Anda di halaman 1dari 8

F65.

5 Sadomasokisme
Sadomasokisme adalah gangguan seksual yang ditandai dengan aktivitas
seksual yang melibatkan penghinaan atau penyiksaan dimana individu
yang terlibat mendapatkan kepuasan seksual dari aktivitas tersebut.
Namun, harus dibedakan antara kebrutalan yang berhubungan dengan
erotisme dan yang tidak. Sadomasokisme dibagi menjadi dua, yaitu sang
pelaku yang disebut sadism dan resipien yang disebut masokisme.
(PPDGJ)
Masokisme seksual
Istilah masokisme diambil dari nama Leopold Sacher-Masoch, seorang
penulis novel abad-19 dari Austria yang karakternya dalam
mendapatkan kesenangan seksual karena disiksa atau didominasi oleh
wanita. Menurut DSM-IV, orang dengan masokisme seksual memiliki
preokupasi yang rekuren dengan desakan dan fantasi seksual karena
dihina dipukul, diikat, atau hal lain yang menyebabkan penderitaan.
Masokisme seksual lebih sering dilakukan oleh laki-laki dibandingkan
wanita. Freud percaya bahwa masokisme dihasilkan dari khayalan
destruktif yang dikembailkan kepada diri sendiri. Pada beberapa kasus,
seseorang dapat membiarkan dirinya mengalami perasaan seksual
hanya jika mereka dihukum. Orang dengan masokisme seksual
mungkin memiliki pengalaman masa anak-anak yang mengesankan
bagi mereka bahwa rasa sakit diperlukan untuk kenikmatan seksua.
Sekitar 30% masokisme juga memiliki khayalan sadistik.
Kriteria Diagnostik Masokisme Seksual
a. Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat rangsangan yang
merangsang secara seksual, dorongan seksual yang berulang dan kuat
berupa tindakan (nyata atau distimulasi) dihina, dipukuli, diikat, atau
hal lain yang membuat menderita.
b. Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku yang menyebabkan
penderitaan bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi social,
pekerjaan, atau fungsibpenting lainnya.

(DSM-IV Diagmostic and Atatistical Manual of Mental Disorder ed 4.


Hak cipta American Pshyciatric Association. Washington . 1994 )
Sadisme Seksual
Menurut teori psikoanalitik, sadism adalah suatu pertahanan terhadap
ketakutan akan kastrasi-orang dengan sadisme seksual melakukan
suatu hal kepada orang lain apa yang mereka takuti. Kenikmatan
didatangkan dari pengekspresian instink agresif. Onset sadism seksual
biasanya sebelum usia 18 tahun, dan sebagian besar adalah laki-laki.
Istilah sadisme diambil dari nama Marquis de Sade, seorang penulis
Prancis abad ke-18, yang berulang kali dipenjarakan karena tindak
kekerasan seksual. Sadism seksual berhubungan dengan pemerkosaan
yang biasanya berakhir dengan membunuh korbannya. Pada banyak
kasus, orang dengan sadime seksual menderita skizofrenia yang
mendasarinya. Jhon Money menuliskan lima penyebab sadism
seksual : predisposisi herediter, malfungsi hormonal, hubungan
patologis, riwayat penyiksaan seksual, dan ada gangguan mental
lainnya.
Kriteria Diagnostik Sadisme Seksual
a. Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat rangsangan yang
merangsang secara seksual, dorongan seksual yang berulang dan kuat
berupa tindakan (nyata atau distimulasi) dimana penderitaan korban
secara fisik atau psikologis (termasuk penghinaan) menyenangkan
pelaku secara seksual.
b. Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku yang menyebabkan
penderitaan bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi social,
pekerjaan, atau fungsibpenting lainnya.
(DSM-IV Diagmostic and Atatistical Manual of Mental Disorder ed 4.
Hak cipta American Pshyciatric Association. Washington . 1994 )
Pedoman diagnostic Sadomasokisme menurut PPDGJ
- Preferensi seksual terhadap aktivitas seksual yang melibatkan
pengikatan atau menimbulkan rasa sakit atau penghinaan;(individu

yang lebih suka untuk menjadi resipien dari perangsangan


-

demikian disebut masochism, sebagai pelaku = sadism)


Seringkali individu mendapatkan rangsangan seksual dari aktivitas

sadistic maupun masokistik.


Kategori ini hanya digunakan apabila aktivitas sadomasokistik

merupakan sumber rangsangan yang penting untuk pemuasan seks.


Harus dibedakan dari kebrutalan dalam hubungan atau kemarahan
yang tidak berhubungan dengan erotisme.

F65.6 Gangguan Preferensi Seksual Multipel


Gangguan Preferensi Seksual Multipel adalah kombinasi dari gangguan
preferensi seksual. Kombinasi yang paling sering adalah fetishisme,
transvetisme, dan sadomasokisme.
F65.8 Gangguan Preferensi Seksual lainnya
Skatologia telepon dan computer
Skatologia telepon memiliki karakteristik berupa keinginan untuk menelpon yang
melibatkan teman yang tidak dikenal. Ketegangan dan gairah yang dimulai saat
menelpon, penerima telepon yang mendengarkan suara penelpon (biasanya lakilaki) yang mengekspos keinginan atau obrolan tentang aktivitas seksual yang
merangsang. Perbincangan akan disertai dengan masturbasi dan akan berhenti jika
telepon dimatikan. Para pelaku juga sering menggunakan jaringan interaktif
computer, terkadang secara impulsive, untul mengirimkan pesan melalui email
dengan tujuan menyalurkan pesan dan video seksual secara eksplisit. Adanya
pelaku anoimitas pada pengguna forum obrolan on line yang menggunakan nama
samara, cybersex dapat membuat pelaku memainkan peran lawan jenis, yang
dapat menjadi metode alternative untuk mengekspresikan fantasi transeksualnya.
Bahaya pada cybersex online, para pelaku pedofil sering berhubungan dengan
anak-anak atau remaja yang dapat terpengaruh dengan mereka. Beberapa kontak
online berkembang menjadi pertemuan langsung. Meskipun beberapa pertemuan
menjadi hubungan yang bermakna, tetapi kebanyakan dipenuhi dengan

kekecewaan dan disilusi karena tidak sesuai dengan ekspektasi pelaku. Pada
situasi lain, beberapa pelaku dewasa yang bertemu tersebut dapat memperkosa
bahkan membunuh korbannya.
Nekrofilia
Nekrofilia adalah obsesi seksual yang dicapai dari mayat. Kebanyakan orang
dengan kelainan ini, muncul keinginannya saat bertemu di kamar mayat, tetapi
beberapa juga diketahui dapat menggali kubur atau membunuh telebih dahulu
untuk memenuhi nafsu seksualnya. Para pelaku percaya bahwa mereka dapat
menimbulkan penghinaan yang besar terhadap korbannya.
Partialism
Partialism adalah gangguan seksual pada satu bagian tubuh. Kontak mulut-genital,
sperti cunnilingus( kontak oral dengan genitalia eksterna wanita), fellatio (kontak
oral dengan penis), anilingus (kontak oral dengan anus) normal biasanya
berhubungan dengan fore play. Freud menyatakan bahwa permukaan mukosa
tubuh bersifat erotogenik dan mampu memproduksi sesuatu yang menyenangkan.
Ketika pelaku tidak dapat melakukan atau menolak coitus dan aktivitas tersebut
sebagai satu-satunya sumber pemuasan kebutuhan seksual maka disebut dengan
parafilia atau oralism.
Zoofilia
Zoofilia, biasanya pada hewan-hewan terlatih bias menjadi fantasia tau gairah
seksual, termasuk persetubuhan, masturbasi, kontak genital-oral. Zoofilia berupa
parafilia yang terorganisir jarang terjadi. untuk beberapa orang, hewan-hewan
domestic sering digunakan untuk memuaskan gairah seksual. Hubungan seksual
dengan hewan biasanya terjadi pada tempat yang memiliki peraturan yang keras
tentang seksual sebelum menikah dan tempat isolasi. Karena masturbasi dapat
terjadi di berbagai situasi, predileksi untuk kontak terhadap hewan, dapat
menimbulkan kesempatan timbulnya zoofilia.
Koprofilia

Koprofilia adalah kepuasan seksual yang berhubungan dengan keinginan defekasi


dengan pasangannya, atau didefekasi atau memakan kotoran pasangannya
(koprofagia). Varian lain adalah adanya kelainan kompulsif berupa mengutarakan
kata-kata kotor(koprolalia).
Urofilia
Urofilia adalah bentuk erotisisme uretral dimana kesenangan seksual berhubungan
dengan keinginan untuk mengencingi atau dikencingi. Pada wanita dan laki-laki
kelainan dapat berhubungan dengan teknik masturbasi yang melibatkan insersi
benda asing ke dalam uretra untuk kepuasan seksual.
F65.9 Gangguan Preferensi Seksual YTT
Disforia post coitus
Disforia postcoitus terjadi pada fase resolusi seksual ketika pelaku merasakan
relaksasi psikologis dan muscular. Beberapa pelaku post coitus merasakan
kepuasan seksual yang kemudian menjadi depresi, cemas, irritable, dan
menunjukkan agitasi psikomotor. Mereka sering ingin menjauh dari pasangannya
dan menindas secara fisik maupun verbal. Prevalensinya lebih sering pada lakilaki. Kelainan lebih sering pada perselingkungan dan prostitusi. Ketakutan
terhadap AIDs menyebabkan beberapa pelaku mengalami disforia post coitus.
Masalah Pasangan seksual
Keluhan berasal dari pasangan seksual atau suami istri dan jarang berupa
disfungsi individual. Contohnya pada pasangan yang lebih suka seks di pagi hari
kebanding malam, atau ketidakserasian pada frekuensi aktivitas seksual.
Unconsummated marriage
Pasangan datang setelah menikah beberapa bulan atau beberapa tahun karena
tidak pernah berhubungan selama menikah. Penyebab hal ini bervariasi : tidak
adanya pendidikan seks, larangan seksual yang terlalu ditekankan oleh orang tua
atau masyarakat, masalah dengan sifat oedipal, ketidakmatangan dengan kedua

pasangan, ketergantungan yang berlebihan pada keluarga primer, dan masalah


dalam identifikasi seksualnya. Ortodoksi keagamaan, pengendalian seksual,
perkembangan seksual, dan penyamaan seksualitas dengan dosa juga telah
dinyatakan sebagai penyebab yang dominan. Pada hal ini, wanita yang
mengalaminya mungkin memiliki penyimpangan konsep tentang vaginanya.
Mereka mungkin mengatakan vaginanya terlalu kecil atau terlalu lunak.
Sedangkan pada laki-laki mungkin menganggap penisnya terlalu besar atau terlalu
kecil. Banyak pasien dapat dibantu dengan pendidikan sederhana tentang anatomi
dan fisiologi genital, dengan anjuran untuk eksplorasi diri, dan dengan informasi
yang tepat dari dokter. Terapi lain yang juga dapat membantu adalah dual-sex
therapy, conjoint therapy, konseling perkawinan, psikoterapi tradisional atas dasar
hadap-hadapan, konselng dari dokter keluarga, dokter ahli ginekologi atau dokter
urologi.
Masalah Citra Tubuh
Beberapa orang merasa malu akan tubuhnya dan mengalami perasaan
ketidakcakapan yang berhubungan dengan standar yang dibentuk diri sendiri akan
maskulinitas atau feminimitas. Mereka mungkin melakukan seks hanya saat gelap
total, tidak memperbolehkan bagian tertentu dilihat atau disentuh, atau melakukan
prosedur operatif yang tidak diperlukan untuk menghadapi ketidakcakapan
khayalan mereka.
Don Juanisme
Beberapa laki-laki tampaknya hiperseksual yang sebenarnya untuk menutupi
inferioritasnya yang dalam. Beberapa orang memiliki impuls homoseksual yang
tidak disadari, yang disangkalnya dengan kontak seksual yang kompulsigf dengan
wanita. Setelah melakukan hubungan seksual, sebagai Don Juan tidak lagi tertarik
dengan wanita. Keadaan ini sering disebut sebagai kecanduan seks.
Nimfomania

Nimfomania adalah keadaan patologis yang ditandai dengan nafsu berlebihan


untuk koitus pada seorang wanita. Wanita sering kali memiliki ketakutan yang
kuat akan kehilangan cintanya. Wanita berusaha untuk memuaskan kebutuhan
ketergantungannya, bukan untuk memuaskan impuls seksualnya.
Penderitaan yang Persisten dan Nyata tentang Orientasi Seksual
Penderitaan tentang orintasi seksual seseorang ditandai dengan ketidakpuasan
dengan

pola

rangsangan

homoseksual,

keinginan

untuk

meningkatkan

perangsangan heteroseksual, dan perasaan negative tentang menjadi homoseksual.


Factor prognostic yang mengarah baik pada reorientasi heteroseksual pada lakilaki adalah berusia kurang dari 35 tahun, memiliki motivasi yang tinggi untuk
reorientsi.

Diagnosis Banding
Perlu dibedakan antara gangguan preferensi seksual dengan yang hanya coba-coba
dimana tindakan dilakukan untuk mengetahui efek baru dan tidak secara rekuren
dan kompulsif. Beberapa gangguan preferensi seksual adalah bagian dari
gangguan mental lain, seperti skizofrenia.
Perjalanan Penyakit dan Prognosis
Prognosis untuk gangguan preferensi seksual berhubungan dengan onset usia
yang awal, tingginya frekuensi tindakan, tidak adanya rasa bersalah atau malu
terhadap tindakan tersebut, dan penyalahgunaan zat. Prognosis baik bila pasien
memiliki motivasi yang tinggi untuk berubah, dan juka pasien dating sendiri
bukan karena dibawa oleh keluarga.
Terapi
Psikoterapi berorientas tilikan adalah pendekatan yang paling sering digunakan
untuk mengobati gangguan preferensi seksual. Pasien memiliki kesempatan untuk
mengerti dinamikanya sendiri dan peristiwa yang menyebabkan perkembangan

gangguan preferensi seksual. Secara khusus, mereka menjadi menyadari peristiwa


sehari-hari yang menyebabkan mereka bertindak atas impulsnya. Psikoterapi juga
memungkinkan pasien meraih kembali harg diringa dan memperbaiki kemampuan
interpersonal dan menemukan metoda yang dapat diterima untuk mendapatkan
kepuasan seksual. Terapi kelompok juga berguna.
Terapi seks adalah pelengakap yang tepat untuk pengobatan pasien yang
menderita disfungsi seksual tertentu dimana mereka mencoba melakukan aktivitas
seksual yang tidak menyimpang dengan pasangannya.
Terapi perilaku digunakan untuk memutus pola gangguan preferensi seksual yang
dipelajari. Stimuli yang menakutkan, seperti kejutan listrik atau bau menyengat,
telah dipasangkan dengan impuls tersebut, yang selanjutnya menghilang. Stimuli
dapat diberikan oleh diri sendiri dan digunakan oleh pasien bilamana mereka
merasa bahwa mereka akan bertindak atas dasar impulsnya.
Terapi obat, termasuk medikasi antipsikotik dan antidepresan, dapat diindikaskan
sebagai pengobatan skizofrenia atau ganggaun depresif jika diserti dengan
gangguan-gangguan tersebut. Antiandrigen, seperti cyproterone acetate di Eropa
dan medroxyprogesterone acetate(Depo-Provera) di Amerika Serikat, telah
digunakan secara eksperimental pada gangguan preferensi seksual hiperseksual.
Beberapa

kasus

telah

melaporkan

penurunan

perilaku

seksual.

Medroxyprogesterone acetate tampaknya bermanfaat bagi pasien yang dorongan


hiperseksualnya (contonya , masturbasi hamper terus menerus, kontak seksual
pada tiap kesempatan, seksualitas kompulsif) di luar kendali atau berbahaya. Obat
serotogenik seperti fluoxetin (Prozac) telah digunakan pada beberapa kasus
gangguan preferensi seksual dengan keberhasilan yang terbatas.