Anda di halaman 1dari 9

Tanggal :

ISOLASI SENYAWA KAFEIN DARI DAUN TEH

Kelompok :
1.
2.
3.
4.
5.

Dewi Kartika Sari


Kurnia Afifah
Risa Anggraini
Yohana Rafiqah
Fitri Martina

1. Tujuan
Untuk mengisolasi senyawa kafein dari daun teh.
2. Dasar Teori
Tanaman Teh
Tanaman teh umumnya ditanam

diperkebunan, dipanen secara manual, dan dapat

tumbuh pada ketinggian 200-2.300 m dpl. Teh berasal dari kawasan india bagian Utara dan
Cina Selatan. Ada dua kelompok varietas teh yang terkenal, yaitu Camellia sinensis var.
Assamica yang berasal dari Assam dan camellia sinensis var. Sinensis yang berasal dari cina.
Varietas assamica daunnya agak besar dengan ujung yang runcing, sedangkan varietas
sinensis daunnya lebih kecil dan ujungnya agak tumpul.
Pohon kecil, karena seringnya pemangkasan maka tampak seperti perdu. Bila tidak
dipangkas, akan tumbuh ramping setinggi 5-10 m, dengan bentuk tajuk seperti kerucut.
Batang tegak, berkayu, bercabang-cabang, ujung ranting dan daun muda berambut halus.
Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berseling, helai daun kaku seperti kulit tipis,
bentuknya elips memanjang, ujung dan pangkal runcing, tepi bergerigi halus, pertulangan
menyirip, panjang 6-18 cm, lebar 2-6 cm, warnanya hijau, permukaannya mengkilap. Bunga
di ketiak daun, tunggal atau beberapa bunga bergabung menjadi satu, berkelamin dua, garis
tengah 3-4 cm, warnanya putih cerah dengan kepala sari berwarna kuning, harum. Buahnya
buah kotak, berdinding tebal, pecah menurut ruang, masih muda hijau, setelah tua cokelat
kehitaman. Biji keras, 1-3. Pucuk dan daun muda yang digunakan untuk pembuatan minuman
teh. Perbanyakan dengan biji, setek, sambungan atau cangkokan (Setiawan Dalimartha,
2002).

Komposisi kimia Teh


Teh mengandung sejenis antioksidan yang bernama katekin. Pada daun teh segar, kadar
katekin bisa mencapai 30 % dari berat kering. Teh hijau dan teh putih mengandung katekin
yang tinggi, sedangkan teh hitam mengansung lebih sedikit katekin karena katekin hilang
dalam proses oksidasi. Teh juga mengandung kafein (sekitar 3% dari berat kering atau sekitar
40 mg per cangkir), teofilin dan teobromin dalam jumlah sedikit.
Daun mengandung kafein (2-3%), teobromin, tehofilin, tannin, xantin, adenine, minyak
atsiri, kuersetin, narigenin, natural fluoride.
Tabel kandungan komia dalam 100 g teh
No

Komponen

Jumlah

Kalori

17 kj

Air

75-80%

Polifenol

25%

Karbohidrat

4%

Serat

27%

Pectin

6%

Kafein

2,5-4,5%

Protein

20%

(Setiawan Dalimmartha, 2002)

Kafein

Di alam terdapat beberapa senyawa alakaloid xantin, antara lain 1,3-dimetilsantin


(teopilin), 3,7-dimetilsantin (teobromin) yang banyak terdapat dalam biji cokelat dan 1,3,7trimetilsantin (kafein) dalam kopi dan teh.

1,3,7-Trimetil xantin
C8H10N4O2
Monohidrat

Kafein adalah basa sangat lemah dalam larutan air atau alcohol tidak terbentuk garam
yang stabil. Kafein terdapat sebagai serbuk putih, atau sebagai jarum mengkilap putih, tidak
berbau dan rasanya pahit. Kafein larut dalam air (1:50), alcohol (1:75) atau kloroform (1:6)
tetapi kurang larut dalam eter. Kelarutan naik dalam air panas (1:6 pada 80o) atau alcohol
panas (1:25 pada 60o) (Wilson and Gisvold, 1982).
Kafein merupakan alkaloid yang terdapat dalam teh, kopi, cokelat, kola dan beberapa
minuman penyegar lainnya. Kandungan kafein dalam teh relative berfungsi sebagai stimulant
dan beberapa aktivitas biologi lainnya. Kandungan kafein dalam teh relative lebih besar dari
pada yang terdapat dalam kopi, tetapi pemakaian teh dalam minuman lebih encer
dibandingkan dengan kopi (Sudarmi, 1997).

Sifat Kafein
Kofein berbentuk anhidrat atau hidrat yang mengandung satu molekul air. Mengandung

tidak kurang dari 98,5% dan tidak lebih dari 101,0% C8H10N4O2, dihitung terhadap zat
anhidrat.
Pemerian serbuk putih atau berbentuk jarum mengkilat putih; bisaanya menggumpal;
tidak berbau;rasa pahit. Larutan bersifat netral terhadap kertas lakmus. Bentuk hidratnya
mekar di udara.
Kelarutan agak sukar larut dalam air, dalam etanol; mudah larut dalam kloroform; sukar
larut dalam eter.
Identifikasi
a. Spectrum serapan inframerah zat yang telah dikeringkan dan didispersikan dalam
minyak mineral P menunjukkan maksimum hanya pada panjang gelomnbang yang
sama seperti pada kofein BPFI.
b. Larutan kurang lebih 5 mg dalam 1 ml asam klorida P, uapkan diatas tangas uap
hingga kering. Balikkan cawan di atas bejana berisis beberapa tetes ammonium
hidroksida 6 N: sisa berwarna lembayung yang hilang dengan penambahan larutan
alkali kuat.
Jarak lebur antara 235o dan 237,5o; lakukan penetapan menggunakan zat yang telah
dikeringkan pada suhu 80o selama 4 jam.

Farmakologi Kafein

Kafein merupakan perangsang susunan saraf pusat dapat menimbulkan diuresis,


merangsang otot jantung dan melemaskan otot polos bronchus. Secara klinis bisaanya
digunakan berdasarkan khasiat sentralnya, merangsang semua susunan saraf pusat mula-mula

korteks kemudian batang otak, sedangkan medulla spinalis hanya merangsang dengan dosis
besar (Sudarmi, 1997).
Dalam dosis standar antara 50-200 mg. kafein utamanya mempengaruhi lapisan luar otak.
Pengaruh ini bisa mengurangi kelelahan. Dalam dosis yang lebih besar, pusat vasomotor dan
pernafasan terpengaruh. Fakta menunjukkan hal ini pun tidak mempengaruhi tekanan darah
karena pembuluh darah jantung dan pembuluh darah yang ada di kulit dan ginjal terbuka
secara stimultan.
Tekanan darah tinggi hanya disebabkan oleh konsumsi dengan dosis yang sangat tinggi.
Dosis yang berlebihan menyebabkan rasa gelisah, pikiran tidak tenang dan detak jantung
yang tidak normal. Keracunan yang semata-mata disebabkan oelh kafein sangat jarang
terjadi. Tetapi, rangkaian medis telah membenarkan behead berarti bahwa mengkonsumsi
sekitar 80 cangkir kopi atau 140 cangkir teh dalam waktu yang sangat singkat (seketika)
dapat menyebabkan kematian.
Selama masa hamil, jika terlalu sering overdosis kafein, lebih dari 600 mg perhari, bisa
berakibat gugurnya kandungan. Tetapi, jumlah kafein yang setara dengan angka diatas maka
harus mengkonsumsi teh sidikit 14 cangkir setiap hari dengan kandungan kafein setinggi
mungkin (Stepen Fulder, 2004).

Ekstraksi
Ekstraksi merupakan suatu metode pemisahan kimia yang paling lama. Penyediaan

secangkir kopi atau teh termasuk rasa dari ekstraksi dan komponen bau dari masalah bahan
kering dengan air panas. Demikian juga dengan bahan-bahan wewangian dan banyak obat
diisolasi secara ekstraksi dengan menggunakan pelarut organic.
Pelarut yang digunakan untuk ekstraksi sebaiknya memiliki banyak sifat pengekstraksian
yang memuaskan. Pelarut yang digunakan sebaikknya tidak memecah substansi yang akan
diekstraksi, memiliki titik didih yang rendah sehingga mudah dihilangkan, tidak bereaksi
dengan pelarut, tidak mudah terbakar dan berbahaya, dan relative tidak mahal (Fieser
Wiliamson, 1983).
1) Refluks
Refluks merupakan ekstraksi dengan pelarut pada temperature titik didihnya, selama
waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relative konstan dengan adanya pendingin
balik. Umunya dilakukan pengulangan proses pada residu pertama sampai 2-3 kali sehingga
dapat termasuk proses ekstraksi sempurna. Tujuan dilakukan pengulangan untuk mengetahui
kapan ekstraksi dihentikan yaitu dengan melihat pelarut yang sudah jernih saat ekstraksi

dilakukan pada residu yang pertama. Refluks juga bisaa dikenal sebagai penyarian
berkesinambungan karena proses pengulangan tadi.
Prinsip dari metode refluks adalah pelarut volatile yang digunakan akan menguap pada
suhu tinggi, namun akan didinginkan dengan kondensor sehingga pelarut yang tadinya dalam
bentuk uap akan mengembun pada kondensor, lalu turun lagi ke dalam wadah reaksi
melewati bahan yang akan diekstrak sehingga pelarut akan tetap ada selama reaksi
berlangsung.
Kelebihan metode refluks

: dapat digunakan untuk zat yang tahan panas

Kekurangan metode refluks

: memerlukan pelarut yang cukup banyak

2) Evaporasi
Rotary vakum evaporator adalah instrument yang menggunakan prinsip destilasi. Prinsip
utama dalam instrument ini terletak pada penurunan tekanan pada labu alas bulat dan
pemutaran labu alas bulat hingga berguna agar pelarut dapat menguap lebih cepat dibawah
titik didihnya. Teknik yang digunakan dalam rotary vekum evaporator ini bukan hanya
terletak pada pemanasannya tapi dengan menurunkan tekanan pada labu alas bulat dan
memutar labu alas bulat dengan kecepatan tertentu. Karena teknik itulah, sehingga suatu
pelarut akan menguap dan senyawa yang larut dalam pelarut tersebut tidak ikut menguap
namun mengendap. Dan dengan pemanasan dibawah titik didih pelarut, sehingga senyawa
yang terkandung dalam pelarut tidak rusak oleh suhu tinggi.
3) Pemisahan/Ekstraksi cair-cair
Metode dasar pada ekstraksi cair-cair adalah ekstraksi bertahap, ekstraksi kontinyu.
Ekstraksi bertahap merupakan cara yang paling sederhana. Caranya cukup dengan
menambahkan pelarut pengekstraksi yang tidak bercampur dengan pelarut semula kemudian
dilakukan pengocokan sehingga terjadi kesetimbangan konsentrasi yang akan diekstraksi
pada dua lapisan, setelah ini tercapai lapisan didiamkan dan dipisahkan.
Kesempurnaan ekstraksi tergantung pada banyaknya ekstraksi yang dilakukan. Hasil yang
baik diperoleh jika jumlah ekstraksi yang dilakukan berulang kali dengan jumlah pelarut
sedikit-sedikit. Ekstraksi ini merupakan metode yang baik dan popular, alas an utamanya
adalah bahwa pemisahan ini dapat dilakukan dalam tingkat mekro maupun mikro dan tidak
memerlukan alat yang khusus atau canggih kecuali corong pisah (Khopkar, S.M, 2002).
Prinsip metode ini didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan perbandingan tertentu
antara dua pelarut yang tidak saling bercampur seperti benzene, karbon tetraklorida aatau
kloroform. Batasannya, adalah zat terlarut yang dapat ditransfer pada jumlah yang berbeda
dalam kedua fase pelarut (Underwood, 1992).

Kristalisasi

Kristalisasi adalah larutan pekat yang didinginkan sehingga zat terlarut mengkristal. Hal itu
terjadi karena kelarutan berkurang ketika suhu diturunkan. Apabila larutan tidak cukup pekat,
dapat dipekatkan lebih dahulu dengan jalan penguapan, kemudian dilanjutkan dengan
pendinginan melalui kristalisasi diperoleh zat padat yang lebih murni karena komponen
larutan yang lainnya yang kadarnya lebih kecil tidak ikut mengkristal. Pembentukan Kristal
digunakan dalam teknik untuk memperoleh suatu bahan murni dari suatu campuran. Kristal
juga dapat terbentuk bila uap dari partikel yang sedang mengalami sublimasi menjadi dingin.
Selama proses kristalisasi hanya partikel murni yang dapat mengkristal. Sublimasi sendiri
didefinisikan sebagai salah atu perubahan wujud yang dapat digunakan untuk pemisahan
campuran yaitu perubahan wujud zat dari padat menjadi gas atau sebaliknya. Bila partikel
penyususn suatu zat padat diberikan kenaikan suhu sebesar tertentu, maka partikel tersebut
akan menyublim menjadi gas. Sebaliknya, bila gas tersebut diturunkan, maka gas akan segera
berubah wujudnya menjadi padat.

3. Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan untuk membuat serbuk teh diantaranya blender dan mesh atau
ayakan. Alat yang digunakan untuk mengekstraksi teh dan pemurnian ekstrak dari teh yaitu
seperangkat alat refluks, kompor listrik, tehrmometer dan gelas ukur 100 ml, corong Buchner,
kertas saring, beaker glass, evaporator, cawan penguap dan alumunium foil, lemari
pendingin/freezer, corong, kaki tiga dan lampu spiritus. Bahan-bahan yang digunakan antara
lain serbuk teh, air panas, kapas dan CaCO3.
4. Prosedur Kerja
1. Pembuatan serbuk teh dan ekstraksi serbuk teh
1) Teh yang kering dihaluskan dengan menggunakan blender, kemudian
2) Disaring serbuk menggunakan ayakan
3) Ditimbang serbuk teh sebanyak 30 g
4) Masukkan ke dalam labu dasar alat refluks yang telah dipersiapkan
5) Buat pelarut etanol sebanyak 300 ml
6) Masukkan pelarut ke dalam labu dasar bulat
7) Ekstraksi sampai titik didih pelarut 100o selama 3 jam
8) Setelah ekstraksi selesai dilakukan, tunggu dingin kemudian pisahkan serbuk yang
diekstraksi dari pelarut dengan cara disaring menggunakan corong Buchner, ambil
ekstrak dengan pelarutnya kemudian
9) Masukkan 1,5 g serbuk CaCO3 dan aduk
10) Diamkan sampai memisah antara endapan ekstrak bening

11) Kemudian pisahkan, ambil ekstrak bening yang terbebas dari endapan kapur
12) Hasil penyaringan dipekatkan menggunakan rotary evaporator
13) Hasil yang didapatkan dari evaporasi di tuang di cawan petri dan ditutup menggunakan
alumunium foil kemudian direkristalisasi
2. Pemurnian ekstrak kafein teh
1) Hasil dari evaporasi yang ditutup alumunium foil dimasukkan ke dalam lemari
pendingin/Freezer sampai terbentuk Kristal padat
2) Padatan yang terbentuk dari hasil kristalisasi kemudian
3) Di rekristalisasi dengan cara disublimasi
4) Pertama disiapkan corong yang didalamnya dibungkus kertas saring,
5) Siapkan juga kawat kasa, kaki tiga dan lampu spiritus
6) Letakkan Kristal yang terbentuk dalam cawan penguap di atas kaki tiga
7) Tutup cawan dengan corong yang telah dibungkus kertas saring, dan
8) Siapkan kapas yang telah dibasahi dengan air dingin
9) Letakkan kapas disamping dinding-dinding corong
10) Lakukan sublumasi sampai terbentuk Kristal kafein.

5. Skema Kerja
Pembuatan Serbuk Teh

Teh

Dihaluskan
(diblender)

Ditimbang 15 g

Ekstraksi

15 g serbuk

Masukkan ke dalam labu dasar refluks +


air panas sebanyak 300 ml

Ekstraksi sampai 3 jam


dengan suhu 100o

Disaring (Corong
buchner)

Ampas

Filtrate
Hasil + 1,5 g CaCO3
aduk ada endapan

Dibuang
Saring

Uapkan menggunakan
evaporator

Hasil direkristalisasi
dengan cara disublimasi

Hasil evaporasi didiamkan


dalam almari es sampai
terbentuk kristal

6. Hasil Pengamatan
7. Pembahasan
8. Kesimpulan