Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR HIP A. KONSEP DASAR MEDIK 1.

DEFINISI Fraktur : Adalah diskontinuitas struktural pada tulang Hip : Adalah bagian dari tulang panggul yang berartikulasi dengan pangkal tulang femur pada asetabulum Fraktur Hip : Adalah suatu terminologi yang digunakan untuk menggambarkan fraktur tulang femur pada daerah ujung/pangkal proksimal yang meliputi kepala sendi, leher, dan daerah trochanter. (Sumber: NCP, Susan P.C., 1980, p. 698) 2. ANATOMI FISIOLOGI Tulang femur terdiri dari : a. Ujung atas b. Korpus c. Ujung bawah Ujung atas terdiri dari : Kaput Femur Massa yang membulat mengarah ke dalam dan keatas, tulang ini halus dan dilapisi dengan kartilago kecuali pada fovea, lubang kecil tempat melekatnya ligamen yang menghubungkan kaput ke area yang besar pada asetabulum dari tulang coxae. Di dalam kaput tersebut terdapat percabangan dari arteri retinakular posterior dan anterior, dan ligamentum teres serta arteri ligamentum teres. Kolum(leher) femur Korpus tulang mengarah ke bawah dan ke sebelah lateral menghubungkan kaput dan korpus. Trochanter mayor pada sisi lateral dan trochanter minor pada sisi medial merupakan tempat melekatnya otototot. Tulang femur bekerja sebagai alat ungkit dari tubuh sehingga memungkinkan untuk bergerak. Tulang hip dibungkus oleh serabut yang berbentuk kapsul, ligamen, dan otot. Bagian besar trochanter dalam pergerakannya dibantu oleh otot abduktor dan gerakan rotasinya terbatas. Bagian terkecil dari trochanter dalam pergerakannya dibantu oleh otot ileopsoas. 3. ETIOLOGI Secara umum fraktur disebabkan oleh : a. Benturan dan cedera (kecelakaan) b. Kelemahan/kerapuhan tulang akibat osteoporosis c. Patah karena letih, patah karena otot tidak dapat mengabsorpsi energi seperti karena berjalan kaki terlalu lama. Patah tulang panggul lebih sering pada wanita dari pada laki- laki, alasannya : a. Wanita memiliki tulang panggul lebih lebar yang cenderung mengalami coxa vara(deformitas dari hip dimana sudut antara leher dan batang tulang mengecil). b. Wanita mengalami perubahan hormon post menopausal dan berhubungan dengan meningkatnya insiden osteoporosis. c. Harapan hidup wanita lebih panjang dari pria.

Dalam beberapa literatur keperawatan medikal bedah diuraikan bahwa fraktur hip digolongkan dalam dua klasifikasi, yaitu: a. Intra kapsular Fraktur terjadi pada daerah yang masih berada dalam lingkup kapsul sendi yang meliputi: 1)Fraktur sub kapital b)Fraktur transervikal c)Fraktur basal leher b. Ekstra kapsular Fraktur terjadi di luar kapsul sendi panggul pada daerah sekitar 5 sentimeter di bawah trochanter minor. Fraktur ini juga disebut dengan fraktur intertrochanteric. Suplai darah kepada kaput femoris oleh arteri retunakular sangat penting. Penyaluran makanan ke pembuluh periosteal dan batang femur berlanjut ke trochanter dan ke bawah kolom femoris. Aliran darah ini bervariasi menurut umur. Pada fraktur di luar dan di dalam sendi panggul, suplai darah ke bagian kepala femur naik keatas melalui bagian leher sering terganggu terutama pada fraktur intra kapsular. Bila suplai darah terputus total maka dapat terjadi kematian atau nekrosis jaringan tulang kepala femur(kaput femoris), disebut Avascular necrosis. 5. TANDA DAN GEJALA a. Nyeri hebat pada daerah fraktur. b. Tak mampu menggerakkan kaki. c. Terjadi pemendekan karena kontraksi/spasmus otototot paha. d. Eksternal rotasi pada tungkai tersebut. e. Tanda-tanda lain sesuai dengan tanda fraktur pada umumnya, yaitu: 1) Nyeri bertambah hebat jika ditekan/raba 2) Perubahan bentuk/posisi berlebihan bila dibandingkan dengan keadaan normal. 3) Ada/tidak kulit yang terluka/terbuka di daerah fraktur. 4) Teraba panas pada jaringan yang sakit karena peningkatan vaskularisasi di daerah tersebut. 5) Pulsa/nadi pada daerah distal melemah/berkurang. 6) Kehilangan sensasi pada daerah distal karena jepitan saraf oleh fragmen tulang. 7) Krepitasi jika digerakkan (jangan melakukan pembuktian lebih lanjut jika pasti ada fraktur) 8) Perdarahan. 9) Hematoma, edema karena extravasasi darah dan cairan jaringan. 10) Tanda-tanda shock akibat cedera berat, kehilangan darah, atau akibat nyeri hebat. 11) Keterbatasan mobilisasi. 12) Terbukti fraktur lewat foto rontgen 6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Pemeriksaan darah lengkap Dilakukan untuk persiapan pre operasi. Dapat menunjukkan tingkat kehilangan darah hingga cedera (pemeriksaaan Hb dan Hct) Nilai leukosit meningkat sesuai respon tubuh terhadap cedera. 2. Golongan darah dan cross match Dilakukan sebagai persiapan transfudi darah jika

4. PATOFISIOLOGI

kehilangan darah yang bermakna akibat cedera atau tindakan pembedahan. 3. Pemeriksaan kimia darah. Sebagai persiapan pre operatif untuk mengkaji ketidak seimbangan akibat cedera yang dapat menimbulkan masalah pada saat intra operasi (misalnya, ketidak seimbangan potassium dapat meningkatkan iritasi cardiac selama anestesi) BUN creatinin untuk evaluasi fungsi ginjal. 4. Masa pembekuan dan perdarahan (clotting time, bleeding time) sebagai persiapan pre operasi, biasanya normal jika tak ada gangguan perdarahan. Pada pasien lanjut usia dapat diberikan terapi antikoagulan segera setelah post operasi untuk memperkecil terjadinya tromboemboli. 5. Pemeriksaan urine. Sebagai evaluasi awal fungsi ginjal. 6. Pemeriksaan X-ray dada. Sebagai evaluasi tingkat cedera, persiapan pre operasi, atau mengetahui kondisi selama perawatan pembedahan, dll.(misalnya, kardiomegali atau gagal jantung kongestif). 7. EKG Sebagai persiapan operasi maupun untuk mengevaluasi apakah terdapat juga cedera pada jantung (misalnya kontusio cardiac) disamping trauma/cedera pada hip. 7. KOMPLIKASI Kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur hip adalah: 1. Shock dan perdarahan. Pada saat terjadinya cedera atau segera sesudah operasi 2. Komplikasi immobilitas. Terutama pada usia lanjut, antara lain: a. Pneumonia b. Thromboplebitis c. Emboli pulmonal 3. Penyembuhan terlambat, non-union. Sering pada fraktur intrakapsular sembuh lebih lambat bila dibanding dengan fraktur ekstra kapsular karena adanya gangguan suplai darah. 4. Aseptic necrosis kepala femur. Merupakan komplikasi fraktur femur proksimal an dislokasi traumatik pada hip. 5. Deformitas, malposisi femur, arthritis sekunder. Displasemen fragmen tulang dapat menyebabkan deformitas, sedangkan trauma menyebabkan arthritis. 6. Masalah post operatif dengan alat-alat fiksasi internal. Fiksasi internal bisa melemah, patah, atau pindah tempat yang menyebabkan kerusakan jaringan lunak. Untuk ini perlu pembedahan ulang. 7. Ekstrim eksternal/internal rotasi dan adduksi. Sedangkan komplikasi lain yang dapat terjadi karena immobilisasi dan post operasi adalah: 1. Atelektasis 2. Infeksi Luka 3. Stasis atau infeksi saluran kemih 4. Kejang pada otot 8. TERAPI / PENGELOLAAN MEDIK Pemilihan alat fiksasi tergantung lokasi fraktur, potensial nekrosis avascular pada kepala sendi femur, dan kesukaan dokter yang merawat. Fraktur intrakapsular dengan impaksi

tanpa displasemen dapat disembuhkan cukup dengan bed rest saja. Jenis tindakan untuk jenis fraktur yang lain adalah sebagai berikut : 1. Stable plate and screw fixation : Dengan status nonweight bearingselama 6 minggu sampai 3 bulan 2. Telescoping nail fixation : Dengan status minimal weight bearing sampaipartial weight bearing selama 6 minggu sampai 3 bulan. 3. Prosthetic implant : Biasanya digunakan protesis Austin Moore atau protesis bi-polar untuk mengganti leher dan kepala sendi. Harus menjalani restriksi posisi dari 2 minggu sampai 2 bulan dan restriksipartial weight bearing sampai sekitar 2 bulan. 4. Closed reduction and external fixation (reduksi tertutup dengan fiksasi eksternal) dilakukan jika kondisi umum pasien tidak mengijinkan untuk menjalani pembedahan. (Med.Sur.Nursing, Barbara C.long) B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan Pada orang-orang lanjut usia sering disertai riwayat kesehatan seperti penyakit jantung, diabetes, hipertensi, yang bisa menyebabkan jatuh. b. Pola aktivitas dan latihan. - Ada riwayat jatuh ketika sedang beraktifitas atau kecelakaan lain. - Pada fraktur femur pangkal proximal kadang masih dapat berjalan tetapi tidak dapat menahan beban. - Pada fraktur batang femur biasanya tidak kuat berdiri/menahan beban. - Ada perubahan bentuk atau pemendekan pada tungkai yang terkena. c. Pola persepsi kognitif. - Biasanya mengeluh nyeri hebat pada lokasi tungkai yang terkena. - Mengeluh kesemutan atau baal pada lokasi tungkai yang terkena. d. Pola nilai kepercayaan. - Pada umumnya pasien menyatakan tidak percaya bahwa cederanya berat. - Pada pasien lanjut usia dengan tegas menyangkal dan akan segera sembih bila nyeri dapat diatasi tanpa pembedahan.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN: Preoperatif : a. Nyeri sehubungan dengan: - Spasmus otot - Pergerakan fragmen tulang, edema, dan luka jaringan lunak - Traksi/alat immobilisasi - Stress, kecemasan (NCP, M.E. Doenges) b. Potensial komplikasi preoperatif sehubungan dengan keadaan perlukaan(fraktur) akibat trauma (NCP, Nancy H.) c. Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang informasi tentang prosedur operasi(Med.Sur.Nsg.,Barbara C. Long)

Post operatif : a. Nyeri sehubungan dengan prosedur operasi (Med.Sur.Nsg.,Barbara C. Long) b. Gangguan mobilitas fisik sehubungan dengan perubahan status extremitas bawah sesudah operasi perbaikan. (Med.Sur.Nsg.,Barbara C. Long) c. Potensial komplikasi post operasi sehubungan dengan - Keadaan perlukaan akibat trauma - Intervensi pembedahan - Imobilitas (NCP, Nancy H.) d. Potensial infeksi sehubungan dengan gangguan integritas kulit(Med.Sur.Nsg., Donna, Marylin) e. Potensial gangguan perawatan di rumah sehubungan dengan situasi ketergantungan (Med.Sur.Nsg.,Barbara C. Long) f. Kurang pengetahuan sehubungan dengan perubahan tingkat aktivitas yang boleh dilakukan dan perawatan di rumah (NCP, Nancy H.)

lingkungan,retraining aktivitas harian adaptasi agar lebih mandiri. 4. PERENCANAAN Nyeri sehubungan dengan: Spasmus otot Pergerakan fragmen tulang, edema, dan luka jaringan lunak Traksi/alat immobilisasi Stress, kecemasan (NCP, M.E. Doenges) HYD: Memverbalisasikan berkurangnya nyeri Menunjukkan sikap yang relaks, mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan sesuai. Intervensi Rasional 1. Pertahankan Displasemen tulang, immobilisasi pada sisi pelebaran luka, dan paha yang fraktur nyeri hebat dapat terjadi 2. Evaluasi laporan Berpengaruh terhadap nyeri/ketidak nyamanan, pemilihan dan lokasi dan karakteristik, efektivitas intervensi. intensitas(skala 0-10), Tingkat kecemasan tanda nyeri nonverbal berpengaruh dalam (perubahan TTV, dan persepsi/reaksi emosi/tingkah laku) terhadap nyeri. 3. Dorong pasien Luka dapat sembuh untuk mendiskusikan atau memburuk masalah sehubungan dipengaruhi oleh sikap dengan perlukaan. pasien terhadap lukanya 4. Jelaskan prosedur Pasien siap mental dlm sebelum memulai beraktifitas dan mampu mengendalikan ketidak nyamanan. 5. Berikan medikasi Relaksasi otot sebelum akivitas diperlukan untuk keperawatan partisipasi aktivitas 6. Laksanakan Kekuatan dan mobilitas aktif/pasif ROM dengan memudahkan pengawasan penyembuhan inflamasi daerah luka. 7. Dorong penggunaan fokus perhatian, tehnik manajemen meningkatkan stress: tehnik pernafasan, kemampuan dll) pengendalian nyeri yang dapat berlangsung untuk waktu lama. 8. Identifikasi aktivitas Kebosanan, yang sesuai dengan ketegangan, pasien dan dan mengganggu self kesukaannya esteem, dan pola koping. 9. Kolaborasi: Berikan Nyeri dan/atau spasmus medikasi yg sesuai: otot menambah ketidak narkotik/non-narkotik: nyamanan AINS berikan narkotik sesuai jadwal selama 3-5 hari

3. DISCHARGE PLANNING: Persiapan Perawatan Di Rumah. Pasien lanjut usia dengan fraktur hip biasanya mendapat rujukan rehabilitasi. Perawat harus mengkomunikasikan rencana asuhan kepada fasilitas yagn akan melanjutkan rehabilitasi. Pasien tidak boleh dipulangkan untuk tinggal sendiri di rumah karena membutuhkan bantuan selama proses penyambuhan. Perawat mengkaji struktur rumah atas adanya barrier terhadap mobilitas pasien (mis. tangga, dll.). Pasien harus mampu bergerak bebas dengan alat bantu di dalam rumah. Penyuluhan pasien /keluarga. Perawat menyediakan instruksi tertulis tentang cara merawat diri. Keluarganya mendapat penyuluhan tentang cara menjaga/merawat bagian yang sakit. Perawatan luka di rumah dapat diatur sesuai perjanjian dengan RS atau referal ke instansi lain. Pasien harus mengetahui cara meningkatkan penyembuhan, mencegah komplikasi, mengenali tanda-tanda komplikasi, dan kapan dan dimana harus menghubungi tenaga kesehatan jika komplikasi terjadi. Persiapan Psikososial. Perawat mengatur perawatan lanjut di rumah, mis. konsultasi bagi pasien dengan depresi. Jika ada kerusakan jaringan yang parah maka perawat harus realistik dan menolong klien mengerti bahwa penyembuhan memerlukan waktu cukup lama, terutama jika terjadi infeksi. Keparahan dan penanganan yang kompleks dapat merongrong kondisi mental pasien dan keluarganya. Konseling kerja kadang diperlukan untuk membantu pasien mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kondisinya. Sumber-sumber Pelayanan Kesehatan. Pasien dengan cedera berat memerlukan perawatan lanjut di rumah oleh perawat komiunitas. Perawat mengidentifikasi jika manula memerlukan tenaga pembantu di rumah dan mengaturnya. Sangat penting bagi perawat untuk mengkomunikasikan kebutuhan pasien kepada perawat/pengasuh yang melanjutkan perawatan di rumah. Tenaga fisioterapi diperlukan dalam rehabilitasi. Tenaga terapist okupasi diperlukan untuk mengkaji

Potensial komplikasi preoperatif sehubungan dengan keadaan perlukaan(fraktur) akibat trauma (NCP, Nancy H.) HYD: Sebelum pembedahan : Respirasi normal atau jika abnormal masalahnya teratasi Menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil Perdarahan teratasi Temuan neurovaskular dalam batas yang diharapkan Memverbalisasikan berkurangnya rasa nyeri Mendapat penyuluhan dan persiapan operasi Intervensi Rasional 1. Pastikan adekuasi Kecelakaan ber-impak pernafasan. Auskulatasi tinggi dengan fraktur paru, laporkan temuan femur mempunyai yang patologi kepada insiden tinggi trauma dokter, dan siap untuk multisistem, termasuk memberikan dukungan pernafasan, jantung dan respirasi jika sistem saraf pusat. diperlukan. 2. Kaji adanya tandaFraktur femur tanda perdarahan, dan mempunyai hubungan pertahankan volume bermakna dengan sirkulasi. Laporkan kehilangan darah karena kenaikan denyut nadi, mempunyai pembuluh penurunan tekanan darah yang cukup besar. darah, pucat, Parameter yang disebut berkeringat, atau adalah sebagai tanda penurunan kesadaran. shock dan memerlukan Berikan dan intervensi segera. pertahankan masukan Cairan intravena untuk cairan intravena. Jika mempertahankan fraktur terbuka dengan keseimbangan cairan perdarahan aktif dan mengganti volume lakukan tekanan darah yang hilang. langsung pada luka dan laporkan dokter. 3. Kaji status Pembuluh darah dan neurovaskular syaraf pada fraktur ekstremitas. Perhatikan dapat diperparah oleh jika denyut tak ada, fragmen tulang, edema, bercak pada kulit, dan deformitas. cianosis, parestesis, atau pergeraka dapat rasa baal. Bandingkan memperparah denyut nadi secara perlukaan. Perfusi yang bilateral. Laporkan tidak adekuat dapat adanya defisit segera mengakibatkan kepada dokter. Hindari gangguan fungsi pergerakan yang tidak permanen. perlu. 4. Kendalikan nyerilihat DP nyeri 5. Jika fraktur Luka terbuka sangat terbuka, pastikan besar potensi infeksi pencegahan tetanus dan tetanus dan lainnya. infeksi sudah Balutan steril dipertimbangkan meminimalkan sebelum operasi. Balut kontaminasi bakteria luka secara steril lainnya lebih lanjut. 6. Siapkan pasien untuk menjalani pembedahan

Nyeri sehubungan dengan prosedur operasi HYD: Pasien menyatakan merasa nyaman Pasien mampu melaksanakan aktivitas post operasi

Intervensi 1. Kaji tingkat nyeri pasien dan evaluasi respon pasien thd tindakan pemberian rasa nyaman yang sudah dilakukan. 2. Ajarkan tehnik relaksasi yang sesuai

3. Gunakan tehnik pengurangan nyeri lainnya yang sesuai. Mis. gosok punggung, pengaturan posisi. 4. Kolaborasi: pemberian analgesik (biasanya narkotik) sesuai jadwal pada masa segera sesudah operasi

Rasional Data subyektif dan obyektif penting dalam mengatasi rasa nyeri post operasi dan menentukan manajemennya. Relaksasi mempermudah istirahat dan memperbaiki respon terhadap nyeri Perubahan stimulasi pada kulit dapat menghasilkan pengurangan nyeri. Biasanya perlu diberikan narkotik 4872jam pertama post operasi. Analgesi memepunyai efek lebih besar jika diberikan sebelum nyeri menjadi parah. Nyeri dapat dikendalikan dengan analgesik lebih ringan (dengan efek samping sedikit) jika nyeri sudah berkurang.

5. Kolaborasi: gunakan analgesik yang lebih ringan sesuai order jika nyeri sudah berkurang.

Potensial komplikasi post operasi sehubungan dengan Keadaan perlukaan akibat trauma Intervensi pembedahan Imobilitas HYD: Dalam 24 jam post operasi di ruangan: Tanda-tanda dalam batas normal Tak ada perdarahan berlebihan, gangguan neurovaskular, atau infeksi Nyeri terkendali Dapat melaksanakan nafas dalam dan batuk efektif Mempertahankan posisi yang tepat Dalam 24 jam post operasi: Melaksanakan latihan yang diperbolehkan Tak ada tanda dan gejala tromboemboli Memverbalisasikan pembatasan posisi Makan dan minum cukup secara oral jika mengijinkan. Intervensi 1. Kaji tanda-tanda vital sesuai protokol post pembedahan atau lebih Rasional Seperti yang telah disebutkan dapat mengakibatkan

sering jika tidak stabil. Cek pembalut dan drain atas adanya perdarahan. Laporkan adanya abnormalitas tanda vital, perdarahan berlebihan pada balutan, drain, adanya edema, atau ecchymosis. Kaji cedera yang berhubungan jika cedera melibatkan trauma pada bagian lain. 2. Kaji status neurovaskular sekurangkurangnya 1 jam sekali. Perhatikan melemahnya atau tak adanya denyut nadi, bercak kulit, cianosis, parestesia, baal, atau bertambahnya edema post operatif yang signifikan. Waspadai sindroma kompartemen: nyeri progresif yang yang dapat diperberat dengan peregangan, defisit sensori, paralisis, bengkakan keras, atau menurunnya denyut nadi distal. Hubungi dokter segara jika status pasien memburuk.

perdarahan hebat. Takikardia dan hipotensi merupakan petunjuk tidak adekuatnya penggantian cairan, kehilangan darah karena cedera dan pembedahan, atau cedera lain yang tak terdeteksi. Pengkajian neurovaskular memastikan penyesuaian intervensi. Peningkatan edema dapat menekan struktur vaskular dan mengganggu oksigenisasi jaringan. Diperlukan tindakan segera untuk memperbaiki sirkulasi. Sindroma kompartemen terjadi pembengkakan otot yang memperburuk sirkulasi dan menimbulkan iskemia. Ini dapat terjadi segera sesudah operasi atau beberapa hari sesudahnya. Untuk itu diperlukan tindakan fasciotomy. Infus berperan untuk mengganti cairan yang hilang karena perdarahan, status NPO, ancaman dehidrasi, atau kehilangan jaringan pada pembedahan, juga sebagai jalur untuk pemberian obat intravena. Antibiotik biasanya diberikan sesudah operasi, terutama pasien dengan fraktur terbuka, mencegah osteomyelitis. Perubahan kadang diperlukan untuk mengantisipasi adanya mikroorganisme patologis lain Imobilitas merupakan predisposisi bagi komplikasi post

Dorong pelaksanaan ROM lihat Pada DP Gangguan mobilitas fisik Gunakan stoking antiembolic sesuai order dokter Sediakan pegangan untuk membantu gerak pasien Dorong pelaksanaan nafas dalam dan batuk efektif tiap jam pada saat pasien tidak tidur Pastikan kecukupan intake cairan jika tak ada kontra indikasi. Catat intake dan output. 6. Observasi tanda dan gejala tromboemboli: Emboli lemak: takikardia, dispnea, nyeri pleuritik, pucat dan cianosis, petechiae, wheezing, nausea, syncope, lemas, perubahan mental, perubahan ECG, atau demam. Daerah yang sakit teraba dingin, kaku, dan pucat Emboli paru: nyeri pulmonal mendadak, dispnea, takikardia, batuk, henoptisis, cemas, syncope, perubahan ECG, hipotensi, atau demam Tromboplebitis: positif Hommans sign , nyeri pada betis, bengkak, atau kemerahan pada tungkai. Laporkan setiap tanda dan gejala diatas segera kepada dokter.

operasi. Latihan yang sesuai mengurangi stasis vena dan menjaga tonus otot

Pegangan berguna untuk bergerak Mencegah infeksi pernafasan dan akumulasi cairan. Mempertahankan hidrasi, mengencerkan sekret, fungsi renal, dan infeksi sal. Kemih

Emboli lemak terjadi lebih sering pada fraktur tulang panjang (3hari pertama). Mekanisme fisiologiknya tak diketahui. Emboli dapat terjadi di paru, jantung, otak, atau ekstremitas. Emboli paru biasanya terjadi belakangan antara 10-24 hari sesudah cedera

3. Pertahankan kepatenan infus dan berikan cairan sesuai order sekurangnya 24 jam pertama post operasi

4. Berikan antibiotik sesuai order, observasi daerah luka, dan laporkan adanya peningkatan pembengkakan, eritema, demam, cairan purulen, atau tanda-tanda infeksi lainnya.

5. Cegah komplikasi yang berhubungan dengan imobilitasi :

7. Pertahankan imobilisasi yang tepat pada bagian yang sakit tergantung tempat fraktur dan jenis pembedahan. Umumnya hindari adduksi, rotasi eksternal, fleksi hip mendadak. 8. Observasi dan lapor segera jika mendadak terjadi: Nyeri hebat, pemendekan atau rotasi

Biasa terjadi pada tungkai sebagai akibat pembentukan bekuan dan menyumbat vena superfiisial maupun vena besar. Intervensi segera perlu dilakukan karena komplikasi dapat mengancam kehidupan. Pergerakan tersebut dapat menyebabkan displasemen dan mempengaruhi proses penyembuhan.

Merupakan tanda dislokasi atau nekrosis kepala sendi. Diperlukan intervensi

pada sisi tungkai yang sakit, atau spasmus otot yang persisten. 9. Dorong intake nutrisi adekuat, terutama makanan kaya protein, vitamin, dan mineral.

segera untuk mencegah kerusakan permanen. Proses penyembuhan memerlukan tambahan nutrisi. Defisit vitamin dan mineral menghambat penyembuhan dan dapat menyebabkan osteomalasia.

Gangguan mobilitas fisik sehubungan dengan perubahan status extremitas bawah sesudah operasi perbaikan.(Med.Sur.,Barbara C. Long) HYD: Pasien mendemonstrasikan tingkat mobilitas optimal dengan alat adaptivedengan pembatasan aktivitas yang dianjurkan pada saat pulang dari RS. Tak terjadi cedera selama dirawat di RS Intervensi 1. Ajak pasien melaksanakan latihan nafas dalam dan batuk efektif tiap 1-2 jam sampai ambulasi penuh 2. Dorong pasien untuk melaksanakan secara aktif: dorsifleksi, palantar fleksi, setting quadrisep isometrik dan gluteal, dan aktif ROM pada bagian yang tidak sakit 2x/hari sampai awal ambulasi 3. Dapatkan dari dokter mengenai batas gerakan dan pembebanan berat yang diperbolehkan, dan perlu diingat pedoman berikut ini: Fleksi hip biasanya dibatasi max. 90 selama 2-3 bulan Adduksi melebihi midlinedil arang selama 2-3 bulan. Rotasi internal dan external secara ekstrem dilarang selama 2-3 bulan Partial weight bearing pada bagian yang sakit dengan Rasional Jika dilaksanakan dengan tepat dan interval yang benar, latihan pulmonal dapat mencegah atelektasis dan pnemonia. Latihan meningkatkan venous return, mencegah pembentukan trombus, dan menolong mempertahakan tonus otot

Restriksi dalam pengaturan posisi dirancang untuk mencegah dislokasi protesa atau kepala sendi pada hip

bantuan walker atau kruk biasanya diobservasi selama 2-3 bulan 4. Alih posisi pasien dari punggung ke sisi tubuh yang tidak sakit tiap 2jam atau p.r.n. 5. Ketika alih posisi, tahan kaki yang dioperasi dalam posisi abduksi, gunakan bantal untuk mempertahankan posisi abduksi 30 jika alih posisi sudah dilakukan. 6. Bantu pasien berjalan mempergunakan alat ambulasi yang tepat. Mulai ambulasi pada hari pertama atau kedua post operasi dan tingkatkan frekuensi ambulasi maupun jarak yang dapat ditoleransi pasien. 7. Mulai duduk ketika pasien menunjukkan pengendalian yang cukup pada bagian yang sakit untuk duduk dalam batas fleksi yang danjurkan 8. Naikkan permukaan tempat duduk dengan bantal untuk mempertahankan sudut hip dalam batas anjuran.

Alih/pengaturan posisi dapat meningkatkan sirkulasi, usaha bernafas, dan aktivitas otot.

Mencegah adduksi tungkai bawah

Aktivitas post operasi yang awal, termasuk jalan, dapat mempercepat recovery(pem ulihan) dan mencegah komplikasi post operatif.

Dipersiapkan untuk pulang dan meyakinkan pasien dapat duduk dalam batas fleksi anjuran

Membatasi fleksi tak lebih dari 90

Potensial infeksi sehubungan dengan gangguan integritas kulit (Med.Sur.Nsg., Donna, Marylin) HYD: Pasien tidak akan mengalami infeksi luka operasi. Tak ada tanda dan gejala infeksi luka Mengalami penyembuhan tanpa komplikasi Intervensi Rasional 1. Inspeksi balutan Cairan purulen operasi atas pengeluaran menunjukkan adanya cairan, catat jenis dan infeksi luka banyaknya 2. Monitor dan ukur Drain mengeluarkan cairan drainase, exudat yang bisa

misalnya hemovac (jaga suction tetap bertekanan untuk mencegah pembentukan hematoma) 3. Setelah melepas pembalut, inspeksi insisi terhadap adanya kemerahan, pembengkakan, dan hangat. 4. Ganti balutan dengan tehnik aseptik. 5. Monitor TTV tiap 4 jam

menjadi medium bagi pertumbuhan kuman.

Tanda inflamasi dapat menunjukkan adanya proses infeksi

Keadaan steril mengurangi peluang infeksi. Kenaikan suhu dan nadi menunjukkan adanya infeksi.

Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang informasi tentang prosedur operasi(Med.Sur.,Barbara C. Long) HYD: Pasien dapat menjelaskan isi penyuluhan oleh perawat tentang persiapan operasi, operasi dan perawatan post operasi Pasien menyatakan berkurangnya rasa cemas yang berhubungan dengan miskonsepsi tentang pembedahan dan masa pemulihan Intervensi 1. Kaji kebutuhan instruksi dan berikan sesuai kebutuhan. 2. Sediakan informasi tertulis mengenai pembedahan jika institusi menyediakan 3. Bahas instruksi pre operatif dengan pasien dan keluarganya sebelum pembedahan 4. Evaluasi pemahaman pasien mengenai informasi yang sudah diberikan Rasional Pemahaman prosedur pembedahan dan perawatan post operatif dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan keinginan untuk sembuh dan pulih bagi pasien sesudah tindakan pembedahan.

3. Tentukan dengan pasien jenis peralatan dan pelayanan yang diperlukan yang dibutuhkan untuk di rumah(mis. kruk, walker, peninggian toilet, fisioterapi, dan lai-lain) 4. Kaji perkembangan pasien secara reguler untuk memastikan apakah kemampuan fungsionalnya sesuai untuk pelaksanaan renca di atas. 5. Libatkan bagian lain yang sesuai (mis. bagian sosial medik) untuk mendapatkan bantuan jika pasien pada awalnya belum mampu melaksanakan rencana yang sudah ditentukan untuk di rumah. Kurang pengetahuan sehubungan dengan perubahan tingkat aktivitas yang boleh dilakukan dan perawatan di rumah (NCP, Nancy H.) HYD: Pada saat pulang pasien akan: Menyatakan dan mendemonstrasikan pemahaman tentang pengaturan posisi, pembatasan gerak, atau perawatan luka Menyatakan pemahamannya tentang jenis diet dan pengobatan yang harus dijalani Dapat mengidentifikasi tanda dan gejala komplikasi Mendapat keperluan untuk referal dan follow-up. Intervensi 1. Berikan penyuluhan kepada pasien dan keluarganya tentang : pengaturan posisi, pembatasan aktivitas, cara pemakaian kruk/walker, diet, komplikasi, dan medikasi/pengobatan. Perhatikan rekomendasi dokter dan laksanakan penyuluhan sepanjang masa perawatan di rumah sakit Rasional Rekomendasi perawatan di rumah bervariasi tergantung keadaan fraktur dan pembedahan, umur dan kondisi pasien, dan kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya. Pasien biasanya lebih responsif terhadap instruksi yang berulang dan berkelanjutan selama dirawat di rumah sakit dari pada memberikan sejumlah besar informasi dalam waktu yang sama. Tergantung kepada

Potensial gangguan perawatan di rumah sehubungan dengan situasi ketergantungan (Med.Sur.,Barbara C. Long) HYD: Pasien dan keluarganya menyatakan puas dengan rencana yang diatur untuk mempermudah perawatan di rumah. Intervensi Rasional 1. Diskusikan dengan Rencana pulang yang pesien dan keluarganya adekuat dapat mengenai rencana memberikan hasil mereka untuk perawatan optimal untuk di rumah mencapai pelaksanaan 2. Tentukan bersama rehabilitasi di rumah pasien apa yang harus dan mendapat bantuan dilakukan untuk diri sesuai dengan yang di sendiri untuk pulang ke butuhkan. rumah.

2.

Kaji sumber-sumber

untuk perawatan di rumah, dan buat rujukan-rujukan yang sesuai.

faktor-faktor yang disebutkan di atas dan sistem pendukung dalam keluarga. Kadang pasien memerlukan bantuan medis dan perawatan, atau follow-up lainnya untuk memastikan pemulihan tanpa komplikasi

REFERENSI Joan Luckman, R.N., M.A., Karen C. Sorensen, R.N., M.N., Medical-Surgical Nursing: A psychohysiological Approach, Philadelphia: W.B. Saunders Company, 1987 Wilma J. Phipps, PH.D., R.N., F.A.A.N., Barbara C. Long M.S.N., R.N.,Medical-Surgical Nursing: Concept and Clinical Practice, fourth edition, Missouri: Mosby-Year Book, Inc, 1991 Donna D. Ignatavicius, Marylin V.B., Medical Surgical Nursing: A Nursing Process Approach, Pensylvania: WB Saunders Company, 1991. Nancy M. Holloway, RN, MSN, CCRN, CEN., Medical Surgical Care Plan.Pennsylvania: Springhouse Corporation, 1988 John Gibson, MD, Anatomi dan Fisiologi Modern Untuk Perawat, Edisi ke 2, Jakarta, 1995 Marilynn E. Doenges, Mary F. Mooerhouse, Nursing Care Plan. Edition 3, Philadhelphia: F.A.Davis Company, 1993

A. Pendahuluan 1. Pengertian Fraktur a. Fraktur adalah Terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. (Sjamsuhidajat R., 1997)

b. Fraktur adalah Patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik.(Price and Wilson, 2006). c. Fraktur adalah Terputusnya kontinuitas tulang dan tulang rawan (Mansjoer,dkk, 2000) 2. Penyebab patah tulang (Barbara, 1999) a. Fraktur terjadi ketika tekanan yang menimpa tulang lebih besar daripada daya tahan tulang, seperti benturan dan cedera. b. Fraktur terjadi karena tulang yang sakit, ini dinamakan fraktur patologi yaitu kelemahan tulang akibat penyakit kanker atau osteoporosis. 3. Jenis-jenis fraktur (Smeltzer and Bare, 2003) a. Fraktur komplit adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya megalami pergeseran (bergeser dari posisi normal). b. Fraktur Tidak komplit (inkomplit) adalah patah yang hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang. c. Fraktur tertutup (fraktur simple) tidak menyebabkan robeknya kulit d. Fraktur terbuka (fraktur komplikata/kompleks) merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau mebran mukosa sampai ke patahan kaki. 1) Fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat, yaitu : Derajat I : Luka < 1 cm Kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka remuk Fraktur sederhana, tranversal, oblik, atau kominutif ringan Kontaminasi minimal Derajat II : laserasi > 1 cm Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/avulse Fraktur kominutif sedang Kontaminasi sedang Derajat III : Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot. dan neurovascular serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat tiga terbagi atas : Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat laserasi luas/flap/avulse atau fraktur segmental/sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka. Kehilangann jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi massif.Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak. e. Sesuai pergerseran anatomisnya fraktur dibedakan menjadi tulang bergeser/tidak bergeser. Jenis khusus fraktur dibagi menjadi: 1) Greensick, fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok. 2) Transversal, fraktur sepanjang garis tengah tulang. 3) Oblik, fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang (lebih tidak stabil dibanding transversal). 4) Spiral, fraktur memuntir seputar batang tulang. 5) Kominutif, fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen. 6) Depresi, fraktur dengan fragmen patahan terdorng ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah).

7) Kompresi, fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang). 8) Patologik, fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, penyakit Paget, metastasi tulang, tumor). 9) Avulsi, tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada perlengkatannya. 10) Epfiseal, fraktur melalui epifisis 11) Impaksi, fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya

Bilas abdomen umumnya dilakukan untuk mengkaji adanya perdarahan diseluruh abdomen yang mengalami luka, dengan cara memasukkan cairan kristaloid ke dalam rongga peritoneum diikuti dengan paracentesis (rainase isi abdomen).Catat dan dokumentasikan warna dan jumlah drainase.

1. DEFINISI Fraktur pelvis berhubungan dengan injuri arteri mayor, saluran kemih bagian bawah, uterus, testis, anorektal dinding abdomen, dan tulang belakang. Dapat menyebabkan hemoragi (pelvis dapat menahan sebanyak + 4 liter darah) dan umumnya timbul manifestasi klinis seperti hipotensi, nyeri dengan penekanan pada pelvis, perdarahan peritoneum atau saluran kemih. Fraktur pelvis berkekuatan-tinggi merupakan cedera yang membahayakan jiwa. Perdarahan luas sehubungan dengan fraktur pelvis relatif umum namun terutama lazim dengan fraktur berkekuatan-tinggi. Kira-kira 1530% pasien dengan cedera pelvis berkekuatan-tinggi tidak stabil secara hemodinamik, yang mungkin secara langsung dihubungkan dengan hilangnya darah dari cedera pelvis. Perdarahan merupakan penyebab utama kematian pada pasien dengan fraktur pelvis, dengan keseluruhan angka kematian antara 6-35% pada fraktur pelvis berkekuatan-tinggi rangkaian besar. 2. ETIOLOGI Trauma langsung: benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur pada tempat tersebut. Trauma tidak langsung: bilamana titik tumpul benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan. Proses penyakit: kanker dan riketsia. Compresion force: klien yang melompat dari tempat ketinggian dapat mengakibatkan fraktur kompresi tulang belakang. Muscle (otot): akibat injuri/sakit terjadi regangan otot yang kuat sehingga dapat menyebabkan fraktur (misal; elektrik shock dan tetani).

4. KOMPLIKASI 1. Komplikasi awal a) Shock Hipovolemik/traumatik Fraktur (ekstrimitas, vertebra, pelvis, femur) perdarahan kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak shock hipovolemi. b) Emboli lemak c) Tromboemboli vena Berhubungan dengan penurunan aktivitas/kontraksi otot/bedrest. d) Infeksi Fraktur terbuka: kontaminasi infeksi sehingga perlu monitor tanda infeksi dan terapi antibiotik. e) Sindrom kompartemen

2. Komplikasi lambat a. Delayed union Proses penyembuhan fraktur sangat lambat dari yang diharapkan biasanya lebih dari 4 bulan. Proses ini berhubungan dengan proses infeksi. Distraksi/tarikan bagian fragmen tulang. b. Non union Proses penyembuhan gagal meskipun sudah diberi pengobatan. Hal ini disebabkan oleh fibrous union atau pseudoarthrosis. c. Mal union Proses penyembuhan terjadi tetapi tidak memuaskan (ada perubahan bentuk). d. Nekrosis avaskuler di tulang Karena suplai darah menurun sehingga menurunkan fungsi tulang. 6. PENCEGAHAN Pencegahan fraktur pelvis yaitu: dengan membuat lingkungan lebih aman mengajarkan kepada masyarakat secara berkesinambungan mengenai pada saat bekerja berat. 7. PENATALAKSANAAN 1. Rekognisi: menyangkut diagnosa fraktur pada tempat kejadian kecelakaan dan kemudian di rumah sakit. a. Riwayat kecelakaan b. Parah tidaknya luka c. Diskripsi kejadian oleh pasien d. Menentukan kemungkinan tulang yang patah e. Krepitus

3. MANIFESTASI KLINIS Pengkajian awal yang perlu dilakukan adalah riwayat kecelakaan sehingga luasnya trauma tumpul dapat diperkirakan. Sedangkan untuk trauma penetrasi, pengkajian yang perlu dilakukan adalah posisi masuknya dan kedalaman. Klien dapat menunjukkan trauma abdomen akut. Pada kedua tipe trauma terjadi hemoragi baik baik internal maupun eksternal. Jika terjadi rupture perineum, manifestasi peritonitis berisiko muncul,seluruh drainase abdomen perlu dikaji untuk mengetahui isi drainase tersebut.

2. Reduksi: reposisi fragmen fraktur sedekat mungkin dengan letak normalnya. Reduksi terbagi menjadi dua yaitu: a. Reduksi tertutup: untuk mensejajarkan tulang secara manual dengan traksi atau gips b. Reduksi terbuka: dengan metode insisi dibuat dan diluruskan melalui pembedahan, biasanya melalui internal fiksasi dengan alat misalnya; pin, plat yang langsung kedalam medula tulang. 3. Retensi: menyatakan metode-metode yang dilaksanakan untuk mempertahankan fragmen-fragmen tersebut selama penyembuhan (gips/traksi) 4. Rehabilitasi: langsung dimulai segera dan sudah dilaksanakan bersamaan dengan pengobatan fraktur karena sering kali pengaruh cedera dan program pengobatan hasilnya kurang sempurna (latihan gerak dengan kruck). 8. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS 1) Pemeriksaan rontgen: menentukan lokasi/luasnya fraktur/trauma 2) Kreatinin: trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal 3) Hitung darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple). Peningkatan jumlah SDP adalah respons stress normal setelah trauma. 4) CT scan merupakan pemeriksaan diagnostic yang perlu dilakukan untuk mengkaji injuri intrra abdomen Angiografi, pielografi intravena dan pemeriksaan lain dapat dilakukan untuk mengkaji derajat trauma pada organ yangberbeda. 9. PENGKAJIAN Asuhan keperawatan adalah bantuan, bimbingan, penyuluhan, perlindungan yang diberikan oleh seorang perawat untuk memenuhi kebutuhan pasien atau klien dengan menggunakan metode proses keperawatan. (Nasrul Efendy, 1995) 1. Pengkajian pada Pasien Fraktur Menurut Doengoes, ME (2000) pengkajian fraktur meliputi : Aktivitas/istirahat Tanda : Keterbatasan/ kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera, fraktur itu sendiri, atau trjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan, nyeri) Sirkulasi Gejala : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ansietas), atau hipotensi (kehingan darah) Neurosensori Gejala : Hilang gerak/sensasi,spasme otot Kebas/kesemutan (parestesis) Tanda : Demormitas local; angulasi abnormal, pemendakan,ratotasi,krepitasi (bunyi berderit, spasme otot, terlihat kelemahan atau hilang fungsi). Nyeri/kenyamanan Gejala : Nyeri berat tiba-tiba pada saat cidera ( mungkin terlokalisasi pada arah jaringan/kerusakan tulang;

dapat berkurang pada imobilisasi) tak ada nyeri akibat kerusakan saraf. Penyuluhan/Pembelajaran Gejala : Lingkungan cidera Pertimbangan : DRG menunjukkan rerata lama dirawat : femur 7-8 hari, panggul/pelvis 6-7 hari, lainlainya 4 hari bila memerlukan perawatan dirumah sakit. 2.4 Klasifikasi Klasifikasi fraktur femur : 1 1. Fraktur intrakapsular, fraktur ini terjadi di kapsul sendi pinggul a. Fraktur kapital : fraktur pada kaput femur b. Fraktur subkapital : fraktur yang terletak di bawah kaput femur c. Fraktur transervikal : fraktur pada kolum femur 2. Fraktur ekstrakapsular, fraktur yang terjadi di luar kapsul sendi pinggul a. Fraktur sepanjang trokanter mayor dan minor b. Fraktur intertrokanter c. Fraktur subtrokanter Tanda Dan Gejala Adapun tanda dan gejala dari fraktur menurut Smeltzer & Bare (2001) antara lain: 1) Deformitas 2) Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan dan kontur terjadi seperti : a. Rotasi pemendekan tulang b. Penekanan tulang 3) Bengkak 4) Edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur 5) Ekimosis dari perdarahan subculaneous 6) Spasme otot, spasme involunters dekat fraktur 7) Tenderness 8) Nyeri mungkin disebabkan oleh spame otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan. 9) Kehilangan sensani (mati rasa, mungkin terjadi dari rusaknya saraf/ perdarahan). 10) Pergerakan abnormal 11) Shock hipovolemik hasil dari hilangnya darah 12) Krepitasi Definisi Patah tulang panggul adalah gangguan struktur tulang dari pelvis.Pada orang tua, penyebab paling umum adalah jatuh dari posisi berdiri. Namun, fraktur yang berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas terbesar melibatkan pasukan yangsignifikan misalnya dari kecelakaan kendaraan bermotor atau jatuh dari ketinggian. Etiologi Dengan makin meningkatnya kecelakaan lalu lintas mengakibatkan dislokasi sendi panggul sering ditemukan.Dislokasi panggul merupakan suatu trauma hebat.Patah tulang pelvis harus dicurigai apabila ada

riwayat trauma yang menekan tubuh bagian bawah atau apabila terdapatluka serut, memar, atau hematom di daerah pinggang, sacrum, pubis atau perineum. Epidemiologi Dua pertiga dari fraktur panggul terjadi akibat kecelakaan lalu lintas.Sepuluh persen diantaranya di sertai trauma pada alat-alat dalam rongga panggul seperti uretra,bulibuli,rektum serta pembuluh darah dengan angka mortalitas sekitar 10 %. Patogenesis Trauma biasanya terjadi secara langsung pada panggul karena tekanan yang besar atau karena jatuh dari ketinggian .Pada orang tua dengan osteoporosis atauosteomalasia dapat terjadi fraktur stres pada ramus pubis.oleh karena rigiditas panggulmaka keretakan pada salah satu bagian cincin akan disertai robekan pada titik lain,kecuali pada trauma langsung .Sering titik kedua tidak terlihat dengan jelas ataumungkin terjadi robekan sebagian atau terjadi reduksi spontan pada sendi sakro iliaka Mekanisme trauma pada cincin panggul terdiri atas:Kompresi anteroposterior Hal ini biasanya terjadi akibat tabrakan antara seorang pejalan kaki kendaraan.ramus pubis mengalami fraktur ,tulang inominata terbelah dan mengalami rotasieksterna disertai robekan simfisis .keadaan ini disebut sebagai open book injury.Bagian posterior ligamen sakro iliaka mengalami robekan parsial atau dapat disertaifraktur bagian belakang ilium.Kompresi lateralKompresi dari samping akan menyebabkan cincin mengalami keretakan .Hal initerjadi apabila ada trauma samping karena kecelakaan lalu lintas atau jatuh dariketinggian .Pada keadaan ini ramus pubis bagian depan pada kedua sisinya mengalamifraktur dan bagian belakang terdapat strain dari sendi sakro iliaka atau fraktur iliumatau dapat pula fraktur ramus pubis pada sisi yang sama.Trauma vertikalTulang inominata pada satu sisi mengalami pergerakan secara vertikal disertaifraktur ramus pubis dan disrupsi sendi sakro iliaka pada sisi yang sama.hal ini terjadiapabila seseorang jatuh dari ketinggian pada satu tungkai.Trauma kombinasiPada trauma yang lebih hebat dapat terjadi kombinasi kelainan diatas. Patofisiologi Tulang panggul terdiri dari ilium (yaitu, sayap iliaka), iskium, dan pubis, yangmerupakan cincin anatomis dengan sacrum. Gangguan dari cincin ini membutuhkanenergi yang signifikan. Karena pasukan yang terlibat, patah tulang panggul seringmelibatkan cedera pada organ terkandung dalam tulang panggul. Selain itu, trauma pada organ ekstrapanggul adalah umum. patah tulang panggul sering dikaitkandengan perdarahan parah akibat suplai darah yang luas untuk wilayah tersebut. Manifestasi Klinis Fraktur panggul sering merupakan bagian dari salah satu trauma multipel yangdapat mengenai organ-organ lain dalam panggul .keluhan berupa gejala pembengkakan ,deformitas serta perdarahan subkutan sekitar panggul

.Penderitadatang dalam keadaan anemi dan syok karena perdarahan yang hebat.terdapatgangguan fungsi anggota gerak bawah. Mekanisme trauma Dislokasi posterior dan dan dislokasi posterior disertai adanyafraktur adalah kaput femur dipaksa keluar ke belakang asetabulum melalui suatutrauma yang dihantarkan pada diafisis femur dimana sendi pinggul dalama posisifleksi atau semifleksi. Trauma biasanya terjadi karena kecelakaan lalu lintas dimanalutut penumpang dalam keadaan fleksi dan menabrak dengan keras yang beradadibagian depan lutut. Kelainan ini juga dapat terjadi sewaktu mengendarai motor.50%dislokasi disertai fraktur pada pinggir asetabulum dengan fragmen kecil atau besar.Penderita biasanya datang setelah suatu trauma yang hebat disertai nyeri dandeformitas pada daerah sendi panggul.Sendi panggul teraba menonjol kebelakangdalam posisi adduksi, fleksi dan rotasi interna .terdapat pemendekan anggota gerak bawah. Dengan pemeriksaan rontgen akan diketahui jenis dislokasi dan apakahdislokasi disertai fraktur atau tidak.2.

Sebagai penduduk usia, jumlah patah tulang panggul yang terjadi setiap tahun meningkat. Sebuah fraktur pinggul dalam dewasa penuaan bukan hanya patah tulang. Ini adalah penyakit yang mengancam jiwa. Yang patah tulang pinggul sendiri jarang masalah yang sulit untuk memecahkan. Tapi begitu fraktur tersebut terjadi, ia membawa dengan itu semua komplikasi medis potensial yang dapat muncul ketika pasien penuaan terbatas tidur. Komplikasi adalah apa yang dapat mengubah istirahat yang sederhana menjadi sebuah penyakit yang mengancam jiwa. Patah tulang pinggul pada anak-anak dan orang dewasa muda jauh berbeda. Informasi dalam dokumen ini hanya berlaku untuk patah tulang pinggul pada orang tua. Panduan ini akan membantu Anda memahami bagaimana terjadi patah tulang pinggul bagaimana dokter mendiagnosa masalah apa pilihan pengobatan yang tersedia Anatomi Bagaimana cara kerja hip? Sendi pinggul adalah salah satu sendi bola-dan-socket benar tubuh. Soket pinggul disebut acetabulum dan bentuk cangkir yang mendalam yang mengelilingi bola dari tulang paha atas, atau kepala femoralis. Kepala femoralis terpasang ke seluruh femur oleh bagian pendek tulang yang disebut leher femoralis. Benjolan di bagian luar femur tepat di bawah leher femoralis disebut trokanter lebih besar. Ini adalah tempat otot-otot pantat besar yang melekat pada femur. otot-otot tebal dari pantat di belakang dan otot-otot tebal paha di depan sekitar pinggul. Permukaan kepala femoral dan bagian dalam acetabulum tersebut ditutupi dengan kartilago artikular. Materi ini adalah tentang satuseperempat inci tebal sendi yang paling besar. tulang rawan artikular adalah material, sulit licin yang memungkinkan permukaan untuk meluncur terhadap satu sama lain tanpa kerusakan. Semua suplai darah ke kepala femoralis (bagian bola pinggul) datang melalui leher femur. Jika ini suplai darah rusak, ada cadangan ada. Salah satu masalah dengan

pinggul patah tulang adalah kerusakan yang dapat terjadi pada pembuluh-pembuluh darah ketika istirahat pinggul. Hal ini dapat mengakibatkan tulang kepala femoralis benarbenar sekarat. Setelah ini terjadi, tulang tidak lagi mampu mempertahankan dirinya. Hal ini dapat mengakibatkan salah satu komplikasi patah tulang pinggul yang disebut nekrosis avaskular (AVN). Penyebab Mengapa saya punya masalah ini? Cedera adalah penyebab yang jelas patah tulang pinggul. Pada populasi lanjut usia, cedera dapat hasil dari sesuatu sebagai keseimbangan satu kalah sederhana dan jatuh ke tanah. Sementara banyak patah tulang pinggul mungkin terjadi dengan cara ini, benar juga bahwa musim gugur yang mungkin terjadi sebagai akibat dari retak pinggul. hip itu benar-benar istirahat pertama, menyebabkan orang jatuh. Osteoporosis dapat melemahkan leher femur ke titik bahwa setiap stres meningkat dapat menyebabkan leher tulang paha untuk istirahat tiba-tiba. Sebuah langkah yang tidak menentu dapat mengakibatkan twist untuk sendi pinggul yang menempatkan terlalu banyak tekanan di leher femur. Istirahat leher femoralis, dan pasien jatuh ke tanah. Ini terjadi sangat cepat sehingga tidak jelas kepada pasien apakah jatuh atau istirahat pertama terjadi. Gejala Apa yang patah tulang pinggul merasa seperti? Sebuah patah tulang pinggul, seperti patah tulang, menyebabkan rasa sakit. fraktur tersebut membuat menempatkan berat di kaki sangat sulit. Ketika patah tulang pinggul terjadi pada orang dewasa tua yang tinggal sendirian, mungkin jam sebelum orang menemukan pasien. Pasien kadang tidak bisa menjawab telepon agar memberitahukan siapapun. Ini adalah situasi yang mengancam jiwa pertama. Situasi ini dapat menyebabkan dehidrasi, atau jika fraktur terjadi di luar lingkungan dingin, pasien dapat mengembangkan hipotermia. Kedua kondisi ini dapat mematikan. Diagnosa Bagaimana dokter mengidentifikasi masalah? Diagnosis patah tulang pinggul biasanya terjadi di ruang gawat darurat. Diagnosis dimulai dengan sejarah dan pemeriksaan fisik. Adalah penting bahwa dokter diberitahu masalah medis lainnya pasien sehingga pengobatan patah tulang panggul dapat direncanakan. Sebagian besar informasi dari sejarah dan pemeriksaan fisik akan digunakan untuk mencoba untuk mengevaluasi secara keseluruhan kondisi fisik pasien. Pengujian seperti sinar-X dada, kerja darah, dan electrocardiograms mungkin diperintahkan untuk menilai kondisi keseluruhan pasien. Sinar-X biasanya digunakan untuk menentukan apakah telah terjadi patah tulang pinggul dan, jika demikian, apa jenis patahan itu. Ahli bedah ortopedi akan menggunakan sinar-X untuk menentukan apakah prosedur bedah akan diperlukan dan untuk memutuskan apa jenis prosedur untuk menyarankan. Dalam beberapa kasus, sinar-X mungkin tidak menunjukkan fraktur. Jika pinggul terus sakit dan dokter curiga bahwa patah tulang pinggul hadir, Magnetic Resonance Imaging (MRI) mungkin disarankan. Pemindai MRI menggunakan gelombang magnetik daripada radiasi untuk mengambil beberapa gambar tulang pinggul. Mesin

MRI sangat sensitif dan dapat menunjukkan fraktur yang tidak muncul pada reguler sinar-X. Tes ini dilakukan untuk memastikan tidak ada patah tulang sebelum mengizinkan pasien untuk meletakkan beban pada kaki. Berjalan pada pinggul patah dapat menyebabkan dua sisi fraktur untuk menggantikan, atau bergerak terpisah, sehingga mereka tidak sejalan lagi dengan benar. Sebuah rekahan yang belum pengungsi jauh lebih mudah untuk mengobati dari satu yang telah. Sebuah patah pengungsi juga meningkatkan risiko merusak suplai darah ke kepala femoralis, menyebabkan AVN (dibahas sebelumnya). Pengobatan Apa yang dapat dilakukan untuk masalah ini? Pengobatan untuk patah tulang pinggul segera dimulai dengan memastikan pasien secara medis stabil. Setelah dokter yakin bahwa pasien stabil, keputusan mengenai pengobatan fraktur dapat dilakukan. Nonsurgical Pengobatan Jarang patah tulang dianggap stabil, yang berarti bahwa ia tidak akan menggantikan jika pasien diperbolehkan untuk duduk di kursi. Tetapi jika patah tulang tampaknya stabil, pasien mungkin diobati tanpa operasi jika dokter merasa bahwa pasien akan mampu bangun dalam beberapa hari. Kebanyakan patah tulang panggul akan benar-benar sembuh tanpa operasi, tapi masalahnya adalah bahwa pasien akan di tempat tidur selama delapan sampai 12 minggu. Dokter telah belajar selama bertahun-tahun yang menempatkan orang dewasa penuaan di tempat tidur selama jangka waktu ini memiliki risiko yang jauh lebih besar menciptakan komplikasi serius dari operasi yang diperlukan untuk memperbaiki pinggul patah. Ini adalah alasan utama bahwa operasi dianjurkan untuk hampir semua pasien dengan pinggul retak. Operasi Hip Hampir semua patah tulang pada orang tua diperlakukan dengan beberapa jenis operasi bedah tulang untuk memperbaiki retak. Jika memungkinkan, operasi biasanya dilakukan dalam waktu 24 jam masuk ke rumah sakit. Tujuan dari setiap prosedur operasi untuk mengobati pinggul retak adalah untuk menahan patah tulang aman di posisi, memungkinkan pasien untuk keluar dari tempat tidur sesegera mungkin. Banyak metode telah diciptakan untuk mengobati berbagai jenis fraktur. Sebagian besar patah tulang panggul dirawat di salah satu dari tiga cara: dengan pin logam dengan pelat logam dan sekrup, atau mengganti kepala femoralis rusak dengan implan buatan. Metal Pins Fraktur yang terjadi melalui leher femur, jika mereka masih dalam posisi yang benar, mungkin hanya membutuhkan dua atau tiga pin metal untuk memegang dua potong fraktur bersama-sama. Prosedur ini, yang disebut menjepit pinggul, cukup sederhana dan memungkinkan pasien untuk mulai meletakkan berat badan turun setelah operasi. Metal Plate dan Sekrup Beberapa patah tulang pinggul terjadi di bawah leher femoralis di daerah yang disebut daerah intertrochanteric. Patah tulang ini disebut patah tulang pinggul intertrochanteric. Patah tulang panggul ini biasanya benarbenar hasil dari jatuh dan sering adalah tipe yang paling sulit untuk mengobati patah tulang. Mereka sering

melibatkan lebih dari satu istirahat. Akibatnya, beberapa bidang patah tulang harus diselenggarakan bersama-sama. Ahli bedah biasanya mencoba untuk memperbaiki jenis fraktur menggunakan plat besi dan sekrup kompresi pinggul. pendekatan ini membantu menyelaraskan tulang dan bergantung pada kekuatan otot untuk kompres tulang retak bersama sehingga mereka akan sembuh. Buatan Penggantian Kepala Femoral (Hemiarthroplasty) Ketika patah tulang pinggul terjadi melalui leher femur dan bola sudah benar-benar pengungsi, ada kesempatan yang sangat tinggi bahwa suplai darah ke kepala femoralis telah rusak. Hal ini sangat mungkin bahwa AVN kepala femoralis akan terjadi sebagai komplikasi dari jenis patah tulang pinggul. Seperti disebutkan sebelumnya, AVN menyebabkan tulang kepala femoralis untuk mati. Kepala femoralis mulai runtuh minggu kemudian, menyebabkan lebih banyak masalah dalam beberapa bulan mendatang. Hasil kemungkinan besar akan di operasi kedua beberapa bulan kemudian untuk menggantikan pinggul karena AVN. Kemungkinan ini adalah begitu besar sehingga sebagian besar ahli bedah akan merekomendasikan menghapus kepala femoral segera dan menggantinya dengan kepala femoral buatan yang terbuat dari logam. Operasi ini disebut hemiarthroplasty sebuah. (Hemi berarti setengah, dan artroplasti berarti sendi buatan.) Prosedur ini disebut hemiarthroplasty karena hanya separuh dari sendi diganti. Soket dari sendi pinggul yang tersisa utuh. Komplikasi Apa yang mungkin salah? Komplikasi yang dapat mengembangkan setelah patah tulang pinggul adalah apa yang membuat cedera masalah yang mengancam nyawa. Beberapa komplikasi dapat hasil dari operasi, tapi banyak bisa terjadi apakah fraktur diobati dengan operasi atau tidak. Sebagian besar komplikasi yang terjadi setelah patah tulang pinggul akibat dari harus menempatkan orang dewasa penuaan pada istirahat. Secara umum, ini tampaknya membuat semua masalah medis pasien buruk. Beberapa masalah yang lebih umum yang patah tulang pinggul dapat meningkatkan kemungkinan termasuk anestesi pneumonia tekanan borok tromboflebitis kebingungan mental Mendapatkan keluar pasien dari tempat tidur dan bergerak dapat mengurangi risiko mengembangkan semua komplikasi ini. Jika operasi diperlukan untuk menstabilkan patah tulang dan mendapatkan rawat jalan dari tempat tidur cepat, ini benar-benar akan mengurangi risiko secara keseluruhan mengembangkan komplikasi ini. Itu tidak berarti bahwa komplikasi tidak mungkin masih terjadi setelah operasi, tetapi mereka jauh lebih mudah untuk mengobati jika pasien dapat dimobilisasi. Anestesi Kebanyakan prosedur bedah mengharuskan beberapa jenis anestesi yang dilakukan sebelum operasi. Sebuah jumlah yang sangat kecil pasien memiliki masalah dengan anestesi. Masalah ini dapat reaksi terhadap obat yang digunakan, masalah yang berhubungan dengan komplikasi medis lainnya, dan masalah karena anestesi. Pastikan untuk

membahas risiko dan keprihatinan Anda dengan anestesi Anda. Pneumonia Istirahat di tempat tidur dapat meningkatkan risiko pengembangan pneumonia pada pasien yang lebih tua. Jika anestesi diperlukan untuk operasi, risikonya lebih besar. Setelah cedera yang memerlukan istirahat di tempat tidur, Anda akan perlu melakukan beberapa hal untuk menjaga paru-paru Anda bekerja terbaik mereka. perawat Anda akan pelatih Anda untuk mengambil napas dalam-dalam dan batuk sering. Bangun tidur, bahkan tegak di kursi, memungkinkan paru-paru untuk bekerja lebih baik. Sesegera mungkin, Anda akan diizinkan untuk duduk di kursi. terapis pernapasan itu rumah sakit memiliki beberapa alat bantu untuk membantu mempertahankan fungsi paru secara optimal. Spirometer insentif perangkat kecil yang mengukur seberapa keras anda bernafas dan memberikan Anda sebuah alat untuk meningkatkan pernapasan dalam Anda. Jika Anda memiliki penyakit paru-paru lainnya, seperti asma, terapis pernafasan juga dapat menggunakan obat yang diberikan melalui pernafasan pengobatan untuk membantu membuka kantong-kantong udara di paru-paru. Tekanan Borok (Luka Baring) Patah tulang pinggul menyebabkan nyeri saat Anda bergerak, bahkan di tempat tidur. Sebagai hasilnya, Anda berhenti bergerak sekitar untuk menggeser berat badan Anda dari waktu ke waktu seperti biasa. Ketika Anda berbaring, ada tekanan pada kulit di daerah tertentu. Tekanan ini benar-benar menghentikan aliran darah ke kulit dengan menutup pembuluh darah yang pergi ke daerah itu. Biasanya hal ini tidak masalah karena Anda segera pergeseran berat badan, tekanan bergerak ke daerah lain. Menggeser tekanan ini memungkinkan aliran darah untuk kembali ke daerah kulit dan mencegah kerusakan. Tetapi jika sesuatu yang mencegah Anda dari pergeseran dan tekanan tetap konstan di satu daerah, daerah kulit yang akhirnya dapat menjadi rusak karena kurangnya aliran darah. Kerusakan ini disebut ulkus tekanan atau luka baring. Tekanan menyebabkan kulit untuk benar-benar mati, mirip kulit yang telah dibakar dengan panas. Pertama daerah tersebut sakit, maka mulai melepuh, dan kemudian berubah menjadi sebuah luka terbuka. Luka ini sulit sembuh jika mereka besar. Mereka sebenarnya mungkin memerlukan cangkok kulit. Mereka dapat menjadi terinfeksi, menyebabkan masalah lain. Perlakuan terbaik adalah untuk mencegah luka baring di tempat pertama. Rumah sakit menggunakan kasur khusus dan lapisan air khusus untuk membantu mendistribusikan berat badan secara merata pada orang yang harus dibatasi tidur. Perawat juga bergerak secara rutin di tempat tidur pasien untuk memastikan kulit tidak mendapatkan tekanan yang terlalu banyak dalam satu daerah. Namun, cara terbaik untuk mencegah ulkus tekanan untuk membuat Anda keluar dari tempat tidur dan bergerak. Tromboflebitis (Gumpalan Darah) Tromboflebitis, kadang-kadang disebut trombosis vena dalam (DVT), dapat mengakibatkan dari istirahat dan aktivitas. DVT terjadi ketika gumpalan darah terbentuk dalam pembuluh darah besar kaki. Hal ini dapat menyebabkan kaki membengkak dan menjadi hangat dengan sentuhan dan menyakitkan. Jika gumpalan darah

pecah, mereka dapat melakukan perjalanan ke paru-paru, di mana mereka menginap di kapiler (pembuluh darah terkecil dalam tubuh) dan memotong suplai darah ke sebagian dari paru-paru. Ini disebut pulmonary embolism. (Paru berarti paru-paru, dan emboli mengacu pada sebuah fragmen dari sesuatu perjalanan melalui pembuluh darah.) Kebanyakan ahli bedah mengambil mencegah DVT sangat serius. Ada banyak cara untuk mengurangi risiko DVT, tapi mungkin yang paling efektif semakin Anda bergerak secepat mungkin. Dua lainnya langkah-langkah pencegahan yang umum digunakan termasuk stocking untuk menjaga tekanan darah di kaki bergerak obat-obat yang tipis darah dan mencegah penggumpalan darah dari pembentukan Mental Kebingungan Aging dewasa yang menderita patah tulang pinggul dan pergi ke rumah sakit berada di bawah banyak stres. lingkungan asing, obat sakit, dan stres cedera dapat menyebabkan perubahan perilaku pasien. Ini kadangkadang disebut sindrom sundowner karena tampaknya lebih buruk di malam hari. Hal ini bisa sangat menakutkan terhadap pasien dan keluarga mereka. Untungnya, hampir selalu sementara. Hal ini dapat menyebabkan masalah karena pasien bisa menjadi sulit untuk ditangani dan tidak akan mengikuti petunjuk. Mereka mungkin mencoba untuk bangun dari tempat tidur dan dapat merusak pinggul lebih lanjut. Pengobatan terbaik untuk kebingungan mental biasanya untuk mendapatkan pasien bergerak dan keluar dari rumah sakit. Familiar sekitarnya, wajah-wajah akrab, dan aktivitas adalah perawatan terbaik. Pengobatan digunakan ketika diperlukan, dan mungkin perlu untuk menahan pasien selama periode ini sehingga mereka tidak akan melukai diri sendiri lebih lanjut. Kondisi medis lainnya dapat menyebabkan kebingungan, dan dokter akan memastikan bahwa tidak hadir. Tapi, lagi-lagi, kebingungan mental biasanya bersifat sementara dan akan hilang dalam hitungan hari. Rehabilitasi Apa yang harus saya harapkan setelah pengobatan? Nonsurgical Rehabilitasi Patah tulang panggul biasanya memerlukan operasi. Nonsurgical rehabilitasi hanya digunakan dalam beberapa contoh setelah patah tulang pinggul pada orang dewasa penuaan. Seorang pasien dengan penyakit komplikasi lain yang patah tulang panggul mungkin diobati dengan traksi. traksi Sebuah tarik anggota tubuh terluka adalah sarana, selain operasi, membantu tulang fragmen untuk berbaris. Pasien yang memiliki fraktur stabil (disebutkan sebelumnya) juga dapat menerima rehabilitasi tanpa pembedahan. Pasien-pasien ini mungkin memerlukan istirahat beberapa hari sebelum mendapatkan bantuan untuk berdiri dan berjalan. Bila dokter menentukan bahwa fraktur telah sembuh, program formal terapi fisik berlangsung empat sampai enam minggu dapat ditentukan. Setelah Operasi Tujuan prosedur pembedahan yang paling untuk pinggul retak adalah untuk membantu orang mendapatkan bergerak dan berjalan secepat mungkin. Ini membantu mereka menghindari komplikasi berbahaya yang dapat timbul dari yang bergerak di tempat tidur, seperti pneumonia, pembekuan darah, kekakuan sendi, dan nyeri.

Seorang terapis fisik biasanya bekerja dengan pasien di rumah sakit segera setelah operasi. Anda akan dibantu dari tempat tidur Anda ke kursi beberapa kali setiap hari. Anda akan mulai berjalan dengan alat bantu jalan atau kruk, praktek mengakses kamar mandi, dan mulai latihan lakukan untuk nada otot-otot sekitar panggul dan paha dan untuk mencegah pembentukan bekuan darah. Jumlah berat yang dapat ditempatkan di kaki dioperasikan tergantung pada jenis operasi yang dilakukan. Kebanyakan pasien bisa memulai berat peluru segera setelah operasi. Tergantung pada beratnya patah tulang, pasien mungkin hanya mampu menempatkan berat parsial bawah segera. Pasien yang membutuhkan hemiarthroplasty mengikuti rencana perlakuan yang berbeda. Operasi ini lebih terlibat dan membutuhkan ahli bedah untuk membuka sendi panggul selama operasi. Hal ini menempatkan panggul di beberapa risiko dislokasi setelah operasi. Untuk mencegah dislokasi hip setelah operasi, pasien mengikuti pedoman yang ketat tentang yang memposisikan pinggul mereka harus dihindari, pencegahan pinggul disebut. Pasien mengikuti tindakan pencegahan ini setiap waktu sedikitnya enam minggu setelah operasi, sampai jaringan lunak memperoleh kekuatan yang cukup untuk menjaga bersama dari sampai cacat. Pasien dapat diinstruksikan untuk menggunakan walker atau kruk untuk membatasi jumlah berat yang mereka tempat di kaki dioperasikan. Setelah Anda pulang dari rumah sakit, dokter bedah Anda mungkin telah Anda bekerja dengan ahli terapi fisik selama dua sampai empat kali kunjungan di rumah. Hal ini untuk memastikan Anda aman dalam dan sekitar rumah dan masuk dan keluar dari mobil. terapis Anda akan membuat rekomendasi tentang keselamatan Anda, meninjau tindakan pencegahan pinggul Anda, dan pastikan Anda menempatkan jumlah yang aman berat pada kaki Anda ketika berdiri atau berjalan. Kunjungan terapi Home akhir ketika Anda aman untuk keluar dari rumah. kunjungan tambahan untuk terapi rawat jalan fisik mungkin diperlukan untuk pasien yang memiliki masalah berjalan atau yang membutuhkan untuk mendapatkan kembali bekerja fisik berat atau kegiatan. Tujuannya terapis adalah untuk membantu Anda memaksimalkan kekuatan pinggul, mengembalikan pola berjalan normal, dan membantu Anda melakukan aktivitas Anda tanpa risiko cedera lebih lanjut. Ketika Anda berjalan dengan baik, kunjungan rutin ke kantor terapis akan berakhir. terapis Anda akan terus menjadi sumber daya, tetapi Anda akan bertanggung jawab melakukan latihan Anda sebagai bagian dari program rumah yang sedang berlangsung PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK)

Anamnesis Riwayat merokok atau bekas perokok dengan atau tanpa gejala pernapasan Riwayat terpajan zat iritan yang bermakna di tempat kerja Riwayat penyakit emfisema pada keluarga Terdapat faktor predisposisi pada masa bayi/anak, misalnya berat badan lahir rendah (BBLR), infeksi saluran napas berulang, lingkungan asap rokok dan polusi udara Batuk berulang dengan atau tanpa dahak Sesak dengan atau tanpa bunyi mengi PPOK merupakan salah satu gangguan pernapasan yang akan semakin sering dijumpai di masa mendatang di Indonesia, mengingat makin bertambahnya rerata umur orang Indonesia, bertambahnya jumlah perokok dan bertambahnya polusi udara. Pemeriksaan fisis Pemeriksaan fisis pasien PPOK dini umumnya tidak ditemukan kelainan. Pada inspeksi didapatkan: Purse-lips breathing, yaitu sikap seseorang yang bernapas dengan mulut mencucu dan ekspirasi yang memanjang. Sikap ini terjadi sebagai mekanisme tubuh untuk mengeluarkan retensi CO2 yang terjadi pada gagal napas kronik Barrel chest (diameter toraks anteroposterior sebanding dengan diameter transversal) Penggunaan otot bantu napas Hipertrofi otot bantu napas Pelebaran sela iga Terlihat denyut vena jugularis dan edema tungkai (bila telah terjadi gagal jantung) Pada emfisema pemeriksaan palpasi didapatkan sela iga melebar dan fremitus melemah; pemeriksaan perkusi terdengar hipersonor, batas jantung mengecil, letak diafragma rendah dan hepar terdorong ke bawah Pemeriksaan auskultasi didapatkan: suara napas vesikuler normal atau melemah terdapat ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau pada ekspirasi paksa ekspirasi memanjang bunyi jantung terdengar jauh. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan yang rutin dikerjakan untuk menegakkan diagnosis PPOK adalah uji faal paru sedang pemeriksaan darah rutin (Hb, Ht, Leukosit) dan foto toraks untuk menyingkirkan penyakit paru lain. Pemeriksaan spirometri dilakukan untuk memeriksa VEP1, KVP dan VEP1/KVP. VEP1 merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilai beratnya PPOK dan memantau perjalanan penyakit. Disebut obstruksi apabila %VEP1 (VEP1/VEP1 prediksi) <80% atau VEP1% (VEP1/KVP) < 75%. Apabila spirometri tidak tersedia atau tidak mungkin dilakukan, bisa dilakukan pemeriksaan APE (arus puncak ekspirasi), dengan memantau variabiliti harian pagi dan sore tidak melebihi 20%. DIAGNOSIS BANDING 1. Asma 2. SOPT (sindroma obstruksi pascatuberkulosis) 3. Pneumotoraks 4. Gagal jantung

DEFINISI PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progresif nonreversibel atau reversibel parsial. PPOK terdiri atas bronkitis kronis dan emfisema atau gabungan keduanya. Bronkitis kronis adalah kelainan saluran napas yang ditandai oleh batuk kronik berdahak minimal 3 bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dua tahun berturutturut, tidak disebabkan penyakit lainnya. Emfisema adalah kelainan anatomis paru yang ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli. FAKTOR RISIKO Kebiasaan merokok merupakan satu-satunya penyebab terpenting, jauh lebih penting dari penyebab lainnya. Penyebab lain adalah riwayat terpajan polusi udara (lingkungan dan tempat kerja), hipereaktiviti bronkus, riwayat infeksi saluran napas bawah berulang, defisiensi alfa-1 anti tripsin, jenis kelamin laki-laki dan ras (kulit putih lebih berisiko). PATOGENESIS Pada bronkitis kronis terdapat pembesaran kelenjar mukosa bronkus, metaplasia sel goblet, inflamasi, hipertrofi otot polos pernapasan dan distorsi akibat fibrosis. Pada emfisema ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal disertai kerusakan dinding alveoli. Obstruksi saluran napas pada PPOK bersifat ireversibel dan terjadi karena perubahan struktural pada saluran napas kecil yaitu inflamasi, fibrosis, metaplasi sel goblet dan hipertropi otot polos penyebab utama obstruksi jalan napas. DIAGNOSIS Gejala dan tanda PPOK sangat bervariasi mulai dari tanpa gejala, gejala ringan hingga gejala berat. Diagnosis PPOK ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan yang terarah dan sistematis meliputi gambaran klinis (anamnesis dan pemeriksaan fisis) dan pemeriksaan penunjang baik yang bersifat rutin maupun pemeriksaan khusus.

5. Penyakit paru dengan obstruksi saluran napas lainnya misalnya bronkiektasis, destroyed lung dll. Asma dan PPOK adalah penyakit obstruksi saluran napas yang sering ditemukan di Indonesia, karena itu diagnosis yang tepat harus ditegakkan karena terapi dan prognosisnya berbeda. Asma ++ ++ +/++ +++ + +++ ++ ++ + + PPOK +++ + + ++ + + + -

Antioksidan dapat mengurangi eksaserbasi dan memperbaiki kialiti hidup, digunakan N-asetilsistein. Dapat diberikan pada PPOK dengan eksaserbasi yang sering, tidak dianjurkan sebagai terapi rutin. Kortikosteroid pemberiannya masih kontroversial, hanya bermanfaat pada serangan akut. Antitusif diberikan dengan hati-hati. Terapi oksigen Pada PPOK terjadi hipoksemia progresif berkepanjangan yang menyebabkan kerusakan sel dan jaringan. Pemberian terapi oksigen merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan oksigenasi seluler dan mencegah kerusakan sel baik di otot maupun organ-organ lainnya. Terapi oksigen bermanfaat untuk mengurangi sesak napas, hipertensi pulmoner, vasokonstriksi pembuliuh darah paru, hematokrit dan memperbaiki kualiti dan fungsi neuropsikologik. Ventilasi mekanik Ventilasi mekanik pada PPOK digunakan pada eksaserbasi dengan gagal napas akut, gagal napas akut pada gagal napas kronik atau pada pasien PPOK derajat berat dengan gagal napas kronik. Ventilasi mekanik dapat digunakan di rumah sakit di ruang ICU atau di rumah Ventilasi mekanik dapat dilakukan dengan intubasi maupun tanpa intubasi. Ventilasi mekanik tanpa intubasi digunakan pada PPOK dengan gagal napas kronik dan dapat digunakan selama di rumah. Bentuk ventilasi mekanik tanpa intubasi adalah NIPPV (noninvasive intermitten positive pressure) atau NPV (negative pressure ventilation). NIPPV bila digunakan dengan terapi oksigen terus menerus (LTOT/long term oxygen therapy) akan memberikan perbaikan bermakna pada AGD, kualitas dan kuantitas tidur serta kualiti hidup. NIPPV dapat diberikan dengan tipe ventilasi volume control, pressure control dan BiPAP (bilevel positive airway pressure) dan CPAP (continuous positive airway pressure). Ventilasi mekanik dengan intubasi. Pasien PPOK dipertimbangkan untuk menggunakan ventilasi mekanik di rumah sakit bila ditemukan keadaan sebagai berikut: - Gagal napas yang pertama kali - Perburukan yang belum lama terjadi dengan penyebab yang jelas dan dapat diperbaiki (misalnya pneumonia) - Aktivitas sebelumnya tidak terbatas. Ventilasi mekanik sebaiknya tidak dilakukan pada pasien PPOK dengan kondisi sebagai berikut: - PPOK derajat berat yang telah mendapat terapi maksimal sebelumnya - Terdapat ko-morbid yang berat, misalnya edema paru, keganasan - Aktiviti sebelumnya terbatas meskipun terapi sudah maksimal Nutrisi Malnutrisi sering terjadi pada PPOK, kemungkinan karena bertambahnya kebutuhan energi akibat kerja muskulus respirasi yang meningkat karena hipoksemia kronik dan hiperkapni menyebabkan terjadi hipermetabolisme. Kondisi malnutrisi akan menambah mortaliti PPOK karena

Timbul pada usia muda Sakit mendadak Riwayat merokok Riwayat atopi Sesak dan mengi berulang Batuk kronik berdahak Hipereaktiviti bronkus Reversibiliti obstruksi Variabiliti harian Eosinofili sputum Neutrofil sputum Makrofag sputum

PENATALAKSANAAN PPOK merupakan penyakit paru kronik progresif dan nonreversibel, sehingga penatalaksanaan PPOK terbagi atas penatalaksanaan pada keadaan stabil dan penatalaksanaan pada eksaserbasi akut.Tujuan umum penatalaksanaan PPOK adalah untuk mengurangi gejala, mencegah eksaserbasi berulang, memperbaiki dan mencegah penurunan faal paru serta meningkatkan kualiti hidup penderita. Penatalaksanaan meliputi edukasi, obat-obatan, terapi oksigen, ventilasi mekanik, nutrisi dan rehabilitasi. Edukasi Edukasi merupakan hal penting dalam pengelolaan jangka panjang pada PPOK stabil. Edukasi pada PPOK berbeda dengan edukasi pada asma. Karena PPOK adalah penyakit kronik yang ireversibel dan progresif, inti dari edukasi adalah menyesuaikan keterbatasan aktiviti dan mencegah kecepatan perburukan fungsi paru. Tujuan edukasi adalah supaya pasien PPOK mengenal perjalanan penyakit, melaksanakan pengobatan yang maksimal, mencapai aktiviti optimal dan meningkatkan kualiti hidup. Obat-obatan Bronkodilator diberikan secara tunggal atau kombinasi sesuai dengan klasifikasi derajad beratnya penyakit. Diutamakan bentuk obat inhalasi, nebulisasi tidak dianjurkan pada penggunaan jangka panjang. Pada derajat berat diutamakan pemberian obat lepas lambat (slow release) atau obat berefek panjang (long acting) Ekspektoran dan mukolitik. Air minum adalah ekspektoran yang baik, pemberian cairan yang cukup akan mengencerkan sekret. Obat ekspektoran dan mukolitik dapat diberikan terutama pada saat eksaserbasi. Antihistamin secara umum tidak diberikan karena dapat menimbulkan kekeringan saluran napas sehingga sekret sukar dkeluarkan Antibiotik diberikan bila ada infeksi sehingga dapat mengurangi keadaan eksaserbasi akut.

berkolerasi dengan derajat penurunan fungsi paru dan perubahan analisis gas darah. Mengatasi malnutrisi dengan pemberian makanan yang agresif tidak akan mengatasi masalah, karena gangguan ventilasi pada PPOK tidak dapat mengeluarkan CO2 yang terjadi akibat metabolisme karbohidrat. Komposisi nutrisi yang seimbang dapat berupa tinggi lemak rendah karbohidrat. Kebutuhan protein seperti pada umumnya, protein dapat meningkatkan ventilasi semenit oxigen comsumptiondan respons ventilasi terhadap hipoksia dan hiperkapni. Tetapi pada PPOK dengan gagal napas kelebihan pemasukan protein dapat menyebabkan kelelahan. Diperlukan keseimbangan antara kalori yang masuk dengan kalori yang dibutuhkan. Dianjurkan pemberian nutrisi dengan komposisi seimbang, yakni porsi kecil dengan waktu pemberian yang lebih sering, bila perlu nutrisi dapat diberikan secara terus menerus (nocturnal feedings) dengan pipa nasogaster. Rehabilitasi Fisioterapi bertujuan memobilisasi sputum dan membuat pernapasan lebih efektif serta mengembalikan kemampuan fisik penderita ke tingkat optimal. Rehabilitasi psikis. Penderita PPOK sering merasa tertekan dan cemas sehingga perlu pendekatan psikis untuk mengurangi perasaan tersebut. Rehabilitasi pekerjaan,. Menganjurkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya A. Konsep Medis 1. Anatomi dan Fisiologi a. Anatomi Tulang Tulang terdiri dari sel-sel yang berada pada intra-seluler. Tulang berasal dari embrionic hyaline cartilage yang mana melalui proses Osteogenesis menjadi tulang. Proses ini dilakukan oleh sel-sel yang disebut Osteoblast. Proses mengerasnya tulang akibat penimbunan garam kalsium.(Simon & schuster, 2003). Ada 206 tulang dalam tubuh manusia, Tulang dapat diklasifikasikan dalam lima kelompok berdasarkan bentuknya : 1). Tulang panjang (Femur, Humerus) terdiri dari batang tebal panjang yang disebut diafisis dan dua ujung yang disebut epifisis. Di sebelah proksimal dari epifisis terdapat metafisis. Di antara epifisis dan metafisis terdapat daerah tulang rawan yang tumbuh, yang disebut lempeng epifisis atau lempeng pertumbuhan. Tulang panjang tumbuh karena akumulasi tulang rawan di lempeng epifisis. Tulang rawan digantikan oleh sel-sel tulang yang dihasilkan oleh osteoblas, dan tulang memanjang. Batang dibentuk oleh jaringan tulang yang padat. Epifisis dibentuk dari spongi bone (cancellous atau trabecular). Pada akhir tahun-tahun remaja tulang rawan habis, lempeng epifisis berfusi, dan tulang berhenti tumbuh. Hormon pertumbuhan, estrogen, dan testosteron merangsang pertumbuhan tulang panjang. Estrogen, bersama dengan testosteron, merangsang fusi lempeng epifisis. Batang suatu tulang panjang memiliki rongga yang disebut kanalis medularis. Kanalis medularis berisi sumsum tulang. 2). Tulang pendek (carpals) bentuknya tidak teratur dan inti dari cancellous (spongy) dengan suatu lapisan luar dari tulang yang padat.

3). Tulang pendek datar (tengkorak) terdiri atas dua lapisan tulang padat dengan lapisan luar adalah tulang concellous. 4). Tulang yang tidak beraturan (vertebrata) sama seperti dengan tulang pendek. 5). Tulang sesamoid merupakan tulang kecil, yang terletak di sekitar tulang yang berdekatan dengan persediaan dan didukung oleh tendon dan jaringan fasial, misalnya patella (kap lutut). Tulang tersusun atas sel, matriks protein dan deposit mineral. Sel-selnya terdiri atas tiga jenis dasar-osteoblas, osteosit dan osteoklas. Osteoblas berfungsi dalam pembentukan tulang dengan mensekresikan matriks tulang. Matriks tersusun atas 98% kolagen dan 2% subtansi dasar (glukosaminoglikan, asam polisakarida) dan proteoglikan). Matriks merupakan kerangka dimana garam-garam mineral anorganik ditimbun. Osteosit adalah sel dewasa yang terlibat dalam pemeliharaan fungsi tulang dan terletak dalam osteon ( unit matriks tulang ). Osteoklas adalah sel multinuclear ( berinti banyak) yang berperan dalam penghancuran, resorpsi dan remosdeling tulang. Osteon merupakan unik fungsional mikroskopis tulang dewasa. Ditengah osteon terdapat kapiler. Dikelilingi kapiler tersebut merupakan matriks tulang yang dinamakan lamella. Didalam lamella terdapat osteosit, yang memperoleh nutrisi melalui prosesus yang berlanjut kedalam kanalikuli yang halus (kanal yang menghubungkan dengan pembuluh darah yang terletak sejauh kurang dari 0,1 mm). Tulang diselimuti dibagian oleh membran fibrous padat dinamakan periosteum. Periosteum memberi nutrisi ke tulang dan memungkinkannya tumbuh, selain sebagai tempat perlekatan tendon dan ligamen. Periosteum mengandung saraf, pembuluh darah, dan limfatik. Lapisan yang paling dekat dengan tulang mengandung osteoblast, yang merupakan sel pembentuk tulang. Endosteum adalah membran vaskuler tipis yang menutupi rongga sumsum tulang panjang dan rongga-rongga dalam tulang kanselus. Osteoklast , yang melarutkan tulang untuk memelihara rongga sumsum, terletak dekat endosteum dan dalam lacuna Howship (cekungan pada permukaan tulang). Gambar 1 Anatomi tulang panjang Struktur tulang dewasa terdiri dari 30 % bahan organik (hidup) dan 70 % endapan garam. Bahan organik disebut matriks, dan terdiri dari lebih dari 90 % serat kolagen dan kurang dari 10 % proteoglikan (protein plus sakarida). Deposit garam terutama adalah kalsium dan fosfat, dengan sedikit natrium, kalium karbonat, dan ion magnesium. Garam-garam menutupi matriks dan berikatan dengan serat kolagen melalui proteoglikan. Adanya bahan organik menyebabkan tulang memiliki kekuatan tensif (resistensi terhadap tarikan yang meregangkan). Sedangkan garamgaram menyebabkan tulang memiliki kekuatan kompresi (kemampuan menahan tekanan). Pembentukan tulang berlangsung secara terus menerus dan dapat berupa pemanjangan dan penebalan tulang. Kecepatan pembentukan tulang berubah selama hidup. Pembentukan tulang ditentukan oleh rangsangn hormon, faktor makanan, dan jumlah stres yang dibebankan pada

suatu tulang, dan terjadi akibat aktivitas sel-sel pembentuk tulang yaitu osteoblas. Osteoblas dijumpai dipermukaan luar dan dalam tulang. Osteoblas berespon terhadap berbagai sinyal kimiawi untuk menghasilkan matriks tulang. Sewaktu pertama kali dibentuk, matriks tulang disebut osteoid. Dalam beberapa hari garam-garam kalsium mulai mengendap pada osteoid dan mengeras selama beberapa minggu atau bulan berikutnya. Sebagian osteoblast tetap menjadi bagian dari osteoid, dan disebut osteosit atau sel tulang sejati. Seiring dengan terbentuknya tulang, osteosit dimatriks membentuk tonjolan-tonjolan yang menghubungkan osteosit satu dengan osteosit lainnya membentuk suatu sistem saluran mikroskopik di tulang. Kalsium adalah salah satu komponen yang berperan terhadap tulang, sebagian ion kalsium di tulang tidak mengalarni kristalisasi. Garam nonkristal ini dianggap sebagai kalsium yang dapat dipertukarkan, yaitu dapat dipindahkan dengan cepat antara tulang, cairan interstisium, dan darah. Sedangkan penguraian tulang disebut absorpsi, terjadi secara bersamaan dengan pembentukan tulang. Penyerapan tulang terjadi karena aktivitas sel-sel yang disebut osteoklas. Osteoklas adalah sel fagositik multinukleus besar yang berasal dari sel-sel mirip-monosit yang terdapat di tulang. Osteoklas tampaknya mengeluarkan berbagai asam dan enzim yang mencerna tulang dan memudahkan fagositosis. Osteoklas biasanya terdapat pada hanya sebagian kecil dari potongan tulang, dan memfagosit tulang sedikit demi sedikit. Setelah selesai di suatu daerah, osteoklas menghilang dan muncul osteoblas. 0steoblas mulai mengisi daerah yang kosong tersebut dengan tulang baru. Proses ini memungkinkan tulang tua yang telah melemah diganti dengan tulang baru yang lebih kuat. Keseimbangan antara aktivitas osteoblas dan osteoklas menyebabkan tulang terus menerus diperbarui atau mengalami remodeling. Pada anak dan remaja, aktivitas osteoblas melebihi aktivitas osteoklas, sehingga kerangka menjadi lebih panjang dan menebal. Aktivitas osteoblas juga melebihi aktivitas osteoklas pada tulang yang pulih dari fraktur. Pada orang dewasa muda, aktivitas osteoblas dan osteoklas biasanya setara, sehingga jumlah total massa tulang konstan. Pada usia pertengahan, aktivitas osteoklas melebihi aktivitas osteoblas dan kepadatan tulang mulai berkurang. Aktivitas osteoklas juga meningkat pada tulangtulang yang mengalami imobilisasi. Pada usia dekade ketujuh atau kedelapan, dominansi aktivitas osteoklas dapat menyebabkan tulang menjadi rapuh sehingga mudah patah. Aktivitas osteoblas dan osteoklas dikontrol oleh beberapa faktor fisik dan hormon. Faktor-faktor yang mengontrol Aktivitas osteoblas dirangsang oleh olah raga dan stres beban akibat arus listrik yang terbentuk sewaktu stres mengenai tulang. Fraktur tulang secara drastis merangsang aktivitas osteoblas, tetapi mekanisme pastinya belum jelas. Estrogen, testosteron, dan hormon perturnbuhan adalah promotor kuat bagi aktivitas osteoblas dan pertumbuhan tulang. Pertumbuhan tulang dipercepat semasa pubertas akibat melonjaknya kadar hormon-hormon tersebut. Estrogen dan testosteron akhirnya menyebabkan tulang-tulang panjang berhenti tumbuh dengan merangsang penutupan lempeng epifisis (ujung pertumbuhan tulang). Sewaktu kadar estrogen turun

pada masa menopaus, aktivitas osteoblas berkurang. Defisiensi hormon pertumbuhan juga mengganggu pertumbuhan tulang. Vitamin D dalam jumlah kecil merangsang kalsifikasi tulang secara langsung dengan bekerja pada osteoblas dan secara tidak langsung dengan merangsang penyerapan kalsium di usus. Hal ini meningkatkan konsentrasi kalsium darah, yang mendorong kalsifikasi tulang. Namun, vitamin D dalam jumlah besar meningkatkan kadar kalsium serum dengan meningkatkan penguraian tulang. Dengan demikian, vitamin D dalam jumlah besar tanpa diimbangi kalsium yang adekuat dalam makanan akan menyebabkan absorpsi tulang. Adapun faktor-faktor yang mengontrol aktivitas osteoklas terutama dikontrol oleh hormon paratiroid. Hormon paratiroid dilepaskan oleh kelenjar paratiroid yang terletak tepat di belakang kelenjar tiroid. Pelepasan hormon paratiroid meningkat sebagai respons terhadap penurunan kadar kalsium serum. Hormon paratiroid meningkatkan aktivitas osteoklas dan merangsang pemecahan tulang untuk membebaskan kalsium ke dalam darah. Peningkatan kalsium serum bekerja secara umpan balik negatif untuk menurunkan pengeluaran hormon paratiroid lebih lanjut. Estrogen tampaknya mengurangi efek hormon paratiroid pada osteoklas. Efek lain Hormon paratiroid adalah meningkatkan kalsium serum dengan menurunkan sekresi kalsium oleh ginjal. Hormon paratiroid meningkatkan ekskresi ion fosfat oleh ginjal sehingga menurunkan kadar fosfat darah. Pengaktifan vitamin D di ginjal bergantung pada hormon paratiroid. Sedangkan kalsitonin adalah suatu hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar tiroid sebagai respons terhadap peningkatan kadar kalsium serum. Kalsitonin memiliki sedikit efek menghambat aktivitas dan pernbentukan osteoklas. Efek-efek ini meningkatkan kalsifikasi tulang sehingga menurunkan kadar kalsium serum. Tulang panggul (pelvis) terdiri dari dua tulang coxae, sacrum dan coccygeus. Berartikulasi di anterior yaitu pada simphisis pubis, di posterior pada artikulasio sacroiliaca. Struktur mirip cekungan ini memindahkan berat dari badan ke tungkai bawah dan memberikan perlindungan pada viscera, pembuluh darah , dan saraf di pelvis (Apley, 2000). Stabilitas cincin pelvis tergantung pada kekakuan tulang-tulang dan integritas ligament yang kuat yang mengikat tiga segmen tulang bersama-sama pada simphisis pubis dan artikulasio sacroiliaca. Ligamen pengikat yang paling kuat dan yang paling penting dalah ligament sacroiliaca dan ligament iliolumbal. Selama ligamentligamen itu utuh, penahan beban tidak akan terganggu. Ini adalah factor yang penting untuk membedakan cidera yang stabil dan yang tidak stabil pada cincin pelvis (Apley,2000). Tulang coxae (panggul) terdiri dari tiga tulang, yaitu tulang pubis, ilium, dan ischium yang berhubungan secara sinostosis pada fossa acetabuli, yang dibatasi oleh limbus acetabuli dan dikelilingi oleh facies lunata. Incisura acetabuli membuka acetabulum ke inferior dan berbatasan dengan foramen obturatorium (Platzer,2000) Tulang coxae atau disebut juga dengan innominate bone bentuknya datar dan lebar, merupakan os ireguler yang membentuk bagian terbesar pelvis. Tulang ini

tersusun atas tiga buah tulang yaitu tulang ilium, tulang ischium dan tulang pelvis yang corpusnya bersatu di acetabulum, yang terletak di facies eksterna tulang ini. Tulang ilium, disebut demikian karena menyangga pinggul, lebar di bagian superior dan membentang ke cranial dari acetabulum. Tulang ischium letaknya paling bawah dan merupakan bagiab paling kuat, berjalan ke bawah dari acetabulum dan memanjang ke tuber ischiadicum, kemudian melengkung ke ventral, bersama-sama tulang pubis membentuk lubang besar yaitu foramen obturatorium. Tulang pubis memanjang ke medial dari acetabulum dan bersendi di linea mediana dengan tulang pubis sisi yang berseberangan dengan membentuk simfisis osseum pubis, membentuk bagian depan pelvis (Hadiwidjaja, 2004) Tulang pubis terdiri dari ramus superior ossis pubis dan ramus inferior ossis pubis. Kedua rami tersebut dibatasi oleh foramen obturatorium. Dekat ujung superior medialis facies symphysialis terdapat tuberculum pubicum dari sana terdapat crista pubica terbentang ke medialis dan pectin pubis mengarah ke lateralis terhadap linea arcuata. Pada tempat peralihan dari ramus superior pubis ke ilium terdapat peninggian disebut eminentia iliopubica. Sulcus obturatorius terletak inferior terhadap tuberculum pubicum dan dibatasi sebelah dalam oleh tuberculum obturatorium anterius dan tuberculum obturatorium posterius yang tidak selalu ada. Tulang ilium dibagi menjadi bagian corpus ossis ilii dan ala ossis ilii. Corpus membentuk bagian acetabulum dan dibatasi sebelah luar oleh sulcus supra acetabularis dan di sebelah dalam oleh linea arcuata. Di bagian luar ala ossis ilii terdapat facies glutealis dan sebelah dalamnya terdapat fossa iliaca mudah dilihat. Di belakang fossa iliaca terdapat facies sacropelvica dengan tuberositas iliaca dan facies aurikularis. Crista iliaca mulai dari anterior pada spina iliaca anterior superior dan dibagi atas crista iliaca labium labium eksternum dan crista iliaca labium internum, serta linea intermedia yang memanjang ke atas dank e belakang. Terdapat juga di bagian lateralis lbium eksternum berupa tuberositas iliaca. Ujung crista iliaca berakhir pada spina iliaca superior posterior. Di bawah yang terakhir ini terdapat spina iliaca posterior inferior, sedangkan yang di bawah depan terdapat spina iliaca anterior inferior. Linea glutealis inferior, linea glutealis anterior, linea glutealis posteriorterletak pada facies glutealis. Selain itu terdapat juga beberapa saluran vaskuler diantaranya yang sesuai dengan fungsinya yaitu vasaemissaria Tulang ischium dibagi atas corpus ossis ischii dan ramus ossis ischii, yang bersama-samadengan ramus inferior ossis pubis membentuk batas bawah foramen obturatorium. Tonjolan ischium disebut spina ischiadica yang memisahkan incisura ischiadica mayor dengan incisura ischiadica minor. Incisura ischiadica mayor dibentuk sebagian oleh ischium dan sebagian lagi oleh ilium, serta mengarah ke permukaan bawah facies aurikularis. Tuber ischiadicum berkembang pada ramus ischium (Platzer, 2000) Cabang utama dari arteri iliaca komunis muncul di dalam pelvis diantara sendi sacroiliaca dan incisura ischiadica mayor. Bersama cabang-cabang venanya, pembuluh-pembuluh itu mudah terkena cidera bila fraktur mengenai bagian posterior cincin pelvis. Saraf pada pleksus

lumbalis dan sacralis juga juga menghadapi resiko bila tejadi cidera pelvis posterior Kandung kemih terletak di belakang simphisis pubis. Trigonum dipertahankan pada posisinya dengan ligament lateralis kandung kemih, dan pada pria dengan prostat. Prostat terlerak diantara kandung kemih dan dasar pelvis. Prostat dipertahankan di bagian lateral dengan serabut medial dari levator ani, sedangkan di bagian anterior terikat erat pada tulang pubis oleh ligament puboprostat. Pada wanita trigonum juga melekat pada serviks dan forniks vagina anterior. Urethra dipertahankan oleh otot dasar pelvis serta ligament pubourethra. Akibatnya pada wanita urethra jauh lebih mobil dan cenderung lebih sulit terkena cidera Pada waktu lahir hingga usia anak, buli-buli terletak di rongga abdomen. Namun semakin bertambahnya usia tempatnya turun dan berlindung di dalam kavum pelvis, sehingga kemungkinan mendapatkan trauma dari luar jarang terjadi. Angka kejadian trauma buli kurang lebih 2% dari seluruh trauma urogenitalia. Hampir sekitar 90% trauma buli akibat fraktur pelvis. Apabila terjadi kontusio kandung kemih bias dipasang kateter dengan tujuan untuk memberikan istirahat pada kandung kemih, dengan cara ini diharapkan dapat sembuh 7-10 hari. (Purnomo,2007) Pada cidera pelvis yang berat urethra membranosa dapat rusak bila prostat dipaksa ke belakang sementara urethra tetap diam. Bila ligament puboprostat robek, prostat dan dasar kandung kemih dapat banyak mengalami dislokasi dari urethramembranosa Kolon pelvis dengan mesenteriumnya merupakan struktur yang mobil sehingga tidak mudah cidera. Tetapi, rectum dan saluran anus lebih erat tertambat pada struktur urogenital dan otot dasar pelvis sehingga mudah terkena bila terjadi fraktur pelvis (Apley, 2000) Pada perkembangannya selama masa kehamilan, terdapat tiga bakal tulang, yaitu pada bulan ketiga dalam kandungan (ilium), pada bulan keempat sampai kelima (ischium) dan pada bulan kelima sampai keenam (pubis). Ketiga bakal tulang tersebut bersatu pada pusat acetabulum yaitu penyatuan berbentuk Y. Di dalam acetabulum satu atau lebih masing-masing pusat osifikasi berkembang antara usia 10 sampai 12 tahun. Sinostosis ketiga tulang terjadi antara usia 5 dan 7 tahun tetapi di dalam acetabulum sendiri tidak sampai antara usia 15 dan 17 tahun. Pusatpusat osifikasi epifisis terjadi pada spina pada usia 16 tahun, b. Fisiologi Tulang Fungsi tulang adalah sebagai berikut : 1). Mendukung jaringan tubuh dan memberikan bentuk tubuh. 2). Melindungi organ tubuh (misalnya jantung, otak, dan paru-paru) dan jaringan lunak. 3). Memberikan pergerakan (otot yang berhubungan dengan kontraksi dan pergerakan). 4). Membentuk sel-sel darah merah didalam sum-sum tulang belakang (hema topoiesis). 5). Menyimpan garam mineral, misalnya kalsium, fosfor. 2. Pengertian Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (syamsuhidayat, 2000). Sedangkan menurut Linda Juall C. dalam buku

Nursing Care Plans and Dokumentation menyebutkan bahwa Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang. Patah Tulang Tertutup adalah patah tulang dimana tidak dan luasnya. terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar (Soedarman, 2000). Pendapat lain fraktur adalah patah tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.( Brunner & Suddarth 2001). 3. Etiologi 1) Kekerasan langsung Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan. Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau miring. 2) Kekerasan tidak langsung Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan. 3) Kekerasan akibat tarikan otot Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi.Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan. 4. Patofisiologi Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur 1) Faktor Ekstrinsik Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur. 2) Faktor Intrinsik Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan, elastisitas, kelelahan, dan kepadatan atau kekerasan tulang. 5. Klasifikasi Fraktur Penampikan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis , dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu: a. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan). 1). Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi (Soedarman, 2000 )

2). Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit. b. Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur. 1). Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto. 2). Fraktru Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti: a) Hair Line Fraktur (patah retidak rambut) b) Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya. c) Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang. c. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubbungannya dengan mekanisme trauma. 1). Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung. 2). Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasijuga. 3). Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi. 4). Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah permukaan lain. 5). Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya pada tulang. d. Berdasarkan jumlah garis patah. 1) Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan. 2) Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan. 3) Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama. e. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang. 1). Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh. 2). Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi atas: a) Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan overlapping). b) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut). c) Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh). f. Berdasarkan posisi frakur Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian : 1) 1/3 proksimal 2) 1/3 medial 3) 1/3 distal g. Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang. h. Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang. Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu: 1) Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan lunak sekitarnya.

2) Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan. 3) Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan pembengkakan. 4) Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata ddan ancaman sindroma kompartement. 6. Manifestasi Klinik a. Deformitas b. Bengkak/edema c. Echimosis (Memar) d. Spasme otot e. Nyeri f. Kurang/hilang sensasi g. Krepitasi h. Pergerakan abnormal i. Rontgen abnormal 7. Test Diagnostik a. Pemeriksaan Rontgen : menentukan lokasi/luasnya fraktur/luasnyatrauma, skan tulang, temogram, scan CI: memperlihatkan fraktur juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak. b. Hitung darah lengkap : HB mungkin meningkat/menurun. c. Peningkatan jumlal sop adalah respons stress normal setelah trauma. d. Kreatinin : traumaa otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal. e. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi multiple, atau cederah hati. 8. Penatalaksanaan Medik a. Fraktur Terbuka Merupakan kasus emergensi karena dapat terjadi kontaminasi oleh bakteri dan disertai perdarahan yang hebat dalam waktu 6-8 jam (golden period). Kuman belum terlalu jauh meresap dilakukan: 1) Pembersihan luka 2) Exici 3) Hecting situasi 4) Antibiotik b. Seluruh Fraktur 1) Rekognisis/Pengenalan Riwayat kejadian harus jelas untuk mentukan diagnosa dan tindakan selanjutnya. 2) Reduksi/Manipulasi/Reposisi Upaya untuk memanipulasi fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara optimun. Dapat juga diartikan Reduksi fraktur (setting tulang) adalah mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasfanatomis (Brunner & Suddart, 2001). Reduksi tertutup, traksi, atau reduksi terbuka dapat dilakukan untuk mereduksi fraktur. Metode tertentu yang dipilih bergantung sifat fraktur, namun prinsip yang mendasarinya tetap, sama. Biasanya dokter melakukan reduksi fraktur sesegera mungkin untuk mencegah jaringan lunak kehilaugan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan. Pada kebanyakan kasus, roduksi fraktur menjadi semakin sulit bila cedera sudah mulai mengalami penyembuhan.Sebelum reduksi dan imobilisasi fraktur, pasien harus dipersiapkan untuk menjalani prosedur; harus diperoleh izin untuk melakukan prosedur, dan analgetika diberikan sesuai ketentuan. Mungkin perlu dilakukan anastesia. Ekstremitas yang akan dimanipulasi

harus ditangani dengan lembut untuk mencegah kerusakan lebih lanjut Reduksi tertutup. Pada kebanyakan kasus, reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang keposisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan manipulasi dan traksi manual. Ekstremitas dipertahankan dalam posisi yang diinginkan, sementara gips, biadi dan alat lain dipasang oleh dokter. Alat immobilisasi akan menjaga reduksi dan menstabilkan ekstremitas untuk penyembuhan tulang. Sinar-x harus dilakukan untuk mengetahui apakah fragmen tulang telah dalam kesejajaran yang benar. Traksi. Traksi dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imoblisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi. Sinar-x digunakan untuk memantau reduksi fraktur dan aproksimasi fragmen tulang. Ketika tulang sembuh, akan terlihat pembentukan kalus pada sinar-x. Ketika kalus telah kuat dapat dipasang gips atau bidai untuk melanjutkan imobilisasi. Reduksi Terbuka. Pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat paku, atau batangan logam digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang dalam posisnya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi. Alat ini dapat diletakkan di sisi tulang atau langsung ke rongga sumsum tulang, alat tersebut menjaga aproksimasi dan fiksasi yang kuat bagi fragmen tulang. 3) Retensi/Immobilisasi Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara optimun. Imobilisasi fraktur. Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi, atau dipertahankan dalam posisi kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi eksterna meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin dan teknik gips, atau fiksator eksterna. Implan logam dapat digunakan untuk fiksasi interna yang berperan sebagai bidai interna untuk mengimobilisasi fraktur. 4) Rehabilitasi Menghindari atropi dan kontraktur dengan fisioterapi. Segala upaya diarahkan pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak. Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan. Status neurovaskuler (mis. pengkajian peredaran darah, nyeri, perabaan, gerakan) dipantau, dan ahli bedah ortopedi diberitahu segera bila ada tanda gangguan neurovaskuler. Kegelisahan, ansietas dan ketidaknyamanan dikontrol dengan berbagai pendekatan (mis. meyakinkan, perubahan posisi, strategi peredaan nyeri, termasuk analgetika). Latihan isometrikdan setting otot diusahakan untuk meminimalkan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah. Partisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari diusahakan untuk memperbaiki kemandirian fungsi dan harga-diri. Pengembalian bertahap pada aktivitas semula diusahakan sesuai batasan terapeutika. Biasanya, fiksasi interna memungkinkan mobilisasi lebih awal. Ahli bedah yang memperkirakan stabilitas fiksasi fraktur, menentukan luasnya gerakan dan stres pada ekstrermitas yang diperbolehkan, dan menentukan tingkat aktivitas dan beban berat badan. 9. Proses Penyembuhan Tulang

Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. Fraktur merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang. Tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang. Ada lima stadium penyembuhan tulang, yaitu: 1) Stadium Satu-Pembentukan Hematoma Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini berlangsung 24 48 jam dan perdarahan berhenti sama sekali. 2) Stadium Dua-Proliferasi Seluler Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago yang berasal dari periosteum,`endosteum, dan bone marrow yang telah mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai, tergantung frakturnya. 3) Stadium Tiga-Pembentukan Kallus Selsel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik, bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago, membentuk kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan periosteal. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang ) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggusetelah fraktur menyatu. 4) Stadium Empat-Konsolidasi Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah menjadi lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal. 5) Stadium Lima-Remodelling Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus. Lamellae yang lebih tebal diletidakkan pada tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk, dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya. 10. Komplikasi 1) Komplikasi Awal a. Kerusakan Arteri Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.

b. Kompartement Syndrom Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan embebatan yang terlalu kuat. c. Fat Embolism Syndrom Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi, tachypnea, demam. d. Infeksi System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat. e. Avaskuler Nekrosis Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Volkmans Ischemia. f. Shock Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur. 2) Komplikasi Dalam Waktu Lama b. Delayed Union Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena penurunan supai darah ke tulang. c. Nonunion Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang. d. Malunion Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik. B. Konsep Keperawatan Di dalam memberikan asuhan keperawatan digunakan system atau metode proses keperawatan yang dalam pelaksanaannya dibagi menjadi 5 tahap, yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. 1. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada tahap ini. Tahap ini terbagi atas:

a. Pengumpulan Data 1) Anamnesa a) Identitas Klien Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis. b) Keluhan Utama Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan: (1) Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi nyeri. (2) Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk. (3) Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi. (4) Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya. (5) Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari. c) Riwayat Penyakit Sekarang Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain (Ignatavicius, Donna D, 1995). d) Riwayat Penyakit Dahulu Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit pagets yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang e) Riwayat Penyakit Keluarga Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik (Ignatavicius, Donna D, 1995). f) Riwayat Psikososial Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehariharinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat (Ignatavicius, Donna D, 1995). g) Pola-Pola Fungsi Kesehatan (1) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan

tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak.(Ignatavicius, Donna D,1995). (2) Pola Nutrisi dan Metabolisme Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien. (3) Pola Eliminasi Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi.Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah.Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak. Pola Tidur dan Istirahat Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur (Doengos. Marilynn E, 2002). (4) Pola Aktivitas Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain (Ignatavicius, Donna D, 1995). (5) Pola Hubungan dan Peran Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap (Ignatavicius, Donna D, 1995). (6) Pola Persepsi dan Konsep Diri Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image) (Ignatavicius, Donna D, 1995). (7) Pola Sensori dan Kognitif Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan. begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur (Ignatavicius, Donna D, 1995). (8) Pola Reproduksi Seksual Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien. Selain itu juga, perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak, lama perkawinannya (Ignatavicius, Donna D, 1995). 10) Pola Penanggulangan Stress

Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif. 11) Pola Tata Nilai dan Keyakinan Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien 2) Pemeriksaan Fisik Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). Hal ini perlu untuk dapat melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam. a) Gambaran Umum Perlu menyebutkan: (1) Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti: (a) Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis tergantung pada keadaan klien. (b) Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus fraktur biasanya akut. (c) Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk. (2) Secara sistemik dari kepala sampai kelamin (a) Sistem Integumen Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, bengkak, oedema, nyeri tekan. (b) Kepala Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada penonjolan, tidak ada nyeri kepala. (c) Leher Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek menelan ada. (d) Muka Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema. (e) Mata Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena tidak terjadi perdarahan) (f) Telinga Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau nyeri tekan. (g) Hidung Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung. (h) Mulut dan Faring Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa mulut tidak pucat. (i) Thoraks Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris. (j) Paru (1) Inspeksi Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru. (2) Palpasi Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama. (3) Perkusi Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya.

(4) Auskultasi Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan lainnya seperti stridor dan ronchi. (k) Jantung (1) Inspeksi Tidak tampak iktus jantung. (2) Palpasi Nadi meningkat, iktus tidak teraba. (3) Auskultasi Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur. (l) Abdomen (1) Inspeksi Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia. (2) Palpasi Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba. (3) Perkusi Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan. (4) Auskultasi Peristaltik usus normal 20 kali/menit. (m) Inguinal-Genetalia-Anus Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan BAB. b) Keadaan Lokal Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama mengenai status neurovaskuler (untuk status neurovaskuler 5 P yaitu Pain, Palor, Parestesia, Pulse, Pergerakan). Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah: (1) Look (inspeksi) Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain: (a) Cicatriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi). (b) Cape au lait spot (birth mark). (c) Fistulae. (d) Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi. (e) Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan halhal yang tidak biasa (abnormal). (f) Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas) (g) Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa) (2) Feel (palpasi) Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien.Yang perlu dicatat adalah: (a) Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit. Capillary refill time Normal 3 5 (b) Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama disekitar persendian. (c) Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3 proksimal, tengah, atau distal).Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi, benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya. (3) Move (pergerakan terutama lingkup gerak) Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan dengan menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan lingkup

gerak ini perlu, agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif. (Reksoprodjo, Soelarto, 1995) 3) Pemeriksaan Diagnostik a) Pemeriksaan Radiologi Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pencitraan menggunakan sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan pathologi yang dicari karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan x-ray harus atas dasar indikasi kegunaan pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan. Hal yang harus dibaca pada xray: (1) Bayangan jaringan lunak. (2) Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau juga rotasi. (3) Trobukulasi ada tidaknya rare fraction. (4) Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi. Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya seperti: (1) Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya. (2) Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma. (3) Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa. (4) Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak. b) Pemeriksaan Laboratorium (1) Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang. (2) Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang. (3) Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang. c) Pemeriksaan lain-lain (1) Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi. (2) Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi. (3) Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur. (4) Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang berlebihan.

(5) Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang. (6) MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur. (Ignatavicius, Donna D, 1995)

b.

teknik manajemen nyeri (latihan napas dalam, imajinasi visual, aktivitas dipersional) 6. Lakukan kompres dingin selama fase akut (24-48 jam pertama) sesuai keperluan. 7. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi.

3. Diagnosa Keperawatan Adapun diagnosa keperawatan yang lazim dijumpai pada klien fraktur adalah sebagai berikut: a. Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera jaringan lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas. b. Risiko disfungsi neurovaskuler perifer b/d penurunan aliran darah (cedera vaskuler, edema, pembentukan trombus) c. Gangguan pertukaran gas b/d perubahan aliran darah, emboli, perubahan membran alveolar/kapiler (interstisial, edema paru, kongesti) d. Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri, terapi restriktif (imobilisasi) e. Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi (pen, kawat, sekrup) f. Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit, taruma jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang) g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada (Doengoes, 2000) 4. Intervensi Keperawatan a. Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera jaringan lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas. Tujuan: Klien mengataka nyeri berkurang atau hilang dengan menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam beraktivitas, tidur, istirahat dengan tepat, menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas trapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual

terhadap nyeri, Trauma meningkatkan kontrol terhadap nyeri yang mungkin berlangsung lama. Menurunkan edema dan mengurangi rasa nyeri. Menurunkan nyeri melalui mekanisme penghambatan rangsang nyeri baik secara sentral maupun perifer.

Evaluasi keluhan nyeri Menilai perkembangan (skala, petunjuk verbal masalah klien. dan non verval, perubahan tanda-tanda vital) b. Risiko disfungsi neurovaskuler perifer b/d penurunan aliran darah (cedera vaskuler, edema, pembentukan trombus) Tujuan : Klien akan menunjukkan fungsi neurovaskuler baik dengan kriteria akral hangat, tidak pucat dan syanosis, bisa bergerak secara aktif INTERVENSI RASIONAL KEPERAWATAN 1. Dorong klien untuk secara rutin melakukan latihan menggerakkan jari/sendi distal cedera. 2. Hindarkan restriksi sirkulasi akibat tekanan bebat/spalk yang terlalu ketat. Meningkatkan sirkulasi darah dan mencegah kekakuan sendi.

INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Pertahankan imobilasasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, bebat dan atau traksi 2. Tinggikan posisi ekstremitas yang terkena. 3. Lakukan dan awasi latihan gerak pasif/aktif. 4. Lakukan tindakan untuk meningkatkan kenyamanan (masase, perubahan posisi) 5. Ajarkan penggunaan

Mencegah stasis vena dan sebagai petunjuk perlunya penyesuaian keketatan bebat/spalk. Meningkatkan drainase vena dan menurunkan edema kecuali pada adanya keadaan hambatan aliran arteri yang menyebabkan penurunan perfusi. Mungkin diberikan sebagai upaya profilaktik untuk menurunkan trombus vena. Mengevaluasi perkembangan masalah klien dan perlunya intervensi sesuai keadaan klien.

RASIONAL Mengurangi nyeri dan mencegah malformasi.

3. Pertahankan letak tinggi ekstremitas yang cedera kecuali ada kontraindikasi adanya sindroma kompartemen. 4. Berikan obat antikoagulan (warfarin) bila diperlukan. 5. Pantau kualitas nadi perifer, aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan kulit distal cedera, bandingkan dengan sisi yang normal.

Meningkatkan aliran balik vena, mengurangi edema/nyeri. Mempertahankan kekuatan otot dan meningkatkan sirkulasi vaskuler. Meningkatkan sirkulasi umum, menurunakan area tekanan lokal dan kelelahan otot. Mengalihkan perhatian

c. Gangguan pertukaran gas b/d perubahan aliran darah, emboli, perubahan membran alveolar/kapiler (interstisial, edema paru, kongesti) Tujuan : Klien akan menunjukkan kebutuhan oksigenasi terpenuhi dengan kriteria klien tidak sesak nafas, tidak cyanosis analisa gas darah dalam batas normal INTERVENSI RASIONAL KEPERAWATAN 1. Instruksikan/bantu latihan napas dalam dan latihan batuk efektif. 2. Lakukan dan ajarkan perubahan posisi yang aman sesuai keadaan klien. 3. Kolaborasi pemberian obat antikoagulan (warvarin, heparin) dan kortikosteroid sesuai indikasi. Meningkatkan ventilasi alveolar dan perfusi.

1. Pertahankan pelaksanaan aktivitas rekreasi terapeutik (radio, koran, kunjungan teman/keluarga) sesuai keadaan klien. 2. Bantu latihan rentang gerak pasif aktif pada ekstremitas yang sakit maupun yang sehat sesuai keadaan klien.

Memfokuskan perhatian, meningkatakan rasa kontrol diri/harga diri, membantu menurunkan isolasi sosial.

Reposisi meningkatkan drainase sekret dan menurunkan kongesti paru. Mencegah terjadinya pembekuan darah pada keadaan tromboemboli. Kortikosteroid telah menunjukkan keberhasilan untuk mencegah/mengatasi emboli lemak. Penurunan PaO2 dan peningkatan PCO2 menunjukkan gangguan pertukaran gas; anemia, hipokalsemia, peningkatan LED dan kadar lipase, lemak darah dan penurunan trombosit sering berhubungan dengan emboli lemak. Adanya takipnea, dispnea dan perubahan mental merupakan tanda dini insufisiensi pernapasan, mungkin menunjukkan terjadinya emboli paru tahap awal.

3. Berikan papan penyangga kaki, gulungan trokanter/tangan sesuai indikasi. 4. Bantu dan dorong perawatan diri (kebersihan/eliminasi) sesuai keadaan klien. 5. Ubah posisi secara periodik sesuai keadaan klien.

Meningkatkan sirkulasi darah muskuloskeletal, mempertahankan tonus otot, mempertahakan gerak sendi, mencegah kontraktur/atrofi dan mencegah reabsorbsi kalsium karena imobilisasi. Mempertahankan posis fungsional ekstremitas.

4. Analisa pemeriksaan gas darah, Hb, kalsium, LED, lemak dan trombosit

6. Dorong/pertahankan asupan cairan 2000-3000 ml/hari. 7. Berikan diet TKTP.

Meningkatkan kemandirian klien dalam perawatan diri sesuai kondisi keterbatasan klien. Menurunkan insiden komplikasi kulit dan pernapasan (dekubitus, atelektasis, penumonia) Mempertahankan hidrasi adekuat, men-cegah komplikasi urinarius dan konstipasi.

5. Evaluasi frekuensi pernapasan dan upaya bernapas, perhatikan adanya stridor, penggunaan otot aksesori pernapasan, retraksi sela iga dan sianosis sentral.

8. Kolaborasi pelaksanaan fisioterapi sesuai indikasi.

9. Evaluasi kemampuan mobilisasi klien dan program imobilisasi.

d. Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri, terapi restriktif (imobilisasi) Tujuan : Klien dapat meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin dapat mempertahankan posisi fungsional meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh menunjukkan tekhnik yang memampukan melakukan aktivitas INTERVENSI RASIONAL KEPERAWATAN

Kalori dan protein yang cukup diperlukan untuk proses penyembuhan dan mempertahankan fungsi fisiologis tubuh. Kerjasama dengan fisioterapis perlu untuk menyusun program aktivitas fisik secara individual.

Menilai perkembangan masalah klien.

e. Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi (pen, kawat, sekrup) Tujuan : Klien menyatakan ketidaknyamanan hilang, menunjukkan perilaku tekhnik untuk mencegah kerusakan kulit/memudahkan penyembuhan sesuai indikasi, mencapai penyembuhan luka sesuai waktu/penyembuhan lesi terjadi INTERVENSI RASIONAL KEPERAWATAN 1. Pertahankan tempat tidur yang nyaman dan aman (kering, bersih, alat tenun kencang, bantalan bawah siku, tumit). 2. Masase kulit terutama daerah penonjolan tulang dan area distal bebat/gips. Menurunkan risiko kerusakan/abrasi kulit yang lebih luas.

4. Analisa hasil pemeriksaan laboratorium (Hitung darah lengkap, LED, Kultur dan sensitivitas luka/serum/tulang)

Toksoid tetanus untuk mencegah infeksi tetanus. Leukositosis biasanya terjadi pada proses infeksi, anemia dan peningkatan LED dapat terjadi pada osteomielitis. Kultur untuk mengidentifikasi organisme penyebab infeksi. Mengevaluasi perkembangan masalah klien.

5. Observasi tandatanda vital dan tandatanda peradangan lokal pada luka.

Meningkatkan sirkulasi perifer dan meningkatkan kelemasan kulit dan otot terhadap tekanan yang relatif konstan pada imobilisasi. Mencegah gangguan integritas kulit dan jaringan akibat kontaminasi fekal. Menilai perkembangan masalah klien.

3. Lindungi kulit dan gips pada daerah perianal

h. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada. Tujuan : klien akan menunjukkan pengetahuan meningkat dengan kriteria klien mengerti dan memahami tentang penyakitnya INTERVENSI RASIONAL KEPERAWATAN 1. Kaji kesiapan klien mengikuti program pembelajaran. Efektivitas proses pemeblajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental klien untuk mengikuti program pembelajaran. Meningkatkan partisipasi dan kemandirian klien dalam perencanaan dan pelaksanaan program terapi fisik. Meningkatkan kewaspadaan klien untuk mengenali tanda/gejala dini yang memerulukan intervensi lebih lanjut.

4. Observasi keadaan kulit, penekanan gips/bebat terhadap kulit, insersi pen/traksi.

f. Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit, taruma jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang Tujuan : Klien mencapai penyembuhan luka sesuai waktu, bebas drainase purulen atau eritema dan demam INTERVENSI RASIONAL KEPERAWATAN 1. Lakukan perawatan pen steril dan perawatan luka sesuai protokol 2. Ajarkan klien untuk mempertahankan sterilitas insersi pen. 3. Kolaborasi pemberian antibiotika dan toksoid tetanus sesuai indikasi. Mencegah infeksi sekunderdan mempercepat penyembuhan luka. Meminimalkan kontaminasi.

2. Diskusikan metode mobilitas dan ambulasi sesuai program terapi fisik.

3. Ajarkan tanda/gejala klinis yang memerluka evaluasi medik (nyeri berat, demam, perubahan sensasi kulit distal cedera) 4. Persiapkan klien untuk mengikuti terapi pembedahan bila diperlukan.

Antibiotika spektrum luas atau spesifik dapat digunakan secara profilaksis, mencegah atau mengatasi infeksi.

Upaya pembedahan mungkin diperlukan untuk mengatasi maslaha sesuai kondisi klien. B. Evaluasi o Nyeri berkurang atau hilang o Tidak terjadi disfungsi neurovaskuler perifer o Pertukaran gas adekuat

o Tidak terjadi kerusakan integritas kulit o Infeksi tidak terjadi o Meningkatnya pemahaman klien terhadap penyakit yang dialami

BAB III PEMBAHASAN

A. Konsep Medis Fraktur Pelvis 1. Pengertian Fraktur panggul adalah fraktur salah satu bagian dari trauma multipel yang dapat mengenai organ-organ lain dalam panggul.(Hoppenfeld & Murthy, 2000). Fraktur pelvis berhubungan dengan injuri arteri mayor, saluran kemih bagian bawah, uterus, testis, anorektal dinding abdomen, dan tulang belakang. Dapat menyebabkan hemoragi (pelvis dapat menahan sebanyak + 4 liter darah) dan umumnya timbul manifestasi klinis seperti hipotensi, nyeri dengan penekanan pada pelvis, perdarahan peritoneum atau saluran kemih. Fraktur pelvis berkekuatan-tinggi merupakan cedera yang membahayakan jiwa. Perdarahan luas sehubungan dengan fraktur pelvis relatif umum namun terutama lazim dengan fraktur berkekuatan-tinggi. Kira-kira 1530% pasien dengan cedera pelvis berkekuatan-tinggi tidak stabil secara hemodinamik, yang mungkin secara langsung dihubungkan dengan hilangnya darah dari cedera pelvis. Perdarahan merupakan penyebab utama kematian pada pasien dengan fraktur pelvis, dengan keseluruhan angka kematian antara 6-35% pada fraktur pelvis berkekuatan-tinggi rangkaian besar. 2. Etiologi 1) Trauma langsung: benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur pada tempat tersebut. 2) Trauma tidak langsung: bilamana titik tumpul benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan. 3) Proses penyakit: kanker dan riketsia. 4) Compresion force: klien yang melompat dari tempat ketinggian dapat mengakibatkan fraktur kompresi tulang belakang. 5) Muscle (otot): akibat injuri/sakit terjadi regangan otot yang kuat sehingga dapat menyebabkan fraktur (misal; elektrik shock dan tetani). 2. Tanda dan Gejala Klien datang dalam keadaan anemia dan syok karena perdarahan yang hebat. Selain itu, terdapat gangguan fungsi anggota gerak. Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti : fungsi berubah, bengkak, kripitasi, sepsis pada fraktur terbuka, deformitas. 3. Komplikasi 3.1 Komplikasi Segera 1) Trombosis vena ilio-femoral, komplikasi ini sering ditemukan dan sangat berbahaya. Apabila ada keraguan sebaiknya berikan koagulan secara rutin untuk profilaksis.

2) Robekan kandung kemih, robekan dapat terjadi apabila ada gangguan simfisis pubis atau tusukan dari tulang panggul yang tajam. 3) Robekan uretra, robekan ini terjadi karena ada gangguan simfisis pubis pada daerah uretra pars membranosa. 4) Trauma rektum dan vagina. 5) Trauma pembuluh darah besar akan menyebabkan perdarahan masif sampi syok. 6) Trauma pada syaraf : a. Lesi saraf skiatik dapat terjadi karena pada saat trauma atau pada saat operasi. Apabila dalam jangka waktu enam minggu tidak ada perbaikan, sebaiknya lakukan eksplorasi. b. Lesi pleksus lumbosakralis, biasanya terjadi pada fraktur sakrum yang bersifat vertikat disertai pergeseran. Selain itu, dapat terjadi gangguan fungsi seksual apabila mengenai pusat saraf. 3.2 Komplikasi Lanjut 1) Pembentukan tulang heterotrofik, biasanya terjadi setelah trauma jaringan lunak yang hebat atau setelah operasi. Dalam keadaan ini klien dapat diberikan indometasin untuk profilaksis. 2) Nekrosis avaskular, dapat terjadi kaput femur beberapa waktu setelah trauma. 3) Gangguan pergerakan sendi serta osteoatritis sekunder, apabila terjadi fraktur pada daerah asetabulum dan tidak dilakukan reduksi yang akurat, sedangkan sendi ini menopang berat badan, ketidaksesuaian sendi sehingga terjadi gangguan pergerakan serta osteoatritis di kemudian hari. 4) Skoliosis kompensatoar. 4 . Penatalaksanaan 4.1 Rekognisi menyangkut diagnosa fraktur pada tempat kejadian kecelakaan dan kemudian di rumah sakit. Misal riwayat kecelakaan, parah tidaknya luka, diskripsi kejadian oleh pasien, serta menentukan kemungkinan tulang yang patah, dan krepitus. 4.2 Reduksi Reposisi fragmen fraktur sedekat mungkin dengan letak normalnya. Reduksi terbagi menjadi dua yaitu: 1) Reduksi tertutup: untuk mensejajarkan tulang secara manual dengan traksi atau gips. 2) Reduksi terbuka: dengan metode insisi dibuat dan diluruskan melalui pembedahan, biasanya melalui internal fiksasi dengan alat misalnya; pin, plat yang langsung kedalam medula tulang. 4.3 Retensi menyatakan metode-metode yang dilaksanakan untuk mempertahankan fragmen-fragmen tersebut selama penyembuhan (gips/traksi) 4.4 Rehabilitasi: Langsung dimulai segera dan sudah dilaksanakan bersamaan dengan pengobatan fraktur karena sering kali pengaruh cedera dan program pengobatan hasilnya kurang sempurna (latihan gerak dengan kruck). B. Konsep Keperawatan Fraktur Pelvis Di dalam memberikan asuhan keperawatan digunakan system atau metode proses keperawatan yang dalam pelaksanaannya dibagi menjadi 5 tahap, yaitu pengkajian,

diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. 1. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada tahap ini. Tahap ini terbagi atas: 1.1 Pengumpulan Data 1) Identitas Klien Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis. 2) Keluhan Utama Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan: Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi nyeri. Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk. Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi. Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya. Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari. 3) Riwayat Penyakit Sekarang Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain (Ignatavicius, Donna D, 2000). 4) Riwayat Penyakit Dahulu Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit pagets yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang 5) Riwayat Penyakit Keluarga Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik (Ignatavicius, Donna D,2000). 6) Riwayat Psikososial

Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehariharinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat (Ignatavicius, Donna D, 2000). 7) Pola-Pola Fungsi Kesehatan Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak.(Ignatavicius, Donna D,2000). 8) Pola Nutrisi dan Metabolisme Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien. 9) Pola Eliminasi Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak. Pola Tidur dan Istirahat Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur (Doengos. Marilynn E, 2002). 10) Pola Aktivitas Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain (Ignatavicius, Donna D, 1995). 11) Pola Hubungan dan Peran Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap (Ignatavicius, Donna D, 2000). 12) Pola Persepsi dan Konsep Diri Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image) (Ignatavicius, Donna D, 2000). 13) Pola Sensori dan Kognitif Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan. begitu juga pada kognitifnya tidak

mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur (Ignatavicius, Donna D, 2000). 14) Pola Reproduksi Seksual Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien. Selain itu juga, perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak, lama perkawinannya (Ignatavicius, Donna D, 2000). 15) Pola Penanggulangan Stress Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif. 16) Pola Tata Nilai dan Keyakinan Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien 1.2 Pemeriksaan Fisik Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). Hal ini perlu untuk dapat melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam. 1) Gambaran Umum Perlu menyebutkan keadaan umum baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti: a. Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis tergantung pada keadaan klien. b. Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus fraktur biasanya akut. c. Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk. 2) Pemeriksaan Fisik Per Sistem a. B1 (Breathing), karena adanya perubahan pada sistem pernafasan yang disertai banyaknya perdarahan dan syok. Inspeksi : klien batuk, peningkatan sputum, sesak nafas, penggunaan otot bantu pernafasan, peningkatan frekuensi pernafasan, retraksi interkostal, serta penembangan paru tidak simetris. Ketidakseimbangan ini menunjukkan adanya atelaktasis, lesi pada paru, obstruksi pada bronkus, fraktur tulang iga, dan pneumothoraks. Palpasi : penurunan fremitus dibandingkan dengan sisi yang lainnya apabila terjadi trauma pada rongga dada. Perkusi : didapatkan suara redup sampai pekak apabila trauma terjadi pada thorak dan hemothoraks. Auskultasi : suara nafas tambahan seperti stridor dan ronki pada klien dengan peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk menurun hal ini terjadi pada klien cedera panggul yang mengalami penurunan tingkat kesadaran (koma). b. B2 (Blood), didapatkan renjatan (syok hipovolemik atau syok hemoragik) yang sering terjadi pada pasien dengan cedera panggul dari sedang hingga berat. Tekanan darah menurun, bradikardi tanda perubahan perfusi jaringan otak, berdebar-debar, pusing saat melakukan perubahan posisi, dan ekstremitas dingin atau pucat menandakan adanya penurunan kadar hemoglobin dalam darah. Hal ini akan merangsang hormon anti diuretik yang

berdampak pada kompensasi tubuh untuk melakukan retensi atau pengeluaran garam dan air oleh tubulus. Mekanisme ini akan meningkatkan konsentrasi elektroit sehingga terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada sistem kardiovaskuler. c. B3 (Brain) Tingkat kesadaran klien cedera panggul yang tidak berat adalah compos mentis. Pemeriksaan fungsi serebral, status mental, observasi penampilan,tingkah laku, gaya bicara, ekspresi wajah, dan aktivitas motorik klien. Pemeriksaan saraf kranial, Saraf I tidak ada kelainan,pada funsi penciuman juga tidak ada kelainan. Saraf II Ketajaman penglihatan normal Saraf III, IV, VI Tidak ada gangguan mengangkat kelopak mata Saraf V Tidak ada paralysis pada otot wajah, reflek kornea tidak ada kelainan. Saraf VII Persepsi pengecapan dalam batas normal dan wajah simetris. Saraf VIII tidak ditemukan tuli konduktif tuli persepsi. Saraf IX dan X kemampuan menelan baik. Saraf XI tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius. Saraf XII indera pengecapan normal. Pemeriksaan reflek, Reflek Archilles menghilang, reflek patela menurun. Pemeriksaan sensorik, klien kehilangan sensitibilitas pada kedua bokong, perineum, dan anus. d. B4 (Bladder), kandung kemih mengalami hematuria, nyeri berkemih, deformitas pada pubis, sampai alat kelamin sehingga mengganggu miksi. Pada hal ini tidak boleh dipasang kateter. Karena merupakan kontraindikasi apabila terjadi ruptur uretra. e. B5 (Bowel), sering dijumpai ileus paralitik. Manifestasi klinis menunjukkan menghilangnya bising usus, kembung dan tidak adanya defekasi. Pemenuhan nutrisi berkurang karena mual. f. B6 (Bone ), paralisis motorik biasanya terjadi jika juga mengompresi sakrum g. Look pada inspeksi perineum, biasanya didapatkan bengkak, perdarahan dan deformitas pada panggul. h. Feel kaji adanya derajad ketidakstabilan cincin panggul dengan palpasi pada simfisis pubis dan anus. i. Move disfungsi motorik yakni kelemahan dan kelumpuhan ekstremitas bawah. 3) Diagnosa a. Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera jaringan lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas. b. Ketidakseimbangan nutrisi b/d mual muntah dan peningkatan metabolisme. c. Resiko tinggi trauma b/d penurunan kesadaran dan hambatan mobilitas fisik. d. Hambatan mobilitas fisik b/d kerusakan neurovaskuler. e. Gangguan eliminasi urine b/d trauma pada kandung kemih dan ureter f. Gangguan eliminasi alvi b/d kerusakan anatomis rektum.

g. Defisit perawatan diri b/d kelemahan fisik estremitas bawah. h. Resiko tinggi infeksi b/d adanya port de entree luka terbuka pada panggul. i. Resiko kerusakan integritas kulit b/d imobilisasi dan tidak adekuatnya sirkulasi perifer. j. Resiko tinggi ketidakefektifan koping individu b/d disfungsi seksual, prognosis kondisi sakit, program pengobatan, tirah baring lama. k. Ansietas b/d krisis, situasional, ancaman terhadap konsep diri dan perubahan status kesehatan. 4) Intervensi dan implementasi a. Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera jaringan lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas. Tujuan: Nyeri berkurang, hilang dan teratasi. Kriteria hasil : Klien mengataka nyeri berkurang atau hilang dengan menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam beraktivitas, tidur, istirahat dengan tepat, menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas trapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Pertahankan imobilasasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, bebat dan atau traksi 2. Tinggikan posisi ekstremitas yang terkena. 3. Lakukan dan awasi latihan gerak pasif/aktif. 4. Lakukan tindakan untuk meningkatkan kenyamanan (masase, perubahan posisi) 5. Ajarkan penggunaan teknik manajemen nyeri (latihan napas dalam, imajinasi visual, aktivitas dipersional) 6. Lakukan kompres dingin selama fase akut (24-48 jam pertama) sesuai keperluan. 7. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi. RASIONAL Mengurangi nyeri dan mencegah malformasi.

perubahan tanda-tanda vital) b. Hambatan mobilitas fisik b/d kerusakan neuromuskuler, nyeri sekunder akibat pergerakan fragmen tulang. Tujuan : klien mampu melaksanakn aktivitas fisik sesuai kemampuannya. Kriteria hasil : klien dapat mengikuti program latihan, tidak mengalami kontriktur sendi, kekuatan otot bertambah, klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas. INTERVENSI RASIONAL KEPERAWATAN 1. Kaji mobilitas yang ada dan observasi adanya peningkatan kerusakan. Kaji secara teratur fungsi motorik. 2. Ubah posisi klien setiap 2jam. Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.

3. Ajarkan klien untuk melakukan gerak aktif pada ekstremitas yang tidak sakit.

Mengurangi resiko terjadinya iskemia jaringan akibat sirkulasi darah yang jelek pada daerah tertekan. Gerakan aktif memberikan massa, tonus, kekuatan otot, serta memperbaiki fungsi jantung dan pernafasan. Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya apabila tidak dilatih.

Meningkatkan aliran balik vena, mengurangi edema/nyeri. Mempertahankan kekuatan otot dan meningkatkan sirkulasi vaskuler. Meningkatkan sirkulasi umum, menurunakan area tekanan lokal dan kelelahan otot. Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, meningkatkan kontrol terhadap nyeri yang mungkin berlangsung lama. Menurunkan edema dan mengurangi rasa nyeri. Menurunkan nyeri melalui mekanisme penghambatan rangsang nyeri baik secara sentral maupun perifer. Menilai perkembangan masalah klien.

4. Lakukan gerak pasif pada ekstremitas yang sakit.

Evaluasi keluhan nyeri (skala, petunjuk verbal dan non verval,