Anda di halaman 1dari 9

Urinalisis

I. Tujuan :
Mahasiswa dapat memahami dan terampil dalam pemeriksaan kimiawi urin.
Mahasiswa Menganalisa kelainan pada urine secara kuantitatif

Dasar teori :
Sistem urin terdiri dari ginjal, ureter, kantong kemih dan uretra dengan menghasilkan urin
yang membawa serta berbagai produk sisa metabolisme untuk dibuang. Ginjal juga berfungsi
dalam pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh dan merupakan tempat pembuangan
hormon renin dan eritropitin. Renin ikut berperan dalam pengaturan tekanan darah dan eritropitin
berperan dalam merangsang produksi sel darah merah. Urin juga dihasilkan oleh ginjal berjalan
melalui ureter ke kantung kemih melalui uretra (Juncquiera, 1997).Urin dibentuk oleh ginjal
dalam menjalankan sistem homeostatik. Sifat dan susunan urin dipengaruhi oleh factor fisiologis
(misalkan masukan diet, berbagai proses dalam tubuh, suhu, lingkungan, stress, mental, dan
fisik) dan factor patologis (seperti pada gangguan metabolisme misalnya diabetes mellitus dan
penyakit ginjal). Oleh karena itu pemeriksaan urin berguna untuk menunjang diagnosis suatu
penyakit. Pada penyakit tertentu, dalam urin dapat ditemukan zat-zat patologik antara lain
glukosa, protein dan zat keton (Probosunu, 1994).Pemeriksaan terhadap adanya glukosa dalam
urin termasuk pemeriksaan penyaring. Gula mempunyai gugus aldehid dan keton bebas
mereduksi ion kupri dalam suasana alkalis menjadi koprooksida yang tidak larut dan berwarna
merah. Banyaknya endapan merah yang terbentuk sesuai dengan kadar gula yang terdapat di urin
(Montgomery, 1993).Menurut Wulangi (1990), menyatakan bahwa analisa urin itu penting,
karena banyak penyakit dan gangguan metabolisme dapat diketahui dari perubahan yang terjadi
didalam urin. Zat yang dapat dikeluarka dalam keadaan normal tidak terdapat adalah glukosa,
aseton, albumin, darah dan nanah.Zat tertentu yang terdapat didalam urin, meskipun dalam
keadaan normal zat tersebut tidak tampak. Seperti glukosa, asaton, albumin, darah dan nanah.
Berbagai keadaan ketidaknormalan komponen urin adalah : (a) Glikosuria, yaitu terdapatnya
glukosa dalam air kemih. Hal ini merupakan gejala terlalu banyak makan gula, meningkatkan
aktifitas kelenjar adranal yang mengakibatkan banyak penguraian glikogen dan pembebasan
glukosa dari hati, hipoinsulin, yaitu berkurangnya jumlah insulin (b) Aseonaria, adalah
terdapatnya senyawa keton dalam urin karena terlalu banyak mengkonsumsi lemak atau jumlah
karbohidrat yang tersedia untuk pembakaran berkurang. Aseton juga terbentuk saat keadaan
lapar. (c) Proteinuria, adalah salah satu keadan dimana satu macam protein plasma yang terdapat
dalam urin. Seperti terdapatnya albumin dalam urin (albuminaria). Hal ini menunjukan gejala
penyakit (d) hematuria, yaitu terdapatnya darah dala urin karena infeksi pada ginjal atau salah
satu air kemih (Walungi, 1990).Menurut Despopoulus (1998), urine yang ditambahkan larutan
glukosa akan memberikan hasil reaksi berupa warna. Semakin tinggi konsentrasi glukosa
diberikan maka perubahan warna yang terjadi akan semakin pudar. Hal ini didukung oleh
Nielsen (1979), reaksi pemberian glukosa terhadap urine manusia normal akan menyebabkan
naiknya kadar gula pada urine manusia normal akan menyebabkan naiknya kadar gula pada urine
sehingga akan terjadi perubahan warna jika sebelumnya diperlakukan dengan benedict.
Urin adalah cairan sisa yang di ekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan
dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Ekskresi urin diperlukan untuk membuang
molekul molekul sisa dalam darah yang di saring oleh ginjal dan untuk menjaga
homeostatis cairan tubuh. Namun, ada juga beberapa spesies yang menggunakan urin
sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter
menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra. Urin terdiri dari
air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan
materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan
interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang
penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul
pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai
senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi
yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung
oleh urin dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan
untuk mempercepat pembentukan kompos. Diabetes adalah suatu penyakit yang dapat
dideteksi me;a;ui urin. Urin seorang penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak
akan ditemukan dalam urin orang yang sehat. Fungsi utama urin adalah untuk membuang
zat sisa seperti racun atau obat-obatan daridalam tubuh. Anggapan umum menganggap
urin sebagai zat yang "kotor". Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut
berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinnya pun akan
mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat,
secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir bau yang dihasilkan berasal dari
urea. Sehingga bisa diakatakan bahwa urin itu merupakan zat yang steril. Urin dapat
menjadi penunjuk dehidrasi. Orang yang tidak menderita dehidrasi akan mengeluarkan
urin yang bening seperti air. Penderita dehidrasi akan mengeluarkan urin berwarna
kuning pekat atau cokelat.
Keasaman (pH)

Filtrat glomerular plasma darah biasanya diasamkan oleh tubulus ginjal dan saluran
pengumpul dari pH 7,4 menjadi sekitar 6 di final urin. Namun, tergantung pada status
asam-basa, pH kemih dapat berkisar dari 4,5 8,0. pH bervariasi sepanjang hari,
dipengaruhi oleh konsumsi makanan; bersifat basa setelah makan, lalu menurun dan
menjadi kurang basa menjelang makan berikutnya. Urine pagi hari (bangun tidur) adalah
yang lebih asam. Obat-obatan tertentu dan penyakit gangguan keseimbangan asam-basa
jug adapt mempengaruhi pH urine.

Urine yang diperiksa haruslah segar, sebab bila disimpan terlalu lama, maka pH akan
berubah menjadi basa. Urine basa dapat memberi hasil negatif atau tidak memadai
terhadap albuminuria dan unsure-unsur mikroskopik sedimen urine, seperti eritrosit,
silinder yang akan mengalami lisis. pH urine yang basa sepanjang hari kemungkinan oleh
adanya infeksi. Urine dengan pH yang selalu asam dapat menyebabkan terjadinya batu
asam urat.

Berikut ini adalah keadaan-keadaan yang dapat mempengaruhi pH urine :
pH basa : setelah makan, vegetarian, alkalosis sistemik, infeksi saluran kemih (Proteus
atau Pseudomonas menguraikan urea menjadi CO2 dan ammonia), terapi alkalinisasi,
asidosis tubulus ginjal, spesimen basi.
pH asam : ketosis (diabetes, kelaparan, penyakit demam pada anak), asidosis sistemik
(kecuali pada gangguan fungsi tubulus, asidosis respiratorik atau metabolic memicu
pengasaman urine dan meningkatkan ekskresi NH4+), terapi pengasaman.
Protein

Biasanya, hanya sebagian kecil protein plasma disaring di glomerulus yang diserap oleh
tubulus ginjal. Normal ekskresi protein urine biasanya tidak melebihi 150 mg/24 jam atau
10 mg/dl dalam setiap satu spesimen. Lebih dari 10 mg/ml didefinisikan sebagai
proteinuria.

Sejumlah kecil protein dapat dideteksi dari individu sehat karena perubahan fisiologis.
Selama olah raga, stres atau diet yang tidak seimbang dengan daging dapat menyebabkan
protein dalam jumlah yang signifikan muncul dalam urin. Pra-menstruasi dan mandi air
panas juga dapat menyebabkan jumlah protein tinggi.

Protein terdiri atas fraksi albumin dan globulin. Peningkatan ekskresi albumin merupakan
petanda yang sensitif untuk penyakit ginjal kronik yang disebabkan karena penyakit
glomeruler, diabetes mellitus, dan hipertensi. Sedangkan peningkatan ekskresi globulin
dengan berat molekul rendah merupakan petanda yang sensitif untuk beberapa tipe
penyakit tubulointerstitiel.

Dipsticks mendeteksi protein dengan indikator warna Bromphenol biru, yang sensitif
terhadap albumin tetapi kurang sensitif terhadap globulin, protein Bence-Jones, dan
mukoprotein.
Glukosa
Kurang dari 0,1% dari glukosa normal disaring oleh glomerulus muncul dalam urin
(kurang dari 130 mg/24 jam). Glukosuria (kelebihan gula dalam urin) terjadi karena nilai
ambang ginjal terlampaui atau daya reabsorbsi tubulus yang menurun. Glukosuria
umumnya berarti diabetes mellitus. Namun, glukosuria dapat terjadi tidak sejalan dengan
peningkatan kadar glukosa dalam darah, oleh karena itu glukosuria tidak selalu dapat
dipakai untuk menunjang diagnosis diabetes mellitus.
Keton

Badan keton (aseton, asam aseotasetat, dan asam -hidroksibutirat) diproduksi untuk
menghasilkan energi saat karbohidrat tidak dapat digunakan. Asam aseotasetat dan asam
-hidroksibutirat merupakan bahan bakar respirasi normal dan sumber energi penting
terutama untuk otot jantung dan korteks ginjal. Apabila kapasitas jaringan untuk
menggunakan keton sudah mencukupi maka akan diekskresi ke dalam urine, dan apabila
kemampuan ginjal untuk mengekskresi keton telah melampaui batas, maka terjadi
ketonemia. Benda keton yang dijumpai di urine terutama adalah aseton dan asam
asetoasetat.

Ketonuria disebabkan oleh kurangnya intake karbohidrat (kelaparan, tidak seimbangnya
diet tinggi lemak dengan rendah karbohidrat), gangguan absorbsi karbohidrat (kelainan
gastrointestinal), gangguan metabolisme karbohidrat (mis. diabetes), sehingga tubuh
mengambil kekurangan energi dari lemak atau protein, febris.
Bilirubin

Bilirubin yang dapat dijumpai dalam urine adalah bilirubin direk (terkonjugasi), karena
tidak terkait dengan albumin, sehingga mudah difiltrasi oleh glomerulus dan
diekskresikan ke dalam urine bila kadar dalam darah meningkat. Bilirubinuria dijumpai
pada ikterus parenkimatosa (hepatitis infeksiosa, toksik hepar), ikterus obstruktif, kanker
hati (sekunder), CHF disertai ikterik.

Urobilinogen

Empedu yang sebagian besar dibentuk dari bilirubin terkonjugasi mencapai area
duodenum, tempat bakteri dalam usus mengubah bilirubin menjadi urobilinogen.
Sebagian besar urobilinogen berkurang di faeses; sejumlah besar kembali ke hati melalui
aliran darah, di sini urobilinogen diproses ulang menjadi empedu; dan kira-kira sejumlah
1% diekskresikan ke dalam urine oleh ginjal.

Peningkatan ekskresi urobilinogen dalam urine terjadi bila fungsi sel hepar menurun atau
terdapat kelebihan urobilinogen dalam saluran gastrointestinal yang melebehi batas
kemampuan hepar untuk melakukan rekskresi. Urobilinogen meninggi dijumpai pada :
destruksi hemoglobin berlebihan (ikterik hemolitika atau anemia hemolitik oleh sebab
apapun), kerusakan parenkim hepar (toksik hepar, hepatitis infeksiosa, sirosis hepar,
keganasan hepar), penyakit jantung dengan bendungan kronik, obstruksi usus,
mononukleosis infeksiosa, anemia sel sabit. Urobilinogen urine menurun dijumpai pada
ikterik obstruktif, kanker pankreas, penyakit hati yang parah (jumlah empedu yang
dihasilkan hanya sedikit), penyakit inflamasi yang parah, kolelitiasis, diare yang berat.

Hasil positif juga dapat diperoleh setelah olahraga atau minum atau dapat disebabkan
oleh kelelahan atau sembelit. Orang yang sehat dapat mengeluarkan sejumlah kecil
urobilinogen.
Untuk pengukuran glukosa urine, reagen strip diberi enzim glukosa oksidase (GOD),
peroksidase (POD) dan zat warna.
II. Alat dan bahan :
Urine 100 ml
Tabung reaksi
Beaker glass
Pipet
Bunsen
Lampu UV
Asam asetat 6%
Reagen esbach
Reagen benedict
Ammonium sulfat jenuh
Na nitroprusid (jenuh dan baru)
NH
4
OH pekat
Reagen fouchet
Reagen schlessinger

III. Cara kerja
1. Pemeriksaan semi kuantitatif (Protein rebus)
Prinsip : Protein dalam suasana asam lemah apabila dipanaskan akan terdenaturasi
dan akan terjadi endapan
Cara kerja : 3 ml urin yang telah disaring / dipusingkan bakar sampai mendidih
tetesi 2-3 tetes asam asetat 6% bakar lagi sampai mendidih baca hasil

2. Tes glukosa pada urin : cara Benedict
Prinsip : dalam suasana basa, glukosa mereduksi Cupri menjadi Cupro yaitu CU
2
O
mengendap ( mengendap dengan warna merah bata). Intensitas warna yang terbentuk
menunjukkan jumlah glukosa dalam sampel urin.
Cara kerja : 8 tetes urin + 5 tetes reagen di didihkan dengan api kecil selama 5
menit hasil.

3. Tes untuk badan keton (keton bodies) : tes rothera
Cara kerja : 2 mL urin + 2 mL larutan ammonium sulfat jenuh + 2 3 tetes larutan
Na-nitroprusid (jenuh dan baru) + NH
4
OH pekat lewat dinding tabung, sehingga
terbentuk 2 lapisan.

4. Pemeriksaan bilirubin : tes Harrison
Prinsip : Bilirubin mereduksi FeCl
3
(dalam reagen Fauchet0 menjadi senyawa
berwarna hijau yang sebelumnya bilirubin dalam urin diendapkan dengan larutan
BaCl
2
Cara kerja : 3 mL urin + 3 mL lar. BaCl
2
saring dengan kertas saring, filtrat untuk
pemeriksaan urobilin ( tes Schlesinger), endapan (dikertas saring) + larutan Fouchet
1-2 tetes. (+) endapan berwarna hijau; (-) endapan berwarna coklat.

5. Pemeriksaan urobilin : tes schlessinger
Prinsip : Uribilin bereaksi dengan Zink Acetate dalam larutan amoniak membentuk
garam Zink yang memberikan fluorescensi hijau
Cara kerja : 3 mL filtrat (dari tes bilirubin Harrison) + 3 mL reagen Schlesingger
+ 1-2 tetes amoniak encer disaring dengan kertas saring filtat + tinc. Iodii
spiritousa lihat flourescensi di kotak UV

IV. Hasil praktikum
Parameter Keterangan Hasil praktikum
Protein Metode Protein rebus Negatif (-) : tetap jernih (dibandingkan
dengan kontrol)
Glukosa Metode Benedict Negatif (-) : tetap berwarna biru
Badan keton Metode Tes Rothera Negatif (-) : tidak terbentuk cincin ungu
pada kedua lapisan,hasil akhir berwarna
merah kecoklatan

Bilirubin Metode Tes Harrison Negatif (-) : endapan berwarna coklat
Urobilin Metode Tes Schlessinger Positif (+) :












V. Pembahasan
Pemeriksaan kimia urin meliputi : Protein, Glukosa, badan keton, Bilirubin, dan
Urobilin. Dilihat dari hasil praktikum , urine orang yang kami analisa termasuk urine
yang sehat.
Pada uji pH tidak di lakukan lagi karena di praktikum sebelumnya telah di analisis pada
praktikum minggu sebelumnya yaitu urinalisis secara fisikawi.
Pada uji protein orang yang kami analisa memberikan hasil negative (-) Biasanya, hanya
sebagian kecil protein plasma disaring di glomerulus yang diserap oleh tubulus ginjal.
Sehingga dalam urine tidak terlalu banyak protein.
Pada uji Glukosa orang yang kami analisa memberikan hasil negative (-) karena Kurang dari
0,1% dari glukosa normal disaring oleh glomerulus muncul dalam urin (kurang dari 130
mg/24 jam) serta kebiasaan orang tersebut tidak mengkonsumsi makanan dan minuman
berlebihan.
Pada uji Badan Keton orang yang kami analisa memberikan hasil negative (-) berarti
kondisi orang yang urinnya dianalisis adalah keadaan sehat karena orang yang urinnya
positif badan keton positif mengidap diabetes mellitus atau mengalami kurangnya intake
karbohidrat (kelaparan, tidak seimbangnya diet tinggi lemak dengan rendah karbohidrat),
gangguan absorbsi karbohidrat (kelainan gastrointestinal).
Pada uji Bilirubin orang yang kami analisa memberikan hasil negative (-). Pada orang
sehat bilirubin post hepatik yang larut dalam air dapat melalui filter ginjal oleh karena itu
bilirubinuria hanya terjadi jika di dalam plasma ada banyak bilirubin yang terkonjugasi.
Pada uji Urobilin orang yang kami analisa memberikan hasil positif (+) Karena hanya
positif pada metode Schlessinger yaitu untuk menentukan ada tidaknya urobilin pada urine
orang tersebut. Pada umumnya urobilin terdapat pada urine normal manusia karena urobilin
merupakan pigmen atau zat warna pada urine yang memberikan warna kuning.

VI. Kesimpulan

Urine yang kami analisis pada urinalisis secara kimiawi merupakan urine orang normal
pada umumnya karena urin tersebut hanya positif mengandung urobilin. Urobilin adalah
pigmen atau warna urine.



VII. Daftar pustaka

Despopoulus,A. 1998. Atlas Berwarna dan Teks Fisiologi. Hipokratea: Jakarta
Juncquiera, L, Carlos dkk. 1997. Histologi Dasar. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
Montgomery, Rex dkk. 1993. Biokimia jilid I. Yogjakarta : Gajah Mada University Press
Probosunu, N. 1994 . Fisiologi Umum. Yogjakarta : Gajah Mada University Press
Wulangi, Kartolo. 1990. Prinsip-prinsip Fisiologi Hewan. ITB: Bandung

















Laporan Praktium Kimia Klinik
Urinalisis II




Golongan W
Nama kelompok III:
1. Rey Kardiono (2443010091)
2. Ria Devi (2443011104)
3. Brenda (2443012162)
4. Christian (2443012067)


Fakultas Farmasi
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
2014