Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN KASUS

DIARE AKUT DEHIDRASI RINGAN SEDANG ET


CAUSA INFEKSI BAKTERI DENGAN GIZI KURANG

Disusun Oleh:

Adinda Puspita Dewi


030.08.006

Pembimbing :
Dr.Stephanie Yulianto, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOJA
PERIODE 10 JUNI 24 AGUSTUS 2013
BAB I
1

PENDAHULUAN

Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang


termasuk di Indonesia, dan merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan tertinggi
pada anak, terutama usia dibawah 5 tahun.1,2 Selain itu diare juga menjadi masalah kesehatan
yang paling umum bagi para pelancong dari negara-begara industry yang menguunjungi daerahdaerah berkembang, terutama di daerah tropis. Perkiraan konservatif menempatkan angka
kematian global dari penyakit diare sekitar dua juta kematian pertahun (1,7 juta-2,5 juta
kematian), merupakan peringkat ketiga diantara semua penyebab kematian penyakit menular di
seluruh dunia.2
Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari
biasanya (> 3 kali/hari) disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi cair), dengan/tanpa darah
dan/ atau lendir. Diare akut adalah diare yang terjadi secara mendadak pada bayi dan anak yang
sebelumnya sehat. Diare kronik adalah diare yang berlanjut sampai 2 minggu atau lebih dengan
kehilangan berat badan atau berat badan tidak bertambah (failure to thrive) selama masa diare
tersebut. 1
Terdapat banyak penyebab diare akut pada anak. Pada sebagian besar kasus penyebanya
adalah infeksi akut intestinum yang disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit, akan tetapi
berbagai penyakit lain juga dapat menyebabkan diare akut, termasuk sindroma malabsorbsi.
Diare karena virus umunya bersifat self limting, sehingga aspek terpenting yang harus
diperhatikan adalah mencegah terjadinya dehidrasi yang menjadi penyebab utama kematian dan
menjamin nutrisi untuk mencegah gavirus merngguan pertumbuhan akibat diare.1

BAB II
LAPORAN KASUS
2

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis Kelamin
Usia
Agama
Suku bangsa
Tempat / tanggal lahir
Ruang Rawat
Alamat

: An. M
: Laki-laki
: 4 tahun 7 bulan
: Islam
: Jawa
: Jakarta, 1 Januari 2011
: Lantai 4 Tim B
: Jl. Mindi no 3B

Orangtua/ Wali
Ayah
Nama
: Tn. R
Usia
: 28 tahun
Pekerjaan
: Wiraswasta

Ibu
Nama
Usia
Pekerjaan

: Ny.M
: 27 tahun
: Ibu Rumah Tangga

Alamat

Alamat

: Jl. Mindi no 3B

: Jl. Mindi no 3B

Hubungan dengan orangtua : pasien merupakan anak kandung


II. ANAMNESIS
Dilakukan secara Alloanamnesis dengan Tn. R dan Ny.S (bapak dan ibu kandung pasien)
Lokasi
: Lantai 4 Tim B
Tanggal
: 19 Juni 2013
Tanggal Masuk : 17 Juni 2013
a. Keluhan Utama
Bab cair sejak 1 hari sebelum masuk Rumah Sakit.
b. Keluhan Tambahan
Demam, muntah dan sariawan
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD Rumah Sakit Umum Daerah Koja diantar oleh orang tuanya
dengan keluhan bab cair sejak 1 hari sebelum masuk RS. Bab cair terjadi sebanyak 4x
dalam sehari, konsistensi cair disertai lendir dan berampas tetapi tidak ada darah namun
air lebih banyak dari ampas. Jumlah BAB setiap kalinya banyak dan berwarna kuning
kecoklatan. Diare dikeluhkan berbau busuk namun tidak berbau amis dan ini bukan
merupakan diare yang pertama kalinya.
Selain itu pasien juga mengeluhkan adanya muntah sejak 1 hari sebelum masuk
rumah sakit, muntah yang dikeluhkan pasien terjadi sebanyak 3x dalam sehari dengan
jumlah yang banyak dan muntahan yang pertama berisi makanan namun sisanya hanya
air saja. Pasien juga mengeluhkan adanya demam sejak 2 hari sebelum masuk rumah
3

sakit , ibu os mengaku demam yang dikeluhkan lebih tinggi saat sore hari dan mulai
sedikit menurun bila pagi hari .
Ibu pasien mengaatakan saat terjadi keluhan pasien terlihat lebih rewel dan
terlihat kehausan dan meminta minum yang lebih sering dari biasanya. Ibu pasien
mengaku jumlah dan frekuensi BAK nya masih sama seperti sebelum sakit. Selain itu
pasien juga mengeluhkan adanya sariawan. Sebelumnya sakit ibu pasien mengatakan
pasien tidak jajan sembarangan. Tidak ada keluhan lain seperti batuk, flu, nyeri perut
ataupun penurunan berat badan secara cepat.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit

Usia

Penyakit

Usia

Penyakit

Usia

Alergi

Difteria

Jantung

Cacingan

Diare

+ ( 9 bulan)

Ginjal

Demam

Kejang

Darah

Typhoid

Kecelakaan

Radang paru

Otitis

Morbili

Tuberkulosis

Parotitis

Operasi

Batuk, pilek

Berdarah

e. Riwayat Penyakit Keluarga


Orang tua pasien mengatakan di keluarga tidak ada yang menderita sakit yang sama
seperti pasien.
f. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
KEHAMILAN

Morbiditas Kehamilan

Tidak ada

Perawatan Antenatal

Ibu kontrol kehamilan di


Dokter secara teratur

PERSALINAN

Tempat Kelahiran

Rumah Sakit
4

Penolong Persalinan

Dokter

Spesialis

Kandungan
Cara Persalinan

SC atas indikasi CDP

Masa Gestasi

Cukup bulan ( 9 bulan 1


minggu)

Keadaan Bayi

BBL = 3600 gr
PB = 47 cm
Langsung menangis (+)
Kulit kemerahan (+)

Kesan : Riwayat Kehamilan dan Persalinan Baik


g. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan gigi I
: usia 8 bulan
Psikomotor
Tengkurap
: usia 3 bulan
Duduk
: usia 7 bulan
Berdiri
: usia 10 bulan
Berjalan
: usia 15 bulan
Bicara
: usia 12 bulan
Perkembangan pubertas
Rambut pubis
:Rambut ketiak
:Gangguan perkembangan mental/emosi : tidak ada
Kesan : Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan baik

(Normal: 5-9 bulan)


(Normal: 3-6 bulan)
(Normal: 6-9 bulan)
(Normal: 9-12 bulan)
(Normal: 12-18 bulan)
(Normal: 9-12 bulan)

h. Riwayat Makanan
Usia
(bulan)

ASI / PASI

Buah / Biskuit

Bubur Susu

Nasi Tim

0-2

ASI

2-4

ASI

4-6

ASI

6-8

ASI + SUSU F +

8- sekarang

ASI + SUSU F

Umur di atas 1 tahun


Jenis Makanan

Frekuensi dan Jumlah

Nasi/ pengganti

3x/hari, 1 porsi

Sayur

2x/minggu

Telur

2 butir/minggu

Ikan

2x/minggu

Daging

2-3x/minggu

Tahu

3 potong/ minggu

Tempe

2 potong/ minggu

Susu (merk/takaran)

Susu formula (setiap hari)

Kesan : Riwayat Makanan Cukup Baik


i. Riwayat Imunisasi
Imunisasi

Umur Waktu Pemberian


Bulan
0

Hepatitis B

Tahun
2

II
I

DPT

II

III

II

III

IV

Campak

15

18

BCG

Polio

X
I

Kesan : Imunisasi dasar pasien lengkap tetapi belum melakukan imunisasi ulangan untuk
Hep. B dan Polio
j. Riwayat Keluarga
6

Nama
Perkawinan keUmur saat menikah
Pendidikan terakhir (tamat kelas/tingkat)
Agama
Suku bangsa
Keadaan kesehatan

Ayah
Tn. R
I
27
SMA
Islam
Jawa
Baik

Ibu
Ny.M
I
25
SMA
Islam
Jawa
Baik

k. Riwayat Perumahan dan Sanitasi


Pasien tinggal bersama ayah dan ibu di sebuah rumah tinggal milik sendiri dengan 2
kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur, beratap genteng, berlantai keramik, berdinding
tembok. Keadaan rumah cukup luas, pencahayaan cukup, dan ventilasi cukup. Sumber air
bersih dari air PAM. Air limbah rumah tangga disalurkan dengan baik dan pembuangan
sampah setiap harinya diangkut oleh petugas kebersihan. Kedua orangtua pasien tidak
merokok.
Kesan : Kesehatan lingkungan tempat tinggal pasien cukup baik.
III. PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada tanggal 19 Juni 2013
Keadaan Umum
: tampak sakit sedang
Kesadaran
: compos mentis
Data Antropometri
: Berat Badan
: 16 kg
Tinggi Badan
: 108 cm
Status Gizi
Berat Badan = 16 kg, Tinggi Badan = 108 cm, Usia = 4 tahun 8 bulan
BB/U = 16/ 17 x 100% = 94,11 %
TB/U = 108/ 106 x 100% = 101,8 %
BB/TB = 16/ 18 x 100% = 88,8 %
Berdasarkan kriteria CDC data di atas maka dapat disimpulkan bahwa status gizi
pasien tersebut merupakan gizi kurang.
(Dilakukan pada tanggal 19 Juni 2013)
Tanda Vital
TD
: 90/70 mmHg
Nadi
: 88 x / menit, volume cukup
Respirasi
: 24 x/ menit
Suhu
: 36.9 o C
Kulit
: sawo matang, ikterik (-), sianosis (-), kelembaban normal,
tidak ada efloresensi yang bermakna.
Kepala dan Leher
7

Kepala

: normocephali, ubun-ubun datar, rambut warna hitam,

Mata

distribusi merata, tidak mudah dicabut


: pupil bulat isokhor, refleks cahaya langsung +/+, refleks
cahaya tidak langsung +/+, konjungtiva anemis -/-, sclera

Hidung

ikterik -/-, mata cekung +/+


: bentuk normal, septum deviasi (-), nafas cuping hidung -/-

Telinga
Mulut

sekret -/+
: Membran timpani intake, sekret -/: bibir merah muda, mukosa kering (+), stomatitis (+).

Lidah
Gigi Geligi
Uvula
Tonsil
Tenggorokan
Leher

sianosis (-), trismus (-)


: normoglosus, basah, tepi tidak hiperemis, tremor (-)
: Caries (-)
: tepat di tengah
: T1/T1 tidak hiperemis, detritus (-), kripta (-)
: faring tidak hiperemis
: KGB dan kelenjar tiroid tidak teraba membesar.

Paru
Inspeksi

: bentuk dada normal, simetris, efloresensi primer dan

Thorax

sekunder (-), gerakan pernapasan simetris, irama teratur,


Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Palpasi
Perkusi
Genitalia
Anus
Ekstremitas

Refleks

tipe abdomino-thoracal, retraksi sela iga (-)


: gerak nafas simetris
: sonor di semua lapang paru
: suara nafas vesikuler, rhonchi -/- wheezing -/: ictus cordis tidak tampak
: ictus cordis teraba
: redup
: BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-)
: bentuk datar, tidak tampak efloresensi yang bermakna
: bising usus + meningkat
: supel, turgor baik (< 2 detik)
: timpani di semua kuadran abdomen, ascites (-)
: rambut pubis (-)
: prolaps ani (-), lecet di daerah ani (-)
: akral hangat, sianosis (-), ptekie (-), CRT < 2

Kanan

Kiri
8

Refleks Fisiologis:
Biceps
Triceps
Patella

+
+
+

+
+
+

Refleks Patologis:
Babinski

Tanda Rangsang
Meningeal
Kaku kuduk
Brudzinsky I
Brudzinsky II
Kerniq

IV.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan laboratorium pertama kali tanggal 17 Juni 2013

Jenis Pemeriksaan

Hasil

Nilai Normal

Hematologi
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Trombosit

12,5 g/dL
23.900 /uL
36%
434.000 /uL

13,7 17,5 g/dL


4200 9100 /uL
40 51 %
163000 337000/ uL

Elektrolit
Na
K
Cl

137
4.38
110

134 146
3,4 4,5
96 108

Hasil laboratorium FL dan Darah Lengkap pada tanggal 18 Juni

Pemeriksaan

Hasil

Nilai Normal

FAECES ( Tinja Rutin)


Warna

COKLAT

Konsistensi

CAIR

Pus

Negatif

Mikroskopis

Negatif

Leukosit

0-1

Eritrosit

0-1

Epitel

+1

Amilum

Negatif

Serat Tumbuhan

Negatif

Amoeba

Negatif

Telur cacing

Negatif

Lain lain

Bakteri +2

Jenis Pemeriksaan
Hematologi Lengkap:
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Eritrosit
MCV
MCH
MCHC
Hitung Jenis:
Basofil
Eosinofil
Batang
Segmen
Limfosit

Hasil

Nilai Normal

11,3
10.200
34
4.47
75
25
34

13,5 17,5 gr/dL


4.100 10.900/ uL
41-53 %
4,5 5,5 jt
80 100 fl
26 34 pg
31 36 %

0
0
0
72
16

02%
05%
26%
47 80 %
13 40 %
10

Monosit

12

2 11 %

360.000

140.000 440.000/uL

LED

23

<10 mm/jam

RDW

14,5

11,6 -14,8

Trombosit

Pemeriksaan Laboratorium tanggal 19 Juni 2013


Pemeriksaan

Hasil

Nilai normal

Hb

11.1

13,5 17,5 gr/dL

Leukosit

16.300

4.100 10.900/ uL

Ht

33

41-53 %

Trombosit

249.000

140.000 440.000/uL

Hematologi

V. RESUME
Anak M, usia 4 tahun 8 bulan datang ke IGD Rumah Sakit Umum Daerah Koja diantar
oleh orang tuanya dengan keluhan diare sejak 1 hari sebelum masuk RS. Diare dirasakan 4x
dalam waktu tersebut, konsistensi cair disertai lendir dan berampas namun lebih banyak air
dibandingkan ampas, tidak ada darah. Jumlah BAB setiap kalinya banyak dan berwarna kuning
kecoklatan. Diare juga dikeluhkan berbau busuk dan ini bukan merupakan diare yang pertama
kalinya. Selain itu pasien juga mengeluhkan adanya muntah sejak 1 hari sebelum masuk rumah
sakit, muntah yang dikeluhkan pasien terjadi sebanyak 3x dengan jumlah yang banyak dan
muntahan yang pertama berisi makanan namun sisanya hanya air saja. Pasien juga mengeluhkan
adanya demam sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit , ibu os mengaku demam yang
dikeluhkan lebih tinggi pada malam hari dan mulai menurun bila pagi hari. Saat ini pasien
terlihat lebih rewel dan terlihat kehausan. Ibu pasien mengaku jumlah dan frekuensi BAK nya
masih sama seperti sebelum sakit.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien tampak sakit sedang dengan
kesadaran compos mentis. Untuk status gizi pasien berdasarkan kriteria CDC dapat disimpulkan
11

bahwa status gizi

pasien tersebut merupakan gizi kurang. Pada pemeriksaan tanda vital

didapatkan TD : 90/70 mmHg , nadi: 88 x / menit,volume cukup, respirasi: 24 x/ menit, dan


suhu: 36,9o C. Pada pemeriksaan status generalis untuk mulut ditemukan mukosa tampak sedikit
kering dan sariawan serta pada abdomen didapatkan turgor baik (< 2 detik). Dari pemeriksaan
laboratorium ditemukan adanya leukositosis.
VI.

DIAGNOSIS KERJA
Diare Akut dengan Dehidrasi Ringan Sedang et causa Infeksi Bakteri dengan gizi
kurang

VII.

DIAGNOSIS BANDING
Diare Akut dengan Dehidrasi Ringan Sedang et causa Infeksi Virus dengan Gizi

Kurang
Demam typhoid dengan gizi kurang

VIII. PEMERIKSAAN ANJURAN


Tes Widal
Kultur feses
IX.

X.

TERAPI
Non medikamentosa :

Tirah Baring
Edukasi ibu tentang pemberian makanan bergizi
IVFD KaEn3B + KCL 5 meq => 70 cc/jam
Inj. Anbacin 2 x 500 mg iv
Inj. Ondancentron 2 x 1 mg IV
Fuzide 2 x 2 Cth
Interzinc 1x Cth 1
PCT 3 x Cth 1
Nymiko 3 x 0.5 cc

Medikamentosa

PROGNOSIS
Ad Vitam
Ad Fungtionam
Ad Sanationam

: Dubia Ad Bonam
: Dubia Ad Bonam
: Dubia Ad Bonam

Follow Up

12

Follow Up Tanggal 20 Juni 2013


S
Bab semalam 1x, pagi
1x, ampas> air, lendir
(-), darah (-), warna
kuning, demam (-),
muntah (-)

TD: 90/70
Diare Akut ec Infeksi
o
S: 36.9 C
Bakteri dg Dehidrasi
RR: 24 x/menit
Ringan-Sedang dalam
N: 88 x/menit, isi
perbaikan perawatan
cukup
hari ke 4 dengan gizi
Mata cekung -/kurang

P
IVFD KaEn3B+KCL
5 Meq 70 cc/jam
Anbacin 2x500 mg iv
Fuzide 2 x 2 Cth
Interzinc 1X Cth1
PCT 3 x Cth 1
Nymico 3x0,5 cc

Follow Up Tanggal 21 Juni 2013


S

Keluhan
(-), bab
semalam
1x

konsistensi
sudah
padat, pagi (-)
Demam (-)
Muntah (-)

TD : 100/70
S: 36.5o C
RR: 24 x/menit
N : 84
x/menit,
volume cukup
Mata cekung -/-

Diare Akut ec Infeksi


Bakteri dg Dehidrasi
Ringan-Sedang dalam
perbaikan perawatan
hari ke 5 dengan gizi
kurang

IVFD KaEn3B+KCL
5 Meq 70 cc/jam
Anbacin 2x500 mg iv
Interzinc 1 x Cth I
Fuzide 2 x Cth II
PCT 3 x Cth 1
Nymico 3x0,5 cc

Pada tanggal 21 pasien diperbolehkan pulang dengan obat oral yang diberikan : Fuzide 2 c
Cth II, Interzinc 1 x Cth I, PCT 3 x Cth I, Nymiko 3 x 0.5 cc

13

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari
biasanya (> 3 kali/hari) disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi cair), dengan/tanpa darah
dan/ atau lendir. Diare akut adalah diare yang terjadi secara mendadak pada bayi dan anak yang
sebelumnya sehat. 1
Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali perhari, disertai
perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung
kurang dari satu minggu. Pada bayi yang minum ASI sering frekuensi buang air besar lebih dari
3-4 kali perhari, keadaan ini tidak dapat disebut diare, tetapi masih bersifat fisiologis atau
normal. Selama berat badan bayi meningkat normal, hal tersebut tidak tergolong diare , tetapi
merupakan intoleransi laktosa sementara akibat belum sempurnanya perkembangan saluran
cerna. Untuk bayi yang minum ASI secara eksklusif definisi diare yang praktis adalah
meningkatnya frekuensi buang air besar atau konsistesinya menjadi cair yang menurut ibunya
abnormal atau tidak seperti biasanya. Kadang-kadang pada seorang anak buang air besar kurang
dari 3 kali perhari, tetapi konsistesinya cair, keadaaan ini sudah dapat disebut diare 2
Diare kronik adalah diare yang berlanjut sampai 2 minggu atau lebih dengan tersebut. 1
Etiologi
Penyebab diare dapat dibagi menjadi 2 bagian ialah penyebab langsung dan penyebab tidak
langsung atau faktor-faktor yang dapat mempengaruhi atau mempercepat terjadinya diare. Dapat
dibagi dalam beberapa faktor:
1. Faktor infeksi
Pada saat ini, dengan kemajuan dibidang teknik laboratorium telah dapat
diidentifikasi tidak kurang dari 25 jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan diare
pada anak dan bayi. Penyebab infeksi utama timbulnya diare umumnya adalah golongan

14

virus, bakteri dan parasit. dua tipe dasar dari diare akut oleh karena infeksi adalah noninflamatory dan inflammatory.
Enteropatogen menimbulkan non-inflamatory diare melalui produksi enterotoksin
oleh bakteri, destruksi sel permukaan villi oleh virus, perlekatan oleh parasit, perlekatan
dan/ atau translokasi dari bakteri. Sebaliknya inflammatoyi diare biasanya disebabkan
oleh bakteri yang menginvasi usus secara langsung atau memproduksi sitotoksin. 2,3
Infeksi internal yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama
diare pada anak.
a. Infeksi Bakteri : Shigella, Salmonella, E.Coli, Clostridium Perfringens,
Stafilokokus Aureus.
b. Infeksi Virus : Rotavirus, Adenovirus.
c. Infeksi Parasit
: Protozoa, Entamoeba Histolytica, Giardia Lamblia,
Balantidium Coli, Ascaris, Trichiuris, Jamur.

GOLONGAN BAKTERI
GOLONGAN VIRUS
GOLONGAN PARASIT
Aeromonas
Astrovirus
Balantidiom coli
Bacillus cereus
Calcivirus (Norovirus, Sapovirus) Blastocystis homonis
Canpilobacter jejuni
Enteric adenovirus
Crytosporidium parvum
Clostridium perfringens
Corona virus
Entamoeba histolytica
Clostridium defficile
Rotavirus
Giardia lamblia
Eschercia coli
Norwalk virus
Isospora belli
Plesiomonas shigeloides
Herpes simplek virus
Strongyloides stercoralis
Salmonella
Cytomegalovirus
Trichuris trichiura
Shigella
Staphylococcus aureus
Vibrio cholera
Vibrio parahaemolyticus
Yersinia enterocolitica
Tabel 1. Penyebab diare akut yang dapat menyebabkan diare pada manusia

Tabel 2. Tabel Enteropatogen pathogen penyebab diare yang tersering berdasarkan umur 4
15

2. Faktor Malabsorpsi, meliputi:


a. Karbohidrat : disakarida (laktosa, maltosa, sukrosa), monosakarida (glukosa, fruktosa,
galaktosa).
b. Lemak
c. Protein : terutama asam amino
3. Makanan : makanan basi, belum waktunya diberikan
4. Keracunan : makanan beracun (bakteri: Clostridium Botulinum, Stafilokokus)
5. Alergi : alergi susu dan alergi makanan.
Cara penularan dan Faktor Resiko2
Cara penularan diare pada umumnya melalui cara fekal-oral melalui makanan atau minuman
yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak langsung tangan dengan penderita atau barangbarang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak langsung melalui lalat (melalui 4F =
fingers, flies, fluid, field)
Faktor resiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen antara lain: tidak memberikan
ASI secara penuh untuk 4-6 bulan pertama kehidupan bayi, tidak memadai penyediaan air bersih,
pencemaran air oleh tinja, kurangnya sarana kebersihan , tidak higienis dan cara penyapihan
yang kurang baik. Selain hal-hal tersebut beberapa faktor pada penderita dapat meningkatkan
kecenderungan untuk dijangkiti diare antara lain: gizi buruk, imunodefisiensi, berkurangnya
keasaman lambung, menurunnya motilitas usus, menderita campak dalam 4 minggu terakhir dan
faktor genetic.
Faktor Umur.
Sebagian besar episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Insidensi
tertinggi terjadi pada kelompok umur 6-11 bulan pada saat diberikan makanan
pendamping ASI. Pola ini menggambarkan kombinasi efek penurunan kadar antibodi
ibu, kurangnya kekebalan aktif bayi, pengenalan makanan yang mungkin
terkontaminasi bakteri tinja dan kontak langsung dengan tinja manusia atau binatang

pada saat bayi mulai merangkak.


Infeksi asimptomatik
Sebagian besar infeksi usus bersifat asimptomatik dan proporsi asimtomatik ini
meningkat setelah umur 2 tahun dikarenakan pembentukan imunitas aktif. Pada
infeksi asimptomatik yang mungkin berlangsung beberapa hari atau minggu, tinja
penderita mengandung virus, bakteri, atau kista protozoa yang infeksius. Orang
dengan infeksi asimptomatik berperan penting dalam penyebaran banyak
16

enteropatogen terutama bila mereka tidak menyadari adanya infeksi, tidak menjaga

kebersihan dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.


Faktor Musim
Variasi pola musiman diare dapat terjadi menurut letak geografis. Di daerah sub
tropik, diare karena bakteri lebih sering terjadi pada musim panas, sedangkan diare
karena virus terutama rotavirus puncaknya terjadi pada musim dingin. Di daerah
tropik (termasuk Indonesia) diare yang disebabkan oleh rotavirus dapat terjadi
sepanjang tahun dengan peningkatan sepanjang musim kemarau, sedangkan diare
karena bakteri cenderung meningkat pada musim hujan.

Patogenesis1
Sesuai dengan perjalanan penyakit diare, pathogenesis penyakit diare dibagi atas:
a. Diare Akut
Patogenesis diare akut oleh infeksi pada garis besarnya dapat digambarkan sebagai
berikut:
- Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran pencernaan
- Berkembangbiaknya mikroorganisme tersebut setelah berhasil melewati asam
-

lambung
Dibentuknya toksin (endotoksin) oleh mikroorganisme
Adanya rangsangan pada mukosa usus yang menyebabkan terjadinya hiperperistaltik
dan sekresi cairan usus mengakibatkan terjadinya diare.

b. Diare Kronik
Patogenesis diare kronik lebih rumit karena terdapat beberapa faktor yang satu sama lain
saling mempengaruhi.
Faktor-faktor tersebut antara lain:
- Infeksi Bakteri
Misalnya ETEC (Enterogenic Toxigenic E.Coli) yang sudah resisten terhadap obat.
Juga diare kronik dapat terjadi kalau ada pertumbuhan bakteri berlipat ganda (over
-

growth) dari bakteri non patogen, seperti Pseudomonas, Klebsiella dsb.


Infeksi parasit: terutama E.Hystolitica, Giardia Lamblia, Trichiuris Trichiura,
Candida, dsb.

KKP ( Kekurangan Kalori Protein)


Pada penderita KKP terdapat atrofi semua organ termasuk atrofi mukosa usus halus,
mukosa lambung, hepar dan pankreas. Akibatnya terjadi defisiensi enzim yang
dikeluarkan oleh organ-organ tersebut (lactase, maltase, sukrase, HCl, tripsin,
pankreatin, lipase, dsb) yang menyebabkan makanan tidak dapat dicerna dan
17

diabsorpsi dengan sempurna. Makanan yang tidak absorpsi tersebut akan


menyebabkan tekanan osmotic koloid di dalam lumen usus meningkat menyebabkan
terjadinya diare osmotic. Selain itu juga akan menyebabkan overgrowth bakteri yang
akan menambah beratnya malabsorpsi dan infeksi.

Patogenesis terjadinya diare yang disebabkan virus yaitu virus yang menyebabkan diare
pada manusia secara selektif menginfeksi dan menghancurkan sel-sel ujung villus pada usus
halus. Biopsi usus halus menunjukkan berbagai tingkat penumpukan villus dan infiltrasi sel
18

bundar pada lamina propria. Perubahan-perubahan patologis yang diamati tidak berkolerasi
dengan keparahan gejala-gejala klinis dan biasanya sembuh sebelum penyembuhan diare.
Mukosa lambung tidak terkena walaupun biasanya digunakan istilah gastroenteritis, walaupun
pengosongan lambung tertunda telah didokumentasi selama infeksi birus Norwalk.
Virus akan menginfeksi lapisan epithelium di usus halus dan menyerang villus di usus
halus. Hal ini menyebabkan fungsi absorpsi usus halus terganggu. Sel-sel epitel usus halus yang
rusak diganti oleh eritrosit yang baru berbentuk kuboid yang belum matang sehingga fungsinya
belum baik. Villus mengalami atrofi dan tidak dapat mengabsorpsi cairan dan makanan dengan
baik. Selanjutnya cairan dan makanan yang tidak terserap/tercerna akan meningkatkan tekanan
koloid osmotic usus dan terjadi hiperperistaltik usus sehingga cairan beserta makanan yang tidak
terserap terdorong keluar usus melalu anus, menimbulkan diare osmotic dari penyerapan air dan
nutrient yang tidak sempurna.
Pada usus halus enterosit villus sebelah atas adalah sel-sel yang terdiferensiasi yang
mempunyai fungsi pencernaan seperti hidrolisis disakarida dan fungsi penyerapan seperti
transport air dan elektrolit melalui pengangkut bersama (kotransporter) glukosa dan asam enzim
hidrofilik tepi bersilia dan merupakan pensekresi (secretor) air dan elektrolit. Dengan demikian
infeksi virus selektif sel-sel ujung villus usus menyebabkan (1) ketidakseimbangan rasio
penyerapan cairan usus terhadap sekresi, dan (2) malabsorpsi karbohidrat kompleks, terutama
laktosa.
Pada hospes normal, infeksi ekstra-intestinal sangat jarang walaupun penderita terganggu
imun dapat mengalami keterlibatan hati dan ginjal. Kenaikan kerentanan bayi (disbanding anak
yang lebih tua dan dewasa) sampai morbiditas berat dan mortalitas gastroenteritis virus dapat
berkaitan dengan sejumlah faktor termasuk penurunan fungsi cadangan usus, tidak ada imunitas
spesifik, dan penurunan mekanisme pertahanan hospes nonspesifik seperti asam lambung dan
mukus.
Diare karena bakteri terjadi melalui salah satu mekanisme yan gberhubungan dengan
pengaturan transport ion dalam sel-sel usus cAMP, cGMP, dan Ca dependent. Patogenesis
terjadinya diare oleh salmonella, shigella, E.Coli agak berbeda dengan pathogenesis diare oleh
virus tetapi prinsipnya hampir sama. Bedanya bakteri ini dapat menembus (invasi) sel mukosa
usus halus sehingga dapat menyebabkan reaksi sistemik. Toksin shigella juga dapat masuk ke
dalam serabut saraf otak sehingga menimbulkan kejang. Diare oleh kedua bakteri ini dapat
menyebabkan adanya darah dalam tinja yang disebut disentri.2
19

Manifestasi Klinis2
Infeksi usus menimbulkan tanda dan gejala gastrointestinal serta gejala lainnya bila
terjadi komplikasi ekstraintestinal termasuk manifestasi neurologis. Gejala gastrointestinal bisa
berupa diare, kram perut dan muntah. Sedangkan manifestasi sistemik bervariasi tergantung pada
penyebabnya.
Penderita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah ion natrium,
klorida, bikarbonat. Kehilangan air dan elektrolit ini bertambah bila ada muntah dan kehilangan
air juga meningkat bila ada panas. Hal ini dapat menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolik, dan
hipokalemia. Dehidrasi merupakan keadaan yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan
hivolemia, kolaps kardiovaskuler dan kematian bila tidak diobati dengan tepat. Dehidrasi yang
terjadi menurut tonisitas plasma dapat berupa dehidrasi isotonik, dehidrasi hipertonik
(hipernatremi) atau dehidrasi hipotonik.
Bila terdapat panas dimungkinkan karena proses peradangan atau akibat dehidrasi. Panas
badan umum terjadi pada penderita dengan inflammatory diare. Nyeri perut yang lebih hebat dan
tenesmus yang terjadi pada perut bagian bawah serta rectum menunjukan terkenanya usus besar.
Mual dan muntah adalah sintomp yang non spesifik akan tetapi muntah disebabkan oleh
karean organisme yang menginfeksi saluran cerna bagian atas seperti : enteric virus, bakteri yang
memproduksi enterotoksin, Giardia, dan Cryptosporidium.
Muntah juga sering terjadi pada non inflammatory diare biasanya penderita tidak panas
atau hanya subfebris, nyeri perut periumbilikal tidak berat, watery diare menunjukan bahwa
sakluran cerna bagian atas yang terkena.

Rotavirus

Shigella

Salmonella

ETEC

EIEC

Kolera

Masa Tunas

17-72 jam

24-48 jam

6-72 jam

6-72 jam

6-72 jam

48-72 jam

Panas

++

++

++

Mual, muntah

Sering

Jarang

Sering

Sering

Nyeri perut

Tenesmus

Tenesmus, kramp

Tenesmus,kolik

Tenesmus, kramp

Kramp

Nyeri kepala

lamanya sakit

5-7 hari

>7hari

3-7 hari

2-3 hari

variasi

3 hari

Gejala klinis :

20

Sifat tinja:
Volume

Sedang

Sedikit

Sedikit

Banyak

Sedikit

Banyak

Frekuensi

5-10x/hari

>10x/hari

Sering

Sering

Sering

Terus menerus

Konsistensi

Cair

Lembek

Lembek

Cair

Lembek

Cair

Darah

Kadang

Bau

Langu

Busuk

Amis khas

Warna

Kuning hijau

Merah-hijau

Kehijauan

Tak berwarna

Merah-hijau

Seperti air cucuian beras

Leukosit

Lain-lain

anorexia

Kejang+

Sepsis +

Meteorismus

Infeksi sistemik+

Tabel 3. Gejala Khas Diare Akut oleh Berbagai Penyebab 2


Diagnosis6
1.
Anamnesis
Pada anamnesis perlu ditanyakan hal-hal sebagai berikut: lama diare, frekuensi , volume,
konsistensi tinja, warna, bau, ada/lendir dan darah. Bila disertai muntah, volume, dan
frekuensinya. Kencing: biasa, berkurang, jarang, atau tidak kencing dalam 6-8 jam
terakhir. Makanan dan minuman yang diberikan selama diare. Adakah panas atau
penyakit lain yang menyertai seperti: batuk, pilek, otitis media, campak. Tindakan yang
telah dilakukan ibu selama anak diare: member oralit, membawa berobat ke Puskesmas,
atau ke Rumah Sakit dan obat-obatan yang diberikan serta riwayat imunisasinya.
2.

Pemeriksaan fisik2
Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan, suhu tubuh, frekuensi denyut
jantung dan pernapasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari tanda-tanda utama
dehidrasi: kesadaran, rasa haus, dan turgor kulit abdomen dan tanda-tanda tambahan
lainnya: ubun-ubun besar cekung atau tidak, mata: cekung atau tidak, ada atau tidak
adanya air mata, bibir, mukosa mulut, dan lidah kering atau basah.

21

Pernapasan yang cepat dan dalam indikasi adanya asidosis metabolik. Bising usus yang
lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemia. Pemeriksaan ekstremitas perlu karena
perfusi dan capillary refill dapat menentukan derajat dehidrasi yang terjadi.
Penilaian beratnya atau derajat dehidrasi dapat ditentukan dengan cara: obyektif yaitu
dengan membandingkan berat badan sebelum dan selama diare. Subyektif dengan
menggunakan kriteria WHO, Skor Maurice King, kriteria MMWR dan lain-lain dapat
dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4. Penentuan Derajat Dehidrasi Menurut MMWR 2003 2

22

Tabel 5. Penentuan Derajat Dehidrasi Menurut WHO 1995


Tabel 6. Penentuan Derajat Dehidrasi Menurut Sistem Pengangkaan- Maurice King
Hasil yang didapat pada penderita diberi angka 0,1, atau 2 sesuai dengan tabel kemudian

dijumlahkan
Nilai: 0-2 = ringan

3-6 = Sedang 7-12= Berat


23

3.

Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut umumnya tidak diperlukan, hanya
pada keadaan tertentu mungkin diperlukan misalnya penyebab dasarnya tidak diketahui
atau ada sebab-sebab lain selain diare akut atau pada penderita dengan dehidrasi berat.
Contoh: pemeriksaan darah lengkap, kultur urine, dan tinja pada sepsis atau infeksi
saluran kemih.
Pemeriksaan laboratorium yang kadang-kadang diperlukan pada diare akut:
Darah : darah lengkap, serum elektrolit, analisa gas darah, glukosa darah, kultur dan tes
kepekaan terhadap antibiotika
Urine : urine lengkap, kultur dan test kepekaan terhadap antibiotika
Tinja :
Pemeriksaan makropskopik:
Pemeriksaan makroskopik tinja perlu dilakukan pada semua penderita dengan diare
Meskipun pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan. Tinja yang watery dan tanpa mukus
atau darah biasanya disebabkan oleh enterotoksin virus, protozoa, atau disebabkan oleh
infeksi di luar saluran gastrointestinal.
Tinja yang mengandung darah atau mukus bisa disebabkan oleh infeksi bakteri yang
menghasilkan sitotoksin, bakteri enteroinvasif yang menyebabkan peradangan mukosa
atau parasit usus seperti: E.Histolytica, B.Coli, dan T.Trichiura. Apabila terdapat darah
biasanya bercampur dalam tinja pada permukaan tinja dan pada infeksi EHEC terdapat
garis-garis darah pada tinja. Tinja yang berbau busuk didapatkan pada infeksi dengan
Salmonella, Giardia, Cryptosporidium, dan Strongyloides.
Pemeriksaan mikroskopik:
Pemeriksaan mikroskopik untuk mencari adanya leukosit dapat memberikan informasi
tentang penyebab diare, letak anatomis, serta adanya proses peradangan mukosa.
Leukosit dalam tinja diproduksi sebagai respon terhadap bakteri yang menyerang mukosa
kolon. Leukosit yang positif pada pemeriksaan tinja menunjukkan adanya kuman
invasive atau kuman yang memproduksi sitotoksin seperti Shigella, Salmonella, C.jejuni,
EIEC, dan kemungkinan Aeromonas. Leukosit yang ditemukan pada umumnya adalah
leukosit PMN, kecuali pada S.Typhii leukosit monomuklear. Parasit yang menyebabkan
diare pada umumnya tidak memproduksi leukosit dalam jumlah banyak. Normalnya tidak
diperlukan pemeriksaan untuk mencari telur atau parasit kecuali terdapat riwayat baru
saja bepergian ke daerah resiko tinggi , kultur tinja negative untuk enteropatogen, diare
lebih dari dua minggu atau pada penderita immunocompromised.
24

Terapi
Departemen Kesehatan mulai melakukan sosialisasi Panduan Tata Laksana Pengobatan
Diare pada balita yang baru didukung

oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia, dengan

merujuk pada panduan WHO. Untuk itu, Departemen Kesehatan menetapkan lima pilar
penatalaksanaan diare bagi semua kasus diare yang diderita anak balita baik yang dirawat
di rumah ataupun sedang dirawat di Rumah Sakit, yaitu:2
1. Rehidrasi dengan menggunakan oralit baru
2. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut
3. ASI dan makanan tetap diteruskan
4. Antibiotik selektif
5. Nasihat kepada orang tua
Rehidrasi dengan Oralit Baru, dapat mengurangi rasa mual dan muntah
Berikan segera bila anak diare, untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi. Oralit formula
lama dikembangkan dari kejadian luar biasa diare di Asia Selatan yang terutama
disebabkan oleh karena disentri, yang menyebabkan berkurangnya lebih banyak elektrolit
tubuh, terutama natrium. Oralit baru ini adalah oralit dengan osmolaritas yang rendah.
Keamanan oralit ini sama dengan oralit yang selama ini digunakan, namun efektivitasnya
lebih baik daripada oralit formula lama. Oralit baru ini juga menurunkan kebutuhan
suplementasi intravena dan mampu mengurangi pengeluaran tinja hingga 20% serta
mengurangi kejadian muntah hingga 30%.

Tabel 7. Komposisi Oralit Baru


Ketentuan pemberian oralit formula baru:
- Beri ibu 2 bungkus oralit formula baru
25

Larutkan 1 bungkus oralit formula baru dalam 1 liter air matang, untuk persediaan 24

jam
Berikan larutan oralit pada anak setiap kali buang air besar, dengan ketentuan sebagai

berikut:
Untuk anak berumur < 2 tahun: berikan 50-100 ml tiap kali BAB
Untuk anak 2 tahun atau lebih : berikan 100-200 ml tiap kali BAB
Jika dalam waktu 24 jam persediaan larutan oralit masih tersisa, maka sisa larutan
harus dibuang.

Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut


Zinc termasuk mikronutrien yang mutlak dibutuhkan untuk memelihara kehidupan yang
optimal. Meski dalam jumlah yang sedikit, dari segi fisiologis zinc berperan untuk
pertumbuhan dan pembelahan sel, anti oksidan, perkembangan seksual, kekebalan
seluler, adaptasi gelap, pengecapan, serta nafsu makan. Zinc juga berperan dalam sistem
kekebalan tubuh dan merupakan mediator potensial pertahanan tubuh terhadap infeksi.
Dasarnya pemikiran penggunaan zinc dalam pengobatan diare akut didasarkan pada
efeknya terhadap fungsi imun atau terhadap struktur dan fungsi saluran cerna dan
terhadap proses perbaikan epitel saluran cerna selama diare. Pemberian zinc pada diare
dapat meningkatkan absorpsi air dan elektrolit oleh usus halus, meningkatkan kecepatan
regenerasi epitel usus, meningkatkan jumlah brush border apical, dan mengingkatkan
respon imun yang mempercepat pembersihan patogen dari usus.
Dosis zinc untuk anak-anak:
Anak di bawah umur 6 bulan : 10 mg(1/2 tablet) per hari
Anak di atas umur 6 bulan : 20 mg (1 tablet) per hari
Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut meskipun anak telah sembuh dari diare.
Untuk bayi, tablet zinc dapat dilarutkan dengan air matang, ASI, atau oralit. Untuk anakanak yang lebih besar, zinc dapat dikunyah atau dilarutkan dalam air matang atau oralit.
ASI dan makanan tetap diteruskan sesuai umur dengan menu yang sama pada waktu
anak sehat untuk mencegah kehilangan berat badan serta pengganti nutrisi yang hilang.
Pada diare berdarah nafsu makan akan berkurang. Adanya perbaikan nafsu makan
menandakan fase kesembuhan.
Antibiotik jangan diberikan, kecuali ada indikasi misalnya diare berdarah atau kolera.
Hanya sebagian kecil (10-20%) yang disebabkan oleh bakteri pathogen seperti V,cholera,
Shigella, Enterotoksigenik E.coli, Salmonella, Campilobacter, dan sebagainya Pemberian
26

antibiotic yang tidak rasional justru akan memperpanjang lamanya diare karena akan
mengganggu keseimbangan flora usus, selain itu pemberian antibiotic yang tidak rasional
akan mempercepat resistensi kuman terhdap antibiotic, serta menambah biaya
pengobatan yang tidak perlu.
Nasihat kepada orang tua. Kembali segera jika demam, tinja berdarah, berulang, makan
atau minum sedikit, sangat haus, diare makin sering, atau belum membaik dalam 3 hari.

ALGORITMA PENGOBATAN DIARE


Rencana Pengobatan A Diare Tanpa Dehidrasi (Penanganan Diare di Rumah)

27

Rencana Pengobatan B
Pengobatan Dehidrasi Ringan/ Sedang dengan Oralit

Rencana Pengobatan C
Pengobatan Dehidrasi Berat
28

Terapi medikamentosa
29

Berbagai macam obat telah digunakan untuk pengobatan diare seperti antibiotika: antibiotika,
antidiare, adsorben, antiemetik, dan obat yang mempengaruhi mikroflora usus. Beberapa obat
mempunyai lebih dari satu mekanisme kerja, banyak diantaranya mempunyai efek toksik
sistemik dan sebagian besar tidak direkomendasikan untuk anak umur kurang dari 2-3 tahun.
Secara umum dikatakan bahwa obat-obat tersebut tidak diperlukan untuk pengobatan diare akut.
Antibiotik
Antibiotik pada umunya tidak diperlukan pada semua diare akut oleh karena sebagian besar diare
infeksi adalah rotavirus yang sifatnya self limited dan tidak dapat dibunuh dengan antibiotic.
Hanya sebagian kecil (10% hingga 20%) yang disebabkan oleh bakteri patogen seperti
V.cholera, Shigella, Enterotoksigenik E.coli, Salmonella, Campilobacter, dan sebagainya.2
Penyebab

Antibiotik pilihan

Alternatif

Kolera

Tetracycline 12,5 mg/kgBB

Erythromycin 12,5 mg/kgBB

4x sehari selama 3 hari

4x sehari selama 3 hari

Ciprofloxacin 15 mg/kgBB

Pivmecillinam 20 mg/kg BB

2x sehari selama 3 hari

4x sehari selama 3 hari

Shigella Disentri

Ceftriaxone 50-100 mg/kgBB


1x sehari IM selama 2-5 hari
Amoebiasis

Metronidazole 10 mg/kgBB
3xs ehari selama 5 hari (10
hari pada kasus berat)

Giardiasis

Metronidazole 5mg/kgBB
3x sehari selama 5 hari

Obat antidiare

30

Obat-obat ini meskipun sering digunakan tidak mempunyai keuntungan praktis dan tidak
diindikasikan untuk pengobatan diare akut pada anak. Beberapa dari obat-obat ini berbahaya.
Produk yang termasuk dalam kategori ini adalah:
Adsorben
Contoh: kaolin, attapulgite, smectite, activated charcoal, cholesteramine). Obat-obat ini
dipromosikan untuk pengobatan diare atas dasar kemampuanya untuk mengikat dan
menginaktifasi toksin bakteri atau bahan lain yang menyebabkan diare serta dikatakan
mempunyai kemampuan melindungi mukosa usus. Walaupun demikian, tidak ada bukti
keuntungan praktis dari penggunaan obat ini untuk pengobatan rutin diare akut pada
anak.
Antimotilitas
Contoh loperamidhydrocloride, diphenoxylate dengan atropine, tincture opiii, paregoric,
codein). Obat-obatan ini dapat mengurangi frekuensi diare pada orang dewasa akan tetapi
tidak mengurangi volume tinja pada anak. Lebih dari itu dapat menyebabkan ileus
paralitik yang berat yang dapat fatal atau dapat memperpanjang infeksi dengan
memperlambat eliminasi dari organisme penyebab. Dapat terjadi efek sedatif pada dosis
normal. Tidak satupun dari obat-obatan ini boleh diberikan pada bayi dan anak dengan
diare.
Bismuth subsalicylate
Bila diberikan setiap 4 jam dilaporkan dapat mengurangi keluaran tinja pada anak dngan
diare akut sebanyak 30% akan tetapi, cara ini jarang digunakan.
Obat-obat lain:
Anti muntah
Termasuk obat ini seperti prochlorperazine dan chlorpromazine yang dapat menyebabkan
mengantuk sehingga mengganggu pemberian terapi rehidrasi oral. Oleh karena itu obat
anti muntah tidak digunakan pada anak dengan diare, muntah biasanya berhenti bila
penderita telah terehidrasi.
Probiotik

31

Probiotik diberi batas sebagai mikroorganisme hidup dalam makanan yang difermentasi yang
menunjang kesehatan melalui terciptanya keseimbangan mikroflora intestinal yang lebih baik.
Pencegahan diare dapat dilakukan dengan pemberian probiotik dalam waktu yang panjang
terutama untuk bayi yang tidak minum ASI. Kemungkinan efek probiotik dalam pencegahan
diare melalui perubahan lingkungan mikrolumen usus , kompetisi nutrient, mencegah adhesi
kuman pathogen pada enterosit, modifikasi toksin atau reseptor toksin efek trofik terhadap
mukosa usus melalui penyediaan nutrien dan imunomodulasi. Pemberian makanan selama diare
harus diteruskan dan ditingkatkan setelah sembuh, tujuannya adalah memberikan makanan yang
kaya nutrien sebanyak anak mampu menerima. Sebagian besar anak dengan diare cair, nafsu
makannya timbul kembali setelah dehidrasi teratasi. Meneruskan pemberian makanan akan
mempercepat kembalinya fungsi usus yang normal termasuk kemampuan menerima dan
mengabsorbsi berbagai nutrient, sehingga memburuknya status gizi dapat dicegah atau paling
tidak dapat dikurangi.
Mekanisme kerja probiotik untuk menghambat pertumbuhan bakteri patogen dalam mukosa
usus belum sepenuhnya jelas tetapi beberapa laporan mneunjukan adanya kompetisi untuk
mengadakan perlekatan dengan enterosit (sel epitel mukosa). Enterosit yang telah jenuh dengan
bakteri probiotik tidak dapat lagi dilekati bakteri yang lain. Jadi dengan adanya bakteri probiotik
di dalam mukosa usus dapat mencegah kolonisasi oleh bakteri patogen. Lactobacillus strain pada
manusia mempunyai kemampuan melekat pada Caco-2 cells dan sel goblet HT 29-MTX pada sel
epitel mukosa usus. Lactobacillus acidophilus LA1 dan LA3 mempunyai kemampuan melekat
yang kuat, tidak tergantung pada kalsium, sedangkan Lactobacillus strain LA10 dan LA18
kemampuan melekatnya rendah. Kemampuan perlekatan tersebut dapat dihilangkan dengan
adanya tripsin. Disamping mekanisme perlekatan dengan reseptor pada epitel usus untuk
mencegah pertumbuhan bakteri patogen melalui kompetisi, bakteri probiotik memberi manfaat
pada pejamu oleh karena produksi substansi antibakteri misalnya, asam organik, bacteriocin,
microcin, reuterin, volatile fatty acid, hidrogen peroksida dan ion hidrogen.6,7

Komplikasi1,2
1. Gangguan elektrolit
32

Hipernatremia
Penderita diare dengan natrium plasma>150 mmol/L memerlukan pemantauan berkala
yang ketat. Tujuannya adalah menurunkan kadar natrium secara perlahan-lahan.
Penurunan kadar natrium plasma yang cepat sangat berbahaya oleh karena dapat
menimbulkan edema otak. Rehidrasi oral atau nasogastrik menggunakan oralit adalah
cara terbaik dan paling aman. Koreksi dengan rehidrasi intravena dapat dilakukan
menggunakan cairan 0,45% saline-5% dextrose selama 8 jam. Hitung kebutuhan cairan
menggunakan berat badan tanpa koreksi. Periksa kadar natrium plasma setelah 8 jam.
Bila normal lanjutkan dengan rumatan, bila sebaliknya lanjutkan 8 jam lagi dan periksa
kembali natrium plasma setelah 8 jam. Untuk rumatan gunakan 0,18% saline-5%
dekstrose, perhitungkan untuk 24 jam. Tambahkan 10 mmol KCl pada setiap 500 ml
cairan infuse setelah pasien dapat kencing. Selanjutnya pemberian diet normal dapat
mulai diberikan. lanjutkan pemberian oralit 10ml/kgBB/setiap BAB, sampai diare
berhenti.

Hiponatremia
Anak dengan diare yang hanya minum air putih atau cairan yang hanya mengandung
sedikit garam, dapat terjadi hiponatremia ( Na + <130 mmol/L). Hiponatremia sering
terjadi pada anak dengan Shigellosis dan pada anak malnutrisi berat dengan edema. Oralit
aman dan efektif untuk terapi dari hamper semua anak dengan hiponatremi. Bila tidak
berhasil, koreksi Na+ dilakukan bersamaan dengan koreksi cairan rehidrasi yaitu :
memakai ringer laktat atau normal saline. Kadar Na+ koreksi (mEq/L)=125- kadar Na
serum yang diperiksa dikalikan 0,6 dan dikalikan berat badan. Separuh diberikan dalam
8 jam, sisanya diberikan dalam 16 jam. Peningkatan serum Na + tidak boleh melebihi 2
mEq/L/jam.

Hiperkalemia
Disebut hiperkalemia jika K+>5 mEq/L, koreksi dilakukan dengan pemberian kalsium
glukonas 10% 0,5-1 ml/kgBB i.v pelan-pelan dalam 5-10 menit dengan monitor detak
jantung.
33

Hipokalemia
Dikatakan hipokalemia bila K+<3,5 mEq/L, koreksi dilakukan menurut kadar K+: jika
kalium 2,5-3,5 mEq/L diberikan peroral 75 mcg/kgBB/hr dibagi 3 dosis. Bila <2,5 mEq/L
maka diberikan secara intravena drip (tidak boleh bolus) diberikan dalam 4 jam.
Dosisnya: (3,5-kadar K terukurx BBx0,4 +2 mEq/kgBB/24 jam) diberikan dalam 4 jam
kemudian 20 jam berikutnya adalah (3,5-kadar K terukurx BBx 0,4+1/6x2 mEqxBB).
Hipokalemia dapat menyebakan kelemahan otot, paralitik usus, gangguan fungsi ginjal
dan aritmia jantung. Hipokalemia dapat dicegah dan kekurangan kalium dapat dikoreksi
dengan menggunakan makanan yang kaya kalium selama diare dan sesudah diare
berhenti.

2. Demam
Demam sering terjadi pada infeksi Shigella disentriae dan rotavirus. Pada umumnya
demam akan timbul jika penyebab diare mengadakan invasi ke dalam sel epitel usus.
Demam juga dapat terjadi karena dehidrasi. Demam yang timbul akibat dehidrasi pada
umunya tidak tinggi dan akan menurun setelah mendapat hidrasi yang cukup. Demam
yang tinggi mungkin diikuti kejang demam. Pengobatan: kompres dan antipiretika.
Antibiotika jika ada infeksi.
3. Edema/overhidrasi
Terjadi bila penderita mendapat cairan terlalu banyak. Tanda dan gejala yang tampak
biasanya edema kelopak mata, kejang-kejang dapat terjadi bila ada edema otak. Edema
paru-paru dapat terjadi pada penderita dehidrasi berat yang diberi larutan garam faali.
Pengobatan dengan pemberian cairan intravena dan atau oral dihentikan, kortikosteroid
jika kejang.

4. Asidosis metabolik
Asidosis metabolik ditandai dengan bertambahnya asam atau hilangnya basa cairan
ekstraseluler. Sebagai kompensasi terjadi alkalosis respiratorik, yang ditandai dengan
34

pernafasan yang dalam dan cepat (kussmaul). Pemberian oralit yang cukup mengadung
bikarbonat atau sitrat dapat memperbaiki asidosis.
Pencegahan
1. Mencegah penyebaran kuman patogen penyebab diare
Kuman-kuman patogen penyebab diare umumnya disebarkan secara fekal oral.
Pemutusan penyebaran kuman penyebab diare perlu difokuskan pada cara penyebaran
ini. Upaya pencegahan diare yang terbukti efektif meliputi:
a.
b.
c.
d.

Pemberian ASI yang benar


Memperbaiki penyiapan dan penyimpanan makanan pendamping ASI
Menggunakan air bersih yang cukup
Membudayakan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sehabis buang air besar dan

sebelum makan
e. Penggunaan tandas yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota keluarga
f. Membuang tinja bayi yang benar

2. Memperbaiki daya tahan tubuh pejamu


Cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak dan dapat
juga mengurangi resiko diare antara lain:
a.

Memberi ASI paling tidak sampai usia 2 tahun

b.

Meningkatkan nilai gizi makanan pendamping ASI dan member makan dalam jumlah
yang cukup untuk memperbaiki status , gizi anak.

c.

Imunisasi campak. Pada balita 1-7% kejadian diare berhubungan dengan campak, dan
diare yang etrjadi umunya lebih berat dan lebih lama (susah diobati, cenderung
menjadi kronis) karena adanya kelainan pada epitel usus. Diperkirakan imunisasi
campak yang mencakup 45-90% bayi berumur 9-11 bulan dapat mencegah 40-60%
kasus campak, 0,6-3,8% kejadian diare dan 6-25% kematian karena diare pada balita.

d.

Vaksin rotavirus, diberikan untuk meniru respon tubuh seperti infeksi alamiah, tetapi
infeksi pertama oleh vaksin tidak menimbulkan, manifestasi diare. Di dunia telah
35

beredar 2 vaksin rotavirus oral yang diberikan sebelum usia 6 bulan dalam 2-3 kali
pemberian dengan interval 4-6 minggu.8
Prognosis
Bila kita menatalaksanakan diare sesuai dengan 5 pilar diare, sebagian besar (90%) kasus diare
pada anak akan sembuh dalam waktu kurang dari 7 hari, sebagian kecil (5%) akan melanjut dan
sembuh dalam kurang dari 7 hari, sebagian kecil (5%( akan menjadi diare persisten. 6

DAFTAR PUSTAKA
1. Suraatmaja Sudaryat. Diare dalam Kapita Selekta Gastroenterologi Anak. Jakarta:
Sagung Seto. 2007:1-24
2. Juffrie M, Soenarto Sri, Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulyani NS.. Diare akut dalam
Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi Jilid 1, Edisi 1. Jakarta: Badan penerbit UKK
Gastroenterologi-Hepatologi IDAI. 2012:87-118
3. Pickering LK. Gastroenteritis in Nelson textbook of pediatrics 19th edition. United Stated
of America, Lippincot wiliams
4. Gaurino et al. European Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and
Nutrition/European Society for Paediatric Infectious disease Evidenced Based Guidelines
for Management of Acute Gastroenteritis in Children in Europe. Journal of Pediatric
Gastroenterology and Nutrition 46: S81-184.2008.

36

5. Diarrhea. Available at:


http://www.mayoclinic.com/health/diarrhea/DS00292/DSECTION=tests-and-diagnosis.
Accessed on June 24, 2013.
6. Firmansyah A dkk. Modul pelatihan Tata laksana diare pada anak. Jakarta: Badan
Koordinasi Gastroenterologi Anak Indonesia.2005.
7. Isolaun E. Probiotics : A role in the treatment of intestinal infection and inflammation.
Gut.2002,50 (Supple III):III:54-1159
8. Comitte Infection Disease. Prevention of Rotavirus Diseases: Upadated Guidelines for
use of Rotavirus Vaccine. Pediatrics 123,1412,2009.

37