Anda di halaman 1dari 23

ASSALAMUALAIKUM

WARAHMATULLAHI
WABARAKATUH
KLASIFIKASI HADITS DARI SEGI JUMLAH
PERAWI



OLEH

KELOMPOK V

ANDI SAHPUTRA
E. DENI PRIMA PUTRA
TRI HARDI
Hadist Mutawatir
Pengertian Hadist Mutawatir
Secara kebahasaan lafazh Mutawatir dapat berarti
Mutatabi, yaitu sesuatu yang datang berikut dengan
kita, atau yang beriringan antara satu dengan
lainnya dengan tidak ada jaraknya.
Sedangkan menurut istilah ulama hadits Mutawatir
berarti:
"Hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak yang
mustahil menurut adat bahwa mereka bersepakat
untuk berbuat dusta".
Syarat-syarat Hadits Mutawatir
1. Diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi
2. Adanya keseimbangan antarperawi pada thabaqat
(lapisan) pertama dengan thabaqat berikutnya
3. Berdasarkan tanggapan pancaindra
4. Mustahil bersepakat bohong

Hukum Hadits Mutawatir
Status dan hukum hadits mutawatir adalah qat'i al-
Wurud, yaitu pasti keberadaannya dan
menghasilkan ilmu yang dharuri (pasti). Oleh karena
itu, adalah wajib bagi umat Islam untuk menerima
dan mengamalkannya. Dan karenanya pula, orang
yang menolak hadits mutawatir dihukumkan kafir.
Seluruh hadits mutawatir adalah maqbul, dan
karenanya itu pembahasan mengenai keadaan para
perawinya tidak diperlukan lagi.
Pembagian Hadits Mutawatir
Hadits Mutawatir Lafzhi
"Yaitu hadits yang mutawatir lafaz dan maknanya
Dari pengertian diatas dapat disimpilkan Hadits
mutawatir lafdzi adalah hadits yang diriwayatkan oleh
orang banyak yang susunan redaksi dan mananya sesuai
benar antara riwayat yang satu dengan yang lainnya.
Contoh hadits mutawatir lafdzi adalah:
Artinya Barang siapa yang sengaja berdusta atas
namaku, maka tempat tinggalnya adalah neraka.
Hadits ini diriwayatkan oleh lebih dari enam puluh dua
sahabat dengan teks yang sama, bahkan menurut As-
Syuyuti diriwayatkan lebih dari dua ratus sahabat.
Mutawatir Ma'nawi
"Hadits yang mutawatir maknanya saja, tidak pada
lafaznya.
Hadits tentang mengangkat tangan ketika berdo'a.
telah diriwayatkan lebih dari seratus hadis mengenai
angkat tangan ketika berdo'a, namun dengan lafaz
yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.
Masing-masing lafaz tidak sampai ke derajat
mutawatir, tetapi makna dari keseluruhan lafaz-lafaz
tersebut mengacu kepada satu makna, sehinnga
secara ma'nawi Hadits tersebut adalah Mutawatir.
Faedah Hadits Mutawatir
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa
hadits mutawatir dapat memberikan faedah ilmu
dharuri. Yakni, suatu keharusan untuk menerima
dan mengamalkan isinya sesuai dengan yang
diberitakan, sehingga membawa kepada keyakinan
yang qat'i (pasti).

Hadits Ahad
Pengertian Hadits Ahad
Kata ahad atau wahid berdasarkan segi bahasa
berarti satu, maka khobar ahad atau khobar wahid
berarti suatu berita yang disampaikan oleh orang
satu.
Menurut Istilah Hadits ahad adalah khobar yang
jumlah perowinya tidak sebanyak jumlah perowi
hadits mutawatir, baik perowi itu satu, dua, tiga,
empat, lima dan seterusnya yang memberikan
pengertian bahwa jumlah perawi tersebut tidak
mencapai jumlah perowi hadits mutawatir.



Faedah Hadits Ahad
Sebagaimana yang ditulis Moh. Akib Muslim dalam
bukunya Ilmu Musthalah Hadis: Kajian Historis
Metodologis, hadits Ahad memberikan manfaat
kepada dzan (kemungkinan melakukan penelitian).
Kehujjahan Hadits Ahad
Hadits ahad dengan berbagai macam pembagiannya
terkadang dapat dihukumi shahih, hasan, atau dhaif,
bergantung pada syarat diterimanya hadits (syurut
al qabul). Adapun kehujjahan hadits ahad jumhur
ulama sepakat bahwa hadits ahad dapat dijadikan
hujjah selama hadits tersebut masuk kategori hadits
maqbul, atau memenuhi syarat diterimanya hadits.

Persyaratan yang dikemukakan para ulama
berkaitan dengan dua sisi, yaitu berkaitan dengan
para perawi hadits dan berkaitan dengan substansi
dari hadits.
Adapun yang berkaitan dengan perawi hadits (sanad) adalah :
Perawi harus adil
Perawi harus dhabit
Perawi harus paham dengan hadis yang
disampaikan
Perawi harus melakukan dengan apa yang telah
diriwayatkan
Perawi harus menyampaikan hadits dengan huruf-
hurufnya
Perawi hendaknya mengetahui perubahan makna
hadits dari lafal hadits yang sebenarnya.
persyaratan yang berkaitan dengan subtansi hadits,
antara lain:
Hendaknya sanad bersambung dari Rasulullah
Terhindar dari syuzuz (kejanggalan) dan illat (cacat)
Hendaknya tidak bertentangan dengan as sunnah al Masyhurah,
baik yang berupa qauliyyah maupun filiyyah
Hendaknya tidak bertentangan dengan perilaku sahabat dan
tabiin.
Hendaknya sebagian ulama salaf tidak mencela (mengkritik)
hadits tersebut
Hendaknya dalam hadits tersebut tidak terdapat penambahan
matan dan sanadnya, yang tambahan itu diriwayatkan secara
mandiri dan menyalahi rawi-rawi yang tsiqah.


Para ulama banyak memberikan bukti tentang
kehujjahan hadits ahad. Diantara dalil-dalil yang mereka
gunakan adalah :
Sejarah membuktikan bahwa Rasulullah saw tatkala
menyebarkan Islam kepada para pemimpin negeri/raja,
beliau menunjuk/mengutus satu atau dua orang sahabat.
Bahkan beliau pernah mengutus 12 sahabat untuk
berpencar menemui 12 pemimpin saat itu untuk diajak
menganut Islam. Kasus ini membuktikan bahwa khabar
yang disampaikan atau dibawa oleh satu/dua orang
sahabat dapat dijadikan hujjah.

Pembagian Hadits Ahad
Hadits Masyhur
Pengertian hadits masyhur
Menurut istilah hadits masyhur adalah : "Hadits yang
diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih, pada setiap
tingkatan sanad, selama tidak sampai kepada tingkat
mutawatir.
Pembagian hadits masyhur
Hadits masyhur ini, jika dilihat dari segi kualitasnya dapat
dibedakan menjadi tiga macam, yaitu ada hadits yang
shahih, hasan dan dhaif.





Hadits Aziz
Pengertian hadits Aziz
Secara etimologis, istilah 'aziz, ya'izzu yang berarti :
qalla (sedikit) atau nadara (jarang terjadi).
secara terminologis, hadits 'aziz dapat didefinisikan
sebagai : "hadits yang diriwayatkan oleh dua orang
rawi atau lebih dalam satu thabaqatnya".
Pembagian Hadits 'Aziz
secara kualitas hadits 'aziz juga dapat dibedakan
menjadi shahih, hasan, dan da'if.



Hadits Gharib
Pengertian Hadits Gharib
Secara etimologi, gharib berasal dari kata gharaba,
yaghribu yang berarti al-munfarid, yaitu menyendiri atau
ba'id 'an wathanih, jauh dari tanah airnya. Gharib juga
berarti "terasing/jauh dari tempat tinggal.
Sedangkan secara terminologis, "Hadits yang diriwayatkan
oleh seorang perawi yang menyendiri dalam
meriwayatkannya, baik yang menyendiri itu imamnya
maupun selainnya.


Pembagian Hadits Gharib
Pembagian hadits ghaib ini dapat dilihat dari dua sudut
pandang yaitu, 1. segi bentuk penyendirian perawinya dan
2. dari segi kaitannya antara penyendirian pada sanad dan
matan. Jika dilihat dari sudut pandang pertama, hadits
gharib dapat dibagi menjadi hadits gharib mutlak dan
hadits nisbi, sedangkan jika dilihat dari sudut pandang
yang kedua, hadits gharib dapat dibedakan menjadi gharib
pada sanad dan matan secara bersama sama dan gharib
pada sanadnya saja.

Hadits Gharib dilihat dari sudut penyendirian
Perawi
Hadits Gharib Mutlaq
Dinamakan hadist gharib mutlak apabila
penyendirian itu berkaitan dengan keadaan jumlah
personalianya, artinya hadits tersebut kecuali
dirinya sendiri.
Contoh hadits gharib mutlak antara lain:
"hubungan kekerabatan dari budak sama dengan
kekerabatan dengan nasab tidak boleh dijual dan
tidak boleh dihibahkan"


Hadits Gharib Nisbi
Masuk dalam kategori hadits gharib Nisbi adalah
apabila penyendirianya itu mengenai sifat atau
keadaan tertentu dari seorang perawi.
Contoh hadits gharib nisbi gharib nisbi berkenaan
dengan ketsiqahan perawi antara lain adalah
"bahwasanya Rasulullah dalam shalat idul Adha dan
hari raya Idul Fitri membaca surat Qafdan surat Al-
Qamar".
Hadits Gharib dilihat dari sudut keghiraban Sanad dan
Matan
Gharib pada sanad dan matan secara bersama-sama
Yang dimaksud hadist gharib pada sanad dan matan secara
bersama sama adalah hadits yang hanya diriwayatkan
melalui satu jalur, seperti Rasulullah saw: "ada dua
kalimat yang disenangi oleh Allah, ringan diucapkan ,dan
berat dalam timbangan, yaitu kalimat Subhaana Allah
wabihamdihi, subhaaana Allah al-'azim.
Hadits ini diriwayatkanoleh Bukhari dan Muslim dengan
sanad dan Muhammad bin Fudail, Abu Zurah Umarah dan
Abu hurairah, Imam Turmuzi menyatakan bahwa hadits ini
adalah gharib, karena hanya rawi-rawi tersebutlah yang
meriwayatkannya, tidak ada rawi lainnya.

Gharib pada Sanadnya saja
Adalah hadits yang telah populer dan diriwayatkan
oleh banyak sahabat tetapi ada seorang rawi yang
meriwayatkannya dari seorang sahabat yang lain
yang tidak populer. Periwayatan hadits melalui
sahabat yang lain seperti ini disebut sebagai hadits
gharib pada sanad. Contoh hadits gharib pada sanad
antara lain adalah: "orang kafir makan dalam tujuh
usus, sedang orang muslim makan dalam satu usus".