Anda di halaman 1dari 25

Pengertian Dormansi Benih

Benih dikatakan dorman apabila benih tersebut sebenarnya hidup


tetapi tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang
secara umum dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu
perkecambahan.
Dormansi adalah suatu periode dimana tanaman
atau bagian tanaman tidak tumbuh walaupun lingkungan
memungkinkan. Dormansi umumnya terjadi pada biji-
bijian, umbi-umbian, tunas dan spora. Masa dormansi
pada setiap tanaman berfariasi dari beberapa hari
sampai beberapa tahun. Dormansi disebabkan oleh
faktor luar dan faktor dalam. Faktor luar antara lain
temperatur yang tinggi, tidak ada cahaya untuk
perkecambahan dan faktor dalam antara lain kulit biji
yang terlalu tebal, adanya zat kimia, konsentrasi etilen
yang rendah dan embrio yang belum masak. Kulit biji
yang terlalu tebal dapat mencegah penyerapan air.
Dormansi dapat ditanggulangi dengan beberapa
perlakuan antara lain pendinginan yang lama,
pemanasan untuk mempercepat imbibisi, perendaman
dalam asam kuat dan secara mekanik dengan menoreh
biji.

1. Dormansi Fisik

2. Dormansi fisiologis (embrio)
a. Impermeabilitas kulit biji terhadap air

Benih-benih yang menunjukkan tipe dormansi ini disebut benih keras
contohnya seperti pada famili Leguminoceae, disini pengambilan air
terhalang kulit biji yang mempunyai struktur terdiri dari lapisan sel-
sel berupa palisade yang berdinding tebal, terutama dipermukaan
paling luar dan bagian dalamnya mempunyai lapisan lilin. Di alam
selain pergantian suhu tinggi dan rendah dapat menyebabkan benih
retak akibat pengembangan dan pengkerutan, juga kegiatan dari
bakteri dan cendawan dapat membantu memperpendek masa
dormansi benih.

b. Resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan
embrio

Pada tipe dormansi ini, beberapa jenis benih tetap berada
dalam keadaan dorman disebabkan kulit biji yang cukup kuat
untuk menghalangi pertumbuhan embrio. Jika kulit ini
dihilangkan maka embrio akan tumbuh dengan segera. Tipe
dormansi ini juga umumnya dijumpai pada beberapa genera
tropis seperti Pterocarpus, Terminalia, Eucalyptus.
Pada tipe dormansi ini juga didapati tipe kulit biji yang biasa
dilalui oleh air dan oksigen, tetapi perkembangan embrio
terhalang oleh kekuatan mekanis dari kulit biji tersebut.
Hambatan mekanis terhadap pertumbuhan embrio dapat
diatasi dengan dua cara mengekstrasi benih dari pericarp atau
kulit biji.

c. Adanya zat penghambat

Sejumlah jenis mengandung zat-zat penghambat dalam buah atau
benih yang mencegah perkecambahan. Zat penghambat yang paling
sering dijumpai ditemukan dalam daging buah. Untuk itu benih
tersebut harus diekstrasi dan dicuci untuk menghilangkan zat-zat
penghambat.

Dormansi fisiologis (embrio)

Penyebabnya adalah embrio yang belum
sempurna pertumbuhannya atau belum matang.
Benih-benih demikian memerlukan jangka waktu
tertentu agar dapat berkecambah (penyimpanan).
Jangka waktu penyimpanan ini berbeda-beda dari
kurun waktu beberapa hari sampai beberapa tahun
tergantung jenis benih. Benih-benih ini biasanya
ditempatkan pada kondisi temperatur dan
kelembaban tertentu agar viabilitasnya tetap
terjaga sampai embrio terbentuk sempurna dan
dapat berkecambah.

Beberapa penyebab dormansi fisiologis adalah :

- Immaturity Embrio
Pada dormansi ini perkembangan embrionya
tidak secepat jaringan sekelilingnya sehingga
perkecambahan benih-benih yang demikian
perlu ditunda. Sebaiknya benih ditempatkan
pada tempe-ratur dan kelembapan tertentu agar
viabilitasnya tetap terjaga sampai embrionya
terbentuk secara sempurna dan mampu
berkecambah.

- After ripening

Benih yang mengalami dormansi ini memerlukan suatu
jangkauan waktu simpan tertentu agar dapat
berkecambah, atau dika-takan membutuhkan jangka
waktu "After Ripening". After Ripening diartikan sebagai
setiap perubahan pada kondisi fisiologis benih selama
penyimpanan yang mengubah benih menjadi mampu
berkecambah. Jangka waktu penyimpanan ini berbeda-
beda dari beberapa hari sampai dengan beberapa tahun,
tergantung dari jenis benihnya.

- Dormansi Sekunder

Dormansi sekunder disini adalah benih-benih yang pada
keadaan normal mampu berkecambah, tetapi apabila
dikenakan pada suatu keadaan yang tidak menguntungkan
selama beberapa waktu dapat menjadi kehilangan
kemampuannya untuk berkecambah. Kadang-kadang
dormansi sekunder ditimbulkan bila benih diberi semua
kondisi yang dibutuhkan untuk berkecambah kecuali satu.
Misalnya kegagalan memberikan cahaya pada benih yang
membutuhkan cahaya.
Diduga dormansi sekunder tersebut disebabkan oleh
perubahan fisik yang terjadi pada kulit biji yang diakibatkan
oleh pengeringan yang berlebihan sehingga pertukaran gas-
gas pada saat imbibisi menjadi lebih terbatas.

- Dormansi yang disebabkan oleh hambatan metabolis
pada embrio.

Dormansi ini dapat disebabkan oleh hadirnya zat
penghambat perkecambahan dalam embrio. Zat-zat
penghambat perkecambahan yang diketahui terdapat
pada tanaman antara lain : Ammonia, Abcisic acid,
Benzoic acid, Ethylene, Alkaloid, Alkaloids Lactone
(Counamin) dll.
Counamin diketahui menghambat kerja enzim-enzim
penting dalam perkecambahan seperti Alfa dan Beta
amilase.

Tipe dormansi lain selain dormansi fisik dan
fisiologis adalah kombinasi dari beberapa tipe
dormansi.
Tipe dormansi ini disebabkan oleh lebih dari satu
mekanisme. Sebagai contoh adalah dormansi
yang disebabkan oleh kombinasi dari immaturity
embrio, kulit biji indebiscent yang membatasi
masuknya O2 dan keperluan akan perlakuan
chilling.

1. Perlakuan Mekanis
a. Skarifikasi
Skarifikasi mencakup cara-cara seperti mengikir
atau menggosok kulit biji dengan kertas empelas,
melubangi kulit biji dengan pisau, perlaukan
impaction (gocangan) untuk benih-benih yang
memiliki sumber gabus. Dimana semuanya
bertujuan untuk melemahkan kulit biji yang keras,
sehingga lebih permeabel terhadap air atau gas.

b. Tekanan
Benih-benih dari sweet clover (Melilotus alba) dan
alfafa (Medicago sativa) setelah diberi perlakuan
dengan tekanan hidraulik 2000 atm pada 180C
selama 5-20 menit ternyata perkecambahannya
meningkat sebesar 50-200%. Efek tekanan terlihat
setelah benih-benih tersebut dikeringkan dan
disimpan, tidak diragukan lagi perbaikan
perkecambahan terjadi disebabkan oleh perubahan
permeabilitas kulit biji terhadap air.

2. Perlakuan Kimia

Perlakuan dengan menggunakan bahan-bahan
kimia sering pula dilakukan untuk memecahkan
dormansi benih. Tujuannya adalah menjadikan agar
kulit biji lebih mudah dimasuki oleh air pada waktu
proses imbibisi. Larutan asam kuat seperti asam
sulfat dan asam nitrat dengan konsentrasi pekat
membuat kulit biji menjadi lebih lunak sehingga
dapat dilalui oleh air dengan mudah. Bahan kimia
lain yang juga sering digunakan adalah: potassium
hydroxide, asam hidrochlorit, potassium nitrat, dan
thiourea. Disamping itu dapat pula digunakan
hormon tumbuh untuk memecahkan dormansi pada
benih, antara lain adalah : cytokinin, gibberellin dan
auxin.

3. Perlakuan Perendaman dengan Air panas

Beberapa jenis benih terkadang diberi perlakuan
perendaman di dalam air panas dengan tujuan
memudahkan penyerapan air oleh benih. Prosedur yang
umum digunakan adalah sebagai berikut : air dipanaskan
sampai 1800 2000F, benih dimasukkan ke dalam air
panas tersebut dan biarkan sampai menjadi dingin,
selama beberapa waktu.

4. Perlakuan Pemberian Temperatur Tertentu

a. Stratifikasi
Selama stratifikasi terjadi sejumlah perubahan dalam
benih yang berakibat menghilangnya bahan-bahan
penghambat pertumbuhan atau terjadi pembentukan
bahan-bahan yang merangsang pertumbuhan.Benih-
Benih yang memerlukan stratifikasi selama waktu
tertentu sebelum tanam yaitu : apel, anggur, pear,
peach, pinus, rosa, strawberry, oak, cherry, dan lain-
lain. Kebutuhan stratifikasi berbeda untuk setiap jenis
tanaman.
Temperatur tinggi jarang digunakan untuk
memecahkan dormansi benih, kecuali pada kelapa
sawit. Biasanya temperatur tinggi malah meningkatkan
dormansi benih daripada memperbaiki
perkecambahnnya.

b. Perlakuan dengan Temperatur Tinggi dan Rendah
Keadaan dormansi pada beberapa benih dapat diatasi
dengan pemberian efek dari temperatur rendah dan
agak tinggi. Tetapi temperatur ekstrim dari perlakuan ini
tidak boleh berbeda lebih dari 100 atau 200C , pada
umumnya berada diatas dari titik beku.
5. Perlakuan dengan Cahaya
Cahaya tidak hanya mempengaruhi persentase
perkecambahan benih, tetapi juga laju perkecambahan.
Pengaruh cahaya pada benih bukan saja dalam jumlah
cahaya yang diterima tetapi juga intensitas cahaya dan
panjang hari


Dormansi diklasifikasikan menjadi
bermacam-macam kategori berdasarkan
faktor penyebab, mekanisme dan
bentuknya.
1. Imposed dormancy (quiscence): terhalangnya
pertumbuhan aktif karena keadaan lingkungan
yang tidak menguntungkan
2. Imnate dormancy (rest): dormansi yang
disebabkan oleh keadaan atau kondisi di dalam
organ-organ biji itu sendiri

Mekanisme fisik

Merupakan dormansi yang mekanisme
penghambatannya disebabkan oleh organ biji itu sendiri;
digolongkan menjadi:

- mekanis : embrio tidak berkembang karena dibatasi
secara fisik
- fisik: penyerapan air terganggu karena kulit biji yang
impermeable
- kimia: bagian biji/buah mengandung zat kimia
penghambat

Mekanisme fisiologis

Merupakan dormansi yang disebabkan oleh terjadinya
hambatan dalam proses fisiologis; digolongkan menjadi:

- photodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat
oleh keberadaan cahaya
- immature embryo: proses fisiologis dalam biji terhambat
oleh kondisi embrio yang tidak/belum matang
- thermodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat
oleh suhu

- Kulit biji impermeabel terhadap air/O2 Bagian biji yang
impermeabel: membran biji, kulit biji, nucellus, pericarp, endocarp
- Impermeabilitas dapat disebabkan oleh deposisi bermacam-
macam substansi (misalnya cutin, suberin, lignin) pada membran.
- Kulit biji yang keras dapat disebabkan oleh pengaruh genetik
maupun lingkungan. Pematahan dormansi kulit biji ini dapat
dilakukan dengan skarifikasi mekanik.
- Bagian biji yang mengatur masuknya air ke dalam biji: mikrofil,
kulit biji, raphe/hilum, strophiole; adapun mekanisme higroskopiknya
diatur oleh hilum.
- Keluar masuknya O2 pada biji disebabkan oleh mekanisme
dalam kulit biji. Dormansi karena hambatan keluar masuknya O2
melalui kulit biji ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur
tinggi dan pemberian larutan kuat.
- Embrio belum masak (immature embryo)
- Ketika terjadi abscission (gugurnya buah dari tangkainya), embrio
masih belum menyelesaikan tahap perkembangannya.
Misal: Gnetum gnemon(melinjo)
- Embrio belum terdiferensiasi
- Embrio secara morfologis sudah berkembang, namun masih
butuh waktu untuk mencapai bentuk dan ukuran yang sempurna.
Dormansi karena immature embryo ini dapat
dipatahkan dengan perlakuan temperatur rendah
dan zat kimia. Biji membutuhkan pemasakan
pascapanen (afterripening) dalam penyimpanan
kering. Dormansi karena kebutuhan
akan afterripening ini dapat dipatahkan dengan
perlakuan temperatur tinggi dan pengupasan kulit.
Biji membutuhkan suhu rendah
Biasa terjadi pada spesies daerah temperate,
seperti apel dan Familia Rosaceae. Dormansi ini
secara alami terjadi dengan cara: biji dorman
selama musim gugur, melampaui satu musim dingin,
dan baru berkecambah pada musim semi
berikutnya. Dormansi karena kebutuhan biji akan
suhu rendah ini dapat dipatahkan dengan perlakuan
pemberian suhu rendah, dengan pemberian aerasi
dan imbibisi.

Benih yang mengalami dormansi ditandai oleh :

- Rendahnya / tidak adanya proses imbibisi air.
- Proses respirasi tertekan / terhambat.
- Rendahnya proses mobilisasi cadangan
makanan.
- Rendahnya proses metabolisme cadangan
makanan.