Anda di halaman 1dari 64

EFEK PEMBERIAN KURKUMIN TERHADAP PENINGKATAN

PEMBENTUKAN KOLAGEN PADA SOKET GIGI


TIKUS WISTAR PASCA PENCABUTAN

SKRIPSI

Oleh
Shelvina Ayu Damayanti
NIM 091610101059

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2013

EFEK PEMBERIAN KURKUMIN TERHADAP PENINGKATAN


PEMBENTUKAN KOLAGEN PADA SOKET GIGI
TIKUS WISTAR PASCA PENCABUTAN

SKRIPSI

diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat
untuk menyelesaikan Program Studi Kedokteran Gigi (S1)
dan mencapai gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Oleh
Shelvina Ayu Damayanti
NIM 091610101059

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2013

PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan untuk :


1. Allah SWT, atas ridho dan amanah-Nya sehingga mendapat kesempatan
untuk belajar semua ilmu yang luar biasa ini. Semoga barokah atas semua
yang saya kerjakan selama ini.
2. Rasulullah Muhammad SAW, yang telah membawa pencerahan sehingga saya
dapat sampai pada saat ini.
3. Kepada orang tuaku tercinta, Ayahanda Jarwanto dan Ibunda Sismiati atas
semua doa yang selalu menyertai di setiap waktunya, serta telah mendidik
saya menjadi manusia yang lebih bermanfaat.
4. Guru-guruku tercinta, yang telah mendidik saya untuk menjadi manusia yang
berilmu mulai dari taman kanak-kanak sampai di perguruan tinggi.
5. Almamater Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember atas seluruh
kesempatan menimba ilmu yang berharga ini.

ii

MOTTO
If A equals success, then the formula is: A=X+Y+Z.
X is work. Y is play. Z is keep your mouth shut.
(Albert Einstein)
Aku tidak mengetahui kebenaran mutlak.
Tetapi aku menyadari kebodohanku itu,
dan disitulah terletak kehormatan dan pahalaku.
(Khalil Gibran)

iii

PERNYATAAN

Saya yang bertandatangan di bawah ini:


Nama : Shelvina Ayu Damayanti
NIM

: 091610101059

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya tulis ilmiah yang berjudul Efek
Pemberian Kurkumin terhadap Peningkatan Pembentukan Kolagen pada Soket Gigi
Tikus Wistar Pasca Pencabutan adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali
kutipan yang sudah saya sebutkan sumbernya, belum pernah diajukan pada institusi
manapun, dan bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan
kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya, tanpa adanya tekanan
dan paksaan dari pihak mana pun serta bersedia mendapat sanksi akademik jika
ternyata di kemudian hari pernyataan ini tidak benar.

Jember,
Yang menyatakan,

Shelvina Ayu Damayanti


NIM 091610101059

iv

SKRIPSI

EFEK PEMBERIAN KURKUMIN TERHADAP PENINGKATAN


PEMBENTUKAN KOLAGEN PADA SOKET GIGI
TIKUS WISTAR PASCA PENCABUTAN

Oleh:
Shelvina Ayu Damayanti
NIM 091610101059

Pembimbing
Dosen Pembimbing Utama

: drg. Budi Yuwono, M. Kes

Dosen Pembimbing Pendamping : drg. Dwi Merry Christmarini R, M.Kes

PENGESAHAN

Skripsi berjudul Efek Pemberian Kurkumin terhadap Peningkatan Pembentukan


Kolagen pada Soket Gigi Tikus Wistar Pasca Pencabutan, telah diuji dan disahkan
pada:
hari, tanggal

: Selasa, 29 Januari 2013

tempat

: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember

Dosen Penguji Ketua

Dosen Penguji Anggota

Prof. drg. Mei Syafriadi, MD.Sc, Ph.D

drg. Hengky Bowo A, MD.Sc

NIP 196805291994031003

NIP 197905052005012003

Dosen Pembimbing Utama

Dosen Pembimbing Pendamping

drg. Budi Yuwono, M. Kes

drg. Dwi Merry Ch Robin, M.Kes

NIP 196709141999031002

NIP 197712232008122002

Mengesahkan
Dekan Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Jember,

drg. Hj. Herniyati, M.Kes


NIP 195909061985032001

vi

RINGKASAN
Efek Pemberian Kurkumin terhadap Peningkatan Pembentukan Kolagen pada
Soket Gigi Tikus Wistar Pasca Pencabutan; Shelvina Ayu Damayanti,
091610101059; 2013: 42 halaman; Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember.

Salah satu tindakan yang dilakukan di bidang kedokteran gigi adalah


pencabutan yaitu merupakan tindakan yang dapat menimbulkan luka di soket gigi.
Respon dasar terhadap adanya kerusakan jaringan adalah peradangan yang kemudian
dilanjutkan dengan proses penyembuhan untuk mengganti bagian yang mengalami
kerusakan. Proses penyembuhan dimulai melalui migrasi dan proliferasi fibroblas dan
sel endotel. Selanjutnya muncul jaringan yang mencirikan terjadinya penyembuhan,
yang disebut jaringan granulasi yang secara histologis dapat dilihat proliferasi
fibroblas dan kapiler baru yang halus dalam matrik ekstraseluler yang longgar.
Fibroblas akan memulai mensintesa serabut kolagen (jaringan ikat), dan kemudian
terjadi regenerasi jaringan epitel seiring berjalannya waktu.
Beberapa tanaman herbal telah terbukti dapat mempercepat proses
penyembuhan luka, salah satunya adalah rimpang kunyit. Kurkumin merupakan
bagian terbesar pigmen kuning yang terdapat dalam rimpang kunyit. Sudah banyak
penelitian dilakukan terhadap kurkumin yang ternyata mempunyai aktivitas biologis
cukup luas. Pemberian kurkumin dapat mempercepat proliferasi sel dan sintesis
kolagen pada luka. Oleh karena itu peneliti ingin mengetahui efek pemberian
kurkumin terhadap kepadatan serabut kolagen pada soket gigi tikus Wistar pasca
pencabutan.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental pada tikus wistar
menggunakan the post test only control group design yang dilaksanakan di
Laboratorium Biomedik FKG Universitas Jember. Sampel yang digunakan sebanyak
20 ekor tikus dibagi dalam dua kelompok yaitu kontrol (K) dan perlakuan (P). Pada

vii

hari pertama, dilakukan pencabutan gigi molar satu bawah kiri tikus. Selanjutnya
pemberian 0,5 ml larutan saline (placebo) untuk kelompok K dan kurkumin 9
mg/0,5ml saline untuk kelompok P, satu kali sehari secara intra gastrik menggunakan
sonde lambung. Setelah 7 dan 14 hari pasca pencabutan masing-masing kelompok
dikorbankan sebanyak 5 ekor tikus. Selanjutnya pembuatan preparat jaringan soket
gigi tikus, kemudian ditentukan ada tidaknya peningkatan pembentukan serabut
kolagen serta nilai peningkatan pembentukan serabut kolagen dengan cara
membandingkan gambaran serabut kolagen antara kelompok kontrol dan kelompok
perlakuan.
Hasil penelitian ini menunjukan pemberian kurkumin secara intraoral pasca
pencabutan gigi tikus dapat meningkatkan pembentukan jaringan granulasi yang
diikuti dengan meningkatnya proliferasi fibroblas dan deposisi serabut kolagen baik
pada hari ke-7 maupun ke-14 dibandingkan kelompok tanpa pemberian kurkumin,
Akan tetapi, pemberian kurkumin selama 14 hari pasca pencabutan gigi tidak
menunjukan adanya peningkatan pembentukan serabut kolagen dibandingkan
pemberian kurkumin selama 7 hari pasca pencabutan.
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah terdapat
peningkatan pembentukan kolagen pada soket gigi tikus Wistar setelah pemberian
kurkumin pasca pencabutan gigi tetapi tidak terdapat peningkatan pembentukan
kolagen pada soket gigi tikus Wistar berdasarkan variasi lama waktu pemberian
kurkumin pasca pencabutan

viii

PRAKATA
Puji Syukur diucapkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sampai dengan selesai. Skripsi
ini berjudul Efek Pemberian Kurkumin terhadap Peningkatan Pembentukan Kolagen
pada Soket Gigi Tikus Wistar Pasca Pencabutan. Skripsi ini disusun untuk
memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Jember.
Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan banyak pihak. Oleh karena itu,
penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. drg. Hj. Herniyati, M.Kes., selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Jember atas segala fasilitas dan kesempatan yang diberikan selama menempuh
pendidikan kedokteran gigi di Universitas Jember;
2. drg. Budi Yuwono, M.Kes, selaku Dosen Pembimbing Utama dan drg. Dwi
Merry Christmarini Robin, M.Kes, selaku Dosen Pembimbing Pendamping yang
telah meluangkan waktu, pikiran, tenaga, dan perhatiannya dalam penulisan tugas
akhir ini;
3. Prof. drg. Mei Syafriadi, MD.Sc, PhD sebagai Dosen Penguji Ketua dan drg.
Hengky Bowo A, MD.Sc, sebagai Dosen Penguji Pendamping yang banyak
memberikan kritik, saran, dan masukan yang membangun dan menyempurnakan
penulisan skripsi ini.
4. Ayahanda Jarwanto dan Ibunda Sismiati tercinta atas dukungan moril, materi,
doa, dan semua curahan kasih sayang yang tak akan pernah putus;
5. Kakakku Vinda Ayu Prastica serta adikku Verina Ayu Anggara yang selalu
menghibur dan memberiku motivasi untuk menyelesaikan tugas akhir ini;
6. Masku M.Widiatmocho, atas motivasi, semangat, bantuan dan dukungannya
dalam penyelesaian skripsi ini;

ix

7. Seluruh teman-teman angkatan 2009 yang telah berjuang bersama-sama demi


sebuah gelar Sarjana Kedokteran Gigi terutama Ema, Kiki, Rischa, Sintha, Ina,
Yunda, Eva, Ines, dan Sandya
8. Anak-anak Kos (K-25 Mastrip dan BB II/22) yang selalu menceriakan hari-hariku
disaat suntuk dalam mengerjakan skripsi ini;
9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis juga menerima segala kritik dan saran yang membangun dari semua
pihak demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap, semoga skripsi ini
dapat bermanfaat.

Jember, 29 Januari 2013

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ......................................................................................

HALAMAN PERSEMBAHAN ....................................................................

ii

HALAMAN MOTTO ....................................................................................

iii

HALAMAN PERNYATAAN ........................................................................

iv

HALAMAN PEMBIMBINGAN ...................................................................

HALAMAN PENGESAHAN.................................................................. ......

vi

RINGKASAN .................................................................................................

vii

PRAKATA ......................................................................................................

ix

DAFTAR ISI ...................................................................................................

xi

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................

xiv

DAFTAR LAMPIRAN............................................................................ ......

xv

BAB 1. PENDAHULUAN .............................................................................

1.1 Latar Belakang ...............................................................................

1.2 Rumusan Masalah ..........................................................................

1.3 Tujuan Penelitian ...........................................................................

1.4 Manfaat Penelitian.............................................................................

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................

2.1 Pencabutan Gigi ..............................................................................

2.2 Reaksi Radang ................................................................................

2.3 Penyembuhan Luka ........................................................................

2.3.1 Penyembuhan Luka pada Jaringan Lunak ................................

2.3.2 Penyembuhan Luka pada Jaringan Keras .................................

2.4 Kolagen ............................................................................................

12

2.4.1 Pengertian Kolagen ...................................................................

12

2.4.2 Struktur dan Macam Kolagen ...................................................

12

xi

2.4.3 Kolagen dalam Penyembuhan Luka .........................................

14

2.5 Kurkumin ........................................................................................

16

2.5.1 Deskripi Kurkumin ...................................................................

16

2.5.2 Manfaat Kurkumin ....................................................................

16

2.5.3 Kurkumin terhadap Proses Penyembuhan Luka .......................

17

2.5.4 Kurkumin terhadap Serabut Kolagen........................................

17

2.6 Kerangka Konseptual Penelitian ..................................................

18

2.5 Hipotesis ..........................................................................................

19

BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN ......................................................

20

3.1 Jenis Penelitian................................................................................

20

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian .......................................................

20

3.2.1 Tempat Penelitian .....................................................................

20

3.2.1 Waktu Penelitian .......................................................................

20

3.3 Variabel penelitian .........................................................................

20

3.3.1 Variabel Bebas ..........................................................................

20

3.3.2 Variabel Terikat ........................................................................

20

3.3.3 Variabel Terkendali ..................................................................

21

3.4 Definisi Operasional Penelitian .....................................................

21

3.5 Sampel Penelitian ...........................................................................

21

3.5.1 Sampel Penelitian......................................................................

21

3.5.2 Besar Sampel ............................................................................

22

3.5.3 Kriteria Sampel .........................................................................

22

3.6 Konversi Penghitungan Dosis ........................................................

22

3.7 Alat dan Bahan ...............................................................................

23

3.7.1 Alat ............................................................................................

23

3.7.2 Bahan ........................................................................................

24

3.8 Prosedur Kerja................................................................................

25

3.8.1 Persiapan Hewan Coba .............................................................

25

3.8.2 Persiapan Kurkumin..................................................................

25

xii

3.8.3 Pengelompokan dan Perlakuan Hewan Coba ...........................

25

3.8.4 Tahap Pencabutan Gigi Tikus ...................................................

26

3.8.5 Tahap Pembuatan Preparat jaringan .........................................

26

3.8.6 Tahap Pengecatan Trichrome Mallory......................................

29

3.8.7 Penghitungan Peningkatan Pembentukan Serabut Kolagen .....

29

3.9 Alur Penelitian ................................................................................

31

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN .........................................................

32

4.1 Hasil Penelitian ...............................................................................

32

4.2 Pembahasan ....................................................................................

35

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN...........................................................

38

5.1 Kesimpulan......................................................................................

38

5.2 Saran ................................................................................................

38

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

39

LAMPIRAN ....................................................................................................

43

xiii

DAFTAR GAMBAR

Halaman
2.1 Peran TGF terhadap proses penyembuhan luka ......................................

2.2 Kolagen dengan pewarnaan Trichrome Mallory........................................

13

2.3 Kolagen dalam penyembuhan luka ............................................................

15

2.4 Struktur kimia kurkuminoid .......................................................................

16

3.1 Serabut kolagen berdasarkan kriteria .........................................................

30

4.1 Kepadatan Serabut kolagen (perbesaran 400x) ..........................................

33

A.1 Kelompok kontrol hari ke-7 .................................................................

33

A.2 Kelompok perlakuan hari ke-7 .............................................................

33

A.3 Kelompok kontrol hari ke-14 ...............................................................

33

A.4 Kelompok perlakuan hari ke-14 ...........................................................

33

4.2 Kepadatan Serabut kolagen (perbesaran 400x) ..........................................

34

B.1 Kelompok kontrol hari ke-7 .................................................................

34

B.2 Kelompok perlakuan hari ke-7 .............................................................

34

B.3 Kelompok kontrol hari ke-14 ...............................................................

34

B.4 Kelompok perlakuan hari ke-14 ...........................................................

34

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
A. Penghitungan Besar Sampel .......................................................................

43

B. Nilai Peningkatan Pembentukan Serabut Kolagen .....................................

44

C. Alat dan Bahan yang Digunakan dalam Penelitian ....................................

45

xv

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu tindakan yang dilakukan di bidang kedokteran gigi adalah
pencabutan yaitu merupakan tindakan yang dapat menimbulkan luka di soket gigi.
(Howe,1995:1). Respon dasar terhadap adanya kerusakan atau kehilangan jaringan
adalah dengan mengganti bagian yang hilang atau mengalami kerusakan yang disebut
peradangan, yaitu suatu proses yang melibatkan rangkaian aktifitas enzim, pelepasan
mediator, ekstravasasi cairan, dan perbaikan jaringan (Vane dan Botting dalam
Orbaniyah et al, 2003). Respon tersebut selanjutnya diteruskan ke proses
penyembuhan luka.
Penyembuhan luka merupakan suatu proses perbaikan jaringan yaitu
penggantian sel mati oleh sel hidup atau jaringan fibrosa (Lawler et al, 1992:15).
Proses penyembuhan luka didahului dengan respon radang, kemudian pemulihan
jaringan yang dimulai melalui migrasi dan proliferasi fibroblas dan sel endotel.
Selanjutnya muncul jaringan yang mencirikan terjadinya penyembuhan, yang disebut
jaringan granulasi yang secara histologis dapat dilihat proliferasi fibroblas dan kapiler
baru yang halus dalam matriks ekstraseluler yang longgar (Robbin et al., 2007:76).
Fibroblas akan memulai mensintesis serabut kolagen (jaringan ikat), dan kemudian
terjadi regenerasi jaringan epitel sesuai perjalanan waktu (Mulawarmanti, 2005).
Serabut kolagen adalah serabut yang paling banyak dijumpai dalam jaringan
penyambung. Serabut kolagen dapat ditemukan pada jaringan ikat yang berkembang
atau dalam pemulihan. Menurut Randolph et al. (dalam Mawardi 2002), keberadaan
serabut kolagen ini diperlukan pada keadaan-keadaan penyembuhan luka,
pembentukan jaringan parut, dan pembentukan matriks tulang. Peranan serabut
kolagen berhubungan dengan memberikan kemampuan pada jaringan melakukan
perbaikan serta pembentukan jaringan baru pada proses penyembuhan.

Beberapa tanaman telah terbukti dapat mempercepat proses penyembuhan


luka, antara lain propolis, mahkota dewa, binahong, dan tanaman rimpangrimpangan. Kurkumin merupakan pigmen kuning yang terdapat dalam tanaman
rimpang-rimpangan. Kandungan kurkumin terbesar dapat diperoleh dari rimpang
kunyit dan temulawak. Sudah banyak penelitian dilakukan terhadap kurkumin yang
ternyata mempunyai aktivitas biologis cukup luas. Kandungan kurkumin inilah yang
menyebabkan tanaman rimpang seperti kunyit maupun temulawak digunakan sebagai
obat-obatan (Rukmana, 2001:16).
Penelitian Sidhu et al. (1998) menunjukkan pemberian kurkumin dapat
mempercepat proses penyembuhan luka pada hewan. Penutupan luka pada hewan
yang diberi kurkumin lebih cepat dibandingkan dengan kelompok kontrol atau tidak
diberi kurkumin. Biopsi luka menunjukkan peningkatan migrasi makrofag, migrasi
dan proliferasi fibroblas dan sintesis kolagen di jaringan yang mengalami luka. Luka
kulit

yang

dirawat

dengan

kurkumin

juga

menunjukkan

peningkatan

reepithelialization, kontraksi luka dan kekuatan tarik pada luka (Suguna et al., 2006).
Kurkumin juga merupakan antioksidan yang dapat melindungi sel-sel dari efek
berbahaya radikal bebas. Hal yang paling menarik dari kurkumin adalah kurangnya
efek samping pada organ pencernaan (Kohli et al., 2004).
Pada proses penyembuhan luka pasca pencabutan, pembentukan kolagen
sangat penting untuk mendukung kekuatan jaringan pada tempat terjadinya luka.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti ingin mengetahui bagaimana pengaruh
pemberian kurkumin terhadap pembentukan serabut kolagen pada soket gigi tikus
Wistar pasca pencabutan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah terdapat peningkatan pembentukan kolagen pada soket gigi tikus
Wistar setelah pemberian kurkumin pasca pencabutan?
2. Apakah terdapat peningkatan pembentukan kolagen pada soket gigi tikus
Wistar pasca pencabutan berdasarkan variasi lama pemberian kurkumin?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan pembentukan kolagen pada
soket gigi tikus Wistar setelah pemberian kurkumin pasca pencabutan
2. Untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan pembentukan kolagen pada
soket gigi tikus Wistar berdasarkan variasi lama pemberian kurkumin pasca
pencabutan

1.4 Manfaat Penelitian


1. Peneliti

dapat

memahami

manfaat

pemberian

kurkumin

terhadap

pembentukan serabut kolagen pada soket gigi tikus Wistar pasca pencabutan
2. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang manfaat penggunaan
kurkumin pada masa penyembuhan luka pasca pencabutan gigi
3. Mendukung pengembangan obat tradisional sebagai alternatif pengobatan
luka dalam upaya peningkatan kesehatan gigi dan mulut dan sebagai bahan
acuan untuk penelitian lebih lanjut

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pencabutan Gigi


Pencabutan gigi merupakan tindakan yang dapat menimbulkan luka di soket
gigi. Pencabutan yang ideal adalah pencabutan tanpa rasa sakit yang meminimalisir
trauma sehingga proses penyembuhan bekas pencabutan berjalan sempurna
(Howe,1995:1). Tindakan pencabutan gigi mempengaruhi besarnya trauma pada
jaringan sehingga dapat menghambat proses penyembuhan jaringan (Ardhiyanto,
2007).
Pencabutan gigi pada dasarnya hanya terdapat dua metode yaitu pencabutan
menggunakan tang atau elevator (bein) atau keduanya (forceps extraction) dan
pembedahan (surgical method). Metode pertama, yaitu dengan menekan instrumen
masuk ke dalam membran periodontal antara akar dan soket. Metode ini cukup
memadai dan sering digunakan pada sebagian besar kasus pencabutan gigi atau akar
gigi. Sedangkan metode kedua yaitu dengan pembelahan gigi atau akar gigi dari
perlekatan tulangnya. Pemisahan ini dilakukan dengan cara membuang sebagian
tulang yang melekat atau menutupi akar gigi, selanjutnya pengambilan gigi
menggunakan tang atau elevator (Howe, 1995:2).

2.2 Keradangan (Inflamasi)


Keradangan adalah reaksi tubuh terhadap invasi agen infeksi, antigen lain atau
kerusakan jaringan (Wahab,2002:3). Lawler et al. (1992:9) menambahkan respon ini
merupakan mekanisme pertahanan alam paling penting dan sungguh-sungguh yang
merupakan respon tubuh terhadap luka pada jaringan. Keradangan pada umumnya
dibagi dalam dua fase yaitu radang akut dan radang kronis.

a. Radang akut
Merupakan respon awal dari luka jaringan yang biasanya mendahului
perkembangan respon imun. Radang ini terjadi dalam beberapa jam atau hari dan
menunjukan

awal

usaha

tubuh

untuk

menghancurkan

agen

penyebab

(Katzung,1997:558). Menurut Lawler et al. (1992:10), tanda-tanda utama dari proses


ini meliputi tumor (pembengkakan), rubor (kemerahan), kalor (panas setempat
berlebihan) dan dolor (rasa sakit). Selain itu dapat juga terjadi functiolaesa
(hilangnya fungsi).
b. Radang kronis
Merupakan usaha tubuh untuk melokalisasi agen penyebab dan memperbaiki
kerusakan yang terjadi. Proses ini dapat berlangsung sampai berminggu-minggu,
bulan atau bahkan bertahun-tahun. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah
terjadinya fibrosis yang berlebihan, sehingga dapat menyebabkan perubahan bentuk
(deformitas) atau imobilisasi jaringan dan organ (Lawler et al., 1992:9-12).
Patogenesis keradangan dimulai oleh adanya sel yang rusak, kemudian terjadi
aktifitas enzim fosfolipase A2 yang bertanggung jawab pada pembentukan asam
arakhidonat, yang merupakan prekusor dari beberapa mediator inflamasi. Asam
arakhidonat yang terbentuk selanjutnya diubah menjadi senyawa mediator melalui
dua jalur utama yaitu jalur lipooksigenase dan jalur siklooksigenase. Siklooksigenase
merupakan enzim terikat membran yang telah ditemukan dalam retikulum
endoplasmik dan membran inti. Hasil dari jalur siklooksigenase adalah suatu
prostaglandin endoperoksida (PGG2) dan tromboksan, sedangkan LT (leukotrin) dan
HPETE (asam hidroperoksieikosatetraenoat) dihasilkan melalui jalur lipooksigenase
(Katzung, 1997:306).
Prostaglandin adalah mediator kuat berbagai proses fisiologis. Prostaglandin
merupakan kelompok asam-asam lemak hidroksi rantai panjang yang mampu
mengendalikan inflamasi. Prostaglandin mempunyai banyak efek terhadap pembuluh
darah,

ujung

saraf,

dan

juga

sel

yang

terlibat

dalam

proses

radang

(Dorland,2002:1783). Menurut Katzung (1997:312-313), salah satu aktivitasnya

adalah memudahkan vasodilatasi dengan mengaktifkan adenilil siklase, sehingga


memungkinkan molekul-molekul besar seperti antibodi, komplemen, dan sistem
enzim plasma lain melewati endotel untuk mencapai lokasi peradangan (Wahab,
2002:3).

2.3 Penyembuhan Luka


Penyembuhan adalah proses penggantian sel mati oleh sel hidup atau jaringan
fibrosa, dan terjadi melalui regenerasi atau organisasi. Hasil akhir penyembuhan
tergantung dari keseimbangan lokal diantara kedua faktor tersebut (Lawler et al.,
1992:15). Penyembuhan luka pada jaringan merupakan kelanjutan dari reaksi
keradangan dikarenakan kejadianya tidak dapat dipisahkan dari reaksi pembuluh
darah yang mendahuluinya maupun reaksi seluler sebagai respon jaringan tubuh
terhadap suatu trauma. Luka dapat terjadi pada jaringan lunak maupun jaringan keras.
Pada proses penyembuhan jaringan tergantung pada berat luka, kedalaman luka,
kesehatan

umum

secara

menyeluruh

dan

status

nutrisi

dari

individu

(Mulawarmanti,2005).

2.3.1 Penyembuhan Luka pada Jaringan Lunak


Penyembuhan luka yang dimaksud merupakan proses perbaikan jaringan
akibat adanya rangsangan pada mukosa atau jaringan lunak. Penyembuhan luka
terjadi melalui pemulihan kembali jaringan ikat dan pembentukan fibrosis. Pada
dasarnya proses penyembuhan luka pada jaringan lunak dapat dibagi menjadi tiga
fase

dasar,

yaitu

fase

inflamasi,

fase

fibroplastik

dan

fase

remodeling

(Peterson,1998:58).
a. Fase Inflamasi
Fase ini dimulai dari pertama kalinya terjadi trauma atau perlukaan. Bekuan
darah membangun kembali hemostasis dan menyediakan matriks ekstraseluler
sementara untuk migrasi sel. Trombosit tidak hanya memfasilitasi proses pembekuan

tetapi juga mengeluarkan beberapa mediator penyembuhan luka seperti faktor


pertumbuhan trombosit yang dapat menarik dan mengaktifkan makrofag. infiltrasi
neutrofil membersihkan area luka dari partikel asing dan bakteri dan kemudian
difagositosis oleh makrofag (Leibovich dalam Singer dan Clark, 1999). Makrofag
merupakan unsur sel yang penting pada jaringan granulasi dan selain membersihkan
debris ekstrasel dan fibrin pada tempat yang mengalami luka, makrofag juga berperan
dalam menginduksi proliferasi fibroblas dan produksi matriks ekstraseluler (Robbins
et al., 2007:77)
b. Fase Fibroplastik
Untaian benang fibrin yang berasal dari koagulasi darah yang saling-silang
pada luka membentuk anyaman dimana fibroblas akan menyusun substansi dasar dan
tropokolagen. Fibroblas berubah lokalis dan mulai memproduksi tropokolagen pada
hari ke 3 atau ke 4 setelah perlukaan (Peterson, 1998:58). Fibroblas menyimpan
tropokolagen yang nantinya digunakan untuk produksi kolagen. Keberadaan serabut
kolagen yang cukup diperlukan dalam penyembuhan luka. Banyak faktor
pertumbuhan yang mengatur proliferasi fibroblas juga berperan serta dalam sintesis
kolagen. Pembentukan kolagen diinduksi oleh sejumlah molekul meliputi faktor
pertumbuhan seperti Platelet Derived Growth factor (PDGF) maupun Transforming
Growth Factor 1 (TGF -1) (Robbins et al., 2007:78).
Proses produksi kolagen dimulai pada minggu pertama dan meningkat drastis
pada minggu ke-2 sampai ke-3. Proses produksi ini banyak bergantung pada
vaskularisasi di daerah luka. Terbentuknya serabut kolagen yang matang, akan
menyebabkan kekuatan luka menahan regangan meningkat (Lawler et al., 1992).
Secara klinis luka pada akhir tahap fibroplastik akan kaku karena jumlah kolagen
yang berlebih, dan erythematosus karena tingkat vaskularisasi yang tinggi dan
mampu menahan tekanan 70-80% kekuatan jaringan tanpa perlukaan atau jaringan
normal (Peterson, 1998:59-60).

Gambar 2.1. Peran TGF terhadap proses penyembuhan luka


(Sumber: Singer dan Clark, 2007)

c. Fase Remodeling
Tahap akhir penyembuhan luka adalah tahap remodeling atau wound
maturation. Selama tahap ini sebagian besar serabut kolagen yag terbentuk akan
dihancurkan dan diganti dengan serabut kolagen yang baru yang lebih baik dan cukup
kuat terhadap tekanan yang mengenai luka yaitu 40-70% dari kekuatan jaringan
normal. Proses ini dapat dicapai dalam waktu 4 minggu (Miller dan MacKay, 2003).
Untuk efisiensi maka kelebihan kolagen akan dibuang sehingga menjadi jaringan
parut. Setelah itu metabolisme jaringan akan berkurang sehingga terjadi penurunan
vaskularisasi pada jaringan yang terluka. Selama proses penyembuhan, elastin pada
jaringan normal tidak diganti sehingga jaringan yang mengalami perlukaan akan
kehilangan

fleksibilitasnya

(Peterson,1998:60).

Proses

remodeling

penyembuhan luka akan berlanjut sampai 2 tahun (Miller dan MacKay, 2003).

pada

2.3.2

Penyembuhan Luka pada Jaringan Keras ( Luka Pasca Pencabutan Gigi)


Soket yang terjadi karena pencabutan gigi dapat dianggap sebagai bentuk

fraktur tulang (Lawler et al., 1992:17). Penyembuhan fraktur tulang adalah proses
regenerasi sel-sel tulang setelah terjadi luka atau trauma yang dipengaruhi oleh
beberapa faktor salah satunya suplai pembuluh darah dan mediator kimiawi yang
dilepaskan oleh sel-sel tulang, jaringan ikat, dan sel-sel inflamasi pada daerah yang
mengalami luka atau fraktur (Lukman,1997). Menurut Weinman dan Sicher, proses
penyembuhan tulang dibagi menjadi 6 tahap yaitu:
1. Penjendalan darah dari hematoma
Pada waktu terjadi luka, pembuluh darah dari sumsum tulang, cortex,
periosteum, otot-otot di sekitarnya dan jaringan lunak di dekatnya menjadi rusak atau
robek, sehingga terjadi hematoma yang memenuhi ujung-ujung tulang yang patah dan
meluas ke dalam sumsum tulang sampai kedalam jaringan lunak. Hematoma berisi
fragmen-fragmen dari periosteum, otot, fascia, tulang dan sumsum tulang. Fase ini
terjadi 6-8 jam sesudah trauma. Pada saat yang bersamaan tahap keradangan muncul
yang ditandai migrasi sel-sel inflamasi meliputi sel leukosit PMN sebagai fagositosis
bakteri yang dapat mengkontaminasi luka. Sel-sel nekrotik, jaringan, beserta serpihan
tulang yang mati akan dihancurkan oleh neutrofil dan osteoklas (Peterson, 1998:63,
Ardhiyanto,2007).
2. Organisasi darah dari hematoma
Terjadi pelepasan faktor pembekuan oleh trombosit sehingga terbentuklah
benang-benang fibrin yang akan membentuk hematoma pada celah di antara fragmenfragmen fraktur (Buckwalter dan Cruess dalam Lukman,1997). Tunas kapiler halus
yang baru terbentuk melakukan penetrasi ke tengah jendalan darah membentuk
neurovaskularisasi yang baru dalam waktu 24 48 jam. Proliferasi pembuluh darah
ini merupakan ciri khas dari permulaan organisasi hematoma. Kapiler-kapiler di
dalam sumsum tulang, kortex, dan periosteum akan menjadi ateri-arteri yang kecil
untuk memvaskularisasi tempat terjadinya luka. Jumlah ion Ca otomatis akan
bertambah oleh karena adanya kapiler yang banyak tersebut.

10

3. Pembentukan kallus fibrous


Proses penyembuhan terus berlangsung, jaringan granulasi yang akan
dibentuk dalam waktu 10 hari setelah terjadi luka. Jaringan granulasi ini terbentuk
oleh aktivitas fagositosis dan akan mengalami transformasi membentuk jaringan ikat
yang terdiri dari serabut-serabut kolagen. Jaringan ikat ini lebih kuat lagi
dibandingkan jaringan granulasi. Akhir dari fase ini adalah hiperemi dan ditandai
dengan pengurangan jumlah sel-sel fibroblas. Fibroblas peranannya akan lebih
penting yaitu memproduksi matriks fibrous di sekeliling ujung tulang yang rusak
yang terdiri dari serabut-serabut kolagen yang disebut kallus fibrous.
4. Pembentukan kallus primer
Kallus primer terbentuk antara 10-30 hari setelah terjadi kerusakan tulang. Sel
pembentuk tulang spesifik (osteoblas) mulai meletakan osteoid baru sebagai anyaman
tidak teratur yang kemudian mengalami mineralisasi untuk membentuk anyaman
tulang (kallus sementara) (Lawler et al.,1992:16). Kadar Ca pada kallus primer masih
sedikit, dikarenakan anyaman tulang ini akan digantikan kallus sekunder
(sebenarnya). Kallus primer dapat dibedakan berdasarkan tempat dan fungsinya,
yaitu:
a. Anchoring callus
Merupakan kallus yang terdapat pada permukaan luar tulang di dekat
periosteum, sedikit meluas dari tempat luka. Terdiri dari sel-sel jaringan ikat
fibrous yang baru dan berdiferensiasi menjadi osteoblas yang akan
membentuk tulang spongiosa
b. Sealing callus
Yaitu kallus yang terdapat pada permukaan dalam dari tulang dan akan
mengisi ruang sumsum. Kallus ini dibentuk dari proliferasi endosteal.
c. Bridging callus
Merupakan kallus yang terdapat di permukaan sebelah luar tulang, antara
anchoring callus pada dua ujung patahan. Kallus ini merupakan satu-satunya
unsur awal terbentuknya kartilago

11

d. Uniting callus
Merupakan kallus yang terdapat di antara ujung-ujung tulang dan di antara
tempat kallus primer yang telah terbentuk pada kedua ujung patahan. Kallus
ini terbentuk setelah kallus lainnya terbentuk dan pembentukannya yaitu
dengan kalsifikasi secara langsung
Resorbsi yang luas dari ujung tulang yang patah terjadi pada fase ini, tetapi
karena proses penulangan dari jaringan ikat lebih banyak pada tempat fraktur, dan
uniting callus terbentuk pada tempat resorbsi, sehingga terjadi penyambungan yang
baik pada ujung-ujung tulang yang rusak.
5. Pembentukan kallus sekunder
Kallus ini merupakan suatu tulang yang sudah mendekati sempurna sebagai
kelanjutan dari kallus primer. Kallus ini terbentuk melalui proses proliferasi sel-sel
osteoprogenitor (Hulth dalam Lukman,1997). Pada fase ini terjadi kalsifikasi tulang
yang sempurna sehingga pada rontgen foto sudah dapat dilihat gambaran radiopak
dari tulang. Kallus ini terdiri dari tulang beralur yang tahan terhadap tekanan. Proses
pembentukan kallus ini antara 20-60 hari setelah perlukaan.
6. Pembangunan fungsional dari tulang yang rusak (Remodelling)
Pembangunan dan penyempurnaan penyambungan tulang-tulang yang rusak
atau patah membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun tergantung
pada tempat kerusakan, baik secara histologis maupun anatomis. Tahap ini
merupakan tahap penyembuhan luka yang terakhir. Deposit dan pembentukan tulang
dilakukan untuk mengisi soket alveolar. Tidak sampai 4-6 bulan setelah ekstraksi,
tepi tulang kortikal soket selesai diabsorbsi. Hal tersebut dapat dilihat dari
pemeriksaan radiografi dimana hilangnya lamina dura dan secara rontgenografi sudah
dapat dibedakan gambaran tulang baru dan tulang sekitar soket pasca pencabutan.
Setelah 1 tahun, yang terlihat dari soket adalah tepi soket dengan vaskularisasi dan
jaringan parut di daerah edentulous (Peterson, 1998:63).

12

2.4 Kolagen
2.4.1 Pengertian Kolagen
Kolagen merupakan komponen terbesar yang memperkuat dan mendukung
jaringan ekstraseluler, tersusun dari asam amino dan hidroksiprolin yang berperan
sebagai unsur biokimia jaringan kolagen (Robbins et al.,2007). Kolagen adalah
sekelompok protein struktural yang dimodifikasi secara bervariasi dalam hal derajat
kekakuan, kekenyalan, dan kekuatannya, bergantung pada pengaruh lingkungan dan
kebutuhan fungsional organ yang bersangkutan. Junqueira (1997:91) menambahkan,
kolagen merupakan salah satu komponen matriks jaringan penyambung yang juga
berperan dalam pertahanan organisme sebagai sawar fisik, yaitu mencegah
penyebaran mikroorganisme yang berhasil menembus epitel. Kolagen banyak
dijumpai pada tubuh manusia 30% dari berat keringnya (Junquiera et al.,1997:96).
Kolagen didapatkan pada semua jenis jaringan ikat dan terdiri atas protein kolagen
(Leeson et al., 1989:106).

2.4.2 Struktur dan Macam Kolagen


Pada sediaan tidak dipulas, kolagen berupa benang-benang tidak berwarna
berdiameter bervariasi antara 0,5 -10 m dengan panjang tidak terbatas, walaupun
beberapa serat dapat bergabung bersama membentuk suatu berkas yang berukuran
lebih besar. Sifat serabut kolagen lurus atau sedikit bergelombang, panjangnya tidak
tentu dan bisa dalam gabungan longgar atau padat tergantung tempat dan fungsinya.
Dalam keadaan segar kolagen bersifat lunak dan mudah dibengkokan, relatif tidak
elastis dan sangat kuat (Leeson et al., 1989:107). Pada sediaan histologi, kolagen
terpulas merah muda oleh eosin, biru dengan Trichrome Mallory, dan hijau dengan
pulasan Trichrome Masson (Fawcett, 2002:120).
Asam amino utama yang membentuk kolagen adalah glisin (33,5%), prolin
(12%), dan hidroksiprolin (10%). Hidroksiprolin dan hidroksilisin adalah 2 asam
amino yang khas pada kolagen. Unit protein berpolimerisasi membentuk serabut

13

kolagen merupakan molekul panjang yang disebut tropokolagen. Panjang molekul ini
280 nm, sedangkan lebarnya 1,5 nm yang terdiri dari 3 rantai subunit polipeptida
terpilin. Perbedaan struktur kimia inilah yang menyebabkan ada berbagai tipe kolagen
(Junqueira et al., 1997:96).

Gambar 2.2. Kolagen dengan warna biru menggunakan


pewarnaan Trichrome Mallory (Perbesaran 400x).
(Sumber: http://ars.els-cdn.com/content/image/1-s.jpg)

Menurut Fawcett (2002: 122-126), telah ditetapkan ada 12 tipe kolagen yaitu:
a. Tipe I, adalah kolagen yang terdapat di dermis, tulang, dan tendo. Serabut ini
berdiameter 50-90 nm, beragregrasi membentuk serat dan berkas dengan berbagai
ukuran. Seratnya fleksibel namun tahan terhadap regangan.
b. Tipe II, terdapat dalam tulang rawan hialin dan elastik. Kolagen ini berupa
serabut sangat halus terbenam dalam banyak substansi dasar
c. Tipe III, banyak terdapat pada jaringan ikat longgar, dinding pembuluh darah,
stroma bagian kelenjar, limpa, ginjal, dan uterus. Kolagen tipe I, II, dan III
membentuk serat yang tampak dengan mikroskop disebut dengan kolagen
interstsisial.
d. Tipe IV, merupakan bentukan khusus yang terdapat pada lamina basal epitel.
Bersama laminin dan proteoglikan heparan sulfat membentuk rapat filamen halus
yang merupakan penyokong fisik dari epitel dan sawar filtrasi selektif bagi
makromolekul.

14

e. Tipe V, tersebar luas tetapi hanya dalam jumlah kecil, berhubungan dengan
lamina sel otot dan pembuluh darah.
f. Tipe VI, molekul rantai pendek yang terdiri dari segmen tripel heliks dengan
panjang 100 nm. Kolagen ini terdapat dalam jumlah kecil yang dapat ditemukan
dalam ginjal, hati dan uterus.
g. Tipe VII, berhubungan dengan lamina basal banyak epitel, namun paling banyak
pada batas dermis dan epidermis. Molekunya terbesar dari famili kolagen yaitu
mencapai panjang 800 nm.
h. Tipe VIII, ditemukan pada produk sekresi sel endotel dan kadang-kadang disebut
kolagen endotelial. Kolagen ini berhubungan erat dengan permukaan sel, tetapi
manfaatnya masih belum jelas.
i. Tipe IX, terutama terdapat dalam tulang rawan. Kolagen ini mendampingi serat
kolagen tipe II dari jaringan ikat. Kolagen ini diduga mempertahankan susunan
tiga dimensi dari serat kolagen tipe II dalam matriks yang berfungsi sebagai
pengikat pada tempat pertemuan.
j. Tipe X, kolagen ini juga terdapat pada tulang rawan dan ditemukan dalam matriks
yang terlibat dalam pembentukan tulang endokondral dan diduga mengawali
kalsifikasi matriks.
k. Tipe XI, berhubungan dengan kolagen tipe II dalam tulang rawan namun
fungsinya belum diketahui secara jelas.
l. Tipe XII, tipe ini baru saja ditemukan menyerupai kolagen tipe IX namun sedikit
yang diketahui tentang lokasi dalam jaringan dan juga fungsinya.

2.4.3 Kolagen dalam Penyembuhan Luka


Kolagen disintesis di permukaan luka dalam jaringan granulasi. Secara
khusus, sintesis kolagen sangat penting untuk pengembangan kekuatan pada tempat
penyembuhan luka. Sintesis kolagen oleh fibroblas dimulai sejak awal proses
penyembuhan luka dan berlanjut selama beberapa minggu, bergantung pada ukuran

15

luka. Banyak faktor yang mengatur proliferasi fibloblas juga berperan dalam sintesis
serabut kolagen. Sintesis kolagen diinduksi oleh sejumlah molekul, meliputi faktor
pertumbuhan (PDGF dan TGF 1) (Robbins et al., 2007:78).
Pada awal penyembuhan luka, fibroblas akan mensintesa serabut kolagen tipe
III dan tipe V yang didapatkan pada daerah jaringan ikat dan pembuluh darah, tetapi
serabut kolagen tipe ini akan digantikan oleh serabut kolagen yang lebih kuat
menahan tekanan, yaitu tipe I melalui fase remodeling (Ostrum dalam Lukman,
1997). Selama proses penyembuhan, harus terjadi keseimbangan yang baik antara
pembentukan

dan

penghancuran

kolagen

(remodeling).

Degradasi

kolagen

diperantarai oleh enzim kolagenase, yang disekresikan oleh banyak sel seperti
makrofag dan sel epitel (Fonseca, 1997:29).

Gambar 2.3. Kolagen dalam penyembuhan luka


(Sumber: http://dentosca.wordpress.com/2011/04/18)

16

2.5 Kurkumin
2.5.2 Deskripsi Kurkumin
Kurkumin adalah zat warna kuning yang terdapat pada rimpang kunyit
maupun temulawak. Kurkumin mempunyai aroma khas, tidak toksik (tidak beracun),
dan berbentuk serbuk dengan rasa sedikit pahit. Dalam suasana asam, kurkumin
berwarna kuning atau jingga dan dalam suasana basa berwarna merah (Afifah,
2003:7-9).

Gambar 2.4. Struktur kimia kurkuminoid


(Sumber: http://hadyherbs.files.wordpress.com)

2.5.3 Manfaat Kurkumin


Kurkumin mempunyai aktivitas biologi bersprektum luas diantaranya
antibakteri, antioksidan, dan antihepatotoksik (Rukmana, 1994:16). Selain itu zat
aktif ini dapat juga digunakan sebagai obat analgetik dan antiinflamasi (Syukur dan
Hernani, 2001:76). Kurkumin terbukti dapat digunakan sebagai antiinflamasi pada
mencit yang diinduksi karagen. Efek antiinflamasi ditunjukan dengan berkurangnya
volume edema kelompok yang diberi kurkumin dibandingkan kelompok tanpa

17

kurkumin. Hal tersebut membuktikan sifat kurkumin sebagai salah satu bahan aktif
yang dapat menekan reaksi radang (Yanwirasti,2007). Melalui aktifitas antiinflamasinya, kurkumin efektif untuk mengobati penyakit radang sendi, rematik, atau
atritis rematik (Afifah, 2003:10). Kemampuan kurkumin sebagai antiinflamasi yaitu
melalui penghambatan enzim siklooksigenase yang berperan dalam metabolisme
asam arakhidonat menjadi prostaglandin sehingga menekan reaksi radang (Dewhirst
dalam Orbaniyah et al., 2003).

2.5.4 Kurkumin terhadap Proses Penyembuhan Luka


Perawatan menggunakan kurkumin pada proses penyembuhan luka pada
hewan terbukti meningkatkan jumlah makrofag, neutrofil, dan fibroblas dibandingkan
hewan tanpa perawatan sehingga dapat menunjang proses reepitelisasi pada jaringan
yang mengalami luka (Sidhu et al., 1998). Penelitian lain juga menunjukan
pemberian

salep

yang mengandung kurkumin

dapat

mempercepat

proses

penyembuhan luka pada mencit yang diinduksi diabetes. Pemberian salep tersebut
terbukti dapat mengurangi proses peradangan, mempercepat pembentukan pembuluh
darah baru (neurovaskularisasi), proses reepitelisasi dan pembentukan jaringan ikat
(Winarsih et al., 2009).

2.5.5 Kurkumin terhadap Serabut Kolagen


Kurkumin merupakan agen terapeutik berspektrum yang luas yang banyak
digunakan pada proses penyembuhan luka. Kurkumin berinteraksi dengan
meningkatkan kolagen pada kulit (Dhathathreyan et al., 2009). Pewarnaan Trichrome
Masson menunjukkan deposisi kolagen yang lebih besar dalam luka yang diobati
kurkumin. Terjadi peningkatan transkrip mRNA membentuk faktor pertumbuhan
beta1 (TGF 1) dan fibronektin pada luka yang diobati kurkumin. Dikarenakan
pembentukan faktor pertumbuhan beta-1 dikenal meningkatkan penyembuhan luka,
dimungkinkan bahwa perubahan pembentukan faktor pertumbuhan beta-1 inilah yang

18

berperan penting dalam peningkatan penyembuhan luka dengan kurkumin. Hal


tersebut ditunjukan dengan semakin meningkatnya pembentukan serabut kolagen
pada proses penyembuhan luka (Sidhu et al., 1998).

2.6 Kerangka Konseptual Penelitian


Pencabutan gigi

Trauma (Kerusakan Jaringan)

Respon Tubuh

Proses penyembuhan

Fase Inflamasi
Fase Fibroplastik

Ekstrak Kurkumin

Fase Remodeling
Meningkatkan
TGF 1
Pembentukan
Serabut Kolagen +++

Keterangan:
= mengakibatkan
= pemberian

19

Salah satu tindakan bedah yang sering dijumpai di klinik kedokteran gigi
adalah ekstraksi yang dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan sekitarnya.
Kemudian tubuh akan merespon yang dinamakan peradangan, yaitu suatu proses
yang melibatkan rangkaian aktifitas enzim, pelepasan mediator, ekstravasasi cairan,
dan perbaikan jaringan. Kemudian dilanjutkan tahap penyembuhan yang cukup
kompleks karena melewati beberapa fase antara lain, fase inflamasi, fase fibroplastik,
dan fase remodeling.
Rimpang kunyit mengandung kurkumin yang mempunyai aktivitas biologi
bersprektum luas yang rendah efek samping (Rukmana, 1994). Dalam hal ini
pemberian kurkumin secara tidak langsung dapat berpengaruh terhadap proses
penyembuhan jaringan dikarenakan kurkumin dapat meningkatan pembentukan
faktor pertumbuhan beta1 (TGF 1) dan fibronektin pada luka. Kolagen merupakan
bagian utama jaringan ikat yang diperlukan pada keadaan penyembuhan luka,
pembentukan jaringan parut, serta pembentukan matriks tulang.

2.7 Hipotesis
1.

Terdapat peningkatan pembentukan kolagen pada soket gigi tikus Wistar


setelah pemberian kurkumin pasca pencabutan

2.

Terdapat peningkatan pembentukan kolagen pada soket gigi tikus Wistar


berdasarkan variasi lama pemberian kurkumin pasca pencabutan

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Penelitian ini merupakan penilitian eksperimental laboratoris. Rancangan
penelitian ini adalah

post test only control group design yaitu

melakukan

pengukuran setelah perlakuan diberikan, kemudian hasilnya dibandingkan dengan


kelompok kontrol (Notoatmodjo, 2002:167).

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


3.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Jember

3.2.2

Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2012 Desember 2012

3.3 Variabel Penelitian


3.3.1

Variabel Bebas

a. Pemberian kurkumin
b. Lama pemberian kurkumin

3.3.2

Variabel Terikat
Kepadatan serabut kolagen pada soket pasca pencabutan gigi

20

21

3.3.3

Variabel Terkendali

a. Kurkumin
b. Kriteria sampel
c. Prosedur penelitian

3.4 Definisi Operasional Penelitian


a. Kurkumin adalah ekstrak pigmen kuning yang diperoleh dari kunyit atau
temulawak. Kurkumin yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk serbuk
sudah jadi dalam kemasan yaitu Curcumin for synthesis merk Schuchardt
OHG 85662 buatan Jerman, kemudian diencerkan dengan larutan salin tiap 1
hari sekali.
b. Pencabutan gigi adalah tindakan pengambilan gigi dari soketnya. Dalam
penelitian ini dilakukan pencabutan gigi molar 1 kiri bawah tikus wistar
jantan menggunakan sonde, ekskavator dan pinset. Gigi diungkit dengan
sonde dan ekskavator setelah tikus dianastesi.
c. Kepadatan serabut kolagen adalah gambaran mikroskopik serabut kolagen
dengan warna biru yang terlihat pada sediaan yang dibuat dari soket atau
jaringan granulasi pasca pencabutan dengan pewarnaan Trichrome Mallory
perbesaran 400x.

3.5 Sampel Penelitian


3.5.1 Sampel Penelitian
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus Wistar jenis kelamin
jantan yang dipelihara di Laboratorium Biomedik FKG Universitas Jember.

22

3.5.2 Besar Sampel


Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan rumus
Daniel (2005)
n=

Z
d

Keterangan:
n

= Besar sampel minimun

= Standart deviasi sampel

= Kesalahan yang masih dapat ditoleransi, diasumsikan d=

= Konstanta pada tingkat kesalahan tertentu, jika =0.05 maka Z=1,96


Sampel minimal yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan rumus di atas

adalah 4 (Lampiran A). Untuk meminimalisir resiko kematian 20%, pada masingmasing kelompok ditambahkan 1 sampel lagi sehingga didapatkan masing-masing
kelompok berjumlah 5 sampel dan total sampel menjadi 20 ekor.

3.5.3 Kriteria sampel


Kriteria sampel dalam penilitian ini adalah:
a. Tikus putih jantan galur Wistar
b. Tikus dengan umur 2-3 bulan
c. Tikus dengan berat badan 200-250 gram
d. Tikus dalam keadaan sehat

3.6 Konversi Penghitungan Dosis


Menurut penelitian yang dilakukan Robin (2006), kurkumin dengan dosis
9mg/0,2ml salin, 2x sehari dapat memacu terjadinya regenerasi jaringan tulang rawan
yang rusak pada tikus yang terinduksi osteoatritis. Sedangkan menurut penelitian
Cheng et al. (dalam Wang et al, 2007) pemberian 50-800 mg/hari kurkumin secara
oral memberikan efek farmakokinetik terhadap pasien resiko tumor mukosa rongga

23

mulut. Tonessen dan Karisen (dalam Robin, 2006) melaporkan kurkumin dengan
dosis 750 mg/kg BB tidak menimbulkan efek toksik. Sehingga dalam penelitian ini,
menggunakan dosis tengah yaitu 500 mg/hari.
Dosis kurkumin:
Konversi dosis manusia (70kg) ke tikus (200gr)

= 0,018

Dosis kurkumin manusia per hari

= 500 mg

Dosis kurkumin pada tikus per hari

= 0,018 x 500 mg
= 9 mg/200gr BB

Dosis Ketalar:
Menggunakan Ketamin 1000 (KTM 1000)
Dosis yang diberikan pada tikus yaitu 20-40 mg/kg BB (Kusumawati, 2004:99)
Berat tikus yang digunakan

= 200 250g

Dosis ketalar

= 20 40 mg x 200 250g/1000
= 4 10 mg
= 0,004 0,01g
= 0,004 0,01ml

Jadi dosis ketalar yang diberikan pada tikus dengan berat badan 200 250 gram
adalah 0,004 0,01ml

3.7 Alat dan Bahan


3.7.1 Alat
a. Kandang tikus
b. Timbangan Berat badan tikus (OneMed)
c. Timbangan digital (Boeco Germany)
d. Sarung tangan Latex dan masker
e. Gelas ukur (Pyrex)
f. Sonde lambung

24

g. Disposible syringe (Terumo)


h. Eskavator (Caredent)
i. Sonde lurus dan setengah bulat (Dentica)
j. Scalpel dan blade (OneMed)
k. Pinset kedokteran gigi (Dentica)
l. Tempat jaringan
m. Cotton pellet
n. Deck glass dan object glass
o. Mikroskop binokuler (Leica)
p. Peralatan untuk pembuatan preparat jaringan

3.7.2 Bahan
a. Kurkumin (Schuchardt OHG 8566)
b. Saline steril pH netral
c. Tikus Wistar jantan
d. Larutan ketalar (KTM 1000)
e. Aquades steril
f. Alkohol
g. Trichrome Mallory
h. Formalin 10%
i. Parafin
j. Meyer egg albumin
k. Canada balsam
l. Asam formiat 10%

25

3.8 Prosedur Kerja


3.8.1

Persiapan Hewan Coba


Tikus Wistar terlebih dahulu diadaptasikan dengan kondisi lingkungan. Tikus

ditempatkan di sebuah kandang dan diberi makanan standar selama 1 minggu.

3.8.2

Persiapan Kurkumin
Kurkumin sudah tersedia dalam bentuk serbuk yaitu Curcumin for synthesis

(merk Schuchardt OHG 85662) buatan Jerman. Kurkumin diencerkan sesuai dosis
yang sudah ditentukan, yaitu sebanyak 9 mg/200gram BB menggunakan 0,5ml
saline/sonde.

3.8.3

Pengelompokan dan Perlakuan Hewan Coba


Tikus Wistar jantan dengan berat 200-250 gram dan berumur 2-3 bulan

sebanyak 20 ekor dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:


1. Kelompok I, merupakan kelompok kontrol yang terdiri dari 10 ekor tikus Wistar
jantan yang dibagi menjadi 2 sub kelompok, masing-masing sub kelompok terdiri
dari 5 ekor tikus. Pada hari pertama, tikus dianastesi general dengan injeksi
ketalar di sekitar paha, kemudian dilakukan pencabutan gigi molar satu bawah
kirinya dan diberi larutan saline (placebo), satu kali sehari selama 7 hari untuk
sub kelompok Ia dan 14 hari untuk sub kelompok Ib secara intra gastrik dengan
menggunakan sonde lambung.
Sub kelompok Ia

: pada hari ke-7, 5 hewan coba didekaputasi, kemudian


diambil rahang bawah kirinya, selanjutnya dibuat sediaan
jaringan.

Sub kelompok Ib

: pada hari ke-14, 5 hewan coba didekaputasi, kemudian


diambil rahang bawah kirinya, selanjutnya dibuat sediaan
jaringan.

26

2. Kelompok II, merupakan kelompok perlakuan yang terdiri dari 10 ekor tikus
Wistar jantan yang dibagi menjadi 2 sub kelompok, masing-masing sub kelompok
terdiri dari 5 ekor tikus. Pada hari pertama tikus dianastesi general dengan injeksi
ketalar di sekitar paha kemudian dilakukan pencabutan gigi molar satu bawah
kirinya dan diberi kurkumin, satu kali sehari selama 7 hari untuk sub kelompok
IIa dan 14 hari untuk sub kelompok IIb secara intra gastrik dengan menggunakan
sonde lambung.
Sub kelompok IIa

: pada hari ke-7, 5 hewan coba didekaputasi, kemudian


diambil rahang bawah kirinya, selanjutnya dibuat sediaan
jaringan.

Sub kelompok IIb

: pada hari ke-14, 5 hewan coba didekaputasi, kemudian


diambil rahang bawahnya, selanjutnya dibuat sediaan
jaringan.

3.8.4

Tahap Pencabutan Gigi Tikus


Pencabutan gigi molar bawah rahang kiri dilakukan pada masing-masing

kelompok yang ditentukan dibawah pengaruh anastesi ketalar. Anastesi yang


digunakan adalah anastesi secara general yang dilakukan dengan cara injeksi ketalar
menggunakan disposible syringe insulin di sekitar paha tikus. Pencabutan gigi
dilakukan menggunakan ekskavator dan sonde setengah bulat, dilakukan secara hatihati dengan arah dan gerakan yang menimbulkan trauma minimal dan gigi dapat
tercabut secara sempurna (Risqah,2007).

3.8.5

Tahap Pembuatan Preparat Jaringan

a. Dilakukan pengambilan rahang bawah kiri tikus pasca pencabutan gigi molar
satu bawah kiri untuk dibuat preparat jaringan.
b. Jaringan difiksasi menggunakan larutan formalin 10% untuk mempertahankan
morfologi sel dan mencegah pertumbuhan jamur

27

c. Proses dekalsifikasi menggunakan larutan asam formiat 10% selama 7 hari


untuk melepaskan bahan anorganik tulang tanpa merusak protein yang ada.
Setelah proses dekalsifikasi selesai, maka dilakukan pencucian dengan air
untuk menghilangkan bekas bahan dekalsifikasi.
d. Dehidrasi menggunakan alkohol yang konsentrasinya meningkat sampai
alkohol absolut. Tahapan dehidrasi antara lain:
alkohol 70%

: 15 menit

alkohol 80%

: 1 jam

alkohol 95%

: 2 jam

alkohol 100%

: 1 jam

alkohol 100%

: 1 jam

e. Proses clearing yaitu proses penjernihan jaringan menggunakan bahan-bahan


clearing. Bahan yang digunakan di Laboratorium Histologi Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Jember yaitu xylol. Tahap ini dilakukan
sebanyak tiga kali pada tiga tabung yang berbeda dengan ketentuan waktu
sebagai berikut:
Xylol I

: 1 jam

Xylol II

: 2 jam

Xylol III

: 2 jam

f. Tahap Impregnasi yaitu proses infiltrasi bahan embedding ke dalam jaringan


pada suhu 56-60C. Caranya jaringan dibungkus menggunakan kertas saring
yang sudah diberi label, kemudian dimasukan kedalam paraffin cair (TD 5660C). Tahapan impregnasi antara lain :
Paraffin 1

: 2 jam

Paraffin 2

: 2 jam

Paraffin 3

: 2 jam

28

g. Penanaman dalam parafin (Embedding)


Merupakan proses penanaman jaringan ke dalam suatu bahan embedding.
Laboratorium Histologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember
menggunakan paraffin sebagai bahan untuk embedding. Tahapan embedding
antara lain:
1) Alat cetak yang terbuat dari logam berbentuk siku-siku disusun diatas
permukaan kaca. Alat diolesi gliserin untuk mempermudah pemisahan alat
cetak dengan blok parafin yang sudah beku.
2) Parafin cair dalam dua wadah, yaitu untuk bahan embedding dan parafin
sebagai media penyesuaian temperatur yang akan ditanam.
3) Parafin cair pada tempat pertama dituangkan ke dalam alat cetak hingga
penuh kemudian jaringan ditanam pada posisi sedemikian rupa sehingga
didapatkan penampang jaringan dengan arah pemotongan secara koronal.
h.

Tahap penyayatan jaringan


1) Penyayatan menggunakan mikrotom, sebelumnya bersihkan pisau
mikrotom dengan kasa/kertas saring yang telah dibasahi dengan xylol
dengan arah tegak lurus.
2) Mengatur ketebalan sayatan mikrotom sebesar 6 mikron
3) Mengambil sayatan yang telah diperoleh dengan kuas kemudian sayatan
diletakkan diatas permukaan air waterbath dengan temperatur 56-60C
hingga sayatan mekar. Sayatan yang diambil oleh peneliti adalah
potongan ke-5, ke-6, dan ke-7 untuk mendapatkan keseragaman,
4)

Mengambil sayatan yang sudah mekar menggunakan object glass yang


telah diolesi dengan meyer egg albumin. Selanjutnya dikeringkan dengan
slide warmer minimal 12 jam dengan suhu 30-35C
(Syafriadi et al., 2007)

29

3.8.6

Tahap Pewarnaan Trichrome Mallory


Tahapan pewarnaan dengan Mallory adalah sebagai berikut:

a. Sediaan dilakukan deparafinisasi dengan menggunakan larutan clearing yaitu


sediaan dimasukkan kedalam xylol dalam 3 wadah masing-masing selama 3
menit
b. Kemudian dilakukan rehidrasi yaitu sediaan dimasukan ke dalam alkohol
bertingkat (100%, 90%, 70%) masing-masing selama 3 menit dan kemudian
dicuci dengan air mengalir
c. Object glass direndam ke dalam larutan Mallory 1 yang berisi acid fuchsine
0,5gr dan aquades 100cc selama 3 menit kemudian dicuci dengan air mengalir
d. Object glass kemudian direndam ke dalam larutan Mallory 2 yang berisi
Phosphomolibdic acid 1gr dan aquades 100cc selama 5 menit kemudian
dicuci dengan air mengalir
e. Object glass kemudian direndam ke dalam larutan Mallory 3 yang berisi
aniline blue 0,5gr, orange G 2,0gr, oxalic acid 1,0gr dan aquades 100cc
selama 2 menit kemudian dicuci dengan air mengalir
f. Irisan jaringan dilakukan dehidrasi dengan alkohol bertingkat 70%, 95%, dan
100% , selanjutnya dikeringkan
g. Proses clearing pada jaringan dengan cara direndam dalam xylol, tiga kali
dalam wadah yang berbeda masing-masing selama 3 menit
h. Proses mounting menggunakan Canada balsem dan ditutup dengan gelas
penutup
(Ardiyanto, 2012)

3.8.7

Penghitungan Peningkatan Pembentukan Serabut Kolagen


Data diperoleh dari pengamatan preparat histologis dengan bantuan

mikroskop binokuler. Pertama-tama menentukan daerah soket menggunakan


perbesaran 40x, selanjutnya menentukan daerah yang diamati menggunakan

30

perbesaran 400x, dilihat pada daerah 1/3 apikal soket. Penilaian dilakukan dengan
cara membandingkan gambaran histologis serabut kolagen antara kelompok kontrol
dan perlakuan. Gambaran pada kelompok kontrol digunakan sebagai indikator
menentukan ada tidaknya peningkatan pembentukan serabut kolagen. Selanjutnya
peningkatan pembentukan serabut kolagen dimasukan kriteria skor yang sudah
ditentukan sebagai berikut (Robin,2006):
Skor 0 =Tidak terjadi peningkatan pembentukan serabut kolagen (sama dengan
kelompok kontrol)
Skor 1 =Terjadi peningkatan pembentukan serabut kolagen sedikit; apabila ketebalan
serabut kolagen kurang dari lebar jarak antar serabut kolagen
Skor 2 =Terjadi peningkatan pembentukan serabut kolagen sedang; apabila ketebalan
serabut kolagen sama dengan lebar jarak antar serabut kolagen
Skor 3 =Terjadi peningkatan pembentukan serabut kolagen banyak; apabila ketebalan
serabut kolagen lebih lebar daripada lebar jarak antar serabut kolagen

Skor 1

Skor 2

Skor 3

Gambar 3.1. Serabut kolagen berdasarkan kriteria (perbesaran 40x)


(Sumber: Rachmawati et al.dan Robin,2006)

31

3.9 Alur Penelitian


Populasi Tikus Wistar
(20 ekor)

Kelompok Kontrol
(10 ekor tikus putih)

Kelompok Perlakuan
(10 ekor tikus putih)

Pencabutan hari ke1

Pencabutan hari ke1

Diberi Larutan saline


(plasebo) tiap hari

Diberi Ekstrak
Kurkumin tiap hari

Dekaputasi

Dekaputasi

5 ekor
hari ke7

5 ekor
hari ke14

5 ekor
hari ke7
Pengambilan
Jaringan

Pembuatan Preparat Jaringan

Pengamatan
Analisis Data
Kesimpulan

5 ekor
hari ke14

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober-Desember 2012 di
Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. Sampel
penelitian berjumlah 20 ekor tikus wistar jantan yang dibagi menjadi 2 kelompok
yaitu kelompok pertama yang dilakukan pencabutan gigi, kemudian diberi larutan
saline (plasebo) sebagai kontrol dan kelompok kedua yaitu kelompok perlakuan yang
diberi kurkumin secara sondasi sebanyak 9 mg/200gBB/0,5ml saline. Kemudian
dilakukan pengamatan terhadap 20 preparat histologis dengan dengan cara
membandingkan gambaran histologis serabut kolagen antara kelompok kontrol dan
kelompok perlakuan pada pengamatan hari ke-7 maupun hari ke-14. Gambaran
histologis serabut kolagen pada kelompok kontrol digunakan sebagai indikator
menentukan terjadinya peningkatan pembentukan kolagen atau tidak pada kelompok
perlakuan.

Sedangkan untuk menentukan terjadinya peningkatan pembentukan

serabut kolagen berdasarkan lamanya waktu pemberian kurkumin menggunakan


gambaran histologis serabut kolagen pada hari ke-7 sebagai indikator. Kemudian
peningkatan pembentukan kolagen yang terjadi dimasukkan dalam kriteria yang
sudah ditentukan. Hasil pengamatan tersebut didapatkan gambaran sebagai berikut:

32

33

A.1

A.2

A.3

A.4

Gambar 4.1.Kepadatan serabut kolagen pada kelompok kontrol hari ke-7 (A.1), kelompok
perlakuan hari ke-7 (A.2), kelompok kontrol hari ke-14 (A.3), dan kelompok
perlakuan hari ke-14 (A.4) (perbesaran 400x)

Pada gambar 4.1 terlihat adanya perbedaan kepadatan serabut kolagen antara
kelompok kontrol dan perlakuan baik pada pengamatan hari ke-7 maupun hari ke-14.
Gambaran histologis serabut kolagen pada kelompok kontrol terlihat lebih tipis
dibandingkan serabut kolagen pada kelompok perlakuan pada hari yang sama. Hal
ini menunjukan terdapat peningkatan pembentukan serabut kolagen. Setelah
dilakukan pengukuran terhadap tebal dan jarak antar serabut kolagen, didapatkan
hasil yaitu tebal serabut kolagen = jarak antar serabut kolagen. Artinya terjadi
peningkatan pembentukan serabut kolagen kategori sedang.
Kelompok perlakuan pada hari ke-7 dan hari ke-14 tidak terlihat adanya
perbedaan kepadatan serabut kolagen. Walaupun pada pengamatan hari ke-14 serabut

34

kolagen yang terbentuk terlihat lebih tebal dibandingkan pengamatan hari ke-7 tetapi
jarak antar serabut juga lebih lebar. Hal ini menunjukan tidak terdapat peningkatan
pembentukan serabut kolagen berdasarkan lama waktu pemberian kurkumin.

B.1

B.2

B.3

B.4

Gambar 4.2.Kepadatan serabut kolagen pada kelompok kontrol hari ke-7 (B.1), kelompok
perlakuan hari ke-7 (B.2), kelompok kontrol hari ke-14 (B.3), dan kelompok
perlakuan hari ke-14 (B.4) (perbesaran 400x)

Pada gambar 4.2 juga terlihat adanya perbedaan kepadatan serabut kolagen
antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan pada pengamatan hari ke-7 dan
hari ke-14, tetapi kepadatan serabut kolagen pada kelompok perlakuan pada setiap
sampel terlihat bervariasi (gambar A.2 dan B.2) pembentukan kolagen hari ke-7 dan
variasi pembentukan kolagen hari ke-14 (gambar A.4 dan B.4). Serabut kolagen pada
gambar B.2 dan B.4 lebih tebal dibandingkan serabut kolagen pada gambar A.2 dan

35

A.4. Gambaran histologis serabut kolagen seperti di atas di dapatkan pada beberapa
sampel perlakuan yang diamati. Hal ini menunjukan terjadi peningkatan
pembentukan serabut kolagen tetapi dalam kategori banyak yaitu tebal serabut
kolagen > jarak antar serabut kolagen. Sedangkan antara kelompok perlakuan hari ke7 dan ke-14 tidak didapatkan perbedaan kepadatan serabut kolagen. Artinya tidak
terdapat peningkatan pembentukan serabut kolagen berdasarkan lama waktu
pemberian kurkumin.

4.2 Pembahasan
Setelah pencabutan gigi, soket gigi pasca pencabutan yang terdiri dari tulang
korteks dilapisi ligamen periodontal yang rusak dengan epitel gingiva yang berada di
bagian koronal, akan terisi oleh darah yang berkoagulasi, dan proses perbaikan
jaringan akan dimulai (Peterson,1998). Nayak (2006) menyatakan bahwa proses
perbaikan jaringan yang luka tergantung pada sirkulasi darah di daerah yang
mengalami luka tersebut. Pada proses penyembuhan luka, akan terbentuk proliferasi
jaringan fibroblas yang diikuti dengan pembentukan dan deposisi kolagen. Pada
jaringan normal serabut kolagen dibentuk dan didegradasi dalam keadaan seimbang.
Setelah terjadi luka tingkat sintesis serabut kolagen akan meningkat, kemudian proses
degradasi dan penyimpanan serabut kolagen akan dilakukan untuk memberikan
kekuatan dan integritas luka tanpa menimbulkan jaringan parut yang berlebihan
(fibrosis) (Fonseca, 1997).
Pada pengamatan secara histologis, jika dibandingkan antara kelompok
kontrol dan kelompok perlakuan pada pengamatan hari ke-7 dan ke-14 terlihat adanya
perbedaan ekspresi pembentukan serabut kolagen, dimana pada kelompok kontrol
serabut kolagen hari ke-7 sampai dengan hari ke-14 terlihat masih tipis (skor 1 s/d
skor 2), sedangkan pada kelompok perlakuan mulai hari ke-7 sampai dengan hari ke14 serabut kolagen terlihat dari agak padat sampai dengan padat (skor 2 s/d skor 3).
Hal ini disebabkan oleh efek dari pemberian kurkumin setelah pencabutan.

36

Pemberian kurkumin diduga berperan dalam proses pembentukan serabut


kolagen pada soket pasca pencabutan. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Sidhu et
al. (1998) dan Suguna et al. (2006), kurkumin mampu menstimulasi produksi faktor
pertumbuhan (TGF 1) oleh makrofag. TGF 1 ini akan berfungsi meningkatkan
migrasi dan proliferasi sel fibroblas pada daerah luka. Keberadaan fibroblas inilah
yang bertanggung jawab meningkatan produksi fibronektin dan pembentukan serabut
kolagen. Selain itu TGF 1 juga menyebabkan meningkatnya formasi jaringan
granulasi pada awal penyembuhan luka (Ostrum et al. dalam Lukman, 1997), hal ini
terlihat pada gambaran histologis B.2 (kelompok perlakuan). Terlihat jaringan
granulasi dengan pembentukan kapiler-kapiler yang banyak dibandingkan kelompok
kontrol hari sampai hari ke-7 (gambar B.1).
Transforming Growth Factor 1 (TGF 1) memiliki berbagai fungsi yaitu
antara

lain

menstimulasi

pembentukan

pembuluh

darah,

sintesis

matriks

ekstraselluler, inhibisi pertumbuhan sel, dan juga migrasi sel (Robbins et al., 2007).
TGF 1 memperluas ekspresi gen matriks secara spesifik dengan menghambat
aktifitas produksi dan aktifitas kolagenase sehingga terjadi stimulasi deposisi kolagen
(Schwartz, 1994). Hal tersebut dapat menyebabkan terbentuk serabut kolagen yang
kuat dan matang pada luka yang diterapi dengan kurkumin (Suguna et al.,2006).
Berdasarkan lama pemberian kurkumin pada proses penyembuhan luka,
antara 7 hari dibanding 14 hari pemberian menunjukan tidak terdapat perbedaan
gambaran histologis kepadatan serabut kolagen. Beberapa sampel menunjukan
gambaran histologis serabut kolagen yang agak padat dan beberapa menunjukan
kolagen yang padat baik pada pengamatan hari ke-7 maupun hari ke-14. Walaupun
serabut kolagen pada pengamatan hari ke-14 (gambar B.4) terlihat lebih teratur
dengan varkularisasi yang berkurang dibandingkan pengamatan hari ke-7 (gambar
B.2 ), tetapi pembentukan serabut kolagen tidak menunjukan terjadinya peningkatan.
Hal ini diduga pada hari ke-7 maupun hari ke-14 pasca pencabutan, pembentukan
matriks fibrous di soket pasca pencabutan yang terdiri dari serabut-serabut kolagen
yang disebut callus fibrous sudah cukup, sehingga yang terjadi setelah 14 hari pasca

37

pencabutan adalah fase maturasi jaringan (Peterson,1998:63; Ardhiyanto,2007). Fase


ini akan dilanjutkan ke fase penyembuhan berikutnya seiring berjalanya waktu
dimana akan dibentuk soft callus maupun hard callus (Hult dalam Lukman,1997).
Hasil penelitian ini menunjukan pemberian kurkumin secara intraoral pasca
pencabutan gigi tikus dapat meningkatkan pembentukan jaringan granulasi yang
diikuti dengan meningkatnya proliferasi fibroblas dan deposisi serabut kolagen baik
pada hari ke-7 maupun ke-14 dibandingkan kelompok tanpa pemberian kurkumin,
artinya hipotesis alternatif yang disimpulkan peneliti diterima. Akan tetapi,
pemberian kurkumin selama 14 hari pasca pencabutan gigi tidak menunjukan adanya
peningkatan pembentukan serabut kolagen dibandingkan pemberian kurkumin selama
7 hari pasca pencabutan. Hal ini tidak sesuai dengan dugaan sementara (hipotesis)
yang disimpulkan peneliti sebelum penelitian dilaksanakan.

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Terdapat peningkatan pembentukan kolagen pada soket gigi tikus Wistar
setelah pemberian kurkumin pasca pencabutan gigi. Mekanisme pembentukan
serabut kolagen pada soket gigi oleh kurkumin melalui aktifitas TGF 1.
2. Tidak terdapat peningkatan pembentukan kolagen pada soket gigi tikus Wistar
berdasarkan variasi lama waktu pemberian kurkumin pasca pencabutan

5.2 Saran
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan
pengembangan kurkumin sebagai alternatif pengobatan luka dalam upaya
meningkatkan kesehatan gigi dan mulut
2. Perlu penelitian lebih lanjut terhadap durasi waktu pemberian kurkumin yang
efektif pada masa penyembuhan luka pasca pencabutan gigi

38

DAFTAR BACAAN

Afifah, E. 2003. Khasiat dan Manfaat Temulawak. Jakarta: AgroMedia Pustaka.


Ardhiyanto, H.B. 2007. Proses Penyembuhan Luka Post Ekstraksi Gigi.
Stomatognatic (J.K.G), 4 (2): 60-65.
Chen, Kasper, Heck, dan Nakagawa. 2005. Tissue Factor as a Link between
Wounding and Tissue Repair. Diabetes, 54.
Daniel, W.W. 2005. Biostatistic a Foundation for Analysis in the health Science,
eight edition. Georgia: John Willey dan Sons, Inc.
Dhathathreyan, Fathima, Devi, dan Rekha. 2009. Collagen curcumin interaction A
physic chemical study. J.Chem.Sci. 121 (4), 509-514. Indian Academy of
Sciences.
Dorland, W.A.N. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29. Alih Bahasa:
Huriawati H., dkk. Jakarta: EGC.
Fawcett, D.W. 2002. Buku Ajar Histologi. Ed.12. Alih Bahasa: Jan Tambayong.
Judul Asli: A Textbook of Histology. Jakarta: EGC.
Fonseca, R.J dan Walker, R.V. 1997. Oral dan Maxillofacial Trauma. 2nd Edition.
Philadelphia: W.B.Sounders Company.
Howe, G.L. 1995. Pencabutan Gigi Geligi. Ed.2. Alih Bahasa: Sianita. Judul Asli:
The Extraction of Teeth. Jakarta: EGC.
Junqueira, L.C, Carneiro, J., Kelley, R.O. 1997. Histologi Dasar. Ed.8. Alih Bahasa:
Jan Tambayong. Judul Asli: Basic Histology. Jakarta: EGC.
Katzung, B.G. 1997. Farmakologi Dasar dan Klinik. Ed.6. Alih Bahasa: Staf Dosen
Farmakologi Fakultas Kedokteran UNSRI. Judul Asli: Basic dan Clinical
Pharmacology. Jakarta: EGC.
Kohli, Ali, Ansari, dan Raheman. 2005. Curcumin: A natural antiinflammatory agent.
Indian J Pharmacol. 37 (3): 141-147.
Kusumawati, D. 2004. Bersahabat dengan Hewan Coba. Yogyakarta; Gadjah Mada
University Press.
Lawler, W., Ahmed, A., dan Hume, W.J. 1992. Buku Pintar Patologi untuk
Kedokteran Gigi. Cetakan I. Alih bahasa: Agus Djaya. Jakarta: EGC.

40

Leeson C.R, Leeson T.S, dan Paparo A.A. 1989. Buku Teks Histologi. Ed.5. Alih
Bahasa: Yan Tambayong, dkk. Jakarta: EGC.
Lukman, K. 1997. Penyembuhan Patah Tulang Ditinjau dari Sudut Ilmu Biologi
Molekuler. Buletin IKABI, 4 (1): 29-46. Jawa Barat: UNPAD.
Mawardi, H., Dalimi, L., dan Darmosumarto, S. 2002. Pengaruh Pemberian Ekstrak
Propolis Secara Lokal pada Proses Pembentukan Serabut Kolagen Pasca
Pencabutan Gigi marmot (Cavia cobaya). Sains Kesehatan, 15 (2): 171-184.
Yogyakarta: UGM.
Miller, A.L. dan MacKay, D. 2003. Nutrional Support for Wound Healing.
Alternative Medicine Riview, 8 (4): 359-377.
Mulawarmanti, D. 2005. Fungsi Arginin dalam Proses Penyembuhan Luka di
Jaringan Rongga Mulut. Majalah Kedokteran Gigi. Edisi Khusus Temu Ilmiah
Nasional IV: 175-178. Surabaya: FKG Hang Tuah.
Nayak, B. S. dan Pereira, L. M. 2006. Catharanthus Roseus Flower Extract Has
Wound-healing Activity in Sprague Dawley Rats. Complementary &
Alternative Medicine. http://www.biomedcentral.com/1472-6882/6/41
Notoatmodjo, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Orbaniyah, S., Ismadi, M., dan Oetari. 2003. Kemampuan Menghambat dan Sifat
Hambatan Analog Kurkumin terhadap Aktivitas Enzim Siklooksigenase. Sains
Kesehatan, 16 (1): 29-39. Yogyakarta: UGM.
Peterson, L.J. 1998. Contemporary Oral dan Maxillofacial Surgery. 3rd edition.
Editor: Edward E, James R.H, Myron R.T. USA: Von Hoffman Press.
Rachmawati, Setyaningsih, Mandala, Dewi, Novita. Reepitelisasi, Kepadatan
Fibroblas dan Serabut Kolagen pada Proses Penyembuhan Luka Gingiva Labial
Tikus Sparague dawley Setelah pemberian Topikal Ekstrak Buah Adas
(Foeniculum vulgare Mill.) 50%. Yogyakarta: UGM.
Rizqah, N. 2007. Kepadatan Kolagen Jaringan Granulasi Pasca Pencabutan Gigi
Tikus Wistar Jantan pada Pemberian seduhan Mahkota Dewa (Phaleria
papuana Warb. Var. Wichanii (Val.) Back). Skripsi. UNEJ: FKG.
Robbins, S.L. dan Kumar, V.1992. Buku Ajar Patologi 1. Edisi 4. Jakarta:EGC.
Robbins, S.L, Cotran, R.S, dan Kumar, V. 2007. Buku Ajar Patologi Robbins. Edisi
7. Alih bahasa: Awal Prasetyo, Brahm U dan Toni Priliono. Jakarta: EGC.

41

Robin, D.M.C. 2006. Pengaruh Kurkuminoid terhadap Perbaikan Tulang Rawan


Sendi Temporomdanibula Tikus yang Terinduksi Osteoatritis. Stomatognatic
(Jurnal Kedokteran Gigi). Edisi Khusus Forkinas 2: 55-59. Jember: UNEJ.
Rukmana, R. 2001. Kunyit. Yogyakarta: Kanisius.
Schwartz, S I. 1994. Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah. Edisi 6. Alih Bahasa: Linda
Chandranata. Jakarta: EGC
Sidhu, Singh, Thaloor, Banaudha, Patnaik, Srimal, dan Maheswari. 1998.
Enhancement of wound healing by curcumin in animals. Abstrak. 6(2):167-77.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9776860.
Singer, A.J. dan Clark, R.A.F. 1999. Cutaneus Wound Healing. The New England
Journal of Medicine. New York:
Suguna, Panchatcharam, Miriyala, dan Gayathri. 2006. Curcumin Improves Wound
Healing by Modulating Collagen dan Decreasing Reactive Oxygen Species.
Abstrak. Molecular dan Cellular Biochemistry Journal. 290:87-96.
Syafriadi, Kusumawardani, Setyorini, dan Joelianto. 2007. Petunjuk Praktikum
Patologi Anatomi: Degenerasi dan Radang. Tidak Diterbitkan. Buku Petunjuk
Praktikum. Jember: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember.
Syukur, C. dan Hernani. 2001. Budidaya Tanaman Obat Komersial. Jakarta:
Swadaya.
Wahab, A.S. dan Julia, M. 2002. Sistem Imun, Imunisasi, dan Penuyakit Imun.
Jakarta: Widya Medika.
Wang, Jacob, Wu, dan Zhou. 2007. Mechanism of the Anti-inflamatory Effect of
Curcumin: PPAR- Activation. PPAR Research. Vol.2007. Hindawi Publishing
Corporation.
Winarsih, Handharyani, Estuningsih, dan Widhyari. 2009. Kajian aktivitas Ekstrak
Rimpang Kunyit (Curcuma tonga) dalam Proses Persembuhan Luka pada
Mencit sebagai Model Penderita Diabetes. Seminar Hasil Penelitian. Bandung:
IPB.
Yanwirasti, Rustam, E., dan Atmasari, I. 2007. Efek Antiinflamasi Ekstrak Etanol
Kunyit (Curcuma domestica Val.) pada Tikus Putih Galur Wistar. Jurnal Sains
dan Teknologi Farmasi, 12 (2): 112-115. Universitas Danalas.
http://hadyherbs.files.wordpress.com/2011/12/kurkuminoid-1.jpg
http://labspace.open.ac.uk/mod/resource/view.php?id=388786

42

http://dentosca.wordpress.com/2011/04/18/peran-fibroblas-pada-prosespenyembuhan-luka/
http://ars.els-cdn.com/content/image/1-s.jpg

43

Lampiran A. Penghitungan Besar Sampel

Penghitungan besar sampel penelitian menggunakan rumus (Daniel, 1991),


yaitu:
n=

Z
d

Keterangan:
n

= Besar sampel minimun

= Standart deviasi sampel

= Kesalahan yang masih dapat ditoleransi, diasumsikan d=

= Konstanta pada tingkat kesalahan tertentu, jika =0.05 maka Z=1,96

Sehingga jika dihitung sebagai berikut:


n

= Z

= (1,96)

= 3,84

= 4 (dibulatkan)

44

Lampiran B
B.1. Nilai peningkatan pembentukan serabut kolagen pada soket pasca
pencabutan pada pengamatan hari ke-7 dan ke-14 setelah pemberian
kurkumin

Kelompok

Kode
sampel

Tebal

Jarak antar

Nilai

Serabut

Serabut

Peningkatan

Kolagen

Kolagen

Keterangan Pembentukan

dalam cm

dalam cm

Serabut

(t)

(r)

Kolagen

Perlakuan

7f

0, 40

0, 40

t=r

hari ke-7

7g

0, 30

0, 30

t=r

7h

0, 70

0, 23

t>r

7i

0, 36

0, 36

t=r

7j

0, 79

0, 26

t>r

Perlakuan

14f

0, 53

0, 26

t>r

hari ke-14

14g

0, 43

0, 43

t=r

14h

0, 59

0, 40

t>r

14i

0, 43

0, 43

t=r

14j

0, 83

0, 40

t>r

Keterangan: pengukuran tebal dan jarak serabut kolagen dilakukan menggunakan


program CorelDRAW Graphich Suite 12 pada foto preparat perbesaran
400x

45

Lampiran C. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian

Timbangan analitik

Timbangan neraca

Catatan :
a.
b.
c.
d.
e.

Ketamin
Cottonroll
Pinset
Ekskavator
Sonde setengah lingkaran

f.
g.
h.
i.
j.
k.

Parafin
Sonde lambung
Disposible syringe insulin 1ml
Gunting
Pinset anatomis
Scalpel

46

Catatan :
1. Haematoksilin
2. Meyer egg albumin
3. Entelan
4. Eosin
5. Object glass
6. Deck glass
7. Xylol

Catatan :
1. Pinset
2. Holder
3. Kuas
4. Gunting
5. Embedding cassette

8. parafin
9. formalin
10. alkohol
11. gliserin
12. spirtus

6. Sampel
7. Histologycal basket
8. Bunsen
9. Counter
10. Cassette

47

Kurkumin yang digunakan


dalam penelitian

Mikrotom

Slide warmer

Waterbath

Trichrome Mallory

Inkubator

Mikroskop binokuler

48

Tikus wistar umur 2 bulan

Pencabutan molar kiri rahang bawah


pada tikus

Keadaan intraoral tikus


pasca pencabutan

Penyuntikan Ketamin

Gigi tikus yang diambil dari soket

Keadaan ekstraoral tikus


pasca pencabutan