Anda di halaman 1dari 13

1

Ilmu Mantiq
Hasna Muftiyah

A. Mafhum dan Mashadaq Setiap lafazh kulli selalu memberi dua dilalah (petunjuk): Pertama, dilalah yang menunjuk kepada makna, konsep atau pengertian. Seperti lafazh insan, yang memberi dilalah bahwa manusia adalah hayawanun-nathiq. Kedua, dilalah yang tercakup pada makna tersebut, yaitu yang terkena/dikenai konsep atau pengertian di atas. Seperti anak kecil dan orang gila, itu tercakup pada makna insan, karena masih disebut sebagai seorang manusia.

( makna yang ditunjukkan oleh lafazh kulli, itulah )


yang dinamakan Mafhum atau disebut juga

atau .
sedangkan afrad (bagian-bagian) yang tercakup

) )

atau dikenai oleh makna itu adalah Mashadaq.1 Adapun beberapa contoh lain di bawah ini, yaitu: Jika Anda menyebutkan lafazh nahr (sungai), maka mafhum-nya adalah air yang mengalir di permukaan tanah sejak dari hulunya di gunung sampai ke muaranya di laut luas. Sedang mashadaq-nya adalah setiap yang bernama sungai di permukaan bumi, contohnya seperti sungai Nil. Jika kita memerhatikan mafhum dari lafazh kulli, misalnya samak (ikan) maka akan terlihat bahwa mashadaq-nya adalah semua ikan, baik di laut maupun di sungai dan di kolam. Tetapi, bila Anda menambahkan konsep bahri kepada samak sehingga menjadi samak bahri (ikan laut) maka mashadaq-nya hanyalah ikan laut. Ikan sungai dan ikan kolam tidak tergabung lagi ke dalamnya. Lebih-lebih lagi, mashadaq-nya akan semakin sedikit, jika Anda menambahkan konsep yang lainnya lagi, misalnya samak bahri mulawwan (ikan laut yang berwarna).2 Maka, dari uraian di atas, dapat dipahami, bahwa:


Apabila mafhum kulli bertambah, maka mashadaq akan berkurang.
1 2

A. Zakaria, Ilmu al-Mantiq (Garut: Pesantren Persatuan Islam, 1999) cet. I, hal. 14-15. Baihaqi A.K, Ilmu Mantik Teknik Dasar Berpikir Logik (Bandung: Darul Ulum Press, 1996) Cet. I, hal. 29.

Kaidah yang semakna dengan kaidah tersebut dalam bentuk redaksi lainnya adalah:


Banyaknya ikatan mafhum akan menyempitkan mashadaq-nya.

B. Taqabul al-Alfazh (Perlawanan Kata) Dalam Ilmu Mantik, lafazh-lafazh (kata-kata) yang berlawanan diistilahkan dengan taqabul al-alfazh.


Yang dimaksudkan dengan kata-kata berlawanan adalah bahwa dua kata tidak dapat berkumpul pada satu benda/objek, dan dalam satu waktu. Seperti: Ada dan tidak ada, Hitam dan Putih, Hidup dan Mati. Dua lafazh ini dinamai dengan Mutaqabilain.3 Taqabul ini terbagi menjadi tiga bagian: 1) Taqabul as-Salab wal Ijab (Negatif dan Positif) Lafazh yang berlawanan secara ijab dan salab (positif dan negatif) adalah dua lafazh (kata) yang tidak bisa dikumpulkan sekaligus pada satu benda dan tidak bisa pula dipisahkan sekaligus dari benda itu, mesti ada salah satunya. Dan disebut juga dua taqabul ini dengan Naqidhaen, atau Maniah al-Jama wal Khuluw. Contoh: a) Manusia dan bukan manusia. Tidak mungkin kita mengatakan kepada orang lain: Anda adalah manusia dan bukan manusia (ijab). Atau, tidaklah Anda manusia dan bukan manusia (salab). b) Hewan dan bukan hewan. Tidak mungkin kita mengatakan kepada sesuatu, bahwa: Dia itu hewan dan dia bukan hewan (ijab). Atau, tidaklah dia itu hewan dan bukan hewan (salab). c) Laptop dan bukan laptop. Tidak mungkin kita mengatakan pada suatu barang, bahwa: Barang itu adalah laptop dan bukan laptop (ijab). Atau, tidaklah barang itu laptop dan bukan laptop (salab).
3

A. Zakaria, Ilmu al-Mantiq (Garut: Pesantren Persatuan Islam, 1999) cet. I, hal. 15.

2) Taqabul Dhiddain Yaitu dua lafazh yang keduanya tidak bisa bersatu, berkumpul dalam satu objek dan satu waktu. Tapi terkadang bisa menghilang keduanya bersama-sama. Contoh: a) Hitam dan putih Tidak bisa putih itu berkumpul dengan hitam dalam satu waktu, tapi dapat menghilang keduanya bersamaan, dengan artian keadaan suatu benda itu misalnya berwarna merah. Masing-masing dari lafazh berlawanan itu tidak bisa dikumpulkan sekaligus dalam satu waktu pada satu benda. Kita tidak bisa mengatakan: Perempuan itu hitam dan putih (ijab); Pernyataan itu tidak bisa dibenarkan, tetapi, bisa saja ditidakkan, dengan mengatakan: Perempuan itu tidak hitam dan tidak putih (salab); Pernyataan itu menjadi benar karena mungkin sekali perempuan yang dimaksud tidak hitam dan tidak putih, tetapi kuning langsat. b) Tinggi dan rendah Kayu itu tinggi dan rendah. Kalimat tersebut merupakan pernyataan yang tidak mungkin bisa terjadi. Namun pernyataan itu akan menjadi benar, jika diucapkan dalam bentuk negatif, seperti: Kayu itu tidak tinggi dan tidak rendah (pertengahan). c) Besar dan kecil. Anak itu besar dan kecil (ijab). Kalimat tersebut merupakan pernyataan yang tidak mungkin bisa terjadi. Namun pernyataan itu akan menjadi benar, jika diucapkan dalam bentuk negatif, seperti: Anak itu tidak besar dan tidak kecil (pertengahan). d) Pahit dan manis. Makanan itu manis dan pahit. Kalimat tersebut merupakan pernyataan yang tidak mungkin bisa terjadi. Namun pernyataan itu akan menjadi benar, jika diucapkan dalam bentuk negatif, seperti: Makanan itu tidak manis dan tidak pahit; bisa jadi asam, asin, ataupun pedas.

3) Taqabul Mutadhayifain Berlawanan tapi terikat, yaitu dua kata berlawanan yang tidak bisa dikumpulkan pada sesuatu di satu waktu, tetapi yang satu terikat dengan yang lainnya. Dengan kata lain,

dikatakan bahwa perlawanan dua kata yang tidak mungkin dapat dipahami salah satunya tanpa adanya yang lain. Contoh: a) Ayah dan anak b) Suami dan istri c) Guru dan murid Contoh itu menampilkan tiga pasang kata yang berlawanan, tetapi yang satu terikat dengan lawannya. Seseorang tidak terterima oleh akal sebagai suami, jika ia tidak memiliki seorang istri. Tetapi dikumpulkan suami dan istri sekaligus dalam satu waktu pada seseorang adalah hal tidak mungkin. Demikian juga dengan contoh yang lainnya.4 C. Nisbah baina Kulliyain (Hubungan antara Dua Lafazh Kulli) Dilihat dari segi hubungan (nisbah) antara satu makna lafazh kulli dan makna kulli lainnya, terdapat lima macam; 1) Mutaradifain/Sinonim Yaitu dua lafazh kulli yang sama mafhum dan mashadaqnya (dalam pengertian dan bukti). Contoh: Asadun dan ghadhanfarun (binatang buas) Insanun dan basyarun (hewan berpikir) Baitun dan manzilun (bahasa Arab: rumah) Nar dan Sair (bahasa Arab: neraka) Jannah dan adn (bahasa Arab: surga)

2) Mutasawiyain Dua lafazh yang satu dalam buktinya (mashadaq), tetapi tidak satu dalam pengertiannya (mafhum). Contoh: nathiq dengan qabil li al-talim al-raqi. Mashadaqnya satu, yaitu manusia. Akan tetapi, pengertian nathiq berbeda dengan pengertian qabil li al-talim al-raqi. Yang pertama artinya berpikir, dan yang kedua artinya dapat dididik, mampu menerima pengajaran tinggi.5 3) Mutabayinain Perbandingan tabayun, adalah perbandingan dua lafazh kulli yang berbeda, baik mafhum maupun mashadaq-nya. Atau yang berbeda dalam pengertian dan buktinya;

4 5

Baihaqi A.K, Ilmu Mantik Teknik Dasar Berpikir Logik (Bandung: Darul Ulum Press, 1996) Cet. I, hal. 30-32. Syukriadi Sambas, Mantik Kaidah Berpikir Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009) cet. V, hal. 54.

bukti yang satu tidak sama dengan bukti yang lainnya. 6 Perbandingan yang semacam ini adalah yang terbanyak. Contoh: Gunung dan laut, Rumah dan sungai, Anjing dan merpati, Kuda dengan pohon, Insan dan jin, Sunnah dan bidah, dan sebagainya.

4) Umum Khusus Mutlak Dua kata yang salah satu dari keduanya lebih umum dan mencakup individu yang lainnya. Contoh; Buku-kertas7 Madan (barang tambang) dengan nuhas (perunggu). Barang tambang itu lebih umum daripada perunggu, sebab emas dan perak pun termasuk barang tambang.8 Ibadah dan shalat Tumbuh-tumbuhan dan jeruk Bunga-bungaan dan mawar, dan yang semacamnya.9

5) Umum Khusus Wajhi Sebagian bukti dan salah satu bukti terdapat pada bukti individu yang lain. Keduanya dapat berkumpul pada satu benda, tetapi keduanya dapat pula berpisah pada benda yang lain. Contoh: Antara manusia dan putih bisa ada pada benda lain; seperti kapur juga putih.10 Bunga dan merah Obat dan pahit Api dan panas Lapangan dan luas

6 7

Imas Masaroh Amien, Ilmu Mantiq Pengantar Praktis Menuju Berpikir Islam (Tasikmalaya, 2011) hal. 24. Ibid., hal. 24. 8 Syukriadi Sambas, Mantik Kaidah Berpikir Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009) cet. V, hal. 55. 9 Baihaqi A.K, Ilmu Mantik Teknik Dasar Berpikir Logik (Bandung: Darul Ulum Press, 1996) Cet. I, hal. 34. 10 Syukriadi Sambas, Mantik Kaidah Berpikir Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009) cet. V, hal. 55-56.

D. Perbandingan antara Lafazh Kulli dengan Artinya Dilihat dari segi artinya lafazh kulli terbagi ke dalam 5 macam, yaitu; 1. Lafazh Mutawathi Adalah lafazh kulli yang mempunyai makna banyak; mafhumnya satu dan mashadaqnya banyak. Contoh: Insan, hewan, tumbuh-tumbuhan. Lafazh insan mempunyai makna: Hindun, Fatimah, Umar, dan lain-lain. Hakikat dari nama-nama itu sama dalam hal manusianya. Mereka hanya berbeda dalam jenis dan sifat-sifat saja. Demikian pula lafazh hewan, dapat mengandung arti kucing, babi, anjing, monyet, dan lain-lain. 2. Lafazh Musyakkik Lafazh musyakkik adalah lafazh kulli yang kualitas artinya berbeda. Artinya, lafazh musyakkik itu satu, tetapi kualitasnya berbeda. Contoh: Putih, tinggi, besar Lafazh putih mempunyai arti bisa sangat putih, kurang putih, sedikit putih, atau putih sedang. Lafazh tinggi bisa sangat tinggi, kurang tinggi dan seterusnya. Demikian juga halnya dengan lafazh besar, bisa sangat besar, kurang besar, dan seterusnya. 3. Lafazh Mutabayin Lafazh mutabayin (sama dengan perbandingan mutabayinain) adalah dua lafazh yang bacaannya berbeda dan artinya pun berlainan. Contoh: Insan, ardh, sama (bahasan Arab: manusia, bumi, langit) Kuda, kambing, dan rambutan, kelapa (bahasa Indonesia) Lafazh-lafazh itu memperlihatkan perbedaan dari segi mafhum dan mashadaqnya. Dengan kata lain lafazhnya berbeda dan artinya pun berlainan. Lafazh jenis ini adalah yang terbanyak. 4. Lafazh Mutaradif Lafazh mutaradif (sama dengan perbandingan taraduf) adalah dua atau lebih lafazh yang berbeda, tetapi mengandung arti sama. Contoh: Nar dengan sair (neraka) Jannah dengan adn (surga) Arloji dengan jam tangan, dan lain sebagainya. 5. Lafazh Musytarak

Lafazh musytarak adalah lafazh kulli yang mempunyai lebih dari satu arti. Contoh: Ain, nar, jannah (bahasa Arab) Lagu, saran, rebut (bahasa Indonesia) Ain (bahasa Arab) bisa mengandung arti mata dan mata air. Nar bisa mengandung arti api dan neraka. Jannah bisa mengandung arti kebun dan surga. Lagu (bahasa Indonesia) bisa mengandung arti ragam suara nyanyi, tingkah laku. Saran (bahasa Indonesia) bisa mengandung arti pendapat pendapat, anjuran, propaganda. Ribut (bahasa Indonesia) bisa mengandung arti sibuk, gaduh, kencang.11

E. Aqsam al-Kulli (Pembagian Lafazh Kulli)

Kelima macam bagian ini, disebut dengan Kulliyat al-Khams. Yang merupakan bahan pembentukan takrif atau pengertian, selain merupakan bagian dari objek berpikir. 1) Dzati Dzati (lafazh kulli dzati), secara lughawi, adalah lafazh yang bermakna zat (benda, materi, substansi). Dzati dapat juga disebut lawan dari irdhi (sifat). 12 Oleh karena itu, kata-kata seperti manusia, hewan, rumah, tanah, kayu, batu dan yang semacamnya terkategori ke dalam lafazh kulli dzati. Secara terminologi, yaitu lafazh kulli yang menunjuk kepada mahiyah (hakikat) sepenuhnya yang kepadanya dapat diajukan pertanyaan: apa dia? Contoh: hayawan dan nathiq (berpikir), merupakan hakikat dari lafazh insan.
11 12

Baihaqi A.K, Ilmu Mantik Teknik Dasar Berpikir Logik (Bandung: Darul Ulum Press, 1996) Cet. I, hal. 35-37. Ibid., hal. 39.

Klasifikasi Kulli Dzati: 1. Jinsi/General Jinsi (jenis) adalah lafazh kulli yang mashadaqnya terdiri dari substansisubstansi (hakikat) yang berbeda, atau dengan kata lain, yaitu lafazh kulli yang di bawahnya terdapat lafazh-lafazh kulli yang mempunyai makna lebih khusus. Contoh: o Hayawan. Lafazh hayawan mengandung makna manusia dan hewan-hewan lainnya, seperti kambing, kerbau dan sebagainya.13 o rempah-rempah, mempunyai jenis merica, pala, ketumbar, dll. o Kendaraan, mempunyai jenis mobil, kereta api, pedati, kapal terbang, dll.14 Klasifikasi Jinsi 1) Jinsi Qarib/Safil Sesuatu yang di bawahnya tidak terdapat jenis lagi, tetapi di atasnya terdapat banyak jenis. Atau dengan kata lain, jenis yang di bawah jenis itu tidak terdapat jenis lagi, yang ada hanyalah nau (bagian dari kulli) misalnya, perkataan hayawan, di bawah hewan, sudah tidak ada jenis lagi, yang ada hanyalah nau seperti manusia, kambing, kerbau, dan sebagiannya, yang kesemuanya itu hanyalah bagian dari hewan (nau minal hayawan). Sedangkan di atas lafazh kulli hayawan terdapat beberapa jinsi, yaitu nami (yang tumbuh), jism (fisik yang bergerak, tidak bergerak), dan jauhar (substansi). 2) Jinsi Mutawasith Jenis yang di bawah jenis itu masih ada jenis lagi, demikian pula di atasnya masih terdapat jenis yang lain, seperti: an-nami (yang berkembang). Di bawah nami ada jenis yaitu hewan, dan di atasnya ada pula jenis yaitu Jism.15 3) Jinsi Baid (Ali) Sesuatu yang di atasnya tidak terdapat lagi jenis, tetapi di bawahnya terdapat banyak jenis. Contoh: Jauhar Di atas lafazh kulli jauhar tidak ada lahi jinsi, tetapi di bawahnya terdapat beberapa jinsi, yaitu jism, nami, dan hayawan.
13 14

Ibid., hal. 40. Cholil Bisri Mustofa, Ilmu Mantiq Tarjamahan assulamul munauroq (Rembang: PT. Al-Maarif. Penerbit. Percetakan. Offset, 1987) cet. III, hal. 20. 15 Ibid., hal. 22.

2. Nau/Spesial Nau secara lughawi, adalah macam. Secara mantiki nau adalah lafazh kulli yang mashadaqnya terdiri dari hakikat-hakikat yang sama, seperti lafazh insan yang mashadaqnya Mustafa, Ibrahim, Ali, dan lainnya. Yang semuanya mempunyai hakikat yang sama.16 Klasifikasi Nau: 1) Nau Hakiki Lafazh kulli yang ada di bawah cakupan jinsi sedang mashadaq-nya merupakan hakikat yang sama. Nau hakiki ini tidak ada lagi di bawahnya kecuali juzinya.17 Contoh: Manusia; sebab afrad-nya sama dalam hakikatnya; ia ada di bawah cakupan kata hayawan. 2) Nau Idhafy Lafazh kulli yang berada di bawah jinsi, baik hakikatnya sama maupun tidak. Contoh: Hayawan ketika berada di bawah cakupan nami. Begitu pula nami akan menjadi nau idhafi ketika berada di bawah cakupan jismi, dan seterusnya. Dengan memerhatikan contoh tersebut, maka Nau Idhafi ini terbagi lagi menjadi tiga macam. (1) Nau Idhafi Safil Lafazh kulli yang tidak ada lagi di bawahnya kecuali substansi juzi-nya. Contoh: Insan (2) Nau Idhafi Mutawasith Lafazh kulli yang di bawahnya terdapat nau dan di atasnya pun terdapat nau. Contoh: Hayawan dan an-Nami. (3) Nau Idhafi Ali Lafazh yang tidak terdapat jenis lagi di atasnya kecuali jins ali. Contoh: Jismi.18

16 17

Baihaqi A.K, Ilmu Mantik Teknik Dasar Berpikir Logik (Bandung: Darul Ulum Press, 1996) Cet. I, hal. 42. Ibid., hal. 43. 18 Syukriadi Sambas, Mantik Kaidah Berpikir Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009) cet. V, hal. 63.

10


Jauhar (materi) = Jinas Baid Jism Nami Hayawan Insan Umar = Jinas Mutawasith = Jinas Mutawasith = Jinas Qarib = Nau = Farad
19

(Nau Idhafi) Ali (Nau Idhafi) Mutawasith (Nau Idhafi) Mutawasith (Nau Hakiki) Safil

3. Fashal/Differential Fashl mengandung arti pemisah atau pembeda. Dalam terminologi mantik, fashl adalah ciri atau sejumlah ciri dari hakikat (benda, diri, orang) yang dengannya berbeda substansi-substansi atau hakikat-hakikat yang berada dalam satu jinsi antara yang satu dengan yang lainnya. Contoh: Insan dan hayawan, dikaitkan dengan nathiq.
19

A. Zakaria, Ilmu al-Mantiq (Garut: Pesantren Persatuan Islam, 1999) cet. I, hal. 25.

11

Pembagian Fashal: (1) Fashal Qarib Sesuatu yang dapat membedakan hakikat dari suatu objek yang berserikat dalam jenisnya yang dekat. Contoh: Dapat Berpikir Kata dapat berpikir adalah fashal qarib bagi manusia yang membedakannya dari yang menyamainya dalam satu jenis, yaitu hayawan (kambing, kerbau dan sebagainya). (2) Fashal Baid Sesuatu yang dapat membedakan hakikat dari suatu objek yang berserikat dalam jenisnya yang jauh. Contoh: Merasakan (berperasaan) Adalah fashal baid bagi manusia yang membedakannya dengan hewan.20

Dapat disimpulkan dengan contoh: Manusia Hewan > Nau/Specia > Jenis/Genera

Berbicara > Fashal/Defferentia 2) Aradhi Adalah sesuatu yang berada di luar hakikat.21 Contoh: tertawa, putih, cantik, menangis besar, dan yang semacamnya (kata selain zat). Klasifikasi Kulli Aradhi: 1) Khas Satu sifat atau kumpulan sifat-sifat di luar hakikat yang terdapat dalam satu hakikat individu. Contoh: Manusia hewan yang mampu belajar bahasa: (sifat khusus) bagi manusia.

20 21

Baihaqi A.K, Ilmu Mantik Teknik Dasar Berpikir Logik (Bandung: Darul Ulum Press, 1996) Cet. I, hal. 46. A. Zakaria, Ilmu al-Mantiq (Garut: Pesantren Persatuan Islam, 1999) cet. I, hal. 19.

12

2) Am Satu sifat atau beberapa sifat di luar hakikat yang terdapat pada individu yang hakikatnya berbeda. Contoh: Hitam atau putih Tinggi atau rendah Sifat-sifat tersebut tidak hanya dimiliki oleh manusia, teatapi yang lainnya juga.

22

Daftar Pustaka
22

Ibid., hal. 24.

13

Aceng Zakaria. 1999. Ilmu al-Mantiq. Garut Baihaqi, A. K. 1996. Ilmu Mantik Teknik Dasar Berpikir Logik. Bandung: Darul Ulum Press Cholil Bisri Mustofa. 1987. Ilmu Mantiq Tarjamahan assulamul munauroq. Rembang: PT. Al-Maarif. Penerbit. Percetakan. Offset Imas Masaroh. 2011. Ilmu Mantiq Pengantar Praktis Menuju Berpikir Islam. Tasikmalaya Syukriadi Sambas. 2009. Mantik Kaidah Berpikir Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya