Anda di halaman 1dari 10

1.

Manusia adalah merupakan subjek budaya, namun dilain pihak manusia juga merupakan objek dari budaya termasuk budaya organisasi, berikan penjelasan terhadap pernyataan tersebut ! Jawaban : Manusia Sebagai Subjek budaya dan Alasan Mengapa manusia menciptakan Kebudayaan ( Masyarakat Indonesia Lupa dan Tak Tau Kebudayaannya Sendiri Seperti Apa?) Manusia adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk ciptaanNya yang lain. Yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain seperti binatang, ataupun tumbuhan adalah, manusia dibekali dengan akal dan pikirian yang berfungsi mengembangkan setiap hal yang mereka dapatkan atau mereka ketahui, dan itu nantinya dapat berguna bagi kelangsungan hidup mereka. Misalnya manusia dikasih sebongkah batu, begitupula binatang dikasih sebongkah batu. Yang akan terjadi jika batu itu ditangan manusia, maka batu itu bisa menjadi cobek atau ulek-ulek dan berbeda lagi batu yang ada di binatang. Batu di binatang, batu itu akan utuh menjadi sebuah batu saja, tidak mereka olah menjadi barang yang bisa mereka manfaatkan. Proses terjadinya sebongkah batu menjadi sebuah alat itulah yang disebut dengan proses berpikir manusia dan kegunaan dari akal manusia. Dari akal dan pikiran tidak hanya tercipta suatu barang yang bisa dimanfaatkan manusia, akan tetapi manusia juga menciptakan suatu sistem sosial yang mengatur kehidupan mereka kesehariannya. Itulah dinamakan manusia sebagai subjek budaya. Manusia dikatakan sebagai objek budaya adalah ketika budaya yang sudah ada atau dibuat oleh manusia pendahulunya, dan budaya tersebut digunakan dalam kesehariannya, oleh karena itu dalam budaya manusia mempunyai sifat ganda, dimana mereka bisa sebagai subjek budaya juga sebagai objek budaya. Begitupun dengan budaya organisasi, misalnya di perusahaan tempat saya bekerja, dimana saya bekerja sebagai frontliner di bagian teller, saya harus selalu menunjukan bahwa saya senang telah membantu nasabah saya, baik itu nasabah

mau merespon positif atau negative, sikap ketulusan tersebut dibuat dan di budayakan oleh pegawai pegawai sebelum saya, dan begitupun yang harus dilakukan nanti oleh para pegawai pegawai baru untuk melakukan hal serupa, oleh karena itu dari penjabaran diatas, memang hakikatnya manusia adalah pelaku ( subjek ) dan penderita ( objek ) dari budaya organisasi. Atau dalam teori ahli yaitu pola asumsi-asumsi dasar yang oleh suatu kelompok tertentu telah ditemukan, dibuka atau dikembangkan melalui pelajaran untuk memecahkan masalah masalah adaptasi eksternal dan integrasi internal, dan telah berjalan cukup lama untuk dipandang sahih, dan oleh sebab itu diajarkan kepada anggota-anggota baru sebagai cara yang benar untuk memandang, berpikir dan merasa dalam kaitannya dalam masalah-masalah tersebut (Schein, 1992).

2. Hal pokok yang mendasari dalam memahami budaya organisasi, adalah memahami manusia, menurut anda mengapa hal tersebut menjadi landasan utama dalam memahami budaya organisasi ? Jawaban : Budaya organisasi merupakan suatu persepsi bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi, suatu sistem dari makna bersama. Robbins ( 2002 : 247 ). Menurut Osborne & Plastrik (2000) budaya organisasi adalah seperangkat perilaku dan kerangka pesikologis yang terinternalisasi sangat mendalam dan dimiliki bersama oleh anggota organisasi. Dari pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa memahami manusia adalah hal pokok yang mendasari budaya organisasi, oleh karena itu, menurut saya kita tidak dapat memahami budaya suatu organisasi, tanpa memahami manusia atau anggotanya, karena tidak akan ada budaya organisasi jika tidak ada subjek dan objek budaya organisasi, dalam hal ini manusia atau anggota organisasilah yang menjadi subjek dan objeknya.

3. Berikan ciri-ciri yang nyata berikut penjelasannya dari individu maupun kelompok di dalam sebuah organisasi yang memiliki budaya organisasi yang kuat, dan sebutkan serta jelaskan minimal tiga aspek yang berperan dalam pembentukan budaya organisasi ! Jawaban : Menurut Robbins (1996) : budaya kuat adalah budaya yang memegang nilai inti organisasi secara intensif dan dianut bersama secara luas. Budaya yang kuat menunjukkan kesepakatan yang tinggi di kalangan anggotanya. Ciri organisasi dengan budaya kuat ( implementasi pada Bank BCA perusahaan tempat saya bekerja disebut TEAM ENGAGEMENT ) : a. Cepat dan tepat bertindak artinya anggota organisasi melakukan tugasnya dengan baik sesuai dengan deskripsi pekerjaan yang sudah ditetapkan oleh perusahaan, sehingga tidak ada waktu yang terbuang dengan sia-sia. Dalam contoh misalnya ketika seorang Teller kehabisan ban uang karena setoran nasabah yang begitu banyak, customer service yang sedang tidak ada nasabahpun dapat membantu untuk membuatkan ban uang, sehingga terjadi kerja sama tim yang kompak. b. Dekat dengan pelanggan artinya kita minimal harus menghafal nama-nama nasabah yang memang sering bertransaksi ataupun yang baru bertransaksi sekalipun, karena menghafal nama nasabah adalah salah satu cara mudah untuk mendekatkan hubungan emosional kita dengan nasabah. c. Otonom dan wira usaha (mandiri) artinya kita sebagai anggota organisasi terkadangharus bergerak senidiri, dalam contoh misalnya ketika kita diberi pertanyaan oleh nasabah, maka sepantasnya kita jawab sampai dengan tuntas dan nasabah puas dengan jawaban kita, dengan begitu kita akan dinilai professional oleh nasabah, sehingga memberikan efek kembali yang lebih besar. d. Sentuhan demi mutu, manajer mengikuti kerja di lapangan artinya dalam suatu ketika antrian di Teller sedang ramai, Kepala Bagian Teller bahkan

Pemimpin Cabang pun harus ikut serta terjun langsung untuk membantu dalam pelayanan, sehingga proses penyelesaian pelayanan akan lebih cepat dan lebih optimal untuk durasi antrian ketika antrian nasabah sangat ramai, dengan begitu nasabahpun akan menilai bahwa kinerja organisasi tersebut memang sangat baik, dan mempunyai kekuatan budaya organisasi.

Kuat/lemahnya budaya organisasi dilihat dari 3 segi : 1. Arahnya, apakah searah dengan tujuan organisasi. 2. Penyebarannya, apakah dihayati dan dimiliki semua anggota. 3. Intensitasnya, pengaruhnya memberi tekanan yang kuat bagi anggota.

Skala Budaya Organisasi disusun dengan aspek budaya organisasi yang diungkap Miller (1997:274) yaitu : (1) aspek tujuan, (2) aspek konsesus, (3) aspek keunggulan, (4) aspek kesatuan, (5) aspek prestasi, (6) aspek empirik, (7) aspek keakraban dan (8) aspek integritas. 1. Aspek Tujuan, menyangkut seberapa jauh karyawan dapat memahami tujuan yg hendak dicapai oleh organisasi. 2. Aspek Konsensus, menyangkut seberapa jauh organisasi dalam pemberian kesempatan kepada seluruh karyawan untuk terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan. 3. Aspek Keunggulan, meyangkut seberapa besar kemampuan organisasi, untuk menumbuhkan suatu sikap agar selalu menjadi yang terbaik dan berprestasi yang lebih baik lagi dari apa yang pernah dilakukan sebelumnya. 4. Aspek Kesatuan, berkaitan dengan sikap yang dilakukan organisasi, terhadap karyawannya. ( Dalam hal ini organisasi wajib dapat berlaku adil dan tidak memihak baik terhadap kelompok tertentu pada lingkungan intern organisasi

5. Aspek

Prestasi,

menyangkut

sikap

organisasi

terhadap

prestasi

karyawannya. 6. Aspek Empirik, berkaitan dengan sejauh mana organisasi mau menggunakan bukti-bukti empirik di dalam pengambilan keputusan. 7. Asppek Keakraban, berkaitan dengan gambaran suatu kondisi pergaulan sosial dalam organisasi dan antar karyawan organisasi. 8. Aspek Integrasi, berkaitan dengan sejauh mana anggota organisasi mau bekerja sama dengan kesungguhan dalam pencapaian tujuan organisasi..

4. Berikan pengertian tentang etos kerja dan budaya kerja minimal 3 teori berbeda, lalu buatkan resumenya untuk kemudian didapatkan indicator dari masing-masing variabel tersebut, pengertian dan indicator masing-masing variable tersebut harus disajikan dalam bentuk table ! Jawaban : Definisi Etos Kerja menurut para ahli ; Menurut Gregory (2003) sejarah membuktikan negara yang dewasa ini menjadi negara maju, dan terus berpacu dengan teknologi/informasi tinggi pada dasarnya dimulai dengan suatu etos kerja yang sangat kuat untuk berhasil. Maka tidak dapat diabaikan etos kerja merupakan bagian yang patut menjadi perhatian dalam keberhasilan suatu perusahaan, perusahaan besar dan terkenal telah membuktikan bahwa etos kerja yang militan menjadi salah satu dampak keberhasilan perusahaannya. Etos kerja seseorang erat kaitannya dengan kepribadian, perilaku, dan karakternya. Setiap orang memiliki internal being yang merumuskan siapa dia. Selanjutnya internal being menetapkan respon, atau reaksi terhadap tuntutan external. Respon internal being terhadap tuntutan external dunia kerja menetapkan etos kerja seseorang (Siregar, 2000 : 25)

Etos berasal dari bahasa yunani ethos yakni karakter, cara hidup, kebiasaan seseorang, motivasi atau tujuan moral seseorang serta pandangan dunia mereka, yakni gambaran, cara bertindak ataupun gagasan yang paling komprehensif mengenai tatanan. Dengan kata lain etos adalah aspek evaluatif sebagai sikap mendasar terhadap diri dan dunia mereka yang direfleksikan dalam kehidupannya (Khasanah, 2004:8). Menurut Geertz (1982:3) Etos adalah sikap yang mendasar terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup. Sikap disini digambarkan sebagai prinsip masing-masing individu yang sudah menjadi keyakinannya dalam mengambil keputusan . Menurut Usman Pelly (1992:12), etos kerja adalah sikap yang muncul atas kehendak dan kesadaran sendiri yang didasari oleh sistem orientasi nilai budaya terhadap kerja. Dapat dilihat dari pernyataan di muka bahwa etos kerja mempunyai dasar dari nilai budaya, yang mana dari nilai budaya itulah yang membentuk etos kerja masing-masing pribadi. Etos kerja dapat diartikan sebagai konsep tentang kerja atau paradigma kerja yang diyakini oleh seseorang atau sekelompok orang sebagai baik dan benar yang diwujudnyatakan melalui perilaku kerja mereka secara khas (Sinamo, 2003:2). Menurut Toto Tasmara, (2002) Etos kerja adalah totalitas kepribadian dirinya serta caranya mengekspresikan, memandang, meyakini dan memberikan makna ada sesuatu, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal sehingga pola hubungan antara manusia dengan dirinya dan antara manusia dengan makhluk lainnya dapat terjalin dengan baik. Etos kerja adalah seperangkat perilaku kerja positif yang berakar pada kesadaran yang kental, keyakinan dan fundamental disertai komitmen yang total ( Yousef, 2000)

Dari pendapat beberapa para ahli diatas, maka bisa didapatkan Resume Teori Etos Kerja. Etos Kerja ialah Totalitas kepribadian dirinya diyakini oleh seseorang atau sekelompok orang sebagai baik dan benar yang diwujudnyatakan melalui perilaku kerja mereka secara khas yang disertai dengan motivasi dan pandangan hidup mereka.

Definisi Budaya Kerja menurut para ahli ; Susanto (1997) menyatakan bahwa budaya kerja adalah Suatu nilai-nilai yang menjadi pedoman sumber daya manusia untuk menghadapi permasalahan eksternal dan usaha penyesuaian integrasi kedalam perusahaan sehingga masing-masing anggota organisasi harus memahami nilai-nilai yang ada dan bagaimana mereka harus bertindak atau berprilaku. Supriyadi (2003) budaya kerja adalah suatu falsafah yang didasari oleh pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan kekuatan pendorong, membudaya dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat atau organisasi kemudian tercermin dari sikap menjadi perilaku, kepercayaan, citacita, pendapat dan tindakan yang terwujud sebagai kerja atau bekerja. Menurut Triguno dalam Daryatmi (2002) budaya kerja adalah suatu falsafah yang didasari oleh pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan kekuatan pendorong, membudaya dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat atau organisasi, kemudian tercermin dari sikap menjadi prilaku, kepercayaan, cita-cita, pendapat dan tindakan yang terwujud sebagai kerja atau bekerja. Melaksanakan budaya kerja mempunyai arti yang sangat dalam, karena akan merubah sikap dan perilaku sumber daya manusia untuk mencapai produktivitas kerja yang lebih tinggi dalam menghadapi tantangan masa depan. Dari pendapat beberapa para ahli diatas, maka bisa didapatkan Resume Teori Budaya Kerja. Budaya Kerja ialah Suatu falsafah yang didasari oleh pandangan hidup untuk menyelesaikan permasalahan, melalui kebiasaan dan kekuatan

pendorong, membudaya dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat atau organisasi, kemudian tercermin dari sikap menjadi prilaku, kepercayaan, citacita, pendapat dan tindakan yang terwujud sebagai kerja atau bekerja.

Tabel 1 mengenai penyajian variable dan indicator dari Etos Kerja dan Budaya Kerja. No 1. Variabel Etos Kerja Definisi Etos Kerja ialah Totalitas kepribadian dirinya diyakini oleh seseorang atau sekelompok orang sebagai baik dan benar yang diwujudnyatakan melalui perilaku kerja mereka secara khas yang disertai dengan motivasi dan pandangan hidup mereka. Indikator - Bekerja Keras - Bertanggung Jawab - Pandangan Terhadap Kerja - Ketekunan Dalam Bekerja - Pengahatan Terhadap Nilai Kinerja - Semangat Kerja - Inovasi Kerja - Kerja yang Jujur dan Disiplin - Kerja Tegas dan Percaya Diri

2.

Budaya Kerja

Budaya Kerja ialah Suatu falsafah yang didasari oleh pandangan hidup untuk menyelesaikan permasalahan, melalui kebiasaan dan kekuatan pendorong, membudaya dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat atau organisasi, kemudian tercermin dari sikap menjadi prilaku, kepercayaan, cita-cita, pendapat dan tindakan yang terwujud sebagai kerja atau bekerja.

5. Berikan penjelasan berdasarkan teori yang bisa dipertanggung jawabkan (sumber non internet), dengan format:......... (Nama Pengarang;Tahun) Minimal 3 teori , beserta daftar pustaka yang menjadi sumber rujukan disetiap akhir jawaban atas pernyataan berikut ini. 5.1. Hubungan Budaya Organisasi dengan Kompetensi Huston dan Robert (1972:3) mengatakan bahwa competence is an adecuacy for task or possesion of requiered knowledge, skill and abilities. Pendapat ini menunjukkan bahwa kompetensi merujukan pada pengetahuan dan ketrampilan seseorang dalam melaksanakan tugasnya. Cohen (1980:173) mengatakan bahwa competencies are the areas of knowledge, ability and skill that increase and individuals efffectiveness in dealing with the world. Aisworth, Smith dan Millership (2007:73) mengatakan bahwa kompetensi merupakan kombinasi pengetahuan dan ketrampilan yang relevan dengan pekerjaan. Kompetensi adalah kapasitas untuk menangani suatu pekerjaan atau tugas berdasarkan suatu standar yang telah ditetapkan. Boyatzis (1982) : Kompetensi didefinisikan sebagai Kapasitas yang ada pada seseorang yang bisa membuat orang tersebut mampu memenuhi apa yang disyaratkan oleh pekerjaan dalam suatu organisasi sehingga organisasi tersebut mampu mencapai hasil yang diharapkan. Woordruffe (1991) and Woodruffe (1990) : Mereka membedakan antara pengertian competence dan competency, yang mana competence diartikan sebagai konsep yang berhubungan dengan pekerjaan, yaitu menunjukkan wilayah kerja dimana orang dapat menjadi kompeten atau unggul. Sedangkan competency merupakan konsep dasar yang berhubungan dengan orang, yaitu menunjukkan demensi perilaku yang melandasi prestasi unggul (competent). 5.2. Hubungan Budaya Organisasi dengan Struktur Organisasi

5.3. Hubungan Budaya Organisasi dengan Peran Pemimpin Menurut Stogdill (1974) kepemimpinan dianggapnya sebagai proses atau tindakan untuk mempengaruhi aktivitas suatu kelompok organisasi dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan. (Stogdill, R.M. 1974. Handbook of Leadership. A Survey of Theory and Research. New York. The Free Press . ) Fiedler (1967) menyatakan bahwa kepemimpinan pada dasarnya merupakan pola hubungan antara individu-individu yang menggunakan wewenang dan pengaruhnya terhadap sekelompok orang agar bekerja bersamasama untuk mencapai suatu tujuan. (Fiedler, F.E. 1967. A Theory f Leadership Effectiveness. New York. McGraw-Hill ) 5.4. Hubungan Budaya Organisasi terhadap Kepercayaan Karyawan Boe (2002) Ketika karyawan memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap organisasinya mereka akan peduli terhadap masa depan dan keberhasilan perusahaan dan memahami peran mereka dalam organisasi serta berusaha melakukan yang terbaik dari peran mereka tersebut. (Boe, T. A (2002). Gaining and/or maintaining employee trust within service organizations. Submitted in Partial Fulfillment of the Requirements for the Master of Science Degree in Training and Development. University of Wisconsin-Stout.) Mathis & Jackson (2001) Awal dari kepercayaan pelanggan adalah kepercayaan karyawan itu sendiri terhadap kemampuan perusahaan untuk dapat memenuhi harapan. Karyawan yang sudah terpenuhi segala kebutuhannya maka akan memiliki komitmen terhadap organisasi. (Mathis, R. L., & J.H. Jackson. (2001).Manajemen sumber daya manusia, buku 1 dan buku 2, Terjemahan, Salemba Empat, Jakarta.) 5.5. Hubungan Budaya Organisasi terhadap Persepsi Keadilan Karyawan