Anda di halaman 1dari 20

1

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan referat yang
berjudul Dampak Buruk Asap Rokok
Dalam rangkaian penulisan referat ini penulis menyadari sepenuhnya akan
keterbatasan dan kekurangan yang penulis miliki, referat ini tidak akan selesai tanpa bantuan
dari berbagai pihak yang telah membantu menyelesaikan referat ini. Oleh karena itu, tepatlah
kiranya pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada
Dr. S. Abidin, SpA. selaku dokter dan juga dosen pembimbing dalam penyusunan referat ini.
Tujuan penulisan referat ini adalah untuk memperoleh informasi ilmiah tentang akibat
buruk yang ditimbulkan oleh asap rokok bagi tubuh manusia maupun dewasa, mengingat
jumlah perokok usia muda semakin lama jumlahnya semakin bertambah dan juga mayoritas
warga miskin di Indonesia adalah perokok. Selain itu, pemerintah masih belum peduli
terhadap pengendalian tembakau yang ada di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari Framework
Convention on Tobacco Control (FCTC) yang masih belum ditandatangani pemerintah.
Akhir kata penulis berharap agar referat ini dapat memberikan manfaat bagi semua
pihak dalam memahami efek buruk yang dapat ditimbulkan oleh asap rokok.

Jakarta, September 2014

Penulis





2

DAFTAR ISI
Kata Pengantar . 1
Daftar Isi ... 2
BAB I : Pendahuluan 3
BAB II : Tinjauan Pustaka ... 5
A. Epidimiologi ... 5
B. Mekanisma 6
C. Nikotin .... 7
D. Second-hand smoke 8
E, Efek Kesehatan 9
BAB III : Kesimpulan ... 18
BAB IV : Daftar Pustaka .. 19
Lampiran





3

BAB 1
PENDAHULUAN

Banyak data yang telah dikumpulkan tentang isu tembakau dan kesehatan di seluruh
dunia. Hubungan antara penggunaan tembakau dan kesehatan berasal awalnya dari
pengamatan klinis tentang kanker paru-paru, yaitu penyakit pertama yang secara definitif
terkait dengan penggunaan tembakau. Hampir 35 tahun yang lalu, Kantor Bedah Umum
Dinas Kesehatan Amerika Serikat telah mengkaji lebih dari 7000 makalah penelitian tentang
topik merokok dan kesehatan, dan secara umum mengakui peran merokok dalam berbagai
penyakit, termasuk kanker paru-paru. Sejak itu, banyak penelitian yang memperkuat
hubungan penggunaan tembakau dengan berbagai efek yang merugikan kesehatan manusia
telah diterbitkan. Penelitian yang paling menonjol adalah hubungan merokok dengan kanker
dan penyakit kardiovaskular. Merokok dianggap sebagai faktor risiko utama dalam
perkembangan kanker paru-paru, yang juga merupakan penyebab utama kematian akibat
kanker pada pria dan wanita di Amerika Serikat dan dunia.
6
Sekitar setengah dari semua orang yang merokok secara teratur pada akhirnya akan
terbunuh oleh kebiasaan merokok mereka, dan banyak dari kematian terjadi pada usia
pertengahan. Selain menyebabkan kematian dini, konsumsi tembakau sangat mengurangi
kualitas hidup, dan mempengaruhi keluarga, teman dan kolega, serta perokok sendiri. Tidak
ada tingkat yang aman dari penggunaan tembakau dan merokok adalah sangat adiktif.
Mayoritas perokok dewasa berharap bahwa mereka tidak pernah mulai merokok dan sebagian
besar ingin berhenti merokok. Merokok merugikan tidak hanya perokok, tetapi juga
kesehatan orang di sekitar yang terpapar asap tembakau.
19


Tembakau adalah penyebab tunggal terbesar dari kematian yang dapat dicegah di
seluruh dunia. Penggunaan tembakau paling sering menyebabkan penyakit jantung, hati dan
paru-paru. Merokok menjadi faktor risiko utama untuk serangan jantung, stroke, penyakit
paru obstruktif kronik (PPOK) (termasuk emfisema dan bronkitis kronis), dan kanker
(terutama kanker paru-paru, kanker laring dan mulut, dan kanker pankreas). Hal ini juga
menyebabkan penyakit pembuluh darah perifer dan hipertensi. Efek tergantung berapa tahun
seseorang itu merokok dan berapa banyak orang di lingkungan yang merokok. Mulai
merokok pada usia muda dan merokok rokok yang mengandung tar yang lebih tinggi akan
4

meningkatkan risiko penyakit ini. Asap tembakau lingkungan, atau asap rokok, telah terbukti
menyebabkan efek kesehatan yang merugikan pada orang dari segala usia. Rokok yang dijual
di negara-negara terbelakang cenderung memiliki konten tar yang lebih tinggi, dan cenderung
tidak disaring, serta berpotensi meningkatkan kerentanan terhadap penyakit yang
berhubungan dengan tembakau di wilayah tersebut.
7

World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa tembakau menyebabkan
5,4 juta kematian pada tahun 2004 dan 100 juta kematian selama abad ke-20. Demikian pula,
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan penggunaan tembakau
sebagai risiko paling penting dicegah bagi kesehatan manusia di negara-negara maju dan
penyebab penting kematian dini di seluruh dunia. Beberapa negara telah mengambil langkah-
langkah untuk mengontrol konsumsi tembakau dengan pembatasan penggunaan dan
penjualan serta pesan peringatan dicetak pada kemasan.
7
Beberapa baliho iklan rokok di
Jakarta mulai mencantumkan peringatan Rokok Membunuhmu. Ini merupakan pemanasan
bagi pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan
yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Selain wajib
mencantumkan peringatan dengan porsi 20 persen dari luas bidang kemasan produk,
Permenkes juga melarang perusahaan rokok mencantumkan kata-kata light, ultra light, mild,
extra mild, low tar, slim, special, full flavor, premium atau kata lain yang mengindikasikan
kualitas, superioritas, rasan aman, pencitraan. Pada setiap kemasan produk tembakau juga
dilarang dicantumkan keterangan atau tanda apa pun yang menyesatkan atau kata-kata ynag
bersifat promotif, yang memperdaya seolah-olah produk tembakau memberikan manfaat
untuk kesehatan.
9
Asap rokok mengandung beberapa produk karsinogenik yang mengikat pada DNA
dan menyebabkan mutasi genetik. Ada lebih dari 45 bahan kimia karsinogenik yang diketahui
atau diduga dalam asap rokok. Tembakau juga mengandung nikotin, yang merupakan obat
psikoaktif yang sangat adiktif. Penggunaan tembakau merupakan faktor penting dalam
keguguran dikalangan perokok hamil, dan itu memberikan kontribusi untuk jumlah ancaman
lain terhadap kesehatan janin seperti kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah dan
meningkat sebesar 1,4 sampai 3 kali kesempatan untuk terjadinya Sudden Infant Death
Syndrome (SIDS). Insiden impotensi adalah sekitar 85% lebih tinggi pada pria perokok
dibandingkan non-perokok, dan merupakan faktor kunci penyebab erectile dysfunction
(ED).
7

5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Epidemiologi
World Health Organization (WHO) menyebut enam juta orang meninggal akibat
rokok setiap tahun. Artinya, tiap satu jam, 685 orang meninggal karena rokok. Riset
Kesehatan Dasar 2010 menunjukkan, prevalensi perokok Indonesia saat ini 34,7 persen atau
sekitar 83 juta orang. Kematian akibat tembakau adalah 12,7 persen dari seluruh kematian.
13

Satu dekade terakhir, jumlah perempuan merokok melonjak dari 1 persen menjadi 4
persen. Sementara 64 persen laki-laki merokok. 70 persen kepala rumah tangga dari lapisan
masyarakat miskin merokok. Sebanyak 20 persen pendapatan rumah tangga miskin untuk
konsumsi rokok.
15

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengatakan, jumlah penderita penyakit akibat
konsumsi tembakau naik dari 384.058 orang tahun 2010 menjadi 962.403 orang pada 2013.
Kerugian ekonomi secara makro akibat merokok naik dari Rp 245,4 triliun pada 2010
menjadi Rp 378,7 triliun pada 2013. Kerugian itu terdiri dari pengeluaran rakyat untuk
membeli tembakau (Rp 138 triliun), kehilangan waktu produktif karena kematian premature,
sakit, dan disabilitas (Rp 235,4 triliun), biaya rawat jalan dan rawat inap akibat penyakit
terkait tembakau (Rp 53,5 triliun). Nilai kerugian itu lebih besar dibandingkan pendapatan
cukai rokok yang diterima negara yang hanya sebesar Rp 113 triliun. Cukai itupun
sesungguhnya bukan kontribusi industri rokok pada negara. Cukai dibayar warga yang
membeli rokok. Mayoritas warga miskin di Indonesia adalah perokok dan menjadikan
pemilik industri rokok kaya raya.
8, 10, 11

Pada tahun 2002, China menyumbang 38 persen produksi tembakau dunia, dan telah
meratifikasi FCTC pada 2006. Empat tahun kemudian, produksi tembakau China naik
sehingga menyumbang 42,8 persen dari total produksi tembakau dunia. Begitu juga dengan
India. Negara itu, meratifikasi FCTC pada 2005. Produk tembakau India pada 2010
menyumbang 10,6 persen dari total produksi tembakau dunia, naik dari sebelumnya 9,1
persen pada 2002. Sementara itu, Indonesia yang belum mengaksesi FCTC hanya
menyumbang 1,9 persen dari total produksi tembakau dunia pada 2010. Angka itu turun
dibandingkan kontribusi Indonesia pada produksi tembakau dunia 2002 yang sebesar 2,3
6

persen. Kini, 178 negara sudah menandatangani dan meratifikasi FCTC. Saat ini, 60 persen
tembakau kebutuhan industri rokok harus diimpor dari Turki, Brasil, dan China
12, 14, 15, 16, 17

B. Mekanisma
Benzopyrene diol epoxide, merupakan metabolit benzopyrene yang sangat
karsinogenik, yaitu polycyclic aromatic hydrocarbon yang dihasilkan oleh pembakaran
tembakau. Benzopyrene ialah mutagen utama dalam asap tembakau.
7
Asap, atau sebagian bahan organik yang dibakar, mengandung benzopyrene. Dampak
merokok, seperti kanker paru-paru, bisa memakan waktu hingga 20 tahun untuk muncul.
Asap mengandung beberapa produk pirolitik karsinogenik yang mengikat DNA dan
menyebabkan mutasi genetik. Karsinogen kuat yang utama adalah polycyclic aromatic
hydrocarbon (PAH), yang bersifat toksik terhadap epoxide. PAH pertama yang diidentifikasi
sebagai karsinogen dalam asap tembakau adalah benzopyrene, yang telah terbukti toksik
terhadap epoxide dan secara ireversibel menempel pada DNA nuklir sel, yang mungkin dapat
membunuh sel atau menyebabkan mutasi genetik. Jika mutasi menghambat kematian sel
terprogram (apoptosis), sel dapat bertahan hidup menjadi sel kanker. Demikian pula,
akrolein, yang banyak dalam asap tembakau, juga secara ireversibel mengikat DNA,
menyebabkan mutasi dan juga kanker. Namun, ia tidak perlu diaktivasi untuk menjadi
karsinogenik.
7
Ada lebih dari 19 karsinogen dikenal dalam asap rokok. Berikut ini adalah beberapa
karsinogen yang paling poten:
7
polycyclic aromatic hydrocarbon adalah komponen tar yang dihasilkan oleh pirolisis dalam
membakar bahan organik dan dilepaskan sebagai asap. Beberapa dari PAH ini sudah bersifat
toksik dalam bentuk normal mereka, namun banyak dari PAH ini menjadi lebih toksik dalam
hepar. Karena sifat hidrofobik dari PAH, mereka tidak larut dalam air dan sulit untuk
disingkirkan dari tubuh. Untuk membuat PAH lebih mudah larut dalam air, hepar
memproduksi enzim yang disebut sitokrom P450 yang menambahkan oksigen tambahan pada
PAH, mengubahnya menjadi epoksida mutagenik, yaitu bentuk yang lebih mudah larut, tetapi
juga lebih reaktif.
7

Akrolein adalah produk pirolisis yang banyak dalam asap rokok. Ini memberi merokok bau
tajam dan mengiritasi. Seperti metabolit PAH, akrolein juga merupakan agen alkylating
elektrofilik dan permanen mengikat guanin basa DNA, dengan penambahan konjugat diikuti
oleh siklisasi menjadi hemiaminal. Adisi akrolein-guanin menginduksi mutasi saat menyalin
DNA dan dengan demikian menyebabkan kanker dengan cara yang mirip dengan PAH.
Namun, akrolein adalah 1000 kali lebih banyak daripada PAH di asap rokok, dan mampu
bereaksi, tanpa aktivasi metabolik. Akrolein telah terbukti merupakan mutagen dan
karsinogen dalam sel manusia. Karcinogenitas akrolein sangat sulit untuk dipelajari
menggunakan hewan eksperimen karena memiliki toksisitas yang tinggi sehingga cenderung
untuk membunuh hewan sebelum mereka mengembangkan kanker.
Antara bahan-bahan beracun dalan rokok ialah : kadmium, methanol, polonium-210,
cinnamaldehyde, urea, asetanisol, hidrogen sianida, aseton, geranol, toluene, hidrasin, asam
asetik, naptalin, formalin dan sodium hidroksida.
18

Second-hand smoke, atau asap rokok yang dihembuskan, sangat berbahaya. Karena
asap dihembuskan wujud di suhu lebih rendah dari asap yang dihirup, senyawa kimia
mengalami perubahan yang dapat menyebabkan mereka untuk menjadi lebih berbahaya.
Selain itu, asap mengalami perubahan sesuai waktu, menyebabkan transformasi senyawa NO
ke NO2 yang lebih beracun. Selanjutnya, penguapan menyebabkan partikel asap menjadi
lebih kecil, sehingga lebih mudah masuk jauh ke dalam paru-paru orang yang bernafas udara
tersebut.
7, 18

C. Nikotin
Nikotin yang terkandung dalam rokok dan produk tembakau yang lain adalah
stimulan dan merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan perokok merokok secara
berterusan. Meskipun jumlah nikotin yang diisap dengan asap tembakau cukup kecil
(sebagian besar zat ini hancur karena panas), ianya masih cukup untuk menyebabkan
ketergantungan fisik dan / atau psikologis. Jumlah nikotin yang diserap oleh tubuh selama
merokok tergantung pada banyak faktor, termasuk jenis tembakau, apakah asap yang dihirup,
dan apakah filter yang digunakan.
Menginhalasi suatu senyawa dengan merokok adalah salah satu cara yang paling
cepat dan metode yang efisien untuk memperkenalkan senyawa tersebut ke dalam aliran
8

darah. Rata-rata dibutuhkan sekitar sepuluh detik untuk substansi mencapai otak. Sebagai
hasil dari efisiensi sistem pengiriman ini, banyak perokok merasa seolah-olah mereka tidak
dapat berhenti merokok. Dari mereka yang mencoba berhenti merokok dan berhasil bebas
nikotin selama tiga bula, sebagian besar dapat tetap berhenti merokok selamanya. Ada
kemungkinan timbul depresi pada beberapa orang yang mencoba berhenti merokok, seperti
zat psikoaktif lainnya. Depresi juga sering terjadi pada perokok remaja; remaja yang merokok
empat kali lebih mungkin untuk timbul gejala depresi dibandingkan rekan-rekan mereka yang
tidak merokok.
Nikotin juga memainkan peran dalam beberapa episode akut penyakit (termasuk
stroke, impotensi, dan penyakit jantung) dengan menstimulasi produksi adrenalin, yang
meningkatkan tekanan darah, laju denyut jantung dan laju respirasi, dan asam lemak bebas.
Efek jangka panjang yang paling serius adalah hasil dari produk pembakaran rokok.. Hal ini
menyebabkan timbulnya berbagai sistem pengiriman nikotin, seperti patch nikotin atau
permen karet nikotin, yang dapat memenuhi keinginan adiktif dengan memberikan nikotin
tanpa adanya produk pembakaran yang berbahaya. Hal ini dapat membantu perokok yang
sangat tergantung untuk berhenti secara bertahap, dan menghentikan kerusakan lebih lanjut
terhadap kesehatan.
Nikotin adalah zat kimia psikoaktif yang sangat adiktif. Menurut penelitian oleh
Henningfield dan Benowitz, nikotin lebih adiktif dari ganja, kafein, etanol, kokain, dan
heroin ketika mempertimbangkan baik ketergantungan somatik dan psikologis. Namun,
karena efek penarikan kuat etanol, kokain dan heroin, nikotin mungkin memiliki potensi yang
lebih rendah untuk ketergantungan somatic dari zat ini. Sekitar setengah dari Kanada yang
saat ini merokok telah mencoba untuk berhenti. Kecanduan nikotin dapat terjadi segera
setelah lima bulan merokok. Bukti terbaru menunjukkan bahwa merokok tembakau
meningkatkan pelepasan dopamin di otak, khususnya di jalur mesolimbic.
1, 2, 7, 15

D. Second-hand smoke
Second-hand smoke adalah campuran asap dari ujung rokok yang terbakar dan asap
yang dihembuskan dari paru-paru perokok. Ianya diinhalasi secara tidak sengaja, tetap berada
dalam udara setelah rokok dipadamkan, dan dapat menyebabkan berbagai efek kesehatan
yang merugikan, termasuk kanker, infeksi pernapasan dan asma. Perokok pasif di rumah atau
9

tempat kerja meningkatkan risiko penyakit jantung mereka sekitar 25-30% dan risiko kanker
paru-paru mereka sebesar 20-30%. Second-hand smoke diperkirakan telah menyebabkan
38.000 kematian per tahun, dimana 3.400 adalah kematian akibat kanker paru-paru di
kalangan non-perokok.
Eksposur singkat terhadap second-hand smoke diyakini menyebabkan trombosit darah
menjadi pekat, merusak lapisan pembuluh darah, menurunkan kecepatan aliran darah
koroner, dan mengurangi variabilitas denyut jantung, serta berpotensi meningkatkan risiko
serangan jantung.
5, 6, 7

E. Efek kesehatan
Penggunaan tembakau paling sering menyebabkan penyakit yang mempengaruhi
jantung dan paru-paru dan akan paling sering mempengaruhi daerah seperti tangan atau kaki
dengan tanda-tanda pertama dari masalah kesehatan terkait merokok muncul sebagai mati
rasa. Merokok menjadi faktor risiko utama untuk serangan jantung, penyakit paru obstruktif
kronis (PPOK), emfisema, dan kanker, terutama kanker paru-paru, laring dan mulut, dan
kanker pankreas. Sekitar setengah perokok laki-laki jangka panjang akan mati karena
merokok. Hubungan merokok dengan kanker paru-paru adalah sangat tinggi, baik dalam
persepsi publik ataupun etiologi. Perokok laki-laki mempunyai risiko seumur hidup
terjadinya kanker paru-paru sebanyak 17,2%, dan risiko perokok wanita adalah 11,6%.
Risiko ini secara signifikan lebih rendah pada bukan perokok yaitu 1,3% pada laki-laki dan
1,4% pada wanita. Secara historis, kanker paru-paru dianggap penyakit langka sebelum
Perang Dunia I dan dianggap sebagai sesuatu penyakit yang kebanyakan dokter tidak akan
pernah melihat selama karir mereka.
2, 7, 18


i. Mortalitas
Perokok laki-laki dan wanita kehilangan rata-rata 13,2 dan 14,5 tahun hidup, masing-
masing. Setiap rokok yang dihisap diperkirakan memperpendek umur rata-rata 11 menit.
Menurut hasil studi 50 tahun, dari 34.486 laki-laki, sekitar setengah dari semua perokok
seumur hidup meninggal akibat dari merokok. Perokok tiga kali lipat lebih mungkin
meninggal sebelum usia 60 atau 70 dibandingkan dengan non-perokok. Di Amerika Serikat,
10

merokok dan paparan asap tembakau menyebabkan 443.000 kematian prematur setiap
tahun.
2, 4, 5, 7

ii. Kanker
Risiko utama dari penggunaan tembakau termasuk berbagai bentuk kanker, terutama
kanker paru-paru, kanker ginjal, kanker laring, kanker kandung kemih, kanker esofagus,
kanker pankreas dan kanker usus. Penelitian telah menemukan hubungan antara asap
tembakau, termasuk asap rokok, dan kanker serviks pada wanita. Ada beberapa bukti yang
menunjukkan peningkatan risiko kecil untuk terjadinya leukemia myeloid, kanker sel
skuamosa sinonasal, kanker hati, kanker kolorektal, kanker kandung empedu, kelenjar
adrenal, usus kecil, dan berbagai kanker pada anak. Hubungan antara kanker payudara dan
tembakau masih belum dapat dipastikan. Risiko kematian akibat kanker paru-paru sebelum
usia 85 adalah 22,1% untuk perokok laki-laki dan 11,9% untuk perokok wanita. Risiko
terjadinya kematian akibat kanker paru sebelum usia 85 tahun pada bukan perokok adalah
1,1% untuk laki-laki dan 0,8% untuk wanita.
2, 3, 4, 5, 7


iii. Pulmonal
Dalam merokok, paparan jangka panjang terhadap senyawa yang ditemukan dalam
asap (misalnya, karbon monoksida dan sianida) diyakini bertanggung jawab atas kerusakan
paru dan hilangnya elastisitas di alveoli, menyebabkan emfisema dan PPOK. Penyakit paru
obstruktif kronik (PPOK) yang disebabkan oleh merokok, adalah permanen, tidak dapat
disembuhkan (sering terminal). Pengurangan kapasitas paru ditandai dengan sesak napas,
mengi, batuk terus-menerus dengan dahak, dan kerusakan paru-paru, termasuk emfisema dan
bronkitis kronis. Karsinogen akrolein dan turunannya juga berkontribusi terhadap peradangan
kronis pada PPOK.
2, 3, 4, 5, 7


iv. Kardiovaskular
Menghirup asap tembakau menyebabkan beberapa respon langsung dalam jantung
dan pembuluh darah. Dalam satu menit denyut jantung mulai meningkat sebanyak 30 persen
selama 10 menit pertama dari merokok. Karbon monoksida dalam asap tembakau akan
11

menimbulkan efek negatif dengan mengurangi kemampuan darah untuk membawa oksigen.
Kedua kondisi ini bisa menjadi permanen dengan penggunaan rokok jangka panjang.
Merokok juga meningkatkan kemungkinan penyakit jantung, stroke, aterosklerosis,
dan penyakit pembuluh darah perifer. Beberapa bahan tembakau menyebabkan penyempitan
pembuluh darah, meningkatkan kemungkinan penyumbatan sehingga terjadinya serangan
jantung atau stroke.
Menurut sebuah studi oleh tim peneliti internasional, orang di bawah 40 tahun adalah
lima kali lebih mungkin untuk mengalami serangan jantung jika mereka merokok. Penelitian
terbaru oleh ahli biologi Amerika menunjukkan bahwa asap rokok juga mempengaruhi proses
pembelahan sel pada otot jantung dan mengubah bentuk jantung. Penggunaan tembakau juga
telah dikaitkan dengan penyakit Buerger (thromboangiitis obliterans) peradangan akut dan
trombosis dari arteri dan vena pada tangan dan kaki.
Meskipun merokok menyebabkan peningkatan risiko terjadinya kanker dibandingkan
dengan merokok cerutu, namun perokok cerutu masih memiliki peningkatan risiko untuk
banyak masalah kesehatan, termasuk kanker, bila dibandingkan dengan non-perokok. Untuk
perokok pasif pula, studi NIH menunjukkan satu cerutu akan menghasilkan jumlah asap ynag
besar dan mengatakan "cerutu dapat memberikan kontribusi sejumlah besar asap tembakau ke
dalam ruangan lingkungan hidup dan saat sejumlah besar perokok cerutu berkumpul
bersama-sama dalam acara merokok cerutu, jumlah asap yang dihasilkan cukup untuk
menjadi masalah kesehatan bagi mereka yang bekerja di lingkungan tersebut."
Merokok cenderung meningkatkan kadar kolesterol darah. Selain itu, rasio high-
density lipoprotein dan low-density lipoprotein cenderung lebih rendah pada perokok
dibandingkan dengan non-perokok. Merokok juga meningkatkan jumlah fibrinogen dan
meningkatkan produksi trombosit (keduanya terlibat dalam pembekuan darah) yang membuat
darah menjadi kental. Karbon monoksida mengikat hemoglobin (komponen pembawa
oksigen dalam sel darah merah), menghasilkan kompleks lebih stabil daripada hemoglobin
yang berikatan dengan oksigen atau karbon dioksida. Ini menyebabkan kehilangan
fungsionalitas sel darah yang permanen. Sel darah secara alami mengalami daur ulang setelah
jangka waktu tertentu, memungkinkan untuk penghasilan eritrosit baru dan fungsional.
Namun, jika paparan karbon monoksida mencapai titik tertentu sebelum mereka dapat didaur
ulang, hipoksia (dan kematian yang lebih dini) akan terjadi. Semua faktor ini membuat
12

perokok lebih berisiko mendapat berbagai bentuk arteriosklerosis. Selama arteriosklerosis
berlangsung, darah semakin sulit mengalir melalui pembuluh darah yang kaku dan
menyempit, membuatkan darah lebih berpotensi untuk membentuk sebuah
trombosis(bekuan). Penyumbatan pembuluh darah yang mendadak dapat mengakibatkan
infark (stroke). Merokok juga meningkatkan tekanan darah dan melemahkan pembuluh
darah.
2, 3, 4, 5, 6, 7

v. Ginjal
Selain meningkatkan risiko kanker ginjal, rokok juga dapat berkontribusi terhadap
kerusakan ginjal. Perokok mempunyai risiko yang signifikan untuk terjadinya penyakit ginjal
kronis dibandingkan non-perokok. Adanya riwayat merokok akan mendorong progresivitas
nefropati diabetikum.
2, 7

vi. Influenza
Sebuah studi dari wabah A (H1N1) influenza di unit militer Israel pada 336 laki-laki
muda yang sehat untuk menentukan hubungan kebiasaan merokok dengan kejadian influenza,
mengungkapkan bahwa, dari 168 orang perokok, 68,5 persen memiliki influenza,
dibandingkan dengan 47,2 persen bukan perokok. Influenza juga lebih parah pada perokok;
50,6 persen dari perokok kehilangan hari kerja atau perlu istirahat di tempat tidur, atau
keduanya, dibandingkan dengan 30,1 persen dari bukan perokok.
Menurut sebuah studi dari 1.900 taruna laki-laki setelah epidemi influenza A2 Hong
Kong 1968 di akademi militer Carolina Selatan, dibandingkan dengan bukan perokok,
perokok berat (lebih dari 20 batang per hari) memiliki 21% lebih penyakit dan 20% lebih
istirahat, perokok ringan (kurang dari 20 batang per hari) memiliki 10% lebih penyakit dan
7% lebih istirahat.
Efek merokok pada epidemi influenza dipelajari secara prospektif pada 1.811
perguruan tinggi mahasiswa laki-laki. Kejadian influenza klinis di antara mereka yang sehari-
hari merokok 21 batang rokok atau lebih adalah 21% lebih tinggi dari non-perokok. Kejadian
pada perokok 1 hingga 20 batang rokok setiap hari adalah pertengahan antara non-perokok
dan perokok berat.
13

Pengawasan wabah influenza 1979 di sebuah pangkalan militer bagi perempuan di
Israel mengungkapkan bahwa gejala influenza berkembang pada 60.0% dari perokok saat ini
dibandingkan 41,6% dari bukan perokok.
Merokok tampaknya menyebabkan risiko influenza relatif lebih tinggi pada populasi
yang lebih tua dari pada populasi yang lebih muda. Dalam studi prospektif tahun 1963,
masyarakat yang berusia 60-90 tahun dan tidak diimunisasi, 23% dari perokok memiliki
gejala klinis influenza dibandingkan dengan 6% dari non-perokok.
2, 7

vii. Oral
Kondisi mulut paling serius yang mungkin dapat timbul adalah kanker mulut. Namun,
merokok juga meningkatkan risiko untuk terjadinya berbagai penyakit mulut lain, beberapa
hampir sepenuhnya eksklusif untuk pengguna tembakau. The National Institutes of Health,
melalui National Cancer Institute, menyatakan pada tahun 1998 bahwa "merokok
menyebabkan berbagai kanker termasuk kanker rongga mulut (bibir, lidah, mulut,
tenggorokan), esophagus, laring, dan paru-paru" Merokok melibatkan risiko kesehatan yang
signifikan, terutama kanker mulut. Sekitar setengah dari kasus periodontitis atau radang di
sekitar gigi terjadi pada perokok atau mantan perokok. Sampai dengan 90% dari pasien
periodontitis yang tidak tertolong dengan pengobatan adalah perokok. Merokok telah terbukti
menjadi faktor penting dalam pewarnaan gigi. Halitosis atau mulut berbau adalah umum di
antara perokok tembakau. Kehilangan gigi telah terbukti menjadi 2 sampai 3 kali lebih tinggi
pada perokok dibandingkan bukan perokok. Selain itu, komplikasi lebih lanjut dapat
mencakup leukoplakia dan hilangnya sensasi rasa atau perubahan saliva.
2, 7

viii. Infeksi
Tembakau juga terkait dengan kerentanan terhadap penyakit infeksi, terutama di paru-
paru. Merokok lebih dari 20 rokok sehari meningkatkan risiko dua sampai empat kali, dan
menjadi seorang perokok saat ini telah dikaitkan dengan empat kali lipat peningkatan risiko
penyakit pneumokokus yang invasif. Diyakini bahwa merokok meningkatkan risiko infeksi
saluran paru dan penyakit pernapasan lain baik melalui kerusakan struktural atau melalui efek
pada sistem imunitas tubuh. Efek pada sistem imunitas tubuh termasuk peningkatan produksi
14

sel CD4 + disebabkan nikotin, yang sementara dikaitkan dengan peningkatan kerentanan
terhadap HIV. Penggunaan tembakau juga meningkatkan risiko terjadinya infeksi: rhinitis,
bronkitis, penyakit paru obstruktif kronik, emfisema dan bronkitis kronis.
2, 7

ix. Impotensi
Insiden impotensi adalah sekitar 85 persen lebih tinggi pada perokok laki-laki
dibandingkan non-perokok, dan itu adalah penyebab utama disfungsi ereksi (ED). Merokok
menyebabkan impotensi karena menyebabkan penyempitan arteri.
2, 3, 7


x. Infertilitas pada wanita
Merokok berbahaya bagi ovarium, berpotensi menyebabkan infertilitas pada wanita,
dan tingkat kerusakan tergantung pada jumlah dan lamanya waktu seorang wanita merokok.
Nikotin dan bahan kimia berbahaya lain dalam rokok mengganggu kemampuan tubuh untuk
memproduksi estrogen, hormon yang mengatur folikulogenesis dan ovulasi. Merokok juga
mengganggu folikulogenesis, transportasi embrio, implantasi pada endometrium,
angiogenesis endometrium, aliran darah uterus dan miometrium uterus. Beberapa kerusakan
bersifat ireversibel, tetapi berhenti merokok dapat mencegah kerusakan lebih lanjut. Perokok
60% lebih mungkin untuk menjadi infertile dibandingkan non-perokok. Merokok mengurangi
kemungkinan in vitro fertilization (IVF) dan menghasilkan kelahiran hidup sebesar 34% dan
meningkatkan risiko keguguran pada kehamilan IVF sebesar 30%.
2, 3, 4, 7

xi. Psikologis
Perokok sering melaporkan bahwa rokok membantu meringankan perasaan stres.
Namun, tingkat stres perokok dewasa sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan bukan
perokok, perokok remaja melaporkan peningkatan tingkat stres ketika mereka
mengembangkan pola teratur merokok, dan berhenti merokok menyebabkan stres berkurang.
Ketergantungan nikotin akan memperburuk stres.
2, 7, 15


15

xii. Efek segera
Perokok melaporkan perasaan relaksasi, ketajaman, ketenangan, dan kewaspadaan.
Mereka yang baru mulai merokok mungkin mengalami mual, pusing, tekanan darah
meningkat, pembuluh darah menyempit, dan jantung berdetak cepat. Secara umum, tidak
menyenangkan. Gejala akhirnya akan hilang dari waktu ke waktu, dengan penggunaan
berulang karena tubuh membangun toleransi terhadap bahan kimia dalam rokok, seperti
nikotin.
5, 7


xiii. Stres
Perokok melaporkan tingkat stres yang lebih tinggi sehari-hari. Beberapa studi telah
memantau perasaan stres dari waktu ke waktu dan ditemukan stres berkurang setelah berhenti
merokok. Studi terbaru menunjukkan hubungan positif antara tekanan psikologis dan paparan
asap rokok yang dapat menyebabkan tingkat stres mental yang tinggi.
2, 7
.
xiv. Sosial dan perilaku
Peneliti medis telah menemukan bahwa merokok merupakan prediktor perceraian.
Perokok memiliki probabilitas 53% lebih tinggi dari bukan perokok untuk perceraian.
7


xv. Fungsi kognitif
Penggunaan tembakau juga dapat menyebabkan disfungsi kognitif. Merokok telah
ditemukan untuk berkontribusi terhadap demensia dan penurunan kognitif, mengurangi
memori dan kemampuan kognitif pada remaja, dan penyusutan otak (cerebral atrofi).
Beberapa studi telah menemukan bahwa pasien dengan penyakit Alzheimer lebih
mungkin untuk tidak merokok dibandingkan dengan populasi umum, yang telah ditafsirkan
untuk menunjukkan bahwa merokok menawarkan perlindungan terhadap Alzheimer. Namun,
penelitian di bidang ini terbatas dan hasilnya bertentangan dengan beberapa studi yang
menunjukkan bahwa merokok meningkatkan risiko Alzheimer. Sebuah literatur ilmiah
16

menyimpulkan bahwa penurunan nyata dalam risiko Alzheimer mungkin hanya karena
perokok cenderung meninggal sebelum mencapai usia di mana Alzheimer biasanya terjadi.
Bukti menunjukkan bahwa non-perokok mempunyai risiko dua kali lipat untuk
terkena penyakit Parkinson atau penyakit Alzheimer dibandingkan dengan perokok. Sebuah
penjelasan yang masuk akal untuk kasus ini mungkin efek dari nikotin yaitu stimulan
kolinergik, yang meningkatkan kadar asetilkolin di otak perokok. Penyakit Parkinson terjadi
ketika efek dopamin kurang dari efek asetilkolin. Selain itu, nikotin merangsang jalur
mesolimbik dopamin dan menyebabkan peningkatan dopamin.
Dalam banyak hal, nikotin bertindak pada sistem saraf dalam cara yang mirip dengan
kafein. Beberapa penulisan menyatakan bahwa merokok juga dapat meningkatkan
konsentrasi mental. Kebanyakan perokok, ketika diberi akses ke nikotin, timbul gejala seperti
mudah marah, mulut kering, dan palpitasi. Onset gejala ini sangat cepat karena waktu paruh
nikotin menjadi hanya 2 jam. Gejala penarikan dapat muncul bahkan jika konsumsi rokok
sangat terbatas atau tidak teratur. Ketergantungan psikologis dapat bertahan selama berbulan-
bulan atau bahkan bertahun-tahun.
Sebuah persentase yang sangat besar dari penderita skizofrenia merokok tembakau
sebagai bentuk pengobatan sendiri. Tingginya tingkat penggunaan tembakau oleh sakit
mental merupakan faktor utama harapan hidup mereka menurun, yaitu sekitar 25 tahun lebih
pendek dari populasi umum. Setelah pengamatan bahwa merokok meningkatkan kondisi
penderita skizofrenia, khususnya pada keadaan defisit memori, patch nikotin telah diusulkan
sebagai cara untuk mengobati skizofrenia. Beberapa studi menunjukkan bahwa ada hubungan
antara merokok dan penyakit mental, mengutip tingginya insiden merokok di antara mereka
yang menderita skizofrenia dan kemungkinan bahwa merokok dapat mengurangi beberapa
gejala penyakit mental, tetapi ini belum konklusif. Penelitian terbaru juga telah
menghubungkan merokok dengan gangguan kecemasan.
1, 2, 7

xvi. Kehamilan
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tembakau merupakan faktor
penting dalam keguguran pada perokok hamil. Dan ia memberikan sejumlah kontribusi untuk
ancaman lain terhadap kesehatan janin. Paparan asap tembakau di lingkungan dan ibu yang
merokok selama kehamilan telah terbukti menyebabkan berat bayi lahir rendah. Penelitian
17

menunjukkan hubungan antara paparan pralahir dengan asap tembakau di lingkungan dan
gangguan perilaku pada anak-anak. Selain itu, paparan asap tembakau pasca-persalinan dapat
menyebabkan masalah perilaku yang sama pada anak-anak.
2, 4, 5 7

xvii. Lain-lain
Merokok juga mengurangi nafsu makan, tapi tidak menyimpulkan bahwa orang-orang
berlebihan berat badan harus merokok atau kesehatan mereka akan meningkatkan dengan
merokok. Merokok mengurangi berat badan dengan mengekspresikan gen yang AZGP1 yang
merangsang lipolisis.
Merokok menyebabkan sekitar 10% dari kematian global akibat kebakaran. Merokok
juga meningkatkan risiko gejala yang berhubungan dengan penyakit Crohn (efek tergantung
dosis dengan penggunaan yang lebih dari 15 batang per hari). Penelitian menemukan bahwa
wanita yang merokok meningkatkan risiko terjadinya aneurisma. Selain itu, merokok juga
menyebabkan peningkatan risiko patah tulang, terutama patah tulang pinggul. Hal ini juga
menyebabkan penyembuhan luka operasi yang lebih lambat, dan peningkatan komplikasi
penyembuhan pasca operasi.
1, 2, 7










18


BAB III
KESIMPULAN


Rokok mengandungi kurang lebih 4000 bahan-bahan kimia dan setidaknya 200
diantaranya berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin dan
karbon monoksida.
Asap rokok dapat menyebabkan banyak penyakit, tidak hanya pada perokok aktif
tetapi pada perokok pasif juga. Beberapa penyakit yang berhubungan dengan rokok adalah
kanker paru, pneumonia, infeksi paru, bronkitis dan lain-lain.
Selain menyebabkan dampak buruk terhadap kesehatan, merokok juga menyebabkan
kerugian ekonomi karena 70 % perokok-perokok di Indonesia adalah dari kalangan orang
miskin dan juga meninggalkan dampak buruk terhadap sosial.
Diperlukan juga upaya dari pihak pemerintah dengan melakukan pengendalian rokok
untuk perokok pemula, bukan menyediakan pelayanan terhadap orang yang merokok.









19

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1. Margaret M. Stager. Tobacco. Nelson Textbook of Pediatrics 19th Edition. (2011) p.
679-680
2. U.S. Department of Health and Human Services. The Health Consequences of
Smoking 50 Years of Progress: A Report of the Surgeon General. Atlanta, GA: U.S.
Department of Health and Human Services, Centers for Disease Control and
Prevention, National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion,
Office on Smoking and Health, 2014.
3. How Can Smoking Affect Your Health? http://www.cancer.org/cancer/cancercauses/
tobaccocancer/womenandsmoking/women-and-smoking-health-effects. diakses pada :
2 September 2014.
4. Health Effects of Cigarette Smoking. http://www.cdc.gov/tobacco/data_statistics/
fact_sheets/health_effects/effects_cig_smoking/. diakses pada : 2 September 2014.
5. Health Harms from Smoking and other Tobacco Use. www.tobaccofreekids.org.
diakses pada : 2 September 2014.
6. Sibu PS, DK Bhalla, TF Whayne Jr, CG Giarola. Cigarette smoke and adverse health
effects : An overview of research trends and future needs. Int J Angiol 2007; 16(3):
77-83.
7. Health effects of tobacco. http://en.wikipedia.org/wiki/Health_effects_of_tobacco.
diakses pada : 2 September 2014.
8. Konsumsi Rokok Menambah Beban Ekonomi Nasional. Kompas Edisi 31 Mei 2014.
Hal 14.
9. Rahardi F. Merokok Membunuhmu. Kompas Edisi 29 Maret 2014. Hal 14.
20

10. Adhitya R. Cukai Rokok bagi Kesehatan Rendah. Kompas Edisi 24 Mei 2014. Hal 13.
11. Adhitya R. Kenaikan Cukai Rokok Didorong. Kompas Edisi 23 Mei 2014. Hal 13.
12. Anak-anak Bekerja di Ladang Tembakau. Kompas Edisi 29 Maret 2014.
13. Kompetisi Olahraga Bisa Tanpa Rokok. Kompas Edisi 25 November 2011. Hal 13.
14. RUU Tembakau Ditolak. Kompas Edisi27 Agustus 2014.
15. Nikotin Rokok Memicu Gangguan Jiwa. Kompas Edisi 16 Desember 2013. Hal 13.
16. Pemerintah Tidak Perlu Ragu Aksesi FCTF. Kompas Edisi 30 Mei 2014. Hal 14.
17. Ketakutan Mengaksesi FCTC Semu. Kompas Edisi 6 November 2013.
18. Peringatan Visual Diwajibkan. Kompas Edisi 24 Juni 2014. Hal 14.