P. 1
Analisis APBD Kabupaten Toba Samosir

Analisis APBD Kabupaten Toba Samosir

|Views: 578|Likes:
Dipublikasikan oleh Andri Nasution

More info:

Published by: Andri Nasution on Jul 12, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/05/2015

pdf

text

original

TUGAS KEBIJAKAN FISKAL ANALISIS APBD DI KABUPATEN TOBA SAMOSIR

OLEH:
1.NOVITA SARI SETIAWAN 2.JUNITA AJIZAH 3.MENIK YUNI LESTARI 4.SRI LESTARI SIBUEA JURUSAN:D3-KEUANGAN GROUP:B 112101118 112101117 112101083 112101082

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI TAHUN AJARAN 2013/2014

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul ”ANALISIS APBD DI KABUPATEN TOBA SAMOSIR”. Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Kedua orang tua dan Dosen Pembimbing mata kuliah kebijakan fiscal Pak Umar yang telah memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi. Meskipun Saya berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, Saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar Makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata Saya berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.

Medan.Juni 2013

Novita Sari Setiawan

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG 1.2 RUMUSAN MASALAH 1.3 TUJUAN PENELITIAN 1.4 MANFAAT PENELITIAN BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA II.1.1. Kebijakan Daerah dan Kelembagaan II.1.2. Keuangan II.1.3. Komunikasi II.1.4 Keterlibatan Pelaku Bisnis II.1.5. Pemberdayaan Masyarakat, Aspek Jender dan Kemiskinan II.1.6. Monitoring dan Evaluasi II.2.1. Sub Sektor Air Limbah II.2.2. Sub Sektor Persampahan II.2.3. Sub Sektor Drainase Lingkungan II.2.4. Sektor Air Bersih II.2.5. Aspek Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) BAB 3 KESIMPULAN DAN SARAN 3.1 Kesimpulan 3.2 Saran

Daftar Pustaka

salah satu bentuk pelayanan tersebut adalah memberikan informasi yang transparan dan akuntabel .Salah satu dari sekian banyak reformasi yang membawa kepada suatu perubahan adalah reformasi hubungan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah yang di kenal dengan”Otonomi Daerah”.BAB 1 PENDAHULUAN 1.Pada prinsip nya semakin besar sumbangan PAD terhadap anngaran pendaptan dan belanja daerah (APBD) akan menunjukan semakin kecil ketergantungan daerah kepada pusat.Walau pun istilah otonomi daerah bukan lah hal yang baru karena seiring dengan undanga undang dasar 1945.pemerintah kabupaten di tuntut untuk mampu membiayai penyelenggaraan pemenrintahan. Otonomi daerah saat ini di kaitkan dengan undang undang nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintah pusat daerah yang direvisi menjadi undang undang nomor 32 tahun 2004 dan undang undang no 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan daerah. 1. Otonomi Daerah menuntut pemerintah daerah untuk memberikan pelayanan sebaikbaik nya kepada masyarakat.Pemberlakuan kedua undang undang ini berkosekuensi pada perubahan pola pertanggung jawaban horizontal(horizontal accountability) kepada masyarakat melalui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Otonomi Daerah pada hakekat nya dalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.1.pembangunan dan kemasyarakatan yang menjadi kewenangan nya.Dalam konsep otonomi daerah maka di perlukan:      Pemberdayaan masyarakat Demokratisasi dalam arti pemberian tanggung jawab kepada seluruh masyarakat Peluang untuk mempercepat perolehan kesejahteraan masyarakat secara merata Peningkatan mutu pelayanan birokrasi Peningkatan mutu pengawasan melalui legislative Sebagai konsekuensi di dalam melaksanakan otonomi daerah .Latar Belakang Reformasi membawa banyak perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia tercinta.2 Rumusan Masalah .Hal ini menandakan bahwa daerah harus berusaha untuk mampu meningkatan PAD yang merupakan tolak ukur bagi daerah dalam menyelnggarakan dan mewujudkan otonomi daerah .

Aspek Teknis dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.Hasil penelitian ini di harapkan bermanfaat untuk menambah wacana dalam perkembangan Ilmu Akuntasi Sektor Publik .Aspek Gender dan kemiskinan.Monotoring dan Evaluasi.mengembangkan wawasan berfikir yang di landasi konsep ilmiah khusus nya ilmu akuntasi sector public.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas.Pemberdayaan Masyarakat.maka masalah yang hendak di teliti dalam penelitian ini di rumuskan sebagai berikut: Kebijakan Daerah.Berdasarkan fenomena yang telah di uraikan pada latar belakang.  Bagi Praktisi.Aspek Perilaku Hidup Bersih Sehat(PHBS) di Kabupaten Toba Samosir?/ 1.Hasil penelitian ini di harapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah Kabupaten Toba Samosir dan dapat menjadi acuan dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah  Bagi Akademik.maka tujuan penelitian ini adalah:Untuk mengetahui apakh semua pengaruh dari pada Daerah Toba Samosir .Sub Sektor Air Limbah.Sektor Air Bersih.Keterlibatan Pelaku Bisnis.Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai pelatihan intekletual.Persampahan Drainase Lingkungan.4 Manfaat Penelitian Manfaat yang di harapkan dari peneltian ini adalah :  Bagi Peneliti. 1.

. Kebijakan Daerah Belum adanya tatanan substansi Perda Kabupaten Toba Samosir yang secara jelas dan tegas mengatur penyediaan sarana dan prasarana sanitasi yang baik dan sehat serta kebijakan dasar yang memuat substansi yang tegas untuk mengarahkan pola tindak seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah. masyarakat maupun swasta. Pendistribusian tugas terkait sanitasi pada setiap SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Toba Samosir saat ini masih kurang jelas dan tegas.1. hanya mengatur sektor sanitasi secara parsial (tidak terpadu dan terintegrasi) misalnya Perda No.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA II. Kebijakan Daerah dan Kelembagaan Dalam aspek kebijakan daerah dan kelembagaan. yang menjadi isu strategis adalah: 1. 2. Saat ini Pemerintah Kabupaten Toba Samosir belum memiliki desain pola kerjasama yang spesifik dengan pemerintah propinsi. Sebagai contoh kasus dapat diketahui dalam hal penanganan persampahan dan air limbah sering terjadi tumpang tindih penanganannya antara Badan Lingkungan Hidup dan Pertambangan Kabupaten Toba Samosir dengan Dinas Pasar. pemerintah pusat dan pihak ketiga dalam pengelolaan layanan sanitasi di Kabupaten Toba Samosir. Kelembagaan Belum adanya SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Toba Samosir yang secara khusus menangani pengelolaan sanitasi sehingga pembangunan sektor sanitasi masih ditangani secara parsial (tidak terintegrasi dan terpadu) tersebar di beberapa SKPD.1. Kalaupun ada perda. 49 tahun 1999 tentang Retribusi Izin Mendirikan Bangunan (IMB). 7 Tahun 2001 tentang Retribusi Sampah dan Perda No. sehingga program pembangunan Sanitasi yang dilakukan oleh SKPD masih kurang sinergis. Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Toba Samosir.

SKPD penanggungjawab layanan pengelolaan sanitasi di Kabupaten Toba Samosir saat ini masih berhadapan dengan masalah keterbatasan personil/aparatur yang memiliki pengetahuan. Evaluasi dan Monitoring secara manajerial. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (pengelola teknis kegiatan) dibantu para camat. Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah (pengelola teknis kegiatan keuangan) dan Inspektorat Wilayah Kabupaten Toba Samosir sebagai institusi pengawasan dan penilaian capaian pelaksanaan kegiatan. kebersihan dan Pertamanan (pengelola teknis kegiatan ) dibantu para camat. Dinas Pendapatan. Adapun Badan/Dinas/ kantor/SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Toba Samosir yang terkait dengan pengelolaan pembangunan dan pengembangan sektor sanitasi terdiri dari Bappeda yang didukung oleh Bagian Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten melakukan fungsi tata kelola perencanaan. Dinas Pasar. Koordinasi. dan keterampilan teknis serta keterbatasan sarana dan prasarana sektor sanitasi. Dinas Kesehatan (pengelola teknis kegiatan) dibantu para camat. . Dinas Tata Ruang dan Permukiman (pengelola teknis kegiatan) dibantu para camat.Mekanisme dan prosedur layanan sanitasi yang diterapkan oleh masingmasing SKPD penanggungjawab layanan sanitasi di Kabupaten Toba Samosir saat ini masih minim dalam mendukung penyediaan layanan sanitasi yang efektif dan efisien. Badan Lingkungan Hidup dan Pertambangan (pengelola teknis kegiatan) dibantu para camat. Dinas Pendidikan (pengelola teknis kegiatan) dibantu para camat.

49 tahun 1999 tentang Retribusi Izin Mendirikan Bangunan (IMB) secara umum masih rendah. Tantangan layanan sanitasi kabupaten pada sisi kebijakan daerah dan kelembagaan: Kurangnya perhatian selama ini terhadap pembangunan dan pengembangan sektor sanitasi sehingga kebijakan daerah tentang sanitasi masih sangat terbatas. Kurangnya inovasi dalam menggali sumber-sumber PAD dari sektor layanan sanitasi. merupakan kelompok adhoc dan saat ini masih berhadapan dengan masalah keterbatasan pengetahuan dan keterampilan tentang teknik pengelolaan sanitasi. Hal ini dipengaruhi oleh masih rendahnya intensitas sosialisasi Perda dimaksud dan masih terbatasnya jangkauan layanan sarana prasarana pendukung pelaksanaan Perda dimaksud sehingga masyarakat merasakan jasa pemerintah daerah.1.Kelompok Kerja (Pokja) Sanitasi Kabupaten Toba Samosir Tahun 2010 yang dibentuk melalui Keputusan Bupati Toba Samosir Nomor 98 Tahun 2010. yang menjadi isu strategis adalah: Kemampuan APBD Kabupaten dalam membiayai pembangunan sanitasi masih sangat terbatas. Masih minimnya bantuan keuangan dari pemerintah daerah propinsi dan pemerintah pada sektor sanitasi. Penggunaan dana yang masih belum tepat sasaran. Tingkat kepatuhan masyarakat terhadap Perda No. . II. Keuangan Dalam aspek keuangan.2. 7 Tahun 2001 tentang Retribusi Sampah dan Perda No.

Badan Lingkungan Hidup dan Pertambangan.224.010.878.000 200.600 Dinas Kesehatan Dinas Tarukim Dinas Pasar Badan Lingkungan Hidup & Pertambangan Dinas Kebudayaan & Pariwisata Total TA 2010 9.152.869.000 1.252.344 TA 2009 TA 2010 PAGU (Rp) .364.850 8.Adapun kondisi alokasi Anggaran untuk penataan sektor Sanitasi (meliputi drainase.900.784.000.000.919.1.919.013. pemberdayaan masyarakat.000 615.000 Dinas Kesehatan Dinas Tarukim Dinas Pasar Badan Lingkungan Hidup & Pertambangan Dinas Kebudayaan & Pariwisata Total TA 2009 2010 456.600 Dinas Kesehatan Dinas Tarukim Dinas Pasar Badan Lingkungan Hidup & Pertambangan Dinas Kebudayaan & Pariwisata Total TA 2008 2009 491.899.697.000 989.000 4.344 474.298.000 1.724.000 SKPD TA 2008 2.840 TOTAL BELANJA LANGSUNG (Rp) 173.840 173. 2009 dan 2010 yang tersebar di Dinas Kesehatan.699.096. Dinas Pasar.692.440.000.800.693. Alokasi Anggaran Penataan Sanitasi Dari Belanja Langsung APBD Kabupaten Toba Samosir KONDISI BELANJA LANGSUNG APBD KABUPATEN TOBA SAMOSIR T. Dinas Tata Ruang Permukiman.672.198.200 200.A 2008 TOTAL BELANJA ( Rp ) 456.672.382.000 1.013.043.983.510.936.300.000 941.850 5.000 10. persampahan dan penataan lingkungan bersih dan sehat) di Kabupaten Toba Samosir dari APBD Kabupaten Toba Samosir mulai dari TA 2008.470.364.600.000. Kebersihan dan Pertamanan serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata adalah sebagai berikut: Tabel II.200 1.863.000 238.000 5.

21%. Dengan demikian keadaan keuangan di Kabupaten Toba Samosir berada pada posisi lemah/memerlukan bantuan/suntikan dana.04%. . Maka merujuk pada rasio PAD terhadap total pendapatan pada APBD Kabupaten periode 2005. 2. 2009 dan Tahun Anggaran yang sedang berlangsung Tahun 2010 untuk penataan pembangunan sektor Sanitasi dilakukan dengan perhitungan proporsi Total Belanja Langsung untuk sektor Sanitasi dari setiap SKPD yang terlibat terhadap Total Belanja Langsung dari APBD Kabupaten Toba Samosir. Dari tabel III.1 dapat diperoleh proporsi penataan sektor sanitasi berturut–turut untuk TA 2008 sebesar 5.Untuk melihat kondisi alokasi anggaran dari pos belanja APBD Kabupaten Toba Samosir TA 2008.13%.65% dan angka sementara TA.2.87%. 2006.76% dan 2. TA 2009 sebesar 3. 2. 4. untuk menentukan kondisi keuangan daerah dalam keadaan baik/tidak baik dapat ditentukan melalui rasio/perbandingan antara Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Total Pendapatan APBD dengan ketentuan apabila hasilnya ≥10% menunjukkan bahwa kondisi keuangan daerah dalam keadaan baik.84%.32%. 2007. 2010 sebesar 5. Berdasarkan tabulasi perkembangan pendapatan dan belanja Kabupaten Toba Samosir yang diuraikan dalam Tabel III. 2008 dan 2009 berturut–turut sebesar 2.

00 1. Bagi Hasil Pajak dan Bantuan Keuangan dari Propinsi Jumlah Pendapatan Dana Perimbangan Lain-lain Pendapatan yang Sah 1.00 2.170.610. Lain-lain PAD yang sah 1.012.2 Perkembangan Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Toba Samosir T.294.976. DAU 4.028. Bagian Daerah dari Bagi Hasil Pajak 2.A 2005 Belanja Tidak Langsung Belanja Pegawai/Personalia Belanja Barang dan Jasa Belanja Pemeliharaan Belanja Langsung Belanja Aparatur 163.00 65.000.92 Total Pendapatan T.030.282. Pendapatan Pajak Daerah 1.596.586. Bagi Hasil Bukan Pajak 3.00 12.346.148.00 .00 14.531.00 Pengelolaan Kekayaan Daerah 4.958.352.00 77.860.779.524.102.280.877.164.635. Dana bantuan dari Pemerintah Jumlah Lain-lain Pendapatan yang Sah 3.877.897.00 558.186.865.92 14.A Uraian Realisasi (Rp) 2005 Pendapatan Asli Daerah (PAD) 1.00 108.923.619.813.393.626.000.795.626.00 11.506.000.028.00 9.000.376.69 7.62 15.236.795.Tabel II.00 144. DAK 5.62 Jumlah PAD Pendapatan Dana Perimbangan 1. Hasil Perusahaan Milik Daerah & Hasil 120.290. Retribusi Daerah 730.615.635.179.410.448.327.403.836.000.54 91.00 3.075.000.792.378.

227.485.227.590.00 2.500.00 1.000.000.428.745.972.00 12.653.00 1.135.00 0. Pendapatan Pajak Daerah 1.00 T.000.227.961.499.626.736.00 157.A Uraian Belanja Pemeliharaan Belanja Modal Belanja Publik Belanja Operasi Pemeliharaan Belanja Pegawai/Personalia Belanja Barang dan Jasa Belanja Perjalanan Dinas Belanja Pemeliharaan Belanja Modal Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan Belanja Tidak Tersangka Total Belanja Pembiayaan Penerimaan Pembiayaan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Lalu Pengeluaran Daerah Penyertaan Modal (Investasi) Pembayaran Hutang yang Jatuh Tempo Jumlah Pembiayaan Realisasi (Rp) 667.542.912.807.69 17.28 2.242.661.135.00 2.000.227.428.771.264.154.021.531.00 47.00 .500.130.000.00 1.673.000.102.038.428.00 308.000.004.695.800.991.713.990.428.00 2.28 19.00 17.28 2006 Pendapatan Asli Daerah (PAD) 1.471.547.376.000.000.498.065.000.150.00 11.19 10.135.50 16.356.28 19.Belanja Operasi Pemeliharaan Belanja Pegawai/Personalia Belanja Barang dan Jasa Belanja Perjalanan Dinas 5.062.50 4.226.503.650.823.277.69 31.291.135.

500.485.499.038.00 210.00 T.214.590.065.28 2.912.69 31.00 2.500.066.961.428.733.00 528.809.000.50 4.206.588. DAU 4.000.227.54 18.135. Retribusi Daerah Realisasi (Rp) 667.376.972.000.00 26.800.69 17.989. Bagi Hasil Bukan Pajak 3.000.531.28 19.00 1.093.428.227.558.00 1. Retribusi Daerah 3.532.00 9.A Uraian Belanja Pemeliharaan Belanja Modal Belanja Publik Belanja Operasi Pemeliharaan Belanja Pegawai/Personalia Belanja Barang dan Jasa Belanja Perjalanan Dinas Belanja Pemeliharaan Belanja Modal Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan Belanja Tidak Tersangka Total Belanja Pembiayaan Penerimaan Pembiayaan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Lalu Pengeluaran Daerah 2.000.291.50 16.558.062.574.428.135.00 157. Hasil Perusahaan Milik Daerah & Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah 4.00 11.00 47.54 13.656.00 12.547.28 19.000.2.695.102.673.00 1. DAK 1.503.130.073.277.004.154.650.000.526.226.991.763.216. Bagian Daerah dari Bagi Hasil Pajak 2.206. Lain-lain PAD yang sah Jumlah PAD Pendapatan Dana Perimbangan 1.503.021.713.00 .00 308.19 10.442.001.745.471.807.626.056.227.532.135.

972.005.589.00 . Bagi Hasil Pajak Jumlah Pendapatan Transfer Lain-lain Pendapatan yang Sah 1.00 8. Retribusi Daerah 3.50 21.809. Hasil Perusahaan Milik Daerah & Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah 4.972.54 13.246. Hasil Perusahaan Milik Daerah & Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah 4.588.989.00 1.449. Bagian Daerah dari Bagi Hasil Pajak 2.442. DAK 1.012.22 2. Bagian Daerah dari Bagi Hasil Pajak 2.574.718.00 980.552.216. DAU 4.00 7.656.00 8.00 614.834.000.511.753.733.435.417.514.958.00 26.264. DAK 5.392.214.526.846.982.00 210.00 239. DAU 4.165.067.000.3.093.00 Pembayaran Utang Pokok yang Jatuh Tempo Pembiayaan Netto 2007 Pendapatan Asli Daerah (PAD) 1.000.763.000.840.000.000.00 19.591.00 9.00 528. Bantuan Keuangan dari Propinsi 0. Lain-lain PAD yang sah Jumlah PAD Pendapatan Transfer 1.476. Pendapatan Dana Darurat 2.078.50 2.00 54.268.236. Pendapatan Pajak Daerah 2.000.00 325.001.503.908.904.066.116.500.836.073. Lain-lain PAD yang sah Jumlah PAD Pendapatan Dana Perimbangan 1. Bagian Daerah dari Bagi Hasil Bukan Pajak ( sumber daya alam ) 3.382.54 18. Bagi Hasil Bukan Pajak 3.00 5.000.000.056.

281.362.208.00 7.611.521.996.000. Pendapatan lainnya Jumlah Lain-lain Pendapatan yang Sah Total Pendapatan T.00 T.60 86.624.876.119.21 400.00 0.027.744.50 339.483.885.00 3.896.14 356.00 138.139.040.094.00 355.389.089.210.69 299.155.557.200.000.14 6.000.976.784.771.643. Bagian Daerah dari Bagi Hasil Pajak Jumlah Pendapatan Transfer Lain-lain Pendapatan yang Sah 1.276.944.000.255.00 0.652.818.259.722.60 192.146.00 1.00 7.796.197.984.94 14.A 2007 Belanja Belanja Tidak Langsung Belanja Pegawai Belanja Bantuan Sosial Belanja Bantuan Keuangan Kepada Propinsi/ Kabupaten/Kota dan Pemerintahan Desa Belanja Tidak Terduga 10.A 2008 Belanja Belanja Operasi Belanja Pegawai Belanja Barang Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Hibah Belanja Bantuan Sosial Realisasi (Rp) 11.343.675.570.00 23.3.075.527.092. Pendapatan Lainnya Jumlah Lain-lain Pendapatan yang Sah Total Pendapatan T.221.00 9.722.446.540.533.350.455.00 844.94 381.188.00 124.232.726.00 .577.686.495.A Uraian 6. Bantuan keuangan dari Propinsi 2.387.

17 Realisasi (Rp) 0.590.994.884.570.829.642.00 0.627.608.775.00 27.00 0.226.00 99.366.398.366.829.00 400.A Pengeluaran Daerah Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal (Investasi) Pembayaran Hutang Pokok yang Jatuh Tempo 0.00 1.09 233.967.642.635.778.223.000.00 0.838.69 (19.675.366.612.48) 49.499.17 49.00 .00 T.00 35.590.A 2008 Surplus/(Defisit) Pembiayaan Penerimaan Daerah Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Lalu Uraian Pencairan Dana Cadangan Penerimaan Pinjaman dan Obligasi Hasil Penjualan Asset Daerah yang Dipisahkan 12.09 0. irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Belanja Tidak Terduga Belanja Tidak Terduga Jumlah Belanja T.514.499.398.799.829.00 35.796.00 1.Belanja Bantuan Keuangan Belanja Modal Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.196.005.00 0.521.17 49.00 0.600.00 0.462.590.

000.492.000.lain PAD yang sah 2.199.00 1.114.895. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan 4.668. Bagi Hasil Pajak 23.076.00 451.217.366. DAU 4.28 Lain-lain Pendapatan yang Sah 1.17 2009 Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) 1.493.00 Pendapatan Transfer 1.472.051.046.493.590.021. Pendapatan Dana Darurat 34.000.455. Pendapatan Pajak Daerah 2. Bagian Daerah dari Bagi Hasil Bukan Pajak ( sumber daya alam ) 3.153.135. Retribusi Daerah 3.755.466. Lain .28 Jumlah Pendapatan Transfer 363.191.735.404.00 .000.00 50.317.178.00 2. Bagian Daerah dari Bagi Hasil Pajak 2.00 2. DAK 5.920.00 Jumlah PAD 9.00 9.980.893.176.00 279.210.829.056.Pembiayaan Netto 49.828.424.

176.600.922.957.802.437.948.00 0.176. irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Belanja Tidak Terduga Belanja Tidak Terduga Realisasi (Rp) 327.213.869.514.993.00 .327.00 60.946.822.959. Bantuan Keuangan dari Propinsi 3.169.881.00 13.071.409.465.765.00 1.514.417.704.490.800.723.00 130.00 75.500.A 2009 432.857.070.522.807.00 0.840.051.748.60 0.100.2.000.00 1.213.00 1.305.556.834.00 0.932. Pendapatan lainnya 6.71 42.00 237.00 12.89 64.60 T.719.00 18.000.28 Belanja 460.878.828.993.206.00 Jumlah Lain-lain Pendapatan yang Sah Total Pendapatan T.00 67.105.000.500.684.00 7.A Uraian Belanja Operasi Belanja Pegawai Belanja Barang Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Hibah Belanja Bantuan Sosial Belanja Bantuan Keuangan Belanja Modal Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.

051.00 0.00 0.60 30.69 30.587.834.00 0.01% dan 3.00 30.00 0.40%.587.69 0.363.363.00 0.748.69 Tingkat Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Untuk menentukan tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan dapat dilakukan dengan membandingkan PAD perkapita terhadap PDRB perkapita dengan ketentuan bahwa apabila nilai rasio PAD perkapita terhadap PDRB perkapita ≥ 5% menunjukkan tingkat partisipasi yang baik. Tantangan layanan sanitasi kabupaten pada sisi keuangan: 1.82%. Dengan demikian keadaan keuangan di Kabupaten Toba Samosir pada tahun 2007 dan 2008 berada pada posisi tingkat partisipasi masyarakat yang lemah/memerlukan bantuan/suntikan dana.587. Kurangnya perhatian selama ini terhadap pembangunan dan pengembangan sektor sanitasi sehingga pengalokasian keuangan daerah masih belum mendukung pembangunan dan pengembangan sektor sanitasi. 3.834.834.363. 2007.A 2009 Surplus/(Defisit) Pembiayaan Penerimaan Daerah Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Lalu Pencairan Dana Cadangan Penerimaan Pinjaman dan Obligasi Hasil Penjualan Asset Daerah yang Dipisahkan Pengeluaran Daerah Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal (Investasi) Pembayaran Hutang Pokok yang Jatuh Tempo Pembiayaan Netto 460.922.69 30.Jumlah Belanja T. Maka merujuk pada rasio PAD perkapita terhadap PDRB perkapita atas dasar harga berlaku periode 2006. .363.587. dan 2008 berturut –turut sebesar 6.834.00 0.

II. aspek jender dan kemiskinan.5. yang .2.1. Pemberdayaan Masyarakat. Keterbatasan kemampuan sumber daya manusia aparatur dalam meningkatkan sumber-sumber pendapatan daerah.1. Tingginya ketergantungan pengelolaan sanitasi pada pemerintah. II. yang menjadi isu strategis adalah: Advokasi isu sanitasi belum dilakukan secara terintegrasi (dilakukan secara parsial/sektoral dan tidak terpadu) oleh SKPD terhadap seluruh pemangku kepentingan. Kurangnya kepedulian terhadap pengelolaan sanitasi. Tantangan layanan sanitasi kabupaten pada sisi komunikasi: 1. posyandu) bagi percepatan pembangunan sanitasi skala kota di Kabupaten Toba Samosir. II. sekolah. 2. aliansi dan kemitraan dari berbagai kelompok sasaran (media massa.3.4 Keterlibatan Pelaku Bisnis Dalam aspek keterlibatan pelaku bisnis. yang menjadi isu strategis adalah belum adanya keterlibatan pelaku bisnis dalam mengelola sektor sanitasi. jaringan keagamaan. Komunikasi Dalam aspek komunikasi. Aspek Jender dan Kemiskinan Dalam aspek pemberdayaan masyarakat. Tantangan layanan sanitasi kabupaten pada sisi keterlibatan pelaku bisnis: 1. Belum optimalnya perluasan jaringan.1. 2. Minimnya sarana dan prasarana pendukung penyebarluasan informasi layanan sanitasi. universitas. Keterbatasan kemampuan sumber daya manusia aparatur dalam penyebarluasan informasi layanan sanitasi. Belum terbangunnya sistem informasi sanitasi kabupaten sebagai wahana bagi para pemangku kepentingan (stakeholders) seperti adanya pertemuan berkala yang berpotensi sebagai pemicu dan focal point dalam mendukung percepatan pembangunan sanitasi.

Monitoring dan Evaluasi Dalam aspek monitoring dan evaluasi. II. Kurangnya sarana dan prasarana pendukung.menjadi isu strategis adalah: Masyarakat belum berkontribusi/swadaya dalam pembangunan dan pengelolaan sanitasi (air limbah. Tantangan layanan sanitasi kabupaten pada sisi pemberdayaan masyarakat. Secara Regional dan Nasional (Makro) adalah meningkatkan peran Kebupaten Toba Samosir terhadap wilayah sekitarnya baik secara ekonomi maupun fisik dan ikut mendorong terciptanya kawasan andalan Tapanuli dan . yang menjadi isu strategis adalah belum adanya mekanisme pemantauan berkala dan evaluasi untuk mengukur keberhasilan kegiatan sanitasi. 2. termasuk didalamnya masalah kegiatan yang merusak lingkungan. Secara Lokal (Mikro) adalah pemecahan masalah ketidakseimbangan perkembangan antara wilayah bagian utara dengan wilayah bagian selatan. Tantangan layanan sanitasi kabupaten pada sisi monitoring dan evaluasi: 1. Masih minimnya kemampuan sumber daya aparatur. II.6. 2. Kesadaran masyarakat pada umumnya masih rendah. aspek jender dan kemiskinan: 1. persampahan. 2. Dukungan SKPD terkait sanitasi masih terbatas dalam melibatkan masyarakat. drainase lingkungan dan air bersih). Aspek Teknis dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat A. Kurangnya kerelaan masyarakat dalam pelepasan lahan dan ketersediaan lahan untuk pembangunan dan pengembangan sektor sanitasi. Kesejahteraan masyarakat yang relatif rendah.1.2. Perencanaan Wilayah Kabupaten Toba Samosir Sasaran yang ingin dicapai dari penyusunan strategi pengembangan wilayah Kabupaten Toba Samosir ini adalah sebagai berikut: 1.

Mendorong pertumbuhan kawasan yang berfungsi budidaya yang terdiri dari: Kawasan yang sangat perlu didorong pertumbuhannya Kawasan yang perlu didorong pertumbuhannya Kawasan yang didorong pertumbuhannya 3. Hasil perumusan potensi dan masalah pengembangan wilayah. 2. Mengendalikan pertumbuhan kawasan yang berlokasi 100 meter dari pinggir pantai dengan pertimbangan rawan bencana. Kondisi fisik wilayah Kabupaten Toba Samosir yang cenderung linier atau memanjang dari Utara ke Selatan. Hasil perumusan Potensi dan Masalah Pengembangan Wilayah Kabupaten Toba Samosir. RTRW Pulau Sumatera dan RTRW Provinsi Sumatera Utara. analisis 3. . 3. Adapun dasar pertimbangan dalam penyusunan rencana struktur pusat pengembangan wilayah Kabupaten Toba Samosir adalah sebagai berikut: 1. Hasil skalogram. Adapun dasar-dasar dalam penentuan strategi pengembangan wilayah ini adalah sebagai berikut: 1. maka struktur pusat pengembangan yang sesuai untuk wilayah ini adalah Pusat Jamak (Pusat lebih dari satu). Mempertahankan kawasan yang berfungsi lindung 2.sekitarnya (Unggulan kawasan pantai tengah (Toba Samosir) dan kawasan Strategis Nasional Danau Toba dan Sekitarnya. Hasil analisis struktur ruang berdasarkan RTRW Nasional. 2. maka strategi pengembangan ruang wilayah Kabupaten Toba Samosir dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Berdasarkan hal tersebut. Analisis Pulau kebijaksanaan pembangunan dalam Konstelasi Nasional. Secara Internasional (Makro) adalah meningkatkan peran Kabupaten Toba Samosir dalam konteks perdagangan Internasional terutama dengan Negaranegara di Kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan. Sumatera dan Provinsi Sumatera Utara.

4. Pusat Transportasi Danau. Sesuai dengan potensi eksisting. perikanan. Sesuai dengan arahan RTRW Provinsi Sumatera Utara dan Balige sebagai PKW (Pusat Kegiatan Wilayah) type II/C/1. Arah Kebijakan Program Strategis). Pusat Kawasan Industri Kecil (industri pengolahan hasil pertanian. maka Rencana Struktur Pusat Pengembangan Wilayah Kabupaten Toba Samosir dapat diuraikan sebagai berikut: A. Pusat perdagangan dan jasa (Pasar dan Bank). Misi. Pusat Pengembangan Wilayah Hirarki I Pusat Pengembangan Wilayah Hirarki I untuk melayani kegiatan dengan skala Regional (Kabupaten Toba Samosir serta dengan Sekitarnya) dan (Kecamatan). industri rumah tangga lainnya). peternakan. Berdasarkan pertimbangan tersebut. PT/DIII). SLTP. SLTA. Adapun fungsi primer dari Pusat Pengembangan Balige ini adalah : Pusat Pemerintahan Kabupaten & Kecamatan. . Strategi pengembangan wilayah Kabupaten Toba Samosir. perkebunan. Kebijaksanaan Pembangunan Pemerintah Kabupaten Toba Samosir (Visi. Pusat Pendidikan umum dan Kejuruan (SD. Lokal (Kabupaten Toba lokasi dari Pusat Samosir) Lingkungan Sedangkan Pengembangan Wilayah Hirarki I ini adalah di Pusat Kecamatan Balige dengan pertimbangan: Lokasi strategis dilalui oleh jaringan jalan Negara dan merupakan Ibukota Kabupaten (Pusat Pemerintahan). 5.

Adapun fungsi primer dari Pusat Pengembangan Sigumpar ini adalah: Pusat Pemerintahan Kecamatan Pusat Pariwisata Rohani (Museum. Porsea sebagai PKL (Perda RTRWP Usul Kabupaten) Sesuai dengan potensi eksisting. Pusat Kecamatan Lumban Julu dengan pertimbangan: Lokasi strategis dilalui oleh jaringan jalan Provinsi dan merupakan Ibukota Kecamatan Sesuai dengan potensi eksisting. Pusat Kecamatan Porsea dengan pertimbangan: Lokasi strategis dilalui oleh jaringan jalan Provinsi dan merupakan Ibukota Kecamatan Sesuai dengan arahan RTRW Nasional untuk mendorong pertumbuhan kawasan tertinggal. Makam Nomensen) Pusat Pendidikan Menengah. Sedangkan lokasi dari Pusat Pengembangan Wilayah Hirarki II ini adalah sebagai berikut: 1. Pusat Kecamatan Sigumpar dengan pertimbangan: Lokasi strategis dilalui oleh jaringan jalan Provinsi dan merupakan ibukota Kecamatan Sesuai dengan arahan RTRW Nasional dan RTRW Provinsi Sumatera Utara Sesuai dengan potensi eksisting. Adapun fungsi primer dari Pusat Pengembangan Lumban Julu ini adalah: Pusat Pemerintahan Kecamatan . Adapun fungsi primer dari Pusat Pengembangan Porsea ini adalah: Pusat Pemerintahan Kecamatan Pusat Pertanian Industri Kertas (Toba Pulp Lestari) 2.B. 3. Pusat Pengembangan Wilayah Hirarki II Pusat Pengembangan Wilayah Hirarki II ini untuk melayani kegiatan dengan skala Lokal (Kabupaten Toba Samosir) dan skala lingkungan kecamatan.

Pusat Kecamatan Nassau 10. Pusat Kecamatan Uluan 6. Pusat Kecamatan Meranti Pintu Pohan 7.Pusat Pertanian dan pengolahan hasil pertanian Pusat Agropolitan (Pengembangan Tanaman Jagung) Pusat pendidikan menengah. Dasar pertimbangan pemilihan lokasinya adalah sesuai dengan potensi eksisting dan merupakan Ibukota Kecamatan. Adapun fungsi primer dari Pusat Pengembangan Habinsaran ini adalah : Pusat Pemerintahan Kecamatan Pusat Perkebunan (PTP IV Kebun Teh Sibosur) Pusat Pertanian dan pengolahan hasil perkebunan Pusat pendidikan menengah dan kejuruan. Pusat Kecamatan Silaen 5. Pusat Kecamatan Tampahan 3. Pusat Kecamatan Ajibata 8. Pusat Kecamatan Borbor 9. C. 4. Pusat Pengembangan Wilayah Hirarki III Pusat Pengembangan Wilayah Hirarki III ini untuk kegiatan dengan skala lingkungan Kecamatan. Adapun lokasi tersebut terdiri dari: 1. Pusat Kecamatan Parmaksian 11. Pusat Kecamatan Laguboti 2. Pusat Kecamatan Habinsaran dengan pertimbangan: Lokasi strategis dilalui oleh jaringan jalan Negara dan merupakan Ibukota Kecamatan Sesuai dengan potensi eksisting Sesuai dengan arahan RTRW Provinsi Sumatera Utara. Pusat Kecamatan Siantar Narumonda 4. Pusat Bonatua Lunasi .

hidrologis. Alokasi anggaran pengelolaan air limbah sangat terbatas. . demografi. Isu strategis aspek teknis ini memuat tentang isu strategis dan tantangan layanan sanitasi sebagaimana berikut: II.Pusat Kecamatan masing-masing dengan pertimbangan skala lingkungan: Lokasi strategis skala lingkungan sebahagian wilayah dilalui oleh jaringan jalan Provinsi dan jalan Kabupaten serta merupakan Ibukota Kecamatan Sesuai dengan potensi eksisting Sesuai dengan arahan RTRW Provinsi Sumatera Utara. Kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan air limbah. Minimnya ketersediaan data dan informasi kondisi lapangan (topografi.1. Rendahnya kesadaran masyarakat untuk menyerahkan tanah/aset untuk kepentingan umum. 2. Keterbatasan kemampuan sumber daya aparatur dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. dsb). Tantangan Layanan Sanitasi Kabupaten Pada Aspek Teknis Sub Sektor Air Limbah: 1. Sub Sektor Air Limbah Adapun isu-isu strategis dalam pengelolaan air limbah di Kabupaten Toba Samosir adalah sebagai berikut: Sangat minimnya sarana prasarana pengelolaan air limbah. Adapun fungsi primer dari Pusat Pengembangan masing-masing kecamatan adalah: Pusat Pemerintahan Kecamatan Pusat Perkebunan rakyat dan pengolahan hasil perkebunan rakyat Pusat Pertanian dan pengolahan hasil pertanian Pusat pendidikan menengah dan kejuruan.2.

Alokasi anggaran terbatas. Tantangan layanan sanitasi kabupaten pada aspek teknis sub sektor persampahan: 1. Sub Sektor Persampahan Adapun isu-isu strategis dalam pengelolaan persampahan di Kabupaten Toba Samosir adalah sebagai berikut: Kesadaran masyarakat akan buang sampah dengan benar rendah. Kondisi jarak hunian penduduk relatif dekat. 4. Mindset masyarakat belum terarah ke pengelolaan sampah.2. apalagi dikemudian hari ada pungutan biaya untuk retribusi. 5.3. 4. II. Rendahnya kesadaran masyarakat untuk menyerahkan tanah/aset untuk kepentingan umum. . Sarana dan Prasarana persampahan masih sangat kurang. II. ditambah lagi adanya pungutan biaya untuk retribusi sampah. 3.2. Rendahnya kesadaran masyarakat untuk menyerahkan tanah/aset untuk kepentingan umum. Tingkat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat yang belum merata.2. Tingkat pendidikan masyarakat yang belum merata. Sangat terbatasnya alokasi anggaran pengelolaan persampahan. 2. Sub Sektor Drainase Lingkungan Adapun isu-isu strategis dalam pengelolaan drainase di Kabupaten Toba Samosir adalah sebagai berikut: Rendahnya kesadaran masyarakat.3. Mindset masyarakat belum terarah ke pengelolaan air limbah. Keterbatasan kemampuan sumber daya aparatur dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengelolaan persampahan. Minimnya petugas kebersihan. Minimnya ketersediaan data dan informasi tentang volume timbunan sampah.

4. Terbatasnya ketersedian dan keberfungsian sarana dan prasarana air bersih. Sektor Air Bersih Adapun isu-isu strategis dalam pengelolaan air bersih di Kabupaten Toba Samosir adalah sebagai berikut: Rendahnya kesadaran masyarakat atas pengelolaan & pemeliharaan sarana dan prasarana air bersih.2. Tantangan layanan sanitasi kabupaten pada aspek teknis sub sektor air bersih: 1. 3. 2. Tantangan layanan sanitasi kabupaten pada aspek teknis sub sektor drainase: 1. 4. Minimnya ketersediaan data dan informasi tentang kondisi lapangan (topografi. 2. Tingkat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat yang belum merata.Kurangnya fasilitas sanitasi umum dan lingkungan permukiman. Rendahnya kesadaran masyarakat untuk menyerahkan tanah/aset untuk kepentingan umum. 3. Tingkat pendidikan masyarakat yang belum merata. Terbatasnya kemampuan sumber daya aparatur dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi pengelolaan air bersih. Minimnya ketersediaan data dan informasi kondisi lapangan tentang sumbersumber air bersih. . Keterbatasan kemampuan sumber daya aparatur dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengelolaan drainase. II. sebaran permukiman. Keterbatasan lahan dan tingkat kerelaan masyarakat dalam pelepasan lahan masih minim. Alokasi anggaran pengelolaan air bersih sangat terbatas. dsb). hidrologi.

5. Alokasi anggaran sangat terbatas.2. Aspek Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Adapun isu-isu strategis dalam pengelolaan PHBS di Kabupaten Toba Samosir adalah sebagai berikut: Kesadaran masyarakat tentang arti penting PHBS masih terbatas. Sarana prasarana pendukung jangkauan layanan PHBS masih terbatas .II. Tantangan layanan sanitasi kabupaten pada aspek teknis sub sektor PHBS adalah tingkat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat yang belum merata. .

. Kurangnya sarana dan prasarana pendukung dan Masih minimnya kemampuan sumber daya aparatur 3.Tingginya ketergantungan pengelolaan sanitasi pada pemerintah d a n Kurangnya kepedulian terhadap pengelolaan sanitasi  Dari segi pemberdayaan masyarakat.Oleh karena Itu.Pemerintah harus tanggap dengan hal ini dan bisa menjadikan Kabupaten Toba Samosir sebagai Kabupaten yang memberikan anggaran paling tinggi di daerah Sumatera Utara. persampahan. drainase lingkungan dan air bersih)dan Kurangnya kerelaan masyarakat dalam pelepasan lahan dan ketersediaan lahan untuk pembangunan dan pengembangan sektor sanitasi  Dari segi monitoring dan evaluasi.1 Kesimpulan Berdasarkan data dari analisis apbd di daerah toba samosir dapat di simpulkan sebagai berikut:  Dalam segi kebijakan daerah dan kelembagaan.BAB 3 KESIMPULAN DAN SARAN 3.  Dari segi Keterilbatan Pelaku Bisnis.2 SARAN Perlu ada nya perubahan dari sector kebijakan daerah dan kelembagaan untuk kegiatan sarana dan prasana di daerah Toba Samosir termasuk Daerah yang cukup menghasilkan apbd yang cukup tinggi di Sumatera Utara di bandingkan Daerah lain karena Toba Samosir merupakan daerah yang banyak di kunjuingi para wisatawan untuk berwisata. Advokasi isu sanitasi belum dilakukan secara terintegrasi (dilakukan secara parsial/sektoral dan tidak terpadu) oleh SKPD terhadap seluruh pemangku kepentingan dan Belum terbangunnya sistem informasi sanitasi kabupaten sebagai wahana bagi para pemangku kepentingan (stakeholders) seperti adanya pertemuan berkala yang berpotensi sebagai pemicu dan focal point dalam mendukung percepatan pembangunan sanitasi.Kabupaten Toba Samosir belum mempunyai sarana dan prasana yang mendukung untuk kebutuhan Daerah nya  Dari segi keuangan. Masyarakat belum berkontribusi/swadaya dalam pembangunan dan pengelolaan sanitasi (air limbah. Kemampuan APBD Kabupaten dalam membiayai pembangunan sanitasi masih sangat terbatas dan Masih minimnya bantuan keuangan dari pemerintah daerah propinsi dan pemerintah pada sektor sanitasi  Dari segi komunikasi.

Jurnal Wahana Hijau.Machmud.Pengganggaran Sektor Publik Bayumedia Publising.Ibnu.Jakarta Yuwono.Vol 2 dan No 1 .2007.Strategi dan Peluang.Paidi dan Sirojuzilam.2005.dan Prospek di Era Otonomi Daerah.Rineka Cipta.DAFTAR PUSTAKA Kuncoro.Jakarta:Kompas Media Nusantara Syamsi.Medan Bappenas.Akuntasi Sektor Publik.Kajian Tentang Keuangan Daerah Kota Medan di Era Otonomi Daerah.(2002).Sony.Dasar-Dasar Kebijakan Keuangan Negara.Mudrajad(2004).Surabaya Diknas.Modul.1994.Peta Kemampuan Keuangan Provinsi Dalam Era Otonomi Daerah:Tinjauan Atas Kinerja PAD dan Upaya Yang di Lakukan Daerah.Perencanaan.Direktorar Pengembangan Otonomi Daerah Hidayat.(2003).Otonomi Dan Pembangunan Daerah:Reformasi.Jakarta.(2006).Hambatan.DKK.Dana Alokasi Umum:Konsep .Erlangga Sidik.DKK.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->