Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

PSIKOLOGI UMUM I
ALIRAN PSIKOLOGI
STRUKTURALISME, FUNGSIONALISME, & GESTALT

Oleh
Delius Fridolin Marpaung (121301096)
Livi Yohana (121301002)
Fitri Nirwana Sinaga (121301074)
Permata Ismawarni Putri Purba (121301030)

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah
memberikan rahmat dan berkah-Nya yang tiada hentinya, terutama nikmat kesehatan,
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Aliran Psikologi Struktualisme, Fungsionalisme, dan Gestalt ini.
Tugas makalah ini kami susun untuk memenuhi persyaratan guna memenuhi nilai
tugas dalam mata kuliah Psikologi Umum I di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera
Utara.
Terima kasih kami ucapkan kepada dosen pembimbing Ibu Ika Sari Dewi, S.Psi, Psi
dan Ibu Dina Nazriani, M.Psi, karena telah memberikan kami tugas, sehingga kami
mendapatkan pengetahuan mengenai aliran-aliran psikologi itu dan juga membentuk
kekompakan dalam kelompok kami ini.
Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,
oleh karena itu kritik dan saran pembaca yang sifatnya membangun sangat diharapkan
demi kesempurnaan makalah ini.

Medan, September 2012

Kelompok 5 (Lima)

DAFTAR ISI
halaman

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I

...................................................................................

.................................................................................................

ii

PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG

.......................................................

...................................................

............................................................................

1.2. RUMUSAN MASALAH


1.3. TUJUAN

BAB II

PEMBAHASAN
2.1. STRUKTURALISME

........................................................

2.2. FUNGSIONALISME

.........................................................

.....................................................

10

...........................................................................

18

........................................................................................

18

...................................................................................

19

2.3. PSIKOLOGI GESTALT

BAB III

PENUTUP
KESIMPULAN
SARAN

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia dan
hubungannya dengan lingkungannya. Manusia sebagai objek material dalam
pembelajaran ilmu psikologi tentu memiliki kepribadian dan tingkah laku yang
berbeda satu dengan yang lainnya. Manusia memiliki kecerdasan, akal pikiran,
tingkah laku yang berbeda dari makhluk lainnya, sehingga manusia merupakan
makhluk yang sempurna baik fisik maupun mental. Keunggulan manusia yang unik
tersebut, menjadi objek pembelajaran ilmu pengetahuan terutama ilmu psikologi.
Seiring dengan perkembangan zaman dan berkembangnya rasa keingintahuan
dalam memahami manusia, mulailah bermunculan tokoh-tokoh beserta teori-teori
dan aliran psikologi yang mendukung penjelasan mengenai karakter, tingkah laku
serta kejiwaan manusia. Setiap aliran yang muncul memiliki paham, pengertian dan
mekanisme yang berbeda terhadap objek yang sama yaitu manusia. Seperti aliran
Struktualisme yang berkembang pada abad ke-19, mempelajari struktur jiwa
seseorang

dengan

menggunakan

metode

kesadaran.

Sedangkan

aliran

Fungsionalisme mempelajari setiap aktivitas manusia seperti berpikir, emosi


merupakan operasi-operasi dari sebuah lingkungan fisik, dan psikologi Gestalt
yang menekankan pada suatu totalitas.
Kerap sekali orang menganggap psikologi tersebut sebagai ilmu yang netral
(bebas nilai), padahal di balik setiap teori maupun aliran psikologi, terdapat banyak
perbedaan pendapat/ asumsi-asumsi yang tidak netral dari masing-masing tokoh.
Berdasarkan perbedaan tersebut, makalah ini disusun dengan tujuan untuk
menjelaskan

beberapa

aliran

psikologi

seperti

aliran

Strukturalisme,

Fungsionalisme, dan Gestalt dari pencentusnya dan menjawab rasa keingintahuan


tentang karakter manusia yang berbeda dan unik dari makhluk lainnya.

1.2. RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan
masalah adalah:

1. Apa saja aliran psikologi strukturalisme, fungsionalisme, dan gestalt itu?


2. Siapa saja tokohnya dari ketiga aliran tersebut?
3. Apa fungsi dari mempelajari aliran psikologi tersebut?

1.3. TUJUAN
Adapun tujuan dari makalah ini adalah
1. Memahami latar belakang dan sejarah timbulnya aliran-aliran dalam psikologi.
2. Memahami ketiga aliran psikologi tersebut, tokoh-tokohnya serta pandanganpandangan pokoknya dan karakteristik-karakteristik yang menonjol.
3. Memahami bahwa tiap timbul aliran baru tentu ada latar belakang semangat
jaman yang sudah masak untuk mengadakan perubahan ke arah pandangan
baru tersebut, atau ada tokoh besar yang membawa pandangan-pandangan yang
baru.
4. Memahami pengaruh sejarah pandangan masa lampau bagi pandanganpandangan masa kini, dan pengaruh pandangan masa kini dalam memberi
makna pada sejarah pandangan-pandangan di masa lampau.
5. Mempelajari sejarah dan aliran tersebut sehingga dapat tumbuh menjadi
mahasiswa yang berwawasan luas, bukan hanya pandai, tapi juga bijak,
terutama dalam menanggapi perbedaan-perbedaan pandangan dalam mengkaji
perilaku manusia, mampu bersikap kritis, bersikap toleran, penuh pemahaman,
dan selalu berkembang secara kreatif dalam memandang manusia dan
kehidupannya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. STRUKTURALISME
Struktur adalah sistem transformasi yang mengandung kaidah sebagai sistem
(sebagai lawan dari sifat unsur-unsur) dan yang melindungi diri atau memperkaya
diri melalui peran transformasi-transformasinya, tanpa keluar dari batas-batasnya
atau menyebabkan masuknya unsur-unsur luar.
Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada awal berdirinya psikologi sebagai
satu disiplin ilmu yang mandiri, psikologi didominasi oleh gagasan serta usaha
mempelajari elemen-elemen dasar dari kehidupan mental orang dewasa normal,
melalui penelitian dengan menggunakan metode introspeksi. Pada masa itu, tercatat
satu aliran psikologi yang disebut psikologi strukturalisme.
Strukturalisme menekankan pada pengalaman mental yang kompleks, yang
terdiri atas keadaan-keadaan mental yang sederhana, kesadaran dan proses
pembentukannya.
Tujuan psikologi, menurut kaum strukturalis adalah menyelidiki apa,
bagaimana, dan mengapa terjadi pengalaman dan kesadaran. Kaum strukturalis
memecahkan masalah relasi kesadaran dengan otak atau tubuh, dengan jalan
menggunakan prinsip pararelisme psikofisikal, yaitu satu bentuk dualisme di mana
jiwa dan tubuh dianggap sebagai dua substansi yang terpisah satu dari lain tanpa
interaksi di antara keduanya; tetapi pararel antara satu dengan lainnya sedemikian
rupa, sehingga untuk setiap kejadian di dalam kesadaran selalu akan terdapat
peristiwa yang cocok dan sesuai di dalam tubuh. Tokoh psikologi strukturalisme ini
adalah Wilhelm Wundt.
Wilhelm Wundt (1832-1920) pada awalnya dikenal sebagai seorang sosiolog,
filsuf, dan ahli hukum, yang merupakan sarjana hukum dan sarjana kedokteran di
Heidelberg, Tubingen dan Berlin. Wilhelm Wundt merupakan orang pertama yang
mendirikan laboratorium psikologi di Leipzig, yang merupakan awal berdirinya
psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.

Wundt sangat dipengaruhi oleh 2 orang tokoh lain yang dianggap sebagai
gurunya, yaitu Helmholtz dan J. P. Muller, yang membantunya mengombinasikan
filsafat dengan ilmu pasti, seperti pada bukunya System of Philosophy (1884).
Penelitian utama yang dilakukan oleh Wundt dan mahasiswanya memusatkan
pada upaya untuk menemukan unsur-unsur dasar, atau struktur proses-proses
mental. Strukturalisme sendiri menyelidiki struktur kejiwaan. Kemudian,
sistematika psikologi dari Wundt mengalami perkembangan dari masa ke masa:
1.

1860-an Prasistematik
Persepsi dan perbedaan antara perasaan (feeling) dan penginderaan (sensation)
yang didasarkan pada doktrin (unconscious inference).

2.

1874-1887 Elementisme, Sensasionisme, Assosiasionisme (Physiologische


Psychologie).
Mulai meninggalkan konsep-konsep unconscious inference. Jiwa merupakan
elemen-elemen penginderaan, perasaan dan sebagainya yang dihubungkan
dengan asosiasi (konsep yang dipinjam dari tokoh-tokoh Inggris).

3.

1896 Fase Empirisme (Brundiss der Psychologie)


Teori 3 dimensi dari perasaan (feeling), terdapat 3 pasang kutub perasaan,
yaitu:
a. Lust - Unlust = senang tak senang (pleasantness unpleasantness)
b. Spannus Losuns = tegang tak tegang (strain relaxation)
c. Erreguns Beruhigung = semangat tenang (excitement calm)

4.

1902-1903 (Vilker Psychologie)


Konsep apersepsi bertambah penting. Setiap rangsangan yang sampai ke
indera manusia selalu dipersepsikan, tetapi hanya yang secara aktif.
Eksperimenter

hanya

dapat

memberikan

rangsang-rangsang

untuk

dipersepsikan oleh orang percobaan. Dalam bukunya Volker Psychologie The


Higher Mental Processes, yaitu proses-proses mental lebih tinggi dari
penginderaan, perasaan, persepsi dan apersepsi.

Wundt dengan tegas membedakan antara psikologi dan fisik:


Psikologi

: immediate experience dan data-data, bersifat fenomenal yang


tidak permanen. Keseluruhanlah yang terpenting.

Fisik

: mediate experience data-data konseptual karena wujud bersifat


permanen.

Wundt menggunakan metode selbs-beobachtung atau introspeksi, yang terdapat


dalam fisik jiwa dan tubuh.
Tiga persoalan yang harus dibahas dalam psikologi yang berdiri sendiri
menurut Wundt adalah:
1. Analisa dari proses kesadaran ke dalam elemen-elemen.
2. Penyelidikan mengenai bagaimana terjadinya hubungan-hubungan antara
elemen-elemen itu.
3. Penentuan hukum-hukum yang mengatur hubungan-hubungan tersebut.
Pada pendapat terakhir ini, nampaklah inkonsistensi teori-teori Wundt.
Analisis mengenai kesadaran ke dalam elemen-elemennya, akan menghasilkan
tiga hal yang tidak dapat dikurangi atau lebih disederhanakan lagi, yaitu:
penginderaan, gambaran dan keadaan afektif (keadaan perasaan dan emosi).
Masing-masing dari hal tersebut merupakan unsur dalam penginderaan, yang tidak
bisa dipecah-pecah lagi oleh analisis introspektif. Akan tetapi, masing-masing
dapat dituliskan berkenaan dengan sifat-sifatnya. Semua unsur memiliki sifat
kualitas, intensitas, dan lamanya berlangsung. Kualitas merupakan sifat yang
paling fundamental, yang memungkinkan seseorang membedakan satu pengalaman
dari pengalaman lainnya.
Untuk beberapa tahun lamanya, strukturalisme merupakan aliran yang
dominan dari psikologi di Amerika Serikat dan Jerman; sesudah itu aliran tersebut
banyak diserang oleh sistem-sistem saingan lainnya. Di Amerika Serikat,
fungsionalisme menjadi sistem favorit; sedang di Jerman, psikologi Gestalt. Hal ini
terjadi karena aliran ini tidak mampu memperluas metodenya tentang tingkah laku,
atau tidak mampu menyajikan tes mental dan studi mengenai cara belajar.

2.2. FUNGSIONALISME
Fungsionalisme (Functional Psychology) adalah aliran psikologi yang tumbuh
di Amerika serikat yang dipelopori oleh William James (sering disebut bapak
psikologi Amerika Serikat). Tokoh-tokoh lain juga terkenal yang dibagi dua
kelompok yaitu Chicago (Chicago School of Functionalism) didirikan John Dewey

dan kelompok Columbia (Columbia School of Functionalism) dengan tokohnya


James McKeen Cattell).
Fungsionalisme merupakan reaksi terhadap pandangan/ aliran strukturalisme
tentang keadaan-keadaan mental. Fungsionalisme adalah suatu tendensi dalam
psikologi yang menyatakan bahwa pikiran, proses mental, persepsi indrawi, dan
emosi adalah adaptasi organisme biologis sebagai suatu jenis psikologi yang
menggaris bawahi fungsi-fungsi dan bukan hanya fakta-fakta dari fenomena
mental, atau berusaha menafsirkan fenomena mental dalam kaitan dengan peranan
yang dimainkannya dalam kehidupan organisme itu, dan bukan menggambarkan
atau menganalisis fakta-fakta pengalaman atau kelakuan yang mendekati masalah
pokok dari sudut pandang yang dinamis, dan bukan dari sudut pandang statis.
Apa pun rumusan tentang fungsionalisme, aliran psikologi ini pada intinya
merupakan doktrin bahwa proses atau keadaan sadar seperti kehendak bebas,
berpikir, beremosi, memersepsi, dan mengindrai adalah aktivitas atau operasi dari
sebuah organisme dalam kesalinghubungan fisik dengan sebuah lingkungan fisik.
Aktivitas ini memudahkan kontrol organisme, daya tahan hidup, adaptasi,
keterikatan atau penarikan diri, pengenalan, pengarahan, dan lain-lain. Seluruh
organisme dapat dianalisis sebagai sebuah sistem umpan balik dan stimulus
respons.
Fungsionalisme merupakan paham yang tumbuh di Amerika Serikat dengan
sifat-sifat bangsa Amerika yang serba praktis dan pragmatis. Strukturalisme, di lain
pihak, tumbuh di Jerman, di tengah-tengah bangsa yang terkenal dengan
keahliannya dalam berfilsafat dan berteori. Dengan sendirinya, perbedaan latar
belakang ini menimbulkan berbagai perbedaan dalam pandangan antara kedua
aliran ini (Dirgagunarsa, 1996:56).
Aliran fungsionalisme ini mempelajari fungsi dan tingkah laku atau proses
mental, bukan hanya mempelajari struktural. Metode yang dipakai oleh aliran
fungsionalisme dikenal sebagai metode observasi tingkah laku dan intropeksi .
1.

METODE OBSERVASI TINGKAH LAKU, terbagi menjadi 2 (dua) yaitu:


a. Metode Fisiologis
Menguraikan tingkah laku dari sudut pandang anatomi dan ilmu faal. Jadi,
mempelajari perilaku yang dikaitkan dengan organ-organ tubuh dan sistem
sarafnya.

b. Metode Variasi Kondisi


Tidak semua tingkah laku manusia dapat dijelaskan dengan anatomi dan
fisiologi, karena manusia mempunyai sudut psikologis. Metode variasi
kondisi

inilah

yang

merupakan

metode

eksperimen

dari

aliran

fungsionalisme.

2.

METODE INTROSPEKSI
Stimulus berasal dari lingkungan secara alamiah, bisa pada banyak bagian
sekaligus sehingga jiwa menunjukkan fungsinya. Metode ini terlalu bersifat
subjektif sehingga sulit di sistematikan dan sulit dikuantitatifkan.

WILLIAM JAMES adalah seorang pendahulu yang dianggap paling penting


untuk aliran fungsionalisme. Pendidikan awalnya adalah seorang dokter dan ia
pertama kali mengajar fisiologis di Harvard pada tahun 1872. Semenjak tahun 1878
ia mendalami filsafat dan psikologi serta mendapat gelar professor untuk kedua
bidang tsb. Menurut Lundin (1991), James lebih muncul sebagai seorang filsuf
daripada seorang psikolog. Pengaruhnya sangat kuat pada aliran fungsionalisme,
terutama kelompok Chicago school. Karya utamanya adalah Principles of
Psychology. Karya yang sering dijadikan rujukan untuk mahasiswa psikologi tahun
awal adalah Psychology : Briefer Course.
Menurutnya, fenomena adalah subyek dan kondisi adalah proses fisiologis di
otak; psikologi adalah natural science. Menurutnya, ada tiga metode utama dalam
psikologi, yaitu:
a. Introspection. Merupakan metode penting dan utama dalam psikologi.
Introspeksi yang dimaksud sangat berbeda dengan introspeksi dalam aliran
strukturalisme. Bagi James, introspeksi adalah kecenderungan alamiah
manusia, kemampuan untuk menyadari apa yang telah terjadi.
b. Experimentation. James mengakui metode ini sebagai metode penting
namun tidak pernah melakukannya sendiri. Ia menganggap metode ini
perlu dieksplorasi lebih lanjut.
c. Comparative method. Metode tambahan yang dapat digunakan untuk
psikologi anak-anak, binatang, orang primitif, dan penderita gangguan
mental.

Dalam pandangan-pandangannya yang lain, tampak jelas bahwa bagi James,


proses fisiologis di otak dan di dalam tubuh manusia adalah representasi dari
proses mental dan hal ini adalah penentu tingkah laku dan menentukan bagaimana
manusia mempersepsikan lingkungan. James juga mengakui adanya proses
habituasi yang otomatis dan semakin tidak disadari, meskipun meninggalkan jejak
dalam benak manusia. Baginya, proses mind lebih penting daripada elemen-elemen
mind itu sendiri. Pandangan ini terwakili dengan jelas dalam teorinya tentang
emosi, bersama-sama Carl Lange, yang dikenal sebagai James-Lange Theory.
(Baca pandangan James tentang habit, instintct, emotion, reason dan memory,
Lundin hal 104-106)
James dikenal sebagai salah seorang psikolog terbesar Amerika. Sebagai
pribadi ia juga diakui populer dan charming, serta kemampuan menulisnya sangat
mengagumkan. Ia juga dikenal sebagai seorang penentang keras aliran
strukturalisme dari Wundt. Meskipun pada masanya idenya sangat berpengaruh,
dengan berlalunya waktu hanya sedikit pandangannya yang bertahan hingga masa
kini.

JOHN DEWEY (1859-1952) adalah seorang guru dan mendapat gelar PH.D dalam
bidang filsafat. Ia kemudian mengajar di University of Chicago dan ikut dalam
perkembangan fungsionalisme di Chicago. Tahun 1904 pindah ke Columbia
University dan tinggal di sana hingga akhir hayatnya.
Pandangan utamanya bahwa sebuah aksi psikologis adlaah suatu kesatuan
yang utuh, tidak dapat dipecah ke dalam bagian-bagian atau elemen (seperti yang
dilakukan oleh strukturalisme). Maka setiap psychological events tidak bisa
dipandang sebagai konstruk-konstruk abstrak. Akan lebih bermanfaat apabila
difokuskan pada fungsi psy. Events tersebut, yaitu dalam konteksnya sebagai
adaptasi manusia. Contoh : anak yang mengulurkan jarinya sebagai respon adanya
api dan terbakar.

JAMES ROWLAND ANGELL (1867-1949) Berasal dari keluarga terpelajar, ayah


dan kakeknya pernah menjabat sebagai rektor dari universitas besar di AS. Ia
memperoleh gelar M.A. dari Harvard dan menjadi murid William James di sana.
Sepanjang karirnya ia tidak pernah mendapat gelar Ph.D namun memperoleh 23
gelar doktor honoris causa. Ia menjabat kepala departemen psikologi dan pernah

menjabat sebagai presiden dari APA sejak tahun 1906 dan dalam jabatannya itu ia
terkenal dengan papernya erjudul The Province of Functional Psychology.
Angell adalah seorang yang kritikal terhadap strukturalisme. Pada masa
keaktifannya, aliran fungsionalisme sedang berkembang dan berjuang untuk
memperoleh tempat yang mapan dalam khasanah dunia ilmu sehingga juga
memunculkan banyak kritik terhadap aliran strukturalisme yang sudah lebih dlu
mapan. Baginya, psychological entity tidak ada yang dapat dipisah-pisah seperti sel
dalam ilmu biologi. Psychological entity adalah sebuah kompleks yang kita kenal
sebagai persepsi. Hal ini jelas tidak sejalan dengan strukturalisme.
Dalam paper-nya ia mengemukakan tiga macam pandanganya terhadap
fungsionalisme yaitu:
1.

Fungsionalisme adalah psikologi tentang mental operation (aktivitas


bekerjanya jiwa), sebagai lawan terhadap psikologi tentang elemen-elemen
mental.

2.

Fungsionalisme adalah psikologi tentang kegunaan-kegunaan dasar dari


kesadaran, dimana jiwa (mind) merupakan perantara antara lingkungan dan
kebutuhan-kebutuhan organisme. Untuk keadaan biasa yang tidak emergensi
(darurat), berfungsi kebiasaan (habit).

3.

Fungsionalisme adalah psikofisik, yaitu psikologi tentang keseluran organisme


yang terdiri dari badan dan jiwa. Ia mempelajari juga hal-hal diluar kesadaran,
misalnya kebiasaan (habit) dan setengah sadar (half consciousness).

EDWARD LEE THORNDIKE (1874-1949), pernah bekerja di Teachers College


of Columbia dibawah kepemimpinan James Mc. Keen Cattel. Thorndike lebih
menekankan penelitiannya pada cara dan dasar belajar. Dasar pembelajaran yaitu
asosiasi dan cara coba-salah (trial and error). Ia merumuskan beberapa prinsip:
The Law of Effect yaitu hukum yang menyatakan intensitas hubungan antara
stimulus-respons akan meningkat jika mengalami keadaan yang menyenangkan,
sebaliknya akan melemah jika keadaan tak menyenangkan.
The Law of Exercise atau The Law of use and disuse adalah hukum bahwa
stimulus-respons dapat timbul atau didorong dengan latihan berulangulang.

JAMES MCKEEN CATTELL (1860-1944), tokoh dari aliran fungsionalisme


Columbia. Ciri khas dari aliran Columbia kebebasan dalam mempelajari tingkah
laku yang dicerminkan dalam dua pandangan tentang fungsionalisme:
1.

Fungsionalisme tidak perlu menganut paham dualisme, karena manusia


dianggap sebagai keseluruhan yang merupakan kesatuan.

2.

Fungsionalisme tidak perlu deskriftif dalam mempelajari tingkah laku, karena


yang penting adalah fungsi tingkah laku, jadi yang harus dipelajari adalah
hubungan (korelasi) antara satu tingkah laku dengan tingkah laku lainnya, atau
antara suatu tingkah laku dengan suatu hal yang terjadi di lingkungan.

ROBERT SESSIONS WOODWORTH (1869-1962), berasal dari kelompok


Columbia. Ia adalah tokoh yang terkemuka da pernah mendapat mendali emas
(1956) dari The American Psychological Foundantion atas jasa-jasanya yang
mempersatukan dan mengorganisasikan psikologi di Amerika Serikat.
Pahamnya yang dikemukakan dalam buku Dynamic Psychology (1918)
menyebabkan bahwa Wood worth patut digolongkan dalam pengikut aliran
psikodinamik., dan berpendirian bahwa metode intropeksi tidak mesti harus
dibuang demikian saj dalam penelitian psikologi. Karena minatnya yag besar dalam
hal mempelajari motivasi sebagai dasar tingkah laku manusia, Woodworth sering
disebut sebagai tokoh yang mempelopori ilmu tentang motif, atau motivologi.

2.3. PSIKOLOGI GESTALT (Gestalt Psychology)


Psikologi Gestalt (Gestalt Psychology) merupakan salau satu aliran atau posisi
sistematis dalam bidang psikologi, dengan dampak adanya penentuan bahwa pokok
persoalan yang sejati bagi psikologi adalah: tingkah laku dan pengamalan sebagai
kesatuan totalitas. Beberapa derajat analisis memang diperbolehkan, namun hal ini
harus dilihat sebagai keanekaragaman fenomenologis; sebab analisis molekuler
atau elementer bisa merusak kualitas kesatuannya dari benda atau hal yang tengah
dianalisis itu. Mirip dengan hal ini, pengalaman yang disadari itu tidak dapat
dipecahkan menjadi elemen-elemen strukturalistis.

Unsur-unsur

Keseluruhan

Keseluruhan dalam Pandangan Aliran Gestalt

Aliran Psikologi Gestalt sendiri dimulai tahun 1912, yang pertama kali
dikemukakan di Jerman oleh Max Wertheimer melalui kertas karya-nya (seperti
karya ilmiah). Aliran ini mengkritik aliran ortodoks dari Wundt. Psikologi Gestalt
menekankan kritiknya pada penguraian kesadaran ke dalam elemen-elemen yang
dilakukan oleh strukturalismenya Wundt, tetapi Psikologi Gestalt masih mengakui
adanya unsur kesadaran itu sendiri, walaupun dalam bentuk yang utuh (totalitas,
tidak terbagi-bagi dalam elemen-elemen).
Istilah gestalt sendiri merupakan istilah bahasa Jerman yang mana
terjemahannya sukar dicari dalam bahasa-bahasa lain. Gestalt sendiri, menurut
bahasa Jerman, memiliki arti bentuk, rupa, sosok, potongan, perawakan.
Terjemahannya ke dalam bahasa Inggris pun bermacam-macam antara lain shape
psychology, convigurationism, whole psychology, dan sebagainya. Karena adanya
kesimpangsiuran dalam penerjemahan, akhirnya para sarjana di seluruh dunia
sepakat untuk menggunakan istilah Gestalt tanpa menerjemahkannya ke dalam
bahasa lain.
Untuk dapat mengerti arti yang sebenarnya dari Psikologi Gestalt, kita perlu
mempelajari ciri-ciri khas dari aliran Psikologi Gestalt itu sendiri, yaitu bahwa
Psikologi Gestalt mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas
sebagai fenomena. Prinsip mempelajari gejala sebagai totalitas, pertama kali
dikemukakan oleh Christian von Ehrenfels (1859-1932): tokoh yang merangsang
timbulnya aliran Psikologi Gestalt ini, melalui eksperimennya mengenai musik di
tahun 1890. Alasannya: kalau kita mendengarkan sebuah lagu, yang kita dengar
bukan satu persatu notnya, melainkan gabungan not yang menjadikannya disebut
sebagai lagu. Komposisi ini merupakan keseluruhan yang lebih penting artinya
daripada not-not yang merupakan elemen-elemen. Suatu komposisi lagu
mempunyai sifat tertentu yang disebut emergent, yang tidak dimiliki oleh not-not
dalam lagu itu secara satu per satu. Kalau tangga nada lagu itu diubah, maka not-

not dalam lagu itu pun berubah, namun selama komposisinya masih tetap, maka
emergent-nya masih sama, maka kita tetap akan mendengarkan lagu yang sama.
Dalam Psikologi Gestalt, fenomena adalah data yang paling dasar. Apa yang
dialami seseorang adalah pengalaman fenomenal. Dalam hal ini Psikologi Gestalt
sependapat dengan pandangan filsafat fenomenologi yang mengatakan bahwa
pengalaman haruslah dilihat secara netral, tidak dipengaruhi oleh apa pun. Di
dalam fenomena, kita melihat dua unsur, yaitu objek dan arti. Objek dari fenomena
mempunyai sifat-sifat yang dapat dideskripsikan, tetapi segera objek itu tertangkap
oleh indera kita, maka kita akan menerimanya sebagai informasi dan pada saat ini
kita sudah memberi arti pada objek itu.
Memang, seperti disinggung di awal, bagi aliran Gestalt, yang utama bukanlah
elemen, tetapi keseluruhan. Kesadaran dan jiwa manusia tidak mungkin dianalisis
ke dalam elemen-elemen. Gejala kejiwaan harus dipelajari sebagai suatu
keseluruhan atau totalitas. Keseluruhan, dalam pandangan aliran Gestalt, lebih dari
sekedar penjumlahan unsur-unsurnya. Keseluruhan itu lebih dahulu ditanggapi dari
bagian-bagiannya, dan bagian-bagian itu harus memperoleh makna dalam
keseluruhan. Arti atau makna Gestalt bergantung pada unsur-unsurnya; dan
sebaliknya, arti unsur-unsur itu bergantung pula pada Gestalt.
Kaum psikolog Gestalt juga menolak memperlakukan sistem syaraf sebagai
sebuah struktur yang statis, dan seperti mesin yang hanya mampu secara sedikit
demi sedikit atau sepotong demi sepotong mereaksi terhadap perangsang yang
masuk. Sebaliknya, kulit otak dilihat sebagai analog atau sama dengan satu medan
kekuatan yang ada dalam keadaan keseimbangan aktif, dan didalamnya setiap
perangsang yang masuk selalu saja mempengaruhi keseluruhan medan tadi.
Terlebih lagi, mengenai kulit otak, sifatnya adalah isomorfis (punya bentuk kristal
yang sama) terhadap kejadian-kejadian eksternal. Artinya, dalam hal ini terdapat
persesuaian yang cocok (ada point for-point correspondence) di antara kejadiankejadian kortikal dan objek-objek di tengah lingkungan; namun hubungan ini tidak
menyajikan satu identitas. Malah sebaliknya, keduanya berkaitan dengan cara yang
sama, seperti suatu peta jalan yang erat berkaitan dengan sebuah jalan rayanya.
Peta tersebut

memang

mengubah pemandangan-pemandangan,

sedangkan

tikungan-tikungan dan belokan-belokan jalan diratakan untuk penyederhanaannya,


namun relasi esensial atau yang dasar tetap tinggal sah.

Sebenarnya, teori mengenai Gestalt ini dikembangkan oleh psikologi sosial.


Teori ini berkembang dengan teori S(timulus) R(espons), yang juga dipakai oleh
ilmu komunikasi. Teori ini menandaskan bahwa setiap kegiatan SR
mempunyau organisasi sendiri. Hal ini disebabkan masing-masing orang
mempunyai cara sendiri dalam persepsi, belajar, berprestasi, dan memecahkan
masalah. Karena itu, setiap individu adalah Gestalt tersendiri, dan dari hubungan
atau interaksi dua orang, terjadi pola perngorganisasian tersendiri pula.
Pendapat ini dibuktikan oleh Eric Berne dalam teorinya games people play.
Menurut Berne (1967), setiap hubungan (sosial) dipengaruhi oleh Gestalt sosial
yang dibentuk bersama oleh komunikator dan komunikan. Dalam proses
komunikasinya akan terjadi suatu transaksi. Situasi transaksi adalah hasil dari
situasi SR; sehingga, di samping pengiriman lambang, terjadilah proses
psikologis, yaitu transaksi stimulus dan transaksi respons. Transaksi ini, menurut
Eric Berne, bisa mempunyai implikasi (Berne, 1967:19,29):
1.

ritual

2.

pengisi waktu senggang

3.

permainan atau perlombaan

4.

hubungan intim

5.

kegiatan dan tindakan

Menurut Psikologi Gestalt, manusia tidak memberikan respons pada stimuli secara
otomatis. Manusia adalah organisme aktif yang menafsirkan dan bahkan
mendistorsi lingkungan. Sebelum memberikan respons, manusia menangkap
terlebih dahulu pola stimulus secara keseluruhan dalam satuan-satuan yang
bermakna. Pola inilah yang disebut Gestalt.
Kontribusi Psikologi Gestalt yang paling banyak dikenal ada di bidang
persepsi dan belajar. Konsep perseptual mengenai bentuk dan dasar, hukumhukum organisasi primitif dari persepsikedekatan, kontras, kemiripan, dan
kontiguitas

atau

berbatasanprinsip-prinsip

transposisi

atau

perubahan,

pengakhiran, bentuk yang bagus, dan Pragnaz, semuanya merupakan sumbangan


pikiran dari aliran Gestalt. Dalam kegiatan belajar, para psikolog Gestalt terkenal
dengan studi mereka mengenai wawasan atau insight, dan perluasan teori-teori
mereka ke dalam bentuk cara berpikir yang produktif pada subjek-subjek manusia.
Adapun prinsip belajar menurut Psikologi Gestalt adalah:

1. Manusia bereaksi dengan lingkunganya secara keseluruhan, tidak hanya secara


intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional, sosial dan sebagainya.
2. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.
3. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa,
lengkap dengan segala aspek-aspeknya.
4. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi yang lebih luas.
5. Belajar hanya berhasil bila tercapai kematangan untuk memperoleh insight.
6. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar, motivasi memberi
dorongan yang mengerakan seluruh organisme.
7. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan.
8. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif.

Pemikir utama pada aliran Gestalt ini ialah MAX WERTHEIMER, KOFFKA,
dan WOLFGANG KOHLER.
a.

MAX WERTHEIMER (1880-1943)


Tokoh tertua dari tiga serangkai tokoh-tokoh Gestalt ini dilahirkan di
Praha pada tanggal 15 April 1880 dan meninggal 12 Oktober 1943 di New
York. Wertheimer pada suatu saat harus berimigrasi ke Amerika Serikat
karena alasan-alasan politis. Ia menjadi murid dari Owslad Kulpe di Wurzburg
dan mendapat gelar Ph.D. di universitas tersebut pada tahun 1904. Setelah itu
ia bekerja di beberapa tempat antara lain di Praha, Berlin, dan Wina. Di tahun
1933, Wertheimer hijrah ke Amerika Serikat, Wertheimer bekerja di New
School of Social Research di New York sampai meninggalnya.
Wertheimer sendiri dianggap sebagai tokoh pendiri Psikologi Gestalt di
tahun 1912, bersamaan dengan keluarnya karya ilmiahnya yang berjudul
Experimental Studies of the Perception of Movement. Dalam kertas kerjanya
ini ia mengemukakan hasil eksperimennya dengan menggunakan alat yang
disebut stroboskop, yaitu alat berbentuk kotak yang diberi alat untuk melihat
ke dalam kotak itu. Di dalam kotak terdapat gambar dua buah garis, yang satu
melintang dan yang lain tegak. Kedua gambar itu sekaligus tidak terlihat,
melainkan berganti-ganti. Mula-mula tampak garis melintang, kemudian
tampak garis tegak, kemudian melintang lagi dan demikian seterusnya. Kesan
yang akan terjadi adalah akan nampak bahwa garis itu bergerak dari tegak ke

melintang dan sebaliknya,

terus-menerus. Gerak yang disebut gerak

stroboskopik ini merupakan gerak yang semu, karena sesungguhnya garis-garis


itu sendiri tidak bergerak melainkan muncul berganti-ganti. Gejala ini disebut
juga sebagai phiphenomenon dan dalam kehidupan sehari-hari sering kita
jumpai misalnya kalau kita menonton bioskop atau melihat lampu-lampu
reklame yang bergerak-gerak.
Menurut Wertheimer, gerak stroboskopik ini tidak dapat diterangkan
dengan teori strukturalisme dan elementisme, tetapi hanya diterangkan dengan
teori Gestalt,

yaitu bahwa seseorang melihat

lingkungannya secara

menyeluruh. Persepsi holistik dalam gerak stroboskopik di atas dimungkinkan


karena penglihatan kita tidak hilang demikian saja bersama dengan
menghilangnya rangsang, melainkan meninggalkan jejak tertentu di otak
(isomorfi). Pada waktu garis yang kedua muncul, jejak dari garis yang pertama
masih tertinggal di otak, sehingga memungkinkan orang yang bersangkutan
menghubungkan garis yang kedua dengan garis yang pertama dan sebaliknya.
Dengan demikian terjadilah kesan gerakan dari garis-garsi itu.
Dalam bukunya Investigation of Gestalt Theory (1923), Wertheimer
mengemukakan hukum-hukum Gestalt untuk pertama kalinya, yaitu:
1.

Hukum kedekatan (law of proximity): Hal-hal yang saling berdekatan


dalam waktu atau tempat cenderung dianggap sebagai suatu totalitas.

2.

Hukum ketertutupan (law of closure): Hal-hal yang cenderung menutup


akan membentuk kesan totalitas tersendiri.

3.

Hukum kesamaan (law of equivalence): Hal-hal yang mirip satu sama lain,
cenderung dipersepsikan sebagai suatu kelompok atau suatu totalitas.

Dalam buku itu, Wertheimer mengatakan bahwa sebagai akibat dari hukumhukum Gestalt di atas, maka terjadilah kecenderungan persepsi spontan, yaitu
begitu mempersepsikan suatu gejala, maka akan diberi arti langsung
(kundgabe) tanpa meneliti terlebih dahulu.

b.

KURT KOFFKA (1886-1941)


Koffka lahir di Berlin, 18 Maret 1886, meninggal di Northampton,
Massachusetts, Amerika serikat tanggal 22 November 1941. Memperoleh gelar
Doktor pada tahun 1908 di bawah bimbingan C. Stumpf di Berlin dengan tesisi
studi empiris tentang irama. Kemudian, suatu ketika ia bertemu Wertheimer

dan Kohler, dan bersama kedua orang itu, Koffka mendirikan aliran Psikologi
Gestalt di Berlin. Pada tahun 1918 menjadi guru besar luar biasa di Giessen
sampai tahun 1924. Ia meninggalkan Jerman pada tahun 1924 dan mengajar di
universitas-universitas di Amerika Serikat.
Sumbangan Koffka kepada Psikologi adalah penyajian yang sistematis dan
pengamalan dari prinsip-prinsip Gestalt dalam rangkaian gejala psikologi, dari
mulai persepsi, belajar, mengingat, sampai kepada psikologi belajar dan
psikologi sosial.
Sebagai penulis yang produktif, Koffka mengemukakan pikiranpikirannya tentang Psikologi Gestalt dalam berbagai publikasinya. Pada tahun
1923, ia mulai menerbitkan jilid pertama dari buku Contribution to Gestalt
Psychology yang menjawab kritik-kritik yang ditujukan kepada Psikologi
Gestalt. Selanjutnya, dalam bukunya Principles of Psycholoical Development:
An Introduction to Child Psychology (1921) untuk pertama kalinya Koffka
mengamalkan prinsip-prinsip Gestalt pada psikologi anak. Ia percaya bahwa
proses perkembangan pada hakikatnya adalah hasil interaksi antara kondisikondisi internal dan eksternal.
Beberapa teori Koffka tentang belajar ialah:
1.

Salah satu faktor yang penting dalam belajar adalah jejak-jejak ingatan
(memori traces), yaitu pengalaman-pengalaman yang membekas pada
tempat-tempat tertentu di otak.

2.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada ingatan bersamaan dengan


jalannya waktu tidak melemahkan jejak-jejak ingatan itu (dengan
perkataan

lain

tidak

menyebabkan

terjadinya

lupa),

melainkan

menyebabkan perubahan jejak, karena jejak ingatan itu cenderung


diperhalus dan disempurnakan untuk mendapatkan Gestalt yang lebih baik
dalam ingatan.
3.

c.

Latihan-latihan akan memperkuat jejak ingatan.

WOLFGANG KOHLER (1887-1967)


Lahir di Reval, Estonia, pada tanggal 21 Januari 1887 dan meninggal di
Lebanon, New Hampsire, Amerika Serikat, pada tanggal 11 Juni 1967. Kohler
memperoleh gelar Ph.D. pada tahun 1908 di bawah bimbingan C. Stumpf di
Berlin. Ia kemudian pergi ke Frankfurt sebagai asisten F. Schurmann. Ia

berjumpa dengan Wertheimer dan Koffka. Mereka bertiga kemudian


mengadakan eksperimen-eksperimen yang bersejarah itu yang akhirnya
membawa mereka kepada berdirinya aliran Psikologi Gestalt, atau disebut juga
aliran Berlin.
Kohler memang tidak seproduktif Koffka dalam karya-karya tulisnya,
tetapi nampaknya memang sudah ada pembagian tugas antara tiga serangkai
tokoh Gestalt ini: Wertheimer adalah tokoh yang mengemukakan ide, Kohler
mengadakan eksperimen dari ide Wertheimer, dan Koffka yang menulis teoriteori Wertheimer maupuan hasil ekperimen Kohler.
Karya Kohler yang paling terkenal adalah penyelidikannya menganai
tingkah

laku

simpanse.

Kohler

membuat

eksperimen

tersebut

dan

membuktikan bahwa primata pun terdapat pemahaman (insight). Eksperimen


selanjutnya adalah tentang diskriminasi visual pada ayam. Menurutnyam ayam
tidak melihat kotak secara satu persatu, melainkan melihatnya dalam hubungan
dengan kotak-kotak lain di dekatnya. Ayam cenderung melihat hubungan
antara stimulus-stimulus dan lebih mengutamakan relativitas, disebut sebagai
hukum transposisi (law of transposition).
Karya-karya Kohler antara lain adalah: Intelligence in Apes (1925), The
Mentality of Apes (1927), Gestalt Psychology (1929).

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas dapat kami simpulkan bahwa, psikologi sebagai suatu disiplin
ilmu dari tahun ketahun semakin menampakkan kapasitasnya, terutama konstribusinya
dalam perkembangan ilmu psikologi.
Aliran-aliran psikologi dalam menyikapi kejiwaan seseorang cenderung berbeda,
seperti aliran strukturalisme yang beranggapan bahwa psikologi merupakan pengalaman
manusia yang dipelajari dari sudut pandang pribadi yang mengalaminya. Sedangkan
aliran fungsionalisme menekankan kegiatan (proses) mental sebagai pokok persoalan
yang sebenarnya bagi psikologi, sebagai lawan dari psikologi struktural yang
menekankan masalah kesadaran. Lain lagi dengan aliran Gestalt yang menyatakan
bahwa, persepsi manusia terjadi secara menyeluruh bukan sepotong-sepotong atau
parsial.

SARAN
1.

Kita harus lebih bijak dalam menyikapi perilaku seseorang menurut pandangan
ketiga aliran tersebut, ketika nampak lahir orang tersebut buruk belum tentu batinnya
juga demikian.

2.

Kita harus memformulasikan pendapat-pendapat para pakar psikolgi dalam


menyikapi aliran ataupun pandangan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Chaplin, J.P. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,
2006.
King, L.A. Psikologi Umum: Sebuah Pandangan Apresiatif. Jakarta: Salemba
Humanika, 2010.
Sarwono, S.W. Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi.
Jakarta: Bulan Bintang, 2002.
Sobur, A., Psikologi Umum: Dalam Lintasan Sejarah. Bandung: Pustaka
Setia, 2009.

http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/fungsionalisme-mainmenu-55