Anda di halaman 1dari 18

PEMBUATAN KITOSAN DARI KULIT UDANG WINDU (Penaeus monodon)

(Laporan Kerja Praktek)

Oleh

Gusti Putu Agung Wijaya

0317011045

Kerja Praktek) Oleh Gusti Putu Agung Wijaya 0317011045 FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

2007

PEMBUATAN KITOSAN DARI KULIT UDANG (Penaeus monodon)

Gusti Putu Agung W.

ABSTRAK

Kitin merupakan polisakarida terbesar kedua setelah selulosa dan mempunyai rumus kimia poli(2-asetamida-2-dioksi- -D-Glukosa) dengan ikatan - glikosidik (1,4) yang menghubungkan antar unit ulangnya. Kitin tidak mudah larut dalam air, sehingga penggunaanya terbatas. Namun dengan modifikasi struktur kimiawinya maka akan diperoleh senyawa turunan kitin yang memiliki sifat kimia yang lebih baik. Salah satu turunan kitin adalah kitosan, suatu senyawa biopolimer yang memiliki banyak manfaat. Kitosan mempunyai rumus kimia poli(2-amino-2-dioksi- -D-Glukosa) dan dapat dihasilkan dengan proses deasetilasi kitin menggunakan basa kuat. Proses produksi kitin dan kitosan dapat dilakukan secara kimiawi ataupun enzimatis. Proses produksi secara kimiawi relatif lebih cepat dalam proses produksinya yang melalui beberapa tahap yaitu :

(1) tahap preparasi kulit udang, (2) tahap deproteinasi menggunakan NaOH, (3) tahap demineralisasi menggunakan HCl, (4) tahap depigmentasi menggunakan aseton, dan (5) tahap deasetilasi kitin menggunakan NaOH 50 % dimana kitin dirubah menjadi turunannya yaitu kitosan. Hasil akhir diperoleh berat kitosan sebanyak 3,72 gram dari berat awal kitin 5 gram.

1. PENDAHULUAN

Udang merupakan komoditi ekspor yang menarik minat banyak pihak untuk

mengolahnya. Adapun hal yang mendorong pembudidayaan udang antara lain

harga yang cukup tinggi dan peluang pasar yang cukup baik, terutama diluar

negeri (Anna dan Semeru, 1992). Udang di Indonesia diekspor dalam bentuk

bekuan dan telah mengalami proses pemisahan kepala dan kulit. Proses pemisahan

ini akan menimbulkan dampak yang tidak diinginkan yaitu berupa limbah padat

yang lama-kelamaan jumlahnya akan semakin besar sehingga akan

mengakibatkan pencemaran lingkungan berupa bau yang tidak sedap dan merusak

estetika lingkungan. Pada perkembangan lebih lanjut kulit dan kepala udang dapat

dimanfaatkan untuk pembuatan kitin dan kitosan.

Jenis udang yang sering dibudidayakan adalah jenis udang windu (Penaeus

monodon). Menurut Widodo (2006), kulit udang mengandung protein 25% - 40%,

kitin 15% - 20% dan kalsium karbonat 45% - 50%. Menurut (Anna dan Semeru,

1992), udang windu (Panaeus monodon), termasuk dalam klasifikasi :

Phylum

: Arthopoda

Kelas

: Crustaceae

Sub-kelas

: Malacostraca

Ordo

: Decapoda

Sub-ordo

: Natantia

Famili

: Penaeidae

Sub-famili

: Penainae

Genus

: Panaeus

Spesies

: Penaeus monodon

Secara garis besar, tubuh udang dibagi menjadi tiga bagian, yaitu (Mudjiman,

1995) :

1. Chepalotorax, adalah gabungan dari kepala dan dada.

2. Perut (abdomen), pada bagian ini terdapat 5 pasang kaki renang (pleopoda)

yang terletak pada masing-masing ruas.

3. Ekor, merupakan kaki renang yang telah berubah bentuk menjadi ekor

kipas atau sirip ekor.

Seluruh tubuh udang windu tertutup oleh kerangka luar yang terbuat dari zat kitin.

Kerangka luar tersebut mengeras, kecuali pada sambungan-sambungan antara

ruas, sehingga memudahkan untuk bergerak.

Pemanfaatan kulit dan kepala udang windu (Penaeus monodon) sebagai bahan

baku kitin dan kitosan yang nantinya dapat digunakan sebagai bahan dasar

industri seperti kosmetik, makanan kesehatan, pertanian, koagulasi untuk

pengolahan limbah industri, kultur sel, imobilisasi enzim, dan pembuatan

membran dan bioplastik (John Hendri, 2001).

Kata ”kitin” berasal dari bahasa Yunani, yaitu ”chiton”, yang berarti baju rantai

besi. Kata ini menggambarkan fungsi dari material kitin sebagai jaket pelindung

pada invertebrata. Kitin pertama kali diteliti oleh Bracanot pada tahun 1811 dalam

residu ekstrak jamur yang dinamakan ”fugine”. Pada tahun 1823, Odier

mengisolasi suatu zat dari kutikula serangga jenis elytra dan mengusulkan nama

”Chitin” (Marganof, 2006, dalam Wulandari, 2007). Pada umumnya kitin dialam

tidak berada dalam keadaan bebas, akan tetapi berikatan dengan protein, mineral,

dan berbagai macam pigmen.

Walaupun kitin tersebar di alam, tetapi sumber utama yang digunakan untuk

pengembangan lebih lanjut adalah jenis udang-udangan (Crustaceae) yang

dipanen secara komersial. Limbah udang sebenarnya bukan merupakan sumber

yang kaya akan kitin, namun limbah ini mudah didapat dan tersedia dalam jumlah

besar sebagai limbah hasil dari pengolahan udang.

Kitin adalah biopolimer polisakarida dengan rantai lurus, tersusun dari 2000-3000

monomer (2-asetamida-2-deoksi-D-glukosa) yang terangkai dengan ikatan 1,4- -

gliksida. Kitin memiliki rumus molekul [C 8 H 13 NO 5 ] n dengan berat molekul

1,2x10 -6 Dalton ini tersedia berlebihan di alam dan banyak ditemukan pada hewan

tingkat rendah, jamur, insekta dan golongan Crustaceae seperti udang, kepiting

dan kerang (Damajanti, 1999). Kitin berbentuk serpihan dengan warna putih

kekuningan, memiliki sifat tidak beracun dan mudah terurai secara hayati

(biodegradable). Kitin tidak larut dalam air, larutan basa encer dan pekat, larutan

asam encer dan pelarut organik. Tetapi senyawa ini larut dalam asam mineral

pekat, seperti asam klorida, asam sulfat, asam nitrat dan asam pospat. Namun

asam sulfat, asam nitrat dan asam fospat dapat merusak kitin yang menyebabkan

kitin terdegradasi menjadi monomer-monomer sederhana yang lebih kecil

(Bastaman, 1989). Sistem pelarut yang efektif dalam melarutkan kitin adalah

campuran N,N-dimetil asetamida dan LiCl 5% terlarut (Austin, 1988).

N,N-dimetil asetamida dan LiCl 5% terlarut (Austin, 1988). Gambar 1. Struktur Kitin Sebagai material pandukung

Gambar 1. Struktur Kitin

Sebagai material pandukung Crustaceae, kitin terdapat sebagai mukopolisakarida

yang berdisosiasi dengan CaCO 3 dan berikatan secara kovalen dengan protein.

Pemisahan CaCO 3 dari protein lebih mudah dilakukan karena garam anorganik ini

terikat secara fisik (Bough, 1975). Menurut Knorr (1984), HCl dengan konsentrasi

Kitosan adalah produk deasetilasi kitin yang merupakan polimer rantai panjang

glukosamin (2-amino-2-deoksi-D-Glukosa), memiliki rumus molekul

[C 6 H11NO 4 ] n dengan bobot molekul 2,5x10 -5 Dalton. Kitosan berbentuk serpihan

putih kekuningan, tidak berbau dan tidak berasa. Kitosan tidak larut dalam air,

dalam larutan basa kuat, dalam asam sulfat, dalam pelarut-pelarut organik seperti

dalam alkohol, dalam aseton, dalam dimetilformamida, dan dalam

dimetilsulfoksida. Sedikit larut dalam asam klorida dan dalam asam nitrat, larut

dalam asam asetat 1%-2%, dan mudah larut dalam asam format 0,2%-1,0%

(Oktaviana, 2002).

mudah larut dalam asam format 0,2%-1,0% (Oktaviana, 2002). Gambar 2. Struktur Kitosan Kelarutan kitosan dipengaruhi

Gambar 2. Struktur Kitosan

Kelarutan kitosan dipengaruhi oleh bobot molekul dan derajat deasetilasi (Kartini,

1997). Menurut Hinarno (1980), kitosan tidak beracun, mudah mengalami

biodegradable dan polielektrolit kationik karena mempunyai gugus fungsional

yaitu gugus amino. Selain gugus amino, terdapat juga gugus hidroksil primer dan

sekunder. Adanya gugus fungsi tersebut mengakibatkan kitosan mempunyai

kereaktifitasan kimia yang tinggi (Tokura, 1995). Gugus fungsi yang terdapat

pada kitosan memungkinkan juga untuk modifikasi kimia yang beraneka ragam

termasuk reaksi-reaksi dengan zat perantara ikatan silang, kelebihan ini dapat

memungkinkannya kitosan digunakan sebagai bahan campuran bioplastik, yaitu

plastik yang dapat terdegradasi dan tidak mencemari lingkungan.

Jika sebagian besar gugus asetil pada kitin disubsitusikan oleh hidrogen menjadi

gugus amino dengan penambahan basa konsentrasi tinggi, maka hasilnya

dinamakan kitosan atau kitin terdeasetilasi. Kitosan sendiri bukan merupakan

senyawa tunggal, tetapi merupakan kelompok yang terdeasetilasi sebagian dengan

derajat deasetilasi beragam. Kitin adalah N-asetil glukosamin yang terdeasetilasi

sedikit, sedangkan kitosan adalah kitin yang terdeasetilasi sebanyak mungkin,

tetapi tidak cukup untuk dinamakan poliglukosamin (Bastaman, 1989). Kitosan

relatif lebih banyak digunakan pada berbagai bidang industri kesehatan dan

terapan karena kitosan dapat dengan mudah berinteraksi dengan zat-zat organik

lainnya seperti protein.

Kitosan dapat diperoleh dengan mengkonversi kitin, sedangkan kitin sendiri dapat

diperoleh dari kulit udang. Produksi kitin biasanya dilakukan dalam tiga tahap

yaitu : (1) tahap deproteinasi, penghilangan protein; (2) tahap demineralisasi,

penghilangan mineral; dan (3) tahap depigmentasi, pemutihan. Sedangkan kitosan

diperoleh dengan deasetilasi kitin yang didapat dengan larutan basa konsentrasi

tinggi. Purwatiningsih (1992) melaporkan bahwa NaOH 50% dapat digunakan

untuk deasetilasi kitin dari limbah kulit udang.

Deproteinasi menggunakan natriun hidroksida lebih sering digunakan, karena

lebih mudah dan efektif (Knorr, 1984 dan Austin, 1981). Pada pemisahan protein

menggunakan natrium hidroksida, protein diekstraksi sebagai natrium proteinat

yang larut (Knorr, 1984).

Secara umum larutan NaOH 2-3% dengan suhu 63-65 0 C selama waktu ekstraksi

1-2 jam dapat mengurangi kadar protein dalam kulit udang secara efektif

(Johnson, 1982 dan Knorr, 1984). Sekalipun demikian proses deproteinasi umum

yang optimum tidak ada untuk setiap jenis Crustaceae.

Mineral kalsium karbonat pada kulit udang lebih mudah dipisahkan dibandingkan

protein, karena garam anorganik ini hanya terikat secara fisika. Menurut Knorr

(1984) asam klorida dengan konsentrasi lebih dari 10% dapat secara efektif

melarutkan kalsium sebagai kalsium klorida. Proses demineralisasi dengan

menggunakan asam klorida sampai CO 2 yang terbentuk hilang kemudian

didiamkan 24 jam pada suhu kamar.

Dalam beberapa metode, proses depigmentasi sesungguhnya telah berlangsung

saat pencucian residu sesuai proses deproteinasi atau demineralisasi yang

dilakukan. Menurut Purwatiningsih (1992) aseton dapat mereduksi astaksantin

dari kitin limbah udang windu (Penaeus monodon). Agar menghasilkan produk

kitin berwarna putih dilakukan pemucatan menggunakan larutan natrium

hipoklorit.

Pembuatan kitosan dilakukan dengan cara penghilangan gugus asetil (-COCH 3 )

pada gugusan asetil amino kitin menjadi gugus amino bebas kitosan dengan

menggunakan larutan basa. Kitin mempunyai struktur kristal yang panjang dengan

ikatan kuat antara ion nitrogen dan gugus karboksil, sehingga pada proses

deasetilasi digunakan larutan natrium hidroksida konsentrasi 40%-50% dan suhu

yang tinggi (100 o -150 o C) untuk mendapatkan kitosan dari kitin.

Menurut Bastaman (1989), proses deasetilasi dapat dilaksanakan dengan cara

destilasi balik (refluks) kitin dalam larutan natrium hidroksida 50% dengan

perbandingan cairan padatan 20:1 pada suhu 60 o C dan lama waktu 8 jam dan pada

suhu 100 o C dengan waktu 4 jam. Pada kerja praktik ini diperoleh kitin sebanyak

20,5 gram dari berat awal.100 gram kulit udang, sedangkan kitosan yang

diperoleh sebanyak 3,45 gram dari berat awal 5 gram kitin.

Tujuan Kerja Praktek

1)

Membuat kitosan dari kitin yang diperoleh dari kulit udang windu (Penaeus

monodon) secara konvensional.

2. METODE KERJA

2.1 Waktu dan Tempat Kerja Praktek

Kerja Praktek ini dilaksanakan pada :

Waktu : 01 Agustus 2007-15 September 2007

Tempat : Laboratorium Kimia Analitik Jurusan Kimia FMIPA UNILA

2.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang dugunakan dalam kerja praktek ini adalah : peralatan kaca/gelas,

magnetik stirer, hot plate, oven, termometer, neraca digital, pH meter, alat soklet,

dan alat refluks.

Bahan-bahan yang digunakan dalam kerja praktek ini adalah : kulit udang windu

(Penaeus monodon), natrium hidroksida, asam klorida pekat, aseton, amonium

oksalat, tembaga (II) sulfat, natrium hipoklorit, akuades, dan kertas saring

2.3 Prosedur Kerja

2.3.1 Persiapan sampel

Kulit udang windu (Penaeus monodon) dicuci dengan air suling, lalu dikeringkan

di udara terbuka hingga sedikit kering kemudian dimasukkan ke dalam oven.

Kulit udang ditimbang sebanyak 100 gram.

2.3.2 Isolasi kitin

2.3.2.1 Tahap deproteinasi

Sebanyak 100 gram kulit udang windu ditambahkan dengan 500 ml natrium

hidroksida 3,5 %. Cuplikan diaduk di atas pemanas dan dibiarkan selama 2 jam

pada suhu 65 0 C. Dilakukan pemisahan antara residu dan filtrat dengan

penyaringan, filtrat diuji dengan tembaga sulfat. Residu dicuci dengan akuades

hingga pH netral, lalu dikeringkan dalam oven pada suhu 60 0 C selama 4 jam.

Diperoleh kitin kasar,

2.3.2.2 Tahap demineralisasi

Kitin hasil deproteinasi kemudian ditambahkan asam klorida 2 N dengan

perbandingan 1:10 ( w / v ), didiamkan selama 2 hari pada suhu kamar. Dilakukan

pemisahan antara residu da filtrat. Filtrat diuji dengan amonium oksalat sedangkan

residu dicuci dengan akuades hingga pH netral, lalu dikeringkan dalam oven

dengan suhu 60 0 C.

2.3.2.3 Tahap depigmentasi

Kitin kasar hasil demineralisasi diekstraksi dengan aseton 1:10 ( w / v ) selama 8 jam

secara sokletasi, kemudian residu diputihkan dengan narium hipoklorit 0,315 %

selama 5 menit pada suhu kamar, kemudian residu dicuci dengan akuades sampai

pH netral dan dikeringkan dengan oven pada suhu 60 0 C selama 4 jam.

2.3.3 Deasetilasi kitin menjadi kitosan

Sebanyak 5 gram kitin direaksikan dengan 50 ml larutan natrium hidroksida 50 %,

kitin diaduk diatas pemanas air pada suhu 100 0 C selama 5 jam. Residu dicuci

hingga pH netral dan dikeringkan dalam oven dengan suhu 60 0 C selama 4 jam.

2.4 Diagram Alir

deproteinasi

100 g cuplikan + 500 L NaOH 3,5 %

disaring residu kitin kasar
disaring
residu
kitin kasar

dipanaskan, 65 o C, 2 jam

filtrat
filtrat

diuji dengan CuSO 4

dicuci hingga pH netral

dikeringkan dalam oven 60 o C, 4 jam

demineralisasi

depigmentasi

kitin kasar + 500 ml HCl 2 N

residu filtrat
residu
filtrat

didiamkan selama 2 hari

disaring

dicuci hingga pH netral

dikeringkan dalam oven 60 o C, 4 jam

diuji dengan amonium oksalat

kitin kasar

residu residu
residu
residu

diekstraksi dengan aseton

disokletasi, 8 jam

diputihkan dengan NaOCl 0,315 %

dicuci hingga pH netral dikeringkan dalam oven 60 o C, 4 jam

deasetilasi

5 g kitin + 50 ml NaOH 50%

diaduk pada pemanas air 100 o C, 6 jam

residu

dicuci hingga pH netral dikeringkan dalam oven 60 o C, 4 jam

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Isolasi kitin

Dalam penelitian ini dilakukan proses isolasi kitin dari kulit udang windu

(Penaeus monodon) dengan metode No (1989). Metode ini telah digunakan oleh

Purwatiningsih (1992). Metode No (1989) untuk mengisolasi kitin dari sampel

meliputi tiga tahap, yaitu tahap deproteinasi, tahap demineralisasi dan tahap

depigmantasi.

1). Tahap deproteinasi

Deproteinasi bertujuan untuk menghilangkan protein dari kitin dengan

menggunakan larutan NaOH 3,5 % selama dua jam pada suhu 65 0 C. Apabila

digunakan larutan NaOH dengan konsentrasi dan suhu lebih tinggi akan

menyebabkan kitin terdeasetilasi. Protein dari kitin akan terekstrak dalam bentuk

Na-proteinat. Ion Na + dari NaOH akan mengikat ujung rantai protein yang

bermuatan negatif dan mengendap. Untuk mengetahui apakah protein telah

terpisah dari kitin dilakukan pengujian dengan menambahkan CuSO 4 ke dalam

filtrat. Dengan CuSO 4 protein akan membentuk senyawa kompleks berwarna

ungu.

Untuk menghilangkan protein yang telah diikat oleh Na + , residu yang diperoleh

dicuci dengan aquades sehingga filtrat bila ditambahkan dengan CuSO 4

menunjukan hasil yang negatif dan pH netral yang diukur dengan menggunakan

pH meter. Proses pencucian juga bertujuan untuk menghilangkan NaOH yang

mungkin masih tersisa dalam residu. Rendemen yang dihasilkan dari proses

deproteinasi adalah 47,5 gram dari sampel awal 100 gram kulit udang (47,5 %).

2). Tahap demineralisasi

Demineralisasi bertujuan untuk menghilangkan mineral atau senyawa anorganik

yang terdapat pada kulit udang windu (Penaeus monodon). Kandungan mineral

utamanya adalah CaCO 3 dan Ca 3 (PO 4 ) dalam jumlah kecil dan lebih mudah

dipisahkan dibandingkan dengan protein karena hanya terikat secara fisik Proses

demineralisasi dilakukan dengan menggunakan larutan HCl 2 N pada temperatur

ruang selama 2 hari dengan perbandingan berat sampel dan volume HCl 1:8 ( w / v ).

Apabila digunakan konsentrasi asam lebih tinggi dan waktu perendaman yang

lebih lama, akan menyebabkan kitin terdegradasi. Pada proses ini senyawa

kalsium akan bereaksi dengan asam klorida menghasilkan kalsium klorida yang

larut dalam air, gas CO 2 dan air, dan asam pospat yang larut dalam air.

Reaksi garam tersebut dengan HCl sebagai berikut :

CaCO 3(s) + 2HCl

Ca 3 (PO 4 ) 2(s) + 6HCl

( s ) + 2HCl Ca 3 (PO 4 ) 2 ( s ) + 6HCl

CaCl 2(s) + H 2 O + CO 2(g)

3CaCl 2(s) +

2H 3 PO 4(l)

Untuk menghilangkan asam klorida yang mungkin masih tertinggal, maka pada

residu dilakukan pencucian dengan aquades sampai pH netral. Hal ini penting

untuk mencegah terjadinya degradasi produk selama proses pengeringan.

Kemudian filtrat diuji dengan (NH 4 ) 2 C 2 O 4 untuk membuktikan adanya Ca yang

dapat dipisahkan selama proses demineralisasi. Ion oksalat akan membentuk

endapan putih dengan kalsium.

Rendemen yang dihasilkan dari proses demineralisasi adalah 25,2 gram dari berat

awal 47,5 gram (53,05 %). Hal ini menunjukan bahwa mineral yang dapat

dipisahkan dari sampel sebanyak 46,95 %.

3). Tahap depigmentasi

Depigmentasi bertujuan untuk menghilangkan pigmen atau zat warna yang

terdapat pada kitin. Pigmen yang terdapat pada kitin adalah dari jenis karetenod

antara lain -karoten dan astaxanthin (Muzarelli, 1978). Pada kulit udang windu

(Penaeus monodon) yang paling banyak adalah astaxanthin.

Pigmen pada kitin tidak terikat pada mineral ataupun protein, sehingga setelah

proses demineralisasi dan deproteinasi kitin masih berwarna kuning kecoklatan,

terlihat pada gambar 3.a.

Aseton dapat mereduksi astaxanthin dari limbah kulit udang windu (Penaeus

monodon) melalui proses sokletasi selama 8 jam (Purwatiningsih, 1992). Aseton

yang mula-mula berwarna jernih mengalami perubahan warna menjadi kuning

kecoklatan. Hal ini menunjukan bahwa zat warna dari kitin dapat dipisahkan

dengan aseton.

Setelah dikeringkan diperoleh kitin berwarna kuning lebih muda, terlihat pada

gambar 3.b. Untuk mendapatkan kitin yang berwarna lebih putih maka kitin

direndam dalam larutan NaOCl 0,315 % selama 10 menit. Setelah dicuci dan

dikeringkan diperoleh kitin seberat 20,5 gram dari berat kulit udang windu

(Penaeus Monodon) awal 100 gram (20,5 %). Dengan demikian pigmen yang

dapat dipisahkan dari sampel sebanyak 4,7 gram (4,7 %).

yang dapat dipisahkan dari sampel sebanyak 4,7 gram (4,7 %). (a) (b) Gambar 3. (a) Kitin

(a)

dapat dipisahkan dari sampel sebanyak 4,7 gram (4,7 %). (a) (b) Gambar 3. (a) Kitin setelah

(b)

Gambar 3. (a) Kitin setelah demineralisasi, (b) Kitin setelah depigmentasi

3.2. Isolasi kitosan

Deasetilasi merupakan proses penghilangan gugus asetil (COCH 3 ) dari kitin

menggunakan larutan alkali. Kitin mempunyai struktur kristalin yang panjang

dengan ikatan hidrogen yang kuat antara atom nitrogen dan gugus karboksilat

pada rantai bersebelahan. Untuk memutuskan ikatan antara gugus asetilnya

dengan gugus nitrogen sehingga berubah menjadi gugus amino (NH 2 ) perlu

digunakan natrium hidroksida dengan konsentrasi tinggi dan waktu deasetilasi

yang lama. Pemutusan gugus asetil pada kitin mengakibatkan kitosan bermuatan

positif dan dapat larut dalam asam organik.

Proses ini menggunakan larutan NaOH 50 % dan dipanaskan pada suhu 100 0 C

selama 6 jam. Setelah dicuci hingga pH netral dan dikeringkan diperoleh kitosan

(gambar 4) seberat 3,45 gram (69 %) dari berat awal 5 gram.

(gambar 4) seberat 3,45 gram (69 %) dari berat awal 5 gram. Gambar 4. Kitosan dari

Gambar 4. Kitosan dari hasil deasetilasi kitin.

4. KESIMPULAN

Dari hasil kerja praktek ini, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain :

1. Isolasi kitin dari kulit udang windu (Penaeus monodon) memberikan nilai

maksimum protein, mineral, dan zat warna yang dipisahkan sebesar 52,5 %,

25,2 %, dan 4,7 %.

2. Kitosan yang diperoleh dari deasetilasi kitin yaitu 3,45 gram (69 %) dari berat

awal 5 gram.

DAFTAR PUSTAKA

No., H.K., 1989. Isolation and Characterization of Chitin from Craw Fish Shell Waste. Vol. 37 No. 3. Agriculture and Food Chemistry.

Austin, P.R, C.J. Brine, J.E. Castle and J.P. Zikakis. 1981. Chitin New Facets of Research. Science 212 : 749

Bough, W.A. Shewfelt, and W.L. Salter. 1975. Use of Chitosan for Rediction and Recovery of Solid in Poultry Process in Waste Eluents Poultry. Science. 54

(992).

Knorr, D. 1973. Use of Chitinous Polymer in Food. Food Technology 39 (1) : 85

Bastaman, S., 1989. Studies on Degradation and Extraction of Chitin and Chitosan from Prawn Shell. The Queen’s University of Befast. England.

Purwatiningsih. 1992. Isolasi Kitin dan Karakterisasi Komposisi Senyawa Kimia dari Limbah Kulit Udang Windu (Penaeus monodon). Jurusan Kimia Program Pasca Sarjana ITB. Bandung.

Muzzarelli, RA.A., 1977. Chitin. Faculty of Medicine. University of Ancona. Ancona, Italy.

Wulandari, Idayu. 2007. Sifat Kelarutan dan Berat Molekul Relatif Kitosan dari Kitin yang di iradiasi dan tidak di iradiasi. Skripsi sarjana. Universitas Kristen Satya Wacana. Salatiga.

Teguh, Devi Oktaviana. 2003. Pembuatan dan Analisis Film Bioplastik dari Kitosan Hasil Iradiasi Kitin yang Berasal dari Kulit Kepiting Bakau (Scylla serata). Skripsi sarjana. Universitas Pancasila. Jakarta.

Kusumakanti, Siti Rini. 2003. Deproteinasi Polimer Kitin dari Kulit Udang Windu (Penaeus monodon) Menggunakan Pseudomonas aeruginosa dan Deasetilasi Polimer Kitin. Skripsi sarjana. Universitas Lampung.