Anda di halaman 1dari 7

I.

A. Identitas Putusan
Pemohon Kasasi
Termohon Kasasi
Nomor Putusan
Tingkat
Tanggal Penetapan
Majelis Hakim
Panitera Pengganti
Putusan Terdahulu oleh
Nomor Putusan
Tanggal Penetapan

PENDAHULUAN

: Herry (dahulu Termohon Pailt)


: Wempy Dahong (dahulu Pemohon Pailit)
: 360 K/ Pdt. Sus/ 2011
: Kasasi
: 22 Agustus 2011
: 1. Dr. H. Mohammad Saleh, S.H., M.H. (Ketua Majelis)
2. Djafni Djamal, S.H., M.H. (Anggota)
3. Mahdi S. Nasution, S.H., M.Hum. (Anggota)
: Edy Pramono, S.H., M.H.
: Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makassar
: 01/ PAILIT/ 2011
: 24 Maret 2011

B. Permasalahan
Pemohon Kasasi dan Termohon Kasasi mengadakan perjanjian jual beli sebidang
tanah, di mana Pemohon Kasasi adalah pembeli dan Termohon Kasasi adalah penjual.
Pembayaran dalam perjanjian tersebut dibagi ke dalam 3 termin, di mana Pemohon
Kasasi hanya melunasi pembayaran sampai pada termin ke-2. Termohon Kasasi telah
berupaya agar Pemohon Kasasi dapat melunasi utangnya, akan tetapi tidak mendapat
sambutan dan itikad baik dari Pemohon Kasasi. Oleh sebab itu, Termohon Kasasi
mengajukan permohonan kepailitan terhadap Pemohon Kasasi ke Pengadilan Niaga pada
Pengadilan Negeri Makassar.
Pemohon Kasasi mengajukan Keberatan ke Mahmakah Agung Republik Indonesia
(MARI) atas Putusan No. 01/ PAILIT/ 2011 oleh Pengadilan Niaga pada Pengadilan
Negeri Makasar berdasarkan permohonan pailit oleh Termohon Kasasi. Pengadilan Niaga
pada Pengadilan Negeri Makasar tersebut mengabulkan permohonan pailit tersebut
sehingga Pemohon Kasasi dinyatakan pailit. Putusan tersebut didasarkan pada bukti-bukti
yang diajukan oleh Termohon Kasasi, yaitu:
1. Bukti adanya utang Pemohon Kasasi terhadap Termohon Kasasi yang belum dibayar
dan telah jatuh waktu.
2. Bukti bahwa Pemohon Kasasi tidak hanya berutang kepada Termohon Kasasi,
melainkan juga kepada beberapa bank.
Berdasarkan hal tersebut, maka Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makassar
mengabulkan permohonan pailit tersebut.

Namun demikian, Pemohon Kasasi berdalih tentang alasannya tidak melunasi


utangnya kepada Termohon Kasasi. Pemohon Kasasi mengajukan keberatan ke MARI
yang pada pokoknya memohon agar Putusan No. 01/ PAILIT/ 2011 dibatalkan. Adapun
dasar pengajuan keberatan tersebut pada intinya, yaitu:
1. Pemohon Kasasi tidak melunasi utang kepada Termohon Kasasi karena Termohon
Kasasi pun tidak melakukan kewajibannya sebagai penjual tanah, dan malah telah
melakukan kecurangan terhadap Pemohon Kasasi.
2. Pemohon Kasasi memang benar berutang pula kepada beberapa bank, tetapi utang
tersebut belum jatuh waktu dan oleh karenanya tidak dapat ditagih.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Pemohon Kasasi berpendapat bahwa tidak sah
Putusan No. 01/ PAILIT/ 2011 dan mengajukan agar putusan tersebut dibatalkan.

II.

A.
B.
C.
D.
E.

KERANGKA TEORI

Pengertian Utang
Pengertian Pailit
Prosedur Pengajuan Kepailitan
Putusan Pailit
Keberatan atas Putusan Pailit

III.

KASUS POSISI

Berikut adalah uraian kasus posisi berdasarkan kronologi atau urutan kejadian.
1. Pada tanggal 26 Januari 2007 telah dibuat kesepakatan antara Pemohon Kasasi dengan
Termohon Kasasi atas jual beli tanah milik Termohon Kasasi yang terletak di jalan
Maccin I Raya No. 186, Makassar, Sulawesi Selatan seluas kurang lebih 16.200 m (enam
belas ribu dua ratus meter persegi) (TANAH) dengan harga yang telah disepakati
sebesar Rp. 16.250.000.000,- (enam belas milyar dua ratus lima puluh juta rupiah).
Kesepakatan tersebut dituangkan dalam bentuk AKTA KESEPAKATAN BERSAMA
NOMOR. 72, tertanggal 26 April 2007, dibuat di hadapan Hendrik Jaury, Sarjana Hukum,
Notaris di Makassar (AKTA NO. 72).
2. Dalam pasal 3 Akta No. 72 telah disepakati pembayaran harga tanah di bagi menjadi 3
tahap, yakni :
a. Tahap pertama, sebesar Rp. 2.000.000.000,- (dua milyar rupiah) yang harus dibayar
oleh Termohon Pailit kepada Pemohon Pailit segera setelah penandatanganan Akta
No. 72, pembayaran pada tahap ini telah selesai;
b. Tahap kedua, sebesar Rp. 2.500.000.000,- (dua milyar lima ratus juta rupiah)
dibayarkan oleh Termohon Pailit kepada Pemohon Pailit paling lambat 7 (tujuh) bulan
setelah penandatanganan Akta No. 72, pembayaran pada tahap ini pun telah
diselesaikan;
c. Tahap ketiga, sebesar Rp. 11.750.000.000,- (sebelas milyar tujuh ratus lima puluh juta
rupiah ) wajib dibayar oleh Termohon Pailit paling lambat tanggal 20 Mei 2010;
3. Pada tahap ketiga, Termohon Pailit tidak melunasi utangnya, melainkan melakukan
pembayaran dengan cara berikut.
a. Transfer dan penyerahan Cek Tunai sebesar Rp. 1.015.000.000,- (satu milyar lima
belas juta rupiah)
b. Penyerahan 3 unit rumah senilai Rp. 1.750.000.000,- (satu milyar tujuh ratus lima
puluh juta rupiah)
Pembayaran tahap ketiga ini hanya sebesar Rp. 2.765.000.000,- (dua milyar tujuh ratus
enam puluh lima juta rupiah), sehingga Termohon Pailit masih berutang Rp.
8.985.000.000,- (delapan milyar sembilan ratus delapan puluh lima juta rupiah) kepada
Pemohon Pailit.

4. Pada tanggal 11 Juli 2008, antara Pemohon Pailit dan Termohon Pailit telah membuat
Kesepakatan Tambahan (Kesepakatan Tambahan) yang mengatur tentang penyerahan
70 (tujuh puluh) lembar Cek Tunai Bank NISP Cabang Makassar kepada Pemohon Pailit,
serta diberlakukannya sanksi kepada Termohon Pailit apabila ternyata Cek-Cek yang
diserahkan tersebut ditolak pencairannya oleh bank.
Dari 70 (tujuh puluh) lembar Cek yang diterima oleh Pemohon Pailit, yang berhasil
dicairkan hanyalah 35 (tiga puluh lima) lembar yang jumlahnya sebesar Rp.
4.505.000.000,- (empat milyar lima ratus lima juta rupiah). Adapun sisa Cek lainnya
sebanyak 35 (tiga puluh lima) lembar setelah dikliring, ternyata 32 (tiga puluh dua)
lembar oleh Bank NISP di tolak dengan alasan Saldo Tidak Cukup, sedang sisanya
sebanyak 3 (tiga) lembar ditolak dengan alasan tanda tangan penarik tidak sesuai dengan
specimen.
Dengan ditolaknya pembayaran 35 (tiga puluh lima) lembar Cek tersebut oleh bank, maka
sisa utang Termohon Pailit setelah dikurangi dengan Cek yang berhasil dicairkan adalah
sebesar Rp. 8.985.000.000,- Rp. 4.505.000.000 = Rp. 4.480.000.00,- (empat milyar
empat ratus delapan puluh juta rupiah).
5. Hingga tanggal 20 Mei 2010, Termohon Pailit belum juga melunasi utangnya.
6. Pada tanggal 9 Agustus 2010, Pemohon Pailit dengan itikad baik telah berulang kali
secara lisan maupun tertulis menghubungi Termohon Pailit terbukti dengan surat
Pemohon Pailit melalui kuasa hukumnya dengan nomor surat Ref. No. 088/ tWp/ mks /
VIII/ 2010, perihal Pemberitahuan dan Undangan, telah mengundang Termohon Pailit
untuk hadir dalam pertemuan yang diadakan pada tanggal 11 Agustus 2010 guna
membicarakan penyelesaian utang Termohon Pailit kepada Pemohon Pailit, namun
undangan tersebut tidak mendapat tanggapan yang positif dari Termohon Pailit.
7. Pada tanggal 18 Agustus 2010, Pemohon Pailit melalui kuasa hukumnya mengirim surat
kepada Termohon Pailit dengan nomor surat Ref. No. 093/ tWp/ VIII/ 2010, perihal
Peringatan, telah memberikan peringatan kepada Termohon Pailit agar segera melunasi
utangnya kepada Pemohon Pailit paling lambat 3 (tiga) hari terhitung sejak tanggal surat
dimaksud, dengan pemberitahuan bahwa apabila tidak dilakukan pembayaran, maka
Pemohon Pailit akan melakukan tindakan hukum, namun Termohon Pailit tetap tidak mau
melunasi utangnya tersebut kepada Pemohon Pailit.
8. Bahwa atas adanya hutang Termohon Pailit kepada Pemohon Pailit tersebut, maka
Pemohon Pailit dengan itikad baik telah berulang kali secara lisan maupun tertulis
menghubungi Termohon Pailit terbukti dengan surat Pemohon Pailit melalui kuasa
hukumnya dengan nomor surat Ref. No. 088/ tWp/ mks / VIII/ 2010 tertanggal 9
Agustus 2010, perihal Pemberitahuan dan Undangan, telah mengundang Termohon
5

Pailit untuk hadir dalam pertemuan yang diadakan pada tanggal 11 Agustus 2010
guna membicarakan penyelesaian utang Termohon Pailit kepada Pemohon Pailit,
namun undangan tersebut tidak mendapat tanggapan yang positif dari Termohon
Pailit;
9. Bahwa walaupun telah diundang secara patut, kemudian ditindaklanjuti lagi oleh
Pemohon Pailit dengan mengirimkan proposal penyelesaian utang kepada Termohon
Pailit, tetap saja Termohon Pailit tidak menunjukkan itikad baik untuk menyelesaikan
utangnya kepada Pemohon Pailit;
10. Bahwa oleh karena kondisi tersebut telah berlarut-larut dan tidak adanya itikad baik
dari Termohon Pailit untuk melunasi utangnya kepada Pemohon Pailit, maka
Pemohon Pailit melalui kuasa hukumnya dengan Surat Ref. No. 093/ tWp/ VIII/ 2010,
tanggal 18 Agustus 2010, perihal Peringatan, telah memberikan peringatan kepada
Termohon Pailit agar segera melunasi utangnya kepada Pemohon Pailit paling lambat
3 (tiga) hari terhitung sejak tanggal surat dimaksud, dengan pemberitahuan bahwa
apabila tidak dilakukan pembayaran, maka Pemohon Pailit akan melakukan tindakan
hukum, namun Termohon Pailit tetap tidak mau melunasi utangnya tersebut kepada
Pemohon Pailit.
11. Hingga diajukannya permohonan pailit, Termohon Pailit masih memiliki sisa
kewajiban kepada Pemohon Pailit yang belum dilunasi sampai 31 Desember 2010
adalah sebesar Rp. 4.480.000.000,- (empat milyar empat ratus delapan puluh juta
rupiah), jumlah ini belum termasuk bunga dan denda yang adalah hak dari Pemohon
Pailit yang masih harus dibayar oleh Termohon Pailit.
12. Pada tanggal 24 Maret 201, Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makassar telah
mengambil putusan, yaitu putusan No. 01/ PAILIT/ 2011/ PN.NIAGA Makassar, yang
amarnya sebagai berikut.
a. Mengabulkan permohonan Pemohon Pailit untuk seluruhnya;
b. Menyatakan Sdr. HERRY (Termohon Pailit) yang beralamat di Jalan Bau Mangga
Raya No. 1, Makassar, Sulawesi Selatan, PAILIT dengan segala akibat hukumnya;
c. Mengangkat dan menunjuk Sdr. MASUD, S.H., M.H., sebagai Hakim Pengawas;
d. Mengangkat dan menunjuk Sdr. JANDRI SIADARI, S.H., DIP., M.H., LL.M. dan
Sdr. A. SYAMSUL ZAKARIA, S.H., M.H., sebagai Kurator dalam kepailitan ini;
e. Menghukum Termohon Pailit untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.
4.386.000,- (empat juta tiga ratus delapan puluh enam ribu rupiah).
13. Pada tanggal 31 Maret 2011, Termohon Pailit dengan perantaraan kuasanya,
berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 31 Januari 2011, mengajukan permohonan
kasasi secara lisan sebagaimana ternyata dari Akta Permohonan Kasasi No. 01/ Sr t.

Pdt. Pailit/ 2011/ PN. Mks., yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Niaga pada
Pengadilan Negeri Makassar.
14. Pada tanggal 1 April 2011, Pemohon Pailit/ Termohon Kasasi mengajukan jawaban
memori kasasi yang diserahkan ke Kepaniteraan Pengadilan Negeri/ Niaga Makassar
pada tanggal 6 April 2011.
15. Pada tanggal 22 Agustus 2011, MARI memutus perkara ini dengan Putusan No. 360
K/ Pdt. Sus/ 2011, yang amarnya berbunyi sebagai berikut.
a. Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: HERRY tersebut;
b. Membatalkan Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makassar No.
01/ PAILIT/ 2011/ PN.NIAGA Makassar tanggal 24 Maret 2011;
c. Menolak permohanan pernyataan pailit dari Pemohon Pailit untuk seluruhnya;
d. Menghukum Termohon Kasasi/ Pemohon Pailit untuk membayar biaya perkara
dalam semua tingkat peradilan yang dalam tingkat kasasi ini ditetapkan sebesar
Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah).