Anda di halaman 1dari 29

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI

Methycobal merupakan obat produksi PT. Interbat yang berisi Mecobalamin atau
Methycobalamin yang tergolong obat neurotropik. Obat ini adalah bentuk aktif Vitamin
B12 yang dapat mencapai otak, berperan dalam perbaikan kerusakan sel saraf dan
meningkatkan pembentuk sel saraf baru. Methycobal diindikasikan untuk penderita
kekurangan vitamin B12, neuropati perifer (gangguan saraf tepi dengan gejala
kesemutan atau keram), dan anemia pernisiosa (penurunan kadar sel darah
merah akibat gangguan penyerapan vitamin B12). Pada penderita anemia, obat ini bisa
meningkatkan pembentukan sel darah merah dengan membantu pematangan dan
proses pembelahan sel darah merah. Obat ini aman dikonsumsi oleh ibu hamil dan
menyusui. Methycobal dikontraindikasikan pada penderita alergi komponen obat
Methycobal. Penggunaan pada penderita penyakit jantung, paru paru, dan darah tinggi
harus berhati hati.

EFEK SAMPING
Efek samping dari konsumsi obat ini di antaranya: ruam kulit, mual, muntah, penurunan
nafsu makan, dandiare. Beberapa jenis obat dapat menurunkan penyerapan Methycobal
jika diminum bersamaan, yaitu obat anti diabetes (metformin), anti kejang, anti
histamin (ranitidin, simetidin), antibiotik golongan aminoglikosida, kolkiksin, dan
alkohol. Selain itu, tidak disarankan mengkonsumsi obat ini bersamaan dengan antibiotik
kloramfenikol.

DOSIS
Methycobal terdapat dalam bentuk tablet 500 mg dan obat suntik. Obat tablet digunakan
untuk neuropati perifer, sedangkan obat suntik dapat digunakan untuk neuropati perifer
dan anemia pernisiosa. Obat suntik dapat diberikan melalui otot (intramuskular) atau ke
pembuluh darah (intravena). Dosis obat tablet bagi dewasa adalah 3 x 1 tablet; dosis
dapat bervariasi tergantung gejala penderita. Dosis obat suntik untuk neuropati perifer
adalah 500 mcg per hari, diberikan 3 kali seminggu. Untuk anemia pernisiosa, obat
suntik diberikan 500 mcg per hari sebanyak 3 kali seminggu dan setelah 2 bulan dosis
diturunkan menjadi suntikan tunggal 500 mcg setiap 1 3 bulan. Methycobal tidak
berbahaya dan dapat ditoleransi oleh tubuh dengan baik sehingga tidak diperlukan
pengobatan khusus jika terjadi overdosis.

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI


Dulcolax merupakan suatu obat yang banyak digunakan sebagai obat pencahar atau
pelancar buang air besar. Obat Dulcolax telah diproduksi lebih dari 60 tahun oleh
perusahaan farmasi Boehringer Ingelheim. Hingga saat ini, ducolax memiliki beberapa
jenis yang berbeda dan ditujukan untuk kondisi yang berbeda pula. Namun tidak semua
jenis obat dulcolax masuk ke pasaran Indonesia.
Obat dulcolax digunakan untuk memperlancar buang air besar. Dulcolax digunakan pada
kasus konstipasiatau sembelit dan sebagai salah satu persiapan tindakan operasi atau
tindakan lainnya. Konstipasi Dulcolax mengandung zat bisacodyl. Zat ini berfungsi untuk
meningkatkan motilitas (gerakan) dinding usus besar serta memiliki efek meningkatkan
kadar air dalam feses (membuat feses menjadi lebih lunak). Dengan cara kerja ini,
dulcolax membantu proses buang air besar.
Kontraindiaksi penggunaan dulcolax yaitu riwayat alergi pada bisacodyl, dehidrasi berat,
intoleransi laktosa atau sukrosa, gangguan gerakan usus (ileus), sumbatan pada usus,
pasien yang baru menjalani operasi pada bagian perut, usus buntu, peradangan usus,
dan nyeri perut hebat disertai muntah.
Dulcolax, dan obat pencahar lainnya, tidak boleh digunakan pada wanita hamil (terutama
saat trimester pertama) dan menyusui. Penggunaan dulcolax pada anak-anak harus
diperhatikan. Penggunaan dulcolax harus dipertimbangkan manfaat dan risikonya. Hanya
dokter yang boleh menginstruksikan penggunaan dulcolax pada pasien khusus tersebut.
Pemakaian sendiri dan sembarangan dapat menimbulkan komplikasi.

EFEK SAMPING
Semua obat pencahar termasuk dulcolax tidak dianjurkan digunakan setiap hari atau
dalam jangka waktu panjang. Akan lebih baik berkonsultasi dengan dokter, menemukan
penyebab konstipasi, dan menyembuhkannya.
Penggunaan berlebihan dapat menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
Timbul dehidrasi dengan gejala sering haus dan air urin yang sedikit. Efek samping lain
berupa BAB darah, pusing, pingsan, serta iritasi pada anus (untuk dulcolax rektal).

DOSIS
Dulcolax tersedia dalam bentuk tablet dan juga supositoria (rektal atau dimasukan ke
anus). Dosis dulcolax ditentukanm oleh dokter dan tergantung pada keadaan pasien,
sehingga penggunaan pada setiap orang akan berbeda.
Dosis yang dianjurkan yaitu 1-2 tablet sehari untuk dewasa dan anak diatas 10 tahun.
Untuk anak usia 6-10 tahun disarankan 1 tablet sehari. Tablet diminum pada malam
sebelum tidur, disertai air putih yang banyak, dan tidak dibarengi dengan susu atau
obat-obat maag.
Untuk dulcolax supositoria (berbentuk seperti peluru), dewasa dan anak diatas 10 tahun
dosis 1 supositoria (10 mg). sementara anak usia 6-10 tahun menggunakan 1 supositoria
(5 mg). Obat harus dimasukan seluruhnya ke dalam anus.

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI


Aspirin termasuk dalam golongan anti-inflamasi non-steroid yang memiliki fungsi
penurun panas, anti-nyeri, dan anti-radang. Komponen yang terdapat dalam aspirin
adalah asam salisilatyang pada awalnya hanya dipakai sebagai obat luar.
Obat ini diindikasikan untuk mengurangi nyeri kepala, nyeri gigi,migraine, nyeri menelan,
dan dismenorrhea (nyeri berlebihan saat menstruasi). Selain itu, aspirin juga dapat
digunakan untuk mengurangi gejala pada influenza, demam, nyeri reumatik, dan nyeri
nyeri otot.
Fungsi lain yang kerap kali berguna adalah efek anti-trombotik (menghambat aktivasi
trombosit) yang merupakan efek yang sangat berguna sebagai pencegah serangan
berulang pada pasien dengan nyeri dada akibat sumbatan pada arteri koroner jantung,
dan juga pada pasien yang sedang mengalami kejadian nyeri dada akibat sumbatan
pada arteri koroner jantung.
Aspirin dikontraindikasikan pada pasien yang diketahui memiliki hipersensitivitas / alergi
terhadap komponen dari aspirin, jenis salisilat lain, atau obat obatan anti-inflamasi nonsteroid lain, asma, ulkus peptik yang aktif / riwayat sakit maag, kelainan perdarahan,
gangguan fungsi hati yang berat, gangguan fungsi ginjal yang berat, gagal jantung yang
berat, kehamilan pada trimester ke 3, anak dibawah 16 tahun (kecuali secara spesifik
diindikasikan seperti pada penyakit Kawasaki).
Selain itu, penggunaan obat ini juga perlu mendapatkan perhatian khusus pada pasien
dengan asma di mana dapat memicu serangan pada pasien dengan hipersensitivitas,
polip nasal, penyakit saluran napas kronik, anemia, gagal jantung, dehidrasi, defisiensi
enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase, gout (asam urat tinggi), pasien dengan gejala
perdarahan tertentu, pasien dengan reaksi kulit yang berlebihan.

EFEK SAMPING
Efek samping yang umum terjadi adalah meningkatnya kemungkinan terjadinya
perdarahan spontan dan rasa tidak enak pada lambung. Efek samping lain yang mungkin
terjadi seperti sesak napas, serangan asma, perdarahan menstruasi yang lebih banyak,
perdarahan saluran cerna, mual, muntah, ulkus peptik, gangguan fungsi hati, biduran,
sindrom Steven-Johnsons, gangguan fungsi ginjal dan keracunan salisilat.

DOSIS

Terdapat beberapa sediaan tablet dari aspirin yaitu 81 mg, 325 mg, sampai 500 mg.
Dosis dewasa :
Nyeri dan demam
: 325 600 mg tiap 4 6 jam per hari.
Penyakit jantung koroner :
Akut
: 160 325 mg saat serangan.
Dosis Pemeliharaan : 81 mg per hari.
Stroke
: 50 325 mg / hari dalam waktu 48 jam pertama sejak
serangan stroke,
hari.

kemudian dilanjutkan 75 100 mg /

Radang tulang dan sendi (osteoarthritis) : sampai 3 gram / hari dengan dosis

terbagi.
Terdapat penyesuaian dosis pada pasien dengan fungsi ginjal yang terganggu.
Pada pasien dengan fungsi hati terganggu, obat ini tidak direkomendasikan.

Dosis anak :
Nyeri dan demam :

Usia < 12 tahun


: 10 15 mg/kg tiap 4 jam, sampai maksimal 60 80
mg/kg/hari.
Usia 12 tahun
: 325 650 mg tiap 4 6 jam per hari.
Radang sendi reumatik pada usia muda :

Berat badan < 25 kg : 60 100 mg/kg/hari dibagi menjadi 3 4 kali pemberian.


Berat badan 25 kg : 2,3 3,6 gram/hari.
Penyakit Kawasaki :
Fase demam

: 80 100 mg/kg/hari dibagi menjadi 4 kali pemberian.


obat diberikan sampai 14 hari.
Dosis pemeliharaan : 3 6 mg/kg/hari dosis tunggal.
Dosis yang merupakan ambang keracunan adalah 200 mg/kg.

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI


Aspar-K merupakan obat yang berisi kalium L-aspartate, berbahan dasar berbentuk
bubuk tanpa bau, mudah larut dalam air, dan tidak larut dalam alkohol atau aseton yang
kemudian dibuat dalam bentuk tablet. Obat ini umumnya digunakan untuk membantu
meningkatkan kadar ion kalium dalam darah yang kurang / hipokalemia. Seperti yang
diketahui, kalium merupakan mineral yang memiliki peran penting dalam tubuh. Ion ini
bekerja pada beberapa fungsi tubuh seperti transmisi saraf, keseimbangan cairan,
pergerakan otot otot, dan berbagai reaksi kimia dalam tubuh lainnya. Akan tetapi,
selain itu, obat ini juga dapat digunakan sebagai terapi tambahan pada penyakit jantung;
penyakit hati; hipokalemia karena obat obatan golongan diuretik, insulin ; dan kelainan
lain pada metabolisme kalium (diarea, muntah).
Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan penyakit Addison yang tidak diterapi,
pasien dengan hiperkalemia / kadar ion kalium dalam darah yang lebih tinggi dari
normal, dan pasien dengan hipersensitivitas terhadap komponen obat. Penggunaan obat
ini juga perlu mendapat perhatian khusus pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, di
mana sebelum administrasi obat ini, diperlukan pemeriksaan terlebih dahulu terhadap
kadar elektrolit pada darah dan urin.
Oleh karena obat obatan di bawah ini dapat menyebabkan hiperkalemia, penggunaan
obat obatan ini bersamaan dengan Aspar-K perlu mendapat perhatian khusus. Obat
obatan tersebut adalah obat golongan antialdosteron, triamterene, amiloride,
oxybutynin, spironolakton. Dibandingkan dengan sediaan kalium klorida, dikatakan
bahwa kalium L-aspartate diserap lebih baik oleh jaringan, sehingga efek yang
ditimbulkan lebih cepat dalam mengatasi keadaan hipokalemia.

EFEK SAMPING
Efek samping yang biasa ditemui pada pasien yang mengkonsumsi obat ini adalah yang
berkaitan dengan sistem pencernaan dan jantung. Mual dan berkurangnya nafsu makan
sampai disertai dengan diarea biasanya dialami sebagian besar pasien. Selain itu,
perasaan tidak nyaman pada daerah jantung, hiperkalemia, kemerahan pada kulit juga
dapat dialami.

DOSIS
Sediaan dari Aspar-K adalah dalam bentuk tablet 300 mg yang mengandung ion kalium
1,8 mEq per tablet. Dosis obat ini disesuaikan dengan keadaan dan kadar kalium dalam
darah. Akan tetapi, biasanya dapat diberikan 1 sampai 3 tablet dalam sehari.

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI


Betaserc merupakan obat yang termasuk golongan obat antivertigo yang berisi
betahistine dihydrochloride yang secara struktur kimia memiliki kemiripan terhadap
substansi histamin. Obat ini ditujukan terutama untuk mengatasi penyakit Meniere yang
ditandai dengan gejala telinga berdenging, mual, nyeri kepala, gangguan pendengaran,
dan pusing berputar.
Analog substansi kimia histamin ini bekerja pada reseptor histamin H 3 yang ditemukan di
dinding pembuluh darah dan juga telinga. Aktivasi reseptor ini oleh Betaserc
menyebabkan pelebaran pembuluh darah yang selanjutnya dapat meningkatkan sirkulasi
darah, mengurangi pembengkakan pada telinga dalam, dan mengurangi kekakuan pada
membran basiler pada telinga dalam yang selanjutnya dapat memperingan gejala
gejala seperti pusing berputar, mual, dan telinga yang berdenging.
Oleh karena komponen Betaserc menyerupai struktur kimia histamin, obat ini perlu
mendapat perhatian khusus pada pasien dengan asma bronkial, urtikaria, rinitis alergi,
dan ulkus peptikum karena dapat memperburuk gejala penyakit diatas. Selain itu pada
pasien dengan penyakit phaeochromacytoma dan alergi terhadap komponen dari
Betaserc, obat ini sebaiknya tidak diberikan. Obat ini juga tidak direkomendasikan untuk
diberikan pada anak anak.

EFEK SAMPING
Efek samping dari penggunaan Betaserc kebanyakan tidak bersifat serius / mengancam
nyawa. Gejala yang seringkali ditemui adalah rasa tidak nyaman pada lambung. Selain
itu, sakit kepala, sulit tidur, mual dandiare dapat juga ditemui. Selain itu, pasien juga
dapat mengalami gejala gejala alergi jika pasien alergi terhadap komponen dari
Betaserc. Gejala alergi ini melipu kemerahan pada tubuh, gatal, sampai bengkakpada
wajah, lidah, dan bibir.

DOSIS
Terdapat 2 macam sediaan Betaserc yaitu tablet 8 mg dan tablet 24 mg. Awal
pengobatan dapat dimulai dengan dosis 8 16 mg, tiga kali sehari, diminum bersamaan
dengan makanan. Dosis pemeliharaan biasanya dalam rentang 24 48 mg per hari.
Dosis per hari sebaiknya tidak melebihi 48 mg. Dosis dapat disesuaikan sesuai dengan
respon pasien. Perbaikan gejala biasanya dapat ditemukan setelah beberapa minggu
pengobatan. Biasanya efek maksimal didapat dalam rentang waktu 3 8 minggu dan
dengan dosis harian antara 32 36 mg. Dosis yang berlebih menurut penelitian, tidak
menunjukkan hasil yang lebih baik.

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI


Omeprazole merupakan obat yang termasuk dalam golongan antisekresi / seringkali
disebut termasuk dalam golongan penghambat pompa proton (proton pump inhibitor /
PPI) yang mempunyai tempat kerja dan bekerja langsung pada pompa asam
(H+ K+ ATPase) yang merupakan tahap akhir proses sekresi asam lambung dari sel sel
parietal di lambung. Pompa asam atau sering disebut juga sebagai pompa proton ini
bersifat tidak menetap. Obat ini cepat menghilang dalam darah setelah diserap
walaupun efek penghambatan sekresi asam ditemui berlangsung lebih lama.
Penghambatan sekresi asam lambung ini diperlukan untuk menurunkan radang yang
terjadi pada lambung dan memberikan kesempatan untuk proses penyembuhan pada
ulkus yang terjadi di lambung. Obat ini diindikasikan pada pasien dengan ulkus di
duodenum, ulkus di lambung, gastroesophageal reflux disease(GERD), esofagitis erosif,
dan pada pasien dengan kondisi hipersekresi asam lambung yang abnormal seperti
sindrom Zollinger-Ellison.
Setelah meminum obat ini, efek antisekresi asam lambung tercapai dalam waktu 1 jam,
dengan efek maksimal pada 2 jam. Setelah 24 jam, efek antisekresi asam lambung
menjadi setengah dari efek maksimal dengan lama kerja obat dapat mencapai 72 jam.
Setelah pemberhentian obat ini, aktivitas sekresi asam lambung akan kembali normal
dalam waktu 3 5 hari. Kemampuan obat ini dalam menghambat sekresi asam lambung
dapat meningkat dengan pemberian secara berulang setiap hari dan mencapai
kemampuan maksimal setelah empat hari pemberian secara terus menerus. Terdapat
bukti yang menunjukkan interaksi obat antara Omeprazole dengan beberapa obat seperti
Diazepam, Barbiturat, dan Fenitoin.

EFEK SAMPING
Efek samping umumnya ringan dan bersifat sementara seperti : mual, diare, sakit kepala,
nyeri perut, sering buang angin.

DOSIS
Sediaan terdapat dalam bentuk tablet 20 mg. Untuk pengobatan ulkus dan esofagitis
dosis yang biasa digunakan adalah 20 mg, sekali dalam sehari, diberikan dalam waktu 4
8 minggu. Pada keadaan tertentu, peningkatan dosis dapat dilakukan sampai 40 mg /
hari. Pada kasus sindrom Zollinger-Ellison, Omeprazole dapat diberikan dengan dosis
awal 60 mg sehari satu kali dan dosis dapat ditingkatkan sesuai kebutuhan. Lama
pengobatan adalah selama dibutuhkan. Bila dosis men

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI


Tramadol merupakan obat anti-nyeri yang bekerja secara sentral (di otak) pada reseptor
opioid maupun memodifikasi penghantaran sinyal nyeri dengan menghambat
pengambilan kembali monoamin. Efek anti-nyeri pada manusia dimulai kira kira 1 jam
setelah konsumsi dan mencapai konsentrasi maksimal dalam 2 3 jam.
Obat ini diserap secara baik melalui saluran cerna dan sangat baik dalam
pendistribusiannya termasuk ke plasenta dan air susu ibu. Hasil metabolismenya
dikeluarkan melalui urin dengan waktu paruh eliminasi sekitar 6 jam.
Olehkarena fungsinya, obat ini diindikasikan untuk mengatasi nyeri dengan level sedang
sampai berat. Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien percobaan bunuh diri,
alkoholisme, cedera kepala, kondisi dimana terdapat peningkatan tekanan dalam otak,
gangguan fungsi ginjal yang berat, serta ibu menyusui.
Terdapat interaksi obat antara Tramadol dengan warfarin yang meningkatkan efek
antikoagulan. Selain itu, kejadian kejang juga meningkat jika Tramadol diberikan
bersamaan dengan obat golongan SSRI dan TCA (obat obat anti-depresan). Penggunaan
bersamaan dengan alkohol, opioid lain, agen anestesi, narkotik, phenothiazines, dan obat
penenang dapat meningkatkan risiko depresi napas.
Penggunaan Tramadol juga perlu mendapat perhatian khusus pada pasien pasien
dengan hipotiroid, insufisiensi adrenokortikal, gangguan fungsi ginjal dan hati, riwayat
kejang, myasthaenia gravis, depresi napas, pembesaran prostat, serta kehamilan.

EFEK SAMPING
Disamping efeknya sebagai anti-nyeri, konsumsi Tramadol dapat menyebabkan gejala
gejala sampingan seperti pusing, mual, konstipasi, berkeringan, dan gatal gatal seperti
pada penggunaan obat golongan opioid lainnya. Akantetapi, tidak seperti morfin,
tramadol tidak menyebabkan pelepasan histamin. Selain itu, pada dosis yang sesuai,
konsumsi Tramadol tidak akan memberikan efek pada frekuensi denyut jantung dan
fungsi jantung kiri.
Efek samping lain yang mungkin dirasakan adalah sulit tidur, tekanan darah rendah,
kejang, halusinasi, sampai yang terberat adalah depresi napas.

DOSIS
Terdapat sediaan oral, suppositoria, dan juga suntikan. Untuk dosis oral, 50 100 mg tiap
4 sampai 6 jam dapat diberikan untuk mengatasi nyeri sedang sampai berat dengan
dosis maksimal hariannya adalah 400 mg. Untuk sediaan suntikan, dosis yang sama
seperti sediaan oral juga dapat diberikan untuk mencapai efek yang sama.
Untuk mengatasi nyeri setelah operasi, dosis awal 100 mg kemudian dilanjutkan 50 mg
tiap 10 sampai 20 menit jika dibutuhkan (sampai 250 mg untuk 1 jam pertama). Dosis
pemeliharaannya adalah 50 100 mg tiap 4 sampai 6 jam dengan dosis maksimal adalah
600 mg per hari. Untuk sediaan suppositoria / lewat anus, 100 mg supp diberikan sampai
4 kali sehari.

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI


Loratadine merupakan salah satu obat golongan antihistaminyang bekerja panjang
dengan aktivitas antagonis terhadap reseptor histamin perifer H1 yang selektif.
Antihistamin sendiri ditujukan untuk mengurangi gejala pada penyakit rhinitis alergi dan
urtikaria kronik. Generasi kedua dari antihistamin memiliki fungsi yang sama tanpa
disertai efek sedasi / mengantuk karena berkurangnya efek antikolinergik pada sistem
saraf pusat. Efek sedasi / mengantuk ini merupakan efek yang tidak diinginkan oleh
pasien yang memiliki pekerjaan seperti supir atau mereka yang mengoperasikan alat
alat berat, dan juga mereka yang memiliki pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi
yang tinggi. Loratadine sendiri merupakan generasi kedua dari antihistamin, khususnya
antagonis reseptor H1. Obat ini memiliki kelebihan yaitu dosisnya yang rendah untuk
mencapai efek terapi dan juga frekuensi penggunaan yang hanya sekali sehari.
Efek Loratadine biasanya tercapai dalam waktu 1 sampai 3 jam setelah konsumsi, dan
mencapai efek maksimal pada 8 12 jam. Tidak terdapat bukti adanya toleransi
terhadap obat ini setelah pemakaian 28 hari. Obat ini juga dengan baik diserap melalui
saluran pencernaan.
Melihat fungsinya, Loratadine memang diindikasikan untuk mengatasi gejala bersin
bersin, hidung gatal, pilek pada kasus rhinitis alergi sampai gatal dan sensasi terbakar
pada mata. Selain itu, obat ini juga dapat digunakan untuk mengatasi urtikaria kronik
dan juga kelainan kulit alergi lainnya. Obat ini hanya dikontraindikasikan pada pasien
dengan riwayat alergi / hipersensitif terhadap komponen Loratadine.

EFEK SAMPING
Efek samping mengantuk memang tidak signifikan pada pemberian Loratadine.
Akantetapi, gejala seperti kelelahan, sakit kepala, mulut kering, mual, gastritis sampai
gejala gejala alergi terhadap komponen obat merupakan efek samping yang juga dapat
dirasakan. Pada kasus jarang, gangguan fungsi hati, kelainan irama jantung juga dapat
terjadi.

DOSIS
Sediaan dari Loratadine adalah tablet 10 mg dan sirup. Dosis untuk orang dewasa dan
anak diatas 12 tahun adalah 10 mg per hari, sebaiknya sebelum makan. Sirup
diperuntukkan untuk anak anak antara umur 2 12 tahun. Pada anak dengan berat
badan diatas 30 kg, pemberian 2 sendok teh (10 mg) merupakan dosis yang tepat,
sedangkan anak dengan berat badan dibawah 30 kg, dosis 5 mg (1 sendok teh) dapat
diberikan.

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI


Doksisiklin merupakan antibiotik sintetik / buatan spektrum luas yang merupakan
turunan dari oksitetrasiklin. Fungsi utamanya adalah sebagai bakteriostatik /
penghambat pertumbuhan bakteri dengan cara menghambat sintesis protein bakteri.
Doksisiklin hanya menghambat bakteri yang membelah secara cepat. Secara umum,
obat ini diserap hampir sempurna setelah konsumsi, dan kelebihannya adalah obat ini
tidak dipengaruhi penyerapannya oleh susu atau makanan.
Doksisiklin diindikasikan untuk mengatasi infeksi tanpa komplikasi pada dada, urethra,
endoserviks, atau rektum orang dewasa yang disebabkan oleh organisme
seperti Rickettsiae, Mycoplasma pneumoniae, Borrelia reccurentis, Chlamydia
trachomatis, Haemophilus ducreyi, Pasteurella pestis, Bartonella bacilliformis, dsb.
Doksisiklin juga dapat efektif terhadap Neisseia gonorrhoeae, Escherichia coli, Shigella
sp, Klebsiella sp, Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus walaupun
penggunaannya memerlukan tes sensitivitas terlebih dahulu karena pada beberapa
kasus telah terjadi resistensi.
Selain itu, doksisiklin juga dapat digunakan sebagai tambahan mengatasi amoebiasis
usus dan juga acne yang berat.
Alergi / hipersensitivitas terhadap komponen obat merupakan satu satunya
kontraindikasi mutlak dari penggunaan obat ini. Obat ini juga sebaiknya tidak digunakan
pada ibu hamil karena dapat menyebabkan pewarnaan pada gigi janin yang permanen.
Selain itu, juga pernah dilaporkan adanya gangguan pertumbuhan tulang pada janin.
Olehkarena itu, penggunaan obat ini sebaiknya dihindari kecuali manfaatnya melebihi
risiko. Penggunaannya juga tidak disarankan pada ibu yang menyusui karena obat ini
dikeluarkan juga pada air susu.

EFEK SAMPING
Efek samping yang terjadi biasanya berhubungan dengan dosis doksisiklin yang tinggi.
Saluran pencernaan merupakan organ yang paling sering terkena efek ini. Mual,
muntah, diare, radang pada lidah, sulit menelan, radang pada usus dengan pertumbuhan
jamur pada usus merupakan beberapa efek samping yang dapat ditemui. Kelainan pada
kulit seperti kemerahan, gatal juga ditemui pada pasien yang ternyata memiliki alergi
terhadap komponen doksisiklin. Pada kasus jarang, kelainan darah seperti
trombositopenia, anemia hemolitik, eosinofilia juga dapat ditemui sebagai efek dari
konsumsi doksisiklin.

DOSIS
Dosis awal pada orang dewasa biasanya 200 mg pada hari pertama pemberian yang
dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan 100 mg / hari. Dosis ini dapat diberikan dalam
sekali pemberian sehari / dosis tunggal atau dosis terbagi (setiap 12 jam). Pengobatan
juga harus diteruskan sampai minimal 1 2 hari setelah gejala dan demam menghilang.
Pada infeksi yang disebabkan oleh Streptococcus, pengobatan harus dilanjutkan minimal
10 hari.

Dosis doksisiklin untuk anak dibawah 50 kg (dengan usia diatas 12 tahun) adalah 4
mg/kg pada hari pertama dan 2 mg/kg untuk hari selanjutnya.

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI


Kloramfenikol merupakan suatu golongan antibiotik yang menghambat pertumbuhan
bakteri. Obat jenis ini mempunyai spektrum kerja yang luas terhadap banyak bakteri
diantaranya H.influenza, N. meningitides, S. pneumonia, S. pyogenes, S.agalactiae,
S.pneumonia, S.aureus dan banyak bakteri lainnya. Beberapa golongan yang diketahui
kebal terhadap obat ini antara lain P.aeruginosa, shigella dan salmonella.
Obat ini digunakan pada infeksi dimana diketahui kuman penyebabnya sensitive
terhadap kloramfenikol dan obat lain yang kurang toksik tidak tersedia. Beberapa
penyakit dimana sering digunakan kloramfenikol adalahdemam typhoid, radang selaput
otak atau meningitis yang disebabkan oleh bakteri, penyakit yang diakibatkan oleh
infeksi ricketsia, dan brucellosis. Penggunaan pada ibu hamil harus berhati hati dan
hanya diberikan bila tidak dapat diberikan obat lain.

EFEK SAMPING
Efek samping yang mungkin terjadi adalah reaksi hipersensitivitas, demam, kemerahan
pada tubuh, mimpi buruk, bengkak pada wajah dan mata, anemia, penurunan jumlah sel
darah putih maupun trombosit yang disebabkan karena supresi pada sumsum tulang,
mual, muntah, diare, kesemutan, gangguan penglihatan. Penggunaan dosis tinggi pada
bayi baru lahir dapat menyebabkan grey baby syndrome dimana keadaannya memburuk
dengan cepat.
Penggunaan kloramfenikol membutuhkan adanya pemeriksaan darah secara berkala
untuk mendeteksi timbulnya efek samping serius penghambatan pembentukan sel
darah. Penggunaan kloramfenikol sekarang sudah banyak ditinggalkan kecuali tidak
dapat digunakan obat jenis lain.
Penggunaan kloramfenikol harus berhati hati pada penderita gangguan fungsi hati
berat dikarenakan obat ini diproses di hati dan dapat masuk hingga ke cairan
otak, plasenta dan ke janin. Penggunaan pada pasiengagal ginjal dan kerusakan hati
berat dapat menyebabkan obat ini tersedia dalam darah dengan dosis tinggi dan
meningkatkan resiko toksisitasnya.

DOSIS
Secara umum dosis kloramfenikol pada dewasa adalah 50 mg/kg hari dibagi pemberian
tiap 6 jam. Dapat diberikan dosis tinggi hingga 10 mg/kg/hari. Pada anak anak, dapat
diberikan dosis seperti dewasa namun pada anak yang kecil dapat diberikan dengan
dosis 25 mg/kg/hari dibagi 4 kali pemberian.

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI


Natrium (Na) diklofenak merupakan obat golongan Non-Steroidal Anti Inflammatory
Drugs (NSAIDs). Na diklofenak digunakan untuk mengurangi rasa nyeri, pembengkakan
akibat peradangan, dan kekakuan sendi akibat artritis (radang sendi), seperti pada
artritis reumatoid, osteoartritis, artritis gout, spondilitis ankilosa, dan spondiloartritis. Na
diklofenak juga dapat digunakan untuk reumatik yang terjadi di luar persendian, seperti
lumbago (nyeri punggung bawah), bursitis (peradangan kantung kecil yang berisi cairan
dan berfungsi sebagai bantalan tulang, tendon, dan otot di dekat sendi), dan miositis
(peradangan otot). Selain untuk nyeri dan kaku akibat reumatik, natrium diklofenak juga
dapat digunakan untuk mengurangi nyeri akut ringan hingga sedang pada orang
dengan dismenore (nyeri haid) dan migrain akut.
Kontraindikasi absolut penggunaan natrium diklofenak adalah orang yang alergi terhadap
diklofenak, riwayataspirin triad (polip nasal, asma, dan intoleransi aspirin), pengobatan
nyeri perioperatif setelah dilakukan CABG (operasi bypass jantung). Peringatan bahaya
mengonsumsi Na diklofenak diberikan pada orang-orang dengan risiko kardiovaskular
(jantung dan pembuluh) dan risiko gastrointestinal (saluran pencernaan). Obat-obatan
golong NSAID, tidak terkecuali Na diklofenak, dapat meningkatkan risiko
kejadian penyakit jantungserius, infark miokard, dan stroke. Risiko meningkat seiring
dengan lamanya penggunaan dan riwayat penyakit jantung serta faktor risiko penyakit
jantung. Pada risiko gastrointestinal, obat golongan NSAID dapat menyebabkan
permasalah saluran pencernaan yang serius, seperti perdarahan, luka, hingga perforasi.
Permasalahan saluran cerna dapat berlangsung kapan pun tanpa tanda-tanda bahaya.
Orang tua memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami permasalahan saluran
cerna.

EFEK SAMPING
Efek samping yang dapat terjadi akibat mengonsumsi Na diklofenak antara lain: mual,
dada terasa panas,perut kembung, konstipasi, diare, nyeri kepala, mengantuk,
dan pusing. Terdapat beberapa efek samping lain yang meskipun jarang terjadi, namun
serius, seperti: reaksi alergi yang ditandai dengan kemerahan di kulit, gatal,
pembengkakan di wajah, lidah, atau tenggorokan, pusing berat, dan gangguan
pernapasan; pembengkakan di tangan dan kaki; kenaikan berat tubuh yang tiba-tiba;
gangguan pendengaran; perubahan mood; nyeri menelan; dan kelelahan yang tidak
biasanya. Jika terdapat gejala-gejala serius seperti yang dijelaskan di atas, maka harus
segera menghubungi dokter.

DOSIS

Dosis yang diberikan sesuai dengan kondisi kesehatan, respon terhadap pengobatan, dan
obat-obatan lainnya yang sedang diminum. Terdapat 3 jenis sediaan table Na diklofenak
yang beredar di pasaran, yaitu 25 mg, 50 mg, dan 75 mg.
Untuk artritis reumatoid dosis yang digunakan adalah 50 mg 34 kali sehari atau

75 mg 2 kali sehari;
Untuk osteoartritis adalah 50 mg 23 kali sehari atau 75 mg 2 kali sehari;
Untuk spondilitis ankilosa dosis yang digunakan adalah 25 mg 4 kali sehari dan
dapat ditambah 25 mg lagi sesaat sebelum tidur.

Na diklofenak baik dikonsumsi segera setelah makan untuk meminimalisir efek samping
di saluran pencernaan.

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI


F.G Troches adalah nama dagang obat golongan antiseptik mulut dan tenggorokan yang
diproduksi oleh PT. Meiji Indonesia. Kandungan obat ini adalah antibiotik Fradiomisin
sulfat 2,5 mg dan Gramisidin-S HCl 1 mg. Fradiomisin (atau Neomisin Sulfat) adalah
antibiotik yang efektif membunuh bakteri Gram negatif, sedangkan Gramisidin adalah
antibiotik yang efektif membunuh bakteri Gram positif. Kedua obat ini dikombinasikan
untuk dapat membunuh spektrum bakteri yang luas. F.G. Troches tersedia dalam bentuk
tablet hisap yang diindikasikan untuk meredakan infeksi pada radang tenggorokan,
radang gusi, radang amandel, sariawan, dan radang lain pada rongga mulut. Selain itu,
obat ini juga dapat digunakan untuk mencegah infeksi pada penderita setelah operasi
gigi dan mulut. Tidak ada kontraindikasi khusus terhadap F.G. Troches, namun orang
dengan riwayat alergi terhadap obat golongan aminoglikosida(seperti Streptomisin,
Kanamisin, Gentamisin) sebaiknya tidak mengkonsumsi obat ini. Penggunaan harus
berhati hati pada orang lanjut usia karena berisiko mengalami avitaminosis (penyakit
akibat kekuranganvitamin).

EFEK SAMPING
F.G. Troches adalah obat yang relatif aman dan jarang menyebabkan efek samping yang
serius. Efek samping umumnya berupa kemerahan pada rongga mulut, kehitaman
pada lidah, penurunan nafsu makan, mual, atau gangguan saluran cerna. Pada orang
lanjut usia dan malnutrisi, dapat menyebabkan gejala kekurangan vitamin B seperti
radang lidah, sariawan, dan radang sel saraf. Konsumsi dosis tinggi dalam jangka
panjang dapat menyebabkan kerusakan sel saraf, sel pendengaran, dan atau sel ginjal.

DOSIS
F.G. Troches berupa tablet yang mudah larut pada saluran lendir. Penggunaan obat ini
adalah dengan cara dihisap atau diletakkan di bawah lidah. Dosis anak adalah 1 tabelt
dan dosis orang dewasa adalah 1 2 tablet. Dosis tersebut dapat dikonsumsi 4 5 kali
per hari. Penggunaan obat ini disarankan tidak melebihi 7 hari.

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI


Cefadroxil adalah salah satu jenis obat golongan antibiotik. Cefadroxil, yang termasuk ke
dalam golongan sefalosporin, merupakan jenis antibiotik yang memiliki ruang lingkup
yang luas. Yang dimaksud dengan ruang lingkup luas adalah obat ini dapat melawan
infeksi akibat bakteri gram positif ataupun bakteri gram negatif.
Antibiotik cefadroxil adalah antibiotik yang bekerja dengan mematikan bakteri. Karena
memiliki ruang lingkup yang luas maka cefadroxil banyak digunakan dalam penanganan
berbagai jenis infeksi. Beberapa jenis infeksi yang dapat diobati dengan cefadroxil,
antara lain infeksi saluran pernafasan atas (seperti radang tenggorokan dan radang
amandel), infeksi pada kulit, infeksi saluran kemih, atau infeksi pada kelamin.
Cefadroxil relatif merupakan obat yang cukup aman. Namun pemakaian obat antibiotik,
termasuk cefadroxil, tidak boleh sembarangan dan harus melalui instruksi dokter.
Kontraindikasi atau larangan penggunaan cefadroxil, yaitu riwayat alergi dengan
golongan sefalosporin, gangguang ginjal, dan penggunaan jangka panjang. Cefadroxil
aman digunakan pada ibu yang sedang hamil dan anak-anak. Untuk ibu yang sedang
menyusui, pemakaian cefadroxil harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak sembarang.

EFEK SAMPING
Seperti kebanyakan obat lain, cefadroxil dapat menimbulkan efek samping dalam
penggunaannya. Namun demikian, efek samping ini tidak selalu muncul pada semua
orang yang menggunakan cefadroxil. Cefadroxil adalah obat yang dikonsumsi melalui
mulut, maka efek samping banyak terjadi pada saluran pencernaan. Beberapa efek
samping yang mungkin terjadi, yaitu diare, nyeri perut, mual, muntah, bintik-bintik
kemerahan pada kulit, dan reaksi alergi dari yang ringan (gatal dan urtika) hingga berat,
(seperti Stevens-Johnson Syndrome dan anafilaksis.

DOSIS
Obat cefadroxil memiliki penyerapan yang baik di dalam usus. Salah satu keunggulan
lainnya, adalah bekerja dalam waktu panjang sehingga Anda tidak perlu sering-sering
meminum obat. Cefadroxil bekerja dengan menghambat pembentukan dinding sel dari
kuman atau bakteri.
Cefadroxil tersedia dalam sediaan 500 mg. dosis yang dianjurkan untuk orang dewasa
sehat, yaitu 2 x 500 mg per harinya. Sementara dosis anak-anak disesuaikan dengan
berat badannya. Untuk pasien khusus seperti gagal ginjal, maka dosis cefadroxil harus
disesuaikan dan dikurangi.

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Ceproxin adalah nama dagang atau merek obat paten dari ciprofloxacin. Ciprofloxacin
adalah antibiotik golongan flurokuinolon. Antibiotik ini lebih poten atau lebih kuat dari
atibiotik amoksilin yang sangat popular di Indonesia. Ceproxin tersedia dalam kemasan
250 mg dan 500 mg.
Ceproxin 250 mg diberikan untuk kondisi berikut:
Radang tenggorokan;
Infeksi saluran kemih;
Diare akibat infeksi bakteri;
Radang paru-paru;
Infeksi kulit;
Sinusitis.

Ceproxin tidak boleh diberikan pada kondisi alergi terhadap ciprofloxacin. Ceproxin dapat
meningkatkan risiko radang tendon (jaringan yang menghubungkan antartulang).
Pemberian ceproxin juga perlu dibawah pengawasan dokter pada wanita hamil dan pada
penderita dengan gangguan fungsi ginjal.

EFEK SAMPING
Ceproxin termasuk obat yang relatif aman. Efek samping yang biasa dikeluhkan saat
mengonsumsi ceproxin adalah berdebar-debar. Efek samping lain yang pernah dilaporkan
antara lain:
1.
Mual, muntah;
2.
Nyeri perut;
3.
Diare;
4.
Gangguan fungsi hati;
5.
Gangguan fungsi ginjal;
6.
Sakit kepala;
7.
Kemerahan pada kulit;
8.
Alergi;
9.
Nyeri dada;
10.
Nyeri pinggang;
11.
Sulit tidur;
12.
Peningkatan atau penurunan tekanan darah, dan sebagainya.

DOSIS
Ceproxin tersedia dalam kemasan tablet. Satu tablet ceproxin ada yang mengandung
dosis ciprofloxaxin 250 mg dan 500 mg. Untuk radang tenggorokan, infeksi saluran
kencing, dan lain-lain, dosis ceproxin untuk dewasa ialah dua kali 500 mg atau 4 tablet
ceproxin 250 mg. Dosis untuk anak usia lebih dari 1 tahun ialah 6-10 mg/kg berat badan
diberikan tiga kali sehari. Dosis untuk anak usia di atas 1 tahun ialah 10-20 mg/kg berat
badan diberikan dua kali sehari. Bila pasien memiliki gagal ginjal maka dosis dikurangi
sesuai dengan tingkat gangguan ginjal.

Ceproxin sebenarnya bukan merupakan pilihan antibiotik utama pada anak-anak


mengingat potensinya yang terbilang kuat dibandingkan antibiotik lainnya. Hal yang juga
penting diingat ialah bahwa ceproxin yang diresepkan harus dihabiskan untuk mencegah
kekebalan kuman terhadap pengobatan.

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Ceproxin adalah nama dagang atau merek obat paten dari ciprofloxacin. Ciprofloxacin
adalah antibiotik golongan flurokuinolon. Antibiotik ini lebih poten atau lebih kuat dari
atibiotik amoksilin yang sangat popular di Indonesia. Ceproxin tersedia dalam kemasan
250 mg dan 500 mg.
Ceproxin 250 mg diberikan untuk kondisi berikut:
Radang tenggorokan;
Infeksi saluran kemih;
Diare akibat infeksi bakteri;
Radang paru-paru;
Infeksi kulit;
Sinusitis.

Ceproxin tidak boleh diberikan pada kondisi alergi terhadap ciprofloxacin. Ceproxin dapat
meningkatkan risiko radang tendon (jaringan yang menghubungkan antartulang).
Pemberian ceproxin juga perlu dibawah pengawasan dokter pada wanita hamil dan pada
penderita dengan gangguan fungsi ginjal.

EFEK SAMPING
Ceproxin termasuk obat yang relatif aman. Efek samping yang biasa dikeluhkan saat
mengonsumsi ceproxin adalah berdebar-debar. Efek samping lain yang pernah dilaporkan
antara lain:
1.
Mual, muntah;
2.
Nyeri perut;
3.
Diare;
4.
Gangguan fungsi hati;
5.
Gangguan fungsi ginjal;
6.
Sakit kepala;
7.
Kemerahan pada kulit;
8.
Alergi;
9.
Nyeri dada;
10.
Nyeri pinggang;
11.
Sulit tidur;
12.
Peningkatan atau penurunan tekanan darah, dan sebagainya.

DOSIS
Ceproxin tersedia dalam kemasan tablet. Satu tablet ceproxin ada yang mengandung
dosis ciprofloxaxin 250 mg dan 500 mg. Untuk radang tenggorokan, infeksi saluran
kencing, dan lain-lain, dosis ceproxin untuk dewasa ialah dua kali 500 mg atau 4 tablet
ceproxin 250 mg. Dosis untuk anak usia lebih dari 1 tahun ialah 6-10 mg/kg berat badan
diberikan tiga kali sehari. Dosis untuk anak usia di atas 1 tahun ialah 10-20 mg/kg berat
badan diberikan dua kali sehari. Bila pasien memiliki gagal ginjal maka dosis dikurangi
sesuai dengan tingkat gangguan ginjal.

Ceproxin sebenarnya bukan merupakan pilihan antibiotik utama pada anak-anak


mengingat potensinya yang terbilang kuat dibandingkan antibiotik lainnya. Hal yang juga
penting diingat ialah bahwa ceproxin yang diresepkan harus dihabiskan untuk mencegah
kekebalan kuman terhadap pengobatan.

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Ceproxin adalah nama dagang atau merek obat paten dari ciprofloxacin. Ciprofloxacin
adalah antibiotik golongan flurokuinolon. Antibiotik ini lebih poten atau lebih kuat dari
atibiotik amoksilin yang sangat popular di Indonesia. Ceproxin tersedia dalam kemasan
250 mg dan 500 mg.
Ceproxin 250 mg diberikan untuk kondisi berikut:
Radang tenggorokan;
Infeksi saluran kemih;
Diare akibat infeksi bakteri;
Radang paru-paru;
Infeksi kulit;
Sinusitis.

Ceproxin tidak boleh diberikan pada kondisi alergi terhadap ciprofloxacin. Ceproxin dapat
meningkatkan risiko radang tendon (jaringan yang menghubungkan antartulang).
Pemberian ceproxin juga perlu dibawah pengawasan dokter pada wanita hamil dan pada
penderita dengan gangguan fungsi ginjal.

EFEK SAMPING
Ceproxin termasuk obat yang relatif aman. Efek samping yang biasa dikeluhkan saat
mengonsumsi ceproxin adalah berdebar-debar. Efek samping lain yang pernah dilaporkan
antara lain:
1.
Mual, muntah;
2.
Nyeri perut;
3.
Diare;
4.
Gangguan fungsi hati;
5.
Gangguan fungsi ginjal;
6.
Sakit kepala;
7.
Kemerahan pada kulit;
8.
Alergi;
9.
Nyeri dada;
10.
Nyeri pinggang;
11.
Sulit tidur;
12.
Peningkatan atau penurunan tekanan darah, dan sebagainya.

DOSIS
Ceproxin tersedia dalam kemasan tablet. Satu tablet ceproxin ada yang mengandung
dosis ciprofloxaxin 250 mg dan 500 mg. Untuk radang tenggorokan, infeksi saluran
kencing, dan lain-lain, dosis ceproxin untuk dewasa ialah dua kali 500 mg atau 4 tablet
ceproxin 250 mg. Dosis untuk anak usia lebih dari 1 tahun ialah 6-10 mg/kg berat badan

diberikan tiga kali sehari. Dosis untuk anak usia di atas 1 tahun ialah 10-20 mg/kg berat
badan diberikan dua kali sehari. Bila pasien memiliki gagal ginjal maka dosis dikurangi
sesuai dengan tingkat gangguan ginjal.
Ceproxin sebenarnya bukan merupakan pilihan antibiotik utama pada anak-anak
mengingat potensinya yang terbilang kuat dibandingkan antibiotik lainnya. Hal yang juga
penting diingat ialah bahwa ceproxin yang diresepkan harus dihabiskan untuk mencegah
kekebalan kuman terhadap pengobatan.

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI


Asam mefenamat adalah obat pereda nyeri dan peradangan. Obat ini termasuk nonsteroid anti-inflammatory drug (NSAID) yang bekerja menghambat pembengkakan, nyeri,
kekakuan, dan demam. Obat ini diindikasikan untuk penderita nyeri ringan sampai
sedang dan penyakit dengan peradangan, umumnya nyeri gigi, nyeri menstruasi, nyeri
otot atau sendi, dan nyeri setelah melahirkan. Obat ini harus diberikan secara hati hati
pada orang dengan riwayat alergi obat NSAID lainnya. Asam mefenamat bersifat
mengiritasi lambung sehingga lebih baik tidak digunakan oleh penderita luka lambung
atau usus. Obat ini juga dihindari pada penderita gangguan hati atau ginjal karena obat
ini dibuang melalui organ tersebut sehingga dapat memperberat kelainan fungsi hati dan
ginjal. Ibu hamil trimester ketiga dan ibu menyusui juga merupakan kontraindikasi
penberian asam mefenamat karena obat ini dapat menyebabkan kecacatan pada bayi
yang dikandung dan dibuang melalui air susu. Anak di bawah 14 tahun tidak disarankan
menerima obat ini karena efektivitas dan efek samping asam mefenamat pada anak
anak belum diketahui.

EFEK SAMPING
Efek samping yang timbul bervariasi dari ringan sampai berat, tergantung pada reaksi
tubuh masing masing orang terhadap obat ini. Efek samping asam mefenamat yang
umum ditemui berupa nyeri perut, nyeri telinga, nyeri saat buang air kecil, telinga
berdenging,s pusing, diare, mual, sulit tidur, penurunan nafsu makan, dan kelelahan.
Efek samping lain yang lebih berat berupa gangguan fungsi ginjal, gangguan napas,
gangguan penglihatan, gangguan darah, kejang, penurunan kesadaran, dan depresi.
Namun, pada sebagian besar orang asam mefenamat tidak menimbulkan efek samping
yang bermakna. Asam mefenamat tidak menimbulkan efek ketergantungan namun dapat
menyebakan alergi pada beberapa orang. Reaksi alergi berupa gatal, bintik bintik
kulit, bengkak pada bibir atau mata, sampai pingsan.

DOSIS
Dosis awal diberikan 500 mg, kemudian dilanjutkan 4 x 250 mg. Asam mefenamat tidak
boleh diminum lebih dari 2500 mg per hari. Pemberian asam mefenamat disarankan
tidak melebihi 7 hari. Efek anti nyeri timbul cepat beberapa jam setelah dikonsumsi,
namun efek anti-peradangan timbul setelah beberapa dosis. Asam mefenamat diminum
setelah makan karena dapat mengiritasi lambung. Jangan mengkonsumsi alkohol
bersamaan dengan asam mefenamat karena dapat menyebabkan perdarahan saluran
cerna. Beberapa jenis obat dapat berinteraksi dengan asam mefenamat sehingga
penggunaannya harus dikonsultasikan dengan dokter, antara lain obat pengencer darah,
anti-depresi, anti-hipertensi, kemoterapi, NSAID jenis lain, dan obat obatan jantung.

Citicoline adalahpsychostimulant. Citicoline ini merupakan zat kimia di otak yang terjadi secara
alamiah dalam tubuh. Untuk sebagian orang, suplemen citicoline ini digunakan sebagai obat.
Indikasi:
Untuk meningkatkan zat kimia oatak yang disebutphosphatidylcholine. Zat kimia ini penting untuk
fungsi otak. Citicoline juga bisa mengurangi kerusakan jaringan otak ketika otak terluka.
Dosis:
1. 200-600 mg/hari melalui mulut (per oral), dibagi menjadi 2-3 kali sehari, atau
2. 250-500 mg/hari melalui otot (intra muscular) atau melalui pembuluh darah (intra venous),
hingga 1 gr/hari
Efek Samping:
Stimulasi parasimpatetik, hipotensi
Instruksi Khusus:
Berkontraindikasi pada pasien dengan parasimpatetik hipertonia.(ir/ir)

Cymevene
Komposisi:

Ganciclovir

Indikasi:

Infeksi cytomegalovirus (cmv) pada pasien 'immunocompromised' : Acquired immune


deficiency syndrome, immunosupresi iatrogenik yang berkaitan dengan transplantasi
organ atau kemoterapi untuk neoplasia. Pencegahan infeksi cytomegalovirus terutama
pada penderita dengan terapi imunosepresi sekunder terhadap transplantasi organ

Dosis:

Infeksi cytomegalovirus awal (induksi) : 5 mg/kg berat badan infus perlahan selama 1
jam per 12 jam, (10 mg/kg berat badan per hari), lama pengobatan 14 - 21 hari.
Pemeliharaan (terapi jangka panjang) : untuk penderitaan immunocompromised
dengan bahaya kambuh dari cytomegalovirus retinitis : 6 mg/kg berat badan 1 kali
sehari (intra vena) selama 5 hari per minggu atau 5 mg/kg berat badan 1 kali sehari
selama 7 hari per minggu. pencegahan infeksi cytomegalovirus induksi : intra vena : 5
mg/kg berat badan per 12 jam (intra vena) (10 mg/kg berat badan per hari) selama 7 14 hari. pemeliharaan 6 mg/kg berat badan per hari (intra vena) selama 5 hari per
minggu atau 5 mg/kg berat badan per hari selama 7 hari per minggu. penderita
insufisiensi ginjal kreatini serum < 124 micromole atau liter 5 mg/kg berat badan per 12
jam, 125 - 225 micromole atau liter 2.5 mg/kg berat badan per 12 jam, 226 - 398
micromole atau liter 2.5 mg/kg berat badan per 24 jam, 398 micromole atau liter 1.25
mg/kg berat badan per 24 jam. penderita yang mengalami dialisis : 1.25 mg/kg berat
badan per 24 jam. pada hari menjalani dialisis, dosis diberikan segera setelah dialisis

Kontra Indikasi:

Hamil dan laktasi. Pasien dengan nilai neutrofil < 500 sel atau microlitre

Perhatian:

Penderitaan dengan riwayat sitopenia. Terapi harus disertai cukup hidrasi. Dosis
disesuaikan untuk pasien dengan gangguan ginjal. Laruutan yang telah di rekonstitusi
mempunyai pH tinggi (9 - 11). Hindari mengendarai kendaraan bermotor atau
menjalankan mesin

Efek Samping:

Demam, ruam, leukopenia, trombositopenia, anemia, menurunya gula darah

Interaksi Obat:

Probenecid menurunkan clearance ganciclovir. Dapsone, pentamidine, fluocystosine,


vincristine, vinblastine, andriamycin, amphotericin B, trimethoprim : meningkatkan
toksisitas. Zidovudine : neutropenia berat. Imipenem-cilastatin

Kemasan:

Vial 500 mg x 1 x 1

TENTANG MANITOL

LATAR BELAKANG
Obat yang menyebabkan suatu keadaan meningkatnya aliran urine disebut
diuretik. Obat-obat ini merupakan penghambat transport ion yang menurunkan
reabsorbsi Na+ dan ion lain seperti Cl+ memasuki urine dalam jumlah lebih
banyak dibandingkan dalam keadaan normal bersama air, yang mengangkut
secara pasif untuk mempertahankan keseimbangan osmotic. Perubahan osmotik
dimana dalam tubulus menjadi meningkat karena natrium lebih banyak dalam
urine, dan mengikat air lebih banyak didalam tubulus ginjal. Dan produksi urine
menjadi lebih banyak. Dengan demikian diuretic meningkatkan volume urine dan
sering mengubah PH-nya serta komposisi ion didalam urine dan darah.
Pada gangguan neurologis, diuretic osmotik (Manitol) merupakan jenis diuretik
yang paling banyak digunakan untuk terapi oedema otak. Manitol adalah suatu
hiperosmotik agent yang digunakan dengan segera meningkat volume plasma
untuk meningkatkan aliran darah otak dan menghantarkan oksigen. Ini
merupakan salah satu alasan manitol sampai saat ini masih digunakan untuk
menurunkan peningkatan tekanan intra cranial.

DEFINISI
Manitol merupakan 6-karbon alkohol, yang tergolong sebagai obat diuretic
osmotik. Istilah diuretik osmotik terdiri dari dua kata yaitu diuretik dan osmotik.
Diuretik ialah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urine dengan
adanya natriuresis (peningkatan pengeluaran natrium) dan diuresis (peningkatan
pengeluaran H2O). Diuretik Osmotik (manitol) adalah diuretik yang mempunyai
efek meningkatkan produksi urin, dengan cara mencegah tubulus mereabsorbsi
air dan meningkatkan tekanan osmotic di filtrasi glomerulus dan tubulus.
Istilah diuretic osmotik biasanya dipakai untuk zat bukan elektrolit yang mudah
dan cepat diekskresi oleh ginjal.
Suatu zat dapat bertindak sebagai diuretic osmotic apabila memenuhi 4 syarat:
(1) difiltrasi secara bebas oleh glomerulus;
(2) tidak atau hanya sedikit direbasorbsi sel tubulus ginjal;
(3) secara farmakologis merupakan zat yang inert,
(4) umumnya resisten terhadap perubahan-perubahan metabolic.
FARMAKODINAMIK
Tempat kerja utama manitol adalah:
(1) Tubuli proksimal, yaitu dengan menghambat reabsorpsi natrium dan air

melalui daya osmotiknya;


(2) Ansa henle, yaitu dengan penghambatan reabsorpsi natrium dan air oleh
karena hipertonisitas daerah medula menurun;
(3) Duktus koligentes, yaitu dengan penghambatan reabsorbsi natrium dan air
akibat adanya papillary wash out, kecepatan aliran filtrat yang tinggi, atau
adanya faktor lain.
Diuresis osmotic digunakan untuk mengatasi kelebihan cairan di jaringan
(intrasel) otak. Diuretic osmotic yang tetap berada dalam kompartemen
intravaskuler efektif dalam mengurangi pembengkakan otak. Manitol adalah
larutan hiperosmolar yang digunakan untuk terapi meningkatkan osmolalitas
serum. Dengan alasan fisiologis ini, Cara kerja Diuretic Osmotik (Manitol) ialah
meningkatkan osmolalitas plasma dan menarik cairan normal dari dalam sel
otak yang osmolarnya rendah ke intravaskuler yang osmolar tinggi, untuk
menurunkan oedema otak. Pada sistem ginjal bekerja membatasi reabsobsi air
terutama pada segmen dimana nefron sangat permeable terhadap air, yaitu
tubulus proksimal dan ansa henle desenden. Adanya bahan yang tidak dapat
direabsobsi air normal dengan masukkan tekanan osmotic yang melawan
keseimbangan. Akibatnya, volume urine meningkat bersamaan dengan ekskresi
manitol. Peningkatan dalam laju aliran urin menurunkan waktu kontak antara
cairan dan epitel tubulus sehingga menurunkan reabsobsi Na+. Namun
demikian, natriureis yang terjadi kurang berarti dibandingkan dengan diureisi air,
yang mungkin menyebabkan Hipernatremia. Karena diuretic Osmotik untuk
meningkatkan ekskresi air dari pada ekskresi natrium, maka obat ini tidak
digunakan untuk mengobati Retensi Na+. Manitol mempuyai efek meningkatkan
ekskresi sodium, air, potassium dan chloride, dan juga elekterolit lainnya.
FARMAKOKINETIK
Manitol merupakan diuretik osmotik yang spesifik karena tidak diabsorpsi dalam
traktus gastrointestinal. Manitol sangat sedikit dimetabolisme oleh tubuh, lebih
kurang 7% dimetabolisme di hati dan hanya 7% diabsorpsi. Sebagian besar
manitol (>90%) dikeluarkan oleh ginjal dalam bentuk utuh pada urin. Manitol
diekresikan melalui filtrasi glomerulus dalam waktu 30 60 menit setelah
pemberian. Diuretic osmotic absobsinya buruk bila diberikan peroral, sehingga
obat ini harus diberikan secara parenteral (intravena) dalam jumlah besar.
Berdasarkan farmakokinetik dan farmakodimik diketahui beberapa mekanisme
aksi dari kerja Manitol sekarang ini adalah sebagai berikut:
1)
Menurunkan Viskositas darah dengan mengurangi haematokrit, yang
penting untuk mengurangi tahanan pada pembuluh darah otak dan
meningkatkan aliran darah ke otak, yang diikuti dengan cepat vasokontriksi dari
pembuluh darah arteriola dan menurunkan volume darah otak. Efek ini terjadi
dengan cepat (menit).
2)
Manitol tidak terbukti bekerja menurunkan kandungan air dalam jaringan
otak yang mengalami injuri, manitol menurunkan kandungan air pada bagian
otak yang yang tidak mengalami injuri, yang mana bisa memberikan ruangan
lebih untuk bagian otak yang injuri untuk pembengkakan (membesar).
3)
Cepatnya pemberian dengan bolus intravena lebih efektif dari pada infuse

lambat dalam menurunkan peningkatan tekanan intra cranial.


4)
Terlalu sering pemberian manitol dosis tinggi bisa menimbulkan gagal
ginjal. ini dikarenakan efek osmolalitas yang segera merangsang aktivitas
tubulus dalam mensekresi urine dan dapat menurunkan sirkulasi ginjal.
5)
Pemberian manitol bersama lasik (Furosemid) mengalami efek yang
sinergis dalam menurunkan PTIK. Respon paling baik akan terjadi jika Manitol
diberikan 15 menit sebelum Lasik diberikan.
INDIKASI dan DOSIS
Manitol dapat digunakan misalnya untuk profilaksis gagal ginjal akut, suatu
keadaan yang dapat timbul akibat operasi jantung, luka traumatik berat, dan
menderita ikterus berat. Manitol juga banyak digunakan untuk menurunkan
tekanan serebrospinal dan tekanan intraokuler, serta pada pengelolaan terhadap
reaksi hemolitik transfusi.
Terapi penatalaksanaan untuk menurunkan peningkatan tekanan intra cranial
dimulai bila mana tekanan Intra cranial 20-25 mmHg. Managemen
Penatalaksanaan Peningkatan tekanan Intra cranial salah satunya adalah
pemberian obat diuretik osmotik (Manitol), khususnya pada keadaan patologis
Oedema Otak.
Manitol tersedia dalam berbagai kemasan dan konsentrasi, yaitu: manitol 10%
dalam kemasan plabottle 250 ml (25 gr) dan 500 ml (50 gr). Manitol 20% dalam
kemasan plabottle 250 ml (50 gr) dan 500 ml (100 gr). Sebelum digunakan
manitol dihangatkan terlebih dahulu untuk melarutkan kristal-kristalnya. Untuk
menurunkan tekanan Intra cranial, dosis Manitol 0.25 1 gram/kgBB diberikan
bolus intra vena atau dosis tersebut diberikan selama lebih dari 10 15 menit.
Manitol dapat juga diberikan/dicampur dalam larutan Infus 1.5 2 gram/KgBB
sebagai larutan 15-20% yang diberikan selama 30-60 menit. Manitol diberikan
untuk menghasilkan nilai serum osmolalitas 310 320 mOsm/L dan seringkali
dipertahankan antara 290 310 mOsm. Tekanan Intra cranial harus dimonitor,
harus turun dalam waktu 60 90 menit, karena efek manitol dimulai setelah 0.5
1 jam pemberian. Fungsi ginjal, elektrolit, osmolalitas serum juga dimonitor
selama mendapatkan terapi manitol. Diperlukan perhatian dalam pemberian
manitol bila osmolalitas lebih dari 320 mOsm/L. Karena Diureis, Hipotensi dan
dehidrasi dapat terjadi dengan pemberian manitol dalam jumlah dosis yang
banyak.
KONTRA INDIKASI
Pada penderita payah jantung pemberian manitol berbahaya, karena volume
darah yang beredar meningkat sehingga memperberat kerja jantung yang telah
gagal. Pemberian manitol juga dikontraindikasikan pada penyakit ginjal dengan
anuria, kongesti atau udem paru yang berat, dehidrasi hebat, dan perdarahan
intra kranial, kecuali bila akan dilakukan kraniotomi, serta pada pasien yang
hipersensitivitas terhadap manitol.
TOKSISITAS

1) Ekspansi Cairan Ekstraseluler.


Manitol secara cepat didistribusikan ke ruangan ekstraseluler dan mengeluarkan
air dari ruang intraseluler. Awalnya, hal ini akan menyebabkan ekspansi cairan
ektraseluler dan hiponatremia. Efek ini dapat menimbulkan komplikasi gagal
jantung kongestif dan akan menimbulkan edema paru. Sakit kepala, mual, dan
muntah ditemukan pada penderita yang mendapatkan diuretic ini.
2) Dehidrasi Dan Hipernatremia.
Penggunaan Manitol berlebihan tanpa disertai pergantian air yang cukup dapat
menimbulkan dehidrasi berat, kehilangan air dan hipernatremia. Komplikasi ini
dapat dihindari dengan memperhatikan ion serum dan keseimbangan cairan.
3) Hiperkalemia
Hiperkalemia juga dapat timbul, dimana kadar potasium meningkat dalam darah.
Pasien harus segera diobservasi untuk tanda-tanda ketidakseimbangan elektrolit
dan cairan ini dengan pemeriksaan elektrolit darah.
4) Reaksi anafilaksis atau alergi
Reaksi anafilaksis atau alergi bisa terjadi yang menyebabkan kardiak output dan
tekanan arterial gagal drastis. Destruksi eritrosit yang ireversibel juga dapat
terjadi pada pemberian manitol.

KESIMPULAN

Manitol merupakan diuretik osmotik yang bekerja dengan cara meningkatkan


tekanan osmotik cairan intravaskuler sehingga diharapkan cairan tertarik ke
dalam vaskuler dan efek pada ginjal dapat meningkatkan aliran plasma, dan
menghambat reabsorpsi air dan elektrolit di tubulus proksimal, ansa henle, dan
duktus koligentes. Sehingga manitol dapat digunakan dalam penatalaksanaan
pencegahan gagal ginjal akut pada tindakan operasi dan luka traumatik berat,
juga dapat digunakan dalam menurunkan tekanan intrakranial dan intraokuler
pada penderita glaukoma serta dapat digunakan sebagai anti oedem. Lebih
spesifik lagi manitol sering digunakan sebagai anti oedem otak.
Selain hal-hal yang memberikan manfaat, manitol juga dapat memberikan efek
yang tidak diharapkan seperti pada pasien-pasien dengan payah jantung dan
kongestif atau udem paru yang merupakan kontra indikasi. Reaksi
hipersensitifitas juga dapat timbul pada pemberian manitol. Pengawasan pasien
selama pemberian manitol harus dilakukan terutama terhadap tanda-tanda
adanya payah jantung, kongesti atau oedem paru serta adanya tanda-tanda
ketidak seimbangan elektrolit terutama kalium.