Anda di halaman 1dari 16

Tanggal praktikum

: 19 September 2013

Dosen Pembimbing : Siti Sadiah, Apt, M.Si Kelompok Praktikum : 1 / Sore RP. Fifarm

SENYAWA KIMIA YANG BEKERJA LOKAL (SETEMPAT)

Anggota Kelompok : 1. Andra Adi Esnawan 2. Anizza Dyah K.M 3. Arlita Sariningrum 4. Fahmi Khairi 5. Fitri Aprian Harjo 6. Irene Soteriani Uren (B04090010) (B04100069) (B04100070) (B04100071) (B04100072) (B04100073)

BAGIAN FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI DEPARTEMEN ANATOMI, FISIOLOGI, DAN FARMAKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

Pendahuluan I. Latar Belakang Perbedaan antara obat dan racun terletak pada dosisnya. Keduanya samasama senyawa kimia yang jika diberikan pada tubuh akan memberikan efek berbeda sesuai dosis yang diberikan. Berdampak menyembuhkan jika dosisnya tepat tapi mengakibatkan keracunan jika dosisnya berlebih. Racun merupakan zat kimia yang masuk dengan cara apapun dan dalam jumlah kecil yang dapat menimbulkan gangguan atau abnormalitas fisiokimia. Toksikan ada yang bekerja secara lokal dan general (umum). Senyawa kimia yang bekerja secara lokal dibagi menjadi beberapa derajat kerusakan respon lokal. Respon yang terjadi timbul di tempat yang direaksikan tanpa proses absorbsi. Tubuh manusia dan hewan hampir semuanya ditutupi oleh kulit, akibatnya kulit dapat terpapar berbagai jenis zat kimia misalnya kosmetik, produk rumah tangga, obat topikal dan pencemaran industri, terutama di tempat kerja tertentu. Praktikum kali ini menggunakan senyawa kimia yang bekerja secara lokal (setempat), yaitu senyawa kimia yang bersifat irritansia dan protektiva. Irritansia merupakan kelompok senyawa yang bekerja tidak selektif pada sel dan jaringan tubuh dengan cara merusak sel-sel atau bagian dari sel untuk sementara atau permanen. Reaksi yang bersifat ringan hanya akan merangsang fungsi sel, namun bila parah atau berlangsung lama akan merusak fungsi sel dan dapat menimbulkan kematian jaringan. Bergantung dari kekuatan kerja senyawa kimia tersebut, daya kerja irritansia dapat berupa rubefaksi (perangsangan setempat yang lemah), vesikasi (terjadi pembentukan vesikel), pustulasi (terbentuk pus), dan korosi (sel-sel jaringan rusak). Senyawa protektiva adalah senyawa yang digunakan untuk melindungi kulit atau mukosa terhadap daya kerja irritansia, baik yang kimiawi maupun yang berupa sinar. Beberapa dapat melindungi tubuh dari efek zat-zat yang bekerja sistemik dengan melindunginya agar tidak terserap melalui mukosa. Beberapa daya kerja protektiva adalah demulsensia (senyawa kimia yang merupakan cairan koloid), emoliensia (senyawa kimia yang merupakan zat minyak), astringensia (senyawa kimia yang digunakan lokal untuk mempresipitasikan protein), dan

adsorbensia (senyawa kimia yang digunakan pada kulit dan membran mukosa, ulcera, dan luka-luka).

II. Tujuan Tujuan dari praktikum kali ini adalah praktikan mengetahui reaksi yang ditimbulkan oleh zat irritansia dan protektiva dan mengetahui contoh dari senyawa tersebut. III. Metode Kerja A. Iritansia 1. Rubefasiensia a. Sepotong menthol digosokkan pada kulit. Kemudian dicatat hasilnya dan diberi keterangan. b. Kapas dicelupkan ke dalam kloroform dan diletakkan di atas kulit lengan selama 2-3 menit atau sampai terasa nyeri. Sebagai perbandingan diteteskan satu tetes kloroform di atas kulit lengan yang lain. Kemudian hasil dicatat dan diberi keterangan c. Empat jari tangan dicelupkan masing-masing ke dalam larutan fenol 5 %, dicatat hasilnya dan diberi keterangan 1) air, 2) alkohol 3) gliserin 4) minyak olivarium

2. Kaustika a. Anaesthesi dilakukan pada kelinci/marmot/tikus, setelah rambutrambut bagian abdomen dicukur. Pada kiri dan kanan dari garis

tengah abdomen diteteteskan bahan-bahan di bawah ini : - 1 tetes asam sulfat pekat - 1 tetes asam khlorida pekat - 1 tetes asam nitrat pekat - 1 tetes fenol likuafatkum - 1 tetes NaOH 75 % - 1 tetes kloroform b. Setelah dibiarkan selama 30 menit, hasilnya kemudian dicatat dan dilakukan percobaan yang sama pada mukosa usus setelah dilakukan

pembedahan longitudinal pada abdomen kelinci, marmot atau tikus tersebut. B. Protektiva 1. Demulensia Hasilnya dicatat dan diberikan keterangan. Metode kerja : a. Rangsangan diberikan pada salah satu kaki kodok dengan : - H2SO4 1/50 N - H2SO4 1/10 N b. Metode selanjutnya dikerjakan seperti metode a. Dengan larutanlarutan sebagai berikut : - H2SO4 1/50 N ditambah gom Arab 10% - H2SO4 1/10 N ditambah gom Arab 10% 2. Astringensia a. Satu tetes larutan tannin 5 % diteteskan pada permukaan ujung lidah. Setelah dua menit berkumur dengan air, dan ujung lidah diamati dengan meminta peserta lain untuk melakukan pengamatan pada ujung lidah, selain itu dapat juga diamati dengan cermin. 3. Adsorbensia a. Sebanyak 1 ml larutan strikhnin nitrat (0,2 mg/ml) disuntikkan pada katak secara subkutan. b. Sebanyak 1 ml larutan strikhnin nitrat (0,2 mg/ml) disuntikkan pada katak secara subkutan yang sebelumnya telah dikocok dengan karbo adsorbensia c. Hasil dicatat dan diberikan keterangan.

Tinjauan Pustaka I. Iritansia Iritansia merupakan kelompok zat kimia lokal yang menyebabkan terjadinya kerusakan jaringan tubuh. Zat-zat ini mempunyai kemampuan yang tinggi dalam bereaksi dengan jaringan tubuh. Secara umum, paparannya tidak langsung mencapai pembuluh darah tetapi bereaksi secara lokal pada tempat terjadinya paparan. Jaringan tubuh yang umumnya teriritasi akibat paparan zat-zat tersebut

adalah kulit dan mukosa. Kedua jaringan ini mudah ditembus oleh zat iritan, baik yang bersifat hidrofil maupun lipofil. Berdasarkan daya kerjanya, iritansia terbagi atas rubefaksi, vesikasi, pustulasi dan korosi. Rubefaksi Rubefaksi merupakan kelompok senyawa kimia iritansia yang mempunyai daya kerja lemah. Gejala utama yang ditimbulkan oleh senyawa kimia ini adalah hiperemia arteriol yang dilanjutkan dengan dermatitis eritrematosa. Contoh daya kerja dari rubafasiensia terlihat pada paparan menthol, kloroform ataupun fenol pada kulit. Menthol merupakan seyawa yang bisa menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah. Rasa nyeri dan sakit akan timbul jika menthol digosokan secara terus-menerus pada kulit. Kloroform akan menimbulkan iritasi ringan jika terpapar dalam waktu yang lama di kulit. Hal ini disebabkan oleh kemampuan dari senyawa yang temasuk turunan asam formiat ini untuk melarutkan lemak. Sedangkan daya kerja iritan dari fenol disebabkan oleh sifat keratolisis dan vasokonstrifnya. Meskipun demikian, efek iritasinya dapat berbeda-beda tergantung pada jenis larutannya. Fenol akan menjadi iritan jika dicampurkan dengan air ataupun alkohol. Hal ini disebabkan oleh kemampuan fenol sebagai pelarut, terutama pada senyawa-senyawa polar. Selain itu, terdapat juga senyawa-senyawa lain yang bersifat kausatika. Senyawa-senyawa ini adalah asam kuat dan basa kuat. Contoh asam kuat adalah asam nitrat, asam sulfat, dan asam klorida. Sedangkan basa kuat adalah natrium hidroksida. Reaksi asam akan menyebabkan koagulasi protein dan reaksi basa menyebabkan terjadinya lisis. Vesikasi Daya kerja vesikasi menyebabkan terjadinya pembentukan vesikel/gelembung. Hal ini merupakan akibat akumulasi cairan transudat yang tinggi sehingga tidak dapat diangkut oleh bulu limfe. Cairan ini terakumulasi di stratum korneum dan mengundang datangnya leukosit. Transudat yang awalnya jernih akan berubah menjadi keruh.

Pustulasi Daya kerja dari pustulasi adalah terbentuknya pus/nanah. Hal ini disebabkan karena iritasi terjadi hanya pada kelenjar-kelenjar kutaneus. Korosi Daya kerja ini melibatkan tiga fase, yaitu: radang dengan hiperemi, nekrosis dan pencairan kimia. Iritasi yang terjadi disebabkan oleh kerja iritan pada protoplasma.

II. Protektiva Kelompok senyawa kimia protektiva mempunyai kempuan untuk melindungi kulit dan mukosa dari kerusakan. Daya kerja protektiva bersifat demulsensia, emoliensia, astringensia, dan adsorbensia. Demulsensia Daya kerja dari senyawa ini adalah membentuk lapisan untuk melindungi kulit. Hal ini ditimbulkan oleh efek pencampuran cairan koloid dengan air. Gom (resin), musilago, dan pati merupakan bahan utama dari senyawa demulsensia. Emoliensia Minyak merupakan senyawa yang termasuk ke dalam kelompok emoliensia. Senyawa ini mempunyai kemampuan untuk melindungi kulit dari iritasi. Astringensia Daya kerja utama senyawa astringensia adalah kemampuan presipitasinya. Permeabilitas membran dapat ditekan tanpa menyebabkan terjadinya kematian sel. Perubahan permeabilitas menyebabkan

menurunnya penyerapan zat iritan. Contoh senyawa astringensia adalah tanin. Adsorbensia Senyawa kimia berdaya adsorbensia mempunyai kemampuan untuk menyerap zat iritan. Contoh senyawa adsorbensia adalah karbon. Senyawa ini tidak mengiritasi kulit, melainkan melindungi kulit dengan

cara mengabsorbsi zat iritan. Senyawa ini tidak berbahaya karena tidak diserap tubuh dan akan dikeluarkan melalui ekskresi.

Hasil dan Pembahasan I. Hasil Golongan Irritansia Tabel I. Hasil Percobaan Rubefasiensia Senyawa Kimia Menthol Kloroform (ditempel) Warna Merah Merah Bentuk Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Sensasi Panas Nyeri terasa pada 7 10 detik setelah ditempelkan Dingin kemudian panas di detik ke 20 Dingin ++ Dingin + Panas Tidak terasa apapun

Klorofrom (diteteskan) Fenol + air Fenol + alkohol Fenol + gliserin Fenol + minyak olivarum

Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan

Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan Tidak ada perubahan

Tabel II. Hasil Percobaan Kaustika H2SO4 pekat Merah, berasap, melepuh Melepuh, memerah, memutih HCl pekat Merah, berasap, melepuh Melepuh, terkelupas, memutih HNO3 pekat Menguning Fenol 5% NaOH 75% Memerah Kloroform Menghitam

Pada kulit Pada usus

Perubahan warna Perubahan warna

Melepuh, membesar, memutih

Mengelupas, Melepuh memerah, dan coklat

Golongan Protektiva Tabel III. Hasil Percobaan Demulsensia Bahan Warna H2SO4 1/50 N H2SO4 1/10 N Memerah H2SO4 1/50 N + gom arab H2SO4 1/10 N + gom arab Astringensia Tannin terasa pahit ketika diteteskan pada lidah.Mukosa lidah berubah menjadi merah muda, dan bagian lidah dan sekitarnya yang terkena tanin menjadi sepet. Bentuk Sensasi Ada, 5 detik Ada, 1 detik Tidak ada Ada, 8 detik

Tabel IV. Hasil Percobaan Adsorbensia Perlakuan Strikhnin nitrat (0.2 mg/ml) Reaksi Terjadinya kejang pad 2 menit 38 detik sampai 3 menit 17 detik setelah onset Dengan intensitas 23 kali Strikhnin nitrat (0.2 mg/ml)+ karbo Tidak terjadinya gejala kejang sampai adsorbensi 40 menit setelah onset II. Pembahasan Rubefasiensia Rubefasiensia merupakan zat untuk aplikasi topikal yang menyebabkan iritasi dan kemerahan kulit misalnya dengan menyebabkan pelebaran kapiler dan peningkatan sirkulasi darah. Zat ini dipercaya meredakan nyeri dalam berbagai kondisi muskuloskeletal. Pada tabel I dapat dilihat bahwa efek dari senyawa kimia yang bersifat rubefasiensia akan menyebabkan warna merah pada kulit dan rasa nyeri atau panas. Kloroform memberikan dua hasil yang berbeda saat ditempelkan dan diteteskan pada kulit. Rasa nyeri yang dirasakan pada saat klorofrom ditempelkan lebih hebat dan muncul warna kemerahan, hal ini disebabkan karena luas permukaan yang lebih besar pada kulit yang ditempelkan dari pada diteteskan sehingga proses rubefasiensia terjadi lebih cepat.

Pada percobaan yang menggunakan fenol dan berbagai zat yang dicampurkan, didapatkan bahwa fenol ditambah dengan gliserin menghasilkan rasa panas yang seharusnya tidak terasa apa-apa. Pada fenol dan alkohol hanya terasa dingin yang seharusnya terjadi pucat, keriput, dan dapat pula terjadi lepuhan di jari, namun hal itu tidak terjadi. Hal ini dapat disebabkan karena kepekaan praktikan yang kurang dan kesalahan dalam mengamati.

Kaustika Percobaan dimulai dengan mengukur berat badan tikus untuk menentukan dosis urethan. Urethan yang digunakan merupakan urethan dengan konsentrasi 25% dan dosis yang digunakan adalah 1,25 g/kg berat badan. Berat tikus putih yang digunakan dalam percobaan adalah 139 g atau 0,139 kg, sehingga diperlukan 0,695 mL urethan untuk membius tikus putih. Urethan merupakan anestetikum yang bersifat irreversible sehingga tikus putih akan mengalami kematian secara perlahan-lahan setelah proses masuknya obat tersebut. Tikus putih akan mengalami penurunan kesadaran dan setelah kesadarannya telah hilang, dilakukan pencukuran rambut pada abdomen tikus bagian ventral. Tujuan dari pencukuran rambut adalah menyiapkan lokasi penetesan kaustika dan mempermudah pengamatan terhadap kulit tikus. Hasil praktikum pemberian senyawa kimia pekat terhadap organ kulit dan usus tikus diperoleh hasil yang beragam. Adapun bahan-bahan kimia pekat yang digunakan antara lain asam sulfat pekat (H2SO4), asam klorida pekat (HCl), asam nitrat pekat (HNO3), fenol liquid, NaOH 75% dan kloroform. Bahan-bahan kimia tersebut diuji pada kulit daerah abdomen dan mukosa usus tikus. Bahan yang pertama diuji pada kulit bagian abdomen tikus adalah H2SO4 pekat. Asam sulfat (H2SO4)memiliki daya ionisasi asam lebih kuat sehingga asam sulfat lebih mudah dan lebih banyak beraksi dengan zat-zat di dalam kulit (Gumilar et al. 2010). Pernyataan tersebut terbukti dengan bekas yang ditimbulkan pada kulit tikus berupa kulit memerah serta melepuh. Begitu pula halnya yang terjadi pada mukosa usus tikus yang melepuh, memerah kemudian memutih karena sel-sel usus mengalami nekrosa.

Selanjutnya, bahan yang diuji adalah asam klorida (HCl) pekat. Tidak jauh berbeda dengan asam sulfat, efek yang ditunjukkan adalah kulit yang memerah dan melepuh serta lebih parah pada mukosa usus yaitu mukosa usus melepuh, terkelupas dan memutih akibat nekrosa sel-sel usus. Lain halnya dengan HNO3 pekat yang justru meninggalkan noda menguning saat diteteskan pada permukaan kulit. Namun saat diteteskan pada mukosa usus HNO3 menyebabkan mukosa usus melepuh, membengkak pada bagian yang ditetesi dan terjadi nekrosa yang ditandai dengan warna mukosa berubah putih. Kulit yang diteteskan fenol likuafaktum menunjukkan keadaan yang tidak berbeda jauh dengan kulit normal. Pengamatan yang dilakukan dari awal penetesan hingga sesaat sebelum pembedahan menunjukkan bahwa jenis kaustika ini menimbulkan respon yang lemah pada kulit tikus. Fenol merupakan turunan dari alkohol yang memiliki toksisitas rendah pada jaringan, namun bila terhirup akan menimbulkan efek yang fatal pada susunan saraf pusat (Mutschler 1991). Mukosa usus yang diteteskan fenol juga tidak menunjukkan gejala toksisitas, sehingga dapat dikatakan pada percobaan ini fenol memiliki tingkat toksisitas terendah dari kaustika lainnya. Keracunan basa lebih berbahaya dari keracunan asam karena

menyebabkan nekrosa akut dengan persembuhan yang sulit. melalui jaringan nekrosa, basa dapat masuk ke dalam lapisan kulit lebih jauh (Mutschler 1991). Hal ini sesuai dengan hasil percobaan yang menunjukkan perubahan warna menjadi kemerahan dan adanya lepuhan pada kulit yang diteteskan dengan NaOH 75%. menururt Mutschler (1991), kulit yang diteteskan basa kuat akan dengan mudah mengalami luka korosif lokal. Luka ini dapat ditangani dengan pembilasan dengan air selama 15-20 menit. Jaringan mukosa usus yang ditetesi oleh NaOH 75% langsung mengalami pengelupasan, pembuluh darah berdilatasi

menyebabkan luka kemerahan dan pendarahan. Bila hal ini benar-benar terjadi pada pasien yang mengalamai keracunan basa akibat tertelan, maka terapi yang dianjurkan adalah mengatasi rasa nyeri serta profilaksis terhadap infeksi lokal mukosa lambung atau usus. Kloroform masuk kepada golongan hidrokarbon alifatik terhalogenasi yang bersifat anestetik dan memiliki toksisitas yang tinggi pada hati dan ginjal.

Hal ini disebabkan oleh tingginya reaksi radikal akibat asam lemak tak jenuh (Mutschler 1991). Kloroform yang diteteskan pada kulit menunjukkan reaksi kulit yang memerah dan pada jaringan usus menyebabkan mukosa menjadi meleepuh kemudian berubah warna menjadi nekrosa.

Gambar 1. Hasil penetesan kaustika pada kulit tikus putih urutan atas ke bawah: kiri 1,2,3 dan kanan 6,5,4. penomoran berdasarkan susunan larutan penetesan dari metode kerja.

Gambar 2. Hasil penetesan kaustika pada mukosa usus tikus putih urutan atas ke bawah: kiri 1,2,3 dan kanan 4,5,6. penomoran berdasarkan susunan larutan penetesan dari metode kerja. Demulsensia Pada pemberian asam sulfat pekat 1/10N, terlihat refleks katak dengan cepat menarik kakinya untuk menghindari sumber sakit. Hal yang sama terjadi dengan pemberian asam sulfat pekat sebesar 1/50N, walaupun refleks terjadi 4 detik lebih lambat. Namun, apabila ke dalam larutan asam sulfat pekat

ditambahkan gom arab, waktu sampai terjadinya refleks bertambah menjadi delapan kali lipat untuk H2SO4 dengan konsentrasi 1/10N dan tidak ada efek untuk H2SO4 dengan konsentrasi 1/50N. Hal ini disebabkan karena Gum Arab merupakan demulsensia, sebuah senyawa koloid yang bercampur dengan air. Zat ini dapat membentuk sebuah lapisan pelindung pada permukaan kulit yang akan melindungi kulit atau mukosa dari iritasi, dalam hal ini asam sulfat pekat. Senyawa demulsensia ini merupakan salah satu contoh senyawa yang bersifat melindugi (protektiva).

Astringensia Pada percobaan penggunaan astringensia yaitu Tannin 5% yang diteteskan pada permukaan ujung lidah selama 2 menit kemudian dicuci dengan air didapatkan hasil yaitu permukaan mukosa lidah menjadi kasat, pahit dan warna permukaan mukosa lidah berubah menjadi lebih merah muda. Hal ini dapat terjadi karena tannin merupakan zat hasil oksidasi senyawa polifenol juga dikenal sebagai zat samak sehingga menjadi kasat. Selain itu Tannin berperan sebagai astringensia yang dapat mempresipitasikan protein karena mempunyai afinitas yang tinggi terhadap molekul protein untuk membentuk kompleks enzim-substrat. Senyawa tannin juga dapat membentuk larutan garam yang tidak larut dengan logam berat alkaloid dan glikosida sehingga dapat menurunkan efek toksisitasnya (Booth dan McDonald 1982). Beberapa tanaman yang mengandung tannin adalah tanaman mahkota dewa, jati Belanda, teh , awar-awar, dan belimbing wuluh. Manfaat dari Tannin bila dalam konsentrasi rendah dapat menghambat pertumbuhan kuman,

sedangkan pada konsentrasi tinggi tannin bekerja sebagai antimikroba dengan cara mengkoagulasi atau menggumpalkan protoplasma kuman karena terbentuk ikatan yang stabil dengan protein kuman (Arts et al 2002). Tanin dapat

bermanfaat sebagai antihelmintik dan antimikroba. Sebagai antihelmintik, tanin terbukti mengurangi jumlah telur parasit yang tampak dari sekresi di faeces. Efek antimikroba didapatkan karena tanin dapat menyebabkan terbentuknya lapisan pelindung dari koagulasi protein pada mukosa intestinal, sehingga melindungi vili dari kolonisasi mikroba (Lestari 2009).

Asupan tanin yang berlebihan dapat mengakibatkan insomnia, pening atau mual, jantung berdebar dan satu cangkir teh setelah makan akan mengakibatkan dispepsia (Rehman et al 2002). Tanin dalam dosis tinggi dapat menimbulkan efek samping hingga toksik. Bila melewati membran mukosa usus, tanin akan bereaksi dan berikatan dengan protein pada mukus dan sel epitel mukosa. Membran mukosa akan mengikat lebih kuat dan menjadi kurang permeabel. Dosis tinggi dari tanin dapat menimbulkan efek tersebut berlebih, sehingga mengakibatkan iritasi pada membran mukosa mukosa usus. traktus

Komponen dari kondensasi tanin juga dapat merusak

gastrointestinal, serta mengurangi absorpsi zat-zat makanan dan beberapa asam amino esensial terutama methionin dan lysine. Tanaman herbal dengan

kandungan tanin yang tinggi sebaiknya tidak diberikan pada kondisi inflamasi atau ulserasi traktus gastrointestinal (Lestari 2009).

Adsorbensia Adsorbensia adalah senyawa kimia yang merupakan bubuk halus, tidak larut, tidak mengiritasi dan digunakan lokal sebagai protektiva mekanis, guna mengabsorbsi zat-zat yang merugikan (mengganggu atau meracuni).

Penggunaannya adalah pada kulit, membran mukosa, ulcera dan luka-luka. Contohnya antara lain ; Talcum venetum, carbo medicinalis dan lain-lain. Striknin merupakan alkaloid utama dalam nux vomica. Dalam nux vomica juga terdapat alkaloid brusin yang mirip striknin baik kimia maupun farmakologinya. Brusin lebih lemah dibanding striknin, sehingga efek ekstrak nux vomica boleh dianggap hanya disebabkan oleh striknin. Striknin tidak bermanfaat untuk terapi, tetapi untuk menjelaskan fisiologi dan farmakologi susunan saraf, obat ini menduduki tempat utama diantara obat yang bekerja secara sentral. Striknin bekerja dengan cara mengadakan antagonisme kompetitif terhadap transmiter penghambatan yaitu glisin di daerah penghambatan postsinaps. Glisin juga bertindak sebagai transmiter penghambat postsinaps yang terletak pada pusat lebih tinggi di SSP. Striknin menyebabkan perangsangan pada semua bagian SSP, obat ini merupakan konvulsan kuat dengan sifat kejang yang khas. Pada hewan coba,

konvulsi ini berupa ekstensif tonik dari badan dan semua anggota gerak. Gambaran konvulsi oleh striknin ini berbeda dengan konvulsi oleh obat yang merangsang langsung neuron pusat. Sifat khas lainnya dari kejang striknin ialah kontraksi ekstensor yang simetris yang diperkuat oleh rangsangan sensorik yaitu pendengaran, penglihatan dan perabaan. Konvulsi seperti ini juga terjadi pada hewan yang hanya mempunyai medula spinalis. Striknin ternyata juga merangsang medula spinalis secara langsung, atas dasar ini efek striknin dianggap berdasarkan kerjanya pada medula spinalis dan konvulsinya disebut konvulsi spinal. Gejala keracunan striknin yang mula-mula timbul ialah kaku otot muka dan leher. Setiap rangsangan sensorik dapat menimbulkan gerakan motorik hebat. Pada stadium awal terjadi gerakan ekstensi yang masih terkoordinasi,akhirnya terjadi konvulsi tetanik. Episode kejang ini terjadi berulang, frekuensi dan hebatnya kejang bertambah dengan adanya perangsangan sensorik. Kontraksi otot ini menimbulkan nyeri hebat, dan penderita takut mati dalam serangan berikutnya (Sunaryo,1995). Striknin dapat menimbulkan kejang tonik tanpa adanya fase klonik. Kejang ini terjadi pada otot ekstensor yang simetris. Dengan dosis suprakonvulsi,striknin menimbulkan atau memperlihatkan efek curariform pada neuromusculary junction. Kematian akibat striknin biasanya disebabkan oleh paralisis batang otak karena hipoksia akibat gangguan napas. Kombinasi dari adanya gangguan napas dan kontraksi otot yang hebat dapat menimbulkan asidosis respirasi maupun asidosis metabolik hebat yang mungkin terjadi akibat adanya peningkatan kadar laktat dalam plasma. Adapun praktikum selanjutnya melihat kerja obat adsorbensia. Obat yang digunakan adalah larutan striknin nitrat (0.2 mg/mL) dan larutan striknin nitrat yang dicampur dengan karbo adsorbensia. Pada perlakuan pertama, katak

disuntik larutan striknin nitrat sebanyak 1 mL melalui rute subkutan. Menit ke2.38 katak mulai menunjukkan gejala konvulsi. Konvulsi terjadi sebanyak 23 kali sampai menit ke- 3.17. Perlakuan kedua, katak disuntik dengan 1 mL larutan striknin nitrat yang telah dicampur dengan karbo adsorbensia. Pada katak ini

tidak terjadi apa sampai menit ke-40. Hal ini terjadi karena karbo adsorbensia mengabsorbsi striknin sehingga konvulsi sebagai efek obat tersebut tidak terlihat sama sekali.

Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa senyawa iritansia dapat menimbulkan kerusakan, baik iritasi ringan maupun iritasi berat. Pada percobaan rubefasiansia, menthol, fenol, dan kloroform dapat menimbulkan iritasi.dengan derajat iritasi yang berbeda-beda. Bahan iritansia dari kelompok kaustika yang apabila terkena kulit paling berat efek nya adalah H2SO4. Bahan-bahan iritansia tidak hanya merusak jaringan kulit saja, tetapi juga mampu merusak mukosa usus. Salah satu senyawa kaustika yang mampu merusak usus dengan tingkat iritasi yang tinggi adalah NO3 pekat dan HCl pekat. Efek iritasi yang berlebihan dapat menimbulkan kematian, striknin yang disuntikkan pada katak tanpa karbo adsorbensia akan menyebabkan konvulsi pada katak.

Daftar Pustaka Ansel, Howaed C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Ed ke-4. Jakarta: UIPress Ariens EJ, Mutschler E, Simonis A. M. 1978. Pengantar Toksikologi Umum. Arts MTJT, Haenen GRMM, Wilms LC, Beetsra SAJN, Heijnen CGM, Voos H, Bast A. 2002. Interactions between flovonoid and proteins : Effects on the total antioxidant capacity. J Agric Food Chem 50 Booth NH, McDonald LE. 1982. Veterinary Pharmacology and Therapeutics. Ed ke-5. Ames: Iowa State University Press. editor. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Terjemahan dari: Allgemeine Toxikologie, Eine Einfuhrung. Gumilar J, Putranto SW, Wulandari E. 2010. Pengaruh Penggunaan Asam Sulfat (H2SO4) dan Asam 6. Formiat (HCOOH) pada Proses Pikel terhadap

Kualitas Kulit Jadi (Leather) Domba Garut. Jurnal Ilmu Ternak 10(1):1-

Lestari N. 2009. Uji toksisitas akut ekstrak valerian (Valeriana officinalis) terhadap gastrointestinal mencit BalB/C. [Skripsi]. Semarang: Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro. Mutschler, Ernst. Dinamika Obat Farmakologi dan Toksikologi Edisi ke-5. Bandung: ITB Press Rehman S, Almas K, Shahzadi N, Bhatti N, Saleem A . 2002. Effect of time and temperature on infution of tannin from comercial brands of tea. Int J AgrBiol, 4(2): 285-287. Sunaryo. 1995. Perangsang Susunan Saraf Pusat dalam Farmakologi dan Terapi Ed.IV. Jakarta : Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal.223-224. Wattimena YR, Widianto MB, Sukandar EY, penerjemah; Padmawinata K,