Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO 1

Penyusun :
Arini Al Haq

(131610101040)

Duati Mayangsari

(131610101039)

Pungky Anggraini
Jerry Daniel

(131610101042)
(131610101018)

Hesti Rasdi Setiawati

(131610101020)

Vita Lukitasari

(131610101024)

Rachel P W
Fatimatuz Zahroh
Cholida Rachmatia

(131610101049)
(131610101051)
(131610101056)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2015
DAFTAR ANGGOTA KELOMPOK

Tutor

: drg. Dewi Kristiana, M.Kes.

Ketua

: Arini Al Haq

(131610101040)

Scriber Meja : Duati Mayangsari

(131610101039)

Scriber Papan : Pungky Anggraini

(131610101042)

Anggota :
1. Jerry Daniel

(131610101018)

2. Hesti Rasdi Setiawati

(131610101020)

3. Vita Lukitasari
4. Rachel P W
5. Fatimatuz Zahroh
6. Cholida Rachmatia

(131610101024)
(131610101049)
(131610101051)
(131610101056)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan skenario 4.
Penulisan makalah ini semuanya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak,
oleh karena itu penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada:
1. drg. Dewi Kristiana, M.Kes., selaku tutor yang telah membimbing
jalannya diskusi tutorial kelompok VI Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Jember dan memberi masukan yang membantu bagi
pengembangan ilmu yang telah didapatkan.
2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.
Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis
harapkan demi perbaikan-perbaikan di masa yang akan datang demi
kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat berguna bagi kita
semua.

Jember, 2 November 2015

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

Daftar Anggota Kelompok .................................................................................. 2


Kata Pengantar ..................................................................................................... 3
Daftar Isi ............................................................................................................... 4
Skenario ................................................................................................................ 5
BAB I Pendahuluan................................................................................................ 6
BAB II Tinjauan Pustaka...................................................................................... 10
BAB III Diskusi................................................................................................... 12
BAB IV Kesimpulan............................................................................................. 46
Daftar Pustaka ...................................................................................................... 47
Lampiran............................................................................................................... 48

SKENARIO IV
Perawatan Orthodonsia dengan Menggunakan Alat Lepasan
Seorang ibu membawa anaknya seorang perempuan usia 10 tahun datang
ke RSGM dengan keluhan bahwa anaknya memiliki gigi yang berdesakan.
Setelah dibuatkan model studi maka ditetapkan bahwa penderita perlu perawatan
ortho dengan menggunakan alat lepasan. Setelah itu dilakukan pencetakan RA dan
RB untuk pembuatan mocel studi. Dari studi model ditetapkan diagnose sebagai
maloklusi klas I Angle dengan berdesakan anterior dan posterior. Konstruksi alat
dibuat sedemikian rupa sehingga komponen alat ortodonsia lepasan tersebut
sederhana dan mudah dalam aktivasi dan nyaman dipakai. Pada saat insersi alat,
dokter gigi memberi instruksi kepada pasien dan orang tua secara sederhana
mengenai komponen dari alat lepasan, lama pemakaian serta perlunya control
setiap 2 minggu. Orang tua dan pasien juga dijelaskan fungsi dari masing-masing
komponen sehingga pasien dapat merawat dengan baik. Setelah penderita merasa
nyaman dokter gigi menerangkan tentang cara melepas dan memasang kembali
alat ortho lepasan serta menginstruksikan tentang penggunaan alat lepasan. Maka
dokter gigi menjadwalkan untuk kontrol 2 minggu lagi.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alat Ortodonti lepasan didefinisikan sebagai alat yang bisa
dipasang dan dilepas sendiri oleh pasien. Alat ini mulai rutin digunakan sejak
abad ke-19, namun akrilik dan stainless steel baru digunakan pada awal abad
ke-20. Sekitar tahun 1950, Adam mengembangkan suatu cangkolan sehingga
ruang lingkup penggunaan dan efisiensi alat lepasan meningkat. Sebelum alat
cekat berkembang, alat lepasan digunakan untuk merawat hampir semua kasus
maloklusi. Dengan berkembangnya ilmu dan teknologi dalam bidang
ortodonti, maka pemakaian alat lepasan tergeser oleh alat cekat, namun alat ini
masih menjadi pilihan untuk menangani kasus-kasus tertentu. Kerr
melaporkan bahwa 85% dari populasi yang dirawatmenggunakan alat lepasan
dengan kasus yang benar-benar terseleksi menunjukkan hasil yang
memuaskan. Alat lepasan terdiri dari berbagai macam. Alat lepasan bisa
digunakan sebagai alat pergerakan gigi aktif misalnya untuk kasus interseptif
pada pasien gigi campuran, space maintainers, alat fungsional untuk
perawatan

modifikasi

pertumbuhan,

alat

retensi

pasca

perawatan

menggunakan alat cekat, dan clear aligner. Akhir-akhir ini pemakaian alat
lepasan lebih luas karena bisa dikombinasikan dengan band, hook, dan alat
ekstra oral. Walaupun demikian, harus ditekankan bahwa alat lepasan bukan
merupakan pilihan untuk menangani maloklusi yang kompleks.
Dokter gigi umum akan mampu merawat kasus ortodonti menggunakan
alat lepasan jika memiliki keterampilan dan keahlian yang memadai,
merencanakan dengan matang, memilih kasus yang sesuai, dan melakukan
pengawasan perawatan secara cermat.
Di makalah ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai hal-hal yang lebih
lanjuttentang perawatan ortho lepasan.

1.2 Rumusan Masalah


(STEP 2 dan 3)
6

1. Apa saja pertimbangan pemakaian alat ortodontik lepasan?


Ada beberapa pertimbangan dalam merawat pasien di skenario dengan alat
ortodontik lepasan, diantaranya:
- Karena usia pasien yang masih 10 tahun, jadi apabila pasien menggunakan alat
ortodontik lepasan masih efektif. Minimal usia 6 tahun.
- Apabila memang merupakan keinginan pasien sendiri untuk dirawat dengan alat
ortodontik lepasan
- Lebih ekonomis
- Oral hygiene pasien baik.
Alat ortodontik lepasan mudah untuk dibersihkan
2. Mengapa perlu dibuat model studi?
Dokter gigi perlu membuat model studi dalam rencana perawatan alat ortodontik
lepasan, hal itu disebabkan oleh:
- Ada standar pemeriksaan untuk melihat dan menganalisa kondisi rongga mulut
pasien yang sulit diihat (lengkung gigi, kekurangan ruang)
- Dapat mempermudah dokter gigi dalam menganalisa kasus pasien untuk
-

menentukan letak gigi yang salah


Dapat digunakan sebagai pedoman dan membandingkan sebelum dan
sesudah perawatan

3. Mengapa dokter gigi perlu menjelaskan fungsi tiap komponen?


Dokter gigi perlu menjelaskan fungsi dari tiap-tiap komponen alat ortodontik
lepasan, sebab:
Pasien akan benar-benar memahami cara kerja dari alat yang dipakai, sehingga
menambah kekooperatifan pasien.
- Agar pasien mengetahui cara memasang alat ortodontik lepasan yang benar dan
tidak merusak dari komponen-komponennya
- Pasien akan lebih menghargai alat yang dipakai dan mampu merawatnya
4. Mengapa dokter gigi menginstruksi untuk kontrol 2 minggu sekali?
Mengetahui adanya perubahan letak gigi setelah di koreksi
- Dalam kurun 7-14 hari biasanya akan terlihat nyata perubahannya setelah
-

menggunakan alat ortodontik lepasan secara rutin


Untuk mengetahui apakah pasien sudah merasa nyaman atau tidak dengan

alat yang dipakai


Untuk melakukan modifikasi pada alat pada komponen-komponen yang perlu

diubah
Sebaiknya kontrol dilakukan dalam 20-30 kali kunjungan
Melakukan fiksasi kembali jika alat telah berubah menjadi tidak retentif

5. Instruksi apa saja yang diberikan kepada pasien dan hal apa saja yang dilakukan
saat kontrol?
Instruksi yang diberikan pada pasien:
- Pasien ditunjukkan dan dipraktekkan cara memasang dan melepas alat
- Pasien diharapkan dapat menjaga oral hygiene dengan baik
- Saat alat dibersihkan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi
-

distorsi
Alat harus dipakai terus menerus dan bila perlu juga saat makan, namun jika

takut akan merusak komponen alat maka lebih baik dilepas saat makan.
Hindari makanan lengket dan keras karena akan merusak komponen alat dan

gigi pasien
Pasien perlu diberi pengertian bahwa pada saat berbicara dan makan akan
merasa kesulitan atau aneh setelah menggunakan alat ortodontik lepasan,

namun hanya pada awalnya saja ketika belum terbiasa


Pasien juga perlu memahami bahwa dalam proses membiasakan diri terhadap
alat, pasien mungkin akan merasa tidak nyaman pada rahang dan otot-

ototnya.
Pada saat dilepas, alat perlu direndam dalam air supaya baseplate yang
terbuat dari akrilik tidak mengalami perubahan.
Hal-hal diatas perlu di instruksi kan agar pasien selalu merawat alat

ortodontik lepasan yang diberikan dan menghindari hilangnya motivasi dari


pasien.
Pada saat dilakukan kontrol, hal-hal yang perlu dilakukan adalah melihat
apakah pasien telah melakukan semua instruksi yang diberikan dokter gigi. Jika
tampak ada perubahan positif dalam rongga mulutnya, maka pasien sudah
kooperatif. Apabila perlu dilakukan aktivasi dan adjustment, saat kontrol dokter
gigi dapat melakukan modifikasi dari alat.

1.3 Learning Objective


1. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan
indikasi dan kontraindikasi alat ortodonti lepasan
2. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan
syarat alat ortodonti lepasan
3. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan
komponen dan aktivasi alat ortodonti lepasan

4. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan


prosedur insersi alat ortodonti lepasan
5. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan
faktor keberhasilan perawatan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Alat Ortodonti Lepasan

2.1.1 Pengertian Alat Ortodonti Lepasan

Alat ortodonti lepasan atau bisa disebut peranti ortodonti lepasan


adalah alat yang dapat dipasang dan dilepas oleh pasien yang terdiri dari
lempeng akrilik dan kawat. Alat ortodonti lepasan digunakan sebagai
perawatan utama kasus geligi pergantian dan awal pergantian gigi
permanen pada pasien usia 6-16 tahun (Isaacson Iet alI, 2002)
Alat lepasan dapat memberikan hasil yang maksimal apabila
dipakai terus menerus. Keberhasilan perawatan dengan alat lepasan tidak
hanya tergantung pada kemauan pasien dan kerjasamanya, akan tetapi juga
kepada kemampuan operator untuk mendesain dan membuat alat yang

dapat ditolerir pasien. Oleh karena hal-hal tersebut di atas sehingga perlu
diperhatikan bahwa alat ortodonti lepasan tidak hanya mudah dilepas akan
tetapi juga mudah diinsersi, terletak stabil dalam mulut, nyaman dipakai
sehingga tidak mengganggu fungsi bicara, dan desain sederhana sehingga
diharapkan pasien mau memakai secara terus menerus dan didapatkan
perawatan yang menghasilkan kemajuan yang bagus. Pada penggunaan
alat ortodonti lepasan ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan antara
ain pemilihan kasus, rencana perawatan, desain alat dan penatalaksanaan
perawatan (Rahardjo, 2009)
Alat ortodonti lepasan sebaiknya tidak digunakan pada pasien
dengan kebersihan mulut buruk atau pasien yang tidak kooperatif. Selain
itu, alat ortodonti lepasan sebaiknya tidak digunakan pada kasus maloklusi
yang kompleks (Littlewood et al, 2001)
Kestabilan pasca perawatan ortodonti adalah hal yang perlu
diperhatikan dan salah satu indicator berhasil atau tidaknya suatu
perawatan (Eveline dan Nia, 2005)
2.1.2 Indikasi Alat Ortodonti Lepasan
Indikasi pemakaian alat ortodonti lepasan antara lain yaitu pasien
kooperatif dengan kebersihan mulut dan geligi dalam kondisi baik,
maloklusi dengan pola skelet kelas 1 degan disertai letak kelainan gigi
berupa jarak gigit besar, gigitan terbalik karena kesalahan inklinasi,
malposisi gigi tetapi akar gigi terletak pada tempat yang benar, kelainan
jurusan buko lingual. Pencabutan yang terencana hendaknya memberi
kesempatan gigi untuk bergerak tipping dalam koreksi maloklusi dan
hendaknya hanya menyisakan sedikit diastema sama sekali , oleh karena
alat ortodonti lepasan tidak efisien untuk menutup diastema sisa
pencabutan (Rahardjo, 2009)
2.1.3 Kontraindikasi Alat Ortodonti Lepasan

Kontraindikasi

pemakaian

alat

ortodonti

lepasan

antara lain yaitu, adanya diskrepansi skeletal yang jelas,


misalmya

pada

maloklusi

kelas

II

yang

parah,

bila

dibutuhkan penjangkaran antar maksila, bila diperlukan


10

pergerakan gigi secara bodily, bila terdapat problema


ruangan yang parah (Rahardjo, 2009)
2.2

Instruksi Pemakaian Alat Ortodonti Lepasan


Perawatan ortodonti dengan menggunakan alat ortodonti lepasan tidak

akan berhasil tanpa adanya kekooperatifa dan motivasi pasien. Keberhasilan


perawatan ortodonti dengan menggunakan alat ortodonti lepasan sangat
bergantung pada saat pemakaiannya (Schott dan Gozl, 2010). Waktu pemakaian
alat ortodonti lepasan adalah sepanjang hari kecuali pada saat membersihkan alat
ortodonti lepasan. Setelah makan, pemakai alat ortodonti lepasan menggosok
giginya terlebih dahulu kemudian piranti ortodonti lepasan daoat dibersihkan
dengan pasta dan sikat gigi (Isaacson et al, 2002). Menurut Madlena (2012),
menyikat gigi selama perawatan ortodonti dilakukan minimal dua kali sehari
untuk membantu meningkatkan kebersihan mulut.

BAB III
DISKUSI

Maloklusi

Klasifikasi

Perawatan
Ortodontik

Alat Ortodontik
Lepasan

Alat Ortodontik
Cekat
11

Syarat

Keberhasilan
Instruksi danInsersi
dan
Komponen
Desain
perawatan
kontrol
aktivasi
(skenario)

A. Indikasi dan Kontraindikasi Alat Ortodonti Lepasan

Pasien yang kooperatif, kebersihan mulut dan geligi dalam kondisi yang
baik.

Maloklusi dengan pola skeletal kelas I atau yang tidak jauh menyimpang
dari kelas I disertai kelainan letak gigi, yaitu: 1) terdapat jarak gigit yang
besar disebabkan kesalahan inklinasi gigi, 2) gigitan terbalik disebabkan
perubahan inklinasi gigi, 3) malposisi giig tetapi akar gigi tersebut terletak
pada tempat yang benar, 4) kelainan jurusan bukolingual (gigitan silang

unilateral posterior) yang disebabkan displacement mandibula.


Perawatan bisa dilakukan hanya pada salah satu rahang, misal rahang atas
menggunakan alat lepasan sementara rahang bawah hanya dicabut atau

tidak dirawat
Malposisi individual gigi dimana posisi apikalnya bisa diperbaiki dengan
tipping
12

Pencabutan yang terencana hendaknya memberi kesempatan gigi untuk


bergerak tipping, dan hendaknya hanya menyisakan sedikit diastema atau

bahkan tidak menyisakan diastema sama sekali.


Faktor usia, lebih sesuai untuk usia 6-16 tahun dimana waktu perawatan
lebih banyak memanfaatkan fase akhir gigi pergantian dan fase awal gigi
tetap

Kontraindikasi :

Membutuhkan pergerakan secara bodily


Bila terdapat problema ruangan, misalnya adanya berdesakan yang parah

ataupun adanya diastema yang berlebihan.


Adanya malposisi apeks, rotasi yang parah ataupun rotasi multipel.
Diskrepansi skeletal yang jelas dalam arah sagital maupun transversal.
Kelainan posisi apikal gigi dan rotasi yang parah, serta melibatkan banyak

akar
Membutuhkan perawatan pada kedua rahang baik rahang atas maupun
rahang bawah. Misalnya masalah anchorage yang membutuhkan daya tarik

intermaksilari
Tulang yang tebal (densitas tulang tinggi) sedangkan membutuhkan
pergerakan gigi geligi

B. Syarat Alat Ortodonti Lepasan


Syarat alat-alat yang digunakan dalam orthodontic, dibagi menjadi 4 kelompok :
1. Persyaratan Biologis
- Alat tersebut harus bisa memberikan pergerakan gigi yang
diinginkan.
- Alat tersebut tidak boleh membuat perubahan patologis misalnya
resorpsi akar.
- Alat tersebut tidak boleh mempengaruhi pertumbuhan alami.
- Alat tersebut tidak boleh memberikan pergerakan yang tidak
diinginkan.
- Material yang digunakan harus biokompatibel dan tidak memiliki
efek toksin.
- Alat tersebut tidak boleh rusak bila terkena saliva.
2. Persyaratan Mekanis
- Alat tersebut harus mudah dilepas dan dipasang.
- Alat tersebut harus cukup kuat untuk menahan tekanan mastikasi.

13

Alat tersebut harus memberikan tekanan dalam intesitas arah dan


durasi yang diinginkan.
3. Persyaratan Higienis
- Sebaiknya alat orthodontic tersebut memiliki sifat self-cleansing,
namun jika tidak maka alat tersebut harus mudah dibersihkan.
4. Persayaratan Estetik
- Alat tersebut harus diterima secara estetik.
Sedangkan secara umum syarat alat ortodonti lepasan :

Mudah dipasang dan dilepas pasien


Terletak stabil di dalam mulut
Nyaman dipakai
Desainnya sederhana, tidak tebal, tidak rumit sehingga tidak menggnggu fungsi

bicara
Bahan biokompatibel
Dapat memberikan gaya terus menerus

C. Komponen dan Aktivasi Alat Ortodonti Lepasan


Alat Lepasan : Alat ortodontik ini dapat dipasang dan dilepas oleh pasien
sendiri.
Contoh:
a. Plat Dengan Pir-Pir Pembantu
b. Plat Dengan Peninggi Gigitan
c. Plat Ekspansi
d. Aktivator/Monoblock
Komponen alat lepasan terdiri dari :
A. Pelat Dasar /Baseplate
B. Komponen Retentif :
1. Klamer / Clasp
2. Kait / Hook
3. Busur Labial / Labial Arch / Labial Bow (dalam keadaan pasif)
C. Komponen Aktif :
1. Pir-pir Pembantu / Auxilliary Springs
2. Busur Labial / Labial Arch / Labial Bow
3. Skrup Ekspansi / Expansion Screw

14

4. Karet Elastik / Elastic Rubber


D. Komponen Pasif :
1. Busur Lingual / Lingual Arch / Mainwire
2. Peninggi Gigitan / Biteplane
E Komponen Penjangkar :
a. Verkeilung,
b. Busur Labial dalam keadaan tidak aktif.
c. Klamer-klamer. dan modifikasinya

Gambar : Alat Ortodontik Lepasan


A. Pelat Dasar /Baseplate

B. Komponen Retentif

C. Komponen Aktif
D. Komponen Pasif

E Komponen Penjangkar

KOMPONEN ALAT LEPASAN


A. Plat Dasar /Baseplate

15

Merupakan rangka (frame work) dari alat ortodontik lepasan, umumnya berupa
plat akrilik, berfungsi untuk :
1. Mendukung komponen-komponen yang lain , seperti tempat penanaman basis
spring, klammer, busur labial dan lain-lain.
2. Meneruskan kekuatan yang dihasilkan oleh bagian aktif ke gigi penjangkar.
3. Mencegah pergeseran gigi-gigi yang tidak akan digerakkan.
4. Melindungi spring-spring di daerah palatal.
5. Menahan dan meneruskan kekuatan gigitan
Plat akrilik dibuat setipis mungkin agar tidak menyita rongga mulut
sehingga bisa enak dipakai oleh pasien (comfortable), tetapi cukup tebal agar tetap
kuat jika dipakai di dalam mulut. Umumnya ketebalan plat setebal 1 malam model
(2mm).
Desain dan konstrusi plat sangat mempengaruhi efisiensi alat serta
kenyamanan pemakaian oleh pasien sehingga pasien mau mengikuti instruksiinstruksi pemakaian sampai perawatam selesai. Dengan demikian disamping plat
yang terlalu tebal dan lebar menutupi palatum, pemasangan pir-pir yang terlalu
banyak secara bersamaan akan sangat mengganggu kenyamanan pasien.
B. Komponen Retentif
1. Klamer/Clasp dan Modifikasinya
Klamer adalah suatu bengkokan kawat merupakan bagian/komponen
retentif dari alat ortodontik lepasan . Bagian retensi dari Alat Lepasan umumnya
berupa cangkolan/klamer/clasp dan kait / hook, berfungsi untuk :
a. Menjaga agar plat tetap melekat di dalam mulut.
b. Mempertahankan stabilitas alat pada saat mulut berfungsi.
c. Membantu fungsi gigi penjangkar/anchorage, menghasilkan kekuatan
pertahanan yang berlawanan arah dengan kekuatan yang dihasilkan oleh bagian
aktif untuk menggerakkan gigi.
d. Klamer dapat diberi tambahan hook untuk tempat cantolan elastik.
Klamer dipasang pada gigi dapat memberikan tahanan yang cukup
terhadap kekuatan yang dikenakan terhadap gigi yang digerakkan. Dapat menahan
16

gaya vertikal yang dapat mengangkat plat lepas dari rahang dan menggangu
stabilitas alat .
Pemilihan jenis , jumlah dan letak penempatan klamer pada gigi anchorage
tergantung kepada: jumlah spring yang dipasang, letak spring, serta bentuk dan
jumlah gigi penjangkarnya.
Macam-macam klamer dan modifikasinya yang di pakai sebagai
komponen retentive pada alat ortodontik lepasan adalah :
1. Klamer C / Simple/Buccal Clasp.
2. Klamer Adams / Adams Clacp.
3. Klamer kepala panah / Arrow Head Clasp
4. Bentuk modifikasi (Kawat tunggal, Ring, Triangulair, Arrowhea, Pinball)
1. Klamer C (Simple/Bukal Clasp)
Klamer ini biasanya dipasang pada gigi molar kanan dan kiri tetapi bisa
juga pada gigi yang lain. Pembuatannya mudah, tidak memerlukan tang khusus,
tidak memerlukan banyak materi kawat, tidak melukai mukosa , retensinya cukup,
tetapi tidak efektif jika dikenakan pada gigi desidui atau gigi permanen yang baru
erupsi.
Ukuran diameter kawat yang dipakai : untuk gigi molar 0,8 0,9 mm,
sedangkan untuk gigi premolar dan gigi anterior 0,7 mm.
Bagian-bagiannya terdiri dari:
Lengan:
Berupa lengkung kawat dari ujung membentuk huruf C memeluk leher gigi di
bagian bukal dari mesial ke distal di bawah lingkaran terbesar (daerah undercut),
satu milimeter di atas gingiva dengan ujung telah ditumpulkan.
Pundak:
Merupakan lanjutan dari lengan dibagian distal gigi berbelok ke lingual/palatinal
menelusuri daerah interdental. kawat di daerah ini hindari jangan sampai tergigit.
Basis:

17

Merupakan bagian kawat yang tertanam di dalam plat akrilik, ujungnya diberi
bengkokkan untuk retensi.

Gambar : Klamer C

2. Klamer Adams (Adams Clasp)


Klamer Adams merupakan alat retensi plat aktif yang paling umum
digunakan . Biasanya dikenakan pada gigi molar kanan dan kiri serta pada gigi
premolar atau gigi anterior. Diameter kawat yang digunakan : 0,7 mm untuk gigi
molar dan premolar serta 0,6 mm untuk gigi anterior.
Bagian-bagiannya terdiri dari :
Cross bar :
Merupakan bagian kawat sepanjang 2/3 mesiodistal gigi anchorage yang akan
dipasangi, posisi sejajar permukaan oklusal, terletak 1 mm disebelah bukal
permukaan bukal , tidak tergigit ketika gigi beroklusi.
U loop :
Terletak diujung mesial dan distal cross bar. Menempel pada permukaan gigi di
daerah undercut bagian mesiobukal dan distobukal.
Pundak: Merupakan lanjutan dari U loop yang melewati daerah interdental
dibagian oklusal sisi mesial dan distal gigi anchorage.Tidak tergigit sewaktu gigi
beroklusi.
Basis :
Ujung kawat pada kedua sisi tertanam didalam plat akrilik, diberi bengkokan
untuk retensi.

18

Gambar : Klamer Adams


Modifikasi Klamer Adams:
1. Klamer adams dengan arrowhead tunggal
Klamer jenis ini diindikasikan pada gigi yang mengalami
erupsi sebagian pada molar yang terakhir erupsi. Arrowhead
klamer ini diletakkan pada undercut mesial.

2. Klamer adams dengan arrowhead tambahan


Ketika membutuhkan retensi tambahan, maka dibuat klamer
arrowhead tambahan pada gigi yang berdekatan. Penambahan
ini dilakukan dengan cara klamer arrowhead disolder pada
cross bar klamer adams.

3. Klamer Adams dengan J hook


19

J hook merupakan komponen tambahan yang berfugsi untuk


elastic. J hook ini disolder pada cross bar klamer adams.
4. Klamer adams dengan Helix
Klamer ini juga memiliki komponen tambahan berupa helix
untuk elastic.
5. Klamer Adams dengan Bukal tube
Bukal tube ini disolder untuk penggunaan alat tambahan
ekstraoral.
6. Klamer Adams pada gigi Insisivus dan Premolar
3. Klamer Kepala Panah (Arrow Head Clasp)
Klamer ini mempunyai bagain yang berbentuk seperti ujung/kepala anak
panah, masuk daerah interdental membentuk sudut 90 terhadap posisi lengannya.
Lengan tidak boleh menempel pada mukosa tetapi berjarak 1 mm di sebelah
bukalnya, lengan juga tidak boleh terlalu panjang sampai melebihi posisi vornic
supaya tidak melukai sulcus buccalis.
Klamer ini dapat dipakai untuk memegang lebih dari satu gigi, biasanya dipakai
sebagi bagian retentif plat ekspansi. Diameter kawat yang di pakai : 0,7 mm

Gambar : Klamer kepala panah

20

4. Klamer Modifikasi
Modifikasi klamer berupa tekukan kawat yang ujungnya men cengkram
permukaan interdental dua buah gigi bersebelahan
Bagian-bagiannya terdiri dari :
Basis yaitu bagian kawat yang tertanam dalam plat akrik, ujungnya diberiri
tekukan agar tidak mudah lepas dari dasar
Pundak bagian dari kawat yang melewati daeran interdental dipermukaan
oklusal dua gigi bersebelahan
Ujung (End) bagian yang mencengkram daerah inter dental gigi menghasilkan
kemampuan retentif untuk alat lepasan
Modifikasi klamer jenis ini baisanya dipasang di daerah interdental pada gigi
posterior, pemasangannya bisa dikombinasikan dengan klamer C
Dibuat dari kawat berdiameter 0,7 mm

Gambar : Modifikasi klamer dengan ujung bundar di daerah interdental gigi.


5. Southend Clasp
Klamer ini digunakan untuk retensi gigi anterior. Klamer ini dibuat
sepanjang margin gingiva pada kedua insisiv sentral rahang atas dan
distalnya berakhir pada daerah retentif di sisi palatal. Klamer ini
diindikasikan untuk gigi insisiv atas yang tidak proklinasi dengan undercut
terbatas.

21

6. Triangular Clasp
Bentuk klamer triangular kecil yang berfungsi sebagai retensi
tambahan karena jika digunakan secara tunggal, mka tiak dapat member
retensi yang adekuat. Klamer ini menggunakan undercut proksimal antara
dua gigi posterior.

7. Ball end Clasp


Memiliki bentuk bulat pada ujungnya dan dibuat dengan klamer
dengan diameter 0,7 mm. Klamer ini menggunakan undercut pada mesial
dan distal antara dua gigi posterior yang berdekatan.

C. Komponen Aktif
Pir-Pir Pembantu/ Auxilliary Springs

22

Pir-pir pembantu (auxilliary springs) adalah pir-pir ortodontik yang digunakan


untuk menggerakkan gigi-gigi yang akan dikoreksi baik secara individual atau
beberapa gigi secara bersama-sama.
Macam-macam spring :
1. Pir Jari / Finger spring
2. Pir Simpel / Simple spring
3. Pir Lup / Loop spring / Buccal retractor spring
4. Pir Kontinyu / Continous spring

1. Pir Jari / Finger spring


Pir jari merupakan bagian retentif dari alat ortodontik lepasan yang menyerupai
jari-jari sebuah lingkaran memanjang dari pusat lingkaran ke sisi lingkaran
(lengkung gigi),
Untuk menggerakkan gigi ke arah mesio-distal dan menggerakkan gigi ke
labial atau searah dengan lengkung gigi
Terbuat dari kawat baja nirkarat (hard stainless steel wire) dengan diameter
0,5mm.
Terdapat sebuah koil dengan diameter kurang dari 3mm dibuat di dekat
masuknya pegas ke dalam lempeng akrilik untuk memperpanjang pegas sehingga
akan lebih lentur.
Aktivasi dilakukan dengan menarik lengan pegas ke arah pergerakan gigi atau
memencet koil sehingga lengan pegas bergerak ke arah yang diinginkan. Pada
kunjungan pertama aktivasi ringan saja, yaitu defleksi antara 1-2mm. Pada
kunjungan berikutnya defleksi dapat sampai 3mm, tetapi beberapa operator lebih
menyukai defleksi 2mm untuk memberikan tekanan yang ringan.

23

Gambar : Posisi Pir Jari dibawah busur lingual

Klamer ini terdiri dari bagian-bagian :


a. Lengan bagian yang memeluk mahkota gigi kemudian memanjang kearah pusat
lingkaran berfungsi untuk mendorong gigi ke arah mesial atau distal sepanjang
lengkung gigi.
b. Koil adalah lanjutan lengan yang membentuk lingkaran satu atau dua kali
putaran dengan diameter 2 mm, merupakan sumber kelentingan pir yang
menghasilkan kekuatan aktif untuk menggerakkan gigi.
c. Basis adalah bagian pir yang merupakan lanjutan dari koil yang dipatrikan pada
mainwire atau di tanam dalam plat akrilik.
2. Pir Simpel / Simple spring
Berfungsi untuk menggerakkan gigi individual ke arah labial atau bukal. Dibuat
dengan mematrikan kawat pada satu titik pada mainwire, membentuk sudut 45
terhadap garis singgung lingkaran mainwire kemudian dibengkokkan sejajar
mainwire mendekati dan menempel pada gigi yang akan digerakkan dari arah
palatinal/lingual. Ukuran kawat yang biasa dipakai adalah 0.5 - 0,6 mm.
24

Gambar : Pir simple dengan modifikasi koil

Pegas Kantilever Ganda (Pegas Z)


Pegas ini untuk menggerakkan gigi anterior ke labial.
Lengan pegas harus selebar mesiodistal insisivi yang digerakkan agar pegas
tidak kaku.
Pegas harus terletak pada permukaan palatal gigi yang didorong, jika tidak
maka pegas akan mudah tergelincir dan menyebabkan intrusi.
Aktivasi dilakukan pada lengan pegas, mula-mula yang di dekat koil yang jauh
dari gigi, kemudian baru ujung lainnya yang mengenai gigi
3. Pir Lup / Loop spring / Buccal retractor spring
Pir ini dipakai untuk meretraksi gigi kaninus atau premolar ke distal
Pemasangannya dapat dipatrikan pada busur labial atau ditanam dalam plat akrilik
Dibuat dari kawat berdiameter 0,6 0,7 mm

25

Gambar : Pir lup bukal / buccal rectractor spring


Ada 3 jenis :
a. Pegas Bukal Tanpa Penyangga
Berfungsi untuk menggerakkan kaninus yang terletak di bukal yang harus
digerakkan ke arah palatal dan distal
Pegas bukal seringkali tidak disenangi karena tidak nyaman bagi pasien,
kadang-kadang sukar diaktivasi dan kurang stabil dalam jurusan vertikal
Penempatan lengan-lengan harus benar pada tempatnya karena lengannya
panjang jadi mudah tergelincir. Terutama jika pegas jatuh pada bidang miring,
seringkali pegas tergelincir menyusuri bidang miring tersebut
Aktivasinya hanya sebesar 1 mm (krn pegas dibuat dari kawat 0,7 sehingga
defleksi sedikit saja, kekuatan cukup besar)
Desain dan pembuatan pegas bukal harus benar terutama pada saat pembuatan
cetakan, sulcus bukal dan batas mukosa harus jelas, sehingga nantinya pegas tidak
mengenai keduanya
Bisa ditambah koil supaya lebih lentur
Aktivasi distal : lengan depan ditarik ke distal, koil ditahan dengan tang
pembentuk lup
Aktivasi palatal : lengan depan sesudah koil dibengkokkan ke arah palatal
b. Retraktor Bukal Berpenyangga
Kawat yang digunakan 0,5 mm yang diberi penyangga tabung baja nirkarat
dengan diameter 0,5 mm
Mempunyai kelenturan 2 kali lebih baik daripada pegas bukal tidak
berpenyangga sebab lengan pegas yang tidak bertabung dibuat dari kawat yang
kecil
Stabilitas vertikal cukup bagus karena adanya tabung penyangga
Aktivasi 2 mm dan jangan membengkokkan pegas ke bagian yang baru muncul
dari tabung penyangga karena akan mudah patah
Cara aktivasi sama seperti pegas bukal tanpa penyangga

26

c. Retraktor Bukal dengan Lup Terbalik


Digunakan bila sulkus bukal rendah seperti di RB
Kawat yang digunakan diameternya 0,7 mm
Kelenturan pegas tergantung pada tinggi lup vertikal
Pegas ini kaku dalam bidang horisontal sehingga tidak stabil arah vertikal
Cara mengaktifkannya bisa dengan membuka coil atau dengan tiap kali
memotong ujungnya sepanjang 1 mm kemudian dibengkokkan lagi
Pegas ini tidak boleh diaktivasi lebih dari 1 mm
Cara aktivasi adalah dengan membengkokkan ujung pegas kemudian
memotong ujung pegas sepanjang 1 mm

4. Pir Kontinyu / Continous spring


Pir ini berfungsi untuk mendorong dua gigi atau lebih secara bersama-sama
kearah labial/bukal misalnya gigi-gigi insisivus, kaninius atau premolar.
Pemasangan bisa dengan dipatrikan pada mainwire atau basisnya di tanam dalam
plat akrilik. Basis yang dipatrikan pada mainwire membentuk sudut 45 kemudian
dibelokkan sejajar dengan main wire, pada satu sisi dari gigi-gigi yang akan
digerakkan membelok kemudian menempel pada permukaan palatinal/lingual
membentuk busur pendorong untuk kemudian membelok kembali ke arah
berlawanan membentuk basis dengan pematrian pada sisi sebelahnya

Gambar : Pir kontinyu yang dipatrikan pada main wire


Pegas T

27

Apabila premolar (kadang kaninus) harus digerakkan ke bukal dan penggunaan


kantilever pada pasien sukar
Pegas T digunakan untuk menggerakkan gigi premolar ke bukal.
Kawat 0,5 mm
Prinsip mekaniknya sama dengan pegas kantilever tapi kelenturannya
berkurang karena tidak punya koil
Aktivasi sedikit saja, jika terlalu banyak pasien akan sukar memasang piranti
Kekuatan yang diberikan oleh pegas mempunyai 2 komponen :
- Horisontal
- vertikal
Aktivasi : dilakukan dengan cara menarik pegas menjauhi lempeng akrilik
Pegas ini kaku sehingga aktivasinya sedikit
Apabila gigi sudah bergerak agak banyak padahal belum ,mencapai letak yang
diinginkan, pegas dapat diperpanjang dengan cara membuka lup pegas.
Pegas Coffin
Pegas ini digunakan untuk mengekspansi lengkung gigi ke arah transversal,
misalnya pada kasus gigitan silang posterior uilateral dengan displacement
mandibula.
Terbuat dari kawat berdiameter 1,25mm
Sebelum pegas diaktivasi, lempeng akrilik perlu diberi tanda dengan mengebor
sedikit masing-masing satu titik di samping belahan lempeng akrilik. selanjutnya
dengan divider diukur jarak dua titik tersebut. Untuk mengaktivasi jangan

28

menggunakan tang karena akan mudah distorsi. Sebaiknya hanya enggunakan


tangan untuk menarik kedua bagian akrilik anterior ke lateral. Kemudian ukur
jarak dua titik tersebut yang harus lebih lebar daripada sebelum diaktivasi,
sehingga besarnya aktivasi dapat diketahui.
Harus diperhatikan ketika menarik, arah kedua lempeng akrilik harus benarbenar dalam satu bidang horizontal. Jika sampai tertarik ke arah vertikal, peranti
menjadi tidak sesuai lagi dengan keadaan rongga mulut sehingga peranti tidak
stabil.

Gambar : Pegas Coffin

Busur Labial/Labial Arch/Labial Bow

Gambar : Busur labial a. Lengkung labial, b. U lup c. Klamer Adam


Digunakan untuk menarik geligi anterior ke arah palatal/lingual, sehingga
inklinasi gigi ke arah labial bisa terkoreksi, dan juga untuk mengurangi jarak gigit

29

Pemilihan penggunaan busur tergantung pada operatornya dan tergantung pada


banyaknya retraksi yang dikehendaki
Biasanya diameter kawat yang digunakan 0,7 mm
Untuk menggerakkan gigi anterior ke palatal untuk protrusi yang ekstrem
menggunakan busur yang lentur seperti retraktor Roberts dibuat dari kawat 0,5
mm
Untuk menarik gigi anterior sedikit digunakan busur yang kurang lentur

Bagian-bagiannya :
a. Basis : merupakan bagian yang tertanam dalam plat akrilik.
b. Pundak :Merupakan kawat lanjutan dari basis keluar dari plat akrilik di ujung
Verkeilung melewati daerah interdental gigi.
c. Lup : berbentuk huruf U sehingga disebut U loop
Macam-macam U loop :
1. Lup vertikal : yaitu lup U dalam arah vertikal, berguna untuk mengaktifkan
busur labial dengan menyempitkan kaki lup ketika meretraksi gigi-gigi ke
palatinal/lingual.
2. Lup Horisontal : untuk menjaga ke dudukan busur labial dalam arah vertikal
dan dapat dipakai untuk mengintrusikan dan mengekstrusikan gigi-gigi anterior.
3. Lup kombinasi vertikal dan horisontal: Lup kombinasi ini dimaksudkan agar
dapat digunakan untuk meretraksi dan mengintrusi atau mengekstrusi gigi-gigi
anterior. Posisi lup ini tergantung kepada macam busur labial yang digunakan
umumnya 1mm diatas permukaan mukosa gingiva, bebas dari vornic yaitu kirakira setinggi pertengahan jarak cervico-vornic.
4. Lup ganda (double Uloop) : Yaitu lup vertikal dengan dua belokan berbentuk
huruf U dimaksudkan untuk mem perbanyak tempat pengaktipan sehungga retrusi
gigi anterior dapat dilakukan lebih besar lagi dari pada lup tunggal
a. Busur Labial dengan Lup U
Dibuat dari kawat dg diameter 0,7 mm
Kelenturan terutama tergantung pada tinggi vertikal Lup u
30

Paling sering digunakan karena desainnya sederhana dan mudah dibuat


Karena kedalaman sulkus terbatas, menyebabkan busur ini kaku dlm jurusan
horizontal tetapi lentur dalam jurusan vertikal sehingga stabilitas tidak baik
Keuntungan busur ini untuk mengurangi jarak gigit yang sedikit dan atau bila
diperlukan untuk meratakan insisif, dapat digunakan bersama pegas palatal untuk
retraksi kaninus, setelah kaninus teretraksi, busur labial ini diaktifkan untuk
retraksi insisif
Hanya diperlukan aktivasi sedikit saja , jangan lebih dari 1 mm
Cara aktivasi Busur : digunakan tang pembentuk lup untuk mengaktifkan busur
labial
a. Lup dipegang dengan tang
b. Tekuk kaki depan lup atau sempitkan lup dengan tang
c. Dengan melakukan B, kaka horizontal busur akan bergerak ke arah insisal
d. kaki busur perlu dibetulkan dengan menahan lup dan menempatkan kaki
horizontal busur di tengah gigi
b. Busur Labial dengan Self Straigtening Wires
Modifikasi busur labial yang lentur dengan penambahan self straightening
wires pada busur labial dengan lup U
Pegas ini cenderung menyebabkan lengkung gigi anterior menjadi datar
Aktivasi : dilakukan dengan cara menutup lup U dari busur, jika perlu diatur
tinggi busur labial
Self straightening wires digulung kendor pada busur agar dapat bergerak bebas
pada busur penyangganya
c. Busur Labial dengan Lup U Terbalik
Sama dengan busur labial , tapi lupnya terbalik
Lup harus tidak berkontak dengan cangkolan pada Molar pertama, agar tidak
mengganggu aktivasi
Busur ini dapat menghalangi kaninus bergerak ke arah bukal pada waktu
diretraksi

31

Busur ini agak kaku, sehingga aktivasi tidak boleh lebih dari 1 mm
Aktivasi dilakukan dengan 2 tahap :
- Membuka lup vertikal dengan cara menekan ujung lup dengan tang
- Busur dibengkokkan pada dasar lup agar tinggi busur kembali seperti semula.
Kelenturannya bisa juga ditambah dengan menambah self straightening wire
d. Busur Mills ( Mills Bow)
Busur ini dibuat dari kawat 0,7 dengan kelenturannya bertambah oleh karena
kedua lupnya diperlebar
Karena lup yang lebar, pasien merasa kurang nyaman
Aktivasi harus hati-hati untuk menghindari trauma pada mukosa bukal
Cara memeriksa aktivasi
Prinsip pada aktivasi busur= pegas bukal
Ditentukan satu titik pd lempeng akrilik kemudian diukur jarak dari busur ke
titik tersebut sewaktu peranti masih di dalam mulut.
Peranti dilepas dan diaktivasi, kemudian diukur jarak busur ke titik yang
dipakai untuk referensi
Jaraknya harus lebih pendek drpd sebelum diaktivasi
e. Retraktor Roberts
Diameter 0,5 mm, terdapat koil pada kedua ujungnya
Bagian kawat sesudah koil dimasukkan ke tabung baja nirkarat untuk
menyangga busur sehingga busur tidak mudah distorsi
Bagian horizontal busur dibentuk sesuai dengan lengkung insisif yang
dikehendaki
Kelenturan pada lengan vertikal dengan koil berdiameter 3 mm
Dapat diaktivasi sampai 3 mm krn busur ini lentur
Tempat diaktivasi jangan pada kawat yg baru keluar dari tabung karena mudah
patah
Busur diaktivasi pada lengan pegas vertikal di bawah koil

32

Busur Lingual (Lingual Arch/Mainwire)


Merupakan lengkung kawat dibagian palatinal / lingual gigi anterior berfungsi
untuk :
1. Mempertahankan lengkung gigi bagian palatinal / lingual.
2. Tempat pematrian auxilliary springs auxilliary
3. Untuk mempertahankan kedudukan auxilliary springs
4. Meningkatkan stabilitas alat di dalam mulut

Gambar : Busur lingual


Plat Aktif
Plat Aktif merupakan alat ortodontik lepasan yang dilengkapi dengan
komponen aktif yang berfungsi untuk menggerakkan gigi
Plat Aktif merupakan alat/pesawat ortodontik bersifat:
1. Removable/lepasan, karena dalam pemakaiannnya dapat dipasang dan dilepas
oleh pasien sendiri
2. Aktif:, karena bagian-bagian dari alat tersebut secara aktif dapat menghasilkan
suatu kekuatan untuk menggerakkan gigi.
3. Mekanik, karena kekuatan yang dihasilkan memberikan tekanan atau tarikan
secara mekanis kepada gigi.
4. Korektif, karena alat ini dipakai utuk tujuan merawat kelainan letak gigi
(malposisi), kelaianan hubungan gigi-geligi (maloklusi) dan kelainan hubungan
rahang (malrelasi).

33

Komponen aktifnya dapat berupa :


a. Pir-pir Pembantu (auxilliary springs)
b Sekrup Ekspansi (expansion screw)
c. Karet elastik (elastic rubber).
Konstruksi Plat Aktif terdiri atas bagian-bagian :
a. Plat dasar/base plate
b. Klamer/cangkolan/Clasp
c. Busur labial/Lengkung labial/Labial Arch (Labial Bow)
d. Busur Lingual / Lingual arch / Mainwire
e. Pir-pir Pembantu/Auxilliary Springs

Gambar : Konstruksi plat aktif


Sekrup ekspansi
Sekrup ekspansi menurut jumlah pinnya ada dua macam, yaitu tunggal dan
ganda. Sekrup dengan pin ganda lebih stabil, tetapi sekrup dengan pin tunggal
lebih berguna pada tempat sempit, misalnya pada rahang bawah. Salah satu
keuntungan sekrup ekspansi adalah dapat digunakan untuk menggerakkan gigi
tetapi gigi tersebut juga digunakan sebagai piranti retensi. Sekrup ekspansi
menurut arah ekspansinya dibagi menjadi :

34

Skrup ekspansi transversal diindikasikan pada berdesakan dengan


diskrepansi < 4 dan gigitan silang posterior. Ekspansi tidak boleh
melebihi basis apikal.

Skrup ekspansi sagital diindikasikan untuk gigitan silang anterior.

Kombinasi ekspansi sagital dan transveral yaitu alat yang berbentuk Y


plate yang memakai 2 skrup yang ditempatkan didepan caninus dan
sejajar geligi samping.

Untuk mengaktifkan sekrup ekspansi dilakukan pemutaran kundi yang tersedia


sesuai dengan arah perputaran yang biasanya berupa tanda panah. Sekrup diputar
seperempat putaran seminggu sekali. Operator perlu mengajari pasien atau orang
tuanya cara memutar sekrup dengan benar. Biasanya aktivasi dilakukan seminggu
sekali oleh pasien sendiri. Untuk mengontrol pasien memutar sekrup dengan
benar, operator dapat memutar sekrup ke arah berlawanan dan menghitung apakah
pemutaran sesuai dengan yang seharusnya. Bila sekrup diputar setiap minggu tapi
pasien tidak mau memakai alat biasanya alat tidak dapat dipakai karena alat lebih
lebar atau melebihi panjang daripada lengkung gigi
35

D. Komponen Pasif
Komponen

pasif

pada

alat

ortodonti

lepasan

berguna

untuk

mempertahankan bentuk atau pergerakan gigi yang telah dilakukan oleh alat aktif,
agar tidah berubah atau relaps.
Komponen pasif pada alat ortodonti lepasan meliputi :
1. Cangkolan Adams

2. Busur labial pendek

3. Bite Plane pada lempeng akrilik

Anterior Bite Plane

36

Posterior Bite Plane


4. Cangkolan southend

Meskipun memiliki fungsi yang sama, yaitu sebagai komponen aktif,


namun alat-alat ini memiliki fungsi tersendiri. Cangkolan Adams juga berfungsi
sebagai komponen retentif yang banyak digunakan pada daerah posterior. Busur
labial pendek berfungsi sebagai penambah retensi pada regio anterior dan sebagai
komponen pasif ia akan menghalangi pergerakan gigi-gigi anterior. Bite plane
pada sisi anterior amupun posterior disamping digunakan sebagai komponen
pasif, juga berfungsi sebagai pengkoreksi cross bite baik anterior (bite plane
posterior) maupun posterior (bite plane anterior). Cangkolan southend juga
berfungsi sebagai komponen retensi di daerh anterior selain sebagai komponen
pasif.
E. Komponen Penjangkaran
Pejangkaran merupakan suatu unit yang menahan reaksi kekuatan yang
dihasilkan oleh komponen aktif piranti lepasan . Komponen aktif berfungsi
menggerakkan gigi sedangkan komponen penjangkar berfungsi sebagai penahan
dari gigi yang tidak di gerakkan. Penjangkaran harus memiliki kekuatan yang
paling tidak besarnya sama dengan atau lebih besar dari pada kekuatan yang di
berikan oleh komponen komponen aktif dengan arah berlawanan.
37

penjangkaran

Ektra oral

Intra oral

Servical
Occipital
Kranial

Intermaksiler

Intramaksiler

Facial

Sederhana
Stasioner
resiprokal

Penjangkaran Intra Oral


Penjangkaran yang berada dalam rongga mulut. Sumber utama
penjangkaran adalah gigi gigi yang tidak di gerakkan dengan piranti,
melalui cangkolan dan kontak gigi dengan lempeng akrilik. Penjangkaran
intra oral yang sering di pakai adalah penjangkaran sederhana (simple)
a. Penjangkaran intermaksiler
Penjangkar yang terletak pada rahang yang berbeda dengan gigi yang
digerakkan. Semisal gigi yang digerakkan berada pada rahang atas
sedangkan penjangkar terletak pada rahang bawah. Berikut adalah
contoh gambarnya.

38

Penjangkaran intermaksiler ini dapat dikatakan tidak pernah digunakan


pada piranti lepasan karena piranti lepasan yang menjadi penjangkar
akan mudah terlepas karena daya tarik elastic yang dipasang antara 2
piranti tersebut.
b. Penjangkar intramaksiler
Penjangkar yang terletak pada rahang yang sama dengan gigi yang di
gerakkan. Contoh kasusnya adalah gigi insisif rahang atas akan di
gerakkan kea rah palatal maka gigi molar pertama permanen rahang
atas, premolar kedua rahang atas dan caninus rahang atas merupakan
penjangkarnya. Berikut adalah contoh gambarnya.

b.1 penjangkar sederhana (simple encourage)


Suatu penjangkaran yang menggunakan gigi yang mempunyai
tahanan lebih besar sebagai penjangkar untuk menggerakkan gigi yang
mempunyai tahanan lebih kecil semisal gigi yang di gerakkan adalah gigi
insisif, molar pertama permanen sebagai penjangkarnya, molar pertama di
pilih karena memiliki tahanan dan luas permukaan akar yang jauh lebih
besar di bandingkan dengan insisif.
b.2 penjangkaran stasioner
merupakan penjangkaran dimana gigi penjangkarnya tidak bergerak sama
sekali. Sudah jarang dan tidak pernah di gunakan dalam piranti lepasan.
b.3 penjangkaran resiprokal

39

merupakan penjangkaran dengan pergerakan minimal dimana apabila 2


gigi atau kelompok gigi yang mempunyai tahanan yang seimbang atau
sama bergerak pada arah yang berlawanan. Berikut adalah contoh
gambarnya

Selain itu terdapat solusi lain untuk kasus tersebut diatas, yaitu dilakukan
peninggian baseplate agar tidak menimbulkan masalah baru yaitu dengan
adanya diastema pada gigi insisif duanya. Peninggian base plate ini
dilakukan pada gigi gigi yang di indikasikan untuk penjangkaran.

Penjangkaran Ekstra Oral


Penjangkaran ekstraoral digunakan jika alat lepasan membutuhkan
tambahan penjangkaran. Penjangkaran ekstraoral terdiri dari headgear dan
facebow atau j hook yang meneruskan kekuatan dari headgear ke peranti
lepasan di dalam mulut. Komponen aktif yang terdapat pada headgear
adalah elastic yang menghubungkan headgear dan facebow.
Headgear

40

Headgear dibagi menjadi dua yaitu headcap dan neck strap. Neck
strap ini tidak begitu menyolok dibandingkan dengan headcap, tetapi arah
tarikanya kebelakang dan agak kebawah sehingga menyebabkan peranti
lepasan rahang atas cenderung terlepas.

Facebow
Facebow terdiri atas busur dalam (inner bow) dan busur luar
( outerbow). Untuk penambahan penjangkaran, facebow harus terpisah
tetapi sewaktu-waktu dapat dihubungkan dengan peranti dengan cara
memasukkan ujung busur dalam ke tabung metal yang disolder pada
jembatan cangkolan Adams pada molar pertama permanen.
Kait J (J hook)

J hook ini dikaitkan pada kait kecil yang disolderkan pada busur
labial pendek, cangkolan pada insisiv sentral

atau cangkolan pada

caninus.

41

D. Prosedur Insersi Alat Ortodonti Lepasan


Pada tahapan ini operator menjelaskan cara pemasangan dan cara melepas
alat ortho lepasan tidak hanya pada anak namun pada pengantar khususnya
keluarga pasien. Penjelasan dengan praktek pemasangan alat dengan
pemasangan dari dekan kemudian dilakukan penekanan pada area posterior
untuk mendapatkan retensi. Pada saat tahapan insersi ini operator
menjelaskan agar pasien :
a. Saat makan dan tidur alat dilepas
b. Tidak memakan makanan yang keras dan lengket
c. Tidak menggunakan alat sambil melakukan olahraga keras seperti
tinju dll
d. Tidak menggunakan alat saat berenang.
Pasien di instruksikam agar memakai alat dengan keadaan mulut yang
bersih. Saat pemakaian alat ortodonti harus dalam keadaan bersih dan tidak ada
debris.
Untuk pemakain pertama kalinya, mungkin pasien dapat berkaca untuk
melihat saat pemasangan alat.
Pasangkan alat ortodonti dari bagian depan terlebih dahulu, setelah bagian
depan sudah terpasang dengan baik, tekankan blas plate sesuai dengan
tempatnya. Ingatkan pasien untuk tidak makan makanan dengan konsistensi yang
keras atau terlalu kenyal karena hal tersebut akan merusak alat ortodonti.
Kebersihan mulut sangat diutamakan selama pemakaian alat. Penyikatan gigi
dapat dibantu dengan menggunakan interdental brush atau dental floss untuk
membersihkan daerah-daerah sempit pada alat ortodonti.

42

Pemakain alat ortodonti lepasan sebaiknya digunakan 12-20jam. Terutama


dapat digunakan pada malam hari.

E. Faktor Keberhasilan Perawatan


Dalam penatalaksanaan perawatan, kemiungkinan keberhasilan perawatan
dipengaruhi tiga hal saling berkaitan, yaitu:
1. Pasien
Perubahan pada pasien, misalnya gigi desidui tanggal atau gigi permanen yang
erupsi yang dapat menyebabkan piranti tidak cocok lagi. Sebagian pasien tidak
mau memakai piranti seperti yang diharuskan. Bila pasien tidak mau memakai
piranti keadaan yang dapat diamati adalah:
a. Piranti masih kelihatan seperti baru, lefmpeng akrilik tetap mengkilap
b. Pasien terlihat tidak terampil memasang piranti
c. Piranti tidak sesuai
d. Tidak ada bekas oklusi pada peninggian gigit anterior
2. Piranti (Alat lepasan)
Sebelum piranti disesuaikan atau diaktifkan, perlu diperhatikan keadaan berbagai
komponen piranti lepasan yaitu: retensi, komponen aktif dan lempeng akrilik.
Perlu disadari bila piranti tidak dipakai terus-menerus dapat terjadi distorsi.
Komponen retensi perlu diperiksa karena sesudah dipakai beberapa lama,
kemungkinan dapat mengendor karena piranti dilepas dan dipasang. Bila piranti
kurang retentive, komponen retentive perlu disesuaikan. Jangan menjadikan
penyesuaian komponen retentive sebagai tindakan rutin karena tindakan ini akan
mmenyebabkan piranti kehilangan daya retentifnya bila penyesuaian berlebihan.
Komponen aktif perlu diperiksa, misalnya kontak pegas atau komponen aktif lain
dengan gigi. Diperlukan penyesuaian apabila ditenggarai gigi bergerak kearah
yang tidak diinginkan.
Periksa juga lempeng akrilik, apakah gigi bekas bergerak, bila gigi terhalang
lempeng akrilik dapat digerinding.
3. Pergerakan gigi
Anggapan umum yang dapat diterima adalah gerakan gigi 1 mm tiap bulan bila
piranti dipakai terus menerus. Bila piranti tidak dipakai terus menerus,
pergerakan gigi juga akan lebih lambat meskipun piranti telah dipakai terus

43

menerus tetapi kadang-kadang terjadi pergerakan gigi yang tidak sesuai dengan
yang diharapkan akibat beberapa hal:
a. Arah pergerakan yang salah. Biasanya disebabkan penempatan pegas yang
salah, khususnya kontak antara gigi geligi dan lengan pegas. Perlu
diperhatikan pada saat melakukan aktivasi dengan melakukan penyesuaian
letak pegas bilamana masih memungkinkan. Apabila tidak memungkinkan
maka pegas perlu diganti.
b. Gerakan tipping yang berlebihan
c. Kehilangan penjangkaran. Merupakan salah satu penyebab kegagalan
perawatan ortodontik. Diperlukan pemeriksaan penjangkaran pada setiap
kunjungan. Agar gigi penjangkaran tidak bergerak ke mesial perlu tindakan
antara lain menggerakkan gigi sesedikit mungkin pada suatu saat atau suatu
kuadran. Kekuatan yang berlebihan akan menyebabkan gigi penjangkar
bergerak ke mesial. Pegas bukal dari kawat berpenampang 0,7 mm yang
diaktifkan sebanyak 3 mm akan memberikan kekuatan yangbesar sehingga
akan terjadi kehilangan penjangkaran.

KESIMPULAN
Alat ortodonti lepasan didefinisikan sebagai alat yang bisa dipasang dan dilepas
sendiri oleh pasien. Alat ortodonti lepasan memiliki beberapa komponen yaitu ;
plat dasar, komponen retentive, komponen aktif, komponen pasif dan komponen
44

penjangkaran. Terdapat berbagai macam komponen aktif yang diaktivasi dengan


cara yang berbeda. Selain itu, suatu alat ortodonti lepasan harus memenuhi syarat
biologis, higienis, mekanis dan estetis. Banyak hal yang dapat mempengaruhi
keberhasilan perawatan, yang meliputi faktor pasien, alat lepasan dan pergerakan
gigi.

45

DAFTAR PUSTAKA
Raharjo, Pambudi. 2009. Ortodonti Dasar. Surabaya: Pusat Penerbit dan
Percetakan (AUP)
Rahardjo, Pambudi. 2009. Peranti Ortodonsia Lepasan. Surabaya: Pusat
Penerbitan dan Pencetakan Unair (AUP)
Hadinoto, Kiswantoro. 2013. Korelasi Kesehatan Gingiva dan Kebersihan
Rongga Mulut pada Pemakaian Peranti Ortodonti Lepasan di Klinik S1
Ortodonti FKG Universitas Airlangga Surabaya. Surabaya: Universitas Airlangga
Ardhana, Wayan. 2011. Alat Ortodontik Lepasan. Yogyakarta: UGM
Isaacson K G, Muir J D, Reed R T. Removable orthodontic appliances. Singapore:
Issaaction KG,dkk.2006. Removable Orthodontic. New Delhi : Elsevier
Lohakare,Sandhya. 2008. Orthodontic Removable Appliance. New Delhi : Jaypee
Elsevier. 2002: 1-2, 39-46, 93-7.
Proffit W, Fielsd H W Jr, Sarver Drg. M. Contemporary orthodontics. 4th ed. St.
Louis:
Mosby Inc. 2007: 340, 395-407.
Kerr W J, Buchanan I B, McColl J H. Use of the PAR index in assesing the
effectiveness
of removable orthodontic appliances. Br J Orthodontics. 1983, 10: 73-7.
Muir J D, Reed R T. Tooth movement with removable appliances. England:
Pitman
Publishing. 1979: 1-10, 71-81.
Littlewood S J, Tait A G, Mandall N A, Lewis D H. The role of removable
appliance in
contemporary orthodontics. Br Den Jl. 2001, 191 (6): 304-310.
Adams C.P., Kerr W.J. The design, construction and use of removable orthodontic
appliances. 6th ed. Jordan Hill: Butterworth-Heinemann Ltd. 1996: 10-11, 82, 89,
149.
Adams, C.P. , 1970 The design and Construction of Removable Orthodontic
Appliances, 4th.
Ed., John Wright & Sons Ltd., Bristol.
Duyzings, J.A. 1954, Orthodontische Apparatuur, Uitgave van Dental Depot,
A.M. Disselkoen,
Amsterdam.
Dickson, G.C. and Wheatly, A.E., 1978, An Atlas of Removable Orthodontic
Appliances, 2nd.
Ed., Pitman Medical Publishing Co. LTD.,England.
Houston, W.J.B. and Isaacson, K.G., 1980, Orthodontic Treatment with
Removable Appliances. 2nd. Ed. John Wright & Sons LTd. Bristol.
Shaw, F.G. and Edmonson, S., 1962, Practical Exercises in Orthodontic, Henry
Kimpton, London.
Foster T.D. 1997. Buku Ajar Ortodosi Ed. III. Jakarta : EGC
Singh, Gurkeerat. 2007. Textbook of Orthodontic Secind Edition. New Delhi :
Jaypee

46

LAMPIRAN

Alat lepasan

suatu alat ortodontik yang dapat dipasang dan dilepas

Aktivasi

sendiri oleh pasien


proses yang membuat alat ortodontik lepasan bersifat

aktif dengan tujuan menggerakkan gigi


pemasangan alat ke dalam rongga mulut pasien untuk

Insersi

melihat retensi dan stabilitas alat ortodontik

47