Anda di halaman 1dari 26

Oleh:

Jodie Pramesthi (XI IPA 4/25)


Krishna Priyaka (XI IPA 4/27)
Maheswari Suryatmaja (XI IPA 4/28)

Purana adalah bagian dari Upa Weda dan
merupakan kesusastraan Hindu yang memuat
mitologi, legenda, dan kisah-kisah zaman dulu.
Kata Purana berarti "sejarah kuno" atau "cerita
kuno". Penulisan kitab-kitab Purana
diperkirakan dimulai sekitar tahun 500 SM.

Tentang Penciptaan semesta ( pratisarga, sarga
dan Pralaya),
Geografi
kisah kisah Para Dewa dan berbagai kisah
lainnya
Manvantara (waktu, jaman yuga dan Manu )
Silsilah (Suryawamsa dan Chandrawamsa)

Terdapat delapan belas kitab Purana yang biasa disebut
Mahapurana. Adapun kedelapan belas kitab tersebut yakni:
Matsya purana
Wisnu purana
Bhagawata purana
Waraha purana
Wamana purana
Markandeya purana
Bayu purana
Agni purana
Narada purana
Garuda purana
Lingga purana
Padma purana
Skanda purana
Bhawisya purana
Brahma purana
Brahmanda purana
Brahmawaiwarta purana
Kurma purana

Purana ini dinamakan
Mastya Purana karena
diturunkan oleh Visnu
dalam wujud avatara
Mastya ( ikan )
Wisnu Purana
merupakan satu-satunya
Purana yg mendekati
lima permasalahan yang
menjadi karakteristik dari
sebuah Purana.

Sepuluh skanda
diantaranya merupakan
skanda yang terpanjang.
Srimad ini paling
terkenal di kalangan
umat karena
menceritakan kehidupan
Sri Khrisna
Khusus mengagungkan
Visnu dalam inkarnasinya
sebagai babi hutan
(Varaha).
Kadang-kadang Purana
ini juga disebut Visnawa
Purana karena isinya
langsung diceritakan
Visnu dalam wujud
Varaha kepada Prthivi (
Dewi Bumi)

Adalah purana yang
isinya pendek. Purana
ini berhubungan dengan
Avatara Visnu yaitu
Vamana ( manusia cebol
).
Ada hubungan erat
antara Markandeya
Purana dengan
Mahabharata, banyak
pertanyaan yang tidak
terjawab bila seseorang
membaca MahaBharata
akan terjawab dalam
Markandeya Purana.
Bayu purana pertama
kali diturunkan oleh
Vayu ( Dewa Angin )
Dipercaya di karang
oleh Agni (dewa Api)
sendiri lalu diajarkan
kepada Rsi Vasistha,
Agni Purana
merupakan satu
satunya Purana yang
penuh dengan ritual
upacara.

Juga dikenal sebagai
Vhrat Naradeya,
karena aslinya purana
ini diceritakan oleh
Dewa Rsi Narada

Naskah yang berukuran
sedang, dinamakan
Garuda Purana karena
diturunkan oleh burung
Dewata Garuda kepada
Rsi Kasyapa
Tahun
penyusunannya
mungkin berkisar
antara 800-900
sebelum masehi.
Bahasa linga Purana
ini cukup sulit untuk
dimengerti, komposisi
naskah juga tidak
seindah Purana lain
Merupakan Purana
terpanjang kedua,
menceritakan
keagungan Wisnu
juga terdapat cara -
cara pemujaan yang
berkenaan dengan
Wisnu

Sakanda Purana merupakan
Purana terpanjang dalam
Mahapurana.
Purana ini dianggap karya
Vedavyasa kedua setelah
MahaBharata, didalam
Skanda Purana juga
memeuat beberapa cerita
Mahabharata didalamnya.

Merupakan naskah yang
menceritakan tentang apa yang
akan terjadi di masa mendatang.
Bhavisya merupakan bentuk
future tense dari bhu yang
artinya akan terjadi. Banyak
Wahyu dan ramalan yang termuat
di Bhawisya Purana.
Purana ini juga menceritakan
tentang dinasti-dinasti yang akan
memerintah di jaman Kaliyuga.
Bahkan Bhavisya Purana juga
memeuat tentang Nabi Noah (
Nuh ), Nabi Adam, Allah bahkan
Putri Victoria

Disebut juga Adi Purana
karena merupakanPurana
yang disusun, naskah asli
purana ini tidak ada lagi.
Naskah sekarang
merupakan rancang ulang
dengan bahan-bahan yang
dikumpulkan dari
MahaBharata, Harivamsa,
Vayupurana, Markandeya
Purana dan Visnu Purana

Purana ini selalu
menjadi urutan
terakhir dalam
Mahapurana

Purana ini menceritakan
tentang Brahma dan
penciptaan melalui
vivartana ( evolusi )
Brahma.
Dalam naskah ini
Vedavyasa menjelaskan
tentang pengetahuan
Brahma

Nama Kurma Purana
juga berhubungan
dengan avatara Visnu.
Kurma berarti kura
kura. Dalam wujud
inkarnasi inilah Visnu
menyampaikan isi
Purana ini, oleh
karena itu, nama
Purana mengikuti.

Selain Purana diatas ada juga Purana kecil (Minor
Purana) yang tidak terlalu populer dan dikenal
sebagai Upa Purana.
Percaya atau tidak, ada paling sedikit Purana
Kecil. Mereka adalah : Aditya, Ascharya,
Ausanasa, Bhaskara (Surya), Dewi, Saiwa
(beberapa menyebut ini Purana Besar), Durwasa,
Kalika, Kalki, Kapila, Mahaswara, Manawa,
Marichi, Nandikeswara, Narada, Narasimha,
Parasara, Samba, Sanathkumara, Siwadharma,
Surya, Suta-Samhita, Usanas, Waruna, Yuga, Waya
dan Wrihan.
Berdasarkan sifatnya, kedelapan belas purana
dibagi atas 3 kelompok, yaitu:
Satwika Purana
terdiri atas:
Narada,Wisnu,Bhagawata,Garuda,Padma,Waraha
Rajasika Purana
terdiri atas:
Brahmanda,Brahmawaiwarta,Markandeya,Bhawisya
,Waruna,Brahma
Tamasika Purana
terdiri atas:
Matsya,Kurma,Lingga,Siwa,Skanda,Agni
Matsya Purana
Diceritakan bahwa pada saat Raja Satyabrata (yang lebih dikenal
sebagai Waiwaswata Manu) mencuci tangan di sungai, seekor ikan kecil
menghampiri tangannya dan sang raja tahu bahwa ikan itu meminta
perlindungan. Akhirnya ia memelihara ikan tersebut. Ia menyiapkan kolam
kecil sebagai tempat tinggal ikan tersebut. Namun lambat laun ikan tersebut
bertambah besar, hampir memenuhi seluruh kolam. Akhirnya ia
memindahkan ikan tersebut ke kolam yang lebih besar. Kejadian tersebut terus
terjadi berulang-ulang sampai akhirnya beliau sadar bahwa ikan yang ia
pelihara bukanlah ikan biasa.
Akhirnya melalui upacara, diketahuilah bahwa ikan tersebut
merupakan penjelmaan Dewa Wisnu. Dalam versi lain, ikan itu dibawa ke
samudera. Ikan itu sendiri menyampaikan kabar bahwa di bumi akan terjadi
bencana air bah yang sangat hebat selama tujuh hari. Ikan itu berpesan agar
sang raja membuat sebuah bahtera besar untuk menyelamatkan diri dari banjir
besar, dan mengisi bahtera tersebut dengan berbagai makhluk hidup yang
setiap jenisnya berjumlah sepasang (betina dan jantan), serta membawa obat-
obatan, makanan, bibit segala macam tumbuhan, dan mengajak Saptaresi
(tujuh nabi). Ikan tersebut juga menambahkan bahwa setelah banjir besar tiba,
diharapkan agar bahtera tersebut diikat ke tanduk sang ikan dengan naga
Basuki sebagai talinya. Setelah menyampaikan seluruh pesan, ikan ajaib
tersebut menghilang.
Menurut Matsyapurana, seratus tahun
kemudian, kekeringan yang hebat melanda
bumi. Banyak makhluk yang mati kelaparan.
Kemudian, langit dipenuhi oleh tujuh macam
awan yang mencurahkan hujan lebat tak
terhentikan. Dengan cepat, air yang
dicurahkan menutupi daratan di bumi. Oleh
karena Waiwaswata Manu sudah membuat
bahtera sesuai dengan petunjuk yang
disampaikan awatara Wisnu, maka ia beserta
pengikutnya selamat dari bencana.