Anda di halaman 1dari 2

Absorbsi perkutan dari obat dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya adalah : 1.

Struktur kulit Stratum corneum dapat menjadi depot/reservoir untuk obat yang diberikan secara topikal; ini telah dibuktikan dengan pemberian secara topikal glukokortikosteroida, terutama flouro-kortikosteroid. Lamanya stratum corneum brfungsi sebagai depot 7-8 hari. Pemanfaatan terapeutik stratum corneum sebagai reservoir obat masih terus dalam penyelidikan. 2. Difusi pasif Difusi pasif ialah transpor melalui membran yang semipermeabel. Obat yang akan diabsorbsi terlebih dahulu harus berada dalam larutan murni (terdispersi secara molekuler) pada situs penyerapan. 3. Karakteristik kelarutan obat Bahan obat untuk dapat diabsorpsi secara perkutan ialah bahan yang larut dalam lemak dan dalam air (partisi koefisien lemak atau air). Kecepatan difusi obat untuk melewati kulit tergantung pada partisi-koefisien lemak atau air. Kecepatan difusi paling besar bila ratio-distribusi lemak (atau lemakpelarut) dan air antara 1 dan 2. 4. Konsentrasi obat dalam bentuk sediaannya Penetrasi obat melalui kulit dipengaruhi oleh konsentrasi obat dalam sediaannya, di samping difusi-koefisien dari molekul obat dan kelrutan obat dalam vehikel atau bahan pembawa yang dipergunakan untuk formulasi obat. 5. Hidrasi kulit Hidrasi kulit juga sangat berpengaruh dan perlu diperhatikan dalam hal penetrasi obat melalui kulit. Hidrasi secara fisik mengubah jaringan kulit danmengakibatkan perubahan dalam difusi-koefisien serta aktivitas-koefisien obat yang akan berpenetrasi, sehingga mempercepat obat melalui kulit. Rintangan utama penetrasi obat melalui kulit terletak pada lapisan keratin dari stratum corneum. Salep yang mengandung cukup air untuk hidrasi lapisan keratin, misalnya dasar emulsi minyak air (o/w) akan meningkatkan penetrasi perkutan dari obat-obat tertentu.

6. Vehikel atau konstituen pembawa obat Perpindahan obat Dari vehikel nya ke epidermis selain dipengaruhi oleh partisi-partisi koefisien dari bahan obat antara fase lemak-air juga ada pengaruh aktivitas termodinamik, difusifitas, dan kelarutan obat dalam vehikel dan kulit. 7. Kondisi kulit Kondisi atau keadaan kulit sangat menentukan penetrasi obat. Kulit yang rusak akan menyebabkan obat lebih mudah melewati epidermis dibanding kulit yang normal/utuh. Permeabilitas meningkat sekali dengan adanya goresan-goresan pada kulit (biasanya goresan pada kulit ini dengan sengaja dimanfaatkan oleh para morfinis untuk efek morpin yang lebih cepat. 8. Kehadiran bahan atau zat pendorong Pada formulasi obat luar bila dikehendaki adanya penetrasi, sering ditambahkan suatu bahan/zat yang dapat mendorong/meningkatkan penetrasi obat melalui kulit masuk ke dalam tubuh. Diantaranya ialah,

dimetilsulfoksida dan solven organik seperti alkohol, benzena dan eter.