Anda di halaman 1dari 14

I.

KASUS JABATAN RANGKAP (PERKARA NO. 05/KPPU-L/2002)


Dalam perkara ini, KPPU telah melakukan pemeriksaan dugaan

pelanggaran terhadap Pasal 14 (Integrasi vertikal), Pasal 15 (Perjanjian Tertutup),


Pasal 17 (Monopoli), Pasal 18 (Monopsoni), Pasal 19 huruf d (Diskriminasi),
Pasal 25 (Penyalahgunaan Posisi Dominan), Pasal 26 (Jabatan Rangkap), Pasal 27
(Pemilikan Saham), dan Pasal 28 (Pengambilalihan Saham) UU No. 5/1999
terkait dengan jasa pendistribusian dan penayangan film impor MPA (Motion
Picture Association) di bioskop Indonesia yang diduga dilakukan oleh:
1. Terlapor I, PT Camila Internusa Film
2. Terlapor II, PT Satrya Perkasa Esthetika Film
3. Terlapor III, PT Nusantara Sejahtera Raya
Terlapor I, PT Camila Internusa Film dan Terlapor II, PT Satrya Perkasa
Esthetika Film adalah perusahaan importir dan distributor film MPA, sedangkan
PT Nusantara Sejahtera Raya merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang
perbioskopan (pemilik bioskop-bioskop yang tergabung dalam Group 21). Ketiga
perusahaan ini merupakan perusahaan swasta nasional dimana kegiatan usaha
Terlapor I dan Terlapor II berada dalam pasar bersangkutan yang sama dan
memiliki keterkaitan yang erat dalam bidang dan atau jenis usaha perfilman
dengan Terlapor III.
Bahwa susunan pemegang saham, Direksi dan Komisaris ketiga Terlapor tersebut
pada saat perkara diperiksa adalah sebagai berikut:
a. Terlapor I, PT Camila Internusa Film dimiliki oleh pemegang saham yaitu
Sunaryo (50%) dan Sularno (50%), dengan susunan kepengurusan yaitu
Harris Lasmana (Direktur Utama), Sunaryo (Direktur), Sularno (Direktur),
Prapti Rahayu (Komisaris).
b. Terlapor II, PT Satrya Perkasa Esthetika Film dimiliki oleh pemegang saham
yaitu Jimmy Herjanto Darmasasmita (50%) dan Ruben Muljadi (50%),
dengan susunan kepengurusan Jimmy Herjanto Darmasasmita (Direktur
Utama), Prapti Rahayu (Direktur), Arief Purnama (Komisaris Utama), Ruben
Muljadi (Komisaris).

c. Terlapor III, PT Nusantara Sejahtera Raya dimiliki oleh pemegang saham


yaitu PT Harkatjaya Bumipersada (80%) dan PT Adi Pratama Nusantara
(20%), dengan susunan pengurus Harris Lasmana (Direktur Utama), Suryo
Suherman (Direktur), Tri Rudy Anitio (Direktur), Lakshmi Harris Lasmana
(Komisaris Utama), Melia Suherman (Komisaris) dan Arif Suherman
(Komisaris). Selain itu Terlapor III juga merupakan pemilik saham mayoritas
di 8 (delapan) perusahaan perbioskopan, termasuk di PT Intra Mandiri (98%)
dan PT Wedu Mitra (70%).
Selain berdasarkan susunan kepengurusan ketiga Terlapor tersebut, KPPU
juga menemukan fakta bahwa Harris Lasmana menjabat sebagai Direktur Utama
pada PT Camila Internusa Film (Terlapor I), Direktur Utama pada PT Nusantara
Sejahtera Raya (Terlapor III), Direktur Utama pada 2 (dua) perusahaan bioskop
Group 21, dan Komisaris Utama sebuah perusahaan distributor film yaitu PT Indo
Ika Mandiri.
Selain itu, pada saat yang bersamaan, Harris Lasmana juga menjabat
sebagai Komisaris di 2 (dua) perusahaan bioskop Group 21 dan Direktur di 8
(delapan) perusahaan perusahaan bioskop Group 21. Perusahaan bioskop Group
21 tersebut merupakan anak perusahaan PT Nusantara Sejahtera Raya (Terlapor
III). Sementara Suryo Suherman menjabat sebagai Direktur pada PT Nusantara
Sejahtera Raya (Terlapor III) dan pada saat yang sama juga menjabat sebagai
Komisaris Utama di 9 (sembilan) perusahaan bioskop Group 21 milik PT
Nusantara Sejahtera Raya (Terlapor III). Disamping itu, Jimmy Herjanto
Darmasasmita yang merupakan Direktur Utama PT Satrya Perkasa Esthetika Film
(Terlapor II), juga menjabat sebagai Direktur Utama di 2 (dua) perusahaan
bioskop Group 21 dan Direktur di 6 (enam) perusahaan bioskop Group 21 yang
notabene adalah anak perusahaan PT Nusantara Sejahtera Raya (Terlapor III).
Selain ketiga orang tersebut, jabatan rangkap juga dilakukan oleh Prapti
Rahayu yang menjabat sebagai Komisaris Utama pada PT Camila Internusa Film
(Terlapor I) dan sebagai Direktur pada PT Satrya Perkasa Esthetika Film
(Terlapor II). Namun jabatan rangkap yang dilakukan oleh Prapti Rahayu tidak
dipertimbangkan di dalam Putusan.

Bahwa pada saat proses pemeriksaan masih berlangsung, dikemukakan


fakta bahwa Harris Lasmana dan Suryo Suherman masing-masing mengundurkan
diri dari jabatan Direksi dan Komisaris di beberapa perusahaan yang memiliki
keterkaitan erat dalam bidang pendistribusian dan penayangan film.
Dari kedua perusahaan bioskop Group 21, Harris Lasmana mengundurkan
diri dari jabatan Komisaris dan dari 8 (delapan) perusahaan perusahaan bioskop
Group 21, Harris Lasmana mengundurkan diri dari jabatan Direktur di 4 (empat)
perusahaan diantaranya. Ia pun mengundurkan diri dari jabatannya sebagai
Komisaris Utama di PT Indo Ika Mandiri.
Sedangkan dari 9 (sembilan) perusahaan bioskop Group 21 milik PT
Nusantara Sejahtera Raya (Terlapor III), Suryo Suherman mengundurkan diri dari
jabatannya sebagai Komisaris Utama di 4 (empat) perusahaan bioskop Group 21.
Majelis Komisi yang memutus perkara ini menilai bahwa tindakan tersebut patut
dicatat sebagai suatu itikad baik untuk mengurangi potensi penyalahgunaan
perangkapan jabatan.
Namun demikian, tindakan pengunduran diri tersebut masih dalam lingkup
jabatan Direksi dan Komisaris di anak-anak perusahaan bioskop Group 21 yang
dimiliki oleh PT Nusantara Sejahtera Raya (Terlapor III) saja. Dalam
kenyataannya, Harris Lasmana dan Suryo Suherman masih memiliki jabatan
rangkap di beberapa anak perusahaan bioskop Group 21 lainnya. Selain itu, tidak
ada fakta yang menunjukan adanya pengunduran diri dari posisi jabatan rangkap
yang dilakukan oleh Harris Lasmana yang menjabat baik sebagai Direktur Utama
pada PT Camila Internusa Film (Terlapor I) maupun Direktur Utama PT
Nusantara Sejahtera Raya (Terlapor III). Demikian pula halnya dengan Jimmy
Herjanto Darmasasmita yang tetap menjabat sebagai Direktur Utama PT Satrya
Perkasa Esthetika Film (Terlapor II) dan Direktur Utama 2 (dua) perusahaan
bioskop Group 21 dan Direktur di 6 (enam) perusahaan bioskop Group 21 milik
PT Nusantara Sejahtera Raya (Terlapor III). Disamping itu Prapti Rahayu pada
saat perkara ini diputus tetap menjabat sebagai Komisaris Utama pada PT Camila
Internusa Film (Terlapor I) dan sebagai Direktur pada PT Satrya Perkasa
Esthetika Film (Terlapor II).

Dalam Putusannya, KPPU menyatakan, bahwa Harris Lasmana dan Suryo


Suherman menduduki jabatan rangkap pada jabatan-jabatan strategis di beberapa
perusahaan importir film dan atau perusahaan bioskop yang hal ini berpotensi
besar untuk timbulnya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.
Namun demikian, sampai dengan berakhirnya periode pemeriksaan, Majelis
Komisi belum menemukan cukup bukti untuk menyatakan perangkapan jabatan
tersebut mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan persaingan tidak sehat
sebagaimana dimaksud Pasal 26 UU No. 5 Tahun 1999.
Mengingat pembuktian Pasal 26 UU No. 5/1999 menggunakan pendekatan
Rule of Reason, untuk menyatakan Terlapor melanggar pasal tersebut harus
dibuktikan terlebih dahulu apakah tindakan tersebut dapat mengakibatkan
terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha yang tidak sehat yang
dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat
persaingan usaha. Pembuktian yang sama juga dilakukan terhadap 7 (tujuh) pasal
lainnya, dimana Majelis Komisi berkesimpulan unsur dapat mengakibatkan
terjadinya praktek monopoli dan persaingan tidak sehat tersebut tidak terpenuhi.
Dengan demikian, Majelis Komisi tidak mengenakan sanksi terhadap para
Terlapor untuk pelanggaran terhadap 8 (delapan) pasal yang dituduhkan termasuk
Pasal 26 mengenai Jabatan Rangkap.
Dalam Putusan Perkara hari Selasa, 1 April 2003, Majelis Komisi
memutuskan bahwa Terlapor I, Terlapor II dan Terlapor III tidak terbukti
melanggar ketentuan Pasal 14 (Integrasi vertikal), Pasal 15 (Perjanjian Tertutup),
Pasal 17 (Monopoli), Pasal 18 (Monopsoni), Pasal 19 huruf d (Diskriminasi),
Pasal 25 (Penyalahgunaan Posisi Dominan), Pasal 26 (Jabatan Rangkap), dan
Pasal 28 (Pengambilalihan Saham) UU No. 5/1999. Namun Majelis Komisi
memutuskan Terlapor III terbukti melanggar ketentuan Pasal 27 UU No. 5/1999
(Pemilikan Saham) dan diperintahkan untuk mengurangi kepemilikan sahamnya
di PT Intra Mandiri dan atau PT Wedu Mira dalam waktu 48 (empat puluh
delapan) hari. Jika tidak, maka Terlapor III akan dikenakan hukuman denda
sebesar Rp 1 Milyar yang disertai dengan denda keterlambatan.

II.

KASUS PENYALAHGUNAAN POSISI DOMINAN


(PERKARA NO. 02/KPPU-L/2005)
Di dalam Pasal 25 Undang-undang No. 5 Tahun 1999 terdapat pengaturan

tentang posisi dominan. Peraturan ini melarang menggunakan posisi dominan,


baik langsung maupun tidak langsung untuk menetapkan syarat-syarat
perdagangan. Dominasi tidak disalahkan kalau seandainya tidak membebani.
Monopoli boleh asal tidak jadi beban. Jadi, posisi dominan dalam hal ini adalah
adanya persyaratan perdagangan, apa-apa yang boleh dan tidak boleh.
Dalam kasus ini, PT Carrefour Indonesia melakukan kegiatan yang dilihat
Komisi Pengawas Persaingan Usaha bermasalah. PT Carrefour Indonesia menurut
Komisi Pengawas Persaingan Usaha membebani para pemasok dan pedagang
kecil dengan syarat perdagangan yang tinggi. Hal ini diikuti dengan PT Carrefour
Indonesia mendapat untung yang besar, tetapi para pemasok dan para pelaku retail
modern yang berhubungan dengan PT Carrefour Indonesia tidak ikut menikmati
keuntungan tersebut. Dengan aktivitas seperti itu, dikhawatirkan PT Carrefour
Indonesia akan menguasai seluruh pangsa pasar retail modern.
Jika memang PT Carrefour Indonesia tidak melakukan monopoli, maka
seharusnya produk PT Carrefour Indonesia dan pesaing-pesaingnya homogen dan
tidak dapat menetapkan harga. Disini, PT Carrefour Indonesia jelas dapat
mempermainkan harga. Dengan modal yang besar, PT Carrefour Indonesia dapat
menarik konsumen dengan permainan harga yang PT Carrefour Indonesia
lakukan.
Sedangkan dari hubungan PT Carrefour Indonesia dengan pemasok,
Komisi Pengawas Persaingan Usaha melihat masalah dengan konsep upstream
dan downstream. Tapi, ketika timbul pernyataan bahwa Komisi Pengawas
Persaingan Usaha menemukan pangsa pasar ritel modern yang dikuasai
perusahaan asal Perancis itu di sisi hulu (penguasaan terhadap pemasok) sudah
melampaui 60 persen sedangkan di sisi hilir (antara hipermarket dan supermarket)
melampaui 40 persen, PT Carrefour Indonesia mengaku hanya menguasai tujuh
persen pangsa pasar ritel di Indonesia. Hal ini agaknya rancu untuk dibuktikan,
mengingat kedua badan tersebut merupakan badan yang professional, maka tidak

mungkin mengeluarkan pernyataan yang tidak mempunyai dasar dan kredibilitas.


Komisi Pengawas Persaingan Usaha menciptakan teori seolah-olah PT Carrefour
Indonesia adalah produsen yang menjual jasa kepada pemasok. Dalam hubungan
dengan pemasok justru PT Carrefour Indonesia adalah pembeli barang. PT
Carrefour Indonesia membeli barang dari pemasok. Yang diributkan Komisi
Pengawas Persaingan Usaha tidak masuk akal. Tidak mungkin 60 persen pemasok
penjualannya didapat dari PT Carrefour Indonesia. PT Carrefour Indonesia
memiliki sekitar 4.000 pemasok dan 70 persennya adalah usaha kecil menengah.
Sedangkan persyaratan dagang (trading term) adalah hasil negosiasi, kontrak jualbeli.
PT Carrefour Indonesia juga dapat mempengaruhi harga produk mereka.
Hal ini dikarenakan PT Carrefour Indonesia menekan pemasok, dengan begitu, PT
Carrefour Indonesia mendapat produk dengan harga yang memadai dan kemudian
menjualnya ke konsumen dengan harga sesuai kehendak mereka.
Selain itu, para pemasok juga melaporkan tentang adanya dugaan PT
Carrefour Indonesia menjual barang secara mahal serta biaya dan syarat
perdagangan yang memberatkan. Jadi, selain meningkatnya pangsa pasar PT
Carrefour Indonesia dalam bisnis ritel nasional, akuisisi PT Carrefour Indonesia
terhadap PT. Alfa Retailindo juga mengakibatkan meningkatkan biaya syarat
perdagangan yang harus ditanggung pemasoknya. Komisi Pengawas Persaingan
Usaha juga telah melakukan dua kajian pangsa pasar PT Carrefour Indonesia di
sektor hulu (dengan pemasoknya) dan sektor hilir (dengan pesaingnya). Komisi
Pengawas Persaingan Usaha menemukan bukti awal, pasca akuisisi PT. Alfa
Retailindo, pangsa pasar PT Carrefour Indonesia di sisi hulu naik dari 44,75
persen menjadi 66,73 persen. Sedangkan di sisi hilirnya naik dari 37,98 persen
menjadi 48,38 persen.
Pangsa pasar inilah yang jadi dalih bahwa PT Carrefour Indonesia telah
diduga melanggar Pasal 17 ayat 1 dan Pasal 25 ayat 1 huruf a. Pasal 17 tentang
larangan melakukan monopoli yaitu menguasai lebih dari 50 persen pangsa pasar
satu jenis barang atau jasa tertentu, sedangkan pasal 25 tentang penyalahgunaan
posisi dominan yang bisa merugikan konsumen dan menghalangi pelaku usaha

lain masuk ke pasar serupa. Sampai sejauh ini PT Carrefour Indonesia membantah
tudingan monopoli dan menyebut hanya menguasai kurang dari tujuh persen
pangsa pasar dari total ritel Indonesia. Sedangkan terkait masalah syarat
perdagangan, PT Carrefour Indonesia mengaku telah mengacu pada semua aturan
hukum yang berlaku di Indonesia. Menurut PT Carrefour Indonesia, perjanjian
dengan pemasok termasuk syarat perdagangan telah disepakati oleh kedua pihak.
Dalam perkara ini, memang terdapat beda pendapat antara Komisi Pengawas
Persaingan Usaha dan PT Carrefour Indonesia. Setidaknya, peritel ini
mempermasalahkan beberapa poin kesalahan yang dituduhkan kepadanya.
Terkait dengan relavan market, menurutnya, Komisi Pengawas Persaingan Usaha
mau menelusuri praktik monopoli PT Carrefour Indonesia dari supermarket dan
hipermarket. Padahal, berdasarkan Perpres No.112 Tahun 2007 tentang Penataan
dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern, pasar
modern dikategorikan menjadi lima, antara lain supermarket, hypermarket,
department store, minimarket dan pusat perkulakan. Sedangkan Komisi Pengawas
Persaingan Usaha menyoroti monopoli PT Carrefour Indonesia dari pertarungan
sembilan ritel modern, yakni PT. Carrefour Indonesia, Matahari dan Hypermart,
Hero dan Giant, PT. Alfa Retailindo, Lion Superindo, Yaohan, Sogo, Metro,
Grand Lucky dan Lucky. Menurut Carrefour, terdapat inkonsistensi lembaga
persaingan usaha itu. Pasalnya, Sogo dan Metro bukanlah tergolong pada
supermarket dan hypermarket, melainkan department store. Peritel yang beromzet
Rp10 triliun sepanjang tahun lalu itu memang membenarkan adanya pendapatan
lain yang diperolehnya. Pendapatan itu bukanlah berasal dari penjualan,
melainkan berasal dari sixth area, misalnya, dari kartu kredit dan kerja sama
dengan perusahaan asuransi dan perbankan. Satu yang menjadi permasalahan
paling fundamental antara kedua pihak adalah perbedaan pandangan mengenai
pangsa pasar. Meski dugaan monopoli terjadi akibat akuisisi PT Carrefour
Indonesia terhadap PT. Alfa Retailindo, namun gerakan Komisi Pengawas
Persaingan Usaha ini memang terkesan ingin menghambat laju Carrefour yang
kian ugal-ugalan dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha tidak menutup

kemungkinan menghentikan pemeriksaan perkara terhadap PT Carrefour


Indonesia.
Jika Komisi Pengawas Persaingan Usaha mendapatkan bukti baru dan
mempermasalahkan tentang penjualan produk PT Carrefour Indonesia kepada
kosumen, Komisi Pengawas Persaingan Usaha dapat membujuk pemerintaah dan
pemerintah dapat menerapkan pajak lump-sum dan pajak per unit kepada PT
Carrefour Indonesia. Pajak lump-sum adalah pajak izin usaha ataupun pajak pajak
keuntungan yang dapat digunakan pemerintah untuk dapat mengurangi atau
bahkan menghilangkan keuntungan PT Carrefour Indonesia tanpa mepengaruhi
harga komoditi. Sedangkan pajak perunit adalah biaya variable yang dikenakan
kepada monopolis, akan tetapi, pajak per unit mempunyai kelemahan, yaitu
monopolis dapat mengalihkan beban pajak perunit kepada para konsumen, dalam
bentuk harga yang lebih tinggi. Sebenarnya, konsumen akan lebih untung jika
monopolis yang mengendalikan harga. Konsumen dapat membeli output yang
lebih besar dan harga yang lebih rendah daripada dengan pemerintah
mengendalikan monopolis memakai pajak lump-sum dan pajak perunit.
Dalam kasus PT. Carrefour Indonesia, yang menurut KPPU menguasai
pangsa pasar lebih dari 60 persen, menimbulkan pertanyaan apakah sebenarnya
KPPU yang tidak adil dalam menentukan apakah PT. Carrefour Indonesia yang
bersalah dalam dugaan melakukan persaingan usaha yang tidak sehat, atau PT.
Carrefour Indonesia yang memang membandel dalam kegiatannya yang
berhubungan dengan pemasok. Dapat juga terjadi bahwa kedua pihak tersebut
sama-sama melakukan kesalahan, tapi tidak mau mengakuinya.
Dari analisa tersebut di atas sudah lah jelas bahwa PT. Carrefour Indonesia
memiliki kecenderungan melakukan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat
melalui posisi dominan yang perusahaan ini miliki. Berbicara traiding terms tidak
akan mungkin dapat di lakukan apabila suatu perusahaan tidak memiliki market
power dan dalam hal ini traiding terms tersebut di lakukan untuk menghentikan
langkah para pemasok memberikan perlakuan yang sama kepada perusahaan retail
yang lain. Serta dalam hal ini juga bentuk akuisisi yang dilakukan oleh PT.
Carrefour Indonesia terhadap perusahaan PT. Alfa Retailindo juga menunjukkan

suatu bentuk yang lain dari keinginan PT. Carrefour Indonesia dalam menguasai
pangsa pasar yang ada. Walaupun dalam hal ini bentuk nyata dari tujuan akuisisi
tersebut tidak dapat secara gamblang di arahkan ketujuan tersebut namun secara
pasti ketika Carrefour mengakuisisi PT. Alfa Retailindo maka secara otomatis
akan memperbesar Pasar Bersangkutan dan menjadi Carrefour lebih Multiformat.

Dapat disimpulkan:
PT. Carrefour Indonesia telah melakukan penyalahgunaan posisi dominan dan
persaingan usaha tidak sehat, hal tersebut tampak dari pemberlakuan traiding
terms oleh perusahaan ini kepada para pemasok barang kedalam perusahaan retail
ini. Data yang diperoleh oleh KPPU sangat jelas menunjukkan adanya
pemberlakuan traiding term, serta perusahaan ini mengakui hal tersebut. Namun
Putusan KPPU No. 02/KPPU-L/2005, tidak menjelaskan bahwa perusahaan ini
melakukan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat melalui Posisi Dominan
yang perusahaan ini miliki. KPPU hanya menyebutkan kalau PT. Carrefour
Indonesia hanya melakukan traiding terms, dalam pasal 25 Undang-undang No. 5
Tahun 1999 dijelaskan bahwa setiap pelaku usaha dilarang untuk menetapkan
syarat-syarat perdagangan dengan tujuan untuk mencegah dan atau menghalangi
konsumen memperoleh barang / jasa yang bersaing dalam harga & kualitas, maka
jelaslah PT. Carrefour Indonesia telah melakukan penyalahgunaan posisi
dominan. Mungkin pada saat ini belum terbentuk monopoli namun kita harus
pahami bahwa perbuatan ini memiliki indikasi yang kuat akan memunculkan
tindakan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Pasal 25 merupakan salah
satu bentuk pasal yang menggunakan konsep rule of reason, maka akan terlihat
susah untuk menetapkan perusahaan yang melakukan tindakan ini telah
melakukan monopoli. Ini lah yang terjadi pada putusan KPPU No. 02 /KPPUL/2005.

III.

KASUS AKUISIS (PERKARA NO. 09/KPPU-L/2009)


Pada 21 Januari 2008, nota kesepahaman (MoU) antara PT. Carrefour

Indonesia (Carrefour), PT. Sigmantara Alfindo Prime Horizon Pte.Ltd untuk


membeli 75 persen saham PT. Alfa Retailindo (Alfa) ditandatangani di Jakarta.
Nota kesepahaman itu kemudian ditindaklanjuti dengan penandatangan perjanjian
jual beli saham antara Carrefour dan Alfa pada 21 Januari 2008.
Setelah diakuisisi Carrefour, dari 30 gerai ex-Alfa, 14 ganti nama jadi
Carrefour Express, dan 16 jadi Carrefour. Dengan demikian, pasca mengakuisisi
Alfa, Carrefour beroperasi di dua format: hypermarket dan supermarket.
Carrefour dan ritel modern lainnya menjalankan kegiatan bisnisnya
dengan memasok barang dari pemasok dan menjualnya kepada konsumen.
Keberadaan format ritel modern menawarkan produk yang murah thus memberi
kemudahan dan kenyamanan bagi konsumen. Namun fitur layanan pro konsumen
dan harga murah dilakukan dengan mengeksploitasi rabat yang dimintakan
kepada pemasok barang.
Oleh Carrefour, rabat yang dipersyaratkan untuk produk tertentu awalnya
sebesar 20% dari harga jualnya ke Carrefour. Besaran rabat ini kemudian
mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Bahkan ada di antara pemasok yang
diminta rabat oleh Carrefour sampai dengan 70% dari harga pasokannya. Selain
itu pemasok juga mendapatkan perlakuan abusive dari Carrefour berupa
pengenaan biaya promosi yang sangat tinggi. Seluruh ketentuan kerjasama
tersebut dituangkan Carrefour dalam dokumen trading terms.
Terkait dengan tindakan itu, oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha
(KPPU), Carrefour diperintahkan untuk melepas seluruh kepemilikannya di Alfa
melalui Putusan KPPU NO 09/KPPU-L/2009 tanggal 3 November 2009.

Dalam putusan ini, sepertinya majelis hakim menjatuhkan sanksi


memerintahkan Carrefour untuk membatalkan akuisisi terhadap Alfa berdasarkan
suatu

penilaian

bahwa

setelah

melakukan

akuisisi,

Carrefour

terbukti

menyalahgunakan market power yang dimilikinya sehingga melanggar ketentuan

tentang penguasaan produksi dan/atau pemasaran barang/jasa yang diatur dalam


Pasal 17 ayat (1) UU 5/1999.
Pada dasarnya, analisis dampak bagi praktek akuisisi bertolak dari definisi
praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana yang dimaksud
dalam Pasal 1 angka 2 UU Persaingan Usaha. Di satu sisi, kejelasan normatif bagi
kajian terhadap akuisisi adalah analisis dampak adanya praktek monopoli dengan
menggunakan indikator pemusatan kekuatan ekonomi. Pemusatan ekonomi
merujuk pada kekuatan pasar bagi pelaku usaha yang melakukan akuisis baik
sebelum dan sesudah akuisisi. Dalam Pasal 1 angka 3 UU Persaingan Usaha,
pemusatan kekuatan ekonomi adalah penguasaan yang nyata atas suatu pasar
bersangkutan oleh satu atau lebih pelaku usaha sehingga dapat menentukan harga
barang dan atau jasa.
Dalam kasus ini, KPPU menilai Carrefour terbukti melanggar ketentuan
dalam Pasal 17 ayat (1) UU 5/1999 tentang penguasaan produksi dan/atau
pemasaran barang/jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli
dan persaingan usaha tidak sehat. Untuk dapat dinyatakan melanggar Pasal 17
ayat (1) maka perlu memenuhi unsur: (1) pelaku usaha; (2) menguasai pasar; (3)
pelaku usaha tersebut menerapkan sebuah kebijakan usaha; dan (4) kebijakan
usaha tersebut dapat menimbulkan dampak negatif berupa praktek monopoli dan
persaingan usaha tidak sehat.

Berikut ini adalah temuan-temuan KPPU terkait terpenuhi-tidaknya keempat


unsur Pasal 17 ayat (1) UU 5/1999:

Unsur Pelaku Usaha


Carrefour adalah badan hukum yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia
serta melakukan kegiatan usaha di bidang perekonomian, dengan demikian unsur
pelaku usaha terpenuhi.

Unsur Menguasai Pasar


Menurut Pasal 17 ayat (2) UU 5/1999, pelaku usaha dianggap menguasai pasar
jika produk barang/jasa yang diproduksi dan/atau dipasarkan belum ada
substitusinya atau mengakibatkan pelaku usaha lain tidak dapat masuk ke dalam
persaingan usaha barang dan atau jasa yang sama atau pelaku usaha menguasai
lebih dari 50 persen pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.
Menurut pertimbangan KPPU, Carrefour memiliki pangsa pasar lebih dari 50
persen pada pangsa pasar bersangkutan hulu (upstream). Dalam pasar
bersangkutan, jumlah pelaku usaha diukur dari adanya peningkatan jumlah pelaku
usaha di pasar bukan dari peningkatan jumlah output produksi (6.3.8.9). Pasar
bersangkutan hulu adalah pasar yang menunjukkan relasi antara pemasok
barang/jasa dan Carrefour yang berbeda dengan pasar hilir (downstream) yaitu
pasar yang menunjukkan relasi antara Carrefour dan konsumen.
Kondisi persaingan juga dapat diukur dari tingkat konsentrasi dan kecenderungan
yang ditunjukkan menggunakan indikator nilai HHI dan CR4. Tingkat konsentrasi
tinggi dan cenderung meningkat menunjukkan bahwa kondisi pasar bersangkutan
didominasi oleh beberapa pelaku usaha tertentu (6.3.8.10.). KPPU menilai bahwa
kondisi pasar bersangkutan upstream sangat terkonsetrasi dengan kecenderungan
yang terus meningkat, dimana Carrefour menjadi pelaku usaha dominan di
dalamnya (5.46). Sebelum akuisisi pada 2007, tingkat HHI industri mencapai
angka 2950,09 dengan nilai CR4 mencapai 93,36 persen yang menandakan
konsentrasi yang sangat tinggi dari suatu industri. Setelah akuisisi angka tersebut
semakin meningkat (6.3.8.12)
Nilai HHI dan CR4 tersebut yang menandakan adanya kekuatan pasar yang
dimiliki Carrefour serta kondisi struktur industri yang kurang mendukung
terciptanya pesaingan sehat belum dapat dijadikan alasan untuk menyatakan
Carrefour yang memiliki market power tersebut melakukan pelanggaran. Market
power yang dimiliki Carrefour dinyatakan melanggar hukum persaingan usaha
apabila market power tersebut secara unilateral digunakan untuk mengeksploitasi
suprplus konsumen dan/atau mencegah pelaku usaha bersaing untuk masuk ke
pasar atau bersaing secara efektif (6.3.8.13.). KPPU merujuk temuan beberapa

perilaku unilateral dari Carrefour sebagai upaya untuk mengeksploitasi surplus


dari para pemasoknya (6.3.8.14).
KPPU juga menunjukkan temuan adanya tindakan pararel yang dilakukan oleh
Carrefour pada pasar bersangkutan yang terjadi pada kondisi tingkat konsentrasi
yang cenderung meningkat serta adanya entry barrier sehingga menjadikan
kondisi merugikan konsumen yang berpotensi tetap akan terjadi dalam jangka
panjang (6.3.8.17). Dengan demikian, KPPU menyimpulkan bahwa dampak
syarat perdagangan (trading terms) yang diterapkan Carrefour terhadap pemasok
menimbulkan persaingan yang tidak sehat dan menghambat konsumen
memperoleh barang dan jasa yang bersaing.

Unsur menerapkan kebijakan usaha


Menurut KPPU, dengan melakukan akuisisi terhadap Alfa, Carrefour telah
menerapkan sebuah kebijakan usaha.

Unsur dampak negatif dari kebijakan usaha


KPPU sependapat dengan penilaian tim pemeriksa yang menunjukkan adanya
tindakan-tindakan Carrefour yang mengeksploitasi surplus dari pemasok dengan
menyalahgunakan penguasaan 57,99 persen pangsa pasar bersangkutan upstream
setelah mengakuisisi Alfa, antara lain (6.3.8.14): (1) menerapkan besaran trading
terms kepada para pemasok Alfa, sehingga pasca akuisisi, trading term antara
pelaku bisnis, pemasok dan peretail cenderung naik dari tahun ke tahun tanpa
justifikasi yang jelas; (2) memaksakan pemasok Carrefour untuk juga memasok
pada Alfa (Tying in).
Dengan tindakan-tindakan itu, Carrefour dinilai telah melakukan tindakan yang
menyebabkan hilangnya persaingan efektif dalam pasar yang bersangkutan,
sehingga kondisi tersebut menyebabkan konsumen tidak dapat menghindari
penyalahgunaan kekuatan pasar oleh Carrefour sehingga dalam jangka waktu
pendek konsumen bisa kehilangan pilihan (6.3.8.16), dan tindakan yang dilakukan
tersebut menunjukkan tren yang terus meningkat sehingga menjadikan kondisi

merugikan konsumen tersebut berpotensi tetap terjadi dalam jangka panjang.


(6.3.8.17)
Oleh karena itu KPPU menilai bahwa terdapat dampak negatif pada persaingan
sebagai akibat akuisisi yang dilakukan Carrefour terhadap Alfa.