Anda di halaman 1dari 58

ACARA I

PENGGUNAAN ALAT

BAB I . PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengukuran mempunyai arti yang sangat penting dalam inventore atau pengelolaan hutan pada umumnya. Pengukuran merupakan langkah yang menjadi dasar untuk melakukan pengamatan secara obyektif. Dengan pengamatan, segala sesuatu dapat berkembang, demikian pula untuk bidang inventore dan pengelolaan hutan. Setiap pengamatan selalu diiikuti dengan suatu variabel salah satunya dapat diukur secara kuantitatif, sebagai contoh pengukuran diameter batang pohon, keliling batang pohon dan tinggi pohon. Pengukuran tersebut dilakukan menggunakan alatalat yang berbeda, dalam pengukuran setiap alat memiliki keakuratn yang berbeda beda, dari hal tersebut dapat terlihat kekurangan dan kelebihan alat alat tersebut. Maka melalui praktikum ini, praktikan diperkenalkan alat alat pengukuran hutan, baik itu cara penggunaannya dan pengaplikasiannya di lapangan, yang nantinya hasil dari pengukuran yang dilakukan dapat digunakan dan dimanfaatkan untuk pengelolaan hutan.

B. Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk dapat mengenal dan menggunakan alat alat pengukuran hutan untuk pengaplikasian di lapangan.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Di dalam perencanaan pekerjaan lapangan, keputusan harus diambil terhadap macammacam instrumen yang akan digunakan untuk tiap pengukuran. Paling baik keputusan diletakkan kepada seperangkat standar instrumen instrumen dan mengharuskan semua pengukuran lapangan dibuat dengan instrumen instrumen standar itu. Penggunaan beberapa macam instrumen untuk pengukuran yang sama harus dihindari . Sebagai contoh untuk pengukuran pengukuran diameter . Seorang pekerja harus tidak menggunakan peta diameter, yang lain kaliper dan yang lain lagi suatu garpu ( B. Husch , 1987). Tinggi pohon diaktan sama panjang pohon itu jika dan hanya jika pohon itu berdiri tegak lurus bentuk terhadap bidang datar ( Banyard , 1973 ). Diameter merupakan salah satu parameter pohon yang mempunyai arti penting dalam pengumpulan data tentang potensi hutan untuk keperluan pengelolaan. Karena keterbatasan alat yang tersedia, seringkali keperluan pengukuran keliling (K) lebih banyak dilakukan, baru kemudian dikonversi ke diameter (D), dengan menggunakan rumus yang berlaku untuk lingkaran D= K/. Dalam mengukur diameter yang lazim dipilih adalah diameter setinggi dada, karena pengukurannya paling mudah dan mempunyai korelasi yang kuat dengan parameter yang lain, seperti luas bidang dasar dan volume batang. Pada umumnya diameter setinggi dada diukur pada ketinggian batang 1,3 meter dari permukaan tanah , tetapi sebenarnya tidak selalu harus demkian (Simon,H.1987). Phiband adalah alat ukur dengan tipe sama dengan pita ukur, akan tetapi memiliki alat ukur yang berebda yaitu phiband terdapat skala inchi dan skala diameter (Markum , 2008 ). GPS (Global Positioning System) adalah sistem satelit navigasi dan dikelola Amerika Serikat. Sistem ini didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga dimensi serta informasi mengenai waktu, secara kontinyu diseluruh dunia tanpa bergantung dengan waktu dan cuaca, bagi banyak orang secara simultan. Saat ini GPS sudah banyak digunakan orang diseluruh dunia dalam berbagai bidang aplikasi yang menuntun informasi tenatng posisi, kecepatan percepatan ataupun waktu yang teliti (Anonim , 2010).

BAB III. METODOLOGI A. Alat Alat 1. GPS 2. Haga meter 3. Christen meter 4. Suunto Compass (Kompas) 5. Pita ukur 6. Phi band 7. Tongkat pembantu 4 meter

B. Bahan Bahan 5 tegakan di area lab Fakultas Pertanian Universitas Mataram

C. Cara Kerja Pencarian titik menggunakan GPS 1. Dihidupkan GPS 2. Ditunggu layar hingga konfigurasi satelit muncul , tekan tombol find ,kemudian tekan tombol enter untuk memilih waypoint . 3. Dipilih salah satu daftar waypoint . 4. Diberikan informasi arah dan jarak posisi yang akan dituju. 5. Menuju halaman peta dan akan ditampilkan posisi tujuan . 6. Menuju titik yang aka dituju sesuai dengan titik yang ditentukan .

Mengukur luas area menggunakan GPS 1. Dipilih menu pada halam track log 2. Dipilih area calculation. 3. Ditekan enter untuk memulai. 4. Berjalan sepanjang titik yang telah ditentukan hingga sampai pada posisi awal saat akan menghitung luas area. 5. Ditekan enter , maka luas area akan terbaca pada layar GPS .

Pengukuran tinggi pohon a. Christen meter 1. Diletakkan tongkat sepanjang 4 meter bersandar pada pohon. 2. Christen meter dipegang lurus ke arah pohon , seluruh bagian pohon harus berada dalam skala pengukuran pada christen meter. 3. Dilihat ujung tongkat setinggi 4 meter sejajar pada skala christen meter setelah seluruh bagian pohon berada dalam skala pengukuran christen meter. 4. Skala yang terbaca tersebut merupakan tinggi pohon . 5. Dilakukan pengukuran tersebut terhadap 5 pohon yang telah ditentukan.

b. Haga meter 1. Ditentukan jarak anatra pengukur dengan objek sasaran (phon ) , yaitu 15 m . 2. Diplih skala 15 m pada alat , dengan memutar knop skala . 3. Diarahkan pandangan ke tinggi bebas cabang , puncak tertinggi pohon dan dasar pohon. 4. Diarahkan pandangan ke titik yang diperlukan , jika sudah pas tekan tombol pengunci jarum . 5. Dicatat hasilnya , lakukan cara 3 adn 4 sebnyak 3 kali pada masing masing pohon .

Pengukuran diameter pohon 1. Pengukuran diameter yaitu setinggi dada atau sam dengan 1,3 m diukur dari permukaan tanah . 2. Dilitkan pita ukur pada ketinggian tersebut . 3. Dicatat hasil pengukuran tersebut dan dihihtung diameter pohon tersebut menggunakan rumus D=K/ . 4. Dilakukan pengukuran ulang mengguanakan phi band pada ketinggian yang sama . 5. Dicatat hasil pengukuran diameter yang tertera pada skala phi band . 6. Dilakukan pengukuran terhadap 5 pohon yang telah ditentukan. Penembakan sudut 1. Praktikan berdiri di suatu tempat 2. Dipegang kompas dengan jari telunjuk dan jempol pada posisi datar.

3. Diarahkan kompas pada benda yang telah ditentukan . 4. Dicatat sudut dan azimutnya . 5. Dilakukan penembakan sudut pada setiap titik yang tela ditentukan.

BAB IV. HASIL PENGUKURAN DAN ANALISIS DATA

Tabel . 1 Penentuan titik menggunakan GPS No Lokasi titik pada GPS Posisi titik Koordinat dan ketinggian S= 083453,2 1 GRB 1 Gerbang unram lama E= 1160534,5 H= 8 m dpl S= 083553,1 2 BUD 3 Masjid Babul Hikmah unram E= 1160532,0 H= 148 m dpl Kebun kehutanan unram S= 083459,6 E=1160535,5 H= 204 m dpl Keterangan Pintu gerbang , pohon ketapang, pohon mahoni , jalan raya Jalan aspal , lapangan, pohon sonokeling Pohon nangka, jalan raya, pohon sonokeling

KBK 2

Luas area Dari masjid ke kebun 6488,8283 m jarak 246 meter Dari kebun ke lab 8215,2 m jarak 331 meter

Tabel.2 Pengukuran diameter batang pohon No 1 2 3 4 5 Phi band Diameter Pita ukur Keliling cm 107 82 101 114 154 Diameter 34,076 26,114 32,165 36,305 49,044

Menentukan diameter pohon berdasarkan hasil pengukuran keliling batang pohon Pohon 1 Pohon 2 Pohon 3 Pohon 4 Pohon 5 : : : : : = d = k/ = d = k/ = d = k/ = d = k/ = d = k/ = 107/3,14 = 83/3,14 = 101/3,14 = 114/3,14 = 154/3,14 = 34,076 cm = 26,114 cm = 32,165 cm = 36,305 cm = 49,044 cm

Tabel. 3 Pengukuran tinggi pohon


Haga meter No TBC m 4,5 2 2 3,7 1 TT m 15 11 5,5 12,5 18 14 14 7,8 10 17 Tinggi m I II 13,8 12,7 8 10,6 16,7 III 15 14 7 9,9 17,8 4 4 3,7 4,5 7 2 3,21 I Christen meter TBC m II III

1 2 3 4 5

Tinggi pohon diukur dengan menggunakan Christen meter Pohon I Pohon II Pohon III Pohon IV Pohon V = = = = = = = = = = 14,266 cm 13,566 cm 7,6 cm 10,166 cm 17,166 cm

Tinggi bebas cabang Pohon I Pohon II Pohon III Pohon IV Pohon V = = = = = 3,7 m 4,5 m 7m 4m = 3,07 m

BAB V. PEMBAHASAN BAB VI. PENUTUP

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari hasil praktikum yang telah dilaksaakan adalah sebagai berikut : 1. GPS adalah alat untuk menentukan posisi , GPS dapat memberikan informasi posisi dengan ketelitian yang bervariasi dari beberapa milimeter sanpai dengan puluhan meter. 2. Alat yang digunakan untuk mngukur diameter pohon adalah pita ukur dan phi band. 3. Selain diameter , tinggi pohon merupakan parameter lain yang memiliki arti penting dalam penaksiran hasil hutan. 4. Alat untuk mengukur tinggi pohon adalah Christen meter dan Haga meter . Kedua alat tersebut memiliki tingkat ketelitian yang berbeda namun sama sama praktis dalam penggunaannya. 5. Kesalahan kesalahamn yang terjadi dalam pengukuran adalah faktor lingkungan, alat dan pengukur. \ B. Saran

Untuk kelanjutan praktikum pengukuran sumberdaya hutan ini dengan baik diharapkan adanya kerjasama antara praktikan dengan Co.asst . Adapun untuk mencapai tujuan dari praktikum tersebut , diperlukan keseriusan praktikan dalam menjalani praktikum dan keseriusan bimbingan dari Co.asst.

ACARA II
PENGUKURAN DIAMETER DAN TINGGI POHON

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pengukuran mempunyai arti yang sangat penting dalam inventore atau pengelolaan hutan pada umumnya. Pengukuran merupakan langkah yang menjadi dasar untuk melakukan pengamatan secara obyektif. Dengan pengamatan, segala sesuatu dapat berkembang, demikian pula untuk bidang inventore dan pengelolaan hutan. Setiap pengamatan selalu diiikuti dengan suatu variabel salah satunya dapat diukur secara kuantitatif, sebagai contoh pengukuran diameter batang pohon, keliling batang pohon dan tinggi pohon. Pengukuran tersebut dilakukan menggunakan alatalat yang berbeda, dalam pengukuran setiap alat memiliki keakuratn yang berbeda beda, dari hal tersebut dapat terlihat kekurangan dan kelebihan alat alat tersebut. Maka melalui praktikum ini, praktikan diperkenalkan alat alat pengukuran hutan, baik itu cara penggunaannya dan pengaplikasiannya di lapangan, yang nantinya hasil dari pengukuran yang dilakukan dapat digunakan dan dimanfaatkan untuk pengelolaan hutan.

B. Tujuan Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut : 1. Mengetahui cara cara pengukuran diameter pohon menggunakan phi band dan pita ukur. 2. Menengetahui cara pengukuran tinggipohon menggunakan haga dan christen meter.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Di dalam perencanaan pekerjaan lapangan, keputusan harus diambil terhadap macam macam instrumen yang akan digunakan untuk tiap pengukuran. Paling baik keputusan diteteapkan kepada seperangkat standar instrumen dan mengharuskan semua pengukuran lapangan dibuat dengan instrumen instrumen standar itu. Pengguanaan beberapa macam instrumen untuk pengukuran yang sama harus dihindari. Sebagai contoh untuk pengukuran diameter, seorang pekerja harus tidak menggunakan suatu peta diameter yang lain kaliper dan yang lain lagi suatu garpu ( Husch , 1987 ). Tinggi adalah jarak terpendek antara satu titik proyeksinya opada bidang datar atau bidang horizontal. Sebagai komponen untuk menentukan volume kayu, tinggi pohon dibedakan atas duamacam yaitu (1) tinggi pohon seluruhnya, yaitu jarak anatra titik puncak pohon dengan proyeksinya pada bidang datar atau horizontal (2) tinggi lepas cabang atau sampai batas permulaan tajuk dengan proyeksinya paa bidang dasar atau horizontal ( Pariadi , 1978 ). Diameter adalah sebuah dimensi datar dari sebuah lingkaran. Diameter batang didefinisikan sebagai panjang garis antara dua buah titik pada lingkaran di sekeliling batang yang melalui titik pusat (http://hidayat.com/pps702_ipb/07134/muhdin.htm). Phiband adalah alat ukur dengan tipe sama dengan pita ukur, akan tetapi memiliki alat ukur yang berbeda yaitu phi band terdapat skala inchi dan skala diameter (Markum, 2007).

BAB III. METODOLOGI A. Alat Alat Adapun alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah sebagai berikut: 1. Phi band 2. Pita ukur 3. Haga meter 4. Christen meter 5. Tongkat pembantu 4 meter

B. Bahan 20 tegakan di depan Fakultas Hukum Universitas Mataram

C. Cara Kerja Pengukuran diameter pohon menggunakan phiband dan pita ukur 1. Ditentukan 20 pohon yang akan diukur diameternya. 2. Dipastikan alat alat sudah lengkap ( phiband dan pita ukur ). 3. Dimulai pengukuran diameter dari pohon pertama. 4. Diukur diameter pohon setinggi dada atau setinggi 1,3 m apabila pohon yang memiliki banir, ukurlah diameter setinggi dada atau 1,3m mulai dari banir tersebut. 5. Dilingkarkan pita ukur dan phiband pada batang pohon tersebut. 6. Dimasukkan data / angaka yang teretera pada atbel pengukuran. 7. Diubah pengukuran kelililing yang diperoleh menggunakan pita ukur menjadi diameter menggunakan rumus d= k/. 8. Dilakukan cara pada nomor 4,5,6,7 hingga pada pohon ke 20.

Pengukuran tinggi pohon menggunakan Haga meter 1. Ditentukan 20 pohon yang aan diukur tingginya 2. Dipastika Haga meter siapa dipakai. 3. Diukur jarak antara pohon dengan pengukur sejauh 15 meter. 4. Dipilih skala 15 m pada alat dengan memutar klop skala

5. Diarahkan pandangan pengukur pada titik yang akan diukur pada pohon . Tunggu sampai pointer diam lalu tekan tombol pengunci jarum penunjuk. 6. Dilakukan cara cara diatas hingga pohon ke 20.

Pengukuran tinggi pohon menggunakan Christen meter 1. Ditentukan 20 pohon yang akan diukur tingginya . 2. Diletakkan tongkat sepanjang 4 meter besandar pada batang pohon. 3. Dipegang christen meter lurus kearah pohon, seluruh bagian pohon harus berada pada skala christen meter. 4. Dilihat ujung tongkat setinggi 4 meter sejajar dengan skala christen meter, setelah semua bagian pohon masuk. 5. Skala yang diukur tersebut merupakan tinggi pohon yang diukur, lalu ukur pula tinggi bebas cabang pohon. 6. Dilakukan pengukuran hingga pohon ke 20.

BAB IV. HASIL DAN ANALISIS DATA

A. Hasil Pengukuran Tabel 4. Hasil pengukuran diameter menggunakan phi band dan pita ukur

Pohon yang diukur Pohon 1 Pohon 2 Pohon 3 Pohon 4 Pohon 5 Pohon 6 Pohon 7 Pohon 8 Pohon 9 Pohon 10 Pohon 11 Pohon 12 Pohon 13 Pohon 14 Pohon 15 Pohon 16 Pohon 17 Pohon 18 Pohon 19 Pohon 20

Pita ukur Keliling (cm) 59 48 95 83 61 93 48 62 58 51 58 77 51 82 37 48 54 23 33 28 Diameter (cm) 18,79 1529 30,25 26,43 19,43 26,62 15,29 19,74 18,47 16,24 18,47 24,52 16,24 26,12 11,78 15,29 17,20 7,32 10,51 8,91

Phi band Diameter (cm) 18,8 15,3 30,4 26,4 19 29,3 15 19,8 18,7 15,9 18,1 24,6 16,3 26,3 11,8 15,3 17,1 7,5 10,7 9,11

Tabel.5 Hasil pengukuran tinggi pohon menggunakan Haga meter Pohon yang diukur Pohon 1 Pohon 2 Pohon 3 Pohon 4 Pohon 5 Pohon 6 Pohon 7 Pohon 8 Pohon 9 Pohon 10 Pohon 11 Pohon 12 Pohon 13 Pohon 14 Pohon 15 Pohon 16 Pohon 17 Pohon 18 Pohon 19 Pohon 20 TBC 4,5 3,5 9 1,5 2 1,7 1,7 1,6 1,5 2 1,5 1,5 1,2 2 1,5 1,7 1 3 2,5 Haga meter TP 6,5 6 15 11 9 17 5,5 4 6 4,5 9 8 10 12 12 4 5 6 5,5 7 TD -0,5 -0,5 -1 -0,7 -0,7 -1,5 -1,5 -1,5 -1,5 -1,5 -1,5 -1,3 -1,4 -1,7 -1,5 -1,3 -1,7 -1,9 -1,5 -1,5 7 6,5 1 11,7 9,7 18,5 7 5,5 7,5 6 10,5 9,3 15,4 13,7 13,5 5,3 6,7 7,9 7 8,5 TT Christen meter TT 6,25 5,22 15 13,5 14 15 12 6,9 4,9 6,8 6,3 10,9 14,8 10,9 14,8 5,2 5,9 8 6,2 8 4 4 7,4 2,5 3,6 3 2 2 3,2 3,95 3,2 2,7 2,5 3,7 2,7 3,2 1,9 TBC

Keterangan
TBC TT TP TD : : : : Tinggi bebas cabang Tinggi total Tinggi puncak Dasar pohon

B. Analisis Data 1. Pengukuran diameter menggunakan phi band pada skalanyasudah tertera langsung diameter pohon , data langsung dimasukkan ke dalam tabel .

BAB V. PEMBAHASAN

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Dari hasil praktikum pengukuran tinggi pohon dan diameter pohon di lapangan didapatkan kesimpulan sebagai berikut: 1. Alat ukur diameter pohon adalah phi band dan pita ukur sedangkan alat ukur tinggi pohon adalah christen meter dan haga meter 2. Pengukuran diameter dimulai dari setinggi dada atau 1,3 m, dan jika pohon tersebut terdapat banir, maka pengukuran diameter setinggi dada dimulai dari banir tersebut. 3. Konversi hasil pengukuran keliling batang menggunakan pita ukur ke dalam diameter menggunakan rumus d= k/. 4. Cara pengukuran tinggi pohon a. Prinsip geometris: prinsip pengukuran dengan menggunakan prinnsip segitiga bangun. b. Prinsip trigonometris: prinsip pengukuran dengan menggunakan sudut yang terbentuk antara garis sejajar pandang pengukur dengan puncak / pangkal pohon. 5. Pengukuran tinggi pohon diperlukan sebagai salah satu patrameter yang diperlukan diperlukan dalam penaksiran volume pohon dan riap.

B. Saran 1. Kepada para praktikan diharapkan serius dalam melaksanakan praktikum 2. Diharapkan Co.asst membimbing praktikan agar proses praktukum berjalan dengan lancar. 3. Agar praktikan dan co.asst menjalin kerja sama yang baik dalam praktikum , agar tidak terjadi kesalahan pemahaman praktikan menangkap arahan yang diberikan co.asst.

ACARA III
PENGUKURAN VOLUME (DIAMETER PER-SEKSI)

BAB I . PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Hutan merupakan ekosistem yang didalamnya terdapat komponen hayati dan non hayati, dan didominasinoleh pepohonan yang kesemuanya satu sama lain tidak dapat terpisahkan. Sistem yang tidak terpisahkan ini merupakan suatu sistem penyangga kehidupan, dan segala ekosistem yang berada di dalamnya merupakan dari kestabilan alam ( Mangunjaya . 2005 : XVIII). Sehingga apabila sistem ini terganggu maka tentu akan mengganggu kehidupan. Terganggunya sistem ini banyak dipengaruhi oleh aktifitas manusia sebagai pengolah utama, dan kesemuanya akan berujung pada krisis lingkungan ( limited environment) bahkan bencanapun tidak bisa dihindari. Khususnya untuk pengelolaan hutan, sistem pengelolaan di Indonesia masih banyak keliru seperti tidak adanya pengelolaaan yang khusus dengan satu pola professional ( Sagala , 2002). Kemudian berbagai tindakan pengelolaan yang tidak teratur dan terarah akan menyebabkan kerusakan hutan. Terjadinya kerusakan, penurunan produksi perlu di ketahui secara kuantitatif sehingga dengan hal tersebut bisa terbaca jelas seberapa besar yang harus diperbaiki dan diidentifikasi kembali pengelolaannya, maka dilakukanlah pengukuran hutan untuk keperluan itu. Maka dari itu perlu dilakukan praktium pengukuran sumber daya hutan yang mempraktikkan tentang perhitungan volume dengan diameter perseksi. Sebagai data kuantitatif dalam skala yang lebih besar dan luas.

B. Tujuan Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara-cara pengukuran volume pohon dengan metode diametr per-seksi.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Pengukuran mempunyai arti sangat penting dalam inventore atau pengelolaan hutan pada umumnya. Pengukuran merupakan langkah awal yang menjadi dasar untuk melakukan pengamatan secara objektif. Setiap pengamatan selalu diikuti dengan pengukuran variabel. Namun demikian, tidak seluruhnya variabel yang ingin diketahui dalam inventore atau penelolaan hutan dapat diukur dengan / secara kuantitatif. Berdasarkan pengukuran tersebut kemudian interepetasi dapat dilakukan

(Hasanu,S.2007 ). Parameter untuk menggambarkan kualitas kayu, keputusan harus dibuat pada informasi kualitatif apa yang diperlukan mengenai hutan ( kayu, berat, banyaknya pohon dan lain-lain ) dan karakteristik setiap parameter harus dipilih. Jadi spesifikasi spesifikasi untuk volume harus menyatakan apakah dengan menggunakan volume ini atau tanpa kulitnya, apkah itu merupakan volume kasar atau berer dan seterusnya (B. Husch , 1981 ). Volume tegakan homogen adalah jumlah pohon x. Volume sebatang pohon (Porkas, 2002 ). Alasan untuk melakukan inventarisasi itu beragam, demikian juga pemanfaatan hasil hasilnya tetapi jika ada kesatuan pada perencanaan pelaksanaannya. Jadi kebutuhan akan informasi inventarisasi dapat bervariasi mulai dari tingkat nasional untuk perencanaan lengkap dan pengembangan kehutanan dan industri hutan sampai data terinci mengenai lahan hutan, tetapi maksud kedua kasus untuk mnyediakan pengetahuan mengenai sumber daya hutan. Untuk pemanfaatan yang bijak dan untuk pengelolaan sumber daya hutan pada skala apapun memerlukan pengetahuan mengenai lokasi areal hutan, taksiran kualitatif, kualitas dan tersedianya kayu dan tumbuh tumbuhan dan pemungutannya ( Setyarso, 1987).

BAB III. METODOLOGI A. Alat Alat Adapun alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah sebagai berikut: 1. Phi band 2. Pita ukur

B. Bahan 20 tegakan di depan Fakultas Hukum Universitas Mataram

C. Cara Kerja Cara kerja pengukuran diameter per-seksi 1. Diukur diameter pohon mulai dari pangkal pohon (20 cm dari tanah ) dengan panjang setiap seksi 0,5 cm. 2. Diukur hingga tinggi bebas cabang. 3. Dicatat hasil pengukuran ke dalam tabel yang ada di buku praktikum. 4. Dilakukan perhitungan volume per-seksi menggunakan rumus Samalian

5. Dijumlahkan volume pohon perseksi, agar dapat mengetahui volume suatu pohon sesungguhnya.

BAB IV. HASIL PENGUKURAN DAN ANALISIS DATA

Pohon 1 Dbh cm D1 L1 D2 D2 L2 D3 D3 L3 D4 D4 L4 D5 D5 18 L5 D6 D6 L6 D7

22,6 20,9 20,9 19,2 19,2 18,2 18,2 18

17,7 17,7 171

Pohon 2 Dbh cm D1 18,7 L1 D2 16,56 D2 16,56 L2 D3 15,28 D3 15,28 L3 D4 14,65 D4 14,65 L4 D5 14,01

L5 D5 14,01 D6 12,47 D6 12,47

L6 D7 12,10

Pohon 3 Dbh cm D1 L1 D2 D2 L2 D3 D3 L3 D4 D4 L4 D5 D5 L5 D6

38,21 34,07 34,07 35,7 35,7 28,66 28,66 28,66 28,66 28,03

L6 D6 28,03 D7 D7

L7 D8 D8

L8 D9 D9

L9 D10

27,07 27,07 28,48 28,48 24,20 24,20 23

Pohon 4 Dbh cm D1 26 L1 D2 D2 L2 D3 D3 L3 D4

24,5 24,5 26,7 26,7 26,7

Pohon 5

Dbh cm D1 19

L1 D2 D2

L2 D3

17,8 17,8 17

Pohon 6 Dbh cm D1 L1 D2 D2 L2 D3 D3 L3 D4 D4 L4 D5 D5 L5 D6

35,67 31,21 31,21 29,30 29,30 27,07 27,07 26,43 26,43 25,15

Pohon 7 Dbh cm D1 L1 D2 D2 L2 D3 D3 L3 D4 D4 L4 D5 D5 L5 D6

19,74 16,24 16,24 15,28 15,28 14,64 14,64 14,64 14,64 14,01

Pohon 8 Dbh cm D1 L1 D2 D2 70 L2 D3 D3 L3 D4 D4 L4 D5 D5 L5 D6

24,20 70

23,30 23,30 19,11 19,11 18,47 18,47 17,52

Pohon 9 Dbh cm D1 L1 D2 D2 L2 D3 D3 L3 D4 D4 L4 D5 D5 L5 D6

22,61 20,38 20,38 19,42 19,42 18,15 18,15 16,87 16,87 15,29

Pohon 10 Dbh cm D1 L1 D2 D2 L2 D3 D3 16 L3 D4 D4 L4 D5 D5 L5 D6 D6 14 L6 D7 13,8

19,8 16,2 16,2 16

15,4 15,4 14,3 14,3 14

Pohon 11 Dbh cm D1 L1 D2 D2 L2 D3 D3 L3 D4 D4 L4 D5 D5 L5 D6

23,88 21,02 21,02 18,79 18,79 17,83 17,83 15,92 15,92 14,65

Pohon 12 Dbh cm D1 L1 D2 D2 L2 D3 D3 L3 D4 D4 L4 D5 D5 23 L5 D6 D6 L6 D7

30,24 28,3 28,3 25,2 25,2 24,9 24,9 23

22,8 22,8 15,2

L7 D7 15,2 D8 14,5

Pohon 13 Dbh cm D1 L1 D2 D2 L2 D3 D3 L3 D4 D4 L4 D5

19,75 17,52 17,52 16,56 16,56 15,29 15,29 14,65

Pohon 14 Dbh cm L1 D1 D2 D2 29 L2 D3 D3 L3 D4 D4 L4 D5 D5 L5 D6

32,16 29

26,75 26,75 25,16 25,16 23,88 23,88 22,30

L6 D6 D7

22,30 21,66

Pohon 15 Dbh cm D1 L1 D2 D2 L2 D3 D3 L3 D4 D4 L4 D5 D5 L5 D6

15,28 12,74 12,74 12,02 12,02 11,15 11,15 10,51 10,51 9,55

Pohon 16 Dbh L1 L2 L3 L4 L5

cm

D1

D2

D2

D3

D3

D4

D4

D5

D5

D6

18,79 18,15 18,15 15,92 15,92 14,65 14,65 14,33 14,33 12,74

Pohon 17 Dbh cm D1 23 L1 D2 D2 L2 D3 D3 L3 D4

18,79 18,79 17,20 17,20 20,38

Pohon 18 Dbh cm D1 L1 D2 D2 L2 D3 D3 L3 D4 D4 18 L4 D5 D5 L5 D6 D6 15 L6 D7 15,5

21,3 19,5 19,5 18,6 18,6 18

17,9 17,9 15

L7 D7 15,5 D8 D8

L8 D9

12,6 12,6 11,6

Pohon 19 Dbh cm D1 L1 D2 D2 7 L2 D3 D3 L3 D4 D4 L4 D5 D5 5,4 L5 D6 4,77

8,28 7

6,37 6,37 5,73 5,73 5,4

Pohon 20 Dbh cm D1 L1 D2 D2 L2 D3 D3 L3 D4 D4 7 L4 D5 D5 L5 D6

10,51 8,28 8,28 7,32 7,32 7

6,37 6,37 5,73

B. Analisi Data 1. Pengukuran volume pohon menggunakan rumus Samalian

2. Volume sesungguhnya pohon dapat diketahui jika volume diameter perseksi dijumlahkan.

Pohon 1
V L1 =

= 0,0185 m

V L2

= 0,0158 m

V L3

= 0,0138 m

V L4

= 0,0128 m

V L5

= 0,0123 m

V L6

= 0,0118 m

Volume total 0,0185 + 0,0158 + 0,0138 + 0,0128 + 0,0123 + 0,0118 = 0,085 m Pohon 2

V L1

= 0.0118 m

V L2

= 0,0098 m

V L3

= 0,0088 m

V L4

= 0,008 m

V L5

= 0,007 m

V L6

= 0,0063 m

Volume total 0,0098 + 0,0088 + 0,008 + 0,007 + 0,0063 = 0,0399 m

Pohon 3
V L1 =

= 0.0118 m

V L2

= 0,0478 m

V L3

= 0,041 m

V L4

= 0,032 m

V L5

= 0,0315 m

V L6

= 0,0295 m

V L7

= 0,026 m

V L8

= 0,0253 m

V L9

= 0,022 m

Volume total 0,0515 + 0,0478 + 0,041 + 0,032 + 0,0315 + 0,0295 + 0,026 + 0,0235 + 0,0235 + 0,022 = 0,3048 m

Pohon 4
V L1 =

= 0.025 m

V L2

= 0,0258 m

V L3

= 0,28 m

Volume total 0,025 + 0,0258 + 0,28 = 0,0788 m

Pohon 5
V L1 =

= 0.0133 m

V L2

= 0,012 m

Volume total 0,0133 + 0,012 = 0,0253 m

Pohon 6
V L1 =

= 0.0438 m

V L2

= 0,0358 m

V L3

= 0,0313 m

V L4

= 0,0283 m

V L5

= 0,026 m

Volume total 0,0438 + 0,0358 + 0,0313 + 0,0283 + 0,026 = 0,1652 m

Pohon 7

V L1

= 0.0125 m

V L2

= 0,0095 m

V L3

= 0,0088 m

V L4

= 0,0085 m

V L5

= 0,008 m

Volume total 0,0125 + 0,0095 + 0,0088 + 0,0085 + 0,008 = 0,0473 m

Pohon 8
V L1 =

= 0,1078 m

V L2

= 0,106 m

V L3

= 0,017 m

V L4

= 0,014 m

V L5

= 0,0128 m

Volume total 0,1078 + 0,106 + 0,017 + 0,014 + 0,0128 = 0,2576 m

Pohon 9
V L1 =

= 0.0183 m

V L2

= 0,0158 m

V L3

= 0,014 m

V L4

= 0,012 m

V L5

= 0,0125 m

Volume total 0,0183 + 0,0158 + 0,014 + 0,012 + 0,0105 = 0,0548 m Pohon 10


V L1 =

= 0.013 m

V L2

0,0105 m

V L3

= 0,0098 m

V L4

= 0,0088 m

V L5

= 0,0078 m

V L6

= 0,0075 m

Volume total 0,013 + 0,0105 + 0,0098 + 0,0088+ 0,0078 + 0,0075 = 0,0574 m Pohon 11

V L1

= 0.02 m

V L2

0,0158 m

V L3

= 0,0133 m

V L4

= 0,0113 m

V L5

= 0,0098 m

Volume total 0,02 + 0,0158 + 0,0133 + 0,0113 + 0,0098 = 0,0697 m

Pohon 12
V L1 =

= 0.0338 m

V L2

= 0,0565m

V L3

= 0,0248 m

V L4

= 0,0228 m

V L5

= 0,0208 m

V L6

= 0,0148 m

V L7

= 0,0088 m

Volume total 0,0338 + 0,0565 + 0,0248 + 0,0228 + 0,0208 + 0,0148 + 0,0088 = 0,1823 m

Pohon 13
V L1 =

= 0.0138 m

V L2

= 0,0115m

V L3

= 0,01 m

V L4

= 0,0088 m

Volume total 0,0318 + 0,0115 + 0,01 + 0,0088 = 0,0441 m

Pohon 14
V L1 =

= 0.0386 m

V L2

= 0,0305m

V L3

= 0,0265 m

V L4

= 0,0238 m

V L5

= 0,0213 m

V L6

= 0,0193 m

Volume total 0,0368 + 0,0305 + 0,0265 + 0,0238 + 0,0213 + 0,0193 = 0,1528 m

Pohon 15
V L1 =

= 0.0085 m

V L2

= 0,0068m

V L3

= 0,0053 m

V L4

= 0,0048 m

V L5

= 0,004 m

Volume total 0,0085 + 0,0068 + 0,0053 + 0,0048 + 0,004 = 0,0294 m

Pohon 16
V L1 =

= 0.0135 m

V L2

= 0,0115m

V L3

= 0,0093 m

V L4

= 0,0083 m

V L5

= 0,0073 m

Volume total 0,0135 + 0,0115 + 0,0093 + 0,0083 + 0,0073 = 0,0499 m

Pohon 17
V L1 =

= 0.0175 m

V L2

= 0,0128 m

V L3

= 0,014 m

Volume total 0,0175 + 0,0128 + 0,014 = 0,0443 m

Pohon 18
V L1 =

= 0.0163 m

V L2

= 0,014 m

V L3

= 0,013 m

V L4

= 0,0125 m

V L5

= Volume total

= 0,0108 m

0,0163 + 0,014 + 1,013 + 0,0125 + 0,0108 + 0,0093 + 0,0078 + 0,058 = 0,0895 m

Pohon 19 V L1 =

= 0.0023 m

V L2

= 0,0018 m

V L3

= 0,0015 m

V L4

= 0,001 m

Volume total 0,0023 + 0,0018 + 0,0015 + 0,0013 + 0,001 + = 0,0079 m

Pohon 20 V L1 =

= 0.0035 m

V L2

= 0,0023 m

V L3

= 0,002 m

V L4

= 0,017 m

V L5

= 0,0012 m

Volume total 0,0035 + 0,0023 + 0,002 + 0,0017 + 0,0012 = 0,0107 m

BAB V. PEMBAHASAN

Dalam praktikum ini dilakukan pengukuran volume terhadap 20 pohon . Masing masing pohon dibagi ke dalam beberapa bagian sortimen sortimen yang memiliki panjang 0,5 m . V pohon 1 = 0,085 m , V pohon 2 = 0,0399 m , V pohon 3 = 0,3048 m , V pohon 4 = 0,0788 m , V pohon 5 = 0,0253 m , V pohon 6 = 0, 1652 m , V pohon 7 = 0,1238 m , V pohon 8 = 0,2576 , V pohon 9 = 0,0548 m , V pohon 10 = 0,0574 m , V pohon 11 = 0,0697 m , V pohon 12 = 0,1823 m , V pohon 13 = 0,0441 m , V pohon 14 = 0,1582 m , V pohon 15 = 0,0294 m , V pohon 16 = 0,0499 m , V pohon 17 = 0,0443 , V pohon 18 = 0,0078 m , V pohon 19 = 0,0079 m , V pohon 20 = 0,0107 m . Berdasarkan pengukuran volume pohon terdapat berbagai variasi angka , semakin mengukur diameter batang ke bagian atas diameternya akan semakin kecil begitu pula dengan volumenya . Terdapat pengukuran diameter dimana diameter di bagian bawah lebih kecil dari bagian yang atas . Hal ini terjadi karena beberapa kemungkinan : 1. Kesalahan pengukur dalam membaca phiband atau pita ukur. 2. Bagian batang yang atas lebih besar dari pada bagian yang bawahnya.

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan dapt disimpulkan bahwa : 1. Tidak ada pohon yang mencapai V total = 1 m 2. Semakin lebar batng pohon , semakin besar diameternya maka volume pun akan besar. 3. Rata rata pohon yang diukur adalah pohon yang berbatang kurus lurus ke atas sehingga dalam menentukan volume pohon per-sortimen hasilnya nol koma begitupun volume totalnya.

B. Saran Karena menggunakan alat alat yangb sederhana dalam praktikum ini , maka yang perludiperhatikan adalah saat perhitungan atau analisis data saat melkukan konversi dari cm ke m.

ACARA IV
PENGUKURAN KARBON TERSIMPAN

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pemanasan global mengakibatkan dampak yang merugikan terhadap kualitas mahluk hidup. Karbon berada di atmosfer bumi dalam bentuk gas karbon dioksida (CO). Meskipun jumlah gas ini merupakan bagian yang ada sangat kecil dari seluruh gas yang ada di atmosfer (hanya s ekitar 0,04% dalam basis molar), namun ia memiliki peran yang penting dalam menyokong kehidupan. Gas gas lain yang mengandung karbon di atmosfer adalah CFC (Klorofourkarbon). CFC merupakan gas artifisial atau buatan. Gas gas tersebut adalah gas rumah kaca yang konsentrasinya di atmosfer telah meningkat dalam pemanasan global. Penyebab lain yang mempercepat pemanasan global adalah berkurangnya vegetasi di permukaan bumi akibat konversi atau penebangan hutan. Menurut laporan IPCC ( 2000) dalam kurun waktu 150 tahun telah terjadi peningkatan suhu bumi 0,5C, dibandingkan dengan massa pra-industri. Peningkatan suhu atmosfer akan diikuti oleh peningkatan suhu di permukaan air laut, sehingga volume meningkat maka tinggi permukaan air laut juga akan meningkat. Pemanasan atmosfer akan mencairkan es di daerah kutub terutama di sekitar pulau Greenland, sehingga akan meningkatkan volume air laut. Kejadian tersebut menyebabkan tinggi permukaan air laut di seluruh permukaaan air dunia meningkat antara 10 25 cm selama abad ke- 20. Pada ekosistem daratan, hutan primer mempunyai cadangan karbon terbesar di daratan terutama dalam biomassa dan miktomassa di bagian atas tanah, mikroba dan bahan organik tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cadangan karbon hutan alami di Jambi sebesar 500Mg/na denganrincian 80% terdapat dalam biomassa pohon 10% pada nekromassa dan 10% dalam bahan organik tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alih guna hutan menjadi lahan ubi kayu, mengakibatkan penurunan cadangan C sebesar 72%.

B. Tujuan Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara-cara pengukuran karbon tersimpan.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Karbon pohon merupakan salah satu sumber karbon yang sangat penting bagi ekosistem hutan, karena sebagian besar karbon hutan berasal dari biomassa pohon. Tabel biomassa atau persamaan alometrik kabon yang sering digunakan di dalam perhitungan karbon pohon. Hal ini diakrenakan sulitnya pengukuran tinggi pohon selama inventarisasi hutan, sehingga menyebabkan kesalahan yang sangat besar jika diugunakan untuk menghitung karbon. Karena itu, persamaan alometrik meningkatkan akurasi penduga karbon dan memudahkan proses pelaksanaan inventarisasi hutan (Murdiyarson, 2004). Keuntungan menentukan plot secara sistematis adalah memudahkan regu di lapangan di dalam pencarian plot. Namun teknik menentukan secara acak dapat menghindari adanya penempatan plot dalam posisi tertentu. Seperti di hutan rawa gambut bekas tebangan secara historis telah dieksploitasi mengikuti jalur lori (semacam lokomotif kecil). Untuk pemantauan karbon hutan, secara umum metode stratifikasi random sampling dapat menghasilkan pendugaan yang lebih teliti dibandingkan metode lain (Adinugroho, 2006). Tumbuhan akan mengurangi karbon di atmosfer (CO) melalui proses fotosintesis dan menyimpannya dalam jaringan tumbuhan, Sampai waktunya tumbuhan tersebut tersikluskan kembali ke atmosfer, karbon tersebut akan menempati salah satu dari sejumlah kantong karbon. Semua komponen penyusun vegetasi baik pohon, semak, liana, dan epifit merupakan bagian dari biomassa atas permukaan. Di bawah permukaan tanah, akar tumbuhan juga merupakan penyimpanan karbon selain tanah itu sendiri. Pada tanah gambut, jumlah simpanan karbon mungki lebih besar dibandingkan dengan simpanan karbon yang berada diatas permukaan. Karbon juga masih tersimpan pada bahan organik mati dan produk-produk berbasis biomassa seperti produk kayu baik ketika masih dipergunakan maupun sudah berada di tempat pertumbuhan. Karbon dapat tersimpan dalam kantong karbon pada waktu yang sama atau hanya sebentar (Sumardi, 2004). Estimasi jumlah C tersimpan dalam akar tanaman sama halnya dengab biomassa tajuk tanaman, biomassa akar juga dapat diestimasi menggunakan persamaan alometrik berdasarkan diameter akar utama ( Husch , 1987).

Biomassa adalah total berat atau volume organisme dalam suatu volume tertentu. Biomassa juga didefinisikan sebagai total jumlah materi hidup diatas permukaan pada suatu pohon dan dinyatakan dengan satuan ton berat kering per satuan luas (Arifin, 2001).

BAB III. METODOLOGI

A.

Alat 1. Tali rafia 2. Kertas label 3. Bambu 4. Oven 5. Gunting 6. Amplop 7. Plastik

B.

Bahan Adapun bahan yang digunakan adalah tumbuhan bawah

C.

Adapun cara kerja dalam pengukuran karbon sebagai berikut: 1. Dibuat sub plot dengan ukuran 0,5m x 0,5m sebanyak 6 sub plot. 2. Dipotong semua tumbuhan bawah yang termasuk dalam sub plot tersebut dipisahkan antara batang dan daun. 3. Dimasukkan ke dalam kantong kemudian di beri label 4. Ditimbang berat basah daun dan batang. 5. Di keringkan sampel dalam oven selama 2 x 24 jam. 6. Ditimbangkembali berat kering daun dan batang, kemudian catat

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengukuran

Pohon yang

Phi band Diameter (m) 0,188 0,153 0,304 0,264 0,19 0,293 0,15 0,198 0,187 0,159 0,181 0,246 0,163 0,263 0,118 0,153 0,171 0,075 0,107 0,091

Haga meter Tinggi pohon (m) 7 6,5 16 11,7 9,7 18,5 7 5,5 7,5 6 10,5 9,3 15,4 13,7 13,5 5,3 6,7 7,9 7 8,5

diukur
Pohon 1 Pohon 2 Pohon 3 Pohon 4 Pohon 5 Pohon 6 Pohon 7 Pohon 8 Pohon 9 Pohon 10 Pohon 11 Pohon 12 Pohon 13 Pohon 14 Pohon 15 Pohon 16 Pohon 17 Pohon 18 Pohon 19 Pohon 20

Hasil pengukuran biomassa tumbuhan bawah


Plot 1 2 3 4 5 6 Berat basah Daun g 13,04 13,07 16,11 7,72 2,37 6,86 Batang g 3,11 2,94 7,45 4,58 0,22 2,64 Total BB 16,15 16,01 23,56 12,3 2,59 9,5 Berat kering Daun g 0,29 0,73 0,98 0,73 0,29 1,09 Batang g 1,96 2,12 2,35 1,47 2,12 1,68

B.

Analisis Data Pengukuran Biomassa pohon

Pohon 1

= = =

.P.H.D/40 3,14. 0,45. 7. 0.188/40 0,009 .P.H.D/40 3,14. 0,045. 6,5. 0,153/40 0,005 .P.H.D/40 3,14. 0,45. 16. 0,304/40 0,052 .P.H.D/40 3,14. 0,45. 11,7. 0,264/40 0,029 .P.H.D/40 3,14. 0,45. 9,7. 0,19/40 0,012 .P.H.D/40 3,14. 0,45. 18,5. 0,293/40 0,056 .P.H.D/40 3,14. 0,45. 7. 0,15/40 0,005 .P.H.D/40 3,14. 0,45. 5,5. 0,198/40 0,008 .P.H.D/40 3,14. 0,45. 7,5. 0,187/40 0,009

Pohon 2

= = =

Pohon 3

= = =

Pohon 4

= = =

Pohon 5

= = =

Pohon 6

= = =

Pohon 7

= = =

Pohon 8

= = =

Pohon 9

= = =

Pohon 10

= = =

.P.H.D/40 3,14. 0,45. 6. 0,159/40 0,005 .P.H.D/40 3,14. 0,45. 10,5. 0,181/40 0,012 .P.H.D/40 3,14. 0,45. 9,3. 0,264/40 0,020 .P.H.D/40 3,14. 0,45. 15,4. 0,163/40 0,014 .P.H.D/40 3,14. 0,45. 13,7. 0,263/40 0,033 .P.H.D/40 3,14. 0,45. 13,5. 0,118/40 0,006 .P.H.D/40 3,14. 0,45. 5,3. 0,153/40 0,004 .P.H.D/40 3,14. 0,45. 6,7. 0,171/40 0,007 .P.H.D/40 3,14. 0,45. 7,9. 0,075/40

Pohon 11

= = =

Pohon 12

= = =

Pohon 13

= = =

Pohon 14

= = =

Pohon 15

= = =

Pohon 16

= = =

Pohon 17

= = =

Pohon 18

= =

0,001 .P.H.D/40 3,14. 0,45. 7. 0,107/40 0,003 .P.H.D/40 3,14. 0,45. 8,5. 0,091/40 0,002

Pohon 19

= = =

Pohon 20

= = =

Pengukuran biomassa tumbuhan bawah


BK =

BK

BK

BK

BK

BK

BAB V. PEMBAHASAN

Pada kesempatan ini kita coba untuk mengukur karbon tersimpan pada biomassa tumbuhan dan biomassa tumbuhan bawah, dimana biomassa tumbuhan atas digunakan 20 sampel pohon, biomassa tumbuhan bawah menggunakan sampel tumbuhan bawah yang terdirir dari 6 sub plot dengan ukuran masing masing 0,5 m. Hasil engukuran karbon tersimpan ternyata : Biomassa pohon = proporsi penyimpanan karbon di daratan umumnya terdapat pada komponen pepohonan, biomassa pohon dapat di estimasi

menggunakan persamaan yang didasarkan pada pengukuran diameter batang total = 0,293 gr/m. Biomassa tumbuhan bawah meliputi rerumputan. Estimasi biomassa tumbuhan bawah dilakukan dengan mengabil bagian tanaman, dipisahkan antara batang dengan daunnya total = 257,80 gram. Dari metode yang dilakukan maka didapatkan hasil perhitungan C terbesar yang tersimpan pada kawasan untuk tumbuhan atas , pohon 3 yang mampu menyimpan karbon tertinggi sebanyak 0,052 g/cm. Sedangkan untuk biomassa tumbuhan bawah, tumbuhan pada sub plot 1 yang memiliki kemampuan menyimpan karbon tertinggi sebanyak 109,15 gr.

BAB V. PENUTUP

A.

Kesimpulan Adapun kesimpulan dari praktikum yang telah dilakukan sebagai berikut : 1. Karbon diserap tanaman melalui proses fotosintesis dan disimpan di dalam tanaman. 2. Pengukuran karbon tersimpan pada pohon menggunakan persamaan alometrik.

3. Pengukuran karbon tersimpan pada suatu lahan meliputi karbon pada tajuk tanaman dan tumbuhan baawah. 4. Perhitungan C terbesar yang tersimpan pada kawasan untuk tumbuhan atas adalah pohon 3 sebanyak 0,052 g/cm. Sedangkan untuk tumbuhan bawah terdapat pada sub plot 1 sebanyak = 109,15 gram.

B. Saran Karbon merupakan suatu zat yang dihasilkan oleh kegiatan mahluk hidup (respirasi, perindustrian dll). Tumbuhan merupakan suatu alat yang secara alami menyerap karbon, serta mampu merubahnya menjadi Oksigen (O) yang sangat dibutuhkan oleh kelangsungan mahluk hidup. Dengan tetap menjaga kelestarian hutan sekitar kita agar karbon karbon yang ada di atmosfer terserap oleh tumbuhan, karena karbon bersifat racun, tidak dibutuhkan oleh mahluk hidup dan merupakan salah satu unsur yang menyumbang pemanasan global.

DAFTAR PUSTAKA

Adinugroho , W. 2006. Pendugaan Karbon dalam Rangka Pemanfaatan Fungsi Hutan Sebagai Penyerap Karbon. Balai Penelitian Kehutanan: Kamboja. Anonim.2011. Petunjuk Praktikum Pengukuran Hutan. Mataram: Tim Pengajar pengukuran Hutan Prodi Kehutanan Anonim.2012.http: Jaganwahyus.weblog/pengertiangps.html.Diakses pada tanggal 15 Oktober 2012.

Arifin, J. Estimasi Penyimpanan C Pada Berbagai Sistem Penggunaan Lahan di Brawijaya Malang. Banyard.1973.Pengukuran Hutan.Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Husch,B.1987. Perencanaan Inventore Hutan. Jakrata: Universitas Indonesia.

.2007.Metode Inventore Hutan.Yogyakarta: Pustaka Belajar.

.2007.Perencannaan Inventarisasi Hutan. Jakarta: Universitas Indonesia.

Mangunjaya, Fachrudin M.2005.Konversi Alam dalam Islam.Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Markum.2008.Perencanaan Inventore Hutan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Murdiyarson, D.2004.Petunjuk Lapangan Cadangan Karbon Diatas dan Dibawah Permukaan Pada Lahan Gambut. Sagala, Porkas.2002.Mengelola Lahan Kehutanan yang Benar.Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Simon, Hasanu.1993.Metoda Inventore Hutan.Yogyakata: Aditya Media.

.2007.Manual Inventore Hutan.Jakarta: Universitas Indonesia.

http://id.shivoong.com/exsacc_sciences/2064347-pengukuran-timggi-pohon. pada tanggal 23 Oktober 2012.

Diakses

http://hidayat.com/pps702-ipb/07134/muhidin.htm. Diakses pada tanggal 23 Oktober 2012. http//iirc.ac.id/inventarisasihutan. Diakses pada tanggal 15 November 2012.

http://membersmultimania.co/uk/nidhum/01-pendahuluan-ISDH-pdf. tanggal 15 Noevmber 2012.

Diakses

pada