Anda di halaman 1dari 13

PENGEMBANGAN HORTIKULTURA DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Oleh
Roedhy Poerwanto

SITUASI HORTIKULTURA INDONESIA SAAT INI

Ciri Sistem Produksi Hortikultura Indonesia


Menurut Ditjen Hortikultura (2004) dalam Recana Strategis Pengembangan
Hortikultura Indonesia, ciri-ciri sistem produksi buah-buahan pada sebagian besar petani
kecil Indonesia adalah sebagai berikut: (1) Skala usaha kecil, bersifat sampingan, belum
merupakan usaha komersial atau agribisnis; (2) Pola tanam campuran, varietas yang
ditanam belum seragam (belum klona!) dan sebagian berasal dan Lanaman asal biji; (3)
Pengelolaan tanaman belum menerapkan teknologi maju, masih tradisional,
mengakibatkan produksi dan mutu hasil belum optimal, atau rendah; (4) Pemanenan dan
penanganan pasca panen belum optimal; (5) Lokasi produksi pada umumnya tidak
merupakan hamparan luas, sering terpencil dengan sarana transportasi minimal, atau
berada pada wilayah non optimal; (6) Cara pemasaran hasil secara ijon atau tebasan
masih sering diterapkan.
Ciri system produksi komoditas sayuran, tanaman hias dan tanaman obat adalah:
(1) Skala usaha dan penggunaan modal kecil; (2) Penerapan teknologi usahatani belum
optimal; (3) Penggunaan pestisida untuk pemberantasan hama terlalu tinggi; (4) Kurang
tersedianya bibit bermutu, sehingga mempengaruhi mutu bahan baku dan produk; (5)
Penataan produksi belum berdasarkan pada keseimbangan antara suppy dan demand; (6)
Pemasaran hasil belum efisien, harga lebih banyak ditentukan oleh pedagang.
Dalam pengembangan ekspor produk hortikultura masih mengalami hambatan
antara lain: (1) Belum terpenuhinya persyaratan SPS {Sanitary and Phytosanitary),
kualitas, kuantitas dan kontinuitas produksi terhadap pasar ekspor; (2) " Daerah produksi
komoditas ekspor sering terpencar dalam skala-skala kecil, sehingga menyulitkan dalam
pengumpulan hasil dan menjamin kontinuitas supply; (3) Kurangnya informasi tentang
preferensi konsumen pada negara importir (jenis komoditas dan produk, serta
kualitasnya); (4) Biaya transportasi udara yang dinilai terlalu tinggi, sehingga tidak
sebanding dengan margin yang didapatkan petani/pedagang.

Tantangan dalam Pengembangan Hortikultura


(1) Tersedia lahan-lahan potensial untuk digunakan bagi pengembangan hortikultura
yang mencakup lahan tegalan/kebun, lahan yang tidak ' digunakan (terlantar), lahan
pasang surut, maupun lahan perkebunan terlantar dan perkebunan swasta kelas V.
Pada tahun 1998 tercatat lahan tegalan seluas 8.383.599 ha, lahan ladang seluas
3.179.213 ha dan lahan yang sementara tidak digunakan seluas 7.335.586 ha. Luas
perkebunan terlantar dan perkebunan swasta kelas V tercatat 194.996 ha. Walaupun
lahan tersedia cukup luas namun tingkat kesuburannya umumnya rendah,
ketersediaan air kurang terjamin, dan status pemilikannya kurang jelas.
(2) Penggunaan teknologi produksi dan sarana/prasarana produksi oleh petani umumnya
masih sederhana, yang berakibat produktivitas komoditas hortikultura di lahan petani
umumnya masih rendah. Kesenjangan produktivitas antara kondisi lapangan dengan
hasil lapangan merupakan indikasi adanya peluang, sekaligus potensi yang masih
dapat digali dalam peningkatan produksi , melalui penerapan IPTEK serta upaya
penanganan yang intensif, didukung oleh kecukupan sarana produksi yang optimal.
Melalui upaya terpadu tersebut diharapkan produktivitas akan mampu ditingkatkan
mendekati kapasitas produksi optimal.
(3) Kelembagaan sistem produksi hortikultura pada umumnya belum efektif terutama
dalam aspek pengamanan pemasaran. Kelembagaan profesi yang bergerak di bidang
hortikultura kini telah banyak terbentuk dalam bentuk himpunan, asosiasi, ikatan
maupun kelornpok serta koperasi yang diharapkan dapat memudahkan dan
mempercepat akses pertukaran informasi pemasaran yang sangat penting dalam
pengembangan hortikultura.
(4) Persyaratan mutu untuk ekspor produk hortikultura pada umumnya tinggi dan belum
dapat dipenuhi oleh petani kecil sehingga menyulitkan untuk masuk ke pasar
internasional. Permintaan komoditas hortikultura dari beberapa negara pengimpor
terutama di belahan bumi utara menunjukkan trend yang meningkat sehingga upaya
peningkatan mutu produk perlu diprioritaskan.
(5) Industri makanan yang menggunakan .komoditas hortikultura sebagai bahan baku
atau bahan pembantu saat ini masih beroperasi dibawah kapasitas terpasang sehingga
ada peluang untuk pasar bahan baku. Namun untuk itu dituntut kualitas dan
kontinuitas produksi. Industri obat-obatan tradisiona! juga terus berkembang dan
memerlukan bahan baku yang berkualitas tinggi.
(6) Meningkatnya taraf hidup masyarakat mengakibatkan meningkatnya permintaan
akan tanaman hias dan bunga-bungaan dalam bentuk bunga potong, tanaman hias
pot, tanaman hias landscape, dan tanaman-taman. Potensi ekspor tanaman hias asal
tropik juga sangat besar dan belum sepenuhnya digarap.
(7) Selain aspek kuantitas dan kualitas produk, aspek lain yang perlu mendapat perhatian
pada produk hortikultura adalah aspek keamanan produk serta kelestarian
lingkungan hidup. Penggunaan pestisida sering terlalu tinggi dan usahatani
hortikultura di dataran tinggi kurang memperhatikan pengendalian erosi.
(8) Peluang pengembangan industri perbenihan hortikultura masih sangat terbuka, untuk
memproduksi benih bermutu varietas unggul sehingga produksinya mempunyai
keunggulan kompetitif. Peluang tersebut semakin terbuka dengan diterbitkannya UU
No. 29 tahun 2000 tentang perlindungan varietas tanaman.

Masalah dan Hambatan dalam Pengembangan Hortikultura


(1) Pemilikan modal yang terbatas dan luas pemilikan lahan yang sempit memerlukan
strategi pembinaan yang khas dan spesifik. Selain itu, usahatani hortikultura
memerlukan lahan dengan kesesuaian dan kemampuan tertentu, agroklimat spesifik
dan membutuhkan tenaga kerja berketerampilan tinggi.
(2) Tanaman berbagai komoditas hortikultura terdiri dan berbagai klon yang bervariasi,
sehingga menyulitkan dalam grading dan standarisasi mutu hasilnya. Varietas-klona!
yang mutunya bagus beium diproduksi daiam jumiah yang cukup banyak sehingga
penyediaan produk yang 'memenuhi skala ekspor sering sukar dipenuhi.
Pengembangan perbenihan hortikultura sesuai 6 tepat memerlukan modal besar baik
dari segi teknologi, kelembagaan maupun sumberdaya manusia.
(3) Serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang meliputi hama, penyakit dan
gulma sangat tinggi dan perlu diatasi karena menurunkan kuantitas dan kualitas
produksi hortikultura. Jenis OPT tanaman hortikultura sangat banyak sehingga
penggunaan pestisida sangat tinggi yang dikhawatirkan meninggaikan residu pada
produksi hasil panen.
(4) Sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) belum diterapkan dengan baik.
Pengendalian OPT masih banyak tergantung pada pestisida dan pada komoditas
tertentu penggunaannya secara berlebihan sehingga banyak menimbulkan dampak
negatif terhadap lingkungan, biaya produksinya tinggi dan produk yang dihasilkan
kurang memberikan jaminan keamanan pangan.
(5) Penanganan produk pasca panen masih bersifat tradisional sehingga mengakibatkan
tingkat kerusakan dan kehilangan hasil cukup tinggi, pengepakan dan transportasi
belum dilakukdn dengan baik sehingga mengakibatkan kerusakan produk.
(6) Pemasaran produk belum efisien, harga sangat fluktuatif dan bagian keuntungan bagi
petani umumnya rendah dibandingkan dengan yang diterima pedagang.

KONSEPSI DALAM PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

Agribisnis hortikultura di Indonesia saat ini, terutama untuk komoditas buah-


buahan, didominasi oleh buah-buahan yang berasal dari usahatani kecil dan pekarangan.
Karena itu keseragaman dan mutu hortikultura Indonesia rendah. Demikian pula
kontinyuitas suplai tidak terjamin. Sebagai contoh exportir manggis yang
mengumpulkan manggis dari Sumatera Utara sampai Sumatera Selatan, hanya
memperoleh buah yang mutunya dapat memenuhi pasar ekspor sebanyak 20% dari buah
yang dikumpulkan. Itupun kuantitasnya tidak menentu dari tahun ke tahun.
Pengembangan buah-buahan yang telah dilakukan dengan penyebaran bibit buah-
buahan ke berbagai wilayah Indonesia dapat dikatakan gagal. Karena itu pengembangan
buah buahan tidak cukup hanya dengan membagi-bagi bibit. Harus ada suatu konsepsi
dan perencanaan yang jelas dan matang. Hortikultura Indonesia ke depan seharusnya
bisa menunjukkan ciri-ciri pertanian berbudaya industri sebagai berikut:
1. Landasan utama pengambilan keputusan: Ilmu Pengetahuan
2. Instrumen utama dalam pemanfaatan SDA: Teknologi
3. Media utama dalam transaksi barang & jasa: Mekanisme Pasar
4. Dasar utama dalam alokasi sumberdaya: Efisiensi dan produktivitas
5. Orientasi utama: Mutu & keunggulan
6. Karakter yang menonjol: Profesionalisme
7. Pengganti ketergantungan pada alam: Perekayasaan
8. Produk yang dihasilkan memenuhi syarat: mutu, jumlah, volume, bobot, bentuk,
ukuran, warna, rasa, tepat waktu dsb.)

Pengembangan hortikultura harus melewati beberapa tahap, ialah: (1) menetapkan


komoditas unggulan, (2) mempelajari potensi wilayah yang akan digunakan, dan (3)
memilih lokasi di wilayah yang akan dikembangkan.
PENETAPAN KOMODITAS UNGGULAN

Komoditas unggulan adalah komoditas yang diusahakan berdasarkan keunggulan


kompetitif dan komparatif ditopang oleh pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan
agroekosistem untuk meningkatkan nilai tambah dan mempunyai “multiflier effect”
terhadap berkembangnya sektor lainnya (Badan Agribisnis Deptan, 1997). Pengertian ini
meliputi dua dimensi dari sisi penawaran dan sisi permintaan. Dari sisi penawaran,
komoditas tersebut ditopang oleh kesesuaian agroekosistem dan biofisik wilayah,
penguasaan teknologi produksi dan pasca panen oleh petani, serta kemampuan petani
untuk memasarkan produk. Dari sisi permintaan, komoditas tersebut mempunyai pasar
yang riil dan berkembang.
Komoditas unggulan ditetapkan berdasarkan kriteria: agronomis (kesesuaian
agroekosistem dan biofisik wilayah, potensi produksi, serta dukungan dan penguasaan
teknologi produksi dan pasca panen), ekonomi dan pasar, manajemen, sosial dan budaya
serta infrastruktur dan kebijakan pemerintah. Di bawah ini diuraikan masing-masing
kriteria yang meliputi beberapa hal yang penting untuk penetapan komoditas unggulan.

Kriteria Agronomis
Keunggulan suatu komoditas tidak semata-mata ditentukan oleh sifat dari
komoditasnya, tetapi harus merupakan interaksi antara komoditas tersebut dengan
lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial. Suatu komoditas yang memberikan
respon yang baik terhadap lingkungannya (yang spesifik pada setiap wilayah
pengembangan) dapat dikatakan unggul. Karena itu kriteria agronomis akan meliputi
pula penentuan kriteria yang bersifat fisik dan sosial.
Kriteria Agronomis meliputi (a) potensi produksi dari komoditas (b) ketersediaan
benih, (c) kesesuaian agroekosistem dan biofisik wilayah, (d) sistem pertanian yang
dilakukan masyarakat, (e) dukungan teknologi produksi dan pasca panen serta (f) potensi
penguasaan teknologi oleh petani.
Potensi produksi komoditas. Komoditas unggul dicirikan pada tingginya
produktivitas tanaman dan kualitas produk serta kesesuaian karater produk dengan
penggunaanya. Dalam kaitannya dengan industri, kontinyuitas produk juga menjadi ciri
penting keunggulan. Dalam suatu sistem pertanian komersial potensi suatu komoditas
untuk ditanam bersama dengan komoditas lain (intercropping, mixcropping) maupun
diversifikasi juga menentukan keunggulan komoditas tersebut. Keunggulan komoditas
dipengaruhi oleh keseuaian wilayah, pengelolaan lapangan produksi, potensi kehilangan
hasil (hama, penyakit, gulma, kerontokan, dan kesulitan pemanenan), penanganan pasca
panen.
Kesesuaian agroekosistem dan biofisik wilayah ditentukan berdasarkan hasil
evaluasi lahan, yang meliputi zona agroekologi (di Indonesia dibagi atas 4 zona, ialah
tinggi basah, tinggi kering, rendah basah dan rendah kering), sifat fisik dan kimia tanah,
kelerengan lahan, iklim (pola hujan, suhu, cahaya, evaporasi, neraca air, banjir,
kelembaban udara dan angin), dan ketersediaan air, sistem pertanian (irigasi, tadah
hujan, sawah, perkebunan, ladang, tegal, lebak, pasang surut, gambut). Berdasarkan
kriteria ini dapat ditentukan komoditas unggul yang sesuai dengan wilayah tersebut.
Sistem Pertanian yang dikenal masyarakat. Introduksi suatu sistem pertanian
baru pada masyasrakat tidak mudah dilakukan. Sebagai contoh petani kopi hampir tidak
mungkin beralih menjadi petani sayuran karena sistem pertaniannya yang sangat berbeda.
Tetapi petani kopi mungkin dapat beralih menjadi petani jeruk. Karena itu
pengembangan komoditas unggul harus didasarkan pada sistem pertanian yang dikenal
oleh masyarakat.
Dukungan Teknologi Produksi dan Pasca Panen. Untuk mendukung
komoditas unggulan harus: (a) tersedia teknologi unggul hasil penelitian dan
pengembangan (R & D) yang lengkap di wilayah tersebut atau di tempat lain (sehingga
tinggal dilakukan uji adapatasi teknologi), (b) tersedia informasi teknologi unggul untuk
penyuluhan, (c) adanya lembaga/jaringan penelitian-pengembangan-penyuluhan yang
profesional (Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pertanian / BPPTP), (d)
tersedianya tenaga ahli, fasilitas dan dana untuk penelitian dan pengembangan.
Teknologi unggul tersebut harus dapat diterapkan dalam berbagai sub-sistem
dalam sistem agribisnis. Teknologi unggul tersebut menurut Pusat Kajian Buah-buahan
Tropika IPB (1998) meliputi:
1. Teknologi dalam subsistem pro-produksi, ialah (a) penentuan varietas unggul
yang didasarkan atas permintaan pasar, (b) penggunaan benih bermutu, yaitu
benih bersertifikat, sesuai dengan deskripsi (true to type) dan vigor.
2. Teknologi dalam sub-sistem produksi diantaranya adalah: (a) penerapan
konservasi lahan, (b) penerapan teknologi yang dapat menekan grace period,
sehingga teknologi tersebut layak secara ekonomi, (c) penerapan irigasi untuk
mengatur saat panen, meningkatkan produktivitas dan kualitas produk, (d)
pemupukan yang didasarkan atas kebutuhan tanaman sehingga lebih efisien,
(e) pembentukan arsitektur pohon untuk memanen cahaya matahari secara
maksimal, (f) penggunaan zat pengatur tumbuh.
3. Teknologi dalam sub-sistem penanganan pasca panen meliputi (a) penentuan
kriteria panen yang akurat untuk tujuan tertentu, (b) grading dan sortasi yang
ketat, (c) peningkatan performance produk.
4. Teknologi dalam sub-sistem pemasaran dan kelembagaan penunjang meliputi
(a) penerapan teknik packing, (b) pengendalian residu pestisida melalui upaya
pengendalian hama terpadu dan kontrol kualitas yang ketat terhadap residu
pestisida, (c) penerapan manajemen kualitas (ISO 9000 dan ISO 14000)
sebagai upaya pencapaian kualitas produk bersetandar internasional.
Penguasaan Teknologi oleh Petani. Kunci dari keberhasilan pengembangan
komoditas unggulan adalah penguasaan teknologi oleh petani. Adanya lembaga
penyuluhan yang profesional, didukung informasi teknologi di satu sisi, dan adanya
petani dan kelompok tani yang termotivasi untuk maju akan mendorong penguasaan
teknologi. Teknologi yang mudah dikuasai oleh petani adalah teknologi yang
partisipasif, ialah yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan petani, atau yang
pengembangannya mendapat masukan dari petani.

Kriteria Ekonomi dan Pasar


Kriteria ini meliputi Potensi ekonomi komoditas, karakteristik pasar dari produk,
potensi konsumen dan potensi untuk penggunaan lain. Potensi ekonomi komoditas
dipengaruhi oleh ketersediaan modal investasi, tingginya ROI (Return of Investment),
NPV (Net Present Value), B/C ratio, dan payback period.
Potensi pasar. Potensi pasar masa depan, ada tidaknya pesaing dari daerah lain,
ada tidaknya produk pengganti. Untuk memahami potensi pasar perlu diperhatikan
karakteristik pasar dari produk yang meliputi daya tahan produk, cara penyimpanan, cara
pengolahan, pengemasan, transportasi, dan pembatasan perdagangan (trade barriers).
Potensi konsumen meliputi kualitas yang diharapkan, pola konsumsi dan
permintaan pasar, kepercayaan pembeli, pengembangan pasar, kompetisi dengan produk
lain, kemudahan dalam konsumsi, kemampuan untuk promosi, kemampuan untuk
menjual di pasar, perannya dalam diet manusia, produksi dan suplai pasar saat ini.
Potensi penggunaan atau manfaat produk. Komoditas yang diunggulkan harus
bermanfaat untuk pangan, cash crop, bahan baku industri, perlindungan lingkungan (atau
paling tidak, tidak merusak lingkungan) dan mungkin mempunyai manfaat lain seperti
prosesing sisa-sisa untuk produk bernilai ekonomi (contoh hati dan kulit nenas dapat
diperas untuk sirup nenas, ampasnya untuk makanan ternak), pemanfaatan untuk bahan
obat (jamu), tanaman hias, kayu dan sebaginya.

Kriteria Manajemen
Menurut Pusat Kajian Buah-buahan Tropika IPB (1998) pola manajemen yang
mendukung pengembangan komoditas unggulan mempunyai ciri sebagai berikut: (a)
dikelola secara profesional dengan menggunakan SDM berkualitas; (b) menerapkan
manajemen kulitas (ISO 9000) yang menjamin efisiensi dan produktivitas, serta produksi
yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan (ISO 14000); (c) memanfaatkan IPTEK
pertanian yang secara ekonomi dapat dipertanggungjawabkan. (d) skala usaha komersial;
(e) merupakan sutau kesatuan (keterpaduan) dari suatu sistem agribisnis yang utuh.

Kriteria Sosial dan Budaya


Ketersediaan tenaga kerja, organisasi petani, tingkat partisipasi petani, perlu
mendapat perhatian dalam pengembangan komoditas unggulan. Pengembangan
komoditas unggulan harus pula sesuai dengan sosial dan budaya masyarakat. Sebagai
contoh kegagalan pengembangan pertanian karena mengabaikan budaya masyarakat
terjadi pada pengembangan asparagus putih di Brastagi. Asparagus harus dipanen
sebelum matahari terbit agar kualitas produk terjaga (warna tidak hijau), tetapi petani
Brastagi terbiasa bangun pagi sesudah matahari terbit.

Kriteria Kebijakan Pemerintah dan Infrastruktur


Kebijakan dan strategi pemerintah di bidang pertanian insentif untuk
pengembangan, politik perdagangan, proteksi dan subsidi, dukungan investasi
(ketersediaan kredit), sangat mempengaruhi pengembangan komoditas unggulan. Selain
itu kondisi infrastruktur yang meliputi sarat irigasi, transportasi (jalan, pelabuhan) juga
sangat penting perannya dalam pengembangan komoditas unggulan.

MEMPELAJARI POTENSI WILAYAH

Data dan informasi yang diperlukan meliputi data sekunder dan data primer. Data
sekunder yang dikumpulkan bersumber dari tingkat pusat, tingkat propinsi, dan tingkat
kabupaten. Di tingkat pusat, data diperoleh dari Biro Pusat Statistik, Departemen
Kehutanan dan Perkebunan, serta Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Data di
tingkat propinsi didapatkan dari Kantor Wilayah Departemen Pertanian, Bappeda Tingkat
I, Dinas lingkup pertanian, serta kehutanan dan perkebunan tingkat I, Kantor
Depperindag, dan Kantor Statistik Daerah. Data sekunder tingkat kabupaten bersumber
dari Bappeda Tingkat II, Dinas lingkup pertanian, serta kehutanan dan perkebunan
tingkat II, Kantor Depperindag, Kantor Statistik Daerah, Satuan Pelaksana Harian Bimas,
serta Balai Informasi Penyuluhan Pertanian.
Data primer dikumpulkan dengan melakukan survey, pengambilan dan analisis
contoh tanah, kunjungan serta wawancara terhadap perseorangan atau kelompok.
Wawancara dilakukan terhadap para petani/peternak maupun aparat dari instansi terkait
di tingkat propinsi, kabupaten, dan kecamatan lokasi terpilih. Wawancara dilaksanakan
dengan panduan kuesioner; digunakan dua jenis kuesioner, yaitu kuesioner tingkat petani
dan kuesioner tingkat dinas/instansi. Secara garis besar, kuesioner tingkat petani
berisikan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan kegiatan usahatani;
sementara kuesioner tingkat dinas/instansi memuat pertanyaan-pertanyaan menyangkut
proses penetapan komoditas unggulan daerah serta faktor-faktor pendukung/pembatas
pengusahaan suatu komoditas.
Survey lapangan dimaksudkan untuk memperoleh berbagai data yang diperlukan,
baik data primer maupun sekunder. Data yang dihimpun meliputi berbagai hal dalam
lingkup keperluan studi, seperti: data tanah, data iklim, data vegetasi, terutama tanaman
hortikultura dan data lingkungan lapangan lainnya, aksesibilitas wilayah, kelembagaan,
sosial budaya serta ekonomi dan finansial.
A. Peta yang Diperlukan
1. PetaWilayah Skala 1 : 50.000
2. Peta Jenis Tanah 1 : 50.000
3. Peta Topgrafi 1 : 50.000
4. Peta Lereng 1 : 50.000
5. Peta Status Penggunaan Lahan 1 : 50.000
6. RUTR
7. Peta DAS 1 : 100.000
8. Peta Jaringan Jalan
B. Data Tanah
Pengamatan tanah dilakukan pada titik-titik tertentu terhadap sifat fisik dan kimia
tanah, seperti:
1. Kedalaman efektif tanah
2. Tekstur tanah pada zone perakaran
3. Permeabilitas tanah
4. Draenase dan tinggi permukaan air tanah
5. Banjir dan genangan musiman
6. Topografi dan tinggi tempat.
7. Lereng & keadaan permukaan tanah
8. Salinitas & pH tanah
C. Data Iklim
Data iklim 10 tahun terakhir juga akan dihimpun, meliputi:
1. Curah hujan & hari hujan bulanan, distribusi curah hujan dan fluktuasinya
2. Suhu & kelembaban udara
3. Laju penguapan & evapotranspirasi
D. Data Pertanaman
Pengamatan vegetasi meliputi tanaman hortikultura yang sudah dikembangkan
masyarakat:
1. Jenis & varietas
2. Luas areal, produksi & produktivitas
3. Hama dan penyakitnya
4. Kondisi pertanaman
E. Data Aksesibilitas Wilayah
Data wilayah yang dihimpun meliputi:
1. Infrastruktur
2. Sarana perhubungan
3. Kemudahan memperoleh sarana produksi dan penyaluran produksi
4. Teknologi yang mungkin dapat diterapkan
5. Informasi mengenai kebijakan pengembangan wilayah
F. Data Sosial & Budaya Masyarakat
1. Penduduk
2. Tenaga Kerja
3. Organisasi masyarakat
4. Prsasaran Sosial
5. Penguasaan lahan
6. Unit ekonomi & penanaman modal
G. Data Ekonomi & Finansial:
1. Biaya tenaga kerja
2. Kebutuhan peralatan dan sarana produksi
3. Proyeksi produksi & harga

Inventarisasi Potensi Lahan


Inventarisasi potensi lahan untuk pengembangan hortikultura dilakukan dengan
tiga tahap yaitu : (1) mempelajari informasi yang telah ada (data sekunder), (2)
peninjauan lapangan dan (3) mengkelaskan lahan dengan acuan pada kriteria klas
kesesuaian lahan bagi hortikultura .
Pada tahap awal semua informasi lahan yang telah ada dikumpulkan dan
kemudian dianalisis hubungannya satu dengan yang lain. Informasi dalam bentuk peta-
peta yang mempunyai skala yang memadai diutamakan. Peta tersebut adalah peta
topografi paling tidak skala 1: 100 000 yang kemudian dipakai sebagai peta dasar untuk
memetakan informasi yang lain. Beberapa peta lain adalah peta geologi yang
menggambarkan sebaran batuan sebagai bahan induk tanah, peta iklim, peta tanah, peta
penggunaan lahan dan peta administrasi yang telah ada.
Semua peta yang ada akan di-tumpang-tindihkan satu dengan yang lain pada peta
dasar skala 1: 100 000, sehingga diperoleh poligon-poligon satuan peta yang
menggambarkan satuan lahan dengan karakteristik tertentu, termasuk sawah, rawa/danau,
dan permukiman. Peninjauan lapang dilakukan dengan tujuan memverifikasi satuan-
satuan peta hasil proses tumpang-tindih tersebut.
Peninjauan lapang dilakukan dengan melakukan pengamatan kondisi lahan
dilapangan di masing-masing satuan peta yang telah ditentukan. Beberapa kondisi lahan
yang akan diamati di lapang adalah keadaan topografi, tanah, penggunaan lahan dan
kondidi tanaman baik yang dibudidaya, maupun yang alami. Dalam peninjauan lapang
ini dilakukan juga pengambilan contoh tanah dan air untuk dianalisis dilaboratorium.
Data laboratorium sangat perlu untuk mengetahui secara persis karakteristik tanah dan
air di daerah studi.
Berdasarkan data hasil pengamatan di lapang dan data hasil analisis laboratorium
satuan-satuan lahan akan dinilai klas kesesuaiannya untuk pengembangan hortikultura,
berdasarkan pada kriteria klas kesesuaian lahan menurut FAO-Unesco (1976). Kriteria
kesesuaian lahan untuk beberapa buah-buahan tropika terlampir.
Evaluasi kesesuaian lahan merupakan sarana dalam suatu rencana penggunaan
lahan. Maksudnya ialah mengadakan suatu penilaian secara siostematik dan
mengklasifikasikan lahan atas dasar sifat-sifat tanah dan lahan yang mempengaruhinya.
Tujuannya untuk menentukan pola penggunaan lahan yang sesuai dengan
kemampuannya dalam rangka usaha-usaha pengelolaan, perbaikan, dan pengembangan
wilayah yang bersangkutan.
Lahan mengandung pengertian yang lebih luas dari pada tanah, kerana disamping
faktor-faktor yang dimiliki tanah termasuk juga faktor-faktor lain, seperti : keadaan fisik
lingkungan, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Pada pelaksanaan studi ini pengumpulan
data lebih ditekankan pada faktor-faktor fisik (tanah dan lingkungan) yang secara
langsung berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.
Peta kemampuan lahan yang yang dibuat dari hasil inventarisasi sumber daya
lahan di daerah studi dan yang ditunjang dengan data laboratorium, sebetulnya masih
belum dapat digunakan secara langsung oleh fihak pemakai. Dengan perkataan lain fihak
yang berkepentingan masih belum mengetahui secara pasti dari peta kemampuan lahan
yang diperoleh itu, di mana dan berapa luas yang ada itu dapat digunakan untuk suatu
usaha pertanian, terutama dalam studi ini untuk tanaman hortikultura, sesuai atau tidak
untuk suatu komoditi hortikultura tersebut. Kemudian usaha-usaha apa yang seharusnya
diberikan untuk menanggulangi kekurangan-kekurangan atau hambatan-hambatan yang
ada pada wilayah tersebut.
Oleh karena itu untuk keperluan tersebut perlu dituangkan suatu bentuk jembatan
antara hasil inventarisasi kemampuan lahan di lapang yang dibentuk ke dalam peta
kemampuan lahan dengan suatu gambaran lain yang diperlukan oleh fihak pemakai
dimana secara langsung dapat dinyatakan bahwa lahan tersebut dapat atau tidak dapat
digunakan untuk suatu usaha pertanian komoditas hortikultura. Bentuk jembatan ini
adalah apa yang disebut sebagai penilaian kesesuaian lahan. Tentusaja penilaian dalam
studi ini mengarah pada suatu komoditi hortikultura yang sesuai dengan daerah studi.
Penilaian kesesuaian lahan untuk usaha pertanian merupakan systematic appraisal
of lands dan menggolongkannya kedalam suatu kategori. Kategori-kategori ini dihasilkan
berlandaskan pada sifat-sifat (properties) dari tanah dan lahan pada wilayah tersebut
yang akan mempengaruhi suatu pertumbuhan tanaman.
Metoda yang digunakan dalam mengklasifikasikan lahan di dasarkan pada
penilaian adanya faktor-faktor yang tidak menguntungkan atau disebut sebagai faktor
pembatas. Faktor-faktor ini merupakan sifat tanah atau keadaan lahan yang menjadi
penghambat dalam penggunaan lahan sehingga diperlukannya masukan agar pengelilaan
tanah yang menguntungkan dapat dilaksanakan. Jumlah masukan akan meningkaty jika
faktor penghambatnya makin parah, sebab faktor-faktor penghambat diberi harkat yang
berurutan dan makin parah suatu faktor maka harkatnya makin naik, sehingga
menurunkan kelas kesesuaiannya pada kategori yang lebih rendah. Oleh karena itu
penghambat berharkat tinggi menyebabkan hasil yang berkurang bila lahan tersebut
dibuka untuk tujuan pengelolaan lahan tertentu.
Penilaian kesesuaian lahan aktual untuk manggis didasarkan atas metode yang
tercantum dalam kriteria Kesesuaian Tanah dan Iklim Tanaman pertanian (Biro
Perencanaan, Dept. Pertanian, 1997), yang telah tersedia untuk 18 komoditas. Kriteria
penilaian kelas dan subkelas kesesuaian lahan tertera pada Lampiran 1. Didalam sistim
klasifikasi kesesuaian lahan tersebut dapat disebutkan adanya 2 (dua) ordo, yaitu: Ordo
Sesuai dan Ordo Tidak Sesuai.
Ordo Sesuai merupakan lahan-lahan yang dapat digunakan sebagai lahan usaha
pertanian secara berkesinambungan dengan tanpa atau sedikit hambatan yang perlu
mendapat perhatian dalam pengelolaannya. Ordo Tidak Sesuai merupakan lahan-lahan
yang apabila di usahakan untuk maksud-maksud pertanian akan mempunyai hambatan-
hambatan yang cukup besar sehingga usaha perbaikannya akan memerlukan pembiayaan
yang besar dan apabila diperhitungkan secara ekonomis tidak akan memberikan
keuntungan.
Pada kategori kelas dimaksudkan dengan adanya parameter yang ditentukan,
lahan-lahan tersebut termasuk pada salah satu kelas yang ditetapkan. Terdapat tiga kelas
untuk Ordo Sesuai, yaitu: sangat Sesuai, Cukup Sesuai, dan Hampir Sesuai.

Kelas Sangat Sesuai (higly suitable- S1) : Lahan tidak mempunyai pembatas yang
serius yang akan mempengaruhi pengelolaan tanahnya.

Kelas Cukup Sesuai (Moderately Suitable- S2) : Lahan mempunyai pembatas yang
akan mempengaruhi pengelolaan tanah untuk usaha pertanian.

Kelas Hampir Sesuai (Marginally Suitable - S3) : Lahan cukup mempunyai pembatas
yang serius dan akan mempengaruhi pengelolaan tanahnya. tanpa memperbaiki
faktor-faktor pembatas ini usaha usaha pertanian tidak akan memberikan hasil yang
baik.

Selanjutnya kelas-kelas kesesuaian lahan tersebut masih dapat dibagi menjadi


sub-subkelas yang dicirikan oleh banyak sedikitnya serta besar kecilnya pembatas yang
ada. Faktor-faktor pembatas yang akan menentukan subkelas kesesuaian lahannya antara
lain :
nr - untuk kesuburan tanah.
rc - untuk sifat fisik tanah yang terdiri dari : kedalaman tanah, sebaran ukuran butir,
pori air tersedia, dan permeabilitas.
oa - untuk darinase.
fh - untuk banjir atau genangan.
eh - untuk erosi.
wa - ketersediaan air (curah hujan dan kelembaban)

Setiap satu kelas kesesuaian lahan dapat menurunkan satu atau lebih subkelas.
Jadi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, maka diharapkan dapat
dihasilkan suatu penilaian kesesuaian lahan secara aktual. Dari sini dapat digunakan
sebagai salah satu bahan dalam menyusun suatu rekomendasi tentang garis-garis besar
penggunaan lahan untuk pertanian.

PEMILIHAN LOKASI
Tanah
Pohon buah tumbuh baik dalam tanah liat berpasir dengan aerasi yang baik.
Kebun terbaik di dunia dibentuk pada: (1) delta muara sungai dan tanah berlumpur
sepanjang sungai, dan (2) tanah alluvial yang dibentuk di mulut ngarai terbuka sampai
lembah yang luas. Lahan ideal untuk penanaman hortikultura adalah: tanah dengan
teksture medium berasal dari aluvial, seragam, kedalaman tanah rasional, draenase baik,
bebas dari garam, subur, pH sedikit masam.
Untuk kebanyakan spesies pohon buah, pH tanah harus sedikit asam, antara 6.5
dan 5.5. Pada pH diatas 7.5 atau di bawah 4.5 beberapa elemen esensial seperti ion
tembaga, besi dan seng akan membentuk kompleks ion seperti ion zincate atau
mengendap sebagai garam dengan kelarutan sangat rendah seperti besi fosfat. Akar
pohon buah yang tumbuh di tanah asam atau alkalin yang ekstrim tidak mampu
mengekstraksi sejumlah elemen secara cukup karena konsentrasi dalam larutan tanah
terlarut rendah. Akibatnya, pohon menunjukkan gejala kekurangan hara dan
pertumbuhannya buruk.

Topografi
Topografi lahan sangat menentukan lay out kebun, tipe irigasi dan pengendalian
erosi serta genangan. Semakin tinggi lereng, semakin mudah terjadi erosi, baik tyang
disebabkan oleh air irigasi maupun terutama oleh air hujan. Erosi lahan akan
menyebabkan lapisan tanah subur bagian atas hilang, berpindah ke bawah atau masuk ke
aliran sungai. Beberapa teknik budidaya perlu diterapkan untuk mencegah atau
mengurangi erosi, seperti pembuatan teras, mulsa, draenase, penanaman rumput penahan
erosi diantara tanaman.
Topografi juga berpengaruh dari sisi panen. Perlu peralatan khusus untuk
mengangkut hasil panen, karena gerobak atau truk tidak bias masuk mendekati tanaman.
Untuk pengangkutan hasil panen dibangun kabel atau rel pengangkut.
Daerah curam membuat pembentukan kebun sulit dan mahal; mekanisasi tidak
mungkin dan erosi tanah merupakan bahaya tetap terutama jika diirigasi. Jika tanah
dibuat berteras, tepi teras harus ditinggikan untuk mencegah erosi. Penggunaan penutup
berupa lempengan rumput dengan sistem akar fibrous tebal akan menjaga tanah bagian
atas dan mencegah erosi. Gambar 6.6 menunjukkan situasi pohon yang ditanam di teras.

Air
Pada kebun-kebun buah di daerah kering, air untuk irigasi mutlak diperlukan.
Kebun mangga di Indonesia pada umumnya berkembang di daerah kering seperti di Jawa
Timur, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan. Tanaman mangga memang memerlukan
bulan kering yang cukup untuk menginduksi bunga, tetapi tanaman ini juga sangat
memerlukan air. Sehingga walaupun ditanam di daerah kering ketersediaan air irigasi
diperlukan. Tanpa air yang cukup produktivitas tanaman akan rendah dan kualitas buah
juga tidak baik. Sebaliknya pada daerah basah seperti beberapa lokasi di Sumatera,
Kalimantan dan Jawa Barat, kel;ebihan air dapat merusak dan karenanya perlu dilakukan
pengendalian. Karena itu, masalah air, apakah kekurangan atau kelebihan harus dijaikan
pertimbangan dalam memilih lokasi kebun.
Ketinggian air menentukan dimana spesies dapat tumbuh baik. Lokasi dengan
ketinggian air kurang dari 1m dari permukaan tanah memerlukan saluran drainase untuk
menjaga ketinggian air di bawah zona akar. Jika secara fisik dan ekonomi mudah
dikerjakan, drainase permanen harus dipasang di bawah tanah untuk menghilangkan
kelebihan air dan menurunkan tinggi air.
Kebutuhan air irigasi sangat dipengaruhi oleh (1) suhu, angin kelembaban udara
di daerah tersebut, (2) jumlah dan distribusi air hujan, (3) ukuran, umur dan kepadatan
tanaman, (4) tipe tanah dan (5) kebutuhan untuk mencuci tanah dari garam-garam.
Karean itu kebutuhan air irigasi antar daerah bisa sangat berbeda.
Dalam merencanakan kebun, ketersediaan air yang cukup dan ketersediaan sistem
irigasi untuk memenuhi kebutuhan tanaman pada saat kekeringan adalah prasyarat yang
harus dipertimbangkan. Suplai air harus bisa mencukupi kebutuhan tanaman saat
tanaman sudah tumbuh besar.
Kualitas air adalah faktor penting dalam kesusksesan produksi hortikultura pada
kebun yang diirigasi. Banyak pohon buah yang sensitif terhadap salinitas, sehingga
pengairan dengan air bergaram dapat secara nyata menurunkan pertumbuhan dan
produktivitas. Karena itu analisis kimia terhadap air yang akan digunakan untuk irigasi
perlu dilakukan.

Curah Hujan
Informasi mengenai jumlah dan distribusi bulanan air hujan sangat penting untuk
perencanaan sistem irigasi dan kebutuhan draenase kebun. Di Beberapa tempat seperti
Bogor, jumah curah hujan cukup dan distribusinya hampir merata sepanjang tahun.
Kedaaan seperti ini menyebabkan irigasi tidak diperlukan. Di beberapa daerah lain curah
hujan tinggi pada saat yang pendek, menyebabkan perlunya draenase dan sistem irigasi
yang baik untuk mengairi tanaman saat musim kemarau. Curah hujan yang tinggi dalam
waktu yang relatif pendek juga menimbulkan bahaya banjir dan erosi. Karena itu kontrol
terhadap kelebihan air dengan draenase perlu direncanakan.

Suhu yang Terlalu Tinggi


Suhu yang terlalu tinggi disertai dengan kelembaban udara yang rendah
berbahaya terutama bagi buah muda dan daun tanaman. Kenaikan suhu secara tiba-tiba
juga dapat menyebabkan daun gugur dan ranting mati dari pucuk (twig die back). Pada
suhu tanah yang terlalu tinggi, akar tanaman juga tidak aktif menyerap air, sehingga
tanaman dapat kekeringan. Suhu yang terlalu tingga pada saat tanaman berbunga atau
saat buah muda terbentuk dapat menyebabkan gugur bunga / buah. Apabila hal ini terjadi
pada saat pertumbuhan buah, buah dapat berukuran kecil, kulitnya terbakar dan merekah.
Untuk mengatasi hal ini buah dapat dibrongsong atau dilakukan penyiraman tanaman
dengan over head srpingkle.

Angin
Angin yang kencang dapat mengurangi produksi buah, karena itu harus menajdi
salah satu hal yang dipertimbangkan dalam memlih lokasi kebun. Angin dapat merusak
pohon, bahkan merobohkan. Pada saat tanaman berbunga, angin yang agak kencangpun
dapat merontokkan bunga. Angin yang agak kencang dapat menyebabkan buah gugur.
Untuk mengatasi angin perlu direncanakan pemecah angin (wind breaker). Wind breaker
dapat menurunkan kecepatan angin yang mengenai pohon buah sampai 45-59% dan
dapat mempertahankan produksi. Wind breaker dari pohon kadang-kadang juga
mempunyai efek buruk pada tanaman utama seperti: menjadi kompetitor dalam
penyerapan air dan hara, serta kunjungan serangga penyerbuk, menaungi tanaman utama,
sumber hama dan penyakit serta menambah pekerjaan budidaya.

Sejarah Tempat Penanaman


Dokumentasi sejarah tempat penanaman buah akan berguna dalam pembuatan
keputusan berkebun. Sebagai contoh, jika lahan yang akan dipakai sebelumnya ditanami
tomat dan buncis yang mendukung pertumbuhan Verticillium spp. dan setelah itu pohon
almond akan ditanam, tanah membutuhkan fumigasi untuk mengendalikan Verticillium
yang juga mudah menyerang pohon almond. Jika tempat itu sebelumnya adalah kebun
tanaman dengan spesies yang sama, perubahan dalam spesies pohon atau paling tidak
batang bawah direkomendasikan untuk mencegah masalah penanaman kembali.

Penyakit Tular Tanah


Masalah penanaman kembali atau penyakit tular tanah merupakan fenomena
tanah-tanaman. Saat suatu pohon buah dengan spesies batang bawah yang sama
ditanamkan secara berurutan dalam kebun yang sama, generasi pohon kedua tumbuh
jelek. Pohon yang ditanam kembali biasanya terhambat pada musim pertumbuhan
pertama tetapi di beberapa daerah pohon tumbuh jelek untuk beberapa musim. Masalah
tidak hanya terjadi pada pohon buah tetapi meliputi juga tanaman agronomi dan
ornamental seperti alfalfa dan mawar.
Suatu zat dalam eksudat akar dicurigai sebagai faktor penyebab terjadinya
fenomena ini. Apabila air irigasi yang berlebih (menetes dari lubang di dasar pot) dari
satu tanaman dalam pot dikumpulkan lalu disiramkan ke yang tanaman lain, pertumbuhan
tanaman kedua dapat terhambat. Tetapi masalah penanaman kembali dalam kebun dapat
dikurangi atau dicegah dengan fumigasi tanah.