Anda di halaman 1dari 26

i

SEJARAH SASTRA INDONESIA



Laporan ini Disusun dalam rangka memenuhi Uji Kompetensi 3
Mata Kuliah Konsep Dasar Bahasa dan Sastra Indonesia

Dosen Pengampu: Drs. Ismail Sriyanto, M.Pd.



Oleh:
Aginia Ashari
K7113006
2-A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014
ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas
limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah
laporan ini dengan judul Sejarah Sastra Indonesia. Laporan ini disusun
dalam rangka memenuhi uji kompetensi 3 mata kuliah konsep dasar
Bahasa dan Sastra Indonesia.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Drs. Ismail Sriyanto,
M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah konsep dasar Bahasa dan
Sastra Indonesia yang telah membimbing penulis dalam penyusunan
makalah ini. Serta berbagai sumber yang penulis pergunakan sebagai
referensi dalam laporan ini.
Penulis telah berusaha menyelesaikan laporan ini dengan sebaik-
baiknya, namun apabila masih ada kekurangan, kritik dan saran penulis
harapkan demi sempurnanya laporan ini.
Akhir kata, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis pada
khususnya dan pembaca pada umumnya.


Surakarta, Juni 2014


Penulis


iii

DAFTAR ISI

JUDUL............................................................................................................ i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................ 1
C. Tujuan Penulisan.................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Sastra................................................................................. 2
B. Periodisasi Sastra Indonesia................................................................ 2
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.......................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... iv
LAMPIRAN





1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sastra pada dasarnya merupakan ciptaan. Sebuah kreasi bukan semata-
mata sebuah imitasi. Karya sastra sebagai bentuk dan hasil sebuah pekerjaan
kreatif pada hakikatnya adalah suatu media yang mendayagunakan bahasa
uuntuk mengungkapkan tentang kehidupan manusia. Oleh sebab itu, sebuah
karya sastra pada umumnya berisi tentang permasalahan yang melingkupi
kehidupan manusia. Kemunculan sastra dilatar belakangi adanya dorongan dari
manusia untuk mengungkapkan eksitensinya.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian sastra?
2. Bagaimanakah periodisasi sastra Indonesia?

C. Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan pengertian sastra.
2. Menjelaskan periodisasi sastra Indonesia.

2

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sastra
Menurut segi bahasa, sastra berasal dari kata susastra. Menurut
Bahasa Sanskerta, susastra terbagi lagi menjadi dua kata yaitu kata su
dan sastra. Su berarti indah atau baik dan sastra berarti lukisan atau karangan.
Sehingga, sasta berarti segala tulisan atau karangan yang mengandung nilai-
nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah.
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 2001:
1. Sastra: bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab
(bukan bahasa sehari-hari).
2. Kesastraan: perihal sastra (makna lebih luas daripada kesusastraan).
3. Sastrawan: 1. Ahli sastra, 2. Pujangga, 3. (orang) pandai-pandai ;
cerdik cendikia.
4. Susastra: karya yang isi dan bentuknya sangat serius, berupa ungkapan
yang ditimba dari kehidupan kemudian direka dan disusun dengan
bahasa yang indah sebagai saranya sehingga mencapai estetika yang
tinggi.
5. Kesusastraan: 1. perihal sastra, 2. ilmu pengetahuan tentang segala hal
yang bertalian dengan susastra, 3. buku-buku sejarah tentang sejarah
susastra.
Jadi kesimpulannya, sastra merupakan seni bahasa yang mengandung
nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah dan memiliki
makna yang dalam berdasarkan pengalaman jiwa manusia serta disusun
dengan bahasa yang indah sehingga mencapai nilai estetika yang tinggi.

B. Periodisasi Sastra Indonesia
1. Sastra Masa Purba
Sastra Indonesia masa purba merupakan sastra yang dihasilkan
pada masa prasejarah, dimana para nenek moyang belum mengenal
3



tulisan untuk menyalin karya sastra yang mereka hasilkan. Sehingga,
sastra ini tidak dapat digolong-golongkan karena hasil-hasil dari sastra
masa ini tidak mencantumkan waktu dan nama pengarangnya.
Sifat kesusastraan yang dihasilkan pada zaman tersebut adalah:
a. Sesuai dengan kepercayaan mereka, pada zaman itu banyak cerita-
cerita tentang hantu, jin, baik dalam puisi maupun prosa.
b. Statis, maksudnya perubahan-perubahan dalam bentuk dan isi
hampir tidak ada, kalaupun ada sangat lamban.
c. Pada umumnya tidak diketahui pengarangnya dan karangannya
tidak menggambarkan keaslian pribadi pengarang, karena orang-
orang harus tunduk kepada kebiasaan yang berlaku pada waktu itu
disampaikan secara lisan dan turun temurun dari mulut ke mulut,
baik yang berupa prosa maupun puisi.
Kesusastraan ini meliputi cerita tentang doa, mantra, silsilah, adat
kebiasaan, dan kepercayaan. Berikut contoh karya sastra purba.

Mantra Memasuki hutan rimba
Hai, si Gempar Alam
Gegap gempita
Jarum besi akan romaku
Ular tembaga akan romaku
Ular bisa akan janggutku
Buaya akar tongkat mulutku
Harimau menderam di pengeriku
Gajah mendering bunyi suaraku
Suaraku seperti bunyi halilintar
Bibir terkatup, gigi terkunci
Jikalau bergerak bumi dan langit
Bergeraklah hati engkau
Hendak marah atau hendak
membiasakan aku.
4



2. Sastra Masa Hindu/Arab
a. Masa Hindu
Pengaruh Hindu pada sastra Melayu sangat besar sehingga berurat
berakar, karena lamanya bangsa Hindu menetap di Indonesia.
Pengaruh Hindu terhadap sastra Melayu dapat digolongkan
menjadi tiga, yaitu :
1) Cerita-cerita yang langsung masuk ke Indonesia
Contoh: Mahabarata dan Ramayana
2) Cerita-cerita yang datangnya melalui Persia dahulu
Contoh: Panca Tandera, Hitopadesya
3) Pengaruh Hindu tampak pada berbagai cerita sehingga dalam
hikayat-hikayat Melayu terdapat persamaan atau mirip dengan
cerita-cerita Hindu, nama-nama dewa dan sebagainya.
b. Masa Arab/Islam
Pengaruh Islam dalam sastra Indonesia tidak langsung dari Arab,
melainkan datang dari Persia dibawa oleh orang-orang Gujarat. Dalam
pengaruh Islam banyak cerita mengenai asal-usul manusia, alam,
agama, pengajaran agama Islam, cerita dedaktis, cerita pelipur lara,
silsilah raja-rajaan, Hikayat Abu Nawas, dongeng Ki Ageng Selo,
Tajusalsatin, dan lain-lain.
Pada zaman ini telah muncul beberapa pengarang Islam, antara
lain:
1) Hamzah Fansuri dari Barus, Aceh, muncul sekitar akhir abad
16 dan awal abad 17.
Karyanya:
a) Syair Perahu
b) Syair Si Burung Pingai
c) Syair Dagang
d) Prosa Asrar Al-Arifin


5



Berikut potongan Syair Perahu karya Hamzah Fansuri.

Syair Perahu
...
Wahai muda kenali dirimu
Ialah perahu tamsil hidupmu
Tiadalah berapa lama hidupmu
Ke akhirat juga kekal hidupmu
...

2) Syekh Nuruddin Ibn Ali Ar Raniri
Karyanya:
a) Tibyan fi Marifat Al-Adyan
b) Siratal Mustaqim
c) Bustanussalatin (Taman Segala Raja)
3) Samsuddin As-Samatrani (1607-1638), beliau merupakan
murid dari Hamzah Fansuri dan perdana menteri pada masa
Sultan Aceh Mahkota Alam.
Karyanya:
a) Mirat Al Iman
b) Mirat Al Mukminin

3. Sastra Baru
a. Masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi (Masa Peralihan)
Masa peralihan adalah masa peralihan sastra lama ke sastra baru.
Oleh karena itu satu-satunya pengarang yang kenamaan pada masa itu
adalah Abdullah bin Abdulkadir Munsyi (1796 1854), sehingga masa
itu disebut zaman Abdullah.
Abdullah adalah seorang perintis sejarah kebudayaan Malaka
khususnya dan tanah Melayu umumnya. Sejaman dengan Abdullah ada
6



dua orang pengarang Melayu yaitu Raja Ali Haji dan Sitti Saleha, tetapi
keduanya masih berpegang pada tradisi bentuk puisi lama.
Buku Abdullah yang Bernilai Sastra
1) Syair Singapura Dimakan Api
2) Hikayat Abdullah
3) Hikayat Pelayaran Abdullah ke Negeri Jeddah
4) Hikayat Kailah dan Daminah (saduran)
Perbedaan Karangan Abdullah dengan Sastra Lama
1) Bentuk bahasanya baru, tidak memakai bahasa klise. Tak
banyak lagi dipakai kata-kata Arab secara berlebih-lebihan.
2) Isinya: tidak bersifat istana sentrie, mulai menceritakan orang
kebanyakan, dan tidak bersifat khayal
Dari kedua hal tersebut di atas, Abdullah dapat dipandang sebagai
pembaru sastra Melayu. Sayangnya, usaha Abdullah ini berhenti setelah
ia meninggal dunia, karena tidak ada penerusnya.
Sastra peralihan dimasukkan ke dalam kesusasteraan alam dengan
nama zaman peralihan, yang tidak berlangsung lama. Sehingga batas
sastra lama dan baru dapat ditarik lebih kurang tahun 1900.
Berikut ini adalah kutipan dari Hikayat Abdullah :

Tentang Bahasa Melayu

Aku pun sehari-hari belajar daripada nahu bahasa Inggris pada
tiap-tiap hari, sebab pada fikiranku aku hendak jadikan dia ke
dalam bahasa Melayu, sebab kudapati terlalu banyak gunanya,
karena perkara yang demikian tiada dalam bahasa Melayu, sebab
itulah kebanyakan orang Melayu pergi belajar nahu bahasa Arab,
ia tahu bukan barang-barang susahnya dalam seribu tiada orang
yang mendapat dengan sempurnanya, dan lagi oleh sebab itu
bukan bahasa dirinya.

7



b. Masa Balai Pustaka
Angkatan Balai Pustaka merupakan karya sastra di Indonesia yang
terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka.
Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai
menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam
khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh
buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu
Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan
dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya
dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, Bahasa Jawa dan
Bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam Bahasa Bali, Bahasa
Batak, dan Bahasa Madura.
Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai
Pustaka" karena ada banyak sekali karya tulisnya pada masa tersebut.
Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah
dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini
adalah "Novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.
Pada masa ini, novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan menjadi karya
yang cukup penting. Keduanya menampilkan kritik tajam terhadap
adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Dalam
perkembangannya, tema-tema inilah yang banyak diikuti oleh penulis-
penulis lainnya pada masa itu.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka:
1) Merari Siregar (1896-1941)
Karya-karyanya yang terkenal adalah
a) Si Jamin dan si Johan (1918)
b) Azab dan Sengsara (1920)
c) Cerita tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi (1924)
d) Binasa kerna Gadis Priangan (1931)

8



2) Marah Roesli
a) Siti Nurbaya (1922)
b) La Hami (1924)
c) Anak dan Kemenakan (1956)
3) Muhammad Yamin
a) Tanah Air (1922)
b) Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
c) Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
d) Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
4) Nur Sutan Iskandar
a) Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
b) Cinta yang Membawa Maut (1926)
c) Salah Pilih (1928)
d) Karena Mentua (1932)
e) Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
f) Hulubalang Raja (1934)
g) Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)
5) Tulis Sutan Sati
a) Tak Disangka (1923)
b) Sengsara Membawa Nikmat (1928)
c) Tak Membalas Guna (1932)
d) Memutuskan Pertalian (1932)
6) Djamaluddin Adinegoro
a) Darah Muda (1927)
b) Asmara Jaya (1928)
7) Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati
a) Pertemuan (1927)
8) Abdul Muis
a) Salah Asuhan (1928)
b) Pertemuan Djodoh (1933)

9



9) Aman Datuk Madjoindo
a) Menebus Dosa (1932)
b) Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
c) Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)

c. Masa Pujangga Baru
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang
dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa
tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa
nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah
sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.
Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin
oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane.
Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 -
1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Karyanya Layar
Terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para
kritikus sastra Indonesia. Selain Layar Terkembang, pada periode ini
novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan Kalau Tak Untung
menjadi karya penting sebelum perang.
Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :
1) Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane
dan Tengku Amir Hamzah.
2) Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang
dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan
Rustam Effendi.
Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru adalah sebagai berikut:
1) Sutan Takdir Alisjahbana
a) Dian Tak Kunjung Padam (1932)
b) Tebaran Mega - kumpulan sajak (1935)
c) Layar Terkembang (1936)
d) Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)
10



2) Hamka
a) Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)
b) Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1939)
c) Tuan Direktur (1950)
d) Didalam Lembah Kehidoepan (1940)
3) Armijn Pane
a) Belenggu (1940)
b) Jiwa Berjiwa
c) Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)
d) Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)
e) Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)
f) Habis Gelap Terbitlah Terang - Terjemahan Surat R.A.
Kartini (1945)
4) Sanusi Pane
a) Pancaran Cinta (1926)
b) Puspa Mega (1927)
c) Madah Kelana (1931)
d) Sandhyakala Ning Majapahit (1933)
e) Kertajaya (1932)
5) Tengku Amir Hamzah
a) Nyanyi Sunyi (1937)
b) Begawat Gita (1933)
c) Setanggi Timur (1939)
6) Roestam Effendi
a) Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan
b) Pertjikan Permenungan
7) Sariamin Ismail
a) Kalau Tak Untung (1933)
b) Pengaruh Keadaan (1937)


11



8) Anak Agung Pandji Tisna
a) Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935)
b) Sukreni Gadis Bali (1936)
c) I Swasta Setahun di Bedahulu (1938)
9) J.E.Tatengkeng
a) Rindoe Dendam (1934)
10) Fatimah Hasan Delais
a) Kehilangan Mestika (1935)
11) Said Daeng Muntu
a) Pembalasan
b) Karena Kerendahan Boedi (1941)
12) Karim Halim
a) Palawija (1944)

4. Sastra Mutakhir
a) Masa Pendudukan Jepang
Pada masa ini, terjadi keretakan, sehingga terdapat 2 golongan
dalam bidang kesusasteraan yaitu:
1) Yang resmi di bawah Pusat Kebudayaan (Keikin Bunka
Shidosa) dengan sensornya yang keras.
2) Yang tidak resmi di luar kegiatan Pusat Kebudayaan
Ciri-Ciri Kesusasteraan Masa Jepang
1) Bercorak romantik idealisme
2) Simbolis
Pengarang Masa Kesusasteraan Jepang
1) Chairil Anwar
2) Rosihan Anwar
3) Usmar Ismail
4) Amal Hamzah
5) El-Hakim
6) Bakrie Siregar
12



b) Masa Kemerdekaan
Masa Kemerdekaan atau Angkatan 45 lahir pada saat bangsa
Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Pada saat ini,
perkembangan bahasa dan sastra Indonesia semakin maju pesat karena
Jepang melarang pemakaian bahasa Belanda. Sedangkan yang memberi
nama Angkatan 45 adalah Rosihan Anwar dalam majalah Siasat pada
tanggal 9 Januari 1949.
Manifes Angkatan 45 termuat dalam majalah Siasat pada tanggal
23 Oktober 1945 berupa Surat Kepercayaan Gelanggang tanggal 18
Februari 1950, yang dapat kita lihat patokan-patokan Angkatan 45,
yaitu :
1) Ujud pernyataan fikiran lebih dipentingkan.
2) Kepribadian seseorang, hendaknya menjadi pegangan dan
ukuran nilai menciptakan.
3) Nilai-nilai baru baru ditempatkan, setelah nilai-nilai lama
dihancurkan. Jadi sungguh membentuk yang baru.
4) Pencipta-pencipta harus ada kebebasan penuh, untuk
menghasilkan buah cipta.
5) Tekanan diletakkan pada kebudayaan dunia, yakni sifat
universal kesenian Indonesia.
Ciri-Ciri Angkatan 45
1) Bercorak realistis
2) Bertemakan patriotisme, revolusi dan perlawanan terhadap
penjajah
3) Bahasa dalam prosa menggunakan bahasa yang ekonomis,
kata-katanya padat, dalam, kalimatnya pendek-pendek
4) Prosa menggunakan gaya bahasa menyoal baru


13



Angkatan 45 oleh HB. Jassin diberi nama Angkatan Pendobrak.
Sedangkan tokoh-tokoh yang terkenal dalam Angkatan 45 dalam
bidangnya antara lain :
1) Chairil Anwar dalam bidang puisi
2) Idrus dalam bidang prosa
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 45
1) Chairil Anwar
o Kerikil Tajam (1949)
o Deru Campur Debu (1949)
2) Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
o Tiga Menguak Takdir (1950)
3) Idrus
o Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
o Aki (1949)
o Perempuan dan Kebangsaan
4) Achdiat K. Mihardja
o Atheis (1949)
5) Trisno Sumardjo
o Katahati dan Perbuatan (1952)
6) Utuy Tatang Sontani
o Suling (drama) (1948)
o Tambera (1949)
o Awal dan Mira - drama satu babak (1962)
7) Suman Hs.
o Kasih Ta' Terlarai (1961)
o Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
o Pertjobaan Setia (1940)




14



c) Masa Revolusi
1) Angkatan 50
Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah
asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang
didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah
tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan
majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan
sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat
(Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah
perpecahan dan polemik yang berkepanjangan di antara kalangan
sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan
mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik
praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di
Indonesia.
Tinjauan yang mendalam dan menyeluruh membuktikan
bahwa, masa ini menunjukkan wujud dan hidupnya, yaitu:
a) Berisi kebebasan sastrawan yang lebih luas di atas
kebiasaan (tradisi) yang diletakkan pada tahun 1945.
b) Masa 50 memberikan pernyataan tentang aspirasi (tujuan
yang terakhir dicapai) nasional lebih jauh.
Jadi, ada beberapa penyaringan dengan beberapa ciri
diantaranya :
a) Pusat kegiatan sastra makin banyak jumlahnya dan makin
meluas daerahnya hampir di seluruh Indonesia, tidak
hanya berpusat di Jakarta dan Yogyakarta.
b) Terdapat pengungkapan yang lebih mendalam terhadap
kebudayaan daerah dalam menuju perwujudan sastra
nasional Indonesia.
c) Penilaian keindahan dalam sastra, tidak lagi didasarkan
kepada kekuasaan asing, akan tetapi kepada peleburan
15



(kristalisasi) antara ilmu dan pengetahuan asing dengan
perasaan dan ukuran nasional.
Sastrawan Angkatan 50
i. Ayip Rosidi
Tahun-tahun Kematian (1955)
Ditengah Keluarga (1956)
Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957)
Cari Muatan (1959)
ii. Ramadhan KH
Priangan Jelita (1956)
iii. Nugroho Notosusanto
Hujan Kepagian (1958)
iv. Toto Sudarto Bachtiar
Etsa sajak-sajak (1956)
Suara kumpulan sajak 1950-1955 (1958)
v. Pramoedya Ananta Toer
Perburuan (1950)
Bukan Pasar Malam (1951)
Keluarga Gerilya (1951)
Mereka yang Dilumpuhkan (1951)
2) Angkatan 66
Angkatan 66 mula-mula diperkenalkan oleh H.B. Jassin
dalam bukunya yang berjudul Angkatan 66, yang mendasarkan
sifat politik yang mempengaruhi karya-karya sastra pada masa ini.
Pada tahun 1966 di Indonesia terjadi peristiwa penting.
Peristiwa yang melahirkan Angkatan 66, yaitu :

Suatu generasi baru yang melakukan pendobrakan yang
disebabkan oleh penyelewengan-penyelengan besar-besaran
yang membawa negara ke jurang kehancuran
16



Ada beberapa kumpulan puisi yang menarik perhatian selama
demontrasi terhadap pemerintah dalam usaha mengembangkan
revolusi terhadap rel Pancasila, yaitu:
a) Tirani dan Benteng karya Taufik Ismail (dengan nama
samaran Ibnu Fajar)
b) Mereka telah Bangkit karya Bur Raswanto
c) Perlawanan karya Mansur Samin
d) Pembebasan karya Abdulwahid Situmeang
e) Kebangkitan oleh Lima Penyair Fakultas Syair UI
Menurut kritikus sastra Indonesia, H.B. Jassin, yang masuk
Angkatan 66 ini, tidak hanya mereka yang menulis sanjak-sanjak
perlawanan pada permulaan tahun 1966, tetapi juga yang telah
tampil beberapa tahun sebelumnya dengan kesadaran.
Penyair yang terkenal pada Angkatan 66 adalah Taufik Ismail
dengan buku karyanya yaitu Tirani (1966) dan Benteng (1963)
Sastrawan Angkatan 66
a) Ayip Rosidi
b) W.S. Rendra
c) Taufik Ismail
d) Hartono Andangjaya
e) Mansur Samin
f) Jusach Ananda
g) NH. Dini
h) Iwan Simatupang
i) Motinggo Busje
j) Sapardi Djoko Darmono

3) Angkatan 80-90
Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun
1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan
sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T.
17



Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas
diberbagai majalah dan penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade ini
antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca
Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan
Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby,
Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin
Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia
lain yang menonjol pada dekade ini dengan beberapa karyanya
antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka,
Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas
yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya
pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya
mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia
yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel
mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah
wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang
masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh
utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan
idealisme, karya-karya pada era ini biasanya selalu mengalahkan
peran antagonisnya.
Namun yang tidak boleh dilupakan, pada era ini adalah jua
tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel
populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial
Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh
generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya
yang lebih berat.
Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita
Penulis Indonesia yang dikomandani Titie Said, antara lain: La
18



Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka
Rusmini.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980 - 1990an
a) Ahmadun Yosi Herfanda
o Ladang Hijau (1980)
o Sajak Penari (1990)
o Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
o Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
o Sembahyang Rumputan (1997)
b) Y.B Mangunwijaya
o Burung-burung Manyar (1981)
c) Darman Moenir
o Bako (1983)
o Dendang (1988)
d) Budi Darma
o Olenka (1983)
o Rafilus (1988)
e) Sindhunata
o Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
f) Arswendo Atmowiloto
o Canting (1986)
g) Hilman Hariwijaya
o Lupus - 28 novel (1986-2007)
o Lupus Kecil - 13 novel (1989-2003)
o Olga Sepatu Roda (1992)
o Lupus ABG - 11 novel (1995-2005)
h) Dorothea Rosa Herliany
o Nyanyian Gaduh (1987)
o Matahari yang Mengalir (1990)
o Kepompong Sunyi (1993)
o Nikah Ilalang (1995)
19



o Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)
i) Gustaf Rizal
o Segi Empat Patah Sisi (1990)
o Segi Tiga Lepas Kaki (1991)
o Ben (1992)
o Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999)
j) Remy Sylado
o Ca Bau Kan (1999)
o Kerudung Merah Kirmizi (2002)
k) Afrizal Malna
o Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (1987)
o Yang Berdiam Dalam Mikropon (1990)
o Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991)
o Dinamika Budaya dan Politik (1991)
o Arsitektur Hujan (1995)
o Pistol Perdamaian (1996)
o Kalung dari Teman (1998)

4) Angkatan 2000
Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan
Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak
memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002
melempar wacana tentang lahirnya "Sastrawan Angkatan 2000".
Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya
diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih
penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan
Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah
mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi
Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada
akhir 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany.

20



Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000
a) Ahmad Fuadi
o Negeri 5 Menara (2009)
o Ranah 3 Warna (2011)
b) Andrea Hirata
o Laskar Pelangi (2005)
o Sang Pemimpi (2006)
o Edensor (2007)
o Maryamah Karpov (2008)
o Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas (2010)
c) Ayu Utami
o Saman (1998)
o Larung (2001)
d) Dewi Lestari
o Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001)
o Supernova 2: Akar (2002)
o Supernova 3: Petir (2004)
o Supernova 4: Partikel (2012)
e) Habiburrahman El Shirazy
o Ayat-Ayat Cinta (2004)
o Diatas Sajadah Cinta (2004)
o Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
o Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
o Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
o Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
o Dalam Mihrab Cinta (2007)
f) Herlinatiens
o Garis Tepi Seorang Lesbian (2003)
o Dejavu, Sayap yang Pecah (2004)
o Jilbab Britney Spears (2004)
o Sajak Cinta Yang Pertama (2005)
21



o Malam Untuk Soe Hok Gie (2005)
o Rebonding (2005)
o Broken Heart, Psikopop Teen Guide (2005)
o Koella, Bersamamu dan Terluka (2006)
o Sebuah Cinta yang Menangis (2006)
g) Raudal Tanjung Banua
o Pulau Cinta di Peta Buta (2003)
o Ziarah bagi yang Hidup (2004)
o Parang Tak Berulu (2005)
o Gugusan Mata Ibu (2005)
h) Seno Gumira Ajidarma
o Atas Nama Malam
o Sepotong Senja untuk Pacarku
o Biola Tak Berdawai
22

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam
perkembangan sastra di Indonesia melalui empat masa, yaitu: Sastra Masa
Purba, Sastra Masa Hindu/Arab, Sastra Baru, dan Sastra Mutakhir.
iv

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/sastra diakses tanggal 6 Juni 2014.
www.gitariskatak.blogspot.com diakses tanggal 6 Juni 2014.
www.susastera.blogspot.com diakses tanggal 6 Juni 2014.