Anda di halaman 1dari 3

Nama : Agung Kurnia Saputra

NPM : 1006686862
Tugas : Hukum Arbitrase ( Analisis Kasus )

Analisis Kasus Sengketa Komersial Arbitrase Dihubungkan dengan Kelebihan
Arbitrase

Kasus antara PT. Petronas Niaga Indonesia dengan PT. Persada Sembada
A. Duduk Perkara
Dalam kasus ini yang menjadi Pemohon dalam Arbitrase adalah PT. Petronas Niaga
Indonesia yaitu suatu perusahaan penanaman modal asing yang melakukan kegiatan
pengusahaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk umum atau disingkat SPBU.
Sedangkan Termohon dalam Arbitrase adalah PT. Persada Sembada yaitu Pemilik atas
sebidang tanah dan bangunan yang terletak dijalan Kramat Raya No. 57, Jakarta Pusat,
seluas kurang lebih 5.780 M sebagaimana tercatat dalam Buku Tanah Hak Guna
Bangunan Nomor 440 atas nama PT. Persada Sembada. Bahwa tepatnya pada tanggal 12
Oktober 2006, antara PT. Persada Sembada selaku Penjual dengan PT. Petronas Niaga
Indonesia selaku pembeli telah menandatangani perjanjian pengikatan Jual Beli No. 01
dihadapan Notaris. Bahwa dalam pelaksanaan perjanjian tersebut terjadi sengketa antara
kedua belah pihak.
Bahwa tepatnya pada tanggal 9 Oktober 2007 PT. Petronas Niaga Indonesia telah
mengajukan permohonan arbitrase di Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) ,
beralamat di Wahana Graha Lt. 2, jalan Mampang Prapatan No. 2 Jakarta, sebagaimana
tercatat dalam perkara Arbitrase Nomor : 266/X/ARB-BANI/2007 tanggal 9 Oktober
2007, yang pada pokoknya alasan diajukannya permohonan arbitrase tersebut sehubung
dengan Termohon (PT. Persada Sembada) telah melakukan cidera janji (Wanprestasi)
terhadap perjanjian pengikatan dengan tidak menyerahkan seluruh ijin-ijin yang
disyaratkan dalam pasal 2 dalam jangka waktu yang ditetapkan dalam Pasal 2.1. juncto
Pasal 5.1. perjanjian, yaitu 180 hari kalender ditambah perpanjangan 90 hari kalender
sejak ditandatanganni perjanjian. Bahwa atas permohonan Arbitrase tersebut, pada tanggal
27 Mei 2008 Majelis Arbitrase memeriksa perkara No. : 266/X/ARB-BANI/2007 telah
membacakan Putusannya (Putusan Arbitrase), yang pada pokoknya Termohon (PT.
Persada Sembada) telah cidera janji (Wanprestasi) terhadap akta perjanjian jual beli dan
Termohon dihukum untuk mengembalika seluruh pembayaran sebesar Rp.
24.456.200.000,- dan termohon juga dihhukum untuk membayar bunga sebesar 6%
kepada PT. Peronas Niaga Indonesia.
Bahwa dalam putusan Arbitrase dinyatakan dalam Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah
ditunjuk untuk melaksanakan putusan arbitrase. Bahwa pada hari senin tanggal 17 Juni
2008 Sekretaris Majelis sidang BANI a quo telah menyerahkan dan mendaftarkan Putusan
Arbitrase Nomor : 266/X/ARB-BANI/2007 tanggal 27 Mei 2008 di Kepaniteraan
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, sebagaimana tercatat dalam akta pendaftaran Nomor :
03/WASIT/2008/PN.Jkt.Pst .
Bahwa kemudian pada tanggal 14 Juli 2008 Pemohon telah mengajukan permohonan
pembatalan Putusan Arbitrase Nomor: 266/X/ARB-BANI/2007 di Kepaniteraan
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dengan demikian permohonan ini telah diajukan dalam
kurun waktu 30 hari.

B. Kelebihan Arbitrase ( Penjelasan Umum paragraf 4 UU No. 30/1999)
Pada umumnya lembaga arbitrase mempunyai kelebihan dibandingkan dengan lembaga
peradilan. Kelebihan tersebut antara lain :
a. dijamin kerahasiaan sengketa para pihak ;
b. dapat dihindari kelambatan yang diakibatkan karena hal prosedural dan administratif
;
c. para pihak dapat memilih arbiter yang menurut keyakinannya mempunyai
pengetahuan, pengalaman serta latar belakang yang cukup mengenai masalah yang
disengketakan, jujur dan adil;
d. para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk menyelesaikan masalahnya serta
proses dan tempat penyelenggaraan arbitrase; dan
e. putusan arbiter merupakan putusan yang mengikat para pihak dan dengan melalui
tata cara (prosedur) sederhana saja ataupun langsung dapat dilaksanakan.
C. Analisis
Jika mengenalisa kasus antara PT. Petronas Niaga Indonesia dengan PT. Persada Sembada
yang dikaitkan dengan kelebihan dari arbitrase dibandingkan dengan litigasi maka akan
terlihat banyak keunggulan dari arbitrase tersebut. Dalam huruf a paragraf 4 penjelasan
umum UU No. 30/1999 kelebihan pertama arbitrase adalah dijamin kerahasiaan sengketa
para pihak. Kelebihan pertama ini dapat dilihat dari kasus diatas bahwa persidangan
arbitrase yang dilakukan oleh BANI bersifat tertutup untuk umum (Pasal 27), itu artinya
persidangan hanya dihadiri oleh para pihak dan arbiter, selain itu mungkin hanya saksi dan
saksi ahli yang mana hanya mengikuti sebagian persidangan saja. Kelebihan pertama dari
arbitrase tersebut pun juga dapat dilihat dari Putusan yang oleh BANI tidak
dipublikasikan.
Kelebihan yang kedua berdasarkan paragraf 4 penjelasan umum UU No. 30/1999 adalah
dapat dihindari kelambatan yang diakibatkan karena hal prosedural dan administratif .
dari kasus tersebut dapat dilihat bahwa pada tanggal 9 Oktober 2007 PT. Petronas Niaga
Indonesia telah mengajukan permohonan Arbitrase dan pada tanggal 27 Mei 2008 Majelis
arbitrase telah membacakan putusan arbitrase. Artinya jika dilihat kurang lebih dalam
kurun waktu 7 bulan telah ada putusan dari sengketa tersebut. untuk pemeriksaan saja
dalam pasal 48 UU No. 30/1999 paling lama adalah 180 hari ( 6 bulan), belum ditambah
penunjukkan dan pengangkatan arbiter dan sebagainya. Untuk itu dapat dikatakan dalam
kasus diatas yang diselesaikan dalam waktu 7 bulan telah sesuai dengan UU arbitrase, dan
waktu 7 bulan tersebut relativ singkat dibandingkan jika perkara ini diajukan ke
Pengadilan Negeri yang bisa memakan waktu yang lama.
Kelebihan yang ketiga berdasarkan paragraf 4 penjelasan umum UU No. 30/1999 adalah
para pihak dapat memilih arbiter yang menurut keyakinannya mempunyai pengetahuan,
pengalaman serta latar belakang yang cukup mengenai masalah yang disengketakan, jujur
dan adil. Dalam kasus diatas tidak diketahui dengan jelas bagaimana penunjukkan dan
pemilihan arbiter atau majelis arbiter. Namun jika mengacu pada UU No. 30/1999 dengan
jelas para pihak dapat memilih dan mengajukan siapa arbiternya.(Pasal 12 21)
Kelebihan yang keempat berdasarkan paragraf 4 penjelasan umum UU No. 30/1999
adalah para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk menyelesaikan masalahnya
serta proses dan tempat penyelenggaraan arbitrase . Jika dikaitkan dengan kasus diatas
sudah jelas para pihak dapat menentukan pilihan hukumnya dan tempat penyelenggaraan
arbitrase. Para pihak dalam perjanjiannya telah menyatakan jika terjadi sengketa maka
akan diselesaikan melalui lembaga arbitrase yaitu BANI dan pilihan hukumnya adalah
berdasarkan hukum Indonesia. Dengan dipilihnya BANI sebagai lembaga arbitrase dengan
demikian para pihak juga telah sepakat untuk tempat penyelenggaraab arbitrase yaitu di
Jakarta.
Kelebihan yang kelima berdasarkan paragraf 4 penjelasan umum UU No. 30/1999 adalah
putusan arbiter merupakan putusan yang mengikat para pihak dan dengan melalui tata
cara (prosedur) sederhana saja ataupun langsung dapat dilaksanakan. Jika dikaitkan pada
kasus diatas bahwa dalam putusan Arbitrase dinyatakan dalam Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat telah ditunjuk untuk melaksanakan putusan arbitrase. Dan pada hari senin tanggal 17
Juni 2008 Sekretaris Majelis sidang BANI a quo telah menyerahkan dan mendaftarkan
Putusan Arbitrase Nomor : 266/X/ARB-BANI/2007 tanggal 27 Mei 2008 di Kepaniteraan
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, sebagaimana tercatat dalam akta pendaftaran Nomor :
03/WASIT/2008/PN.Jkt.Pst. maka dengan adanya pendaftaran putusan arbitrase ke
pengadilan negeri maka putusan tersebut akan mutlak mempunyai kekuatan eksekutorial.