Anda di halaman 1dari 15

Makalah Tentang Ilmu Tajwid

Tugas Mentoring

Disusun Oleh :
Risalatul Mugniyah
NIM : 13211010

PRODI MANAJEMEN PERUSAHAAN


FAKULTAS D3 EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2015

Pengertian Ilmu Tajwid atau Tahsin


Tajwd ( )secara harfiah bermakna melakukan sesuatu dengan elok dan
indah atau bagus dan membaguskan, tajwid berasal dari kata Jawwada ( ----)
dalam bahasa Arab. Dalam ilmu Qiraah, tajwid berarti mengeluarkan huruf dari
tempatnya dengan memberikan sifat-sifat yang dimilikinya. Jadi ilmu tajwid adalah
suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara membunyikan atau mengucapkan
huruf-huruf yang terdapat dalam kitab suci al-Quran maupun bukan.
Istilah (terminologi) ialah:

Mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya masing-masing sesuai dengan
hak dan mustahaqnya.
Haq huruf yaitu sifat asli yang senantiasa ada pada setiap huruf atau seperti
sifat Al-jahr, Istila, dan lain sebagainya. Hak huruf meliputi sifat-sifat huruf dan
tempat-tempat keluar huruf.
Mustahaq huruf yaitu sifat yang sewaktu-waktu timbul oleh sebab-sebab
tertentu ,seperti; izh-har, ikhfa, iqlab, idgham, qalqalah, ghunnah, tafkhim, tarqiq,
mad, waqaf, dan lain-lain.
Imam Ali bin Tholib mengatakan bahwa Tajwid adalah mengeluarkan setiap
huruf dari makhrojnya dan memberikan hak setiap huruf (yaitu sifat yang melekat
pada huruf tersebut seperti qolqolah, Hams, dll) dan mustahaq huruf (yaitu sifatsifat huruf yang terjadi karena sebab-sebab tertentu, seperti izhar, idghom, dll.)
Pengertian lain dari ilmu tajwid ialah menyampaikan dengan sebaik-baiknya
dan sempurna dari tiap-tiap bacaan ayat al-Quran.
Pengertian tahsin ( )secara bahasa sama seperti pengertian tajwid yang
berasal dari kata - - yang berarti membaguskan atau memperbaiki.
Adapun masalah-masalah yang dikemukakan dalam ilmu ini adalah
makharijul huruf (tempat keluar-masuk huruf), shifatul huruf (cara pengucapan
huruf), ahkamul huruf (hubungan antar huruf), ahkamul maddi wal qasr (panjang
dan pendek ucapan), ahkamul waqaf wal ibtida (memulai dan menghentikan
bacaan) dan al-Khat al-Utsmani.

Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid (Tahsin)


Para ulama menyatakan bahwa hukum bagi mempelajari tajwid itu adalah
fardhu kifayah tetapi mengamalkan tajwid ketika membaca al-Quran adalah fardhu
ain atau wajib kepada lelaki dan perempuan yang mukallaf atau dewasa.
Dalil kewajiban membaca Alquran dengan tajwid adalah sebagai berikut:
1. Firman Allah Subhanhu Wa Ta'ala
..

Dan bacalah AlQuran dengan tartil. (Q.S. Al-Muzzammil 73: 4).


Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Allah Subhanhu Wa Ta'ala memerintahkan
Nabi Muhammad Shallallaahualaihi wasallam untuk membaca Al-Quran yang
diturunkan kepadanya dengan tartil, yaitu memperindah pengucapan setiap hurufhurufnya (bertajwid).
Firman Allah Subhanhu Wa Ta'ala yang lain:
Dan Kami (Allah) telah bacakan (Al-Quran itu) kepada (Muhammad ) secara tartil
(bertajwid). (Q.S. Al-Furqaan (25): 32)
Firman Allah Subhanhu Wa Ta'ala:
Orang-orang yang telah kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya
dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa
yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al Baqarah:
121)
Dan mereka tidak akan membaca dengan sebenarnya kecuali harus dengan
tajwid, kalau meninggalkan tajwid tersebut maka bacaan itu menjadi bacaan yang
sangat jelek bahkan kadang-kadang bisa berubah arti. Ayat ini menunjukkan
sanjungan Allah Subhanhu Wa Ta'ala bagi siapa yang membaca Al Quran dengan
bacaan sebenarnya.
2. Sabda Rasul:
( )

Bacalah AlQuran dengan cara dan suara orang Arab yang fasih. (HR. Thabrani)
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ummu Salamah Semoga Allah
meridhainya (istri Nabi Muhammad Shallallaahualaihi Wasallam), ketika beliau
ditanya tentang bagaimana bacaan dan sholat Rasulullah Shallallaahualaihi
wasallam, maka beliau menjawab: Ketahuilah bahwa Baginda Shallallaahualaihi
wasallam sholat kemudian tidur yang lamanya sama seperti ketika beliau sholat
tadi, kemudian Baginda kembali sholat yang lamanya sama seperti ketika beliau
tidur tadi, kemudian tidur lagi yang lamanya sama seperti ketika beliau sholat tadi
hingga menjelang shubuh. Kemudian dia (Ummu Salamah) mencontohkan cara
bacaan Rasulullah Shallallaahualaihi wasallam dengan menunjukkan (satu) bacaan
yang menjelaskan (ucapan) huruf-hurufnya satu persatu. (Hadits 2847 Jamik AtTirmizi).
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Amr, Rasulullah
Shallallaahu alaihi wasallam bersabda:
Ambillah bacaan Al-Quran dari empat orang, yaitu: Abdullah Ibnu Masud, Salim,
Muadz bin Jabal dan Ubai bin Kaad. (Hadits ke 4615 dari Sahih Al-Bukhari).
Dalam hadits lain:
Anas bin Malik radhiyallahu anhu ketika ditanya bagaimana bacaan Nabi
shallallahu alaihi wasallam, maka beliau menjawab bahwa bacaan beliau Nabi

Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu dengan panjang-panjang kemudian dia


membaca
Bismillahirrahman
arrahiim
memanjangkan
(bismillah)
serta
memanjangkan (ar rahmaan) dan memanjangkan ar rahiim. (HR. Bukhari)
3. Ijma' Ulama
Seluruh qura telah sepakat tentang wajibnya membaca Al Quran dengan tajwid.
4. Fatwa Para Ulama
Ibnu Al Jazary "Tidak diragukan lagi bahwa mereka itu beribadah dalam
upaya memahami Al Quran dan menegakkan ketentuan-ketentuannya, beribadah
dalam pembenaran lafadz-lafadznya, menegakkan huruf yang sesuai dengan sifat
dari ulama qura yang sampai kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam." (Annasyr 1/210)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah "Adapun orang yang keliru yang kelirunya itu
tersembunyi (kecil) dan mungkin mencakup qiraat yang lainnya, dan ada segi
bacaan di dalamnya, maka dia tidak batal shalatnya dan tidak boleh shalat di
belakangnya seperti orang yang membaca as sirath dengan sin, pergantian dari
ash shirath, karena itu qiraat yang mutawatir." (Majmu Fatawa 22/442 dan
23/350)

Tujuan Mempelajari Ilmu Tajwid (Tahsin Tilawah)


Tujuan utama mempelajari ilmu tajwid dalam rangka tahsin tilawah adalah
menjaga lidah dari kesalahan ketika membaca Al-Quran.
Firman Allah Subhanhu Wa Ta'ala menegaskandalam suroh (al-Muzammil: 4)
yang artinya Bacalah al-Quran itu dengan tartil.
Tartil ialah membaguskan bacaan huruf-huruf Al-Quran dengan terang dan
teratur,mengenal tempat-tempat waqaf, sesuai dengan aturan-aturan tajwid dan
tidak terburu-buru.
Pada zaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, al-Quran dibaca dengan
penuh penghayatan dan bertajwid. Justeru, kita digalakkan untuk membaca alQuran dengan baik agar dapat memberi kesan kepada diri kita.
Aisyah r.a meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,
yang Artinya Orang yang mahir dengan al-Quran (hafalan dan bacaannya yang
amat baik danlancar) kedudukannya di akhirat adalah bersama para malaikat yang
mulia dan taat,adapun orang yang membaca al-Quran dan tersekat-sekat dalam
bacaannya, sedangianya amat payah, baginya adalah dua pahala.[HR. Bukhari dan
Muslim]
Dan kesalahan dalam membaca Al-Quran ada dua macam :
Al-Lahnul Jaliy ()

Kesalahan yang terlihat dengan jelas baik dikalangan awam maupun para ahli
tajwid.
perubahan bunyi huruf dengan huruf lain
perubahan harakat dengan harakat lain
memanjangkan huruf yang pendek atau sebaliknya.
Mentasydidkan huruf yang tidak seharusnya atau sebaliknya.
Adalah kesalahan yang terjadi ketika membaca lafadh-lafadh dalam Alquran
yang dapat mengubah arti dan menyalahi urf qurro. Melakukan kesalahan ini,
hukumnya HARAM.
Yang termasuk kesalahan jenis ini antara lain
Kesalahan makhroj (titik/tempat keluarnya) huruf. Kesalahan ini biasanya
terjadi pada pengucapan huruf-huruf yang hampir serupa, seperti : a (ain) dibaca a
(hamzah), dlo dibaca dho, dza dibaca da, tsa dibaca sa, ha dibaca kha, thi dibaca ti ,
dan sebagainya.
Salah membaca mad, yaitu yang seharusnya dibaca pendek (1 ketukan)
dibaca lebih panjang (2 ketukan atau lebih) dan sebaliknya. Misalnya: Laa (aa
dibaca panjang; artinya TIDAK) dibaca La (a dibaca pendek; artinya SUNGGUHSUNGGUH)
Salah membaca harokat. Contohnya: kharokat di akhir kata benda, karena
kharokat akhir kata menunjukan jabatan kata itu dalam kalimat. Contoh:
yarfaullohu (artinya: Allah mengangkat) di baca yarfaulloha (artinya menjadi: dia
mengangkat Allah).
Al-Lahnul Khofiy ()
Kesalahan ringan yang tidak diketahui secara umum, kecuali oleh orang yang
memiliki pengetahuan mengenai kesempurnaan membaca Al-Quran. Diantaranya:
hukum-hukum pembacaan seperti membaca mad wajib muttashil atau lazim
dengan dua atau tiga harakat
tidak menerapkan kaidah ghunnah pada huruf-huruf yang seharusnya dibaca
dengan ghunnah.
Contoh :

Adalah kesalahan yang terjadi ketika membaca lafadh-lafadh dalam Alquran yang
menyalahi urf qurro namun tidak mengubah arti. Melakukan kesalahan ini
hukumnya makruh.
Yang termasuk kesalahan jenis ini antara lain: kesalahan dalam membaca
dengung (idghom, ikhfa, iqlaab, dll), kesalahan (lebih/kurang panjang) dalam

membaca mad, kesalahan menampakkan sifat huruf (seperti: hams, qolqolah, keliru
membaca tahkhim/tarqiq), dan lain sebagainya.
Kesalahan membaca Alquran, baik yang jaly maupun yang khofiy, tetaplah
sebuah kesalahan. Bila kesalahan itu tetap muncul, maka bacaan Alquran kita tidak
lagi sesuai dengan bacaan saat pertama kali Alquran diturunkan. Karena itu,
marilah kita belajar ilmu tajwid ini, mudah-mudahan kita terhindar dari segala
kesalahan dalam membaca Alquran.
Dengan demikian hal ini menjadi kewajiban kita sebagai seorang muslim,
bahwa kita harus menjaga dan memelihara kehormatan, kesucian, dan kemurnian
al-Quran dengan cara membaca al-Quran secara baik dan benar sesuai dengan
kaidah ilmu tajwidnya.

Tingkatan Bacaan Qur'an (Qiro'at)


Terdapat empat tingkatan atau mertabat bacaan Al Quran yaitu bacaan dari segi
cepat atau perlahan:
Pertama At- Tahqiq: Bacaannya seperti tartil cuma lebih lambat dan perlahan,
seperti membetulkan bacaan huruf dari makhrajnya, menepatkan kadar bacaan
mad dan dengung. Tingkatan bacaan tahqiq ini biasanya bagi mereka yang baru
belajar membaca Al Quran supaya dapat melatih lidah menyebut huruf dan sifat
huruf dengan tepat dan betul, atau lebih tepat dipakai untuk proses belajar
mengajar atau dunia pendidikan.
Kedua Al-Hadr: Bacaan yang cepat dengan tetap menjaga hukum-hukum
bacaan tajwid. Tingkatan bacaan hadr ini biasanya bagi mereka yang telah
menghafal Al Quran, supaya mereka dapat mengulang bacaannya dalam waktu
yang singkat.
Ketiga At-Tadwir: Bacaan yang pertengahan antara tingkatan bacaan tartil
dan hadr, dengan tetap menjaga hukum-hukum tajwid.
Keempat At-Tartil: Bacaannya perlahan-lahan, tenang dan melafazkan setiap
huruf dari makhrajnya secara tepat serta menurut hukum-hukum bacaan tajwid
dengan sempurna, merenungkan maknanya, hukum dan pengajaran dari
ayat.Tingkatan bacaan tartil ini biasanya bagi mereka yang sudah mengenal
makhraj-makhraj huruf, sifat-sifat huruf dan hukum-hukum tajwid. Tingkatan bacaan
ini adalah lebih baik dan lebih diutamakan.

Keutamaan Al-Quran
a. Mendapat syafa'at di hari Qiyamat.
Dari Abi Umamah RA, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : Bacalah oleh kamu sekalian AlQuran,
karena sesungguhnya ia akan datang pada hari qiamat sebagai penolong bagi para
pembacanya. (HR. Muslim).

b. Mendapat derajat yang tinggi.


Dari Aisyah RA, ia berkata : telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam : Orang yang membaca AlQuran dengan mahir, akan bersama-sama
malaikat yang mulia lagi taat, dan orang yang membaca AlQuran dengan terbatabata dan merasa berat, maka ia mendapat dua pahala. (HR. Bukhari).
c. Merupakan ciri keimanan seseorang.
Dari Abu Musa Al-Asyari RA, ia berkata : Telah berkata Rasulullah Shallallahu
'Alaihi wa Sallam : Perumpamaan orang mukmin yang membaca AlQuran, bagaikan
buah Utrujjah, harum baunya dan lezat rasanya. Dan perumpamaan orang mukmin
yang tidak membaca AlQuran, bagaikan buah kurma, tidak harum dan rasanya
manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca AlQuran, bagaikan bunga
(rihanah), harum baunya dan pahit rasanya. Dan orang munafik yang tidak
membaca AlQuran bagaikan buah Handzalah, tidak harum dan rasanya pahit. (HR.
Bukhari dan Muslim).
d. Mendapat kebaikan.
Dari Ibnu Masud RA, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
wa Sallam : Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya
satu kebaikan, dan setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Aku tidak
mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan
Mim satu huruf. (HR. Tirmidzi)
Membaca Al Quran dengan suara merdu adalah sunnah. Suara yang merdu
membantu seseorang untuk menghadirkan kekhusyukan hati dan membantunya
mendengarkan Al Quran dengan baik.
Mari bergabung dengan menyatukan niat untuk senantiasa berusaha dan
istiqamah membaca ayat-ayat Allah Subhanhu Wa Ta'ala dengan Tartil.

MACAM-MACAM HUKUM ILMU TAJWID


A. Hukum Bacaan Nun Mati/Tanwin
1. Idzhar halqi
Idzhar halqi adalah apabila ada nun mati/tanwin bertemu huruf halqi. Huruf halqi
ada enam, yaitu , , , , , cara membacanya harus jelas, tidak
mendengung, dan tidak samar-samar.
Contoh :

2. Idhgham Bighunnah

Idhgham Bighunnah adalah apabila ada nun mati/tanwin bertemu dengan salah
satu dari empat huruf, yaitu , , , . Adapun cara membacanya suara nun
mati/tanwin dimasukkan kedalam suara huruf tersebut dengan mendengung.
Contoh :

3. Idhgham Bilaghunnah
Idhgham Bilaghunnah adalah apabils ada nun mati/tanwin bertemu dengan salah
satu dari huruf dua, yaitu dan . Cara membacanya suara nun mati/tanwin
dimasukkan kedalam huruf tersebut tanpa mendengung.
Contoh :

4. Iqlab
Iqlab adalah apabila ada nun mati/tanwin bertemu dengan ba (). Cara
membacanya yaitu suara nun mati/tanwin diganti dengan suara mim mati ( )
dengan merapatkan bibir dan mendengung.
Contoh :

5. Ikhfa
Ikhfa adalah apabila ada nun mati/tanwin bertemu dengan salah satu dari 15 huruf,
yaitu ., , , , , , , , , , , -, , , cara membacanya suara nun
mati/tanwin dibaca samar-samar dengan sengau dihidung.
Contoh :

B. Hukum Bacaan Qalqalah


1. Pengertian Qalqalah
Qalqalah secara bahasa berarti getaran suara. Adapun secara istilah qalqalah
berarti menyembunyikan huruf yang bertanda sukun (mati) dengan suara yang
lebih ditekan lagi dari makhraj hurufnya. Jumlah huruf qalqalah ada 5, yaitu , , , , yang bisa disingkat dengan
2. Macam-macam Qalqalah
a. Qalqalah Kubra

Qalqalah kubra berarti salah satu huruf qalqalah berharakat mati/sukun tidak asli
yang disebabkan adanya waqaf. Cara membacanya harus lebih jelas dan memantul.
Contoh :


b. Qalqalah Sughra
Qalqalah sughra berarti apabila salah satu huruf qalqalah berharakat sukun (mati)
asli bukan karena waqaf. Cara membacanya juga harus jelas dan memantul.
Contoh :


C. Hukum Bacaan Lam
1. Lam Mufakhamah

((

Lam mufakhamah adalah apabila lam dalam lafal didahului oleh harakat fathah
atau dlommah, maka harus dibaca tebal.
Contoh :

2. Lam Muraqqah

((

Lam muraqqah adalah apabila lam dalam lafal didahului oleh harakat kasrah,
maka harus dibaca tipis. Semua lam yang terdapat dalam lafal harus dibaca tipis.
Contoh :

D. Hukum Bacaan Ra
3. Ra Mufakhamah ((
Ra mufakhamah adalah ra yang dibaca tebal. Ra dibaca tebal apabila memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut :
1) Ra berharakat fathah
Contoh :

2) Ra berharakat dlommah
Contoh :

3) Ra berharakat sukun, sedangkan huruf sebelumnya berharakat fathah atau


dlommah.

Contoh :

4) Ra berharakat sukun, sedangkan huruf sebelumnya berharakat kasrah, tetapi


bukan kasrah asli dari perkataanya.
Contoh :

5) Ra berharakat sukun, sedangkan huruf sebelumnya berharakat kasrah asli,


tetapi sesudah ra ada salah satu huruf istila yang tidak berharakat kasrah. Huruf
istila ada 7, yaitu. , , , , , ,
Contoh :

1. Ra Muraqqaqah ((
Ra muraqqaqah adalah ra yang dibaca tipis. Ra dibaca tipis apabila memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut :
a) Ra berharakat kasrah
Contoh :

b) Apabila sebelum huruf ra ada huruf ya sukun


Contoh :

c) Ra berharakat sukun yang didahului huruf berharakat kasrah. Namun setelah ra


sukun bukan huruf istila.
Contoh :

2. Jawaazul Wajhaini
Dalam hukum jawaazul wajhaini ra boleh dibaca tarqiq atau tafkhim. Hukum
jawaazul wajhaini bisa terjadi apabila ada ra sukun yang didahului huruf berharakat
kasrah dan sesudahnya ada salah satu huruf istila yang berharakat kasrah.
Contoh :

E. Hukum Bacan Mad


1. Pengertian mad
Kata mad berasal dari bahasa arab yang berarti memanjangkan.
Sedangkan menurut istilah, mad berarti memanjangkan bacaan huruf hijaiyah
sesuai dengan sifat dan syaratnya masing-masing.
2. Macam-macam Mad
a. Mad Thabii

Mad thabii adalah bacaan huruf hijaiyah yang dipanjangkan secara biasa, atau
sering disebut mad pokok (mad asli). Cara membacanya yaitu dipanjangkan satu
alif (2 harakat). Disebut mad Thabii apabila terdapat hal-hal berikut :
1.

Jika ada jatuh sesudah harakat fathah. Contoh : , , , ,

2.

Jika ada jatuh sesudah harakat dommah. Contoh : , , , ,

3.

Jika ada jatuh sesudah harakat kasrah. Contoh : , , , ,

b. Mad Fari
Mad fari adalah semua mad selain mad thabii, karena bersumber dari mad thabii
maka disebut mad fari yang mempunyai arti mad cabang.
Adapun mad fari ini ada 13 macam :
1) Mad Wajib Muttashil
Mad wajib muttashil adalah bacaan mad thabii yang bertemu dengan huruf hamzah
dalam satu kata. Panjang bacaaanya yaitu 3 alif (6 harakat).
Contoh :

, , ,

2) Mad Jaiz Munfashil


Mad jaiz munfashil adalah bacaan mad thabii yang bertemu dengan huruf hamzah
tetapi tidak dalam satu kata. Adapun panjang bacaanya yaitu 2 alif (5 harakat).
Contoh :

3) Mad Layyin
Mad layyin adalah apabila ada salah satu huruf hijaiyyah yang berharakat fathah
sebelum wawu sukun atau ya sukun.
Contoh :

4) Mad Aridl Lis Sukun


Mad Aridl Lis Sukun adalah jika ada bacaan mad thabii bertemu dengan huruf
hijaiyah hidup yang dibaca mati/tanda waqaf. Panjang bacaanya yaitu : 1 alif (2
harakat) atau 2 alif (4 harakat) atau 3 alif (6 harakat).
Contoh :

5) Mad Iwadl
Mad iwadl adalah apabila ada huruf hijaiyah yang berharakat fathah tanwin yang
dibaca waqaf diakhir kalimat. Panjang bacaanya 1 alif (2 harakat).

Contoh :

dibaca

dibaca

6) Mad Badal
Mad badal adalah apabila ada 2 buah huruf hamzah dan huruf hamzah yang
pertama berharakat sedangakan huruf hamzah yang ke-2 disukun (mati), maka
hamzah yang ke-2 diganti dengan :
-

jika hamzah yang pertama berharakat fathah

jika hamzah yang pertama berharakat kasrah

jika hamzah yang pertama berharakat dlommah

Adapun panjang bacaanya yaitu 1 alif (2 harakat)


Contoh :

menjadi

-
menjadi

menjadi

7) Mad Lazim Mutsaqqal Kilmi


Mad Lazim Mutsaqqal Kilmi adalah apabila ada mad thabii bertemu dengan huruf
hijaiyah yang bertasydid dalam satu kata. Panjang bacaanya yaitu 3 alif (6 harakat).
Contoh :

8) Mad Lazim Mukhaffaf Kilmi


Mad Lazim Mukhaffaf Kilmi adalah apabila ada mad thabii bertemu dengan huruf
hijaiyah yang bersukun. Panjang bacaanya yaitu 3 alif (6 harakat).
Contoh :

9) Mad Lazim Mutsaqqal Harfi


Mad Lazim Mutsaqqal Harfi adalah permulaan surat dalam Al-Quran yang terdapat
salah satu/lebih dari huruf :
, , , , , , , yang bisa disingkat dengan lafal . Adapun panjang
bacaanya yaitu 3 alif (6 harakat). Mad ini juga bisa disebut dengan
( ) .
Contoh :

10) Mad Lazim Mukhaffaf Harfi


Mad Lazim Mukhaffaf Harfi adalah permulaan surat dalam Al-Quran yang terdapat
satu/lebih dari huruf : yaitu , , , , . Adapun panjang bacaanya yaitu 1
alif (2 harakat).

Contoh :

11) Mad shilah


Mad Shilah Qashirah

Mad Shilah Qashirah adalah apabila ada kata ganti (ha dlomir) yang didahului
dengan huruf yang berharakat ( )/ ( ). Adapun panjang bacaanya yaitu 1 alif (2
harakat).
Contoh :


Mad Shilah Thawilah

Mad Shilah Thawilah adalah apabila ada mad shilah qashirah yang bertemu dengan
hamzah. Adapun panjang bacaanya yaitu 2 alif (5 harakat).
Contoh :

12) Mad Thamkin


Mad thamkin adalah apabila ada huruf yang bertasydid dan berharakat kasrah
bertemu dengan sukun. Panjang bacaanya yaitu 1 alif (2 harakat) dan penempatan
bacaanya pada tasydid serta mad thabiinya.
Contoh :

13) Mad Farqi


Mad farqi adalah bacaan panjang yang membedakan antara pertanyaan atau
bukan.
Contoh :

F. Hukum Bacaan Mim Sukun


1. Ikhfa Syafawi
Ikhfa syafawi yaitu apabila ada mim sukun (mati) bertemu dengan huruf ba () .
Cara membacanya yaitu merapatkan bibir dan mendengung.
Contoh :

2. Idzhar Syafawi
Idzhar syafawi yaitu apabila ada mim sukun (mati) bertemu dengan huruf hijaiyah
yang selain dan , yaitu : , , ,- , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
, , ,. Adapun cara membacanya yaitu harus jelas, tidak mendengung dan juga
tidak samar-samar.
Contoh :

3. Idhghom Mimi
Idhghom mimi yaitu apabila ada mim mati bertemu dengan huruf mim (). Cara
membacanya yaitu dengan cara merapatkan bibir dan mendengung.
Contoh :

Sumber
http://cahayaummulquro.com/muqaddimah-ilmu-tajwid/
http://www.alquran-sunnah.com/alquran/ilmu-tajwid.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Tajwid
http://farizsalmanalfarisi.blogspot.com/2012/12/hubungan-ilmu-tahsin-tajwid-danilmu.html
http://dinulislami.blogspot.com/2013/06/hukum-dan-tujuan-mempelajari-ilmutajwid.html
http://anshorimujahid.wordpress.com/2011/02/19/pengertian-dan-hukummempelari-ilmu-tajwid/
http://ilmu-tajwid-lengkap-syemzoel.blogspot.com/2011/10/ilmu-tajwid.html
http://save4your.blogspot.com/2011/06/hukum-mempelajari-ilmu-tajwid.html
http://tajwidmu.blogspot.com/2012/03/pengertian-dan-hukum-belajar-ilmu.html

Sumber: http://dakwahsyariah.blogspot.com/2014/01/ilmu-tajwid-tahsin-tilawatilquran.html#ixzz3SvgU4ClD