Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Tubuh yang normal mempunyai berbagai jenis mikroorganisme termasuk bakteri dan jamur. Beberapa mikroorganisme tersebut berguna untuk tubuh, beberapa memberikan keuntungan dan beberapa ada yang merugikan bagi manusia. Kandidiasis (moniliasis) adalah suatu infeksi oleh jamur Candida, yang sebelumnya disebut Monilia. Kandidiasis oral atau sering disebut sebagai moniliasis merupakan suatu infeksi yang paling sering dijumpai dalam rongga mulut manusia, dengan prevalensi 20%-75% dijumpai pada manusia sehat tanpa gejala. Kandidiasis pada penyakit sistemik menyebabkan peningkatan angka kematian sekitar 71%-79%. Terkadang yang diserang adalah bayi dan orang dewasa yang tubuhnya lemah. Pada bayi bisa didapat dari dot, pakaian, bantal, dan sebagainya. Kandidiasis oral merupakan salah satu penyakit pada rongga mulut berupa lesi merah dan lesi putih yang disebabkan oleh jamur jenis Candida sp, dimana Candida albican merupakan jenis jamur yang menjadi penyebab utama. Oleh karena Kandidiasis ini meliputi infeksi yang berkisar dari yang ringan seperti sariawan mulut dan vaginitis, sampai yang berpotensi mengancam kehidupan manusia. Maka dari itu diperlukan beberapa penanganan dalam menyembuhkannya serta mencegahnya. Di dalam makalah ini akan dibahas mengenai kandidiasis tersebut lebih lanjut.

1.2 Rumusan Masalah 1. Apa itu kandidiasis ? 2. Bagaimana Anatomi dan Fisiologi dari sistem integritas ? 3. Apa saja etiologi dari kandidiasis ? 4. Bagaimana patofisiologi dari kandidiasis ?

5. Bagaiamana WOC pada penyakit kandidiasis? 6. Apa saja Manifestasi Klinis dari kandidiasis ? 7. Apa saja Komplikasi yang terjadi pada penyakit kandidiasis ? 8. Bagaimana penatalaksanaan yang dilakukan pada klien kandidiasis ? 9. Apa saja pemeriksaan penunjang pada kandidiasis ? 10. Apa saja pengobatan yang dilakukan pada klien kandidiasis? 11. Bagaimana pencegahan pada penyakit kandidiasis ?

1.3 Tujuan Tujuan umum dari penulisan makalah ini di harapkan mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan penyakit kandidiasis. Tujuan dari penulisan makalah diharapkan mampu memahami dan menjelaskan : 1. Pengertian dari kandidiasis 2. Anatomi dan Fisiologi dari Sistem integritas 3. Etiologi dari kandidiasis 4. Patofisiologi dari kandidiasis 5. WOC pada penyakit kandidiasis 6. Manifestasi Klinis dari kandidiasis 7. Komplikasi yang terjadi pada penyakit kandidiasis 8. Penatalaksanaan yang dilakukan pada klien kandidiasis 9. Pemeriksaan penunjang pada kandidiasis 10. Pengobatan yang dilakukan pada klien kandidiasis 11. Pencegahan pada penyakit kandidiasis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pengertian Kandidiasis Kandidiasis adalah suatu infeksi akut atau subakut yang disebabkan oleh Candidicia albicans atau kadang-kadang oleh spesies kandida yang lain, yang dapat menyerang berbagai jaringan tubuh. (Siregar, 2005) Candidiasis atau kandidiasis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur dari spesies Candida albicans.Adanya jamur pada diri manusia adalah hal yang alami dan memang selalu ada pada diri manusia seperti di daerah mulut, tenggorokan, vagina, dan pada sistem pencernaan lainnya. Dalam kondisi normal (tidak berlebihan), kehadiran jamur Candidia albicans sebernarnya tidak membahayakan.Pertumbuhan jamur yang

berlebihan dapat menyebabkan infeksi. Penyakit candidiasis ini sangat rentan terhadap orang-orang yang memiliki sistem imun yang lemah termasuk pada penderita AIDS, steroid berlebihan, kontrasepsi hormone, diabetes, kanker, depresi, orang tua dan orang-orang dengan kondisi medis yang kronis paling

beresiko.Mengkonsumsi obat tertentu dalam jangka lama dapat mempercepat pertumbuhan jamura candidia ini. 2.2 Anatomi dan fisiologi 1. Anatomi dan Fisiologi Mulut Mulut merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air pada manusia. Mulut terletak di kepala dan umumnya merupakan bagian awal dari sistem pencernaan lengkap yang berakhir di anus. Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin dan pahit. Penciuman dirasakan

oleh saraf olfaktorius di hidung dan lebih rumit, terdiri dari berbagai macam bau. Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis. 2. Anatomi dan Fisiologi Kulit Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh, merupakan organ terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh, pada orang dewwasa sekitar 2,7 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 1,9 meter persegi. Tebalnya kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm tergantung dari letak, umur, dan jenis kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak mata, penis, labium, minus, dan kulit bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, punggung, bahu, dan bokong. Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang berbeda. Lapisan luar adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari ectoderm sedangkan lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau korium yang merupakan lapisan jaringan ikat. Epidermis Epidermis adalah suatu lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari epitel berlapis gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit. Langerhans dan merkel. Tebal epidermis berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh. Paling tebal pada telapak tangan dan kaki. Ketebalan epidermis hanya sekitar 5 % dari seluruh ketebalan kulit. Terjadi regenarasi setiap 4-6 % minggu. Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan paling atas sampai yang dalam) :

1. Stratum korneum : terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan berganti 2. Stratum Lusidum berupa garis translusen biasanya terdapat pada kulit tebal telapak

2.3 Jenis-Jenis Candidiasis Berbagai jenis kandidiasis mempunyai ciri khas yang bergantung pada alat-alat yang terkena. Conant, 1971 (dalam Siregar, 2005) membagi kandidiasis dalam beberapa kelompok meliputi: kandidiasis selaput lendir, kandidiasis kutis, dan reaksi id.

1. Kandidiasis selaput lendir, misalnya: a. Kandidiasis oral Disebut juga Oral trush, memberi gambaran klinis berupa stomatitis akut. Pada selaput lendir mulut tampak bercak-bercak putih kekuninggan yang timbul dari dalam selaput lendir yang merah yang disebut membran palsu.membran palsu ini dapat meluas sampai menutupi lidah dan palatum mole.

Kandidiasis oral pada mukosa bibir, tampak bercak-bercak berupa membran palsu Lesi-lesi ini dapat juga terlepas dari selaput lendir sehingga dasarnya tampak merah dan mudah berdarah. Penderita selalu mengeluh sakit, terutama bila waktu tersentuh makanan. Kandidiasis oral ini banyak diderita oleh bayi baru lahir,

penderita penyakit manahun yang mendapat antibiotik dalam waktu lama, atau penderita keganasan yang mendapat obat sitostatik atau pengobatan dengan radiasi.

b. Perlece Kelainan tampak pada kedua sudut mulut, yang terjadi perlunakan kulit yang mengallami erosi. Dasarnya merah dan bibir menjadi pecahpecah, kemudian terjadi fisura pada kedua sudut mulut. Faktor predisposisi yang dapat menimbulkan penyakit ini ialah kekurangan vitamin B2 (riboflavin), pada orang tua yang tidak dapat menutup mulutnya dengan baik hingga air liur keluar terus. Hal ini akan menyebabkan maserasi kedua sudut mulut.

Perlece pada sudut mulut, terlihat erosi dan fisura

c. Kandidiasis vaginitis dan vulvovaginitis Vaginitis karena kandida selalu disertai oleh vulvovaginitis. Hal ini disebabkan terjadi kontak langsung dari sekret-sekret vagina yang mengalami infeksi sehingga daerah vulva ikut mengalami infeksi. Pada mukosa vagina terlihat ada bercak putih kekuningan, meninggi dari permukaan, yang disebut vaginal trush. Bercak-bercak ini terdiri dari gumpalan jamur kandida, jaringan nekrotik, dan sel-sel

epitel. Dari liang vagina keluar sekret vagina yang mulala encer kemudian menjadi kental dan pada keadaan yang menahun tampak seperti butir-butir tepung yang halus. Di dalam gumpalan sekret ini terdapat elemen-elemen kandida dan epitel, dan secara kontinuitatum menyebabkan infeksi di daerah vulva senhingga terjadi vulvovaginitis. Labia minora dan mayora membengkak dengan ulkus-ulkus kecil bewarna merah disertai dengan daerah yang erosi. Kelainan ini dapat menjalar sampai ke kulit sekitarnya hingga seluruh kulit lipat paha dan perineum menjadi merah, bengkak, erosi, dan terdapat lesi-lesi satelit. Penderita selalu merasa gatal, panas, dan sakit pada waktu buang air kecil. Faktor predisposisi untuk timbulnya vulvovaginitis adalah

kegemukan. Diabetes militus, higiene yang kurang, infeksi kronis di dalam vagina dan serviks, serta pengaruh obat-obat antihamil dan kehamilan.

d. Kandidiasis balantis dan balanoptisis Sering terjadi pada pria yang tidak dikhitan, di mana glans penis tertutup terus oleh preputium. Balantits tampak berupa bercak-bercak eritema dan erosi pada glan penis dan sering disertai dengan pustulasi. Kelainan ini dapat meluas sampai sokrotum, perineum, dan kulit di lipat paha, yang terlihat daerah-daerah eritematosa dan lesi-lesi satelit disertai rasa gatal dan rasa sakit atau panas. Faktor predisposisi ialah tidak dikhitan, kegemukan, peminum alkohol, hiperhidrosis, diabetes militus, penderita penyakit kronis atau keganasan dan pemakai obat-obat antibiotik atau sitostatik.

e. Kandidiasis mukokutan kronis Biasanya banyak ditemukan pada anak-anak dan penderita yang mengalami bermacam-macam defisiensi. Kelainan-kelainan yang timbul berupa bercak-bercak pada daerah-daerah mukokutan, erosi,

dan pada perasaan timbul rasa panas dan gatal. Penyakit ini merupakan infeksi persisten oleh kandida yang mengenai yang resistensi terhadap semua pengobatan topikal karena penyakit ini sering disertai dengan infeksi bakteri lain, dan karena adanya gangguan imunologik yang bersifat herediter.

2. Kandidiasis kutis meliputi: a. Lokalisata: intertriginosa dan daerah perianal 1) Kandidiasis intertriginosa Lesi-lesi timbul pada tempat predileksi, yaitu daerah-daerah lipatan kulit, seperti ketiak, bawah payudara, lipat paha, intergluteal, antara ari-jari tangan dan jari-jari kaki, sekitar pusat, dan lipat leher. Kelainan yang tampak berupa kemerahan kulit yang terbatas tegas, erosi dan berisik. Lesi-lesi tersebut sering dikelilingi oleh lesi-lesi satelit berupa vesikel-vesikel dan pustula milier, yang bila memecah meninggalkan daerah-daerah yang erosi dan selanjutnya dapat berkembang menyerupai lesi-lesi primernya. Kelainan pada sela-sela jari sering ditemukan pada orang yang banyak berhubungan dengan air, seperti tukang cuci atau petani sawah, orang-orang yang memakai kaus dan sepatu terus-menerus. Kandidiasis pada kaki dan sela-sela jari ini sering dikenal kutu air. Kulit di sela-sela jari menjadi lunak, terjadi maserasi dan dapat mengelupas menyerupai kepala susu. Faktor predisposisi kandidiasis intertriginosa ini ialah diabetes melitus, kegemukan , banyak keringat, pemakaian obat-obat antibiotik, kortikosteroid. Sitostatik, dan penyakit-penyakit yang mrnyebabkan daya tahan tubuh menurun.

2) Kansdidiasis perianal Infeksi kandida pada kulit sekitar anus, yang banyak ditemukan pada bayi-bayi, dikenal sebagai kandidiasis popok

(Diaper rash). Hal ini sering disebabkan oleh popok basah yang tidak segera diganti sehingga menyebabkan iritasi kulit sekitar genitalia dan anus. Popok yang basah menyebabkan maserasi kulit, dan karena adanya lubang-lubang alamiah (anus) yang banyak mengandung kandida maka dapat tumbuh dengan subur dan terjadilah kandidiasis perinal dan kandidiasis popok. Kulit di sekitar anus, lipat paha, kemaluan, perineum, dan lipat pantat menjadi merah, erosi, dan bersisik halus putih. Pemakaian antibiotik dan kortokosteroid dapat menjadi faktor yang mempermudah terjadinya infeksi kandida di daerah-daerah ini.

b. Kandidiasis kutis generalisata Lesi terdapat pada glabrous skin. Biasanya daerah intertriginosa ikut terkena, seperti lipat payudara, intergluteal, umblikus, ketiak, lipat paha, sering disertai glossitis, stomatitis, dan paronikia. Kelainan dapat berupa eksematoid yang disertai vesikel-vesikel dan pusrula-pustula milier yang generalisata.

c. Kandidiasis kutis granulomatosa Bentuk ini sering menyerang anak-anak. Lesi berupa papul merah yang ditutupi oleh krusta yang tebal bewarna kuning kecoklatan dan melekat erat pada dasarnya, membentuk granuloma menyerupai tanduk. Lokasi tersering adalah pada muka, kepala, tungkai dan di dalam rongga faring. Otomikosis ialah infeksi jamur di ddalam liang telinga yang dapat disebabkan oleh Candida albicans. Dikatakan bahwa 28,3% dari otomikosis disebabkan oleh kandida.

3. Reaksi id Kadidiasis id (kandididid) merupakan reaksi alergi dari kandida. Infeksi kandida dari suatu tempat dapat memberikan reaksi alergi di tempat lain.

Kelainan-kelainan yang timbul berupa vesikel-vesikel steril yang keras, sangat gatal, terutama terdapat di telapak kaki dan tangan, sepanjang jari-jari atau tempat-tempat lain. Apabila vesikel ini pecah terjadi skuamasi atau kulit yang mengelupas. Kelainan alergi ini tidak dapat disembuhkan selama penyakit primernya belum sembuh. Biasanya infeksi primer dapat disembuhkan dalam usus, vagina, atau sela-sela jari kaki dan tangan. 2.4 Etiologi Penyebab utama kandidiasis ialah Candida albicans. Spesies lain seperti Candida krusei, Candida stellatoidea, Candida tropicalis, Candida pseudotropicalis, dan Candida parapsilosis, umumnya bersifat apatogen. (Siregar, 2005) Kandida adalah tanaman yang termasuk ke dalam kelompok jamur. Menurut Lodder, 1970 (dalam Siregar, 2005), taksonomi kandida adalah: 1. Termasuk kedalam kelompok Fungi imperfecti atau Deutromycota. : Cryptococcaccae : Candidoidea : Candida

2. Famili 3. Subfamili 4. Genus

Spesies pada manusia meliputi: 1. Candida albicans 2. Candida stellatoidea 3. Candida tropicalis 4. Candida pseudotropicalis 5. Candida krusei 6. Candida parapsilosis 7. Candida guilliermondii Sel-sel jamur kandida berbentuk bulat, lonjong, atau bulat lonjong dengan ukuran 2-5 x 3-6 sampai 2-5,5 x 5-28,5. Berkembang biak dengan memperbanyak diri dengan spora yang tumbuh dari tunas, disebut blastospora. (Siregar, 2005)

10

Kandida dapat dengan mudah tumbuh di dalam media Sabauroud dengan membentuk koloni ragi dengan sifat-sifat khas, yakni: menonjol dari permukaan medium, permukaan koloni halus, licin, bewarna putih kekuning-kuningan, dan berbau ragi. Jamur kandida dapat hidup di dalam tubuh manusia, hidup sebagai parasit atau saprofit, yaitu di dalam alat percernaan, alat pernapasan, atau vagina orang sehat. Pada keadaan tertentu, sifat kandida ini dapat berubah menjadi patogen dan dapat menyebabkan penyakit yang disebut kandidiasis atau kandidosis. (Siregar, 2005) Penyebab kandidiasis ini adalah jamur jenis Candida. Jamur jenis ini adalah jamur yang sangat umum terdapat di sekitar kita dan tidak berbahaya pada orang yang mempunyai imun tubuh yang kuat. Candida ini baru akan menimbulkan masalah pada orang-orang yang mempunyai daya tahan tubuh rendah, misalnya penderita AIDS, pasien yang dalam pengobatan kortikosteroid dan tentu saja bayi yang system imunnya belum sempurna. Jamur Candida ini adalah jamur yang banyak terdapat di sekitar kita, bahkan di dalam vagina ibu pun terdapat jamur candida. Bayi bias saja mendapatkan jamur ini dari alat-alat seperti dot dan kampong atau bias juga mendapatkan candida dari vagina ibu ketika persalinan. Selain itu, kandidiasis oral ini juga dapat terjadi akibat keadaan mulut bayi yang tidak bersih karena sisa susu yang diminum tidak dibersihkan sehingga akan menyebabkan jamur tumbuh semakin cepat.

Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya candida pada seseorang digolongkan dalam dua kelompok : 1. Faktor endogen a. Perubahan fisiologi tubuh yang terjadi pada : i. ii. Kehamilan, terjadi perubahan di dalam vagina Obesitas, kegemukan menyebabkan banyak keringat, mudah terjadi maserasi kulit, memudahkan infestasi candida.

11

iii.

Endokrinopatti, gangguan konsentrasi gula dalam darah, yang pada kulitakan menyuburkan pertumbuhan candida

iv.

Penyakit menahun, seperti tuberculosis, lupus eritematosus, karsinomadan leukemia

v.

Pengaruh

pemberian

obat-obatan,

seperti

antibiotic,

kortikosteroid dan sitostatik vi. Pemakaian alat-alat di dalam tubuh, seperti gigi palsu, infus dan kateter. b. Umur Orang tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi karena status iRmunologinya tidak sempurna. c. Gangguan imunologis Pada penyakit genetic seperti Atopik dermatitis, infeksi candida mudah terjadi.

2. Factor eksogen a. Iklim panas dan kelembaban menyebabkan banyak keringat terutama pada lipatan kulit, menyebabkan kulit maserasi, dan ini mempermudah invasi candida. b. Kebiasaan dan pekerjaan yang banyak berhubungan dengan air mempermudah invasi candida. c. Kebersihan dan kontak dengan penderita. Pada penderita yang sudah terkena infeksi (kandidiasis di mulut) dapat menularkan infeksi kepada pasangannya melalui ciuman. Kedua factor eksogen dan endogen ini dapat berperan

menyuburkan pertumbuhan candida atau dapat mempermudah terjadinya invasi candida ke dalam jaringan tubuh. 2.5 Patofisiologi Kandidiasis oral sering disebabkan oleh candida albicans, atau kadang oleh candida glabrata dan candida tropicalis. Jamur candida albicans umumnya memang terdapat di dalam rongga mulut sebagai saprofit sampai terjadi

12

perubahan keseimbangan flora mulut atau perubahan mekanisme pertahanan lokal dan sistemik, yang menurunkan daya tahan tubuh. Baru pada keadaan ini jamur akan berproliferasi dan menyerang jaringan. Hal ini merupakan infeksi jamur rongga mulut yang paling sering ditemukan. Penyakit yang disebabkan jamur candida albicans ini yang pertumbuhannya dipelihara dibawah pengaturan keseimbangan bakteri yang normal. Tidak terkontrolnya pertumbuhan candida karena penggunaan kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama dan penggunaan obat-obatan yang menekan sistem imun serta penyakit yang menyerang sistem imun seperti Aquired Immunodeficiency Sindrome (AIDS). Namun bisa juga karena gangguan keseimbangan mikroorganisme dalam mulut yang biasanya dihubungkan dengan penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol. Sehingga, ketika pertahanan tubuh/antibodi dalam keadaan lemah, jamur candida albicans yang dalam keadaan normal tidak memberikan reaksi apapun pada tubuh berubah tumbuh tak terkontrol dan menyerang sistem imun manusia itu sendiri yang menimbulkan penyakit disebut candidiasis oral atau moniliasis. Kelainan yang disebabkan oleh spesies kandida ditentukan oleh interaksi yang komplek antara patogenitas fungi dan mekanisme pertahanan pejamu. Faktor penentu patogenitas kandida adalah : 1. Spesies : Genus kandida mempunyai 200 spesies, 15 spesies dilaporkan dapat menyebabkan proses pathogen pada manusia. C. albicans adalah kandida yang paling tinggipatogenitasnya. 2. Daya lekat : Bentuk hifa dapat melekat lebih kuat daripada germtube, sedang germtube melekat lebih kuat daripada sel ragi. Bagian terpenting untuk melekat adalah suatu glikoprotein permukaan atau mannoprotein. Daya lekat juga dipengaruhi oleh suhu lingkungan. ` 3. Dimorfisme : C. albicans merupakan jamur dimorfik yang mampu tumbuh dalam` kultur sebagai blastospora dan sebagai pseudohifa. Dimorfisme terlibat dalam patogenitas kandida.Bentuk blastospora diperlukan untuk memulai suatu lesi pada jaringan dengan mengeluarkan enzim hidrolitik yang merusak jaringan. Setelah terjadi lesi baru terbent` melakukan invasi. uk hifa yang

13

4. Toksin : Toksin glikoprotein mengandung mannan sebagai komponen toksik. Glikoprotein khususnya mannoprotein berperan sebagai adhesion dalam kolonisasi jamur. Kanditoksin sebagai protein intraseluler diproduksi bila C. albicans dirusak secara mekanik.

5. Enzim : Enzim diperlukan untuk melakukan invasi. Enzim yang dihasilkan oleh C.albicans ada 2 jenis yaitu proteinase dan fosfolipid. Mekanisme pertahanan pejamu : 1. Sawar mekanik : Kulit normal sebagai sawar mekanik terhadap invasi kandida. Kerusakan mekanik pertahanan kulit normal merupakan faktor predisposisi terjadinya kandidiasis. 2. Substansi antimikrobial non spesifik : Hampir semua hasil sekresi dan cairan dalammamalia mengandung substansi yang bekerja secara non spesifik menghambat atau membunuh mikroba. 3. Fagositosis dan intracellular killing : Peran sel PMN dan makrofag jaringan untuk memakan dan membunuh spesies kandida merupakan mekanisme yang sangat penting untuk menghilangkan atau memusnahkan sel jamur. Sel ragi merupakan bentuk kandida yang siapdifagosit oleh granulosit. Sedangkan pseudohifa karena ukurannya, susah

difagosit.Granulosit dapat juga membunuh elemen miselium kandida. Makrofag berperan dalammelawan kandida melalui pembunuhan

intraseluler melalui system mieloperoksidase (MPO). 4. Respon imun spesifik : imunitas seluler memegang peranan dalam pertahanan melawaninfeksi kandida. Terbukti dengan ditemukannya defek spesifik imunitas seluler padapenderita kandidiasi mukokutan kronik, pengobatan imunosupresif dan penderita dengan infeksi HIV.

Menempelnya mikroorganisme dalam jaringan sel pejamu menjadi syarat mutlak untuk berkembangnya infeksi.Secara umum diketahui bahwa interaksi antara mikroorganisme dan sel pejamu diperantarai oleh komponen spesifik dari dinding sel mikroorganisme, adhesindan reseptor. Manan dan manoprotein merupakan molekul-molekul Candida albicans

14

yang mempunyai aktifitas adhesif. Khitin, komponen kecil yang terdapat pada dinding sel Candidaalbicans juga berperan dalam aktifitas adhesif. Pada umumnya Candida albicans berada dalam tubuh manusia sebagai saproba dan infeksi baru terjadi bila terdapat faktor predisposisi pada tubuh pejamu. 2.6 WOC WOC terlampir 2.7 Manifestasi klinis a) 1. 2. Masa bayi ( untuk diagnosis ) Perdarahan berkepanjangan setelah sirkumsisi. Ekimosis subkutan diatas tonjolan tonjolan tulang (saat berumur 3 4 bulan ). 3. 4. 5. b) 1. 2. c) Hematoma besar setelah infeksi. Perdarahan dari mukosa oral. Perdarahan jaringan lunak. Episode perdarahan ( selama rentang hidup ). Gejala awal, yaitu nyeri. Setelah nyeri, yaitu bengkak, hangat dan penurunan mobilitas. Sekuela jangka panjang. Perdarahan berkepanjangan dalam otot dapat menyebabkan kompresi saraf dan fibrosis otot. Umumnya perdarahan jaringan pada bagian dalam dan Hemartosis yang bisa timbul kembali oeh trauma. Perdarahan Hetroperitoneal dan perdarahan intrakarnial yang berpotensisangat dapat membahayakan kehidupan.Penyakit ini, yang bisa sangat berat ditandai dengan memar besar dan meluas, perdarahan ke dalam otot, sendi, dan jaringan lunak meskipun hanya akibat trauma kecil. Pasien sering merasakan nyeri pada sendi sebelum tampak adanya pembengkakan dan keterbatasan gerak.

15

Perdarahan sendi yang berulang dapat mengakibatkan kerusakan berat sampai terjadi nyeri kronis dan ankilosis (fiksasi) sendi. Kebanyakan pasien mengalami kecatatan akibat kerusakan sendi sebelum mereka dewasa. Hematuria spontan dan perdarahan Gastrointestinal dapat terjadi. Penyakit ini sudah diketahui saat awal masa anak-anak biasanya terjadi pada usia sekolah.Sebelum tersedia konsentrat faktor VIII, kebanyakan pasien meninggal akibat komplikasi Hemofilia sebelum mereka mencapai usia dewasa. Ada juga penderita Hemofilia dengan defisiensi yang ringan, mempunyai sekitar 5% dengan 25% kadar faktor VIII dan IX normal. Pasien seperti ini tidak mengalami nyeri dan kecatatan pada otot maupun perdarahan sendi, namun mengalami perdarahan ketika cabut gigi atau operasi. Namun demikian perdarahan tersebut dapat berakibat fatal apabila penyebabnya tidak diketahui dengan segera. 2.8 Komplikasi 1. Perubahan tulang, osteoporosis, dan atrofi otot, menyebabkan deformitas berat sebagai konsekuensi hemartrosis. 2. Perdarahan intracranial jarang terjadi, namun jika terjadi dapat berakibat fatal. 3. Perdarahan gastrointestinal menyebabkan obstruksi intestinal. 4. Hematoma pada tulang belulang menyebabkan paralisis. Hematoma intramuscular terjadi pada otot-otot fleksor besar, khususnya pada otot betis, otot-otot region iliopnas (sering pada panggul) dan lengan bawah. Hematoma ini sering menyebabkan kehilangan darah yang nyata, sindrom kompartemen, kompresi saraf dan kontraktur otot. 5. perdarahan retroperitoneal dan retrofaringeal yang membahayakan jalan napas dapat mengancam kehidupan. 6. Hematuria massif sering ditemukan yang menyebabkan kolik ginjla tetapi tidak mengancam kehidupan.

16

2.9 Penatalaksanaan I. Terapi Suportif

1. Pengobatan rasional pada hemofilia adalah menormalkan kadar faktor anti hemofilia yang kurang. 2. Melakukan pencegahan baik menghindari luka atau benturan. 3. Merencanakan suatu tindakan operasi serta mempertahankan kadar aktivitas faktor pembekuan sekitar 30-50% 4. Untuk mengatasi perdarahan akut yang terjadi maka dilakukan tindakan pertama seperti rest, ice, compression, elevation (RICE) pada lokasi perdarahan Rest (istirahat), usahakan seseorang diistirahatkan dan tidak melakukan apapun. Ice (kompres dengan menggunakan es), kompres ini berguna untuk menciutkan pembuluh darah dan es juga bisa berfungsi sebagai penghilang nyeri. Compression (ditekan atau dibalut), untuk mengurangi banyaknya darah yang keluar. Elevation (ditinggikan), usahakan daerah yang mengalami luka berada pada posisi yang lebih tinggi. 5. Kortikosteroid Pemberian kortikosteroid sangat membantu untuk menghilangkan proses inflamasi pada sinovitis akut yang terjadi setelah serangan akut hemartrosis. Pemberian prednisone 0,5-1 mg/kg BB/hari selama 5-7 hari dapat mencegah terjadinya gejala sisa berupa kaku sendi(artrosis) yang menggangu aktivitas harian serta menurunkan kualitas hidup pasien hemofilia. 6. Analgetika Pemakaian analgetika diindikasikan pada pasien hemartrosis dengan nyeri hebat, dan sebaiknya dipilih analgetika yang tidak mengganggu agregasi trombosit (harus dihindari pemakaian aspirin dan antikoagulan).

17

7. Rehabilitasi medik Sebaiknya dilakukan sedini mungkin secara komprehensif dan holistic dalam sebuah tim, karena keterlambatan pengelolaan akn mnyebabakna kecacatan dan ketidakmampuan fisik, okupasi maupun psikososial dan edukasi. Rehabilitasi medik arthritis hemofilia meliputi : latihan pasif/aktif, terapi dingin dan panas penggunaan ortosis, terapi psikososial dan terapi rekreasi serta edukasi.

II.

Terapi pengganti Faktor pembekuan

1. Pemberian faktor pembekuan dilakukan 3 kali seminggu untuk menghindari kecacatan fisik (terutama sendi) sehingga pasien hemofilia dapat melakukan aktivitas normal. Namun untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan faktor anti hemofilia (AHF) yang cukup banyak dengan biaya yang tinggi. 2. Terapi pengganti faktor pembekuan pada kasus hemofilia dilakukan dengan memberikan FVIII atau FIX, baik rekombinan, konsentrat maupun komponen darah yang mengandung cukup banyak faktor-faktor

pembekuan tsb. Pemberian biasanya dilakukan dalam beberapa hari sampai luka atau pembengkakan membaik, serta khususnya selama fisioterapi.

III.

Konsentrat F VIII/ F IX Hemofilia A berat maupun ringan dan sedang dengan episode perdarahan yang serius membutuhkan koreksi factor pembekuan dengan kadar yang tinggi yang harus diterapi dengan konsentrat F VIII yang telah dilemahkan virusnya. Faktor IX tersedia dalam 2 bentuk yaitu prothombin complex concentrates (PCC) yang berisi F II, VII, IX, dan X tanpa faktor yang lain. PCC dapat menyebabkan thrombosis paradoksial dan koagulasi intravena tersebar yang disebabkan oleh sejumlah konsentrat factor pembeku lain.

18

Risiko ini dapat meningkat pemberian F IX berulang, sehingga purified konsentrat F IX lebih diinginkan. Waktu paruh F VIII adalah 8-12 jam, sedangkan F IX 24 jam dan vulome distribusi dari F IX kira-kira 2 kali dari F VIII. Kebutuhan F VIII dan F IX dihitung berdasarkan rumus : I. Volume plasma (VP) = 40 ml/kgBB x BB (Kg) F VIII/F IX yang diinginkan (U) = VP x (kadar yang diinginkan (%) kadar sekarang (%) 100 II. F VIII yang diinginkan (U) = BB (kg) x kadar yang diinginkan (%) /2 F IX yang diinginkan (U) = BB (kg) x kadar yang diinginkan (%)

IV.

Kriopresipitat AHF Kriopresipitat AHF adalah salah satu komponen darah non selular yang merupakan konsentrat plasma tertentu yang mengandung F VIII, fibrinogen, factor von Willebrand. Dapat diberikan apabila konsentrat F VIII tidak di temukan. Satu kantong kriopresipitat berisi 80-100 U F VIII. Satu kantong kriopresipitat yang mengandung 100 U F VIII dapat meningkatkan F VIII 35 %. Efek samping yang mungkin terjadi yaitu reaksi alergi dan demam.

V.

1-deamino 8-D Arginin Vasopresin. (DDAVD) atau desmopresin Hormon sintetik anti direutik (DDVAD) merangsang peningkatan kadar aktivitas F VIII dalam plasma sampai 4 kali, namun bersifat sementara. Sampai saat ini mekanisme kerja DDVAD belum diketahui seluruhnya, tetapi dianjurkan untuk penderita hemofilia A ringan dan sedang dan juga pada karier perempuan simtomatik. Pemberian dapat secara intravena dengan dosis 0,3mg/kg BB dalam 30-50 NACl 0.9 % selama 15-20 menit dengan lama kerja 8 jam. Efek puncak pada pemberian ini dicapai dalam waktu 30-60 menit.

19

Pemberian DDAVD untuk pencegahan etrhadap kejadian perdarahan sebeiknya dilakukan setiap 12-24 jam. Efek samping dapat terjadi berupa takikardia, flusthing, trombosis, dan hiponatremia. Juga bisa timbul angina pada pasien AJK.

VI.

Antifibronilitik Preparat antifibronilitik digunakan pada pasien hemofilia B untuk menstabilkan bekuan/fibrin dengan cara menghambat proses fibrinolisis. Hal ini ternyata sangat membantu pengelolaan pasien hemofilia dengan perdarahan; terutama kasus perdaraham mukosa mulut akibat ekstraksi gigi karena saliva banyak mengandung enzim fibrinolitik. Epsilon aminocaproic acid (EACA) dapat diberikan secara oral maupun intravena setiap 6 jam (maksimum 5 g setiap pemberian). Asam traneksamat diberikan dengan dosis 25 mg/kg BB (maksimum 1,5 g) secara oral, atau 10 mg/kg BB (maksimum 1 g) secara intravena setiap 8 jam. Asam traneksamat juga dapat dilarutkan 10% bagian dengan cairan parenteral terutama slain normal.

VII.

Terapi gen Penelitian terapi gen menggunakan vector retrovirus, adenovirus, dan adeno-associated virus memberikan harapan baru bagi pasien hemofilia. Saat ini sedang intensif dilakukan invivo dengan memindahkan vector adenovirus yang membawa gen antihemofilia ke dalam sel hati. gen F VII relative lebih sulit dibandingkan F IX, karena ukurannya (9 kb) lebih besar, namun akhir tahun 1998 para ahli berhasil melakukan pemindahan plasmid-based factor VIII secara exvivo ke fibrolas.

b. Penatalaksanaan Keperawatan. 1. Memperhatikan perawatan gigi agar tidak mengalami pencabutan gigi. 2. Istirahatkan anggota tubuh dimana ada luka. 3. Gunakan alat bantu seperti tongkat bila kaki mengalami perdarahan. 4. Kompreslah bagian tubuh yang terluka dan daerah sekitar dengan es.

20

5. Tekan dan ikat, sehingga bagian tubuh yang mengalami perdarahan tidak bergerak ( immobilisasi ). 6. Letakkan bagian tubuh tersebut dalam posisi lebih tinggi dari posisi dada dan letakkan diatas benda yang lembut.

2.10 Pemeriksaan penunjang a) Laboratorium : ditemukan adanya jamur candida albicanspada swab mukosa b) Pemeriksaan endoskopi : hanya di indikasikan jika tidak terdapat perbaikan dengan pemberian flukonazol. c) Dilakukan pengolesan lesi dengan toluidin biru 1% topikal dengan swab atau kumur. d) Diagnosa pasti dengan biopsi

21

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS


3.1 Pengkajian 3.1.1. Identitas klien Meliputi nama lengkap, tempat tanggal lahir, umur, alamat, asal kota, dan daerah, asal suku bangsa, nama orangtua dan pekerjaan orangtua. 3.1.2. Riwayat kesehatan a. Keluhan utama: Penyebab utama klien dibawa kerumah sakit. Terdapat membran palsu yang menutupi lidah dan palatum mole yang terasa nyeri dan mengalami perdarahan. b. Riwayat kesehatan saat ini: Adanya tanda dan gejala klinis berupa tidak nafsu makan dan sakit pada mulut. Riwayat penyakit

dahulu:mengidentifikasi adanya faktor-faktor penyulit atau faktor yang membuat kondisi pasien menjadi lebih parah. Dengan adanya penyakit terdahulu seperti HIV AIDS dan penderita penyakit menahun yang mendapat antibiotik dalam waktu lama, atau penderita keganasan yang mendapat obat sitostatik atau pengobatan dengan radiasi. c. Riwayat penyakit keluarga: adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang. Adanya anggota keluarga yang menderita kandidiasis. d. Kondisi lingkungan: Iklim panas dan kelembaban menyebabkan banyak keringat terutama pada lipatan kulit, menyebabkan kulit maserasi, dan ini mempermudah invasi candida.

3.1.3. Pola Fungsional Gordon a. Pola presepsi dan penanganan kesehatan keluhan tentang nyeri pada mulut dan tidak bisa bersentuhan dengan makanan, terjadi perdarahan , ada atau tidaknya terhadap keluhan tersebut penanganan

22

b. Pola aktivitas-latihan adanya kesukaran dalam melakukan aktivitas, nyeri, mudah lelah. c. Pola nutrisi dan metabolik Kahilangan nafsu makan. Kehilangan sensasi pada lidah. d. Pola eliminasi Adanya perubahan pola eliminasi. e. Pola tidur dan istirahat Kesukaran untuk istirahat karena nyeri. f. Pola konseptual-presepsi Adanya membran palsu pada mulut yang dapat terlepas dan mengakibatkan perdarahan. g. Pola toleransi diri-koping stres Membicarakan masalah kesehatan dengan keluarga atau orang terdekat h. Pola presepsi diri-konsep diri Perasaan cemas terhadap penyakit dan kecurigaan terhadap penyakit yang diderita. i. Pola peran hubungan Hubungan klien terhadap keluarga tetap harmonis, terganggunya peran dalam keluarga dan status pekerjaan. Adanya kesulitan untuk bekerja dalam kondisi sakit yang diderita. j. Pola seksual-reproduktif Kurang terpenuhinya pola seksual k. Pola nilai kepercayaan Masih lancarnya dalam melaksanakan ibadah dan aspek spiritual terpenuhi. 3.1.4. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan tanda tanda vital Terlebih dahulu perlunya pemeriksaan tanda-tanda vital:tekanan darah (TD), nadi, Respiratory Rate(RR) dan suhu penting untuk dilakukan untuk mengetahui tanda awal ketidak stabilan

23

hemodinamik tubuh, gambaran dari tanda vital yang tidak stabil merupakan indikasi dari peningkatan atau penurunan kondisi perfusi jaringan. Suhu : lebih dari 38 derajat celcius Frekuensi pernapasan : lebih 30 x/menit Tekanan darah :kurang dari 99/65 mmhg Nadi : diatas 110x/menit

3.2 Diagnosa Keperawatan

DIAGNOSA Hipertermi

NOC Termoregulasi Tidak adanya perubahan warna kulit Berkeringat ketika panas Menggigil ketika dingin Melaporkan kenyamanan tingkat panas Tidak ada kejang Adanya tonjolan bulu

NIC Regulasi Temperature Monitor temperatur tiap 2 hari Selalu sediakan alat untuk memonitr suhu inti Monitor tekanan darah, nadi dan respirasi Monitor warna kulit dan temperatur Monitor dan laporkan tanda dan gejala hipotermia dan hipertermia Pantau asupan nutrisi dan cairan yang adekuat Diskusikan pentingnya termoregulasi dan kemungkinan efek negatif dari dingin yang berlebihan distress Atur temperatur lingkungan sesuai

roma ketika dingin

Termoregulasi : Neonatus Suhu normal Tidak ada

pernapasan Warna kulit normal Tidak ada letergi

kebutuhan pasien Atur pemberian obat anti piretik

Monitor tanda-tanda vital Mengukur tekanan darah, denyut nadi, temperature, dan status pernafasan, jika

Status tanda-tanda vital

24

Temperature normal Denyut nadi normal Pernafasan normal Tekanan darah normal

diperlukan Mencatat gejala dan turun naiknya tekanan darah Mengukur tekanan darah ketika pasien berbaring, diperlukan Auskultasi tekanan darah pada kedua lengan dan bandingkan, jika diperlukan Mengukur tekanan darah, nadi, dan duduk, dan berdiri, jika

pernafasan sebelum, selama, dan setelah beraktivitas, jika diperlukan Mempertahankan suhu alat pengukur, jika diperlukan Memantau dan mencatat tnda-tanda dan syimptom hypothermia dan hyperthermia Memantau timbulnya dan mutu nadi Mengukur warna kulit, temperature, dan kelembaban Memantau sianosis pusat dan perifer Memantau pola pernafasan yang abnormal

Pengobatan demam Pantau suhu berkali-kali jika diperlukan Pantau warna kulit dan suhu Pantau tekanan darah, nadi dan pernafasan, jika diperlukan Pantau aktivitas berlebihan Pantau intake dan output Atur oksigen, jika diperlukan Tempatkan pasien pada bagian hipotermia, jika diperlukan

25

Nyeri

Kontrol nyeri Penggunaan yang tepat Laporkan tanda nyeri analgesic

Manajemen nyeri Lakukan penilaian nyeri secara komprehensif dimulai dari lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas dan penyebab. Kaji ketidaknyamanan secara nonverbal, terutama untuk pasien yang tidak bisa mengkomunikasikannya secara efektif Pastikan pasien mendapatkan perawatan dengan analgesic Gunakan komunikasi yang terapeutik agar pasien dapat menyatakan pengalamannya terhadap nyeri serta dukungan dalam merespon nyeri Pertimbangkan pengaruh budaya terhadap respon nyeri

pada tenaga kesehatan Menilai gejala dari nyeri Gunakan catatan nyeri Tingkatan nyeri Melapor nyeri Frekuensi nyeri Nafsu makan normal Respon tubuh Ekspresi wajah saat nyeri (1) Tingkat kenyamanan Mengekspresikan kepuasan tingkatan mandiri Menekspresikan kepuasan dengan kontrol nyeri dengan

Tentukan dampak nyeri terhadap kehidupan sehari-hari (tidur, nafsu makan, aktivitas, kesadaran, mood, hubungan sosial, performance kerja dan melakukan tanggung jawab sehari-hari) Pemberian analgesik Menentukan lokasi , karakteristik, mutu, dan intensitas nyeri sebelum mengobati pasien Periksa order/pesanan medis untuk obat, dosis, dan frekuensi yang ditentukan analgesik

Cek riwayat alergi obat Tentukan analgesik yang cocok, rute pemberian dan dosis optimal.

26

Monitor TTV sebelum dan sesudah pemberian obat narkotik dengan dosis pertama atau jika ada catatan luar biasa.

Lakukan tindakan pengamanan pada pasien dengan obat analgesik narkotik Pemberian obat penenang Kaji riwayat kesehatan pasien dan riwayat pemakaian obat penenang Tanyakan kepada pasien atau keluarga tentang pengalaman pemberian obat penenang sebelumnya

Melihat kemungkinan alergi obat Memperoleh TTV dalam batas normal Memperoleh kadar oksigen dan irama EKG dalam batas normal Mengetahui perjalanan obat melalui IV Monitor kadar oxigen darah Memonitor tingkatan kesadaran pasien

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

a. Status Nutrisi Asupan zat gizi Asupan makanan dan cairan Energi Indeks masa tubuh Berat badan Nutrisi: Intake

a. Manajemen Nutrisi Mengontrol penyerapan makanan/cairan dan menghitung diperlukan Memantau ketepatan urutan makanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian Menentukan jimlah kalori dan jenis zat makanan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, ketika berkolaborasi intake kalori harian, jika

b. Status

Makanan Dan Cairan Intake makanan di mulut Intake makanan di saluran

dengan ahli makanan, jika diperlukan Menetukan makanan pilihan dengan

mempertimbangkan budaya dan agama

27

Intake cairan di mulut Intake cairan

Menetukan kebutuhan makanan saluran nasogastric Memilih makanan gandum, minuman

c. Mengontrol berat badan Mengontrol berat badan Mempertahankan intake kalorioptimal harian Menyeimbangkan latihan dengan intake kalori Memilih nutrisi makanan dan snack Menggunakan suplemen nutrisi jika diperlukan Makan sebagai respon makan Mempertahankan pola

kocok, dan es krim sebagai suplemen nutrisi Anjurkan pasien untuk memilih makanan ringan, jika kekurangan air liur mengganggu proses menelan b. Monitor Nutrisi Timbang berat badan klien Monitor kehilangan dan pertambahan berat badan Monitor tipe dan kuantitas olah raga Monitor respon emosi klien terhadap situasi dan tempat makan Monitor interaksi orang tua dan anak saat makan Jadwalkan perawatan, dan tindakan

makan yang dianjurkan Memelihara penyerapan makanan Mempertahankan keseimbanagan cairan Mengenal dan tanda-tanda symptom

keperawatan agar tidak mengganggu jadwal makan Monitor turgor kulit Monitor adanya mual dan muntah Monitor nilai albumin, total protein,

ketidakseimbangan elektrolit

hemoglobin dan hematokrit. Monitor nilai limfosit dan elektrolit Monitor menu makanan dan pilihannya

c. Manajemen Cairan Hitung haluran Pertahankan intake yang akurat Monitor hasil lab. terkait retensi cairan (peningkatan BUN, Ht ) Monitor TTV

28

Monitor adanya indikasi retensi/overload cairan (seperti :edem, asites, distensi vena leher)

Distribusikan cairan > 24 jam Tawarkan snack (seperti : jus buah)

Resiko Perdarahan

Deteksi resiko indikator Menemukan tanda dan gejala yang

Pencegahan pendarahan Monitor kemungkinan terjadinya

perdarahan pada pasien Catat kadar HB dan Ht setelah pasien mengalami kehilangan banyak darah Pantau tanda-tanda vital, osmotic,

mengindikasikan resiko Identifikasi faktor resiko Melakukan pemeriksaan mandiri Gunakan kesehatan kebutuhan pelayanan sesuai potensial

termasuk TD Cegah memasukkan sesuatu kedalam lubang daerah yang mengalami

perdarahan Jauhkan alat-alat berat disekitar pasien Instruksikan emngkonsumsi mengandung vit K Ajarkan pasien dan keluarga untuk mengenali tanda-gejala terjadinya pasien makanan untuk yang

Kontrol resiko Menyatakan resiko Memantau faktor resiko lingkungan Memantau faktor resiko perilaku pribadi Mengembangkan strategi kontrol efektif Menyesuaikan kontrol resiko strategi yang resiko yang

perdarahan dan tindakan pertama untuk penanganan berlangsung selama perdarahan

Pengurangan pendarahan Identifikasi etiologi perdarahan Monitor pasien secara ketat akan perdarahan Monitor jumlah dan kehilangan darah pasien karakter (nature)

dibutuhkan Menghindari paparan

29

ancaman kesehatan

Catat kadar Hb/Ht sebelum dan setelah kehilanga darah sebagai indikasi Monitor TD dan paameter hemodinamik, jika tersedia (contoh: tekanan vena sentral dan kapiler paru/tekanan arteri temporalis)

Monitor status/keadaan cairan termasuk intake dan output Instruksikan pasien pada aktivitas yang dibatasi jika diperlukan

Monitor tanda-tanda vital Mengukur tekanan darah, denyut nadi, temperature, dan status pernafasan, jika diperlukan

Mencatat gejala dan turun naiknya tekanan darah Mengukur tekanan darah ketika pasien berbaring, diperlukan duduk, dan berdiri, jika

Auskultasi tekanan darah pada kedua lengan dan bandingkan, jika diperlukan Mengukur tekanan darah, nadi, dan

pernafasan sebelum, selama, dan setelah beraktivitas, jika diperlukan Mempertahankan suhu alat pengukur, jika diperlukan Memantau dan mencatat tnda-tanda dan syimptom hypothermia dan hyperthermia Memantau timbulnya dan mutu nadi Mengukur warna kulit, temperature, dan kelembaban

30

Memantau sianosis pusat dan perifer Memantau pola pernafasan yang abnormal

31

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan Kandidiasis adalah infeksi atau penyakit akibat jamur Candida, khususnya C. albicans. Penyakit ini biasanya akibat debilitasi (seperti pada penekan imun dan khususnya AIDS), perubahan fisiologis, pemberian antibiotika

berkepanjangan, dan hilangnya penghalang (Stedman, 2005). Kandidiasis meliputi infeksi yang berkisar dari yang ringan seperti sariawan mulut dan vaginitis, sampai yang berpotensi mengancam kehidupan manusia. Infeksi Candida yang berat tersebut dikenal sebagai candidemia dan biasanya menyerang orang yang imunnya lemah, seperti penderita kanker, AIDS dan pasien transplantasi. Moniliasis atau kandidiasis sering disebabkan oleh 3 hal yaitu: jamur candida albicans, keadaan hormonal (diabetes, kehamilan), dan faktor lokal (tidak adanya gigi, gigi palsu yang tidak pas). Infeksi mulut oleh spesies candida biasanya memunculkan kumpulan lapisan kental berwarna putih atau krem pada membran mukosa (dinding mulut dalam). Pada mukosa mulut yang terinfeksi mungkin muncul radang berwarna merah). Candida albicans yang bermetastase dapat menjalar ke esofagus, usus halus, usus besar dan anus. Infeksi sistemik lainnya berupa abses hati dan otak.

4.2 Saran Perawat diharapkan dapat memahami masalah adaptasi bio psiko sosial spiritual dan menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan kandidiasis dengan baik. Seperti penatalaksanaan pada tahap pencegahan , dengan melakukan metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu mencangkup fisik (somatik), psikologik atau psikiatrik, psikososial dan psikoreligius.

32

DAFTAR PUSTAKA
Anonym. 2012. Info Spesialis. Diakses tanggal 28 Oktober 2013 Melalui http://www.spesialis.info/?gejala-kandidiasis-genitalis-%28thrush%29,271 Anonym. 2013. Google Books. Diakses 28 Oktober 2013 melalui

http://books.google.co.id/books?id=n4GHgidIuEUC&pg=PA44&dq=kandidias is+adalah&hl=en&sa=X&ei=iUAUqX9FcijrQf934GoCQ&redir_esc=y#v=onepage&q=kandidiasis%20adalah&f =false Dokter Cantik. 2012. Penyebab Candidiasis dan cara pengobatannya. Diakses tanggal 28 Oktober 2013 melalui www.doktercantik.com/1166/penyebabcandidiasis-dan-cara-pengobatannya.html. Jordan,Sue. 2004. Farmakologi Kebidanan. Jakarta : EGC. Sacher,R.A, McPherson, R.A. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Jakarta : EGC. Saifuddin Bari Abdul, George Adriaansz, Gulardi Hanifa Wikjosastro dan Djoko Siregar,R.S. 2004. Penyakit JamurKulit. Jakarta : EGC Spritia. 2012. Diakses tanggal 28 Oktober 2013 melalui

http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=516 Waspodo. 2006. Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta : YBP-SP Wong, L. Donna, dkk. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Vol 1 Wong. Jakarta : EGC Buku Kedokteran.

33