Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

MANAJEMEN OPERASIONAL II
METODE PERSEDIAAN ECONOMIC ORDER
QUANTITY (EOQ)
Dosen Pembimbing: Wenny Yuniaris, S.E., M.M








Oleh : Kelompok 4
WIDYA WULANDARI 201110160311320
PUTRA DWI PRATAMA 201110160311323
RANGGA ANGGRIAWAN P. 201110160311328
RUSMIN 201110160311336
RENDI GANDA PUTRA 201110160311343
M. ISNAN PURWOWIDODO 201110160311351
RISZA NINJARSARI 201110160311359
M. JAMILUDIN 201110160311364


JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
TAHUN AJARAN 2013 / 2014
i

KATA PENGANTAR


Assalamualaikum Wr.Wb.
Syukur alhamdulilah kita haturkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat,
taufik dan hidayahnya, kita selalu di beri kesehatan sampai pada saat ini. Shalawat dan salam
kita haturkan selalu kepada junjungan Nabi kita yaitu Rosululloh SAW, beliaulah Guru dari
segala Guru yang mengajarkan kita tentang Ilmu yang bermanfaat Dunia dan Akhirat. Dan
dengan adanya izin dari Allah SWT kami selaku Pemakalah dapat menyelesaikan tugas kami
yang berjudul Metode Persedian Economic Order Quantity (EOQ)
Penulisan makalah ini disusun sebagai salah satu tujuan untuk menambah wawasan
kita tentang ilmu Manajemen Operasional II, dan untuk memudahkan kita dalam ujian
semester nanti, amin Ya Rabbal Alamin.
Dalam proses penyusunan hingga terselesaikannya makalah ini, kami sebagai
pemakalah sangat banyak mendapat bantuan, doa, motivasi, dan bimbingan dari berbagai
pihak, dan kami ingin mengucapkan banyak Terima Kasih kepada :
1. Kedua orang tua kami
2. Wenny Yuniaris, S.E., M.M. Selaku Dosen Pembimbing.
3. Semua pihak yang telah membantu kami.
Dalam penyusunan makalah ini, kami selaku penulis dapat menyadari masih banyak
terdapat kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun
dari semua pihak, dengan ini harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca dan semua pihak.
Wassalamualaikum Wr.Wb


ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................. i
DAFTAR ISI ................................................................................. ii
DAFTAR GAMBAR .................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latarbelakang .............................................................. 1
1.2. Identifikasi Masalah .................................................... 2
BAB II MANAJEMEN PERSEDIAAN
2.1 Pengertian Persediaan .................................................. 3
2.2 Jenis-jenis Persediaan .................................................. 4
2.2.1 Jenis Persediaan Menurut Fungsinya .................. 5
2.2.2 Jenis Persediaan Menurut Cara Pengolahannya
dan Posisi Barang ................................................ 6
2.2.2 Persediaan Hubungan antara Produksi dan
Penjualan Produk dan Posisi Barang .................. 6
2.3 Alasan Memiliki Persediaan ........................................ 7
2.4 Fungsi dan Manfaat Manajemen Operasional Persediaan 8
2.5 Pertimbangan Manajemen Operasional Persediaan ..... 9
2.6 Metode perhitungan Operasional Persediaan ............... 10
BAB III PERTIMBANGAN MANAJEMEN PERSEDIAAN
3.1 Total Biaya Penyimpanan Persediaan (TCC) .............. 11
3.2 Total Biaya Pemesanan (TOC) .................................... 12
3.3 Total Biaya Persediaan (TIC) ...................................... 12
3.4 Asumsi dan Aktifitas EOQ .......................................... 13
3.4.1 Pemesanan Ulang (Reorder Point) ...................... 13
3.4.2 Persediaan Pengaman (Safety Stocks). ................ 14
3.5 Kelebihan dan Kelemahan Model EOQ ..................... 15



iii

BAB IV STUDI KASUS
4.1 Pembahasan Kasus ..................................................... 16
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ................................................................. 20
5.2 Saran ........................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA



















iv




DAFTAR GAMBAR

Gambar i : Grafik Ilustrasi Pemesanan Ulang ................ 14
Gambar ii : Grafik EOQ ................................................... 18

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Sejalan dengan laju perkembangan yang terus berkembang di Indonesia, maka
banyak bermunculan perusahaan, baik perusahaan kecil maupun perusahaan besar.
Tujuan utama suatu perusahaan yaitu memperoleh laba seoptimal mungkin dan
mengawasi berjalannya perusahaan serta berkembangnya perusahaan, maka hal yang
perlu dilakukan oleh suatu perusahaan adalah mengadakan penilaian terhadap
persediaan dan pengaruhnya terhadap laba perusahaan. Hal ini dilakukan karena
persediaan bagi kebanyakan perusahaan merupakan salah satu modal kerja yang
sangat penting didalam suatu perusahaan, dimana prosedurnya terus menerus
mengalami perubahan dan perputaran.
Dalam suatu perusahaan, pelaporan mengenai persediaan sangat penting bagi
perusahaan dalam mengambil suatu keputusan dan persediaan merupakan salah satu
dari beberapa unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan yang secara terus
menerus diperoleh, diproduksi dan dijual. Oleh karena itu, system akuntansi itu
sendiri harus dilaksanakan sebaik mungkin sehingga tidak mengalami hal-hal yang
mengganggu jalannya operasi perusahaan.
Pelaporan persediaan yang diteliti dan relevan dianggap vital untuk
memberikan informasi yang berguna bagi perusahaan. Apabila terjadi kesalahan
dalam pencatatan persediaan, maka akan mengakibatkan kesalahan dalam
menentukan besarnya laba perusahaan yang diperoleh. Jika persediaan akhir dinilai
terlalu rendah dan mengakibatkan harga pokok barang yang dijual terlalu rendah,
maka pendapatan bersih akan mengalami peningkatan. Begitu juga dengan lamanya
persediaan yang tersimpan digudang akan mempengaruhi biaya sehingga
kemungkinan akan terjadinya kerusakan yang mengakibatkan kerugian dan
kemungkinan juga persediaan akan kadaluarsa sehingga tidak laku dipasar.
Dari penjelasan diatas, maka dapat diketahui bahwa persediaan sangat penting
artinya bagi perusahaan. Dalam hal ini penulis merasa tertarik untuk lebih mengetahui
dan memahami bagaimana persediaan dimanage secara benar yang diterapkan dalam
suatu perusahaan agar membawa manfaat yang baik dalam pencapaian laba yang
2

diinginkan. Menurut prinsip-prinsip akuntansi persediaan merupakan barang dagang
yang disimpan kemudian dijual dalam operasi normal perusahaan.
. Seseorang manajer hendaklah mempelajari dan memahami secara keseluruhan
tentang manajemen persediaan. Sehingga seorang manajer dapat mengetahui keadaan
bahan persedian disebuah perusahaan secara langsung dilapangan, bukan sekedar
yang termuat di laporan atau dikertas semata. Dan yang paling penting, seorang
manajer tau persis metode perhitungan persediaan seperti apa yang akan digunakan
dalam perusahaannya. Dengan demikian apabila seorang manajer menghadapi situasi
yang berkenaan dengan persediaan, manajer tersebut dengan cepat dan mudah dalam
mengambil keputusan yang tepat.

1.2 Identifikasi Masalah
Mengingat betapa pentingnya manajemen operasional persediaan bagi suatu
perusahaan, manajer atau penengusaha dalam berbisnis. Maka, keberadaannya selalu
dibutuhkan oleh pelaku bisnis atau pengusaha untuk dipelajari dan dianalisis guna
mencari, merencanakan dan menerapkan strategi mana yang cocok dalam mengelola
persediaan sehingga mampu mengoptimalkan keuntungan dalam perusahaan.
Dengan demikan kita perlu mengetahui, mempelajari dan memahami apa itu
manajemen operasional persediaan?. Dalam mempelajari manajemen persediaan, kita
tidak akan terlepas oleh teori-teori yang berkaitan dengan persediaan dan lain
sebagainya.
Oleh karena itu, dalam penulisan makalah ini kelompok kami berusaha untuk
memudahkan pembahasan. Supaya lebih mudah dalam penyampaiannya, kami hanya
memaparkan masalah-masalah sebagai berikut :
- Apa itu Persediaan ?
- Apa saja jenis model persediaan?
- Apa itu Model EOQ?
- Seperti apa bentuk pengaplikasiannya terhadap suatu perusahaan?
- Dan, Studi kasus mengenai operassional persediaan menggunakan EOQ.
Dengan pengidentifikasian beberapa masalah diatas kami juga memberikan
beberapa contoh yang nyata serta mudah dipahami.
3

BAB II
PERSEDIAAN


Sebelum kita membahas lebih jauh tentang Model Persediaan Economic Order
Quantity (EOQ). Terlebih dahulu kita mengetahui apa itu persedian?, baik itu meliputi
bentuknya, seluk beluknya dan juga manfaatnya bagi seorang manajer atau sebuah
perusahaan. Dalam perkembangannya, mengelola operasional persediaan tidak semudah
yang dipikirkan.
Persediaan yaitu bagian utama dari modal kerja, merupakan aktiva yang pada setiap
saat mengalami perubahan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan
persediaan adalah suatu aktiva yang harus tersedia dalam perusahaan pada saat diperlukan
untuk menjamin kelancaran dalam menjalankan perusahaan.
Operasional persediaan diperlukan untuk perusahaan dibidang industri manufaktur
dan perdagangan saja. Hal ini dikarenakan dalam aktifitas industri manufaktur dan
perdagangan didalamnya terdapat persediaan-persedeiaan. Berbeda dengan perusahaan jasa
yang tidak terdapat persediaan bahan baku atau persediaan bahan dangang unutk dijual
kembali. Persediaan dapat dikategorikan dalam bentuk barang jadi, barang setengah jadi dan
barang dalam proses.
2.1 Pengertian Persediaan

Pada awal bab ini telah disinggung sedikit mengenai arti persediaan. Memang
benar persediaan merupakan unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan dagang
dan perusahaan industry. Tanpa adanya persediaan, para pengusaha akan dihadapkan
pada keadaan bahwa perusahaannya pada suatu waktu tidak dapat memenuhi
keinginan para pelanggannya, sehingga kontinuitas perusahaan dapat teranggu karena
sumber utama pendapatan perusahaan berasal dari penjualan persediaan. Ini berarti
perusahaan akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan yang
seterusnya didapatkan.


4

Istilah persediaan memberikan pengertian yang berbeda-beda tetapi pada
dasarnya maksud dan tujuannya adalah sama. Berikut pendapat para ahli mengenai
persediaan:
1. C. Rolln Niwwonger, Philip E. Fess dan Carl S. Wareen
istilah persediaan (inventories) merupakan barang dagangan yang
disimpan untuk dijual dalam operasi perusahaan dan merupakan
barang yang terdapat dalam proses produksi atau yang disimpan untuk
tujuan itu.

2. Prawirosentono
Persediaan adalah aktiva lancar yang terdapat dalam perusahaan
dalam bentuk persediaan bahan mentah (bahan baku / raw material,
bahan setengah jadi / work in process dan barang jadi / finished goods).

3. Ikatan Akuntansi Indonesia.
Menurut Standar Akuntansi Keuangan Indonesia, Manajemen
persediaan merupakan:
a. Tersedia untuk dijual (dalam kegiatan operasi normal)
b. Dalam proses produksi ( dalam kegiatan usaha normal)
c. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supllies) untuk
digunakan proses produksi atau pemberian jasa

Persediaan mempunyai arti dan peranan yang penting dalam suatu perusahaan.
Persediaan barang dagangan yang secara terus menerus dibeli dan dijual yang
merupakan salah satu unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan, baik itu
perusahaan dagang maupun perusahaan industry. Penjualan barang dagangan
merupakan sumber utama penghasilan bagi perusahaan, karena sebagian besar sumber
perusahaan tertanam dalam persediaan.

2.2 Jenis-jenis Persediaan
Jenis persediaan setiap perusahaan tidaklah sama. Karena setiap perusahaan
membutuhkan bahan persedian bergantung pada aktivitaas produksi yang dikerjakan.
Namun, secara teori persediaan yang terdapat dalam perusahaan dapat dibedakan atas:
5

2.2.1 Jenis Persediaan Menurut Fungsinya
a. Bacth Stock/Lot Size Inventory
yaitu persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat
bahan-bahan atau barang-barang dalam jumlah yang lebih besar yang
dibutuhkan pada saat itu. Jadi, dalam hal ini pembelian atas pembuatan yang
dilakukan dalam jumlah besar sedangkan penggunaan atau pengeluarannya
dalam jumlah kecil.
Terjadinya persediaan karena pengadaan barang atau bahan yang
dilakukan lebih banyak lagi yang dibutuhkan. Keuntungan yang akan
diperoleh dari adanya Bacth Stock/Lot Size Inventory ini adalah :
- Memperoleh potongan harga pada harga pembelian
- Memperoleh efisiensi produksi (manufacturing economic) karena
adanya operasi (production run) yang lebih lama.
- Adanya penghematan dalam biaya pengangkutan

b. Fluctuation Stock
yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi
permintaan konsumen yang dapat diramalkan. Dalam hal ini perusahaan
mengadakan persediaan untuk dapat memenuhi permintaan konsumen.
Apabila tingkat permintaan menunjukkan keadaan yang tidak beraturan atau
tidak tetap dan fluktuasi permintaan yang sangat besar, maka persediaan yang
dibutuhkan sangat besar pula untuk menjaga kemungkinan naik turunnya
permintaan tersebut.

c. Anticipation Stock
yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi
permintaan yang dapat diramalkan berdasarkan pola musiman yang terdapat
dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan/penjualan atau
permintaan yang meningkat. Disamping itu, menurut Rangkuti Freddy dalam
buku Manajemen Persediaan, anticipation stock juga dimaksudkan untuk
menjaga kemungkinan sukarnya diperoleh bahan-bahan sehingga tidak
mengganggu jalannya produksi atau untuk menghindari kemacetan produksi.


6

2.2.2 Jenis Persediaan Menurut Cara Pengolahannya Dan Posisi Barang
a. Persediaan bahan baku (Raw Material Stock)
yaitu persediaan dari barang-barang berwujud yang digunakan dalam
proses produksi.

b. Persediaan bagian produksi / parts yang dibeli (Purchased Parts/Component
Stock)
yaitu persediaan barang yang terdiri dari parts yang diterima dari
perusahaan lain yang dapat secara langsung tanpa melalui proses produksi
selanjutnya.

c. Persediaan bahan pembantu / bahan-bahan pelengkap (supplier Stock),
yaitu persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang diperlukan
dalam proses produksi untuk membantu berhasilnya produksi atau yang
dipergunakan dalam bekerjanya suatu perusahaan tetapi tidak merupakan
bagian atau komponen dari barang jadi.

d. Persediaan barang setengah jadi / barang dalam proses (Works in
Process/Progress),
yaitu barang-barang yang dikeluarkan dari tiap-tiap bagian dalam suatu
pabrik atau bahan-bahan yang diolah menjadi suatu bentuk tetapi masih perlu
diproses kembali untuk kemudian menjadi barang jadi.

2.2.3 Persediaan Hubungan antara Produksi dan Penjualan Produk.
Perseddiaan dalam kategori hubungan antara produksi dan penjualan produk
terdiri dari dua jenis, yaitu:
a. Perusahaan Dagang.
- Persediaan barang dagangan.
b. Perusahaan Manufaktur
- Persediaan bahan baku
- Persediaan barang dalam proses
- Persediaan barang jadi

7

2.3 Alasan Memiliki Persediaan
Laba yang maksimal dapat dicapai dengan meminimalkan biaya yang
berkaitan dengan persediaan. Namun meminimalkan biaya persiapan dapat dicapai
dengan memesan atau memproduksi dalam jumlah yang kecil, sedangkan untuk
meminimalkan biaya pemesanan dapat dicapai dengan melakukan pesanan yang besar
dan jarang.
Jadi, meminimalkan biaya penyimpanan mendorong jumlah persediaan yang
sedikit atau tidak ada, sedangkan meminimalkan biaya pemesanan harus dilakukan
dengan melakukan pemesanan ,persediaan dalam jumlah yang relatif besar, sehingga
mendorong jumlah persediaan yang besar.
Alasan yang kedua yang mendorong perusahaan menyimpan persediaan dalam
jumlah yang relative besar adalah masalah ketidakpastian permintaan. Jika permintaan
akan bahan atau produk lebih besar dari yang diperkirakan, maka persediaan dapat
berfungsi sebagai penyangga, yang memberikan perusahaan kemampuan untuk
memenuhi tanggal penyerahan sehingga pelanggan merasa puas.
Secara umum alasan untuk memiliki persediaan disebuah perusahaan adalah
sebagai berikut :
1. Untuk menyeimbangkan biaya pemesanan atau persiapan dan biaya
penyimpanan.
2. Untuk memenuhi permintaan pelanggan, misalnya menepati tanggal
pengiriman.
3. Untuk menghindari penutupan fasilitas manufaktur akibat :
a. Kerusakan mesin
b. Kerusakan komponen
c. Tidak tersedianya komponen
d. Pengiriman komponen yang terlambat
4. Untuk menyanggah proses produksi yang tidak dapat diandalkan.
5. Untuk memanfaatkan diskon
6. Untuk menghadapi kenaikan harga di masa yang akan datang




8

2.4 Fungsi dan Manfaat Manajemen Operasional Persediaan

Menurut Handoko Manajemen Operasional Persediaan memiliki banyak sekali
fungsi dan manfaat dalam sebuah perusahaan. Beberapa fungsi dari manajemen
operasional persediaan dapat mempengaruhi kestabilan, kelancaran, keuntungan sebuah
perusahaan. Fusngsi-fungsi terrsebut antara lain yaitu:
a. Fungsi Decoupling
Persediaan decoupling ini memungkinkan perusahaan dapat memenuhi
permintan langganan tanpa tergantung pada supplier. Untuk dapat memenuhi fungsi
ini dilakukan cara-cara sebagai berikut:
- Persediaan bahan mentah disiapkan dengan tujuan agar perusahaan tidak
sepenuhnya tergantung penyediaannya pada suplier dalam hal kuantitas dan
pengiriman.
- Persediaan barang dalam proses ditujukan agar tiap bagian yang terlibat dapat
lebih leluasa dalam berbuat.
- Persediaan barang jadi disiapkan pula dengan tujuan untuk memenuhi
permintaan yang bersifat tidak pasti dari langganan.
b. Fungsi Economic Lot Sizing
Tujuan dari fungsi ini adalah pengumpulan persediaan agar perusahaan dapat
berproduksi serta menggunakan seluruh sumber daya yang ada dalam jumlah yang
cukup dengan tujuan agar dapat menguranginya biaya perunit produk.
c. Fungsi Antisipasi
Perusahaan sering menghadapi ketidakpastian jangka waktu pengiriman dan
permintaan akan barang barang selama periode pemesanan kembali, sehingga
memerlukan kuantitas persediaan ekstra. Persediaan antisipasi ini penting agar proses
produksi tidak terganggu. Sehubungan dengan hal tersebut perusahaan sebaiknya
mengadakan seaseonal inventory (persediaan musiman).
Adapun manfaat dari persediaan adalah menjamin kebebasan atau kelancaran
kegiatan operasional internal dan eksternal sehingga permintaan pelanggan dapat
terpenuhi tanpa tergantung pemasok.
9

2.5 Pertimbangan Manajemen Operasional Persediaan.
Banyak hal yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam
manajemen persediaan. Baik itu dari segi biaya, waktu, proses pemesanan, dan juga
dari jenis bahan persediaan yang dibutuhkan. Seorang manajer akan menganalisis itu
semua dengan pertimbangan yang sudah mereka tetapkan. Berikut beberapa hal yang
dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam manajemen persediaan:

1. Struktur Biaya Persediaan
Struktur biaya persediaan dapat kita kelompokkan sesuai dengan model
pemesannanya, seperti:
a. Biaya per unit (item cost)
b. Biaya penyiapan pemesanan (ordering cost)
- Biaya pembuatan perintah pembelian (purchasing order)
- Biaya pengiriman pemesanan
- Biaya transportasi
- Biaya penerimaan (Receiving cost)
- Jika diproduksi sendiri maka akan ada biaya penyiapan (set up cost)
- menyurat dan biaya untuk menyiapkan perlengkapan dan peralatan.
c. Biaya pengelolaan persediaan (Carrying cost)
- Biaya yang dinyatakan dan dihitung sebesar peluang yang hilang apabila
nilai persediaan digunakan untuk investasi (Cost of capital).
- Biaya yang meliputi biaya gudang, asuransi, dan pajak (Cost of storage).
Biaya ini berubah sesuai dengan nilai persediaan.
d. Biaya resiko kerusakan dan kehilangan (Cost of obsolescence, deterioration
and loss).
e. Biaya akibat kehabisan persediaan (Stockout cost)

2. Faktor yang mempengaruhi investasi dalam persediaan.
Faktor ini mencakup beberapa aspek yang berkaitan dengan proses
produksi dan daya tahan suatu persediaan. Beriut cakupapn dari faktor yang
mempengaruhi investasi dalam persediaan:




10

a. Tingkat Penjualan.
Semakin tinggi omzet penjualan maka makin besar investasi
persediaannya. Begitu juga sebaliknya. Jika omzet penjualannya rendah maka
persediaan akan sedikit.

b. Sifak Teknis dan Sifat Produksi
- Produksi pesanan => persediaan beragam dan banyak
- Produksi massal => persediaan bisa diatur

c. Lamanya Proses Produksi
Jika proses produksi persediaan lama maka akan mengakibatkan BDP
biayanya semakin mahal dan tidak efisien.

d. Daya Tahan Bahan Baku dan Produk Akhir
- Barang tahan lama => Persediaan relatif tinggi
- Barang tahan tidak lama => Persediaan relatif rendah
- Barang Musiman => Persediaan tinggii pada musimnya

e. Lama Pembelian dan pengiriman
2.6 Metode Perhitungan Operasional Persediaan
Penanganan persediaan tidak hanya dilakukan dengan melihat semata. Tetapi,
terdapat hal yang bisa dihitung untuk dijadikan sebagai bahan dalam menentukan
kebijakan dalam manajemen persediaan. Perhitungan dalam manajemen persediaan
banyak sekali jenisnya. Makalah ini akan membahas beberapa jenis perhitungan yang
sangat penting dalam manajemen persediaan dan juga sering digunakan dalam sebuah
perusahaan terutama dalam perusahaan industri manufaktur dan perusahaan dagang.
Jenis atau model perhitungan Operasional Persediaan yaitu:
1. Model Economic Order Quantity (EOQ).
2. Model Periodic Order Quality (POQ)
3. Model Quantity Discount Model (QDM)
4. Model Analisis ABC
5. Model Just In Time (JIT)
Dari lima metode atau model perhitungan persediaan diatas, kami hanya akan
membahas model Economic Order Quantity (EOQ). Hal ini dikarenakan model ini
yang sering diaplikasikan pada kebanyakan perusahaan yang bergerak di manufactur
dan dagang.
11

BAB III
ECONOMIC ORDER QUANTITY
(EOQ)

Pada umumnya perusahaan menggunakan cara tradisional dalam mengelola
persediaan, yaitu dengan cara memiliki persediaan minimal untuk mendukung kelancaran
proses produksi. Di samping itu, perusahaan juga memperhitungkan biaya persediaan yang
paling ekonomis yang dikenal dengan istilah Economic Order Quantity atau EOQ. EOQ akan
menjawab pertanyaan berapa banyak kualitas bahan baku yang harus dipesan dan berapa
biayanya yang paling murah atau paling ekonomis.
Biaya-biaya dalam manajemen persediaan sudah dipaparkan dalam bab dua dalam
pertimbangan-pertimbangan manajemen persediaan. Pada bab ini kita tinggal mengaitkan
biaya-biaya yang sudah dipaparkan pada bab dua dengan metode EOQ. Pada umumnya
biaya-biaya dalam manajemen operasional persediaan saling berkaitan dan dapat
mempengaruhi harga persediaan. Sehingga seorang manajer operasional harus jeli dan teliti
dalam memutuskan berapa persedeiaan yang harus dibeli. Hal ini tidak bisa dilihat dari kasat
mata saja tentunya.
Metode ini, kita harus menghitung biaya yang paling ekonomis pada setiap jumlah
barang yang dibeli (dipesan). Biaya tersebut adalah saling hubungan antara harga bahan baku,
biaya penyimpanan yang umumnya dihitung berdasar persentase tertentu dari nilai persediaan
rata-rata, jumlah bahan baku yang dibutuhkan dalam satu periode misalnya dalam satu tahun,
dan biaya pesanan. Untuk itu mari kita bahas satu persatu agar lebih jelas dalam
memahaminya.

3.1 Total Biaya Penyimpanan Persediaan ( Total Carrying Cost / TCC)
Biaya penyimpanan persediaan dalam EOQ bersifat Variabel terhadap jumlah
inventori yang dibeli. Sehingga rumusnya sebagai berikut:






- Total Biaya Penyimpanan
TCC = C. P. A
- Persediaan Rata-Rata
A = Q/2
= ( S / N ) / 2
Dimana :
Q = Kuantitas Pesanan
S = Penjualan Tahunan
N = Frekuensi Pemesanan
C = Biaya Penyimpanan
P = Harga Beli Per Unit
12

Biaya TCC ini mencakup sewa gudang, pemeliharaan barang didalam gudang,
modal yang tertanam dalam inventori, pajak dan ansuransi. Besarnya biaya TCC dapat
diperhitungkan dengan dua cara yaitu berdasarkan presentasi tertentu dari nilai
Inventori rata-rata dan berdasarkan biaya perunit barang yang disimpan ( dari jumlah
rata-rata).

3.2 Total Biaya Pemesanan ( Total Ordering Cost / TOC)
Biaya pemesanan persediaan dalam bersifat Variabel terhadap frekuensi
pesanan yang dibeli. Sehingga rumusnya sebagai berikut:





3.3 Total Biaya Persedian ( Total Inventory Cost / TIC)
Total Biaya Perseddiaan atau TIC ini didapat dari penjumlahan toatal biaya
persediaan dan total biaya pemesanan. Sehingga hasilnya diketahui total biaya
persediaan tersebut. Jadi rumusnya sebagai berikut:






Ketiga perhitungan diatas bertujuan untuk mengetahui besaran biaya dimasing-masing
kategori. Setelah itu kita bisa mengaitkannya dengan Kuantitas Pemesanan yang Ekonomis
atau dikenal dengan EOQ ( Economic Ordering Quantity Model).
Terdapat dua dasar keputusan dalam model EOQ ini dalam manajemen persediaan,
diantaranya yaitu:
1. Berapa jumlah bahan mentah yang harus dipesan pada saat bahan tersebut perlu
dibeli kembali Replenishment Cycle.
2. Kapan perlu dilakukan pembelian kembali Reorder point.

- Total Biaya Pesanan
TOC = F. ( S / Q )
Dimana :
Q = Kuantitas Pesanan
S = Penjualan Tahunan
F = Biaya Tetap
Total Biaya Persediaan
TIC = TCC + TOC
Atau
TIC = C.P.( Q/2 ) + F. ( S/Q )

Dimana :
Q = Kuantitas Pesanan
S = Penjualan Tahunan
N = Frekuensi Pemesanan
C = Biaya Penyimpanan
P = Harga Beli Per Unit
13

Rumus Model EOQ sebagai Berikut:




3.4 Asumsi dan Aktifitas EOQ
Model EOQ dalam persediaan tidak lepas dari beberapa asumsi agar
perhitungannya akurat. Selain itu, asumsi ini juga untuk menghindari kesalahan-
kesalahan dalam perhitungan untuk menentukan spesikulasi kedepan dalam memenuhi
kebutuhan persediaan. Berikut ini beberapa asumsi mengenai model EOQ:
- Jumlah kebutuhan bahan mentah sudah dapat ditentukan lebih dulu secara pasti
untuk penggunaan selama satu tahun atau satu periode.
- Penggunaan bahan selalu pada tingkat yang konstan secara kontinyu
- Pesanan persis diterima pada saat tingkat persediaan sama dengan nol atau diatas
safety stock
- Harga konstan selama periode tersebut.
Metode EOQ juga memiliki kaitan dengan beberapa aktifitas disebuah
industri manufaktur. Aktifitas yang berkaitan dengan model EOQ dalam persediaan
meliputi:
- Permesanan ulang ( Reorder Point )
- Persediaan Pengaman (Safety Stocks)
- Penentuan Besaran Safety Stocks
Agar pemahaman tentang aktifitas diatas lebih mendalam lagi. Mari kita bahas
perhitungan atau rumus rumusnya sekali lagi.

3.4.1 Pemesanan Ulang ( Reorder Point )
Pada dasarnya, sebuaah perusahaan dalam mempersiapkan bahan
persediaan tidak menunggu bahan persediaan di gudang habis secara keseluruhan.
Hal ini dapat menghambat dan memperlambat proses produksi didalam perusahaan
tersebut. Sehingga seorang manajer akan menentukan titik minimum atau standar
dimana perusahaan harus melakukan pemesanan kembali untuk mengisi persediaan
yang telah kosong.
EOQ =
..
.

Dimana :
F = Biaya Tetap
S = Penjualan Tahunan
C = Biaya Penyimpanan
P = Harga Beli Per Unit
14

Jika digambarkan dalam sebuah grafik akan berbentuk seperti dibawah
ini sebagai ilustrasi:








Gambar i: Grafik Ilustrasi Pemesanan Ulang
Dari grafik tersebut bisa kita tarik kesimpulan bahwa Rusmus
Pemesanan Ulang atau Reorder Point yaitu:



3.4.2 Persediaan Pengaman ( Safety Stocks )
Persediaan Pengaman ini memang disengaja disediakan oleh
perusahaan untuk dijadikan alternatif pengganti terhadap perubahan tingkat
penjualan atau keterlambatan produksi-pengiriman. Tujuannya tidak lain sebagai
jaga-jaga agar aktifitas disebuah perusahaan tidak berhenti.
Dari gambaran itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa persediaan awal
mengandung safety stock. Jadi bisa di simpulkan menjadi:





Penentuan besar kecilnya Safety Stock dipengaruhi oleh faktor
pengalaman, Faktor dugaan, Faktor Biaya dan Faktor keterlambatan. Jadi, setiap
perusahaan dalam menentukan besar kecilnya safety stock persediaan tidaklah
sama.

Titik Pemesanan Ulang
Waktu Tunggu X Tingkat Penggunaan
Persediaan Awal
EOQ + Safety Stock
Persediaan Rata-rata
( EOQ / 2 ) + Safety Stock

15

Contohnya sebagai berikut:
Diketahui:
- Penggunaan perhari 15 Kg.
- Keterlambatan Pengiriman 10 hari
Ditanya:
- Berapa besarnya Safety stock yang harus disiapkan??
Jawab:
Safety stock = Penggunaan per hari X Kendala atau faktor-faktor
= 10 x 15 kg
= 150 Kg.
Jadi Safety stock yang harus disediakan sebesar 150 kg.

3.5 Kelebihan dan kelemahan Model EOQ
Metode EOQ dalam operasional persedian mempunyai kelebihan dan juga
kekurangan. Sehingga kita harus mengetahuinya. Berikut beberapa kelebihan dan
kelemahan dalam metode ini:
- Kelebihan Model EOQ:
1. Dapat dijadikan dasar penukaran (trade off) antara biaya penyimpanan dengan
biaya persiapan atau biaya pemesanan (setup cost).
2. Dapat mengatasi ketidakpastian penggunaan persediaan pengaman atau
persediaan besi (safety stock).
3. Mudah diaplikasikan pada proses produksi yang outputnya telah memiliki
standar tertentu dan diproduksi secara massal.
4. Lazim digunakan pada rumah sakit, yaitu pada persediaan obat. Jika ada pasien
yang sakit mendadak dan perlu obat segera, apotek rumah sakit dapat melayani
dengan cepat.

- Kelemahan Model EOQ:
Hakikatnya model EOQ adalah model yang menempatkan pemasok sebagai
mitra bisnis sementara karena paradigma untung-rugi diterapkan pada mereka,
sehingga penggunaan model ini terjadi berganti-ganti pemasok, dan hal ini dapat
mengganggu proses produksi
16

BAB IV
STUDI KASUS

Studi kasus ini kami ambil dari sebuah pabrik roti yang terkenal mereknya. Sebut
saja namanya Pabrik Roti S. Dari kegiatan aktifitasnya diketahui Pabrik Roti S penjualannya
mencapai 2.600.000 Kg tepung terigu. Kemudian biaya pemesannanya mencapai $ 5.000.
dari tepung yang dipesannya setelah sampai diperusahaan dikenakan biaya penyimpanan
sebesar 2% dari harga beli. Dan harga belinya sebesar $5/Kg. Pabrik Roti S ini
memprioritaskan persediaan pengaman 50.000 kg tepung terigu. Waktu pengiriman memakan
waktu 2 minggu dan setiap pemesanan terigu harus dengan kelipatan 2000 Kg. Dalam
perjalanan Aktifitasnya, Perusahaan tepung terigu yang biasa dijadikan langganan
memberikan penawaran yang langka.
Penawarannya, Jika perusahaan Pabrik Roti S membeli terigu sebanyak 650.000 Kg.
Maka biaya pengiriman ditanggung oleh perusahaan tepung sebesar $ 3.500. Dari aktifitas
tersebut seorang manajer disuruh Direktur Pabrik Roti S untuk membuat perencanaan
besarnya persediaan yang harus disiapkan, pemesanan ulang, pembagian waktu pemesanan
dalam satu tahun, biaya penyimpanan, biaya pemesanan, biaya safety stock dan total biaya
persediaan serta analisis dari penawaran perusahaan tepung tersebut.

4.1 Pembahasan Kasus
Dari kasus diatas dapat disederhanakan menjadi sebagai Pokok yang diketahui
dari aktifitas Pabrik Roti S meliputi:
- S / Penjualan Pabrik Roti S 2,6 juta kg terigu
- F / Biaya pemesanan $ 5000
- C / Biaya penyimpanan 2% dari harga beli $ 5/Kg
- Safety Stock 50.000 Kg
- Waktu tunggu 2 Minggu
- Kelipatan pesanan 2000 Kg
- Jika pembelian 650.000 kg dapat diskon kirim $ 3.500

Dari data diatas seorang manajer operasioanl akan menghitung semua hal yang
berkaitan dengan persediaan. Metode yang kami gunakan dalam menghitung masalah
diatas menggunakan metode EOQ. Berikut penyelesaianya:
17

1. Besarnya EOQ
EOQ =
..
.

=
..
.

= 509902 Kg
= 510.000 Kg

2. Pemesanan Ulang (Reorder Point)
- Penggunaan per minggu
= 2.600.000 / 52
= 50.000 Kg
- Titik Pemesanan Ulang
= Waktu Pengiriman + Safety Stock
= ( 2 Minggu x 50.000 ) + 50.000
= 100.000 + 50.000
= 150.000 Kg

3. Pemesanan Dalam Satu Tahun
- Pemesanan Dalam Satu Tahun
= 2.600.000 / 510.000
= 5,098 kali
Jika dijadikan hari maka 365 hari / 5,098 kali = 72 hari
= 10 Minggu
- Tingkat Pemakaian Perhari
= 2.600.000 / 365 hari
= 7.123,29 Kg
= 7.124 Kg / hari

4. Biaya Penyimpanan / TCC
- TCC = C.P.A atau TCC = C.P.(Q/2)
- TCC = C . P . ( Q / 2 )
= 0,02 . $5 . ( 510.000 / 2 )
= 0,1 . 255.000
= $ 25.500

18

5. Biaya Pemesanan / TOC
- TOC = F. ( S / Q )
= $ 5000 . ( 2.600.000 / 510.000 )
= $ 5000 . 5,098
= $ 25.490,20

6. Biaya Safety Stock
- Safety Stock = C. P. (Safety Stock)
= 0,02 . $ 5 . (50.000)
= 0,1 . 50.000
= $ 5.000

7. Total Biaya Persediaan / TIC
- TIC = TCC + TOC + Biaya Safety Stock
= $ 25.500 + $ 25.490,20 + $ 5.000
= $ 55.990,20

8. Grafik EOQ







Gambar iii: Grafik EOQ


9. Biaya Persediaan TIC Setelah Ada Tawaran
- Biaya Pemesanan
= $ 5.000 - $ 3.500
= $ 1.500

19

- TCC = 0,02 . $ 5 . ( 650.000 / 2 )
= 0,1 . 325.000
= $ 32.500

- TOC = $ 1.500 . ( 2.600.000 / 510.000 )
= $ 1.500 . 5,098
= $ 7.647

- TIC = $ 32.500 + $ 7.647 + $ 5.000
= $ 45.147

10. Hasil Analisis
- Jika pesanan sejumlah
a. 510.000 Kg Biaya persediaan sebesar $ 55.990,20
b. 650.000 Kg Biaya persediaan sebesar $ 45.147
Selesihnya mencapai $ 10.843,20
- Penawaran dari perusahaan pengolahan gandum perlu dipertimbanngkan.
- Pemesanan dalam satu tahun dilakukan 4 kali atau 13 Minggu
= 2.600.000 / 650.000 = 4 Kali

20

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Perusahaan dalam melakukan pelaporan mengenai persediaan sangat penting bagi
perusahaan dalam mengambil suatu keputusan dan persediaan merupakan salah satu dari
beberapa unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan yang secara terus meneru
diperoleh, diproduksi dan dijual. Oleh karena itu, system akuntansi itu sendiri harus
dilaksanakan sebaik mungkin sehingga tidak mengalami hal-hal yang mengganggu jalannya
operasi perusahaan.
Pelaporan persediaan yang diteliti dan relevan dianggap vital untuk memberikan
informasi yang berguna bagi perusahaan. Apabila terjadi kesalahan dalam pencatatan
persediaan, maka akan mengakibatkan kesalahan dalam menentukan besarnya laba
perusahaan yang diperoleh.

5.2 Saran
Berdasarkan dari pembahasan diatas, maka penulis mengemukakan saran bahwa
penerapan Manajemen Operasional Persediaan yang baik harus dilaksanakan secara efektif,
karena akan menunjang keberhasilan perusahaan tersebut.













21

DAFTAR PUSTAKA


- Rangkuti Freddy. 1995: Manajemen Persediaan. Cetakan Pertama, raja Grafindo
Persada, Jakarta
- Riyanto, Bambang. 1993: Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi kedua
Cetakan kedelapan, Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada, Yogyakarta.
- Syamsuddin, M.A., Drs. Lukman. 2007: Manajemen Keuangan Perusahaan. Raja
Grafindo Persada. Jakarta.
- Brigham, Eugene F. Dan Joel F. Houston. 2001: Manajemen Keuangan. Erlangga.
Jakarta.
- http://habibiarifin.blogspot.com/2010/05/manajemen-persediaan-inventory.html, diakses
pada tanggal 29 Maret 2013, pukul 16.00 WIB
- http://eriskusnadi.wordpress.com/2009/10/03/analisis-abc/. diakses pada tanggal 29
Maret 2013, pukul 16.00 WIB
- www.wikipedia.com.