Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah, merupakan satu kata yang sangat pantas penulis ucakan kepada Allah STW, yang karena bimbingan-Nyalah maka penulis bisa menyelesaikan sebuah karya tulis sosiologi berjudul "Dampak Broken Home Terhadap Psikis Anak".

Makalah ini dibuat dengan berbagai observasi dalam jangka waktu tertentu sehingga menghasilkan karya yang bisa dipertanggungjawabkan hasilnya. Saya mengucapkan terimakasih kepada pihak terkait yang telah membantu saya dalam menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan makalah ini.

Saya menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karna itu saya mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.

Terima kasih, dan semoga makalah ini bisa memberikan sumbangsih positif bagi kita semua
Tasikmalaya, 11 April 2014

"penulis"

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........i DAFTAR ISI..ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang.... 1 B. Tujuan Penulisan.......................... 3 C. Rumusan Masalah.. 3

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian dan Keadaan Keluarga Broken ......... B. Ciri-ciri Keluarga Broken Home C. Dampak Broken Home terhadap Perkembangan Kejiwaan Anak. 14 D. Gangguan Kejiwaan pada Seorang Broken Home 1. Broken Heart. 15 2. Broken Relation........ 15 3. Broken Values....... E. Peran Orang Tua terhadap Perkembangan Kejiwaan Anak............. 16 F. Efek-efek Kehidupan Seorang Broken Home... G. Cara Membangkitkan Motivasi Anak Korban Broken............ H. Wawancara Dengan Anak Broken Home................... BAB III PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran.. 22 DAFTAR PUSTAKA 24 22 19 16 15 12

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Istilah broken home biasanya digunakan untuk menggambarkan keluarga yang berantakan akibat orang tua kita tak lagi peduli dengan situasi dan keadaan keluarga di rumah. Orang tua tidak lagi perhatian terhadap anak-anaknya, baik masalah di rumah, sekolah, sampai pada perkembangan pergaulan anak di masyarakat. Namun, broken home bisa juga diartikan dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun, damai, dan sejahtera karena sering terjadi keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran dan berakhir pada

perceraian. Kondisi ini menimbulkan dampak yang sangat besar terutama bagi anakanak. Selain itu, anak juga kehilangan pegangan serta panutan dalam masa transisi menuju kedewasaan. Selain itu Broken Home adalah kurangnya perhatian dari keluarga atau kurangnya kasih sayang dari orang tua sehingga membuat mental seorang anak menjadi frustasi, brutal dan susah diatur. Broken home sangat berpengaruh besar pada mental seorang pelajar hal inilah yang mengakibatkan seorang pelajar tidak mempunyai minat untuk berprestasi. Broken home juga bisa merusak jiwa anak sehingga dalam sekolah, mereka bersikap seenaknya saja, tidak disiplin di dalam kelas mereka selalu berbuat keonaran dan kerusuhan hal ini dilakukan karena mereka ingin cari simpati pada teman-teman mereka bahkan pada guru-guru mereka.

Untuk menyikapi hal semacam ini perlu diberikan perhatian dan pengerahan yang khusus agar mereka sadar dan mau berprestasi.

B. Tujuan penulisan Di dalam penulisan makalah ini bertujuan agar orang tua lebih memperhatikan perkembangan anak dan tidak hanya mementingkan egonya masing-masing seperti berpisah atau bercerai, karena sikap orang tua itu sangat berpengaruh pada perkembangan kejiwaan anak. Menurut Kartini Kartono (1986 : 45) Sikap dan prilaku orang tua dalam hubungan dengan anak-anak mempengaruhi setiap partumbuhan dan perkembangan.

C. Rumusan Masalah 1. Bagaimana keadaan keluarga broken home? 2. Bagaimana dampaknya bagi perkembangan psikis anak?

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Keadaan Keluarga Broken Home Tidak luput dari kenyataan yang ada bahwa semakin hari semakin banyak keluarga yang mengalami broken home. Beberapa kasus diantaranya mungkin disebabkan oleh perselingkuhan, perbedaan prinsip hidup, atau sebab-sebab lainnya yang bisa disebabkan oleh masalah internal maupun eksternal dari kedua belah pihak. Akan tetapi, yang jelas kasus-kasus broken home itu sama halnya dengan kasus-kasus sosial lainnya, yaitu sifatnya multifaktoral. Satu hal yang pasti, hubungan interpersonal diantara suami istri dalam keluarga broken home telah semakin memburuk. Kedekatan fisikal juga menjadi alasan bagi pasangan suami istri dalam menyikapi masalah broken home, meskipun dalam beberapa sumber disebutkan bahwa kedekatan fisik tidak mempengaruhi kedekatan personal antar individu. Inti dari semuanya adalah komunikasi yang baik antarpasangan. Dalam komunikasi ini, berbagai faktor kejiwaan termuat di dalamnya, sehingga patut mendapat perhatian utama. Memburuknya komunikasi diantara suami istri ini seringkali menjadi pemicu utama dalam keluarga broken home. Oleh sebab itu, sangatlah penting rasa saling percaya, saling terbuka, dan saling suka diantara kedua pihak agar terjadi komunikasi yang efektif. Dalam keadaan ini, kematangan kepribadianlah yang menentukan penerimaan peran dari pasangan komunikasinya. Setiap individu dilahirkan dengan tipe kepribadian yang berbeda-beda oleh sebab itu saling pengertian antarpasangan juga sangatlah penting. Dari semua fenomena di atas, akan bisa berdampak pada perkembangan kejiwaan anak dalam keluarga itu. Remajalah yang dalam hal ini sangat rentan. Masa remaja, seperti yang dikatakan oleh Erickson bahwa masa remaja merupakan masa pencarian identitas. Pengaruh faktor broken home keluarga menjadi faktor negatif dalam penemuan identitas yang sehat, sehingga remaja cenderung mengalami fase kebingungan identitas. Perkembangan afeksi juga bisa mengalami hambatan. Hal ini dikarenakan adanya pengabaian dari orangtuanya. Lebih jauh, terdapat sifat-sifat

penghambat perkembangan kepribadian yang sehat yang terwujud dalam kepribadian anak. Ayah, ibu, dan anak adalah keluarga inti yang merupakan organisasi terkecil dalam kehidupan bermasyarakat. Pada hakikatnya, keluarga merupakan wadah pertama dan utama bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Di dalam keluarga, anak akan mendapatkan pendidikan pertama mengenai berbagai tatanan kehidupan yang ada di masyarakat. Keluargalah yang mengenalkan anak akan aturan agama, etika sopan santun, aturan bermasyarakat, dan aturan-aturan tidak tertulis lainnya yang diharapkan dapat menjadi landasan kepribadian anak dalam menghadapi lingkungan dan menjadi motivator terbesar yang tiada henti saat anak membutuhkan dukungan. Namun, melihat kondisi masyarakat saat ini, fungsi keluarga sudah mulai tergeser keberadaannya. Semua anggota keluarga khususnya orangtua menjadi sibuk dengan aktivitas pekerjaannya dengan alasan untuk menafkahi keluarga. Peran ayah sebagai kepala keluarga menjadi tidak jelas keberadaannya, karena seringkali ayah zaman sekarang bekerja di luar kota dan hanya pulang satu minggu sekali ataupun pergi pagi dan pulang larut malam. Ibulah yang menggantikan peran ayah di rumah dalam mendidik serta mengatur seluruh kepentingan anggota keluarganya. Masalah akan semakin berkembang tatkala ibupun menjadi seorang wanita pekerja dengan beralih membantu perekonomian keluarga ataupun berambisi menjadi wanita karir, sehingga melupakan anak dan keluarganya. Banyak ditemukan ibu menjadi seorang super woman yang bekerja dua puluh empat jam sehari tanpa henti, barangkali waktu istirahat ibu hanyalah beberapa jam dalam sehari. Itupun jika ibu mampu dengan cerdas mengelola waktu bekerja di luar rumah dan bekerja di rumah tangganya. Oleh karena orangtua tidak punya waktu banyak untuk berdialog, berdiskusi atau bahkan hanya untuk saling bertegur sapa. Saat orang tua pulang bekerja, anak sudah tertidur dengan lelapnya dan saat anak terbangun tidak jarang orang tua sudah pergi bekerja atau anaknya yang harus pergi ke sekolah. Ketika anak protes dan mengeluh, orangtua hanya cukup memberikan pengertian bahwa ayah dan ibu bekerja untuk kepentingan anak dan keluarga juga. Orang tua zaman sekarang sering merasa kesulitan mengerti keinginan anaknya, tanpa mereka sadari bahwa orangtualah yang selalu membuat anak harus mengerti keadaan orang tuanya.

Anak yang broken home bukanlah hanya anak yang berasal dari ayah dan ibunya bercerai, namun anak yang berasal dari keluarga yang tidak utuh, dimana ayah dan ibunya tidak dapat berperan dan berfungsi sebagai orang tua yang sebenarnya. Anak membutuhkan kasih sayang berupa perhatian, sentuhan, teguran dan arahan dari ayah dan ibunya, bukan hanya dari pengasuhnya atau pun dari nenek kakeknya. Perhatian yang diperlukan anak dari orang tuanya adalah disayangi dengan sepenuh hati dalam bentuk komunikasi verbal secara langsung dengan anak, meski hanya untuk menanyakan aktivitas sehari-harinya. Anak sangat membutuhkan sentuhan dari orang tuanya, dalam bentuk sentuhan hati yang berupa empati dan simpati untuk membuat anak menjadi peka terhadap lingkungannya. Arahan dibutuhkan oleh anak untuk memberikan pemahaman bahwa dalam kehidupan bermasyarakat ada aturan tidak tertulis yang harus ditaati dan disebut sebagai norma masyarakat. Norma agama, norma sosial, norma adat atau budaya dan norma hukum sebaiknya diberikan kepada anak sejak masih usia kecil. Dengan diberikannya pemahaman dalam usia sedini mungkin, diharapkan anak dapat menjadi warga masyarakat yang baik, khususnya saat anak mulai mengenal lingkungan selain keluarganya. Jika anak melanggar norma tersebut, sudah merupakan kewajiban orangtua sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya untuk memberikan teguran yang disertai penjelasan logis sesuai dengan perkembangan usianya supaya anak mengerti dan memahami bagaimana bersikap dan berperilaku yang sesuai dengan norma-norma masyarakat.

B. Ciri-ciri Keluarga Broken Home Berdasarkan beberapa asumsi dalam literatur, penulis menemukan bahwa keluarga broken home bukan hanya keluarga dengan kasus perceraian saja. Keluarga broken home secara keseluruhan berarti keluarga dimana fungsi ayah dan ibu sebagai orang tua tidak berjalan baik secara fungsional. Fungsi orang tua pada dasarnya adalah sebagai agen sosialisasi nilai-nilai baik-buruk, sebagai motivator primer bagi anak, sebagai tempat anak untuk mendapatkan kasih sayang, dan sebagainya. Jika fungsi orang tua ini terhambat, maka aspek-aspek khusus dalam keluarga bisa dimungkinkan tak terjadi.

Pada masa remaja, berdasarkan asumsi Erickson. Remaja memerlukan figur tertentu yang nantinya bisa menjadi figure sample dalam internalisasi nilai-nilai remajanya. Dengan tidak berfungsinya peran orang tua sebagaimana mestinya, maka hal ini bisa terhambat. Proses pencarian identitas dalam kondisi serupa ini bisa jadi meriam bagi remaja itu. Remaja itu dimungkinkan membentuk kerpibadian yang kurang sehat dengan perasaan terisolasi. Jika keadaan keluarga yang broken home itu dirasakannya sangat menekan dirinya. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Yeri Abdillah (2003) dalam penelitiannya, menyimpulkan bahwa agresivitas pada remaja dalam keluarga broken home mempunyai taraf lebih tinggi daripada rekannya yang tidak mengalami kasus broken home. Efeknya akan lebih terasa jika anak berada dalam masa remaja. Keadaan itu akan diartikan sebagai tekanan yang bisa menjadi sumber awal penyebab patologis sosial. Munculnya masalah broken home menimbulkan suatu perasaan menyesal pada remaja, dan melakukan identifikasi ulang. Orang tua yang semulanya menjadi teladan, akan dianggap sebagai pembawa petaka baginya. Dari asumsi ini munculah rasa ketidakpercayaan pada diri remaja itu. Munculnya rasa ketidakpercayaan ini menyebabkan cinta kepada orang tuanya semakin menipis atau berkurang. Kelekatan dengan orang tua semakin kecil, menimbulkan asumsi-asumsi negatif kepada orang tua mulai muncul. Dari asumsi itu munculah asumsi bahwa orang tuanya sudah tidak menyayanginya lagi..

C. Dampak Broken Home terhadap Perkembangan Kejiwaan Anak - Dampak pada anak-anak pada masa ketidak harmonisan, belum sampai bercerai namun sudah mulai tidak harmonis: 1. Anak mulai menderita kecemasan yang tinggi dan ketakutan. 2. Anak merasa jerjepit di tengah-tengah, karena harus memilih antara ibu atau ayah. 3. Anak sering kali mempunyai rasa bersalah. 4. Kalau kedua orangtuanya sedang bertengkar, itu memungkinkan anak bisa membenci salah satu orang tuanya.

- Dalam rumah tangga yang tidak sehat, yang bermasalah dan penuh dengan pertengkaran-pertengkaran bisa muncul 3 kategori anak: 1. Anak-anak yang memberontak yang menjadi masalah diluar. Anak yang jadi korban keluarga yang bercerai itu menjadi sangat nakal sekali. 2. Selain itu, anak korban perceraian jadi gampang marah karena mereka terlalu sering melihat orang tua bertengkar. Namun kemarahan juga bisa muncul karena: Dia harus hidup dalam ketegangan dan dia tidak suka hidup dalam ketegangan. Dia harus kehilangan hidup yang tenteram, yang hangat, akhirnya dia jadi marah pada orang tuanya yang membuat hidup menjadi seperti ini kepada mereka. Waktu orang tua bercerai, anak kebanyakan tinggal dengan mama, itu berarti ada yang terhilang dalam diri anak yakni figur otoritas, figur ayah. 3. Anak-anak yang bawaannya sedih, mengurung diri, dan menjadi depresi. Anak ini juga bisa kehilangan identitas sosialnya.

D. Gangguan Kejiwaan pada Seorang Broken Home : 1. Broken Heart Seseorang merasakan kepedihan dan kehancuran hati sehingga memandang hidup ini sia-sia dan mengecewakan. Kecenderungan ini membentuk seseorang tersebut menjadi orang yang krisis kasih dan biasanya lari kepada yang bersifat keanehan sexual. Misalnya sex bebas, homo sex, lesbian, jadi simpanan orang, tertarik dengan

istri atau suami orang lain dan lain-lain. 2. Broken Relation Si pemuda merasa bahwa tidak ada orang yang perlu di hargai, tidak ada orang yang dapat dipercaya serta tidak ada orang yang dapat diteladani. Kecenderungan ini membentuk si pemuda menjadi orang yang masa bodoh terhadap orang lain, ugalugalan, cari perhatian, kasar, egois, dan tidak mendengar nasihat orang lain, cenderung semau gue.

3. Broken Values Si pemuda kehilangan nilai kehidupan yang benar. Baginya dalam hidup ini tidak ada yang baik, benar, atau merusak yang ada hanya yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan, pokoknya apa saja yang menyenangkan saya lakukan, apa yang tidak menyenangkan tidak saya lakukan.

E. Peran Orang Tua terhadap Perkembangan Kejiwaan Anak Perceraian selalu berdampak buruk dan terasa amat pahit bagi anak-anak. Dan ini jelas memberikan perasaan sedih serta takut pada diri anak. Sehingga, ia akan tumbuh dengan jiwa yang tidak sehat. Berikut ini beberapa saran untuk mengatasi kesedihan anak dalam melewati proses perceraian orang tuanya: Dukung anak anda untuk mengungkapkan perasaan mereka, baik yang positif maupun negatif, mengenai apa yang sudah terjadi. Sangatlah penting bagi orang tua yang akan bercerai ataupun yang sudah bercerai untuk memberi dukungan kepada anak-anak mereka serta mendukung mereka untuk mengungkapkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Beri kesempatan pada anak untuk membicarakan mengenai perceraian dan bagaimana perceraian tersebut berpengaruh pada dirinya. Meski mengejutkan dan terasa menyudutkan, tetaplah bersikap terbuka. Sangatlah wajar bagi anak-anak jika memiliki berbagai macam emosi dan reaksi terhadap perceraian orang tuanya. Bisa saja mereka merasa bersalah dan mendugaduga, merekalah penyebab dari perceraian. Anak-anak marah dan merasa ketakutan. Mereka khawatir akan ditelantarkan oleh orang tua yang bercerai. Ada anak-anak yang sanggup untuk menyuarakan perasaan mereka, dan ada juga yang tidak. Untuk anak-anak usia sekolah, jelas sekali perceraian mengakibatkan turunnya nilai pelajaran mereka di sekolah. Walaupun untuk beberapa lama anak-anak akan berusaha mati-matian menghadapi perceraian orangtuanya, pengaruh nyata dari perceraian biasanya dirasakan anak berusia 2 tahun ke atas.

Anak-anak tidak perlu merasa mereka harus bertindak sebagai penyambung lidah bagi kedua orangtuanya. Misalnya, anda berujar, Bilang, tuh, sama ayahmu,

kamu sudah harus bayaran uang sekolah.

F. Efek-efek Kehidupan Seorang Broken Home : 1. Academic Problem, seseorang yang mengalami Broken Home akan menjadi orang yang malas belajar dan tidak bersemangat serta tidak berprestasi. 2. Behavioural Problem, mereka mulai memberontak, kasar, masa bodoh, memiliki kebiasaan merusak, seperti mulai merokok, minum-minuman keras, judi dan lari ketempat pelacuran. 3. Sexual problem, krisis kasih mau coba ditutupi dengan mencukupi kebutuhan hawa nafsu. 4. Spiritual problem, mereka kehilangan Fathers figure sehingga tuhan, pendeta atau orang-orang rohani hanya bagian dari sebuah sandiwara kemunafikan.

G. Cara Membangkitkan Motivasi Anak Korban Broken Home Keadaan psikologi anak akan sangat terguncang karena adanya perceraian dalam keluarga. Mereka akan sangat terpukul, kehilangan harapan, dan cenderung menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada keluarganya. Sangat sulit menemukan cara agar anak-anak merasa terbantu dalam menghadapi masa-masa sulit karena perceraian orang tuanya. Beberapa psikolog menyatakan bahwa bantuan yang paling penting yang dapat diberikan oleh orang tua yang bercerai adalah mencoba menenteramkan hati dan meyakinkan anak-anak bahwa mereka tidak bersalah. Yakinkan bahwa mereka tidak perlu merasa harus ikut bertanggung jawab atas perceraian orangtuanya. Hal lain yang perlu dilakukan oleh orang tua yang akan bercerai adalah membantu anak-anak untuk menyesuaikan diri dengan tetap menjalankan kegiatan-kegiatan rutin

di rumah. Jangan memaksa anak-anak untuk memihak salah satu pihak yang sedang cekcok, dan jangan sekali-sekali melibatkan mereka dalam proses perceraian

tersebut.

H. Wawancara Dengan Anak Broken Home Nama Jenis Kelamin Usia Pendidikan 1. : Rossa .L : Perempuan : 17 Tahun : SMP

Semenjak kapan kamu mengalami broken home? sejak umur saya 15 tahun karena orang tua saya bercerai ketika saya berumur 15 tahun 2. Kondisi apa yang membuat kamu menjadi broken home? Yang membuat saya menjadi seorang broken home yang pasti karena keluarga yang tidak normal karena perceraian orangtua, sebuah keluarga yang tidak harmonis karena sering bertengkar, dll. 3. Bersama siapa kamu tinggal sekarang? bersama ibu kandung 4. Apakah kamu sekarang tinggal dengan salah satu orang tuamu? *Jika ya, apa yang membuat kamu harus tinggal dengan salah satu orang tuamu? Iya, karena saya lebih nyaman tinggal bersama dengan mamah daripada papah. Tapii kadang-kadang saya juga sering menginap di rumah papah saya 5. Apakah kamu masih tinggal dengan kedua orang tuamu? *Jika ya, apa yang membuat kamu tetap tinggal bersama beliau? *Jika tidak, apa yang membuat kamu tidak tinggal bersama kedua orang tuamu? tidak, sebenarnya tempat tinggal ayah dan ibu saya tidak terlalu jauh, ibu saya tinggal di indihiang dan ayah saya tinggal di gobras, dan sekarang saya lebih nyaman tinggal bersama dengan ibu dan adik-adik saya 6. Apa yang kamu lakukan untuk mengekspresikan permasalah yang kamu hadapi? Kadang saya memendamnya sendiri, kadang saya menceritakannya kepada sahabtsahabat saya dan pacar saya. Saya tidak berani membicarakannya dengan orangtua saya 7. Apa yang kamu lakukan untuk menghadapi permasalahan broken home? saya hadapi dengan cara memilih mana yang terbaik yang harus saya lakukan ketika menghadapi suatu masalah broken home . saya juga tidak jarang mencari hiburan di luar karena jujur saja istilahnya menurut saya sehari dirumah serasa satu tahun 8. Apa yang kamu pikirkan dan rasakan ketika melihat atau menghadapi situasi di rumah yang membuat kamu merasa broken home?

Saya mencoba menghibur diri sebisa saya, kadang saya mengajak adik saya yang paling kecil untuk bermain di kamar intinya sih untuk menjauhi orangtua saya yang sedang berantem 9. Bagaimana respon kamu menghadapi ketegangan yang terjadi di keluarga? saya memilih menjauhi ketegangan yang terjadi karena hanya menambah beban pikiran saya atau jika saya melihat ketegangan yang terjadi saya menganggapnya tidak pernah terjadi dan masa bodoh pada apa yg telah terjadi. 10. Apakah dampak yang kamu alami dari permasalahan broken home ini? dampak yang paling saya rasakan adalah dari segi ekonomi, kurangnya perhatian dari orang tua, mereka tidak seperhatian seperti dulu lagi, nilai saya disekolah juga sangat menurun. 11. Bagaimana usaha kamu untuk menyikapi permasalahan broken home? saya menyikapinya dengan kepala dingin, saya merasa cobaan ini datangnya dari Alloh SWT karena jika kita menganggap permasalahan broken home ini datangnya dari kesalahan orang tua maka kita akan merasa dendam terus menerus, itu adalah penyakit hati. 12. Apakah yang membuat kamu bertahan dengan keadaan keluarga? : yang membuat saya bertahan adalah pada pola pikir saya bahwa saya harus bias menjadi yang terbaik walau pun dalam kondisi seperti ini. 13. Adakah keinginan kamu untuk bangkit dari permasalahan ini? *Jika ya atau tidak, apa alasannya? Tentu saja ada, karena saya ingin menghadapi masalah ini dengan melakukan yang terbaik semampu saya bukan menghindari masalah sehingga saya merasa tenang karena hasil terbaik akan datang dengan sendirinya. 14. Bagaimana cara kamu menyelesaikan permasalahan broken home? saya memilih mana yang benar yang harus saya lakukan tapi terkadang saya menganggap masabodoh dengan yang terjadi dan yang penting saya tetap melakukan hal positif bukannya lari ke hal negative hanya untuk mendapatkan perhatian orangtua. 15. Apakah sisi negatif atau positif yang kamu terima dari permasalahan broken home? sisi positifnya menjadi lebih tegar dalam menghadapi masalah, saya merasa lebih dewasa dalam berfikir dibandingkan sebaya saya, dan sisi negatifnya saya lebih banyak menghabiskan waktu diluar, tidak fokus belajar

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Broken home bukanlah akhir dari segalanya bagi kehidupan kita. Jalan kita masih panjang untuk menjalani hidup kita sendiri. Pergunakanlah situasi ini sebagai sarana dan media pembelajaran guna menuju kedewasaan. Ingat, kita tidak sendiri dan bukanlah orang yang gagal. Kita masih bisa berbuat banyak serta melakukan hal positif. Menjadi manusia yang lebih baik belum tentu kita dapatkan apabila ini semua tidak

terjadi. Mungkin saja ini merupakan sebuah jalan baru menuju pematangan sikap dan pola berpikir kita.

B. Saran 1. Sering-seringlah berdoa, jangan sampai meninggalkan Tuhan, milikilah landasan agama yang kuat. 2. Sibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Lakukan hobi yang disenangi. 3. Harus punya obsesi untuk meraih suatu prestasi sebaik-baiknya. Maka akan tercipta energi positif dalam diri anda. 4. Jangan menatap masa lalu, berorientasilah ke masa depan. Masalah perceraian bukan milik anda, melainkan milik orang tuan anda. 5. Tetap berhubungan baik dengan kedua orang tua, meskipun mereka telah berpisah. Harus tetap menghomati keduanya dengan segala kondisi yang ada, sekalipun mereka telah gagal dalam menjalankan sebuah rumah tangga. 6. Harus pandai dan selektif memilih teman atau lingkungan pergaulan. Jangan terjebak pada hal-hal yang memperburuk kondisi anda sebagai seorang anak broken home. 7. Pintar-pintarlah menganalisa situasi yang ada, jaga jangan sampai jatuh. Sebaliknya segera bangkit dari keterpurukan. Yakinlah selalu bahwa anda memiliki masa depan yang cerah.

DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional http://bbawor.blogspot.com/2009/03/pengaruh-broken-home.html http://kosmo.vivanews.com/news/read/117915efek__broken_home__seorang_anak http://tulisendw.blogspot.com/2010/05/pengertian-broken-home-dan-dampak.html http://yuniehidayat.blogspot.com/2010/08/dampak-single-parent-bagi-anak.html