Anda di halaman 1dari 29

1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG
Reaksi Hidrolisis air dengan senyawa lain, senyawa diurai menjadi dua bagian, air
ditambahkan ke salah satu bagian dari atom hidrogen, dan gugus hidroksil ditambahkan ke
bagian lain, sehingga untuk mendapatkan dua atau lebih proses reaksi senyawa baru.
Aplikasi yang lebih industri adalah hidrolisis bahan organik, terutama
memproduksi alkohol dan fenol. Netralisasi atau reaksi hidrolisis adalah reaksi kebalikan
dari esterifikasi. Air hidrolisis yang paling organik sendiri sulit untuk berjalan dengan
lancar. Hidrolisat sesuai dengan sifat dari agen hidrolitik mungkin larutan natrium
hidroksida, asam encer atau pekat, dan kadang-kadang juga dengan kalium hidroksida,
kalsium hidroksida, seperti larutan natrium bisulfit. Ini disebut hidrolisis basa dan
menambahkan hidrolisis asam. Hidrolisis mungkin intermiten atau kontinu operasi, bekas
reaktor sering autoclave, reaktor multi-menara kedua.
Hidrolisis garam didefinisikan sebagai garam terionisasi dalam larutan ion dan air dari
ion hidrogen dan hidroksida yang bergabung untuk menghasilkan reaksi elektrolit lemah.
Dekomposisi dalam air biasanya proses metatesis anorganik, molekul air yang membusuk,
dan hidrolisat dari potongan-potongan untuk membentuk zat baru, seperti dekomposisi
klorin dalam air, atom klorin dan atom hidrogen, air didekomposisi menjadi asam klorida,
dengan molekul air yang lain atom hidrogen dan atom oksigen dan atom-atom klorin
lainnya menjadi asam hipoklorit, natrium bikarbonat dan hidrolisis natrium hidroksida akan
menghasilkan, klorida hidrolisis akan menghasilkan asam klorida dan amonia. Molekul
organik umumnya lebih besar, asam atau basa hidrolisis, sebagai katalis yang diperlukan,
kadang-kadang dengan aktivitas biologis enzim sebagai katalis. Dalam asam larutan lemak
dihidrolisis menjadi gliserol dan asam lemak, menghidrolisis pati menjadi maltosa, glukosa,
dll, protein dihidrolisis menjadi asam amino dan zat berat molekul yang relatif kecil lainnya.
Dalam larutan alkali, lemak menjadi gliserol dan garam asam lemak padat, yaitu sabun, jadi
hidrolisis ini juga disebut saponifikasi.
2

Peristiwa hidrolisis garam sangat tergantung dari komposisi pembentuk garam, sehingga
kita dapat kelompokan kedalam empat bagian yaitu; 1)garam yang berasal dari asam kuat
dan basa kuat, 2) asam kuat dan basa lemah, 3) asam lemah dan basa kuat dan 4) asam
lemah dan basa lemah.
Untuk proses hidrolisis di dalam industry dapat diaplikasikan pada industry minyak
zaitun menggunakan lipase Rhizopus Oryzae yang diimobilisasi melalui metode adsorpsi.
Reaksi hidrolisis pada industry ini digunakan untuk system imobilisasi dalam system emulsi
minyak-air. Proses hidrolisis ini dilakukan berulang-ulang kali hingga diperoleh nilai
konversi hidrolisis dibawah 5% yang dianggap sudah tidak ekonomis untuk dilanjutkan.
I.2. RUMUSAN MASALAH

1. Pengertian reaksi hidrolisis
2. Macam macam reaksi hidrolisis
3. Proses reaksi Hdrolisis
4. Aplikasi reaksi hidrolisis di bidang Industri.

I.3. TUJUAN
1. Mengetahui proses reaksi hidrolisis secara umum.
2. Mengetahui berbagai macam reaksi hidrolisis.
3. Mengetahui proses reaksi hidrolisis yang terjadi
4. Mengetahui terjadinya proses reaksi hidrolisis di bidang industry.









3

BAB II
ISI


II.1. PENGERTIAN HIDROLISIS

Pencampuran larutan asam dengan larutan basa akan menghasilkan garam dan air.
Namun demikian, garam dapat bersifat asam, basa maupun netral. Sifat garam
bergantung pada jenis komponen asam dan basanya. Garam dapat terbentuk dari asam
kuat dengan basa kuat, asam lemah dengan basa kuat, asam kuat dengan basa lemah,
atau asam lemah dengan basa lemah. Jadi, sifat asam basa suatu garam dapat ditentukan
dari kekuatan asam dan basa penyusunnya. Sifat keasaman atau kebasaan garam ini
disebabkan oleh sebagian garam yang larut bereaksi dengan air. Proses larutnya
sebagian garam bereaksi dengan air ini disebut hidrolisis (hidro yang berarti air dan lisis
yang berarti peruraian).
Hidrolisis adalah reaksi kimia yang memecah molekul air (H
2
O) menjadi kation
hidrogen (H
+
) dan anion hidroksida (OH

) melalui suatu proses kimia. Proses ini


biasanya digunakan untuk memecah polimer tertentu, terutama yang dibuat melalui
polimerisasi tumbuh bertahap (step-growth polimerization).
Hidrolosis berbeda dengan hidrasi. Pada hidrasi, molekul tidak terpecah menjadi
dua senyawa baru.
Hidrolisis merupakan reaksi penguraian garam oleh air atau reaksi ion-ion garam
dengan air. Pada penguraian garam ini, dapat terjadi beberapa kemungkinan, yaitu :
Ion garam bereaksi dengan air menghasilkan ion H
Ion garam bereaksi dengan air menghasilkan ion H+, sehingga menyebabkan [H+]
dalaMm air bertambah dan akibatnya [H+] > [OH-], maka larutan bersifat asam.
Ion garam tersebut tidak bereaksi dengan air, sehingga [H+] dalam air akan tetap
sama dengan [OH-], maka air akan tetap netral (pH = 7).

4

Ada dua macam hidrolisis, yaitu :
a. Hidrolisis parsial atau sebagian
Hidrolisis parsial ini dapat terjadi apabila garamnya berasal dari asam lemah dan basa
kuat atau sebaliknya dan pada hidrolisis sebagian hanya salah satu ion saja yang yang
mengalami reaksi hidrolisis, yang lainnya tidak.
Contoh : garam NH
4
Cl
Dalam air , NH
4
Cl terionisasi sempurna membentuk ion Cl
-
dan NH
4
+

b. Hidrolisis total
Hidrolisis ini dapat terjadi apabila garamnya berasal dari asam lemah dan basa lemah.
Contoh : HF
(aq)
+ NH
4
OH
(aq)
NH
4
F
(aq)
+ H
2
O
(l)

Garam yang terbentuk mengalami ionisasi sempurna dalam air
NH
4
F
(aq)
NH
4
+
(aq)
+ F
-
(aq)

Baik kation maupun anion, sama-sama mengalami hidrolisis, sebab keduanya berasal
dari spesi lemah. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
NH
4
+
(aq)
+ H
2
O
(l)
<> NH
4
OH
(aq)
+ H
+
(aq)

F
-
(aq)
+ H
2
O
(l)
<> HF
(aq)
+ OH
-
(aq)
hidrolisis kedua ion tersebut menghasilkan ion H
+
maupun ion OH
-
. Dengan
demikian, larutan garam tersebut mengalami hidrolisis total ( sempurna ).
II.2. MACAM-MACAM JENIS PEMBENTUKAN GARAM HIDROLISIS
Garam adalah senyawa yang dihasilkan dari reaksi netralisasi antara larutan asam
dan larutan basa. Larutan garam yang terbentuk memiliki sifat yang bervariasi,
tergantung pada sifat asam dan sifat basa penyusun garam. Secara umum :

5

Asam + Basa Garam + Air
Berikut ini adalah beberapa contoh reaksi pembentukan garam (dikenal pula dengan
istilah reaksi penggaraman atau reaksi netralisasi) :
HCl(aq) + NaOH(aq) NaCl(aq) + H2O(l)
H2SO4(aq) + 2 NH4OH(aq) (NH4)2SO4(aq) + 2 H2O(l)
2 HCN(aq) + Ba(OH)2(aq) Ba(CN)2(aq) + 2 H2O(l)
H2CO3(aq) + Mg(OH)2(aq) MgCO3(s) + 2 H2O(l)
Reaksi kebalikan dari reaksi penggaraman dikenal dengan istilah reaksi hidrolisis.
Reaksi hidrolisis adalah reaksi salah satu ion atau kedua ion larutan garam dengan air.
Reaksi salah satu atau kedua ion larutan garam dengan air menyebabkan perubahan
konsentrasi ion H+ maupun ion OH- dalam larutan. Akibatnya, larutan garam dapat
bersifat asam, basa, maupun netral.
Sebagaimana yang telah kita pelajari sebelumnya, kita mengenal dua jenis asam,
yaitu asam kuat dan asam lemah. Demikian halnya dengan basa, kita mengenal istilah
basa kuat dan basa lemah (lihat : Kimia Asam Basa).
Ion garam dianggap bereaksi dengan air, bila ion tersebut dalam reaksinya
menghasilkan asam lemah atau basa lemah, sebab bila menghasilkan asam atau basa
kuat maka hasil reaksinya akan segera terionisasi sempurna dan kembali menjadi ion-
ionnya. Jika ditinjau dari asam dan basa pembentuknya ada empat jenis garam yang
dikenal, yaitu ;
1. Garam yang terbentuk dari asam lemah dengan basa kuat
2. Garam yang terbentuk dari asam kuat dengan basa lemah
3. Garam yang terbentuk dari asam lemah dengan basa lemah
4. Garam yang terbentuk dari asam kuat dengan basa kuat
6

Sifat garam tergantung pada kuat lemahnya asam dan basa yang bereaksi. Jika
yang direaksikan asam kuat dan basa kuat, maka garam yang terbentuk bersifat netral,
contohnya NaCl dan K
2
SO
4
. Apabila yang direaksikan asam kuat dengan basa lemah,
maka garam yang dihasilkan bersifat asam, contohnya NH
4
Cl dan (NH
4
)
2
SO
4
. Namun
jika yang direaksikan adalah basa kuat dengan asam lemah, maka garam yang dihasilkan
akan bersifat basa, misalnya Na
2
CO
3
dan KF. Asam lemah dan basa lemah tidak
mengion sempurna dalam air karena reaksi ionisasinya membentuk system
kesetimbangan. Sehingga asam lemah atau basa lemah mempunyai derajat ionisasi
kurang dari satu (a < 1). Sama halnya dengan larutan asam dan basa, maka garam ketika
dilarutkan dalam air juga mengalami penguraian menjadi ion-ion pembentuknya.
1. Garam dari Asam Kuat dengan Basa Kuat
Asam kuat dan basa kuat bereaksi membentuk garam dan air. Kation dan anion
garam berasal dari elektrolit kuat yang tidak terhidrolisis, sehingga larutan ini bersifat
netral, pH larutan ini sama dengan 7.
Contoh
Larutan KCl berasal dari basa kuat KOH terionisasi sempurna membentuk kation dan
anionnya. KOH terionisasi menjadi H
+
dan Cl
-
. Masing-masing ion tidak bereaksi
dengan air, reaksinya dapat ditulis sebagai berikut.
KCl
(aq)
K
+

(aq)
+ Cl
-

(aq)

K
+

(aq)
+ H
2
O
(l)
KOH + H
+
Cl
-

(aq)
+ H
2
O
(l)
HCl +H
+

2. Garam dari Asam Kuat dengan Basa Lemah
Garam yang terbentuk dari asam kuat dengan basa lemah mengalami hidrolisis
sebagian (parsial) dalam air. Garam ini mengandung kation asam yang mengalami
hidrolisis. Larutan garam ini bersifat asam, pH <7.
Contoh
Amonium klorida (NH
4
Cl) merupakan garam yang terbentuk dari asam kuat, HCl
dalam basa lemah NH
3
. HCl akan terionisasi sempurna menjadi H
+
dan Cl
-
sedangkan
NH
3
dalam larutannya akan terionisasi sebagian membentuk NH
4

+
dan OH
-
. Anion Cl

7

-
berasal dari asam kuat tidak dapat terhidrolisis, sedangkan kation NH
4

+
berasal dari
basa lemah dapat terhidrolisis.
NH
4
Cl
(aq)
NH
4

+

(aq)
+ Cl
-

(aq)
(1)
Cl
-

(aq)
+ H
2
O
(l)

NH
4

+

(aq)
+ H
2
O
(l)
NH
3 (aq)
+ H
3
O
+

(aq)

Reaksi hidrolisis dari amonium (NH
4

+
) merupakan reaksi kesetimbangan. Reaksi ini
menghasilkan ion oksonium (H
3
O
+
) yang bersifat asam (pH<7). Secara umum reaksi
ditulis:
BH
+
+ H
2
O B + H
3
O
+

Ion NH
4
+
berasal dari basa lemah yang merupakan asam konjugasi dari NH
3
sehingga
akan bereaksi dengan air membentuk reaksi kesetimbangan berikut.
NH
4
+
(aq) + H
2
O(aq) NH
4
OH(aq) + H
+
(aq) (2)
Reaksi hidrolisis di atas menghasilkan ion H
+
, sehingga larutan bersifat asam. Karena
garam yang terbentuk dari asam kuat dengan basa lemah, yang akan mengalami
hidrolisis hanya kationnya (NH
4
+
). Maka NH
4
Cl hanya mengalami hidrolisis sebagian.
Dari reaksi (2), berlaku kesetimbangan:
K
c
=

.(3)
Karena air sebagai pelarut, maka konsentrasinya besar dan dapat dianggap konstan.
K
c
[H
2
O] = K
h
= .(4)
Dalam reaksi kesetimbangan, [H
+
]= [NH
4
OH] sedangkan [NH
4
+
] = [NH
4
Cl] = [G],
sehingga:
[H
+
] = .(5)
Nilai K
h
pada persamaan (5) ada hubungannya dengan K
b
. Karena yang terhidrolisis
basa lemah maka persamaannya dapat diturunkan sebagai berikut:
8

K
h
=



K
h
= . [H
+
] [OH

](6)

Ingat, bahwa reaksi ionisasi NH
4
OH adalah:
NH
4
OH(aq) NH
4
+
(aq) + OH

(aq), sehingga:

K
b
= = =

Ingat juga [OH

] [H
+
] = K
w
, sehingga persamaan (6) dapat ditulis:
K
h
= K
w
/ K
b ..
(7)
Dari persamaan (5) dan (7), kalian akan memperoleh persamaan berikut:
[H
+
] =

log [H
+
] = log K
w
log [G] + log K
b

pH = (pK
w
pK
b
log [G])
Karena pH = 14, maka:
pH = (14 pK
b
log [G])
Keterangan :
9

K
h
: tetapan hidrolisis
K
w
: tetapan ionisasi air (10
14
)
K
b
: tetapan ionisasi basa lemah
[G] : konsentrasi ion garam yang terhidrolisis
Contoh :
Hitunglah pH larutan (NH4)
2
SO
4
0,1 M. (K
b
NH
3
pada suhu tertentu = 1 x 10
5
)
Penyelesaian:

Diketahui: [(NH4)
2
SO
4
] = 0,1 M
K
b
NH
3
= 1 x 10
5

Ditanyakan: pH larutan (NH4)
2
SO
4

Jawaban :
(NH4)
2
SO
4
adalah garam dari asam kuat dan basa lemah. Ingat, karena yang kuat
menentukan sifat garam dalam air, maka garam bersifat asam, artinya ada ion H
+
.
(NH4)
2
SO
4
2NH
4
+
+ SO
4
2-

0,1 M 0,1 M

[H
+
] =
[H
+
] =
[H
+
] = = 1,4 x 10
5

10

pH = log 1,4 x 10
5
= 4,85
Jadi, pH larutan (NH4)
2
SO
4
adalah 4,85.
Ingat :
Log a
n
= n log a

3. Garam dari Asam Lemah dengan Basa Kuat
Garam yang terbentuk dari asam lemah dengan basa kuat mengalami hidrolisis
parsial dalam air. Garam ini mengandung anion basa yang mengalami hidrolisis. Larutan
garam ini bersifat basa (pH > 7).
Contoh
Natrium asetat (CH
3
COONa) terbentuk dari asam lemah CH
3
COOH dan basa kuat
NaOH. CH
3
COOH akan terionisasi sebagian membentuk CH
3
COO
-
dan Na
+
. Anion
CH
3
COO
-
berasal dari asam lemah yang dapat terhidrolisis, sedangkan kation Na
+

berasal dari basa kuat yang tidak dapat terhidrolisis.
CH
3
COONa
(aq)
CH
3
COO
-

(aq)
+ Na
+

(aq)
.(1)
Na
+

(aq)
+ H
2
O
(l)

CH
3
COO
-

(aq)
+ H
2
O
(l)
CH
3
COOH
(aq)
+ OH
-

(aq)
(2)
Reaksi hidrolisis asetat (CH
3
COO
-
) merupakan reaksi kesetimbangannya. Reaksi ini
menghasilkan ion OH
-
yang bersifat basa (pH > 7). Secara umum reaksinya ditulis:
A
-
+ H
2
O HA + OH



Reaksi hidrolisis di atas menghasilkan ion OH
-
sehingga larutan bersifat basa. Karena
hanya anion (CH
3
COO
-
) yang terhidrolisis, maka CH
3
COONa hanya mengalami
hidrolisis sebagian.
Dari reaksi (2) di atas, berlaku kesetimbangan sebagai berikut:
Dalam kesetimbangan berlaku
K
c
=


............................(3)
Karena air sebagai pelarut, maka konsentrasinya besar dan dapat dianggap konstan :
11

K
c
[H
2
O] = K
h
= ......................................................(4)

Dalam kesetimbangan, [CH
3
COOH] = [OH
-
] dan [CH
3
COO
-
] = [CH
3
COONa] = [G],
sehingga;
K
h
= = ..................................................(5)

[OH
-
] = ........................................................(6)
Nilai K
h
pada persamaan (5) memiliki hubungan dengan asam lemah. Karena yang
terhidrolisis asam lemah, maka persamaannya dapat diturunkan sebagai berikut.
K
h
=


K
h
= [OH
-
] [H
+
] ............................................ (7)

Ingat reaksi ionisasi CH
3
COOH :
CH
3
COOH(aq) H
+
(aq) + CH
3
COO

(aq)

K
a
= ; =


12

Ingat juga :
K
w
= [OH
-
] [H
+
] ; sehingga persamaan (7) dapat ditulis:
K
h
= K
w
/ K
a
.......................................................................................... (8)
Dari persamaan (6) dan persamaan (8), kalian dapat memperoleh persamaan berikut:
[OH
-
] =
log [OH
-
] = log pK
w
log pK
a
+ log [G]
pOH = (pK
w
pK
a
log [G])
pH = pK
w
pOH = (pK
w
+ pK
a
+ log [G])
Karena pK
w
= 14, dan [G] = konsentrasi garam yang terhidrolisis, maka:
pH = (14 + pK
a
+ log [G])
Keterangan :
K
w
: tetapan ionisasi air (10
14
)
K
a
: tetapan ionisasi asam lemah
[G] : konsentrasi ion garam yang terhidrolisis
Contoh :
Berapa pH larutan yang terbentuk pada hidrolisis garam NaCN 0,01 M, jika diketahui
Ka HCN = 1 x 10
10
?
Penyelesaian :
Diketahui :
[NaCN] = 0,01 M
K
a
HCN = 1 x 10
10

13

Ditanyakan: pH larutan NaCN.
Pembahasan :
NaCN adalah garam dari asam lemah dan basa kuat. Jangan lupa yang kuat menentukan
sifat garam dalam air. Jadi, garam bersifat basa, artinya memiliki ion OH
-
.

NaCN Na
+
+ CN
-

0,1 M

[OH
-
] = = = 10
3

pOH = - log [OH
-
] = - log 10
3
= 3
pH = 14 - 3 = 11
Jadi, pH larutan NaCN adalah 11.

4. Garam dari Asam Lemah dengan Basa Lemah
Asam lemah dengan basa lemah dapat membentuk garam yang terhidrolisis total
(sempurna) dalam air. Baik kation maupun anion dapat terhidrolisis dalam air. Larutan
garam ini dapat bersifat asam, basa, maupun netral. Hal ini bergantung dari
perbandingan kekuatan kation terhadap anion dalam reaksi dengan air.
Contoh
Suatu asam lemah HCN dicampur dengan basa lemah, NH
3
akan terbentuk garam NH
4

CN. HCN terionisasi sebagian dalam air membentuk H
+
dan CN
-
sedangkan NH
3

dalam air terionisasi sebagian membentuk NH4+ dan OH-. Anion basa CN
-
dan kation
asam NH
4

+
dapat terhidrolisis di dalam air.
NH
4
CN
(aq)
NH
4

+

(aq)
+ CN
-

(aq)

NH
4

+

(aq)
+ H
2
O NH
3(aq)
+ H
3
O
(aq)

+

14

CN
-

(aq)
+ H
2
O
(e)
HCN
(aq)
+ OH
-

(aq)

Sifat larutan bergantung pada kekuatan relatif asam dan basa penyusunnya (Ka dan Kb)
Jika Ka < Kb (asam lebih lemah dari pada basa) maka anion akan terhidrolisis lebih
banyak dan larutan bersifat basa.
Jika Ka > Kb (asam lebih kuat dari pada basa) maka kation akan terhidrolisis lebih
banyak dalam larutan bersifat asam.
Jika Ka = Kb (asam sama lemahnya dengan basa) maka larutan bersifat netral.
Tetapan kesetimbangan dari reaksi hidrolisis disebut tetapan hidrolisis dan
dilambangkan dengan K h.
Kh = Kw
Ka atau Kb.
Dengan cara yang sama seperti pada garam yang terbentuk dari asam kuat dengan
basa lemah ataupun garam yang terbentuk dari asam lemah dengan basa kuat, maka
dapat diperoleh :
[H
+
] =
pH = (14 + pK
a
- pK
b
)
Keterangan :
K
w
: tetapan ionisasi air (10
14
)
K
a
: tetapan ionisasi asam lemah
K
b
: tctapan ionisasi basa lemah
[G] : konsentrasi ion garam yang terhidrolisis
Berdasarkan rumus di atas, pH larutan garam terhidrolisis ternyata tergantung
pada besarnya tetapan ionisasi asam lemah (K
b
) atau tetapan ionisasi basa lemah (K
b
)
dari asam pembentuknya, den tidak tergantung pada besarnya ion-ion yang terurai.

15

Contoh Soal :
Berapa pH larutan yang terbentuk pada hidrolisis garam (NH
4
)
2
CO
3
0,1 M
jika K
a
H
2
CO
3
= 1 x 10
-8
dan K
b
NH
4
OH = 1 x 10
-5
?
Penyelesaian:
Diketahui:
[(NH
4
)
2
CO
3
] = 0,1 M
K
a
H
2
CO
3
= 1 x 10
-8

K
b
NH
4
OH = 1 x 10
-5


Ditanyakan: pH larutan (NH
4
)
2
CO
3

Jawaban :
(NH
4
)
2
CO
3
adalah garam dari asam lemah dan basa lemah. Jadi, pH tergantung
pada K
a
dan K
b
.
Reaksi :
(NH
4
)
2
CO3 2NH
4
+
+ CO
3
2-

0,1 M

[H
+
] = = = 3,16 x 10
-9


pH = log [H
+
] = - log 3,16 x 10
-9
= 8,5
Jadi, pH larutan (NH
4
)
2
CO
3
adalah 8,5
16

Dalam mencari pH suatu larutan yang dibuat dengan mencampurkan asam dengan
basa, rumus pH yang kita gunakan sangat tergantung pada komposisi campuran pada
akhir reaksi. Ada 4 kemungkinan komposisi campuran:
1 .Jika asam kuat dan basa kuat yang dicampurkan tidak tersisa (habis bereaksi), maka
yang terbentuk adalah larutan garam netral, berarti pH = 7.
2. Jika asam lemah dan basa kuat atau basa lemah dan asam kuat yang dicampurkan
tidak tersisa (habis bereaksi), maka yang terbentuk adalah larutan garam yang berasal
dari yang lemah (hidrolisis). Begitu pula kalau campuran tersebut dari asam lemah dan
basa lemah.
3. Jika asam lemah dan basa kuat atau basa lemah dan asam kuat yang dicampurkan
terdapat sisa asam lemah atau basa lemah pada akhir reaksi, maka yang terbentuk
adalah larutan penyangga.
4. Jika terdapat sisa asam kuat atau basa kuat, maka yang terbentuk adalah larutan asam
kuat atau larutan basa kuat.
II.3. MEKANISME REAKSI HIDROLISIS
Reaksi Hidrolisis terjadi ketika suatu asam bertemu dengan basa yang akan
menghasilkan garam dan air yang merubah pH dari campuran tersebut. Dalam reaksi
hidrolisis, terjadi penarikan H+ dan OH- dari senyawa asam dan basa. H+ dan OH-
berikatan menjadi air. Sedangkan pembentuk senyawa asam dan basa yang lain bersatu
membentuk dari garam campuran asam basa tersebut. Garam tersebut dapat bersifat
asam atau basa atau netral tergantung dari sifat sifat para campurannya apakan asam
kuat, asam lemah, basa kuat, basa lemah.
Contohnya Ketengikan disebabkan oleh adanya perubahan yang terjadi dari reaksi
dengan oksigen di udara-sehingga disebut ketengikan oksidatif. Off flavour dihasilkan
oleh reaksi hidrolisis yang dikatalis oleh enzim-sehingga disebut ketengikan hidrolisis.
Reaksi hidrolisis dan efek absorpsi dapat dikurangi dengan penyimpanan dingin,
transportasi yang baik, pengemasan yang hati-hati dan sterilisasi sementara ketengikan
oksidatif tidak dapat dikurangi dengan merendahkan temperatur ruang penyimpanan.
17

Pada reaksi hidrolisis akan dihasilkan gliserida dan asam lemak bebas dengan
rantai pendek (C4 - C12). Akibat yang ditimbulkan dari reaksi ini adalah terjadinya
perubahan bau dan rasa dari minyak atau lemak, yaitu timbulnya rasa tengik (Djatmiko
dan Pandjiwidjaja, 1984). Ketengikan oksidasi yang umum dijumpai yaitu reaksi
oksidasi pada ikatan rangkap dari asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh
mempunyai ikatan rangkap yang mempengaruhi reaksi ini menyebabkan lemak menjadi
keras dan kental. Peroksida merupakan hasil antara yang biasanya dipakai sebagai
ukuran tingkat ketengikan (Kaced, et al., 1984). Ketengikan oksidatif merupakan reaksi
autocatalytic dimana laju reaksi meningkat sejalan dengan meningkatnya waktu
penyimpanan. Hal ini disebabkan karena adanya hasil oksidasi awal yang dapat
mempercepat reaksi oksidasi selanjutnya, dan reaksi ini dikenal sebagai reaksi berantai
(Schultz, et.al., 1962).
Ketengikan hirdrolisis disebabkan oleh hidrolisis trigliserida, adanya uap air dan
pembebasan asam lemak bebas. Dalam reaksi hidrolisis, lemak dan minyak akan diubah
menjadi asam-asam lemak bebas dan gliserol. Reaksi hidrolisis mengakibatkan
kerusakan lemak dan minyak. Ini terjadi karena terdapat terdapat sejumlah air dalam
lemak dan minyak tersebut.
Kerusakan lemak yang utama adalah timbulnya bau dan rasa tengik yang disebut
proses ketengikan. Hal ini disebabkan oleh proses otooksidasi radikal asam lemak tidak
jenuh dalam minyak. Otooksidasi dimulai dengan pembentukan faktor-faktor yang
dapat mempercepat reaksi seperti cahaya, panas, peroksida lemak atau hidroperoksida,
logam-logam berat, dan enzim- enzim lipoksidase.
Oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan
lemak atau minyak . terjadinya reaksi oksidasi ini akan mengakibatkan bau tengik pada
lemak atau minyak. Reaksi oksidasi lemak akan berlangsung dalam tiga tahap. Pada
tahap permulaan terjadi reaksi pembentukan radikal lemak bebas dan pemisahan
hidrogen dari lemak yang tidak jenuh.
Contot :
(1) NH
4
Cl + H
2
O > NH
4
OH (basa lemah ) + H
+
+ Cl
-
(dari HCl )
18

Reaksi sebenarnya : NH
4
+
+ H
2
O > NH
4
OH + H
+

(2) NaCN + H
2
O > Na
+
+ OH
-
( dari NaOH ) + HCN (asam lemah)
Reaksi sebenarnya : CN
-
+ H
2
O > HCN + OH
-

(3) KNO
3
+ H
2
O > K
+
+ OH- + NO
3
-
+ H
+
( BUKAN HIDROLISIS )
Pada reaksi (1) :
- Didalam air terjadi onisasi garam sebagai berikut : NH
4
Cl NH
+
+ Cl
-
.
- Dan air sebagai : H
2
O OH
-
+ H
+
.
- Ion ion NH
+
dan OH
-
dapat bereaksi sebagai berikut : NH
+
+ OH
-
NH
4
OH ;
sedangkan Cl
-
+ H
+


HCl ( karena HCl asam kuat yang akan terurai menjadi
H
+
dan Cl
-
).
Pada reaksi (2) :
- Seperti halnya pada reaksi (1) ; terbentuk HCN, tetapi tidak terbentuk NaOH ( basa
kuat).

Pada reaksi (3) :
- K
+
+ OH
-
KOH dan NO
3
-
+ H
+
HNO
3
( dimana keduanya basa kuat dan
asam kuat ).

II.4. MANFAAT REAKSI HIDROLISIS
Reaksi hidrolisis digunakan untuk menetralkan suatu campuran asam dan basa
yang menghasilkan air dan garam. Salah satu hasil dari reaksi hidrolisis yaitu
terbentuknya garam yang biasa dijumpai di dapur (NaCl) yang merupakan produk dari
reaksi asam basa
HCl (aq) + NaOH (aq) NaCl (aq) + H2O (l)
Reaksi hidrolisis digunakan untuk merubah pH suatu larutan.
Garam yang menghasilkan larutan basa, dihasilkan dari suatu reaksi antara
asam lemah dan basa kuat.
19

Garam yang menghasilkan larutan asam dihasilkan dari suatu reaksi antara
asam kuat dan basa lemah.
Selain menghasilkan garam, reaksi hidrolisis dapat digunakan dalam bidang
pertanian. Agar tanaman tumbuh dengan baik, maka pH tanaman harus dijagam pH
tanah di daerah pertanian harus disesuaikan dengan pH tanamannya. Oleh karena itu
diperlukan pupuk yang dapat menjaga pH tanah agar tidak terlalu asam atau basa.
Biasanya para petani menggunakan pelet padat (NH
4
)
2
SO
4
untuk menurunkan pH
tanah. Garam (NH
4
)
2
SO
4
bersifat asam, ion NH
4

+
akan terhidrolisis dalam tanah
membentuk NH
3
dan H
+
yang bersifat asam.
Hidrolisis pun dapat digunakan dalm proses pembuatan suatu larutan yang
digunakan dalam rumah tangga. Kita sering memakai bayclin atau sunklin untuk
memutihkan pakaian kita. Produk ini mengandung kira-kira 5 % NaOCl yang sangat
reaktif sehingga dapat menghancurkan pewarna, sehingga pakaian menjadi putih
kembali. Garam ini terbentuk dari asam lemah HOCl dengan basa kuat NaOH. Ion OCl

-
terhidrolisis menjadi HOCl dan OH
-
, sehingga garam NaOCl bersifat basa.
II.5. HIDROLISIS DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Adapun aplikasi konsep hidrolisis dalam kehidupan sehari-hari misalnya adalah :
1. Pelarutan sabun
Garam natrium stearate C
17
H
35
COONa ( sabun cuci ) akan mengalami
hidrolisis jika dilarutkan dalam air, menghasilkan asam stearate dan basanya
adalah NaOH.
Reaksi : C
17
H
35
COONa + H
2
O C
17
H
35
COOH + NaOH.
Oleh karena itu, jika garam tersebut digunakan untuk mencuci, airnya harus
bersih dan tidak mengandung garam Ca
2+
atau Mg
2+
. Garam Ca
2+
dan Mg
2+

banyak terdapat dalam air sadah. Jika air yang digunakan mengandung garam
garam Ca
2+
, terjadi reaksi
2(C
17
H
35
COOH) + Ca
2+
(C
17
H
35
COO)
2
+ H
+

Sehingga buih yang dihasilkan sangat sedikit. Akibatnya, cucian tidak bersih
karena fungsi buih untuk memperluas permukaan kotoran agar mudah larut dalam
air.
20

2. Penjernih air
Penjernih air minum oleh PDAM berdasarkan prinsip hidrolisis, yaitu
menggunakan senyawa aluminium fosfat yang mengalami hidrolisis total.

II.6. BAHAN BAHAN YANG DAPAT DIHIDROLISIS
1. Hidrokarbon
Ikatan jenuh stabil. Ikatan tidak jenug dapat dihirolisis. Reaksi irreversible
Contoh :
C
6
H
6
+ H
2
O C
6
H
5
OH + H
2
dengan suhu 650
o
C, kondisi stabil
CH
2
= CH
2
+ H
2
O (uap) CH
3
-CH
2
OH , ditambahkan H
2
SO
4.

2. Karbohidrat
Reaksi tidak dapat balik
Contoh :
Selulosa glukosa , ditambahkan H
2
O dan asam.
Sakarosa glukosa , ditambahkan asam.
sakarosa asam laktat, ditambahkan basa.

3. Ester ( suhu tinggi dan suhu rendah ), reaksi reversible
Contoh :
RC=O asam + alcohol , ditambahkan asam


Sabun + gliserol, ditambakan basa (penyabunan)
C
2
H
5
OSO
3
H + H
2
O C
2
H
5
OH + H
2
SO
4

4. Eter
Hsil hidrolisis berupa alcohol. Eter dengan lingkaran lebih dari 5 sulit untuk
dihidrolisis, ikatannya stabil.
Contoh :
OR
21



5. Halogen organic
Umumnya senyawa senyawa ini mudah terhidrolisis, seperti asam halogenida.
Asam klorida sangat mudah bereaksi dengan air, tergantung ikatan akil dan
arylnya.

6. Senyawa N
Amina umunya sulit dihidrolisis, stabil. Amida lebih mudah dihrolisis.

7. Senyawa sulfonat
Sulfonat alifatis stabil.
Contoh :

II.7. APLIKASI REAKSI HIDROLISIS DIBIDANG INDUSTRI
Reaksi hidrolisis dibidang industry dapat di aplikasikan atau diterapkan di berbagai
macam bidang industry. Berikut ini adalah contoh reaksi hidrolisis pada bidang
industry adalah reaksi hidrolisis minyak zaitun dengan menggunakan lipase rhizopus
oryzae, dan hidrolisa pati.
1. Reaksi Hidrolisis Minyak Zaitun dengan Menggunakan Lipase Rhizopus
Oryzae
Lipase merupakan enzim yang memiliki peran yang penting dalam bioteknologi
modern. Banyak industri yang telah mengaplikasikan penggunaan enzim sebagai
biokatalis. Lipase terkenal memiliki aktivitas yang tinggi dalam reaksi hidrolisis dan
dalam kimia sintesis. Lipase dapat berperan sebagai biokatalis untuk reaksi reaksi
22

hidrolisis, esterifikasi, alkoholisis, asidolisis and aminolisis. Candida dan Rhizopus
yang merupakan organisme yang paling sering dipakai sebagai sumber sintesis
penghasil lipase[Pandey, dkk, 1999]. Enzim lipase yang diamati berasal dari sekresi
mikroba Rhizopus oryzae, yaitu lipase yang bereaksi secara spesifik memutus rantai
fatty acid trigliserol pada posisi sn-1 dan sn- 3, sering disebut dengan lipase spesifik
regio 1,3[Valley research, 2007]. Harga lipase komersial biasanya sangat tinggi karena
proses produksinya yang sulit dan memakan waktu. Selain itu, dalam proses reaksi
enzimatis, lipase tidak dapat digunakan kembali lagi karena terlarut dalam media
reaksi[Kirk, et.Al. , 2002]. Hal ini menyebabkan biaya reaksi yang dikatalisis lipase
menjadi meningkat. Perlu adanya penelitian tentang teknik penggunakan kembali
lipase, salah satunya adalah teknik reaksi immobilisasi dengan bantuan support sebagai
media pembantu yang dapat menahan enzim dalam struktur molekulnya. diharapkan
enzim dapat digunakan kembali sehingga biaya produksi reaksi enzimatis dapat
ditekan[Scragg, A H]. Terdapat beberapa macam teknik immobilisasi yang dapat
diaplikasikan. Setiap metode memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing.
Pada penelitian ini, dilakukan pengamatan dengan teknik adsorpsi fisik sederhana
karena kemudahannya dalam pengamatan dan nilai keekonomisannya yang cukup
baik[Kennedy, J.].
Untuk melakukan immobilisasi enzim, perlu dilakukan pengamatan tentang
support yang akan dipakai. Terdapat beberapa macam support yang dapat dipakai
untuk metode adsorpsi, yaitu support organik seperti latex, kitin dan support anorganik
seperti silica gel, CaCO3, Al2O3, dan lainnya. Tiap support memiliki karakteristik
berbeda dalam teknik immobilisasinya[Minovska, 2007]. Perlu dilakukan studi lebih
lanjut untuk melakukan immobilisasi enzim untuk berbagai reaksi enzimatis.
Efektivitas reaksi immobilisasi dilihat dengan menggunakan reaksi dasar yang paling
mudah diamati, yaitu reaksi hidrolisis[Lehninger, 1982]. Pengamatan yang harus
dilakukan adalah pemilihan support berdasarkan kemampuan bahan dalam membantu
suatu reaksi enzimatis, dilihat dari konsentrasi enzim yang dapat terserap oleh support.
Reaksi hidrolisis diamati sebagai reaksi dasar karena kemudahannya dalam melakukan
reaksi dan dapat menghasilkan konversi yang baik. Sebelum melakukan immobilisasi,
enzim lipase akan dikarakterisasikan terlebih dahulu, dalam hubungannya dengan
23

aktivitas enzimatis per satuan waktu[Biochemical engineering and biotechnology
handbook]. Pengamatan awal dilakukan pada beberapa jenis support untuk
membandingkan seberapa banyak support tersebut dapat menahan enzim. Selanjutnya
pengamatan dilakukan untuk mengetahui waktu immobilisasi optimal, kondisi pH dan
temperatur optimal dalam reaksi hidrolisis, dan pengujian stabilitas enzim pada support
yang ditunjukkan dengan penggunaan kembali lipase ter-immobilisasi untuk reaksi.
Dari hasil pengamatan ini, akan dibuat pemodelan matematika sederhana untuk
menggambarkan reaksi hidrolisis enzimatis lipase.
Adapun cara reaksi hidrolisis ini berlangsung pada aplikasi di industry ini adalah
sebagai berikut :
Reaksi hidrolisis
Dalam Erlenmeyer, lipase (120 mg) dilarutkan dalam 4 mL buffer Phosphate (0.1
M, pH 7), lalu distirer (1000 rpm) selama 30 menit untuk melarutkan enzim[Minovska,
2007]. Untuk immobilisasi, larutan enzim tersebut dicampurkan dengan 1 gram support
(latex, kitin, Al2O3, CaCO3, silika gel), lalu campuran di shaker secara perlahan
selama 3 jam pada suhu ruang[Nawani]. Reaksi hidrolisis trigliserida spesifik adalah
sebagai berikut:

Skema reaksi diatas ditunjukkan pada Gambar 2.1.
Minyak Zaitun sebanyak 5 ml ditambahkan dengan 15 ml air dan 0.3 gram PVA
sebagai pengemulsi. Setelah itu ditambahkan larutan lipase, dan dicampurkan dengan
16 ml buffer phosphate (0.1 M, pH 7.0), dishaker pada 400 rpm, pada suhu ruang 33 oC
[Minovska, 2007]. Dilakukan sampling sebanyak 2 ml minyak, lalu ditambahkan 3 tetes
indikator pp dan dititrasi dengan NaOH 0.05 M. Aktivitas lipase yang semakin tinggi
ditunjukkan oleh semakin banyaknya volume NaOH yang dibutuhkan untuk titrasi.
24


Gambar 2.1 Skema reaksi hidrolisis enzimatis spesifik pada minyak zaitun
Mol Free Fatty Acid (FFA) dalam trigliserida secara teoritis dihitung dengan cara:
Minyak zaitun seluruhnya terdiri dari trigliserida (trioleogliserol).
Tiap 2 ml sampel minyak zaitun memiliki berat 1.7 gram = 1700 mg
Trioleogliserol (trigliserida dari minyak zaitun) dengan rumus molekul (C17 H35
COO)3 C3H5 memiliki berat molekul 884 g/mol, berarti dalam 2 ml sampel minyak
zaitun terdapat mol trigliserida sebanyak 1.923 mmol.
Mol FFA yang maksimal terbentuk secara teoritis dalam 2 ml sampel minyak zaitun
adalah 3 x mol trigliserida, yaitu sebesar 5.769 mmol
Reaksi NaOH dengan (FFA)adalah sebagai berikut:
C17H34COOH + NaOH C17H34COONa + H2O
Banyaknya konsentrasi asam lemak bebas atau FFA (CFFA) yang terkandung dalam
2 ml substrat minyak dihitung
dengan:
Mol FFA = mol NaOH
= 0.05M x volume NaOH titrasi


Uji stabilitas
Uji stabilitas dilakukan dengan menggunakan enzim yang diimmobilisasi dengan
support terbaik hasil dari percobaan sebelumnya. Sampling dilakukan pada waktu yang
ditentukan (waktu penghentian reaksi sama untuk setiap penggunaan ulang). Lipase ter-
25

immobilisasi dipisahkan dari substrat reaksi, kemudian digunakan kembali dalam reaksi
dengan prosedur yang sama menggunakan lipase tersebut. Konversi hidrolisis
dibandingkan untuk melihat bagaimana stabilitas lipase yang ter-immobilisasi. Reaksi
perulangan dihentikan sampai konversi hidrolisis sudah berada dibawah 5 %. Dari
tahapan percobaan ini akan diketahui stabilitas lipase dalam melakukan reaksi
hidrolisis.

Reaksi Hidrolisis Menggunakan Free Lipase
Gambar 3.1 memperlihatkan kurva konversi hidrolisis sampai jam ke-12. Kurva
konversi menunjukkan konsentrasi FFA pada jam ke-8 sebesar 1.7 mmol dari
kemungkinan mol FFA maksimal teoritis 5.769 mmol, sehingga % hidrolisis didapat
sebesar 29.46 %. Pada jam ke-10 dan jam ke-12 jumlah produksi FFA adalah masing-
masing sebesar 1.85 mmol dan 2 mmol dengan % hidrolisis sebesar 32.06 % dan 34.66
%. Walaupun kecenderungan konversi reaksi akan terus berlanjut naik, diprediksi mulai
dari jam ke-8 hasil konversi tidak akan jauh berbeda dari data ini. Konversi reaksi dapat
disimpulkan terwakili pada jam tersebut.

Enzim lipase yang digunakan pada pengamatan ini berasal dari sekresi mikroba
Rhizopus oryzae yang bereaksi secara spesifik memutus rantai fatty acid trigliserol pada
posisi sn-1 dan sn-3, sering disebut dengan lipase spesifik region 1,3. Analisa
aktivitas/konversi enzimatik pada penelitian ini dilakukan dengan melihat kandungan
total FFA secara bulk, tanpa menghiraukan dari rantai berapa FFA tersebut berasal,
26

sehingga konversi yang dihasilkan cenderung rendah, karena rantai FFA pada posisi -2
tidak terpotong. Konversi yang ditunjukkan dengan % hidrolisis ini tidak menunjukkan
aktivitas enzim secara detail, hanya melihat seberapa banyak pembentukan FFA per
waktu, sehingga konversi yang dihasilkan cenderung kecil. Ada dugaan kuat jika
digunakan enzim yang memotong trigliserida secara acak, konversi dapat meningkat.

Reaksi Hidrolisis Menggunakan Lipase Ter-Immobilisasi Pada Kitin Dan Silika Gel
Gambar 3.5 menunjukkan engamatan pada kedua support, menghasilkan grafik
aktivitas dengan kecenderungan yang sama. Konversi hidrolisis support kitin pada jam
ke-8 adalah 24,7 %, dan konversi selanjutnya pada jam ke-10 dan -12 menghasilkan
konversi 25.13 %. Untuk support silika gel, konversi sudah mengalami kestabilan pada
jam ke-8 dan -10 dengan konversi 19.9 % dan 20.8 %. Konversi secara keseluruhan
memiliki kecenderungan laju yang naik secara tajam sampai sekitar jam ke-6, dan
cendering stabil setelah melewati jam ke-8. Secara keseluruhan, support kitin memiliki
aktivitas reaksi yang lebih baik dari support silika gel. Hal ini sebanding dengan
kemampuan kitin dalam menyerap enzim lipase, ditunjukkan kemampuan enzim
loading yang paling baik.



27

2. Hidrolisa Pati
Hidrolisis pati terjadi antara suatu reaktan pati dengan reaktan air. Reaksi ini adalah
orde satu karena reaktan air yang dibuat berlebih, sehingga perubahan reaktan dapat
diabaikan. Reaksi hidrolisis pati dapat menggunakan katalisator ion H+ yang dapat
diambil dari asam. Reaksi yang terjadi pada hidrolisis pati adalah sebagai berikut:
(C6H10O5)x + x H2O x C6H12O6
Berdasarkan teori kecepatan reaksi:
-rA = k Cpati Cair ..(1)
karena volume air cukup besar, maka dapat dianggap konsentrasi air selama
perubahan reaksi sama dengan k, dengan besarnya k :
k = k Cair ..(2)
sehingga persamaan 51 dapat ditulis sebagai berikut -rA = k Cpati . Dari persamaan
kecepatan reaksi ini, reaksi hidrolisis merupakan reaksi orde satu.
Jika harga -rA = mmenjadi akan persamaan (2) menjadi:
- = k CA .(3)
Apabila CA = CAo (1- XA) dan diselesaikan dengan integral dan bataskondisi t1 ;
CAo dan t2 ; CA akan diperoleh persamaan :
ln = k (t2 t1)
ln = k (t2 t1)..(4)
Dimana XA= konversi reaksi setelah t detik. Persamaan 59 dapat diselesaikan
dengan menggunakan pendekatan regresi y = mx +c, dengan y = ln 1/(1- XA) dan x
= t2.





28

BAB III
PENUTUP
III. 1. KESIMPULAN
1. Hidrolisis adalah reaksi kimia yang memecah molekul air (H
2
O) menjadi kation
hidrogen (H
+
) dan anion hidroksida (OH

) melalui suatu proses kimia. hidrolisis


(hidro yang berarti air dan lisis yang berarti peruraian).
2. Macam macam hidrolisis dapat dibedakan menjadi 2, yaitu Hidrolisis parsial atau
sebagian.
Hidrolisis parsial ini dapat terjadi apabila garamnya berasal dari asam lemah dan basa
kuat atau sebaliknya dan pada hidrolisis sebagian hanya salah satu ion saja yang yang
mengalami reaksi hidrolisis, yang lainnya tidak. Hidrolisis total ini dapat terjadi
apabila garamnya berasal dari asam lemah dan basa lemah.
3. Reaksi Hidrolisis terjadi ketika suatu asam bertemu dengan basa yang akan
menghasilkan garam dan air yang merubah pH dari campuran tersebut. Dalam reaksi
hidrolisis, terjadi penarikan H+ dan OH- dari senyawa asam dan basa. H+ dan OH-
berikatan menjadi air. Sedangkan pembentuk senyawa asam dan basa yang lain
bersatu membentuk dari garam campuran asam basa tersebut. Garam tersebut dapat
bersifat asam atau basa atau netral tergantung dari sifat sifat para campurannya
apakan asam kuat, asam lemah, basa kuat, basa lemah.
4. Reaksi hidrolisis dapat di terapkan pada berbagai bidang industry antara lain, reaksi
hidrolisis pada minyak zaitun dengan menggunakan lipase Rhizopus Oryzae,
Hidrolisa pada pati. Kemudian untuk aplikasinya dalam kehidupan sehari hari
yaitu, penejernihan dan pemurnian air.
III. 2. SARAN



29

DAFTAR PUSTAKA
Bagi bagi ilmu, 2011. REAKSI HIDROLISIS. Diakses dari www.blogspot.com pada
tanggal 17 maret 2014 pada pukul 19.46 wib.

Wulan, PDK Praswati; Muhammad Titis Rejoso ; Heri Hermansyah , Reaksi Hidrolisis
Minyak Zaitun Menggunakan Lipase Rhizopus Oryzae yang di imobilisasi melalui metode
adsorpsi, Depok, Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Univ. Indonesia.

Anonim, 2007, Hidrolisis. Diakses dari
http://www.smapgii1.sch.id/images/K1/hidrolisis_parsial_asam.htm pada tanggal 18 maret 2014.

Fitrah, Amalia. 2012. HIDROLISIS GARAM.
Diakses dari http://www.slideshare.net/amaliafitrah81/hidrolisis-garam pada tanggal 18 maret
2014.

Maulana, Puri. 2013. Hidrolisis Garam Kimia, Sifat-sifat, Jenis, Macam-macam, pH,
Praktikum, Reaksi Asam dan Basa, Contoh Soal, Pembahasan

Sumber : http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/07/hidrolisis-garam-kimia-sifat-sifat-
jenis-pH-contoh-soal.html#ixzz2ylQHiLOM. Diakses pada tanggal 18 maret 2014.

Kimia, Andy. 2009. HIDROLISIS GARAM.
Diakses dari http://andykimia03.wordpress.com/tag/hidrolisis-total/ pada tanggal 18 Maret 2014.

Pantonang. PROSES HIDROLISIS DAN APLIKASINYA DI INDUSTRI. Diakses dari
http://id.scribd.com/doc/29545455/Proses-Hidrolisis-Dan-Aplikasinya-Di-Industri pada tanggal
18 Maret 2014.