Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Terjadinya transisi epidemiologi yang paralel dengan transisi demografi dan transisi
teknologi di Indonesia dewasa ini telah mengakibatkan perubahan pola penyakit dari penyakit
infeksi ke penyakit tidak menular (PTM) meliputi penyakit degeneratif dan man made diseases
yang merupakan faktor utama masalah morbiditas dan mortalitas. Terjadinya transisi
epidemiologi ini disebabkan terjadinya perubahan sosial ekonomi, lingkungan dan perubahan
struktur penduduk, saat masyarakat telah mengadopsi gaya hidup tidak sehat, misalnya merokok,
kurang aktivitas fisik, makanan tinggi lemak dan kalori, serta konsumsi alkohol yang diduga
merupakan faktor risiko PTM.
Pada abad ke-21 ini diperkirakan terjadi peningkatan insidens dan prevalensi PTM secara
cepat, yang merupakan tantangan utama masalah kesehatan dimasa yang akan datang. WHO
memperkirakan, pada tahun 2020 PTM akan menyebabkan 73% kematian dan 60% seluruh
kesakitan di dunia. Diperkirakan negara yang paling merasakan dampaknya adalah negara
berkembang termasuk Indonesia.
Diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu PTM yang semakin meningkat
prevalensinya. DM mempunyai karakteristik seperti hiperglikemia yang terjadi karena kelainan
sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik
pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah (ADA, 2002). DM merupakan salah satu jenis
penyakit tidak menular yang mendunia dengan prevalensi kejadian yang terus mengalami
peningkatan.
Penderita diabetes mellitus di dunia meningkat tajam setiap tahunnya pada tahun 1994
sebesar 110,4 juta menjadi 150 juta penderita dan pada tahun 2010 sebesar 279,3 juta dan tahun
2020 sebesar 300 juta (Hendromartono, 2000).

1
Tahun 2011 diperkirakan 366 juta penduduk dunia menderita diabetes melitus tipe 2 dan 71,4
juta diantaranya berasal dari Asia Tenggara (WHO, 2010).
Estimasi World Health Organization (WHO) tentang jumlah DM di Indonesia pada tahun
2000 sebesar 8,4 juta orang, tahun 2003 sebesar 13,8 juta orang, dan tahun 2030 menjadi 21,3
juta orang yang akan menjadikan Indonesia sebagai peringkat ke-4 terbesar di Dunia (Depkes RI,
2008b). Prevalensi DM tipe 2 di daerah urban sebesar 14,7%, sedangkan di rural sebesar 7,2%,
maka diperkirakan pada tahun tersebut jumlah penderita diabetes sejumlah 8,2 juta di daerah
urban dan 5,5 juta di daerah rural. Selanjutnya, berdasarkan pola pertambahan penduduk, pada
tahun 2030, jumlah penduduk usia > 20 tahun sebanyak 194 juta dan dengan asumsi prevalensi
DM pada urban (14,7%) dan rural (7,2%), maka diperkirakan terdapat 12 juta penderita diabetes
di daerah urban dan 8,1 juta di daerah rural. PersentaseDM tipe 2 di Indonesia mencapai 85-90%
dari total penderita DM.
Prevalensi penyakit DM di Indonesia sebesar 5,7% yang terdiri atas 1,5% atau sebesar
26% dari total penderita mengetahui bahwa dirinya DM (diagnosed diabetesmellitus) dan 4,2%
atau sebesar 74% dari total penderita tidak mengetahui bahwa dirinya DM (undiagnosed diabetes
mellitus), dimana prevalensi DM meningkat pada usia 35 tahun dan menurun setelah usia > 74
tahun.
Peningkatan kasus DM yang tajam banyak terjadi pada masyarakat dengan perubahan
pola konsumsi tinggi lemak dan mempunyai kebiasaan aktifitas fisik yang rendah, sehingga
meningkatnya kasus overweight dan obesitas. Orang yang kurang gerak cenderung overweight
dan obesitas yang kemudian berhubungan dengan terjadinya peningkatan diabetes mellitus.
Obesitas merupakan salah satu manifestasi dari masalah gizi lebih yang terjadi akibat
akumulasi jaringan lemak berlebihan, sehingga dapat mengganggu kesehatan. Bila seseorang
bertambah berat badannya maka ukuran sel lemak akan bertambah besar dan kemudian
jumlahnya bertambah banyak. Obesitas dapat diukur dengan dengan berbagai cara baik secara
laboratorium maupun non laboratorium.
2
Pengukuran yang sering dilakukan adalah pengukuran non laboratorium (pengukuran praktis)
dengan mengukur indeks massa tubuh, lingkar pinggang, dan rasio lingkar pinggang panggul
untuk memantau status gizi seseorang. Pengukuran praktis merupakan alat atau cara sederhana
untuk memantau status gizi seseorang karena praktis dan murah dalam penggunaanya.
Obesitas merupakan faktor risiko paling penting terhadap terjadinya diabetes mellitus
dimana prevalensi diabetes mellitus 2,9 kali lebih tinggi pada mereka dengan status overweight.
Hasil studi prospektif memperlihatkan bahwa berkembangnya penyakit DM tipe 2 pada obesitas
paling cepat dibandingkan perkembangan penyakit lainnya dengan nilai RR > 3.
Prevalensi obesitas di Indonesia berdasarkan Riskesdas (2007 dan 2010) dilihat dari IMT
mengalami peningkatan. Tahun 2007 prevalensi obesitas umum untuk penduduk umur > 15
tahun sebesar 19,1% dimana sebesar 13,9% terjadi pada laki-laki dan 23,8% pada perempuan.
Prevalensi obesitas umum tahun 2010 pada penduduk umur > 18 tahun sebesar 21,7%, dimana
prevalensi obesitas pada laki-laki sebesar 16,3% dan pada perempuan 26,9%. Berdasarkan
lingkar pinggang (LP) diketahui prevalensi obesitas sentral di Indonesia tahun 2007 sebesar
18,8%, dimana prevalensi pada perempuan sebesar 29% dan pada laki-laki sebesar 7,7%.
Prevalensi obesitas di negara maju maupun negara berkembang semakin meningkat,
diperkirakan jumlah orang dengan obesitas di seluruh dunia melebihi 250 juta orang dengan IMT
> 30 kg/m2,sekitar 7% dari populasi orang dewasa di dunia. Menurut WHO peningkatan jumlah
obesitas berat akan dua kali lipat dibandingkan dengan orang dengan berat badan kurang dari
tahun 1995 sampai 2025 dan prevalensinya akan meningkat mencapai 50% pada tahun 2025.
Prediksi WHO pada tahun 2005 kurang lebih terdapat 400 juta orang dewasa yang obesitas, dan
di tahun 2015 diperkirakan meningkat menjadi 700 juta orang obesitas (Kemenkes RI, 2010).



3
Untuk melakukan upaya penanggulangan penyakit tidak menular diperlukan suatu sistem
surveilans penyakit yang mampu memberikan dukungan upaya program dalam daerah kerja
Kecamatan, Kabupaten/Kota, Propinsi dan Nasional, dukungan kerjasama antar program dan
sektor serta kerjasama antara Kabupaten/Kota, Propinsi, Nasional dan internasional.
Pada tahun 1987 telah dikembangkan Sistem Surveilans Terpadu (SST) berbasis data,
Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP), dan Sistem Pelaporan Rumah Sakit
(SPRS), yang telah mengalami beberapa kali perubahan dan perbaikan. Disamping keberadaan
SST telah juga dikembangkan beberapa sistem Surveilans khusus penyakit Tuberkulosa,
penyakit malaria, penyakit demam berdarah, penyakit kusta dan lain sebagainya. Sistem
Surveilans tersebut perlu dikembangkan dan disesuaikan dengan ketetapan Undang-undang
Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah; Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999
tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah; Peraturan Pemerintah
Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai
Daerah Otonom; dan Keputusan Menteri Kesehatan No.1116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan serta kebutuhan informasi
epidemiologi untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak
menular.

B. Rumusan masalah
Bagaimana surveilans epidemiologi diabetes mellitus itu?

C. Tujuan penulisan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui surveilans epidemiologi dalam
kaitannya diabetes mellitus



4
D. Manfaat penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan memberikan manfaat teoritis mengenai pelaksanaan surveilans
diabetes mellitus dengan kajian makalah ini dan manfaat praktisnya, yaitu:
1. Untuk penulis
Meningkatkan pemahaman teori.
2. Untuk pembaca
Meningkatkan pemahaman mengenai surveilans epidemiologi diabetes mellitus






















5
BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP TEORI DIABETES MELLITUS

1. Definisi
Diabetes Mellitus adalah keadaan hiperglikemi kronik yang disertai berbagai kelainan
metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata,
ginjal, saraf dan pembuluh darah (Mansjoer dkk,1999).
Menurut Francis dan John (2000), Diabetes Mellitus klinis adalah suatu sindroma
gangguan metabolisme dengan hiperglikemia yang tidak semestinya sebagai akibat suatu
defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektifitas biologis dari insulin atau keduanya.

2. Klasifikasi
Klasifikasi Diabetes Mellitus menurut National Diabetus Data Group meliputi:
a) Klasifikasi Klinis
- Diabetes Mellitus
- Tipe tergantung insulin (DMTI), Tipe I
- Tipe tak tergantung insulin (DMTTI), Tipe II
DMTTI yang tidak mengalami obesitas
DMTTI dengan obesitas
- Gangguan Toleransi Glukosa (GTG)
- Diabetes Kehamilan (GDM)
b) Klasifikasi risiko statistic
- Sebelumnya pernah menderita kelainan toleransi glukosa
- Berpotensi menderita kelainan toleransi glukosa

6
Pada Diabetes Mellitus tipe 1 sel-sel pancreas yang secara normal menghasilkan
hormon insulin dihancurkan oleh proses autoimun, sebagai akibatnya penyuntikan insulin
diperlukan untuk mengendalikan kadar glukosa darah. Diabetes mellitus tipe I ditandai oleh
awitan mendadak yang biasanya terjadi pada usia 30 tahun. Diabetes mellitus tipe II terjadi
akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin) atau akibat penurunan jumlah
produksi insulin.

3. Etiologi
a) Diabetes Mellitus tergantung insulin (DMTI)
- Faktor genetic
- Faktor imunologi
- Faktor lingkungan
b) Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI)
Secara pasti penyebab dari DM tipe II ini belum diketahui, factor genetic diperkirakan
memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Diabetes Mellitus tak tergantung
insulin (DMTTI) penyakitnya mempunyai pola familiar yang kuat. DMTTI ditandai dengan
kelainan dalam sekresi insulin maupun dalam kerja insulin. Pada awalnya tampak terdapat
resistensi dari sel-sel sasaran terhadap kerja insulin. Insulin mula-mula mengikat dirinya kepada
reseptor-reseptor permukaan sel tertentu, kemudian terjadi reaksi intraselluler yang
meningkatkan transport glukosa menembus membran sel. Pada pasien dengan DMTTI terdapat
kelainan dalam pengikatan insulin dengan reseptor. Hal ini dapat disebabkan oleh berkurangnya
jumlah tempat reseptor yang responsif insulin pada membran sel. Akibatnya terjadi
penggabungan abnormal antara komplek reseptor insulin dengan system transport glukosa.
Kadar glukosa normal dapat dipertahankan dalam waktu yang cukup lama dan meningkatkan
sekresi insulin, tetapi pada akhirnya sekresi insulin yang beredar tidak lagi memadai untuk
mempertahankan euglikemia (Price,1995).

7
Diabetes Mellitus tipe II disebut juga Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin (DMTTI) atau
Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) yang merupakan suatu kelompok heterogen
bentuk-bentuk Diabetes yang lebih ringan, terutama dijumpai pada orang dewasa, tetapi
terkadang dapat timbul pada masa kanak-kanak.
Faktor risiko yang berhubungan dengan proses terjadinya DM tipe II, diantaranya adalah:
a) Usia ( resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun)
b) Obesitas
c) Riwayat keluarga
d) Kelompok etnik
e) Patofisiologi


















8
DM Tipe I DM Tipe II






















Idiopatik, usia, genetil, dll Reaksi Autoimun
Jmh sel pancreas menurun
sel pancreas hancur
Defisiensi insulin
Hiperglikemia Lipolisis meningkat Katabolisme protein meningkat
Penurunan BB polipagi
Glukoneogenesis
meningkat
Gliserol asam lemak
bebas meningkat
Glukosuria
Ketogenesis Kehilangan elektrolit urine Diuresis Osmotik







9
5. Manifestasi klinis
Menurut Askandar (1998) seseorang dapat dikatakan menderita Diabetes Mellitus apabila
menderita dua dari tiga gejala yaitu:
a) Keluhan TRIAS: banyak minum, banyak kencing dan penurunan berat badan.
b) Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 120 mg/dl
c) Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl
Sedangkan menurut Waspadji (1996) keluhan yang sering terjadi pada penderita Diabetes
Mellitus adalah: Poliuria, Polidipsia, Polifagia, Berat badan menurun, Lemah, Kesemutan, Gatal,
Visus menurun, Bisul/luka, Keputihan.

6. Komplikasi
Beberapa komplikasi dari Diabetes Mellitus (Mansjoer dkk, 1999) adalah:
a) Akut
Hipoglikemia dan hiperglikemia
b) Komplikasi menahun Diabetes Mellitus
- Penyakit makrovaskuler : mengenai pembuluh darah besar, penyakit jantung koroner
(cerebrovaskuler, penyakit pembuluh darah kapiler).
- Penyakit mikrovaskuler, mengenai pembuluh darah kecil, retinopati, nefropati.
- Neuropati saraf sensorik (berpengaruh pada ekstrimitas), saraf otonom berpengaruh
pada gastro intestinal, kardiovaskuler (Suddarth and Brunner, 1990).
- Proteinuria
- Kelainan koroner
- Ulkus/gangren (Soeparman, 1987, hal 377)
Kehilangan cairan hipotonik
ketonuria ketoasidosis
Hiperosmolaritas
Polidipsi
coma





10
Terdapat lima grade ulkus diabetikum antara lain:
Grade 0 : tidak ada luka
Grade I : kerusakan hanya sampai pada permukaan kulit
Grade II : kerusakan kulit mencapai otot dan tulang
Grade III : terjadi abses
Grade IV : Gangren pada kaki bagian distal
Grade V : Gangren pada seluruh kaki dan tungkai bawah distal


7. Evaluasi diagnostik
Kriteria yang melandasi penegakan diagnosa DM adalah kadar glukosa darah yang
meningkat secara abnormal. Kadar gula darah plasma pada waktu puasa yang besarnya di atas
140 mg/dl atau kadar glukosa darah sewaktu diatas 200 mg/dl pada satu kali pemeriksaan atau
lebih merupakan criteria diagnostik penyakit DM.

8. Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi DM adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar
glukosa darah dalam upaya mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropatik. Tujuan
terapeutik pada setiap tipe DM adalah mencapai kadar glukosa darah normal (euglikemia) tanpa
terjadi hipoglikemia dan gangguan series pada pola aktivitas pasien.
Ada lima konponen dalam penatalaksanaan DM, yaitu:
a) Diet
b) Latihan
c) Penyuluhan
d) Obat
e) Insulin
f) Cangkok pancreas

11
B. Surveilan Epidemiologi
1. Pengorganisasian
Pengorganisasian dalam pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko
penyakit Diabetes milletus dimaksudkan agar program yang dilaksanakan dapat lebih efektif,
efisien dan berkualitas serta dapat memanfaatkan segala sumber daya atau potensi yang ada
diwilayah kerjanya. Organisasi disusun sesuai dengan tingkatan dan keterkaitan secara
langsung dalam struktur.
















YANMED
PROMKES
BINKESMAS
PROFESI
POKJA

DIREKTORAT JENDRAL
PENGENDALIAN
DINKES PROPINSI
DINKES KABUPATEN/KOTA
PUSKESMAS
PENGELOLA
DESA
POSBINDU
Alur Pengorganisasian pengendalian penyakit diabetes milletus. Peran masing-masing
unit kerja adalah:


12
1) Pusat
a. Mengembangkan pedoman tentang survailans penyakit Diabetes milletus. Di
semua tingkat pelayanan dengan melibatkan organisasi profesi, pengelola program
dan pelaksana pelayanan yang dibutuhkan dalam pencegahan dan penanggulangan
penyakit Diabetes milletus.
b. Membina, mengawasi dan memfasilitasi program pencegahan dan
penanggulangan penyakit diabetes milletus tingkat nasional melalui penetapan
kebijakan nasional, standarisasi dan pengaturan dengan bimbingan dan
pengendalian.
c. Mendorong dan memfasilitasi berfungsinya jaringan kerjasama antar institusi
pelayanan dalam upaya pencegahan dan penangulangan diabetes milletus.
d. Meningkatkan kegiatan promosi dan pencegahan dalam pelayanan diabetes milletus
di institusi pelayanan
e. Mengembangkan pelayanan diabetes milletus berbasis masyarakat
f. Melakukan monitoring dan evaluasi
2) Propinsi
a. Mengembangkan pedoman dan instrument.
b. Mengembangkan berbagai model surveilans penyakit diabetes milletus
c. Menyebarluaskan informasi.
d. Melakukan advokasi kepada penentu kebijakan di tingkat Propinsi
e. Melakukan monitoring dan evaluasi
3) Kabupaten/kota
a. Membuat kebijakan tentang pengendalian (surveilans, promosi kesehatan dan
manajemen pelayanan) penyakit Diabetes milletus dan faktor risiko nya
b. Melakukan pelatihan penemuan kasus dan penatalaksanaan penyakit tidak
menular khususnya penyakit diabetes milletus bagi tenaga kesehatan di Puskesmas
13
c. Melakukan advokasi kepada penentu kebijakan di tingkat kabupaten
d. Melakukan monitoring dan evaluasi
4) Rumah sakit
a. Melakukan deteksi dini terhadap penyakit diabetes milletus dan faktor risiko.
b. Melakukan pencatatan pelaporan tentang diabetes milletus dan faktor risiko.
c. Melakukan penyuluhan
d. Melakukan faktor rujukan
e. Melakukan pengobatan
5) Puskesmas
a. Melakukan deteksi dini terhadap penyakit Diabetes milletus dan faktor risiko berikut
tata laksana.
b. Melakukan pencatatan dan pelaporan.
c. Melakukan penyuluhan.
d. Melakukan sistem rujukan bila terdapat kasus yang tidak dapat ditangani.

2. Strategi
Strategi program pencegahan dan penanggulangan diabetes milletus yaitu:
a. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat dalam pencegahan dan
penanggulangan diabetes milletus.
b. Memfasilitasi dan mendorong tumbuhnya gerakan dalam pencegahan dan
penanggulangan diabetes milletus.
c. Meningkatkan kemampuan SDM dalam pencegahan dan penanggulangan diabetes
milletus.
d. Meningkatkan surveilans rutin dan faktor risiko, registri penyakit, surveilans
kematian yang disebabkan diabetes milletus


14
e. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan (penemuan/ deteksi dini dan
tata laksana diabetes milletus).
f. Melaksanakan sosialisasi advokasi pada pemerintah daerah legislatif dan stakeholder
untuk terlaksananya dukungan pendanaan dan operasional.

Sistematika penemuan kasus dan tatalaksana penyakit Diabetes milletus meliputi :
a. Penemuan kasus dilakukan melalui pendekatan deteksi dini yaitu melakukan kegiatan deteksi
dini terhadap faktor risiko penyakit diabetes milletus yang meningkat pada saat ini dengan cara
screening kasus (penderita).
b. Tatalaksana pengendalian penyakit diabetes milletus dilakukan dengan pendekatan:
1) Promosi kesehatan diharapkan dapat memelihara, meningkatkan dan melindungi
kesehatan diri serta kondisi lingkungan sosial, diintervensi dengan kebijakan publik, serta
dengan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai perilaku hidup
sehat dalam pengendalian diabetes milletus.
2) Preventif dengan cara larangan merokok, peningkatan gizi seimbang dan aktifitas fisik
untuk mencegah timbulnya faktor risiko menjadi lebih buruk dan menghindari terjadi
Rekurensi (kambuh) faktor risiko.
3) Kuratif dilakukan melalui pengobatan farmakologis dan tindakan yang diperlukan.
Kematian mendadak yang menjadi kasus utama diharapkan berkurang dengan
dilakukannya pengembangan manajemen kasus dan penanganan kegawatdaruratan
disemua tingkat pelayanan dengan melibatkan organisasi profesi, pengelola program
dan pelaksana pelayanan yang dibutuhkan dalam pengendalian diabetes milletus.



15
4) Rehabilitatif dilakukan agar penderita tidak jatuh pada keadaan yang lebih buruk dengan
melakukan kontrol teratur dan fisioterapi Komplikasi serangan diabetes milletus yang
fatal dapat diturunkan dengan mengembangkan manajemen rehabilitasi kasus kronis
dengan melibatkan unsur organisasi profesi, pengelola program dan pelaksana
pelayanan di berbagai tingkatan.

3. Pelaksanaan Surveilan Pada Diabetes Mellitus
Penatalaksanaan diabetes milletus berbasis pada kesehatan masyarakat (public health)
didahului oleh pengumpulan data dan informasi. Merujuk pada kebijakan yang ada, data dan
informasi yang dibutuhkan adalah yang berhubungan dengan kesakitan, kematian serta faktor
risiko. Sumber data dan informasi yang dapat menjadi acuan antara lain adalah dari SP2TP
puskesmas. Penggunaan data dari SP2TP dimaksudkan bila pada daerah yang rencananya akan
dilakukan intervensi tidak mempunyai data dan informasi yang spesifik daerah tersebut,
surveilans yang dilakukan dimasyarakat ditujukan bagi factor risiko penyebab diabetes
milletus, seperti pola makan, aktifitas, merokok.
Surveilans diabetes milletus meliputi surveilans faktor risiko, surveilans penyakit dan
surveilans kematian. Surveilans faktor risiko merupakan prioritas karena lebih fleksibel dan lebih
sensitif untuk mengukur hasil intervensi dalam jangka menengah. Dalam melakukan surveilan,
berbagai pihak dan organisasi kemasyarakatan dapat diikut sertakan baik organisasi yang
formal (governance organization) maupun non formal (non governance organization).







16










1. Surveilans Faktor Resiko
2. Data SP2TP Puskesmas
DATA DAN INFORMASI
PROMOSI
KESEHATAN
PELAYANAN
KESEHATAN
1. Pola hidup sehat/tidak merokok
2. Diet seimbang
3. Aktivitas fisik
1. Training dan wawancara
2. BMI
3. Tensi




Bagan surveilens faktor resiko

Format surveilans dapat dibuat sesuai dengan tingkatan dan institusi penyelenggara
surveilan yang akan dilakukan. Pada tingkat puskesmas, format surveilans berupa
perpanjangan dari dlaqnosa diabetes milletus yang dibuat terhadap pasien. Bila seorang pasien
terdiagnosa sebagai penderita diabetes milletus, tindakan selanjutnya adalah mengisi form faktor
risiko yang dibuat.

4. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan kegiatan Pengendalian PTM khususnya tatalaksana faktor
risiko penyakit diabetes mellitus diperlukan dalam perencanaan, pemantauan dan evaluasi serta
pengambilan keputusan. Untuk itu kegiatan ini harus dilakukan secara cermat dan teliti, karena
kesalahan dalam pencatatan dan pelaporan akan mengakibatkan kesalahan dalam menetapkan
suatu tindakan.


17
1. Pencataan.
Perlu suatu mekanisme pencatatan yang baik, formulir yang cukup serta cara pengisian
yang benar dan teliti. Pencatatan dilaksanakan sesuai dengan jenis kegiatan yang dilaksanakan,
yaitu :pencatatan kegiatan pelayanan Pengendalian PTM khususnya tatalaksana penyakit
diabetes mellitus. Formulir pencatatan terdiri dari :
a. Kartu rawat jalan untuk mencatat identitas dan status pasien yang berkunjung ke
Puskesmas/sarana pelayanan kesehatan lainnya untuk memperoleh layanan rawat
jalan.
b. Kartu rawat tinggal dan kegunaanya dengan kartu rawat jalan namun diperuntukan
bagi pasien rawat inap di Puskesmas.
c. Kartu Penderita diabetes mellitus yang berisikan identitas penderita yang dilayani di
Puskesmas dan diberikan kepada penderitanya.
d. Formulir Laporan Bulanan penyakit diabetes mellitus (sesuai format laporan
surveillans yang sudah ada)
e. Buku Register
f. Buku Rujukan

2. Pelaporan
a. Tingkat Puskesmas.
Dari pustu, bides ke pelaksana kegiatan di puskesmas. Pelaksana kegiatan
merekapitulasi data yang dicatat baik di dalam gedung maupun di luar gedung,
serta laporan dari pustu dan bides. Hasil rekapitulasi oleh pelaksana kegiatan
diolah dan dimanfaatkan untuk tindak lanjut yangdiperlukan dalam rangka
meningkatkan kinerja yang menjadi tanggung jawabnya.




18
b. Tingkat Dinas Kabupaten/Kota
Hasil rekapitulasi/entri data disampaikan ke pengelola program kabupaten kemudian
rekap dikoreksi, diolah dan dimanfaatkan sebagai bahan untuk umpan balik, bimbingan
teknis program dan tindak lanjut yang diperlukan dalam melaksanakan program.
Setiap tiga bulan hasil rekap dikirimkan ke dinkes propinsi dan Direktorat
Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI.
c. Tingkat Dinas Kesehatan Propinsi
Laporan diterima untuk dikompilasi/direkap dan disampaikan untuk diolah dan
dimanfaatkan dalam rangka tindak lanjut dan pengendalian yang diperlukan. Hasil
kompilasi yang telah di olah menjadi umpan balik dinkes kabupaten/kota.
d. Tingkat Pusat
Hasil olahan paling lambat 2 (dua) bulan setelah berakhirnya triwulan disampaikan
pada pengelola program untuk di analisis serta dikirimkan ke dinas kesehatan
propinsi sebagai umpan balik. Hasil laporan yang diolah kemudian dijadikan si sebagai
umpan balik. Hasil laporan yang diolah kemudian dijadikan sebagai bahan koordinasi
dengan institusi terkait di masing tingkatan.











19













YANMED
PROMKES
PROFESI
POKJA
LSM

DIREKTORAT JENDRAL
PENGENDALIAN PEENYAKIT DAN
PENYEHATAN LINGKUNGAN

DINKES PROPINSI
PTM, RUMAH SAKIT, PKM

DINKES KABUPATEN
PTM, RUMAH SAKIT, PKM

PUSKESMAS, PENGELOLA
PROGRAM PTM

DESA POSBINDU KADER PTM




Bagan: Alur pelaporan pengendalian penyakit hipertensi

Keterangan :
: Garis Koordinasi

: Garis Laporan

: Garis Umpan Balik





20
5. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai
keberhasilan penemuan dan penatalaksaan penderita diabetes mellitus. Kegiatan ini dilaksanakan
secara berkala untuk mendeteksi bilamana ada masalah dalam penemuan dan
penatalaksanaan penderita diabetes mellitus agar dapat dilakukan tindakan perbaikan. Pada
prinsipnya semua kegiatan harus dimonitor dan dievaluasi antara lain penemuan penyakit
diabetes mellitus mulai dari langkah penemuan penderita dan faktor risikonya,
penatalaksanaan penderita yang meliputi hasil pengobatan, dan efek samping sehingga kegagalan
pengendalian penyakit diabetes mellitus di pelayanan primer dapat ditekan.
Seluruh kegiatan tersebut harus dimonitor baik dari aspek masukan (input), proses
maupun keluaran (output). Cara pemantauan dapat dilakukan dengan menelaah laporan,
pengamatan langsung dan wawancara dengan petugas pelaksana dan penderita diabetes
mellitus.















21











22
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Diabetes Mellitus merupakan penyebab kematian tertinggi di bagian instalasi rawat inap
di rumah sakit di Indonesia yaitu sebanyak 3.316 kematian dengan CFR 7,9%. Indonesia
merupakan negara keempat setelah India, Cina dan Amerika Serikat sebagai penderita penyakit
Diabetes Mellitus dengan persentase 8,4 di tahun 2000 dan diperkirakan akan bertambah
persentasenya di tahun 2030 sebesarnya 21,3%.
Penyebab utama terjadi Diabetes Mellitus dipengaruhi oleh tidak terkontrolnya glukosa
darah akibat factor kegemukan, hipertensi, pengetahuan, life style, dan sebagainya.
Diabetes Mellitus klinis adalah suatu sindroma gangguan metabolisme dengan
hiperglikemia yang tidak semestinya sebagai akibat suatu defisiensi sekresi insulin atau
berkurangnya efektifitas biologis dari insulin atau keduanya.
Tanda dan gejala, diantaranya keluhan TRIAS seperti banyak minum, banyak kencing
dan penurunan berat badan. Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 120 mg/dl. Dan
kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl
Penyebab diabetes mellitus yaitu:
1. Diabetes Mellitus tergantung insulin (DMTI)
a. Faktor genetic
b. Faktor imunologi
c. Faktor lingkungan





23
2. Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI)
Secara pasti penyebab dari DM tipe II ini belum diketahui, factor genetic diperkirakan
memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Faktor risiko yang berhubungan
dengan proses terjadinya DM tipe II, diantaranya adalah usia ( resistensi insulin cenderung
meningkat pada usia di atas 65 tahun), obesitas, riwayat keluarga, kelompok etnik.
Penatalaksanaan diabetes mellitus diantaranya diet, latihan, penyuluhan, obat, dan cangkok
panngkreas