Anda di halaman 1dari 9

Mikotoksin, Jamur Makanan Berbahaya

MAKANAN menjadi sumber penyakit jika tidak memenuhi kriteria sebagai makanan baik, sehat, dan aman. Kualitas yang ada di alam ini tidak terlepas dari berbagai pengaruh, seperti kondisi dan lingkungan, yang menjadikan layak atau tidaknya suatu makanan untuk dikonsumsi. Berbagai kontaminan dapat mencemari sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Ber-bagai bahan pencemar dapat terkandung di dalam makanan karena penggunaan bahan baku pangan terkontaminasi dalam proses pengolahan dan proses penyimpanan. Di antara kontaminan yang sering ditemukan adalah mikotoksin yang dihasilkan oleh jamur. Selama penyimpanan, makanan sangat mudah ditumbuhi oleh jamur. Iklim tropis yang dimiliki Indonesia dengan curah hujan, suhu dan kelembaban yang tinggi sangat mendukung pertumbuhan jamur penghasil mikotoksin. Kontaminasi mikotoksin tidak hanya menurunkan kualitas bahan pangan dan mempengaruhi nilai ekonomis, tetapi juga membahayakan kesehatan manusia dan hewan. Berbagai penyakit dapat ditimbulkan oleh mikotoksin, seperti kanker hati yang disebabkan oleh aflatoksin, salah satu jenis mikotoksin yang paling banyak ditemukan di negara beriklim tropis. Karena adanya kontaminasi mikotoksin tidak kasat mata, terlebih lagi pada makanan olahan, maka diperlukan kewaspadaan dalam memilih terutama bahan atau makanan olahan yang telah disimpan dalam waktu lama. Mikotoksin adalah metabolit toksik yang dihasilkan oleh jamur, dan telah diketahui mempunyai sifat karsinogenik. Mikotoksikosis disebabkan oleh substansi beracun dari hasil metabolit jamur atau fungi yang umum tumbuh dalam bahan baku pakan jadi. Mikotoksin akan sangat cepat dihasilkan oleh suatu jenis jamur, bahkan kadang lebih dari satu macam bila kelembaban, temperatur lingkungan dan kadar air bahan baku atau dalam pakan mendukung. Racun jamur ini diproduksi pada kelembaban lebih dari 75% dan temperatur di atas 20C, dengan kadar air bahan baku pakan di atas 16%. Jamur penghasil mikotoksin diketahui banyak tumbuh pada substrat alami, antara lain bahan makanan. Bagaimana mengendalikannya? Mikotoksin pada biji-bijian (biji kacang, biji padi, biji kedelai, dll) sudah bisa terjadi ketika sebelum dipanen maupun pada masa penyimpanan. Bahkan seringkali bisa lebih dari satu jenis mikotoksin dalam satu biji-bijian yang kadang bekerja secara sinergis, sehingga efek negatifnya juga semakin kompleks. Leave a comment Posted in JAMUR(FUNGI)

Ganggang
Posted on August 25, 2008 by dipit89| Leave a comment

Ganggang memiliki pigmen hijau daun yang disebut klorofil sehingga dapat melakukan fotosintesis. Selain itu juga memiliki pigmen pigmen tambahan lain yang dominan. Ganggang memiliki ukuran yang beraneka ragam ada yang mikroskopis, bersel satu, berbentuk benang atau pita , atau bersel banyak berbentuk lembaran. Dalam perairan ganggang merupakan penyusun vitoplankton yang biasanya melayang laying didalam air, tetapi juga dapat hidup melekat didasar perairan disebut neustonik. Ganggang yang bersifat bentik digolongkan lagi menjadi; a. Epilitik ( hidup diatas batu) b. Epipalik (melekat pada lumpur atau pasir) c. Epipitik ( melekat pada tanaman ) d. Epizoik ( melekat pada hewan). Berdasarkan habitat yang ditempatinya diperairan , dibedakan atas: a. Ganggang Subbaerial yaitu ganggang yang hidup didaerah permukaan, b. Ganggang Intertidal, yaitu ganggan secara periodic muncul kepermukaan karena naik turun air akibat pasang susrut. c. Ganggang Subritorsal, yaitu ganggang yang berada dibawah permukaan air, d. Ganggang Edafik, yaitu ganggang yang hidup diddalam tanah pada dasar perairan. Jenis jenis ganggang, misalnya Chlorella sp, bersimbiosis dengan organism lainnya yaitu hidup bersama paramecium, hydra atau molusca; ganggang platimonas sp, hidup bersama cacing pipih convolutta roscofencis. Macam bentuk tubuh ganggan yaitu berselsatu atau uniseluler , membentuk koloni berupa filament atau kolini yang tidak membentuk filament. Sebagian ganggang yang uniseluler dapat bergerak atas kekuatan sendiri (motil), dan yang tidak dapat bergerak sendiri yaitu nonmotil. Perbedaan dengan tubuh uniseluler yang mikroskosis, pada ganggang yang membentuk koloni berupa filament berukuran cukup besar, sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang, sel yang terletak paling bawah pada filament membentuk alat khusus untuk menempel pada batu, batang pohon, atau lumpur. Alat tersebut dinamakan pelekat. Koloni ganggang yang tidak membentuk filamnen umumnya berbentuk pola atau pipih tanpa pelekat. Cara ganggang bereproduksi dengan dua macam, yaitu seksual dan aseksual. Reproduksi secara aseksual terjadi melalui pembelahansel, fragmentasi, dan pembentukan zoozpora, sedangkan reproduksi secara aseksual terjadi melalui isogami dan oogami. Reproduksi akan menghasilkan dua sel anakan yang masing masing akan menjadi individu baru, terjadi pada ganggang bersel tunggal. Sedangkan ganggang yang membentuk koloni tanpa filament, taupun koloni yang berupa filament, reproduksi melalui fragmentasi. Fragmentasia dalah terpecah pecahnya koloni menjadi beberapa bagian. Gambar Berdasarkan dominasi pigmennya, ganggang dapat dibedakan menjadi bebrapa kelompok yaitu ganggang coklat, ganggang merah , ganggang keemasan dan ganggang hijau.

Mikotoksin, Jamur Makanan Berbahaya


MAKANAN menjadi sumber penyakit jika tidak memenuhi kriteria sebagai makanan baik, sehat, dan aman. Kualitas yang ada di alam ini tidak terlepas dari berbagai pengaruh, seperti kondisi dan lingkungan, yang menjadikan layak atau tidaknya suatu makanan untuk dikonsumsi. Berbagai kontaminan dapat mencemari sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Ber-bagai bahan pencemar dapat terkandung di dalam makanan karena penggunaan bahan baku pangan terkontaminasi dalam proses pengolahan dan proses penyimpanan. Di antara kontaminan yang sering ditemukan adalah mikotoksin yang dihasilkan oleh jamur. Selama penyimpanan, makanan sangat mudah ditumbuhi oleh jamur. Iklim tropis yang dimiliki Indonesia dengan curah hujan, suhu dan kelembaban yang tinggi sangat mendukung pertumbuhan jamur penghasil mikotoksin. Kontaminasi mikotoksin tidak hanya menurunkan kualitas bahan pangan dan mempengaruhi nilai ekonomis, tetapi juga membahayakan kesehatan manusia dan hewan. Berbagai penyakit dapat ditimbulkan oleh mikotoksin, seperti kanker hati yang disebabkan oleh aflatoksin, salah satu jenis mikotoksin yang paling banyak ditemukan di negara beriklim tropis. Karena adanya kontaminasi mikotoksin tidak kasat mata, terlebih lagi pada makanan olahan, maka diperlukan kewaspadaan dalam memilih terutama bahan atau makanan olahan yang telah disimpan dalam waktu lama. Mikotoksin adalah metabolit toksik yang dihasilkan oleh jamur, dan telah diketahui mempunyai sifat karsinogenik. Mikotoksikosis disebabkan oleh substansi beracun dari hasil metabolit jamur atau fungi yang umum tumbuh dalam bahan baku pakan jadi. Mikotoksin akan sangat cepat dihasilkan oleh suatu jenis jamur, bahkan kadang lebih dari satu macam bila kelembaban, temperatur lingkungan dan kadar air bahan baku atau dalam pakan mendukung. Racun jamur ini diproduksi pada kelembaban lebih dari 75% dan temperatur di atas 20C, dengan kadar air bahan baku pakan di atas 16%. Jamur penghasil mikotoksin diketahui banyak tumbuh pada substrat alami, antara lain bahan makanan. Bagaimana mengendalikannya? Mikotoksin pada biji-bijian (biji kacang, biji padi, biji kedelai, dll) sudah bisa terjadi ketika sebelum dipanen maupun pada masa penyimpanan. Bahkan seringkali bisa lebih dari satu jenis mikotoksin dalam satu biji-bijian yang kadang bekerja secara sinergis, sehingga efek negatifnya juga semakin kompleks. Hepatitis Dari sejumlah bahan makanan baik yang diproduksi secara home industry maupun perusahaan skala besar yang diteliti di laboratorium, banyak yang mengandung mikotoksin melebihi kadar kesehatan. Kalau makanan yang mengandung zat ini dikonsumsi terus, akan menyebabkan penyakit kanker hati dan lever serta hepatitis. Sampai saat ini, telah berhasil diidentifikasi lebih 200 jenis mikotoksin, yang semuanya berdampak negatif dan bisa menimbulkan beragam penyakit baik bagi manusia maupun

hewan ternak. Khusus untuk manusia, aflatoksin merupakan jenis yang paling terkenal, karena bisa menyebabkan kanker hati, ginjal dan kolon. Makanan yang ba-nyak mengandung mikotoksin adalah kacang tanah. Selain itu, bahan makanan seperti jagung, ubi kayu (gaplek), susu bubuk dan susu cair, kadar juga cukup tinggi. Sedang yang menunjukkan kadar paling kecil dan paling layak dikonsumsi adalah tempe kedelai. Semua makanan yang dibuat dari kacang tanah, seperti peanut butter, ampyang, sambal pecel atau selai kacang, besar kemungkinan mengandung zat ini, namun penyebarannya memang tidak merata. Langkah yang paling bijak untuk menghidari mengonsumsi adalah mengurangi makan dari bahan-bahan tersebut. Atau kalau tidak, teliti dulu sebelum membeli. Kalau sudah ada jamurnya atau kelihatan hitam, jangan dibeli. Aflatoksin berasal dari singkatan Aspergillus flavus toxin. Toksin ini pertama kali diketahui berasal dari kapang Aspergillus flavus yang berhasil diisolasi pada tarun 1960. A. flavus adalah jenis jamur penghasil utama aflatoksin. Mikotoksin ini bersifat karsinogenik, hepatatoksik dan mutagenik sehingga menjadi perhatian badan kesehatan dunia (WHO) dan dikategorikan sebagai karsinogenik gol 1A. Selain itu, aflatoksin juga bersifat immunosuppresif yaitu menurunkan sistem kekebalan tubuh. Di Indonesia, aflatoksin merupakan mikotoksin yang sering ditemukan pada produk-produk pertanian dan hasil olahan. Selain itu, residu aflatoksin dan metabolitnya juga ditemukan pada produk peternak seperti susu. Umumnya mikotoksin bersifat kumulatif, sehingga efeknya tidak dapat dirasakan dalam waktu cepat dan sulit dibuktikan secara etiologi. Masalah lainnya, kontaminasi pada makanan tidak dapat terlihat sehingga tidak mudah untuk mengindikasi suatu makanan telah tercemar, kecuali dengan melakukan analisa laboratorium. Namun demikian, cemaran mikotoksin dapat diindikasikan dengan terlihatnya infestasi jamur meskipun adanya pertumbuhan jamur tidak selalu identik dengan produksi karena yang dihasilkan pada kondisi tertentu. Suatu bahan makanan dapat saja terdapat beberapa jenis jamur yang menghasilkan beberapa jenis mikotoksin yang saling berinteraksi dan saling memperkuat tingkat toksisitas (efek sinergis). Sejauh ini belum diketahui secara pasti berapa banyak penderita kanker hati atau lever dan ginjal yang disebabkan oleh racun jamur ini. Persoalannya karena mikotoksin bekerja secara akumulatif. Artinya, terus-menerus dan tidak bisa dipastikan dalam waktu yang singkat. Oleh karena alasan tersebut di atas, maka perlunya meningkatkan kewaspadaan dalam memilih bahan makanan atau makanan olahan yang akan dikonsumsi, dan tidak mengonsumsi makanan yang sudah kedaluwarsa atau yang disimpan terlalu lama. (Susiana Purwantisari, dari berbagai sumber13)

Sekilas Bahaya Mikotoksin

Mikotoksin, cukup familiar kita mendengar istilah ini. Mikotoksin bisa dimaknai sebagai zat metabolit sekunder yang dihasilkan oleh jamur dan bersifat racun (toksik). Saat terkonsumsi ayam, produktivitas ayam akan menurun, baik berupa hambatan pertumbuhan, penurunan produksi telur atau bahkan kematian. Tidak hanya itu, zat metabolit ini juga berperan sebagai immunosuppressant, yakni agen yang mampu melemahkan sistem kekebalan tubuh maupun menjadikan respon tubuh dalam pembentukan antibodi hasil vaksinasi kurang optimal. Akibatnya tubuh ayam menjadi lebih mudah terinfeksi bibit penyakit.

Jenis Mikotoksin

Aflatoksin merupakan salah satu contoh jenis mikotoksin yang paling banyak dibicarakan di Indonesia, meski sebenarnya masih ada lebih dari 300 mikotoksin (Dr Simon M Shane). Tabel 1 menunjukkan beberapa mikotoksin yang relatif sering dijumpai. Mikotoksin dapat muncul sepanjang alur pengadaan ransum, mulai penanaman, panen sampai penyimpanan. Bisa jadi sebelum bahan baku ransum dipanen, sudah terkontaminasi mikotoksin. Fusarium, penghasil mikotoksin jenis zearalenone, trichothecenes, fumonisin, merupakan contoh jamur yang paling sering mengkontaminasi selama masa penanaman. Sedangkan jamur yang sering mengkontaminasi selama di gudang penyimpanan ialah Aspergillus dan Penicillium yang menghasilkan aflatoksin dan ochratoksin. Berdasarkan data survei mikotoksin di Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam) pada 2009, menunjukkan bahwa aflatoksin B1 dan fumonisin paling sering ditemukan mengkontaminasi bahan baku ransum (jagung, gandum, bekatul, bungkil kedelai, corn gluten meal, DDGS) maupun ransum jadi dengan persentase sampel positif mencapai 52% dan 58%. Inilah yang menjawab pernyataan kenapa aflatoksin paling familiar di peternak kita.

Bahayanya Mikotoksin

Ayam pedaging yang mengkonsumsi ransum terkontaminasi mikotoksin terbukti pertumbuhannya terhambat. Hal ini setidaknya pernah dibuktikan dari percobaan yang dilakukan oleh Jones et al. (1982) pada tabel 2. Terlihat semakin besar konsentrasi aflatoksin, pertumbuhan ayam menjadi terhambat. Tabel 2. Pengaruh Aflatoksin terhadap Performan Ayam Pedaging

Sumber : Jones et al., 1982

Begitu pula pada ayam petelur. Adanya kontaminasi mikotoksin akan mengakibatkan penurunan produksi telur, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Kasus blood spot dapat dipicu karena aflatoksin. Kualitas kerabang telur juga menurun karena aflatoksin akan menghambat proses konversi vitamin D3 yang terkandung dalam ransum menjadi bentuk aktif. Adanya mikotoksin ini akan mengakibatkan penurunan kadar protein serum, lipoprotein dan karotenoid.

Kasus blood spot karena aflatoksin (sumber : WATT Pou ltry)

Bintik-bintik putih pada paru-paru karena serangan spora Aspergillus (Sumber : ThePoultrySite)

Ukuran bursa Fabricius lebih kecil (b) akibat aflatoksin dibandingkan normal (a) (Sumber : Anonimous)

Kematian akibat mikotoksin juga bukan suatu keniscayaan. Hal ini seringkali disebabkan kerusakan organ-organ vital ayam, seperti paru-paru, kantung udara, hati maupun ginjal. Selain itu, efek immunosuppressive juga mengakibatkan sistem pertahanan tubuh ayam lemah (mudah terinfeksi penyakit) dan pembentukan titer antibodi hasil vaksinasi menjadi kurang optimal.

Ochratoksin mengakibatkan ginjal bengkak dan pucat (Sumber : ThePoultrySite)

Yang Mesti Kita Lakukan

Kerugian yang besar akibat kontaminasi mikotoksin ini memaksa kita melakukan berbagai upaya untuk mencegahnya. Yah, untuk kasus mikotoksin pencegahan tumbuhnya jamur menjadi langkah awal terpenting yang harus kita lakukan. Mengapa? Saat jamur telah tumbuh pada bahan baku pakan maka bisa dipastikan mikotoksin telah terbentuk. Dan lagi, untuk membasmi jamur sangatlah mudah, misalnya dengan pemanasan, namun tidak demikian dengan mikotoksin yang memerlukan treatment yang lebih banyak, baik perlakuan fisik, kimia maupun biologi, sehingga kurang efisien. Beberapa langkah pencegahan yang bisa kita lakukan ialah

Melakukan pemeriksaan kualitas bahan baku secara rutin, terutama saat kedatangan bahan baku atau ransum. Hendaknya kita tidak segan untuk mereject jika ditemukan ransum yang terkontaminasi jamur, mengingat fenomena jamur ini seperti fenomena gunung es. Selain itu, pastikan kadar airnya tidak terlalu tinggi, > 14% sehingga bisa menekan pertumbuhan jamur Atur manajemen penyimpanan bahan baku ransum. Berikan alas ( pallet) pada tumpukan bahan baku dan atur posisi penyimpanan sesuai dengan waktu kedatangannya ( first in first out, FIFO). Perhatikan suhu dan kelembaban tempat penyimpanan. Hindari penggunaan karung tempat ransum secara berulang dan bersihkan gudang secara rutin. Saat ditemukan serangga, segera atasi mengingat serangga mampu merusak lapisan pelindung biji-bijian sehingga bisa memicu tumbuhnya jamur Saat kondisi cuaca tidak baik, terutama musim penghujan, tambahkan mold inhibitors (penghambat pertumbuhan jamur), seperti asam organik atau garam dari asam organik tersebut. Asam propionat merupakan mold inhibitors yang sering digunakan

Saat jamur dan mikotoksin telah ditemukan mengkontaminasi ransum, beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menekan efek mikotoksin ini antara lain :

Membuang ransum yang terkontaminasi jamur dengan konsentrasi tinggi, mengingat mikotoksin ini sifatnya sangat stabil Jika yang terkontaminasi sedikit, bisa dilakukan pencampuran dengan bahan baku atau ransum yang belum terkontaminasi. Tujuannya tidak lain untuk menurunkan konsentrasi mikotoksin. Namun yang perlu diperhatikan ialah bahan baku ini hendaknya segera diberikan ke ayam agar konsentrasi mikotoksin tidak meningkat Penambahan toxin binder (pengikat mikotoksin), seperti zeolit, bentonit, hydrate sodium calcium aluminosilicate (HSCAS) atau ekstrak dinding sel jamur. Antioksidan, seperti butyrated hidroxy toluene

(BHT), vitamin E dan selenium juga bisa ditambahkan untuk mengurangi efek mikotoksin, terutama aflatoksin, DON dan T-2 toxin Suplementasi vitamin, terutama vitamin larut lemak (A, D, E, K), asam amino (metionin dan penilalanin) maupun meningkatkan kadar protein dan lemak dalam ransum juga mampu menekan kerugian akibat mikotoksin. Aminovit dan Fortevit bisa menjadi pilihan

Mikotoksin ternyata mampu menurunkan produktivitas ayam, bahkan menjadikan ayam rentan terserang penyakit (immunosuppressive). Oleh karena itu, sudah selayaknya kita melakukan antisipasi terhadap kehadirannya. Salam.