelitian perkembangan tersebut peneliti tertarik dengan variabel yang utamakan membedakan antara tingkat umur, pertumbuhan atau kedewasaan subjek yang diteliti. Studi perkembangan biasanya di lakukan dalam periode longitudinal dengan waktu tertentu, bertujuan guna menemukan perkembangan demensi yang terjadi pada seorang respoden. Demensi yang sering menjadi perhatian peneliti ini, misalnya: intelektual, fisik, emosi, reaksi terhadapan tertentu, dan perkembangan sosoial anak. Studi perkembangan ini biasa dilakukan baik secara cross-sectional atau logiotudinal. Jika penelitian dilakukan dengan model cross-sectional, peneliti pada waktu yang sama dan disimultan menggunakan berbagi tingkatan variabel untuk diselidiki. Data yang diperoleh dari masing-masing tingkat dapat dideskripsi dan kemudian di komparasi atau dicari tingkat asosiasinya. Dalam penelitian perkembangan model longitudinal, peneliti menggunakan responden sebagai sampel tertentu, misalnya: satu kelas satu sekolah, kemudian dicermati secara intensif perkembangannya secara continue dalam jangka waktu tertentu seperti tiga bulan, enam bulan, satu tahun. Semua fenomena yang muncul didokumentasi untuk digunakan sebagai informasi dalam menganalisis guna mencapai hasil penelitian. 3.Studi Kelanjutan (Follow-up study) Study kelanjutan dilakukan oleh peneliti untuk menentukan status responden setelah beberapa periode waktu tertentu memproleh perlakuan, misalnya rogram pendidikan. Studi kelanjutan ini di lakukan untuk melakukan evaluasi internal maupun evaluasi eksteral, setelah subjek atau responden menerima program di suatu lembaga pendidikan. Sebagai contoh Badan Akreditasi Nasional menganjurkan adanya informasi tingkat serapan alumni dalam memasuki dunia kerja, setelah mereka selesai program pendidikannya. Dalam penelitian studi kelanjutan biasanya peneliti mengenal istilah antara output dan outcome. Out (keluran) berkaitan dengan informasi hasil akhir setelah suatu program yang diberikan kepada subjek sasaran di selesaikan. Sedangkan yang dimaksud dengan data yang di ambil dari outcome (hasil) biasanya menyangkut pengaruh suatu perlakuan, misalnya program pendidikan kepada subjek yang di teliti setelah mereka kembali ke tempat asal yaitu masyarakat. 4.Studi Sosiometrik (Sociometric study) Yang dimaksud dengan sosiometrik adalah analisis hubungan antarpribadi dalam suatu kelompok individu. Melalui analisis pilihan individu atas dasar idola atau penolakan sesorang terhadap orang lain dalam suatu kelompok dapat di tentukan. Prinsif teori studi sosiometrik pada dasarnya adalah penanyakan pada masing-masing anggota kelompok yang diteliti untuk menentukan denga siapa dia paling suka, untuk bekerja sama dalam kegiatan kelompok. Pada kasus ini, dia dapat memilih satu atau tiga dalam kelompoknya. Dari setiap anggota, peneliti akan memperoleh jabatan yang bervariasi. Dengan menggunakan gambar sosiogram, posisi seseorang akan dapat diterangkan kedudukannya dalam kelompok organisasi. Dalam sosiogram tersebut pada umumnya digunakan beberapa batasan istilah yang dapat menunjukan posisi individu dalam kelompoknya. Beberapa istilah tersebut seperti misalnya:

Bintang diberikan kepada mereka yang paling banyak dipilih oleh para anggotanya, Terisolasi di berikan kepada mereka yang tidak banyak dipilih oleh para anggota dalam kelompok, Klik diberikan kepada kelompok kecil anggota yang saling memilih masing orang dalam kelompoknya. Dibidang pendidikan, sosiometrik telah banyak digunakan untuk menentukan hubungan variabel status seseorang misalnya pemimpin formal, pemimpin dalam lembaga pendidikan atau posisi seseorang dalam kelompoknya dengan variabel dalam kegiatan pendidikan. Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarlkan objek atau subjek yang diteliti sesuai dengan apa adanya, dengan tujuan menggambarkan secara sistematis fakta dan karakeristik objek yang di teliti secara tepat. Penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistic-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Oleh karena itu, laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan cirri-ciri naturalistic yang penuh keotentikan. Format Proposal 1. Konteks Penelitian atau Latar Belakang Bagian ini memuat uraian tentang latar belakang penelitian, untuk maksud apa peelitian ini dilakukan, dan apa/siapa yang mengarahkan penelitian. (Lihat juga membuat pendahuluan skripsi ) 2. Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah Fokus penelitian memuat rincian pernyataan tentang cakupan atau topik-topik pokok yang akan diungkap/digali dalam penelitian ini. Apabila digunakan istilah rumusan masalah, fokus penelitian berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian dan alasan diajukannya pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui gambaran apa yang akan diungkapkan di lapangan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan harus didukung oleh alasan-alasan mengapa hal tersebut ditampilkan.Alasan-alasan ini harus dikemukakan secara jelas, sesuai dengan sifat penelitian kualitatif yang holistik, induktif, dan naturalistik yang berarti dekat sekali dengan gejala yang diteliti. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan setelah diadakan studi pendahuluan di lapangan. 3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian merupakan sasaran hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini, sesuai dengan fokus yang telah dirumuskan. 4. Landasan Teori Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan kenyataan di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar

antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu teori. 5. Kegunaan Penelitian Pada bagian ini ditunjukkan kegunaan atau pentingnya penelitian terutama bagi pengembangan ilmu atau pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. Dengan kata lain, uraian dalam subbab kegunaan penelitian berisi alasan kelayakan atas masalah yang diteliti. Dari uraian dalam bagian ini diharapkan dapat disimpulkan bahwa penelitian terhadap masalah yang dipilih memang layak untuk dilakukan. 6. Metode Penelitian Bab ini memuat uraian tentang metode dan langkah-langkah penelitian secara operasional yang menyangkut pendekatan penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian. a. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pada bagian II peneliti perlu menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif, dan menyertakan alasan-alasan singkat mengapa pendekatan ini digunakan. Selain itu juga dikemukakan orientasi teoretik, yaitu landasan berfikir untuk memahami makna suatu gejala, misalnya fenomenologis, interaksi simbolik, kebudayaan, etnometodologis, atau kritik seni (hermeneutik). b. Kehadiran Peneliti Dalam bagian ini perlu disebutkan bahwa peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Instrumen selain manusia dapat pula digunakan, tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen. Oleh karena itu, kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif mutlak diperlukan. Kehadiran peneliti ini harus dilukiskan secara eksplisit dalam laopran penelitian. Perlu dijelaskan apakah peran peneliti sebagai partisipan penuh, pengamat partisipan, atau pengamat penuh. Di samping itu perlu disebutkan apakah kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subjek atau informan. c. Lokasi Penelitian Uraian lokasi penelitian diisi dengan identifikasi karakteristik lokasi dan alasan memilih lokasi serta bagaimana peneliti memasuki lokasi tersebut. Lokasi hendaknya diuraikan secara jelas, misalnya letak geografis, bangunan fisik (jika perlu disertakan peta lokasi), struktur organisasi, program, dan suasana sehari-hari. Pemilihan lokasi harus didasarkan pada pertimbanganpertimbangan kemenarikan, keunikan, dan kesesuaian dengan topik yang dipilih. Dengan pemilihan lokasi ini, peneliti diharapkan menemukan hal-hal yang bermakna dan baru. Peneliti kurang tepat jika megutarakan alasan-alasan seperti dekat dengan rumah peneliti, peneliti pernah bekerja di situ, atau peneliti telah mengenal orang-orang kunci. d. Sumber Data Pada bagian ini dilaporkan jenis data, sumber data, da teknik penjaringan data dengan keterangan

yang memadai. Uraian tersebut meliputi data apa saja yang dikumpulkan, bagaimana karakteristiknya, siapa yang dijadikan subjek dan informan penelitian, bagaimana ciri-ciri subjek dan informan itu, dan dengan cara bagaimana data dijaring, sehingga kredibilitasnya dapat dijamin. Misalnya data dijaring dari informan yang dipilih dengan teknik bola salju (snowball sampling). Istilah pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif harus digunakan dengan penuh kehatihatian. Dalam penelitian kualitatif tujuan pengambilan sampel adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin, bukan untuk melakukan rampatan (generalisasi). Pengambilan sampel dikenakan pada situasi, subjek, informan, dan waktu. e. Prosedur Pengumpulan Data Dalam bagian ini diuraikan teknik pengumpulan data yang digunakan, misalnya observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Terdapat dua dimensi rekaman data: fidelitas da struktur. Fidelitas mengandung arti sejauh mana bukti nyata dari lapangan disajikan (rekaman audio atau video memiliki fidelitas tinggi, sedangkan catatan lapangan memiliki fidelitas kurang). Dimensi struktur menjelaskan sejauh mana wawancara dan observasi dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Hal-hal yang menyangkut jenis rekaman, format ringkasan rekaman data, dan prosedur perekaman diuraikan pada bagian ini. Selain itu dikemukakan caracara untuk memastikan keabsahan data dengan triangulasi dan waktu yang diperlukan dalam pengumpulan data. f. Analisis Data Pada bagian analisis data diuraikan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkriptranskrip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain agar peneliti dapat menyajikan temuannya. Analisis ini melibatkan pengerjaan, pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data serta pencarian pola, pengungkapan hal yang penting, dan penentuan apa yang dilaporkan. Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data, dengan teknik-teknik misalnya analisis domain, analisis taksonomis, analisis komponensial, dan analisis tema. Dalam hal ini peneliti dapat menggunakan statistik nonparametrik, logika, etika, atau estetika. Dalam uraian tentang analisis data ini supaya diberikan contoh yang operasional, misalnya matriks dan logika. (lihat analisis ) g. Pengecekan Keabsahan Temuan Bagian ini memuat uraian tentang usaha-usaha peneliti untuk memperoleh keabsahan temuannya. Agar diperoleh temuan dan interpretasi yang absah, maka perlu diteliti kredibilitasnya dengan mengunakan teknik-teknik perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan, observasi yang diperdalam, triangulasi(menggunakan beberapa sumber, metode, peneliti, teori), pembahasan sejawat, analisis kasus negatif, pelacakan kesesuaian hasil, dan pengecekan anggota. Selanjutnya perlu dilakukan pengecekan dapat-tidaknya ditransfer ke latar lain (transferrability), ketergantungan pada konteksnya (dependability), dan dapat-tidaknya dikonfirmasikan kepada sumbernya (confirmability) . h. Tahap-tahap Penelitian Bagian ini menguraikann proses pelaksanaan penelitian mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya, sampai pada penulisan laporan.

7. Daftar Rujukan Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan. Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, tesis, dan disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Tatacara penulisan daftar rujukan. Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi: 1. nama penulis ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, nama tengah, tanpa gelar akademik, 2. tahun penerbitan 3. judul, termasuk subjudul 4. kota tempat penerbitan, dan 5. nama penerbit.

Sumber : http://elpramwidya.wordpress.com/2009/12/25/teori-penelitian-deskriptif/

Penelitian Deskriptif
Penelitian Deskriptif dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah yang diselidiki dengan melukiskan keadaan subyek dan obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau bagaimana adanya. Misalnya kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecenderungan yang tengah berlangsung. Pada hakekatnya, setiap penyelidikan mempunyai sifat deskriptif dan setiap penyelidikan mengadakan proses analitik, tetapi dalam metode ini deskriptif dan analisis merupakan hal penting. Pelaksanaan metode-metode deskriptif tidak terbatas hanya sampai pada pengumpulan dan penyusunan data, tetapi meliputi analisa dan interpretasi tentang arti data itu. Dan pada taraf terkhir, metode deskriptif harus sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang didasarkan atas penelitian data. Langkah awal untuk mengadakan analisa, adalah peneliti harus mempunyai satu cara berfikir, cara pengupasan, dengan referensi atau titik tolak tertentu. Misalnya peneliti menganalisa suatu fenomena didalam unsur-unsur dan unsur0unsur ditempatkan menurut titik tolak tertentu untuk penampungan dan sintese. Langkah selanjutnya adalah mengklasifikasikan, misalnya dalam bentuk,pola, kedudukan, ataupun klasifikasi yang memperlihatkan suatu dinamika, perhubungan dan lain sebagainya. Klasifikasi tersebut diperlukan untuk dapat melihat kedudukan setiap fenomena atau unsur-unsur fenomena dalam satu struktur yang besar. Misalnya pada ilmu hayat (klasifikasi tumbuh-tumbuhan) ilmu perpustakaan (klasifikasi katalog dan indeks) semuanya ini berfungsi sebagai pengatur pikiran dan tanggapan seseorang dalam mengadakan analisa. Ciri-ciri metode Deskriptif 1. Memusatkan diri pada pemecahan masalah-maslah yang ada pada masa sekarang, masalahmasalah yang aktual. 2. Data yang dikumpulkan mula-mula di susun, di jelaskan kemudian dianalisis (metode ini sering disebut metode analitik). karakteristik-karakteristik yang ada pada penelitian deskriptif seperti yang dikemukakan Furchan (2004) bahwa : 1. penelitian deskriptif cendrung menggambarkan suatu fenomena apa adanya dengan cara menelaah secara teratur-ketat, mengutamakan obyektivitas, dan dilakukan secara cermat. 2. Tidak adanya perlakuan yang diberikan atau dikendalikan, 3. Tidak adanya uji hipotesis. Pada umumnya Penelitian deskriptif dilakukan dengan tujuan, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan sobjek yang diteliti secara tepat. Beberapa alasan lain yang di lakukan oleh para peneliti karena Pertama, dari pengamatan empiris didapat bahwa sebagian besar laporan penelitian di lakukan dalam bentuk deskriptif. Kedua, metode deskriptif sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia. Selain kedua alasan seperti tersebut, misal karena bentuknya sangat sedarhana den mudah di pahami tanpa perlu memerlukan teknik statistika yang kompleks. Sebenarnya penelitian deskriptif juga dapat ditampilkan dalam bentuk yang lebih kompleks, misalnya dalam penelitian penggambaran secara faktual perkembangan sekolah, kelompok anak, maupun perkembangan individual. Langkah-langkah dalam melakukan penelitian Deskriptif 1. Mengidentifikasi adanya permasalahan yang signifikan untuk dipecahkan melalui metode deskriptif (memilih masalah yang akan diteliti).

2. Merumuskan dan mengadakan pembatasan masalah, kemudian berdasarkan masalah tersebut melakukan studi pendahuluan untuk menghimpun informasi dan teori teori sebagai dasar menyusun kerangka konsep penelitain. 3. Membuat asumsi atau anggapan-anggapan yang menjadi dasar perumusan hipotesis penelitian. 4. Merumuskan hipotesis penelitian (bila ada) 5. Merumuskan dan memilih teknik pengumpulan data. 6. Menentukan kriteria atau kategori untuk mengadakan klasifikasi data. 7. Menentukan teknik dan alat pengumpul data yang akan digunakan. 8. Melaksanakan penelitian atau pengumpulan data untuk menguji hipotesis 9. Melakukan pengolahan dan analisis data 10. Menarik kesimpulan atau generalisasi. 11. Menyusun dan mempublikasikan laporan penelitian. Jenis-jenis Penelitian Deskriptif 1. Teknik Survey Survey adalah suatu cara penelitian deskriptif yang dilakukan terhadap sekumpulan objek yang biasanya cukup banyak dalam jangka waktu tertentu yang bersamaan. Tujuan survey adalah untuk membuat penilaian terhadap suatu kondisi dan penyelenggaraan suatu program di masa sekarang dan hasilnya digunakan untuk menyusun perencanaan perbaikan program tersebut. Survey bukan hanya dilaksanakan untuk membuat deskripsi tentang suatu keadaan saja, tetapi juga untuk menjelaskan hubungan antara berbagai variabel yang diteliti. Diantara bidang yang sering diteliti adalah bidang kemasayarakatan (survey sosial), bidang persekolahan (survey sekolah), bidang politik (survey kepartaian dan pemilihan umum) dan lain sebagainya. Survey dilakukan dengan berbeda-beda sesuai dengan sifat dan tujuan khusus survey, tetapi persamaannya adalah bahwa setiap teknik survey adalah penyelidikan dengan gerak yang meluas dan merata karena sampel yang besar dihadapi dalam satu masa maka teknik ini menghasilkan data kuantitatif yang menggambarkan secara umum keadaan sampel yang diselidiki. Misalnya bagaimana pendapat masyarakat desa terhadap peraturan pemerintah masyarakat tersebut dalam hal pembatasan kelahiran, berapa banyak waktu senggang para mahassiswa UNS dan bagaimana cara mengisinya, dan lain sebagainya. 2. Studi Kasus Studi kasus yaitu suatu penyelidikan yang memusatkan perhatian secara intensif tentang individu, dan atau unit sosial yang dilakukan secara mendalam dengan menemukan semua variabel penting tentang perkembangan individu atau unit sosial yang diteliti. Karena sifatnya yang mendalam dan mendetail iu, studi kasus umumnya menghasilkan gambaran yang longitudinal yakni hasil pengumpulan dan analisa data kasus dalam satu jangka waktu dan dalam penelitian ini dimungkinkan ditemukannya hal-hal tak terduga kemudian dapat digunakan untuk membuat hipotesis. Studi kasus juga diusahakan menemukan begeralisasi serta pola-pola kasus yang dipandang khas. 3. Studi Komparatif Studi komparatif adalah Penyelidikan deskriptif yang berusaha mencari pemecahan melalui analisa tentang perhubungan-perhubungan sebab akubat, yakni yang meneliti faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan situasi atau fenomena yang diseidiki dan membandingkan satu faktor dengan yang lain. Kelemahan dari studi komparatif adalah tudak mudahnya untuk mengenal faktor-faktor penyebab, terutama pada suatu penyelidikan dimana banyak kemungkinan terdapat saling pengaruh antara banayak faktor, atau kemungkinan adanya

pengaruh-pengaruh faktor tertentu yang sulit diketahui atau karena situasi yang dihadapi terlalu terbats untuk memperoleh data yang secukupnya. 4. Studi waktu dan gerak Dalam lapangan pendidikan dan latihan, studi waktu dan gerak dapat menghasilkan norma mengenai waktu atau gerak yang normal bagi seorang petugas dalam melakukan tugas tertentu dan dengan norma itu dapat diadakan rencana pendidikan atau sistem seleksi untuk membedakan petugas-petugas yang efektif dari petugas-petugas yang tidak efektif. 5. Analisa tingkah laku Studi ini banyak persamaanya dengan studi tentang gerak manusia, tetapi cakupannya lebih luas. Gerak gerik atau tingkah laku manusia dalam melakukan suatu tugas dengan tanggungjawab tertentu akan diamati dan analisa. Studi ini berguna untuk menetapkan kriteria penilaian pekerjaan yang baik, untuk memeberi keseimbangan anatara pekerjaan yang diberikan dengan upah yang diterima oleh setiap petugas. 6. Analisa kuantitatif Dengan analisa kuantitatif akan diperoleh gambaran sistematik mengenai isi suatu dokumen. Dokumen tersebut diteliti isinya, kemudian diklasifikasi menurut kritera atau pola tertentu dan dianalisa atau di nilai. Yang lazim diselidiki dengan teknik ini adalah buku-buku, surat-surat penting, sylabus, rekaman suara, film dan lain sebagainya. Tujuan yang dicapai dalam analisa kuantitatif adalah untuk menjelaskan suatu situasi, atau untuk menetapkan taraf kesulitan bahan pelajaran dalam buku tertentu untuk menilai segi praktis dalam pendidikan warga negara dalam buku-buku bacaan atau untuk menganalisa berbagai kesalahan dalam karangan. 7. Studi operasional Pada dasarnya studi ini adalah penyelidikan ditengah-tengah situasi yang riil dalam mencari dasar bagi petugas-petugas untuk bertindak (operasi, aksi) mengatasi suatu kebutuhan praktis yang mendesak. Studi operasional baru berkembang sebagai teknik penyelidikan deskriptif pada kira-kira seperempat abad terkhir ini dan dilakukan terutama dalam bidang pendidikan dan kemasayarakatan. Penyelidikan operasional berbeda dengan yang lainnya yaitubdalam tekanan sifat-sifat tertentu dari penyelidikan yang murni. Peneyelidikan dasar atau penyelidikan murni umumnya berusaha menemukan generalisasi, dalil, ataupun teori yang berlaku umum. Implementasi penemuan itu biasanya diserahkan pada ahli-ahli lain yang bergerak secara praktis dalam bidang yang sesuai. Pada studi atau penyelidikan operasional, penyelidikan timbul sebagai akibat terasanya satu kebutuhan operasional yang efektif, baisanya peneyelenggara penyelidikan itu adalah oarang-orang praktek (pelaksana) itu sendiri dengan bantuan ahli penyelidikan. Dan kesimpulan dari studi operasional umumnya berlaku terbatas pada daerah penyelidikan yang aktual itu saja. Masih banyak jenis-jenis penelitian lain yang tentu saja lebih sesuai dengan tujuan penelitian. Jenis-jenis penelitian tersebut lebih cenderung bersifat longitudinal atau memakan waktu yang panjang. Misalnya penyelidikan deskriptif yang bertujuan khusus pada perkembangan dan pertumbuhan, yang kadang-kadang bersifat genetik atau diagnosik. DAFTAR PUSTAKA Salim,Agus.2006.Teori dan Paradigma Penelitian Sosial.Yogyakarta:Tiara Wacana Surakhmad, Winarno.1998.PENGANTAR PENELITIAN ILMIAH dasar, metode dan teknik.Bnadung:Tarsito Usman, husaini dan purnomo setiady aakbar.2004.Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta:Bumi Aksara

Contoh Metode Penelitian Deskriptif


Banyak jenis penelitian yang termasuk sebagai penelitian deskriptif. Setiap ahli penelitian sering dalam memberikan informasi tentang pengelompokan jenis penelitian deskriptif, cenderung sedikit bervariasi. Perbedaan itu biasanya dipengaruhi oleh pandangan dan pengetahuan yang menjadi latar belakang para ahli tersebut. Perbedaan pandang tersebut, salah satu di antaranya bila dilihat dari aspek bagaimana proses pengumpulan data dalam penelitian deskriptif dilakukan oleh peneliti. Dari aspek bagaimana proses pengumpulan data dilakukan, contoh penelitian deskriptif minimal dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu laporan diri atau self-report, studi perkembangan, studi kelanjutan (follow-up study), dan studi sosiometrik. Contoh Metode Penelitian Deskriptif #1 : Penelitian Laporan Diri (SelfReport Research) Dalam kaitannya dengan data yang dikumpulkan maka penelitian deskriptif mempunyai beberapa macam jenis termasuk di antaranya laporan diri dengan menggunakan observasi. Dalam penelitian self-report, informasi dikumpulkan oleh orang tersebut yang juga berfungsi sebagai peneliti. Dalam penelitian self-report ini peneliti dianjurkan menggunakan teknik observasi secara langsung, yaitu individu yang diteliti dikunjungi dan dilihat kegiatannya dalam situasi yang alami. Tujuan observasi langsung adalah untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian. Dalam penelitian self-report, peneliti juga dianjurkan menggunakan alat bantu lain untuk memperoleh data, termasuk misalnya dengan menggunakan perlengkapan lain seperti catatan, kamera, dan rekaman. Alat-alat tersebut digunakan terutama untuk memaksimalkan ketika mereka harus menjaring data dari lapangan. Yang perlu diperhatikan oleh para peneliti yang dengan model self-report adalah bahwa dalam menggunakan metode observasi dan melakukan wawancara, para peneliti harus dapat menggunakan secara simultan untuk memperoleh data yang maksimal. Salah satu contoh penelitian menggunakan self-report dapat dilihat dalam laporan tentang Studi Kelembagaan dan Sistem Pembiayaan Usaha Kecil dan Menengah. Contoh Penelitian Deskriptif Menggunakan Self-Report

Studi

Kelembagaan

dan

Sistem

Pembiayaan

Usaha

Kecil

dan

Menengah

Studi banding tentang Kelembagaan dan Sistem Pembiayaan Usaha Kecil dan Menengah ini mempunyai 5 tujuan penting, yaitu 1. Mengidentifikasi faktor-faktor pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah melalui sistem kelembagaan. 2. Memperoleh informasi tentang faktor-faktor pengembangan kelembagaan bagi koperasi usaha kecil dan menengah. 3. Meningkatkan kerja sama lembaga pemerintah agar secara komprehensif mempunyai sistem pembiayaan yang relevan dengan kebutuhan para pengusaha. 4. Merumuskan kebijakan, implementasi, dan sistem monitoring yang relevan dengan kelembagaan dan sistem pembiayaan usaha kecil dan menengah. 5. Memperoleh model best practice tentang kelembagaan dan sistem pembiayaan di negara Filipina yang mungkin dapat diterapkan sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia.

Penelitian studi banding ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan self-report. Tempat penelitian adalah lembaga tinggi departemen Perdagangan dan Industri dan lembaga lain yang menangani pertumbuhan dan perkembangan usaha kecil dan menengah. Lembaga-lembaga lain tersebut termasuk Kantor Biro Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (BSMD), Kantor Technology Livelihood Resource Center (TLRC), Colombo Plan Staff College (CPSC), dan Technology University of Philippines (TUP). Subjek penelitiannya adalah narasumber yang memiliki informasi yang diperlukan dan mereka yang berhasrat dan bersedia bekerja sama dalam memberikan informasi. Studi banding ini mempunyai hasil yang dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu lembaga pengelolaan dan sistem pembiayaan usaha kecil dan menengah. Yang berkaitan dengan Lembaga Pengelola UKM di antaranya adalah termasuk: 1. Pengembangan usaha kecil dan menengah di Filipina di bawah Department of Trade and Industry (DTI), dengan melibatkan beberapa biro yang ada di tingkat nasional dan regional. 2. Yang termasuk pengusaha kecil dan menengah di Filipina, adalah para pengusaha atau entrepreneur, baik individual maupun kelompok warga negara Filipina yang memiliki ciri-ciri seperti berikut: pengusaha mikro mempunyai aset < P 1,500,001; pengusaha kecil mempunyai aset P 1,500,001 - P 15,000,000; dan pengusaha menengah mempunyai P 15,000,001- P 60,000,000. 3. Ada enam lembaga tinggi negara dan beberapa kantor yang relevan dengan macam-macam kegiatan bisnis sebagai tempat pendaftaran dan yang akan

4. Program pemerintah yang terkait dengan usaha kecil dan menengah dilaksanakan oleh semua lembaga yang relevan termasuk kantor yang berada di bawah tanggung jawab departemen perdagangan dan industri, departemen keuangan, anggaran dan manajemen, pertanian, reformasi agraria, lingkungan dan sumber daya alam, tenaga kerja dan perburuhan, transportasi dan komunikasi, pekerjaan publik dan jalan raya, pemerintah daerah dan ekonomi nasional dan otoritas pengembangan dan semua Bank Central Filipina baik tingkat nasional, regional, dan provinsi. 5. Pada masing-masing kantor lembaga mempunyai prosedur, wewenang, dan dugaan jumlah pembiayaan pendaftaran yang dicantumkan secara jelas. Wewenang, prosedur, dan jumlah biaya yang jelas tersebut, pada prinsipnya adalah untuk mempermudah bagi para pengusaha, ketika mereka melakukan pendaftaran ke kantor lembaga tersebut.

Contoh Metode Penelitian (Developmental Study)

Deskriptif

#2

Studi

Perkembangan

Studi perkembangan atau developmental study banyak dilakukan oleh peneliti di bidang pendidikan atau bidang psikologi yang berkaitan dengan tingkah laku. Sasaran penelitian perkembangan pada umumnya menyangkut variabel tingkah laku secara individual maupun dalam kelompok. Dalam penelitian perkembangan tersebut peneliti tertarik dengan variabel yang utamanya membedakan antara tingkat umur, pertumbuhan atau kedewasaan subjek yang diteliti. Studi perkembangan biasanya dilakukan dalam periode longitudinal dengan waktu tertentu, bertujuan guna menemukan perkembangan dimensi yang terjadi pada seorang responden. Dimensi yang sering menjadi perhatian peneliti ini, (CPSC), misalnya: intelektual, fisik, emosi, reaksi terhadap perlakuan tertentu, dan a adalah perkembangan sosial anak. Studi perkembangan ini bisa dilakukan baik secara berhasrat cross-sectional atau longitudinal. Jika penelitian dilakukan dengan model cross-sectional, peneliti pada waktu yang sama dan simultan menggunakan berbagai tingkatan variabel untuk diselidiki. Data yang diperoleh dari masing-masing tingkat dapat dideskripsi dan kemudian dikomparasi atau dicari tingkat asosiasinya. Dalam penelitian perkembangan model longitudinal, peneliti menggunakan responden sebagai sampel tertentu, misalnya: satu kelas dalam satu sekolah, kemudian dicermati secara intensif perkembangannya secara kontinu dalam jangka waktu tertentu seperti 3 bulan, 6 bulan, atau 1 tahun. Semua fenomena yang muncul didokumentasi untuk digunakan sebagai informasi dalam menganalisis guna mencapai hasil penelitian.

Contoh Metode Penelitian Deskriptif #3 : Studi Kelanjutan (Follow-up Study) Studi kelanjutan dilakukan oleh peneliti untuk menentukan status responden setelah beberapa periode waktu tertentu memperoleh perlakuan, misalnya program pendidikan. Studi kelanjutan ini dilakukan untuk melakukan evaluasi internal maupun evaluasi eksternal, setelah subjek atau responden menerima program di suatu lembaga pendidikan. Sebagai contohnya, Badan Akreditasi Nasional menganjurkan adanya informasi tingkat serapan alumni dalam memasuki dunia kerja, setelah mereka selesai program pendidikannya. Dalam penelitian studi kelanjutan biasanya peneliti mengenal istilah antara output dan outcome. Output (keluaran) berkaitan dengan informasi hasil akhir setelah suatu program yang diberikan kepada subjek sasaran diselesaikan. Sedangkan yang dimaksud dengan data yang diambil dari outcome (hasil) biasanya menyangkut pengaruh suatu perlakuan, misalnya program pendidikan kepada subjek yang diteliti setelah mereka kembali ke tempat asal yaitu masyarakat. Contoh Metode Penelitian Deskriptif #4 : Studi Sosiometrik (Sociometric Study) Yang dimaksud dengan sosiometrik adalah analisis hubungan antar-pribadi dalam suatu kelompok individu. Melalui analisis pilihan individu atas dasar idola atau penolakan seseorang terhadap orang lain dalam satu kelompok dapat ditentukan. Prinsip teori studi sosiometrik pada dasarnya adalah menanyakan pada masingmasing anggota kelompok yang diteliti untuk menentukan dengan siapa dia paling suka, untuk bekerja sama dalam kegiatan kelompok. Pada kasus ini, dia dapat memilih 1 atau 3 orang dalam kelompoknya. Dari setiap anggota, peneliti akan memperoleh jawaban yang bervariasi. Dengan menggunakan gambar sosiogram, posisi seseorang akan dapat diterangkan kedudukannya dalam kelompok organisasi. Dalam sosiogram tersebut pada umumnya digunakan beberapa batasan istilah yang dapat menunjukkan posisi individu dalam kelompoknya. Beberapa istilah tersebut seperti misalnya:

"bintang" diberikan kepada mereka yang paling banyak dipilih oleh para anggotanya, "terisolasi" diberikan kepada mereka yang tidak banyak dipilih oleh para anggota dalam kelompok,

"klik" diberikan kepada kelompok kecil anggota yang saling memilih masing orang dalam kelompoknya.

Di bidang pendidikan, sosiometrik telah banyak digunakan untuk menentukan hubungan variabel status seseorang misalnya pemimpin formal, pemimpin dalam lembaga pendidikan atau posisi seseorang dalam kelompoknya dengan variabel lain dalam kegiatan pendidikan. Baca juga tentang Pengertian Penelitian Deskriptif dan Contoh Skala Likert pada Penelitian Sumber : Sukardi, Ph.D., Metodologi Penelitian Pendidikan

http://www.onlinesyariah.com/2012/12/contoh-metodepenelitian-deskriptif.html