Anda di halaman 1dari 191

Memfasilitasi

KONSULTASI PUBLIK
Mekanisme Konsultasi Publik (KP) adalah cara yang dapat dilakukan pemerintah untuk melibatkan warganegara dalam merumuskan sebuah kebijakan, program atau peraturan. Melalui proses KP, terjadi hubungan dua arah antara pemerintah dan warganegara. Meski demikian, KP bukanlah tingkatan yang paling deliberatif atau partisipatif dalam pelibatan warga (public involvement) karena pengambilan keputusan tetap dilakukan oleh pihak eksekutif selaku lembaga pemegang kewenangan. Namun dalam proses KP, warga dan pemerintah dapat menyepakati hal-hal penting atau strategis yang perlu masuk dalam suatu kebijakan atau peraturan. Apabila ada kesepakatan yang tidak diakomodir dalam rumusan kebijakan atau peraturan yang kemudian ditetapkan pemerintah, warga akan kecewa dan enggan berpartisipasi lagi. KP dapat dilakukan melalui pertemuan atau musyawarah tatap muka, bisa juga melalui forum on-line, serta melalui penyampaian masukan tertulis. KP yang bermakna secara ideal harus memenuhi sejumlah kriteria yaitu terbuka (transparan), berdasar musyawarah (deliberatif ), melibatkan berbagai pemangku kepentingan (partisipatif ), dan memihak kelompok rentan/miskin (pro-poor). Tentunya tidak mungkin lebih dari 200 juta penduduk Indonesia dan tersebar di ribuan pulau, menyampaikan masukan untuk suatu penyusunan kebijakan, program, atau peraturan yang dikeluarkan pemerintah pusat. Dalam menyelenggarakan KP, perlu dipilih kegiatan, mekanisme, alat dan teknologi yang disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dan kebutuhan masukan yang diharapkan oleh lembaga eksekutif penyelenggara KP.

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK RPP- T2CP2EPRPD

Memfasilitasi

KONSULTASI PUBLIK
Refleksi Pengalaman Penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (RPP- T2CP2EPRPD)

FORUM PENGEMBANGAN PARTISIPASI MASYARAKAT (FPPM) Perumahan Cikutra Baru, Jl. Cikutra Baru X No. 20 Bandung 40124 Phone: 022-7217084 Fax: 022-70796745 Email: forumppm@indo.net.id, forumppm@gmail.com Website: www.fppm.org

BAGIAN-1
MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK
Refleksi Pengalaman Penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (RPP - T2CP2EPRPD)

Tahun 2007

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK


Refleksi Pengalaman Penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (RPP - T2CP2EPRPD)

____________________________________________________
Penyunting Dan Satriana dan Rianingsih Djohani - Bandung, Forum Pengembangan Partisipasi Masyarakat (FPPM), 2007 xxii+168 hal; 15x23 cm ISBN : xxxxxxxxxxxxxxxx
Tim Penulis: Yuna Farhan (OC FPPM/Fitra Seknas); Maya Rostanty (Pattiro); Sugeng Bahagijo (Prakarsa); Suhirman (OC FPPM); Susmanto (Letmindo); Rinusu (CIBA); Firsty Husbani (DRSP-USAID) Pembahas (reviewer ): Tim Direktorat Bina Bangda Depdagri DR. Afriadi Syahbana Hasibuan, MPA.,M.Com.; Drs. Fazli Siregar, MPIA.; Drs. Dindin Wahidin; M.Si.; Ir. Dadang Sumantri Muchtar; Drs. Moch. Hanafi Alfro; Drs. Agus Suksestioso Penyunting Isi: Rianingsih Djohani (Studio Driya Media) Dan Satriana (KalyANamandira) Penyunting Bahasa: Wagiyo (Sekretariat FPPM) Cover dan Tataletak: Prawoto Setra (Sekretariat FPPM) Ilustrator: Taufan Hidayatullah (BIGS) Tim Pendukung: Team Leader Yuna Farhan (OC Bidang Advokasi FPPM) Project Officer Suhud Darmawan (BIGS/Lead Agency FPPM) Dokumentasi Alvani S, Wagiyo (Sekretariat FPPM) Staf Jaringan FPPM (di Kantor Bangda) Komar Draft Pertama, Juni 2007 FPPM Kerjasama: United State Agency for International Development Democratic Reform Support Programme (USAID-DRSP) dan Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri (Dirjen Bina Bangda Depdagri)

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

DEPARTEMEN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

Kata Pengantar
istem pemerintahan daerah mengalami perubahan dari pendekatan berdasarkan sentralisasi ke pendekatan berdasarkan desentralisasi, termasuk proses penyusunan berbagai kebijakan baik dalam pengambilan keputusan, perencanaan pembangunan maupun pelayanan publik. Tujuan desentralisasi adalah untuk mewujudkan kebutuhan dan keinginan masyarakat agar tercapai kesejahteraan rakyat sesuai amanat pembukaan UUD 1945. Pada pendekatan desentralisasi ini, pelayanan kepada masyarakat diefektifkan dengan mendorong pemberdayaan agar masyarakat berperan aktif dalam setiap perumusan kebijakan publik. Keterlibatan masyarakat dalam penyusunan kebijakan menuntut adanya suatu keterampilan dan teknik dalam merangkum berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat, yang dituangkan ke dalam sebuah kebijakan publik. Salah satu keterlibatan masyarakat dalam penyusunan kebijakan publik adalah dengan mekanisme Konsultasi Publik (KP). Oleh karena itu, mekanisme KP merupakan salah satu cara pelibatan masyarakat dalam menampung aspirasi atau pendapat yang akan menerima manfaat (benefit) maupun yang terkena dampak (impact) langsung dari sebuah kebijakan publik yang disusun dan ditetapkan. Selanjutnya, KP lebih sering terkait dengan proses yang dilakukan oleh eksekutif. Untuk itu, konsultasi publik sebagai jejaring aspirasi telah dilaksanakan dengan serangkaian kegiatan di berbagai wilayah (region) dan di tingkat nasional dalam menyusun Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Tahapan, Tata Cara penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Kegiatan KP tersebut merupakan bukti nyata betapa pentingnya pelibatan masyarakat dalam penyusunan suatu kebijakan publik. Suatu ide yang baik dari Forum

iii

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

Pengembangan Partisipasi Masyarakat (FPPM), Bandung Institute for Governance Studies (BIGS), dan Democratic Reform Support Programme (DRSP) USAID, untuk menyusun buku ini sebagai refleksi pengalaman yang dapat disebarluaskan kepada masyarakat. Saya menyambut baik dan mendukung sepenuhnya atas tersusunnya buku refleksi pengalaman menfasilitasi penyelenggaraan konsultasi publik ini, yang merupakan rekaman peristiwa mulai dari persiapan, pelaksanaan, sampai pada mengkompilasi masukan hasil KP. Hasil KP tersebut telah tersusun ke dalam sebuah kebijakan pemerintah berupa RPP. Buku ini merupakan refleksi pengalaman yang memadukan serta merangkum semua proses KP baik secara teori maupun praktek di lapangan. Buku ini juga memaparkan apa dan bagaimana KP digunakan sebagai salah satu dari metode-metode partisipatif dalam merancang dan memutuskan sebuah kebijakan bersama pemerintah. Meskipun buku ini masih memiliki banyak kekurangan dan kelemahan, saya berharap bisa memelopori suatu wacana, pemikiran dan praktek mengenai bagaimana membangun demokrasi deliberatif yang ditandai oleh adanya partisipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat ini memerlukan forum, metode, teknik atau alat yang mampu dikelola sebagai suatu wahana dialog dan berunding antara pemerintah dengan warga masyarakat mengenai isu yang menjadi kepentingan publik dengan membangkitkan praktek kehidupan berdemokrasi sehari-hari. Saya berharap buku ini dapat dijadikan sebagai panduan dalam menyelenggarakan proses konsultasi publik pada waktu penyusunan kebijakan pemerintah agar proses kebijakan dimaksud dapat lebih baik di masa datang. Selain itu, buku ini diharapkan dapat juga bermanfaat sebagai acuan atau pedoman bagi Pemda, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), serta pemangku kepentingan lain. Jakarta, 21 Juni 2007

Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah H. Syamsul Arief Rivai, MS

iv

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

Kata Pengantar
onsultasi Publik (Public Consultation) dan Dengar Pendapat Umum (Public Hearing) adalah dua istilah yang menjadi popular dengan berkembangnya proses-proses partisipatif dalam penentuan kebijakan (policy formulation and policy decision) dan perumusan/penyusunan peraturan perundang-undangan yang tentunya akan berdampak bagi warganegara. Konsultasi publik merupakan istilah yang lebih sering terkait dengan proses yang dilakukan oleh eksekutif, sedangkan dengar pendapat umum lebih sering terkait dengan proses yang dilakukan di gedung atau kantor dewan oleh kalangan legislatif. Meskipun sebenarnya legislatif juga dapat melakukan konsultasi publik di daerah-daerah untuk memperoleh masukan mengenai suatu rancangan peraturan perundang-undangan yang sedang disusunnya. Panduan ini memaparkan apa dan bagaimana konsultasi publik digunakan sebagai salah satu dari metode-metode partisipatif dalam merancang dan memutuskan sebuah kebijakan bersama eksekutif. Konsultasi publik tidak lain adalah musyawarah antara warganegara dan pemerintah untuk mencari cara terbaik atau untuk memecahkan suatu persoalan. Melalui KP, relasi antara warga negara dan pemerintah dikembangkan menjadi hubungan yang lebih erat, sejajar dan saling memerlukan satu sama lain. Pemerintah (eksekutif ) akan tampil sebagai pemimpin yang reformis dan aspiratif. Sementara, warganegara akan memiliki forum alternatif yang lebih konstruktif ketimbang unjuk rasa dan demonstrasi dalam menyampaikan aspirasinya dan gagasannya. Karena itu buku panduan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi kalangan masyarakat (active citizen) mengenai cara memanfatkan peluang dan akses keterlibatan dalam perumusan kebijakan/peraturan melalui

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

proses KP. Sedangkan untuk kalangan pemerintah (eksekutif), diharapkan buku ini dapat menjadi salah satu sumber mengenai bagaimana pengelolaan dan pelaksanaan KP yang lebih partisipatif. Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, melalui buku ini FPPM berharap dapat ikut memelopori terbangunnya wacana, pemikiran dan praktek demokrasi deliberatif di Indonesia yang ditandai oleh adanya partisispasi warganegara dalam pengambilan keputusan publik. Kami berharap, inisiatif ini akan terus bergulir dan memunculkan berbagai alternatif lainnya dalam membangun berbagai metode dan teknik yang bisa mengoperasionalikan konsep partisipasi warga dalam tata pemerintahan yang demokratis. Sehingga, bisa membangkitkan praktek kehidupan berdemokrasi kita sehari-hari.

Dr. Pradjarta Dirdjosanjoto, S.H., M.A. Ketua Dewan Pengarah FPPM

vi

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

Daftar Singkatan dan Istilah


APBD BAKD Bappeda Bappenas BIGS BPS BLT CIBA CIDA CSO Depdagri DIPA Dit PPD Ditjen Bina Bangda Ditjen Otda Ditjen PUM DRSP -USAID Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Bina Administrasi Keuangan Daerah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bandung Institute of Governance Studies Biro Pusat Statistik Bantuan Langsung Tunai Civic Education and Budget Advocacy Canadian International Development Agency Civil Society Organization Departemen Dalam Negeri Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Direktorat Perencanaan Pembangunan Daerah Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum Democratic Reform Support Programme United State Agency for International Development Focus Group Discussion Forum Indonesia untuk Transparansi AnggaranSekretariat Nasional Forum Pengembangan Partisipasi Masyarakat Keluarga Miskin Indeks Pembangunan Manusia Jaring Aspirasi Masyarakat Korupsi Kolusi dan Nepotisme Lembaga Transparansi Masyarakat Indonesia Local Governance Support Programme Lembaga Swadaya Masyarakat

FGD FITRA-Seknas FPPM Gakin IPM Jaring Asmara KKN LETMINDO LGSP LSM

vii

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

MTEF Menko Kesra Musrenbang Ornop Otda PATTIRO P5D Pemda Pemkot PKL PPA RDPU RAPBD RKPD RPJMD RPJPD RPP RPP - T2CP2EPRPD

SDM SEB SKPD SNPK SPM UU

Medium Term Expenditure Framework Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Musyawarah Perencanaan Pembangunan Organisasi Non-Pemerintah Otonomi Daerah Pusat Telaah dan Informasi Regional Pedoman Penyusunan Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan di Daerah Pemerintah Daerah Pemerintah Kota Pedagang Kaki Lima Participatory Poverty Assessement Rapat Dengar Pendapat Umum Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Rencana Kerja Pembangunan Daerah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Rancangan Peraturan Pemerintah Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah Sumber Daya Manusia Surat Edaran Bersama Satuan Kerja Perangkat Daerah Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan Standar Pelayanan Minimal Undang-undang

viii

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

Daftar Isi
Kata Pengantar Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri Kata Pengantar Dewan Pengarah Forum Pengembangan Partisipasi Masyarakat Daftar Singkatan dan Istilah Daftar Isi Daftar Tabel dan Skema PROLOG Prospek Membuka Ruang Publik dalam Penyusunan Kebijakan Pemerintah; Sebuah Catatan Bekerjasama dengan FPPM (Dr. Afriadi S. Hasibuan, MPA, MCom) PENDAHULUAN BAGIAN-1 KERANGKA KONSEPTUAL DAN HUKUM KP Bab-1 Konsep Konsultasi Publik Bab-2 Gagasan Konsultasi Publik yang Bermakna Bab-3 Payung Hukum KP dalam Proses Penyusunan RPP BAGIAN-2 PERSIAPAN DAN RENCANA KP Bab-4 Membangun Kesepahaman Awal Bab-5 Merancang Kerangka Kerja KP BAGIAN-3 PELAKSANAAN KP Bab-6 Mengelola Pelaksanaan KP Regional Bab-7 Mengelola Pelaksanaan KP Lintas-Sektor 59 71 35 47 3 17 25 iii

v vii ix xi xiii

xix

ix

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

BAGIAN-4 TINDAK LANJUT KP Bab-8 Merumuskan Masukan KP Regional dan Lintas-Sektor BAGIAN-5 PENGEMBANGAN SISTEM DUKUNGAN KP Bab-9 Monitoring dan Evaluasi Proses dan Hasil KP Bab-10 Pengembangan Kerjasama dan Jejaring BAGIAN-6 KETERAMPILAN MEMFASILITASI KP Bab-11 Teknik Fasilitasi Partisipatif KP Bab-12 Teknik Komunikasi dan Konsultasi EPILOG Pelembagaan Konsultasi Publik dalam Penyusunan Kebijakan Pemerintah (Drs. Fazli Siregar, MPIA) DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN LAMPIRAN-1: FORMAT EVALUASI HASIL KP (TABULASI USULAN DITERIMA DAN DITOLAK PADA PERUMUSAN MASUKAN KP LINTAS-SEKTOR) LAMPIRAN-2: FORMAT EVALUASI HASIL KP (PENELUSURAN CAPAIAN ISU DALAM RPP-T2CP2EPRPD) 141 144 149 119 129 93 103 81

159

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

Daftar Tabel dan Skema


TABEL
Tabel-1.1 Tabel-1.2 Tabel-2.1 Tabel-4.1 Tabel-5.1 Tabel-5.2 Tabel-5.3 Tabel-5.4 Tabel-6.1 Tabel-6.2 Tabel-7.1 Tabel-7.2 Tabel-7.3 Tabel-8.1 Tabel-8.2 Tabel-8.3 Tabel-8.5 Tabel-8.6 Tabel-8.7 Tabel-9.1 Tabel-9.2 Empat Tingkat Keterlibatan Warga Operasionalisasi Empat Kriteria KP Bermakna Pemetaan Isu dalam Draft RPP Pemetaan Aktor Rangkaian Proses KP Regional dan Lintas-Sektor Jadwal KP Regional Dukungan Pendanaan Penyelenggaraan KP Komposisi Peserta KP Regional Agenda KP Regional Format Elaborasi Masukan Konsultasi Publik Agenda Kegiatan KP Lintas-Sektor Contoh Elaborasi Masukan KP Lintas-Sektor Contoh Perubahan Redaksional Contoh Penambahan Pasal/Ayat Baru Contoh Penghapusan Pasal/Ayat Contoh Pola Akomodasi Masukan yang Ditolak Contoh Pola Akomodasi Masukan yang Diterima Contoh Matriks Perbandingan Draf RPP Format Monitoring dan Evaluasi Proses KP Format Monitoring dan Evaluasi Hasil KP 6 23 42 49 51 52 56 62 64 73 74 77 83 83 84 85 86 87 94 96 Contoh-contoh Forum/Metode/Teknik Pelibatan Warga 8

SKEMA
Skema-2.1 Skema-2.2 Skema-2.3 Rentang Peningkatan Interaksi dalam KP Proses Konsultasi Publik Pilihan Kegiatan Teknik dan Mekanisme KP 21 22 22

xi

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

xii

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

Prolog:

Prospek Membuka Ruang Publik dalam Penyusunan Kebijakan Pemerintah: Sebuah Catatan Bekerjasama dengan FPPM
(Dr. Afriadi S. Hasibuan, MPA, MCom)

Konsep Partisipasi dalam Penyusunan Kebijakan Publik


artisipasi dalam penyusunan kebijakan publik adalah keikut sertaan para stakeholders - seperti FPPM dan BIGS memberikan berbagai ide dan pendapat, tanggapan kontrukstif, serta saran penyempurnaan sehingga draft kebijakan yang dipersiapkan dapat semakin operasional di lapangan. Para stakeholders yang terlibat mempunyai hak dan kewajiban yang sama serta mempunyai tanggung jawab bersama sehingga satu sama lain merasa saling memiliki dalam proses penyusunan kebijakan publik. Hal tersebut sejalan dengan rumusan dari Bank Dunia (1996) yang mendefinisikan partisipasi sebagai suatu proses dimana semua pihak yang memegang andil dalam proses pembangunan ikut mengarahkan dan mengatur proses pengembangan, serta keputusan-keputusan dan sumber daya yang mempengaruhinya. Oleh karena itu, pendekatan-pendekatan partisipatif semakin dipandang sebagai satu-satunya cara yang paling efektif untuk menyelaraskan pelayanan dan program pemerintah dengan kebutuhan, aspirasi, kondisi dan kemampuan masyarakat, sehingga dapat menciptakan suatu dinamika pembangunan yang berkesinambungan dan berkelanjutan. Dalam rangka peningkatan pelayanan publik dengan mendorong struktur pemerintahan yang lebih terdesentralisasi serta pendekatan yang lebih partisipatif, maka desentralisasi dan partisipasi dipandang saling melengkapi. Desentralisasi yang meletakkan proses pengambilan keputusan lebih dekat dengan kelompok sasaran, sementara partisipasi

xiii

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

memberikan suara masyarakat di dalam proses pengambilan keputusan. Pengembangan kebijakan yang disusun dengan cara berkonsultasi publik dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat lebih tepat dilakukan, karena sekaligus menanamkan perasaan memiliki di dalam masyarakat. Hal ini menunjang semangat masyarakat dan menciptakan dinamika penyusunan kebijakan publik yang lebih efisien, transparan dan dengan hasil yang berkelanjutan. Untuk itu, dalam mendorong partisipasi yang efektif dapat dilakukan dengan memberikan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan kepada masyarakat agar dapat mengaktualisasikan pendekatanpendekatan partisipatif dalam melaksanakan tugas. Selanjutnya, berkonsultasi publik dengan cara belajar melalui kerja (learning by doing) dengan memfasilitasi proses partisipatif di dalam tubuh organisasi dan forum-forum pemerintah, yang secara langsung melibatkan stakeholders dalam penyusunan kebijakan publik. Sebaliknya, partisipasi yang keliru adalah melibatkan masyarakat dalam berkonsultasi publik hanya untuk didengar suaranya tanpa betulbetul memberi peluang bagi mereka untuk diakomodir masukannya dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan yang partisipatif diarahkan untuk selalu harmonis, namun seringkali ada banyak prioritas dan kepentingan yang harus dipilih. Oleh sebab itu, mekanisme konflik kepentingan tersebut harus tangani oleh pemerintah guna mengelola ketidaksepakatan. Dengan demikian, supaya efektivitas konsultasi publik dapat tercapai dengan baik seyogianya para pelaku mempunyai kemampuan dan pemikiran yang konstrukstif agar mampu untuk mendengarkan, memahami, mendampingi, dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk melayani kepentingan masyarakat. Pelaku konsultasi publik juga harus mampu mempertanggungjawabkan kebijakan dan tindakannya yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Bentuk-Bentuk Partisipasi Publik yang Ada Selama Ini


Konsultasi publik ibarat pemberdayaan dengan pengertian dari tidak berdaya menjadi berdaya. Tidak berdaya karena ketidakmampuan bersuara (voicelessness) dan ketidakberdayaan itu sendiri (powerlessness) dalam hubungannya dengan pengambilan kebijakan publik. Sedangkan partisipasi berfokus pada bagaimana mereka diberdayakan dan peran apa

xiv

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

yang dimainkan setelah mereka menjadi bagian dari kelompok yang diberdayakan dengan tersedianya ruang partisipasi masyarakat dalam konsultasi publik. Ada berbagai bentuk partisipasi yang dapat dilaksanakan dalam konsultasi publik, yaitu:

Secara langsung menghadirkan masyarakat dalam forum; Dengan perwakilan, yaitu memilih wakil dari kelompok-kelompok masyarakat; Secara politis, yaitu melalui pemilihan terhadap mereka yang mencalonkan diri untuk mewakili mereka; Berbasis informasi, yaitu dengan data yang diolah dan dilaporkan kepada pengambil keputusan melalui website atau internet; Berbasis mekanisme pasar yang kompetitif, misalnya dengan melakukan pembayaran terhadap jasa yang diterima.

Konsultasi publik yang dilakukan dalam proses penyusunan RPP adalah mengadakan pertemuan langsung dengan masyarakat maupun dengan mekanisme perwakilan masyarakat serta melalui electronic website . Bentuk dari partisipasi tersebut dengan harapan dapat memberikan penyempurnaan terhadap draft kebijakan publik dimaksud.

Pengertian Konsultasi Publik


Konsultasi publik merupakan metode dan cara baru dalam prosesproses perumusan dan penentuan kebijakan (policy formulation and policy decision). Dikatakan cara atau metode baru karena menggunakan metode-metode terbuka dan partisipatif dalam merancang dan memutuskan sebuah kebijakan. Dalam ungkapan lama yang masih relevan, konsultasi publik adalah musyawarah antara warganegara dan pemerintah untuk mencari cara terbaik atau untuk memecahkan suatu persoalan. Jika di masa lalu, pemerintah tertutup dan tidak partisipatif/eksklusif, kini pemerintah bersedia dan bersikap terbuka dan partisipatif dengan mengajak berbagai pihak dan pemangku kepentingan duduk bersama dan membahas kebijakan bersama. Sedangkan dalam pengertian sempit, konsultasi publik diartikan sekadar sebagai pemerintah meminta input dan tanggapan atas kebijakan atau peraturan. Sedangkan pengertian luas, konsultasi publik dapat berarti

xv

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

pemerintah melibatkan warganegara dalam merumuskan sebuah kebijakan atau peraturan.

Konsultasi Publik dalam Peraturan Perundangan-undangan


Dalam kerangka hukum di Indonesia, pelibatan publik dalam peraturan perundang-undangan diatur dalam UU No.10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan pada Pasal 53. UU tersebut menyatakan bahwa, .... Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah. Namun UU ini tidak merinci metode apa yang akan digunakan untuk menampung masukan dari masyarakat. Dengan demikian, dalam proses pembuatan peraturan perundang-undangan, metode untuk partisipasi masyarakat ditentukan oleh praktek dan inovasi yang dilakukan. Konsep konsultasi publik secara eksplisit dapat dilihat misalnya dalam UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air yang menegaskan bahwa masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk berperan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap pengelolaan sumber daya air.... Mekanisme yang ditawarkan oleh UU No. 7 Tahun 2004 untuk peran serta masyarakat adalah konsultasi publik. Menurut UU ini yang dimaksud konsultasi publik adalah upaya menyerap aspirasi masyarakat melalui dialog dan musyawarah dengan semua pihak yang berkepentingan. Meskipun UU No. 7 Tahun 2004 mengatur mekanisme konsultasi publik pada sektor pengelolaan sumberdaya air, metode ini tampaknya dapat juga diterapkan dalam pembuatan kebijakan yang lain dan lebih luas seperti pembuatan peraturan pemerintah di bidang perencanaan pembangunan daerah.

Perspektif Pemerintah tentang Keterlibatan Masyarakat Sipil dalam Penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah
Berdasarkan pengalaman Direktorat Perencanaan Pembangunan Daerah, Ditjen Bina Pembangunan Daerah - Departemen Dalam Negeri dalam menyelenggarakan konsultasi publik di berbagai wilayah terkait

xvi

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

dengan penyusunan RPP tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, maka dapat dikatakan sangat positif, oleh karena dapat berdialog secara langsung kepada pemangku kepentingan (stakeholders) dalam bidang perencanaan. Dalam dialog tersebut antara lain :

Masyarakat secara kritis menanggapi/mengomentari RPP yang disusun; Masyarakat bersedia memberikan masukan pada pasal-pasal yang krusial sesuai dengan kepentingan mereka; Dapat interaktif dalam penyempurnaan RPP, sehingga tidak terkesan RPP ini produk pemerintah secara sepihak; Konsultasi publik berusaha untuk melibatkan berbagai elemen masyarakat yang luas, tidak terbatas hanya mereka yang dipandang ahli atau berasal dari kalangan akademik.

Alasan Ditjen Bina Bangda Bekerja Sama dengan Lembaga Donor dan LSM dalam Penyusunan RPP Ditjen Bina Bangda merupakan lembaga publik yang memungkinkan untuk bekerja sama dengan lembaga manapun termasuk lembaga donor dan LSM sesuai dengan Inmendagri No. 7 Tahun 2005 tentang Tugas Penyelesaian Penyusunan Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Menurut Inmendagri tersebut, Ditjen Bina Bangda mendapat tugas untuk menyusun 3 buah peraturan pemerintah, salah satunya adalah RPP tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah sebagaimana diatur dalam UU No. 32 Tahun 2004 Pasal 154. Untuk mempercepat proses penyusunannya, maka Ditjen Bina Bangda memberikan kesempatan untuk bekerja sama dengan elemen masyarakat, seperti LSM dan DRSP-USAID. Hal ini disebabkan kewenangan penyusunan peraturan pemerintah berada pada pihak eksekutif. Namun demikian, berbagai kalangan menyadari bahwa suatu peraturan akan lebih baik jika disusun sesuai dengan kebutuhan aktual masyarakat dan praktisi di lapangan. Bahwa LSM dan lembaga donor berpengalaman dalam pendampingan di berbagai kalangan masyarakat, baik pemerintah

xvii

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

maupun stakeholders (pemangku kepentingan) lainnya dapat dijadikan rujukan dalam penyusunan peraturan perundangundangan. Adanya suatu program yang didanai oleh USAID dalam proyek DRSP yang fokus kegiatannya dalam penyusunan peraturan perundang-undangan dan kelembagaan yang dianggap secara esensial akan memberikan kontribusi pada kesinambungan pembangunan dan pengawalan demokrasi di Indonesia. Sesuai dengan misinya, program tersebut membuka peluang bagi Direktorat Perencanaan Pembangunan Daerah untuk menjalin kerjasama dalam penyusunan RPP sebagaimana perintah Inmendagri No. 7 Tahun 2005. Peluang tersebut disambut dengan baik oleh kedua belah pihak yang dilanjutkan dengan penandatangan MOU yang merupakankesepakatan kedua belah pihak.

Penilaian Ditjen Bina Bangda terhadap Konsultasi Publik yang Melibatkan LSM dan Lembaga Donor
Pelaksanaan Konsultasi Publik hasil kerjasama dengan pihak donor (DRSP-USAID) dan LSM lainnya, yang tergabung dalam Forum Pengembangan Partisipasi Masyarakat (FPPM) telah membuahkan hasil. Konsultasi publik di beberapa wilayah tersebut juga terlaksana dengan baik, sehingga RPP telah disusun dengan baik melalui berbagai tahapan dan proses konsultasi publik di beberapa wilayah. Atas jalinan kerjasama yang baik selama ini, Ditjen Bina Bangda sangat menghargai dan memberikan penilaian positif terhadap kinerja yang sudah terlaksana. Hal ini merupakan langkah positif dan konstruktif untuk menjalankan kerjasama lebih lanjut di bidang tugas lainnya.

xviii

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

Pendahuluan
ak masyarakat untuk memberikan masukan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan telah dijamin dalam UU No. 10 Tahun 2004, tetapi mekanisme dan teknik memberikan masukan dan mengakomodasi masukan masyarakat masih belum diketahui secara luas. Keterlibatan masyarakat dalam penyusunan kebijakan di wilayah eksekutif jarang terjadi. Pihak eksekutif umumnya jarang memberikan ruang bagi publik untuk terlibat dalam perumusan kebijakan. Bisa jadi hal ini disebabkan keterbatasan pemahaman dan teknik mengelola masukan dari masyarakat, baik di kalangan eksekutif maupun legislatif. Kondisi ini dipersulit oleh beberapa peraturan perundang-undangan sektoral yang juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memberi masukan tetapi dengan kelembagaan dan prosedur yang berbeda. Berangkat dari pemikiran ini, dipandang penting untuk mendokumentasikan praktek-praktek pelaksanaan konsultasi publik sebagai sebuah metode partisipatif dalam penyusunan kebijakan eksekutif dan legislatif. Buku ini memaparkan pengalaman mengelola proses konsultasi publik dalam penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Tahapan dan Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah.

TUJUAN PENYUSUNAN BUKU


Buku ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi kalangan masyarakat sipil yang ingin terlibat dalam pembentukan peraturan perundangundangan. Buku ini dapat juga dipergunakan oleh kalangan eksekutif dan legislatif yang berkepentingan untuk membuka ruang partisipasi dan mengakomodasi kepentingan masyarakat dalam pembentukan peraturan

xix

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

perundang-undangan. Meskipun buku ini berdasarkan pengalaman KP yang diterapkan dalam proses penyusunan RPP, namun pengalamannya dapat juga dipergunakan dalam proses penyusunan peraturan perundang-undangan lainnya. Sebagai sebuah pengalaman, apa yang dipaparkan di dalam buku ini tentunya perlu direfleksi dan dikritisi untuk disempurnakan metodenya sehingga tercipta sebuah format KP yang benar-benar deliberatif dan inklusif. Tentunya penerapan-penerapan selanjutnya diharapkan dapat membuahkan panduan KP versi Indonesia seperti yang telah dimiliki negara-negara demokrasi lainnya.

SIAPA PENGGUNA BUKU


Buku ini dapat digunakan oleh berbagai kalangan yang berkepentingan dan terlibat dalam praktek penyusunan suatu kebijakan, peraturan, atau program pemerintah, baik dari kalangan masyarakat, akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), eksekutif, legislatif, dunia usaha, serta siapa pun yang berminat.

CARA MENGGUNAKAN BUKU


Buku ini bisa dipergunakan untuk kepentingan pengembangan proses dan praktek KP partisipatif, mulai dari pemahaman tentang nilai penting (urjensi) KP, unsur, kriteria, dan persyaratannya, sampai bagaimana proses KP dijalankan. Buku ini sebaiknya dibandingkan dengan praktek-praktek KP dari sumber lainnya baik yang bersumber dari pengalamanpengalaman di Indonesia maupun di negara-negara lain- untuk bisa mengkritisi dan mengembangkan gagasan penyempurnaan metode KP. Buku ini masih dalam tahap menawarkan gagasan pengembangan KP, sedangkan pengayaan alat dan media yang dapat digunakan, masih perlu terus dikembangkan agar sesuai dengan kapasitas dan tantangan zaman. Penggunaan teknologi dijital dan pengembangan e-government

xx

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

tentunya bukan hanya sekadar membutuhkan peralatan dan kapasitas pengelolaan teknologi belaka, melainkan membutuhkan suatu proses perubahan budaya komunikasi dari lembaga pemerintah dan masyarakat. Bagaimanapun kemajuan teknologi komunikasi membutuhkan kesiapan untuk mengelola arus pertukaran informasi. Butuh konsep yang jelas dan persiapan yang seksama untuk menggunakan teknologi dalam proses KP di masa depan.

ISI DAN STRUKTUR BUKU


Buku ini disusun berdasarkan proses KP yang terjadi saat menyusun Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (RPP-T2CP2EPRPD) . Proses KP tentunya tidak dapat disusun secara linear karena selalu terjadi proses yang adaptif dengan apa yang berkembang. Agar lebih mudah dibaca, naskah buku ini disusun oleh tim editor berdasarkan suatu kerangka proses sebagai berikut: tahap persiapan dan rencana; tahap pelaksanaan; dan tahap tindaklanjut KP (lihat Skema Kerangka Kerja Proses Konsultasi Publik RPP-T2CP2EPRPD). Secara garis besar buku ini dibagi ke dalam 6 bagian, yaitu:

Bagian-1 Kerangka Konseptual dan Hukum KP. Bagian ini terdiri atas 3 bab dan menjadi dasar bagi pelaksanaan KP, yaitu Bab-1 Konsep Konsultasi Publik; Bab-2 Gagasan Konsultasi Publik yang Bermakna; dan Bab-3 Payung Hukum KP dalam Proses Penyusunan RPP. Bagian-2 Persiapan dan Rencana KP. Bagian tediri atas 2 bab, yaitu Bab-4 Membangun Kesepahaman Awal; dan Bab-5 Merancang Kerangka Kerja KP.

Bagian-3 Pelaksanaan KP. Bagian ini terdiri atas 2 bab,


yaitu Bab-6 Mengelola Pelaksanaan KP Regional; Bab-7 Mengelola Pelaksanaan KP Lintas-Sektor.

xxi

MEMFASILITASI KONSULTASI PUBLIK

Bagian-4 Tindak Lanjut KP. Bagian ini hanya berisi satu


bab, yaitu Bab-8 Merumuskan Masukan KP Regional dan Lintas-Sektor.

Bagian-5 Pengembangan Sistem Dukungan KP. Bab


ini terdiri atas dua bab, yaitu Bab-9 Monitoring dan Evaluasi Proses dan Hasil KP; dan Bab-10 Pengembangan Kerjasama dan Jaringan.

Bagian-6 Keterampilan Memfasilitasi KP. Bab ini terdiri


atas dua bab , yaitu Bab-11 Teknik Fasilitasi Partisipatif KP; dan Bab-12 Teknik Komunikasi dan Konsultasi.

Bagian-2, Bagian-3, Bagian-4 dan Bagian-5 dapat dilihat sebagai sebuah alur proses KP di dalam Skema tentang Kerangka Kerja Proses KP RPP-T2CP2EPRPD. Dua bab yang terdapat di Bagian-5 merupakan kegiatan yang bergulir di sepanjang proses KP (yang dipaparkan dalam Bagian-2, Bagian-3, dan Bagian-4). Sementara Bagian-1 merupakan konsep dan roh dari keseluruhan alur proses KP. Sedangkan Bagian-5 adalah keterampilan yang perlu dikuasai untuk mengelola KP.

Skema Kerangka Kerja Proses Konsultasi Publik RPP-T2CP2EPRPD

xxii

BAB-1. KONSEP KONSULTASI PUBLIK

BAGIAN-1 KERANGKA KONSEPTUAL DAN HUKUM KONSULTASI PUBLIK

HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN

BAB-1. KONSEP KONSULTASI PUBLIK

BAB-1

Konsep Konsultasi Publik

Konsultasi Publik dan Demokrasi Deliberatif Apa Demokrasi Deliberatif itu? Empat Tingkat Keterlibatan Warga Alat Pelibatan Warga Apa Konsultasi Publik itu? Pengertian KP Ciri-ciri KP Elemen-elemen KP Unsur-unsur KP Persyaratan KP yang Ideal/efektif Manfaat KP: Bagi Pemerintah dan Warga Beda KP dengan Sosialisasi/Penyuluhan

KONSEP KONSULTASI PUBLIK

KP DAN DEMOKRASI DELIBERATIF


Apa Demokrasi Deliberatif itu? emokrasi deliberatif mengutamakan penggunaan tata cara pengambilan keputusan yang menekankan musyawarah dan penggalian masalah melalui dialog dan tukar pengalaman di antara para pihak dan warganegara. Tujuannya untuk mencapai musyawarah dan mufakat berdasarkan hasil-hasil diskusi dengan mempertimbangkan berbagai kriteria. Keterlibatan warga (citizen engagement) merupakan inti dari demokrasi deliberatif. Demokrasi deliberatif berbeda dengan demokrasi perwakilan, yang menekankan keterwakilan (representation), prosedur pemilihan perwakilan yang ketat, dan mengenal istilah mayoritas dan minoritas. Demokrasi deliberatif mengutamakan kerjasama antar-ide dan antarpihak, sedangkan kata kunci demokrasi perwakilan adalah kompetisi antar-ide dan antar-kelompok. Jika demokrasi perwakilan ditandai oleh kompetisi politik, kemenangan, dan kekalahan satu pihak, maka demokrasi deliberatif atau demokrasi musyawarah lebih menonjolkan argumentasi, dialog, saling menghormati, dan berupaya mencapai titik temu dan mufakat. Demokrasi langsung mengandalkan Pemilu, sistem keterwakilan (delegasi wewenang dan kekuasaan), dan elite-elite politik, sedangkan demokrasi deliberatif lebih menekankan partisipasi dan keterlibatan langsung warganegara. Menurut Sutoro Eko (2006), ciri khas demokrasi deliberatif ditandai dengan adanya proses pemilihan pemimpin dan pembuatan keputusan yang dilakukan melalui proses partisipasi warga secara langsung, bukan melalui voting atau perwakilan, melainkan melalui dialog, musyawarah dan pengambilan kesepakatan. Kelebihan dari demokrasi deliberatif adalah: (i) Memungkinkan partisipasi secara luas dan menghindari terjadinya oligarki elit dalam pengambilan keputusan;

(ii) Menghindari kompetisi individual memperebutkan posisi pemimpin dalam proses pemilihan (voting) langsung; (iii) Mengurangi praktik-praktik intimidasi, kekerasan, politik uang (money politics), dan KKN.

BAB-1. KONSEP KONSULTASI PUBLIK

LATAR BELAKANG PERKEMBANGAN DEMOKRASI DELIBERATIF


Demokrasi deliberatif muncul sebagai kritik dan upaya untuk memperbaiki demokrasi perwakilan yang selama ini berjalan di hampir semua negara demokratis, baik di negara maju maupun berkembang, dan menjadi mekanisme utama dalam pengambilan keputusan. Kelemahan demokrasi perwakilan sudah banyak didokumentasikan oleh para ahli dan lembaga. Salah satu kelemahan demokrasi perwakilan adalah terjadinya apa yang disebut sebagai krisis legitimasi (legitimation crisis) oleh Jurgen Habermas, sebagai akibat dari tidak adanya partisipasi warganegara dalam sejumlah kebijakan penting. Akibatnya, banyak keputusan tentang kebijakan, peraturan, dan program publik yang tidak didukung, bahkan ditolak oleh warganegara. Para pemikir politik, mulai dari Rosseau, Mill, Habermas, Cohen, hingga Pateman, telah mengamati berbagai kelemahan-kelemahan demokrasi perwakilan. Menurut Cohen dan Fung (2004), sekurangnya ada tiga dimensi tujuan yang hendak dicapai oleh demokrasi perwakilan, tetapi gagal dicapai, yaitu: Tanggungjawab (responsibility), yakni sejauh mana para pemegang kuasa betul-betul melaksanakan tanggungjawab politiknya sesuai dengan aspirasi warga negara; Kesetaraan (equality), yakni sejauh mana tiap warganegara memiliki kesempatan yang sama untuk secara bersama ikut memutuskan suatu kebijakan; di dalam masyarakat modern, ketimpangan sosial ekonomi yang ada telah menghalangi terwujudnya kesetaraan kesempatan dan ikut serta memutuskan kebijakan; Kemandirian politik warganegara (political autonomy), yakni sejauh mana warganegara betul-betul mampu hidup mandiri dengan keputusan-keputusan politik yang telah ikut disusunnya. Bagaimana memandang dua hal ini? Apakah keduanya merupakan metode yang terpisah dan dikotomis, ataukah keduanya bersifat melengkapi dan saling mendukung? Dalam negara dan masyarakat modern yang jumlah penduduknya besar serta memliki kompleksitas masalah dan tantangan, dua jenis model itu sebaiknya dipakai bersama. Dengan adanya teknologi IT, berbagai bentuk konsultasi publik secara maya dapat dijalankan (e-government, e-democracy). Pada dasarnya, demokrasi deliberatif menganjurkan berbagai cara dan metode yang akan menyempurnakan mekanisme demokrasi perwakilan. Tujuannya untuk memperkuat dan mewujudkan tanggungjawab, kesetaraan, dan kemandirian politik warganegara. Secara singkat, demokrasi deliberatif bermaksud memberi daya kepada mereka yang tak berdaya, menyertakan mereka yang selama ini tersingkir, dan menciptakan kesempatan bagi pelaksanakaan hak-hak warga yang selama ini tidak tersedia.

KONSEP KONSULTASI PUBLIK

Empat Tingkat Keterlibatan Warga Bagaimana cara memperluas inklusi, deliberasi, dan pengaruh warganegara dalam proses-proses penyusunan kebijakan? Ada beberapa tingkat keterlibatan warga (public involvement) dan KP bukanlah tingkatan yang paling deliberatif atau partisipatif. Walau demikian, KP menjadi suatu proses atau alat yang tepat untuk suatu tujuan atau kebutuhan tertentu. Dalam Tabel-1.1 tergambar empat tingkat keterlibatan warga, tujuan, strategi komunikasi, dan forum/ metode/teknik/alat yang bisa digunakan untuk mengembangkan keterlibatan warga di dalam proses penyusunan kebijakan1. Alat Pelibatan Warga Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, inti dari proses demokrasi deliberatif adalah komunikasi dan dialog yang mengandung aspek pendidikan politik bagi warga. Tabel-1.2 menampilkan beberapa contoh alat (forum, metode/teknik, media) untuk melakukan komunikasi dan dialog antara pemerintah dan warga.

APA KONSULTASI PUBLIK (KP) ITU?


Pengertian KP KP sebagai forum demokrasi deliberatif KP adalah upaya yang dilakukan pemerintah untuk melibatkan warganegara dalam merumuskan sebuah kebijakan atau peraturan. Melalui KP, terjadi hubungan dua arah antara pemerintah dan warganegara. Di sini, peran penting warganegara dan para pemangku kepentingan ( stakeholders) lain diakui oleh pemerintah.
___________________________________________

Sumber: OECD (2003) dan Public Deliberation: A Managers Guide to Citizen Engagement, Carolyn J. Lukensmeyer dan Lars Hasselblad Torres, IBM Center for The Businesss of Government, Tahun 2006.
1

BAB-1. KONSEP KONSULTASI PUBLIK

Tabel-1 .1 Empat T ingk at K e t erlibat an W ar ga abel-1. Tingk ingkat Ke erlibatan War arga
TINGKAT Pertukaran informasi (information exchange): warga menyampaikan informasi dan memperoleh informasi Konsultasi (consultation): Warga dimintai masukannya dalam menganalisis, menyusun alternatif dan mengambil keputusan PENJELASAN TUJUAN Penyadaran warga Mengumpulkan opini publik Membangun momentum bagi penyusunan kebijakan STRATEGI KOMUNIKASI Komunikasi tertulis Komunikasi elektronik Komunikasi lisan Komunikasi visual METODE/ TEKNIK/ALAT Opinion poll/ survey Komentar publik Dengar pendapat umum Poster dan media kampanye Pertemuan warga (public meeting) Konsultasi online (Econsultation)

Pertukaran informasi untuk mengkondisikan partisipasi warga

Pendidikan warga Mendorong debat publik Menjabarkan nilai-nilai Memperluas penyediaan informasi Memperbaiki keputusan Melibatkan warga dalam Pelibatan Penggunaan penyelesaian (engagement): alat-alat masalah Pemerintah Melibatkan warga untuk bekerja dengan memproses dalam warga di dalam informasi pengambilan keseluruhan proses Kadangkeputusan penyusunan kadang Mengembangkan kebijakan agar pengambilan kapasitas dalam aspirasi warga keputusan melaksanakan selalu bersama kebijakan dipertimbangkan Memperbaiki hasil pelaksanaan Mewakili Proses berbagai penguatan pemangku Kolaborasi kapasitas untuk kepentingan (collaboration) membangun Melibatkan pakar Pemerintah dan kerjasama warga menjadi Mengurangi berkelanjutan di mitra (partner) konflik antara berbagai dalam proses kepentingan kelompok penyusunan Memperbaiki kepentingan kebijakan kebijakan dan Mengembangkan pelaksanaan kapasitsa dalam kebijakan pelaksanaannya

Penggunaan alat-alat untuk memproses informasi Adanya forum/lemba ga yang memproses input

Pertemuan tatap muka dengan warga Pertemuan on-line dengan warga

Pertemuan tatap muka dengan warga Pertemuan on-line dengan warga Pendelegasian kewenangan

Musyawarah warga (public deliberation) Musyawarah on-line (online deliberation)

Membangun Komite Perundingan Penasihat Merancang multipihak proses Proses Pengambilan konsensus keputusan kebijakan bersama (share decision making)

KONSEP KONSULTASI PUBLIK

Tabel-1 .2 Cont oh-cont oh Forum/Me t ode/T eknik P elibat an W ar ga abel-1.2 Contoh-cont oh-contoh Forum/Met ode/Teknik Pelibat elibatan War arga
NAMA PENJELASAN Yaitu pelibatan warganegara --selain pemerintah dan para ahli-- dalam pembahasan dan penyusunan kebijakan. Melalui KP, sebuah kebijakan akan memperoleh tanggapan dari kelompok masyarakat yang memiliki keahlian teknis dan dari kelompok masyarakat yang terkena dampak kebijakan. Dalam KP, yang dicari adalah kekayaan dan ragam informasi, data, pandangan, serta pendapat, dan bukan sekadar keterwakilan kehadiran masyarakat. Negosiasi dan unjuk kepentingan tidak menjadi prioritas utama, melainkan argumentasi dan pertimbangan-pertimbangan. Kalah menang bukan menjadi tujuan, yang diupayakan adalah titik temu dan kata mufakat. Yakni forum yang bersifat testimonial, para stakeholder hanya diminta tanggapan dan usulan tanpa mengetahui sejauh mana masukan dan usulan itu akan benar-benar menjadi pertimbangan dan menjadi keputusan akhir. Teknik ini, tidak interaktif dan dialogis. Dengan sifatnya yang demikian, maka forum ini memiliki manfaat yang terbatas. Yakni jajak pendapat yang berbeda dengan jajak pendapat biasa. Jajak pendapat deliberatif memasukkan elemen: (i) informasi tentang isu-isu yang menjadi bahan pertanyaan dan pilihan-pilihan solusi yang menjadi bahan informasi warga; (ii) steering committe untuk memandu proses; dan (iii) pertemuan-pertemuan yang dihadiri sekitar 300-500 warga yang terpilih secara acak. Pada pertemuan ini para warganegara berhak menentukan alokasi anggaran kota dengan mengajukan berbagai kebutuhan dan usulan proyek pembangunan. Yakni mencari pendapat publik dengan beberapa pertanyaan kunci yang sudah disiapkan, yang secara statistik dapat dipercaya. Yakni forum perwakilan warga yang didirikan untuk berbagai isu dan kebijakan. Para anggota dipilih atau diangkat sesuai dengan kualifikasi dan keterkaitannya dengan isu-isu tersebut. Forum semacam ini biasanya memiliki wewenang penasehat (advisory) dan tidak memiliki wewenang memutuskan (decision making). Akan tetapi, forum ini lebih memungkinkan isu-isu dan permasalahan dibahas dengan mendalam, pilihan-pilihan ditimbang dengan lebih seksama dan teliti dibanding public hearings. Yakni forum warga kota yang membahas isu-isu penting dan membuat keputusan. Isu penting itu misalnya menyangkut soal sekolah, peredaran minuman keras, dan soal pajak lokal. Setiap pemilih yang terdaftar berhak mengikuti pertemuan. Dalam pertemuan, para warga kota berargumen dan mempertimbangkan usulan dan pandangan peserta lainnya sebelum membuat keputusan bersama. Keputusan bersama dari pertemuan kota ini bersifat mengikat dan menjadi hukum bagi kota dan pemerintah kota. Yakni forum-forum yang lebih interaktif dibanding public hearings, pesertanya lebih beragam dibandingkan Komite Warga. Forum ini biasanya digunakan untuk membahas persoalan tata kota dan pencarian visi kota di masa depan. Ini dilakukan oleh berbagai pemerintah daerah di AS. Forum ini memang dirancang untuk lebih menciptakan dialog dan pendalaman masalah dibanding mencari keterwakilan peserta.

Konsultasi Publik

Public Hearings

Deliberatif Poll

Public Surveys

Citizen Committee

Town Meeting

Forum Kolaboratif

BAB-1. KONSEP KONSULTASI PUBLIK

NAMA Stakeholder Meetings Public Meetings Web Forums

PENJELASAN Yakni pertemuan atau konsultasi lebih khusus dengan para pihak atau pemangku kepentingan. Yakni pertemuan-pertemuan yang luas dan terbuka untuk semua pihak dan warganegara. Yakni menjaring masukan, saran dan kritik lewat website atas naskah kebijakan yang telah disiapkan dan dipasang dalam website. Tim ini dibentuk secara bersama-sama oleh pemerintah dan stakeholder di luar pemerintah untuk merancang dan merumuskan suatu dokumen kebijakan. Stakeholder diartikan sebagai mereka yang mampu dan memiliki informasi serta analisa, tetapi tidak melibatkan warganegara secara langsung. Misalnya, anggota Tim Bersama berasal dari kalangan ornop, akademisi, lembaga-lembaga pemerintah di luar dinas/departemen yang bertugas menyusun dokumen, serta kalangan pengusaha dan perwakilan organisasi sosial dan keagamaan. Contoh tim bersama ini adalah tim penyusun dokumen Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SNPK), yang bertugas menyusun dokumen penanggulangan kemiskinan di bawah koordinasi Menko Kesra dan Bappenas selama tahun 2003-2005.

Tim Bersama

Forum ini berniat untuk melaksanakan pendekatan bottom-up, dalam rangka memperoleh informasi dan preferensi kebutuhan pembangunan (anggaran dan jenis proyek pembangunan) di tingkat lokal desa dan antarMusrenbang desa. Melalui pertemuan warga di tingkat desa dan tingkat kecamatan, (Musyawarah Musrenbang secara teori akan menghasilkan informasi dan pilihan-pilihan Perencanaan yang lebih tanggap dan kontekstual sesuai kebutuhan lokal dan Pembangunan) masyarakat. Dalam pertemuan di tingkat desa, warga desa diharapkan memiliki kesempatan untuk mengusulkan dan mendesak kebutuhannya agar bisa diakomodasi dalam rencana kerja satuan kerja perangkat daerah, kementerian, dan lembaga. Forum Asmara Forum ini dibentuk oleh DPRD di tingkat kabupaten/kota untuk menjaring (Jaring Aspirasi aspirasi masyarakat mengenai pembangunan. Forum ini digelar pada saat Masyarakat) reses dan ditujukan untuk menjalin komunikasi dengan konstituen. Dewan Kabupaten/ Kota Contohnya adalah Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota. Forum ini anggotanya diseleksi secara terbuka dan dipilih oleh forum pertemuan orang tua murid/wali murid. Sementara itu, di DKI Jakarta terdapat Dewan Transportasi Kota, yang anggotanya berasal dari kalangan umum di luar pemerintah dan DPRD. Kedua forum ini serupa dengan Citizen Committee di Amerika.

Dalam forum ini, warga di tingkat akar rumput bermusyawarah, berdiskusi, serta mengajukan sejumlah usulan proyek dan mengutus dua orang wakilnya. Usulan itu akan dibawa wakilnya ke tingkat kota. Mereka Forum kemudian melakukan dialog, diskusi, dan pembahasan dengan pihak Penganggaran pemerintah untuk menghasilkan usulan akhir. Semua warga dari semua Partisipatif wilayah kota, ikut serta menentukan alokasi anggaran sesuai dengan kebutuhan lingkungannya. Dalam proses ini, warganegara juga belajar dan memahami laporan kerja pemerintah kota dan penggunaan anggarannya.

KONSEP KONSULTASI PUBLIK

Apabila KP ditetapkan pemerintah sebagai suatu proses atau mekanisme dalam menyusun kebijakan dan program, maka KP akan menjadi forum pertemuan antara warga dan pemerintah. Melalui forum ini, perencanaan dan penyusunan kebijakan publik tidak hanya melibatkan para ahli dan birokrasi, tetapi juga melibatkan para pemangku kepentingan lain yang akan menerima manfaat atau dipengaruhi oleh kebijakan tersebut. Pemerintah memiliki wadah untuk mencari suara dan pendapat publik, di luar para ahli dan staf birokrasi. Sebaliknya warganegara mempunyai wadah untuk menyampaikan aspirasi dan umpan balik kepada pemerintah. KP sebagai proses demokrasi deliberatif KP merupakan cara baru dalam perumusan dan penentuan kebijakan (policy formulation and policy decision ). Di masa lalu, pemerintah tertutup dan tidak partisipatif/ekslusif. Komunikasi yang dilakukan pemerintah kepada masyarakat biasanya searah. Kini pemerintah bersedia dan bersikap terbuka dan partisipatif, mengajak berbagai pihak dan pemangku kepentingan duduk bersama dan memberikan masukan dalam merancang kebijakannya. Komunikasi yang bersifat dialogis dengan warga dan mengutamakan musyawarah, merupakan inti dari proses demokrasi deliberatif. KP perlu dirancang sebagai bagian dari proses ini. Proses KP dengan sendirinya harus bersifat komunikasi dialogis, bukan searah. KP sebagai metode/teknik/alat demokrasi deliberatif Demokrasi tidak akan menjadi realita kehidupan apabila tidak disertai keterampilan menjalankannya. Keterampilan berdemokrasi harus dimiliki para pelaku politik (warganegara, pemerintah, eksekutif maupun legislatif ). Salah satu keterampilan berdemokrasi adalah penguasaan metode/teknik sebagai sarana untuk menjalankan demokrasi itu. KP bisa juga diartikan sebagai metode atau teknik partisipatif dalam merancang dan menyusun sebuah kebijakan. KP sebagai metode, serumpun dan satu keluarga dengan gagasan-gagasan partisipasi dalam pengambilan keputusan kebijakan publik. KP

10

BAB-1. KONSEP KONSULTASI PUBLIK

merupakan proses dan kegiatan untuk lebih mendekatkan diri dengan aspirasi publik melalui pelibatan langsung warganegara.

Ciri-ciri KP Ada dua hal yang menjadi ciri KP: (a) Menyangkut sebuah isu publik atau suatu urusan yang akan berdampak dan berakibat pada warganegara secara luas. Misalnya kebijakan kesehatan, pendidikan, atau penganggaran.
(b) Menyangkut relasi antara pemerintah yang akan melaksanakan suatu kebijakan atau aturan dengan warganegara yang akan terkena atau diatur oleh kebijakan atau aturan itu.

Elemen-elemen KP Elemen-elemen yang terlibat dalam sebuah KP sekurangkurangnya terdiri atas: (i) Pelaku atau subyek: pemerintah warganegara;
(ii) Bahan konsultasi: informasi, ide, rancangan kebijakan, data-data dan lainnya; (iii) Proses-proses: terbuka, deliberatif (berdasar musyawarah), partisipatif, komunikasi dialogis; (iv) Sifat relasi antar-pelaku: setara dan kooperatif; (v) Hasil-hasil: umpan balik, koreksi, perbaikan, perubahan-perubahan, dan kesepakatan bersama.

Unsur-unsur KP Partisipasi dalam konteks relasi antara pemerintah dan warganegara (governance), hendak menempatkan masyarakat pada posisi yang sebenarnya. Pertama, warganegara atau masyarakat bukanlah sebagai hamba (client) melainkan sebagai warga (citizen).

Kedua, warganegara atau masyarakat bukan dalam posisi yang diperintah tetapi sebagai teman sejajar (partner) pemerintah dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan.

11

KONSEP KONSULTASI PUBLIK

Ketiga, partisipasi bukanlah pemberian pemerintah tetapi sebagai hak warganegara. Keempat, warganegara atau masyarakat bukan sekadar obyek pasif penerima manfaat kebijakan pemerintah, tetapi sebagai aktor atau subyek yang aktif menentukan kebijakan.

Mengacu pada konsep (partisipasi) tersebut, maka KP mengandung unsur-unsur sebagai berikut: (i) Kedudukan yang setara. Pemerintah tidak menganggap pihak lain lebih rendah dan sebaliknya pihak lain juga memiliki respek atas peran dan kewajiban pemerintah; (ii) Informasi yang setara dan keterlibatan sejak awal; (iii) Penentuan subtansi dan proses secara bersama-sama.

Persyaratan KP yang Ideal/Efektif KP yang ideal/efektif memerlukan tiga dimensi persyaratan: (a) Pengaruh (influence), yakni sejauh mana para pelaku khususnya warganegara dan kelompok masyarakat memiliki kapasitas untuk mempengaruhi sebuah kebijakan;
(b) Inklusi (keterlibatan yang bermakna), yakni sejauh mana warganegara dari berbagai lapisan masyarakat--dengan beragam minat dan kebutuhan serta cara pandang--memiliki jalur dan pintu untuk secara aktif terlibat memberikan pendapat dan usulan; (c) Deliberasi (musyawarah), yakni sejauh mana dialog yang terbuka, jujur, saling menghormati dan berkehendak untuk mufakat.

MANFAAT KP
Melalui proses KP, diharapkan penyusunan kebijakan, program atau peraturan akan lebih baik dan mencerminkan kebutuhan semua pelaku, termasuk warganegara yang rentan (kaum miskin, perempuan dan anak-anak). Tidak heran apabila di berbagai negara maju, KP dalam berbagai bentuknya merupakan praktek yang lazim dan dilaksanakan oleh semua departemen atau badan-badan

12

BAB-1. KONSEP KONSULTASI PUBLIK

pemerintah. Bahkan beberapa negara telah membuat pedoman ataupun panduan tentang KP. Jika dijalankan dengan sungguh-sungguh dan nyata, tidak sekadar mencari pembenaran atas kebijakan yang sudah dipatok, maka KP akan membuahkan manfaat, baik bagi pemerintah maupun bagi warganegara. Bagi pemerintah, KP bermanfaat untuk:

Memperoleh data dan informasi sebagai dasar penyusunan dan penetapan suatu kebijakan dan peraturan; Menyusun strategi dan pilihan-pilihan yang diputuskan berdasarkan informasi, pengetahuan, dan pendapat yang lebih kaya; Memperbaiki komunikasi di antara kelompok-kelompok kepentingan; Meningkatkan mutu perdebatan, saling mendidik, dan memahami masalah-masalah kelompok; Menangani dan memecahkan masalah; Membuktikan bahwa pemerintah telah berubah dan lebih transparan, tanggap, dan akuntabel; Meningkatkan dukungan publik terhadap kebijakan yang sedang direncanakan.

Bagi warganegara dan kelompok-kelompok masyarakat, KP bermanfaat untuk:

Memperjelas kedudukannya di dalam sistem kenegaraan karena mereka memiliki data, informasi dan preferensi; Mendesakkan kebutuhan, suara, dan kepentingannya kepada para pengambil kebijakan; Menyampaikan keluhan, usulan, dan masukan-masukan tentang berbagai kebijakan dan pelayanan publik yang mempengaruhi kehidupan mereka.

13

KONSEP KONSULTASI PUBLIK

PERBEDAAN KP DENGAN SOSIALISASI/ PENYULUHAN


KP yang dipaparkan pada bagian awal sebaiknya jangan diartikan secara sempit. Dalam pengertian sempit, KP sekadar dimaknai sebagai proses yang dilakukan pemerintah untuk meminta input dan tanggapan atas kebijakan atau peraturan. Sementara itu, informasi diartikan sebagai hubungan satu arah, dari pemerintah ke warganegara Contohnya adalah penyediaan informasi dalam website. Untuk memudahkan perbedaannya, maka KP dalam pengertian lama dapat disamakan dengan penyuluhan atau sosialisasi. Sosialisasi atau penyuluhan lebih merupakan gerak satu arah dari pemerintah ke warganegara, sedangkan KP lebih merupakan proses yang interaktif (dialogis). Penyuluhan atau sosialisasi lebih memandang pemerintah sebagai agen dan pelaku utama, sementara KP mengandalkan dua pihak (pemerintah dan warga), sebagai pelaku utama. Tabel-1.3 menggambarkan perbedaan antara KP dalam arti sempit (penyuluhan atau sosialisasi) dengan KP dalam arti luas. Sedangkan Tabel-1.4 menggambar pergeseran cara pandang warganegara terhadap KP. Tabel-1 .3 P en yuluhan v s K onsult asi Publik abel-1.3 Pen enyuluhan vs Konsult onsultasi
ELEMEN/DIMENSI Subyek Sumber informasi Kualitas informasi Relasi Proses Ukuran capaian Hasil utama PENYULUHAN/SOSIALISASI Pemerintah sebagai aktor utama Kaum ahli Informasi dan pilihan kebijakan dimiliki oleh pemerintah dan ahli Pemerintah dominan Satu arah dari pemerintah ke warganegara Jumlah pertemuan dan peserta Informasi tersebar KONSULTASI PUBLIK Pemerintah dan warga sebagai aktor bersama Kaum ahli dan warga negara Informasi dan pilihan kebijakan dibagi dan disebar ke warganegara Pemerintah setara dengan pihak lain Dua arah dan interaktif/dialogis Penggalian masalah, forum belajar bersama, kesepakatan Musyawarah, deliberasi dan mufakat

14

BAB-1. KONSEP KONSULTASI PUBLIK

T abel-1 .4 P er geser an Car aP andang W ar ganegar a dalam KP abel-1.4 Per ergeser geseran Cara Pandang War arganegar ganegara
KP (ARTI SEMPIT)) Warganegara sebagai sasaran/obyek Warganegara penerima manfaat Warganegara sebagai pelaksana Warganegara tidak ahli dan tidak memiliki informasi/preferensi Warganegara apatis KP (ARTI LUAS) Warganegara sebagai subyek/pelaku Warganegara pemegang hak dan kewajiban Warganegara sebagai perancang dan pelaksana Warganegara sebagai sumber informasi dan preferensi penyusunan kebijakan publik Warganegara aktif dan terlibat kebijakan publik

MANFAAT KP DI INDONESIA
Dalam konteks Indonesia, penyelenggaraan KP akan menghasilkan manfaat-manfaat sebagai berikut : Mendorong adanya pembentukan kesepakatan dan penyelesaian konflik. Perbedaan pendapat di Indonesia sering berakhir dengan kekerasan dan permusuhan, bukan permufakatan dan persaudaraan. KP mungkin bisa menjadi salah satu cara untuk mencegah konflik dan kekerasan di antara kelompok warga dan berguna untuk memupuk ikatan kebersamaan dan kohesi sosial. Memperbesar adanya rasa memiliki dari warganegara dan stakeholders atas sebuah kebijakan atau peraturan. Di Indonesia, apatisme dan ketidakpedulian atau kefrustasian warganegara dapat melemahkan dan menghancurkan modal sosial masyarakat dan kewargaan. KP mungkin menjadi cara yang baik untuk menumbuhkan sikap peduli dan kewargaan yang aktif. Menemukan solusi yang lebih berdasarkan pada kenyataan lokal dan dapat diterima ketimbang solusi umum yang seragam dan dipaksakan dari atas. Berbagai masalah seringkali bersifat lokal dan memerlukan solusi lokal. Kepandaian dan keterampilan menemukan solusi atas masalahmasalah lokal dapat memberikan sumbangan yang signifikan bagi upayaupaya pemerintah dan masyarakat dalam memperbaiki berbagai keadaan di sekitarnya. Memperbesar dampak redistributif dari kebijakan yang diambil. Setiap kebijakan selalu menyangkut siapa memperoleh apa. Dengan metodemetode yang partisipatif, termasuk KP, maka dampak redistributif dapat dicapai. Misalnya, lebih memprioritaskan pengangkatan tenaga guru atau tenaga kesehatan, dibanding pembangunan gedung mewah atau pembelian mobil mewah untuk pejabat.

15

KONSEP KONSULTASI PUBLIK

16

BAB-2. GAGASAN KONSULTASI PUBLIK YANG BERMAKNA

BAB-2

Gagasan Konsultasi Publik yang Bermakna

Kriteria KP yang Bermakna (Meaningful) Transparan (Terbuka) Deliberatif (Berdasar Musyawarah) Partisipatif (Melibatkan Para Pemangku Kepentingan) Pro-poor (Memihak Kelompok Rentan)

Membangun KP yang Bermakna Fase KP :S ebelum, P elaksanaan, P asc aP elaksanaan KP: Sebelum, Pelaksanaan, Pasc asca Pelaksanaan Skema Proses KP Skema Pilihan Kegiatan, Mekanisme, Teknik KP

Memeriksa Apakah KP Bermakna

17

BAB-2. GAGASAN KONSULTASI PUBLIK YANG BERMAKNA

KRITERIA KP YANG BERMAKNA


eskipun sudah melalui kegiatan KP, sebuah proses penyusunan program, kebijakan, atau peraturan belum bisa dikatakan sudah partisipatif. Jika dalam KP itu masyarakat hanya menjadi pendengar dan menyampaikan aspirasinya secara artifisial, dan KP hanya sekadar menjadi forum stempel belaka, maka ketika kebijakan atau peraturan itu ditetapkan dan dilaksanakan, masyarakat akan tetap merasa tidak terwakili. KP yang diselenggarakan berdasarkan urjensi dan manfaat proses-proses demokrasi, baik bagi pemerintah maupun warganegara secara umum, haruslah bermakna (meaningful). KP yang bermakna secara ideal harus memenuhi sejumlah kriteria yaitu terbuka, deliberatif, partisipatif, dan memihak kelompok miskin (pro-poor).

Transparan (Terbuka) KP berusaha membuka diri dalam dua hal: (i) Pilihan informasi dan data disediakan serta disebarluaskan ke semua kalangan yang berminat dan/atau terpengaruh oleh kebijakan/peraturan yang sedang dibahas, termasuk kalangan akademisi, media massa, serta pemerintah daerah, agar mereka memiliki pemahaman yang setara dan memadai.
(ii) Informasi tentang seluruh tahapan proses KP, termasuk informasi mengenai hasil akhir dan pemanfaatan hasil KP harus disampaikan secara terbuka melalui berbagai media (misalnya dikirimkan langsung ke peserta, dipasang di website atau pengumuman di koran).

Deliberatif (Berdasar Musyawarah) Kelompok-kelompok yang nantinya dianggap menjadi pengguna atau terkena dampak perlu diberi kesempatan untuk mengajukan berbagai pertimbangan dan berbagai usulan. Untuk itu KP perlu memberi waktu yang cukup dan memungkinkan munculnya berbagai pertimbangan dan pembahasan. Hal itu perlu didukung kecukupan informasi dan analisa yang disediakan oleh pemerintah sebagai perancang kebijakan. Jika informasi dan data awal yang

18

BAB-2. GAGASAN KONSULTASI PUBLIK YANG BERMAKNA

disediakan terlalu miskin dan tidak lengkap, maka dapat dipastikan tidak terjadi deliberasi. Isu-isu yang kontroversial perlu dibuka sejak awal dan disertai berbagai data memadai dan pilihan kebijakan yang tersedia. Setiap pilihan perlu disertai dengan argumen dan data-data akurat. Dengan demikian, semua pihak dapat belajar tentang berbagai pendapat dan pilihan kebijakan yang mungkin diambil. Untuk itu, panitia penyelenggara KP bertugas menyediakaan data dan informasi selengkap-lengkapnya. Panitia perlu memastikan agar semua stakeholders dan peserta musyawarah/deliberasi memiliki bekal informasi yang cukup dan setara.

Partisipatif (Melibatkan Para Pemangku Kepentingan) KP berusaha untuk melibatkan berbagai elemen masyarakat secara luas, tidak terbatas hanya mereka yang dipandang ahli atau berasal dari kalangan akademik. Oleh karena itu KP perlu memperluas stakeholders yang terlibat, termasuk kaum perempuan. Penting juga untuk berusaha melibatkan pihak atau lembaga yang dianggap memiliki pandangan berbeda dalam KP. Salah satu contoh kegiatan yang dapat ditempuh misalnya dengan meminta input langsung dari masyarakat dengan berbagai cara. Misalnya dengan mengadakan lomba menulis sebagai bahan membuat masukan teknis dari sudut pandang yang beragam tentang subyek KP. Untuk itu, rancangan proses KP dapat disusun secara partisipatif pula sehingga mengurangi kemungkinan pengabaian keterlibatan berbagai pihak yang berkepentingan lain. Satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk memastikan KP yang partisipatif adalah dengan membentuk Tim Bersama atau semacam steering committe yang luas. Tim ini beranggotakan kalangan pemerintah dan non-pemerintah yang akan bertugas merancang proses KP yang terbuka, deliberatif dan partisipatif, mulai tahap perencanaan, perumusan, hingga menjelang pengesahannya.

Pro-poor (Memihak Kelompok Miskin)


KP yang terbuka, deliberatif dan partisipatif, kiranya tidak boleh menjadi forum terbatas bagi mereka yang terdidik, muda, kaya, dan

19

BAB-2. GAGASAN KONSULTASI PUBLIK YANG BERMAKNA

laki-laki. KP perlu menjadi forum yang melibatkan kelompok masyarakat miskin, termasuk kelompok rentan dan perempuan. Seringkali berbagai forum, pertemuan, dan kegiatan konsultasi hanya diikuti kelompok laki-laki, kelompok kaya, dan kelompok terdidik. Sementara kaum perempuan, anak-anak, dan kelompok miskin tidak berpartisipasi. Persoalan yang sering muncul adalah ketika menentukan kelompok rentan (vulnerable groups) secara lebih akurat. Memang tidak selalu mudah dalam menetapkan atau merinci kelompok rentan. Terlebih dahulu harus dikaji subyek KP dan kaitannya dengan berbagai kelompok rentan. Misalnya saja ketika kita melakukan KP perumusan kebijakan tata kota dan standar gedung-gedung publik dan swasta di perkotaan. Dalam konteks ini, ketersediaan ruang khusus bagi para ibu untuk memberikan ASI perlu menjadi perhatian. Begitu juga dengan kehadiran dan hak-hak warga negara usia lanjut (senior citizen) dan mereka yang memiliki kemampuan yang berbeda (diffable). Kehadiran kelompok rentan dalam forum akan memberikan pertimbangan dan patokan dalam perumusan kebijakan pemerintah. Misalnya, bagaimana membuat akses ke dalam gedung dan perkantoran yang mudah dan bersahabat ( accessible ) bagi pengguna kursi roda dan penyandang tuna netra. Begitu pula dengan sarana penyeberangan jalan, trotoar untuk pejalan kaki (pedestrian), dan angkutan umum.

MEMBANGUN KP YANG BERMAKNA


Bagaimana membangun proses KP yang benar-benar partisipatif dan merupakan suatu proses pengambilan keputusan yang inklusif? KP sebagai suatu metode/teknik komunikasi dialogis, dapat dilakukan dengan berbagai tingkat interaksi berbeda. Interaksi dinilai berada dalam level terendah apabila pemerintah hanya mendengarkan masukan atau aspirasi. Interaksi dinilai berada dalam level tertinggi apabila pemerintah mengajak warga menyepakati alternatif jalan keluar dari isu yang dibahas. (Lihat Skema-2.1) KP yang bermakna sebaiknya meliputi semua tingkat interaksi tersebut, tetapi ini membutuhkan penguatan kapasitas dan kesiapan

20

BAB-2. GAGASAN KONSULTASI PUBLIK YANG BERMAKNA

Sk ema-2. 1 R ent ang P eningk at an Int er aksi dalam KP Skema-2. ema-2.1 entang Peningk eningkat atan Inter eraksi
(1) MENDENGARKAN

(5) MENYEPAKATI ALTERNATIF JALAN KELUAR

Konsultasi adalah sebuah rentang peningkatan interaksi antara pemerintah dan warga, mulai dari tahap mendengarkan, berdialog, berdebat, menganalisis, sampai menyepakati jalan keluar bersama. Konsultasi bisa merupakan salah satu dari tahap ini, bisa juga keseluruhan tahap.

(2) BERDIALOG

(4) MENGANALISIS

(3) BERDEBAT

menjalankannya. Rancangan KP terutama harus disesuaikan dengan karakteristik lembaga pemerintah yang menjadi penyelenggaranya: apakah karakteristiknya masih hanya mendengarkan dan berdialog, ataukah sudah siap untuk saling mempertahankan argumentasi (berdebat) dan mencari jalan keluar terbaik. Secara bertahap, proses KP ini perlu ditingkatkan menjadi lebih baik.

FASE KP
Proses umum KP akan memuat 3 fase utama: sebelum KP, pelaksanaan KP, dan pasca pelaksanaan KP. Keseluruhan fase KP tergambar dalam Skema-2.2. Pada Skema-2.2, yang merupakan inti dari kegiatan KP adalah kotak pengelolaan proses pelaksanaan KP. Pada langkah ini, proses KP harus dirancang dengan baik agar bisa menggerakkan dialog, mencari berbagai sudut pandang, mengembangkan argumentasi dan bahan pertimbangan, memunculkan perundingan, lalu akhirnya mengerucut menjadi pilihan-pilihan keputusan yang berpihak pada kepentingan warga. Agar terjadi rancangan proses demikian, perlu dipilih kegiatan, teknik dan mekanisme yang disesuaikan dengan tujuan yang ingin

21

BAB-2. GAGASAN KONSULTASI PUBLIK YANG BERMAKNA

dicapai, karakteristik pemangku kepentingan, waktu yang tersedia, teknologi yang dimiliki, dan sebagainya. Pada Skema-2.3 terdapat beberapa contoh pilihan kegiatan, teknik, dan mekanisme yang bisa digunakan dalam pelaksanaan KP. Sk ema-2.3 Pilihan K egiat an T eknik dan Mek anisme KP Skema-2.3 Kegiat egiatan Teknik Mekanisme

Keterangan: FGD = Focus Groups Discussion PPA = Participatory Poverty Assessment

22

BAB-2. GAGASAN KONSULTASI PUBLIK YANG BERMAKNA

Tabel-2. 1 Oper asionalisasi Empat Krit eria KP Bermakna abel-2.1 Operasionalisasi Kriteria
Dimensi Pertanyaan Kunci Sejauh mana tersedia informasi publik tentang proses-proses sebelum dan sesudah KP? Bagaimana hasil KP akan digunakan? Siapa saja yang harus terlibat? Apa saja pembagian tugas yang dilakukan? Sejauh mana proses-proses yang dilaksanakan? Apakah bentuk-bentuk kegiatannya cukup beragam dan sesuai dengan parapihak (stakeholders) yang hendak dijangkau? Apakah para stakeholders telah mendapat penjelasan mengenai proses, tahapan, serta waktu yang cukup untuk berpartisipasi aktif? Apakah perumusan masalah jelas dan mudah dipahami semua pihak? Apakah semua informasi yang relevan sudah ditampilkan? Apakah ada data dan informasi yang masih perlu digali/diteliti? Apakah pilihan-pilihan kebijakan dan jalan keluar sudah dipertimbangkan dengan masak? Apakah tersedia waktu yang cukup untuk bermusyawarah dan berunding? Apakah bentuk penampilan/format laporannya mudah dibaca ataukah membosankan/teknikal? Sejauh mana suara dan keadaan dan aspirasi kelompok rentan menjadi masukan dan input? Bagaimana kelompok perempuan dan anakanak terlibat aktif? Contoh Alat/Kegiatan Pengumuman di koran dan website Penyiapan data-data dan informasi secara lebih lengkap Analisa stakeholders Tim Bersama Dewan Penganggaran seperti di Porto Alegre Forum-forum konsultasi tematik seperti Forum Kesehatan, Forum Pendidikan dan sebagainya Focus Group Discussion (FGD) di wilayah miskin Pertemuan forum warga Musbangdes/musbangda Waktu yang cukup Penyiapan kriteria teknis dalam pembuatan prioritas dan alokasi (data kesehatan, infrastruktur, alokasi anggaran, dll.) Citizen survey Kajian Kemiskinan Partisipatif/ Participatory Poverty Assessement (PPA) Focus Group Discussion (FGD) di wilayah miskin

Terbuka

Partisipasi

Deliberasi

Pro poor

23

BAB-2. GAGASAN KONSULTASI PUBLIK YANG BERMAKNA

24

BAB-3. PAYUNG HUKUM KONSULTASI PUBLIK DALAM PROSES PENYUSUNAN RPP

BAB-3

Payung Hukum Konsultasi Publik dalam Proses Penyusunan RPP

Partisipasi Masyarakat dalam Penyusunan Kebijakan dan Peraturan Perundang-undangan Payung Hukum: UU No.10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Partisipasi Masyarakat dalam Proses Legislasi (Legislatif dan Eksekutif)

Partisipasi Masyarakat dalam Penyusunan Kebijakan Eksekutif Urjensi Partisipasi Masyarakat dalam Penyusunan Kebijakan Eksekutif Mengapa KP sebagai Alat Partisipasi di Kalangan Eksekutif? KP menurut UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air:

Peluang dan T antangan P engembangan KP dalam Tantangan Pengembangan Penyusunan RPP

25

BAB-3. PAYUNG HUKUM KONSULTASI PUBLIK DALAM PROSES PENYUSUNAN RPP

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN KEBIJAKAN DAN PERATURAN PERUNDANGAN


Payung Hukum: UU No. 10 Tahun 2004 alam kerangka hukum di Indonesia, pelibatan publik dalam pembentukan peraturan perundang-undangan diatur dalam Pasal 53 UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. UU tersebut menyatakan bahwa ...Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pernbahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah. UU No. 10 Tahun 2004 tidak merinci kegiatan, mekanisme atau alat apa yang bisa digunakan untuk menampung masukan dari masyarakat baik secara tertulis maupun lisan. Artinya, pemerintah (legislatif maupun eksekutif ) berkewajiban untuk menyediakan sarana, prasarana, dan alat untuk pelibatan masyarakat dalam proses legislasi. Dengan demikian, dalam proses pembuatan peraturan perundang-undangan dan kebijakan, alat partisipasi masyarakat perlu dikembangkan melalui praktek dan inovasi yang dilakukan terusmenerus, baik oleh legislatif maupun eksekutif.

Partisipasi Masyarakat dalam Proses Legislasi (Legislatif dan Eksekutif ) UU No. 10 Tahun 2004 mewajibkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk mempromosikan, menghormati, melindungi, dan memenuhi hak partisipasi masyarakat dalam proses legislasi dan itu kemudian segera diturunkan ke dalam Peraturan Tata Tertib DPR-RI Tahun 2004-2005. Di dalam tatib itu disebutkan beberapa mekanisme atau alat yang bisa dipergunakan masyarakat untuk memberikan masukan dalam proses penyusunan produk hukum yang dilakukan DPR. Pada saat penyiapan RUU, mekanisme, dan alat itu diwujudkan dalam pertemuan-pertemuan. Pertemuan itu antara lain rapat dengar pendapat umum ( hearings ), pertemuan dengan pimpinan alat kelengkapan DPR, dan pertemuan dengan tim penyiapan RUU. Sedangkan untuk penyebarluasan draft RUU dan UU, dilakukan

26

BAB-3. PAYUNG HUKUM KONSULTASI PUBLIK DALAM PROSES PENYUSUNAN RPP

dengan menggunakan berbagai media, antara lain media elektronik seperti televisi, radio, dan internet, serta media cetak seperti surat kabar da majalah. Hambatan partisipasi masih terjadi karena belum berkembangnya inovasi metode dan media masih belum berkembang, baik untuk penyampaian informasi, proses memberikan masukan, maupun berdialog. Yang digunakan masih terbatas pada metode yang tradisional seperti hearings, seminar, dan pertemuan di ruangan DPR. Sementara itu, alternatif lain masih belum diterima atau terbiasa, misalnya FGD, lokakarya, dan pemanfaatan media elektronik. Saat ini sedang berkembang apa yang disebut dengan egovernment dengan semakin majunya teknologi komunikasiinformasi dijital. Jadi, mekanisme komunikasi antara pemerintah dan warga (publik) tidak harus selalui melalui media tatap muka. Egovernment diharapkan bisa menjangkau khalayak lebih luas dan juga mengurangi faktor hambatan geografis di Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau. Berbagai pilihan cara dan mekanisme penyampaian aspirasi masyarakat perlu terus dikembangkan dengan memanfaatkan berbagai metode, alat, media, dan saluran komunikasi yang ada.

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROSES PENYUSUNAN KEBIJAKAN OLEH EKSEKUTIF


Urjensi Partisipasi Masyarakat dalam Penyusunan Kebijakan Eksekutif Pasal 53 UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan memandatkan dilakukannya partisipasi publik dalam penyusunan peraturan perundang-undangan level Undangundang (UU) dan Peraturan Daerah (Perda) baik tingkat propinsi, kabupaten, sampai desa). Sedangkan jenis peraturan lain (termasuk Peraturan Pemerintah), tidak disebutkan dalam Pasal 53. Dalam pandangan legal formal, Ini berarti peraturan lain dalam hierarki peraturan perundang-undangan bisa tidak melalui mekanisme partisipasi publik. Lalu, mengapa partisipasi masyarakat dan penggunaan konsultasi publik dalam penyusunan kebijakan, program, dan peraturan

27

BAB-3. PAYUNG HUKUM KONSULTASI PUBLIK DALAM PROSES PENYUSUNAN RPP

eksekutif menjadi penting untuk dilakukan? Berbagai argumentasi berkembang mengenai hal ini, termasuk konsepsi hak masyarakat (warga) selaku pihak yang akan terkena dampak kebijakan pemerintah. Juga terdapat sudut pandang lain yang lebih realistis, yang melihat bahwa kompleksitas masalah pembangunan tidak mungkin bisa ditangani sendiri oleh pemerintah tanpa keterlibatan masyarakat dan swasta. Kalau demikian, kebijakan dan program pemerintah pun perlu disusun dengan melibatkan pemangku kepentingan agar dalam implementasinya mendapatkan dukungan. Jadi, partisipasi masyarakat bukanlah peluang atau kemauan baik pemerintah saja, melainkan suatu keharusan atau kebutuhan bagi berjalannya pemerintah yang didukung komponen pemerintahan lainnya (masyarakat dan swasta). Berbagai kalangan juga telah menyadari bahwa suatu penyusunan peraturan akan lebih baik jika didasarkan pada kebutuhan dan perkembangan yang terjadi. Di sisi lain, pada era ini telah berkembang gagasan bahwa sebaik-baiknya pencapaian tujuan implementasi kebijakan memerlukan penerimaan yang wajar dari publik. Keterlibatan masyarakat rupanya berkaitan dan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan warga. Semakin tinggi tingkat pendidikan warga, mereka akan semakin menuntut keterlibatan dalam proses keputusan yang berdampak bagi kehidupannya. Pada akhirnya, berbagai wacana tadi mengindikasikan perlunya keterlibatan publik dalam proses penyusunan kebijakan publik.

Mengapa KP sebagai Alat Partisipasi di Kalangan Eksekutif? Pengembangan mekanisme dan alat partisipasi masyarakat dalam proses penyusunan kebijakan dan produk hukum di kalangan eksekutif, tersebar dalam berbagai peraturan perundangan sektoral. Namun seringkali pemaknaan partisipasi masyarakat, proses, dan caranya, berbeda di antara sektor-sektor itu. Mekanisme hearings lebih banyak dikaitkan dengan pemberian masukan dalam penyusunan RUU oleh DPR dan Raperda oleh DPRD. Sedangkan istilah konsultasi publik lebih banyak digunakan dan terkait dengan proses partisipasi dalam penyusunan kebijakan dan program di kalangan eksekutif.

28

BAB-3. PAYUNG HUKUM KONSULTASI PUBLIK DALAM PROSES PENYUSUNAN RPP

Secara luas, KP dapat diartikan sebagai semua kegiatan, mekanisme dan alat menghimpun atau mengakomodasi masukan/ aspirasi masyarakat yang diperoleh melalui pertemuan/forum tatap muka, pernyataan tertulis, media massa (elektronik dan cetak), dan media on-line (internet, email, web- forum). Sedangkan secara sempit, KP bisa juga diartikan sebagai sebuah alat dengan teknik/cara tertentu yang disusun berdasar panduan tertentu. Panduan itu biasanya diterbitkan oleh departemen/sektor untuk menyelenggarakan KP tentang penyusunan kebijakan dan program di masing-masing departemen/sektor. Sebagai alat partisipasi masyarakat yang digunakan eksekutif, KP memiliki kelebihan, di antaranya: 1) KP sangat strategis digunakan untuk perumusan kebijakan publik yang bersifat kompleks dan agak abstrak; dan 2) KP diperlukan terutama untuk isu-isu pembangunan dalam skala besar yang berpengaruh terhadap publik secara luas seperti pembangunan dam, sistem irigasi, dan jalan regional.

KP menurut UU No. 7 Tahun 2004 Pengertian Konsep KP secara eksplisit dinyatakan dalam UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, yang menegaskan bahwa masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk berperan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap pengelolaan sumber daya air.... Mekanisme yang ditawarkan oleh UU No. 7 Tahun 2004 untuk peran serta masyarakat adalah konsultasi publik. Menurut UU No. 7 Tahun 2004, yang dimaksud dengan KP adalah ... upaya menyerap aspirasi masyarakat melalui dialog dan musyawarah dengan semua pihak yang berkepentingan.. .. KP bertujuan mencegah dan meminimalkan dampak sosial yang mungkin timbul serta untuk mendorong terlaksananya transparansi dan partisipasi dalam pengambilan keputusan yang lebih adil..2 Konsultasi publik dilakukan baik dalam tahap penyusunan pola pengelolaan sumberdaya air (perencanaan) maupun dalam tahap pelaksanaan pengembangan sumberdaya air. Selain masyarakat, UU
______________________
2

UU No. 7 Tahun 2004 Pasal 34 dan penjelasannya

29

BAB-3. PAYUNG HUKUM KONSULTASI PUBLIK DALAM PROSES PENYUSUNAN RPP

No. 7 Tahun 2004 juga membuka peluang bagi dunia usaha untuk terlibat dalam penyusunan pola pengelolaan sumberdaya air.3

Mekanisme UU No. 7 Tahun 2004 mengatur secara detail mengenai tahapan yang perlu dilakukan untuk melakukan KP. Namun, ketentuan yang tertuang dalam UU No. 7 tahun 2004 ini kurang membangun poses mencari alternatif solusi secara dialogis dan musyawarah, melainkan hanya bersifat komunikasi linear. UU No. 7 Tahun 2004 memberikan hak kepada masyarakat untuk :

Memperoleh informasi yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya air; Memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan pengelolaan sumber daya air;

______________________
3 Pasal-pasal yang membuka dunia usaha untuk terlibat baik dalam perencanaan maupun dalam pengelolaan sumber daya air telah memicu protes keras dari kalangan LSM di Indonesia. Menurut koalisi LSM penentang pasal ini, keterlibatan dunia usaha dalam pasal-pasal ini adalah bentuk bentuk nyata dari kebijakan pemerintah yang akan melakukan privatisasi air

30

BAB-3. PAYUNG HUKUM KONSULTASI PUBLIK DALAM PROSES PENYUSUNAN RPP

Memperoleh manfaat atas pengelolaan sumberdaya air; Menyatakan keberatan terhadap rencana pengelolaan sumberdaya air yang sudah diumumkan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kondisi setempat; Mengajukan laporan dan pengaduan kepada pihak yang berwenang atas kerugian yang menimpa dirinya berkaitan dengan penyelenggaraan pengelolaan sumberdaya air; dan/atau Mengajukan gugatan kepada pengadilan terhadap berbagai masalah sumberdaya air yang merugikan kehidupannya.4

Jika diamati secara seksama, hak-hak masyarakat yang dimuat dalam UU No. 7 Tahun2004 dapat ditempatkan untuk memperluas arti dari KP. Dalam UU ini, KP diartikan sebagai hak masyarakat memperoleh informasi, membuat laporan, pengaduan, dan gugatan kepada pihak pengadilan mengenai masalah pengelolaan sumberdaya air yang dapat merugikan kehidupan warga. Berbagai ketentuan dalam UU No. 7 Tahun2004 juga memberikan peluang bagi pengembangan model perluasan partisipasi warga dalam membahas kebijakan publik mengenai sumberdaya air. Mekanisme dan tatacara KP itu bisa diterbitkan dalam panduan yang lebih bisa membangun proses partisipasi masyarakat seperti yang dimaksudkan dalam Bab-1 dan 2.

PELUANG DAN TANTANGAN PENGEMBANGAN KP DI DALAM PENYUSUNAN RPP


Meskipun UU No. 7 Tahun 2004 mengatur mekanisme KP pada sektor pengelolaan sumberdaya air, metode ini sebenarnya dapat juga diterapkan dalam pembuatan kebijakan lain yang lebih luas seperti pembuatan peraturan pemerintah di bidang perencanaan dan penganggaran. Dengan demikian, KP dapat ditempatkan sebagai preseden dari salah satu mekanisme yang dapat ditempuh

___________________________________________ 4

UU No. 7 Tahun 2004 Pasal 82.

31

BAB-3. PAYUNG HUKUM KONSULTASI PUBLIK DALAM PROSES PENYUSUNAN RPP

untuk menyerap aspirasi publik dalam pembuatan kebijakan, peraturan perundang-undangan, dan program pemerintah. Dalam konteks ini maka pemerintah seharusnya bersifat aktif, yaitu sebagai penyelenggara dari kegiatan konsultasi tersebut. Hal-hal yang dapat didorong untuk pengembangan KP di masa depan, terutama adalah:

Bagaimana mempersiapkan KP. Bagaimana menyelenggarakan KP yang efektif dan efisien. Bagaimana mengolah hasil KP, sehingga masukan yang strategis dapat diakomodasi dengan baik.

Penyelenggaraan KP dalam pembuatan RPP yang dipaparkan dalam buku ini, diharapkan dapat menjadi preseden yang dapat memperkaya ketiga proses KP tadi.

32

BAB-4. MEMBANGUN KESEPAHAMAN AWAL

BAGIAN-2 PERSIAPAN DAN RENCANA KONSULTASI PUBLIK

33

BAB-4. MEMBANGUN KESEPAHAMAN AWAL

34

BAB-4. MEMBANGUN KESEPAHAMAN AWAL

BAB-4

Membangun Kesepahaman Awal

Awal Mula Kerjasama Mengkaji Draft RPP Membaca Draft Naskah RPP Memetakan Masalah RPP Menetapkan Isu-isu Strategis

Pembahasan D raft RPP oleh T im Bersama Dr Tim Bahan yang Dipersiapkan Tim CSO/FPPM Proses dan Hasil Pembahasan Draft RPP Menawarkan Gagasan Rancangan KP

Memperkuat Kepercayaan Lembaga Kunci Menetapkan Peran dalam MoU

35

BAB-4. MEMBANGUN KESEPAHAMAN AWAL

AWAL MULA KERJASAMA


nisiatif Konsultasi Publik (KP) seharusnya berasal dari pemerintah sebagai pihak yang berwenang menyusun dan menetapkan peraturan perundang-undangan. Namun inisiatif atau usulan ini justru seringkali muncul dari kelompok masyarakat, maupun pihak lain di luar pemerintah. Dalam kondisi seperti ini, terdapat kelompok masyarakat yang mengusulkan dan melakukan pendekatan kepada pihak pemerintah agar mereka dapat menerima gagasan pelibatan masyarakat dalam penyusunan suatu peraturan perundang-undangan. Kelompok masyarakat yang sering disebut sebagai Civil Society Organization (CSO), bukan hanya memberi masukan terhadap substansi kebijakan yang sedang disusun, melainkan juga pada rancangan proses KP. Melalui keterlibatan CSO, diharapkan substansi dan proses penyusunan peraturan perundang-undangan mempunyai kesesuaian dengan dinamika dan kebutuhan yang berkembang di masyarakat. Selain mengkaji/menguasai substansi rancangan peraturan, proses penting lain yang dilakukan CSO adalah mengembangkan dialog dengan instansi pemerintah yang menyusun rancangan peraturan tersebut. Dialog ini bertujuan untuk menawarkan gagasan dan menyamakan persepsi tentang proses penyusunan peraturan yang lebih partisipatif dan melibatkan masyarakat di dalamnya. Tahap ini sebaiknya diawali dengan perumusan naskah akademik sebagai latarbelakang dirumuskannya suatu peraturan perundangundangan. Dalam naskah akademik ini setidaknya tercantum ruang lingkup permasalahan dan hal-hal yang akan diatur dalam suatu kebijakan. Perumusan naskah akademik sebaiknya didasarkan data yang dapat diperoleh melalui survey atau pengkajian (assessment). Data dapat memberikan gambaran tentang hal-hal yang terkait dengan lingkup isu yang akan diatur. Berdasarkan naskah akademik inilah, baik tim pemerintah maupun tim warga, dapat merumuskan sistematika draft peraturan perundang-undangan.

36

BAB-4. MEMBANGUN KESEPAHAMAN AWAL

Untuk menjamin proses yang deliberatif dalam perumusan kebijakan, maka diperlukan metode assessment yang partisipatif. Contoh kasus, penyusunan Strategi Nasional Pemberantasan Kemiskinan (SNPK) yang diawali dengan Poverty Participatory Assessment (PPA). Meski demikian, keterlibatan FPPM dalam penyusunan RPPT2CP2EPRPD melalui proses yang berbeda. FPPM baru terlibat dalam proses penyusunan RPP ketika Tim Penyusun RPP dari Bangda Depdagri telah menghasilkan Draft IV RPP. Rencananya, RPP itu akan disempurnakan kembali sebelum dijadikan bahan KP di daerah. FPPM diharapkan dapat menjadi bagian dari tim penyusun dan bersama-sama melakukan pembahasan serta memberikan masukan dalam penyusunan Draft V. Berdasarkan kebutuhan itu, FPPM kemudian menyusun Tim FPPM yang anggotanya berasal dari unsur CSO yang tergabung dalam jaringan FPPM. Lembaga-lembaga tersebut dipilih berdasarkan pertimbangan kapasitas, pengalaman, maupun ragam isu yang terkait dengan RPP yang akan dirumuskan. Selanjutnya tim ini disebut Tim CSO/FPPM. Berdasarkan pertimbangan pengalaman dan minat terhadap isu yang sama dengan materi RPP-T2CP2EPRPD, maka dilibatkan lembaga-lembaga:

Civic Education and Budget Advocacy (CIBA) Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA-Seknas) Lembaga Transparansi Masyarakat Indonesia (LETMINDO) Pusat Telaah Informasi Regional (PATTIRO)

MENGKAJI DRAFT RPP


Sebagai langkah awal, Tim CSO/FPPM memulai dengan mengkaji draft rancangan peraturan yang telah disusun. Melalui kajian ini diperoleh gambaran dan analisa mengenai:

Hubungan antara rancangan peraturan yang sedang dibahas dengan instrumen hukum yang lain; Cakupan masalah yang akan diatur;

37

BAB-4. MEMBANGUN KESEPAHAMAN AWAL

Isu-isu strategis yang perlu diperjuangkan; dan Pihak-pihak berkepentingan (stakeholders) yang perlu dilibatkan dalam pembahasan peraturan bersangkutan.

Kajian draft rancangan peraturan pemerintah membutuhkan pemahaman mengenai logika dan kerangka dasar tentang teknik penyusunan perundang-undangan. Aspek utama dalam menelaah sebuah kebijakan adalah memahami tujuan dan proses penyusunan rancangan peraturan tersebut. Pemahaman aspek utama dijadikan dasar untuk mengkritisi latarbelakang sebuah perundang-undangan atau peraturan pemerintah.

Membaca Draft RPP Hal yang penting untuk diperhatikan dalam membaca draft RPP adalah landasan hukum penyusunan RPP itu. Dalam hal ini yang perlu dicermati adalah bagian menimbang dan mengingat. Setelah itu, yang perlu diperhatikan adalah bagian ketentuan umum. Telaah ini akan menuntun pembaca untuk memahami istilah-istilah dan subtansi dari keseluruhan isi draft RPP yang tertuang dalam setiap bab maupun pasal-pasal. Secara umum teknik membaca draft, memberikan masukan, dan perbaikan pasal-pasal dalam draft RPP meliputi: Kaji ulang (review) UU yang bersentuhan langsung dengan penyusunan RPP. Review dapat dimulai pada perundangan yang tercantum pada bagian awal draft RPP yang menjadi landasan hukum penyusunan RPP bersangkutan.

Menelusuri pasal-pasal dalam draft RPP yang berindikasi bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Mencatat pasal-pasal draft RPP yang redaksionalnya bertentangan dengan UU; Mengelaborasi usulan/masukan dalam bentuk kalimat pasal sesuai subtansi yang diharapkan.

38

BAB-4. MEMBANGUN KESEPAHAMAN AWAL

Memetakan Masalah RPP Pemetaaan masalah dilakukan untuk mengidentifikasi masalah krusial dalam penyusunan RPP. Hal ini dilakukan dengan mengkaji keterkaitan antara peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan RRP yang sedang disusun. Termasuk, pembahasan mengenai rancangan peraturan sejenis yang sedang disusun oleh instansi atau lembaga lain 5. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan teknik pencarian masalah dalam pasal-pasal, cara merumuskan masalah, dan memberikan alternatif solusi untuk pemecahan masalah. Selain itu, perlu juga diidentifikasi keterkaitan isu-isu utama dengan rancangan peraturan tersebut. Misalnya mengidentifikasi urgensi rancangan peraturan tersebut dengan kepentingan publik dan berbagai pihak yang akan terpengaruh oleh peraturan tersebut. Hal ini berguna sebagai masukan terhadap materi rancangan peraturan agar sesuai dengan kepentingan publik. Berbagai masalah krusial yang ditemukan dalam draft selanjutnya dipetakan untuk memudahkan proses masukan dan perbaikan draft RPP. Pemetaan masalah ini disajikan dalam bentuk matriks yang berisi usulan perbaikan yang diperoleh selama KP berlangsung. Secara garis besar, langkah Tim CSO/FPPM dalam memetakan masalah terkait RPP-T2CP2EPRPD adalah sebagai berikut: Memetakan redaksional pasal-pasal naskah RPP yang bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku;

Memetakan pasal/ayat baru yang menjadi tambahan dalam RPP; Memberi alasan mengapa ada pasal yang dihapus; Menyusun secara umum masukan yang menjadi dasar rekomendasi dari pergantian atau penambahan redaksional pasal dari RPP.

___________________________________________ 5 Pada saat yang bersamaan dengan penyusunan RPP-T2CP2EPRPD oleh Bangda Depdagri, sedang dikembangkan RPP tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional oleh Bappenas yang di dalamnya juga mengatur daerah. Untuk itu, tim sepakat untuk melakukan komunikasi dan mengembangkan isu strategis untuk didiskusikan bersama Bappenas.

39

BAB-4. MEMBANGUN KESEPAHAMAN AWAL

Menetapkan Isu Strategis Sebelum mendiskusikan dengan pihak pemerintah, Tim CSO/ FPPM menetapkan sejumlah isu strategis yang menjadi landasan prinsipil keterlibatan dan usulan Tim CSO/FPPM dalam penyusunan draft RPP. Isu strategis itu dihasilkan dari diskusi internal yang dilakukan FPPM berdasarkan gagasan dan pengalaman dari CSO yang tergabung di dalamnya Disepakati 9 isu strategis yang dianggap perlu diperjuangkan untuk masuk dalam subtansi RPP. Isu strategis tersebut adalah: 1. Administrasi publik menyangkut transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas;
2. Konsistensi spasial dan program; 3. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development); 4. Affirmative action; 5. Konsistensi dalam perencanaan dan penganggaran (planning dan budgeting); 6. Efisiensi proses dan dokumen, serta kualitas program perencanaan terutama dalam hal mengawal Standar Pelayanan Minimal (SPM); 7. Integrasi pendekatan perencanaan sektor, dalam hal ini SKPD, dengan pendekatan perencanaan wilayah; 8. Hubungan Departemen Dalam Negeri, dalam hal ini Bangda dan BAKD, dengan Bappenas dan Departemen Keuangan; 9. Keleluasaan yang diberikan kepada daerah dalam bentuk Perda. Berdasarkan pengalaman FPPM, proses diskusi dan penetapan isu-isu strategis tersebut dilakukan dengan mengunakan teknik yang sederhana yaitu: 1. Setiap lembaga yang menjadi anggota tim penyusunan RPP ini mengusulkan isu strategis yang hendak dimasukkan dalam draft RPP; 2. Setiap pihak menjelaskan alasan memasukkan isu tersebut ke dalam RPP; 3. Menetapkan isu dan menyepakatinya agar tim kemudian memperjuangkannya menjadi masukan dalam penyusunan RPP;

40

BAB-4. MEMBANGUN KESEPAHAMAN AWAL

4. Pembagian tugas anggota tim untuk menjelaskan isu strategis tersebut kepada tim penyusun naskah draf RPP, melalui pertemuan dan diskusi. Isu strategis ini juga menjadi panduan untuk menyepakati target capaian minimal yang diakomodasi pada peraturan perundangundangan yang dirumuskan. Kesepakatan isu-isu strategis yang akan diadvokasi dalam RPP menjadi kerangka kerja (framework) bagi Tim CSO/FPPM untuk terlibat dalam pembahasan proses KP.

PEMBAHASAN DRAFT RPP OLEH TIM BERSAMA


Bahan yang Dipersiapkan Tim CSO/FPPM Sebelum melakukan diskusi gagasan dengan tim dari Bangda Depdagri, Tim CSO/FPPM sebagai kelompok masyarakat terlebih dahulu melakukan pemetaan isu-isu strategis dalam tiga hal, yaitu: Di mana posisi isu strategis tersebut dalam draft kebijakan yang sedang disusun?

Bagaimana caranya agar isu strategis tersebut masuk dalam draft kebijakan? Apa argumen yang mendukung agar isu tersebut perlu ada di draft kebijakan?

Posisi isu strategis dalam draft kebijakan yang sedang disusun diperoleh dengan membaca dan menelaah secara mendalam draft RPP yang sudah ada. Untuk memudahkan pemetaan, hasil telaah tersebut dikemas dalam tabel yang menjelaskan batang tubuh pasal, penjelasan pasal, usulan, dan komentar terhadap pasal bersangkutan. Contoh format yang digunakan FPPM dapat dilihat dalam Tabel-4.16.

Proses dan Hasil Pembahasan Draft RPP Pembahasan draft dilakukan dalam kegiatan pertemuan Tim Bersama yang terdiri atas Tim Bangda Depdagri dan Tim CSO/FPPM untuk menyepakati draft RPP yang akan dibahas dalam pelaksanaan KP regional.
___________________________________________ 6

Sumber: Draft IV RPP-T2CP2EPRPD

41

BAB-4. MEMBANGUN KESEPAHAMAN AWAL

Tabel-4. 1 P eme t aan Isu dalam Dr af t RPP abel-4.1 Peme emet Draf
Draft RPP Batang tubuh
Pasal 5 Tahapan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dilaksanakan melalui: a. Penetapan tujuan dan arah ke masa depan; b. Rumusan proyeksi ke depan; c. Penyiapan dan penyusunan rancangan awal; d. Penyiapan rancangan Renstra SKPD; e. Penyusunan Renstra SKPD; f. Pelaksanaan Musrenbang RPJMD; dan g. Penyusunan rancangan akhir.

Penjelasan
Pasal 5 Ayat (2) Cukup jelas

Usulan

Alasan

Di ayat 2 perlu ditambahkan mengenai penetapan indikator kinerja untuk mengkongkritkan ayat (2) bagian a, yaitu penetapan tujuan dan arah ke masa depan.

Dengan pencantuman indikator kinerja akan bisa diketahui apa yang ingin dicapai oleh kepala daerah selama masa kepemimpinananya. Indikator dalam HDI, HPI dan GDI bisa digunakan. Misalnya : indikator angka partisipasi sekolah (ditargetkan berapa % meningkat dalam kurun 5 tahun)

Pada tahap ini hasil telaah dan usulan dari Tim CSO/FPPM dipresentasikan dan dibahas bersama dengan Tim Bangda Depdagri. Dokumen yang disiapkan Tim CSO/FPPM selanjutnya menjadi panduan bagi Tim CSO/FPPM dalam mengikuti diskusi-diskusi selanjutnya. Pada saat diskusi pembahasan pasal-pasal yang sebelumnya telah mendapat catatan, Tim CSO/FPPM berupaya agar gagasan dan isu strategis bisa diakomodasi dalam draft kebijakan. Berbagai argumen tentu saja disiapkan. Hal itu diiringi oleh kesiapan fisik dan mental. Untuk isu-isu krusial dan sensitif, biasanya proses diskusi berlangsung lama. Dalam kondisi ini maka pendekatan informal menjadi penting. Pendekatan informal dilakukan agar tercapai penyamaan persepsi tentang isu tertentu di kalangan anggota Tim Bersama. Terdapat dua pola untuk memasukkan isu strategis ke dalam draft kebijakan yang sedang disusun, yaitu:

Penambahan redaksional jika pasal/ayat yang memuat isu strategis sudah ada;

42

BAB-4. MEMBANGUN KESEPAHAMAN AWAL

Penambahan pasal/ayat baru jika isu strategis belum tercakup dalam draft kebijakan yang sedang disusun.

Tim Bersama perlu melakukan persandingan pasal per pasal. Hal ini perlu dilakukan karena ujung dari setiap diskusi dan perdebatan yang terjadi adalah modifikasi isi redaksional pasal/ayat yang tertuang dalam draft RPP. Hasil akhir dari proses perumusan ini adalah draft yang siap untuk dijadikan bahan KP. Indikator keberhasilan pengawalan di tahap ini adalah banyaknya usulan yang masuk. Kuantitas usulan yang masuk ke dalam draft awal merupakan indikator keberhasilan Tim CSO/FPPM dalam melewati ujian pertama, sebelum masuk di ujian berikutnya yaitu tahapan KP.

Menawarkan Gagasan Rancangan KP Keberhasilan Tim CSO/FPPM mengembangkan hubungan baik dengan tim pemerintah, dipengaruhi oleh kemampuan menawarkan gagasan inovatif dalam pembahasan RPP. Gagasan inovatif itu meliputi dua hal, yaitu proses dalam pembahasan RPP dan substansi masukannya (isu-isu strategis yang penting dibahas dalam proses KP). Pemerintah diyakinkan bahwa KP ini selaras dengan peraturan perundang-undangan. Dalam hal ini disampaikan kutipan dari peraturan perundang-undangan yang mengatur partisipasi masyarakat dalam pembentukan peraturan perundang-undangan7. Untuk memperkuat argumen, disampaikan pula pengalaman instansi pemerintah yang sudah melibatkan masyarakat dalam pembentukan peraturan perundang-undangan. Disampaikan pula keuntungan pemerintah jika melaksanakan konsultasi publik. Misalnya, peraturan yang dikeluarkan relatif tidak akan mendapatkan resistensi dari publik. Konsultasi publik juga akan memperkaya rancangan peraturan karena didasari pengetahuan dan pengalaman konkrit dari berbagai pihak.
___________________________________________ 7 Pasal yang dapat dikutip antara lain Pasal 53 UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Disebutkan di dalamnya ... Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pernbahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah..

43

BAB-4. MEMBANGUN KESEPAHAMAN AWAL

Dalam proses penyusunan RPP-T2CP2EPRPD, FPPM juga telah melakukan analisa penjajakan, baik terhadap unsur pemerintah terkait maupun masyarakat yang berkepentingan dengan rancangan peraturan tersebut. Analisa penjajakan bermanfaat untuk merancang proses KP yang diharapkan mampu mengakomodir berbagai kepentingan. Tim CSO/FPPM menjadi pihak yang melakukan identifikasi dan berkomunikasi dengan lembaga dan kelompok masyarakat. Terutama lembaga dan kelompok masyarakat yang menjadi jaringan FPPM. Sedangkan Tim Bangda Depdagri menjadi pihak yang melakukan identifikasi stakeholders lintas-departemen. Tim Bangda Depdagri pula yang berinisiatif mengundang pihak-pihak dari departemen lain untuk terlibat dalam pertemuan dan diskusi tentang penyusunan RPP ini. Penjajakan bersama instansi pemerintah antara lain mencakup mekanisme pengambilan keputusan, tujuan penyelenggaraan konsultasi, serta pengalaman KP sebelumnya. Dari penjajakan ini setidaknya akan diperoleh gambaran mengenai: 1. Instansi pemerintah yang berkepentingan dengan rancangan peraturan terkait; 2. Tujuan dan prioritas instansi pemerintah menyelenggarakan konsultasi publik; 3. Berbagai jenis kegiatan lain yang melibatkan masyarakat dalam proses rancangan peraturan terkait; 4. Pihak-pihak yang berperan dalam pengambilan keputusan penetapan rancangan peraturan terkait. Sedangkan penjajakan bersama publik mencakup isu penting yang terkait rancangan, serta pihak-pihak yang berkepentingan dengan rancangan peraturan tersebut. Hasil dari penjajakan tersebut setidaknya memberikan gambaran mengenai: 1. Isu-isu di masyarakat terkait rancangan peraturan yang sedang disusun; 2. Pihak-pihak yang perlu dilibatkan dalam KP; 3. Kondisi di masyarakat yang mempengaruhi rancangan penyelenggaraan KP.

44

BAB-4. MEMBANGUN KESEPAHAMAN AWAL

Taw ar an FPPM t ent ang Pr oses KP awar aran tent entang Proses dan Substansi Pembahasan RPP
Konsultasi Publik Regional

Proses pembahasan

Konsultasi Publik Nasional Forum Pembahasan antar Departemen Isu-isu yang akan diperjuangkan untuk masuk dalam substansi RPP: 1. Prinsip transparansi, partisipasi dan akuntabilitas. 2. Konsistensi spasial dan program. 3. Sustainable development. 4. Affirmative action. 5. Konsistensi planning and budgeting. 6. Efisiensi proses, dokumen dan kualitas program perencanaan, terutama dalam hal mengawal standar pelayanan minimal (SPM). 7.Integrasi pendekatan perencanaan sektor dan perencanaan wilayah. 8. Hubungan Depdagri, dalam hal ini Bangda dan BAKD, dengan Bappenas dan Departemen Keuangan. 9.Keleluasaan kepada daerah untuk membentuk Perda.

RPP

Substansi minimal yang diperjuangkan

MEMPERKUAT KEPERCAYAAN LEMBAGALEMBAGA KUNCI


Dalam kaitan penyusunan RPP-T2CP2EPRPD, FPPM bekerjasama dengan Direktorat Perencanaan Bangda Depdagri yang telah membentuk tim penyusun RPP. Selain itu FPPM juga membangun kerjasama dengan berbagai pihak lain antara lain lembaga-lembaga donor yang berminat mendukung program dan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memiliki kompetensi terhadap RPP yang dibahas. Kepercayaan dibangun lewat dua hal, yaitu komunikasi dan komitmen. FPPM perlu menjalin komunikasi yang intensif dengan tim penyusun RPP dari pemerintah. Komunikasi ini penting karena

45

BAB-4. MEMBANGUN KESEPAHAMAN AWAL

selama ini kedua belah pihak bergaul dalam lingkungan yang berbeda dan konsep yang berbeda. Dalam proses komunikasi ini, baik pemerintah maupun aktivis CSO dapat saling menyesuaikan diri dan beradaptasi. Mereka juga mulai bisa saling menghargai peran dan fungsi masing-masing. FPPM menyadari batas kemampuannya dalam melakukan pendampingan, baik dalam hal keahlian maupun sumber dana. Karena itu sejak awal FPPM menyatakan keterbatasannya. Penjelasan ini penting untuk mencegah munculnya harapan yang berlebihan dari pihak pemerintah sehingga dapat mengurangi tingkat kepercayaan.

MENETAPKAN PERAN DALAM MOU


Setelah komunikasi terjalin dan komitmen terbangun, selanjutnya dilakukan pembicaraan yang lebih detail mengenai pembagian peran di antara komponen Tim Bersama. Pembagian peran ini penting untuk meningkatkan legitimasi peran CSO dalam proses pendampingan dan menghindari terjadinya kesalahpahaman akibat ketidakjelasan hak dan kewajiban dari para pihak. Pada fase ini Tim CSO/FPPM meminta komitmen dari pemerintah untuk bersikap terbuka dan dapat mengakselerasi kegiatan pendampingan yang dilakukan CSO. Di antaranya, FPPM meminta Ditjen Bangda Depdagri untuk menyediakan sekretariat (ruang kantor dan fasilitasnya) di Kantor Ditjen Bina Bangda untuk mendukung kegiatan Tim CSO/FPPM. Pembagian peran, dituangkan dalam nota kesepakatan (Memorandum of Understanding/MOU) agar hak dan kewajiban para pihak tertuang dalam dokumen yang diakui secara hukum.

46

BAB-5. MERENCANAKAN KONSULTASI PUBLIK

BAB-5

Merencanakan Konsultasi Publik

Pemetaan Aktor Aktor-aktor Primer Aktor-aktor Sekunder Merancang Proses (Rangkaian Kegiatan) KP Proses Umum KP Regional dan Lintas-Sektor Jadwal KP Regional dan Lintas-Sektor Menentukan Tim Kerja KP Tim Pemerintah (Ditjen Bina Bangda) Tim CSO/FPPM Tim Bersama Tim Fasilitator Tim Sekretariat Skema Pendanaan KP

47

BAB-5. MERENCANAKAN KONSULTASI PUBLIK

PEMETAAN AKTOR
roses Konsultasi Publik (KP) yang inklusif sebagai bagian demokrasi deliberatif memerlukan keterlibatan pemangku kepentingan dan warga masyarakat. Perencanaan KP tidak saja difokuskan pada pencapaian tujuan, tetapi juga perlu membuka partisipasi peserta sehingga menghasilkan masukan secara memadai. Rangkaian tahapan KP, mulai dari pengembangan gagasan draft kebijakan sampai perumusan hasil KP, harus menempatkan masyarakat sebagai pelaku (subyek) dan mitra pemerintah. Sebelum melaksanakan proses KP, Tim Bersama terlebih dahulu melakukan pemetaan aktor atau analisis stakeholders yang akan terlibat dalam proses. Pemetaan aktor ini menentukan efektivitas pembagian peran dari masing-masing aktor yang terlibat dalam KP. Pemetaan aktor juga berpengaruh terhadap kualitas masukan dan informasi yang dibutuhkan dalam membentuk suatu peraturan perundang-undangan. Untuk itu, setiap anggota tim saling mengingatkan agar pemilihan tetap mengacu pada tujuan dan ruang lingkup KP. Ada beberapa teknik yang digunakan dalam pemetaan aktor ini. Mengacu pada pengalaman pelaksanaan KP di berbagai tempat, identifikasi aktor antara lain dilakukan dengan memperhatikan:

Keterwakilan sektor: berupa komposisi baik dari pihak pemerintah, lembaga masyarakat, perusahaan, maupun individual yang mempunyai kepentingan dan perhatian terhadap materi peraturan; Legitimasi: berupa kewenangan, mandat, dan representasi dari kelompok terkait jaringan Sumberdaya: berupa potensi pengetahuan, informasi, dan pengalaman yang dimiliki terkait materi peraturan; Kapasitas pengembangan kebijakan: berupa pengetahuan dan kemampuan untuk mengembangkan strategi dan mempengaruhi publik; Sebaran geografis: berupa keterwakilan sebaran daerah di berbagai tingkat komunitas dan wilayah.

48

BAB-5. MERENCANAKAN KONSULTASI PUBLIK

Aktor-aktor yang terlibat dalam proses KP RPP-T2CP2EPRPD oleh Tim Bersama diidentifikasi sebagai primary actor dan secondary actor. Primary actor di antaranya mencakup pihak yang mempunyai kewenangan mengambil keputusan dalam KP. Sedangkan secondary actor adalah pihak yang terpengaruh atau terkena dampak peraturan perundang-undangan yang akan dirumuskan dalam KP. Pemetaan aktor dilakukan dengan mengidentifikasi dan menganalisa aktor serta kepentingannya terhadap RPP ini. Inti dari pemetaan aktor ini adalah untuk mengetahui kepentingan setiap pihak (kepentingannya apa?) dan pembagian kerja (siapa akan melakukan apa?) dalam perumusan RPP ini. Hasil dari pemetaan aktor dan kepentingan ini dapat dijadikan strategi pelibatan setiap aktor dalam proses KP. Dari pemetaan tersebut diperoleh gambaran aktor seperti tertera dalam Tabel-5.1. Tabel-5.1 Pemetaan Aktor
Aktor Primary Actor Direktur Perencanaan Daerah (Bangda) Tim Inti Bangda Kepentingan - Tugas pokok dan fungsi berjalan - Prestasi - Tugas terlaksana - Prestasi - Isu-isu good governance dan keberpihakan diakomodasi - Program berjalan - Citra/pengaruh - Sinkronisasi - Pengguna kebijakan - Aturan aplikatif - Tidak intervensi - Aturan berpihak - Berita Taraf Kepentingan Peran Strategi

+++ ++++

Penanggung Jawab Pelaksana Tim Technical Assistance

Lobby Technical assistance Kerjasama advokasi

Tim CSO (FPPM) Secondary Actor Lembaga Donor (GTZ, CIDA, DRSP, LGSP) Bappenas; BAKD; Depkeu Bappeda CSO Lokal Pers

++++

++ + ++ ++ +

Lobby Sinkronisasi Aturan Pengguna, Input Pengguna, Input Penyediaan informasi

Pendanaan Input teknis Koordinasi Pelibatan (Konsultasi Publik) Pelibatan (Konsultasi Publik) Diseminasi

49

BAB-5. MERENCANAKAN KONSULTASI PUBLIK

Selain berbagai pertimbangan tersebut, Tim CSO/FPPM juga mempunyai kepentingan untuk merekomendasikan peserta dari LSM maupun akademisi yang potensial sebagai pembicara (spokes person) untuk menyuarakan isu-isu strategis. Terutama karena dalam proses penyusunan RPP masih ada beberapa isu strategis yang belum cukup terakomodasi, yaitu isu pro-poor dan isu gender. Kehadiran mereka diharapkan akan memunculkan isu-isu tersebut dan tercatat sebagai masukan peserta KP. Hal ini penting dilakukan karena pembahasan selanjutnya selalu didasarkan pada pasal-pasal yang diberi masukan saja.

MERANCANG PROSES (RANGKAIAN KEGIATAN) KONSULTASI PUBLIK


Adalah penting bagi tim penyusun RPP untuk menyepakati rangkaian proses KP yang akan dilaksanakan. Setiap anggota tim perlu memahami pembagian tugas dan tahapan waktu kegiatan. Salah satu masukan dari CSO yang terlibat dalam tim penyusun RPP adalah menjaga agar tahapan dan proses KP dirancang semaksimal mungkin untuk melibatkan berbagai kelompok masyarakat yang berkepentingan. Melalui satu pertemuan, Tim Bersama akhirnya menyepakati bahwa pelaksanaan KP regional berlangsung di empat kota. Keempat kota itu adalah Surabaya, Medan, Makasar, dan Denpasar. Surabaya menjadi tuan rumah KP untuk wilayah Jawa. Medan menjadi tuan rumah KP untuk wilayah Sumatera. Makasar mejadi tuan rumah KP untuk wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua. Sedangkan Denpasar menjadi tuan rumah KP untuk wilayah Bali, Nusa Tenggara, dan Kalimantan. Setelah KP regional selesai, diselenggarakanlah KP lintassektor di Jakarta.

50

BAB-5. MERENCANAKAN KONSULTASI PUBLIK

Secara garis besar Tim Bersama menyepakati rangkaian proses KP seperti tergambar dalam Tabel-5.2. Tabel-5.2 Rangkaian Proses KP Regional dan Lintas-Sektor
No. Tahapan Langkah-langkah Metode Jumlah Target Group Unsur Pengambil kebijakan, masyarakat sipil, lembaga donor, masyarakat yang terkena dampak langsung kebijakan. Pengambil kebijakan, tim kerja, akademisi, donor

Penyusunan naskah akademis

Assessment, survey

30 - 40

1.

Perumusan draft

Kritisi draft awal dan identifikasi isu

Pemaparan draft, diskusi kelompok terfokus, diskusi pleno Konsinyering pembahasan pasal per pasal Pemaparan draft, diskusi kelompok terfokus, diskusi pleno Pemaparan draft, diskusi kelompok terfokus, diskusi pleno Diskusi pasal per pasal Diskusi pasal per pasal

30-40

Elaborasi masukan draft awal

20

Tim inti dan pengambil kebijakan

Konsultasi regional/spasial 2. Konsultasi Publik Konsultasi lintassektor

40-50

Pengambil kebijakan, tim kerja, akademisi, donor, Pemda, LSM

40-50

Pengambil kebijakan, tim kerja, akademisi, donor , Pemda, LSM Tim inti dan pengambil kebijakan Tim inti dan pengambil kebijakan

Elaborasi masukan KP

Elaborasi input spasial Elaborasi input sektoral

20 20

Dalam diskusi diperhatikan juga penjadwalan untuk menjamin agar proses KP mengakomodasi agenda tim. Misalnya, menyesuaikan jadwal kegiatan dengan agenda kerja instansi pemerintah terkait. Meski demikian, keterlibatan publik secara luas juga menjadi pertimbangan dalam penyepakatan jadwal proses KP. Dalam diskusi di bulan Juni 2006, pihak Bangda mengungkapkan keinginannya agar proses KP bisa berakhir pada Agustus 2006. Namun Tim CSO/FPPM kemudian memberikan masukan agar jadwal kerja juga memperhatikan keterlibatan stakeholders untuk menghasilkan output yang optimal. Sedangkan, proses KP yang melibatkan

51

BAB-5. MERENCANAKAN KONSULTASI PUBLIK

stakeholders secara masif memerlukan waktu yang relatif lama. Akhirnya, meskipun Tim Bersama menyepakati target maksimal agenda perumusan RPP sampai dengan Agustus 2006, tidak tertutup kemungkinan untuk diundur sesuai dengan proses yang berkembang. Jadwal kegiatan KP regional yang disepakati Tim Bersama dapat dilihat dalam Tabel-5.3. Tabel-5.3 Jadwal KP Regional
Region Jawa Sumatera Sulawesi Bali Jawa Sumatera Sulawesi, Maluku, Papua Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Cakupan Lokasi Surabaya Medan Makasar Denpasar Waktu 25 28 Juli 2 5 Agustus 2 5 Agustus 8 11 Agustus

Setiap KP regional direncanakan berlangsung selama tiga hari. Dalam pertemuan pertemuan tersebut agenda pembahasan terdiri atas penjelasan umum mengenai RPP, diskusi kelompok, dan perumusan hasil diskusi. Diharapkan setiap pertemuan dihadiri oleh maksimun 40 peserta, termasuk anggota Tim Bersama. Sedangkan untuk undangan, perbandingan antara pemerintah dan NGO adalah 70 berbanding 30. Sedangkan KP lintas-sektor disepakati untuk dilaksanakan di Jakarta dengan mengundang berbagai pihak dari departemen dan lembaga negara lainnya yang terkait dengan materi RPP-T2CP2EPRPD. Realisasi seluruh proses ini pada akhirnya memerlukan waktu selama 5 bulan. RPP-T2CP2EPRPD baru selesai dirumuskan pada bulan Oktober 2006. Kemunduran jadwal ini disebabkan lamanya proses elaborasi hasil rapat konsinyering yang melakukan rekonstruksi terhadap pasal per pasal yang sebelumnya telah dirumuskan oleh Tim Bangda.

52

BAB-5. MERENCANAKAN KONSULTASI PUBLIK

MENENTUKAN TIM KERJA KP


Seperti yang diungkapkan sebelumnya, KP yang dirancang untuk proses penyusunan RPP-T2CP2EPRPD bukanlah merupakan satu kegiatan (event) melainkan proses atau rangkaian kegiatan public deliberation perumusan kebijakan. KP merupakan proses, mulai dari persiapan, pelaksanaan forum musyawarah di daerah dan pusat, sampai pengambilan keputusan perumusan suatu peraturan perundang-undangan. Oleh karenanya, keterlibatan warga adalah sebagai subyek dari pembentukan peraturan perundang-undangan. Tim yang bertugas memfasilitasi proses KP idealnya merupakan tim bersama yang mewakili unsur pemerintah sebagai inisiator/ penanggungjawab dan tim CSO yang mewakili unsur nonpemerintah dengan kriteria tertentu8 . Keterlibatan unsur CSO sebagai tim fasilitator ditujukan untuk menjamin agar kebijakan yang dirumuskan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi nyata di lapangan. Anggota tim dari unsur pemerintah adalah unit kerja yang memiliki tugas dan fungsi yang terkait dengan isu yang akan dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan. Namun apabila kebijakan yang akan dirumuskan mencakup isu yang lebih luas atau di luar tugas dan fungsi unit kerja, maka anggota tim dari unsur pemerintah haruslah terdiri atas perwakilan unit-unit kerja yang lain, baik dari intra maupun inter-departemen. Tujuannya agar kebijakan yang dirumuskan dapat konsisten dan sinkron dengan peraturan perundang-undangan lain yang berlaku. Dalam kasus perumusan RPP-T2CP2EPRPD, Tim Bersama yang berasal dari unsur pemerintah hanya berasal dari unsur Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Pembangunan Daerah di bawah koordinasi Direktur Perencanaan Pembangunan Daerah. Padahal RPP ini terkait dengan direktorat jenderal lain seperti Bina Administasi Keuangan Daerah (BAKD), Pemerintahan Umum (PUM), dan Otonomi Daerah (Otda). Bahkan terkait pula dengan instansi dan departemen lain di

___________________________________________ 8 Dalam kasus perumusan naskah undang-undang dan peraturan daerah, Tim Bersama dapat ditambah dari unsur legislatif.

53

BAB-5. MERENCANAKAN KONSULTASI PUBLIK

luar lingkungan Depdagri, seperti Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Departemen Keuangan9 . Meski demikian ketidakterlibatan instansi lain sebagai tim bersama unsur pemerintah kemudian disiasati. Mereka dilibatkan dalam KP lintas-sektor dan proses harmonisasi peraturan perundangundangan di Departemen Hukum dan HAM (Depkumham). Keterlibatan Tim CSO sebagai unsur yang mewakili masyarakat sipil setidaknya perlu memiliki kriteria tertentu yang disepakati dan bersifat kontekstual. Beberapa kriteria antara lain: memiliki pengetahuan atau wawasan terhadap tema kebijakan yang akan dirumuskan, berpengalaman di tataran lapangan terkait terhadap isu yang dibahas, memiliki jaringan dengan perhatian yang sama, serta berpihak pada kebutuhan rakyat. Selama penyusunan RPP-T2CP2EPRPD, selain terdapat seorang Koordinator Tim Bersama, di dalam masing-masing tim, baik tim pemerintah dan maupun Tim CSO/FPPM, terdapat juga seorang koordinator. Koodinator tim dari unsur pemerintah ditentukan secara internal dan ditetapkan dengan Surat Keputusan (SK) dari pimpinan instansi. Surat keputusan ini merupakan bentuk akuntabilitas administrasi dan anggaran. Kriteria koordinator tim dari unsur pemerintah didasarkan pada kualifikasi dan kompetensi yang berlaku di instansi bersangkutan. Sedangkan koordinator Tim CSO/FPPM ditentukan atas kesepakatan anggota Tim CSO/FPPM. Mereka mendelegasikan agar koordinator tim berperan dalam memfasilitasi penyusunan substansi yang perlu disepakati dan melakukan pengorganisasian teknis proses KP. Selain terlibat secara penuh pada setiap tahapan perumusan kebijakan, disepakati pula bahwa tim fasilitator bertugas memfasilitasi diskusi pada setiap pembahasan kebijakan. Agar tidak ada jarak di
___________________________________________
9 Perlunya keterlibatan direktorat maupun departemen lain di luar Depdagri, mengingat perumusan RPP-T2CP2EPRPD akan terkait dengan proses penganggaran daerah yang merupakan tanggung jawab Dirjen BAKD, dan Standar Pelayanan Minimal yang menjadi tenggung jawab Dirjen Otda. Keterlibatan Bappenas menjadi penting dalam penyusunan RPP ini untuk menjamin sinkronisasi kebijakan perencanaan nasional.

54

BAB-5. MERENCANAKAN KONSULTASI PUBLIK

antara peserta, fasilitator dipilih dari unsur non-pemerintah. Sedangkan pimpinan tim untuk konsultasi regional disepakati berasal dari Bangda Depdagri. Penjelasan tentang mandat, kewenangan, kriteria, dan peran fasilitator KP dapat dilihat di Bab-11 buku ini. Dukungan sekretariat yang memadai juga menjadi penentu keterlibatan masyarakat sipil dalam proses KP. Terlebih pada kenyataan sekretariat dikelola oleh kalangan CSO dan didukung oleh jaringan masyarakat sipil yang luas. Sekretariat juga berperan dalam menjalin komunikasi antara Tim CSO/FPPM dan Tim Bangda Depdagri. Sedangkan keberadaan sekretariat di lingkungan kantor Bangda Depdagri membantu proses birokrasi administrasi yang terkait dengan RPP tersebut. Selain itu, keberadaannya juga berperan dalam memantau dinamika internal yang terjadi di pemerintahan. Di sisi lain, sekretariat bukan sekadar mendukung dari segi administrasi, tetapi juga terlibat aktif dalam pendokumentasian proses dan kegiatan. Sekretariat juga melakukan pencatatan proses mengenai keterlibatan masyarakat sipil dan substansi yang dibahas pada perumusan kebijakan. Dokumentasi ini merupakan salah satu bentuk akuntabilitas. Di dalamnya tercakup hal-hal yang terkait dengan upaya-upaya yang telah dilakukan, hambatan yang dihadapi, dan isu-isu yang diakomodasi dalam kebijakan tersebut.

SKEMA PENDANAAN KP
Pada tahap perencanaan, sebagai tindak lanjut dari membangun kesepahaman yang tertuang dalam Memorandum of Understanding (MoU) , Tim CSO/FPPM dan Tim Bina Bangda perlu menyepakati sumber pendanaan penyelenggaraan KP. Kesepakatan skema pendanaan terutama dilakukan untuk menjawab pertanyaan kunci, "Siapa akan mendanai apa?". Akuntabilitas dari skema pendanaan diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi tumpang tindih pendanaan untuk membiayai sebuah kegiatan yang sama. Hal ini mengingat departemen yang menjadi penanggungjawab perumusan RPP telah memiliki Rencana Kerja dan Anggaran (RKA-KL) tersendiri yang dibiayai oleh APBN. Untuk mendukung penyelenggaraan KP, dalam pertemuan tim muncul dukungan lain dari sejumlah lembaga donor dalam bentuk

55

BAB-5. MERENCANAKAN KONSULTASI PUBLIK

pembiayaan pelaksanaan KP regional dan lintas-sektor. Lembaga donor yang menyatakan komitmennya adalah CIDA, LGSP, dan GTZ. Dengan demikian pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut akan didanai bersama-sama oleh DRSP, CIDA, LGSP, dan GTZ. Sedangkan besaran partisipasi masing-masing lembaga donor bervariasi. Dukungan pendanaan keseluruhan proses KP penyusunan RPP T2CP2EPRPD, tergambar dalam Tabel-5.4. Tabel-5.4 Dukungan Pendanaan Penyelenggaraan KP
Region Cakupan Lokasi Kontribusi Transportasi CIDA DRSP LGSP PEMDA USAID CIDA DRSP LGSP PEMDA USAID CIDA DRSP LGSP PEMDA USAID CIDA DRSP GTZ LGSP PEMDA USAID PEMDA Kontribusi Akomodasi

Jawa

Jawa

Surabaya

FPPM

Sumatera

Sumatera

Medan

FPPM

Sulawesi

Sulawesi Maluku Papua

Makasar

CIDA

Bali

Bali Nusa Tenggara Kalimantan

Denpasar

CIDA

Lintas-Sektor

Jakarta

CIDA

56

BAB-6. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK REGIONAL

BAGIAN-3 PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK

57

BAB-6. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK REGIONAL

58

BAB-6. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK REGIONAL

BAB-6

Pelaksanaan Konsultasi Publik Regional

Persiapan Pelaksanaan KP Regional Penyamaan Pandangan Tim tentang Tujuan dan Proses Penyiapan Materi, Alat, dan Bahan Komunikasi dan Koordinasi dengan Tuan Rumah Peserta KP Regional Pelaksanaan KP Regional Agenda KP Regional Proses Pelaksanan KP Regional Mendokumentasikan Proses dan Hasil KP Regional Merumuskan Hasil KP Regional

59

BAB-6. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK REGIONAL

PERSIAPAN PELAKSANAAN KP REGIONAL


onsultasi Publik (KP) regional merupakan tahap utama dalam proses KP RPP-T2CP2E PRPD. Tah apan in i melibatkan warga lebih luas, khususnya pengguna kebijakan dan warga yang menjadi kelompok sasaran dari kebijakan tersebut. Tahap ini dilakukan untuk mengetahui kesesuaian draft kebijakan yang dirumuskan dengan kebutuhan warga dengan mempertimbangkan berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat. KP regional atau spasial dimaksudkan untuk mengkaji rencana penerapan kebijakan dan disesuaikan dengan kondisi di berbagai daerah yang berbeda-beda. Untuk itu KP spasial perlu mempertimbangkan keterwakilan karakteristik daerah di wilayah Indonesia. Salah satu hal menarik dari proses penyusunan RPP-T2CP2EPRPD adalah masukan-masukan terhadap urutan kegiatan KP regional dan sektoral. Para peserta KP regional dari 4 wilayah menghendaki agar KP sektoral pemerintah pusat dilakukan terlebih dahulu sebelum KP di daerah. Mereka berharap sebelum pelaksanaan KP di daerah, elemen-elemen pemerintahan yang ada di pusat telah mempunyai persamaan persepsi mengenai regulasi yang sedang disusun. Dengan demikian, tidak ada penyusunan regulasi yang tumpang tindih atau bertentangan dengan yang lainnya. Harapan ini muncul karena ternyata terdapat beberapa substansi peraturan perundangan-undangan yang tidak sinkron di antara satu peraturan dengan yang lainnya. Misalnya, peraturan yang berkaitan dengan RPJMD. Di satu sisi, berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004 disebutkan bahwa RPJMD ditetapkan dengan peraturan daerah. Sedangkan berdasarkan UU No. 25 Tahun 2004 disebutkan RPJMD ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. Perbedaan ini membuat bingung pengimplementasian di tingkat pemerintah daerah. Namun kenyataannya, pemerintah pusat (Bangda Depdagri selaku lembaga penyusun RPP) berpendapat sebaliknya. KP regional dilakukan sebelum konsultasi lintas sektoral. Menurut pihak Bangda Depdagri, gagasan dan masukan dari daerah justru diperlukan sebagai dasar argumen dalam KP lintas-sektor.

60

BAB-6. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK REGIONAL

Terlepas dari semua wacana tersebut, ada pemahaman yang sama yaitu bagaimana menghasilkan sebuah peraturan perundangundangan yang operasional dan sinkron dengan peraturan perundang-undangan yang ada. Selain itu, ada keinginan kuat dari pemerintah pusat untuk mendengarkan suara daerah sehingga proses penyusunan kebijakan menjadi lebih partisipatif. Dalam konteks itu, persiapan menjelang kegiatan KP regional menjadi penting. Sebelum disampaikan kepada peserta KP regional, Tim Bersama mencermati dan memperbaiki kembali draft RPPT2CP2EPRPD. Perbaikan tidak saja pada materi RPP, tetapi juga dilakukan penyuntingan kata atau kalimat yang dinilai kurang pas. Semua perbaikan ditujukan agar pasal-pasal yang ada di dalamnya bisa lebih tajam dan lebih operasional. Penajaman juga dilakukan agar pertautan antar-pasal menjadi lebih kuat dan saling melengkapi. Persiapan tentu saja tidak hanya dilakukan pada materi peraturan yang akan dibawa dalam KP. Anggota tim juga melakukan persiapan lainnya, misalnya berkoordinasi dengan berbagai pihak, terutama dengan jaringan instansi pemerintah dan lembaga di daerah yang menjadi lokasi pelaksanaan KP regional. Dalam persiapan, diidentifikasi pula beberapa hal yang akan mempengaruhi proses KP. Hal yang diperhatikan agar rencana bisa terealisasikan di antaranya adalah aspek pendukung menyangkut konfirmasi waktu, bahan-bahan presentasi atau dokumen terkait, alat tulis, dan ketersediaan perlengkapan pertemuan. Tim juga mengembangkan hubungan, terutama hubungan personal, dengan jaringan yang ada di daerah, baik dengan unsur pemerintah, CSO, maupun donor yang terlibat. Dari hubungan ini diperoleh masukan berharga mengenai karakteristik peserta dan hal-hal lain terkait kondisi yang khas di setiap daerah.

PESERTA KP REGIONAL
KP regional RPP-T2CP2EPRPD dilakukan dengan memperhatikan representasi wilayah dan peserta. Hal itu bisa terlihat dari rencana keterlibatan peserta yang tertera dalam Tabel-6.1

61

BAB-6. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK REGIONAL

Tabel-6.1 Komposisi Peserta KP Regional


Region Jawa Jawa Cakupan Lokasi Surabaya Komposisi Peserta 6 Pemerintah Provinsi 9 NGO/akademisi 15 Pemkab/Pemkot 10 Pemerintah Provinsi 11 Pemkab/Pemkot 9 NGO/akademisi Sulawesi Sulawesi Maluku Papua Bali Bali Nusa Tenggara Kalimantan Denpasar, Makasar 10 Pemerintah Provinsi 11 Pemkab/Pemkot 9 NGO/akademisi 7 Pemeritah Povinsi 14 Pemkab/Pemkot 9 NGO

Sumatera

Sumatera

Medan

Penentuan lokasi KP dilakukan oleh Tim Bersama dengan memperhatikan faktor jarak dan letak. Lokasi ditetapkan berada di tempat yang strategis dan mudah terjangkau oleh peserta. Dalam hal ini diperhatikan pula ketersediaan sarana dan prasarana transportasi, serta kemudahan akses dari tempat asal peserta. Pemilihan peserta yang diikutsertakan dalam KP regional ditentukan berdasarkan representasi dari masing-masing unsur dan wilayah. Pertimbangan lain dalam pemilihan peserta juga didasarkan pada kriteria dari daerah yang diikutsertakan. Pelibatan pemerintahan kabupaten/kota dalam KP regional didasarkan pada inovasi dan kapasitas dari masing-masing daerah dalam aspek perencanaan pembangunan. Sedangkan pelibatan LSM sebagai peserta didasarkan pada tingkat perhatian mereka terhadap isu kebijakan yang dirumuskan. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, komposisi peserta di masing-masing KP regional mempergunakan proporsi 70:30. Proporsi untuk unsur pemerintahan daerah lebih besar, yaitu 70 persen. Sedangkan kelompok masyarakat sipil memperoleh kuota 30 persen dari jumlah peserta. Komposisi ini ditetapkan berdasarkan asumsi bahwa pengguna utama dari kebijakan ini adalah pemerintah daerah.

62

BAB-6. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK REGIONAL

Pengiriman delegasi untuk terlibat dalam proses KP regional ini ternyata merupakan pengalaman baru bagi beberapa daerah. Mereka kemudian berharap agar usulan masing-masing bisa diakomodasi dalam penyusunan draft RPP ini.

PELAKSANAAN KP REGIONAL
Agenda KP Regional Ketersediaan waktu menjadi pertimbangan lain dalam penyelenggaraan KP regional. Waktu yang kurang memadai akan mengakibatkan proses KP ini menjadi sekadar justifikasi, karena proses dan keterlibatan peserta menjadi tidak optimal. Dalam penyusunan jadwal, hal itu sangat diperhatikan karena berpengaruh pada tingkat kehadiran dan tingkat keaktifan peserta dalam forum diskusi. Agenda kegiatan disusun sedemikian rupa dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan peserta, misalnya saja kebutuhan untuk beristirahat. Pihak penyelenggara memberikan jangka waktu antara batas kehadiran peserta ke lokasi kegiatan dengan waktu dimulainya kegiatan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar peserta memiliki waktu yang cukup untuk istirahat dan memastikan kehadiran peserta yang lain. Waktu luang ini dipergunakan untuk mencairkan suasana melalui perkenalan informal. Penyusunan jadwal yang ramah terhadap peserta ini memberikan kontribusi yang lebih konstruktif terhadap proses KP. Meski demikian, perumusan jadwal tetap memperhatikan efektivitas dan efisiensi waktu sehingga tujuan KP dapat dicapai. Penyusunan jadwal tersebut bisa dilihat dalam Tabel-6.2. PROSES PELAKSANAAN KP Dalam pelaksanaannya, proses KP RPP-T2CP2EPRPD diawali dengan presentasi tema-tema penting yang tertuang dalam RPP. Setelah diskusi dan tanya jawab, peserta kemudian dibagi dalam kelompok berdasarkan tema-tema besar yang terdapat di dalam draft RPP ini.

63

BAB-6. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK REGIONAL

Tabel-6.2 Agenda KP Regional


WAKTU AGENDA Hari ke 1, Rabu 26 Juli 2006 13.00-14.00 14.00-17.00 19.30-21.00 Peserta chek-in di hotel Diskusi Persiapan Tim ( Fasilitator : Bangda, CIDA, GTZ,LGSP,DRSP ) Makan Malam Bersama, Perkenalan, dan Pejelasan Alur Proses Acara Hari ke 2, Kamis 27Juli 2006 08.00 08.30 8.30. 10.00. Registrasi Peserta Presentasi Tema -Tema Penting RPP Fasilitator: DR. Apriadi S. Hasibuan,MPA.M.Com ( Ec ) Bangda, Depdagri Presentasi Subtansi Pasal-pasal RPP Fasilitator: Tim Bangda Tanya Jawab Fasilitator: Tim Bangda ISHOMA Diskusi Kelompok Berdasarkan Tema dan Usulan Perbaikan Pasal-pasal RPP Fasilitator: Tim Bangda 15.30 - 16.30 16.30 17.00 Pleno Pembahasan RPP Fasilitator Tim Bangda Kesimpulan & Penutup Hari ke 3, Jumat 28 Juli 2006 08.30 10.00 10.00 11.00 11.30 -12.00 Penyempurnaan RPP dan Elaborasi Masukan Evaluasi dan Penutupan Check out Peserta

10.00 11.00 11.00 12.00 12.00 13.00 13.00 - 15.30

64

BAB-6. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK REGIONAL

Pembagian kelompok ini dilakukan dengan memperhatikan representasi dari unsur peserta yang dilibatkan, termasuk spesifikasi atau kapasitas peserta terhadap isu yang didiskusikan. Tim Bersama berperan sebagai sumber informasi, terutama berkaitan dengan halhal yang belum jelas dalam draft RPP. Setiap kelompok diminta untuk memilih pimpinan kelompok yang bertugas memfasilitasi diskusi, dan seorang sekretaris sebagai pencatat proses. Hal ini dilakukan untuk menimbulkan rasa memiliki dari peserta terhadap draft kebijakan yang disusun. Namun demikian, Tim Bersama yang ikut mengawal RPP ini juga turut mencatat hasil diskusi untuk menjamin pendokumentasian hasil diskusi. Hasil pembahasan diskusi kelompok, dipresentasikan oleh masing-masing kelompok untuk memperoleh tanggapan dari kelompok lain dan bertujuan untuk mempertajam hasil diskusi. Pada akhir proses fasilitasi ini, disepakati rencana tindak lanjut dari hasil diskusi untuk dielaborasi dan langkah-langkah selanjutnya yang perlu dilakukan. Contoh Format Dokumentasi Proses KP

10 AGUSTUS 2006 KONSULTASI PUBLIK DI BALI 09.00-09.30 Pembukaan Acara pembukaan dilakukan dengan kata sambutan dari Kepala Bappeda Bali dan dilanjutkan dengan pengantar tentang RPP oleh Pak Fasli Siregar selaku Direktur Bangda. 09.30 - 12. 00 Presentasi RPP dan Tanya Jawab Presentasi dan diskusi. Presentasi tema-tema penting RPP dilakukan oleh Pak Afriadi dan dibantu oleh Pak Dindin. Setelah dilakukan presentasi RPP kemudian dilanjutkan dengan presentasi tentang anggaran dan prakiraan maju (MTEF) oleh Pak Dixon. Hasil presentasi kemudian dilanjutkan dengan tanggapan (pertanyaan) oleh peserta. Diskusi kelompok. Selesai melakukan sesi tanya jawab, peserta langsung dibagi untuk masuk kedalam kelompok-kelompok. Pembagian kelompok dilakukan oleh panitia berdasarkan daftar hadir. ....

65

BAB-6. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK REGIONAL

MENDOKUMENTASIKAN PROSES DAN HASIL KP


Seperti diungkapkan pada bagian sebelumnya, dokumentasi merupakan media untuk mendorong akuntabilitas proses KP. Setidaknya, terdapat 3 jenis pendokumentasian yang diperlukan dalam proses KP, yakni dokumentasi proses, dokumentasi sebagai reportase, dan dokumentasi hasil. Dokumentasi proses merupakan transkrip dari seluruh proses kegiatan. Diperlukan alat perekam seperti tape recorder atau voice recorder, alat tulis, dan buku atau notebook. Dokumentasi proses dapat dijadikan alat verifikasi suatu masukan terhadap rancangan peraturan perundang-undangan yang disusun. Melalui dokumentasi ini dapat diketahui proses diskusi sebagai latar belakang suatu masukan. Selanjutnya dokumen bisa menjadi penjelasan tentang suatu klausul atau maksud perubahan/ penyempurnaan suatu pasal. Contoh Format Dokumentasi Proses KP

LAPORAN (REPORTASE) KP RPP


"Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah" 9 - 11 Agustus 2006, Hotel Jatra, Kuta - Bali _____________________________________________________________

9 Agustus 2006. Jam 21.00 Wita Menurut jadual acara, seharusnya acara sudah dimulai pada pukul 16.00 Wita yaitu rapat panitia dan dilanjutkan dengan makan malam. Setelah makan malam ada kegiatan lagi yaitu perkenalan antara peserta dan panitia dan dilanjutkan dengan presentasi alur proses konsultasi publik. Akan tetapi, acara yang dilaksanakan tidak sesuai dengan jadual acara tersebut. Hal ini dikarenakan kedatangan panitia yang terlambat yaitu baru datang semuanya pada pukul 20.00 Wita dan langsung makan malam. Setelah makan malam selesai barulah dilaksanakan kegiatan. Kegiatan dilaksanakan pada pukul 21.00 Wita dengan pembahasan tentang MTEF yang di presentasikan oleh Pak Geoffreg Lewis Dixon dari CIDA GRS II sebagai narasumber. Acara ini sendiri dibuka oleh Pak Fasli Siregar. Adapun yang hadir pada sesi ini berjumlah 26 orang yang terdiri dari: Bangda16 orang; Pemda 2 orang; LSM 4 orang; Donor 4 orang. ....

66

BAB-6. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK REGIONAL

Contoh Format Dokumentasi Hasil KP

Batang Tubuh Pasal 8 Badan Perencanaan Daerah bersama pemangku kepentingan lainnya menyusun Rancangan Awal RPJMD dengan berpedoman pada RPJPD dan memperhatikan RPJM Nasional, kondisi lingkungan strategis di daerah, serta hasil evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD periode yang lalu.

Penjelasan Pasal 8 Ayat (1) Cukup jelas

Usulan Perubahan

Surabaya Kata Badan Perencanaan Daerah ditambahkan menjadi Badan atau Lembaga Perencanaan Daerah... Makasar Setelah kata RPJMD tambah kata bagi Provinsi Medan Kata bersama diganti dengan melibatkan, tambah kata dalam menjadi: Badan Perencanaan Daerah melibatkan pemangku kepentingan lainnya dalam menyusun Rancangan Awal RPJMD..... Bali Tambahan penjelasan Khususnya untuk Rancangan awal RPJMD Kabupaten/Kota, selain berpedoman pada RPJM Nasional juga mengacu pada RPJM Provinsi.

Dokumentasi sebagai bentuk reportase diperlukan sebagai alat publikasi sekaligus akuntabilitas mengenai perkembangan aktual dalam pembahasan kebijakan. Oleh karenanya dokumentasi yang dilakukan dalam bentuk reportase diperlukan untuk menekankan isuisu yang mencuat dalam suatu proses pembahasan. Sementara itu, pendokumentasian hasil diskusi dimaksudkan untuk mempercepat elaborasi masukan pasal-per pasal dalam perumusan kebijakan. Dokumentasi ini hanya mencatat hasil-hasil perubahan pasal yang telah disepakati. Sedangkan isu-isu yang terkait dengan perubahan suatu pasal dapat dilihat pada dokumentasi proses.

67

BAB-6. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK REGIONAL

MERUMUSKAN HASIL KP REGIONAL


Setelah melakukan KP regional, tahapan selanjutnya adalah mengelobarasi masukan-masukan ke dalam draft kebijakan yang sedang disusun. Dapat dikatakan proses elaborasi masukan ini merupakan inti dari KP yang partisipatif dan deliberatif. Tahapan elaborasi terdiri atas penyiapan bahan dan diskusi pembahasan masukan KP. Usulan dan masukan diolah dan ditulis dalam format tabel. Dalam format tabel, masukan KP akan mudah dibaca. Tabel terdiri atas beberapa kolom yang masing-masing berisi pasal (asli), penjelasan pasal (asli), dan usulan perubahan disertai nama wilayah pengusul.

68

BAB-6. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK REGIONAL

Contoh Perumusan Hasil KP


Batang Tubuh Pasal 3 (1) Tahapan penyusunan perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disebut Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), dan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). Pasal 3 Ayat (2) Yang dimaksud dengan proses perencanaan daerah dengan pendekatan waktu yang dimaksud pada ayat (1) diatas dengan mengahasilkan sebutan rencana pembangunan jangka panjang (RPJP), rencana pembangunan angka menengah (RPJM), dan rencana pembangunan jangka tahunan (RKPD). Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas Surabaya Kata Badan Perencanaan daerah ditambahkan menjadi Badan atau Lembaga Perencanaan Daerah... Medan Dihapus, diganti dengan: Badan Perencanaan Daerah melibatkan pemangku kepentingan lainnya dalam menyusun Rancangan Awal RPJPD Makasar Tambahan bagian penjelasan: Yang dimaksud dengan memuat visi, misi dan arah pembangunan daerah masih berupa rancangan yang akan dirumuskan dalam Musrenbang RPJPD Bali Tambahan bagian penjelasan: Yang dimaksud dengan RPJPD mengacu pada pada RPJP Nasional berlaku untuk RPJPD Kab/Kota dan Provinsi, sementara khusus untuk RPJPD Kab/Kota juga berpedoman pada RPJP Provinsi Surabaya Bagian penjelasan dihapus, karena sudah dijelaskan pada bagian ketentuan umum Bali Usul istilah RKPD: Rencana Kerja Pemerintah/ Pembangunan Daerah. Penjelasan Usulan Perubahan

Pasal 5 (1) Badan Perencanaan Daerah bersama pemangku kepentingan lainnya menyusun Rancangan Awal RPJPD

(3) Rancangan Awal RPJPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2), memuat visi, misi, dan arah pembangunan daerah dengan berpedoman pada RPJP Nasional.

Ayat (3) Cukup Jelas

... dan seterusnya

69

BAB-6. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK REGIONAL

70

BAB-7. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK LINTAS-SEKTORAL

BAB-7

Pelaksanaan Konsultasi Publik Lintas-Sektor

Menyiapkan Bahan KP Lintas-sektor: Elaborasi Masukan KP Regional Agenda Pelaksanaan KP Lintas-sektor Peserta KP Lintas-sektor Jadwal KP Lintas-sektor Elaborasi Masukan KP Lintas-sektor Tahapan Elaborasi Proses Diskusi KP Lintas-sektor

Mendokumentasikan Proses dan Hasil KP Lintas-sektor Dokumentasi Proses KP Lintas-sektor Dokumentasi Hasil KP Lintas-sektor

71

BAB-7. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK LINTAS-SEKTORAL

MENYIAPKAN BAHAN KP LINTAS-SEKTOR


etelah semua kegiatan KP regional selesai, Tim Bersama berkumpul kembali untuk konsolidasi. Tim melakukan kaji ulang (review) seusai kegiatan di daerah, sebagai bahan untuk pengayaan hasil rancangan. Tim terus berkolaborasi dan mempersiapkan KP lintas-sektor. Penyelenggaraan KP ditujukan untuk memperoleh masukan dari departemen lain, termasuk Bappenas. Dalam KP lintas-sektor, tentu saja peran Ditjen Bina Bangda Depdagri sangat signifikan. Koordinasi penyelenggaraan KP lintassektor lebih banyak dilakukan oleh Bina Bangda. Peserta KP lintassektor adalah pihak-pihak dari lintas-departemen dan unit-unit kerja lain di luar unit kerja pengambil kebijakan. Keterlibatan unit kerja lain diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kaitan kebijakan yang disusun dengan kebijakan yang telah diterbitkan oleh unit kerja lain. Bahan utama dari pertemuan KP lintas-sektor ini adalah elaborasi masukan dari KP regional. Tim Bersama (Tim Bangda dan Tim CSO/ FPPM) melakukan pertemuan beberapa kali dan berbagi tugas untuk mengelaborasikan masukan-masukan dan menyusunnya ke dalam format tabel agar mudah dibaca. Contoh hasil elaborasi KP regional dapat dilihat dalam Tabel-7.1.

AGENDA PELAKSANAAN KP LINTAS-SEKTOR


Berbeda dengan KP regional, KP lintas-sektor tidak memerlukan waktu terlalu panjang. Tujuan utama KP lintas-sektor bukanlah menampung masukan sebanyak-banyaknya. Dalam KP lintas-sektor yang lebih diutamakan adalah klarifikasi kepada berbagai pihak untuk menjamin sinergisitas dengan kebijakan lain. Seperti KP regional, KP lintas-sektor juga perlu melibatkan keterwakilan pemerintah daerah dan kelompok masyarakat sipil yang punya perhatian terhadap isu ini dan pernah terlibat dalam KP regional. Tujuan keterlibatan mereka adalah untuk mengawal agar draft kebijakan yang dirumuskan sudah benar-benar mengakomodasi masukan KP regional. Pembahasan difokuskan pada bagian RPP yang mendapat masukan pada saat pelaksanaan KP regional. Dalam diskusi ini, seluruh

72

BAB-7. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK LINTAS-SEKTORAL

Tabel-7.1 Format Elaborasi Masukan Konsultasi Publik


Batang Tubuh Pasal 8 Penjelasan Pasal 8 Surabaya Kata Badan Perencanaan Daerah ditambahkan menjadi Badan atau Lembaga Perencanaan Daerah Makasar Setelah kata RPJMD tambah kata bagi Provinsi Medan Kata bersama diganti dengan melibatkan, tambah kata dalam menjadi: Badan Perencanaan Daerah melibatkan pemangku kepentingan lainnya dalam menyusun Rancangan Awal RPJMD.... Denpasar Tambahan penjelasan Khususnya untuk Rancangan awal RPJMD Kabupaten/Kota, selain berpedoman pada RPJM Nasional juga mengacu pada RPJM Provinsi. Badan atau Lembaga Perencanaan Daerah melibatkan pemangku kepentingan lainnya dalam menyusun Rancangan Awal RPJMD dengan berpedoman pada RPJPD dan memperhatikan RPJM Nasional, kondisi lingkungan strategis di daerah, serta hasil evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD periode yang lalu. Penjelasan Khususnya untuk Rancangan awal RPJMD Kabupaten/Kota, selain berpedoman pada RPJM Nasional juga mengacu pada RPJM Provinsi. Usulan Perubahan Elaborasi

Badan Perencanaan Ayat (1) Daerah bersama Cukup jelas pemangku kepentingan lainnya menyusun Rancangan Awal RPJMD dengan berpedoman pada RPJPD dan memperhatikan RPJM Nasional, kondisi lingkungan strategis di daerah, serta hasil evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD periode yang lalu.

73

BAB-7. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK LINTAS-SEKTORAL

masukan dan argumen dibahas oleh Tim Bersama dan stakeholders yang terlibat dalam KP lintas-sektor. Pembahasan dilakukajn berdasarkan agenda kegiatan yang telah ditetapkan seperti tertera dalam Tabel-7.2. Tabel-7.2 Agenda Kegiatan KP Lintas-Sektor
WAKTU 08.00 09.00 09.00 09.45 09.45 10.00 10.00 12.00 12.00 13.00 13.00 15.30 15.30 15.45 15.45 17.45 Registrasi Peserta Pembukaan Oleh: Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Coffee Break Presentasi Tema-Tema Penting dan Substansi Pasal-pasal RPP Fasilitator: Tim Bangda ISHOMA Diskusi kelompok berdasarkan Tema dan Usulan Perbaikan Pasal-pasal RPP Fasilitator: Tim Bangda Coffee Break Pleno Pembahasan RPP, Kesimpulan & Penutup AGENDA

ELABORASI MASUKAN KP LINTAS-SEKTOR


Pada dasarnya, proses yang dilakukan dalam elaborasi hasil KP lintas-sektor tidak berbeda dengan proses elaborasi hasil KP regional. Proses elaborasi dilakukan melalui dua tahap, yaitu penyiapan bahan dan diskusi pembahasan pasal-pasal yang mendapat masukan. Proses yang dilakukan sama seperti yang dilakukan dalam diskusi pembahasan masukan KP regional. Pasal-pasal yang mendapat masukan kemudian dibahas secara mendalam untuk kemudian disepakati apakah akan diterima atau ditolak. Proses pembahasan diawali dengan pembacaan draft. Pimpinan rapat (fasilitator) mengawali diskusi dengan membacakan draft kebijakan dan masukan KP pasal per pasal. Fasilitator kemudian memberi kesempatan kepada forum untuk berpendapat, baik menerima maupun menolak masukan tersebut. Diskusi berjalan dinamis karena seringkali terdapat perbedaan pendapat. Masingmasing pihak, baik yang setuju atau menolak, mengajukan

74

BAB-7. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK LINTAS-SEKTORAL

argumentasinya. Tak jarang silang pendapat berlangsung alot dan forum terancam deadlock. Dalam kondisi seperti ini fasilitator berperan penting dalam mengendalikan forum, bertindak sebagai pengatur dinamika diskusi, dan mencegah kebuntuan diskusi. Jika pembicaraan mulai menyimpang, fasilitator meluruskan kembali jalannya forum sehingga diskusi tetap berkualitas dan waktu tidak terbuang sia-sia. Fasilitator perlu menekankan bahwa diskusi ini bertujuan untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Hasil itu hanya akan diperoleh jika semua pihak tetap berpikir dengan kepala dingin dan tidak memaksakan pendapat. Sedapat mungkin keputusan diambil secara musyawarah mufakat. Pada akhir pembahasan, fasilitator membuat catatan-catatan penting sebagai bahan pengambilan kesimpulan. Catatan itu kemudian dikonfirmasikan kepada forum untuk penyepakatan.

MENDOKUMENTASIKAN PROSES DAN HASIL KP LINTAS-SEKTOR


Seperti halnya KP regional, dokumentasi KP lintas-sektor juga melakukan rekam proses dan mencatat hasil pertemuan. Dokumentasi proses berisi transkrip alur diskusi. Proses diskusi dicatat secara lengkap berdasarkan waktu kegiatan. Termasuk di dalamnya adalah materi tanya jawab. Sedangkan catatan hasil merupakan catatan dalam bentuk hasil usulan dan masukan dalam KP lintas-sektor. Dalam perumusannya hasil tersebut diolah dan dimasukkan dalam substansi kebijakan. Hasil akhir dari elaborasi masukan KP lintas-sektor adalah final draft berdasarkan hasil KP. Draft itu kemudian akan melalui tahap sinkronisasi untuk

75

BAB-7. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK LINTAS-SEKTORAL

menghindari tumpang tindih dengan peraturan perundangundangan yang lain. Contoh elaborasi masukan KP lintas-sektor dalam dilihat dalam Tabel-7.3. Contoh Dokumentasi Proses KP Lintas-Sektor

Resume Notulensi Konsultasi Publik Nasional


Grand Melia Jakarta, 7 September 2006 Pukul 09.21 WIB. Pembukaan oleh Direktur Perencanaan Pembangunan Daerah Ditjen Bina Bangda Depdagri, Drs. Fazli Siregar Pertemuan ini merupakan pembahasan hasil pertemuan Konsultasi Publik 4 wilayah di 4 kota: Surabaya, Medan, Makasar, dan Denpasar. Masukan tentang RPP ini seharusnya selesai sejak tahun lalu. Urutan Dokumen Perencanaan: 1. RPJP 20 tahun. RPJP RPJP yang disusun pusat belum jadi. Sementara sebagian daerah ada yang sudah menyusun dan ada yang belum. 2. RPJM, sudah disusun termasuk di daerah yang sudah melaksanakan Pilkada. 3. Renstra SKPD 4. Renja SKPD 5. RKP/RKPD Perbedaan yang selama ini terjadi adalah dalam hal wewenang dan departemen di pusat lebih banyak. Sedangkan di daerah, strukturnya lebih sederhana. ....

76

BAB-7. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK LINTAS-SEKTORAL

Tabel-7.3 Contoh Elaborasi Masukan KP Lintas-Sektor


Batang Tubuh Pasal 2 (1) Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dirumuskan berdasarkan indikator kinerja didukung dengan data dan informasi yang akurat, realistis, dan faktual, dengan menggunakan prinsip yang responsif, efisien, efektif, transparan, akuntabel, partisipatif, berkeadilan dan berkelanjutan. Pasal 2 Ayat (5) Yang dimaksud dengan prinsip: Efisien, adalah pencapaian keluaran tertentu dengan masukan terendah atau masukan terendah dengan keluaran maksimal. Efektif, Kemampuan mencapai target dengan sumber daya yang dimiliki dengan cara atau proses yang paling optimal. Transparan, keterbukaan yang memberikan ruang masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan akses seluasluasnya berkaitan dengan perencanaan pembangunan daerah. Akuntabel, perwujudan kewajiban untuk bertanggungjawab terhadap rencana pembangunan daerah. Partisipatif, merupakan hak masyarakat untuk terlibat dalam setiap proses tahapan perencanaan pembangunan daerah dan bersifat inklusif terhadap kelompok yang termarginalkan. Berkeadilan, perencanaan menganut prinsip keadilan antar jender, antar sektor, antar pendapatan, antar wilayah dan antar usia Bagian penjelasan: kesetaraan jender diganti dengan kata pengarustamaan jender Responsif, adalah tanggap terhadap kebutuhan masyarakat, dengan memperhatikan pengarusutamaan jender, kesenjangan antar wilayah, dan kesenjangan antar pendapatan. Tetap Penjelasan Usulan Perubahan Elaborasi

77

BAB-7. PELAKSANAAN KONSULTASI PUBLIK LINTAS-SEKTORAL

Batang Tubuh

Penjelasan

Usulan Perubahan

Elaborasi

Pasal 10 Musrenbang RPJMD diselenggarakan dengan rangkaian kegiatan pembahasan rancangan awal RPJMD, penjaringan aspirasi masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. Pasal 37 (2) Koordinasi penyusunan rancangan RPJPD, RPJMD dan RKPD antar -Kabupaten/ Kota dilakukan oleh Gubernur. (2) Koordinasi penyusunan rancangan RPJPD, RPJMD dan RKPD antar Provinsi dilakukan oleh Menteri

Pasal 10 Ayat (2) Cukup Jelas Tambahan penjelasan: Penjaringan aspirasi masyarakat ditujukan untuk mengakomodasi aspirasi kelompok masyarakat rentan. Tetap

Pasal 37 Ayat (3) Cukup Jelas Gubernur ganti oleh Bappeda provinsi tetap

Ayat (4) Cukup Jelas

Oleh Menteri dalam Negeri, Bappenas dan Menkeu

tetap

78

BAB-8. MERUMUSKAN HASIL KP REGIONAL DAN LINTAS-SEKTOR

BAGIAN-4 TINDAK LAJUT KONSULTASI PUBLIK

79

HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN

BAB-8. MERUMUSKAN HASIL KP REGIONAL DAN LINTAS-SEKTOR

BAB-8

Merumuskan Hasil KP Regional dan Lintas-Sektor

Menyiapkan Bahan Elaborasi Masukan Mengkaji Seluruh Masukan dari KP Regional dan Lintas-sektor Pola Masukan dari KP Regional dan Lintas-sektor Melaksanakan Elaborasi Masukan Pertemuan Tim Perumus Masukan Pola Akomodasi Masukan Mempersiapkan Bahan ke Depkumham Sinkronisasi dan Harmonisasi RPP Mekanisme dan Prosedur di Internal Eksekutif Kegiatan Pasca KP oleh Tim CSO/FPPM

81

BAB-8. MERUMUSKAN HASIL KP REGIONAL DAN LINTAS-SEKTOR

MENYIAPKAN BAHAN ELABORASI MASUKAN


Mengkaji Seluruh masukan dari KP Regional dan Lintas-sektor etelah proses Konsultasi Publik (KP) regional dan lintassektor terlaksana, Tim Bersama melakukan beberapa kali rapat atau diskusi di Kantor Bangda untuk mengkaji seluruh masukan. Rapat atau pertemuan dilakukan oleh Tim Bersama yang komposisinya berasal dari Tim Bangda dan Tim CSO/FPPM. Durasi waktu pertemuan biasanya antara 2-3 jam. Tim ini terlebih dahulu melakukan kategorisasi masukan berdasarkan lokasi penyelenggaraan KP. Untuk mempermudah pekerjaan, dilakukan persandingan antara draft kebijakan dengan usulan masukan setiap daerah. Dengan demikian dapat terlihat masukan dari KP regional dan KP lintas-sektor yang diakomodasi dalam rumusan kebijakan. Tahapan ini sekaligus menunjukkan komitmen untuk terus mengusung masukan-masukan KP regional sampai draft final. Hasil masukan KP regional merupakan bahan utama penyusunan draft final dari sebuah kebijakan. KP lintas-sektor lebih bersifat klarifikasi terhadap peraturan perundang-undangan yang ada untuk menjamin sinergisitas RPP dengan kebijakan lain. Artinya, masukan KP lintas-sektor tidak bisa menghilangkan hasil masukan dari KP regional.

Pola Masukan dari KP Regional dan KP Lintas-Sektor Berdasarkan penelusuran terhadap masukan KP regional dan KP lintas-sektor pada proses penyusunan RPP-T2CP2EPRPD, maka ada beberapa pola yang sering muncul, yaitu: perubahan redaksional, penambahan pasal/ayat, dan penghapusan pasal/ayat. Contoh pola perubahan dapat dilihat Tabel-8.1, Tabel-8.2, dan Tabel-8.3.

82

BAB-8. MERUMUSKAN HASIL KP REGIONAL DAN LINTAS-SEKTOR

Tabel-8.1 Contoh Perubahan Redaksional 10


Batang tubuh Pasal 8 (1) Badan Perencanaan Daerah bersama pemangku kepentingan lainnya menyusun Rancangan Awal RPJMD dengan berpedoman pada RPJPD dan memperhatikan RPJM Nasional, kondisi lingkungan strategis di daerah, serta hasil evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD periode yang lalu. Penjelasan Pasal 8 Ayat (1) Cukup jelas Usulan perubahan Surabaya Kata Badan Perencanaan Daerah ditambahkan menjadi Badan atau Lembaga Perencanaan Daerah... Makasar Setelah kata RPJMD tambah kata bagi Provinsi Medan. Badan Perencanaan Daerah melibatkan pemangku kepentingan lainnya dalam menyusun Rancangan Awal RPJMD..... Denpasar tambahan penjelasan Khususnya untuk Rancangan awal RPJMD Kabupaten/Kota, selain berpedoman pada RPJM Nasional juga mengacu pada RPJM Provinsi.

Tabel-8.2 Contoh Penambahan Pasal/Ayat Baru 11


Batang Tubuh Pasal 8 (1) Badan Perencanaan Daerah bersama pemangku kepentingan lainnya menyusun Rancangan Awal RPJMD dengan berpedoman pada RPJPD dan memperhatikan RPJM Nasional, kondisi lingkungan strategis di daerah, serta hasil evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD periode yang lalu. Penjelasan Pasal 8 Ayat (1) Cukup jelas Usulan Perubahan Makasar Tambahan ayat (2) Badan Perencanaan Daerah bersama pemangku kepentingan lainnya menyusun Rancangan Awal RPJMD bagi kabupaten/kota dengan berpedoman pada RPJPD dan memperhatikan RPJM Provinsi dan Nasional, kondisi lingkungan strategis di daerah, serta hasil evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD periode yang lalu.

___________________________________________ 10 11

Draft V RPP Draft V RPP

83

BAB-8. MERUMUSKAN HASIL KP REGIONAL DAN LINTAS-SEKTOR

Tabel-8.3 Contoh Penghapusan Pasal/Ayat 12


Batang Tubuh Pasal 10 (1) Rancangan Akhir RPJMD disusun oleh Badan Perencanaan Daerah berdasarkan hasil Musrenbang RPJMD. Penjelasan Pasal 10 Ayat (1) Cukup jelas Usulan Perubahan

Medan Ayat ini dihapus

MELAKSANAKAN ELABORASI MASUKAN


Pertemuan Tim Perumus Masukan Tahap elaborasi masukan KP regional dan lintas-sektor merupakan tahap terakhir dari penyusunan RPP. Pada tahap ini diupayakan bahwa hasil-hasil KP dapat diakomodir dalam penyiapan naskah final RPP. Tahap ini merupakan sebuah proses diskusi yang cukup intensif di dalam rapat atau diskusi yang dihadiri sekitar 2530 orang undangan baik dari kalangan pemerintah pusat, CSO, maupun lembaga donor pendukung. Proses ini dilaksanakan dalam dua kali pertemuan, masing-masing sehari penuh. Seluruh masukan hasil KP regional dan KP lintas-sektor digunakan untuk menyempurnakan naskah RPP dengan diakomodasi ke dalam pasal-pasal yang mendapatkan masukan. Tim CSO/FPPM dan Tim Bangda memiliki peran yang berbeda.Tim Bangda mengawal agar elaborasi tidak menyimpang dari maksud dan tujuan pembentukan RPP-T2CP2EPRPD. Sedangkan Tim CSO/FPPM berperan mengawal masukan-masukan KP sehingga dapat diakomodasi dalam perumusan kebijakan. Dengan demikian diperoleh rumusan naskah yang final RPP yang lebih baik. Pola Akomodasi Masukan Pola akomodasi yang muncul terhadap masukan hasil KP adalah masukan ditolak, diterima, atau diterima sebagian. Untuk mengetahui status masukan KP regional dan lintas-sektor, Tim Bersama membuat catatan mengenai pasal-pasal yang mendapat masukan dalam KP
___________________________________________ 12

Draft V RPP

84

BAB-8. MERUMUSKAN HASIL KP REGIONAL DAN LINTAS-SEKTOR

tersebut. Beberapa contoh akomodasi masukan tersebut dapat dilihat dalam Tabel-8.4, Tabel-8.5 dan Tabel-8.6. Tabel-8.4 Contoh Pola Akomodasi Masukan yang Ditolak
Batang Tubuh Pasal 10 (2) Musrenbang RPJMD diselenggarakan dengan rangkaian kegiatan pembahasan rancangan awal RPJMD, penjaringan aspirasi masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. Penjelasan Pasal 10 Ayat (2) Cukup Jelas Tambahan Tetap penjelasan: Penjaringan aspirasi masyarakat ditujukan untuk mengakomodasi aspirasi kelompok masyarakat rentan. Usulan Perubahan Akomodasi

Tabel-8.5 Contoh Pola Akomodasi Masukan yang Diterima Secara Penuh


Batang Tubuh Pasal 1 Rencana kerja adalah dokumen rencana yang memuat program dan kegiatan yang diperlukan untuk mencapai sasaran pembangunan, dalam bentuk kerangka regulasi dan kerangka anggaran. Setiap rencana kerja menjadi landasan dalam pelaksanaan koordinasi dan monitoring pelaksanaan rencana untuk mencapai setiap sasaran pembangunan daerah; Penjelasan Pasal 1 Butir (3) Cukup Jelas Usulan Perubahan Surabaya Tambahan penjelasan butir 3 Yang dimaksud dengan kerangka regulasi adalah pengaturan, menstimulasi, memfasilitasi, mendinamisir dan memotivasi. Sedangkan Kerangka anggaran adalah untuk membiayai barang dan jasa publik Akomodasi OK Tambahan penjelasan butir 3 Yang dimaksud dengan kerangka regulasi adalah kerangka pengaturan untuk menstimulasi, memfasilitasi, mendinamisasi dan memotivasi. Sedangkan kerangka anggaran adalah untuk membiayai barang dan jasa publik

85

BAB-8. MERUMUSKAN HASIL KP REGIONAL DAN LINTAS-SEKTOR

Tabel-8.6 Contoh Pola Akomodasi Masukan yang Diterima Sebagian


Batang Tubuh Pasal 8 (2) Badan Perencanaan Daerah bersama pemangku kepentingan lainnya menyusun Rancangan Awal RPJMD dengan berpedoman pada RPJPD dan memperhatikan RPJM Nasional, kondisi lingkungan strategis di daerah, serta hasil evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD periode yang lalu. Penjelasan Pasal 8 Ayat (1) Cukup jelas Usulan Perubahan Akomodasi

Surabaya Kata Badan Perencanaan Daerah ditambahkan menjadi Badan atau Lembaga Perencanaan Daerah... Makasar Setelah kata RPJMD tambah kata bagi Provinsi Medan Badan Perencanaan Daerah melibatkan pemangku kepentingan lainnya dalam menyusun Rancangan Awal RPJMD..... Denpasar Tambahan penjelasan Khususnya untuk Rancangan awal RPJMD Kabupaten/Kota, selain berpedoman pada RPJM Nasional juga mengacu pada RPJM Provinsi.

Bappeda OK Tambahan penjelasan: Yang dimaksud RPJMD memperhatikan RPJM Nasional adalah RPJMD Provinsi memperhatikan RPJMN Nasional dan RPJMD Kab/Kota memperhatikan RPJMD Priovinsi

Pola akomodasi dapat digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan pendampingan yang dilakukan Tim CSO/FPPM dalam memasukkan isu-isu strategis dalam RPP. Perbandingan draft mengindikasikan komitmen pemerintah dalam mengakomodir usulan yang masuk. Secara lengkap hal itu bisa dilihat dalam Tabel 8.7. Salah satu contohnya bisa diamati dalam draft final. Pada bagian pengendalian dan evaluasi perencanaan pembangunan daerah tercantum pasal yang menetapkan kewajiban pemeritah menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai implementasi program dan anggarannya. Pasal ini menjamin hak-hak masyarakat

86

BAB-8. MERUMUSKAN HASIL KP REGIONAL DAN LINTAS-SEKTOR

dalam mengakses informasi dan mengawasi proyek-proyek pembangunan pemerintah di daerah. Jika pasal tersebut bisa dijalankan secara konsisten, maka peraturan yang dibuat pemerintahan daerah dan DPRD harus melibatkan masyarakat sipil, termasuk keterlibatan perguruan tinggi dalam penyusunan naskah akademik. Tabel-8.7 Contoh Matriks Perbandingan Draf RPP
Bagian Bab perlu diperhatikan Draf IV 14 Juni 2006 Draf V 14 Agustus 2006 Draf VII 8 September 2006-Final

Bab. 5 Pengendalian dan Evaluasi Perencanaan Pembangunan Daerah

Pasal 65 di sebutkan bahwa: Pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah dilakukan melalui mekanisme pembinaan dan pengawasan serta pemberian informasi dan pemantauan Pada pasal 68 di sebutkan bahwa Pemerintah kabupaten/kota berkewajiban memberikan informasi mengenai perencanaan, pelaksanaan, serta hasil pemantauan dan evaluasi pelaksanaan rencana, program dan kegiatan pembangunan daerah kepada masyarakat.

Pasal 42 ayat (1) disebutkan bahwa: masyarakat berhak melaporkan kegiatan dan atau program yang dianggap tidak sesuai dengan rencana yang telah di tetapkan, ayat (2). Pemerintah wajib menindak lanjuti dari laporan masyarakat yang di sertai dengan data dan informasi yang akurat, ayat (3). Mekanisme penyampaian dan tindak lanjut dari laporan masyarakat di atur dalam peraturan daerah (Perda).

Pasal 44 ayat (1) disebutkan bahwa: masyarakat dan pemangku kepentingan berhak melaporkan program dan kegiatan dan yang dianggap tidak sesuai dengan rencana yang telah di tetapkan, ayat (2). Pemerintah wajib menindaklanjuti laporan dari masyarakat dan pemangku kepentingan yang di sertai dengan data dan informasi yang akurat, ayat (3). Mekanisme penyampaian dan tindaklanjut dari laporan masyarakat dan pemangku kepentingan di atur dalam peraturan daerah (Perda).

87

BAB-8. MERUMUSKAN HASIL KP REGIONAL DAN LINTAS-SEKTOR

MEMPERSIAPKAN BAHAN KE DEPKUMHAM


Setelah proses diskusi intensif selesai, maka draft kebijakan yang dihasilkan perlu diperiksa kembali secara keseluruhan untuk menjamin adanya konsistensi. Pemeriksaan dilakukan oleh Departemen Hukum dan HAM. Sebelum masuk ke Depkumham, Tim Bangda melakukan pembahasan interdep dan pemaparan di hadapan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), yang hasilnya kemudian diolah Tim Bangda dengan melibatkan Tim CSO/FPPM. Kemudian, sekali lagi dilakukan pembahasan interdep dan masukan-masukannya diolah Tim Bangda dengan kembali melibatkan Tim CSO/FPPM. Untuk mempertajam RPP, dilakukan pembahasan oleh Tim Bersama dengan mengundang berbagai departemen terkait dalam sebuah pertemuan yang disebut rapat konsinyering selama dua hari. Setelah pertemuan ini, dirumuskan draft RPP untuk dilaporkan kepada Mendagri, sekaligus meminta surat pengantar, untuk kemudian diserahkan kepada Depkumham. Setelah pemeriksaan oleh Depkumham, proses akan berlanjut ke Sekretariat Negara. Hasil akhirnya adalah penandatanganan RPP oleh Presiden Republik Indonesia sebagai bentuk pengesahan RPP menjadi PP yang kemudian akan dikembalikan ke Setneg untuk diproses secara administratif. Setneg akan menyerahkan dokumen PP kepada Mendagri, dan selanjutnya kembali kepada Ditjen Bangda untuk proses sosialisasi kepada publik. Apabila diperlukan, pihak Depkumham atau Setneg akan melakukan pertemuan interdep untuk proses harmonisasi dan pemeriksaaan konsistensi RPP. Pemeriksaan konsistensi yang dilakukan oleh Depkumham adalah:

Konsistensi substansi yang terdapat dalam pasal-pasal kebijakan yang disusun; Konsistensi istilah yang digunakan; Konsistensi antara regulasi yang sedang dibuat dengan yang sudah diundangkan terlebih dahulu.

Pemeriksaan ini penting dilakukan untuk memastikan tidak terjadi inkonsistensi dalam kebijakan yang tengah disusun. Perbedaan arti RKPD dalam UU No. 25 Tahun 2004 dan UU No. 32

88

BAB-8. MERUMUSKAN HASIL KP REGIONAL DAN LINTAS-SEKTOR

Tahun 2004 memberikan pelajaran tentang pentingnya pemeriksaan konsistensi. UU No 25 Tahun 2004 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan RKPD adalah Rencana Kerja Pemerintah Daerah, sedangkan dalam UU No 32 Tahun 2004 RKPD diartikan sebagai Rencana Kerja Pembangunan Daerah. Perbedaan istilah itu membingungkan dan menimbulkan multitafsir dalam pengimplementasian kebijakan di daerah. Sedangkan contoh inkonsistensi substansi terjadi dalam proses pengesahan RPJMD. UU No. 25 Tahun 2004 menyebutkan bahwa RPJMD ditetapkan melalui peraturan kepala daerah, sedangkan UU No. 32 Tahun 2004 mengatur bahwa RPJMD dikukuhkan dengan peraturan daerah. Kasus inkonsistensi semacam ini tentu saja diharapkan tidak terulang di masa mendatang.

KEGIATAN PASCA KP OLEH TIM CSO/FPPM


Sebagian besar proses penyusunan RPP pasca-KP, tidak dapat diikuti CSO secara langsung karena terjadi di dalam mekanisme dan prosedur lembaga eksekutif. Namun, Tim Bangda ternyata masih melibatkan Tim CSO/FPPM dalam mengolah hasil-hasil pembahasan interdep dan masukan Mendagri. Selama proses terjadi di dalam internal lembaga eksekutif, hal yang dapat dilakukan Tim CSO/FPPM adalah berupaya secara terus-menerus memiliki informasi mengenai perkembangan status RPP tersebut. Dalam kondisi seperti ini, FPPM melakukan beberapa strategi memperbaharui informasi dan mengawal proses dari luar. Lobby ke pengambil keputusan Pada saat proses tidak bisa diikuti secara langsung, maka lobby menjadi satu pilihan strategi yang bisa dilakukan. Lobby dilakukan kepada aktor-aktor strategis yang memiliki posisi kunci sebagai pengambil keputusan. Pemahaman mengenai peta politik Proses pembuatan kebijakan tidak terlepas dari proses politik. Untuk itu, pemahaman atas peta politik yang ada perlu dilakukan. Satu hal yang perlu dihindari, jangan sampai proses politik dan

89

BAB-8. MERUMUSKAN HASIL KP REGIONAL DAN LINTAS-SEKTOR

kehendak politik mengabaikan proses penyusunan kebijakan yang telah berjalan secara partisipatif. Mengembangkan opini publik Menggalang opini publik, baik melalui mailing list maupun media massa adalah satu strategi yang bisa dilakukan. Opini yang disampaikan secara terus-menerus akan menyadarkan publik bahwa proses penyusunan kebijakan belum selesai dan perlu terus menerus dimonitor. Secara umum RPP sudah mengakomodir beberapa isu yang dimasukkan oleh kalangan masyarakat sipil. Namun saat RPP ini belum disahkan menjadi PP, maka perlu tetap dipantau apakah masukan tersebut akan diakomodir atau malah kemudian menjadi hilang.

90

BAB-9 MONITORING DAN EVALUASI KONSULTASI PUBLIK

BAGIAN-5 PENGEMBANGAN SISTEM DUKUNGAN KONSULTASI PUBLIK

91

BAB-9 MONITORING DAN EVALUASI KONSULTASI PUBLIK

92

BAB-9 MONITORING DAN EVALUASI KONSULTASI PUBLIK

BAB-9

Monitoring dan Evaluasi Konsultasi Publik

Monitoring dan Evaluasi Proses KP Panduan dan pertanyaan kunci monitoring proses KP Temuan dalam proses KP RPP- T2CP2EPRPD Monitoring dan Evaluasi Hasil KP Indikator dan tolok ukur monitoring dan evaluasi substansi Pertanyaan kunci monitoring dan evaluasi substansi Monitoring dan Evaluasi Faktor Pendukung Faktor pendukung Faktor pembatas Konsep Monitoring dan Evaluasi Partisipatif Monev berdasarkan usulan yang diterima dan ditolak Monev berdasarkan isu/gagasan yang diterima dan ditolak

93

BAB-9 MONITORING DAN EVALUASI KONSULTASI PUBLIK

MONITORING DAN EVALUASI PROSES KP


alah satu kegiatan penting dalam rangkaian Konsultasi Publik (KP) adalah monitoring dan evaluasi. Dalam penyusunan RPP-T2CP2EPRPD, monitoring dan evaluasi yang dilakukan Tim CSO/FPPM dilakukan dalam dua tahap. Pertama, selama berlangsungnya rangkaian proses konsultasi publik. Kedua, setelah KP selesai. Tujuan utama dari pengawalan KP ini adalah untuk menjaga proses KP yang partisipatif dan memastikan isu-isu strategis diakomodir dalam penyusunan kebijakan. Karena itu, kegiatan monitoring dilakukan secara simultan dan paralel dengan tahapan KP. Pada setiap tahap kegiatan, Tim Bersama mengadakan pertemuan internal untuk melakukan evaluasi sekaligus merefleksikan kegiatan. Monitoring dan evaluasi dilakukan berdasarkan panduan pertanyaan kunci dan dikembangkan sebagai bahan perbaikan fasilitasi kegiatan KP berikutnya. Beberapa pertanyaan kunci yang dapat diajukan sebagai evaluasi adalah, "Apakah proses KP telah partisipatif? Apa indikasinya?". Selain itu evaluasi juga digunakan untuk mengidentifikasi kelemahan proses, solusi perbaikan proses, serta peluang-peluang di tahapan KP selanjutnya. Pertanyaan-pertanyaan kunci itu kemudian disusun dalam format tabel, seperti yang tertera dalam Tabel 9.1. Tabel-9.1 Format Monitoring dan Evaluasi Proses KP
Pertanyaan Kunci A. PROSES Apakah peserta yang hadir representatif? Apakah semua peserta diberi kesempatan yang sama untuk berbicara? Apakah ada peserta yang terlihat dominan? Bagaimana pengambilan keputusan dilakukan? Apa pembelajaran dari tahapan ini? Ya Tidak Keterangan

94

BAB-9 MONITORING DAN EVALUASI KONSULTASI PUBLIK

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi disimpulkan bahwa secara umum proses KP termasuk dalam kategori cukup partisipatif. Hal itu bisa terindikasi dari:

Representasi peserta: peserta mewakili berbagai unsur yang terkena dampak dari penyusunan regulasi, baik yang terkena dampak negatif maupun dampak positif. Peluang keterlibatan peserta: peserta diberi kesempatan yang sama untuk menyampaikan aspirasi dan pendapatnya. Proses pengambilan keputusan: para pemangku kepentingan secara bersama-sama ikut terlibat dalam pengambilan keputusan.

Faktor penting yang mendorong terciptanya proses partisipatif adalah keterbukaan Bangda Depdagri sebagai pemrakarsa RPP ini. Keterbukaan ini ditandai oleh kesediaan Bangda Depdagri untuk melibatkan Tim CSO/FPPM untuk terlibat aktif dalam proses penyusunan RPP. Selain itu, Bangda Depdagri juga berkomitmen untuk melibatkan para pemangku kepentingan. Meski demikian, harus diakui bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan KP RPP-T2CP2EPRPD masih bersifat elitis. Peserta yang terlibat dalam KP ini masih sebatas pada calon pengguna kebijakan, CSO, dan akademisi. Pilihan-pilihan metode yang memungkinkan masyarakat memberikan masukan atas draft RPP, semisal memasang draft RPP di surat kabar untuk mendapatkan feed back dari masyarakat luas tidak dilakukan.

MONITORING DAN EVALUASI HASIL KP


Pengawalan terhadap substansi RPP dilakukan untuk memastikan isu-isu strategis masuk dalam kebijakan yang sedang disusun. Isu-isu strategis yang telah diakomodasi dalam draft kebijakan harus terus dikawal agar tidak hilang pada penyusunan draft berikutnya. Ini dilakukan mengingat terdapat beberapa tahapan KP yang krusial dan berpotensi "menghilangkan" isu strategis yang diperjuangkan, terutama pada tahap finalisasi masukan. Selain terhadap proses, monitoring dan evaluasi juga dilakukan terhadap substansi KP. Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk

95

BAB-9 MONITORING DAN EVALUASI KONSULTASI PUBLIK

menelaah setiap masukan dari peserta untuk kemudian dilakukan penyepakatan, apakah diterima atau ditolak. Tim CSO/FPPM juga memantau perkembangan diskusi isu-isu strategis dalam proses penyusunan RPP ini. Indikator keberhasilan dicirikan dari jumlah isu strategis yang diterima dalam setiap tahap penyusunan RPP. Sedangkan pada tahap perumusan, indikator keberhasilannya adalah jumlah usulan Tim CSO/FPPM yang diakomodir dalam draft RPP. Pada tahap KP regional dan lintas-sektor, indikator keberhasilan antara lain ditunjukkan oleh keberadaan masukan dari peserta yang memunculkan kembali isu strategis yang belum terakomodasi pada tahap sebelumnya. Monitoring ini juga berfungsi bagi tim CSO/FPPM sebagai pengawalan agar isu-isu strategis yang belum terakomodasi dalam draft semaksimal mungkin dapat terakomodasi dalam draft final. Beberapa pertanyaan kunci yang dilontarkan dalam monitoring dan evaluasi hasil KP dapat dilihat dalam Tabel-9.2. Tabel-9.2 Format Monitoring dan Evaluasi Hasil KP
Pertanyaan Kunci B. SUBSTANSI Apakah isu-isu strategis bisa diakomodasi dalam draft kebijakan? Jika ada isu strategis yang tidak terakomodasi, apa penyebabnya? Apakah strategi yang dijalankan cukup efektif untuk memperjuangkan isu strategis? Apa strategi yang bisa dilakukan untuk tahapan selanjutnya? Apa pembelajaran dari tahapan ini? Ya Tidak Keterangan

Dari monitoring dan evaluasi tercatat isu-isu yang sulit diakomodir dalam RPP. Isu pro-poor dan gender adalah dua isu yang mendapat pertentangan keras. Kedua isu tersebut sangat krusial dan menjadi persoalan bagi kelompok rentan. Karena itu, Tim CSO/FPPM berpendapat bahwa dalam konteks memenuhi hak-hak dasar warganegara, pemerintah juga harus memperhatikan kelompok

96

BAB-9 MONITORING DAN EVALUASI KONSULTASI PUBLIK

rentan. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menyisipkan isu pro-poor dan pro-gender ke dalam peraturan perundang-undangan sebagai bentuk keberpihak pemerintah terhadap kelompok rentan. Sementara itu Tim Bangda Depdagri beranggapan bahwa pemerintah harus berada dalam posisi netral. Pemerintah tidak memihak kelompok masyarakat manapun. Karena itu peraturan yang dikeluarkan pemerintah tidak perlu menyatakan secara eksplisit memihak kelompok mana.

MONITORING DAN EVALUASI FAKTOR PENDUKUNG


Monitoring dan evaluasi terhadap pendukung pelaksanaan KP meliputi beberapa aspek, antara lain tim pendukung, perlengkapan dan sarana, serta kesiapan tim memanfaatkan KP. Secara khusus dari pengalaman penyusunan RPP-T2CP2EPRPD, Tim CSO/FPPM melakukan pemetaan faktor pendukung dan penghambat yang meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dimaknai sebagai faktor-faktor pendukung dari Tim CSO/FPPM. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor penunjang yang berasal dari luar Tim CSO/FPPM. Berbagai faktor internal dan eksternal saling berkaitan, dan konsekuensi adalah tidak semua isu strategis bisa terakomodasi dalam RPP. Selama memfasilitasi proses KP, Tim CSO/FPPM mendapatkan sejumlah dukungan yang bermanfaat dalam membantu penyelenggaraan proses KP. Dukungan tersebut antara lain berupa: 1. Pengkompilasi yang andal. Pengkompilasi adalah aktor penting dalam proses KP. Tanpa kehadirannya perkembangan draft kebijakan dari draft pertama, kedua, ketiga dan seterusnya tidak akan terekam dengan baik. Pada setiap diskusi (apa pun tahapannya), pengkompilasi akan menyarikan inti diskusi dan memasukkannya ke dalam draft kebijakan yang sedang disusun. Sepintas, pekerjaan seorang pengkompilasi bersifat teknis semata. Namun sesungguhnya pekerjaannya meliputi aspek teknis dan substantif. Pengkompilasi harus bisa memahami substansi draft

97

BAB-9 MONITORING DAN EVALUASI KONSULTASI PUBLIK

kebijakan yang sedang disusun dengan baik. Dia harus jeli memilah mana yang penting dan mana yang tidak penting untuk dijadikan inti sari dari setiap diskusi. 2. Komite penyelenggara (organizing committee) yang handal. Keberadaan komite penyelenggara yang andal teryata mempengaruhi keberhasilan penyelenggaraan KP regional dan lintas-sektor. Rangkaian kegiatan, dari mulai dari persiapan sampai pelaksanaan KP, dikelola dengan baik oleh komite ini. 3. Sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana ini mendukung kesuksesan proses KP. Misalnya, dalam hal penggunaan LCD. Dengan bantuan LCD, semua perhatian dari peserta terfokus dan terkonsentrasi pada apa yang ditampilkan oleh alat ini. Kondisi ini bertolak belakang ketika pada bagian tertentu tim tidak dapat mempergunakan alat ini. 4. Kesiapan Tim CSO/FPPM. Kesiapan Tim CSO/FPPM ditandai dengan terbentuknya tim yang solid dan mampu merumuskan tujuan yang hendak dicapai melalui keterlibatannya dalam proses penyiapan kebijakan. Kesiapan tim CSO/FPPM merupakan respon positif atas peluang yang sudah dibuka oleh pemerintah. 5. Spesialisasi yang berbeda dari masing-masing anggota Tim CSO. Anggota tim CSO/FPPM berasal dari lembaga yang berbeda dengan spesialisasi isu yang berbeda pula. Kondisi ini cukup menguntungkan karena di antara mereka bisa saling melengkapi. Sehingga setiap anggota tim yang kompeten dengan isu yang sedang dibahas bisa melakukan pembahasan lebih mendalam, dan didukung oleh anggota tim yang lain. Selain memetakan faktor pendukung, tim warga/CSO juga menyadari ada beberapa keterbatasan yang terjadi selama proses KP RPP ini. Keterbatasan tersebut dipicu oleh faktor internal dan eksternal, seperti:

98

BAB-9 MONITORING DAN EVALUASI KONSULTASI PUBLIK

1. Tim CSO/FPPM masuk di tengah proses penyusunan draft. Undangan bagi Tim CSO/FPPM untuk terlibat dalam proses penyusunan RPP datang ketika draft RPP sudah sampai di Draft IV. Oleh karena itu, upaya mewarnai RPP dengan isu-isu startegis lebih bersifat reaktif terhadap draft yang sudah ada. Kondisi akan berbeda jika Tim CSO/FPPM mengikuti proses dari awal. Kesempatan untuk mewarnai draft kebijakan dengan isu strategis tentunya akan lebih luas. 2. Keterbatasan kehadiran anggota Tim CSO/FPPM. Padatnya jadwal penyusunan RPP mengakibatkan tidak semua kegiatan bisa dihadiri oleh seluruh anggota Tim CSO/FPPM. Hal ini disebabkan aktivitas masing-masing anggota Tim CSO/FPPM yang relatif padat. Terlebih, pada kenyataan ada beberapa proses KP yang dilakukan secara simultan. 3. Persiapan yang tidak optimal dalam menghadapi KP. Harus diakui bahwa proses konsolidasi dan transfer informasi antara tim CSO/FPPM dengan peserta KP belum berjalan optimal. Indikasinya bisa dilihat dari masukan yang ada. Tidak semua wilayah memberikan masukan untuk isu-isu strategis yang ingin dimunculkan. Pelajaran yang bisa diambil dari proses penyusunan RPP adalah belum optimalnya persiapan Tim CSO/FPPM dalam menghadapi tahapan KP. Hal itu disebabkan terbatasnya waktu persiapan kegiatan, termasuk tidak memberikan draft RPP sebelum hari pelaksanaan KP. Selain itu, upaya untuk mencari spokes person dan berbagi informasi juga tidak berjalan optimal. Akibatnya tidak semua daerah memunculkan isu-isu strategis. Jika saja semua daerah menyuarakan hal yang sama, hal tersebut akan memudahkan Tim CSO/FPPM untuk memperjuangkan isu tersebut dalam tahapan selanjutnya.

99

BAB-9 MONITORING DAN EVALUASI KONSULTASI PUBLIK

KONSEP MONITORING DAN EVALUASI PARTISIPATIF


Para peserta memberikan masukan dan saran terhadap penyelenggaraan KP. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari evaluasi KP. Evaluasi oleh peserta dilakukan dengan mengisi lembar evaluasi yang memuat beberapa pertanyaan yang terkait dengan aspek teknis dan substanstif dari proses KP. Pada umumnya peserta menganggap KP ini bermanfaat bagi mereka. KP dapat menjadi salah satu media untuk menyampaikan usulan atau permasalahan yang ada di daerah kepada Pemerintah Pusat. Namun beberapa peserta menilai bahwa pembicara dari Pemerintah Pusat terkesan mendominasi perdebatan atau "memaksakan" keinginannya daripada mendengarkan aspirasi masyarakat di daerah. Beberapa catatan dari peserta yang cukup penting untuk diperhatikan adalah perlunya representasi peserta dan penyebaran dokumen sebelum pelaksanaan KP. Peserta mengusulkan agar perwakilan kelompok masyarakat yang dilibatkan lebih lebih banyak dan mewakili berbagai kelompok. Misalnya dengan melibatkan media massa. Peserta juga mengharapkan agar bahan-bahan KP disebarkan beberapa hari sebelum KP dilaksanakan.

Monitoring dan Evaluasi Berdasarkan Usulan yang Diterima dan Ditolak Monitoring dan evaluasi tidak berhenti pada pemantauan aspek proses dan substansi pelaksanaan KP. Monitoring dan evaluasi juga dilakukan pada aspek efesiensi, dampak, dan pencapaian tujuan KP secara keseluruhan. Dalam kasus, perumusan RPP-T2CP2EPRPD evaluasi hasil dari proses KP belum dapat dilakukan secara keseluruhan. Evaluasi yang dilakukan adalah mengidentifikasi secara kuantitas jumlah masukan yang diterima atau ditolak dalam KP lintas-sektor. Tahap ini menjadi penting karena draft naskah kebijakan yang dirumuskan melalui KP lintas-sektor dapat dikatakan sebagai draft naskah final sebelum diselesaikan berjenjang melalui birokrasi pemerintahan.

100

BAB-9 MONITORING DAN EVALUASI KONSULTASI PUBLIK

Teknik untuk menghitung jumlah masukan yang diterima dan ditolak dituliskan dalam bentuk tabel. Hasil lengkap tabulasi usulan yang diterima dan ditolak pada perumusan KP lintas-sektor dapat dilihat pada Tabel Tabulasi Usulan Diterima dan Ditolak pada Perumusan Masukan Konsultasi Publik Lintas Departemen yang terlampir pada buku ini.

Monitoring dan Evaluasi Berdasarkan Isu/Gagasan yang Diterima dan Ditolak Penelusuran capaian juga dilakukan dengan cara mengidentifikasi target isu-isu yang disepakati pada pasal-pasal dalam kebijakan yang dirumuskan. Seperti diungkapkan sebelumnya, dalam keterlibatannya pada perumusan RPP-T2CP2EPRPD, Tim CSO/ FPPM memiliki target minimal. Perlu ditekankan bahwa jumlah pasal yang mengakomodasi isu-isu yang disepakati, bukan jaminan bahwa RPP yang dirumuskan telah sesuai dengan target yang dikehendaki, jika isu-isu tersebut tidak sesuai dengan penempatannya. Dari penelusuran terhadap hasil KP ini, diketahui bahwa secara kuantitas terdapat 47 bagian dari RPP memuat isu-isu strategis yang telah ditetapkan Tim CSO/FPPM. Meski demikian angka itu tidak menunjukkan tingkat keberhasilan Tim CSO/FPPM dalam mengadvokasi isu-isu. Karena yang lebih diutamakan adalah ketetapatan penempatan isu secara substansial dalam suatu kebijakan. Hasil lengkap dari penelusuran capaian isu dalam RPP-T2CP2EPRPD dapat dilihat dalam Tabel Penelusuran Capaian Isu dalam RPPT2CP2EPRPD yang terdapat dalam lampiran buku ini. Dari gambaran tabulasi tersebut diketahui bahwa lebih banyak masukan yang ditolak daripada yang diterima. Terdapat beberapa alasan mengapa suatu masukan ditolak. Alasannya yaitu masukan bersifat redaksional atau tidak substansi, masukan tidak berkualitas, dan Tim Bangda Depdagri sebagai pengambil kebijakan tidak menyetujui masukan tersebut.

101

BAB-9 MONITORING DAN EVALUASI KONSULTASI PUBLIK

CONTOH METODE DAN FORMAT EVALUASI CAPAIAN KONSULTASI PUBLIK (KASUS PENYUSUNAN RPP T2CP2EPRPD)
ASPEK-ASPEK EVALUASI Mengidentifikasi capaian kerja dengan rencana merupakan teknik sederhana dalam melakukan evaluasi atau penilaian suatu kegiatan. Dalam kasus perumusan peraturan perundang-undangan, identifikasi capaian dengan rencana dapat dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Dalam hal, keterlibatan warga dalam perumusan kebijakan, evaluasi mencakup aspek relevansi, efektivitas, efisiensi, dampak dan keberlanjutan (sustainability). Berikut adalah pertanyaan kunci yang dipergunakan dalam mengevaluasi keterlibatan warga dalam perumusan kebijakan: 1. Aspek Relevansi - Bagaimana perumusan desain konsultasi publik? - Apakah masalah yang akan diselesaikan oleh kebijakan? - Apakah tujuan dan hasil konsultasi publik? - Bagaimana persiapannya? - Bagaimana kualitas pelaksanaannya? - Bagaimana ketersediaan input? 2. Aspek Efektivitas - Apakah tujuan dari konsultasi publik bisa dicapai? - Apa hasil yang sudah dicapai dari konsultasi publik kebijakan? - Apa hasil yang tidak direncanakan dari konsultasi publik? - Apakah manfaat dari kebijakan sudah dirasakan kelompok target? - Apakah seimbang pembagian peran antara pembuat kebijakan dan warga? 3. Aspek Efisiensi - Bagaimana penggunaan sumberdaya dalam pembuatan produk kebijakan? - Bagaimana manajemen proses perumusan kebijakan? - Bagaimana manajemen tenaga (Tim inti dan sekretariat), informasi, fasilitas, dana, dan resiko? - Bagaimana alur konstribusi dari para mitra yang terlibat? 4. Aspek Dampak - Seberapa jauh tujuan dari konsultasi publik dicapai? - Bagaimana dampak sosial dan politik dari kebijakan? - Apakah ada manfaat selain rencana penyelenggaraan konsultasi publik? - Bagaimana penerimaan kelompok target terhadap kebijakan yang dihasilkan? 5. Aspek Keberlanjutan - Apakah proses konsultasi publik berlanjut untuk perumusan kebijakan lainnya? - Bagaimana rasa memiliki kelompok target terhadap kebijakan yang dihasilkan? - Bagaimana komitmen pengambil kebijakan terhadap penggunaan metode konsultasi publik dalam perumusan kebijakan? - Bagaimana pendanaan konsultasi publik untuk perumusan kebijakan lainnya?

102

BAB-10. PENGEMBANGAN KERJASAMA DAN JEJARING

BAB-10

Pengembangan Kerjasama dan Jejaring

Kerjasama untuk Membangun Ruang Publik Mengapa Pemerintah dan CSO Membangun Kerjasama Bagaimana Proses Membangun Kerjasama Kerjasama di Lingkup Masyarakat Sipil Jejaring di Kalangan Ornop Jejaring dengan Kelompok Masyarakat Basis Jejaring dengan Kalangan Akademisi Kerjasama di Lingkup Eksekutif Daerah dan Pusat Kerjasama di Lingkup Lembaga-lembaga Internasional/Donor Tantangan k eD epan ke Depan Memperkuat Jejaring dengan Kelompok Masyarakat Basis Memperluas Jejaring dengan Menembus Batasan Geografis

103

BAB-10. PENGEMBANGAN KERJASAMA DAN JEJARING

KERJASAMA UNTUK MEMBUKA RUANG PUBLIK


ebagian kalangan beranggapan, kunci utama pelibatan publik dalam proses penyusunan RPP-T2CP2EPRPD adalah adanya kehendak politik (political will) dari pemerintah sebagai pemegang kewenangan. Pandangan ini merujuk pada kerangka kebijakan pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia yang menempatkan proses penyusunan RPP sebagai kewenangan eksekutif13. Kehendak politik untuk membuka diri seperti ini merupakan peluang sekaligus tantangan, tidak saja bagi eksekutif melainkan juga bagi pihak-pihak lainnya, terutama kalangan CSO. Sementara itu, kalangan lain beranggapan bahwa partisipasi masyarakat dalam proses pembentukan peraturan perundangundangan menjadi suatu keharusan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Di sisi lain, konstitusi mengamanatkan perubahan pendekatan sistem pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi. Pemerintah kemudian dituntut untuk mengembangkan kebijakan, perencanaan pembangunan, dan pelayanan publik yang sesuai dengan aspirasi masyarakat.

Mengapa Pemerintah dan CSO Membangun Kerjasama Faktor kunci yang memungkinkan terjadinya kerjasama antara CSO dan pemerintah dalam penyelenggaraan Konsultasi Publik (KP) penyusunan RPP-T2CP2EPRPD adalah karena Ditjen Bina Bangda Depdagri bersedia membuka keran dialog dengan masyarakat. Faktor kunci lainnya adalah bertemunya kepentingan dari para pihak yang terlibat dalam penyusunan RPP ini, meskipun masing-masing pihak memiliki kepentingan terhadap muatan maupun proses penyusunan RPP ini. Ada satu titik yang ternyata mampu mempertemukan berbagai kepentingan itu dan menjadi perekat kerjasama di antara kedua belah pihak. Melalui kerjasama ini, eksekutif berpeluang untuk meningkatkan kualitas substansi RPP. Diharapkan kelak dalam penerapannya, regulasi
___________________________________________

Lihat Pasal 53 UU No. 10/2004 tentang Tata Cara Penyusunan Peraturan Perundang-undangan.
13

104

BAB-10. PENGEMBANGAN KERJASAMA DAN JEJARING

ini mendapat dukungan penuh dari berbagai stakeholders . Sedangkan bagi kalangan CSO ini merupakan peluang untuk menyampaikan aspirasi dan sejumlah masukan. Diharapkan masukanmasukan itu bisa diakomodir dalam penyusunan kebijakan. Kesempatan ini dipergunakan pula oleh kalangan CSO untuk meyakinkan pemerintah bahwa penyediaan ruang publik akan menjadi suatu mekanisme yang lebih positif. Kesempatan ini sekaligus juga merupakan ajang pembuktian kemampuan CSO dalam memberikan alternatif solusi dan masukan-masukan yang konstruktif.

Bagaimana Proses Membangun Kerjasama Tantangan terbesar bagi kedua belah pihak (pemerintah dan kalangan masyarakat sipil) dalam membangun kerjasama adalah kemampuan untuk menumbuhkan rasa saling percaya (trust). Tidak dapat dipungkiri bahwa relasi antara eksekutif dengan kalangan CSO masih belum terlalu baik. Satu sama lain masih menyimpan kecurigaan sehingga berkembanglah persepsi-persepsi yang negatif. Dengan latar belakang relasi seperti itu, tidak mengherankan jika nuansa saling curiga sempat terasa pada awal proses. Namun rupanya kehendak untuk saling bekerja sama relatif lebih kuat, sehingga pada akhirnya muncul rasa saling percaya. Keseluruhan proses mulai dari adanya kehendak hingga tumbuh rasa percaya dan kerjasama-- tidak lepas dari peran Tim CSO/ FPPM dalam memfasilitasi komunikasi dan hubungan dengan

105

BAB-10. PENGEMBANGAN KERJASAMA DAN JEJARING

berbagai pihak yang terlibat. Dengan berlandaskan kemampuan komunikasi, hubungan-hubungan itu bisa difasilitasi dengan baik . Dalam proses penyusunan kebijakan, kalangan eksekutif seringkali mengundang keterlibatan pakar (baik pakar yang memiliki latar belakang akademis maupun CSO) untuk menjadi anggota tim penyusunan kebijakan di lembaganya. Hal terjadi pula ketika pihak Ditjen Bina Bangda Depdagri mengundang keterlibatan Tim CSO/ FPPM dalam proses penyusunan RPP-T2CP2EPRPD. Kerjasama ini tidak tidak terlepas dari pengalaman kerjasama sebelumnya antara FPPM dan Bangda Depdagri dalam penyusunan SEB Musrenbang di tahun 200514. Pada saat penyiapan naskah draft SEB tersebut, ada tim kecil dari FPPM yang ikut dalam diskusi-diskusi tim bersama. Proses menjaring masukan dari publik pun difasilitasi oleh FPPM melalui penyelenggaraan 4 pertemuan regional dan 1 pertemuan nasional. Dalam setiap pertemuan regional, diundang stakeholders yang merupakan perwakilan dari pihak Pemda, akademisi daerah, dan kalangan CSO. Pada saat terlibat dalam proses penyusunan SEB ini, FPPM juga berhasil menggalang dukungan dari berbagai lembaga donor/ internasional seperti Perform Project-USAID, GTZ, TIFA, dan Ford Foundation. Lembaga-lembaga internasional tersebut memberikan dukungan dana dan tenaga ahli kepada Tim CSO/FPPM yang saat

___________________________________________

SEB 2004 yang berlaku untuk proses Musrenbang tahun 2005. Pengalaman FPPM dalam mendukung proses penyusunan SEB telah dimuat dalam beberapa terbitan, baik terbitan FPPM maupun pihak lain.
14

106

BAB-10. PENGEMBANGAN KERJASAMA DAN JEJARING

itu terlibat. Dukungan tersebut ternyata telah memperkaya diskusidiskusi yang terjadi, antara lain dengan perbandingan praktekpraktek serupa dari negara-negara lain. Dari kronologis tersebut, dapat disimpulkan bahwa faktor utama keterlibatan Tim CSO/FPPM dalam penyusunan RPP adalah karena adanya track record kerjasama sebelumnya. Rupanya pihak pemerintah (Bangda) melihat kerjasama tersebut sebagai hal positif karena fasilitasi yang dilakukan Tim CSO/FPPM dapat memberikan kontribusi ide dan saran-saran terhadap naskah draft SEB. Secara substansial dapat dikatakan bahwa naskah SEB yang dihasilkan dianggap cukup baik.

KERJASAMA DI LINGKUP MASYARAKAT SIPIL


Jejaring di Kalangan Ornop Dari sekian banyak kalangan Ornop, akademisi, atau pakar yang diundang dalam suatu proses penyusunan kebijakan, harus diakui tidak semuanya memiliki kemampuan atau kehendak untuk melibatkan publik secara lebih luas dalam proses penyusunan kebijakan. Perlu ada sikap tulus, legowo, serta keberanian menanggung konsekuensi ketika membuka informasi sekaligus mengundang keterlibatan publik yang lebih luas. Ada beberapa jaringan atau koalisi Ornop yang berantakan karena tidak ada sikap legowo dan tulus ikhlas dalam bekerjasama. Alih-alih bersatu menyusun kekuatan dalam mengusung kepentingan publik, yang terjadi malah sikap saling menonjolkan diri dan keinginan publikasi eksistensi diri. Tentu saja hal ini hanya menjadi kontraproduktif bagi proses membuka ruang publik dalam kerangka demokratisasi. Setelah adanya kemauan itu, barulah perlu mengembangkan kemampuan untuk memungkinkan terjadinya keterlibatan publik dalam arti luas, yaitu di tingkat daerah dan nasional. Karena kita sedang membangun proses deliberasi untuk suatu penyusunan kebijakan tingkat pusat, maka jejaring aspirasi di pusat dan daerah perlu dikembangkan agar benar-benar memenuhi kriteria terbuka, partisipatif, deliberatif, dan pro-poor.

107

BAB-10. PENGEMBANGAN KERJASAMA DAN JEJARING

Dalam proses penyusunan RPP ini, Tim CSO/FPPM mengundang keterlibatan banyak pihak secara lebih luas. Tim CSO/FPPM juga menawarkan proses KP untuk membuka penggalangan aspirasi publik yang lebih luas di tingkat pusat maupun daerah. Apalagi Tim CSO/FPPM juga merupakan jaringan nasional yang memiliki banyak mitra di tingkat daerah dan organisasi masyarakat, sehingga gagasan ini bukan merupakan hal yang sulit untuk dilaksanakan. Kesadaran tentang pentingnya memperluas ruang publik tersebut mendorong keinginan FPPM untuk mempertemukan konsep yang telah dibuat oleh pemerintah pusat dengan pengalaman di tingkat lapangan dan daerah. Dari titik inilah kemudian Ornop lokal dilibatkan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses penyusunan RPP. Proses melibatkan peserta/ jaringan yang lebih luas dilakukan secara bertahap. Langkah awal yang dilakukan adalah menentukan daerah pelaksanaan KP sebagai forum yang diharapkan lebih dekat dengan pemangku kepentingan karena RPP ini akan diterapkan di daerah. Pada saat penentuan wilayah, perdebatan memang terjadi. Diskusi pada akhirnya menyepakati beberapa daerah (regional) sebagai tempat KP. Pemilihan lokasi dilakukan dengan pertimbanganpertimbangan:

Ada inisiatif yang sedang berkembang di tempat tersebut yang sejalan dengan kebijakan yang akan disusun, sehingga harapannya, inisiatif tersebut akan memperkaya proses dan substansi RPP; Ada dukungan yang kuat dari kalangan Ornop di tempat tersebut sehingga kalangan Ornop di tingkat lokal pun mengetahui proses ini dan bahkan terlibat dalam proses ini; Pertimbangan teknis ekonomis, seperti lokasi wilayah yang mudah dijangkau dan efisien dari sisi pembiayaan (terutama transportasinya).

Berdasarkan pertimbangan tersebut disepakati lokasi penyelenggaraan KP, yaitu di Surabaya mewakili wilayah Jawa, Makassar mewakili wilayah Sulawesi-Maluku-Papua, Medan mewakili wilayah Sumatera, serta Denpasar mewakili wilayah Bali-Nusa Tenggara-Kalimantan.

108

BAB-10. PENGEMBANGAN KERJASAMA DAN JEJARING

Jejaring dengan Kelompok Masyarakat Basis Pertanyaannya yang penting dalam merancang proses KP penyusunan RPP adalah: Bagaimana pelibatan warga masyarakat dalam proses konsultasi publik yang benar-benar terbuka, deliberatif, partisipatif dan pro-poor? Bagaimana caranya agar publik yang dimaksudkan tidak bersifat elitis hanya di kalangan pakar, akademisi, dan tokoh-tokoh Ornop dan organisasi yang tidak berakar di masyarakat?. Pertanyaan ini memiliki banyak aspek: kemauan, kemampuan (termasuk penguasaan metode dan teknologi pendukung), serta beberapa kondisi obyektif yang tak dapat dihindari. Salah satu kondisi yang menjadi tantangan yang cukup besar dalam membangun jejaring aspirasi masyarakat dalam penyusunan kebijakan pemerintah pusat adalah jumlah penduduk yang besar dan sebagian besar berada di perdesaan serta keluasan wilayah Indonesia yang berupa negara kepulauan. Keberuntungan berpihak kepada FPPM selaku jaringan yang bersifat nasional dan memiliki beratus organisasi lokal yang menjadi anggotanya. Organisasi lokal ini seringkali berbagi informasi dan pengalaman keterlibatan mereka dalam pendampingan implementasi suatu kebijakan. Informasi-informasi seperti inilah yang menjadi bekal berharga untuk proses penyusunan RPP. Pengalamanpengalaman tersebut menjadi masukan yang berharga dalam substansi naskah RPP. Setelah lokasi penyelenggaraan KP ditetapkan, barulah disepakati proses rekruitmen peserta KP daerah (regional). Di setiap lokasi KP inilah direncanakan agar terjadi perluasan jejaring aspirasi masyarakat. Dalam setiap KP di daerah dikembangkan kerjasama dengan Ornop lokal yang berperan sebagai panitia lokal dan bertanggung jawab mengundang representasi pemangku kepentingan di wilayah tersebut sebagai peserta KP. Keterlibatan Ornop lokal ternyata cukup efektif mengundang partisipasi dari Ornop lokal lain dengan jumlah yang lebih banyak. Karena Ornop yang terlibat dalam proses ini terlibat dalam pendampingan komunitas, maka keterlibatan mereka diharapkan membuka akses keterlibatan bagi organisasi/kelompok berbasis komunitas. Sebagai langkah atau pengalaman awal, kontribusi

109

BAB-10. PENGEMBANGAN KERJASAMA DAN JEJARING

komunitas dalam proses KP RPP ini masih belum sempurna, namun diharapkan ke depan bisa ditemukan format yang lebih baik.

Jejaring dengan Kalangan Akademisi Pola serupa diterapkan dalam merekrut partisipan dari kalangan akademisi. Berbekal konsep jejaring, maka kalangan akademisi yang terlibat pun menjadi beragam, tidak melulu akademisi yang memiliki latar belakang perencanaan ( planning ) meskipun masih mendominasi melainkan pula telah melibatkan akademisi bidang lain, seperti hukum dan kebijakan publik. Dengan beragamnya latar akademisi yang terlibat dalam diskusi, berbagai sudut pandang keilmuan pun mempengaruhi jalannya diskusi. Pada akhirnya itu justru memperkaya substansi masukan. Ternyata dengan konsep jejaring seperti ini, diskusi berjalan dinamis. Bahkan banyak masukan-masukan dan saran-saran yang betul-betul berdasarkan situasi di daerah serta merefleksikan perkembangan yang terjadi. Pada akhirnya, proses ini bisa memperkaya substansi naskah RPP yang sedang disempurnakan.

KERJASAMA DI LINGKUP EKSEKUTIF DAERAH DAN PUSAT


Kalangan Depdagri yang terlibat langsung dalam proses KP penyusunan RPP di antaranya adalah Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Ditjen Bina Bangda), Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum (Ditjen PUM), dan Direktorat Jenderal Pemerintah Daerah (Ditjen Otda). Keberagaman komponen Depdagri yang terlibat dalam proses ini telah memberi banyak sudut pandang dan memperkaya substansi RPP. Instansi-instansi tersebut memberikan informasi mengenai kebijakan-kebijakan mereka yang sekiranya relevan dengan naskah draft kebijakan yang sedang disusun. Meski demikian, keterlibatan kalangan eksekutif pusat belum sepenuhnya memenuhi harapan yang muncul di awal kegiatan. Sebenarnya ada keinginan agar proses ini melibatkan berbagai lembaga dan instansi pemerintah pusat lainnya, seperti Bappenas,

110

BAB-10. PENGEMBANGAN KERJASAMA DAN JEJARING

Departemen Keuangan, dan instansi sektoral lainnya. Itulah sebabnya, sejak pertemuan pertama telah dilibatkan beberapa instansi pemerintah pusat lainnya, meskipun masih didominasi oleh kalangan Depdagri. Dalam penyusunan RPP ini, pelibatan lembaga dan instansi pemerintah, baik dari lingkup Depdagri maupun instansi pemerintah pusat lainnya, dipilih oleh pihak Bangda. Meskipun demikian, Tim CSO/FPPM tetap memberi masukan mengenai instansi pemerintah yang dianggap perlu dan bisa dilibatkan dalam proses KP. Diskusi keras sempat terjadi pada saat akan menentukan apakah KP lintas-sektor ini dilaksanakan sebelum atau sesudah KP regional. Pada akhirnya diputuskan bahwa KP lintas-sektor dilaksanakan sesudah KP regional. Pertimbangan atas pilihan ini adalah bahwa apa yang akan dibawa pada KP lintas-sektor telah melalui proses diskusi di daerah-daerah sehingga mengakomodasi suara daerah. Dalam proses pembuatan suatu kebijakan biasanya ada satu proses yang dinamakan proses interdepartemen (interdep). Dalam proses ini naskah draft suatu peraturan dikirim ke semua departemen, terutama departemen terkait, untuk mendapatkan masukan dan saran perbaikan. Konsultasi lintas-sektor sebenarnya merupakan perluasan dari mekanisme interdep. Apabila biasanya interdep hanya melibatkan instansi pemerintah saja, maka pada konsultasi lintassektor ini stakeholders lain juga dilibatkan dalam proses diskusi. Dalam proses penyusunan RPP ini terdapat hal yang membedakan, terutama mengenai keterlibatan pemerintahan

111

BAB-10. PENGEMBANGAN KERJASAMA DAN JEJARING

daerah. Rupanya sebelumnya, pemerintahan daerah jarang sekali dilibatkan dalam proses penyusunan kebijakan pemerintah pusat. Karena itu sejumlah delegasi dari daerah mengucapkan apresiasinya secara positif atas undangan yang mereka peroleh untuk ikut dalam proses KP ini. Keterlibatan pemerintahan daerah ini sangat penting untuk memperkaya substansi naskah RPP. Apalagi pada kenyataannya pemerintahan daerah yang kelak akan mengimplementasikan peraturan ini. Dapat dibayangkan lemahnya implementasi suatu kebijakan pusat apabila instansi daerah tidak dilibatkan dalam penyusunannya. Sebaliknya, dengan keterlibatan pemerintahan daerah dalam proses penyusunan RPP, materi muatan kebijakan dapat mengakomodasi perkembangan-perkembangan yang terjadi di daerah. Pemilihan instansi pemerintah daerah yang akan diundang pun harus dilakukan secara hati-hati. Hal ini penting agar kapasitas orang yang diundang dapat memberikan kontribusi positif pada diskusi dan substansi naskah RPP. Undangan untuk instansi daerah pada umumnya ditujukan kepada bupati/walikota. Tetapi pada kenyataannya pihak yang terlibat mayoritas berasal dari Bappeda dan dinas-dinas. Undangan yang disampaikan kepada eksekutif daerah dikirimkan oleh Bangda. Ini dilakukan agar undangan tersebut dilihat sebagai suatu undangan resmi dari pemerintah pusat, sehingga muncul semacam keharusan untuk hadir dan terlibat dalam proses KP. Peserta yang akan diundang dari instansi pemerintahan daerah diusulkan oleh Tim Bersama. Tim CSO/FPPM mengusulkan kepada Bangda untuk mengundang pemerintah daerah yang mempunyai perhatian dalam isu perencanaan pembangunan. Sedangkan pihak Bangda memilih pemerintah daerah yang sering meminta konsultasi Bangda dalam proses perencanaan daerah. Akhirnya, proses ini berhasil mengkombinasikan berbagai kalangan pemerintah daerah. Sebenarnya, untuk mencapai hasil yang maksimal, ada usulan dari instansi daerah agar naskah RPP dibagikan sebelum pelaksanaan KP. Mereka berharap mempunyai kesempatan mendiskusikan naskah RPP tersebut dengan pejabat-pejabat lain di daerahnya masing-masing.

112

BAB-10. PENGEMBANGAN KERJASAMA DAN JEJARING

Dengan demikian usulan yang disampaikan dalam KP merupakan usulan hasil diskusi pemerintahan daerah. Untuk KP lintas-sektor, peserta dari pemerintah daerah berasal dari hasil seleksi peserta-peserta yang ikut dalam KP regional. Dengan kata lain, KP regional juga merupakan kesempatan untuk mencari calon peserta dari Pemda yang akan diundang dalam proses KP lintas-sektor.

KERJASAMA DI LINGKUP LEMBAGA-LEMBAGA INTERNASIONAL/DONOR


Keterlibatan lembaga-lembaga internasional/donor dalam proses penyusunan RPP ini dapat dikatakan cukup positif. Bahkan, kelompok lembaga-lembaga internasional dapat saling mengisi. Pada awal proses KP RPP ini, lembaga-lembaga internasional/donor yang tergabung adalah lembaga-lembaga yang telah ikut dalam proses penyusunan SEB Musrenbang sebelumnya. Rupanya kesamaan isu telah menjadi titik temu lembaga-lembaga internasional/donor untuk terlibat/mendukung proses ini.

113

BAB-10. PENGEMBANGAN KERJASAMA DAN JEJARING

Lembaga internasional/donor yang terlibat dalam proses penyusunan RPP ini adalah lembaga-lembaga yang memang telah lama mendukung isu RPP, sehingga ada banyak tenaga-tenaga ahli yang juga ikut terlibat. Dalam penyusunan RPP ini kontribusi tenaga ahli ini bisa jadi lebih penting daripada sekadar dukungan pendanaan saja. Secara tidak langsung dalam proses ini telah terjadi pertukaran pengetahuan di antara berbagai pihak. Termasuk pula pertukaran pengetahuan dari para tenaga ahli dari lembaga-lembaga internasional/donor dengan pihak lainnya, terutama pihak eksekutif dan kelompok warga lainnya. Di antara lembaga-lembaga internasional/donor, ada yang disebut dengan istilah donor coordination meeting. Bentuknya mulai dari rapat koordinasi formal yang diselenggarakan oleh lembagalembaga donor bilateral dan multilateral, hingga pertemuan informal. Dalam pertemuan itu ada sekelompok lembaga internasional/donor tertentu yang sepakat untuk saling menginformasikan perkembangan programnya. Lebih sering pula kesamaan program menjadi pemicu munculnya diskusi-diskusi intensif lembaga-lembaga internasional/donor. Hal seperti itulah yang terjadi ketika lembaga-lembaga internasional/donor terlibat dalam proses RPP ini. Ditambah dengan pengalaman sebelumnya dalam proses SEB, maka dalam proses RPP ini kelompok lembaga-lembaga internasional/donor yang sama ikut diundang pula. Dalam perjalanannya kemudian, ternyata ada keterlibatan dari lembaga donor yang sebelumnya tidak terlibat. Keterlibatan lembaga donor baru tidak lepas dari perkembangan program lembaga donor yang bersangkutan. Pada saat proses penyusunan RPP ini kebetulan lembaga donor tersebut memiliki kepentingan akan isu yang dibahas. Banyaknya dukungan dari lembaga-lembaga internasional/donor menunjukan adanya suatu titik temu dari sekian banyak kepentingan lembaga-lembaga internasional/donor.

114

BAB-10. PENGEMBANGAN KERJASAMA DAN JEJARING

TANTANGAN KE DEPAN
Memperkuat Jejaring dengan Organisasi Masyarakat Tentunya tidak mungkin lebih dari 200 juta rakyat Indonesia yang tersebar di berbagai pulau, terlibat dalam proses KP yang menjadi saluran penyampaian masukan/aspirasi yang dibuka eksekutif. Karenanya, masyarakat (warga) bisa menyampaikan aspirasi dan kepentingannya melalui berbagai kelompok, organisasi, jaringan yang mereka bangun dan benar-benar memperjuangkan kepentingan anggotanya. Pertanyaan dan tantangannya adalah: Kelompok, organisasi atau jaringan masyarakat manakah yang perlu dilibatkan dalam proses KP sebuah kebijakan? Apakah jaringan petani, serikat buruh, organisasi profesi, asosiasi pengusaha, ataukah organisasi yang berakar di basis secara tradisional (organisasi keagamaan, lembaga adat, dan sebagainya)? Apakah mereka memiliki legitimasi (dukungan masyarakat/anggotanya)?. Memperluas Jejaring dengan Menembus Batasan Geografis Apakah konsultasi publik cukup dilakukan dengan format tatap muka ataukah perlu dilengkapi dengan mekanisme penyampaian masukan lain? Pertanyaan tentang siapa yang perlu dilibatkan dan pilihan kegiatan, metode, atau alat KP, penting dipertimbangkan sejak awal. Pilihan pada akhirnya tergantung pada tujuan KP, kebutuhan masukan, dan kemampuan (penguasaan teknologi, biaya/anggaran, sumberdaya manusia) yang dirumuskan oleh lembaga penyelenggara. Ini merupa-kan tantangan dalam mengembangkan inovasi alat KP ke depan, terutama bagi perumusan kebijakan tingkat pusat yang tentunya mengharapkan dukungan dari berbagai daerah secara memadai.

115

BAB-10. PENGEMBANGAN KERJASAMA DAN JEJARING

Penggunaan alat komunikasi on-line akan memberi peluang bagi pengembangan jejaring aspirasi yang lebih luas dalam penyusunan suatu kebijakan. Bagi daerah-daerah lain yang tidak menjadi lokasi KP dalam format pertemuan tatap muka, tersedia alternatif mekanisme lain, antara lain masukan tertulis dengan jumlah peserta, format, mekanisme dan penjadwalan (tenggang waktu) yang ditetapkan oleh lembaga penyelenggara. Pengumuman bisa disampaikan melalui, surat, media internet atau pun media massa elektronik dan cetak. Membuka saluran on-line, ini juga masih menjadi tantangan bagi Indonesia karena belum meratanya infrastruktur dan teknologi pendukung di semua daerah terutama di luar Pulau Jawa.

116

BAB-11. TEKNIK FASILITASI PARTISIPATIF KONSULTASI PUBLIK

BAGIAN-6 KETERAMPILAN FASILITASI KONSULTASI PUBLIK

117

HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN

BAB-11. TEKNIK FASILITASI PARTISIPATIF KONSULTASI PUBLIK

BAB-11

Teknik Fasilitasi Partisipatif Konsultasi Publik

Tek nik F asilitasi P roses KP eknik Fasilitasi Pr Materi dan Perlengkapan yang Perlu Diperhatikan Tataletak (lay - out) Ruangan P er temuan (layPer ertemuan Mengapa Membutuhk an F asilitator KP? Membutuhkan Fasilitator Membangun Prinsip-prinsip Saling Menghormati Membangun Budaya Komunikasi Dialogis Memfasilitasi untuk Mencapai Hasil Lebih Baik Siapa F asilitator KP? Fasilitator Mandat dan Kewenangan Fasilitator KP Kriteria Fasilitator yang Dibutuhkan

119

BAB-11. TEKNIK FASILITASI PARTISIPATIF KONSULTASI PUBLIK

TEKNIK FASILITASI PROSES KP


ktivitas fasilitasi dalam KP, pada dasarnya bertujuan untuk mengelola proses KP agar menghasilkan masukan yang optimal terhadap isu yang dibahas. Dalam fasilitasi, perlu dipertimbangkan efektivitas penggunaan waktu. Agar kegiatan KP berjalan baik dan efektif, tentunya perlu persiapan yang baik. Dalam KP tentang RPP-T2CP2EPRPD, fasilitasi dilakukan oleh Tim Bersama. Tim ini mempersiapkan dan mengelola pelaksanaan KP bersamasama berdasarkan kewenangan dan tugas masing-masing. Langkah-langkah berikut ini merupakan garis besar proses fasilitasi pelaksanaan KP RPP-T2CP2EPRPD, baik regional maupun lintas sektoral.

Pada sesi pembuka dilakukan perkenalan seluruh peserta dengan menyebutkan nama dan asal instansi, termasuk tim penyelenggara. Perkenalan ini dilakukan untuk menciptakan suasana diskusi yang menyenangkan dan terbuka di antara peserta. Penyampaian maksud dan tujuan, alur proses, dan waktu pelaksanaan KP yang direncanakan. Selain itu, disampaikan penjelasan lain yang terkait dengan proses, seperti form-form isian yang perlu diisi peserta. Pemaparan proses pembahasan kebijakan, latar belakang, dan tujuan kebijakan. Secara ringkas, juga disampaikan substansi dan tema-tema penting dalam kebijakan yang perlu didiskusikan lebih dalam. Hal ini dilakukan agar peserta memiliki pemahaman yang sama terhadap kebijakan yang dirancang.

120

BAB-11. TEKNIK FASILITASI PARTISIPATIF KONSULTASI PUBLIK

Tanggapan peserta terhadap substansi rancangan kebijakan yang dirumuskan melalui teknik curah pendapat. Seluruh tanggapan dan masukan peserta menjadi rekomendasi umum yang perlu dibahas lebih mendalam dalam sesi diskusi kelompok. Tanya jawab, terutama berkaitan dengan substansi dan tema penting dari draft kebijakan yang dirumuskan. Diskusi kelompok berdasarkan tema besar draft kebijakan. Contoh pada KP regional dan lintas sektoral RPP-T2CP2EPRPD, jumlah peserta setiap kelompok dibatasi maksimal 15 orang agar diskusi kelompok berjalan efektif.
Pembagian kelompok dalam KP regional perlu memperhatikan

representasi berdasarkan jenis kelamin, daerah, dan instansi dalam setiap kelompok. Sedangkan dalam KP lintas sektoral, perlu diperhatikan keterwakilan masyarakat sipil dan eksekutif dalam satu kelompok.
Kelompok diminta memilih pemandu dan pencatat proses

diskusi. Setiap pemandu diskusi kelompok diminta untuk memprioritaskan substansi pasal-pasal kebijakan daripada redaksional pasal atau ayat. Selama diskusi berlangsung, anggota Tim Bersama berada dalam setiap kelompok untuk menjamin pendokumentasian masukan kelompok.
Menyiapkan format matrik draft kebijakan untuk mempermudah

masukan pasal-pasal dari kebijakan yang dirumuskan.


Diskusi pleno untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok. Setiap anggota kelompok diberi kesempatan untuk menambahkan pemaparan wakil kelompoknya. Kelompok lain pun diberi kesempatan untuk menanggapi presentasi setiap kelompok. Tanggapan diarahkan pada hal yang berkaitan dengan alasan usulan perubahan yang diusulkan. Penyimpulan hasil diskusi dan penyusunan rencana tindak lanjut berdasar masukan atau proses pembahasan draft kebijakan selanjutnya. Perumusan hasil KP dan pengelompokan masukan didasarkan pada masukan yang bersifat umum, perbaikan redaksional, penambahan pasal atau ayat baru, penghapusan pasal atau ayat,

121

BAB-11. TEKNIK FASILITASI PARTISIPATIF KONSULTASI PUBLIK

dan sistematika draft kebijakan. Proses pengelompokan masukan ini dapat melibatkan peserta.

MATERI DAN PERLENGKAPAN


Seringkali dijumpai penyelenggaraan KP yang tersendat karena bahan dan alat-alat yang diperlukan tidak disiapkan secara matang. Untuk menghindari hal itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membuat daftar alat dan bahan yang dibutuhkan selama penyelenggaraan KP. Alat dan bahan yang dibutuhkan antara lain: Publikasi. Publikasi diperlukan untuk menyebarluaskan informasi tentang pelaksanaan kegiatan KP. Selain sebagai salah satu bentuk akuntabilitas penyelenggaraan kegiatan, publikasi merupakan media pemberitahuan kepada publik. Publikasi juga diharapkan menstimulasi warga lain --yang tidak terlibat langsung dalam KP- turut memberikan masukan terhadap rancangan kebijakan yang disusun. Beberapa media publikasi yang biasa dipergunakan antara lain spanduk, leaflet/brosur, display, dan press release.

122

BAB-11. TEKNIK FASILITASI PARTISIPATIF KONSULTASI PUBLIK

Dokumentasi. Dokumentasi proses penyelenggaraan KP merupakan bentuk akuntabilitas publik dalam suatu perumusan kebijakan sekaligus justifikasi suatu usulan. Contoh kasus, alasan atau latarbelakang suatu usulan dapat diverifikasi melalui dokumentasi proses, termasuk pencatatan proses dan hasil diskusi kelompok. Keberadaan dokumentasi juga dapat menjadi alat publikasi keterlibatan warga dalam perumusan peraturan perundang-undangan. Dalam proses KP peralatan dokumentasi yang diperlukan adalah tape recorder , kamera, handycam , komputer/laptop, block note dan alat tulis lain. Peralatan tulis menulis. Perlengkapan tulis-menulis diperlukan pada saat diskusi kelompok maupun pleno. Kertas plano merupakan peralatan yang paling efektif untuk mencatat pointpoint dalam diskusi kelompok, sehingga peserta dapat menyimak proses diskusi secara visual. LCD proyektor lebih efektif digunakan pada saat diskusi pleno dalam forum yang lebih besar. Beberapa pelengkapan tulis-menulis yang sering digunakan adalah kertas plano, kartu metaplan, kertas transparansi, spidol transparansi, spidol, whiteboard, LCD proyektor, dan notebook. Perlengkapan administrasi. Dalam KP diperlukan perlengkapan administrasi seperti daftar hadir peserta, format biodata peserta, lembar evaluasi penyelenggaraan KP, dan lembar isian masukan. Lembar evaluasi bertujuan untuk mengetahui penilaian peserta terhadap penyelenggaraan KP sehingga menjadi bahan perbaikan KP berikutnya. Format masukan disediakan untuk menampung masukan dan aspirasi peserta yang tidak dapat disampaikan dalam diskusi karena keterbatasan waktu. Format masukan juga bisa digunakan untuk mengetahui sumber aspirasi dan memantau akomodasi setiap aspirasi dalam suatu kebijakan. Perlengkapan seminar. Penyelenggara perlu mempersiapkan perlengkapan seminar yang terdiri dari block note, alat tulis, ID card, map, dan materi. Format-format masukan dan biodata peserta juga dapat dimasukkan dalam perlengkapan seminar. Materi untuk setiap peserta merupakan perlengkapan peserta yang harus ada dalam pelaksanaan KP. Untuk memperoleh masukan yang optimal, sebaiknya penyelenggara sudah mengirim materi KP sebelumnya (via kurir, pos atau email), biasanya bersamaan dengan

123

BAB-11. TEKNIK FASILITASI PARTISIPATIF KONSULTASI PUBLIK

pengiriman undangan. Pihak penyelenggara juga perlu menyediakan materi lain untuk mendukung pelaksanaan KP sebagai referensi tim kerja. Materi yang diperlukan antara lain hasilhasil penelitian dan peraturan perundang-undangan lain yang terkait dengan kebijakan yang disusun.

TATA LETAK RUANGAN


Tata letak (layout/setting) ruangan dalam proses diskusi KP perlu diperhatikan agar memberikan kenyamanan bagi para peserta sehingga mereka bisa lebih terbuka ketika mengungkapkan pendapatnya. Setting ruangan berbentuk kelas atau teater dinilai kurang efektif untuk berdiskusi. Sementara setting tempat duduk berbentuk U lebih memberikan kenyamanan bagi peserta untuk berdiskusi. Setting seperti ini lebih memberikan kesan setara (egaliter). Usahakan agar susunan tempat duduk hanya mempergunakan satu baris saja. (Contoh setting ruangan berbentuk U ditampilkan dalam gambar). Pencahayaan ruangan yang memadai dan suhu ruangan juga akan mempengaruhi kenyamanan peserta diskusi. Pencahayaan ruangan pada bagian display hendaknya tidak terlalu terang. Pencahayaan yang terlalu terang akan mempengaruhi kualitas tampilan presentasi yang dihasilkan LCD proyektor.

Cont oh T at ale t ak R uangan P er t emuan KP Contoh Tat atale alet Ruangan Per

124

BAB-11. TEKNIK FASILITASI PARTISIPATIF KONSULTASI PUBLIK

MENGAPA MEMBUTUHKAN FASILITATOR KP?


Membangun Prinsip-prinsip Saling Menghormati Teknik fasilitasi KP merupakan kunci dalam mengelola musyawarah atau pertemuan sehingga kegiatan itu bisa berlangsung secara dialogis. Forum harus menempatkan peserta secara setara sehingga seluruh peserta dapat memberikan masukan secara terbuka. Peran tim kerja dalam kegiatan KP tidak di-maksudkan untuk mem-pertahankan draft peraturan perundang-undangan yang telah dirumuskan. Tim kerja berperan sebagai sumber informasi mengenai latar-belakang dan maksud suatu pasal. Selain itu, tim kerja berperan sebagai penam-pung masukan dari peserta. Karena itu, sejak awal kegiatan perlu ditekankan bahwa seluruh peserta memiliki hak memberikan masukan dan kritik terhadap draft kebijakan yang telah disusun. Fasilitator bertugas menjaga agar suasana musyawarah berlangsung secara positif dan tumbuh saling percaya. Fasilitator bertugas merumuskan prinsip-prinsip yang perlu dijunjung para peserta, yang dipaparkan dan disepakati bersama di awal pertemuan. Membangun Budaya Komunikasi Dialogis Dalam merancang proses KP, fasilitator harus mampu membangun budaya komunikasi di antara para peserta. Fasilitator harus memahami apakah para peserta siap untuk bertukar informasi, berdialog, bahkan berdebat dan bertukar argumentasi untuk memperoleh kesamaan pandangan atau pemahaman yang lebih baik.

125

BAB-11. TEKNIK FASILITASI PARTISIPATIF KONSULTASI PUBLIK

Dalam kasus pelaksanaan KP regional pembahasan RPPT2CP2EPRPD, masih terlihat kesenjangan antara tim kerja dari instansi pemerintah pusat dan peserta KP yang berasal dari pemerintahan daerah. Peserta dari unsur pemerintahan daerah terkesan masih mempunyai hambatan psikologis untuk memberikan masukan secara terbuka. Faktor yang mempengaruhi adalah hubungan kerja yang hierarkis antara struktur pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah. Dalam kondisi seperti ini fasilitator dan penyelenggara perlu membuat forum diskusi agar secair mungkin. Tim kerja pemerintah perlu disiapkan agar bersikap terbuka terhadap kritik dan masukan dari peserta diskusi. Saran dan kritik peserta harus ditanggapi sebagai masukan terhadap rancangan kebijakan. Penanggap tidak perlu bersikap resisten terhadap masukan. Penolakan dari penanggap dapat menyebabkan peserta enggan memberikan masukan dan terbuka selama diskusi.

Memfasilitasi untuk Mencapai Hasil Lebih Baik Keberadaan tim fasilitator adalah mengelola proses musyawarah agar memperoleh pemahaman yang lebih baik, menghimpun masukan-masukan yang berbobot, dan pada akhirnya bisa menjadi masukan yang lebih baik bagi penyusunan kebijakan atau peraturan. Dengan demikian, KP akan bermanfaat bagi pemerintah. Di sisi lain masyarakat akan memperoleh kebijakan dan peraturan yang aspiratif dan berkeadilan.

SIAPA TIM FASILITATOR KP?


Mandat dan Kewenangan Fasilitator KP Fasilitator KP adalah peran yang diperoleh seseorang atau kelompok dari sebuah lembaga penyelenggara karena dianggap mampu menjembatani posisinya selaku lembaga penyusun kebijakan dan peraturan, dengan warga masyarakat. Sementara itu di tingkat birokrasi, berkembang budaya komunikasi hierarkis, terutama antara pusat dan daerah. Dalam kondisi seperti itu, fasilitator diskusi sebaiknya berasal dari unsur non-pemerintah agar bisa berada di tengah-tengah dan tidak

126

BAB-11. TEKNIK FASILITASI PARTISIPATIF KONSULTASI PUBLIK

memiliki hambatan psikologis yang diakibatkan jabatan atau struktur jabatan. Sedangkan mandat dan kewenangan tim fasilitator perlu dirumuskan oleh lembaga penyelenggara sejak awal. Misalnya:

Fasilitator KP regional dan lintas sektoral berwenang hanya pada tahap mengelola proses dan menyusun masukan yang disepakati forum. Sedangkan narasumber yang bertugas untuk menjelaskan draft kebijakan berasal dari lembaga penyelenggara. Fasilitator tim kerja (Tim Bersama) berwenang mengelola proses dan memfasilitasi perubahan pasal-pasal pada draft peraturan yang sedang dibahas. Sedangkan keputusan mengenai diterima atau tidak sebuah perubahan dilakukan oleh pimpinan pertemuan dari pejabat lembaga yang berwenang.

Kriteria Fasilitator yang Dibutuhkan Sebaiknya tim fasilitator adalah orang-orang yang bersedia terlibat secara penuh pada setiap tahapan perumusan kebijakan, meskipun terjadi pembagian tugas memfasilitasi pada seluruh kegiatan (event) yang akan dilaksanakan. Misalnya siapa memfasilitasi KP di wilayah A, B, C, dan lintas sektoral, serta siapa memfasilitasi pertemuan Tim Bersama untuk menindaklanjuti hasil-hasil KP.

127

BAB-11. TEKNIK FASILITASI PARTISIPATIF KONSULTASI PUBLIK

128

BAB-12. TEKNIK KOMUNIKASI DAN KONSULTASI

BAB-12

Teknik Komunikasi dan Konsultasi

Tek nik L obb yP ersonal dan Informal eknik Lobb obby Personal Apa yang Perlu Disiapkan Pe-lobby Menyusun Gagasan Tertulis Tek nik P eny ampaian dan A rgumentasi G agasan eknik Peny enyampaian Ar Gagasan Teknik Komunikasi Lisan Teknik Komunikasi Tertulis Komunikasi dan Konsultasi Melalui Media Milist Aktor K unci di T ingk at P emerintahan Kunci Tingk ingkat Pemerintahan Konsultasi Publik di Tingkat Pusat Konsultasi Publik di Tingkat Daerah Model Komunikasi yang Dibangun di Masa Depan Dari Komunikasi Hirarkis ke Komunikasi Dialogis Penggunaan Teknologi Komunikasi di Masa Mendatang

129

BAB-12. TEKNIK KOMUNIKASI DAN KONSULTASI

TEKNIK LOBBY PERSONAL DAN INFORMAL


Apa yang Perlu Dipersiapkan Pelaku Lobby ntuk menjalankan peran sebagai pelaku lobby dan pelaku technical assistance pengembangan substansi RPP dan proses KP partisipatif, Tim CSO perlu menguasai teknik lobby personal dan informal serta teknik menyampaikan argumentasi atau gagasan. Di dalamnya mencakup kemampuan menggambarkan ataupun menawarkan berbagai hal positif yang akan diperoleh pemegang kebijakan demi tercapainya tujuan. Namun perlu disadari bahwa banyak faktor yang mempengaruhi diakomodirnya masukanmasukan oleh pemerintah. Berdasarkan pengalaman Tim CSO/FPPM, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan dalam rangka melakukan lobi kepada pejabat publik. Pertama, kesepakatan dan penetapan tujuan KP untuk memperjelas arah dan capaian komunikasi dan konsultasi. Kedua, mengenali para pemegang kebijakan yang menjadi aktor utama dan aktor pendukung. Hal yang perlu dketahui adalah nama lengkap, jabatan, tugas dan fungsi (Tupoksi) serta peranan jabatan tersebut. Sejak dini, informasi itu menjadi penting untuk diketahui. Tim CSO/FPPM perlu mengenali kebijakan yang ada, dengan cara menemui pejabat di tingkat eselon tertentu. Tim juga perlu mengenali alur pikir pejabat bersangkutan mengenai substansi kebijakan yang akan dirumuskan. Informasi mengenai sifat-sifat, kebiasaan, serta kesan pribadi seorang pejabat juga penting diketahui. Pemahaman terhadap semua itu akan mendukung upaya untuk m e m b a n g u n komunikasi yang efektif.

130

BAB-12. TEKNIK KOMUNIKASI DAN KONSULTASI

Menyusun Gagasan Tertulis Selain informasi mengenai aktor pemegang kebijakan, salah satu yang dipersiapkan Tim CSO/FPPM adalah naskah tertulis tentang gagasan kerjasama dan substansi RPP yang dilengkapi dengan argumentasinya. Naskah ini menjadi bahan dalam pertemuan dan komunikasi dengan pejabat yang akan menjadi mitra. Diharapkan naskah itu akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan memudahkan pejabat dalam memahami dan menerima gagasan kerjasama dan substansi kebijakan. Beberapa hal yang diuraikan dalam gagasan itu tercermin dalam substansi RPP yang meliputi: Informasi tentang kebijakan yang akan dilaksanakan;

Informasi tentang berbagai potensi dan masalah di daerah yang menjadi sasaran kebijakan; Pemikiran tentang hal-hal positif (dan negatif ) terhadap rancangan kebijakan; Kehendak untuk mendukung sambil mengenalkan kapasitas, inovasi, hasil penelitian, tenaga ahli, dan pengalaman yang dimiliki; Prinsip keberpihakan negara atas sasaran kesejahteraan rakyat; Prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik; Prinsip-prinsip pemaanfaatan daya dukung dan kelestarian lingkungan; Cerminan konsistensi penganggaran; perencanaan dengan proses

Informasi, saran, pertimbangan atau pendapat dalam penyusunan strategi pelaksanaan kebijakan; Peluang untuk bekerjasama dalam penelitian dan pengembangan dan atau bantuan tenaga ahli; Hal lain yang secara situasional dan kondisional diperlukan, baik atas pertanyaan atau permintaan pemegang kebijakan maupun berdasarkan hasil pengamatan.

131

BAB-12. TEKNIK KOMUNIKASI DAN KONSULTASI

TEKNIK PENYAMPAIAN DAN ARGUMENTASI GAGASAN


Teknik Penyampaian Gagasan secara Lisan Penyampaian gagasan oleh Tim CSO/FPPM kepada pemerintah disampaikan baik secara tertulis maupun lisan. Penjelasan singkatnya dapat disampaikan secara lisan dengan menunjuk bagian-bagian tertentu dalam tulisan yang sudah tersedia. Namun akan lebih baik kalau penjelasan dapat disampaikan dengan menggunakan alat visualisasi seperti flipcharts, OHP, atau LCD projektor sesuai dengan kesepakatan dan kemungkinan yang ada. Penyajian sebaiknya dilakukan oleh seseorang yang sudah dikenal baik oleh pemegang kebijakan terkait. Penyaji juga harus menguasai materi (aspek-aspek argumentasi) yang disajikan dengan penjelasan yang mudah dipahami. Upayakan agar setiap pembicaraan diakhiri dengan kesepakatan rencana tindak lanjut (RTL). Sedapat mungkin bahannya sudah diidentifikasi sebelumnya. Teknik Penyampaian Gagasan secara Tertulis Penggunaan bahasa tulisan dengan bahasa lisan atau bahasa tutur perlu dibedakan. Kalangan CSO perlu memahami perbedaan ini agar masukan tertulis yang dibuatnya lebih mudah dipahami oleh pembaca (terutama pejabat pemegang kebijakan). Sedapat mungkin tulisan disesuaikan dengan alur pikir atau dan cara pandang yang berkembang di kalangan lembaga pembuat kebijakan. Tentu hal itu tidak terlalu mudah karena harus didahului dengan pengamatan yang cermat, dan juga bukan suatu keharusan. Apabila terdapat masukan atau cara pandang yang berbeda, gunakan argumentasi yang logis, dengan penggunaan kata-kata dan susunan kalimat yang tidak memojokkan atau menuduh pemerintah.
Hal-hal lain yang sebaiknya dihindari adalah:

Kata-kata ataupun kalimat yang berulang. Untuk maksud yang sama pada kalimat lain upayakan menggunakan kata-kata lain yang mempunyai makna serupa.

132

BAB-12. TEKNIK KOMUNIKASI DAN KONSULTASI

Penggunaan tanda garis miring. Garis miring mungkin dapat diganti dengan kata dan maupun atau, kecuali misalnya kata-kata kebupaten/kota, Menteri Negara PPN/Ketua Bappenas yang sudah lazim digunakan secara nasional. Pilihan lain dapat juga menambahkan kata lain dalam tanda kurung buka-kurung tutup. Kata-kata atau kalimat yang bersifat pribadi seperti aku, kami, menurut saya. Dalam hal-hal tertentu yang perlu menunjukkan tanggung jawab pribadi, dapat digunakan kata-kata penulis yang sebaiknya dituliskan dalam tanda kurung buka-kurang tutup. Mungkin akan lebih baik kalau menggunakan kata-kata ada pendapat lain yang mengatakan ... dst. Penggunaan kata-kata dalam bahasa asing. Kekecualiannya, apabila bahasa asing itu diamati lebih mudah dipahami oleh pembaca dibanding bahasa Indonesia. Alternatif lain adalah menggunakan kedua bahasa tersebut, salah satu bahasa dituliskan dalam tanda kurung buka-kurung tutup).

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mengikuti etika penulisan yang lazim digunakan. Misalnya kalau mengutip pendapat orang, penulis lain, ataupun mungkin juga media atau penerbitan, maka harus menyebutkan sumbernya. Misalnya nama penulis atau pengarang, nama buku, dan tahun terbit.

Komunikasi dan Konsultasi melalui Media Mailist Komunikasi juga bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi internet dan mailist. Hal ini seperti yang dilakukan di antara Ditjen Bina Bangda Depdagri dengan Tim CSO/FPPM. Selama proses KP, terjadi komunikasi via email antara Tim CSO/FPPM dengan Ditjen Bina Bangda. Isi komunikasi tadi mencakup pertukaran gagasan mengenai pengawalan dan pengaturan (dalam Permendagri) mengenai propoor budget (penganggaran yang berpihak pada orang miskin), program pengembangan wilayah terpadu (PPWT), dan keterpaduan perencanaan dan penganggaran pembangunan daerah, khususnya dari RKPD sampai APBD. Hasil komunikasi melalui email ini kemudian didesiminasikan kepada sejumlah mitra jaringan FPPM sehingga menjadi suatu proses komunikasi banyak pihak.

133

BAB-12. TEKNIK KOMUNIKASI DAN KONSULTASI

Tentu saja pembahasan tatap muka tetap diperlukan, tetapi komunikasi dan konsultasi melalui mailist sebenarnya jauh lebih mempermudah dan mempercepat serta memperluas cakupan dan sebaran pembahasan. Di sejumlah negara, proses pembuatan peraturan-perundang-undangan telah dilakukan secara on-line (menggunakan internet).

AKTOR KUNCI DI TINGKAT PEMERINTAHAN


KP di Tingkat Pusat Dalam lingkup pemerintahan, dewasa ini makin banyak pejabat yang bersedia menjalin komunikasi dengan kalangan CSO. Pejabat dimaksud terutama adalah pejabat yang bertanggung jawab atas tupoksi yang menjadi substansi kerjasama. Di tingkat pusat, biasanya mereka adalah pejabat eselon II atau setingkat direktur atau kepala pusat, seperti direktur jenderal, kepala badan, atau nama jabatan lain diatas eselon II. Setingkat direktur atau kepala pusat juga termasuk sekretaris direktorat jenderal, sekretaris bdan, atau nama jabatan lainnya yang sering diistilahkan sebagai yang pertama di antara sesama eselon II (the first among the same). KP di Tingkat Daerah Khusus untuk tingkat kabupaten/kota, kunci keberhasilan tercapainya penyelenggaraan KP sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan kepedulian Bupati/Walikota terhadap substansi dan perubahan yang ditawarkan. Oleh karena itu komunikasi dan konsultasi lebih diutamakan pada bupati/walikota. Hal itu dapat dilakukan dengan bantuan pejabat eselon II atau III, seperti ketua Bappeda, sekretaris daerah atau kepala Bagian Hukum dan Perundang-Undangan, maupun kepala Bagian Pemerintahan. Demikian juga komunikasi dengan DPRD. Komunikasi dengan legislatif akan lebih mudah/berhasil apabila melalui bupati/walikota. Namun perlu dicatat, keberhasilan itu terjadi apabila antara bupati/ walikota dengan ketua DPRD telah terjalin hubungan baik. Apabila hubungan di antara keduanya tidak terjalin baik, komunikasi dan konsultasi dengan ketua DPRD dilakukan melalui ketua komisi terkait

134

BAB-12. TEKNIK KOMUNIKASI DAN KONSULTASI

atau Sekwan (sekretaris dewan) baik secara langsung maupun melalui fungsionaris di bawahnya.

MODEL KOMUNIKASI YANG DIBANGUN DI MASA DEPAN


Dari Komunikasi Hierarkis ke Komunikasi Dialogis Masyarakat kita belum sepenuhnya terbiasa dan memiliki kapasitas mengelola komunikasi dialogis. Padahal karakteristik komunikasi ini akan mempengaruhi tujuan komunikasi yang akan dicapai dalam proses KP. Apakah KP itu bertujuan untuk menerima masukan, mensosialisasikan draft kebijakan, atau membangun dialog untuk menyusun kesepakatan tentang hal-hal penting yang perlu dimasukkan ke dalam kebijakan tersebut? KP partisipatif tentunya membutuhkan kesiapan semua pihak dalam hal memiliki kapasitas dan sumberdaya yang dibutuhkan. Perlu kita sadari bahwa model komunikasi hierarkis atau searah bukan hanya ada di lembaga birokrasi saja, melainkan masih juga banyak terjadi di kalangan organisasi masyarakat sipil dan organisasi tradisional yang memiliki kepemimpinan paternalistik dan kharismatik. Begitu juga dengan masyarakat Indonesia yang sebagian besar berada di perdesaan, pada umumnya masih memiliki struktur dan budaya komunikasi tersentral, hirarkis, dan searah, dari pemimpin kepada warganya dan dari orang tua/tokoh kepada generasi muda. Penggunaan Teknologi Komunikasi di Masa Mendatang Di masa mendatang, upaya membangun komunikasi antara pemerintah dan warga harus terus ditingkatkan melalui penguatan kapasitas komunikasi, baik di tingkat pemerintahan maupun tingkat warga. Peningkatan kapasitas komunikasi di antaranya adalah melalui penguasaan teknologi komunikasi yang saat ini memasuki era dijital. Saat ini sudah mulau berkembang apa yang disebut e-government (electronic-government ) yang salah satunya adalah penggunaan teknologi untuk mendukung penyediaan informasi publik oleh lembaga publik, dan juga membangun komunikasi interaktif antara pemerintah dan warga dengan penggunaan media on-line.

135

BAB-12. TEKNIK KOMUNIKASI DAN KONSULTASI

Selain mampu memperluas jangkauan dan cakupan komunikasi di negara yang luas dan merupakan negara kepulauan seperti Indonesia, e-government bermanfaat untuk mengikis kesenjangan yang disebabkan budaya komunikasi hierarkis yang berkembang baik di dalam lembaga maupun di masyarakat. Dalam menawarkan rancangan proses KP partisipatif, keterbatasan kapasitas penguasaan teknologi komunikasi di Indonesia serta keterampilan komunikasi yang mendukung proses dialogis, merupakan tantangan inovasi yang masih panjang. Menantang dan kita pasti bisa.

136

BAB-12. TEKNIK KOMUNIKASI DAN KONSULTASI

137

BAB-12. TEKNIK KOMUNIKASI DAN KONSULTASI

138

EPI LOG

EPILOG
Pelembagaan Konsultasi Publik dalam Penyusunan Kebijakan Pemerintah

139

HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN

EPI LOG

Epilog:

Pelembagaan Konsultasi Publik dalam Penyusunan Kebijakan Pemerintah


Oleh: Drs. Fazli Siregar, MPIA

elaksanakan proses bottom-up and top-down planning sudah sangat dikenal oleh hampir semua aparat pemerintah daerah pada semua tingkatan pemerintahan sejak berlakunya Permendagri No. 9 Tahun 1982 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan di Daerah (P5D). Namun dalam menyusun RPP tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah terdapat dua hal yang agak berbeda. Pertama, pemilihan kepala daerah secara langsung (Pilkada) dimana setiap kepala daerah terpilih harus mampu memberikan gambaran wajah daerahnya lima tahun ke depan yang dinyatakan dalam visi dan misinya. Kedua , penggunaan metode Medium Term Expenditure Framework (MTEF) dalam menyusun dokumen-dokumen mulai dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sampai dengan Rencana Kerja Satuan Kerja Pemerintahan Daerah (Renja SKPD) setiap tahunnya. Konsekuensi dalam menetapkan visi misinya menunjukkan kepekaan kepala daerah terpilih terhadap isu atau masalah yang harus ditekan atau bidang-bidang mana yang perlu ditingkatkan. Perkembangan di masyarakat setelah kebebasan berekspresi di era reformasi adalah tanggapnya sikap masyarakat terhadap masalah atau kejanggalan yang terjadi di sekitarnya. Masalah-masalah tersebut bervariasi di setiap daerah, mulai dari korupsi, penyelewengan dana APBD, tingkat drop-out siswa yang terlalu tinggi, kerusakan lingkungan dan berbagai hal yang dianggap tidak biasa oleh masyarakat setempat. Kelompok-kelompok masyarakat yang mempunyai perhatian terhadap suatu isu, berkumpul untuk

141

EPI LOG

menyatukan gerak langkah dalam wadah LSM atau Civil Society Organization (CSO). Di luar cara-cara menarik pemilih yang agak emosional dan kurang jujur, umumnya visi misi yang dikembangkan dari dokumen daerah dalam angka dan isu yang dipikul oleh berbagai LSM yang ada adalah sejalan. Hal selanjutnya yang perlu disepakati adalah penyusunan perencanaan program dan penganggarannya dalam kurun waktu lima tahunan, baik dalam bentuk RPJMD-Renstra SKPD sampai dengan penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD)-Renja SKPD setiap tahun sesuai dengan kemampuan pendanaannya. Dalam menyusun RPP perencanaan ini kami sangat berharap tertampungnya semua substansi dan aspirasi yang tumbuh di masyarakat di berbagai daerah. Karena itu konsultasi publik (KP) di empat kota (Surabaya, Medan, Makasar dan Denpasar) yang diikuti oleh semua aparat Pemda dan CSO, telah berlangsung dengan hangat dan dinamis. Melihat lahirnya berbagai lembaga CSO terutama pada era reformasi ini dan isu-isu yang dipikulnya, keikutsertaan dalam menyusun kebijakan pemerintah, CSO seharusnya tidak menjadi halangan akan tetapi malah memperluas dan mempertajam kebijakan. Keikutsertaan CSO selama ini tidak terbatas pada pembentukan payung hukum, namun lebih operasional kepada proses pelaksanaan kebijakan karena lebih mengenal lapangan dan masyarakat di dalamnya. Bekerjasama dengan FPPM menjadi menarik karena tidak adanya isu spesifik yang dipikulnya, tetapi memberi rekomendasi keikutsertaan berbagai CSO dengan berbagai isu yang diperjuangkannya secara jujur dan proporsional. Isu yang diperjuangkan menjadi masukan yang memperkaya bahasan dan substansi dalam menyusun RPP perencanaan ini. Proses KP yang melibatkan Forum Pengembangan Partisipasi Masyarakat (FPPM), Pemda dan CSO daerah dalam proses penyusunan RPP akan lebih hidup dan dinamis bila 2 hal perubahan utama yaitu proses Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dan berjalannya metoda MTEF serta segala konsekuensinya dipahami lebih dalam oleh semua peserta.

142

EPI LOG

Pemahaman terhadap kebijakan tadi akan sangat membantu peserta dalam proses KP yang lancar dan dinamis. Namun dengan masih terbukanya kesempatan kepada setiap Pemda untuk menyusun kebijakan dalam bentuk pengaturan di daerah yang lebih rinci dan disesuaikan dengan kebutuhan daerah setempat, proses KP di daerah sangat baik untuk dilaksanakan bersama CSO setempat. Menurut hemat kami, keberlanjutan pola keterlibatan CSO dalam proses penyusunan kebijakan pemerintah sangat baik untuk diintensifkan; selama kualitas dan komitmen CSO masih sesuai dengan isu yang dipikulnya atau diperjuangkannya secara murni. Bila CSO mempunyai anggota-anggota dari kumpulan profesional sesuai dengan isu yang diperjuangkannya maka itu akan lebih menaikkan posisi tawar CSO dimaksud. Untuk pendanaan KP, seharusnya tertampung dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) untuk menyusun kebijakan, sama seperti pembahasan undang-undang atau Perda dengan legislatif. Namun sebagai standar baku pembahasan suatu kebijakan, pendanaan untuk pertemuan-pertemuan KP dengan CSO belum lazim dilakukan sedangkan konsultasi dengan Pemda yang berkepentingan biasanya dipikul secara bersama-sama. Dengan membaiknya mutu kepala daerah terpilih, anggota legislatif yang lebih jeli serta CSO yang lebih kompeten, maka titik temu antara visi misi hasil jaring asmara- isu yang diperjuangkan untuk masyarakat dengan sumber dan lokasi yang sama akan lebih mudah untuk terbentuknya kesamaan pandang. Masalahnya sepakat sama, solusinya mungkin berbeda-beda sesuai dengan jalur yang dijalani. Untuk itu KP antara stakeholders menjadi suatu kebutuhan bersama. Amin.

143

DAFTAR PUSTAKA

Daftar Pustaka
Bahagijo, Sugeng, Orde Partisipasi, Perkumpulan Prakarsa, Jakarta, 2006. Eko, Sutoro, Memperdalam Demokrasi Desa, dalam Orde Partisipasi, Perkumpulan Prakarsa, Jakarta, 2006. Fishkin, James, The Nation in a Room: Turning Public Opinion Into Policy dalam Boston Review, March/April 2006. Fung dan Williamson, Public Deliberation: Where Are We and Where Can We Go? dalam National Civic Review, Vol. 93, No. 4 (Winter 2004). Karp, Janette Hartz, A Case Study in Deliberative Democracy: Dialogue with The City, dalam Journal of Public Deliberation , Vol. 1: No. 1, Article 6. 2005, http://services.bepress.com/jpd/vol1/iss1/art6). Lukenmeyer, Carolyin J. and Lars Hasselblad Torres, Public Deliberation: A Manager Guide to Citizen Participation, IBM Center for The Bussines of Government. 2006. Zen, Patra M., dkk., Mencegah Penyingkiran Partisipasi Masyarakat, Seknas Koalisi Kebijakan Partisipatif, 2006. Sterne, Peter with Sandra Zagon, Public Consultation Guide: Changing Relationship Between Government and Canadians, dalam Management Practicess No 19.

144

DAFTAR PUSTAKA

Bahan bacaan lain Cabinet Office, UK Government, 2000, Code of Practise on Written Consultation.
Radical Democracy dalam Swiss Journal of Political Science, Vol. 10, No. 4 (Winter 2004). States of Jersey, 2005, Public Consultation. www.cabinet-office.gov.uk/regulation/consultation/code.htm www.kesra.go.id www.oecd.org/dataoecd/24/34/2384040.pdf www.oecd.org/publications/e-book/4201131e.pdf. Non-publikasi Catatan Notulensi Proses KP Regional, Surabaya, 26-28 Juli 2006 Catatan Notulensi Proses KP Regional, Medan, 3-5 Agustus 2006 Catatan Notulensi Proses KP Regional, Makasar, 3-5 Agustus 2006 Catatan Notulensi Proses KP Regional, Denpasar, 9-11 Agustus 2006 Catatan Notulensi Proses KP Lintas-Sektor, Jakarta, 6-7 September 2006 Draft IV - VIII RPP-T2CP2EPRPD

145

HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN

LAMPIRAN

LAMPIRAN
Lampiran-1 Format Evaluasi Hasil KP

TABULASI USULAN DITERIMA DAN DITOLAK PADA PERUMUSAN MASUKAN KP LINTAS-SEKTOR


Lampiran-2 Format Evaluasi Hasil KP

LAMPIRAN

HASIL PENELUSURAN CAPAIAN ISU DALAM RPP-T2CP2EPRPD

147

LAMPIRAN

148

LAMPIRAN

Lampiran-1 Format Evaluasi Hasil KP

TABULASI USULAN DITERIMA DAN DITOLAK PADA PERUMUSAN MASUKAN KP LINTAS-SEKTOR


No. 1 Usulan Pasal 1 butir 2 Kata rencana bukan dokumen melainkan proses. Seharusnya dihilangkan saja, overlap dengan butir 1. Pasal 1 butir 3. Hapus mulai dari setiap.... Rencana kerja adalah dokumen rencana yang memuat program dan kegiatan yang diperlukan untuk mencapai sasaran pembangunan, dalam bentuk kerangka regulasi dan kerangka anggaran. Pasal 1 butir 26, redaksional. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program. Kalimat selanjutnya dihapus. V Keterangan Diterima Ditolak V Alasan Butir 1 telah memuat kata perencanaan sebagai proses Redaksional padat

149

LAMPIRAN

No. 4

Usulan Pasal 1 butir 28, redaksional. Pengendalian adalah rangkaian kegiatan untuk mengupayakan agar proses perencanan dan pelaksanaan program dan kegiatan sesuai ketentuan, tujuan, sasaran dan rencana yang telah di tetapkan. Pasal 1 butir 36, redaksional. Kata Kepala Daerah dihapus. Koordinasi adalah upaya yang dilaksanakan guna mencapai keselarasan, keserasian dan keterpaduan, baik perencanaan maupun pelaksanaan tugas serta kegiatan semua instansi vertikal dengan dinas daerah agar tercapai hasil guna dan daya guna yang sebesarbesarnya. Pasal 1, tambahan butir. Perlu ada definisi ketentuan umum masyarakat. Masyarakat adalah kelompok-kelompok sosial, tokoh-tokoh yang ada disuatu wilayah.

Keterangan Diterima Ditolak V

Alasan Usulan redaksional mengubah subtansi pasal

Harus ada pelaku dari koordinasi

Definisi masyarakat telah digunakan umum

150

LAMPIRAN

No. 7

Usulan Pasal 2 ayat 2. Kata masyarakat harus didefinisikan dalam ketentuan umum. Pasal 2 ayat 2. Kata kesejahteraan rakyat ditaruh paling akhir. Pasal 4 ayat 4. Perencanaan pembangunan daerah dilaksanakan berdasarkan kondisi dan potensi yang dimiliki masingmasing daerah, sesuai dinamika perkembangan lokal, antar daerah, regional, nasional dan global agar mampu menciptakan daya saing dan lapangan kerja. Pasal 2 ayat 6, redaksional. Kata ditujukan ganti dengan diarahkan. Pasal 3 diganti jadi Pasal 4. Pasal 3, tambahan penjelasan. Yang dimaksud Musrenbang Daerah merupakan upaya penjaringan aspirasi masyarakat yang antara lain ditujukan untuk mengakomodasi yang aspirasi kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses dalam pengambilan kebijakan melalui jalur khusus.

Keterangan Diterima Ditolak V

Alasan

Sifat redaksional

10

Berbeda makna. Perubahan sistematika.

11 12

V V

151

LAMPIRAN

No. 13 14 15

Usulan Pasal 4 diganti jadi Pasal 3. Pasal 4 ayat 2 dihapus. Pasal 5 ayat 1, tambahan penjelasan. Bappeda dan atau satuan kerja yang membidangi perencanaan pembangunan daerah. Pasal 5 ayat 3 dihapus. Pasal 6 ayat 1 dihapus. Redendunt dengan ayat 5. Pasal 6 ayat 4 dihapus. Pasal sama dengan Pasal 7 Pasal 6 ayat 5. Kata oleh diganti dalam Tata cara dan tahapan Musrenbang RPJPD selanjutnya diatur dalam Peraturan Daerah. Pasal 7 ayat 2. Kata akhir dihapus. Rancangan RPJPD disusun paling lambat 1 (satu) tahun sebelum berakhirnya RPJPD yang sedang berjalan. Pasal 7, tambahan ayat. Rancangan akhir RPJPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2), menjadi bahan penyusunan Rancangan Peraturan Daerah.

Keterangan Diterima Ditolak V V V

Alasan Perubahan sistematika. Disepakati Bappeda.

16 17 18

V V V

19

Redendunt Dianggap tidak redendunt. Dianggap tidak redendunt. Diatur dalam RPP.

20

21

152

LAMPIRAN

No.

Usulan

Keterangan Diterima Ditolak

Alasan

22

Pasal 7, tambahan ayat. Rancangan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud ayat (3) disosiolisasikan ke masyarakat. Pasal 7, tambahan ayat. Rancangan Perda RPJPD disampaikan ke DPRD 6 bulan sebelum berakhirnya RPJPD periode sebelumnya. Pasal 8 ayat 3. Pindah ke ketentuan lain-lain dan tambah aturan mengenai tata cara. Pasal 9 ayat 1. Bappeda dan atau satuan kerja yang membidangi perencanaan pembangunan daerah. Pasal 10 ayat 2. Tambahan penjelasan: Penjaringan aspirasi masyarakat ditujukan untuk mengakomodasi aspirasi kelompok masyarakat rentan.

23

24

25

Disepakati Bappeda.

26

Dianggap negara tidak boleh berpihak.

153

LAMPIRAN

No. 27

Usulan Pasal 13 ayat 1. Renstra SKPD untuk jangka waktu 5 (lima) tahunan disusun oleh SKPD dengan melibatkan partisipasi masyarakat dan pemangku kepentingan lain, yang memuat visi, misi, tujuan dan sasaran, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan, berdasarkan pagu indikatif. Pasal 15 ayat 1. Kata Bappeda diganti. Bappeda dan atau satuan kerja yang membidangi perencanaan pembangunan daerah.

Keterangan Diterima Ditolak V

Alasan

28

Disepakati Bappeda

29

Pasal 15 ayat 4. Rancangan Renja-SKPD memuat strategi, kebijakan, program, kegiatan yang dibedakan antara kegiatan yang sedang berjalan dan kegiatan alternatif atau baru serta indikator kinerja yang menjadi bahan utama RKPD dan menunjukkan prakiraan maju. Pasal 17 ayat 2, tambahan penjelasan. Penjaringan aspirasi masyarakat ditujukan untuk mengakomodasi aspirasi kelompok masyarakat rentan.

30

Dianggap negara tidak boleh berpihak.

154

LAMPIRAN

No.

Usulan

Keterangan Diterima Ditolak

Alasan

31 32

Pasal 17 ayat 5 dihapus. Pasal 20 ayat 1. Kata untuk pada bagian penjelasan dihapus. Kalimat, Perlu juga ditegaskan...., dihapus Pasal 20 ayat 2. Perlu tambahan penjelasan holistik dan komprehensif. Pasal 20 ayat 3. Point e cukup memberatkan bagi provinsi terutama tentang sumber pendanaan. Pasal 26 ayat 1. Point e, ganti arah pembangunan daerah Point b, perlu ada penjelasan mencakup apa saja, seperti kondisi lingkungan hidup, dan tata ruang. Pasal 26 ayat 2. Penjelasan butir k ganti j. Point h, dalam RPJMD tidak ada pagu indikatif dalam program, melainkan target pencapaian kinerja setiap tahun.

V V Tidak mengubah susbtansi.

33

Tidak perlu, dianggap kata umum. Perlu untuk penerapan MTEF.

34

35

36

Perlu ada pagu indikatif untuk penerapan MTEF, keterpaduan.

155

LAMPIRAN

No.

Usulan

Keterangan Diterima Ditolak

Alasan

37

Pasal 26 Ayat 3. Point e, tidak perlu ada indiaksi dana setiap program. Penjelasan butir b atau d, hapus salah satu. Pasal 26 ayat 5. Perlu ada point baru antara b dan c, yang menyebutkan mengenai permasalahan daerah. Point f, tambahan indikator pencapaian kinerja program dan kegiatan. Pasal 27 ayat 1. Perlu ada penjelasan, kapan periode tahun lalu. Pasal 29 ayat 1 jadi Pasal 29 ayat 2. Tambahan penjelasan: Perumusan masalah dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan masyarakat melalui analisa komprehensif dan keterdesakan. Pasal 29 ayat 2, jadi Pasal 29 ayat 1. Pasal 30 ayat 2. Perumusan rancangan kebijakan berisi prakiraan pencapaian sasaran kinerja dan arah kebijakan ke depan. V

Perlu ada pagu indikatif untuk penerapan MTEF, keterpaduan.

38

39

40

41 42

V V

156

LAMPIRAN

No.

Usulan

Keterangan Diterima Ditolak

Alasan

43

Pasal 37 ayat 3. Perumusan rancangan kebijakan berisi prakiraan pencapaian sasaran kinerja dan arah kebijakan ke depan.

44

Pasal 37 ayat 4. Oleh Menteri Dalam Negeri, Bappenas dan Menkeu. Pasal 38 ayat 1. Bagian penjelasan menjadi penjelasan Pasal 37 ayat (3). Pasal 41 ayat 2. tambahan penjelasan: Yang dimaksud Gubernur adalah melalui Bappeda dalam melakukan pengendalian dan evaluasi perencanaan pembangunan daerah. Program dan kegiatan yang di kendalikan oleh Gubernur mencakup program dan kegiatan dekonsentrasi, tugas pembantuan dan program daerah yang didanai dari APBN.

Merupakan Tupoksi Depdagri.

45

46

Sudah menjadi kepastia Gubernur melakukan pelimpahan ke Bappeda.

157

LAMPIRAN

No.

Usulan

Keterangan Diterima Ditolak

Alasan

47

Pasal 41 ayat 3. Tambahan penjelasan: Yang dimaksud bupati /walikota adalah melalui Bappeda dalam melakukan pengendalian dan evaluasi perencanaan pembangunan daerah. Pasal 42 ayat 1, ditambah dengan: Kegiatan pemantauan, pengawasan, supervisi dan tindak lanjut. Pasal 42 ayat 2. Bagian penjelasan: Yang mungkin dilakukan adalah pelaporan pelaksanaan program dan kegiatan. Tidak mungkin dilakukan evaluasi 3 bulanan untuk rencana tahunan. Jumlah

48

Terlalu luas.

49

16

33

158

LAMPIRAN

Lampiran-2 Format Evaluasi Hasil KP

HASIL PENELUSURAN CAPAIAN ISU DALAM RPP-T2CP2EPRPD

No. 1

Substansi Pasal Bahwa untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis, transparan, akuntabel, efisien dan efektif maka di bidang perencanaan pembangunan daerah diperlukan adanya penyelenggaraan tahapan, tata cara penyusunan, pengendalian dan evaluasi perencanaan daerah Tujuan Perencanaan Pembangunan Daerah: Meningkatkan transparansi dan partisipasi dalam proses perumusan kebijakan dan perencanaan program, Menyelaraskan perencanaan program dan penganggaran, Meningkatkan akuntabilitas pemanfaatan sumber daya dan keuangan publik

Sistematika Bagian penjelasan alinea 1

Isu Yang Diakomodasi Transparan dan akuntabel

Bagian penjelasan umum alinea 2

Transparansi, partisipasi, akuntabilitas dan keberlanjutan

Proses perencanaan dilaksanakan dengan memasukkan prinsip pemberdayaan, pemerataan, demokratis, desentralistik, transparansi, akuntabel, responsif, dan partisipatif dengan melibatkan seluruh unsur lembaga negara, lembaga pemerintah, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya

Bagian penjelasan umum alinea terakhir

Partisipasi, transparansi, akuntanbilitas

159

LAMPIRAN

No. 4

Substansi Pasal

Sistematika

Isu Yang Diakomodasi

Perencanaan Pembangunan Pasal 1 butir 8. Keberlanjutan Daerah adalah suatu proses pembangunan. penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan (stakeholders) di dalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteran sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu dengan memperhatikan keadilan dan keberlanjutan pembangunan daerah di masa depan. Perencanaan pembangunan daerah dilakukan oleh pemerintah daerah bersama masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya berdasarkan peran dan kewenangan masing-masing. Perencanaan pembangunan daerah bertujuan untuk mengintegrasikan perencanaan ruang, program dan kegiatan serta mengoptimalkan partisipasi masyarakat dengan memperhatikan keadilan dan keberlanjutan pembangunan di masa depan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pasal 2 ayat 2. Partisipasi.

Pasal 2 ayat 3.

Partisipasi dan keberlanjutan pembangunan.

160

LAMPIRAN

No. 7

Substansi Pasal

Sistematika

Isu Yang Diakomodasi Partisipasi dan keberpihakan.

Perencanaan pembangunan Pasal 2 ayat 5 daerah sebagaimana dimaksud dan pada ayat (2) dan ayat (3) penjelasan. dirumuskan berdasarkan indikator kinerja didukung dengan data dan informasi yang akurat, realistis, dan faktual, dengan menggunakan prinsip yang responsif, efisien, efektif, transparan, akuntabel, partisipatif, berkeadilan dan berkelanjutan. Partisipatif, merupakan hak masyarakat untuk terlibat dalam setiap proses tahapan perencanaan pembangunan daerah dan bersifat inklusif terhadap kelompok yang termarginalkan melalui jalur khusus komunikasi untuk mengakomodasi aspirasi kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses dalam pengambilan kebijakan. Berkeadilan, perencanaan menganut prinsip keadilan antar jender, antar sektor, antar pendapatan, antar wilayah dan antar usia. Yang dimaksud dengan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat baik laki-laki dan perempuan adalah yang berkaitan dengan pelayanan dasar kepada masyarakat seperti hak untuk memperoleh pekerjaan yang layak Penjelasan Pasal 2 ayat 6.

Keberpihakan.

161

LAMPIRAN

No.

Substansi Pasal bagi masyarakat, memperoleh perlindungan hukum, memperoleh rasa aman, memperoleh akses atas kebutuhan hidup (sandang, pangan, dan papan) yang terjangkau, memperoleh akses dan mutu pendidikan, akses dan mutu kesehatan, memperoleh keadilan, berpartisipasi dalam politik dan perubahan, dan hak untuk berinovasi.

Sistematika

Isu Yang Diakomodasi

Butir (b) Penjelasan Partisipasi, pasal 3 butir b. keberpihakan. Yang dimaksud Musrenbang Daerah merupakan upaya penjaringan aspirasi masyarakat yang antara lain ditujukan untuk mengakomodasi yang aspirasi kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses dalam pengambilan kebijakan melalui jalur khusus komunikasi. Musrenbang RPJPD diikuti oleh masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. Tata cara dan tahapan Musrenbang RPJPD selanjutnya diatur oleh Peraturan Kepala Daerah. Rancangan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud ayat (3) disosiolisasikan ke masyarakat. Pasal 6 ayat 3. Partisipasi.

10

11

Pasal 6 ayat 4.

Keleluasaan daerah.

12

Pasal 7 ayat 4.

Transparansi.

162

LAMPIRAN

No. 13

Substansi Pasal

Sistematika

Isu Yang Diakomodasi Transparansi.

RPJPD merupakan dokumen publik Pasal 8 ayat 3. dan wajib disebarluaskan kepada masyarakat. program Kepala Daerah ke dalam kebijakan umum pembangunan daerah, arah kebijakan keuangan daerah dengan mempertimbangkan kerangka pendanaan, strategi pembangunan daerah dan program prioritas dengan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah. Pasal 9 ayat 2.

14

Konsistensi perencanaan penganggaran.

15

Musrenbang RPJMD Pasal 10 ayat diselenggarakan dengan rangkaian 2. kegiatan pembahasan rancangan awal RPJMD, penjaringan aspirasi masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. Tahapan dan tata cara Musrenbang dalam rangka menyusun RPJMD ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah. Pasal 10 ayat 5.

Partisipasi.

16

Keleluasaan daerah.

17

Renstra SKPD untuk jangka waktu 5 Pasal 13 ayat (lima) tahunan disusun oleh SKPD 1. dengan melibatkan partisipasi masyarakat dan pemangku kepentingan lain, yang memuat visi, misi, tujuan dan sasaran, strategi, kebijakan, program, kegiatan pembangunan, indikator kinerja dan kelompok sasaran, serta pagu indikatif.

Partisipasi dan konsistensi perencanaan penganggaran.

163

LAMPIRAN

No. 18

Substansi Pasal RPJMD merupakan dokumen publik dan wajib disebarluaskan kepada masyarakat.

Sistematika Pasal 14 ayat 3.

Isu Yang Diakomodasi Transparansi.

19

Rancangan Renja-SKPD memuat Pasal 15 ayat strategi, kebijakan, program, 4. kegiatan yang dibedakan antara kegiatan yang sedang berjalan dan kegiatan alternatif atau baru, serta indikator kinerja dan kelompok sasaran yang menjadi bahan utama RKPD dan menunjukkan prakiraan maju. Rancangan awal RKPD memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah, program prioritas pembangunan Daerah, rencana kerja dan pendanaannya serta prakiraan maju dengan mempertimbangkan kerangka pendanaan dan pagu indikatif, baik yang bersumber dari APBD maupun sumber-sumber lain yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. Penetapan skala prioritas beorientasi pada pemenuhan hakhak dasar masyarakat dan pencapaian keadilan yang berkesinambungan dan berkelanjutan. Pasal 16 ayat 1.

Konsistensi perencanaan penganggaran.

20

Partisipasi

21

Pasal 16 ayat 3.

Keberpihakan.

164

LAMPIRAN

No. 22

Substansi Pasal Musrenbang RKPD merupakan wahana partisipasi dan tempat jaring pendapat yang diikuti oleh SKPD, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya di tingkat daerah. Khusus untuk Musrenbang Kabupaten/Kota menghasilkan forum delegasi Musrenbang yang berperan mengawal proses penyusunan APBD. Rancangan akhir RKPD dan pendanaannya disusun oleh Badan Perencanaan Daerah berdasarkan hasil Musrenbang RKPD dengan menunjukkan prakiraan maju. RKPD merupakan dokumen publik dan wajib disebarluaskan kepada masyarakat. Untuk menjamin konsistensi RKPD sesuai dengan Rancangan Anggaran dan Pendapatan dan Belanja Daerah dibentuk Tim Terpadu perencanaan dan penganggaran. Dokumen rencana pembangunan daerah disusun berdasarkan Data dan Informasi, Rencana Tata Ruang, dan Indikator kinerja.

Sistematika

Isu Yang Diakomodasi

Pasal 17 ayat 1. Partisipasi.

23

Penjelasan Partisipasi dan pasal 17 ayat 2. konsistensi perencanaan penganggaran. Pasal 18 ayat 1. Konsistensi perencanaan penganggaran.

24

25

Pasal 19 ayat 3. Transparansi.

26

Penjelasan Konsistensi Pasal 19 ayat 4. perencanaan penganggaran.

27

Pasal 20 ayat 1. Integrasi perencanaan programwilayah. Konsistensi perencanaan penganggaran

28

Dokumen rencana pembangunan Pasal 20 ayat 3 daerah disusun melalui: Penyusunan point e. Program, Kegiatan, Alokasi Dana Indikatif dan Sumber Pendanaan;

165

LAMPIRAN

No.

Substansi Pasal

Sistematika

Isu Yang Diakomodasi

29

Masyarakat mempunyai hak untuk mendapatkan dokumen data dan informasi sebagaimana termuat dalam ayat (1). Rencana Tata Ruang merupakan syarat dan acuan utama penyusunan dokumen rencana pembangunan daerah, sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Indikator Kinerja serta pencapaian target kinerja minimal merujuk pada standar pelayanan minimum sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. Sistematika penulisan RPJMD, sekurang-kurangnya mencakup: gambaran pengelolaan keuangan daerah serta penetapan kerangka pendanaan. Sistematika penulisan Renstra SKPD, sekurang-kurangnya mencakup: rencana program, kegiatan, indikator kinerja, kelompok sasaran dan pendanaan indikatif. Sistematika penulisan Renja SKPD, sekurang-kurangnya mencakup: Dana indikatif beserta sumbernya serta prakiraan maju berdasarkan pagu indikatif.

Pasal 21 ayat 2.

Transparansi.

30

Pasal 23

Integrasi perencanaan progranwilayah

31

Penjelasan Pasal 24 ayat 3.

Pemenuhan SPM.

32

Pasal 26 ayat 2 Konsistensi point e. perencanaan penganggaran.

33

Pasal 26 ayat 3 Konsistensi point e. perencanaan penganggaran.

34

Pasal 26 ayat 4 Konsistensi point e. perencanaan penganggaran.

166

LAMPIRAN

No. 35

Substansi Pasal Sistematika RKPD sekurangkurangnya mencakup: matriks program pembangunan disertai kebutuhan pendanaan secara indikatif serta prakiraan maju. Yang dimaksud dengan masalah dan tantangan dapat merujuk pada dua dokumen nasional sebagai acuan yakni dokumen RPJM dan Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SNPK) sebagai upaya membuat koherensi dan konsistensi antara strategi pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Rumusan yang dapat dipertimbangkan dalam rangka pengurangan kemiskinan misalnya: Perluasan kesempatan. Pemberdayaan kelembagaan masyarakat. Peningkatan kapasitas. Perlindungan sosial.

Sistematika Pasal 26 ayat 5 point g.

Isu Yang Diakomodasi Konsistensi perencanaan penganggaran.

36

Penjelasan Keberpihakan. Pasal 30 ayat 1.

37

Program, kegiatan dan pendanaan disusun berdasarkan: pendekatan kinerja, kerangka pengeluaran jangka menengah serta perencanaan dan penganggaran terpadu; kerangka pendanaan dan pagu indikatif; skala prioritas urusan wajib dan urusan pilihan yang mengacu pada standar pelayanan minimal sesuai dengan kondisi nyata daerah dan kebutuhan masyarakat.

Pasal 30.

Konsistensi perencanaan penganggaran.

167

LAMPIRAN

No.

Substansi Pasal

Sistematika

Isu Yang Diakomodasi

38

Rancangan kebijakan terlebih dahulu disampaikan kepada masyarakat melalui forum konsultasi publik. Masyarakat berhak melaporkan program dan kegiatan yang dianggap tidak sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Mekanisme penyampaian dan tindak lanjut dari laporan dari masyarakat diatur dalam Peraturan Daerah. Dalam rangka mengevaluasi kinerja pelaksanaan rencana pembangunan, Kepala SKPD dan atau Kepala Bappeda wajib mendapatkan dan mempertimbangkan masukan dari masyarakat dalam rangka perbaikan atau penyempurnaan rencana pembangunan daerah.

Pasal 33 ayat 1.

Partisipasi.

39

Pasal 45 ayat 1.

Partisipasi.

40

Pasal 45 ayat 3.

Keleluasaan daerah.

41

Pasal 46 ayat 3.

Partisipasi.

42

Pemerintah Daerah berkewajiban Pasal 47. memberikan informasi mengenai perencanaan, pelaksanaan, serta hasil pemantauan dan evaluasi pelaksanaan rencana, program dan kegiatan pembangunan daerah kepada masyarakat.

Transparansi.

168