Anda di halaman 1dari 6

Ilmu Qiraat

Oleh: Eka Safitri Anasari (C1011015) Faisal Abdillah (C1011016)

Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta

Ilmu qiraat adalah termasuk bagian dari Ulm al-Qurn atau ilmu-ilmu tentang alQuran yang membahas tentang kaedah membaca al-Qur-an. Berdasarkan pengertian bahasa, qiroat merupakan kata kajian (masdar) dari kata kerja qaraa yang berarti membaca. Sedangkan berdasarkan pengertian terminology, maka ada beberapa definisi, sebagai berikut :1[1] 1. Menurut Ibn Al-Jazari Qiraat merupakan ilmu yang menyangkut cara-cara mengucapan kata-kata al-quran dan perbedaan-perbedaannya dengan cara menisbatkan kepada penukilnya. 2. Menurut Az-Zarkasyi Qiraat adalah perbedaan (cara mengucapkan) lafazh-lafazh al-quran, baik menyangkut huruf-hurufnya atau cara pengucapan huruf-huruf tersebut, seperti taklif (meringankan), tasqil (memberatkan), dan atau yang lainnya. 3. Menurut Ash-Sabuni Qiraat adalah suatu mazhab cara pelafalan al-quran yang dianut salah seorang imam berdasarkan sanad-sanad yang bersambung kepada Rasulallah. Pada permulaan abad pertama Hijrah di masa tabiin, muncullah sejumlah ulama yang membulatkan tenaga dan perhatiannya terhadap masalah qiraat secara sempurna dan menjadikannya sebagai suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri, sehingga mereka menjadi imam dan ahli qiraat yang diikuti dan dipercaya. Para ahli qiraat tersebut antara lain adalah Nfi bin Abdurrahman, Abdullah bin Katsr, Hamzah, al-Kis, dan lain-lain. Perkembangan dan Pembukuan Ilmu Qiraat Qiraat mulai di pakai setelah Nabi Muhammad di Madinah, dimana mulai banyak orang yang masuk Islam dari berbagai qabilah yang bermacam-macam dan dialek yang berbeda. Terlepas dari perbedaan di atas, pembahasan tentang masa kodifikasi ilmu qiraat berarti membahas sejarah perjalanan ilmu qiraat. Perjalanan sejarah ilmu qiraat terbagi atas enam fase, yaitu:

Fase Pertama: masa pertumbuhan Fase pertama ini terjadi pada masa Nabi, dimana Nabi mengajarkan al-Quran kepada sahabatnya dengan bacaan yang berbeda sesuai dengan apa yang mudah bagi mereka. Dengan demikian, para sahabat mendapatkan bacaan al-Quran dari Nabi dengan bacaan

yang beragam. Seringkali dengan ragam bacaan yang mereka terima, menimbulkan perselisihan diantara para sahabat, lalu Nabi menyelesaikan perbedaan itu dengan mengatakan bahwa al-Quran di turunkan dengan berbagai macam versi bacaan. Fase kedua; Fase penyebaran ilmu Qiraat Fase kedua ini terjadi setelah Nabi wafat, yaitu pada masa sahabat dan tabiin. Sebagaimana di ketahui para sahabat kebanyakan bermukim di Mekah atau Madinah. Maka setelah Rasulullah wafat sesuai dengan dinamika dawah para sahabat terpanggil untuk menyebarkan islam ke berbagai pelosok negeri. Fase ketiga: Fase kemunculan Ahli Qiraat Fase ketiga ini berlangsung pada sekitar akhir abad pertama sampai awal abad kedua Hijriyah. Yaitu setelah pengajaran qiraat berlangsung sedemikian lama, maka muncullah ulama ahli qiraat dari kalangan tabiin dan tabi al-tabiin. Seperti di Basrah muncul ulama terkenal Yahya bin Yamar (w. 90 H) yang kemudian di kenal sebagai orang pertama yang menulis qiraat. Fase Keempat: Fase penulisan ilmu Qiraat Fase ini berlangsung bersamaan dengan masa penulisan berbagai macam ilmu keislaman, seperti ilmu hadis, tafsir, tarikh dan lain sebagainya, yaitu sekitar permulaan abad kedua Hijriyah. Maka pada fase ini mulai muncul karya-karya dalam bidang qiraat. Sebagian ulama mutaakhirin berpendapat bahwa yang pertama kali menuliskan buku tentang ilmu qiraat adalah Yahy bin Yamar, ahli qiraat dari Basrah. Kemudian di susul oleh beberapa imam qurr, diantaranya yaitu :

1. Abdullah bin mir (w. 118 H) dari Syam. Kitabnya Ikhtilft Mashif al-Sym wa alHijz wa al-Irq. 2. Abn bin Taghlib (w. 141 H) dari Kufah. Kitabnya Man al-Quran dan kitab Al Qirt. 3. Muqtil bin Sulaimn (w. 150 H) 4. Ab Amr bin al-Al (w. 156 H) 5. Hamzah bin Habb al-Ziyt (w. 156 H) 6. Zidah bin Qadmah al-Tsaqafi (w. 161 H) 7. Hrn bin Ms al-Ar (w. 170 H) 8. Abdul Hamd bin Abdul Majd al-Akhfasy al-Kabr (w. 177 H) 9. Al bin Hamzah al-Kisi (w. 189 H) 10. Yaqb bin Ishq al-Hadram (w. 205 H) 11. Ab Ubaid al-Qsim bin Sallm (w. 224 H). Kitabnya Al-Qirt.

Menurut Ibn al-Jazari, imam pertama yang dipandang telah menghimpun bermacam-macam qiraat dalam satu kitab adalah Ab Ubaid al-Qsim bin Sallm. Ia mengumpulkan dua puluh lima orang ulama ahli qiraat, termasuk di dalamnya imam yang tujuh (imam-imam Qiraat Sabah). Fase kelima: Fase Pembakuan Qiraat Sabah Pada peringkat awal pembukuan ilmu qira at yang dirintis oleh Ab Ubaid al-Qsim bin Sallm dan para imam tersebut di atas, istilah qiraat tujuh belum dikenal. Pada masa ini, mereka hanya mengangkat sejumlah qiraat yang banyak ke dalam karangan-karangannya. Barulah pada permulaan abad kedua Hijrah orang mulai tertarik kepada qiraat atau bacaan beberapa imam yang mereka kenali. Umpamanya di Basrah orang tertarik pada qiraat Ab Amr (w. 154 H) dan Yaqb (w. 205 H), di Kufah orang tertarik pada bacaan Hamzah ( w. 156 H) dan sim (w. 127 H), di Syam orang memilih qiraat Ibn mir (w. 118 H), di Mekah mereka memilih qiraat Ibn Katsr (w. 120 H), dan di Madinah memilih qiraat Nfi (w. 199 H). Di penghujung abad ketiga Hijrah, barulah Ibn Mujhid (w. 325 H) mencetuskan istilah Qiraat Sabah atau Qiraat Tujuh, yaitu tujuh macam qiraat yang dipopulerkan oleh tujuh imam qiraat tersebut di atas dengan menetapkan nama al-Kisi (w. 189 H), salah seorang ahli qiraat dari Kufah, dan membuang nama Yaqb dari kelompok qari tersebut. Maka mulai saat itulah awal mulanya muncul sebutan Qiraat Sabah. Fase keenam: Fase Pengukuhan Qiraat Sabah Fase ini berlangsung setelah kemunculan kitab Al-Sabah karya Ibn Mujahid. Fase ini menjadi fase yang berpenting dalam sejarah penulisan ilmu qiraat. Karena sebagaimana di ketahui bahwa penulisan ilmu qiraat pada masa sebelum Ibn Mujahid bisa dikatakan tidak selektif tapi lebih kepada penulisan qiraat yang sampai kepada mereka dari guru-guru mereka. Karena itu ulama yang pro terhadap gagasan Ibn Mujahid banyak yang memburu riwayatnya imam tujuh tersebut dari berbagai macam jalur periwayatan. Hasil dari perburuan itu tercantum dalam kitab-kitab qiraat sabah yang datang setelahnya. Istilah Qiraat Sabah menjadi semakin kokoh dan masyhur dengan munculnya kitab At Taisir karya Ab Amr alDni (w. 444 H). Yang menonjol dari kitab ini adalah penyederhanaan rawi dari setiap imam dengan hanya dua perawi, padahal sebagaimana di ketahui bahwa perawi setiap imam biasanya berjumlah puluhan bahkan ratusan.

Periwayat-periwayat imam tujuh yang masyhur ialah: 1. Qln (w. 220 H) dan Warsy (w. 197 H), meriwayatkan qiraat dari Imam Nfi 2. Qumbul (w. 291 H) dan Al-Bazzi (w. 250 H), meriwayatkan qiraat dari Imam Ibn Katsr 3. Al-Dri (w. 246 H) dan Al-Ssi (w. 261 H), meriwayatkan qiraat dari Imam Ab Amr 4. Hisym (w. 245 H) dan Ibn Dzakwn (w. 242 H), meriwayatkan qiraat dari Imam Ibn mir 5. Syubah (w. 193 H) dan Hafs (w. 180 H), meriwayatkan qiraat dari Imam sim 6. Khalaf (w. 229 H) dan Khalld (w. 220 H), meriwayatkan qiraat dari Imam Hamzah

7. Ab al-Hrits (w. 240 H) dan Dri al-Kisi (w. 246 H), meriwayatkan qiraat dari Imam Al-Kisi. Qiraat Sabah bertambah kokoh setelah kemunculan imam Al-Syatib (w. 591 H) yang telah berhasil menulis materi Qiraat Sabah yang terdapat dalam kitab At-Taisir menjadi untaian syair yang sangat indah dan menggugah. Syair itu berjumlah 1171 bait. Kumpulan syair-syair itu di namakan Hirz al-Amni wa Wajh al-Tahni yang kemudian lebih di kenal dengan sebutan Sytibiyyah. Syair-syair Sytibiyyah ini telah menggugah banyak ahli qiraat untuk mensyarahinya. Jumlah kitab yang mensyarahi syair Sytibiyyah ini lebih dari lima puluh kitab. Macam-macam Qiraat, Hukum dan Kaidahnya Ibn Mujhid sebagai tokoh negara serta salah seorang pakar keagamaan memiliki pengaruh besar atas berlangsungnya keragaman bacaan. Ibn Mujhid mencoba menetapkan standarisasi baru disahkannya sebuah qiraat. Kemudian lahirlah tujuh qiraat yang terbagi menjadi tujuh imam plus dua perawi di antara satu imam. Satu klaim bahwa bacaan sah adalah ajaran dari riwayat yang bersumber dari guru dengan persetujuan ulama-ulama lain serta memiliki kredibilitas (tsiqah) diakui. Konsep ini pada dasarnya menguatkan tiga syarat utama atau kaidah qiraat yang sahh, yaitu : 1. Qiraat itu harus sahh sanadnya, yaitu bersumber dari rawi-rawi yang tsiqah dengan mata rantai sampai kepada Rasulullah saw. 2. Qiraat tersebut sesuai dengan kaidah Bahasa Arab. Syarat ini tidak berlaku sepenuhnya sebab ada sebagian bacaan yang tidak sesuai dengan tata bahasa Arab, namun karena sanadnya sahh dan mutawtir maka qiraatnya dianggap sahh. 3. Qiraat sesuai dengan salah satu Mushaf Utsmni yang dikirimkan ke daerah-daerah, karena ia mencakupi Sabatu Ahruf. Macam-macam Qiraaat Sebagian ulama menyimpulkan macam-macam qiraat menjadi enam macam: 1. Mutawtir, yaitu qiraat yang dinukil oleh sejumlah besar periwayat yang tidak mungkin bersepakat untuk berdusta, dari sejumlah orang yang seperti itu dan sanadnya bersambung hingga penghabisannya, yakni Rasulullah saw. 2. Masyhr, yaitu qiraat yang sahh sanadnya tetapi tidak mencapai derajat mutawtir, sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan rasam Utsmni serta terkenal pula di kalangan para ahli qiraat dan tidak terdapat cacat. 3. hd, yaitu qiraat yang sahh sanadnya tetapi tidak sesuai atau menyalahi rasam Utsmni, menyalahi kaidah bahasa Arab atau tidak terkenal seperti halnya dua qiraat yang telah disebutkan. Qiraat semacam ini tidak termasuk qiraat yang dapat diamalkan bacaannya. 4. Sydz, yaitu qiraat yang tidak sahh sanadnya, seperti qiraat malaka yaumaddn (alFtihah ayat 4), dengan bentuk fiil mdi dan menasabkan yauma.

5. Mawd, yaitu qiraat yang tidak ada asalnya. Contohnya qiraat imam Muhammad bin Jafar al-Khuzai dalam membaca firman Allah swt. dalam surat Ftir ayat 28: Dia membaca dengan dengan merafakan lafaz Allah dan menasabkan lafaz al-Ulam. 6. Mudraj, yaitu yang ditambahkan ke dalam qiraat sebagai penafsiran, seperti qiraat Ibn Abbs. Kalimat adalah penafsiran yang disisipkan ke dalam ayat.

Sebab-Sebab Perbedaan Qiraat

Diantara sebab-sebab munculnya beberapa qiraat yang berbeda adalah sebagai berikut :2[2] 1. Perbadaan qiraat nabi. Artinya dalam mengerjakan al-quran kepada para sahabatnya, nabi memakai beberapa versi qiraat. 2. Pengakuan dari nabi terhadap berbagai qiraat yang berlaku di kalangan kaum muslimin waktu itu. Hal ini menyangkut dialek mereka dalam mengucapkan kata-kata dalam alquran. 3. Adanya riwayat dari para sahabat nabi menyangkut berbagai versi qiraat yang ada. 4. Adanya lahjjah kebahasaaan di kalangan bangsa arab pada masa turunya al-quran.

Daftar Pustaka Hidayat, Ahmad.2012. Qiraat Alquran. Makalah Ulumul Quran, 13 Februari 2012 di Fakultas Syariah IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Muthmainnah. 2010. Perkembangan Ilmu Qiraat, Masa Pentadwinan (pembukuan), Sejarah Perkembangan Ilmu Qiraat di Indonesia, macam-macam qiraat, hukum dan kaidahnya. Dalam file:///G:/ulumul%20quran/perkembanganilmu-qiraat-masa.html.