Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Dahulu para ilmuan telah membuat teori tentang penuaan seperti Aristoteles dan
Hipocrates yang berisi tentang suatu penurunan suhu tubuh dan cairan secara umum.
Sekarang dengan seiring jaman banyak orang yang melakukan penelitian dan penemuan
dengan tujuan supaya ilmu itu dapat semakin jelas, komplek dan variatif. Ahli teori telah
mendeskripsikan proses biopsikososial penuaan yang kompleks. Tidak ada teori yang
menjelaskan teori penuaan secara utuh. Semua teori masih dalam berbagai tahap
perkembangan dan mepunyai keterbatasan. Namum perawat dapat menggunakannnya untuk
memahami fenomena yang mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan klien lansia.
Proses menjadi tua itu pasti akan dialami oleh setiap orang dan menjadi dewasa itu
pilihan. Penuaan bukan progresi yang sederhana, jadi tidak ada teori universal yang diterima
yang dapat memprediksi dan menjelaskan kompleksitas lansia.
Peran teori dalam memahami penuaan adalah sebagai landasan dan sudut pandang
untuk melihat fakta, menjawab pertanyaan filosofi, dan dasar memberikan asuhan
keperawatan pada pasien. Penuaan pada seseorang dipengaruhi oleh beberapa bagian seperti
biologi, psikologi, social, fungsional dan spiritual.
Biologi molekular dapat didefinisikan sebagai studi biologi pada tingkat molekul.
Namun, istilah ini biasanya digunakan dalam arti lebih terbatas berarti mempelajari
makromolekul seperti protein, DNA, dan RNA, dan peran khusus dalam sistem kehidupan.

1.2

Tujuan
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk :

1.3

1.

Mempelajari tentang biologi molekuler.

2.

Memehami penyebab proses penuaan dan bagaiman proses penuaan sel terjadi.

3.

Mengetahui teori-teori penuaaan

Manfaat
Penyusun mengharapkan makalah ini bermanfaat :
-

Bagi mahasiswa agar sebagai dokter nantinya bisa mengaplikasikan ilmu tersebut.

Bagi para pembaca, sebagai bahan bacaan dan referensi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Biologi Molekuler
Biologi molekular bisa didefinisikan sebagai studi biologi pada tingkat molekul,
Tujuan akhir studi biologi molekular adalah memahami dasar-dasar molekular yang
menentukan sifat dan fenomena. Beberapa aspek biologi yang secara khusus dipelajari dalam
biologi molekular antara lain adalah bahan genetik dan proses sintesis protein. Kedua aspek
tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan karena proses sintesis protein
tergantung pada informasi yang ada pada bahan genetik. Di lain pihak, replikasi bahan
genetik juga tergantung pada aktivitas bermacam-macam protein. Pembahasan mengenai
kedua aspek tersebut dapat diperluas mulai dari struktur dasarnya sampai proses
pengendalian sintesisnya. Studi mengenai bahan genetik dan proses sintesis protein akhirnya
mampu menyingkap perbedaan yang lebih dalam antara kelompok jasad prokaryotik dan
eukaryotik. Dengan demikian, perbedaan antara kedua kelompok jasad tersebut tidak hanya
perbedaan morfologi dan sifat-sifat fisiologi saja. Penelitian jaga menunjukkan bahwa
meskipun ada perbedaan-perbedaan mendasar antara kedua kelompok jasad tersebut, namun
terdapat kesamaan-kesamaan yang menunjukkan hubungan kekerabatan satu sama lain. Studi
mengenai urutan nukleotida pada RNA ribosom, misalnya, menjadi salah satu dasar untuk
klasifikasi jasad hidup selular.
Penerapan biologi molekuler untuk studi penuaan baru dimulai tahun 1980-an.
Kebanyakan penelitian awal pada penuaan difokuskan pada pengembangan eksperimen
dengan binatang untuk mempelajari tentang penuaan, menjelaskan berbagai proses penuaan,
dan karakteristik perubahan berhubungan dengan usia pada manusia dan hewan . Yang
menarik adalah kebutuhan untuk mengidentifikasi dan kuantitas perubahan yang berkaitan
dengan usia dalam ekspresi gen. Hal ini menjadi mungkin sekali gen dapat digandakan dan
digunakan sebagai penyelidikan untuk mengukur jumlah molekul messenger RNA yang ada
dalam sel di bawah kondisi tertentu, seperti usia tertentu, status gizi, atau status penyakit.
pengukuran tersebut memberikan informasi tentang tingkat transkripsi dari setiap gen yang
diberikan ke messenger RNA, serta tingkat terjemahan dari RNA menjadi protein.
Kemampuan untuk mengukur jumlah relatif dari molekul messenger RNA spesifik dalam sel
2

membuat lompatan kuantum ke depan di akhir 1990-an dengan pengembangan teknologi


untuk melakukan analisis dengan menggunakan tag neon dan ribuan gen yang diteliti
ditempelkan dengan kaca kecil atau filter. Mikroarray ini mampu melakukan ribuan
pengukuran dalam percobaan tunggal, dan dengan demikian dapat mempercepat penelitian.
Kemampuan untuk mengkloning gen dan memanipulasi urutan DNA menimbulkan
pendekatan baru untuk memahami bagaimana fungsi gen dalam sel melalui percobaan tikus
yang diubah secara genetik. Penelitian ini sekarang disebut genomik fungsional. Tahun 1990an ada eksploitasi untuk memperkenalkan gen baru ke dalam tikus dan overexpressing gen
ini. Eksperimen ini sangat penting dalam mengembangkan penelitian penyakit manusia yang
berkaitan dengan usia dan sindrom seperti penyakit Alzheimer, penyakit Huntington,
sklerosis lateral sclerosis, sindrom Werner, dan distrofi otot. Genetik tikus yang diubah juga
berguna untuk mempelajari fungsi sel normal. Sebagai contoh, pengenalan dan lanjutan dari
gen telomerase pada sel manusia dalam kultur ditunjukkan untuk mencegah blok proliferasi
yang biasanya terjadi setelah sekitar lima puluh sampai delapan puluh pembelahan sel sel
manusia, dengan demikian menunjukkan bahwa pemendekan telomere ini dapat
menyebabkan penuaan replikatif. Sebuah tantangan yang tersisa penting adalah untuk
mengembangkan strategi yang lebih baik untuk mengubah transgen ini.
Baru-baru ini kemajuan dalam genetika manusia dan biologi molekuler telah
meningkatkan pemahaman kita tentang penuaan. Kemajuan ini meliputi identifikasi gen yang
penting dalam penuaan dan studi genetik dari penyakit germline yang menyebabkan penyakit
germline yang menyebabkan penuaan dini.

2.2

Radikal Bebas
Radikal bebas adalah sekelompok bahan kimia baik berupa atom maupun molekul
yang memiliki elektron tidak berpasangan pada lapisan luarnya. Merupakan juga suatu
kelompok bahan kimia dengan reaksi jangka pendek yang memiliki satu atau lebih elektron
bebas.
Pada proses metabolisme normal, tubuh memproduksi partikel kecil dengan tenaga
besar disebut sebagai radikal bebas. Atom atau molekul dengan elektron bebas ini dapat
digunakan untuk menghasilkan tenaga dan beberapa fungsi fisiologis seperti kemampuan
untuk membunuh virus dan bakteri. Namun oleh karena mempunyai tenaga yang sangat
3

tinggi, zat ini juga dapat merusak jaringan normal apabila jumlahnya terlalu banyak. Radikal
bebas dapat mengganggu produksi DNA, lapisan lipid pada dinding sel, mempengaruhi
pembuluh darah, dan produksi prostaglandin.
Radikal bebas juga dijumpai pada lingkungan, beberapa logam (misalnya besi,
tembaga), asap rokok, polusi udara, obat, bahan beracun, makanan dalam kemasan, bahan
aditif, dan sinar ultraviolet dari matahari maupun radiasi.
Atom sering kali melengkapi lapisan luarnya dengan cara membagi elektronelektron bersama atom yang lain. Dengan membagi elektron, atom-atom tersebut bergabung
bersama dan mencapai kondisi stabilitas maksimum untuk membentuk molekul. Oleh karena
radikal bebas sangat reaktif, maka mempunyai spesifitas kimia yang rendah sehingga dapat
bereaksi dengan berbagai molekul lain, seperti protein, lemak, karbohidrat, dan DNA. Dalam
rangka mendapatkan stabilitas kimia, radikal bebas tidak dapat mempertahankan bentuk asli
dalam waktu lama dan segera berikatan dengan bahan sekitarnya. Radikal bebas akan
menyerang molekul stabil yang terdekat dan mengambil elektron, zat yang terambil
elektronnya akan menjadi radikal bebas juga sehingga akan memulai suatu reaksi berantai,
yang akhirnya terjadi kerusakan sel tersebut. Radikal bebas diproduksi dalam sel yang secara
umum melalui reaksi pemindahan elektron, menggunakan mediator enzimatik atau nonenzimatik. Produksi radikal bebas dalam sel dapat terjadi secara rutin maupun sebagai reaksi
terhadap rangsangan. Secara rutin adalah superoksida yang dihasilkan melalui aktifasi fagosit
dan reaksi katalisa seperti ribonukleotida reduktase. Sedang pembentukan melalui rangsangan
adalah kebocoran superoksida, hidrogen peroksida dan kelompok oksigen reaktif (ROS)
lainnya pada saat bertemunya bakteri dengan fagosit teraktifasi. Pada keadaan normal sumber
utama radikal bebas adalah kebocoran elektron yang terjadi dari rantai transport elektron,
misalnya yang ada dalam mitokondria dan endoplasma retikulum dan molekul oksigen yang
menghasilkan superoksida.
Dalam kondisi yang tidak lazim seperti radiasi ion, sinar ultraviolet, dan paparan
energi tinggi lainnya, dihasilkan radikal bebas yang sangat berlebihan. Tekanan oksidatif
(oxidative stress) adalah suatu keadan dimana tingkat oksigen reaktif intermediate (ROI)
yang toksik melebihi pertahanan anti-oksidan endogen. Keadaan ini mengakibatkan
kelebihan radikal bebas, yang akan bereaksi dengan lemak, protein, asam nukleat seluler,
sehingga terjadi kerusakan lokal dan disfungsi organ tertentu. Lemak merupakan biomolekul
yang rentan terhadap serangan radikal bebas.
4

Pertahanan sel terhadap radikal bebas


Sifat reaktif yang tersebar dari sistem pembentukan radikal dalam sel menyebabkan
evolusi mekanisme pertahanan terhadap efek perusakan suatu bahan teroksidasi kuat. Gambar
dibawah ini menunjukkan aktifitas enzim intraseluler tersebut. SOD (superoksida dismutase
dan katalase) mengkatalisasi dismutasi dari superoksida dan hidrogen peroksida. GSH
(glutation) peroksidase mereduksi peroksida hidrogen dan organik menjadi air dan alkohol.
GSH S-transferase melakukan pemindahan residu glutation menjadi metabolit
elektrofilik reaktif dari xenobiotic. Produksi glutation teroksidasi (GSSG) direduksi secara
cepat oleh reaksi yang menggunakan NADPH yang dihasilkan dari berbagai sistem
intraseluler, diantaranya hexose-monophosphate shunt. Berbagai isoenzim organel spesifik
dari dismutase superoksida juga ditemukan. SOD Zn, Cu merupakan sitoplasmik, sedangkan
enzim

Zn,

Mn

mitokondrial.

Isoenzim

ini

tidak

ditemukan

dalam

cairan

ekstraseluler.Beberapa bahan tereduksi juga bekerja sebagai antioksidan, reduksi kelompok


radikal aktif seperti radikal peroksi dan hidroksi menjadi bentuk yang kurang reaktif misalnya
air. Seperti halnya pembangkitan kembali oksigen singlet. Penggabungan tersebut juga
mengakhiri reaksi radikal berantai.
Pertahanan antioksidan kimiawi bagai pedang bermata dua. Pertama, saat bahan
tereduksi menjadi radikal maka derivat radikalnya juga terbentuk. Sehingga, jika suatu
radikal sangat tidak stabil, reaksi radikal berantai mungkin akan berlanjut. Kedua, bahan
tereduksi dapat mereduksi oksigen menjadi superoksida atau peroksida merupakan radikal
hidroksil dalam reaksi auto-oksidasi. Ascorbat dan asam urat dapat berfungsi sebagai anti
oksidan, ikut serta secara langsung dalam auto-oksidasi, baik melalui reduksi aktifator
oksigen lain seperti rangkaian logam transisi atau quinone, atau bertindak sebagai kofaktor
enzim.
Proses tersebut dapat melibatkan kemampuan askorbat untuk depolimerisasi DNA,
hambatan Na+/K+ ATPase otak, potensiasi toksisitas paraquat, dan sebagai mediator
peroksidasi lemak. Juga mempunyai kontribusi kelainan patofisiologi dari metabolisme purin.
Sifat yang sesungguhnya campuran pro atau antioksidan untuk bahan pereduksi khusus
adalah integrasi kompleks dari beberapa faktor. Pada kasus zat pembersih radikal hidroksil,
produk dari interaksi radikal dengan antioksidan umumnya kurang reaktif dibanding radikal
hidroksil. Radikal yang terbentuk tersebut cukup stabil dan dalam konsentrasi cukup tinggi
5

namun dapat terjadi mekanisme seperti pada glutation dan superoksida. pH sangat
mempengaruhi reduksi langsung oksigen menjadi superoksida oleh senyawa sulfidril,
sedangkan faktor lokal lainnya seperti konsentrasi molar dari molekul oksigen juga punya
peranan penting.
Oksigen singlet dan bagian triplet molekul yang tereksitasi mungkin disempurnakan
melalui interaksi bersama sistem konjugasi sistem diene seperti yang ditemukan pada
karoten, tokoferol, atau melanin. Seperti antioksidan pereduksi, senyawa tersebut dapat juga
menghasilkan jenis elektron aktif dan mungkin juga penyakit.
2.3

Reactive oxygen species (ROS)


Radikal bebas terpenting dalam tubuh adalah radikal derivat dari oksigen yang
disebut kelompok oksigen reaktif (reactive oxygen species/ROS), termasuk didalamnya
adalah triplet (3O2), tunggal (singlet/1O2), anion superoksida (O2.-), radikal hidroksil (-OH),
nitrit oksida (NO-), peroksinitrit (ONOO-), asam hipoklorus (HOCl), hidrogen peroksida
(H2O2), radikal alkoxyl (LO-), dan radikal peroksil (LO-2).
Radikal bebas yang mengandung karbon (CCL3-) yang berasal dari oksidasi radikal
molekul organik. Radikal yang mengandung hidrogen hasil dari penyerangan atom H (H-).
Bentuk lain adalah radikal yang mengandung sulfur yang diproduksi pada oksidasi glutation
menghasilkan radikal thiyl (R-S-). Radikal yang mengandung nitrogen juga ditemukan,
misalnya radikal fenyldiazine.
Oksigen merupakan unsur penting bagi kehidupan organisme. Sebagai kekuatan
oksidan, oksigen molekuler di satu pihak bermanfaat sebagai kemampuan dasar degradasi
oksidatif, yaitu sebagai substrat pada respirasi. Di pihak lain, oksigen dapat menimbulkan
kerusakan karena berperan sebagai prekursor pada spesies oksigen reaktif (reactive oxygen
spescies, ROS) yang menimbulkan kerusakan komponen intraseluler termasuk DNA. Untuk
mengurangi pengaruh kerusakan yang ditimbulkan oleh ROS, organisme hidup mampu
menjalankan mekanisme multisistem antiROS, namun pada saat tertentu ROS diperlukan
untuk kepentingan biologis. ROS berperan sebagai pertahanan biologis, yaitu fagositosis dan
pesan jelek apoptosis, yaitu prgogram kematian sel, dan mungkin sebagai komponen yang
diduga berperan pada sistem mutator dengan meningkatnya penyimpangan genetik pada
populasi (Skulachev 2000).

Walaupun oksigen (O2) esensial untuk kebanyakan proses kehidupan, molekul


tersebut dapat berubah menjadi molekul yang memiliki toksisitas tinggi. Satu dari
kebanyakan senyawa reaktif adalah superoksida anion (O2-) yang merupakan radikal bebas.
Radikal bebas adalah atom atau molekul yang mengandung elektron yang tidak berpasangan
pada orbit luarnya. Molekul terdiri atas atom dengan elektron yang berpasangan pada kulit
terluarnya, namun pada suatu kondisi, molekul atau atom yang memiliki elektron yang tidak
berpasangan biasanya mengambil elektron lain dari sekitarnya untuk dijadikan sebagai
pasangannya. Radikal bebas umumnya merusak molekul lain, misalnya molekul pada sel
(Noguchi dan Niki 1999, Cambel dan Smith 2000).
Spesies oksigen reaktif selalu dihasilkan secara normal dalam proses produksi
energi, sintesis senyawa biologis, dan fagositosis pada sistem imun. Di lain pihak
peningkatan aktivitas spesies oksigen reaktif bisa menyebabkan sejumlah penyakit termasuk
penyakit jantung, kanker, dan penuaan (Noguchi dan Niki 1999).
Asam lemak tidak jenuh mengakibatkan lemak peka terhadap serangan oksigen
sehingga menimbulkan perubahan struktur kimia. Dalam sistem seluler peroksidasi terjadi
pada biomembran di mana kandungan asam lemak tidak jenuh yang ada menjadi sangat
reaktif. Peroksidasi lemak adalah proses reaksi kimia yang sangat kompleks termasuk
melibatkan radikal bebas, ion logam, dan sistem biologik (Jadhav et al. 1996). Ada beberapa
hubungan saling mempengaruhi antara kesehatan diet antioksidan dan ROS, mungkin
bergantung pada status kesehatan, secara individual dan mungkin juga kepekaan secara
genetik. Pada penelitian secara klinik pada suplementasi antioksidan terjadi perubahan baik
pada status oksidatif, risiko penyakit atau kejadian penyakit yang telah mempengaruhi
kesehatan individu, risiko sejumlah penyakit pada populasi atau pasien yang sedang
menjalani pengobatan (Seifried et al. 2003).
Pada saat fagositosis, makrofag dan neutrofil sebagai sel efektor juga memproduksi
oksigen toksik gabungan fagosom dan lisosom menjadi fagololisosom yang bertugas
membantu membunuh dan menelan mikroorganisme. Kebanyakan kejadian yang penting di
antaranya adalah kerja hidrogen peroksida (H2O2), superoksida anion (O2-), dan nitrogen
oksida (NO), secara langsung toksik pada bakteri. Semuanya ini dihasilkan melalui oksidasi
oleh NADPH dan enzim yang laindalam proses yang dinamakan respiratory burst, sebagai
akibat dari naiknya jumlah konsumsi oksigen sementara. Aktivitas makrofag sangat efisien
dalam menghancurkan patogen, aktivitas ini secara in vivo biasanya bersamaan dengan
7

kerusakan jaringan secara lokal yang disebabkan oleh keluarnya mediator antimikrobial
sebagai radikal bebas, NO dan protease, yang juga toksik terhadap sel inang. Kemampuan
aktivitas makrofag untuk mengeluarkan mediator toksik adalah pada pertahanan inang karena
kemampuannya melawan patogen ekstraseluler yang tidak tertelan (Abbas et al. 2000,
Janeway et al. 2001).
Nitrogen oksida adalah molekul yang penting yang mempengaruhi sistem
kardiovaskuler, NO merupakan senyawa yang bersifat toksik dan berumur pendek, berupa
molekul gas yang diproduksi oleh enzim NO synthase, dengan cara mengubah asam amino
arginin menjadi NO dan sitrulin (Becker et al. 2000). Molekul NO berperan penting sebagai
regulator kardiovaskuler bertindak untuk mengatur tekanan darah. Molekul ini diproduksi
oleh neuron dan makrofag, memiliki jumlah elektron ganjil dan sebagai radikal bebas.
Molekul ini relatif stabil namun bereaksi cepat bila bertemu dengan senyawa yang
mengandung elektron yang tidak berpasangan, misalnya molekul oksigen misalnya anion
superoksida dan ion logam (Cambel dan Smith 2001).
Penelitian terahir menggambarkan bahwa inducible nitricoxyde synthase (iNOS)
terlibat dalam kelainan metabolik yang dihubungkan dengan inflamasi kronis tingkat ringan,
aterosklerosis, dan peningkatan tumour necrosis factor (TNF) (Muntalib 2003).
Peran sitokin pada patogenesis dan imunitas terhadap MD, yang diinduksi oleh virus
herpes menyebabkan limfoma pada sel T. Pada ayam umur 21 hari yang diinfeksi MDV,
peningkatan transkipsi IF-Y setelah 3 hari p.i sampai akhir percobaan, yaitu 15 hari p.i,
dimana iNOS dan IL-1 mengalami peningkatan antara 6 sampai 15 hari p.i. Pada ayam umur
1 hari p.i mRNA untuk untuk mengekspresikan IF-Y dan iNOS, antara 16 sampai dengan 64
kali pada 9 hari p.i. Kesimpulan dapat diambil dimana iNOS berperan pada patogenesis MD
(Xing dan Schat 2000).
Radikal bebas diproduksi secara normal pada fungsi imunitas, diperlukan oleh sel
imun untuk membunuh patogen dan mengeluarkannya, dalam keadaan overproduksi pada
kondisi patogenik menyebabkan kerusakan sel imun dan menimbulkan imunosupresi.
Eritrofagositosis juga terjadi pada penyakit Marek oleh makrofag. Dibutuhkan keseimbangan
oksidan-antioksidan untuk mengatur fungsi sistem imun dalam menjaga integritas dan fungsi
lipida membran, protein seluler, asam nukleat serta mengatur ekspresi gen (Wu dan Meydani
1999, Gilka dan Spencer 1995).

Stres oksidatif dapat dipandang sebagai gangguan keseimbangan antara produksi


oksidan dan antioksidan defense atau destruksi reactive oxygen species (ROS); seperti anion
superoksida (.O2-), radikal hidroksil (.OH), hidrogen peroksida (H2O2), radikal nitrit oksida
(.NO) dan periksonitrit (ONOO-). Ketidakseimbangan preoksidan ini dapat menyebabkan
oksidasi makromolekul; meliputi lipid, karbohidrat, asam amino, protein dan DNA, diikuti
dengan kerusakan selular dan jaringan. Reaktivitas oksigen mempunyai peranan penting
karena yang melandasi kekuatan destraksi adalah radikal bebas tersebut. Seperti diketahui,
oksigen terpapar luas di lingkungan sehingga tubuh manusia akan mengonsumsi sekitar 250
gram oksigen setiap hari. Dari jumlah tersebut hanya sekitar 3 - 5% dikonversi menjadi anion
perioksida (.O2-) dan spesies reaktif lainnya.
Beberapa ROS yang mempunyai peranan penting untuk disfungsi endotel; antara
lain anion superoksida (.O2-), hidrogen peroksida (H2O2) dan peroksinitrit (ONOO-).
Berbagai enzim juga terlibat untuk pembentukan anion superoksida (.O2-) di sitosol endotel
terutama NADPH oksidase yang merupakan protein transmembran, dan berbagai enzim
sitosolik lainnya seperti siklooksigenase (COX), nitrit oksida sintase (NOS), lipoksigenase
(LO), dan sitokrom P-450. Reaksi transpor elektron di mitokondria dapat menjadi sumber
pembentukan .O2-. Melalui aktivitas Mangan-superoksida-dismustase (MmSOD) pada
mitokondria dan atau Cu / ZnSOD pada sitosol), superoksida (.O2-) mengalami konversi
menjadi H2O2. Hidrogen peroksida (H2O2) oleh glutation peroksidase dan thioredoksin
peroksidase pada sitosol dan oleh katalase diperoksisom direduksi menjadi air. Makrofag
dapat memproduksi juga anion superoksida .O2- melalui aktivitas NADPH oksidase,
kemudian mengalarni dismutasi oleh SOD ekstraselular (Ec SOD) menjadi H2O2. Enzim
myeloperoksidase yang terdapat pada makrofag terlibat juga pembentukan radikal
hipoklorida (HOCL) yang lebih reaktif dari H2O2.
Pembentakan ROS dalam pembuluh darah sebagian besar dimulai dengan reduksi
satu elektron pada molekul oksigen untuk membentuk anion superoksida .O2- yang
pembentukannya semakin meningkat pada proses aterosklerosis. Beberapa sumber penghasil
anion superoksida .O2- dalam pembulah vaskular antara lain sel-sel fagosit (monosit dan
makrofag) berinfiltrasi ke dalam subendotel, sel endotel vaskular, sel-sel otot polos vaskular
(vascular smooth muscle cells, VSMC) dan fibrobias.
Anion superoksida .O2- yang keluar dari atau diproduksi di luar sel-sel endotel
vaskular mengalami konversi dengan bantuan SOD ekstraselular (Ec SOD) menjadi hidrogen
9

peroksida SE (H2O2). Sedangkan anion superoksida .O2- yang diproduksi di dalam sel
endotel akan konversi dengan bantuan Cu/Zn SOD dan Mn SOD menjadi hidrogen peroksida
H2O2 yang dapat langsung bergerak menembus membran sel. Hidrogen peroksida H2O2
yang berada di ruang ekstraselular kemudian akan dikonversi menjadi spesies oksigen yang
sangat reaktif yaitu asam hipoklorida (HOCL), oleh enzim aktivitas myeloperoksidase dalam
sel-sel fagosit pada lesi aterosklerosis pada manusia. Beberapa jenis asam lemak dalam tubuh
dapat dikelompokkan menjadi asam lemak tak jenuh jamak yang dikenal sebagai PUFA (Poly
Unsaturated Fatty Acid). Itu kelompok asam lemak yang sangat penting bagi kesehatan
manusia dan tidak dapat diganti senyawa lain. PUFA terdiri dari induk asam lemak esensial
atau esential fatty acid (EFA) dan asam lemak tidak jenuh turunannya yang berantai panjang
atau long chain more unsaturated derivatives (LCPUFA). EFA tidak dapat disentesa denovo
(dalam tubuh) manusia. Karena itu, EFA harus menjadi bagian dari menu yang dikonsumsi.
Ada dua kelompok PUFA yaitu n-6 atau Omega-6 dan n-3 atau Omega-3, yang berturut-turut
disintesa dari asam linoleat (LA) serta asam alpha linolenat (ALNA). Peran EFA sudah
diungkapkan sejak tahun 1929, tetapi banyak terfokus pada Omega-6. Baru tahun 1970-an
peran Omega-3 mulai dianggap penting berdasarkan penelitian terhadap orang-orang Eskimo
yang banyak makan ikan. Kini baik Omega-6, Omega-3, dan Omega-9, terbukti berperan
dalam pertumbuhan dan perkembangan, serta mencegah beberapa penyakit kronis.

2.4

Program Genetik
DNA adalah inti yang menyusun setiap manusia di bumi ini. DNA seperti database
yang berisikan data yang membentuk setiap manusia. Misalnya warna kulit, jenis/warna
rambut, warna mata, dan lain sebagainya. Semua tersimpan didalam DNA. Semua bermula
dari sel, DNA berada dipusat sel manusia, para ahli mempelajari bagaimana membaca DNA
dan bahkan mencoba melakukan manipulasi terhadap DNA.
Awal tahun 1950, James Watson dan Francis Crick mengemukakan mengenai
struktur DNA, ini adalah penemuan terbesar abad ke-20 dalam ilmu biologi. Bahasa DNA
tertulis dalam 4 huruf kimia yaitu A, C, G dan T. Dimana, A untuk Adenin, C untuk Cytosin,
G untuk Guanin, dan T untuk Thiamin. Kelompok huruf ini menguraikan kumpulan informasi
yang kita kenal dengan sebutan gen.

10

Kloning merupakan sel yang berlipat ganda dengan menciptakan suatu tiruan yang
sama persis. Kloning secara alamiah terjadi pada wanita yang mengandung anak kembar di
rahimnya, embrio melakukan kloning dengan sendirinya sehingga pecah menjadi dua dan
terlahirlah anak kembar. Embrio tercipta dari pertemuan sperma dan sel telur pada saat terjadi
coitus (hubungan seksual), jutaan sperma berenang dan hanya satu yang berhasil mencapai
sel telur untuk selanjutnya terjadi pembuahan, kemudian suatu embrio yang unik terbentuk.
Para ahli biologi, mencoba merekonstruksi sel dan berusaha menumbuhkan embrio.
Diharapkan, organ baru dapat terbentuk dengan rekayasa sel, untuk memperbaiki organ tubuh
manusia yang rusak. Walaupun dengan tujuan medis, ini tetap menuai kontroversi.
Selain kloning, para ilmuwan juga mempelajari DNA untuk mencoba memprediksi
sifat manusia. Struktur DNA seperti sebuah kode kehidupan yang berisi kumpulan informasi
yang menguraikan bagaimana manusia akan berkembang dan menjalani hidupnya.
Para ahli juga mempelajari sel untuk memperlambat proses penuaan atau
memperpanjang usia, percobaan ini telah dilakukan pada hewan, apabila ini dapat dilakukan
pada manusia, diperkirakan manusia masa kini dapat bertahan hidup hingga usia 150 tahun.
Tapi, tubuh manusia sangatlah kompleks, tubuh manusia terdiri dari milyaran sel yang
berbeda, sebagian ada yang diproduksi tanpa henti. Sel darah merah terbentuk 174 milyar
setiap hari untuk membawa oksigen didalam tubuh, dan 10 milyar sel darah putih terbentuk
untuk melawan penyakit.
Hipotesis regulasi gen menyatakan bahwa gen-gen berperan penting dalam siklus
hidup organisme. Menurut hipotesis telomere, proses penuaan terjadi karena pemendekan
telomere selama pembelahan sel. Hipotesis stres oksidatif menyatakan bahwa akumulasi
berbagai spesies reaktif, termasuk radikal-radikal bebas, menyebabkan kerusakan pada selsel, yang pada akhirnya menyebabkan penuaan.
Banyak dari teori penuaan yang masuk dalam hipotesis neuroendokrin dan
neuroendokrin-imun mengandung gagasan bahwa aksis hipothalamus-hipophysis adrenal
terlibat di dalam proses penuaan.
Dari berbagai teori tersebut (hipotesis evolusi, hipotesis regulasi gen, hipotesis
telomere, hipotesis stres oksidatif, hipotesis neuroendokrin, dan hipotesis neuroendokrinimun), sejauh ini hipotesis stres oksidatif adalah yang paling banyak menerima dukungan
ketimbang teori-teori lainnya. Namun, tidak lantas berarti bahwa lebih dari 300 hipotesis
11

lainnya tidak sesignifikan teori ini, karena pemahaman kita tentang fenomena penuaan masih
terus berkembang.
Sumber energi yang tersedia bagi organisme terbagi menjadi tiga aktivitas penting,
yakni etabolisme dasar, pemeliharaan tubuh (soma), dan reproduksi. Metabolisme dasar
meliputi sintesis biokimia, respirasi, pergantian sel, pergerakan, pencernaan, dan eksresi.
Pemeliharaan tubuh meliputi perbaikan DNA, pertahanan anti-oksidan, pembuangan dan
perbaikan protein, respon imun, mekanisme proof-reading untuk sintesis makromolekul,
detoksifikasi senyawa berbahaya, pemulihan luka, homeostatis, stabilitas epigenetik dari selsel yang berdiferensiasi, apoptosis, deposisi lemak, perawatan bulu. Semua pemeliharaan ini
memerlukan energi yang besar.
2.5

Ketidakstabilan Genom
Karakteristik sel yang tidak stabil adalah adanya sejumlah kerusakan yang tertunda,
yang meliputi aberasi kromosom, mikronuklei, kematian reproduktif, mutasi dan amplifikasi
gen, laju mutasi yang tinggi pada lokus yang berbeda dan/atau kegagalan dalam membagi
kromosom pada saat mitosis karena adanya perubahan ploidi sehingga menghasilkan sel
aneuploid. Besarnya respon dan karakteristik sel tidak stabil bergantung pada LET dan dosis
radiasi, serta jenis dan genetik sel.
Kejadian ketidakstabilan genom akibat radiasi pertama kali dilaporkan oleh
Weissenborn dan Streffer tahun 1988. Mereka mengamati pembentukkan aberasi baru pada
sel embrio tikus yang dipapar neutron atau sinar X pada mitosis kedua dan ketiga setelah
paparan.
Paparan radiasi dosis rendah menyebabkan kerusakan yang tidak bersifat letal pada
sel dan akan diekspresikan setelah beberapa generasi pada turunan sel yang terpajan radiasi
tersebut. Keadaan ini aka mengarah pada peningkatan frekuensi perubahan genetic pada sel
anak. Kerusakan atau ketidakstabilan akibat radiasi yang dimaksud telah dipelajari secara in
vitro dan in vivo pada berbagai jenis sel. Pengujian dilakukan terhadap berbagai hasil akhir
kerusakan yang tertunda, seperti transformasi malignansi, kematian reproduktif, aberasi
kromosom dan mutagenesis.
Sejumlah jalur metabolisme yang kompleks mengatur duplikasi dan distribusi DNA
secara akurat; dan sejumlah jalur lain mempertahankan integritas informasi yang disandi
DNA dan mengatur ekspresi gen selama pertumbuhan dan perkembangan. Secara
12

keseluruhan, semua jalur tersebut berfungsi untuk menjaga stabilitas genom. Pada setiap
fungsi jalur ini terdapat suatu frekuensi latar normal yang bila terjadi perubahan atau
kesalahan maka akan mengarah pada mutasi spontan dan anomali genom lainnya.
Sementara multipel fenotip yang berhubungan dengan ketidakstabilan genom akibat
radiasi telah diketahui karakteristiknya, tetapi kejadian molekuler, biokimia, genetik dan
seluler yang menginisiasi dan mempertahankan ketidakstabilan pada beberapa generasi masih
belum diketahui. Kerusakan DNA yang diinduksi secara langsung seperti double strand
breaks kemungkinan tidak secara langsung sebagai penyebab ketidakstabilan genom. Tetapi,
kesalahan sel dalam merespon kerusakan DNA tersebut, perubahan ekspresi gen atau
perubahan homeostatis sel nampaknya lebih terlibat dan memberikan penjelasan kenapa
terbentuk fenotip tidak stabil.
Sejumlah gen berperan dalam transfer informasi genetik secara akurat dari satu sel
ke turunannya pada setiap siklus pembelahan. Mutasi pada stabilitas genom suatu gen akan
menjadi kejadian awal proses karsinogenesis dan mungkin menghasilkan multipel mutasi
yang diamati pada tumor. Berbagai bukti mengimplikasikan peran kejadian ekstra nuclear,
dan bahkan ekstra seluler, dalam menginisiasi dan mempertahankan ketidakstabilan
kromosom akibat radiasi. Aktivasi jalur transduksi sinyal dan ekspresi gen alternatif dapat
sebagai jalur tidak langsung pada instabilitas genom.
Tedapat bukti peningkatan reactive oxygen species (ROS) dalam kultur sel yang
menunjukkan ketidaktabilan genom akibat radiasi. Studi ini menunjukkan adanya pengaruh
tekanan oksigen dalam mempertahankan fenotip atau sel yang tidak stabil. Sel dengan
kondisi hipoksia (kandungan oksigen sekitar 2%) secara nyata mereduksi efek yang diinduksi
sinar X, khususnya kematian sel, pembentukan sel giant dan aberasi kromosom,
dibandingkan dengan sel dengan oksigen normal 20%.
Perbedaan genetis antar individu menentukan ekspresi ketidakstabilan kromosom
yang diinduksi radiasi. Ketidakstabilan kromosom ini dihubungkan pula dengan adanya
peningkatan radikal oksida intraseluler, kerusakan basa oksidatif dan peningkatan generasi
superoksida.

Selain

itu,

ketidakstabilan

genom

yang

diinduksi

radiasi

mungkin

mempengaruhi proses pemulihan sel dan jaringan.


Pemendekkan telomer adalah bentuk mekanisme lain yang mungkin memberikan
kontribusi terhadap ketidakstabilan genom. Telomer merupakan struktur khusus pada bagian
13

ujung kromosom eukariotik. Telomer mengandung ribuan ulangan urutan DNA pendek untuk
mempertahankan stabilitas kromosom secara selaras. Pada sel somatik, telomer memendek
setiap putaran replikasi karena polimerase DNA tidak dapat secara sempurna mereplikasi
bagian ujung DNA linier. Kehilangan urutan terminal kromosom secara reguler berhubungan
dengan umur seluler sehingga telomer bertindak sebagai jam mitosis yang membatasi masa
hidup sel somatik. Pemendekan telomer di bawah batas kritis biasanya berhubungan dengan
peningkatan dramatis frekuensi aberasi.
Selain kerusakan strand breaks DNA, ketidakstabilan genom dan efek bystander
kemungkinan besar dimediasi oleh tekanan dari metabolisme oksidatif, dan inflamasi. Tumor
Necrosis Factor (TNFA) sebagai sitokin pro-inflammatory selain terlibat dalam penyakit
peradangan (rheumatoid arthritis dan penyakit Crohn), juga dalam respon terhadap radiasi.
Terbukti bahwa inisiasi ketidakstabilan genom sel yang diirradiasi secara langsung direduksi
dengan inaktivasi TNFA. Pemblokan aktivitas TNFA mereduksi ketidakstabilan genom, ini
berarti TNFA berperan dalam inisiasi penurunan atau transmisi ketidakstabilan genom ke sel
anak.

2.6

Teori Penuaan
Proses penuaan terdiri atas teori-teori tentang penuaan, aspek biologis pada proses
menua, proses penuaan pada tingkat sel, proses penuaan menurut sisem tubuh, dan aspek
psikologis pada proses penuaan. Teori-teori tentang penuaan sudah banyak yang
dikemukakan, namun tidak semuanya bisa diterima.

2.6.1 Teori Biologis


Teori penuaan biologis merupakan suatu teori yang menjelaskan tentang suatu proses
atau mekanisme yang terjadi pada struktur dan fungsional tubuh pada masa usia lanjut.
Penuaan bukan hanya disebabkan oleh salah satu proses biologis saja,tetap juga dipengaruhi
oleh berbagai perubahan system secara simultan,yang terjadi didalam tubuh individu.
Perubahan ini mengakibatkan penurunan kemampuan tubuh untuk melakukan respon
terhadap tekanan-tekanan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari secara tepat. Teori
penuaan biologis ini terbagi lagi dalam tiga bagian yaitu:
1. Teori penuaan sel.
14

Teori penuaan sel merupakan suatu teori yang mebahas dan memfokuskan pada perubahan
degenerative(kemerosotan) yang terjadi pada sel individu, disamping itu mekanisme yang
menyebabkan sel tubuh menua adalah oksidasi radikal bebas. Perubahan struktur kolagen dan
elastin, rusaknya DNA serta penurunan system imun secara progressif, merupakan faktorfaktor yang dapat menyebabkan radikal bebas. Rangkaian kovalen hydrogen yang saling
menyilang antara molekul yang saling berdekatan merupakan konsekuensi dari peningkatan
umur karena oksidasi radikal bebas. Rangkaian lurus antara molekul yang saling berdekatan
ini juga mengakibatkan perubahan konfigurasi fungsional yang signifikan. Contohnya,
penuaan identik dengan elastisitas kulit,serta penurunan fleksibiitas dan gerakan. Semua ini
terjadi akibat perubahan intrinsik sel karena proses penuaan sel.
2. Teori genetik
Teori penuaan genetik merupakan salah suatu teori biologis yang lebih memfokuskan pada
peran herediter(keturunan) sebagai salah satu faktor yang mengakibatkan proses penuaaan.
Penuaan merupakan hasil dari penurunan integritas dari nukleotida DNA. Penurunan DNA
menyebabkan gangguan kemampuan sel untuk terus memproduksi sel-sel baru, meskipun
pada beberapa tingkat DNA terjadi mutasi pada semua tahapan kehidupan, beberapa sel DNA
sulit terealisasi untuk terus hidup, akibatnya penuaan sel tidak dapat dihindari lagi sehingga
terjadi penuaan .
3. Teori kontrol.
Teori penuaan kontrol menjelaskan bahwa, penuaan merupakan suatu proses system yang
spesifik untuk mengatur fungsi-fungsi fisiologis pada tubuh individu. Kemerosotan umur
sering dihubungkan dengan menurunnya fungsi system imun tubuh, lansia tidak hanya
mengalami aktivitas pada sel-T, tetapi juga mengakibatkan sel imun rentan akan serangan
penyakit. Major Histocompatibility Complex(MHC) merupakan serangkaian komplek gen
yang menjaga rantai fungsional antara sel,gen dan kontrol fungsi fisiologis. MHC tidak hanya
menjaga kefungsionalan sel imun, tetapi juga mengatur fungsi oksidatif, selain itu juga
menjaga sel dari kerusakan akibat radikal bebas. Pada lansia kontrol system imun lebih
banyak terjadi pada MHC, selain system imun, neuroendokrin dan system saraf pusat juga
menjadi pengatur dari perubahan penurunan fungsi pada lansia.
2.6.2 Teori Psikososial

15

Adapun mengenai kelompok teori psikososial, berturut-turut dikemukakan beberapa di


antaranya adalah sebagai berikut.
1.

Disengagement theory
Kelompok teori ini dimulai dare University of Chicago, yaitu Disengagement Theory, yang
menyatakan bahwa individu dan masyarakat mengalami disengagement dalam suatu mutual
withdrawl (menarik diri). Memasuki usia tua, individu mulai menarik diri dari masyarakat,
sehingga memungkinkan individu untuk menyimpan lebih banyak aktivitas-aktivitas yang
berfokus pada dirinya dalam memenuhi kestabilan pada stadium ini.

2.

Teori aktivitas
Menekankan pentingnya peran serta dalam kegiatan masyarakat bagi kehidupan seorang
lansia. Dasar teori ini adalah bahwa konsep diri seseorang bergantung pada aktivitasnya
dalam berbagai peran. Apabila hal ini lulang, maka akan berakihat negatif terhadap kepuasan
hidupnya. Ditekankan pula bahwa mutu dan jenis interaksi lebih menentukan daripada jumlah
interaksi. Hasil studi serupa ternyata menggambarkan pula bahwa aktivitas informal lebih
berpengaruh daripada aktivitas formal. Kerja yang menyibukkan tidaklah meningkatkan self
esteem seseorang, tetapi interaksi yang bermakna dengan orang lainlah yang lebih
meningkatkan self esteem.

3.

Teori kontinuitas
Berbeda dan kedua teori sebelumnya, di sini ditekankan pentingnya hubungan antara
kepribadian dengan kesuksesan hidup lansia. Menurut teori ini, ciri-ciri kepribadian individu
berikut strategi kopingnya telah terbentuk lama sebelum seseorang memasuki usia lanjut.
Namun, gambaran kepribadian itu juga bersifat dinamis dan berkembang secara kontinu.
Dengan menerapkan teori ini, cara terbaik untuk meramal bagaimana seseorang dapat
berhasil menyesuaikan diri adalah dengan mengetahui bagaimana orang itu melakukan
penyesuaian terhadap perubahan-perubahan selama hidupnya.

4.

Teori subkultur
Pada teori subkultur (Rose, 1962) dikatakan bahwa lansia sebagai kelompok yang memiliki
norma, harapan, rasa percaya, dan adat kehiasaan tersendiri, sehingga dapat digolongkan
selaku suatu subkultur. Akan tetapi, mereka ini kurang terintegrasi pada masyarakat luas dan
lebih banyak berinteraksi antar sesama mereka sendiri. Di kalangan lansia, status lebih
16

ditekankan pada bagaimana tingkat kesehatan dan kemampuan mobilitasnya, bukan pada
hasil pekerjaan/pendidikan/ekonomi yang pernah dicapainya.
5.

Teori stratifikasi usia


Teori ini yang dikemukakan oleh Riley (1972) yang menerangkan adanya saling
ketergantungan antara usia dengan struktur sosial yang dapat dijelaskan sebagai berikut. (a)
Orang-orang tumbuh dewasa bersama masyarakat dalam bentuk kohor dalam artian sosial,
biologis, dan psikologis. (b) Kohor baru terus muncul dan masing-masing kohor memiliki
pengalaman dan selera tersendiri. (c) Suatu masyarakat dapat dibagi ke dalam beberapa strata
sesuai dengan lapisan usia dan peran. (d) Masyarakat sendiri senantiasa berubah, begitu pula
individu dan perannya dalam masing-masing strata. (e) Terdapat saling keterkaitan antara
penuaan individu dengan perubahan sosial. Kesimpulannya adalah, lansia dan mayoritas
masyarakat senantiasa saling memengaruhi dan selalu terjadi perubahan kohor inaupun
perubahan dalam masyarakat.

6.

Teori penyesuaian individu dengan lingkungan


Teori ini dikemukakan oleh Lawton (1982). Menurut teori ini, bahwa ada hubungan antara
kompetensi individu dengan lingkungannya. Kompetensi di sini berupa segenap proses yang
merupakan ciri fungsional individu, antara lain: kekuatan ego, keterampilan inotorik,
kesehatan biologik, kapasitas kognitif, dan fungsi sensorik. Adapun lingkungan yang
dimaksud mengenai potensinya untuk menimbulkan respons perilaku dari seseorang. Bahwa
untuk tingkat kompetensi seseorang terdapat suatu tingkatan suasana/ tekanan lingkungan
tertentu yang menguntungkan baginya. Orang yang berfungsi pada level kompetensi yang
rendah hanya mampu bertahan pada level tekanan lingkungan yang rendah pula, dan
sebaliknya.

17

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1.

Biologi molekular bisa didefinisikan sebagai studi biologi pada tingkat molekul, Tujuan
akhir studi biologi molekular adalah memahami dasar-dasar molekular yang menentukan sifat
dan fenomena.

2.

Radikal bebas adalah sekelompok bahan kimia baik berupa atom maupun molekul yang
memiliki elektron tidak berpasangan pada lapisan luarnya.

3.

Produksi radikal bebas dalam sel dapat terjadi secara rutin maupun sebagai reaksi terhadap
rangsangan.

4.

Radikal bebas terpenting dalam tubuh adalah radikal derivat dari oksigen yang disebut
kelompok oksigen reaktif (reactive oxygen species/ROS),

5.

Kerusakan oksidatif sel disebabkan oleh Reaktif Oksigen Spesies (ROS). Radikal bebas
yang dihasilkan selama proses metabolisme memberikan kontribusi dalam proses penuaan.

6.

Kerusakan DNA yang diinduksi secara langsung seperti double strand breaks kemungkinan
tidak secara langsung sebagai penyebab ketidakstabilan genom

7. Teori-teori penuaan yaitu teori biologis dan teori psikososial.

3.2 Saran
Pemahaman tentang biologi molekuler dan proses menua perlu dimiliki oleh para
klinisi, sebab reaksi-reaksi kimia yang menimbulkan kerusakan pada tingkat seluler maupun
mekanisme pertahanan tubuh untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat menjelaskan
terjadinya fenomena-fenomena klinis sehingga dapat membantu perawat dalam melakukan
asuhan keperawatan.

18

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.

http://www.144-teori-penuaan-.htm
http://www.batasan-biologi-molekular-20101008818.html
http://www.teoriPenuaan-Venomous Story's.html
http://fkunhas/teori-teori-tentang-penuaan-20100731460.html
http://translate.googleusercontent.com/translate_c?hl=id&langpair=en
%7Cid&u=http://medicine.jrank.org/pages/1170/Molecular-Biology-

19