Anda di halaman 1dari 10

DEFINISI FRAKTUR Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan sendi, tulang

rawan epifisis baik bersifat total ataupun parsial yang umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung. Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Trauma tidak langsung, apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula, pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh. Fraktur patologis adalah fraktur yang terjadi pada tulang yang abnormal.1 Tulang yang abnormal tersebut bisa sangat lemah sehingga fraktur terjadi dengan trauma ringan atau bahkan pada aktivitas biasa.1 Femur merupakan tulang tersering ketiga, setelah vertebrae dan pelvis, tempat ditemukannya metastasis tulang. Fraktur patologis pada femur merupakan yang paling sering membutuhkan intervensi pembedahan. Fraktur patologis pada femur merupakan 66 % fraktur patologis pada tulang panjang, dimana 87% terjadi pada femur proksimal dan shaft femur. Fraktur pada collum femur merupakan fraktur yang paling sering terjadi pada orang tua. Umur rata-rata 77 tahun pada wanita dan 72 tahun pada laki-laki, dan 80% terjadi pada wanita. Insidensi pada usia muda sangat rendah dan berhubungan dengan trauma hebat. Penyebab tersering fraktur patologis pada femur proksimal adalah osteoporosis. Klasifikasi berdasarkan lokasi terjadinya fraktur patologis pada femur : Fraktur caput femur Fraktur collum femur Fraktur intertrochanter femur Fraktur subtrochanter femur Fraktur shaft femur Fraktur femur distal (supracondyler/intercondyler) s Pada anamnesis yang mengarahkan kita kepada suatu fraktur patologis :2,3 pasien dengan fraktur yang terjadi secara spontan atau pada trauma minor pola fraktur yang tidak biasa riwayat multipel fraktur sebelumnya usia tua riwayat keganasan atau penyakit metabolik riwayat nyeri pada tempat fraktur sebelum terjadi fraktur faktor risiko seperti merokok maupun eksposure terhadap karsinogen Selain pemeriksaan fisik standar pada fraktur, diperlukan pemeriksaan tambahan seperti ada tidaknya massa pada tempat fraktur, keterlibatan limfonodi regional. Pemeriksaan thyroid, mammae, prostat dan rektum juga perlu dilakukan untuk mencari kemungkinan tumor primer. Pemeriksaan radiologis mencakup pemeriksaan foto polos standar pada fraktur. Penilaian harus dilakukan secara menyeluruh : adakah lesi intra osseus, densitas tulang, massa ekstra

osseus. Dari foto kita bisa menilai atau mendiagnosis suatu lesi dengan melihat karakteristik dari lesi tersebut antara lain densitas, formasi tulang, kalsifikasi, batas, reaksi jaringan sekitar. Ketika kita mencurigai suatu fraktur patologis akibat metastasis : Bone survey untuk mencari kemungkinan kelainan pada tempat lain (metastasis pada tulang yang lain, impending fraktur). Thorax AP Bone scans USG abdomen Pemeriksaan spesifik : mammografi, IVU, endoscopy Tumor primer tidak dapat teridentifikasi pada 15 % kasus. 3 Penyebab terbanyak metastasis pada tulang adalah karsinoma payudara (45%).4 Tumor primer maligna pada tulang relatif jarang, dan biasanya pada usia muda. Kita curiga suatu tumor primer maligna pada tulang dari gambaran radiologis : tepi lesi yang tidak tegas, produksi matriks, reaksi periosteal.3 Laboratorium darah lengkap dengan hapusan darah tepi elektrolit : serum kalsium, serum phosporus, alkali fosfatase urinalisis test spesifik : test fungsi thyroid, CEA, PTH, PSA

Biopsi Diagnosis suatu lesi secara histologis diperlukan pada semua lesi kecuali lesi tersebut bisa diidentifikasi tanpa pemeriksaan histologis atau lesi tersebut tidak memerlukan suatu terapi. Pada lesi yang tidak kita lakukan biopsi harus kita lakukan follow up selama 1 tahun untuk memastikan lesi tersebut inaktif. Biopsi dapat dilakukan dengan fine needle, core biopsi, maupun biopsi terbuka. Prognosis fraktur patologis Kebanyakan fraktur patologis dapat menyatu, karena laju deposisi pada penyembuhan fraktur lebih cepat daripada laju resorbsi penyakit yang mendasari fraktur tersebut. Fraktur patologis pada osteomielitis tidak akan menyatu sampai infeksi bisa terkontrol. Pada neoplasma ganas seperti osteosarkoma, laju deposisi dan resorpsi tulang bisa sama cepat, sehingga bisa terjadi delayed union dan merupakan suatu indikasi amputasi. Fraktur patologis akibat metastasis neoplasma pada ekstrimitas biasanya memerlukan fiksasi internal dikombinasi dengan terapi radiasi dan hormonal.1 Manajemen Inisial : imobilisasi analgetik evaluasi proses patologis yang mendasari perbaikan keadaan umum

Non operatif : Pada umumnya, fraktur akibat lesi benign dapat sembuh tanpa intervensi bedah. Waktu penyembuhan lebih lama dibandingkan tulang normal, khususnya pada pasien dengan terapi radiasi dan kemoterapi.3 Terapi nonoperatif hanya diindikasikan pada pasien yang secara ekstrim memiliki resiko medis yang besar jika dilakukan dengan operasi, sedangkan keadaan lain tanpa penyulit, maka merupakan indikasi untuk dilakukan tindakan operasi. Operatif : Tujuan : mencegah osteopeni disuse restorasi fungsi sehingga pasien dapat melakukan aktivitas mengurangi nyeri mengurangi waktu rawat inap Kontraindikasi :3 Kondisi pasien tidak memungkinkan untuk toleransi operasi dan anestesi Penurunan kesadaran Harapan hidup < 1 bulan 5. FRAKTUR SUBTROKANTER FEMORIS Fraktur subtrokanter merupakan fraktur dengan garis patahnya berada 5 cm distal dari trochanter minor. Fraktur subtrokanter dapat terjadi pada setiap umur dan biasanya terjadi akibat trauma yang hebat. Orang tua lebih dari 50 tahun dapat mengalami fraktur subtrokanterik dari mekanisme lower-energy seperti jatuh. Kelompok usia yang lebih muda biasa terjadi karena mekanisme higher-energy seperti kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, atau trauma tembus. Gambaran klinis fraktur subtrokanter anggota gerak bawah dalam keadaan rotasi eksterna, memendek dan ditemukan pembengkakan pada daerah proksimal femur disertai nyeri pada pergerakan. Pada pemeriksaan radiologis dapat menunjukkan fraktur yang terjadi dibawah trokanter minor. Garis fraktur dapat bersifat transversal, oblik, atau spiral dan sering bersifat komunitif. Fragmen proksimal dalam posisi fleksi sedangkan distal dalam posisi adduksi dan bergeser ke proksimal. 6. KLASIFIKASI FRAKTUR SUBTROCHANTER a. Association for the Study of Internal Fixation (AO-ASIF) : klasifikasi 3 bagian dengan 10 subtipe. Klasifikasi ini paling berguna pada kepentingan penelitian. b. Seinsheimer : klasifikasi dengan 8 subgrup yang mengidentifikasi fraktur dengan hilangnya stabilitas kortikal. c. The Russell-Taylor classification system : membantu menentukan metode pengobatan yang tepat. Fraktur tipe 1 tidak melibatkan fossa piriformis. Dibagi kedalam subtype A, untuk fraktur di bawah trokanter minor, dan tipe B yang melibatkan trokanter minor. Fraktur tipe 2 melibatkan fossa piriformis. Tipe 2A memiliki buttress medial stabil. Tipe 2B tidak memiliki stabilitas korteks medial femoral.

Fraktur tipe 1 dapat diobat dengan generasi pertama atau kedua intramedullarydevices sementara fraktur tipe 2 memerlukan reduksi terbuka dan fiksasi internal (ORIF) dengan screw plate devices atau fixed angle implants. 7. PEMERIKSAAN KLINIS Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatic fraktur), baik yang hebat maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidak mampuan untuk menggunakan anggota gerak. Penderita biasanya datang karena adanya nyeri, pembengkakan, gangguan fungsi anggota gerak, deformitas, kelainan gerak, krepitasi atau datang dengan gejala lain. Pada pemeriksaan awal penderita perlu diperhatikan: - Syok, anemia atau perdarahan - Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang atau organ-organ dalam rongga thoraks, panggul dan abdomen - Faktor predisposisi, misalnya pada fraktur patologis. Pemeriksaan lokal a. Inspeksi (look) Ekspresi wajah karena nyeri Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan fraktur tertutup atau terbuka Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan kependekan Lakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ-organ lain Perhatikan kondisi mental penderita Keadaan vaskularisasi. b. Palpasi (feel) Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh sangat nyeri. Hal-hal yang perlu diperhatikan: Temperatur setempat yang meningkat Nyeri tekan; nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara hati-hati Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena. Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal daerah trauma, temperatur kulit Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai. c. Pergerakan (move) Periksa pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. Pada penderita dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar, disamping itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf. Pada fraktur femur ditemukan nyeri paha, pembengkakan, dan deformitas. Fraktur subtrokanterik dapat ditemukan pemendekan tungkai yang fraktur, ekstensi (iliopsoas menyebabkan fleksi dari

fragmen proksimal) dan varus (otot pinggul menyebabkan abduksi dan rotasi eksternal fragmen proksimal, dan adduktor paha mengadduksi fragmen distal 8.PEMERIKSAAN RADIOLOGI Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur. Tujuan pemeriksaan radiologis: Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi Untuk konfirmasi adanya fraktur Untuk melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta pergerakannya Untuk menentukan teknik pegobatan Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang Untuk melihat adanya benda asing, misalnya peluru Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip dua: Dua posisi proyeksi: dilakukan sekurang-kurangnya yaitu pada antero-posterior dan lateral Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto, di atas dan di bawah sendi yang mengalami fraktur Dua anggota gerak. Pada anak-anak sebaiknya dilakukan foto pada ke dua anggota gerak terutama pada fraktur epifisis Dua trauma, pada trauma yang hebat sering menyebabkan fraktur pada dua daerah tulang. Misalnya pada fraktur kalkaneus atau femur, maka perlu dilakukan foto pada panggul dan tulang belakang Dua kali dilakukan foto. Pada fraktur tertentu misalnya fraktur tulang skafoid foto pertama biasanya tidak jelas sehingga biasanya diperlukan foto berikutnya 10-14 hari kemudian. 9. PENATALAKSANAAN 1. Fraktur pada batang femur atau regio subtrokanter akan sembuh dengan imobilisasi, tapi traksi dan casting memerlukan rawat inap yang lama serta hasil yang tak dapat diprediksi 2. IM nailing : merupakan penanganan pilihan untuk cedera ini karena dapat dilakukan secara tertutup dan dapat memantau jaringan lunak tetap terbungkus 3. Stabilisasi fraktur subtrokanter : di bawah trokanter minor dan pada batang femur ditangani dengan standard interlocking IM nails, jika di atas atau pada trokanter minor, dengan fossa piriformis intak dapat ditangani dengan generasi kedua locking (rekonstruksi atau sefalomedulary) IM nails. Fraktur yang meliputi trokanter mayor dan fossa piriformis, stabilisasi dapat dilakukan dengan fixed-angle devices. 4. Alternatif: Traksi skeletal dan bracing : dapat dilakukan pada orang dewasa yang tidak dapat dilakukan operasi, dan anak kecil Fiksasi eksternal : pada fraktur terbuka yang tidak dapat di debridemen sempurna. Metode ini juga dapat untuk stabilisasi temporer. 10. KOMPLIKASI Komplikasi Dini Syok: dapat terjadi perdarahan sebanyak 1-2 liter walaupun fraktur bersifat tertutup. Emboli lemak.

Trauma Pembuluh darah. Trauma Saraf. Infeksi. Komplikasi Lanjut Delayed union: fraktur femur pada orang dewasa mengalami union dalam 4 bulan. Nonunion: apabila permukaan fraktur menjadi bulat dan sklerotik dicurigai adanya nonunion dan diperlukan fiksasi interna dan bone graft. Malunion: bila terjadi pergeseran kembali kedua ujung fragmen, maka diperlukan pengamatan terus menerus selama perawatan. Angulasi sering ditemukan. Malunion juga menyebabkan pemendekan pada tungkai sehingga dieprlukn koreksi berupa osteotomi. Kaku sendi lutut: setelah fraktur femur biasanya terjadi kesulitan pergerakan pada sendi lutut. Hal ini disebabkan oleh adanya adhesi periartikuler atau adhesi intrmuskuler. Hal ini dapat dihindari apabila fisioterapi yang intensif dan sistematis dilakukan lebih awal.

BAB II ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian Keperawatan 1. Data Biografi Identitas pasien seperti umur, jenis kelamin, alamat, agama, penaggung jawab, status perkawinan. 2. Riwayat Kesehatan a. Riwayat medis dan kejadian yang lalu b. Riwayat kejadian cedera kepala, seperti kapan terjadi dan penyebab terjadinya c. Penggunaan alkohol dan obat-obat terlarang lainnya. 3. Pemeriksaan fisik a. Aktivitas/istirahat Tanda: Keterbatasab/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera, fraktur itu sendiri, atau terjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan, nyeri). b. Sikulasi Tanda: Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah). Takikardia (respon stres, hipovolemia). Penurunan/tak ada nadi pada bagian distal yang cedera, pengisian kapiler lambat, pucat pada bagian yang terkena. Pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi cedera. c. Neurosensori Gejala: hilang gerakan/sensasi, spasme otot, kebas/kesemutan (parestesis). Tanda: deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi (bunyi berderit), spasme otot, terlihat kelemahan/hilang fungsi. Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri/ansietas atau trauma lain). d. Nyeri/kenyamanan Gejala : nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada

area jaringan/kerusakan tulang, dapat berkurang pada imobilisasi), tidak ada nyeri akibat kerusakan saraf. Spasme/kram otot (setelah imobilisasi) e. Keamanan Tanda: laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan warna. Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba). 4. Pemeriksaan diagnostik a. Pemeriksaan Ronsen : menentukan lokasi/luasnya fraktur femur/trauma. b. Scan tulang, tomogram, scan CT/MRI: memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak. c. Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai. d. Hitung darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multipel). Peningkatan jumlah SDP adalah respon stres normal setelah trauma. e. Kreatinin : trauma otot mungkin meningkatkan beban kreatininuntuk klirens ginjal. f. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi multipel, atau cedera hati. B. Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang, gerakan fragmen tulang, edema dan cedera pada jaringan, alat traksi/immobilisasi, stress, ansietas. 2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status metabolik, kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi dibuktikan oleh terdapat luka / ulserasi, kelemahan, penurunan berat badan, turgor kulit buruk, terdapat jaringan nekrotik. 3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan, kerusakan muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan. 4. Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh, respons inflamasi tertekan, prosedur invasif dan jalur penusukkan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan. 5. Kurang pengetahuan tantang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi. C. Intervensi Keperawatan Intervensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op frakture meliputi : 1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang, gerakan fragmen tulang, edema dan cedera pada jaringan, alat traksi/immobilisasi, stress, ansietas. Tujuan : nyeri dapat berkurang atau hilang. Kriteria Hasil : Nyeri berkurang atau hilang, Klien tampak tenang. Intervensi dan Implementasi: a. Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga R/ hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif b. Kaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeri R/ tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan skala nyeri c. Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri R/ memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang nyeri. d. Observasi tanda-tanda vital.

R/ untuk mengetahui perkembangan klien e. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik R/ merupakan tindakan dependent perawat, dimana analgesik berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri. 2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status metabolik, kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi dibuktikan oleh terdapat luka / ulserasi, kelemahan, penurunan berat badan, turgor kulit buruk, terdapat jaringan nekrotik. Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai. Kriteria Hasil : tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus., luka bersih tidak lembab dan tidak kotor, Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi. Intervensi dan Implementasi a. Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka. R/ mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam melakukan tindakan yang tepat. b. Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka R/ mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah intervensi. c. Pantau peningkatan suhu tubuh. R/ suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan. d. Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kasa kering dan steril, gunakan plester kertas. R/ tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi. e. Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan, misalnya debridement. R/ agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal lainnya. f. Setelah debridement, ganti balutan sesuai kebutuhan. R/ balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi parah/ tidak nya luka, agar tidak terjadi infeksi. g. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. R / antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi. 3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan, kerusakan muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan. Tujuan : Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal. Kriteria hasil : penampilan yang seimbang, melakukan pergerakkan dan perpindahan., mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi, dengan karakteristik : 0 : mandiri penuh 1 : memerlukan alat bantu 2 : memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran 3 : membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat bantu 4 : ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas. Intervensi dan Implementasi :

Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan. R/ mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi. b. Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas. R/ mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan. c. Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu. R/ menilai batasan kemampuan aktivitas optimal. d. Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif. R/ mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot. e. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi. R/ sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien. 4. Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh, respons inflamasi tertekan, prosedur invasif dan jalur penusukkan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan. Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol. Kriteria hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus. Luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi. Intervensi dan Implementasi : a. Pantau tanda-tanda vital. R/ mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat. b. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik R/ mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen. c. Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll. R/ untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial. d. Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit. R/ penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi. e. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik. f. R/ antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.

a.

DAFTAR PUSTAKA

Barbara, C. B., (1999). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal-Bedah, Volume I, EGC:Jakarta. Doenges, dkk, (2005). Rencana asuhan keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. EGC: Jakarta Mansjoer, dkk., (2000). Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3. Media Aesculapius: Jakarta

Price & Wilson, (2006). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyaki. Volume 2.Edisi 6. EGC : Jakarta. Sjamsuhidajat R., (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC: Jakarta Smeltzer & Bare, (2003). Buku ajar keperawatan medical bedah. Volume 3. Edisi 8. EGC: Jakarta