Anda di halaman 1dari 43

PENGERTIAN EJAAN

Pengertian Ejaan ialah keseluruhan system dan peraturan penulisan bunyi bahasa untuk
mencapai keseragaman. Ejaan Yang Disempurnakan adalah ejaan yang dihasilkan dari
penyempurnaan atas ejaan-ejaan sebelumnya.
Ejaan yang disempurnakan ( EYD ) mengatur :
1. Pemakaian Huruf,
a. Huruf Abjad
Huruf abjad yang terdapat di dalam bahasa Indonesia adalah :
A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y dan Z.
b. Huruf Vokal
Huruf vokal di dalam bahasa Indonesia adalah : a, i, u, e dan o
c. Huruf Konsonan
Huruf konsonan yang terdapat di dalam bahasa Indonesia adalah :
a, b, c, d, f, g, h, i, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, u, v, w, x, y dan z.
d. Huruf Diftong
Didalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au dan oi.
e. Gabungan Huruf Konsonan
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan
konsonan, yaitu:
kh, ng, ny, dan sy. Masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan.
f. Pemenggalan Kata
Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan dengan cara:
Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan diantara
kedua huruf vokal itu. Contoh: aula menjadi au-la bukan a-u-l-a
Jika di tengah kata ada konsonan termasuk gabungan huruf konsonan, pemenggalan
itu dilakukan sebelum huruf konsonan. Contoh: bapak menjadi ba-pak
Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan
diantara kedua huruf itu. Contoh : mandi menjadi man-di
Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan, pemenggalan itu dilakukan diantara
huruf konsonan yang pertama dan kedua. Contoh : ultra menjadi ul-tra.
2. Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring
a. Huruf Kapital atau Huruf Besar
Huruf Kapital dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat, petikan langsung,
ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan, nama gelar kehormatan, unsur nama
jabatan, nama orang, nama bangsa, suku, tahun, bulan, nama geografi, dll.
b. Huruf Miring
Huruf Miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, surat kabar,
yang dikutip dalam tulisan, nama ilmiah atau ungkapan asing, dan untuk menegaskan
huruf, bagian kata, atau kelompok kata.
3. Penulisan Kata,
a. Kata Dasar, Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan
b. Kata Turunan, Kata turunan (imbuhan)
c. Bentuk Ulang, Bentuk kata Ulang ditulis hanya dengan tanda hubung (-)

d. Gabungan Kata, Gabungan kata yang dianggap senyawa ditulis serangkai


e. Kata Ganti ku, mu, kau dan nya, ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya
f. Kata Depan di, ke, dan dari, Kata depan di dan ke ditulis terpisah
g. Kata si dan sang, Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya
h. Partikel, Partikel per yang berarti tiap-tiap ditulis terpisah
4. Singkatan dan Akronim
Singkatan ialah bentuk istilah yang tulisannya diperpendek terdiri dari huruf awalnya
saja, menanggalkan sebagian unsurnya atau lengkap menurut lisannya, Contoh : NKRI,
cm, lab.
Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, suku kata, ataupun
gabungan kombinasi huruf dan suku kata. Contoh : rudal ( peluru kendali ), tilang ( bukti
pelanggaran )
5. Angka dan Lambang Bilangan
Penulisan angka dan bilangan terdiri dari beberapa cara yaitu :
a. berasal dari satuan dasar sistem internasional, Contoh : arus listrik dituliskan A =
ampere
b. menyatakan tanda decimal, Contoh : 3,05 atau 3.05
6. Penulisan Unsur Serapan,
Penulisan unsur serapan pada umumnya mengadaptasi atau mengambil dari istilah bahasa
asing yang sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Contoh : president menjadi
presiden
7. Pemakaian Tanda Baca
Pemakaian tanda baca terdiri dari tanda (.) , (,), (-), (;), (:), ()
8. Pedoman Umum Pembentukan Istilah
Pembentukan istilah asing yang sudah menjadi perbendaharaan kata dalam bahasa
Indonesia mengikuti kaidah yang telah ditentukan, yaitu :
a. penyesuaian Ejaan.
Contoh : ae jika tidak bervariasi dengan e, tetap e, aerosol tetap aerosol
b. penyesuaian huruf gugus konsonan.
Contoh : flexible menjadi fleksibel
c. penyesuaian akhiran.
Contoh : etalage menjadi etalase
d. penyesuaian awalan.
Contoh : amputation menjadi amputasi
9. Gaya Bahasa
Gaya bahasa ialah penggunaan kata kiasan dan perbandingan yang tepat untuk
mengungkapkan perasaan atau pikiran dengan maksud tertentu. Gaya bahasa berguna
untuk menimbulkan keindahan dalam karya sastra atau dalam berbicara. Gaya bahasa
disebut juga majas.
a. Gaya bahasa simbolik adalah gaya bahasa yang menggunakan perbandingan simbol

benda, lambang, binatang atau tumbuhan.


Contoh : Lintah darat harus dibasmi ( Lintah darat adalah simbol pemeras, rentenir atau
pemakan riba)
b. Gaya bahasa hiperbola adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu secara
berlebihan.
Contoh : Tawanya menggelegar hingga membelah bumi.

Pengertian EYD
EYD (Ejaan yang Disempurnakan) merupakan tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yang
mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan
penulisan huruf capital dan huruf miring, serta penulisan unsur serapan. EYD disini
diartikan sebagai tata bahasa yang disempurnakan. Dalam penulisan karya ilmiah perlu
adanya aturan tata bahasa yang menyempurnakan sebuah karya tulis. Karena dalam
sebuah karya tulis memerlukan tingkat kesempurnaan yang mendetail. Singkatnya EYD
digunakan untuk membuat tulisan dengan cara yang baik dan benar.
A. Penggunaan EYD yang benar pada penulisan huruf dan kata
Penggunaan Huruf Kapital
I. Jabatan tidak diikuti nama orang
II. Huruf pertama nama bangsa
III. Nama geografi sebagai nama jenis
IV. Setiap unsur bentuk ulang sempurna
V. Penulisan kata depan dan kata sambung
Penulisan Huruf Miring
I. Penulisan nama buku
Contoh: Buku Jurnalistik Indonesia, Majalah Sunda Mangle, Surat Kabar Bandung Pos.
II. Penulisan penegasan kata dan penulisan bahasa asing
Contoh: boat modeling, aeromodeling, motorsport.
III. Penulisan kata ilmiah
Contoh, royal-purple amethyst, crysacola, turqoisa, rhizopoda, lactobacillus, dsb.
Penulisan Kata Turunan
I. Gabungan kata dapat awalan akhiran
Butir 3 pedoman kata turunan menegaskan, jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata
mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai
II. Gabungan kata dalam kombinasi
Butir 4 pedoman penulisan kata turunan menyatakan, jika salah satu unsur gabungan kata
hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai
Penulisan Gabungan Kata
I. Penulisan gabungan kata istilah khusus
Butir 2 pedoman penulisan gabungan kata mengingatkan, gabungan kata, termasuk istilah
khusus.
II. Penulisan gabungan kata serangkai
Butir 3 pedoman penulisan gabungan kata menegaskan, gabungan kata berikut harus
ditulis serangkai.
B. Penggunaan EYD yang benar pada partikel, singkatan, akronim, dan angka.

1) PENULISAN PARTIKEL
I. Penulisan partikel pun
Butir 2 tentang penulisan partikel mengingatkan, partikel pun dituliskan terpisah dari kata
yang mendahuluinya.
II. Penulisan partikel per
Butir 3 tentang penulisan partikel menyebutkan, pertikel per yang berarti mulai, demi,
dan tiap ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
2) PENULISAN SINGKATAN
I. Penulisan singkatan umum tiga huruf
II. Penulisan singkatan mata uang
3) PENULISAN AKRONIM
I. Akronim nama diri
Pedoman EYD menyatakan, akronim nama diri yag berupa gabungan suku kata atau
gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
II. Akronim bukan nama diri
Menurut Pedoman EYD, akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf,
suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis
dengan huruf kecil.
4) PENULISAN ANGKA
Pedoman EYD menetapkan empat jenis penulisan angka yaitu :
1. angka dipakai untuk menyatakan lambing bilangan atau nomor. Dalam tulisan lazim
digunakan angka Arab atau angka Romawi.
2. angka digunakan untuk menyatakan :
i. ukuran panjang, berat, luas, dan isi,
ii. satuan waktu,
iii. nilai uang, dan
iv. kuanitas.
3. angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, aparteman, atau kamar
pada alamat.
4. angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
5) PENULISAN LAMBANG BILANGAN
1. Penulisan lambang bilangan satu-dua kata
Pedoman EYD menetapkan, penulisan lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan
satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai
secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan.
2. Penulisan lambang bilangan awal kalimat
Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat
diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak
terdapat pada awal kalimat.
3. Penulisan lambang bilangan utuh
Angka yang menunjukan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih
mudah dibaca. Ketentuan dalam Pedoman EYD ini sangat sejalan dengan kaidah bahasa
jurnalistik yang senantiasa menuntut kesederhanaan dan kemudahan.
4. Penulisan lambang bilangan angka-huruf
5. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali

didalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.


C. Penggunaan Tanda Baca
1. Tanda Titik (. )
i. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
ii. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
iii. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan
2. Tanda Koma ( , )
i. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
ii. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara
berikutnya yang didahului oleh kata tetapidan melainkan.
3. Tanda Titik Koma (; )
i. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagianbagian kalimat yang sejenis
dan setara.
Misalnya: Malam makin larut; kami belum selesai juga.
ii. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu
kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Misalnya: Ayah mengurus tanaman di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur; adik
menghafalkan nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran
pilihan pendengar.
4. Tanda Titik Dua ( : )
i. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau
pemerian.
ii. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
5. Tanda Hubung ( )
i. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
ii. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya, atau akhiran
dengan bagian kata di depannya pada
iii. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
6. Tanda Pisah ( )
i. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan khusus
di luar bangun kalimat.
ii. Tanda pisah menegaskan adanya aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat
menjadi lebih jelas.
7. Tanda Elipsis ( )
i. Tanda elipsis menggambarkan kalimat yang terputus-putus.
ii. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya: Sebab-sebab kemerosotan akan diteliti lebih lanjut.
8. Tanda Tanya ( ? )
i. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat Tanya
ii. Tanda tanya dipakai di antara tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang
disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
9. Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah,
atau yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat.
10. Tanda Kurung ( )
i. Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.

ii. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok
pembicaraan.
iii. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu seri keterangan. Angka
atau huruf itu dapat juga diikuti oleh kurung tutup saja.
iv. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau
tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain.
v. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda
kurung.
11. Tanda Petik ( )
i. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau
bahan tertulis lain. Kedua pasang tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.
ii. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, dan bab buku, apabila dipakai dalam
kalimat.
12. Tanda Petik Tunggal ( )
i. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
ii. Tanda petik tunggal mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing
(Lihat pemakaian tanada kurung)
13. Tanda Ulang ( 2 ) (angka 2 biasa)
Tanda ulang dapat dipakai dalam tulisan cepat dan notula untuk menyatakan pengulangan
kata dasar.
14. Tanda Garis Miring ( / )
i. Tanda garis miring dipakai dalam penomoran kode surat.
ii. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, per, atau nomor alamat.
15. Tanda Penyingkat (Apostrof) ( )
Tanda apostrof menunjukkan penghilangan bagian kata.
D. Penulisan Unsur Serapan
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa lain,
baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur
pinjamam dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar. Pertama unsur
pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti shuttle
cock, reshuffle. Unsur-unsur tersebut di pakai dalam konteks bahasa Indonesia tetapi
pengucapannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur pinjaman yamg penulisan dan
pengucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan
agar ejaannya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat
dibandingkan dengan bentuk asalnya.
B. KALIMAT EFEKTIF
Pada kamus besar bahasa Indonesia kalimat memiliki arti sepatah kata atau sekelompok
kata yang merupakan satuan yang mengutarakan suatu pikiran atau perasaan. Sedangkan
efektif memiliki arti ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya). Dapat membawa
hasil (tentang usaha, tindakan). Dilihat dari pengertian kedua kalimat tersebut jadi dapat
kita tarik kesimpulan kalimat efektif adalah suatu kata atau sekelompok kata yang dapat
mengutarakan suatu pikiran atau perasaan , memiliki efek (akibat) dan juga dalam
susunannya harus tepat dan benar. Berikut ini definisi kalimat efektif menurut para ahli :
5. Kalimat efektif adalah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat-syarat komunikatif,

gramatikal, dan sintaksis saja, tetapi juga harus hidup, segar, mudah dipahami, serta
sanggup menimbulkan daya khayal pada diri pembaca. (Rahayu: 2007)
6. Kalimat efektif adalah kalimat yang benar dan jelas sehingga dengan mudah dipahami
orang lain secara tepat. (Akhadiah, Arsjad, dan Ridwan: 2001)
7. Kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi kriteria jelas, sesuai dengan kaidah,
ringkas, dan enak dibaca. (Arifin: 1989)
8. Kalimat efektif dipahami sebagai kalimat yang dapat menyampaikan informasi dan
informasi tersebut mudah dipahami oleh pembaca. (Nasucha, Rohmadi, dan Wahyudi:
2009)
Berdasarkan definisi kalimat efektif menurut para ahli dapat kita simpulkan bahwa suatu
kalimat dapat dikatakan kalimat efektif apabila sesuai dengan kaidah bahasa, jelas dan
mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca kalimat tersebut.
Ciri Ciri Kalimat Efektif
Suatu kalimat dapat dikatakan kalimat efektif apabila kalimat tersebut sesuai dengan
kaidah bahasa, jelas dan mudah dipahami. untuk mencapai keefektifan, suatu kalimat
paling tidak harus memenuhi 6 syarat berikut ini :
1. Kesepadanan
Kesepadanan ialah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang
dipakai. melihat dari definisinya kesepadanan itu sangan penting dalam membuat suatu
kalimat, misalkan kita memiliki pikiran atau gagasan yang baik tetapi struktur bahasa
yang dipakai tidak beraturan tentunya gagasan yang kita miliki tersebut tidak dapat
tersampaikan dengan baik. Berikut ini ciri ciri kesepadanan kalimat :
A. Kalimat tersebut mempunyai subjek dan predikat yang jelas.
Untuk membuat kalimat mempunyai subjek dan predikat yang jelas dapat dilakukan
dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam bagi untuk, pada, sebagai,
tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya.
Contoh :
Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus mengisi krs tepat waktu. (salah)
Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus mengisi krs tepat waktu. (benar)
B. Tidak terdapat subjek ganda
Contoh :
Penyusunan makalah itu saya dibantu oleh dosen.(salah)
Dalam menyusun makalah itu, saya dibantu oleh para dosen.(benar)
C. Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal
Contoh :
Budi semalam tidak belajar. Sehingga budi tidak dapat mengerjakan soal ujiannya.
(salah)
Budi semalam tidak belajar, sehingga budi tidak dapat mengerjakan soal ujiannya.
(benar)
D. Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang
Contoh :
Budi yang sedang membaca buku. (salah)
Budi sedang membaca buku. (benar)

2. Keparalelan
Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam
kalimat tersebut. Maksudnya, kalau bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua
juga harus menggunakan verba.
3. Ketegasan
Ketegasan pada suatu kalimat adalah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat.
Untuk membuat ide pokok kalimat tersebut lebih terlihat dapat dilakukan dengan
berbagai cara diantaranya :
A. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat.
Contoh :
Dosen mengharapkan agar mahasiswa dapat mengumpulkan tugasnya dengan tepat
waktu.
Penekanannya ialah dosen mengharapkan.
B. Membuat urutan kata yang bertahap.
Contoh :
Bukan seribu, sepuluh, seratus tetapi sejuta tiket yang sudah laku terjual.
Jika kalimat tersebut diurutkan secara bertahap maka akan tampak seperti ini
Bukan sepuluh, seratus, seribu tetapi sejuta tiket yang sudah laku terjual.
C. Melakukan pengulangan kata(repetisi)
Contoh:
Saya suka dengan kesopanannya, saya suka dengan sifatnya itu.
D. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.
E. Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
Saudaralah yang bertanggung jawab.
4. Kehematan
Kehematan pada kalimat efektif adalah hemat dalam menggunakan kata, frasa, dan
bentuk lainnya yang dianggap tidak perlu di dalam suatu kalimat. Kehematan disini
bukan berarti menghilangkan kata kata yang dapat membantu memperkuat arti suatu
kalimat. Maksud dari kehematan disini adalah penghematan terhadap suatu kata yang
tidak diperlukan sejauh tidak melanggar tata bahasa. Untuk melakukan kehematan
terhadap kalimat ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan :
A. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Contoh :
Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ketempat itu
Kehematan dari kalimat itu adalah :
Karena tidak diundang, dia tidak datang ketempat itu.
B. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat
pada hiponimi kata
Contoh :
Di mana kamu menabrak hewan kucing ini ?

Kata kucing pada kalimat tersebut sudah menjelaskan bahwa itu hewan, maka kehematan
kalimat tersebut adalah :
Di mana kamu menabrak kucing ini ?
C. Penghimatan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu
kalimat.
Contoh :
Dia hanya membawa badannya saja.
Kehematan dari kalimat itu adalah
Dia hanya membawa badannya.
D. Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata kata yang
berbentuk jamak.
Contoh :
Bentuk tidak baku : para tamu tamu , beberapa orang.
Kalimat efektifnya :
Bentuk jamak : para tamu, beberapa orang
5. Kecermatan
Yang dimaksud dengan kecermatan dalam kalimat adalah kalimat tersebut tidak memiliki
makna ganda.
Contoh :
Sumbangan kedua sekolah itu telah kami terima.
Pada kalimat ini terdapat 2 makna yaitu :
a) Satu sekolah yang telah menyumbang dua kali. Dan
b) Terdapat 2 sekolah yang menyumbang.
6. Kepaduan
Yang dimaksud dengan kepaduan adalah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu
sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah pecah.
A. Kalimat yang padu itu tidak bertele tele dan tidak mencermirkan cara berpikir yang
tidak simestris, oleh karena itu hindari kalimat yang bertele tele.
Contoh :
Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang kota yang telah
terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu. (tidak efektif)
Kita harus mengembalikan kepribadian orang-orang kota yang sudah meninggalkan
rasa kemanusiaan. (efektif)
B. Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam
kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.
Contoh :
Buku itu saya sudah kembalikan.
Kalimat efektifnya :
Buku itu sudah saya kembalikan.
C. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang
antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Contoh :
Buku ini akan membahas tentang kalimat efektif dan EYD.
Kalimat efektifnya :

Buku ini akan membahas kalimat efektif dan EYD.


7. Kelogisan
Yang dimaksud dengan kelogisan adalah ide di dalam kalimat tersebut dapat diterima
oleh akal dan penulisan kata katanya harus sesuai dengan EYD.

1. Cara Penulisan Gelar Sarjana (S1)


S.P.
S.Pd.
S.Pd.I.
(sarjana
S.Psi.
S.Pt.
S.E.
S.Ag.
S.Fil.
S.Fil.I.
(sarjana
S.H.
S.H.I.
(sarjana
S.Hum.
S.I.P.
(sarjana
S.Kar.
S.Ked.
S.Kes.
S.Kom.
S.K.M.
(sarjana
S.S.
S.Si.
S.Sn.
S.Sos.
S.Sos.I.
(Sarjana
S.T.
S.Th.
S.Th.I. (sarjana theologi Islam)

(sarjana
(sarjana
pendidikan
(sarjana
(sarjana
(sarjana
(sarjana
(sarjana
filsafat
(sarjana
hukum
(sarjana
ilmu
(sarjana
(sarjana
(sarjana
(sarjana
kesehatan
(sarjana
(sarjana
(sarjana
(sarjana
Sosial
(sarjana
(sarjana

pertanian)
pendidikan)
Islam)
psikologi)
peternakan)
ekonomi)
agama)
filsafat)
Islam)
hukum)
Islam)
humaniora)
politik)
karawitan)
kedokteran
kesehatan)
komputer)
masyarakat)
sastra)
sains)
seni)
sosial)
Islam)
teknik)
theologi)

2. Cara Penulisan Gelar Magister (S2)


M.Ag.
M.E.
M.E.I.
M.Fil.
M.Fil.I.
M.H.
M.Hum.
M.H.I.

(magister
(magister
(magister

ekonomi
(magister

(magister

filsafat
(magister
(magister

(magister

hukum

agama)
ekonomi)
Islam)
filsafat)
Islam)
hukum)
humaniora)
Islam)

M.Kes.
M.Kom.
M.M.
M.P.
M.Pd.
M.Pd.I.
M.Psi.
M.Si.
M.Sn.
M.T. (magister teknik)

(magister
(magister
(magister
(magister
(magister
(magister

pendidikan
(magister
(magister
(magister

kesehatan)
komputer)
manajemen)
pertanian)
pendidikan)
Islam)
psikologi)
sains)
seni)

3. Cara Penulisan Gelar Doktor (S3)


Dr (doktor)

4. Cara Penulisan Gelar Diploma


Diploma satu (D1), sebutan profesional ahli pratama, disingkat A.P.
Diploma dua (D2), sebutan profesional ahli muda, disingkat A.Ma.
Diploma tiga (D3), sebutan profesional ahli madya, disingkat A.Md.
Diploma empat (D4), sebutan profesional ahli, disingkat A.

Cara Penulisan Gelar Menurut EYD


Cara penulisan gelar akademik mengikuti aturan yang berlaku dalam EYD, yaitu pada
aturan tentang penulisan singkatan, pemakaian tanda titik (.), dan pemakaian tanda koma
(,). Ketentuan lengkapnya sebagai berikut:
1. Setiap gelar ditulis dengan tanda titik sebagai antara antarhuruf pada singkatan
gelar yang dimaksud.
2. Gelar ditulis di belakang nama orang.
3. Antara nama orang dan gelar yang disandangnya, dibubuhi tanda koma.
4. Jika di belakang nama orang terdapat lebih dari satu gelar, maka di antara gelargelar tersebut disisipi tanda koma.
Contoh: Muhamad Ilyasa, S.H., S.E., M.M. Di antara nama dan gelar, terdapat tanda
koma. Di antara ketiga gelar, juga terdapat tanda koma. Di antara huruf-huruf singkatan
gelar, diberi tanda titik. Jika di antara nama dan gelar tidak dibubuhi tanda koma, maka
penulisan gelar tersebut salah dan singkatan tersebut tidak bermakna gelar, melainkan
bisa bermakna nama keluarga, marga, dan sebagainya. Jadi, Muhamad Ilyasa SH (tanpa
koma di antara nama dan SH) bisa berarti Muhamad Ilyasa Sutan Harun atau Muhamad
Ilyasa Saleh Hamid, dan sebagainya.
Penulisan gelar harus di belakang nama orang, cara penulisan gelar di depan nama orang
adalah salah.

Makna Penulisan Gelar


Penulisan gelar dilakukan untuk mengesahkan bahwa seseorang telah mengenyam
pendidikan tertentu dan berhasil menyelesaikan studinya pada jenjang pendidikan
tersebut. Pengesahan tersebut dituliskan dalam berbagai keterangan resmi seperti ijazah,
dokumen pendidikan, serta dokumen lain yang mewajibkan atau menganjurkan adanya
penulisan gelar setelah penulisan nama yang bersangkutan.
Selain untuk pengesahan atas pendidikan yang telah dijalani oleh pihak yang
bersangkutan, penulisan gelar juga memiliki makna dan fungsi bermacam-macam. Dalam
urusan tertentu, penulisan gelar dilakukan berdasarkan fungsi untuk menghormati dan
menghargai status sosial seseorang. Misalnya saja, penulisan gelar bagi orang yang
diundang untuk mendatangi acara tertentu.
Penulisan terbut juga dilakukan karena seringkali ada pihak-pihak tertentu yang merasa
tersinggung apabila gelarnya tidak dituliskan di dalam undangan. Padahal, secara etis,
penulisan gelar yang dilakukan pada undangan tidaklah bersifat wajib karena tidak
mengesankan makna tertentu selain makna status sosial.
Kasus lain yang juga membawa cara penulisan gelar adalah pada saat kita diminta untuk
mengisi form aplikasi tertentu, seperti formulir saat melamar pekerjaan, atau saat
mengajukan aplikasi tertentu kepada pihak atau instansi resmi yang bergerak di bidang
pendidikan dan keuangan.
Misalnya saja, pada saat mengikuti seminar, mengajukan aplikasi beasiswa, mengajukan
aplikasi pembuatan rekening Bank, atau aplikasi lainnya yang memang membutuhkan
informasi aktual mengenai pendidikan dan pekerjaan seseorang yang mengajukan
aplikasi tersebut.
Pada pengajuan aplikasi lamaran pekerjaan, penulisan gelar terkadang diperlukan sebagai
bukti sah atau tidaknya orang tersebut dalam pencapaian gelarnya. Meskipun ada bukti
lain yang lebih menjamin kebenaran fakta tersebut, namun penulisan gelar akademin
kasus ini wajib untuk dilakukan.

Mitos Penulisan Gelar


Di Negara maju, penulisan gelar bukanlah hal yang wajib dilakukan. Apalagi jika gelar
tersebut hanya dituliskan untuk kegiatan dan acara-acara kecil. Penulisan gelar hanya
akan dilakukan apabila acara dan kegiatan yang digelar menyangkut urusan akademik
dan jurusan yang sesuai dengan gelar yang didapatkan.
Akan tetapi, di Negara Indonesia, penulisan gelar seolah-olah menjadi hal penting yang
patut diperhatikan ketika kita mengetik atau menulis nama seseorang. Padahal, tidak ada
dalil atau keputusan pemerintah yang menyebutkan bahwa penulisan gelar merupakan
kewajiban seluruh manusia dalam menghargai martabat seseorang. Fenomena seperti

inilah yang patut dipertimbangkan oleh para pelaku akademik di Indonesia agar lebih
memahami makna gelar yang didapatkan oleh seseorang.
Masyarakat Indonesia harus lebih memahami apa yang ada di balik gelar yang didapatkan
seseorang itu, bukan justru menggadang-gadangkan gelar sebagai status yang perlu
dihormati dan dihargai. Masyarakat Indonesia harus lebih belajar lagi memahami makna
gelar yang sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari dibandingkan mitos kehormatan dan
penghargaan yang selama ini dianggap sebagai bagian dari gelar yang didapatkan
tersebut. Bahkan pada beberapa pelaku akademik sekalipun, penulisan gelar dalam judul
dan penulis sebuah buku masih saja diikutsertakan sebagai bagian dari eksistensi yang
wajib diketahui oleh pembaca umum.
Padahal, dalam daftar pustaka atau pustaka acuan suatu tulisan, gelar sepanjang apapun
yang didapatkan oleh seseorang tidak akan pernah dituliskan di situ. Itulah sebabnya,
mengapa masyarakat Indonesia masih saja menjadi Negara berkembang karena
kehidupan yang dijalani masyarakatnya masih saja berpangku tangan pada mitos yang
menyebar di lingkungan masyarakat tersebut.
Penulisan gelar yang bertumpuk, atau penulisan gelar pada konteks yang salah masih saja
menjadi satu masalah remeh yang merebak di kalangan masyarakat akdemis Indonesia.
Para pelaku akademik, terutama di bidang bahasa Indonesia, diharapkan mampu
memberikan pengaruh dan pemahaman yang baik terhadap masyarakat pelaku akdemik
lainnya agar memahami makna di balik gelar yang sudah dicapai banyak orang tersebut.
Penulisan gelar bukanlah hal utama dari apa yang harus kita dapatkan, melainkan hal apa
yang harus dilakukan untuk bisa merealisasikan ilmu dan pengetahuan yang sudah
didapatkan dari gelar yang kita capai tersebut. Dengan ilmu tersebutlah seseorang bisa
dihargai dan menghargai sesamanya tanpa memandang gelar atau tinggi rendahnya status
sosial dan pendidikan seseorang dibandingkan dengan dirinya.
Dengan pengetahuan dan wawasan yang luaslah manusia bisa menjadikan sistem
masyarakat menjadi tertata rapi, meskipun tidak ada penulisan gelar di dalamnya. Karena
sejatinya, penulisan gelar hanyalah cangkang dari apa yang telah kita capai sebelumnya.
Kebenarannya adalah segala tingkah laku dan upaya yang kita lakukanlah yang menjadi
gelar kita sebenarnya. Percuma mendapatkan gelar professor jika ia tidak bisa
memberikan kontribusi bagi kemajuan umat manusia.
Oleh karena itu, hindarilah memaknai gelar sebagai sesuatu yang tinggi secara artifisial.
Cara penulisan gelar hanyalah sebuah cara semu untuk membuktikan bahwa kita telah
mengenyam pendidikan tertentu, yang pada kenyataannya harus direalisasikan dalam
kehidupan sehari-hari dengan tindakan nyata dan upaya yang juga bermanfaat bagi
kehidupa
ww.pin.or.id, Email: pin@pin.or.id
BAB I

FORMAT PENULISAN KARYA ILMIAH


Skripsi, paper/makalah, laporan penelitian, dan lain sebagainya, memiliki
format penulisan tertentu untuk bisa disebut sebagai sebuah karya ilmiah.
Uraian di bawah ini membahas format penulisan karya ilmiah berupa skripsi
pada Program S-1 Pemerintahan Integratif. Namun beberapa poin penting dalam
format penulisan dimaksud bisa dipakai sebagai acuan dalam penulisan karya
ilmiah selain skripsi, seperti paper/makalah, artikel dalam jurnal ilmiah, dan lain
sebagainya.
A. Bahan dan Ukuran Kertas
Bahan dan ukuran kertas yang dipakai dalam sebuah karya ilmiah adalah
sebagai berikut:
1. Ukuran kertas: A4 (21 x 29,7 cm).
2. Jenis kertas: HVS 80 gram.
3. Kertas doorslag berwarna (sesuai dengan warna yang telah ditentukan)
dengan lambang Universitas Mulawarman sebagai pembatas.1
B. Pengetikan
Ketentuan-ketentuan dalam pengetikan sebuah karya ilmiah dirinci
sebagai berikut:
1. Menggunakan software pengolah kata dengan flatform Windows, seperti
MS Word, Excel, dan lain-lain.2
2. Jenis huruf yang digunakan adalah Times New Roman dengan
ukuran 12 kecuali untuk:
a. Halaman judul sampul/luar (hard cover) dan halaman judul dalam
(soft cover), yang menggunakan huruf tegak (kecuali istilah asing)
dan dicetak tebal (bold) dengan ukuran font mulai 12 sampai 16
(disesuaikan dengan panjang judul, lihat Lampiran).
b. Catatan kaki (footnotes), yang menggunakan font ukuran 10.
3. Huruf tebal (bold) digunakan untuk judul dan sub-judul (sub-bab, sub
sub-bab), memberi penekanan, pembedaan, dan sejenisnya.
4. Huruf miring (italic) digunakan untuk istilah dalam bahasa asing atau
bahasa daerah, memberi penekanan, pembedaan (termasuk pembedaan
sub-judul yang hirarkhinya tidak setingkat), dan sejenisnya. Judul sub
1 Khusus untuk Skripsi. Percetakan umumnya sudah menyediakan kertas pembatas ini.
2 Penggunaan software Open Source pengolah kata dengan flatform Linux, seperti Open
Office, diperbolehkan asalkan dalam penyerahan file dalam cakram digital (khusus untuk
skripsi), file tersebut sudah dikonversi ke PDF dan bisa dibaca dengan Windows.
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah dan Penyusunan Skripsi, PIN, 2008.
_
2
sub-sub-bab dibuat dengan mengkombinasikan huruf miring dan huruf
tebal (italic-bold atau bold-italic). Judul sub sub-sub-sub-bab dan
seterusnya dibuat dengan huruf miring biasa (italic).
5. Batas tepi (margin):
a. Tepi atas : 4 cm
b. Tepi bawah : 3 cm
c. Tepi kiri : 4 cm

d. Tepi kanan : 3 cm
6. Sela ketukan (ind3e nsi) selebar 1 cm. Indensi Tab dipakai pada baris
pertama alinea baru. Indensi gantung digunakan untuk daftar pustaka.
7. Spasi bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir:
a. Bagian awal dari karya ilmiah termasuk di dalamnya adalah
halaman judul, halaman pengesahan, halaman pernyataan, abstrak,
riwayat hidup, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar
dan daftar lampiran. Spasi yang digunakan adalah:
1) Pernyataan ditulis dengan spasi tunggal (lihat Lampiran).
2) Riwayat Hidup dan Kata Pengantar ditulis dengan spasi ganda.
3) Abstrak, antara 150-250 kata (dalam satu halaman) ditulis
dengan menggunakan spasi tunggal (lihat Lampiran).
4) Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Gambar, Daftar Lampiran
disusun dengan menggunakan spasi tunggal (lihat Lampiran).
5) Lainnya, lihat Lampiran.
b. Bagian isi karya ilmiah meliputi Bab I sampai BAB V, disusun
dengan menggunakan spasi ganda.
c. Bagian akhir karya ilmiah terdiri dari Daftar Pustaka, yang daftar
referensinya memakai spasi tunggal dan indensi gantung (jarak antar
referensi dengan spasi ganda), dan Lampiran yang ditulis dengan
spasi tunggal atau disesuaikan dengan bentuk/jenis lampiran.
6. Judul karya ilmiah, bab, sub bab, dan lain sebagainya:
a. Judul karya ilmiah dan bab, diketik dengan huruf besar/kapital,
dicetak tebal, tanpa singkatan (kecuali yang berlaku umum seperti
PT., CV.), posisinya di tengah halaman, dan tanpa diakhiri tanda
titik. Perkecualiannya adalah judul pada halaman Persetujuan
Seminar dan Pengesahan Skripsi (dengan huruf biasa, dicetak tebal).
b. Judul sub-bab diketik sejajar dengan batas tepi (margin) sebelah
kiri dengan menggunakan huruf A, B, C, dan seterusnya. Huruf
pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title Case)
kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul
sub-bab dicetak dengan huruf tebal (bold).
c. Judul sub sub-bab dimulai dengan angka 1, 2, 3 dan seterusnya.
Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title Case)
kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik.
Bagian Pertama: Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.
_
3
Judul sub sub-bab dicetak dengan huruf tebal (bold).
d. Judul sub sub-sub-bab dimulai dengan huruf a, b, c dan
seterusnya. Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar
(Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa
diakhiri titik. Judul sub sub-sub-bab dicetak dengan huruf tebalmiring
(bold-italic).
e. Judul sub sub-sub-sub bab dimulai dengan angka 1), 2), 3) dst.
(tanpa titik), dan judul sub sub-sub-sub-sub bab dimulai dengan

huruf a), b), c) dst. (tanpa titik). Huruf pertama setiap kata dimulai
dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata
depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub sub-sub-sub-bab dan sub subsubsub-sub-bab dicetak dengan huruf miring (italic).
f. Judul sub-bab, sub sub-bab, dan sub sub-sub-bab, dan seterusnya
(headings hierarchy) perlu dibedakan dengan rincian poin-poin atau
item-item (points/items hierarchy). Penulisan headings hierarchy
dimulai dari A, B, C, lalu 1, 2, 3, kemudian a, b, c, dan seterusnya
(lihat Box) dibuat sejajar dengan batas tepi kiri pengetikan (batas
margin kiri). Isi atau teksnya (alinea, kalimat) juga dibuat sejajar
dengan batas tepi kiri pengetikan dan awal kalimat dalam alinea baru
dibuat dengan indensi 1 cm). Sementara penulisan points/items
hierarchy tidak sejajar dengan batas tepi kiri pengetikan (batas
margin kiri), melainkan mengikuti poin-poin/item-item dimaksud
atau posisinya disesuaikan dengan memperhatikan estetika.
Penggunaan angka atau huruf awal untuk poin-poin atau item-item
juga disesuaikan (bisa dimulai dari 1,2,3 atau a, b, c).
Penulisan headings hierarchy (sub-judul) sejajar batas tepi kiri:
Batas tepi kiri pengetikan
A. Judul Sub-Bab (bold)
1. Judul Sub Sub-Bab (bold)
a. Judul Sub Sub-Sub-Bab (bold-italic)
1) Judul Sub Sub-Sub-Sub-Bab (italic)
2) Judul Sub Sub-Sub-Sub-Bab (italic)
b. Judul Sub Sub-Sub-Bab (bold-italic)
1) Judul Sub Sub-Sub-Sub-Bab (italic)
2) Judul Sub Sub-Sub-Sub-Bab (italic)
a) Judul Sub Sub-Sub-Sub-Sub-Bab (italic)
b) Judul Sub Sub-Sub-Sub-Sub-Bab (italic)
2. Judul Sub Sub-Bab (bold)
B. Judul Sub-Bab (bold)
1. Judul Sub Sub-Bab (bold)
2. Judul Sub Sub-Bab (bold)
Sejajar
dengan
batas
tepi kiri
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah dan Penyusunan Skripsi, PIN, 2008.
_
4
Penulisan points/items hierarchy (rincian poin-poin/item-item) tidak
sejajar dengan batas tepi kiri (masuk ke dalam, disesuaikan):
g. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang perbedaan
keduanya (headings hierarchy dan points/items hierarchy) dalam
sebuah teks/tulisan, lihat contohnya pada Lampiran.
h. Sepanjang memungkinkan, hindari penggunaan hirarkhi sub-judul

(headings hierarchy) yang terlalu banyak tingkatannya (sub sub-subsubbab dan seterusnya). Hal ini bisa dilakukan dengan
memanfaatkan penggunaan rincian poin-poin atau item-item
(points/items hierarchy).
7. Bilangan dan satuan:
a. Bilangan diketik dengan angka kecuali bilangan yang terletak
pada awal kalimat yang harus dieja. Contoh:
Umur mesin 10 tahun.
Sepuluh perusahaan besar dan seterusnya.
b. Bilangan desimal ditandai dengan koma (contoh: Rp1.150,25)
c. Satuan dinyatakan dengan singkatan resmi tanpa tanda titik (kg,
cm, dan lain-lain)
Batas tepi kiri pengetikan
A. Poin/Item
1. Sub-Poin/Item
a. Sub Sub-Poin/Item
1) Sub Sub-Sub-Poin/Item
2) Sub Sub-Sub-Poin/Item
b. Sub Sub-Poin/Item
1) Sub Sub-Sub-Poin/Item
2) Sub Sub-Sub-Poin/Item
a) Sub Sub-Sub-Sub-Poin/Item
b) Sub Sub-Sub-Sub-Poin/Item
(1) Sub Sub-Sub-Sub-Sub-Poin/Item
(2) Sub Sub-Sub-Sub-Sub-Poin/Item
(a) Sub Sub-Sub-Sub-Sub-Sub-Poin/Item
(b) Sub Sub-Sub-Sub-Sub-Sub-Poin/Item
2. Sub-Poin/Item
B. Poin/Item
1. Sub-Poin/Item
2. Sub-Poin/Item
Catatan: Poin/Item dan sub-subnya ditulis dengan huruf biasa,
kecuali untuk pemberian tekanan, istilah asing, dsb.
Tidak
sejajar
dengan
batas
tepi kiri
Bagian Pertama: Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.
_
5
d. Pecahan yang berdiri sendiri ditulis dengan angka, sedangkan
pecahan yang bergabung dengan bilangan bulat harus ditulis
dengan huruf/dieja. Contoh: tiga dua pertiga.
C. Penomoran Halaman
Ketentuan-ketentuan dalam penomoran halaman, seperti halamanhalaman

awal, halaman judul bab, halaman teks utama, dan lain sebagainya,
adalah sebagai berikut:
1. Bagian awal karya ilmiah (halaman judul, halaman pengesahan,
halaman pernyataan, abstrak, riwayat hidup, kata pengantar, daftar isi,
daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran) diberi nomor halaman
dengan angka romawi kecil (i, ii, iii, dan seterusnya) dan ditempatkan
di tengah bagian bawah. Halaman judul tidak diberi nomor, tetapi tetap
dihitung.
2. Mulai dari BAB I sampai dengan halaman terakhir pada Daftar Pustaka
diberi nomor halaman dengan angka latin (1, 2, 3, dan seterusnya).
Nomor halaman ditempatkan di sebelah kanan atas, kecuali bab baru
yang tidak diisi nomor halaman.
3. Data yang mendukung penelitian disajikan dalam lampiran yang
disajikan menurut kelompoknya tanpa diberi nomor halaman. Contoh:
Lampiran 1. Pedoman Wawancara
Lampiran 2. Peta Desa Mahak Baru
D. Tabel dan Gambar
Pembuatan dan penomoran Tabel dan Gambar mengikuti ketentuanketentuan
sebagai berikut:
1. Tabel
a. Tabel dalam bagian isi karya ilmiah berisi ringkasan data-data
penelitian yang penting. Data lengkapnya dapat disajikan pada
Lampiran.
b. Tabel disajikan di tengah, simetris/sejajar dengan batas tepi kiri dan
kanan pengetikan.
c. Kolom-kolom disusun dengan rapi sehingga mudah dibaca.
d. Jarak antara baris dalam tabel adalah satu spasi.
e. Garis batas tabel tidak melampaui batas tepi kertas.
f. Kolom tabel diletakkan sejajar dengan panjang kertas.
g. Tabel boleh diletakkan di tengah halaman di antara baris-baris
teks. Dalam hal ini jarak tabel dan kalimat di bawahnya adalah dua
spasi.
h. Di atas garis batas tabel dituliskan nomor dan judul tabel, dengan
ketentuan:
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah dan Penyusunan Skripsi, PIN, 2008.
_
6
1) Jika judul tabel terdiri dari dua baris atau lebih, maka spasi
yang digunakan adalah satu spasi. Baris terakhir judul terletak
dua spasi di atas garis batas atas tabel.
2) Nomor tabel terletak dua spasi di bawah baris terakhir teks.
Nomor tabel terdiri dari dua bagian, bagian pertama menunjukkan
nomor bab tempat tabel itu dimuat, dan bagian kedua
menunjukkan nomor urut tabel pada bab itu. Contoh: Tabel 2.5
menunjukkan bahwa tabel itu ada di BAB II dan tabel
urutan kelima pada bab itu.

i. Tabel yang memerlukan kertas yang lebih besar dari halaman


naskah dapat diizinkan, tetapi sebaiknya hanya tabel yang jika
dilipat satu kali sudah mencapai ukuran halaman naskah yang
dimasukkan dalam teks.
j. Dalam setiap tabel tentang data, di bawah tabel tersebut harus
dicantumkan sumbernya dengan ukuran huruf (font) 10 dengan
spasi tunggal (lihat Lampiran).
2. Gambar
a. Yang dimaksud dengan gambar adalah bagan, grafik, peta, diagram,
atau foto.
b. Garis batas gambar diletakkan sedemikian rupa sehingga garis batas
tersebut tidak melampaui batas tepi kertas.
c. Untuk gambar besar, ukurannya diatur agar sejajar dengan batas tepi
kiri dan kanan pengetikan; sedangkan untuk gambar kecil yang
tampilannya menjadi kurang bagus kalau diperbesar, atur ukuran dan
posisinya agar simetris dengan batas tepi halaman (tidak sejajar, tapi
jarak ke tepi kiri dan kanan sama).
d. Di atas gambar disajikan nomor dan judul gambar, dengan ketentuan:
1) Jika judul gambar terdiri dari dua baris atau lebih, spasi yang
digunakan adalah spasi tunggal. Baris terakhir judul terletak dua
spasi di atas gambar.
2) Nomor gambar terletak dua spasi di bawah baris terakhir teks.
Nomor gambar terdiri dari dua bagian. Bagian pertama
menunjukkan nomor bab tempat gambar itu dimuat, sedangkan
bagian kedua menunjukkan nomor urut tabel pada bab itu. Contoh:
Gambar 2.1 menunjukkan bahwa gambar tersebut adalah gambar
urutan pertama pada Bab II.
e. Gambar yang memerlukan halaman yang lebih besar dari halaman
naskah disajikan sebagai lampiran.
f. Jika ada keterangan gambar, keterangan tersebut ditulis pada tempat
kosong di bawah gambar (tidak diletakkan di halaman lain).
g. Contoh penyajian gambar bisa dilihat dalam Lampiran.
BAB II
PENGGUNAAN BAHASA
Pemilihan atau penggunaan bahasa merupakan hal yang sangat krusial
dalam penulisan karya ilmiah. Hal ini bertujuan agar apa yang disampaikan oleh
penulis skripsi bisa dipahami oleh pembaca. Oleh karenanya, gunakan bahasa
yang baik dan benar.
Ketentuan penggunaan bahasa dalam penyusunan karya ilmiah adalah
sebagai berikut:
1. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia baku sebagaimana
termuat dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang
Disempurnakan (EYD) (lihat Lampiran).
2. Kalimat yang dibuat mesti lengkap, dalam arti ada subyek, predikat,
obyek dan/atau keterangan.
3. Satu paragraf terdiri dari minimal dua kalimat, yakni kalimat inti dan

kalimat penjelas.
4. Istilah yang digunakan adalah istilah Indonesia atau yang sudah diIndonesia-kan.
5. Istilah (terminologi) asing boleh digunakan jika memang belum ada
padanannya dalam bahasa Indonesia atau bila dirasa perlu sekali (sebagai
penjelas/konfirmasi istilah, diletakkan dalam kurung), dan diketik dengan
menggunakan huruf miring.
6. Kutipan dalam bahasa asing diperkenankan namun harus diterjemahkan
atau dijelaskan maksudnya, dan ditulis dengan huruf miring (italic).
7. Hal-hal yang harus dihindari:
a. Penggunaan kata ganti orang pertama atau orang kedua (saya, aku,
kami, kita, kamu). Pada penyajian ucapan terima kasih di bagian Kata
Pengantar, istilah saya diganti dengan penulis.
b. Menonjolkan penulis dalam menguraikan penelitian.
c. Pemakaian tanda baca yang tidak tepat.
d. Penggunaan awalan di dan ke yang tidak tepat (harus dibedakan
dengan fungsi di dan ke sebagai kata depan).
e. Memberikan spasi antara tanda hubung atau sebelum koma, titik,
titik koma, titik dua, tanda tanya, tanda kurung, dan sejenisnya.
f. Penggunaan kata yang kurang tepat pemakaiannya dalam penulisan
karya ilmiah.
Beberapa contoh kesalahan yang sering dijumpai dalam penyusunan
skripsi beserta koreksinya adalah sebagai berikut:
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah dan Penyusunan Skripsi, PIN, 2008.
_
8
Contoh 1: Hubungan Subyek dan Predikat
Salah:
Benar:
Benar:
Contoh 2: di dan ke sebagai kata depan dan awalan
Salah:
Benar:
Menurut Ichlasul Amal (1994) mengatakan bahwa pemerintah
Indonesia menghadapi dilema dalam melakukan desentralisasi dan
demokratisasi.
Menurut Ichlasul Amal (1994), pemerintah Indonesia menghadapi
dilema dalam melakukan desentralisasi dan demokratisasi.
Ichlasul Amal (1994) mengatakan bahwa pemerintah Indonesia
menghadapi dilema dalam melakukan desentralisasi dan
demokratisasi.
Sistem pemerintahan ditingkat desa telah di sempurnakan. Di lihat
dari perspektif politik, Kepala Desa yang di pilih langsung memiliki
posisi tawar yang lebih di banding Kepala Desa yang di tunjuk.
Karenanya, arus aspirasi otonom dari bawah keatas mengalir deras.
Sistem pemerintahan di tingkat desa telah disempurnakan. Dilihat

dari perspektif politik, Kepala Desa yang dipilih langsung memiliki


posisi tawar yang lebih besar dibanding Kepala Desa yang ditunjuk.
Karenanya, arus aspirasi otonom dari bawah ke atas mengalir deras.
Bagian Pertama: Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.
_
9
Contoh 3: Penggunaan tanda kurung
Salah:
Benar: (kata di dalam kurung tanpa spasi)
Contoh 4: Penggunaan huruf besar dan kecil
Salah:
Benar:
Contoh 5: Penggunaan tanda baca
Salah:
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ( ABRI ) telah
direorganisasi menjadi Tentara Nasional Indonesia ( TNI ) dan
Kepolisian Republik Indonesia ( Polri ).
Angkatan Bersenjata Republik Indones (ABRI) telah direorganisasi
menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik
Indonesia (Polri).
Kecamatan long iram terdiri dari beberapa Desa, yang sebagian di
antaranya tidak bisa dijangkau dengan transportasi darat.
Kecamatan Long Iram terdiri dari beberapa desa, yang sebagian di
antaranya tidak bisa dijangkau dengan transportasi darat.
Bagaimanakah hubungan antara identifikasi partai dengan voting
behaviour dalam pemilihan umum ?
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah dan Penyusunan Skripsi, PIN, 2008.
_
10
Salah:
Benar: (tanpa spasi sebelum tanda tanya, tanpa titik setelah tanda tanya)
Contoh 7: Jika-maka
Salah:
Benar: (tanda tanya tanpa spasi dan tidak ada titik setelah tanda tanya)
Bagaimanakan hubungan antara identifikasi partai dengan voting
behaviour dalam pemilihan umum?
Jika pemerintah pusat tidak hanya memberi otonomi administrasi
tapi juga otonomi polittik. Maka daerah otonom akan lebih leluasa
dalam menyelesaikan persolan-persoalan di daerahnya.
Jika pemerintah tidak hanya memberi otonomi administrasi tapi juga
otonomi politik, maka daerah otonom akan lebih leluasa dalam
penyelesaikan persoalan-persoalan di daerahnya.
Bagaimanakan hubungan antara identifikasi partai dengan voting
behaviour dalam pemilihan umum?.
BAB III
RUNNING NOTES DAN FOOTNOTES

A. Running Notes (Referensi Langsung):


Running notes atau referensi langsung adalah penyebutan sumber yang
dirujuk (referensi) yang diletakkan di teks utama sebuah karya ilmiah. Running
notes dibuat dengan format: (Nama keluarga/belakang pengarang Tahun) atau
Nama lengkap atau keluarga/belakang (Tahun). Contoh:
Atau:
Jika referensinya dua pengarang atau lebih, pemisahannya memakai tanda ,
(koma). Contoh:
Jika referensinya dua buku dengan tahun terbit yang berbeda tapi ditulis oleh
pengarang yang sama, maka penulisannya adalah sebagai berikut:
Partai yang perolehan suaranya kurang dari satu persen
disebut sebagai partai desimal (Haris 2006).
Syamsudin Haris (2001) memberi terminologi partai desimal untuk
partai yang perolehan suara suaranya kurang dari satu persen.
Menurut Harold Crouch (1979, 1988), keterlibatan militer (military
intervention) dalam politik disebabkan oleh faktor internal dan
eksternal.
Pembahasan yang mendalam tentang militer dan politik di Indonesia
banyak dilakukan oleh para ilmuwan politik asing (Crouch 1979,
Jenkins 1986, Sundhausen 1990, Singh 1988), yang pokok
bahasannya bisa dipetakan dalam berbagai perspektif pemikiran
berkenaan dengan hubungan sipil-militer di negara berkembang.
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah dan Penyusunan Skripsi, PIN, 2008.
_
12
Jika referensinya dua buku dengan tahun terbit berbeda yang ditulis oleh
pengarang yang sama dan buku lainnya oleh pengarang lain, pemisahannya
memakai tanda ; (titik koma).
Tanda baca ; (titik koma) juga dipakai untuk menghindari kekeliruan
penggunaan tanda , (koma) dalam pemisahan referensi yang satu dengan
referensi yang lainnya dan dalam referensi yang ditulis oleh tiga pengarang.
Contoh:
Atau:
Jika referensinya berupa alamat website atau URL (Universal Resource
Locator) yang pendek, running notes bisa dibuat dengan menyebut URL-nya,
yang hyperlinknya dihilangkan (remove hyperlink)3 dan dicantumkan tanggal
aksesnya. Contoh:
3 Hyperlink dihilangkan maksudnya link langsung ke alamat website tersebut ditiadakan
sehingga tidak ada lagi alamat website (URL) berwarna selain hitam dan atau dengan
garis
bawah (estetika dan konsistensi teks) dan link tersebut tidak langsung bisa diklik. Untuk
mengaksesnya, URL tersebut harus di-copy dan paste di browser.
Pembahasan tentang peranan militer dalam politik di Indonesia
banyak dilakukan oleh para ilmuwan politik asing (Crouch 1979,
1988; Jenkins 1986; Singh 1988), yang kajian-kajiannya bisa
dipetakan dalam berbagai perspektif pemikiran.

Di wilayah Asia Pasifik, Filipina merupakan salah satu negara


terdepan dan menjadi pionir dalam mengembangkan inovasi untuk
melakukan devolusi pengelolaan sumber daya alam (Dahal &
Capistrano 2006; Pulhin, Inoue & Enters 2007).
Kebijakan terbaru dalam pelembagaan proses devolusi pengelolaan
sumberdaya alam ditulis oleh beberapa pihak (DENR 2003; Magno
2003; Pulhin, Inoue & Enters 2007).
Bagian Pertama: Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.
_
13
B. Footnotes (Catatan Kaki):
Catatan kaki adalah catatan di kaki halaman yang dipergunakan untuk
memberikan penjelasan tambahan atau mencantumkan URL panjang. Jika di
dalam catatan kaki ada referensi, referensinya dibuat dalam bentuk running
notes. Besar font catakan kaki adalah lebih kecil dari teks utama, yakni dengan
besar font 10.
1. Catatan Kaki Berisi Penjelasan
Catatan kaki bisa digunakan jika penulis ingin memberi penjelasan
tambahan sebuah istilah, frase, kalimat, dan sejenisnya. Pemakaian catatan kaki
dengan penjelasan bisa dilihat dalam contoh berikut:
Menurut Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, Gerdabangagri adalah
program pembangunan yang memfokuskan diri pada peningkatan
kualitas sumberdaya manusia, perbaikan ekonomi rakyat, dan
pembangunan pertanian (www.kutaitimur.go.id, diakses 6 Juni 2007).
Dalam bidang pembangunan pertanian, kegiatan diarahkan pada
kegiatan pertanian yang mendukung agribisnis.
Jumlah kabupaten/kota yang ada di Kalimantan Timur terus
bertambah.1 Pertambahan ini tentu punya implikasi terhadap
meluasnya pemanfaatan lahan untuk perkantoran, perumahan, dan
kegiatan bisnis.
______________
1Dalam rentang waktu yang cukup lama (era Orde Baru), kabupaten/ kotamadya
di Kaltim berjumlah enam buah (Balikpapan, Samarinda, Kutai, Bulungan,
Berau, Pasir). Pada pasca Orde Baru, jumlah kabupaten/kota meningkat dratis
menjadi 13 (Paser, Penajam Paser Utara, Balikpapan, Samarinda, Kutai
Kartanegara, Kutai Barat, Kutai Timur, Bontang, Bulungan, Berau, Tarakan,
Malinau, Nunukan), dan baru-baru ini ada penambahan satu kabupaten lagi,
yakni Kabupaten Tanah Tidung, sehingga sekarang terdapat 14 Kabupaten/Kota
di Kalimantan Timur.
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah dan Penyusunan Skripsi, PIN, 2008.
_
14
2. Catatan Kaki Berisi Penjelasan dan Running Notes
Catatan kaki bisa juga digunakan jika penulis ingin memberi penjelasan
tambahan, lengkap dengan referensinya. Contoh catatan kaki yang menjelaskan
suatu teks lengkap dengan referensinya adalah sebagai berikut:

3. Catatan Kaki Berisi URL Panjang.


Referensi langsung yang berupa alamat website (URL) panjang
dicantumkan di catatan kaki, hyperlinknya dihilangkan dan tanggal aksesnya
dicantumkan. Jika URL-nya tidak cukup dalam satu baris, pemisahan dilakukan
di belakang tanda baca (/, _, +, =, dan lain sebagainya), angka, atau
kata tertentu. Contoh:
Secara umum, aksi kolektif (collective action) didefinisikan sebagai
semua aksi yang dilakukan secara kolektif untuk mencapai tujuan
kolektif atau mendapatkan barang-barang/sarana-prasarana kolektif
(collective good2) (Olson 1965, 1971; Marwell & Oliver 1993).
______________
2Beberapa ahli mendefinisikan collective good sebagai barang, fasilitas, saranaprasarana,
dan sejenisnya, yang mana individu-individu tertarik atau tak bisa
lepas dengannya (karena mereka merasa akan memperoleh manfaat darinya) dan
jika diberikan ke atau digunakan oleh orang lain, siapa saja (semua individu)
akan tetap bisa menggunakan atau memanfaatkan collective good itu (Marwell
dan Oliver 1993:4). Lihat juga Oberschall (1997).
Setelah revolusi Amerika dan Perancis, wacana yang muncul adalah
apakah untuk membatasi kediktatoran mayoritas diperlukan adanya
lembaga Senat (Upper Chamber).
_________________
http://en.wikipedia.org/wiki/Democracy#Constitutional_monarchs_and_upper_
chambers (diakses 15 April 2008).
BAB IV
PENULISAN KUTIPAN DAN REFERENSI
PADA TEKS UTAMA
Mentaati etika ilmiah dalam pengutipan dengan menyebutkan sumber
kutipan akan menghindarkan diri dari perbuatan melakukan plagiasi atau
plagiarisme. Bab ini membahas jenis-jenis kutipan dan ketentuan penyebutan
sumber rujukan, yang di dalamnya meliputi pembahasan cara-cara pengutipan.
A. Jenis-Jenis Kutipan
1. Kutipan Langsung
Kutipan langsung (direct quotation) adalah kutipan hasil penelitian, hasil
karya, atau pendapat orang lain yang penyajiannya sama persis dengan teks
aslinya (yang dikutip). Dalam merujuk sumber kutipan di teks utama, sebutkan
referensinya dengan menulis nama pengarang, tahun penerbitan, dan nomor
halamannya.
a. Jika jumlah kata kutipan tidak lebih dari tiga baris, kutipan tersebut
diketik dengan jarak dua spasi dan diberi tanda petik. Contoh:
b. Jika jumlah kata kutipan lebih dari tiga baris, kutipan diketik pada
garis baru, sejajar dengan awal alinea baru, berjarak satu spasi, dan
tanpa tanda petik:
Ratnawati (2006:148) menegaskan bahwa Hasil pemilu 1999 dan
pemilu 2004 secara gamblang menunjukkan bahwa PDI-P leading
di Kabupaten Bantul.
Menurut Miriam Budiardjo (1992:4-5), dalam pemilu yang

menggunakan sistem distrik:


negara dibagi dalam sejumlah besar distrik pemilihan (kecil)
yang kira-kira sama jumlah penduduknya. Jumlah penduduk
distrik berbeda dari satu negara ke negara lain, misalnya di
Inggris jumlah penduduknya kira-kira 500.000 orang dan
India lebih dari 1 juta orang. Karena satu distrik hanya berhak
atas satu wakil, maka calon yang memperoleh suara pluralitas
(suara terbanyak) dalam distriknya menang.
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah dan Penyusunan Skripsi, PIN, 2008.
_
16
Atau (jika huruf n kecil dalam kata negara diganti dengan huruf
N besar dalam kata Negara):
c. Jika kutipan memakai bahasa asing, kutipannya ditulis dalam huruf
miring. Contoh:
d. Jika mengutip bukan dari buku/sumber aslinya, melainkan dari
pengarang lain (mengutip sebuah kutipan), maka tambahkan kata
dalam ketika menyebut referensinya. Contoh: Afan Gaffar menulis
sebuah buku dan di dalam bukunya ia mengutip pendapat Giovanni
Sartori; penulis skripsi kemudian mengutip pendapat Sartori yang
terdapat dalam buku Gaffar tersebut; maka penulisan referensinya
adalah sebagai berikut:
Berkenaan dengan peradaban, Huntington (1996:303) mengatakan
sebagai berikut:
The overriding lesson of the history of civilization, however,
is that many things are probable but nothing is inevitable.
Civilizations can and have reformed and renewed themselves.
The central issue for the West is whether, quite apart from
any external challenges, it is capable of stoping and
reversing the internal processes of decay.
Menurut Sartori (dalam Gaffar 1992:37), [t]he hegemonic party
system neither allows for a formal nor a defacto competition for
power. Other parties are permitted to exist, but as second class,
licensed parties.
Menurut Miriam Budiardjo (1992:4-5), dalam pemilu yang
menggunakan sistem distrik:
[N]egara dibagi dalam sejumlah besar distrik pemilihan
(kecil) yang kira-kira sama jumlah penduduknya. Jumlah
penduduk distrik berbeda dari satu negara ke negara lain,
misalnya di Inggris jumlah penduduknya kira-kira 500.000
orang dan India lebih dari 1 juta orang. Karena satu distrik
hanya berhak atas satu wakil, maka calon yang memperoleh
suara pluralitas (suara terbanyak) dalam distriknya menang.
Bagian Pertama: Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.
_
17

Atau:
2. Kutipan Tidak Langsung
Kutipan tidak langsung (indirect quotation) merupakan kutipan hasil
penelitian, hasil karya, atau pendapat orang lain yang penyajiannya tidak sama
dengan teks aslinya, melainkan menggunakan bahasa atau kalimat
penulis/peneliti sendiri. Dalam pengutipan ini, sumber rujukan harus
disebutkan, baik dengan nomor halaman atau tanpa nomor halaman.
Paling sedikit ada dua jenis kutipan tidak langsung atau ada dua cara
dalam mengutip secara tidak langsung. Pertama, dengan meringkas,
menyimpulkan, atau merujuk pokok-pokok pikiran orang lain. Contoh:
Penyusun skripsi yang meringkas atau merujuk pokok-pokok pikiran (pendapat)
Huntington tentang gelombang demokratisasi di dunia ini dalam bukunya The
Third Wave of Democratization:
Kedua, dengan melakukan paraphrase, yakni pengubahan struktur/susunan
kalimat aslinya menjadi kalimat lain tanpa mengubah isi atau subtansi
kalimat/alinea. Contoh:
Seorang pakar ilmu politik, yang banyak mengamati perilaku partai
politik, mengatakan bahwa [t]he hegemonic party system neither
allows for a formal nor a defacto competition for power. Other
parties are permitted to exist, but as second class, licensed parties
(Sartori, dalam Gaffar 1992:37).
Gelombang demokratisasi yang ada di dunia ini bisa dibagi menjadi
tiga periode, yakni demokratisasi gelombang pertama yang
berlangsung antara 1828-1926, demokratisasi gelombang kedua yang
terjadi antara 1943-1962, dan demokratisasi gelombang ketiga yang
dimulai dari tahun 1974 sampai tahun1990-an (Huntington 1991).
Mengingat sekarang masih banyak rejim-rejim otoriter, apakah akan
ada gelombang demokratisasi keempat?
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah dan Penyusunan Skripsi, PIN, 2008.
_
18
Kalimat asli yang dibuat oleh Miriam Budiardjo:
Kalimat paraphrasenya:
B. Pencantuman Referensi Kutipan atau Sumber Rujukan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mencantumkan referensi atau
sumber rujukan sebuah kutipan beserta contoh-contohnya adalah sebagai
berikut:
1. Ketentuan-ketentuan umum dalam pengutipan sebuah teks:
a. Cantumkan nama pengarang dan tahun terbit dengan format
sebagaimana yang telah disebutkan, yakni (Nama keluarga/belakang
Tahun) atau Nama lengkap atau keluarga/belakang (Tahun). Gelar
pengarang tidak disebutkan; Tahun ditulis dengan angka empat digit.
b. Untuk kutipan langsung, nomor halaman harus disebutkan.
c. Untuk kutipan tidak langsung, nomor halamannya bisa disebutkan
atau bisa juga tidak disebutkan (disesuaikan, bila dirasa perlu, dsb).
d. Gunakan tanda baca : (titik dua) di antara tahun dan nomor

halaman, diketik tanpa spasi.


Berkenan dengan sistem pemilu, Miriam Budiardjo mengatakan:
Pada umumnya kita kenal dua sistem pemilu, masing-masing
dengan beberapa variasinya. Dalam sistem distrik, satu
wilayah (yaitu distrik pemilihan) memilih satu wakil tunggal
(single-member constituency) atas dasar pluralitas (suara
terbanyak). Dalam system proporsional, satu wilayah (yaitu
daerah pemilihan) memilih beberapa wakil (multi-member
contituency), yang jumlahnya ditentukan atas dasar rasio,
misalnya 400.000 penduduk (Budiardjo 1982:4)
Sistem distrik dan sistem proporsional adalah dua jenis sistem
pemilihan umum yang paling populer, yang masing-masing sistem ini
memiliki variannya sendiri-sendiri. Dalam sistem distrik, jumlah
pemenangnyayang akan menjadi wakil di parlemenadalah satu
orang, sedangkan dalam sistem proporsional jumlah wakil yang akan
mewakili suatu daerah pemilihan adalah beberapa orang sesuai
dengan proporsi perolehan suaranya (Budiardjo 1982:4).
Bagian Pertama: Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.
_
19
2. Referensi kutipan bisa diletakkan di awal kalimat, di tengah kalimat, dan
di akhir kalimat/kutipan. Contoh dari masing-masing referensi kutipan
ini adalah sebagai berikut:
Contoh 1 (referensi di awal kalimat):
Contoh 2 (referensi di tengah kalimat):
Contoh 3 (referensi di akhir kalimat/kutipan):
Rozi et al. (2006:5) mengamati bahwa meluasnya pertikaian antar
masyarakat beberapa saat setelah Orde Baru tumbang dikarenakan
gagalnya upaya-upaya penghentian kekerasan atau dalam beberapa
kasus tampak adanya indikasi pembiaran oleh aktor-aktor Negara.
Berkenaan dengan meluasnya pertikaian antar masyarakat beberapa
saat setelah Orde Baru tumbang, Rozi et al. (2006:5) mengamati
bahwa gagalnya upaya-upaya penghentian kekerasan atau dalam
beberapa kasus tampak adanya indikasi pembiaran oleh aktor-aktor
Negara.
Rozi dan beberapa ahli mengamati bahwa meluasnya pertikaian antar
masyarakat beberapa saat setelah Orde Baru tumbang dikarenakan
gagalnya upaya-upaya penghentian kekerasan atau dalam beberapa
kasus tampak adanya indikasi pembiaran oleh aktor-aktor Negara
(Rozi et al. 2006:5).
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah dan Penyusunan Skripsi, PIN, 2008.
_
20
Penyebutan referensi di akhir kalimat/kutipan seperti tersebut di atas
sering sangat diperlukan dalam kutipan tak langsung (mis. paraphrase)
untuk menunjukkan kepada pembaca tentang bagian mana yang

merupakan pendapat pengarang A, pengarang B, penulis/peneliti, dan lain


sebagainya. Contoh:
3. Jika suatu tulisan mempunyai dua atau tiga penulis, gunakan kata dan
dalam teks tetapi gunakan simbol & dalam rujukan referensi langsung
(running notes).
Contoh 1:
Max Weber telah meletakkan prinsip-prinsip dasar birokrasi yang
rasional agar bisa melayani masyarakat dengan baik. Namun birokrasi
yang gemuk dan kompleks, bisa menimbulkan masalah. Dalam
pandangan Osborne dan Plastrik (2001), birokrasi yang gemuk dan
lamban perlu dipangkas agar lebih efisien dan lincah dalam merespon
permintaan layanan dari masyarakat.
Sistem distrik dan sistem proporsional adalah dua jenis sistem
pemilihan umum yang paling populer, yang masing-masing sistem ini
memiliki variannya sendiri-sendiri. Dalam sistem distrik, jumlah
pemenangnyayang akan menjadi wakil di Dewan Perwakilan
Rakyatadalah satu orang, sedangkan dalam sistem proporsional
jumlah wakil yang akan mewakili suatu daerah pemilihan adalah
beberapa orang sesuai dengan proporsi perolehan suaranya
(Budiardjo 1982). Mengenai sistem mana yang lebih cocok untuk
diterapkan di suatu negara, hal ini tergantung dari sejarah negara yang
bersangkutan, kesiapan penduduk, geografi wilayah, dan lain
sebagainya (Gaffar 1999).
Bagian Pertama: Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.
_
21
Contoh 2:
Contoh 3:
4. Untuk dua sampai tiga pengarang, sebutkan nama mereka semuanya
(misalnya: Torgerson, Andrew & Smith 2001), sedangkan untuk empat
atau lebih penulis, gunakan et al. (misalnya: Rozi et al. 2001).
5. Untuk mengutip lebih dari satu tulisan yang ditulis oleh seorang
penulis, gunakan huruf kecil a, b, c untuk mengidentifikasi tulisan
yang dipublikasikan pada tahun yang sama oleh penulis yang sama.
Contoh: (Thompson 2000a) dan (Thompson 2000b). Kemudian
gunakan 2000a dan 2000b untuk tahun terbitnya dalam Daftar
Pustaka.
6. Jika penulisnya adalah korporat, lembaga, atau organisasi yang namanya
cukup panjang, nama lengkap dari korporat, lembaga, atau organisasi ini
ditulis ketika pertama kali disebut dan singkatannya diletakkan dalam
tanda kurung. Untuk selanjutnya, penyebutannya cukup singkatannya
Dalam pandangan Osborne dan Plastrik, birokrasi yang gemuk dan
lamban perlu dipangkas agar lebih efisien dan lincah (Osborne &
Plastrik 2001). Upaya-upaya seperti ini bisa mendorong penciptaan
akuntabilitas dan responsibilitas birokrasi (Thoha 2006).
Kata strategi dulunya dipakai di kalangan militer atau dalam

peperangan. Kata ini berasal dari kata strategos dari Yunani yang
berarti jenderal. Jenderal yang baik memulai dengan menyusun
strategi: bukan rencana operasional, tetapi pendekatan yang mampu
mengubah keseimbangan kekuatan di lapangan (Osborne & Plastrik
2001:31).
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah dan Penyusunan Skripsi, PIN, 2008.
_
22
saja. Penulisan referensi dalam running notes adalah singkatannya.
Contoh:
.
7. Sumber dari Majalah/Koran
a. Majalah:
b. Koran:
United Nations Economic and Social Commission for Asia and the
Pacific (UNESCAP) memakai terminologi governance dalam
beberapa konteks, seperti corporate governance, national
governance, dan local governance (UNESCAP 2005). Pemakaian
istilah governance dalam beberapa konteks oleh UNESCAP ini
kemudian dirujuk oleh banyak ahli (lihat Holtz 2002, Conyon 2008,
Lee & Yoo 2008, Bauwhede & Willekens 2008).
Peringkat universitas-universitas yang ada di Indonesia berada jauh
di bawah dibandingkan dengan beberapa universitas lain di Asia. UI,
misalnya, masuk dalam peringkat 395, sementara ITB dan
Universitas Gajah Mada masing-masing masuk peringkat 369 dan
60 (Tempo, 17 Februari 2008).
Sebagaimana terjadi di beberapa negara sedang berkembang, di
Indonesia juga ditemukan bahwa bahwa banyak kasus korupsi yang
terjadi atas nama pemberantasan korupsi (Kompas, 11 Maret 2008).
Bagian Pertama: Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.
_
23
8. Sumber Online
a. Sebuah sumber online dikutip dengan cara yang sama seperti
sumber yang dicetak, yakni dengan mencantumkan nama
penulis/organisasi, nama website, atau pemilik website diikuti oleh
tahun publikasi dan tanggal akses (URL-nya dicantumkan di Daftar
Pustaka).
b. Jika hanya ada nama penulis/organisasi tanpa tahun terbit, cantumkan
tahun terbit dengan n.d. (no data) dan tanggal akses (URL-nya
dicantumkan di Daftar Pustaka). Contoh:
c. Jika tidak ada nama penulis/organisasi/pemilik website/nama website
dan tahun penerbitan atau keduanya tidak jelas:
1) Bila URLnya relatif pendek, cantumkan URL-nya dan tanggal
akses.
2) Bila URL-nya relatif panjang, cantumkan URL dan tanggal akses

pada catatan kaki (footnote) dengan ukuran huruf 10. Contoh


penulisan: lihat Bab III huruf B nomor 3 pada Bagian Pertama
buku ini.
(Schino 2001, diakses 12 Juni 2007)
(UNESCO 2006, diakses 17 Mei 2007)
(ICG 2008, diakses 12 Maret 2008)
(Amnesty International 2007, diakses 27 Mei 2008)
(Anderson n.d., diakses 8 Maret 2007)
(FAO n.d., diakses 27 Oktober 2006)
(FreedomHouse n.d., diakses 12 Juli 2007)
(www.freethinking.com, diakses 8 Juli 2007)
(www.pol4u.com, diakses 27 Maret 2006)
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah dan Penyusunan Skripsi, PIN, 2008.
_
24
9. Penulisan Hasil Wawancara
a. Mengutip beberapa kata penting dari ucapan narasumber:
Dalam mengutip hasil wawancara, penulis bisa mengutip beberapa
kata kunci/penting yang pendek yang disampaikan oleh narasumber
atau responden guna memberi tekanan atau untuk menunjukkan
bukti verbal kepada pembaca. Contoh:
b. Mengutip kalimat yang diucapkan oleh narasumber apa adanya:
Pengutipan kalimat narasumber apa adanya (persis seperti yang
disampaikan oleh narasumber) yang jumlah katanya tidak lebih dari
tiga baris atau lebih dari tiga baris mengikuti aturan penulisan
Kutipan Langsung sebagaimana dijelaskan di depan.
Contoh kutipan wawancara yang tidak lebih dari tiga baris:
Berkenaan dengan kegiatan pembalakan liar (illegal logging),
seorang tokoh masyarakat mengatakan bahwa kegiatan illegal
logging di wilayah ini sudah sangat parah, dan upaya untuk
membasminya seperti menegakkan benang basah (Suparlan,
wawancara, 21 Juli 2007).
Desa ini merupakan basis dari Partai X sehingga tidak
mengherankan bila Partai X selalu menang dalam beberapa kali
Pemilu. Namun dalam Pemilu yang baru saja usai Partai X
dikalahkan secara telak oleh Partai Y. Menurut seorang tokoh
masyarakat, partai ini bisa menang telak karena partai Y melakukan
serangan fajar dengan cara membagi-bagikan uang dalam
jumlah yang tidak sedikit (Anonim, wawancara, 28 Februari
2008).
Bagian Pertama: Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.
_
25
Contoh kutipan wawancara yang lebih dari tiga baris:
c. Merujuk, meringkas, atau menyimpulkan ucapan narasumber:
d. Kutipan wawancara untuk menghindari pengulangan-pengulangan:

Ada perbedaan pendapat tentang hal ini. Sekretaris Desa, Budi


Rahman, mengatakan bahwa semua prosedur sudah dilakukan
(wawancara, 12 Mei 2007), sementara seorang tokoh masyarakat,
Fadjar Susanto, mengatakan bahwa masih ada prosedur yang belum
dilakukan (wawancara, 24 Juni 2007).
Berkenaan dengan kegiatan pembalakan liar (illegal logging),
seorang tokoh masyarakat mengatakan sebagai berikut:
Kegiatan illegal logging di wilayah ini sudah sangat parah,
dan upaya untuk membasminya seperti menegakkan benang
basah. Banyak pihak yang terlibat, mulai dari oknum-oknum
aparat sampai masyarakat sendiri. Semuanya punya alasan
atau logikanya sendiri-sendiri mengapa mereka tetap
melakukan, mendukung, atau menutup mata atas kegiatan
tersebut. Jika hutan itu nanti tandus, apa yang masih bisa kita
wariskan kepada anak cucu kita? (Suparlan, wawancara, 21
Juli 2007).
Sekretaris Desa, Budi Rahman, mengatakan bahwa semua prosedur
sudah dilakukan (wawancara, 12 Mei 2007). Hal senada juga
disampaikan oleh Ketua LPM (wawancara, 15 Mei 2007), Ketua
Kadarkum (wawancara, 24 Juni 2007), dan Ketua PKK (wawancara,
5 Juli 2007).
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah dan Penyusunan Skripsi, PIN, 2008.
_
26
10. Referensi Komunikasi Personal
Komunikasi personal adalah komunikasi yang dilakukan secara
pribadi/personal dengan narasumber dan bukan berbentuk wawancara
terstruktur atau semi-terstruktur. Komunikasi personal termasuk hasil
percakapan, surat-menyurat, komunikasi melalui email, telepon, dan lain
sebagainya. Sumber rujukan narasumber hanya dicantumkan di teks
utama (tidak dicantumkan di Daftar Pustaka). Contoh:
Di desa yang kelihatannya damai, tentram, dan sejuk ini, situasinya
sebenarnya seperti bara dalam sekam dan berpotensi terjadinya
konflik frontal. Menurut seorang tokoh masyarakat, Budiarso,
konflik yang terpendam ini sudah terjadi sejak lama (komunikasi
personal, 12 Maret 2008). Narasumber lain menjelaskan, pemicu
ketegangan tersebut adalah persaingan pribadi antara dua mantan
calon Kepala Desa, yang memakai isu etnis dalam memobilisasi
massanya (Anonim, komunikasi personal, 27 Mei 2008). Hal ini
dikonfirmasi oleh seorang peneliti dari Italia yang sudah lama
tinggal di desa itu (Jenny Eghenter, komunikasi personal, 3 Juni
2008).
BAB IV
PENULISAN DAFTAR PUSTAKA
A. Ketentuan Umum
Ketentuan-ketentuan umum penulisan Daftar Pustaka dalam sebuah karya

ilmiah adalah berikut:


1. Hanya referensi-referensi yang disebut dalam teks utama yang
dimasukkan dalam daftar referensi. Gunakan judul Daftar Pustaka pada
halaman yang memuat daftar referensi.
2. Referensi-referensi berupa hasil komunikasi personal, wawancara, dan
sejenisnya, tidak dimasukkan dalam Daftar Pustaka (kecuali hasil
wawancara yang dimuat dalam suatu penerbitan).
3. Gelar pengarang tidak dicantumkan.
4. Daftar referensi disusun menurut abjad dengan satu spasi.
5. Ketik baris pertama dari setiap referensi rata kiri, dan baris selanjutnya
masuk ke dalam (hanging) satu sentimeter atau lima spasi.
6. Dari satu referensi ke referensi lainnya diberi jarak dua spasi.
7. Jika referensi dalam Daftar Pustaka terdiri dari berbagai kategori (buku,
dokumen-dokumen, koran/majalah, sumber internet, dsb), kelompokkan
referensinya sebagai berikut:
a. Untuk buku-buku, jurnal, proceedings, laporan penelitian, diktat, dan
sejenisnya, tidak perlu diisi nama kategori (referensi utama)
b. Masukkan referensi berupa Undang-Undang, Peraturan, SK,
dokumen-dokumen, Berita Acara, dan sejenisnya dalam kategori:
Dokumen-Dokumen.
c. Masukkan referensi yang berasal dari majalah, koran ke dalam
kategori: Majalah [jika hanya berisi sumber dari majalah], Koran
[jika hanya berisi sumber dari], atau Majalah/Koran [jika berisi
sumber dari majalah dan koran].
d. Masukkan referensi yang berasal dari internet dalam kategori:
Sumber Internet.
e. Dan kategori lainnya (bila dianggap perlu)
B. Ketentuan Khusus:
Ketentuan-ketentuan khusus dalam penulisan Daftar Pustaka dijelaskan
dalam uraian berikut:
1. Referensi dari Buku:
a. Daftar Pustaka disusun menurut urutan abjad.
b. Penyebutan referensi dalam Daftar Pustaka dimulai dengan nama
penulis (nama keluarga/belakang, nama depan) [titik], tahun
publikasi [titik], judul buku dicetak miring [titik], tempat publikasi
[titik dua], penerbit [titik]. Contoh:
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah dan Penyusunan Skripsi, PIN, 2008.
_
28
c. Buku yang dikarang oleh dua atau tiga pengarang, penulisannya
sebagai berikut berikut:
d. Jika sebuah buku mempunyai empat atau lebih penulis, cantumkan
penulis pertama, diikuti dengan et al. untuk mengindikasikan penulis
lainnya:
e. Jika sebuah buku terdiri tiga pengarang atau lebih dan ada pengarang
yang namanya terdiri dari satu kata (tanpa nama keluarga/belakang),

maka penulisannya memakai tanda titik koma (;) untuk membedakan


pengarang satu dengan lainnya. Contoh:
Atau:
f. Jika referensinya adalah seorang pengarang dengan dua karya ilmiah
maka nama pengarang tersebut di urutan kedua ditulis dengan
_____. (garis bawah panjang [titik], yang artinya sama atau idem)
Ratnawati, Tri. 2006. Potret Pemerintahan Lokal di Indonesia
di Masa Perubahan: Otonomi Daerah Tahun 20002005. Jakarta: Pustaka Pelajar.
Osborne, David, dan Plastrik, Peter. 2004. Memangkas
Birokrasi: Lima Strategi Menuju Pemerintahan
Wirausaha. Jakarta: Penerbit PPM.
Rozi, Syafuan et al. 2006. Kekerasan Komunal: Anatomi
dan Resolusi Konflik di Indonesia. Yakarta: Pustaka
Pelajar.
Sulistiyo, Herman; Sulaiman; dan Sulastri, Sri. 2007. Otonomi
Desa di Era Otonomi Daerah. Semarang: Pena Mas.
Setiawan, Hawe; Suranto, Hanif; dan Istianto. 1999. Negeri
Dalam Kobaran Api: Sebuah Dokumentasi Tentang
Tragedi Mei 1998. Jakarta: Lembaga Studi Pers dan
Pembangunan (LSPP).
Bagian Pertama: Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.
_
29
dan referensinya diurut secara kronologis (tahun terbit tulisan/buku),
bukan secara alfabetis. Contoh:
g. Jika referensi pertama adalah seorang pengarang dengan karya ilmiah
yang dibuat sendiri, dan dalam referensi kedua pengarang ini membuat
karya ilmiah dengan orang lain, maka referensi kedua ditulis dengan
_____, dan pengarang lain (garis bawah panjang [koma] dan
pengarang lain). Contoh:
Dengan pola penulisan yang sama, referensi di Daftar Pustaka bisa
seperti di bawah ini:
Sihbudi, M. Riza. 1992. Politik, Parlemem, dan Oposisi di Ian
Pasca-Revolusi. Jurnal Ilmu Politik, No. 11, 31-44.
_____. 1998. Konflik Lebanon: Pertalian Antara Berbagai
Kepentingan. Jurnal Ilmu Politik, No. 3, 68-81.
Collier, Paul. 1998. On the Economic Consequences of Civil
War. Dalam Oxford Economic Papers 51 (1999, 16883). Washington DC: The World Bank.
_____, dan Hoeffler, Anke. 1999. Justice-Seeking and LootSeeking in Civil War. Washington DC: The World Bank,
February 17th, 1999.
Collier, Paul. 1998. On the Economic Consequences of Civil
War. Dalam Oxford Economic Papers 51 (1999, 16883). Washington DC: The World Bank.

_____. 2000. Doing Well Out of War: An Economic


Perspective. Dalam Berdal, Mats, dan Malone, David.
M (eds). Greed and Grievance; Economic Agenda in
Civil Wars. Ottawa: Lynne Rienner Publisher.
_____, dan Hoeffler, Anke. 1999. Justice-Seeking and LootSeeking in Civil War. Washington DC: The World Bank,
February 17th.
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah dan Penyusunan Skripsi, PIN, 2008.
_
30
h. Referensi dengan pengarang yang sama dan tahun terbit yang sama
disusun secara alfabetis dan ditandai dengan huruf kecil (a, b, c) tepat
setelah tahun.
i. Sebuah buku yang ditulis oleh korporat, lembaga atau organisasi
disusun seperti berikut :
j. Untuk buku yang diedit, di dalam Daftar Pustaka referensinya disusun
seperti berikut :
1) Satu orang editor:
2) Lebih dari satu orang editor:
BPS Kutai. 2000a. Kecamatan Long Bagun Dalam Angka 2000
(Long Hubung Sub District in Figure 2000). Tenggarong:
Badan Pusat Statistik Kabupaten Kutai.
_____. 2000b. Kecamatan Long Hubung Dalam Angka 2000
(Long Bagun Sub District in Figure 2000). Tenggarong:
Badan Pusat Statistik Kabupaten Kutai.
The World Bank. 2007. Minding the Gaps: Integrating Poverty
Reduction Strategies and Budgets for Domestic
Accountability. Washington: The World Bank.
United Nations Economic and Social Commission for Asia and
the Pacific (UNESCAP). 2008. Economic and Social
Survey of Asia and the Pacific 2008. Bangkok:
UNESCAP
Mariyah, Chusnul (ed). 2005. Indonesia-Australia: Tantangan
dan Desempatan dalam Hubungan Politik Bilateral.
Jakarta: Granit.
Dwipayana, AAGN Ary, dan Eko, Sutoro (eds). Membangun
Good Governance di Desa. Yogyakarta: IRE Press.
Bagian Pertama: Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.
_
31
k. Artikel dalam buku:
Tahun terbit referensi untuk artikel dalam buku hanya ditulis satu kali
(karena umumnya sama), kecuali disebutkan bahwa tahun terbit
artikel untuk pertama kalinya (atau copyrightnya) berbeda dengan
tahun terbit buku.
2. Referensi dari Diktat/Bahan Ajar:

3. Referensi dari Terbitan Berkala Ilmiah (Jurnal Ilmiah, dsb)


a. Jika Volume dan Nomor terbitannya lengkap, penyebutannya: nama
jurnal, volume, nomor (dalam kurung), halaman.
b. Jika tidak ada Volume-nya:
4. Referensi dari Majalah
Penulisan referensi yang bersumber dari majalah adalah sebagai berikut :
a. Jika ada nama pengarangnya:
Linz, Juan, dan Stephan, Alfred. 2001. Some Thought on
Decentralization, Devolution, and the Many Varieties of
Federal Arrangements. Dalam Liddle, R. William (ed).
Crafting Indonesian Democracy. Bandung: Penerbit
Mizan.
Abdullah. 2001. Sistem Kepartaian. Bahan Ajar. Samarinda:
Program S1 Pemerintahan Integratif.
Blanton, Shannon Lindsey. 1999. Instruments of Security or
Tools of Repession? Arms Imports and Human Rights
Conditions in Developing Countries. Journal of Peace
Research 36(2):233-244.
Budiardjo, Miriam. 1992. Sistem Pemilu dan Pembangunan
Politik. Jurnal Ilmu Politik, No. 11, 3-27.
Basri, Muhammad Chatib. 2008. Mosaik Modal, 10 Tahun
Setelah Krisis. Tempo, 18 Mei, 100-101.
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah dan Penyusunan Skripsi, PIN, 2008.
_
32
b. Jika tidak ada nama pengarangnya:
5. Referensi dari Surat Kabar/Koran
a. Jika ada nama pengarangnya:
b. Jika tidak ada nama pengarangnya :
6. Referensi dari Abstrak
Jika mengutip dari abstrak, penulisannya sama halnya dengan mengutip
dari majalah atau jurnal, tetapi dengan mencantumkan kata Abstrak
dalam tanda kurung [ ].
7. Referensi dari Review Buku
Contoh berikut merupakan cara menulis referensi yang berasal dari
review sebuah buku.
8. Hasil Wawancara Tertulis dalam Sebuah Penerbitan
Referensi hasil wawancara yang dimuat dalam sebuah tulisan, penulisan
referensinya adalah sebagai berikut:

Cara Penulisan Gelar Akademik yang Baik dan Benar

Penulis
:
Dr.
Warsiman,
M.Pd.
Sumber : blog.sunan-ampel.ac.id
PHYLOPOP.com Kendati hanya persoalan kecil, tetapi kebanyakan orang tidak
memahami penulisan gelar yang benar. Penulisan gelar sejatinya tidaklah sesulit yang
dibayangkan, tetapi juga tidak segampang yang sering dilakukan oleh kebanyakan
orang.
Berdasarkan aturan kebahasaan, penulisan gelar termasuk kategori pemahaman tentang
singkatan. Singkatan adalah kependekkan yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik
dilafalkan huruf demi huruf maupun dilafalkan sesuai dengan bentuk lengkapnya. Selain
itu, dalam buku pedoman umum ejaan yang disempurnakan (EYD), penulisan gelar juga
secaraintens disinggung, bahkan disertai beberapa contoh penulisan yang benar. Namun
demikian, masyarakat masih saja banyak yang belum memahami dengan baik teknik
penulisan
gelar
yang
benar.
Sekarang, marilah kita analisis tentang penulisan gelar ini, agar kita tidak lagi menemui
kesulitan
di
kemudian
hari.
Jika dianalisis kata per kata, penulisan gelar dapat dinalar melalui teori singkatan.
Sebagai misal, penulisan gelar sarjana pendidikan, yang ditulis benar, Sarjana
Pendidikan (S.Pd.), dan ditulis di belakang nama penyandang gelar. Huruf S pada
kata sarjana, ditulis dengan huruf besar dan diakhiri dengan tanda titik, merupakan satu
kata. Kemudian, huruf P ditulis dengan huruf besar, tetapi huruf D ditulis dengan
huruf kecil dan diakhiri dengan tanda titik. Huruf D ditulis dengan huruf kecil karena
posisinya sebagai bagian dari rangkaian satu kata dengan huruf P yang merupakan
kepanjangan dari kata pendidikan. Demikian pula singkatan-singkatan gelar lain
yang sejenis dengan contoh tersebut, juga akan mengalami proses kebahasaan yang
sama.
Lain halnya dengan singkatan pada gelar yang tanpa menyertakan huruf peluncur
sebagai bagian dari rangkaian satu kata. Sebagai misal, penulisan gelar sarjana hukum,
sarjana ekonomi, dan sarjana pertanian. Jika disingkat, ketiga contoh gelar tersebut
hanya terdiri dari huruf awal, dan tanpa menyertakan huruf peluncur yang merupakan
bagian dari rangkaian kata, sehingga penulisannya pun terdiri atas huruf per huruf serta
masing-masing ditandai dengan tanda baca titik. Dengan demikian, penulisan gelar
sarjana hukum, ditulis di belakang nama penyandang gelar dengan singkatan: S.H.,
sarjana ekonomi ditulis S.E., dan sarjana pertanian ditulis S.P.. Penulisan-penulisan
gelar lain yang sejenis dengan contoh tersebut, dan yang hanya terdiri dari dua huruf
atau lebih tanpa disertai dengan huruf peluncur sebagai bagian dari rangkaian kata,
harus
mengikuti
pola
penulisan
tersebut.
Berikut
ini
contoh-contoh
penulisan
gelar
yang
benar.
Gelar
Sarjana
S.Ag.
(Sarjana
Agama)
S.Pd.
(Sarjana
Pendidikan)
S.Si.
(Sarjana
Sains)
S.Psi.
(Sarjana
Psikologi)
S.Hum.
(Sarjana
Humaniora)
S.Kom.
(Sarjana
Komputer)
S.Sn.
(Sarjana
Seni)
S.Pt.
(Sarjana
Peternakan)

S.Ked.
S.Th.I.
S.Kes.
S.Sos.
S.Kar.
S.Fhil.
S.T.
S.P.
S.S.
S.H.
S.E.
S.Th.K.
S.I.P.
S.K.M.
S.H.I.
S.Sos.I.
S.Fil.I.
S.Pd.I.
Gelar
M.Ag.
M.Pd.
M.Si.
M.Psi.
M.Hum.
M.Kom.
M.Sn.
M.T.
M.H.
M.M.
M.Kes.
M.P.
M.Fhil.
M.E.
M.H.I.
M.Fil.I.
M.E.I.
M.Pd.I.
S.Th.K.
Gelar
B.A.
B.Sc.
B.Ag.
B.E.
B.D.
B.Litt.
B.M.

(Sarjana
(Sarjana

Theologi
(Sarjana
(Sarjana
(Sarjana
(Sarjana
(Sarjana
(Sarjana
(Sarjana
(Sarjana
(Sarjana

(Sarjana
(Sarjana
(Sarjana
(Sarjana
(Sarjana
(Sarjana
(Sarjana

Theologi
Ilmu
Kesehatan
Hukum
Sosial
Filsafat
Pendidikan
Islam),

(Magister
(Magister
(Magister
(Magister
(Magister
(Magister
(Magister
(Magister
(Magister
(Magister
(Magister
(Magister
(Magister
(Magister
(Magister
(Magister
(Magister
(Magister
(Sarjana
Sarjana
(Bechelor
(Bechelor
(Bechelor
(Bechelor
(Bechleor
(Bechelor
(Bechelor

Hukum
Filsafat
Ekonomi
Pendidikan

Islam),
Theologi

Muda

Luar
of
of
of
of
of
of
of

Kedokteran)
Islam)
Kesehatan)
Sosial)
Karawitan)
Fhilsafat)
Teknik)
Pertanian)
Sastra)
Hukum)
Ekonomi)
Kristen)
Politik)
Masyarakat)
Islam)
Islam)
Islam)
dsb.
Magister
Agama)
Pendidikan)
Sains)
Psikologi)
Humaniora)
Komputer)
Seni)
Teknik)
Hukum)
Manajemen)
Kesehatan)
Pertanian)
Fhilsafat)
Ekonomi)
Islam)
Islam)
Islam)
dsb.
Kristen)
Negeri
Arts)
Science)
Agriculture)
Education)
Divinity)
Literature)
Medicine)

B.Arch.
(Bechelor
of
Architrcture),
dsb.
Gelar
Master
Luar
Negeri
M.A.
(Master
of
Arts)
M.Sc.
(Master
of
Science)
M.Ed.
(Master
of
Education)
M.Litt.
(Master
of
Literature)
M.Lib.
(Master
of
Library)
M.Arch.
(Master
of
Architecture)
M.Mus.
(Master
of
Music)
M.Nurs.
(Master
of
Nursing)
M.Th.
(Master
of
Theology)
M.Eng.
(Master
of
Engineering)
M.B.A.
(Master
of
Business
Administration)
M.F.
(Master
of
Forestry)
M.F.A.
(Master
of
Fine
Arts)
M.R.E.
(Master
of
Religious
Ediucation)
M.S.
(Mater
of
Science)
M.P.H.
(Master
of
Public
Health),
dsb.
Gelar
Doktor
Dalam
Negeri
Penulisan gelar doktor dalam negeri pun sering tidak dipahami dengan benar oleh
kebanyakan orang, padahal jika kita mampu menganalisis, tidaklah sulit untuk dapat
menemukan
jawabannya.
Penulisan gelar doktor dalam negeri sama dengan penulisan gelar-gelar yang lain.
Karena huruf D dan R merupakan rangkaian satu kata, maka penulisan gelar
doktor yang benar adalah: Dr. (Doktor), dan ditulis di depan nama penyandang gelar.
Huruf D ditulis dengan huruf besar, dan huruf R ditulis dengan huruf kecil, dan
diakhiri
dengan
tanda
titik
pula.
Selain itu, di Indonesia juga memberlakukan sebutan profesional untuk program
diploma. Aturan main penulisan sebutan profesional dalam negeri untuk program
diploma ditulis di belakang nama penyandang sebutan profesional tersebut. Perhatikan
beberapa sebutan profesional program diploma dalam negeri sebagai berikut.
Program diploma satu (D1) sebutan profesional ahli pratama, disingkat (A.P.);
Program diploma dua (D2) sebutan profesional ahli muda, disingkat (A.Ma.);
Program diploma tiga (D3) sebutan profesional ahli madya, disingkat (A.Md.); dan
Program diploma empat (D4) sebutan profesional ahli, disingkat (A.).
Akhir-akhir ini sebutan profesional untuk program diploma, sebagaimana yang tertera
itu, cenderung diikuti oleh ilmu keahlian yang dimiliki. Sebagai misal, sebutan
profesional untuk ahli muda kependidikan disingkat A.Ma.Pd., ahli madya keperawatan
disingkat A.Md.Per., ahli madya kesehatan disingkat A.Md.Kes., ahli madya kebidanan
disingkat A.Md.Bid., dan ahli madya pariwisata disingkat A.Md.Par.
Selanjutnya, banyak orang bertanya-tanya tentang beberapa gelar doktor luar negeri
yang tidak mereka pahami maksudnya, juga tidak mereka ketahui cara penulisannya,
sehingga banyak diantara mereka hanya dapat memperkirakan maksud, dan demikian
pula cara penulisannya. Karena berdasarkan perkiraan belaka, maka banyak diantara
mereka
salah
menebak
maksud
serta
cara
penulisannya.
Penulisan gelar doktor, master, dan sarjana muda dari luar negeri, ditulis di belakang

nama penyandang gelar. Sebagaimana penulisan gelar-gelar dalam negeri, penulisan


gelar dari luar negeri pun sama. Untuk dapat memahami penulisan yang benar, kita
perlu menganalisis kata per kata sebagaimana cara menganalisis kata per kata pada
penulisan gelar dalam negeri. Sebagai misal, gelar doctor of philosophy, yang ditulis
benar [Ph.D.]. Huruf P ditulis dengan huruf besar, tetapi huruf H ditulis dengan
huruf kecil, dan diakhiri dengan tanda titik. Huruf H ditulis dengan huruf kecil karena
posisinya sebagai bagian dari rangkaian satu kata dengan huruf P yang merupakan
kepanjangan dari kata philosophy, sedangkan huruf D ditulis dengan huruf besar
sebagai singkatan dari kata doctor, dan diakhiri dengan tanda titik.
Perhatikan beberapa gelar doktor luar negeri yang sering kita jumpai di Indonesia, dan
contoh
penulisannya:
Ph.D.
(Doctor
of
Philosophy);
=>
Sigit
Sugito,
Ph.D.
Ed.D.
(Doctor
of
Education);
=>
Sigit
Sugito,
Ed.D.
Sc.D.
(Doctor
of
Science);
=>
Sigit
Sugito,
Sc.D.
Th.D.
(Doctor
of
Theology);
=>
Sigit
Sugito,
Th.D.
Pharm.D.
(Doctor
of
Pharmacy);
=>
Sigit
Sugito,
Pharm.D.
D.P.H.
(Doctor
of
Public
Health);
=>
Sigit
Sugito,
D.P.H.
D.L.S.
(Doctor
of
Library
Science);
=>
Sigit
Sugito,
D.L.S.
D.M.D.
(Doctor
of
Dental
Medicince);
=>
Sigit
Sugito,
D.M.D.
J.S.D. (Doctor of Science of Jurisprudence). => Sigit Sugito, J.S.D., dsb.
Tambahan lagi, penulisan gelar ganda yang kedua gelar tersebut berada di belakang
nama penyandang gelar, juga perlu memperhatikan teknik penulisan yang benar.
Bahwasanya, selama ini kita sering menjumpai bahkan mungkin, menjadi pelaku sendiri
penulisan gelar ganda yang tidak memperhatikan tata cara penulisan yang benar.
Tenik penulisan gelar ganda yang kedua-duanya berada di belakang nama penyandang
gelar, banyak terkait dengan penggunaan tanda baca koma (,). Penulisan yang benar
adalah setelah nama (penyandang gelar), dibubuhkan tanda koma (,) kemudian diikuti
gelar yang pertama, ditulis dengan teknik penulisan yang benar, lalu dibubuhkan tanda
koma untuk penulisan gelar yang kedua, dan seterusnya (jika ada gelar-gelar yang lain).
Perhatikan beberapa contoh penulisan gelar ganda di bawah ini:
Endra
Lesmana,
S.Ag.,
S.H.
Endra
Lesmana,
S.Pd.,
S.S.
Endra
Lesmana,
S.Hum.,
S.Pd.I.
Jika penyandang gelar memiliki gelar lebih dari dua gelar, dan semuanya berada di
belakang nama penyandang gelar, teknik penulisannya pun sama. Perhatikan pula
beberapa contoh penulisan gelar yang lebih dari dua gelar di belakang nama
penyandang
gelar.
Imam
Prasodjo,
S.S.,
M.Hum.,
M.Pd.
Imam
Prasodjo,
S.Pd.,
S.S.,
M.Ed.
Imam
Prasodjo,
S.Ag.,
M.E.I.,
Ph.D.
Penulisan gelar dengan mengikuti nama penyandang gelar yang ditulis dengan huruf
balok (kapital), gelar tetap ditulis sesuai dengan penulisan gelar yang benar. Jika gelar
tersebut terdapat huruf peluncur sebagai bagian dari rangkaian satu kata, sebagai misal,
gelar S.Ag., S.Pd., S.Pt., huruf g, d, dan t yang posisinya sebagai huruf peluncur dari
rangkaian satu kata, tidak ditulis dengan huruf besar. Perhatikan beberapa contoh di
bawah
ini:

Ditulis
Benar
Ditulis
Salah
Juga
Ditulis
Salah
Hadi
Mulya,
S.Pd.
HADI
MULYA,
S.PD.
HADI
MULYA,
S.Pd.
Hadi
Mulya,
S.Ag.
HADI
MULYA,
S.AG.
HADI
MULYA,
S.Ag.
Hadi
Mulya,
S.Pt.
HADI
MULYA,
S.PT.
HADI
MULYA,
S.Pt.
Di dalam aturan kebahasaan, nama orang tidak dibenarkan ditulis dengan huruf balok
(kapital), kecuali untuk kepentingan tertentu. Jika ditulis, huruf balok (kapital) hanya
dibenarkan ditulis pada awal kata nama orang. Karena itu, penulisan gelar dengan
mengikuti nama penyandang gelar yang sama-sama ditulis menggunakan huruf balok,
tidak hanya salah, tetapi sudah salah kaprah.

Berbagai Cara Penulisan Gelar yang Benar


Simak cara penulisan gelar di bawah ini sebelum memasuki pembahasan lebih lanjut:
1. Cara Penulisan Gelar Sarjana (S1)

S.P. (sarjana pertanian)


S.Pd. (sarjana pendidikan)
S.Pd.I. (sarjana pendidikan Islam)
S.Psi. (sarjana psikologi)
S.Pt. (sarjana peternakan)
S.E. (sarjana ekonomi)
S.Ag. (sarjana agama)
S.Fil. (sarjana filsafat)
S.Fil.I. (sarjana filsafat Islam)
S.H. (sarjana hukum)
S.H.I. (sarjana hukum Islam)
S.Hum. (sarjana humaniora)
S.I.P. (sarjana ilmu politik)
S.Kar. (sarjana karawitan)
S.Ked. (sarjana kedokteran
S.Kes. (sarjana kesehatan)
S.Kom. (sarjana komputer)
S.K.M. (sarjana kesehatan masyarakat)
S.S. (sarjana sastra)
S.Si. (sarjana sains)
S.Sn. (sarjana seni)
S.Sos. (sarjana sosial)
S.Sos.I. (Sarjana Sosial Islam)
S.T. (sarjana teknik)
S.Th. (sarjana theologi)
S.Th.I. (sarjana theologi Islam)

2. Cara Penulisan Gelar Magister (S2)

M.Ag. (magister agama)


M.E. (magister ekonomi)
M.E.I. (magister ekonomi Islam)
M.Fil. (magister filsafat)
M.Fil.I. (magister filsafat Islam)
M.H. (magister hukum)
M.Hum. (magister humaniora)
M.H.I. (magister hukum Islam)
M.Kes. (magister kesehatan)
M.Kom. (magister komputer)
M.M. (magister manajemen)
M.P. (magister pertanian)
M.Pd. (magister pendidikan)
M.Pd.I. (magister pendidikan Islam)
M.Psi. (magister psikologi)
M.Si. (magister sains)
M.Sn. (magister seni)
M.T. (magister teknik)

3. Cara Penulisan Gelar Doktor (S3)

Dr (doktor)

4. Cara Penulisan Gelar Diploma

Diploma satu (D1), sebutan profesional ahli pratama, disingkat A.P.


Diploma dua (D2), sebutan profesional ahli muda, disingkat A.Ma.
Diploma tiga (D3), sebutan profesional ahli madya, disingkat A.Md.
Diploma empat (D4), sebutan profesional ahli, disingkat A.

Cara Penulisan Gelar Menurut EYD


Cara penulisan gelar akademik mengikuti aturan yang berlaku dalam EYD, yaitu pada
aturan tentang penulisan singkatan, pemakaian tanda titik (.), dan pemakaian tanda koma
(,). Ketentuan lengkapnya sebagai berikut:
1. Setiap gelar ditulis dengan tanda titik sebagai antara antarhuruf pada singkatan
gelar yang dimaksud.
2. Gelar ditulis di belakang nama orang.
3. Antara nama orang dan gelar yang disandangnya, dibubuhi tanda koma.
4. Jika di belakang nama orang terdapat lebih dari satu gelar, maka di antara gelargelar tersebut disisipi tanda koma.
Contoh: Muhamad Ilyasa, S.H., S.E., M.M. Di antara nama dan gelar, terdapat tanda
koma. Di antara ketiga gelar, juga terdapat tanda koma. Di antara huruf-huruf singkatan
gelar, diberi tanda titik.

Jika di antara nama dan gelar tidak dibubuhi tanda koma, maka penulisan gelar tersebut
salah dan singkatan tersebut tidak bermakna gelar, melainkan bisa bermakna nama
keluarga, marga, dan sebagainya. Jadi, Muhamad Ilyasa SH (tanpa koma di antara nama
dan SH) bisa berarti Muhamad Ilyasa Sutan Harun atau Muhamad Ilyasa Saleh Hamid,
dan sebagainya.
Penulisan gelar harus di belakang nama orang, cara penulisan gelar di depan nama orang
adalah salah.
dari sumber lain kopertis12.or.id:
JENIS GELAR AKADEMIK
Pasal 6
Gelar akademik terdiri atas Sarjana, Magister dan Doktor.
Pasal 7
Penggunaan gelar akademik Sarjana dan Magister ditempatkan di belakang nama yang
berhak atas gelar yang bersangkutan dengan mencantumkan huruf S., untuk Sarjana dan
huruf M. untuk Magister disertai singkatan nama kelompok bidang keahlian.
Pasal 8
Penetapan jenis gelar dan sebutan serta singkatannya sesuai dengan kelompok bidang
ilmu dilakukan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi bersamaan dengan pemberian
ijin pembukaan program studi berdasarkan usul dari perguruan tinggi yang bersangkutan
sesuai dengna norma dan kepatutan akademik.
Pasal 9
Gelar akademik Doktor disingkat Dr. ditempatkan di depan nama yang berhak atas gelar
yang bersangkutan.
JENIS SEBUTAN PROFESIONAL
Pasal 10
Penggunaan sebutan profesional dalam bentuk singkatan ditempatkan di belakang nama
yang berhak atas sebutan profesional yang bersangkutan.
Pasal 11
(1) Sebutan profesional lulusan Program Diploma terdiri atas :

a. Ahli Pratama untuk Program Diploma I disingkat A.P.


b. Ahli Muda untuk Program Diploma II disingkat A.Ma.
c. Ahli Madya untuk Program Diploma III disingkat A.Md.
d. Sarjana Sains Terapan untuk Program Diploma IV disingkat SST

(2) Singkatan sebutan profesional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditempatkan di
belakang nama yang berhak atas sebutan tersebut.
sumber: