Anda di halaman 1dari 32

TUGAS KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

LAPORAN KELUARGA BINAAN

DIARE AKUT TANPA DEHIDRASI

Oleh

LAILI KHAIRANI H1A 007 033

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM PUSKESMAS NARMADA 2013

DEFINISI KELUARGA

Definisi Keluarga menurut Depkes RI, 1998: Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas Kepala Keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Definisi keluarga menurut WHO, 1969: Anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah adaptasi atau perkawinan. Definisi keluarga menurut Burgess dkk dalam Friedman, 1998: 1. Keluarga terdiri dari orang-orang yang disatukan dalam ikatan perkawinan, darah, dan ikatan adopsi. 2. Para anggota sebuah keluarga biasanya hidup bersama-sama dalam satu rumah tangga, atau jika mereka hidup secara terpisah, mereka tetap menganggap rumah tangga tersebut sebagai rumah mereka. 3. Anggota keluarga berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dalam peran-peran social keluarga seperti suami-istri, ayah dan ibu, anak laki-laki dan anak perempuan, saudara dan saudari. 4. Keluarga sama-sama menggunakan kultur yang sama, yaitu kultur yang diambil dari masyarakat dengan beberapa cirri unik tersendiri. Definisi keluarga menurut Whall dalam Friedman, 1998 : Keluarga adalah kelompok yang mengidentifikasi diri dengan anggotanya terdiri dari dua individu atau lebih, asosiasinya dicirikan oleh istilah-istilah khusus, yang boleh jadi tidak diikat oleh hubungan darah atau hukum, tapi berfungsi sedemikian rupa sehingga mereka menganggap diri mereka sebagai sebuah keluarga.

Definisi keluarga menurut Friedman dalam Suprajitno, 2004 : Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga. Definisi kleuarga menurut Salvicon: Keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena ikatan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, dan mereka hidup dalm suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam peranannya satu sama lain dan di dalam peranannya masing-masing, dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan. Definisi keluarga menurut Duvall dan Logan(1986) : Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental,emosional,sertasosialdaritiapanggotakeluarga. Definisi keluarga menurut Bailondan Maglaya (1978) : Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya. Definisi Rumah Sehat: Rumah sehat adalah bangunan tempat berlindung dan beristirahat serta sebagai sarana pembinaan keluarga yang menumbuhkan kehidupan sehat secara fisik, mental, dan social, sehingga seluruh anggota keluarga dapat bekerja secara produktif. (menurut Keputusan Menkes RI No. 829/ Menkes/SK/VII/1999)

FUNGSI KELUARGA

Menurut WHO (1978), terdapat beberapa fungsi keluarga, yaitu diantaranya: 1. Fungsi Biologis a. Untuk meneruskan keturunan b. Memelihara dan membesarkan anak c. Memenuhi kebutuhan gizi kleuarga d. Memelihara dan merawat anggota keluarga 2. Fungsi Psikologis a. Memberikan kasih sayang dan rasa aman b. Memberikan perhatian diantara anggota keluarga c. Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga d. Memberikan identitas keluarga 3. Fungsi Sosialisasi a. Membina sosialisasi pada anak b. Membina norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkah perkembangan anak c. Meneruskan nilai-nilai keluarga 4. Fungsi Ekonomi a. Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga b. Pengaturan dan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga c. Menabung untuk memenuhi kebutuhah keluarga di masa yang akan datang. Misalnya : pendidikan anak, jaminan hari tua. 5. Fungsi Pendidikan a. Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki. b. Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi perannya sebagai orang dewasa. c. Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya.

Sedangkan menurut Friedman (1998), fungsi keluarga adalah: 1. Fungsi Affective a. Menciptakan lingkungan yang menyenangkan dan sehat secara mental saling mengasuh, menghargai, terikat dan berhubungan. b. Mengenal identitas individu c. Rasa aman 2. Fungsi Sosialisasi Peran a. Proses perubahan dan perkembangan individu untuk menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan. b. Fungsi dan peran di masyarakat. c. Sasaran untuk kontak sosial didalam atau di luar rumah. 3. Fungsi Reproduksi Menjamin kelangsungan generasi dan kelangsungan hidup masyarakat. 4. Fungsi Ekonomi a. Memenuhi kebutuhan tiap anggota keluarga b. Menambah penghasilan keluarga sampai dengan pengalokasian dana 5. Fungsi Perawatan Kesehatan a. Konsep sehat sakit keluarga b. Pengetahuan dan keyakinan tentang sakit tujuan kesehatan keluarga keluarga mandiri

KASUS PASIEN DALAM KELUARGA BINAAN

I.

DATA KASUS PASIEN DALAM KELUARGA BINAAN Tanggal 16-05-2013 diisi oleh Nama: Laili Khairani NIM : H1A007033 Nama Fasilitas Pelayanan Kesehatan: Puskesmas Narmada

Pasien Nama By. S

Keterangan Anak Tn. I dan Ny. A

Umur / tgl. Lahir Alamat

11 bulan / 06 Juni 2012 Babakan, Desa Badrain, Kecamatan Narmada, Lombok Barat

Jenis kelamin Agama Pendidikan Pekerjaan Status perkawinan Telah diobati sebelumnya Alergi obat

Perempuan Islam Belum menikah Belum -

II.

IDENTITAS KELUARGA BINAAN Keluarga yang akan dibina dalam kasus ini adalah keluarga By. S. Ia merupakan anak

pertama dari Tn. I (Ayah) dan Ny. A (Ibu). Keluarga inti dari By. S terdiri atas Ayah, Ibu serta nenek. By.S tinggal bersama dengan keluarganya dalam satu rumah di wilayah Dusun Babakan, Desa Badrain, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Dalam keluarga binaan ini terdapat empat orang anggota keluarga. Berikut ini adalah identitas anggota keluarga yang diperoleh pada saat kunjungan pertama yang tinggal serumah dengan By. S :

Data Anggota Keluarga: Anggota Keluarga Nama Umur Alamat Tn. I 32 Tahun Dusun Babakan, Desa Badrain, Keterangan Ayah By. S

Kecamatan Narmada, Lombok Barat Agama Pendidikan Pekerjaan Status Islam SD Tukang Listrik Menikah Anggota Keluarga Nama Umur Alamat Ny. A 28 tahun Dusun Babakan, Desa Badrain, Keterangan Ibu By. S

Kecamatan Narmada, Lombok Barat Agama Pendidikan Pekerjaan Status Islam SD Pedagang Menikah Anggota Keluarga Nama Umur Alamat Papuq W. 56 tahun Dusun Babakan, Desa badrain, Keterangan Ibu dari Tn. I

Kecamatan Narmada, Lombok Barat Agama Pendidikan Pekerjaan Status Islam Tidak Sekolah Menikah Anggota keluarga Nama By. S Keterangan Anak angkat dari Tn. I dan Ny. A
7

Umur Alamat

11 bulan Dusun Babakan, Desa badrain,

Kecamatan Narmada, Lombok Barat Agama Pendidikan Pekerjaan Status Islam Belum menikah

Kelurga By. S secara skematis dapat digambarkan dalam pohon keluarga / ikhtisar keluarga sebagai berikut: Ikhtisar keluarga By. S:

pq. W
Tn. M Nn. YK

pq. W

Tn. P

Ny.A

Ny.S

Tn. I

Ny. A

Tn.W

Ny.H

Ny. NA

Tn.YZ

An.N

Nn. s An.M By. T

An.MS

An.NA

By. S

An.RY

Nn. N

Nn. R

An. M

By.Z

Ket: = Laki-Laki = Pasien = Anak Angkat = Keluarga Inti


8

= Perempuan = Menikah

III. DATA STATUS KESEHATAN KELUARGA Data kesehatan awal, diambil saat kunjungan pertama ke rumah keluarga binaan (tanggal 16 Mei 2013) Usia Tn. I 32 th BB/TB 60 kg/158 cm Keluhan Status gizi BMI: 24 (normal) Tanda vital TD: 110/60 N: 78 x/mnt RR: 16 x/mnt Temp: 36,0C Ny. A 28 th 55 kg/153 cm BMI: 23,5 (normal) TD: 120/80 N: 80x/mnt RR: 18x/mnt Temp: 36,2C Pq. W 65 th 45kg/148 cm Kepala pusing dan sering sulit tidur By. S 11 bulan 8,5kg/70 cm Diare sejak pagi, sebelum datang ke Puskesmas BMI/U : BMI : 20,5 (normal) TD : 100/60 mmHg N: 80x/mnt RR: 18x/mnt Temp: 36,3C N : 110 x/menit RR: 28 x/menit Temp: 37,0 C

IV. DATA PELAYANAN PASIEN DALAM KELUARGA BINAAN

A. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Alamat Suku Agama Waktu Pemeriksaan : By. M : 11 bulan : Perempuan : Dusun Babakan, Desa Badrain, Narmada : Sasak : Islam : 14 Mei 2013

B. ANAMNESIS (ALLOANAMNESIS) Keluhan utama: Mencret

Riwayat perjalanan penyakit sekarang Pasien dikeluhkan mengalami mencret sejak pagi, pukul 07.00 WITA. Mencret dikeluhkan dengan frekuensi > 10 kali, dengan konsistensi cair tanpa ampas. Keluhan mencret tidak disertai dengan ledir dan darah. Sejak timbulnya mencret pasien dikeluhkan semakin lemas dan tampak kehausan sehingga pasien banyak minum susu dan air putih. Keluhan demam disangkal oleh ibu pasien. Keluhan mual (-), muntah (). BAK normal dengan frekuensi 4-5 kali dalam sehari.

Riwayat penyakit dahulu Ibu pasien mengaku anaknya belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya, dan baru kali ini diare seperti ini.

Riwayat penyakit keluarga Tidak ditemukan anggota keluarga lain yang mengalami keluhan mencret seperti pasien saat ini. Riwayat penyakit lain dalam keluarga disangkal.

10

Riwayat pengobatan Pasien belum diberikan obat apapun oleh ibunya, hanya diberikan banyak minum di rumah saja.

Riwayat Kehamilan, dan Persalinan Ibu pasien hamil selama 9 bulan dan ini merupakan kehamilan yang ketiga. Anak ini merupakan anak yang diharapkan karena sebelumnya pasangan ini mempunyai 2 orang anak laki-laki. S selama kehamilan, ibu pasien tidak mengalami perdarahan maupun mengidap penyakit lainnya. ANC dilakukan sebanyak 6 kali di posyandu dan 2x di puskesmas. Konsumsi obat-obatan maupun jamu selama hamil (-). Pasien lahir normal, langsung menangis, ditolong oleh bidan di puskesmas Narmada dengan berat lahir 2500 gram. Riwayat biru pada pasien (-), Riwayat kuning (-).

Riwayat Imunisasi: Pasien rutin diajak ke posyandu untuk imunisasi dan penimbangan berat badan. A. Dasar : BCG (2 bulan) Hepatitis (saat lahir) Polio (2, 5, 6, dan 7 bulan) DPT (5, 6, dan 7 bulan) Campak (9 bulan) B. Ulangan -

Riwayat Nutrisi: Pasien sejak usia 4 bulan sudah diberikan minum susu SGM, dikarenakan pasien pisah dengan ibu kandungnya. Sejak umur 6 bulan pasien mulai diberikan bubur dan makanan yang lunak. Dan saat ini selain minum susu SGM, pasien sudah diberikan makan nasi.

11

B. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Kesadaran Tanda vital : HR RR t BB PB Status gizi : 110 x/menit, irama teratur,kuat angkat : 28 x/menit : 37,0 oC : 8,5 kg : 70 cm : BB/U : -2 SD sd +2 SD (gizi baik) PB/U : -2 SD s/d +2 SD (Normal) BB/PB: -2SD sd +2 SD (normal) : Sedang : CM

Status General : Kepala : - Ekspresi wajah : normal - Bentuk dan ukuran : normal - Rambut : normal - Udema (-) - Malar rash (-) - Parese N VII (-) Mata : - Simetris - Alis : normal - Exopthalmus (-) - Ptosis (-) - Nystagmus (-) - Strabismus (-) - Udema palpebra (-) - Mata cowong :-/- Konjungtiva : anemia (-/-), hiperemia (-) - Sclera : ikterus (-/-), hyperemia (-), pterygium (-) - Pupil : isokor, bulat, miosis (-), midriasis (-)

12

- Kornea : normal - Lensa : normal, katarak (-) Telinga : - Bentuk : normal, - Lubang telinga : normal, secret (-) - Nyeri tekan (-) Hidung : - Simetris, deviasi septum (-) - Perdarahan (-), secret (-) - Pernafasan cuping hidung (-) Mulut : - Simetris - Bibir : sianosis (-) - Gusi : hiperemia (-), perdarahan (-) - Lidah : glositis (-), atropi papil lidah (-) Leher : - Simetris (-) - Kaku kuduk (-) - Scrofuloderma (-) - Pemb.KGB (-) - Trakea : ditengah - JVP : normal - Pembesaran otot sternocleidomastoideus (-) - Pembesaran thyroid (-) Thorax : Cor: Inspeksi : iktus kordis tidak tampak Palpasi : iktus kordis teraba ICS 5 midklavikula sinistra Perkusi : redup (+) Auskultasi : S1S2 tunggal regular, murmur (-), gallop (-)

Pulmo: Inspeksi : Bentuk simetris Pergerakan simetris


13

Iga dan sela iga : retraksi (-), penggunaan otot bantu intercostal (-), Pelebaran sela iga () Pernafasan : frekuensi 28 x/menit, teratur Palpasi : Pergerakan simetris Fremitus raba dan vokal simetris Provokasi nyeri () Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru Nyeri ketok () Auskultasi : Suara nafas vesikuler +/+ Suara tambahan rhonki -/Suara tambahan wheezing -/ Abdomen : Inspeksi : Bentuk : distensi (-), scar (-), keloid (-) Auskultas i:Peristaltik usus : meningkat Palpasi : Turgor : normal Tonus : normal Nyeri tekan (-) Hepar : tidak teraba Lien : tidak teraba Ginjal : tidak teraba Perkusi : suara timpani Inguinal-genitalia-anus : tidak diperiksa Ekstremitas : Akral hangat : +/+ Kulit normal Deformitas : (-) Sendi : dbn Edema: (-/-) Sianosis : (-) Kekuatan-tenaga : normal

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG : -

D. DIAGNOSIS KERJA : Diare Akut Tanpa Dehidrasi


14

E. PENATALAKSANAAN Oralit 1 x tiap kali BAB Zink 1 x 1 tab Paracetamol syr. 4x3/4 cth k/p

F. PROGNOSIS Bonam

G. KIE Konseling yang diberikan pada orang tua pasien: 1. Pasien akan belum perlu dirawat inap karena kondisinya masih baik dan derajat kekurangan cairannya masih ringan. Namun, jika ada tanda-tanda seperti : BAB semakin sering, muntah berulang, panas tinggi, kejang, penurunan kesadaran, tidak mau makan dan minum, tidak membaik dalam 2 hari dan keadaan anak lemah agar segera bawa kembali anak ke petugas kesehatan. 2. Pasien sebaiknya istirahat dan diberikan banyak minum serta minum obat secara teratur. 3. Ibu pasien dinasehati agar memberikan oralit kepada anaknya dengan cara sedikitsedikit tapi sering 4. Ibu pasien dijelaskan cara pemberian Zink pada anak, dengan mengencerkannya menggunakan air gelas, dan diminumkan pada pasien sekali sehari serat diberikan selama 10 hari walaupun diare pada anak sudah berhenti/sembuh. 5. Mengubah perilaku sehari-hari menjadi perilaku hidup bersih dan sehat Agar ibu mengajari anaknya agar tidak bermain di tanah. Agar ibu merebus/merendam botol dot didalam air mendidih setiap kali selesai digunakan. Agar ibu membiasakan diri mencuci tangan sebelum menyuapi anak. Agar ibu mencuci tangan sebelum menghidangkan makanan Agar makanan yang dihidangkan selalu ditutup agar tidak dihinggapi lalat

6. Lebih aktif bekerjasama dengan pusat pelayanan kesehatan demi mencegah kembali terjadinya penyakit diare.

15

V. KONDISI FAKTOR RESIKO LINGKUNGAN, SOSIAL, dan EKONOMI V.1 Keadaan Lingkungan Keluarga By. S tinggal di dusun Babakan, Desa Badrain, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Tempat tinggal tersebut merupakan tempat tinggal mereka sendiri sejak mulai menikah dengan ukuran bangunan 11 x 8 m dan menghadap ke arah barat. Bangunan rumah ini beratapkan genteng, memiliki plavon dengan lantai terbuat dari keramik. Rumah berdinding tembok bata yang sudah dplester dan di cat dengan warna hijau. Rumah ini terdiri atas 2 buah kamar, 1 ruang tamu menjadi satu dengan ruang keluarga, 1 dapur menjadi satu dengan ruang makan, 1 ruang gudang, dan teras di bagian depan. Kamar mandi pasien dan tempat cuci piring berada diluar rumah. Lokasi rumah terletak 8 m dari jalan. Batas rumah pasien di bagian depan adalah pekarangan rumah tangga, sebelah kanan adalah pekarangan rumah tetangga, di sebelah kiri berbatasan tembok pekarangan rumah tetangga, dan sebelah belakang berbatasan dengan rumah tetangga. Kamar pertama merupakan kamar tidur Tn. I beserta Ny. A dan By. S, berukuran 3 m x 2,5 m, dengan 1 buah jendela kaca yang jarang dibuka namun selalu membuka kordennya sehingga kamar tetap dimasuki sinar matahari. Di ruangan tersebut, terdapat sebuah tempat tidur dengan kasur yang terbuat dari kapuk. Kamar kedua merupakan kamar tidur Pq. W dengan 1 buah jendela yang juga jarang dibuka. Dapur rumah pasien terletak di samping ruang tengah, berukuran 3 m x 2 m, terdapat beberapa ventilasi. Ny. A memasak menggunakan kompor gas. Untuk keperluan minum, biasanya air yang digunakan adalah air galon. Kebutuhan memasak dan mandi dan mencuci berasal dari air PAM.

16

Denah Rumah Keluarga By.S

5 3

Ket:

1. Kamar tidur orang tua dan pasien 2. Ruang keluarga dan ruang TV 3. Kamar nenek 4. Ruang makan yang menjadi satu dengan dapur 5. Gudang 6. Teras depan 7. Teras belakang 8. Kamar mandi 9. Tempat cuci piring

17

Dokumentasi Lingkungan Rumah By. S

Teras Depan Rumah

Ruang tamu dan ruang keluarga

Ruang Keluarga

Gudang

18

Dapur dan Ruang makan

Kamar Mandi

V.2. Sosial Ekonomi Tn. I bekerja sebagai tukang listrik dan petani, ditambah dengan Tn. A yang bekerja sebagai pedagang kios dengan penghasilan bersih kurang lebih sebesar Rp. 1.000.000,- s/d 1.500.000 ,- perbulan. Keluarga mengaku penghasilan yang ada sekarang cukup untuk kebutuhan rumah tangga. Tn. I biasanya memperbaiki listrik atau memasang listrik apabila ada proyek, namun jika tidak ada proyek tersebut Tn.I bekerja disawah. Ny. A selain berjualan di kios rumahnya, berjualan pula di SD di pagi harinya. Untuk sarana transportasi Ny. A menggunakan sepeda motor untuk bepergian. Dan untuk Iq. A sarana transportasi menggunakan ojek atau terkadang diantar jemput oleh suaminya. Ibu pasien biasanya mencuci peralatan bekas memasak dan alat-alat rumah tangga lainnya di luar rumahnya. Dan ibu pasien biasanya hanya mencuci biasa dot pasien dan apabila direndam, hanya menggunakan air hangat saja. Serta ibu memiliki kebiasaan yang jarang cuci tangan menggunakan sabun setiap kali mempersiapkan makanan atau
19

menyuapi pasien saat makan, ibu pasien hanya sekedar membasahi tangannya dengan air saja.

VI. MASALAH KESEHATAN KELUARGA BINAAN VI.1.Identifikasi Masalah Kesehatan Keluarga Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari kunjungan pertama (16 Mei 2013) terhadap keluarga binaan yang akan dibina, maka dapat dirumuskan beberapa masalah kesehatan dalam keluarga By. S. tersebut beserta dengan kemungkinan penyebab masalah kesehatannya yang disajikan dalam tabel sebagai berikut: No. Anggota Keluarga Masalah Kesehatan Kemungkinan Penyebab Masalah Kesehatan Keterangan

1.

By.S (anak ke1)

Diare 5 kali, nafsu makan menurun

Dikarenakan ibu pasien berjualan disaat pagi, pasien diasuh oleh neneknya. Pada usia 11 bulan ini, masih dalam fase oral sehingga apapun yang dipegang pasien maka akan dimasukkan ke dalam mulutnya. Nenek yang mengasuh pasien sulit untuk menjaga pasien, sehingga lebih banyak untuk mendiamkannya mengambil benda apapun dan dimasukkan kedalam mulutnya. Kebiasaan untuk mencuci tangan setiap kali menyiapkan

Masalah diketahui saat kunjungan pasien ke Puskesmas dan saat kunjungan rumah

20

makanan masih kurang disadari oleh ibu pasien. Kesadaran untuk mencuci tangan anaknya setelah bermainpun masih sangat kurang. 2. Tn.I Saat kunjungan rumah, tidak ada keluhan 3. Ny. A Saat kunjungan rumah, tidak ada keluhan 3. Pq. W Kepala pusing dan sulit untuk tidur. Memiliki anak 9 yang tempatnya berbeda-beda, sehingga selalu dipikirkan bagaimana keadaannya masing-masing. Kurang tidur yang mengakibatkan papuq merasa kepalanya pusing. Masalah kesehatan diketahui saat kunjungan pertama dan kedua kerumah pasien.

21

VI.2. Rencana Upaya Intervensi yang Akan Dilakukan No. Anggota Keluarga Masalah Kesehatan Anggota Keluarga 1. By. S Diare Akut Menjelaskan Diare, mengenai resiko, penyakit dan Rencana Upaya Intervensi Ket

faktor

pencegahannya. Penyuluhan mengenai PHBS secara personal hygiene maupun lingkungan kepada pengasuh dan keluarga: - Menyarankan untuk mencuci

tangan ibu sebelum memberi Susu dan memegang balita . - Memberikan informasi mengenai pentingnya minuman diberikan akan atau kebersihan yang dan

makanan pasien

kepada

keluarga yang lain. - Memberikan informasi mengenai pentingnya sabun. - Mengajarkan kepada ibu dan cuci tangan pakai

keluarga mengenai mencuci tangan yang benar. Penyuluhan tentang cara merawat balita dengan baik dan benar kepada pengasuh: - Memberikan keluarga informasi pasien kepada mengenai
22

makanan yang tepat untuk pasien sesuai usianya (seperti yang

tercantum pada buku KIA). - Menyarankan mengikuti imunisasi dilakukan. Menyarankan untuk meminumkan obat secara teratur, khusunya zink yang harus diberikan selama 10 hari sudah meskipun diare sudah tidak dikeluhkan. 2. Pq. W Kepala pusing + Sulit tidur Memberikan KIE untuk lebih banyak beristirahat dengan mengatur jadwal tidur malam dan jangan terlalu stress/berfikir macam-macam. Membiasakan pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi serta mengatur jadwal dan pola makan, disarankan untuk mengkonsumsi makanan yang cukup mengandung kadar garam karena makanan yang mengandung kadar garam dapat meningkatkan tekanan darah. Menganjurkan untuk minum vitamin atau suplement untuk tetap walaupun lengkap

posyandu sudah

23

VII.1. Masalah dalam Keluarga: Nilai Stress Dalam keluarga inti yang tinggal bersama pasien hanyalah kedua orang tuanya dan nenek pasien. Sehingga didalam rumah tidak terlalu sempit. Namun dalam keluarga besar dari Pq. W yang memiliki 8 orang anak yang tinggalnya berjauhan, dan bahkan ada yang kerja sebagai TKI. Hal tersebut yang mengusik fikiran nenek pasien, sehingga nenek mengeluhkan sulit tidur. Ketika Ny. A berjualan di rumah By. S (Pasien) dijaga oleh neneknya. Dikarenakan stress pada nenek sehingga ketika ibu pasien pergi berjualan, nenek tidak terlalu memperhatikan apa saja yang dimainkan oleh pasien dan yang dimasukkan ke dalam mulutnya. Ketika bermain nenek mengaku sangat sulit menjaga By. S sehingga terkadang nenek membiarkannya untuk bermain dengan benda apapun disekitarnya. Nilai Fungsi berdasarkan fungsi keluarga menurut WHO yaitu fungsi biologis, memelihara dan merawat anggota keluarga. Dalam keluarga ini dikarenakan keseharinnya pasien sering bersama neneknya yang terkadang tidak memperhatikan halhal yang dilakukan pasien, sehingga dimungkinkan karena hal tersebut sebagai faktor resiko terjadinya diare. Selain itu pada usia pasien saat ini, normalnya dalam fase oral sehingga pasien akan selalu memasukkan kedalam mulutnya segala sesuatu yang dipegangnya. Dan hal tersebut dimungkinkan pula menjadi salah satu faktor resiko terjadinya diare. Nilai Lingkungan bersadarkan lingkungan disekitar rumah pasien, terdapat kandang ayam milik tetangga dan ayam-ayam tersebut dibiarkan lepas disekitar rumah. Rumah tetangga pasien tidak bersekat (satu halaman) dengan rumah pasien. Hal tersebut menjadi salah satu faktor resiko terjadinya diare pada pasien, dimana pada usia saat ini pasien aktif bermain sehingga sering memegang barang-barang sembarangan dan

memasukkannya ke dalam mulut. Pemecahan Masalah Didalam keluarga tersebut yang mengambil keputusan suatu tindakan adalah ayah pasien. Ayah pasien yang menetapkan pasien harus segera dibawa ke Puskesmas untuk langsung diberikan penanganan awal diare. Perilaku Kesehatan Keluarga Didalam keluarga tersebut masih belum membiasakan diri untuk mencuci tangan dengan sabun setiap kali untuk menyiapkan/menghidangkan

24

makanan, tangan hanya dicuci dengan air saja tanpa menggunakan sabun. Selain itu pada keluarga pasien tersebut membebaskan pasien untuk bermain-main sembarangan ditempat yang kotor, ditambah lagi pada usia 11 bulan pasien masih dalam fase oral dimana pasien cenderung memasukkan benda yang dipegangnya ke dalam mulutnya. Sehingga kuman mudah masuk dari benda-benda yang dipegangnya yang menjadi faktor resiko terjadinya diare. Nilai Keluarga terhadap Pelayanan Kesehatan Keluarga pasien selalu memeriksakan anggota keluarga langsung ke pelayanan kesehatan apabila ada anggota keluarga dalam keadaan kurang sehat. Ketika timbul gejala-gejala awal keluarga pasien biasa membeli obat di kios-kios terdekat, namun stelah beberapa hari dirasakan tidak ada perbaikan maka akan langsung dibawa ke pelayanan kesehatan, baik itu di Polindes ataupun langsung ke Puskesmas. Peran Dokter Keluarga dalam Intervensi Keluarga didalam keluarga ini peran seorang dokter keluarga yaitu memberikan tatalaksana awal pada pasien diare. Dan diberikan KIE mengenai faktor-faktor resiko untuk terjadinya diare dan hal-hal apa saja yang harus dilakukan anggota keluarga agar diare tidak terjadi berulang. Selain itu peran dokter keluarga juga untuk memberikan KIE gaya hidup sehat agar anggota keluarga tidak mudah terkena penyakit. Serta memberikan informasi kepada keluarga apabila mengalami sakit, maka segera dibawa untuk berobat.

VII.2. Diagnostik Holistik Aspek Personal Pasien dikeluhkan mencret sejak pagi hari sebelum ke Puskesmas. Frekuensi BAB > 7 kali dalam sehari, dengan konsistensi lembek (air > ampas). Ibu pasien mengatkan tidak ada lendir maupun darah pada BAB pasien. Menurut Ibu semenjak sakit nafsu makan pasien menurun sehingga pasien terlihat lemas. Harapan keluarga pasien saat ini adalah agar pasien dapat segera sembuh dan dapat dapat bermain kembali seperti biasanya.

Aspek Klinik Diare akut tanpa dehidrasi


25

Aspek Risiko Internal Pasien merupakan bayi perempuan berusia 11 bulan. Pada usia tersebut pasien termasuk dalam usia yang rentan untuk mengalami penyakit terutama penyakit infeksi. Hal ini disebabkan karena pada usia bayi daya tahan tubuhnya belum terbentuk secara sempurna sehingga akan mudah untuk terserang penyakit. Selain itu pada usia 11 bulan ini merupakan fase oral dimana pasien akan memasukkan apapun benda yang dipegangnya ke dalam mulutnya, sehingga mudahnya masuk kuman yang menyebabkan diare pada pasien.

Aspek Psikososial keluarga Kurangnya pengetahuan pengasuh dan keluarga mengenai Diare, serta faktor resiko dan pencegahannya. Kurangnya pengetahuan pengasuh dan keluarga mengenai cara merawat bayi yang baik dan benar serta kurangnya pengetahuan keluarga mengenai rumah sehat, dan prilaku hidup bersih dan sehat.

VII.3. Rencana Penatalaksanaan Pasien No. 1. Kegiatan Aspek personal Rencana intervensi Evaluasi: Keluhan, harapan, dan kekhawatiran pasien Intervensi: Edukasi kepadaIbu pasien dan keluarga mengenai Diare, bagaimana penularannya, dan apa
bahayanya bila tidak diobati.

Sasaran Semua keluarga pasien

Waktu 1 minggu

Hasil yang diharapkan Keluarga pasien dapat mengetahui mengenai Diare Keluarga dan pengasuh dapat mengetahui cara merawat bayi dengan benar. Keluarga dan pengasuh dapat mengetahaui pentingnya hidup bersih dan sehat serta dapat menerapkannya.
26

Edukasi keluarga mengenai cara merawat bayi dengan benar

2. Aspek klinik Diare akut tanpa dehidrasi

Memberikan informasi mengenai PHBS Keluarga pasien 1 minggu Perbaikan kondisi klinis pasien Pemberian asupan cairan yang benar Seluruh keluarga teratur dan disiplin dalam pemberian obat pasien Dapat mencegah komplikasi Cara merawat bayi dan pola pengasuhan yang benar Dilakukan kontrol kesehatan secara teratur

Evaluasi: - Pemantauan perbaikan kondisi klinis pasien - Keteraturan dalam pemberian asupan cairan dari ibu kepada pasien - Keteraturan dalam pemberian obat - Pemantauan pola asuh dan pemberian susu kepada pasien. Terapi: Non Farmakologis: Memberikan makanan yang sehat kepada pasien Menjaga kebersihan pengasuh serta bayi Farmakologis : Oralit Zink 1x1 selama 10 hari

3.

Aspek Internal

Menjelaskan tentang Diare,bagaimana penularannya, apa bahayanya bila tidak diobati serta cara pencegahannya Pentingnya terapi non farmakologi Resiko Edukasi: Mengenai keadaan

semua keluarga

1 minggu

Seluruh keluarga pasien mengerti


27

kesehatan pada usia tersebut Pentingnya status Gizi bayi dan balita dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya
Aspek perilaku pengasuh dan keluarga serta aspek lingkungan memiliki peranan penting terhadap terjadinya penyakit

pasien

bahwa usia pasien merupakan usia rentan terkena penyakit.

4.

Aspek psikososial Kurangnya pengetahuan mengenai diare Kurangnya pengetahuan tentang cara merawat balita dengan benar. Kurangnya pengetahuan keluarga mengenai rumah sehat, dan prilaku hidup bersih dan sehat Edukasi: - Mengenai Diare, faktor resiko timbulnya Diare, pencegahan serta tatalaksana dan bahaya Diare yang tidak tertangani - Memberikan pengetahuan tentang bagaimana cara merawat bayi dengan baik dan benar - Edukasi mengenai pentingnya PHBS Seluruh keluarga pasien 4 hari Seluruh keluarga pasien mengerti dan mampu memahami mengenai diare Seluruh keluarga mengetahui cara merawat balita dengan benar Seluruh keluarga pasien dapat menerapkan PHBS di rumah

VII.4. Tindak Lanjut Dan Hasil Intervensi Pasien Tanggal Kunjungan pertama (16-05-2013) Intervensi Yang Dilakukan, Diagnosis Holistik & Rencana Selanjutnya Evaluasi: Apa saja keluhan yang ada pada pasien dan anggota keluarga pasien, serta status kesehatan keluarga secara umum Melakukan evaluasi apakah terdapat perbaikan gejala klinis dari pasien, keteraturan meminum obat (zink dan oralit) yang diberikan saat pulang dari puskesmas dan mengenai pola asuh kepada pasien, bagaimana PHBS keluarga pasien, serta faktor resiko terjadinya diare pada pasien
28

Hasil : Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, anggota keluarga pasien yang memiliki masalah kesehatan ada 1 orang yaitu nenek pasien. Nenek pasien (Pq.W) saat kunjungan pertama mengalami sering pusing dan sulit untuk tidur. Sehingga badan terasa lemas. Pasien meminum obat yang telah diberikan oleh pihak puskesmas (zink dan oralit) sejak pulang ke rumah. Pola pengasuhan pada pasien masih kurang baik yaitu : - Tidak mencuci tangan dengan sabun ketika akan memegang pasien setelah ibu bekerja - Tidak segera mengganti setiap pakaian yang basah dengan pakaian yang bersih dan kering - Dot yang sudah selesai digunakan jarang untuk dibersihkan menggunakan air panas, bahkan tidak pernah direbus didalam air mendidih, hanya menggunakan air biasa dan di rendam dalam air hangat. - Tidak membuang makanan yang telah jatuh ke lantai dari pegangan pasien - Membiarkan anak bermain di tanah kemudian tidak menggantikan baju serta membersihkan pasien setelah main di tanah. - Tidak melarang pasien untuk tidak menghidap barang-barang atau mainan yang dipegangnya. Mengenai prilaku hidup bersih dan sehat keluarga pasien : - Keluarga pasien masih menggantung baju-baju yang sudah terpakai di balik pintu kamar. Keluarga pasien jarang membuka pintu setiap pagi untuk sirkulasi udara dan jarang membersihkan rumahnya. Keluarga masih tidak mencuci tangan pakai sabun. Keluarga membuang sampah yang berjarak 6 meter dari rumahnya dan hanya meletakkan sampah begitu saja Keluarga pasien masih belum mengetahui mengenai penyakit Diare, faktor resiko, pencegahan, dan mengenali tanda bahaya penyakit tersebut pada bayi Intervensi: Penyuluhan tentang cara merawat balita dengan baik dan benar kepada ibu dan nenek pasien:
29

Cara mencuci tangan yang baik serta harus memakai sabun Menyarankan untuk segera mengganti setiap pakaian yang basah dengan pakaian yang bersih dan kering. Menyarankan untuk membuang makanan yang telah jatuh ke lantai agar tidak dikonsumsi kembali oleh pasien Menyarankan agar tidak membiarkan anak bermain ditanah Menjaga anak untuk tidak memasukkan barang-barang kotor yang dipegangnya ke dalam mulut. Penyuluhan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara personal hygiene maupun lingkungan kepada pengasuh dan keluarga: Menyarankan untuk tidak menggantung baju-baju yang sudah terpakai dibalik pintu kamar karena dapat menjadi sarang nyamuk. Membuka pintu rumah tiap pagi hari agar sirkulasi dirumah baik. Menjaga kebersihan rumah dan perabotan dapur yang ada diteras rumah dengan kain. Mengajarkan ibu cara untuk merebus dan merendam dot dengan menggunakan air mendidih. Memberikan informasi mengenai saat penting cuci tangan pakai sabun. Mengajarkan kepada ibu dan keluarga mengenai mencuci tangan yang benar. Pengelolaan sampah

Kunjungan kedua (19-05-2013)

Evaluasi: Kondisi klinis pasien Evaluasi dari intervensi sebelumnya

Hasil: Kondisi pasien membaik, pasien sudah tidak mencret lagi. Pasien sudah habis meminum obat yang telah diberikan oleh pihak puskesmas (zink dan oralit) Nenek masih mengeluhkan sulit tidur. Pola pengasuhan pasien masih kurang baik yaitu : - Mainan atau barang-barang yang dimainkan tidak diperhatikan oleh ibu pasien, sehingga dengam mudah masuk ke dalam mulutnya. - Makanan yang telah jatuh tidak diperhatikan oleh ibu pasien. - Ibu masih belum memperhatikan untuk mencuci tangan sebelum
30

memasak dan mempersiapkan makanan. Evaluasi PHBS : Keluarga pasien masih dibalik pintu kamar . Keluarga pasien jarang membersihkan rumahnya. Keluarga pasien tetap membuang sampah sekitar rumah. menggantung baju-baju yang sudah terpakai

Intervensi: Melakukan edukasi mengenai : Kunjungan ketiga (21-05-2013) pola asuh dan cara perawatan bayi dengan benar Edukasi kepada pengasuh dan keluarga tentang PHBS Evaluasi: Pasien sudah tidak mencret lagi Tidak ada anggota keluarga yang mengalami sakit atau keluhan

Evaluasi PHBS : Keluarga pasien telah meletakan pakaian dengan tertata rapi, dilipat, dan diletakan kedalam keranjang pakaian Rumah sudah di bersihkan dan lebih tertata rapi di bandingkan saat kunjungan pertama dan kedua Keluarga pasien tetap BAB di selokan sekitar rumah karena warga sekitar rumah pasien tidak memiliki jamban, akan tetapi sekarang setelah BAB keluarga pasien selalu mencuci tangan dengan sabun di air mengalir. Keluarga pasien tetap membuang sampah di sekitar rumah.

31

VIII. Kesimpulan
Kesimpulan Penatalaksanaan Pasien Keluarga Binaan Faktor pendukung terselesaikannya masalah kesehatan pasien - Pasien dan keluarga terbuka terhadap edukasi dan motivasi yang diberikan Pembina. - Dukungan dan perhatian keluarga terhadap kesehatan pasien dan setiap anggota keluarga. Faktor penghambat terselesaikannya masalah pasien - Pada saat ini pasien dalam fase oral dimana selalu memasukkan benda-benda yang dipegangnya ke dalam mulut. Bagi ibu pasien dan nenek pasien sangat sulit menjaganya agar tidak memasukkan barang kemulutnya. Rencana penatalaksanaan pasien selanjutnya - Edukasi kepada pasien untuk mencegah hal-hal yang akan menjadi faktor resiko untuk terjadinya diare kembali. - Mengajak keluarga pasien untuk terus bergaya hidup sehat dengan memperhatikan pola makan, menambah kegiatan/aktivitas fisik, serta menjalani hidup sehat agar anggota keluarga lainnya tidak memiliki kecenderungan untuk sakit.

32