Anda di halaman 1dari 30

Trauma Abdomen

Cynthia Oktara Dwiyana


Evita Wati
Rabiul Priyantono

Pendahuluan
Trauma adalah keadaan yang disebabkan oleh
luka atau cedera.
Trauma mempunyai dampak psikologis dan
sosial.
Penilaian sirkulasi sewaktu primary survey harus
mencakup deteksi dini dari kemungkinan adanya
perdarahan yang tersembunyi pada
abdomen dan pelvis pada pasien trauma tumpul.
Trauma tajam pada dada di antara nipple dan
perineum harus dianggap berpotensi
mengakibatkan cedera intraabdominal.

Anatomi Abdomen
Anatomi luar dari abdomen dibagi
menjadi:
Abdomen Depan
Pinggang
Punggung

Anatomi dalam dari abdomen meliputi 3


regio:
Rongga Peritoneal
Rongga Pelvis
Rongga Retroperitoneal

Trauma Tajam
Luka tusuk maupun luka tembak
(kecepatan rendah) akan mengakibatkan
kerusakan jaringan karena laserasi ataupun
terpotong.
Luka tembak dengan kecepatan tinggi akan
menyebabkan transfer energi kinetik yang
lebih besar terhadaporgan visera, dengan
adanya efek tambahan kinerja temporary
cavtation, dan bisa pecah menjadi fragmen
yang mengakibatkan kerusakan lainnya.

Infeksi masih merupakan risiko


terbesar pada korban dengan luka
tusuk abdomen.
Mortalitas terjadi pada 30% korban
luka tusuk abdomen yang menderita
infeksi abdomen mayor.

Penilaian Trauma
Diagnosis dapat ditegakkan dengan
anamnesis, pemeriksaan fisik,
laboratorium, dan pencitraan.
Pemeriksaan pada korban trauma
harus cepat dan sistemik

Anamnesis
Trauma abdomen akibat tabrakan kendaraan bermotor harus
mencakup:
Kecepatan kendaraan
Jenis tabrakan
Berapa besar penyoknya bagian kendaraan ke dalam ruang
penumpang
Jenis pengaman yang dipergunakan
Ada/tidak air bag,
Posisi pasien dalam kendaraan
Status penumpang lainnya.

Pada trauma tajam, anamnesis yang teliti harus diarahkan pada


waktu terjadinya trauma, jenis senjata yang dipergunakan
(pisau, pistol, senapan), jarak dari pelaku, jumlah tikaman atau
tembakan, dan jumlah perdarahan eksternal yang tercatat di
tempat kejadian.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik abdomen harus
dilakukan dengan teliti dan
sistematis meliputi inspeksi,
auskultasi, perkusi, dan palpasi.

Inspeksi
Adanya jejas pada dinding perut dapat
mengarah kemungkinan adanya trauma
abdomen.
Apakah ada abrasi, kontusio dari sabuk
pengaman, laserasi, luka penetransi,
benda asing yang tertancap, eviserasi
omentum atau usus halus, dan
kehamilan

Auskultasi
Mengkonfirmasi ada atau tidak adanya
bising usus.
Adanya darah intraperitoneal atau
perforasi dapat menyebabkan ileus,
sehingga bising usus menghilang.

Pada trauma tumpul abdomen,


pemeriksaan fisik sangat
menentukan untuk tindakan
selanjutnya.

Perkusi
Perkusi bisa kita ketahui adanya bunyi
timpani karena dilatasi lambung akut di
kuadran kiri atas ataupun adanya
perkusi redup bila ada hemoperitoneum.
Adanya darah dalam rongga perut dapat
ditentukan dengan shifting dullness,
sedangkan udara bebas ditentukan
dengan pekak hati yang menghilang.

Palpasi
Tujuan palpasi adalah untuk
mendapatkan adanya nyeri lepas yang
kadang-kadang dalam.
Nyeri tekan lepas menunjukkan
peritonitis, yang biasanya oleh
kontaminasi isi usus, maupun
hemoperitoneum tahap awal.

Evaluasi Luka Tusuk


Semua kasus luka tembak ataupun luka
tusuk dengan hemodinamik yang tidak
stabil harus di laparotomi segera.

Menilai Stabilitas Pelvis


Penekanan secara manual pada sias
ataupun crista iliaca akan menimbulkan
rasa nyeri maupun krepitasi yang
menyebabkan dugaan pada fraktur pelvis
pada pasien dengan trauma tumpul.

Pemeriksaan Penis, Perineum dan Rektum


Adanya darah pada meatus uretra menyebabkan
dugaan kuat robeknya uretra
Tujuan pemeriksaan rektum pada pasien dengan
trauma tumpul adalah untuk menentukan tonus
sfingter, posisi prostat (prostat yang lelaknya
tinggi menyebabkan dugaan cedera uretra), dan
menentukan ada tidaknya fraktur pelvis.
Pada pasien dengan luka tusuk, pemeriksaan
rektum bertujuan menilai tonus sfingter dan
melihat adanya perdarahan karena perforasi usus.

Pemeriksaan Vagina
Bisa terjadi robekan vagina karena
fragmen tulang dari fraktur pelvis
ataupun luka tusuk.

Pemeriksaan Glutea
Regio glulealis memanjang dari crista
iliaca sampai Iipatan glutea. Luka tusuk
di daerah ini biasanya berhubungan
(50%) dengan cedera intraabdominal.

Pencitraan
Pemeriksaan X-Ray untuk screening
trauma tumpul
Rontgen untuk screening adalah Ro-foto
cervical lateral, thorax AP dan pelvis AP
dilakukan pada pasien trauma tumpul
dengan multitrauma.
Rontgen foto abdomen 3 posisi
(telentang, tegak dan lateral dekubitus)
berguna untuk melihat adanya udara
bebas di bawah diafragma ataupun
udara di luar lumen di retroperitonium

Pemeriksaan X-Ray untuk screening


trauma tajam
Pasien luka tusuk dengan hemodinamik yang
abnormal tidak memerlukan pemeriksaan
screening X-Ray.
Cedera thoracoabdominal dengan
hemodinamik yang normal, rontgen foto
thorax tegak bermanfaat untuk
menyingkirkan hemo atau pneumothorax,
ataupun untuk dokumentasi adanya udara
bebas intraperitoneal.

Pemeriksaan dengan kontras yang


khusus
Uretrografi
Harus dilakukan uretrografi sebelum pemasangan
kateter urin bila kita curigai adanya ruptur uretra.
Pemeriksaan uretrografi dilakukan dengan
memakai kateter No. 8-F dengan balon dipompa
15-20 cc di fossa naviculare. Dimasukkan 15-20
cc kontras yang tidak diencerkan. Dilakukan
pengambilan foto dengan proyeksi oblik dengan
sedikit tarikan pada penis.

Sistografi
Ruptur buli-buli intra ataupun
ekstraperitoneal terbaik ditentukan
dengan pemeriksaan sistografi ataupun
CT sistografi.
Cara lain adalah dengan periksaan CT
Scan (CT cystogram) yang terutama
bermanfaat untuk mendapatkan
informasi tambahan tentang ginjal
maupun tulang pelvisnya.

Pemeriksaan Diagnostik pada


Trauma Tumpul
Beberapa prosedur yang dapat
dilakukan antara lain diagnostik
peritoneal lavage, CT scan, maupun
Focused Assesment Sonography in
Trauma (USG FAST).

Diagnostik Peritoneal Lavage (DPL) merupakan


prosedur invasif yang bisa dikerjakan dengan
cepat, memiliki sensitivitas sebesar 98% untuk
perdarahan intraperitoneal.
DPL harus dilakukan pada pasien trauma tumpul
dengan hemodinamik abnormal.
Kontraindikasi untuk DPL adalah apabila dijumpai
indikasi yang jelas untuk laparatomi. Kontaindikasi
relatif lainnya antara lain operasi abdomen
sebelumnya, morbid obesiti, sirosis yang lanjut
dengan adanya koagulopati sebelumnya.

Ultrasound FAST memberikan cara


yang cepat, noninvasif, akurat, dan
murah untuk mendeteksi
hemoperitoneum dan dapat diulang
kapan pun

CT scan kita memperoleh keterangan


mengenai organ yang mengalami
kerusakan dan tingkat kerusakannya,
serta mendiagnosa trauma
retroperitoneal maupun pelvis yang
sulit didiagnosis dengan
pemeriksaan fisik, FAST, dan DPL.

DPL
Indikasi

Keuntungan

Kerugian

FAST

CT Scan

Menunjukkan darah bila

Menunjukkan

hipotensif

hipotensi

organ bila tensi normal

Deteksi dini, semua pasien,

Deteksi dini, semua pasien,

Lebih spesifik untuk cedera,

cepat 98% sensitif, deteksi

non-invasif, cepat, 86-97%

sensitivitas 92-98%

cedera usus, tidak butuh

akurat, tidak membutuhkan

transpor

transport

Invasif, spesifisitas rendah,

Bergantung

tidak bisa untuk trauma

distorsi oleh udara usus,

dibutuhkan transpor, tidak

diafragma

tidak bisa untuk trauma

untuk

diafragma,

usus, dan pankreas

retroperitoneal

dan

pankreas

cairan

bila

operator,

usus

dan

Menunjukkan

kerusakan

Memakan
trauma

waktu,
diafragma,

Pemeriksaan diagnostic pada


trauma tajam
Cedera toraks bagian bawah
Eksplorasi lokal luka dan pemeriksaan
fisik serial dibandingkan dengan DPL
pada luka tusuk abdomen depan
Pemeriksaan fisik diagnostik serial
dibandingkan CT dengan double atau
triple kontras pada cedera fisik maupun
punggung

Indikasi untuk Laparotomi pada


Orang Dewasa
Indikasi berdasarkan evaluasi abdomen
Trauma tumpul abdomen dengan Diagnostic
Peritoneal Lavage (DPL) positif atau Ultrasound.
Trauma tumpul abdomen dengan hipotensi yang
berulang walaupun diadakan resusitasi yang
adekuat.
Peritonitis dini atau yang menyusul.
Perdarahan dari gaster, dubur, atau daerah
genitourinari akibat trauma tembus.
Luka tembak melintas rongga peritoneum atau
retroperitoneum viseral/vaskular.
Eviserasi (pengeluaran isi usus).

Indikasi Berdasarkan Pemeriksaan


Rontgen
Udara bebas, udara retroperitoneum,
atau ruptur hemidiafragma setelah
trauma tumpul.
CT dengan kontras memperlihatkan
ruptur traktus gastrointestinal, cedera
kandung kemih intraperitoneal, cedera
renal pedicle, atau cedera organ viseral
yang parah setelah trauma tumpul atau
tembus.

Kesimpulan
Semua pasien trauma tumpul
dengan hemodinamik yang tidak
stabil harus segera dinilai
kemungkinan perdarahan
intrabdominal maupun kontaminasi
traktus gastrointestinal dengan
melakukan DPL (Diagnostic
Peritoneal Lavage), ataupun FAST
(Focused Assessment Sonography in
Trauma).

Penanganan trauma tumpul dan


tajam pada abdomen antara lain
mengembalikan fungsi vital dan
optimalisasi oksigenasi dan perfusi
jaringan, menentukan mekanisme
trauma, pemeriksaan fisik yang hatihati dan diulang berkala,
menentukan cara diagnostik yang
khusus bila diperlukan.