Anda di halaman 1dari 132

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM

FISIOLOGI HEWAN DASAR

Disusun Oleh:
Nur Khotimah
NIM 13308141060

PRODI BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

HALAMAN PENGESAHAN
PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

Oleh:
Nur Khotimah

13308141060
Yogyakarta, 21 Mei 2015

Disahkan pada tanggal 21 Mei 2015 jam

Mengetahui:
Dosen Pembimbing / Asisten Praktikum

Praktikan

()

(Nur Khotimah)

SISTEM KARDIOVASKULER
KEGIATAN 1
STRUKTUR ANATOMI JANTUNG, MENGHITUNG DENYUT NADI DAN CARDIAC
OUTPUT (CO)

A. PERTANYAAN PRAKTIKUM
1. Bagaimana Mengamati Struktur Anatomi Makroskopis Jantung Mamalia (Kambing)
2. Bagaimana Mengukur Denyut Nadi (Pulsus) pada Arteri Radialis
3. Bagaimana Menghitung Cardiac Output (CO)
B. TUJUAN :
B.1. Tujuan Kegiatan
1. Mengamati struktur anatomi makroskopis jantung Mammalia (kambing).
2. Mengukur denyut nadi (pulsus) pada arteri radialis.
3. Menghitung Cardiac Output (CO).
B.2. Kompetensi Khusus
1. Mahasiswa dapat melakukan pengamatan struktur anatomi makroskopis jantung
Mammalia (kambing).
2. Mahasiswa dapat menerangkan bagian-bagian jantung Mammalia (kambing).
3. Mahasiswa dapat melakukan pengukuran denyut nadi (pulsus).
4. Mahasiswa dapat menerangkan bagaimana mekanisme terjadinya denyut nadi
(pulsus).
5. Mahasiswa dapat menghitung Cardiac Output (CO).
6. Mahasiswa dapat menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi Cardiac Output
(CO).

C. DASAR TEORI
Sistem kardiovaskular terdiri dari jantung dan pembuluh darah, fungsi utama
sistem kardiovaskular adalah mendistribusikan O2 dan nutrisi kejaringan, mentransfer
metabolit dan CO2 ke organ ekskresi dan paru, serta mentransfer hormon dan komponen
sistem imun. Sistem kardiovaskular juga berperan penting pada termoregulasi
(Jeremy,33:2009).
Perikardium merupakan satu kantong fibroserous yang membungkus jantung dan
terletak di dalam mediastinum medis,jantung terdiri dari lapisan utama yaitu perikardium
fibrosum dan perikardium serosum (Mashuri, 39: 2011).

Jantung mamalia dapat dibedakan menjadi 4 ruangan secara jelas yaitu: atrium
kanan dan kiri berupa 2 ruangan kecil dengan otot tipis,dan ventrikel kanan dan kiri
berupa dua ruangan besar dengan otot yang tebal. Ventrikel merupakan bagian jantung
yang memiliki kemampuan memompa darah, sedangkan atrium sebagai penerima darah
secara pasif. Sebagai pompa jantung memiliki katup (valvula yang befungsi menjaga agar
darah tidak mengalir kembali ke tempat semula. Antara barium kiri dengan ventrikel kiri
terdapat katup yang disebut valvula bicuspidalias (mitralis) sedangkan antara atrium
kanan dan atrium kanan terdapat katup yang disebut valvula tricuspidalis (Nurcahyo,1-2:
2013).
Apeks kordis adalah ujung dari ventrikel kiri (ventrikulus Sinistra). Pada bagian
ini dapat dilihat atau diraba denyut jantung. Letak normalnya pada ruang interkosta ke 5
kiri,kira-kira 1 Jri di bagian medial alinea medio klavikularis Sinistra (Mashuri, 40:
2011).
Pada manusia volume darah yang dipompa permnit adalah ~ 5 l pada saat
istirahat, walaupun dapat meningkat hingga lebih dari 20 l saat olahraga. Volume ejeksi
perdenyutan (volume sekuncup) saat istirahat adalah ~70 ml. Ventrikel melakukan
pemompaan, atrium membantu pengisian ventrikel. Aliran satuarah melalui jantung
dipertahankan oleh katup Siantar ruang-ruang saluranaliran keluar. Kontraksi jantung
disebut sisol;periode antara setiap sistole, saat jantung terisi darah disebit diastole
(Jeremy,33:2009).
Denyut nadi (pulsus)dapat dirasakan melalui pembuluh darah superfisial seperti
arteri radialis. Pulsus merupakan manifestasi dari kontraksi jantung. Efek windkesel yaitu
aorta akan mengembang jika ventrikel berkontraksi shigga darah dari ventrikel dapat
tertampung dalam aorta dan diteruskan ke arteri. Aorta mempunyai daya komplikasi
(peregangan) yang sangat tinggi. Frekuensi denyut jantung (heart rate, HR) yaitu banyak
denyut jantung permenit. Stroke volume (SV) yaitu volume satu kali pompa yaiti volume
akhir diastole dikurangi volume akhir sistole. Volume akhir diastole tergantung regangan
komplians, tekanan mendorong (filling pressure)Vena cava. cardiac output(CO) adalah
banyaknya darah yang dipompaselama satu menit, cardiac output merupakan hasil
perkalian antara stroke volume (volume sekuncup)dengan frekuensi denyut jantung
permenit. Stroke volume yaitu volume darah yang dipompa, rata-rta untuk orang dewasa
70 ml. Stralings law ( hukum straling) yaitu makin tinggi regangan pada jantung, maka
makin kuat kontraksinya (Nurcahyo,6: 2013).
Pada seseorang yang beristirahat daya pompa jantung berkisar 70-80 kali
permenit. Menurut R.S Harisenjaya (1996) ada beberapa catatan mengenai degupan
jantung melalui denyut nadi setiap menit yaitu:
-

Pada bayi yang baru lahir


Pada umur 1 tahun

140
120

Pada umur 2 tahun


Pada umur 5 tahun
Pada umur 10 tahun
Pada dewasa

110
96-100
80-90
60-80

Aktivitas fisik yang sangat berat merupakan satu kondisi yang penuh stres yang
dihadapai oleh sistem sirkulasi normal. Ketika kita sedang beraktifitas , kecepatan
jantung akan meningkat menjadi 150 setiap menitnya dan volume denyutan akan
melebihi 150 ml.
Curah jantung sangat bervariasi bergantung pada tingkat aktivitas yang dilakukan. Faktor
faktor yang mempengaruhi curah jantung adalah
-

Metabolisme asal tubuh


Kerja fisik
Umur
Ukuran tubuh
(Wiarto,39:2013)
D. METODE PRAKTIKUM
1. Struktur Anatomi Jantung Mammalia
D.1.1. Jenis Kegiatan

: Pengamatan (observasi)

D.2.1. Obyek Pengamatan

: Jantung kambing

D.3.1. Alat dan Bahan


Alat:
1) Skalpel
2) Pinset
3) Klem
7)

4) Penusuk
5) Gunting
6) Bak parafin

Bahan:

1) Jantung kambing segar atau yang telah diawetkan di dalam lemari es. Selain
jantung kambing untuk pengamatan struktur anatomi makroskopis jantung
Mammalia dapat digunakan sampel jantung domba, sapi, ayam, kelinci, atau
yang lain dengan perimbangan yang relatif mudah didapat di rumah potong
hewan (RPH).
8) D.4.1. Cara Kerja
1) Menyiapkan jantung kambing yang akan diamati pada bak parafin
2) Sebelum dilakukan pengirisan, mengamati bagian-bagian jantung tersebut secara
seksama dari bagian luar terlebih dahulu kemudian lanjutkan ke bagian-bagian
dalam:
a. Perikardium

b. Apeks jantung

c.
d.
e.
f.
g.

Atrium kanan (dekster)


Atrium kiri (sinister)
Ventrikel kanan
Ventrikel kiri
Truncus aorta

h.
i.
j.
k.

Arteri pulmonalis
Vena cava arterior
Vena cava posterior
Arteri coronaria

3) Melakukan pengirisan melalui bagian medium jantung kemudian amatilah bagianbagian dalamnya:
a. Septum interventrikularis
b. Valvula
bikuspidalis
(mitralis)

c.
d.
e.
f.

Valvula trikuspidalis
Valvula semilunaris
Muskulus papillaris
Chorda tendinea

4) Mengamati perbedaan struktur otot atrium dan ventrikel, otot ventrikel kiri dan
ventrikel kanan, dinding arteri dan vena, valvula bikuspidalis dan trikuspidalis.
5) Menggambar struktur anatomi jantung tersebut, untuk lebih memudahkan
pengamatan dan kerja Anda, gunakanlah buku Atlas Anatomi Manusia sebagai
pedomannya.
2. Menghitung Denyut Nadi dan Cardiac Output (CO)
g. D.1.2. Janis Kegiatan
: Eksperimen
h. D.2.2. Obyek Pengamatan : Pulsus pada arteri radialis
i. D.3.2. Alat dan Bahan
:
1) Jam (stopwatch)
2) Tally counter
j. D.4.2. Cara Kerja
k.
Langkah Pertama
1) Menempelkan ketiga jari pada pergelangan tangan di atas arteri radialis
dengan sedikit menekan kemudian sedikit kurangi tekanan tersebut sampai
terasakan denyutan nadi.
2) Menghitung banyaknya

denyutan

dalam

setiap

menit,

untuk

mempermudah biasanya cukup dihitung banyaknya denyutan dalam 15


detik.
3) Kemudian hasilnya dikalikan 4 untuk mendapatkan banyaknya denyutan
per menit yang merupakan manifestasi frekuensi denyut jantung per menit
(heart rate=HR).
l. Langkah Kedua
1) Melakukan kegiatan olahraga (lari, naik turun tangga) kurang lebih selama
10 menit.
2) Melakukan pengukuran denyut nadi seperti langkah pertama.
3) Membandingkan data hasil pengukuran pertama dengan data hasil
pengukuran kedua, dengan menggunakan uji t (student t test) lebih baik
m.

memakai program SPSS.


Langkah Ketiga
1) Menghitung Cardiac Output dengan menggunakan rumus sbb:
n.
Cardiac Output (CO) = HR x SV
o.

E. HASIL PENGAMATAN
p.

q.
r.

Data Kegiatan Menghitung Denyut Nadi dan Cardiac Output

s.

Perempuan
w.
x.
t.

af.
am.
at.
ba.
bh.
bo.
bv.
cc.
cj.
cq.
cx.
de.
dl.
ds.
dz.
eg.
en.

u.

v.
ab.

ac.

ad.

ae.

ag.
an.
au.

ah.
ao.

ai.
ap.

aj.
aq.

ak.
ar.

al.
as.

av.

aw.

ax.

ay.

az.

bb.
bi.
bp.
bw.
cd.
ck.
cr.
cy.
df.
dm.
dt.
ea.
eh.
eo.

bc.
bj.
bq.
bx.
ce.
cl.
cs.
cz.
dg.
dn.
du.
eb.
ei.
ep.

bd.
bk.
br.
by.
cf.
cm.
ct.
da.
dh.
do.
dv.
ec.
ej.
eq.

be.
bl.
bs.
bz.
cg.
cn.
cu.
db.
di.
dp.
dw.
ed.
ek.
er.

bf.
bm.
bt.
ca.
ch.
co.
cv.
dc.
dj.
dq.
dx.
ee.
el.
es.

bg.
bn.
bu.
cb.
ci.
cp.
cw.
dd.
dk.
dr.
dy.
ef.
em.
et.

eu.
fb.
fi.
fp.
fw.
gd.
gk.
gr.
gy.

ev.
fc.
fj.
fq.
fx.
ge.
gl.
gs.
gz.

ew.
fd.
fk.
fr.
fy.
gf.
gm.
gt.
ha.
hf.

ex.
fe.
fl.
fs.
fz.
gg.
gn.
gu.
hb.
hh.

ey.
ff.
fm.
ft.
ga.
gh.
go.
gv.
hc.
hi.

ez.
fg.
fn.
fu.
gb.
gi.
gp.
gw.
hd.
hj.

fa.
fh.
fo.
fv.
gc.
gj.
gq.
gx.
he.
hk.

hm.

hn.

ho.

hp.

ht.

hu.

hv.

hw.

hg.

hq.

hr.

hs.
hx.
hy.
hz.

ia.

Laki-laki
ie.
if.

ib.

in.
iu.
jb.
ji.
jp.
jw.
kd.

ic.

io.
iv.
jc.
jj.
jq.
jx.
ke.

id.

ip.
iw.
jd.
jk.
jr.
jy.
kf.
kk.

kl.

ij.

ik.

il.

im.

iq.
ix.
je.
jl.
js.
jz.
kg.
km.
kr.

ir.
iy.
jf.
jm.
jt.
ka.
kh.
kn.
ks.

is.
iz.
jg.
jn.
ju.
kb.
ki.
ko.
kt.

it.
ja.
jh.
jo.
jv.
kc.
kj.
kp.
ku.

kv.
kw.
kx.
ky.
kz.
la.
F. PEMBAHASAN
lb.
Pada praktikum yang berjudul Struktur Anatomi Jantung, Menghitung
Denyut Nadi Dan Cardiac Output (Co) mempunyai tujuan Mengamati Struktur Anatomi
Makroskopis Jantung Mamalia (Kambing), Mengukur Denyut Nadi (Pulsus) pada Arteri
Rasialis, Menghitung Cardiac Output (CO) dilaksanakan di laboratorium zoologi FMIPA
UNY.
lc.
Praktikum ini diawali dengan mengamati bagian luar dari jantung
kambing yang telah disediakan, bagian luar jantung kambing terdiri atas: perikardium
yaitu satu kantong fibroserous yang membungkus jantung dan terletak di dalam
mediastinum medis,jantung terdiri dari lapisan utama yaitu perikardium fibrosum dan
perikardium serosum Apeks yaitu Apeks kordis adalah ujung dari ventrikel kiri
(ventrikulus Sinistra), Pada bagian ini dapat dilihat atau diraba denyut jantung, lalu ada
aorta yang merupakan pembuluh darah.. Jantung dapat dibedakan menjadi 4 ruangan
secara jelas yaitu: atrium kanan dan kiri berupa 2 ruangan kecil dengan otot tipis,dan
ventrikel kanan dan kiri berupa dua ruangan besar dengan otot yang tebal. Ventrikel
merupakan bagian jantung yang memiliki kemampuan memompa darah, sedangkan
atrium sebagai penerima darah secara pasif.
ld.
Setelah itu membedah jantung kambing dengan pisau bedah, sehingga
terlihatlah bagian seperti gambar diatas , Sebagai pompa, jantung memiliki katup (valvula
yang befungsi menjaga agar darah tidak mengalir kembali ke tempat semula. Antara
barium kiri dengan ventrikel kiri terdapat katup yang disebut valvula bicuspidalias
(mitralis) sedangkan antara atrium kiri dan atrium kanan terdapat katup yang disebut
valvula tricuspidalis.
le.
Praktikan setelah mengamati anatomi fisiologi jantung, lalu dilanjutkan
dengan mengukur denyut nadi saat istirahat, Denyut nadi (pulsus)dapat dirasakan melalui
pembuluh darah superfisial seperti arteri radialis. Pulsus merupakan manifestasi dari
kontraksi jantung. Efek windkesel yaitu aorta akan mengembang jika ventrikel
berkontraksi shigga darah dari ventrikel dapat tertampung dalam aorta dan diteruskan ke
arteri. Denyut nadi yang dihitung adalah yang terletak di pergelangan tangan,
lf. -Frekuensi denyut jantung (heart rate, HR) yaitu banyak
denyut jantung permenit.

lg. -Stroke volume (SV) yaitu volume satu kali pompa yaiti
volume akhir diastole dikurangi volume akhir sistole.
Volume akhir diastole tergantung regangan komplians,
tekanan mendorong (filling pressure)Vena cava.
lh. -cardiac output(CO) adalah banyaknya darah yang
dipompaselama satu menit, cardiac output merupakan hasil
perkalian antara stroke volume (volume sekuncup)dengan
frekuensi denyut jantung permenit. Stroke volume yaitu
volume darah yang dipompa oleh jantung dalam sekali
pompa.
li. Setelah mengukur denyut nadi saat istirahat lalu praktikan
berlari selama 10 menit kemudian denyut jantung kembali
diukur maka diperoleh hasil jumlah denyut nadi setelah
berolahraga lari lebih banyak dilihat dari tabel bahwa
sebelum kegiatan rata2 denyut nadinya perempuan adalah
82 sedangkan setelah kegiatan adalah 113, sedangkan pada
laki2 sebelum kgiatan 76 setelah kegiatan rata-ratanya 109
lj.
Aktivitas fisik yang sangat berat merupakan satu kondisi yang penuh stres
yang dihadapai oleh sistem sirkulasi normal. Ketika kita sedang beraktifitas , kecepatan
jantung akan meningkat menjadi 150 setiap menitnya dan volume denyutan akan
melebihi 150 ml.
lk.
ll.
lm.
G. KESIMPULAN
ln. Berdasarkan hasil percobaan dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat
disimpulkan
1. Struktur anatomi makroskopis jantung Mammalia (kambing),
lo.
Dari luar terlihat adanya perikardium, apeks jantung,atrium (kanan, kiri),
ventrikel(kanan, kiri), truncus aorta. Jika sudah dibedah bagian dalam terlihat
adanya, klep trikuspidalis, klep bikuspidalis, muskulus papillaria, chorda
tandenea.
2. Denyut nadi (pulsus)dapat dirasakan melalui pembuluh darah superfisial seperti
arteri radialis. Pulsus merupakan manifestasi dari kontraksi jantung. Efek
windkesel yaitu aorta akan mengembang jika ventrikel

berkontraksi shigga

darah dari ventrikel dapat tertampung dalam aorta dan diteruskan ke arteri

3. Cardiac Output (CO) adalah banyaknya darah yang dipompa selama satu menit,
cardiac output merupakan hasil perkalian antara stroke volume (volume
sekuncup, SV)dengan frekuensi denyut jantung permenit (HR).
lp.
H. DAFTAR PUSTAKA
lq.
Mashuri,
Sugeng.2011.Anatomi Dan Fisiologi Dasar. Jakarta : Salemba Medika.
lr.

Nurcahyo, Heru & Tri Harjana. 2013. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan.
Yogyakarta : FMIPA UNY

ls.
Jeremy, dkk. 2009. At a Gland Fisiologi. Jakarta : Erlangga.
lt.

Ward,

Widarto, Giri. 2013. Fisiologi dan Olahraga. Yogyakarta: Graha Ilmu.

lu.
lv.
lw. SISTEM KARDIOVASKULER
lx. KEGIATAN 2
ly. PENGARUH TEKANAN OSMOTIK TERHADAP
ERITROSIT
A. PERMASALAHAN PRAKTIKUM
1. Bagaimana mengetahui kecepatan hemolisis dan kreasi eritrosit pada berbagai
konsentrasi larutan.
B. TUJUAN
lz. B.1. Tujuan Kegiatan
1. Mengetahui kecepatan hemolisis dan krenasi eritrosit pada berbagai konsentrasi
larutan.
ma.B.2. Kompetensi Khusus
1. Mahasiswa dapat melakukan cara penentuan kecepatan hemolisis dan krenasi
eritrosit pada berbagai konsentrasi larutan.
mb.

C. DASAR TEORI
mc.

Pada hewan multiseluler, sel-sel yang menyusun organisme berada dalam

suatu lingkungan yang disebut lingkungan interna. Claude Bernand (Bangsa Perancis)
menamakan lingkungan interna tersebut sebagai milieu interieur. Lingkungan interna
tersebut tidak lain adalah ruang anatar sel (intercellular space). Ruang antarsel bukan

merupakan suatu ruangan kosong, melainkan ruangan yang dipenuhi dengan cairan,
demikian juga ruang dalam sel (sitoplasma). Cairan tubuh hakekatnya merupakan pelarut
zat-zat yang terdapat dalam tubuh, dengan demikian mengandung beragai macam zat
yang diperlukan oleh sel dan sisa-sisa metabolisme yang dibuang oleh sel. Salain itu,
cairan tubuh juga pemberi suasana pada sel, sebagai contoh kehangatan (suhu),
kekentalan (viskositas), dan keasaman (pH) yang dipengaruhi oleh faktor-faktor fisik
maupun kimiawi dari dalam dan luar tubuh (Nurcahyo, 2013: 41).
md.
Ada tiga jenis utama sel darah yang dikenal sebagai darah merah
(eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan kepingan darah (trombosit). Sel-sel darah merah
dewasa tidak berinti, bikonkaf. Sel-sel muda mempunyai inti, namun secara normal
hilang sebelum memasuki sirkulasi. Sel-sel darah merah sangat kecil (diameterya 7-8
mikrometer, tebalnya 1-2 mikrometer). Membran plasmanya selektif permeable dan
terdiri dari protein (stromatin) dan lipid (lesitin dan kolesterol). Eritrosit dibentuk dalam
sumsum merah tulang dari sel-sel berinti yang dikenal sebagai hemocytoblast atau sel-sel
batang. Jangkahidup sebuah sel darah merah yang bersirkulasi dalam aliran darah
diperkirakan 120 hari (Basoeki, 1988:238-239).
me.
Perkembangan sel darah merah di dalam sumsum tulang melalui
proses tahapan yaitu pada mulanya sumsum tersebut membesar yang berisi nucleus, tetapi
belum terdapat hemoglobin kemudian diisi hemoglobin dan akhirnya nukleusnya hilang dan
setelah itu diedarkan ke seluruh tubuh. Selama latihan daya tahan akan terjadi
hemokonsentrasi dimana angka eritrosit per 100 ml darah akan meningkat sekitar 20-25%.
Sel darah merah tidak akan berubah selama latihan karena sel darah tidak meninggalkan dan
tidak masuk ke kompartemen yang lain. Latihan akan meningkatkan jumlah total sel darah
merah yang mempunyai arti meningkatnya daya angkut oksigen dalam darah. Apabila
latihan berlangsung sangat lama, maka jumlah eritrosit akan berkurang (R. Radiopoetra;
1992 dalam Wiarto; 2013). Hal ini disebabkan karena:
1. Cairan masuk kembali kedalam kapiler.
2. Eritrosit pecah. Pecahnya eritrosit disebabkan karena hemoglobinemia dan hemoglobinuria
(Wiarto, 2013: 30-31).
mf.

Seperti molekul-molekul kecil yang lain, molekul air juga bergerak, dari satu sisi

membrane ke sisi yang lain secara difusi. Difusi air melintasi membran yang permeable
selektif disebut osmosis. Konsentrasi air diukur dari jumlah molekul air permililiter. Air

murni memiliki konsentrasi air lebih tinggi daripada garam, artinya bahwa dalam satuan
ukuran yang sama, dalam air murni terdapat molekul air lebih besar daripada dalam air
garam. Perbedaan konsentrasi inilah yang menyebabakan terjadinya aliran air tersebut
(osmosis). Akibat masuknya air ke dalam kantung semipermeable, maka terjadi peningkatan
tekanan pada membrane. Peningkatan tekanan ini disebut tekanan osmotic. Makin tinggi
peredaan konsentrasi dua larutan, makin tinggi pula tekanan osmotiknya, dan makin cepat
pula aliran air berpindah dari konsentrasi air tinggi ke konsentrasi airrendah (Soewolo, 2000:
18-19).
mg. Lisis merupakan istilah umum untuk peristiwa menggelembung dan pecahnya sel
akibat masuknya air ke dalam sel. Lisis pada eritrosit disebut hemolysis, yang berarti
peristiwa pecahnya eritrosit akibat masuknya air ke dalam eritrosit sehingga hemoglobin
keluar dari dalam eritrosit menuju ke cairan sekelilingnya. Membran eritrosit bersifat
permeable selektif, yang berarti dapat ditembus oleh air dan zat-zat tertentu, tetapi tidak
dapat ditemus oleh zat-zat tertentu yang lain. Hemolisis ini akan terjadi apabila eritrosit
dimasukkan ke dalam medium yang hipotonis terhadap isi sel eritrosit (Soewolo, 2000: 88).
mh.
Berdasarkan penelitian isi sel eritrosit hewan Homoioterm isotonis
terhadap larutan 0,9% NaCl, oleh karena itu hemolysis akan terjadi apabila eritrosit hewan
Homoioterm dimasukkan ke dalam larutan dengan konsentrasi di bawah 0,9%. Namun perlu
diketahui bahwa membrane eritrosit (termasuk membrasel yang lain) memiliki toleransi
osmotic, artinya sampai batas konsentrasi medium tertentu sel elum mengalami lisis.
Kadang-kadang pada suatu konsentrasi larutan NaCl tertentu tidak semua eritrosit
mengalami hemolysis. Hal ini menunjukkan bahwa toleransi osmotis membran eritrosit
berbeda-beda. Pada eritrosit tua membrane selnya memiliki toleransi rendah (mudah pecah),
sedangkan membrane eritrosit muda memiliki toleransi osmotic yang lebih besar (tidak
mudah pecah) (Soewolo, 2000: 88-89).
mi. Hemolisis seperti yang dijelaskan di atas disebut hemolisis osmotic, yaitu
hemolysis yang disebabkan oleh perbedaan tekanan osmotic isi sel dengan mediumnya (cairan
disekitarnya). Hemolisis yang lain yaitu hemolysis kimiawi. dimana membrane eritrosit rusak
akibat substansi kimia. Zat-zat yang dapat merusak membrane eritrosit (termasuk memban sel
yang lain) antara lain adalah: kloroform, aseton, alcohol, benzene, dan eter. Peristiwa
sebaliknya dari hemolysis adalah krenasi, yaitu peristiwa mengkerutnya membrane sel akibat
keluarnya air dari dalam eritrosit. Krenasi dapat terjadi apabila eritrosit dimasukkan ke dalam

medium yang hipertonis terhadap isi eritrosit, misalnya untuk eritrosit hewan Homoioterm
adalah laruta NaCl yang leih pekat dari 0,9% NaCl, sedangkan untuk eritrosit hewan
Poikiloterm adalah larutan NaCl yang lebih pekat dari 0,7% (Soewolo, 2000: 89).
mj.
C. METODE PRAKTIKUM
mk.
ml.
mm.

D.1. Jenis Kegiatan


D.2. Obyek Pengamatan
D.3. Alat dan Bahan

: Eksperimen
: Eritrosit Manusia
:

1) Tabung reaksi (test tube) 5


buah dengan raknya.
2) Mikroskop
3) Kaca
benda
dengan
cekungan dan gelas penutup
(Cover Glass)

4) Pipet
5) Garam fisiologis 3%, 1%,
0,9%, 0,7%, 0,5%
6) Vaselin Alburn
7) Antikoagulan (Heparin atau
Kalium Oksalat)
8) Darah manusia

9)

D.4. Cara Kerja

1) Mengambil darah manusia melalui jari tangan


2) Menaruh di atas kaca benda, kemudian menambahkan NaCl 0,5%, mengamati di
bawah mikroskop dengan hati-hati dan mengamati kapan eritrosit tampak mulai
hemolisis dengan menggunakan stopwatch.
3) Melakukan seperti cara 2 untuk larutan NaCl 3%, 1%, 0,9%, 0,7%.
4) Untuk mengetahui kecepatan terjadinya krenasi lakukan seperti di atas dengan
menggunakan larutan NaCl lebih pekat daripada 0,7%. Mencatat hasilnya dan

membuat pembahasan.
Analisis data kecepatan hemolisis dan krenasi
10)

Data pengamatan berupa besarnya waktu (dalam menit) kapan

mulai tampak terjadi hemolisis atau krenasi. Dari data tersebut kemudian analisis
untuk mencari hubungan antara kepekatan larutan NaCl dengan kecepatan terjadi
hemolisis dan krenasi.
11)
12)

E. HASIL PRAKTIKUM

13)

TABEL HASIL PENGAMATAN KELAS


14)

15)

no

Nam 16)
19)

Waktu krenasi /detik


3 20)
21)
22)

%
26)

27)

1
35)

i
36)

2
44)

a
45)

3
53)

23)

24)

25)

1%

0,9%

0,7

0,5

0,3

0,1%

>

29)

30)

%
31)

%
32)

%
33)

34)

136
38)

163
39)

40)

35
41)

240
42)

>300
43)

149
47)

157
48)

49)

159
50)

205
51)

253
52)

>300
57)

58)

104
59)

205
60)

240
61)

Hest

28)

Sisk

300
37)

Yuri

16
46)

ska
54)

Asni

4
55)

100
56)

4
62)

63)

Insi

64)

10
65)

11
66)

16
67)

20
68)

69)

70)

5
71)

wi
72)

Tsan

0
73)

21
74)

22
75)

29
76)

34
77)

78)

79)

6
80)

i
81)

Vell

0
82)

27
83)

30
84)

38
85)

40
86)

87)

88)

7
89)
8
98)

a
90)

6
Diva 91)

18
92)

20
93)

37
94)

40
95)

96)

97)

20
101)

37
102)

35
103)

43
104)

105)

106)

40
111)

38
112)

54
113)

114)

115)

Brili

6
100)

9
107) 108)

Wid

5
109)

19
110)

10 a
116) 117)

Nur

1
118)

20
119)

25
120)

32
121)

41
122)

123)

124)

Ismi

7
127)

18
128)

20
129)

23
130)

44
131)

132)

133)

Wul

6
136)

33
137)

35
138)

40
139)

57
140)

141)

142)

13 an
143) 144)

Asyi

26
145)

64
146)

45
147)

79
148)

51
149)

150)

151)

14 fa
152) 153)

Des

3
154)

80
155)

120
156)

40
157)

67
158)

159)

160)

15 y
161) 162)

1
Ama 163)

68
164)

31
165)

43
166)

72
167)

168)

169)

18
173)

30
174)

43
175)

52
176)

60
177)

178)

35
183)

49
184)

60
185)

80
186)

187)

99)

11
125) 126)
12
134) 135)

16 lia
170) 171)

Inta

172)

17 n
179) 180)

Han

181)

21
182)

18 a
188) 189)

Rizk

190)

23
191)

37
192)

50
193)

70
194)

90
195)

196)

Her

6
199)

54
200)

57
201)

76
202)

33
203)

204)

205)

Yuni

30
208)

74
209)

47
210)

33
211)

82
212)

213)

214)

21 ar
215) 216)

End

0
217)

67
218)

70
219)

101
220)

126
221)

222)

223)

22 ah
224) 225)

Kart

8
226)

66
227)

73
228)

163
229)

242
230)

231)

232)

Ulfa

8
235)

13
236)

112
237)

205
238)

303
239)

240)

241)

Sal

2
244)

58
245)

45
246)

47
247)

95
248)

249)

250)

88

91

45

96

19 y
197) 198)
20 vina
206) 207)

23 ini
233) 234)
24
242) 243)
25

ma

251) 252)

Roni 253)

254)

255)

256)

257)

258)

259)

26
260) 261)

Bim

70
262)

70
263)

264)

79
265)

112
266)

267)

268)

Jaka

49
271)

169
272)

99
273)

96
274)

95
275)

276)

277)

28
278) 279)

Toni

6
280)

70
281)

71
282)

75
283)

80
284)

285)

96
286)

29
287) 288)

Aris

4
289)

80
290)

86
291)

96
292)

100
293)

294)

104
295)

30
296) 297)

Afri

7
298)

48
299)

50
300)

71
301)

80
302)

303)

84
304)

31 zal
305) 306)

0
Irfan 307)

31
308)

54
309)

118
310)

311)

105
312)

184
313)

27 a
269) 270)

32
314)
322)
330)

1
Jumlah
Rata-rata
Stndar

36
315)
323)
331)

72
316)
324)
332)

123 317) 318)


325) 326)
333) 334)

126 255
319) 320)
321)
327) 328)
329)
335) 336)
337)

deviasi
338)
339)
340)

TABEL HASIL PENGAMATAN KELOMPOK


341)

342)
Nam

343) Larutan NaCl (%)

344)

345)

346)

347)

348)

349)

350)

351)

352)
Tri

353)

354)

355)

356)

357)

358)

359)
Nur

360)

361)

362)

363)

364)

365)

366)
Ismi

367)

368)

369)

370)

371)

372)
373)
374)

F. PEMBAHASAN

375) Pada praktikum yang berjudul Pengaruh Tekanan Osmotik Terhadap


Eritrosit, mempunyai tujuan Mengetahui kecepatan hemolisis dan krenasi eritrosit pada
berbagai konsentrasi larutan, dilaksanakan di laboratorium zoologi FMIPA UNY.
Praktikum ini diawalidengan menyiapkan berbagai macam konsentrasi larutan NaCl yaitu
0,5 %, 0,7%, 0,9%, 1 %, 3%, variasi konsentrasi di sini bertujuan agar kita tahu
konsentrasi berapa hemolisis dan kreasi terjadi, setelah itu kulit ujung jari tengah atau
manis dioleskan alkohol untuk mensterilkan tangan, setelah kering jari tersebut di tusuk
menggunakan blood lancet steril lalu diteteskan pada objek kaca yang telah ditetesi
macam konsentrasi tadi, lalu diamati menggunakan mikroskop dan dicatat waktunya saat
sel darah terlihar mengkerut, begitu selanjutnya dengan tetapi dengan konsentrasi yang
berbeda
376) Seperti molekul-molekul kecil yang lain, molekul air juga bergerak, dari
satu sisi membrane ke sisi yang lain secara difusi. Difusi air melintasi membran yang
permeable selektif disebut osmosis. Konsentrasi air diukur dari jumlah molekul air
permililiter. Air murni memiliki konsentrasi air lebih tinggi daripada garam, artinya
bahwa dalam satuan ukuran yang sama, dalam air murni terdapat molekul air lebih besar
daripada dalam air garam. Perbedaan konsentrasi inilah yang menyebabakan terjadinya

aliran air tersebut (osmosis). Akibat masuknya air ke dalam kantung semipermeable,
maka terjadi peningkatan tekanan pada membrane. Peningkatan tekanan ini disebut
tekanan osmotic. Makin tinggi peredaan konsentrasi dua larutan, makin tinggi pula
tekanan osmotiknya, dan makin cepat pula aliran air berpindah dari konsentrasi air tinggi
ke konsentrasi airrendah.
377)

Lisis merupakan istilah umum untuk peristiwa menggelembung dan

pecahnya sel akibat masuknya air ke dalam sel. Lisis pada eritrosit disebut hemolysis,
yang berarti peristiwa pecahnya eritrosit akibat masuknya air ke dalam eritrosit sehingga
hemoglobin keluar dari dalam eritrosit menuju ke cairan sekelilingnya. Membran eritrosit
bersifat permeable selektif, yang berarti dapat ditembus oleh air dan zat-zat tertentu,
tetapi tidak dapat ditemus oleh zat-zat tertentu yang lain. Hemolisis ini akan terjadi
apabila eritrosit dimasukkan ke dalam medium yang hipotonis terhadap isi sel eritrosit
(Soewolo, 2000: 88).
378)
Berdasarkan penelitian isi sel eritrosit hewan Homoioterm isotonis
terhadap larutan 0,9% NaCl, oleh karena itu hemolysis akan terjadi apabila eritrosit hewan
Homoioterm dimasukkan ke dalam larutan dengan konsentrasi di bawah 0,9%. Namun perlu
diketahui bahwa membrane eritrosit (termasuk membrasel yang lain) memiliki toleransi
osmotic, artinya sampai batas konsentrasi medium tertentu sel elum mengalami lisis.
Kadang-kadang pada suatu konsentrasi larutan NaCl tertentu tidak semua eritrosit
mengalami hemolysis. Hal ini menunjukkan bahwa toleransi osmotis membran eritrosit
berbeda-beda. Pada eritrosit tua membrane selnya memiliki toleransi rendah (mudah pecah),
sedangkan membrane eritrosit muda memiliki toleransi osmotic yang lebih besar (tidak
mudah pecah)
379)

Hemolisis seperti yang dijelaskan di atas disebut hemolisis osmotic, yaitu

hemolysis yang disebabkan oleh perbedaan tekanan osmotic isi sel dengan mediumnya
(cairan disekitarnya). Hemolisis yang lain yaitu hemolysis kimiawi. dimana membrane
eritrosit

rusak akibat substansi kimia. Zat-zat yang dapat merusak membrane eritrosit

(termasuk memban sel yang lain) antara lain adalah: kloroform, aseton, alcohol, benzene,
dan eter. Peristiwa sebaliknya dari hemolysis adalah krenasi, yaitu peristiwa mengkerutnya
membrane sel akibat keluarnya air dari dalam eritrosit. Krenasi dapat terjadi apabila eritrosit
dimasukkan ke dalam medium yang hipertonis terhadap isi eritrosit, misalnya untuk eritrosit
hewan Homoioterm adalah laruta NaCl yang leih pekat dari 0,9% NaCl, sedangkan untuk

eritrosit hewan Poikiloterm adalah larutan NaCl yang lebih pekat dari 0,7% (Soewolo, 2000:
89).
380)
381)
382)

G. KESIMPULAN

383)
Berdasarkan hasil percobaan diatas dan berdasarkan asi pembahasandapat
disimpulkan semakin tinggi konsentrasi larutan maka semakin cepat darah membeku/
isismhemolisis
384)
385)

H. DAFTAR PUSTAKA
Basoeki, Soedjono. 1988. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Jakarta: Depdikbud

Dikti.
386)
Nurcahyo, Heru dan Tri Harjana. 2013. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan.
Yogyakarta: FMIPA UNY.
387)
Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Depdikbud Dikti.
388)
Wiarto, Giri. 2013. Fisiologi dan Olahraga. Yogyakarta: Graha Ilmu.
389)
390)
391) SISTEM KARDIOVASKULER
392) KEGIATAN 3
393) MENGHITUNG SEL DARAH MERAH (ERYTHROCYTE)
A. PERMASALAHAN PRAKTIKUM
394) menghitung jumlah sel darah merah (SDM)
B. TUJUAN
395) B.1. Tujuan Kegiatan
1. Menghitung jumlah sel darah merah (SDM).
396) B.2. Kompetensi Khusus
1. Mahasiswa dapat melakukan perhitungan jumlah sel darah merah (SDM).
2. Mahasiswa dapat menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah sel
darah merah (SDM).
397)
C. DASAR TEORI
398) Darah vertebrata merupakan jaringan cair yang kompleks, terdiri atas unsur
seluler khusus yang larut dalam satu cairan kompleks yang dikenal dengan plasma.
Terdapat tiga macam unsur seluler. 1. Sel darah merah (eritrosit), 2. Sel darah putih
(leukosit), 3. Keping darah (trombosit) (Soewolo,84:2000)

399) Sel darah merah normal adalah bikonkaf, yang mempunyaigaris tengah
rata-rata sekitar 8 mikron dan tebalnya diukur dari bagian yang paling tebal, 2 mikron dan
ditengahnya mempunyi tebal 1 mikron atau kurang (Guyton,45:1987)
400) Pada pria sel darah merahnya adalah 5 juta per mm3, sedangkan pada
wanita sel darah merahnya 4,5 juta per mm3. Untuk menghitung jumlah sel darah merah
digunakan hemositimeter, dengan larutan pengencer hayem (hayems Solutions) yang
terdiri atas: Nacl (1 gram) : 2,Na2SO4 (5 gram) : 3. HgCl (0,5gram) : 4 Aguadest (200
ml) (Suripto,56: 1988)
401)

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi jumlah eritrosit antara lain:

1. Fisiologi karena adaptasi terhadap lingkungan lokal, misalnya pada tempat tinggi
(pegunungan), SDM dapat mencapai 8 juta per mm3, hal ini disebut physiological
polycthemia .
2. Patologis karena adanya tumor pada sumsum tulang, maka jumlah SDM bisa mencapai
10-11 juta per mm3 hal ini disebut polycthemia vera.
402) Umur (lifepan) eritrosit dam sirkulasi berkisar antara 120 hari pada lakilaki, dan 100 hari pas perempuan. Setelah melampui batas waktu trsebut eritrosit akan
kehilangan kemampuan metabolisme kemudian dihancurkan oleh limfa, sumsum tulang
hati dan sel retikuloendhotlial. Sebagian besar komponennya akan dimanfaatkan kembali
(daur ulang), seperti besi dari hem, dan asam amino dari globin. Cincin protoporfirin
yang tidak digunakan lagi akan dikatabolisme di dalam sel retikuloendhotlial menjadi
pigmen empedu kemudian diekskresikan lewat urin dan feses. Alfa methane dari hem
dioksidasi menjadi biliverdinbilirubinmasuk kehati, kemudian diubah menjadi
urobilinogendiekskresikan dalam bentuk strekobilin yaitu warna kuning pada feses dan
urobilinogen yaitu kuning pada Urin.
403)

(Nurcahyo,32:2013)

D. METODE PENGAMATAN
404)
405)
406)

D.1. Jenis Kegiatan


D.2. Obyek Pengamatan
D.3. Alat dan Bahan
407)
Alat:

: Pengamatan (observasi)
: Sel darah merah (SDM)

1) Toma hemasitometer (counting chamber)


2) Pipet khusus bertanda 101
408)
1)
2)
3)
4)

Bahan:

Blood lancet steril disposable


Etil alkohol 70%
Kapas
Larutan garam fisiologis

5) Larutan Hayem
409)

D.4. Cara Kerja


1) Mensterilkan kulit ujung jari tengah atau jari manis dengan kapas alkohol,
membiarkan sampai mengering.
2) Menusuk ujung jari tengah atau jari manis naracoba dengan menggunakan blood
lancet steril (disposable) sehingga darah keluar dan meneteskan pada masingmasing bulatan satu tetes darah pada kaca obyek yang telah dipersiapkan di atas.
3) Menyiapkan pipet khusus untuk perhitungan sel darah merah (ada kristal
berwarna merah) dengan tanda 101. Memastikan pipet selalu dalam keadaan
bersih dan kering.
4) Mengambil darah langsung dari naracoba (probandus) dengan menggunakan
pipet khusus sampai melebihi tanda 0,5, kemudian membersihkan ujungnya
dengan kertas tissue sehingga besih dan darah tepat pada batas 0,5.
5) Kemudian dengan segera hisaplah dengan pipet itu juga larutan pengencer
(Hayem) sampai tanda 101, kemudian meletakkan pipet pada posisi horizontal.
Selanjutnya memegang kedua ujung pipet dengan ibu jari dan telunjuk lalu
menggerakkan secara perlahan-lahan agar darah bercampur dengan reagen.
6) Menyiapkan bilik hitung: sebelum dan sesudah memakai, membersihkan bilik
hitung (counting chamber) dan kaca penutupnya dengan menggunakan kertas
tissue dengan hati-hati. Menaruh bilik hitung tersebut di atas meja (stage)
mikroskop dan menjepit dengan seksama, kemudian mengamati bagian-bagian
dari bilik hitung dengan menggunakan perbesaran lemah (10 x 4) sampai jelas
betul letak kotak-kotaknya dan kegunaannya.
7) Meneteskan cairan darah yang telah dicampur dengan larutan Hayem dalam
pipet sebanyak satu tetes lewat tepi kaca penutup dari bilik hitung sehingga
cairan merata keseluruh bilik hitung. Untuk mendapatkan hasil yang akurat
membuang 3 atau 4 tetes cairan yang berada pada ujung pipet.
8) Memeriksa dengan perbesaran lemah (10 x 4) dan mencari kotak tengah dari
bilik hitung. Kotak tersebut masih dibagi lagi menjadi 25 kotak kecil, tiap kotak
kecil tersebut dibagi lagi menjadi 16 kotak kecil.
9) Untuk menghitung jumlah SDM menggunakan perbesaran kuat (10 x 10) dan
alat penghitung hand tally counter.

10) Untuk menghemat waktu biasanya dari 25 kotak kecil hanya dipilih 5 kotak
sebagai sampel. Kotak tersebut dapat dipilih secara random atau dipilih kotak
pada bagian kanan atas, kiri atas, kanan bawah, kiri bawah, dan tengah.
11) Untuk menghindari perhitungan rangkap, maka sel-sel darah merah yang
menempel pada garis dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: menghitung
sel-sel darah merah yang berada dalam kotak dan sel-sel yang menempel pada
garis atas dan kiri saja sedangkan yang menempel pada garis kanan dan bawah
tidak dihitung.
12) Setelah diketahui jumlah SDM kemudian memasukkan kedalam rumus berikut
untuk mengetahui jmlah SDM permm3 sebenarnya sebagai berikut:
410) jumlah SDM/mm3 = SDM yang terhitung x 10 x 5 x 200
411)
atau
3
412) jumlah SDM/mm = SDM yang terhitung x 10.000
413) Keterangan:
414) Angka 10 berasal dari dalamnya parit 0,1 mm dijadikan 1 mm (10 kali)
415) Angka 5 berasal dari 1/5 dari 1 mm3 (25 kotak)
416) Angka 200 berasal dari pengenceran 200 kali (0,5 menjadi 101)
417)
E. HASIL PENGAMATAN
418) TABEL HASIL PENGAMATAN KELAS
419)
420)
421)

427)

431)

Perempuan
422)
423) N
am
a

424)

425)
J

428) H
est
i
Lo
ka
nin
gru
m
432) S
isk
a

429)

430)
2

433)

434)
5

426)
s

435)

439)

443)

447)

451)

Li
pd
ya
nin
gsi
h
436) Y
uri
ska
Fit
ri
Dy
ah
U
440) I
nsi
wi
Pu
rwi
ans
har
i
444) N
ur
Ts
ani
Ra
hm
aw
ati
448) A
sni
Nu
rha
yat
i
452) V
ell
a
Lia
ni

437)

438)
4

441)

442)
4

445)

446)
3

449)

450)
2

453)

454)
5

455)

459)

463)

467)

471)

475)

479)

456) D
iva
Ap
rili
a
460) T
ri
Wi
da
ya
nti
464) N
ur
Kh
oti
ma
h
468) I
sm
i
Nu
rhi
da
ya
h
472) W
ula
n
No
vit
a
Sar
i
476) A
syi
fat
ul
Ma
din
ah
480) D

457)

458)
6

461)

462)
4

465)

466)
4

469)

470)
3

473)

474)
7

477)

478)
6

481)

482)

483)

487)

491)

495)

499)

503)

esy
No
rm
ali
a
484) I
nta
n
Ay
u
P.
488) A
ma
lia
Al
a
492) H
an
a
Wi
diy
ant
i
496) R
izk
y
W
ula
nd
ari
500) H
erv
ina
Su
rya
Ka
rti
ka
504) Y
uni
ar

485)

486)
5

489)

490)
3

493)

494)
3

497)

498)
3

501)

502)
5

505)

506)
4

Ku
rni
a
Wi
das
ari
508) E
nd
ah
Ra
tna
512) H
ani
Ka
rti
ni
516) U
lfa

507)

511)

515)

519)

520) S
al
ma
523) Total
524) Rata-rata
525) Standar deviasi
526)

509)

510)
4

513)

514)
4

517)

518)
5

521)

522)
3
527)
1
529)
4
531)
1

532)
533)
534)
535)

Laki-laki
536)
537) N
am
a

538)

539)
J
540)
s

541)

545)

549)

553)

557)

561)

565)

542) R
oni
Ar
dy
ant
oro
546) B
im
a
Gh
an
a
P.
550) J
ak
a
Fit
ria
nta
554) T
on
ny
Ha
ryo
W.
558) A
ris
Set
ian
to
W.
562) A
fri
zal
Ha
ris
566) I
rfa
n
Ha
nis

543)

544)
5

547)

548)
4

551)

552)
5

555)

556)
4

559)

560)
4

563)

564)
3

567)

568)
4

P.
569) Total
570) Rata-rata
571) Standar deviasi
572)

573)
3
575)
4
577)
6

578)
579)
580)
581) TABEL HASIL PENGAMATAN KELOMPOK
582)

583)

584)

598)

599)

591)
600) 601)

592) 593)
602) 603)

608)

609)

610) 611)

612) 613)

614)

618)

619)

620) 621)

622) 623)

624)

628)
F. PEMBAHASAN

585) P
apa
n
pern
itun
gan
594) 595)
604) 605)

586)

587)

596)
606)

597)
607)

615)

616)

617)

625)

626)

627)

629)

Pada praktikum yang berjudul menghitung sel darah merah ( Eritrosit),

mempunyai tujuan Mengetahui jumlah SDM setiap individu dilaksanakan di laboratorium


zoologi FMIPA UNY. Praktikum ini diawali dengan menusuk kulit ujung jari tengah atau
manis yang sbelumnya telah dibersihkan dengan alkohol, darah yang keluar disedot dengan
Pipet khusus bertanda 101 sampai melewati o,5 ml lalu sedot larutan hayem menggunakan
pipet tersebut juga, darah tidak dikeluarkan melainkan di kocok bersama larutan hayem,
setelah tercampur lalu teteskan pada objek gelas khusus yang disebut hemositometer, (alat
untuk menghitung sel darah merah) untuk diamati dibawah mikroskop.
630)
Hemositometer ini berupa sebuah kotak2 kecil, yang jika diperbesar maka
akan terlihat suatu benda berbentuk bulat bikonkaf, yang kita sebut sebagai sel darah merah,
untuk menghemat waktu biasanya yang dihitung adalah 5 kotak seperti di bawah ini
631)

PAPAN PERHITUNGAN

632)633)634)635)636)
637)638)639)640)641)
642)643)644)645)646)
647)648)649)650)651)
652)653)654)655)656)
657) Setelah diketahui jumlah SDM kemudian memasukkan kedalam rumus
berikut untuk mengetahui jmlah SDM permm3 sebenarnya sebagai berikut:
658) jumlah SDM/mm3 = SDM yang terhitung x 10 x 5 x 200
659)
atau
3
660) jumlah SDM/mm = SDM yang terhitung x 10.000
661) Keterangan:
662) Angka 10 berasal dari dalamnya parit 0,1 mm dijadikan 1 mm (10 kali)
663) Angka 5 berasal dari 1/5 dari 1 mm3 (25 kotak)
664) Angka 200 berasal dari pengenceran 200 kali (0,5 menjadi 101)
665)
666) Pada pria normal sel darah merahnya adalah 5 juta per mm3, sedangkan
pada wanita sel darah merahnya 4,5 juta per mm3. Setelah dihitung didapatkan data kelas
, rata2 untuk perempuan dari jumlah sel darah merah alah 4,6 juta itu berarti sesuai
dengan jumlah darah formal yang harus dimiliki perempuan begitu juga dengan hasil sel
darah merah pada laki laki mempunyai rata-rata 4,6 jt yang berarti masih berada digaris
normal.
667)

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi jumlah eritrosit antara lain:

1. isiologi karena adaptasi terhadap lingkungan lokal, misalnya pada tempat tinggi
(pegunungan), SDM dapat mencapai 8 juta per mm3, hal ini disebut physiological
polycthemia .

2. Patologis karena adanya tumor pada sumsum tulang, maka jumlah SDM bisa
mencapai 10-11 juta per mm3 hal ini disebut polycthemia vera.
668)
669)
G. KESIMPULAN
670) Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil pembahasan maka dapat
disimpulkan jumlah rata-rata SDM pada perempuan adalah 4,7 jt dan
rata-rata SDM pada laki-laki adalah 4,6 juta
H. DAFTAR PUSTAKA
671) Guyton,Arthur.1987. Fisiologi Manusia Dan Mekanisme Penyakit.
Jakarta :EGC Penerbit Buku Kedokteran.
672)
Nurcahyo,
Heru & Tri Harjana. 2013. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan.
Yogyakarta : FMIPA UNY
673) Suripto. ------. Fisiologi Hewan. Bandung : ITB
674) Soewolo. 2000.Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta :Dirjen Dikti.
675)
676)
677)
678)
679)
680)
681)
682)
683)
684)
685)
686)
687)
688)
689)
690) SISTEM KARDIOVASKULAR
691)

KEGIATAN 4

692) MENGHITUNG SEL DARAH PUTIH (LEUKOCYTE)


A. PERMASALAHAN PRAKTIKUM : Bagaimana Menghitung Sel Darah Putih ( SDP)?
B. TUJUAN
693) B.1. Tujuan Kegiatan
1. Menghitung sel darah putih (SDP).
694) B.2. Kompetensi Khusus
1. Mahasiswa dapat melakukan perhitungan sel darah putih (SDP).
2. Mahasiswa dapat menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah sel
darah putih (SDP).
695)
C. DASAR TEORI
696) Sel darah putih (SDP) atau leukosit (leukocyte) berasal dari myeloblast
(stem cell) (Nurcahyo, 2013: 38). Leukosit atau sel darah putih adalah unit system
pertahanan tubuh yang bergerak. Fungsi pertahanan terhadap invasi benda asing (seperti
bakteri dan virus) dilakukan dalam 2 cara: (1) dengan menelan dan mencerna benda
asing melalui fagositosis, dan (2) melalui respon imun (kebal) seperti produksi antibody
(Soewolo, 2000: 93).
697) Sel darah putih bentuknya berubah-ubah, tetapi asoph sama dengan sel
darah merah atau eritrosit tetapi lebih kecil. Pada keadaan normal, jumlah leukosit pada
darah manusia adalah 4.000-11.000 sel darah putih. Fungsi sel darah putih adalah sebagai
pertahanan tubuh terhadap serangan penyakit dan berkaitan dengan system imunitas.
Bibit penyakit/bakteri yang masuk kedalam jaringan akan dimakan oleh sel darah putih
ini. Sel darah putih diproduksi didalam limfe dan kelenjar limfe. Disamping itu juga sel
daraNh putih berfungsi sebagai pengangkut zat lemak dari dinding usus melalui limfe
kemudian ke pembuluh darah (Wiarto, 2013: 32).
698) Perbedaan jenis leukosit terutama terletak pada warna granula sitoplasma
dan pada bentuk inti leukosit yang bergranula. Netrofil berwarna netral atau tak berwarna
bila dicat, intinya mempunyai tiga atau lima lobi. Eosinofil mengikat warna asam, intinya
memiliki asophil oval, basofil mengikat warna basa, intinya kasar berbentuk huruf S.
Karena beranekanya bentuk inti ini, lekosit bergranula juga disebut lekosit
polimorfonuklier. Limfosit dan monosit tidak berisi granula dalam sitoplasmanya, dalam
klasifikasi sel-sel ini sebagai lekosit nonglanular (Basoeki, 1988: 242).
699) Jumlah leukosit yang beredar akan naik bila terjadi infeksi, leukosit dapat
bertambah sampai 20.000 atau lebih setiap milimeterkubik pada apendisitis atau

pneumonia. Jaringan yang meradang diduga melepaskan substansi yang menerobos


melalui darah menuju sumsum tulang, merangsang produksi leukosit dan melepaskan
leukosit terutama netrofil. Jumlah leukosit merupakan refleksi derajat infeksi, naiknya
jumlah limfosit terjadi dalam bentuk rejan dan anemia, berada di dataran tinggi atau
daerah tropis, atau pada penderita TBC kronis. Demam tipes dan malaria biasanya
menaikkan jumlah monosit, sedangkan pneumonia, infeksi bakteri akut secara khas
menaikkan jumlah netrofil. Terjadinya penambahan jumlah eosinophil menandai infeksi
cacing pita dan parasite hewan lainnya serta asthrma, kondisi alergi dan beberapa
penyakit kulit (Basoeki, 1988: 243-244).
700) Leukimia dibagi dalam dua jenis: leukemia limfogen dan leukemia
milogen. Leukemia disebabkan oleh pembentukan kanker sel-sel limfoid, pertama-tama
dimulai pada nodus limfatikus atau jaringan limfogen lainnya dan kemudian menyebar ke
daerah-daerah tubuh lainnya. Jenis leukemia yang kedua, leukemia mielogen, mulai
dengan pembentukan kanker pada sel mielogen muda (betuk dini neutrophil, monosit
atau lainnya) dalam sumsum tulang dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh sehingga
sel darah putih dibentuk pada banyak organ ekstra medulla (Guyton, 1987: 55-56).
701)
D. METODE PRAKTIKUM
702)
703)
704)

D.1. Jenis Kegiatan


D.2. Obyek Pengamatan
D.3. Alat dan Bahan
705)
Alat:
1) Pipet khusus bertanda 11
2) Bilik hitung
707)
708)

: Pengamatan (observasi)
: Sel darah putih (SDP)
706)
Bahan:
1) Blood lancet steril (disposable)
2) Kapas alcohol
3) Reagen Turk

709)

D.4. Cara Kerja

1) Mensterilkan kulit ujung jari tengah atau jari manis dengan kapas alkohol,
membiarkan sampai mengering.
2) Menusuk ujung jari tengah atau jari manis naracoba dengan menggunakan blood
lancet steril (disposable) sehingga darah keluar.
3) Mengambil darah dengan pipet khusus sampai tanda 0,5 kemudian membersihkan
ujungnya dengan kertas tissue. Setelah itu hisap reagen Turk sampai tanda 11,
kemudian lakukan pengocokkan secara perlahan-lahan agar tercampur rata seperti
pada perhitugan SDM.
4) Menyiapkan bilik hitung seperti pada perhitungan SDM kemudian mencari 4
kotak (A, C, G, I) yang terletak pada pojok kanan atas, kiri atas, kiri bawah dan
kanan bawah. Perhatikan bahwa tiap kotak tersebut dibagi menjadi 16 kotak kecil.
5) Meneteskan cairan dalam pipet lewat tepi kaca penutup sehingga merata dan
menghitung SDP seperti pada perhitungan SDM.
6) Memasukkan jumlah SDP yang terhitung ke dalam rumus berikut untuk
mengetahui jumlah SDP sesungguhnya dengan rumus sbb:
710) Jumlah SDP/mm3 = (a x 20 x 10) / 4
711)
atau
712) Jumlah SDP/mm3 = b x 20 x 10
713) Keterangan:
714) Angka 20 berasal dari pengenceran 0,5 menjadi 11 (20 kali)
715) Angka 10 berasal dari kedalaman parit 0,1 mm (menjadi 1 mm)
716) Angka 4 berasal dari 4 kotakan (mestinya hanya 1 kamar)
717)

718)

B 719)

A
720)

721)

C
E 722)

D
723)

724)

F
H 725)

726)
E. HASIL PRAKTIKUM
727) TABEL HASIL PENGAMATAN KELAS
728) Tabel . Data Hasil Perhitungan Sel Darah Putih
729) Perempuan
730) 731) Nama
N

732)

Umu 733)
r

mm3 )

Jumlah SDP ( SDP /

( Tah
un )

734)

735)

737)
736)

738)

739)

742)

743)

746)

747)

750)

751)

754)

755)

758)

759)

762)

763)

766)

767)

770)

771)

10

774)

775)

776)
777)

11

19

5600

20
741)
740)

2150

18
745)
744)

8100

19
749)
748)

3050

19
753)
752)

1350

20
757)
756)

2350

19
761)
760)

600

19
765)
764)

650

19
769)
768)

300

19
773)
772)

3050

19
6550

778)

779)

12

782)

783)

13

786)

787)

14

790)

791)

15

794)

795)

16

798)

799)

17

802)

803)

18

806)

807)

19

810)

811)

20

814)

815)

21

818)

819)

22

822)

823)

781)
780)

3600

19
785)
784)

4950

19
789)
788)

3750

20
793)
792)

4900

20
797)
796)

6100

19
801)
800)

3300

20
805)
804)

1550

21
809)
808)

4250

19
813)
812)

6250

19
817)
816)

6200

19
821)
820)

13050

20
824)
825)

500

23

826)

827)

24

830)

831)

25

20
829)
828)

900

19
833)
832)

13550

20

834) Total

835)
1066
0

836) Rata-rata

0
837)

838) Standar deviasi

4264
839)
3496
,
0
8
5

840)
841)
842)
843) Laki-laki
844) 845) Nama
No
848) 849)

846)

Umur

( Tahun )
Roni

1. Ardyantoro
852) 853) Bima

Jumlah SDP ( SDP /

mm3 )
850)
851) 4500
854)
855)

1200

2. Pradana
856) 857) Jaka Fitriyanta

858)
859)

3000

3.
860) 861)

862)
863)

3050

Tonny

Gana

847)

Haryo

4. Wibisono
864) 865) Aris

Setiyanto

5. Wibowo
868)

869)

6.

872)

873)

7.

876)

Total

878)

Rata-rata

880)

Standar deviasi

866)
867)

3150

871)
870)

5800

875)
874)

9050

877) 2
97
50
879) 4
25
0
881) 2
55
0,
16
3

882)
883)
885)

884)
TABEL HASIL PENGAMATAN KELOMPOK
886)

887)

888) Jumlah SDP

889)

890)

891)

892)

893)

894)

895)

896)

897)

898)

899)

900)

901)

902)

903)

904)

905)

906)

907)

908)

909)

910)

911)

912)

913)

914)

915)

916)

917)

918)

919)

920)

921)

922)

923)

F. PEMBAHASAN
924)

Pada praktikum yang berjudul Menghitung Sel Darah Putih ( SDP)

mempunyai tujuan Menghitung Sel Darah Putih ( SDP )dilaksanakan di laboratorium zoologi
FMIPA UNY. Praktikum ini diawali dengan mengoleskan alkohol dengan kapas ke ujung jari
tengah/ manis, lalu dikeringkan, setelah itu ujung jari ditusuk dengan blood lancet steril,
setelah darah keluar dihisap dengan pipet khusus sampai 0,5 ml Setelah itu hisap reagen Turk
sampai tanda 11, kemudian lakukan pengocokkan secara perlahan-lahan agar tercampur rata
seperti pada perhitugan SDM. Menyiapkan bilik hitung seperti pada perhitungan SDM
kemudian mencari 4 kotak (A, C, G, I) yang terletak pada pojok kanan atas, kiri atas, kiri
bawah dan kanan bawah. Perhatikan bahwa tiap kotak tersebut dibagi menjadi 16 kotak kecil.
925)

Lalu teteskan darah yang telah dikocok tadi melalui pinggir kaca penutup,

Memasukkan jumlah SDP yang terhitung ke dalam rumus berikut untuk mengetahui jumlah
SDP sesungguhnya dengan rumus sbb:
926)
927)
928)
929)
930)
931)
932)

Jumlah SDP/mm3 = (a x 20 x 10) / 4


atau
Jumlah SDP/mm3 = b x 20 x 10
Keterangan:
Angka 20 berasal dari pengenceran 0,5 menjadi 11 (20 kali)
Angka 10 berasal dari kedalaman parit 0,1 mm (menjadi 1 mm)
Angka 4 berasal dari 4 kotakan (mestinya hanya 1 kamar)
933)
A
936)
D
939)
G
942)

934)

B 935)

937)

C
E 938)

940)

F
H 941)
I

943) Contoh penghitungan SDP


944) JUMLAH SDP mm3 = (a x 20 x 10)
945)

946) Tri widayanti


947) Jumlah SDP/ mm3 = (61 x 20 x 10) = 3050 / mm3
948)

949) Nur khotimah


950) Jumlah SDP/ mm3 = (131 x 20 x 10) = 6550 / mm3
951)

952) Ismi nurhidayah


953) Jumlah SDP/ mm3 = (72 x 20 x 10) = 3600 / mm3
954)

955) Dari hasil praktikum didapat rata2 jumlah SDP untuk perempuan adalah
4264 sedangkan rata-rata SDP laki-laki adalah 4250 . menurut Wiarto (2013) Pada
keadaan normal, jumlah leukosit pada darah manusia adalah 4.000-11.000 sel darah
putih, jadi rata2 jumlah SDP kelas ini adalah normal walaupun ada yang dibawah 4000
namun hasil tersebut belum tentu merupakan hasil yang sebenarnya bisa jadi salah dalam
perhitungan, atau dalam pengocokan kurang sempurna sehingga SDP tidak tersebar
secara merata.
956) Jumlah leukosit yang beredar akan naik bila terjadi infeksi, leukosit dapat
bertambah sampai 20.000 atau lebih setiap milimeterkubik pada apendisitis atau
pneumonia.
G. KESIMPULAN
957) Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil pembahasan maka dapat
disimpulkan jumlah SDP untuk perempuan adalah 4264 sedangkan
rata-rata SDP laki-laki adalah 4250, sedangkan normalnya adalah
4.000-11.000 sel darah putih.
H. DAFTAR PUSTAKA
958) Basoeki, Soedjono. 1988. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Jakarta:
959)

Depdikbud Dikti.
Guyton, Arthur. 1987. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta: EGC

960)

Buku Kedokteran.
Nurcahyo, Heru dan Tri Harjana. 2013. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan.
Yogyakarta: FMIPA UNY.
961) Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Depdikbud Dikti.

962) Wiarto, Giri. 2013. Fisiologi dan Olahraga. Yogyakarta: Graha


Ilmu
963)
964)
965)
966)
967)
968)
969)
970)
971)
972)
973)
974)
975)
976)
977) SISTEM KARDIOVASKULER
978) KEGIATAN 5
979) PENGARUH AKTIVITAS TERHADAP TEKANAN DARAH
A. PERMASALAHAN PRAKTIKUM : Bagaimana Mengukur Tekanan Darah Sistole dan
Diastole?
B. TUJUAN
980) B.1. Tujuan Kegiatan
1) Mengukur tekanan darah systole dan diastole.
981) B.2. Kompetensi Khusus
1) Mahasiswa dapat melakukan pengukuran tekanan darah systole dan diastole.
2) Mahasiswa dapat menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah
systole dan diastole.
982)
C. DASAR TEORI
983) Jantung mengeluarkan suara khas selama siklus yang digambarkan dengan
suara degup melalui stethoscope. Suara pertama atau suara sistole dianggap hasil
kontraksi ventrikulus dan getaran menutupnya valvula cuspidalis. Ini lebih lama dan lebih
lamban jika dibandingkan dengan yang kedua yaitu suara diastole, yang diperkirakan
disebabkan oleh getaran penutupn valvula semilunaris. Kedua suara ini memiliki makna
klinis karena memberi informasi mengenai ketidaksempurnaan fungsi valvula (Basoeki,
262:1988)
984) Tekanan darah menurut Guyton & All (2008) dalam Wiarto (2013) berarti
daya yang dihasilkan oleh darah terhadap setiap satuan luas dinding pembuluh. Tekanan
darah dari pembuluh arah dapat berubah ubah pada setiap siklus jantung. Ketika

ventrikel kiri memompa darah masuk ke aorta, tekanan akan naik sampai ke puncak yang
disebut sebagai tekanan sistole. Kemudian tekanan akan turun ke titik terendah yang
disebut tekanan diastole. Batas terendah tekanan sistole pada orang dewasa sekitar 105
mm Hg dan batas tertinggi adalah 150 mm Hg. Tekanan sistole pada wanita 5-10 mm Hg
lebih rendah dari laki-laki. Berikut tabel mengenai nilai rekanan darah normal (dalam
mm Hg)
985) Tabel 1. Nilai tekanan darah normal pada berbagai usia
986)

987)
Dia

988)

989) Bay
i

990)
50

991)

992) Ana
k-anak

993)
60

994)

995) Re
maja

996)
60

997)

998) De
wasa
muda

999)
60-

1000)

1001) Usia
lanjut

1002)
80-

1003)

1004)
1005) Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik seperti olahraga,
kegiatan rumah tangga, rasa cemas, rasa cinta ataupun stres. Padakeadaan itu t tekanan
darah akan meningkat dan bisa menembus batas normal. Namun dengan berisirahat
tekanan darah akan kembali normal. Dikatakan normal apabila tekanan sistole tidak
melebihi 140 mm Hb taman diastol tidak melebihi 90 mm Hg. Yang paling ideal adalah
120/80 mm Hg. Tekanan dikatakan tinggi jika melebihi 160 mm Hg, dan tekanan diastol
melebihi 99 mm Hg, dan angka itu muncul selama tiga kali pemeriksaan berturut turut
dengan selang waktu 2-8 minggu (Wiarto,34:2013).
1006)
D. METODE PRAKTIKUM

1007) D.1. Jenis Kegiatan

: Eksperimen

1008) D.2. Obyek Pengamatan

: Tekanan darah arteri

1009) D.3. Alat dan Bahan

1) Tensimeter (sphygmomanometer) dengan sabuk tekannya.


2) Stetoskop
1010) D.4. Cara Kerja
1) Melilitkan

sabuk

tekan

yang

telah

dilengkapi

dengan

pompa

dan

sphygmomanometer (tenzimeter) pada lengan atas tepatnya di atas sendi siku.


2) Meletakkan kepala stetoskop pada bawah sabuk tekan tepat di atas arteri radialis,
selanjutnya mendengarkan suara denyut jantung.
3) Memompa sampai sabuk tekan menekan lengan dan suara jantung tidak terdengar
lagi. Setelah itu kendorkan sekrup pengatur pada pompa sedemikian rupa
sehingga udara keluar (nggembos) dan memantau suara jantung dengan seksama.
Apabila suara jantung terdengar (koroskof), maka hal itu menunjukkan tekanan
systole, meneruskan penggembosan dan memonitor terus suara jantung sampai
tek terdengar lagi, pada saat itu merupakan tekanan diastole.
4) Melakukan pengukuran beberapa kali dengan posisi yang berbeda, misalnya
dengan duduk dan berbaring. Pada keadaan biasa dan keadaan segerea setelah
melakukan aktivitas.
1011)
E. HASIL PRAKTIKUM
1012)
Data Kegiatan Mengukur Tekanan Darah Sistole dan
Diastole
1013) Perempuan
1014)

1015) 1016)

1017)
Sebel

1019)
S
1020)
T
1021)
(

1018)

Teka

1023)
1022)

1024)

1025)
110/7

1026)
1

1029)

1030)
90/50

1031)
9

1035)
90/60

1036)
1

1039)

1040)
100/6

1041)
1

1044)

1045)
120/8

1046)
1

1050)
93/72

1051)
1

1055)
100/5

1056)
1

1060)
110/6

1061)
1

1028)
1027)
1033)
1032)

1034)

1038)
1037)
1043)
1042)
1048)
1047)

1049)
1053)

1052)

1054)

1057)

1058) 1059)

1063)
1062)

1067)

1065)
100/7

1066)
1

1070)
110/7

1071)
1

1075)
110/7

1076)
1

1079)

1080)
100/5

1081)
1

1084)

1085)
100/7

1086)
1

1090)
100/6

1091)
1

1094)

1095)
110/8

1096)
1

1099)

1100)
100/8

1101)
1

1104)

1105)
110/8

1106)
1

1109)

1110)
110/7

1111)
1

1114)

1115)
90/60

1116)
1

1120)
110/8

1121)
1

1125)
90/60

1126)
1

1064)

1068)

1069)

1073)
1072)

1074)
1078)

1077)
1083)
1082)
1088)
1087)

1089)
1093)

1092)
1098)
1097)
1103)
1102)
1108)
1107)
1113)
1112)
1118)
1117)

1119)

1122)

1123) 1124)

1128)
1127)

1129)
1133)

1132)

1134)
1138)

1137)

1139)
1143)

1142)

1144)

1147)

1148) 1149)

1130)
100/7

1131)
1

1135)
10/80

1136)
1

1140)
100/7

1141)
1

1145)
100/8

1146)
1

1150)

1151)

1157)

1159)
S

1152)
1153) Laki-laki

1160)
T

1158)

1154)

1161)

1155)

1162)

1156)

1163)

1164)

1165)
1

1167)
1166)

1169)

1170)
1

1174)

1175)
1

1179)

1180)
1

1184)

1185)
1

1189)

1190)
1

1194)

1195)
1

1199)

1200)

1168)
1172)

1171)

1173)
1177)

1176)

1178)
1182)

1181)

1183)
1187)

1186)

1188)
1192)

1191)

1193)

1196)

1197)

1198)

1201)
1202)
1203) Hasil Pengamatan
1204)

1207)

1208)

1209)

1205)

1206)
Set

1210)

1211)

Tek

1212)

1213)

1214)

1215)

1216)
130

1217)

1218)

1219)

1220)

1221)
130

1222)

1223)

1224)

1225)

1226)
120

1227)

1228)

1229)

1230)

1231)

126

1232)
1233)
F. PEMBAHASAN
1234) Pada praktikum yang berjudul Mengukur Tekanan Darah Sistole dan
Diastole, mempunyai tujuan Mengukur Tekanan Darah Sistole dan Diastole, dilaksanakan
di laboratorium zoologi FMIPA UNY.
1235) Tekanan darah menurut Guyton & All (2008) dalam Widarto (2013)
berarti daya yang dihasilkan oleh darah terhadap setiap satuan luas dinding pembuluh.
Tekanan darah dari pembuluh arah dapat berubah ubah pada setiap siklus jantung. Ketika
ventrikel kiri memompa darah masuk ke aorta, tekanan akan naik sampai ke puncak yang
disebut sebagai tekanan sistole. Kemudian tekanan akan turun ke titik terendah yang
disebut tekanan diastole.
1236) Langkah dalam mengukur tekanan sistol diastol yaitu dengan Melilitkan
sabuk tekan yang telah dilengkapi dengan pompa dan sphygmomanometer (tenzimeter)
pada lengan atas tepatnya di atas sendi siku, lalu Meletakkan kepala stetoskop pada
bawah sabuk tekan tepat di atas arteri radialis, selanjutnya mendengarkan suara denyut
jantung. Jantung mengeluarkan suara khas selama siklus yang digambarkan dengan suara
degup melalui stethoscope. Suara pertama atau suara sistole dianggap hasil kontraksi
ventrikulus dan getaran menutupnya valvula cuspidalis. Ini lebih lama dan lebih lamban
jika dibandingkan dengan yang kedua yaitu suara diastole, yang diperkirakan disebabkan
oleh getaran penutupn valvula semilunaris. Kedua suara ini memiliki makna klinis karena
memberi informasi mengenai ketidaksempurnaan fungsi valvula.
1237) Lalu Memompa sampai sabuk tekan menekan lengan dan suara jantung
tidak terdengar lagi. Setelah itu kendorkan sekrup pengatur pada pompa sedemikian rupa
sehingga udara keluar (nggembos) dan memantau suara jantung dengan seksama.
Apabila suara jantung terdengar (koroskof), maka hal itu menunjukkan tekanan systole,
meneruskan penggembosan dan memonitor terus suara jantung sampai tek terdengar lagi,
pada saat itu merupakan tekanan diastole. Dari praktikum ini dihasilkan data sebelum
kegiatan dari 3 probandus 2 dintaranya memiliki tekanan sistole/diastol sama yaitu
110/70 sedangkan yang satunya yaitu 100/50.
1238) Menurut Wiarto (2013) tekanan sistole/ diastol orang dewasa normal
adalah 110-125/60-70, 2 probandus memiliki tekanan darah normal namun yang satu
dibawah normal ini bisa terjadi karena kurang terdengarnya degup jantung, angka
tersebut juga belum menunjukan angka yang sebenarnya karenaangka dipercaya jika
angka itu muncul selama tiga kali pemeriksaan berturut turut dengan selang waktu 2-8
minggu, sedangkan dalam praktikum ini hanya dilakukan satu kali.

1239) Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik seperti olahraga,
kegiatan rumah tangga, rasa cemas, rasa cinta ataupun stres. Pada keadaan itu tekanan
darah akan meningkat dan bisa menembus batas normal. Namun dengan berisirahat
tekanan darah akan kembali normal. Dikatakan normal apabila tekanan sistole tidak
melebihi 140 mm Hb taman diastol tidak melebihi 90 mm Hg. Yang paling ideal adalah
120/80 mm Hg. Tekanan dikatakan tinggi jika melebihi 160 mm Hg, dan tekanan diastol
melebihi 99 mm Hg, dan angka itu muncul selama tiga kali pemeriksaan berturut turut
dengan selang waktu 2-8 minggu (Wiarto,34:2013).
1240)
1241)
G. KESIMPULAN
1242) Berdasarkan hasil praktikum dan hasil pembahasan maka dapat
disimpulkan rata-rata sistole/diastole sebelum kegiatan adalah 106/63
sedangkan setelah kegiatan adalah 126/66
1243)
H. DAFTAR PUSTAKA
1244) Basoeki,Soedjono. 1988.Anatomi dan Fisiologi Manusia. Jakarta :
Dirjen Dikti.
1245) Wiarto, Giri. 2013. Fisiologi dan Olahraga. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
1246)
1247)
1248)
1249)
1250)
1251)
1252)
1253) SISTEM KARDIOVASKULAR
1254) KEGIATAN 6
1255) MENGUKUR KADAR HEMOGLOBIN
A. PERMASALAHAN PRAKTIKUM : Bagaimana Mengukur Kadar Hemoglobin?
B. TUJUAN
1256) B.1. Tujuan Kegiatan
1) Mengukur kadar hemoglobin (Hb) darah.
1257) B.2. Kompetensi Khusus

1) Mahasiswa dapat melakukan pengukuran kadar hemoglobin (Hb) darah.


1258)
Mahasiswa dapat menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kadar
hemoglobin (Hb) darah
C. DASAR TEORI
1259) Erythrocyte merupakan salah satu sel tubuh manusia yang tidak memiliki
inti (nonnucleated cell), tetapi sitoplasma memiliki protein yang berfungsi sebagai
pengangkut oksigen (O2) yang disebut hemoglobin (Hb). Hemoglobin (Hb) tersusun atas
protein globin dan ferrroproto-porfirin (heme) yang berikatan nonkovalen. Setiap
molekul Hb memiliki 4 atom Fe yang terdapat pada heme, dan setiap atom Fe dapat
mengikat oksigen bsecara reversible, dengan demikian setiap molekul Hb teroksigenasi
atau disebut HbO2 (oksi Hb) mengandung 4 mol oksigen. Hb juga dapat berikatan dengan
CO2 pada gugus asam aminonya membentuk karbaminoHb (HbCO 2), juga dengan NO
membentuk HbNo. Peroksid, ferrisianid, kuonin, dapat mengoksidasi Fe 2+ menjadi Fe3+
sehingga terbentuk metHb yang tidak mampu mengikat oksigen maupun CO . MetHb
dapat direduksi menjadi Hb oleh dithionit (Na2S2O4). MetHb dapat bereaksi dengan anion
OH- pada H+ basa/alkalis dan Cl- pada pH asam (Nurcahyo, 2013: 21).
1260)

Hb + HCL

Globin-HCL +

Ferroprotoporfirin
1261)

Ikatan hemoglobin dengan oksigen, yang paling penting dari molekul

hemoglobin adalah kemampuannya mengikat oksigen dengan lemah dan secara


reversible. Fungsi primer hemoglobin dalam tubuh tergantung pada kemampuannya
untuk berikatan dengan oksigen dalam paru-paru dan kemudian mudah melepaskan
oksigen ini ke kapiler jaringan tempat tekanan gas oksigen jauh lebih rendah daripada
dalam paru-paru. Oksigen tidak berikatan dengan besi ferro yang bervalensi positif dua
dalam molekul hemoglobin. Tetapi ia berikatan lemah dengan salah satu dari enam
valensi koordinasi dari atom besi. Ikatan ini sangat lemah sehingga ikatan ini mudah
sekali reversible (Guyton, 1987: 48).
1262)

Hemoglobin mempunyai kemampuan untuk berkombinasi dengan

oksigen secara reversiel dengan mudah, artinya hemoglobin mudahmegikat dan


jugamudah melepaskan oksigen. Kemampuan hemoglobin untuk berkombinasi dengan
oksigen ini dikenal sebagai afinitas oksigen hemoglobin. Setiap kelompok heme dapat

berkombinasi dengan satu molekul oksigen, dan setiap molekul hemoglobin dapat
berkombinasi dengan empat molekul oksigen. Jumlah oksigen yang terikat pada
hemoglobin dapat bervariasi tergantung pada tekanan parsial oksigen (PO2). Bila semua
kelompok heme pada hemoglobin berkombinasi dengan molekul oksigen, maka
dikatakan bahwa darah100% jenuh dengan oksigen. Dalam keadaan jenuh ini kandungan
oksigen darah sama dengan kapasitas oksigennya. Jadi kapsitas oksigen adalah jumlah
oksigen yang diikat pigmen darah (contoh hemoglobin), apabila darah dijenuhkan dengan
oksigen (Soewolo, 2000:105-106).
1263)

Sintesis hemoglobin baru dimulai pada saat sel darah pada tingkat

eritroblast dan dilanjutkan sampai tingkat normoblast, meskipun kadang-kadang


dilanjutkan sampai sel darah muda dilepaskan dari sumsum tulang ke dalam peredaran
darah. Selain Fe dan asam amino yang secara langsung dibutuhkan untuk pembentukkan
hemoglobin, terdapat beberapa substansi yang berperan sebagai enzim yang terlibat
selama tahapan pembentukkan hemoglobin. Substansi tersebut antara lain ialah: Cu untuk
kelancaran pembentukkan hemoglobin, piridoksin, kekurangan piridoksin menyebabkan
pembentukkan sel darah merah menurun dan pembentukan hemoglobin tertekan. Hal
yang sama bila kekurangan Co (Cobalt), kekurangan Co dapat disubstitusi dengan Ni.
Afinitas Hb terhadap O2 dipengaruhi oleh factor:
1.
2.
3.
4.
1265)

Tekanan partial CO2 (P CO2)


Suhu tubuh
pH darah
Kadar 2,3 fosfogliserat dalam darah
1264) (Suripto, 1998: 53-54)
Kadar hemoglobin darah merupakan salah satu indicator apakah hewan atau

manusia menderita anemia. Pada manusia, kadar Hb pada kondisi normal bervariasi sekitar
14,9 1,5 gr/dL (pada laki-laki dewasa) dan 13,7 1,5 gr/dL (pada perempuan dewasa).
Pada anak baru lahir berkisar antara 21,5 3 gr/dL, pada umur 4 tahun berkisar antara 13
1,5 gr/dL. Beberapa kondisi yang berkaitan dengan jumlah SDM dan Hb:
1. Jumlah SDM normal tetapi kadar Hb kurang karena ukuran SDM lebih kecil daripada
normal yang disebut anemia mikrositik.
2. Jumlah SDM normal tetapi kadar Hb kurang karena kadar Hb memang kurang daripada
normal yang disebut anemia hipokromik (Nurcahyo, 2013: 21-22).
1266)

1267)
D. METODE PRAKTIKUM
1268) D.1. Jenis Kegiatan

: Pengamatan (observasi)

1269) D.2. Obyek Pengamatan

: Hb darah

1270) D.3. Alat dan Bahan


1271)

Alat:

1) Hemoglobinometer Sahli
1272)
1) Blood

lancet

Bahan:
steril

(disposable)
2) Pipet khusus dengan selang
karet

3) Kapas alcohol
4) Aquadest
5) Larutan HCL 0,1 N

6)

D.4. Cara Kerja


1) Mensterilkan kulit ujung jari tengah atau jari manis dengan kapas alkohol,
membiarkan sampai mengering.
2) Menusuk ujung jari tengah atau jari manis naracoba dengan menggunakan blood
lancet steril (disposable) sehingga darah keluar dan meneteskan pada masingmasing bulatan satu tetes darah pada kaca obyek yang telah disiapkan di atas.
Disposable artinya dipakai sekali kemudian setelah itu dibuang (discard after
use).
3) Mengisi tabung berskala dari hemometer Sahli dengan larutan HCL 0,1 N sampai
tanda angka 2.
4) Menghisap darah langsung dari probandus (naracoba) atau darah awetan dengan
menggunakan pipet khusus yang telah tersedia sampai tanda garis pada pipet.
5) Kemudian membersihkan ujung pipet dengan kertas tissue dan meniup darah yang
terdapat dalam pipet tersebut ke dalam tabung yang telah terisi HCL 0,1 N.
6) Kemudian menghisap lagi cairan tersebut dan meniup lagi sampai tiga kali agar
darah dan larutan tercampur rata.
7) Membiarkan selama kurang lebih 2 menit.
8) Kemudian menambahkan tetes demi tetes aquadest sambil diaduk dengan
pengaduk khusus (batang kaca) sampai warnanya sesuai dengan warna tabung
standar dari hemometer Sahli.
9) Kemudian membaca dan mencatat angka pada tabung berskala yang
menunjukkan kadar Hb dalam gr/100 ml darah atau gr/dl.
7)

E. HASIL PRAKTIKUM
F. Tabel . Data Hasil pengukuran Hb
8)
9)

Perempuan
10)
Nama

11)

Umu 12)

( Tah

13)

un )
15) 2 16)

14) He
sti
Lo
ka

Jumlah Hb ( g / dl )

14

nin
gr
17)
2

um
18) Sis

20)

11,2

24)

10,8

28)

10,6

32)

12,2

35) 1 36)

10,2

ka
Li
pd

19) 1

ya

nin
gsi
21)
3

h
22) Yu
ris
ka
Fit
ri

23) 1
9

Dy
ah
25)
4

U.
26) As
ni
Nu

27) 1

rha

yat
29)
5

i
30) Ins
iwi
Pu
rw
ian

31) 2
0

sh
33)

ari
34) Nu

r
Ts
ani
Ra

hm
aw
37)
7

41)
8

ati
38) Ve

40)

lla

39) 1

Li

ani
42) Di

9,8

44)

10,8

48)

9,8

52)

10

55) 1 56)

10

va
Ap
rili
a

43) 1
9

Af
ifa
45)
9

h
46) Bri
lia
na
Su
rya

47) 1
9

ni
49)
10

K
50) Tri
Wi
da
ya

53)
11

nti
54) Nu
r

51) 1
9

Kh
oti
ma
57)
12

h
58) Is

60)

13

64)

8,1

68)

10,8

72)

8,4

75) 1 76)

10

mi
Nu
rhi
da

59) 1
9

ya
61)
13

h
62) W
ula
n
No
vit

63) 1
9

asa
65)
14

ri
66) As
ifa
tul
M
adi

67) 2
0

na
69)
15

h
70) De
sy
No

71) 2

rm

ali
73)
16

a
74) Int
an

Ay
u
Pr
ati
77)
17

wi
78) A
ma
lia
Al

81)
18

80)

84)

88)

12,2

92)

11,4

79) 2
0

a
82) Ha
na
Wi

83) 2

diy

ant
85)
19

i
86) Ri
zk
y
W
ula

87) 1
9

nd
89)
20

ari
90) He
rvi
na
Su

91) 1

rya

Ka
rti
93)
21

ka
94) Yu
nia

95) 1 96)
9

9,4

r
Ku
rni
a
97)
22

W.
98) En

100)

11,2

104)

10

108)

9,5

da
h
Ra

99) 2
0

tna
Sa
101)
23

ri
102) U
lfa
Nu
r

103)

20

ah
yu
105)
24

di
106) S
al
ma

107)

Na

19

diy
109)
25

ah
110) H
ani
kar
tin
i
Ha

111) 112)
20

10,6

naf
i
113) Total
115) Rata-rata
117) Standar deviasi

114) 261
116) 10,44
118) 1,432
073

G.
119) Laki-laki
120) 121) Nama
No
124) 125)
1.

Roni

Bima

Gana

6.

130)
131)

Jaka Fitriyanta

Tonny

Haryo

Wibisono

140) 141)

144)

134)
135)

11,2

136) 137)

5.

Jumlah Hb (g/dl )

3.

4.

123)
126)
127)

Pradana

132) 133)

Umur

( Tahun )

Ardyantoro

128) 129)
2.

122)

Aris

138)
139)

10

2
Setiyanto

Wibowo

142)
143)

13

2
145) A

147)

friz

146)

al

9,3

Hari
148)
7.

s
149) Ir
fan
Han
is

150)
151)
2

9,4

Pras
etya
152)
154)
156)

Total
Rata-rata
Standar deviasi

153) 69,9
155) 9,98
157) 1,6476

H.

158)
159) Hasil Pengamatan kelompok
160)

161) NAMA

164)

165) Tri Widayanti

168)

169) Nur Khotimah

172)

173) Ismi
Nurhidayah
I. PEMBAHASAN
176)

162)
UM
U
R

166)
19
170)
19
174)
19

163)
KA
D
A
R
H
B
(
g
r
%
)
167)
10
171)
10
175)
13

Pada praktikum yang berjudul Mengukur kadar Hemoglobin (Hb)

mempunyai tujuan Mengukur kadar Hemoglobin (Hb) dilaksanakan di laboratorium


zoologi FMIPA UNY. Erythrocyte merupakan salah satu sel tubuh manusia yang tidak
memiliki inti (nonnucleated cell), tetapi sitoplasma memiliki protein yang berfungsi
sebagai pengangkut oksigen (O2) yang disebut hemoglobin (Hb). Hemoglobin (Hb)
tersusun atas protein globin dan ferrroproto-porfirin (heme) yang berikatan nonkovalen.
Setiap molekul Hb memiliki 4 atom Fe yang terdapat pada heme, dan setiap atom Fe
dapat mengikat oksigen

bsecara reversible, dengan demikian setiap molekul Hb

teroksigenasi atau disebut HbO2 (oksi Hb) mengandung 4 mol oksigen. Hb juga dapat

berikatan dengan CO2 pada gugus asam aminonya membentuk karbaminoHb (HbCO 2),
juga dengan NO membentuk HbNo. Peroksid, ferrisianid, kuonin, dapat mengoksidasi
Fe2+ menjadi Fe3+ sehingga terbentuk metHb yang tidak mampu mengikat oksigen
maupun CO. MetHb dapat direduksi menjadi Hb oleh dithionit (Na 2S2O4). MetHb dapat
bereaksi dengan anion OH- pada H+ basa/alkalis dan Cl- pada pH asam (Nurcahyo, 2013:
21).
177)
178) Praktikum ini diawali dengan menyiapkan larutan HCl 0,1 mol dalam
tabung kecil(tabung khusus) sampai angka 2, lalu mengambil darah probandus dari ujung
jari tengah/manis, dihisap dan dicampurkan ke dalam larutan HCl tadi,
179) Reaksinya sebagai berikut
180) Hb + HCL
Globin-HCL + Ferroprotoporfirin
181) Fungsi penambahan larutan HCl di sini agar darah tidak mengalami
koagulasi sehingga tetap dapat dianalisa. Setelah menunggu 2 menit lalu letakan
disamping hemoglobinometer ahli, dicocokan dengan warnanya jika belum sama,
tambahkan aquadest tetes demi tetes sampai warnanya sama jika sudah sama dilihat
skalanya ,didapatkan hasil 2 probandus memiliki Hb 10 sedangkan yang satu 13. Jika kita
bandingkan dengan Hb ideal untuk perempuan yaitu menurut Nurcahyo Pada manusia,
kadar Hb pada kondisi normal bervariasi sekitar 14,9 1,5 gr/dL (pada laki-laki dewasa)
dan 13,7 1,5 gr/dL (pada perempuan dewasa). Probandus di atas adalah perempuan
semua, maka hanya ada satu yang ideal sedangkan 2 yang lainnya kurang dari ideal.
182)

Kadar hemoglobin darah merupakan salah satu indicator apakah hewan atau

manusia menderita anemia .Afinitas Hb terhadap O2 dipengaruhi oleh factor:


5.
6.
7.
8.

Tekanan partial CO2 (P CO2)


Suhu tubuh
pH darah
Kadar 2,3 fosfogliserat dalam darah
183)
184)

185)
186)
J. KESIMPULAN
187) Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil pembahasan di atas maka dapat
disimpulkan cara mengukur Hb adalah dengan metode ahli dan hasilnya
adalah 10,10,13, jika dirata-rata menjadi 11.
K. DAFTAR PUSTAKA
188) Guyton, Arthur. 1987. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta: EGC
Buku Kedokteran.

189)

Nurcahyo, Heru dan Tri Harjana. 2013. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan.
Yogyakarta: FMIPA UNY.
190) Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Depdikbud Dikti.
191) Suripto. 1998. Fisiologi Hewan. Bandung: ITB.

192)
193) SISTEM KARDIOVASKULAR
194) KEGIATAN 7
195) UJI GOLONGAN DARAH DENGAN SISTEM ABO DAN
MENENTUKAN WAKTU KOAGULASI DARAH
A. PERMASALAHAN PRAKTIKUM
196) 1. Bagaimana Menentukan Golongan Darah dengan Sistem ABO?
197)

2. Bagaimana Menentukan Waktu Koagulasi Darah?

198)
B. TUJUAN :
199) 1. Menentukan Golongan Darah dengan Sistem ABO
200)
201)

2. Menentukan Waktu Koagulasi Darah

C. DASAR TEORI
202)
Sistem penggolongan darah ABO ditentukan oleh antigen
(Aglutinogen) A,B, H/O
203)
Gol

204)
A

205)
A

206)
D

207)
D

208)
O

209)
K

210)
a

211)
A

212)
O

213)
A

214)
A

215)
B

216)
A

217)
O

218)
B

219)
B

220)
A

221)
B

222)
O

223)
AB
228)

224)
A

225)
K

226)
A

227)
O

(Basoeki, 254: 1988)

229) Selain itu masih terdapat sistem penggolongan darah lainnya yaitu Lewis. Antigen
Lewis yaitu le-a, ke-b yang terdapat di dalam plasma. MN grup didasarkan pada adanya
protein glipkoporin. Glikoporin A untuk gol M dan glikoporin B untuk golongan N.
Demikian juga faktor Rh+ dan Rh- (Nurcahyo, 26:2013)
230)

Pembekuan (koagulasi) darah.

231) Pembekuan darah adalah perubahan bentuk darah dari bentuk cair menjadi gel
padat. Pembentukan satu bekuan di atas sumbat trombosit akan menguatkn dan
menyangga sumbat diatas pembuluh yang rusak. Pembekuan darah merupakan
mekanisme homeostasis tubuh yang sangat penting untuk menghentikan pendarahan pada
luka yang besar. Proses pembekuan darah merupakan satu proses yang kompleks, melalui
beberapa tahap,dan melibatkan beberapa faktor pembekuan darah (soewalo,101:2000)
232) Mekanisme pembekuan darah
233)
234)

Protrombin

235) Aktivator protrombin

ca

236) Ekstrinsik atau intrinsik


237)
238)
239)
240)

Trombin
Fibrinogen

monomer fibrin
ca

Faktor pensttabilisasi fibrin

Benang-bena fibrin

241) Protrombin adalah satu protein plasma, protomin terdapat pada plasma
normal dalam konsentrasi 15 mg/100 ml, protombinadalah senyawa yang
tidak stabil yang dapat pecah dengan mudah menjadi senyawa yang lebih
kecil, salah satu diantaranya adalah trombin. Vitamin k diperlukan oleh hati
untuk pembentukan normal protrombin, oleh karena itu kekurangan vitamin
k atau adanya penyakit hati yang menghalangi pembentuka protrombin
normal dan sering menurunkan kadar protrombin sehingga dapat
menyebabkan perdarahan. Fibrinogen adalah protein berukuran besar,
fibrinogen dalam keadaan normal hanya sedikit yang menembus cara

intersitial dan Iin adalah salah satu faktor penting dalam proses pembekuan
darah. (Guyton, 74: 1987)
242) Trombin adalah enzim protein dengan kemampuan proteolitik. Ia bekerja
pada fibrinogen untuk membuang dua peptida dengan berat molekul rendah
dari setiap molekul fibrinogen membentuk molekul monomer fibrin yang
memiliki kemampuan otomatis melakukan polimerisasi dengan molekul
fibrin monomer lainnya. Oleh karena itu banyak molekul fibrin monomer
mengalami polimerisasi dalam beberapa detik menjadi benang benang fibrin
panjang yang membentuk retikulum bekuan
243) Waktu bekuan darah mulai terbentuk, dalam keadaan normal bekuan
meluas dan beberapa menit kedarah sekitarnay,yaitu bekuan itu sendiri
mengawali lingkaran proses untuk menambah lebih banyak bekuan (Guyton,
74: 1987)
244)
245)
C. METODE PRAKTIKUM
246) Uji golongan darah
247) Jenis kegiatan : pengamatan probandus (observasi)
248) Objek pengamatan :darah probandus
249) Bahan dan alat
250) Uji golongan darah dengan sistem ABO memerlukan alat dan ban
sebagai berikut:
251) Alat-alat:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Blood Lanset steril (disposible)


Kapas alkohol
Objek gelas 2 buah
Tusuk gigi beberapa batang
Serum anti-A dan serum anti-B
Larutan garam fisiologis
252) Cara kerja

a. Siapkan objek kaca dan bersihkan kemudian beri tanda lingkaran sebanyak 3 buah
dengan spidol
b. Sterilkan kulit ujung jari tengah atau jari manis dengan kapas alkohol, biarkan sampai
mengering.

c. Tusuklah ujung jari tengah atau jari manis nanaroba dengan menggunakan bllod lancet
steril (disposable) sehinggadarah kelu dan teteskan pada asing-masing bulatan satu tetes
darah pada kaca objek yang telah disiapkan tadi.
d. Uji tetes pertama dengan serum anti -A, tetes darah kedua dengan NaCl dan tetes ketiga
dengan serum anti-B, kemudian aduk dengan pengaduk(dari batang korek api, tusuk gigi
dll asalkan ujung yang telah digunakan untuk mengaduk tidak digunakan untuk
mengaduk yang lain. Amati pada setiap tetes darah apakah terjadi aglutinasi atau tidak,
kemudian tentukn apakah jenis golongan darah naracoba tersebut.
253) Waktu koagulasi darah
254) Jenis kegiatan : pengamatan (observasi)
255) Objek pengamatan : darah probandus.
256) Bahan dan alat
1.
2.
3.
4.

Kaca objek 1 buah


Jarum pentul
Blood lancet steril (disposable)
Kapas alkohol
257) Cara kerja

1. Sterilkan kulit ujung jari manis atau jari tengah dengan kapas alkohol, biarkan sampai
mengering.
2. Tusuklah ujung jari manis atau tengah naracoba dengan Blood lancet steril sehingga
darah keluar
3. Teteskan satu tetes darah pada kaca objek, kemudian setiap 30 detik lakukan tusukan
dengan menggunakan jarum pentul pada tetes darah tadi.
4. Amati adanya benang-benang fibrin, jika ada catatlah waktunya. Waktu tersebut
merupakan waktu koagulasi
D. HASIL PRAKTIKUM
258) TABEL HASIL PENGAMATAN KELAS
259)

260) N
ama

261)

262)

Gol

Wak
o

a
g

263)

264) H
esti

265)

266)

30

Loka

ningr

um

ti
k
K
e

267)

268) Si
ska

269)

9
270)

30

Lipd

yani

ngsih

ti
k
K
e
1

271)

272) R
oni

273)

1
274)

30

Ardy

antor

ti
k
K

e
275)

276) Y
urisk

277)

2
278)

30

Fitri

Dyah

ti

U.

k
K
e

279)

280) A
sni

281)

8
282)

30

Nurh

ayati

e
ti
k
K
e

283)

284) Bi
ma

285)

4
286)

30

Gana

Prad

ana

ti
k
K
e

287)

288) In
siwi
Purw

289)

2
290)

30
D

iansh

ari

ti
k
K
e

291)

292) N
ur

293)

3
294)

30

Tsani

Rah

maw

ti

ati

k
K
e

295)

296) Ve
lla

297)

6
298)

30

Liani

D
e
ti
k
K
e

299)

300) Di

301)

2
302)

va

AB

30

April

ia

Afifa

ti

k
K
e

303)

304) Br
ilian

305)

2
306)

30

Sury

ani

ti

k
K
e

307)

308) Ja
ka

309)

2
310)

30

Fitri

yanta

e
ti
k
K
e

311)

312) Tr
i

313)

1
314)

30

Wida

yanti

e
ti
k
K
e
1

315)

316) N
ur
Khot

317)

1
318)

30
D

imah

e
ti
k
K
e

319)

320) Is
mi

321)

8
322)

30

Nurh

idaya

ti
k
K
e
1

323)

324) W
ulan

325)

0
326)

30

Novi

tasari

e
ti
k
K
e

327)

328) A
sifat

329)

5
330)

AB

30

ul

Madi

nah

ti
k
K

e
331)

332) To
nny

333)

9
334)

30

Hary

Wibi

ti

sono

k
K
e

335)

336) D
esy

337)

1
338)

30

Nor

mali

ti
k
K
e

339)

340) In
tan

341)

9
342)

30

Ayu

Prati

wi

ti
k
K
e

343)

344) A
mali
a Ala

345)

3
346)

30
D

e
ti
k
K
e
347)

348) H
ana

349)

2
350)

30

Widi

yanti

e
ti
k
K
e

351)

352) Ri
zky

353)

5
354)

30

Wula

ndari

e
ti
k
K
e

355)

356) H
ervin

357)

1
358)

30

Sury

ti

Karti

ka

K
e

359)

360) Y
uniar

361)

1
362)

30

Kurn

ia W.

e
ti
k
K
e

363)

364) E
ndah

365)

8
366)

30

Ratn

Sari

ti
k
K
e

367)

368) Ul
fa

369)

3
370)

30

Nur

Wah

yudi

ti
k
K
e

371)

372) Ar
is

373)

4
374)

30

Setiy

anto

Wibo

ti

wo

k
K
e

375)

376) Sa
lma

377)

1
378)

30

Nadi

yah

e
ti
k
K
e

379)

380) Af
rizal

381)

4
382)

30

Haris

D
e
ti
k
K
e
8

383)

384) Irf
an

385)

4
386)

30

Hani

Prase

ti

tya

k
K
e

6
387)

388) K
artini

389)

6
390)

30
D
e
ti
k
K
e
1
0

391)
392)
E. PEMBAHASAN
393) Pada praktikum yang berjudul Uji Golongan Darah Dengan Sistem Abo
Dan Menentukan Waktu Koagulasi Darah mempunyai tujuan Menentukan
Golongan Darah dengan Sistem ABO, Menentukan Waktu Koagulasi Darah,
dilaksanakan di laboratorium zoologi FMIPA UNY.
394) Menurut basoeki (1988) Sistem penggolongan darah ABO ditentukan oleh antigen
(Aglutinogen) A,B, H/O
395)
Gol

396)
A

397)
A

398)
D

399)
D

400)
O

401)
K

402)
a

403)
A

404)
O

405)
A

406)
A

407)
B

408)
A

409)
O

410)
B

411)
B

412)
A

413)
B

414)
O

415)
AB

416)
A

417)
K

418)
A

419)
O

420)
Dalam praktikum ini terdapat 3 probandus yang akan diuji golongan
darahnya dan waktu koagulasinya, masing masing probandus mengambil darah yang ada
dijari tengah atau manis dengan mengguanakan blood lancet steril. Lalu meneteskan pada
kaca objek sebanyak 3 tetes (masing2 1 tetes) 1 tetes pertama ditambah aglutinogen A, tetes
kedua ditambah aglutinogen B dan yang ketiga setiap 30 detik ditusukkan tusuk gigi dan
diangkat untuk melihat apakah sudah terjadi koagulasi atau belum. Hasinya adalah sebagai
berikut:
421)

427)

433)

439)

422)
Nam
a
428)

423)
Seru

424)

425)

426)
W

429)
Anti

430)

431)

432)

434)
Tri
W
i
d
a
y
a
n
ti
440)
Nur
K
h
o
ti
m
a

435)
--

436)

437)

438)
5

441)
--

442)

443)

444)
4

445)

h
446)
Ismi
N
u
r
h
i
d
a
y
a
h

447)
--

448)

449)

450)
5

451)
452) Keterangan : --: tidak terjadi koagulasi
453)
+: terjadi koagulasi
454) Karena darah probandus 1, 2 tidak menggumpal setelah diberi anti A dan
B maka darah bergolongan O karena O tidak memiliki aglutinogen A&B,
danmemiliki aglutinin a dan b sedangkan probandus 3 menggumpal saat
diberi Anti B maka probandus 3 bergologan darah B karena memiliki
aglutinogen B, tetapi tidak memiliki aglutinin b.
455) Jika dilihat dari waktu koagulasi maka probandus 2 paling cepat
mengalami koagulasi
456) Menurut soewalo (200) Pembekuan darah adalah perubahan bentuk darah
dari bentuk cair menjadi gel padat. Pembentukan satu bekuan di atas sumbat trombosit
akan menguatkn dan menyangga sumbat diatas pembuluh yang rusak. Pembekuan darah
merupakan mekanisme homeostasis tubuh yang sangat penting untuk menghentikan
pendarahan pada luka yang besar. Proses pembekuan darah merupakan satu proses yang
kompleks, melalui beberapa tahap,dan melibatkan beberapa faktor pembekuan darah
457)

Mekanisme pembekuan darah


458)
459)

Protrombin

460) Aktivator protrombin

ca

461) Ekstrinsik atau intrinsik


462)
463)
464)

Trombin
Fibrinogen

monomer fibrin
ca

Faktor pensttabilisasi fibrin

465)

Benang-bena fibrin

466) Waktu praktikum saat detik ke tiga puluh sekian yang terangkat adalah
benang benang fibrin yang mekanisme terbentuknya seperti skema di atas.
467)
F. KESIMPULAN
468) Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil pembahasaan probandus 1 dan 2
memiliki goglongan darah O karena tidak menggumpal saat diberi Anti A dan
Anti B , sedangkan probandus 3 bergolongan arah B karena menggumpal
saat diberi Anti B.
G. DAFTAR PUSTAKA
469)

Basoeki,Soedjono. 1988.Anatomi dan Fisiologi Manusia. Jakarta : Dirjen Dikti.

470) Guyton,Arthur.1987. Fisiologi Manusia Dan Mekanisme Penyakit. Jakarta :EGC


Penerbit Buku Kedokteran
471) Nurcahyo, Heru & Tri Harjana. 2013. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan.
Yogyakarta : FMIPA UNY
472)

Soewolo. 2000.Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta :Dirjen Dikti.


473)
474)
475)
476)
477)
478)
479)
480)
481)
482)
483)
484)
485)
486)

487)
488)
489)
490)
491)
492)
493)
494)
495)
496) SISTEM EKSKRESI
497) KEGIATAN 8
498) STRUKTUR MORFOLOGI GINJAL, SIFAT FISIK URIN
A. PERMASALAHAN PRAKTIKUM
1. Bagaimana Mengamati Struktur Anatomi Mikroskopik Ginjal Mamalia?
2. Bagaimana Mengamati Warna,Kejernihan, dan Derajat Keasaman (PH) Urine?
499)
B. TUJUAN :
1. Mengamati Struktur Anatomi Mikroskopik Ginjal Mamalia
2. Mengamati Warna,Kejernihan, dan Derajat Keasaman (PH) Urine
500)
C. DASAR TEORI
501) Ginjal menyerupai biji kacang panjang, dengan ukuran panjang 6-7 cm,
lebar 3 - 41/2 cm dan tebal 11/2 cm. Biasanya ginjal kiri lebih besar daripada
ginjal kanan. Ginjal terletak dibelakang peritoneum parietal, berhadapan
dengan dinding abdominial posterior, pada thoracalis terkahir dan tiga
lumbalis pertama. Hati mendesak ginjal kanan ke bawah sehingga
kedudukannya lebih bawah daripada ginjal kiri. Biasanya ginjal dilandasi
dengan bantal yang kuat sehingga tetap pada posisinya, tetapi orag yang
sangat kurus bisa menderita ptosis (penurunan) satu atau kedua orang ini.
Jaringan ikat (fascia renalis) mengikat ginjal pada struktur sekitarnya yang
membantu mempertahankan posisi normalnya (Basoeki, 1988: 394).

502)

Ginjal berbentuk seperti kacang pada beberapa spesies hewan Mammalia seperti:

kambing. Paling luar diselubungi oleh jaringan ikat tipis yang disebut kapsula renalis. Ginjal
dapat dibedakan menjadi bagian korteks yakni lapisan sebelah luar warnanya coklat agak terang
dan medulla yaitu lapisan sebelah dalam warnanya agak gelap. Ginjal mempunyai bagian
cekungan yang disebut hilum. Pada hilum terdapat bundle saraf, arteri realis, vena renalis, dan
ureter. Ginjal memperoleh suplai darah dari aorta abdominalis yang bercabang menjadi arteri
renalis, arteri interlobaris, arteri arcuata, arteri interlboularis, arteriole aferen, glomerulus,
arteriole eferen, kapiler peri tubuler (juxta glomerulare), vena interlobularis, vena arcuata, vena
interlobularis, vena renalis. Ginjal selain berfungsi sebagai alat ekskresi juga berperan
menghasilkan hormone seperti: renin-angiotensin, erythropoietin, dan mengubah provitamin D
menjadi bentuk aktif (vitamin D) (Nurcahyo, 2013: 45).
503)

Kedua ginjal bersama-sama mengandung kira-kira 2.400.000 nefron, dan tiap

nefron dapat membentuk urin sendiri. Pada dasarnya nefron terdiri dari (1) suatu glomerulus dari
mana cairan difiltrasikan dan (2) suatu tubulus panjang tempat cairan yang difltrasikan tersebut
diubah menjadi urina dalam jalannya ke pelvis ginjal (Guyton, 1987: 287).
504)

Ginjal mendapat suplai darah dari arteri renalis yang kemudian

bercabang-cabang menjadi glomerulus. Glomerulus dan tubulus ginjal


menyusun nefron (nephron) yang berperan sebagai unit fungsional terkecil
dalam pembetukan urin. Kapsula bowman dari glomerulus merupakan
tempat filtrasi darah, kemudian cairan hasil filtrasi (ultrafitrat) melewati
tubulus ginjal dan akhirnya terbentuk urin. Glomerulus dan tubulus paling
banyak terdapat pada bagian korteks renalis. Ginjal merupakan organ
ekskresi terpenting melalui pembentukkan air kencing (urin). Air kencing
ditampung pada pelvis renalis dan dikeluarkan lewat ureter menuju ke vesica
urinaria. Pengamatan struktur anatomi makroskopis ginjal Mammalia
(kambing) merupakan dasar untuk memahami fungsi fisiologis ginjal
(Nurcahyo, 2013: 45).
505)

Unit structural dan fungsional ginjal dalam pembentukan urine

adalah nefron (nephron). Nefron dapat dibedakan menjadi glomerulus


(nefron vaskuler) dan tubulus (nefron epithel). Nefron pembuluh yaitu
arteriole aferen, glomerulus, arteriole eferen, dan kapiler peritubuler.

Nephron epithel yaitu kapsula Bowman,tubulus convulatusn proximal, loop


of Henle, tubulus convulatus distal dan tubulus collectivus. Proses
pembentukan urine meliputi: filtrasi glomerular, reabsorpsi tubuler, dan
sekresi tubuler (Nurcahyo, 2013: 46).
506)

Ekskresi oleh ginjal memiliki peranan untuk:

1. Memelihara keseimbangan air


2. Memelihara keseimbanganelektrolit Na+, K+, Mg2+, Cl-, dan Ca+2. Ion Na+, Cl-, dan HNO3merupakaion ekstraseluler, sedangkan K+ dan Mg2+ merupakan ion intarseluler.
3. Memelihara pH darah.
4. Mengeluarkan sisa-sisa limbah metabolism yang merupakan racun bagi tubuh organisme
seperti:
a) Urea

(CO(NH)2)

berasal

dari

katabolisme

asam

amino

pada

proses

gluconeogenesis menjadi senyawa bukan nitrogen dan senyawa nitrogen.


Senyawa nitrogen kemudian diubah menjadi ammonia (agak toksik) oleh enzim
deaminase. Selanjutnya di sel hati, ammonia melalui siklus ornitin akan
dikombinasikan dengan karbondioksida menjadi urea (tidak toksik) dan kemudian
dikeluarkan lewat ginjal.
b) Asam urat, berasal dari nitrogen asam nukleat purine dan pirimidin. Kelebiha
asam urat akan ditimbun pada persedian dan dapat menimbulkan nyeri sendi
(gout). Hewan yang hanya mengeksresikan asam urat disebut uricotelic excretion.
c) Kreatinin berasal dari kreatin posfat (sumber energi) yang banyak terdapat dalam
otot. Pemecahan keratin akan menghasilkan kreatinin, terutama ditemukan pada
kondisi puasa (Nurcahyo, 2013: 48-49).
507)

Hasil sampingan kegiatan ginjal adalah urine. Nama urine diperoleh dari satu

penyusunnya yaitu uric acid. Pada orang sehat, volume, pH, dan konsetrasi solute bervariasi
dengan kebutuhan lingkungan iternal. Selama kondisi patologik tertentu, karakteristik urie dapat
beruabah secara drastis. Analis tentang volume, sifat fisik dan kimia urine memberitahu kita
banyak hal tentang keadaan tubuh. Volume urine yang dibuang tiap hari pada orang normal
bervriasi antara 1-2 liter. Volume urine dipengaruhi oleh sejumlah factor: tekanan darah,
konsentrasi darah, makanan, temperature, ADH, keadaan kejiwaan, dan kesehatan umum
(Basoeki, 1988: 408-409).
508)

Urin normal biasanya berwarna kuning atau kuning gading, tembus cahaya

dengan bau khas. Warnanya disebabkan oleh urochrome, suatu pigmen yang dihasilkan dari

metabolism empedu. Warna urine bervariasi dengan rasio solute dan air dalam urine. Makin
kurang airnya, makin gelap warnannya. Demam menurunkan volume urine, demikian pula pada
lingkungan yang bersuhu tinggi, kadang-kadang pembuatan urine benar-benar pekat. Adalah
biasa penderita demam mempunyai urine berwarna kuning tua atau coklat. Warna urine juga
dipengaruhi makanan, seperti warna kemerahan bit, dan karena adanya kandungan zat-zat
abnormal, seperti obat-obatan tertentu. Warna merah atau coklat ke hitam dapat menunjukkan
adanya sel-sel darah merah atau hemoglobin dari pendarahan dalam system urinaria (Basoeki,
1988: 410).
509)

Urine segar biasanya jernih. Urine keruh tidak harus menunjukkan keadaan sakit,

karena kekeruhan bisa akibat dari mucin yang diekskresikan oleh lapisan saluran urinari. Adanya
mucin diatas tingkat kritis biasanya menunjukkan suatu abnormalitas. Urine normal sedikit asam,
pHnya 4,6-8,0. Variasi pH urine erat hubungannya dengan makanan. Variasi ini karena
perbedaan dalam hasil akhir metabolism. Suatu makanan yang disusun banyak sayur menambah
kebasaan. Ketinggian tempat, banyak latihan juga menyebabkan variasi pH urine. Amonia
karbonat membentuk urine berbau ammonia. Adanya ammonia karbonat cenderung membuat
urine lebih alkalin (Basoeki, 1988: 410-411).
510)
D. METODE PRAKTIKUM
511) Jenis pengamatan :pengamatan (observasi)
512) Objek pengamatan ginjal kambing
513) Bahan dan alat yang digunakan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Bak parafin
Alat seksi yang terdiri atas
Kapel
Pinset
Klem
Penusuk
Gunting
Ginjal kambing segar
514) Cara kerja
515) Amati struktur anatomi bagian luar ginjal dengan seksama, kemudian
belahlah ginjal tersebut dan amati bagian-bagina berikut ini

Arteri realis

Vena realis
Ureter
Pelvis emis
Kapsul ginjal
Calyx mayor
Calyx minor
Papila realis
Piramida realis
Korteks
Medula (bergaris)
516)
517)
518) Pemeriksaan Warna,Kejernihan, Dan Ph Urine
519) Metode pengamatan
520) Jenis kegiatan :pengamatan (observasi)
521) Objek pengamatan :Urin probandus
522) Cara kerja, bahan dan alat

1. Pemeriksaan warna Urin


523) Alat dan bahan yang digunakan:
a. Tabung reaksi
b. Urine probandus
524)

Cara kerja

a. Memasukan kira-kira 10 ml urine naracoba ke dalam tabung reaksi kemudian amati


dengan cara menerawangkan tabung yang berisi urine tersebut dari arah datang Noya
cahaya dan posisi tabung agak dimiringkan
b. Nyatakan warna urine tersebut dalam tidak berwarna, kuning muda, kuning tua,
kuning kemerahan, cokelat khijauan , putih seperti susu. Jelaskan warna Urin
demikian
2. Pemeriksaan kejernihan Urin
525) Alat dan bahan yang digunakan:
c. Tabung reaksi
d. Urine probandus
526)

Cara kerja

527) Lakukan langkah seperti diatas untuk pemeriksaan kejernihan dengan, jerih, agak
keruh, keruh , sangat keruh. Jelaskan mengapa kejernihan urin demikian
3. Pemeriksaan ph Urin

528) Alat dan bahan yang digunakan:


e. Tabung reaksi
f. Urine probandus
529)

Cara kerja

1. Taruhlah urine dalam tabung reaksi lalu ambil ph stik lalu celupkan ke dalam tabung
tersebut, amati perubahan warnanya dan catat phnya.
530)
E. HASIL PRAKTIKUM
531)

532)
533) Data hasil pengamatan warna, kejernihan dan pH urin
534)

1.

535)
Na
m
a
542)
Hes
t
i

536) Indikator
539)
540)
w
ke

541)
M

543)
K

545)
6

544)
Je

2.

3.

4.

L
o
k
a
n
i
n
g
r
u
m
546)
Sis
k
a
L
i
p
d
y
a
n
i
n
g
s
i
h
550)
Yur
i
s
k
a
F
i
t
r
i
554)
Tri
W

547)
K

548)
Je

549)
6

551)
K

552)
je

553)
7

555)
K

556)
je

557)
6

5.

6.

7.

i
d
a
y
a
n
t
i
558)
Nur
K
h
o
t
i
m
a
h
562)
Ism
i
N
u
r
h
i
d
a
y
a
h
566)
Asn
i
N
u
r
h
a
y
a
t

559)
K

560)
je

561)
6

563)
K

564)
je

565)
6

567)
K

568)
je

569)
7

8.

9.

10.

11.

i
570)
Insi
w
i
P
u
r
w
i
a
n
s
h
a
r
i
574)
Nur
T
s
a
n
i
R
578)
Vell
a
L
i
y
a
n
i
582)
Div
a
A
p
r

571)
K

572)

573)
7

575)
K

576)

577)
7

579)
K

580)
+

581)
6

583)
K

584)
+

585)
5

12.

i
l
i
a
586)
Bril
i
a
n
a

587)
K

588)
+

589)
6

591)
K

592)
je

593)
5,

595)
K

596)
Je

597)
6

M
598)
Des
y

599)
K

600)
A

601)
5,

N
602)
Inta
n

603)
K

604)
Je

605)
7

S
u
r
y
a
n
i
13.

14.

15.

16.

K
590)
Wu
l
a
n
N
594)
Asi
f
a
t
u
l

a
y
u
17.

18.

19.

P
606)
Am
a
l
i
a
A

l
a
610)
Ha
n
a
W
i
d
i
y
a
n
t
i
614)
Riz
k
y
W
u
l
a
n
d
a
r

607)
K

608)
Je

609)
7

611)
K

612)
Je

613)
7

615)
K

616)
A

617)
7

20.

21.

22.

23.

i
618)
Her
v
i
n
a
S
u
r
y
a
622)
End
a
h
R
a
t
n
a
626)
Yun
i
a
r
K
u
r
n
i
a
630)
Ha
n
i
k
a
r
t
i

619)
K

620)
A

621)
7

623)
K

624)
je

625)
6

627)
K

628)
je

629)
6

631)
K

632)
je

633)
6

n
i

24.

H
a
n
a
f
i
634)
Ulf
a

635)
K

636)
je

637)
6

639)
k

640)
je

641)
6

643)
K

644)
+

645)
7

N
u
r

25.

26.

W
a
h
y
u
d
i
638)
Sal
m
a
N
a
d
i
y
a
h
642)
Ton
n
y
H
a
r

y
o
27.

W
646)
Bi
m
a

647)
K

648)
+

649)
7

651)
K

652)
+

653)
6

655)
k

656)
Je

657)
6

G
a
n
a

28.

29.

P
r
a
d
a
n
a
650)
Ro
n
y
A
r
d
i
a
n
t
o
r
o
654)
Afr
i
z
a
l
H

a
r
i
s
658)
Ari
s

30.

S
e
t
i
y
a
n
t
o
662)
Irfa
n

31.

H
a
n
i
s
666)
Jak
a

32.

659)
K

660)
Je

661)
7

663)
K

664)
Je

665)
7

667)
K

668)
je

669)
7

F
i
t
r
i
y
a
n
t
a
670)
671)
672)

673)

674) Nama

677)
T

678)
N

679)
I

680)
1

681)
W

682)
K

683)
K

684)
K

685)
2

686)
K

687)
J

688)
J

689)
J

690)
3

691)
P

692)
6

693)
6

694)
6

F. PEMBAHASAN
695) Pada praktikum yang berjudul struktur anatomi ginjal dan sifat fisik urin,
mempunyai tujuan Mengamati Struktur Anatomi Mikroskopik Ginjal Mamalia,
Mengamati Warna,Kejernihan, dan Derajat Keasaman (PH) Urine dilaksanakan di
laboratorium zoologi FMIPA UNY.
696) Praktikum ini diawali dengan memberikan arahan kepada probandus untuk
menghasilkan urin setelah itu diamati di tempat yang terang, warna, kejernihan, pH nya,
pada praktikum ini 3 probandus memiliki sifat fisik Urin yang sama yaitu warna kuning,
jernih dan pHnya 6, Menurut basoeki (1988) Urin normal biasanya berwarna kuning atau
kuning gading, tembus cahaya dengan bau khas. Warnanya disebabkan oleh urochrome,
suatu pigmen yang dihasilkan dari metabolism empedu. Warna urine bervariasi dengan
rasio solute dan air dalam urine. Makin kurang airnya, makin gelap warnannya. Demam
menurunkan volume urine, demikian pula pada lingkungan yang bersuhu tinggi, kadangkadang pembuatan urine benar-benar pekat. Adalah biasa penderita demam mempunyai
urine berwarna kuning tua atau coklat. Warna urine juga dipengaruhi makanan, seperti
warna kemerahan bit, dan karena adanya kandungan zat-zat abnormal, seperti obatobatan tertentu. Warna merah atau coklat ke hitam dapat menunjukkan adanya sel-sel
darah merah atau hemoglobin dari pendarahan dalam system urinaria, jadi jika dilihat
dari urin probandus ini termasuk golongan orang sehat
697) Menurut Basoeki (1988)Pada orang sehat, volume, pH, dan konsetrasi
solute bervariasi dengan kebutuhan lingkungan iternal. Selama kondisi patologik tertentu,
karakteristik urie dapat beruabah secara drastis. Analis tentang volume, sifat fisik dan
kimia urine memberitahu kita banyak hal tentang keadaan tubuh. Volume urine yang
dibuang tiap hari pada orang normal bervriasi antara 1-2 liter. Volume urine dipengaruhi
oleh sejumlah factor: tekanan darah, konsentrasi darah, makanan, temperature, ADH,
keadaan kejiwaan, dan kesehatan umum.

698) Setelah melakukan uji fisik urin maka kegiatan slanjutnya adalah
mengamati ginjal hewan (kambing) diawali dari bagian luar yang terlihat secara kasa
mata adalah bahwa ginjal memiliki bentuk menyerupai biji kacang panjang, dengan
ukuran panjang 6-7 cm, lebar 3 - 41/2 cm dan tebal 11/2 cm, bagian- bagian yang dapat
terlihat yaitu paling luar diselubungi oleh jaringan ikat tipis yang disebut kapsula renalis.
Ginjal dapat dibedakan menjadi bagian korteks yakni lapisan sebelah luar warnanya
coklat agak terang dan medulla yaitu lapisan sebelah dalam warnanya agak gelap. Ginjal
mempunyai bagian cekungan yang disebut hilum. Pada hilum terdapat bundle saraf, arteri
realis, vena renalis, dan ureter. Ginjal memperoleh suplai darah dari aorta abdominalis
yang bercabang menjadi arteri renalis, arteri interlobaris, arteri arcuata, arteri
interlboularis, arteriole aferen, glomerulus, arteriole eferen, kapiler peri tubuler (juxta
glomerulare), vena interlobularis, vena arcuata, vena interlobularis, vena renalis.
G. KESIMPULAN
699) Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil pembahasan maka dapat
disimpulkan
1. Ginjal berbentuk seperti biji kacang panjang terdiri atas korteks(bagian luar) yang
berwarna cokelat agak terang dan medula (bagian dalam), bagian cekungan pada
ginjal disebut hilum
2. Indikator dari sifat fisik Urin yaitu berupa warna, kejernihan, dan pH, 3probandus
dalamkelompok ini memiliki sifat fisik sama yaitu warna kuning, jernih dan ph 6.
H. DAFTAR PUSTAKA
700) Basoeki, Soedjono. 1988. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Jakarta:
701)

Depdikbud Dikti.
Guyton, Arthur. 1987. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta: EGC

702)

Buku Kedokteran.
Nurcahyo, Heru dan Tri Harjana. 2013. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan.
Yogyakarta: FMIPA UNY.

703)
704) SISTEM EKSKRESI
705) KEGIATAN 9
706) PEMERIKSAAN PROTEIN DALAM URINE DAN
PEMERIKSAAN GLUKOSA DALAM URIN
A. PERMASALAHAN PRAKTIKUM
707) 1. Bagaimana Melakukan Pemeriksaan Adanya Kandungan Protein
dalam Urine?
2. Bagaimana Melakukan Pemeriksaan Adanya Kandungan Glukosa dalam Urin?
708)
B. TUJUAN
709) 1. Melakukan Pemeriksaan Adanya Kandungan Protein dalam Urine
3. Melakukan Pemeriksaan Adanya Kandungan Glukosa dalam Urin
C. DASAR TEORI
710) Proses dan mekanisme pembentukan Urin
1. Ultrafiltrasi, berlangsung pada badan malpighi, semua molekul berukuran kecil
seperti air , glukosa, urea disaring dari plasma darah di glomerolus. Filtrasi
menghasilkan filtrat yang ditampung oleh kapsul bowman dan selanjutnya dialirkan
ke tubulus ginjal. Membran filtrasi bersifat semipermeabel artinya hanya zat-zat
tertentu yang dapat melaluinya misalnya, air glukosa, sedangkan protein tidak dapat.
Filtrasi menghasilkan ultrafiltrat (cairan glomerolus) yang mengandung air , garam
anorganik, glukosa, asam amino, asam urea, asam urat, kreatinin, tidak mengandung
sel darah merah.
711) Faktor faktor yang mempengaruhi filtrasi
712) -tekanan hidrostatik glomerolus
713) -tekanan hidrostatik kapsul bowman
714) -tekanan osmotik protein plasma pada dehidrasi, hipoproteinemia.
715) -peningkatan permeabilitas membran filtrasi karena penyakit ginjal.
716) -penurunan luas membran filtrasi, karena penyakit glomelorus
(glomerulonephritis)
2. Reabsorbsi selektif semua substansi yang berguna bagi tubuh dan yang diperlukan
untuk mempertahankan air dan komposisi garam cairan tubuh akan ditarik kembali
dan filtrat dalam tubulus ginjal ke ke dalam darah(kapiler peritubuler)
3. Sekresi yaitu memindahkan substansi yang tidak dibutuhkan oleh tubuh akan
dipindahkan dari darah (kapiler peritubuler) ke filtrat (tubulus ginjal
4. Produksi dimana sel-sel di tubulus realis dapat memproduksi substansi-substansi ke
tubulus realis atau ke kapiler peritubuler.
717) (Suripto,122:1988)
718) Mekanisme pergerakan ion-ion pada umumnya dilakukan dengan cara
Transport aktif atau difusi (Transport pasif). Reabsorbsi glukosa, on Na+,
ion Cl dilakukan dengan cara Transport aktif, meskipun dapat juga
dilakukan dengan difusi

719) Dalam proses


mempengaruhinya:
1.
2.
3.
4.
5.

pembentukan

urine

faktor

faktor

yang

Permeabilitas spesifik dari membran ke tubulus ginjal


Transport aktif yang membutuhkan energi
Difusi atau Transport pasif dari sejumlah materi melentasi membran sel
Gradien konsentrasi antara bagian korteks dengan medula.
Adanya pengendalian secara hormonal(aldosteron, angiotensin, renin, ADH)
720) (Suripto,122:1988)
721) Permeabilitas membran kapiler
722) Membran filtrasi yang normal tidak dapat ditembus oleh proteinprotein yang terdapat dalam plasma darah. Permeabilitas membran dapat
meningkat pada kondisi yang abnormal seperti misalnya suplai darah ke
ginjal berkurang, pada peristiwa anoksia (kekurangan oksigen) dan bila
terdapat substansi yang bersifat racun (Suripto,123:1988)
723) Zat zat abnormal yang ditemukan dalam urine dan merupakan
indikator adanya kelainan fungsi ginjal:

1.
2.
3.
4.
5.

Glukosa (diabetes militus)


Benda Keton (ketosis)
Albumin (nephritis)
Sel darah merah (nephritis)
Urine pada kondisi tertentu juga mengandung senyawa-senyawa lain misalnaya obat,
hormon (hCG) dsb.
724) (Nurcahyo, 52: 2013)
725)
726)

5. METODE PENGAMATAN
727) Pemeriksaan protein dalam urine
728) Jenis kegiatan: pengamatan (observasi)
729) Objek kenamaan ;Urin probandus dan Urin pembanding (positif dan
negatif)
730) Cara kerja, alat dan bahan
1. Uji Robert
731) Alat bahan yang digunakan
a. Urine naracoba
b. Tabung reaksi
c. Reagent Robert
d. Pipet pasteur
e. Urine pembanding( urine dikasih albumin/ putih telur)
f. Reagent Robert

732)
733)
734)

HNO pekat------------- 1 bagian


MgSO4----------------- 5 bagian
Larutkan 770 gram dalam 1 liter aquadest
735) cara kerja

1. Masukkkan 2 ml air naracoba ke dalam tabung reaksi kemudian tambahkan 2 ml


reagent Robert dengan menggunakan pipet ke dalam tabung tersebut melewati
dinding tabung secara perlahan-lahan
2. Gunakan latar belakang hitam/ gelap kemudianamati apa yang terjadi pada urine
tersebut.
3. Kemudi lakukan cara yang spa pada urine pembanding. Amati yang terjadi dan
bandingkn dengan urine probandus
4. Jika terdapat cincin putih pada batas antara urine dan reagent Robert, maka ereksi
positif artinya dalam Urin terdapat protein.
5. Bagaimana interpretasi nada?
736)
737) Pemeriksaan glukosa dalam urine
738) Jenis kegiatan : pengamatan (observasi)
739) Objek pengamatan :Urin probandus dan pembanding(positif dan
negatif)
740) Cara kerja, bahan, dan alat
741) Uji fehling
742) Prinsip uji fehling adalah sifat mereduksi glukosa terhadap kuprioksida
(CuSO4) sehingga terbentuk endapan berwarna merah bata (merah
kekuningan). Untuk mendapatkan hasil yang baik, sebelum digunakan
Urin dan reagen disaring dulu
743) Bahan dan alat
1.
2.
3.
4.
5.

Tabung reaksi 2 buah


Lampu spiritus
Pencepit tabung reaksi
Rak tabung reaksi
Reagent fehling
744) Cara kerja

1. Mempersiapkan reagent fehling


745) Fehling 1 : CuSo4- kristal larutkan dalam 1 liter aquadest
746) Fehling II : garam signette----------- 173 gr
747)
NaOH----------------- 50 gr
748)
Larutkan dalam 1 liter aquadest
2. Memasukan ke dalam tabung reaksi 2,5 ml urine, kemudian tambahkan pula 2,5
reagent 2,5 ml fehling

3. Gunakan penjepit bung reaksi, lalu panaskan tabung tersebut diatas spiritus sampai
mendidih
4. Amati yang terjadi
5. Untuk pembanding dilakukan hal serupa pada Urin saja dan campuran Urin dengan
glukosa
6. Jika terjadi endapan berwarna merah bata atau warna Arta berubah menjadi kuning
kemerahan, maka reaksi positif berarti Urin mwngandung glikosa
749)
D. HASIL PRAKTIKUM
750)
751)
752)
753)
754)
755)

3)

1) N

a
m
a

2) Uji Protein
7)
5)

6)

Uj

9)

10)

Ne

13)

14)

Ne

17)

18)

Ne

8) H

e
st
i
L
o
k
a
n
i
n
g
r
u
m

11)

12)

Siska
L
i
p
d
y
a
n
i
n
g
si
h

15)

16)

Asni
N
u
r
h
a
y
at
i

19)

20)

Insiw
i
P
u
r
w
ia
n
s

23)

757)
758)
759)
760)
761)
762)
763)
764)
765)
766)
767)
768)
769)
770)
771)
772)
773)
774)
775)
776)
777)
778)
779)
780)
781)
782)
783)
784)
785)

786)
787)
788)
789)
790)
791) Hasil Uji Robert
792)

793)
U

794) W
arna
Urin
e
799)
800)
Sebe
Sesu

795)
Uji

796)
Ket

803)

804)
Tr

805)
Jerni

806)
Jerni

807)
-

808)
(-)

809)

810)
N

811)
Jerni

812)
Jerni

813)
-

815)

816)
Is

817)
Jerni

818)
Jerni

819)
-

821) Hasil Asam Sulfosalisilat


822)

823)
U

824) W
arna
Urin
e
829)
830)
Sebe
Sesu

825)
Uji

826)
Ket

833)

834)
Tr

835)
Jerni

836)
Jerni

837)
-

838)
(-)

839)

840)
N

841)
Jerni

842)
Jerni

843)
-

845)

846)
Is

847)
Jerni

848)
Jerni

849)
-

851)
852) Hasil Uji Fehling

853)

854)
U

855) W
arna
Urin
e
860)
861)
Sebe
Sesu

856)
Uji

857)
Ket

864)

865)
Pe

866)
Biru

867)
Mera

868)
+

869)
(-)

870)

871)
Tr

872)
Biru

873)
Biru

874)
-

876)

877)
N

878)
Biru

879)
Biru

880)
-

882)

883)
Is

884)
Biru

885)
Biru

886)
-

887)
(+)

888)
E. PEMBAHASAN
889) Pada praktikum yang berjudul Melakukan Pemeriksaan Adanya
Kandungan Protein dalam Urine, Melakukan Pemeriksaan Adanya
Kandungan Glukosa dalam Urin, mempunyai tujuan Melakukan
Pemeriksaan Adanya Kandungan Protein dalam Urine, Melakukan
Pemeriksaan Adanya Kandungan Glukosa dalam Urin, dilaksanakan di
laboratorium zoologi FMIPA UNY.
890)
Dalam praktikum ini dilakukan beberapa uji untuk memeriksa
ada tidaknya glukosa dan protein dalam Turin, uji yang digunakan dalam
memeriksa ada tidaknya glukosa adalah uji fehling, sedangkan untuk
pemeriksaan protein adalah dengan uji Robert dan uji sulfosalisilat.
891) Prinsip uji fehling adalah sifat mereduksi glukosa terhadap kuprioksida
(CuSO4) sehingga terbentuk endapan berwarna merah bata (merah
kekuningan). Untuk mendapatkan hasil yang baik, sebelum digunakan
Urin dan reagen disaring dulu
892) Dalam pemeriksaan glukosa urine probandus ditambah reagent fehling
lalu dipanaskan hingga mendidih , lalu hasilnya adalah sebelum dibakar
berwarna biru setelah dibakar tetap berwarna biru, berarti hasilnya negatif
artinya urin probandus tidak mengandung glukosa karena dibandingkan
dengan urin pembanding (yang ditambah glukosa), terbentuk endapan
merah bata setelah dipanaskan.
893)
Prinsip uji Robert,
mempresipitasikan protein.

kemampuan

asam

kuat

untuk

894)
Prinsip uji asam sulfosalisilat kemampuan asam kuat untuk
mempresipitasikan protein yang terdapat dalam urine,
895) Dalam pemeriksaan protein dalam urin, urin probandus ditambah
reagent Robert dan setelah diamati tidak ada perubahan, sedangkan urine
pembanding (ditambah albumin) setelah ditambah reagent Robert
terbentuk cincin putih. Begitu juga dengan pmriksaan protein degan
prinsip asam ulfosalisialat tidak terjadi perubhan warna, sedangkan jika
urin pembanding di kasih reagent asam sulfosalisilat maka warna akan
berubah menjadi keruh. Jadi urin probandus tidak mengandung protein.
896) Menurut Suripto Membran filtrasi yang normal tidak dapat ditembus
oleh protein-protein yang terdapat dalam plasma darah. Permeabilitas
membran dapat meningkat pada kondisi yang abnormal seperti misalnya

suplai darah ke ginjal berkurang, pada peristiwa anoksia (kekurangan


oksigen) dan bila terdapat substansi yang bersifat racun .
897) Zat zat abnormal yang ditemukan dalam urine dan merupakan
indikator adanya kelainan fungsi ginjal:
1.
2.
3.
4.
5.

Glukosa (diabetes militus)


Benda Keton (ketosis)
Albumin (nephritis)
Sel darah merah (nephritis)
Urine pada kondisi tertentu juga mengandung senyawa-senyawa lain misalnaya obat,
hormon (hCG) dsb.
898) (Nurcahyo, 52: 2013)
899)
900)

F. KESIMPULAN
901) Berdasarkan asi pengamatan dan hasil pembhasan uji protein dengan
menggunakan uji Robert dan uji asam sulfosalisilat dan hasilnya negatif
karena tidakterjadi perubahan warna, jika positif warna menjadi keruh..
pada uji glukosa pada urin menggunakan uji fehling dan hasinya juga
negatif karena urin probandus tidak mengalami perubahan warna sebelum
dan setelah dipanaskan, sedangkan yang positif terbentuk endapan merah
bata setelah di panaskan.
G. DAFTAR PUSTAKA
902)
903)

Suripto. 1988. Fisiologi Hewan. Bandung : ITB

Nurcahyo, Heru dan Tri Harjana. 2013. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan.
Yogyakarta: FMIPA UNY.

904)
905)
906)
907)
908)
909)
910)
911)
912)
913)
914)
915)
916)
917)
918)
919)
920)
921)

922)
923)
924)
925)
926)
927)
928)
929)
930)
931) KEGIATAN 10
932) PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP SUHU TUBUH
A. PERMASALAHAN PRAKTIKUM
933) Bagaimana Melakukan Pengukuran Suhu Tubuh Homeoterm dan
Mengamati Pengaruh Suhu Lingkungan Terhadap Suhu Tubuh Manusia?
B. TUJUAN :
934) Melakukan Pengukuran Suhu Tubuh Homeoterm dan Mengamati
Pengaruh Suhu Lingkungan Terhadap Suhu Tubuh Manusia
C. DASAR TEORI
935) Termoregulasi merupakan proses homeostasis untuk menjaga agar
suhu tubuh suatu hewan tetap dalam keadaan stabil atau seady state, dengan cara
mengontrol dan mengatur keseimbangan antara banyaknya energy (panas) yang
diproduksi (thermogenesis) dengan energy (panas) yang dilepaskan (termolisis).
Termogenesis atau pembentukan panas/energy panas yang terdapat pada hewan dapat
diperoleh dari proses metabolism (hewan endotermi) yang berlangsung dalam tubuh
hewan sendiri, atau dapat juga diperoleh dari absorbsi panas dari lingkungan eksternal
(hewan ektotermi), terutama dari radiasi matahari. Selain hewan endoterm dan
ektoterm terdapat kelompok hewan yang memperoleh energy panas tubuhnya dari
proses metabolism, tetapi hewan tersebut tidak dapat mempertahankan suhu tubuhnya
pada kisaran suhu lingkungan yang sempit, hewan-hewan seperti ini dimasukkan
dalam kelompok hewan heterotermi, contohnya adalah mamalia kecil, bangsa burung
dan serangga yang dapat terbang (Suripto, 1998: 130).
936) Suhu merupakan salah satu factor pambatas penyebaran hewan, dan
selanjutnya menentukan aktivitas hewan. Rentangan suhu lingkungan di bumi jauh
lebih besar dibandingkan dengan rentangan penyebaran aktivitas hidup. Suhu udara di
bumi terentang dari -70oC - +8oC. Secara umum aktivitas kehidupan terjadi antara
rentangan sekitar 0o-40 oC. Kebanyakan hewa hidup dalam rentangan suhu yang lebih
sempit. Beberapa hewan dapat bertahan hidup tetapi tidak aktif di bawah suhu 0 oC
dan beberapa tahan terhadap suhu sangat dingin (Soewolo, 2000: 322-323).

937)

Terdapat kelompok hewan yang mampu menjaga kestabilan suhu

tubuhnya (regulator) sehingga suhu tubuhnya tidak terpengaruh oleh perubahan suhu
lingkungannya, yang dikelompokkan sebagai hewan homeoterm (homoioterm).
Termasuk kedalam kelompok ini ialah hewan mamalia dan bangsa burung. Kelompok
hewan yang lain dimana suhu tubuhnya dibiarkan berfluktuasi mengikuti perubahan
suhu dilingkungannya (konformer) atau dengan kata lain suhu tubuh hewan
dipengaruhi oleh suhu lingkungannya yang diklelompokkan sebagai hewan
poikiloterm, termasuk dalam kelompok ini adalah hewan: bangsa ikan, amfibi, reptile
dan semua invertebrate (Suripto, 1998: 130-131).
938) Organisme berdarah panas (homeoterm) memiliki organ pengatur suhu
tubuh yaitu hypothalamus agar suhu tubuh tetap dalam kondisi optimal (sebagai
contoh

pada

manusia

suhu

optimalnya

37,1oC).

Pengaturan

suhu

badan

(thermoregulasi) bertujuan agar panas yang dihasilkan dari berbagai proses


metabolism dan yang diperoleh dari lingkungan sekitar harus seimbang dengan
banyaknya panas yang dikeluarkan oleh tubuh. Proses regulasi atau pengaturan panas
badan yang paling banyak berperan adalah sel-sel saraf hypothalamus yang peka
terhadap perubahan suhu badan internal terutama suhu darah. Proses pembebasan
panas dari tubuh dapat melalui berbagai cara antara lain lewat kulit, saluran
pernafasan, mulut, feses, dan urine. Kehilangan panas paling banyak terjadi lewat
kulit yakni hamper 80% (Nurcahyo, 2013)
939) Mekanisme regulasi panas tersebut berlangsung secara cepat karena
melibatkan system saraf dan hormone sehingga disebut neuro-endokrin. Regulasi
panas badan menggunakan system feedback (umpan balik negatif) artinya apabila
panas badan melebihi suhu optimal, maka hypothalamus akan berusaha menurunkan
ke optimal dan sebaliknya. Sebagai ilustrasi jika suhu lingkungan tinggi atau suhu
badan meningkat 1-2oC, maka kenaikan suhu tersebut akan mempengaruhi sel-sel
saraf hypothalamus selanjutnya hypothalamus akan meginstruksikan lewat neuroedokrin ke saraf perifer agar meningkatkan serkulasi darah perifer yang berada di
bawah kulit dan meningkatkan perkeringatan sehingga panas badan banyak yang
keluar. Selanjutnya suhu darah yang telah turun tersebut akan ke hypothalamus dan
menginstruksikan agar aktifitas sel-sel sarafnya diturunkan sehingga suhu badan tetap
dalam kondisi optimal (Nurcahyo, 2013).
940)
D. METODE PRAKTIKUM
941) Jenis kegiatan: observasi

942) Objek pengamatan :katak


943) Bahan dan alat
1.
2.
3.
4.

Termometer batang
Air dingin
Air hangat
Pengukur waktu
944) Cara kerja

1. Letakkan termometer tersebut ke dalam mulut katak selama kurang lebih 5


menit,kemudian amati skalanya
2. Setelah itu masukkan katak ke dalam tabung erlenmeyer 1 liter yang telah Didi air
dingin, lalu masukkan termometer ke dalam mulut katak selama 5 menit, kemudian
amati skalanya
3. Ulangi cengeng cara yang sama tetapi dengan air hangat, amati dan Ata skalanya.
4. Apakah ada perbedaan suhu katak antara sebelum dan sesudah perlakuan?
E. HASIL PRAKTIKUM
F. manusia
945)

950)

946)

951)

947)
Suh
u
b
i
a
s
a
952)
35,
8

C
(
p
e
r
l
a
k
u
a
n
3
1

948) S
uhu
ding
in

949)
S

953) 3
5C
(per
laku
an
100
C)

954)
3

955)

956)

C
)
957)
36,
7

C
(
p
e
r
l
a
k
u
a
n

958) 3
6,9
C
(per
laku
an
100
C)

959)
3

963) 3
6,3
C
(per
laku
an
100
C)

964)
3

3
1
0

960)

961)

C
)
962)
36,
3

C
(
p
e
r
l
a
k
u
a
n
3
1
0

C
)

965)

966)

967)
36,
5

970)

971)

972)
36,
7

975)

976)

977)
36,
3

980)

981)

985)

986)

990)

991)

995)

996)

1000)

1001)
Hana

1005)

1006)
Syifa

982)
36,
3

C
987)
36,
4

C
992)
37,
3

C
997)
37
C
1002)
36,
9

C
1007)
36,
2

968) 3
6,6
C
(per
laku
an
40C)
973) 3
6,7
C
(per
laku
an
40C)
978) 3
6,9
C
(per
laku
an
40C)
983) 3
7C

969)
3

988) 3
7,1
C

989)
3

993) 3
6,7
C

994)
3

998) 3
6,7
C
1003) 3
6,5
C

999)
3

1008) 3
6,1
C

1009)
3

974)
3

979)
3

984)
3

1004)
3

1010)

1011)
Desy

1015)

1016)
Wulan

1020)

1021)
Bima

C
1012)
36,
2

C
1017)
36,
6

C
1022)
34
C
(
p
e
r
l
a
k
u
a
n

1013) 3
6,1
C

1014)
3

1018) 3
6,1
C

1019)
3

1023) 3
3C
(per
laku
an
60C)

1024)
3

1028) 3
5,8
C

1029)
3

1033) 3
6,1
C

1034)
3

1038) 3
6,9
C

1039)
3

3
0
0

1025)

1026)
Diva

1030)

1031)
Vella

1035)

1036)
Brill

C
)
1027)
36,
6

C
1032)
36,
4

C
1037)
37,
1

1040)

1041)
Endah

1042)
37
C

1045)

1046)
Yuniar

1047)
36,
3

1050)

1051)
Salma

1052)
36,
2

1055)

1056)
Ulfa

1057)
36,
8

1060)

1061)
Roni

1062)
36,
3

1065)

1066)
Hesti

1067)
36,

1043) 3
6,70
C
(per
laku
an
es
batu
)
1048) 3
6,30
C
(per
laku
an
es
batu
)
1053) 3
6,60
C
(per
laku
an
es
batu
)
1058) 3
6,80
C
(per
laku
an
es
batu
)
1063) 3
6,40
C
(per
laku
an
es
batu
)
1068) 3
6,90

1044)
3

1049)
3

1054)
3

1059)
3

1064)
3

1069)
3

4
0

1070)

1071)
Siska

1072)
36,
2
0

1075)

1076)
Yurisk

1077)
36,
3
0

1080)

1081)
Tony

1082)
350
C

1085)

1086)
Afriza

1087)
370
C

1090)

1091)
Kartin

1092)
35,
5

C
(per
laku
an
40C)
1073) 3
6,80
C
(per
laku
an
40C)
1078) 3
6,90
C
(per
laku
an
40C)
1083) 3
70C
(per
laku
an
40C)
1088) 3
6,50
C

1074)
3

1079)
3

1084)
3

1089)
3

1093) 3
50C

1094)
3

1098) 0
C
(per
laku
an
0
C)

1099)

C
1095)

1096)
Irfan

1097)
0
C
(
p
e
r
l
a
k
u
a
n

1100)

1101)
Jaka

C
)
1102)
0
C
(
p
e
r
l
a
k
u
a
n

1103) 0
C
(per
laku
an
0
C)

1104)

1108) 0
C
(per
laku
an
0
C)

1109)

1113)

1114)

1105)

1106)
Aris

C
)
1107)
0
C
(
p
e
r
l
a
k
u
a
n

1110)

1111)

C
)
1112)

1115)
A. Kodok
1116)

1117)
na

1118)
S

1119)
S

1120)
Su

1121)

1122)
wid

1123)
3

1124)
2

1125)
34

1126)
1131)

1127)
Nur
1132)
Ism

1136)

1137)
As

1141)

1142)
Insi

1146)

1147)
Tsa

1151)

1152)
Riz

1156)

1157)
Vin

1161)

1162)
Inta

1166)

1167)
Am

1171)

1172)
Ha

1176)

1177)
Syi

1181)

1182)
Des

1186)

1187)
Wu

1138)
2

1139)
1

1140)
36

1153)
2

1154)
3

1155)
36,

1163)
2

1164)
1

1165)
35

1178)
3

1179)
3

1180)
39,

1191)

1192)
bim

1196)

1197)
Div

1201)

1202)
Vel

1206)

1207)
Bril

1211)

1212)
En

1216)

1217)
Yu

1221)

1222)
Sal

1226)

1227)
Ulf

1231)

1232)
Ro

1236)

1237)
Hes

1241)

1242)
Sis

1246)

1247)
Yur

1193)
2

1194)
1

1195)
40

1198)
3

1199)
2

1200)
33

1213)
3

1214)
2

1215)
360

1238)
2

1239)
3

1240)
35,

1251)

1252)
ton

1256)

1257)
afri
1258)
3

1259)
2

1260)
360

1270)
0
C

1261)

1262)
kart

1266)

1267)
irfa

1268)
0
C

1269)

1272)
jak

1273)
0
C

1274)

1277)
Ari

1278)
0
C

1279)

1271)

1276)

1275)
0
C
1280)
0
C

1281)
1282)
B. PEMBAHASAN
1283)
1284) Pada praktikum yang berjudul pengaruh lingkungan terhadap suhu
tubuh mempunyai tujuan Melakukan Pengukuran Suhu Tubuh Homeoterm dan
Mengamati Pengaruh Suhu Lingkungan Terhadap Suhu Tubuh Manusia ,
dilaksanakan di laboratorium zoologi FMIPA UNY.
1285) Suhu merupakan salah satu factor pambatas penyebaran hewan, dan
selanjutnya menentukan aktivitas hewan. Rentangan suhu lingkungan di bumi jauh
lebih besar dibandingkan dengan rentangan penyebaran aktivitas hidup. Suhu udara di
bumi terentang dari -70oC - +8oC. Secara umum aktivitas kehidupan terjadi antara
rentangan sekitar 0o-40 oC.
1286) Praktikum ini dengan menggunakan katak sebagai naracoba, katak
diberikan lingkungan yang berbeda seperti dingin, hangat, dan normal, dan hasilnya
katak akan menyesuaiakan suhu tubuhnya dengan lingkungan, jadi jika dingin maka
suhu tubuh akan dingin dan dan sebaliknya, karena katak termasuk hewan berdarah
dingin tidak memiliki sistem pengatur panas tubuh tidak seperti manusia, manusia jika
ditempatkan di tempat dingin ataupun panas suhu tubuhnya stabil karena manusia

punya sistem pengturan suhu tubuh. Organisme berdarah panas (homeoterm)


memiliki organ pengatur suhu tubuh yaitu hypothalamus agar suhu tubuh tetap dalam
kondisi optimal (sebagai contoh pada manusia suhu optimalnya 37,1 oC). Pengaturan
suhu badan (thermoregulasi) bertujuan agar panas yang dihasilkan dari berbagai
proses metabolism dan yang diperoleh dari lingkungan sekitar harus seimbang dengan
banyaknya panas yang dikeluarkan oleh tubuh. Proses regulasi atau pengaturan panas
badan yang paling banyak berperan adalah sel-sel saraf hypothalamus yang peka
terhadap perubahan suhu badan internal terutama suhu darah.
1287) Menurut Sutjipto Kelompok hewan yang lain dimana suhu tubuhnya
dibiarkan berfluktuasi mengikuti perubahan suhu dilingkungannya (konformer) atau
dengan kata lain suhu tubuh hewan dipengaruhi oleh suhu lingkungannya yang
diklelompokkan sebagai hewan poikiloterm, termasuk dalam kelompok ini adalah
hewan: bangsa ikan, amfibi, reptile dan semua invertebrata.
1288)
1289)
C. KESIMPULAN
1. Suhu manusia yang dikasih perlakuan dingin, hangat, dan normal suhu tubuhnya
stabil (homeoterm )
2. Sedangkan katak yang dikasih perlakuan dingin, hangat, normal, suhu tubuhnya
mengikuti lingkunagn (poikilotterm)
D. DAFTAR PUSTAKA
1290) Nurcahyo, Heru dan Tri Harjana. 2013. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan.
Yogyakarta: FMIPA UNY.
1291) Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Depdikbud Dikti.
1292) Suripto. 1998. Fisiologi Hewan. Bandung: ITB
E.

1293)
1294)
1295) KEGIATAN 11
1296) MEREKAM GERAKAN MATA SAAT MEMBACA
A. PERMASALAHAN PRAKTIKUM : Bagaimana Merekam Refleks Gerakan Mata
Saat Membaca dengan Menggunakan Alat Perekam Elektro-Okulograf (EOG)?
B. TUJUAN : Merekam Refleks Gerakan Mata Saat Membaca dengan Menggunakan
Alat Perekam Elektro-Okulograf (EOG)
C. DASAR TEORI
1297) Mata sebagai indra penglihatan dapat bergerak ke segala arah dalam
orbitnya untuk memperluas medan penglihatan. Gerakan mata tersebut sering disebut
gerakan mata berputar (sirkuler)namun dalam praktek gerakan mata tersebut dibgi
dalam gerakan mata secara horizontal dan vertikal. Dalam keadaan normal gerakan
pol mata(kanan dan kiri) selalu bergerak searah atau disebut gerakan mata konyugatif.
Oleh karena itu, untuk merekam gerakan mata cukup dilakukan perekaman satu bola
mata saja. Penempatan elektrode perekam untuk merekam gerakan mata horizontal,
pada kedua canthus temporal, sedangkan untuk gerakan vertikal di atas dan di bawah
mata (Nurcahyo,2013).
1298) Ada tiga lapisan jaringan atau selaput yang melindungi bola mata, dari
luar ke dalam adalah sklera, khoroidea, dan retina. Ada 2 jenis otot mata yaitu otot
mata yang exintrik dan otot mata yang intrinsik. Otot-otot mata yang eksentrik adalah
otot mata yang memegang bola mata disisi luar pada tulang orbital. Otot ini
menyegerakan bola mata menurut arah yang kita kehendaki, jadi termasuk otot
volunter. Empat dari arahnya lurus atau musculus rectus dan dua lainnya menyerong
atau muscuus obligus. Namanya sesuai dengan posisinya terhadap bola mata, yaitu
superior, interior, medial atau medial, dan lateral untuk yang lurus serta superior dan
inferior untuk yang menyerong.
1299) Oto mata intrinsik ada di dalam mata, yaitu otot iris dan otot siliaris,
yang keduanya involunter. Mata merupakan satu satunya organ yang memiliki otot
volunter dan otot involunter. Iris mengatur ukuran pupil, sedangkan otot siliaris
menarik korpus siliare ke depan sehingga melepaskan tarikan ke belakang yang
dilakukan oleh integument suspensi tempat lensa terikat (basoeki,201:1988)
1300) Gerakan bola mata dapat direkam kara bolamata merupakan satu Dipol
listrik yang dapat bergerak. Hal ini disebabkan antara kornea dan retina terdapat beda
potensial yang tetap (steady) kornea bermuatan positif terhadap retina dan beda
potensial ini akan tetap ada walaupun bola mata dikeluarkan dari kantung mata.
Dengan menempatkan dua elektrode pada garis tegak lurus pada sumbu kornea-retina,
maka potensial kornea-retinal ini kemudian akan menimbulkan fluktuasi potensial
yang sesuai dengan gerakan bola mata, disebabkan karena kornea atau retina yang
berbeda polaritas muatannya akan mendekati atau menjauhi kedua elektrode tersebut

sesuai dengan gerakan bolamata.. fluktuasi potensial yang timbul pada kedua
elektrode pengukur tersebut dapat direkam secara elektro-fisiologik. Hingga dapat
dikatakan bahwa elektro-okulografi ialah: merubah kualitas gerakan bolamata menjadi
kuantitas beda potensial yang direkam dalam koordinat Cartesian.(Nurcahyo,2013).
1301)
1302)
D. METODE PRAKTIKUM
1303) Jenis kegiatan : observasi
1304) Objek pengamatan :probandus
1305) Bahan dan alat
1.
2.
3.
4.
5.

Elektro-okulograph (EOG)
Elektrode perekam
Gel elektrode
Kapas alkohol
Teks bacaan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris
1306) Cara kerja

1.
2.
3.
4.

Aturlah kepekaan rekam EOG 0,15 m V/cm


Aturlah kecepatan rekam 25 mm/detik
Aturlah frekuensi rekam 0-30 Hz
Bersihkan kulit di chanthus lateralis mata dengan kapas alkohol untuk menghilangkan
kotoran yang dapat mengganggu sensitivitas rekam sebelum elektrode perekam
dipasang
5. Kemudian pasang elektrode perekam pada canthus lateralis mata kanan, mata kiri,
dan tengah dahi.
6. Direkatan dengan solatip
7. Probandus di arahkan untuk melirik kanan kiri secara bergantian, lalu diarahkan untuk
melihat bandul dan mengikuti arah bandul yang digoyagkan
8. Probandus dipersiapkan untuk membaca
9. Probandus dipersilahkan membaca
10. Analisis hasil rekaman gerakan mata saat membaca.
E. HASIL PRAKTIKUM
1307)
Prob

1308) Teks Bahasa


Indonesia
1311)
1312)
1313)
Baris
Bany
Dura

1309) Teks Bahasa


Inggris
1314)
1315)
1316)
Baris
Bany
Dura

1317)
Kod

1366)
Juml

1318)
I
1325)
II
1332)
III
1339)
IV
1346)
V
1353)
VI
1360)
VII
1367)

1319)
9
1326)
7
1333)
7
1340)
7
1347)
7
1354)
7
1361)
4
1368)
48

1320)
18

1321)
I
1328)
II
1335)
III
1342)
IV
1349)
V
1356)
Juml

1322)
7
1329)
11
1336)
8
1343)
8
1350)
5
1357)
39

1323)
19

1373)
1374)
N

1375) Va
riabel

1376) T
eks
bah
asa
ind
one
sia

1378)
K

1379) Fi
ksasi
kesel
uruha
n

1380) 4
8

1377)
Teks
b
a
h
a
s
a
I
n
g
g
r
i
s
1381)
39

1382)

1386)

1390)

1383) Fi
ksasi
per
baris
1387) Du
rasi
wakt
u (s)
kesel
uruha
n
1391) Du
rasi
wakt
u (s)
per
baris

1384) 6
,8

1385)
7,8

1388) 1
8

1389)
19

1392) 2
,5

1393)
3,8

1394)
1395) Durasi membaca perbaris = lama waktu membaca keseluruhan
(set)/banyaknya baris
1396) Jumlah fiksasi perbaris = jumlah fiksasi keseluruhan/ banyaknya baris
F. PEMBAHASAN
1397) Pada praktikum yang berjudul merekam gerakan mata set membaca
mempunyai tujuan Merekam Refleks Gerakan Mata Saat Membaca dengan
Menggunakan Alat Perekam Elektro-Okulograf (EOG) dilaksanakan di laboratorium
zoologi FMIPA UNY.
1398) Gerakan mata tersebut sering disebut gerakan mata berputar
(sirkuler)namun dalam praktek gerakan mata tersebut dibgi dalam gerakan mata
secara horizontal dan vertikal. Dalam keadaan normal gerakan pol mata(kanan dan
kiri) selalu bergerak searah atau disebut gerakan mata konyugatif. Oleh karena itu,
untuk merekam gerakan mata cukup dilakukan perekaman satu bola mata saja.
Penempatan elektrode perekam untuk merekam gerakan mata horizontal, pada kedua
canthus temporal, sedangkan untuk gerakan vertikal di atas dan di bawah mata
1399) Praktikum ini probandus di suruh melirik , mengikuti ayunan
gantungna, disuruh membaca, sedangkan disamping mata dan di dahi di tempel alat
pereka mata yang dapat mengetahui gerakan mata tersebut karena alat tersebut
menghasilkan satu grafik, jika probandus tidak fokus mebaca maka grafik akan
muncul jerky (jelalatan), lamanya membaca dalam satu baris dapat diketahui melalui
grafik fiksasi yaitu banyaknya gerakan mata yang dia gunakan dalam membaca satu
baris. Mata bisa bergerak karena adanya otot.
1400) Menurut basoeki Ada 2 jenis otot mata yaitu otot mata yang exintrik
dan otot mata yang intrinsik. Otot-otot mata yang eksentrik adalah otot mata yang
memegang bola mata disisi luar pada tulang orbital. Otot ini menyegerakan bola mata

menurut arah yang kita kehendaki, jadi termasuk otot volunter. Empat dari arahnya
lurus atau musculus rectus dan dua lainnya menyerong atau muscuus obligus.
Namanya sesuai dengan posisinya terhadap bola mata, yaitu superior, interior, medial
atau medial, dan lateral untuk yang lurus serta superior dan inferior untuk yang
menyerong.Otot mata intrinsik ada di dalam mata, yaitu otot iris dan otot siliaris, yang
keduanya involunter. Mata merupakan satu satunya organ yang memiliki otot volunter
dan otot involunter. Iris mengatur ukuran pupil, sedangkan otot siliaris menarik
korpus siliare ke depan sehingga melepaskan tarikan ke belakang yang dilakukan oleh
integument suspensi tempat lensa terikat.
1401) Menurut Nurcahyo (2013)Gerakan bola mata dapat direkam kara
bolamata merupakan satu Dipol listrik yang dapat bergerak. Hal ini disebabkan antara
kornea dan retina terdapat beda potensial yang tetap (steady) kornea bermuatan positif
terhadap retina dan beda potensial ini akan tetap ada walaupun bola mata dikeluarkan
dari kantung mata. Dengan menempatkan dua elektrode pada garis tegak lurus pada
sumbu kornea-retina, maka potensial kornea-retinal ini kemudian akan menimbulkan
fluktuasi potensial yang sesuai dengan gerakan bola mata, disebabkan karena kornea
atau retina yang berbeda polaritas muatannya akan mendekati atau menjauhi kedua
elektrode tersebut sesuai dengan gerakan bolamata.. fluktuasi potensial yang timbul
pada kedua elektrode pengukur tersebut dapat direkam secara elektro-fisiologik.
Hingga dapat dikatakan bahwa elektro-okulografi ialah: merubah kualitas gerakan
bolamata menjadi kuantitas beda potensial yang direkam dalam koordinat Cartesian.
1402)
1403)
G. KESIMPULAN
1404) Gerakan mata dapat direkam karena bolamata merupakan Dipl listrik
yang dapat bergerak, gerakan mata meliputi horizontal, vertikal .
H. DAFTAR PUSTAKA
1405) Nurcahyo, Heru & Tri Harjana. 2013. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan.
Yogyakarta : FMIPA UNY
1406) Basoeki, Soedjono. 1988. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Jakarta:
Depdikbud Dikti.
1407)
1408)
1409)
1410)
1411)
1412)
1413)

1414)
1415)
1416)
1417)
1418) KEGIATAN 12
1419) MENGUKUR LAJU RESPIRASI
A. PERMASALAHAN PRAKTIKUM : Bagaimana Mengetahui Pengaruh Ukuran
Tubuh Terhadap Laju Respirasi Hewan?
B. TUJUAN : Mengetahui Pengaruh Ukuran Tubuh Terhadap Laju Respirasi Hewan
C. DASAR TEORI
1420) Kebanyakan hewan sangat tergantung kepada oksigen untuk
memenuhi kebutuhan energinya melalui oksidasi zat makanan. Hanya sedikit hewan
yang dapat memnuhi energinya tanpa oksigen, yaitu dengan memanfaatkan energy
kimia senyawa organic. Pemanfaatan senyawa organic secara anaerob ini hanya
menghasilkan energy sedikit kira-kira 1/10 sampai 1/20 dari zat makanan yang
dioksidasi sempurna (aerob) (Soewolo, 2000: 185).
1421) Setiap organisme multiseluler memiliki system respirasi yang berperan
mendapatkan dan mensuplai kebutuhan oksigen untuk aktivitas seluler dan
melepaskan karbondioksida untuk kelangsungan kehidupannya. Hewan memperoleh
oksigen melalui berbagai cara, secara umum ada 5 prinsip yang digunakan hewan
untuk mendapatkan oksigen, yaitu: difusi sederhana dari air atau udara melalui
permukaan tubuhnya yang lembab (contohnya amoeba, paramaecium, dan cacaing
pipih); difusi dari air atau udara melalui permukaan tubuhnya yang tipis, menuju
pembuluh darah (cacing tanah); dari udara (melalui spirakel) atau air (melalui insang
trachea), menuju system saluran udara (trachea), kemudian menuju sel-sel jaringan
tubuh (serangga); dari air melalui permukaan insang, selanjutnya menuju pembuluh
darah (pisces, molusca dan amfibia); dari udara melalui paru-paru yang lembab
kemudian menuju pembuluh darah (siput pulmonata dan vertebrata terrestrial)
(Nurcahyo, 2013).
1422) Sistem pernafasan vertebrata tersusun atas saluran pernafasan dan
paru-paru sebagai tempat pertukaran udara pernafasan. Apabila kita bernafas, udara
akan melalui hidung dan saluran udara sebelum memasuki paru-paru. Paru-paru akan
menyedot oksigen, yang diperlukan oleh sel-sel tubuh untuk hidup dan berfungsi
secara normal. Apabila kita menghembus nafas, pari-paru akan mengeluarkan
karbondioksida yang merupakan hasil buangan dari sel-sel tubuh. Satu struktur yang

digelar alveolus merupakan kawasan dimana berlakunya pertukaran oksigen dan


karbondioksida. Saluran pernafasan tersusun atas: lubang hidung, rongga hidung,
faring, laring, trakea, bronkus, bronkeolus (Nurcahyo, 2013).
1423) Difusi merupakan mekanisme dasar transport O2 dan gas CO2 melintasi
membrane respirasi . Namun dengan difusi saja maka transfer gas oksigen gas O2 dari
lingkungan ke sel-sel jaringan tidak akan mencukupi. Karena itu respirasi harus
dibantu dengan mekanisme lain agar pemasukan gas O2 dan pengeluaran gas CO2
dapat mencukupi kebutuhan. Pada hewan ukuran kurang dari 0,5 mm respirasi dengan
difusi melalui permukaan tubuh sudah mencukupi. Pada hewan yang lebih besar perlu
dilengkapi dengan permukaan membrane pernafasan yang luas dan banyak
mengandung kapiler untuk mengambil banyak gas O2 dari lingkungan dan dilengkapi
dengan mekanisme untuk pengeluaran CO2. Baiknya gas O2 yang dikonsumsi oleh
suatu hewan tergantung pada jenis kelamin, ukuran tubuh, aktivitas, suhu, serta
sumber panas yang diperoleh hewan tersebut (endoterm atau eksoterm). Makin besar
ukuran tubuh makin besar laju konsumsi oksigen totalnya namun untuk laju konsumsi
O2 spesifik tergantung pada perbandingan luas permukaan tubuh terhadap berat hewan
karena itu laju konsumsi spesifik lebih besar pada hewan berukuran kecil
dibandingkan dengan hewan dengan ukuran yang lebih besar. Untuk hewan akuatik
kelarutan gas O2 dalam air menjadi sangat penting, dan kelarutan gas O 2 dipengaruhi
oleh suhu serta tekanan atmosfir. Kelarutan gas O 2 akan berkurang pada peningkatan
suhu maupun tekanan atmosfer didalam air. Jumlah gas O 2 yang dapat larut dalam
satuan volume tertentu pada suhu 0oC, dan pada tekanan sebesar 1 atm disebut
koefisien kelarutan (Suripto, 1998: 78).
1424)
D. METODE PRAKTIKUM
1425) Jenis kegiatan :observasi
1426) Objek pengamatan :serangga
1427) Bahan dan alat
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Respirometer dengan selangnya


Pipet pasteur dan penggaris
Butiran KOH
Vaselin
Larut eosin
Belalang/ jangkrik
1428) Cara kerja

1. Hewan ditimbang terlebih dahulu sebelum percobaan dilkakukan


2. Ke dalam botol respirometer ditaruh 3 butir KOH dan pada lubang selangnya ditetesi
larutan eosin
3. Batas antara sumbat botol dengan selang leletkan dengan vaselin sedemikian rupa
sehingga udara tidak dapay keluar
4. Masukkan hewan ke resirometer
5. Catatlah skala pada penggaris dari awal sampai eosin tidak bergerak lagi
6. Konversikan panjang dan diameter selang menjadi volume udara
7. Ulangi untuk jenis hewan/ hewan dengan berat berbeda lainnya.
E. HASIL PRAKTIKUM
1429)
1430)
1431)

1432)
1433)
1434)
1435)
1436)
1437)
1438)
1439)
1440)

1441)
1442)
1443)
1444)
1445)
1446)
N

1447)
N

1448)
B

1449)
L

1450)
W

1451)
1

1452)
J

1453)
0

1454)
1

1455)
0

1456)
2

1457)
J

1458)
0

1459)
1

1460)
0

1461)
F. PEMBAHASAN
1462) Pada praktikum yang berjudul mengukur udara respirasi mempunyai
tujuan Mengetahui Pengaruh Ukuran Tubuh Terhadap Laju Respirasi Hewan,
dilaksanakan di laboratorium zoologi FMIPA UNY.
1463) Dalam praktikum ini digunakan jangkrik yang berbeda ukuran berat
untuk mengetahui pengaruhnya dalam laju respirasi hewan
1464) Difusi merupakan mekanisme dasar transport O2 dan gas CO2 melintasi
membrane respirasi . Namun dengan difusi saja maka transfer gas oksigen gas O2 dari
lingkungan ke sel-sel jaringan tidak akan mencukupi. Karena itu respirasi harus
dibantu dengan mekanisme lain agar pemasukan gas O2 dan pengeluaran gas CO2
dapat mencukupi kebutuhan. Pada hewan ukuran kurang dari 0,5 mm respirasi dengan
difusi melalui permukaan tubuh sudah mencukupi. Pada hewan yang lebih besar perlu
dilengkapi dengan permukaan membrane pernafasan yang luas dan banyak
mengandung kapiler untuk mengambil banyak gas O2 dari lingkungan dan dilengkapi
dengan mekanisme untuk pengeluaran CO2. Baiknya gas O2 yang dikonsumsi oleh
suatu hewan tergantung pada jenis kelamin, ukuran tubuh, aktivitas, suhu, serta
sumber panas yang diperoleh hewan tersebut (endoterm atau eksoterm). Makin besar
ukuran tubuh makin besar laju konsumsi oksigen totalnya namun untuk laju konsumsi
O2 spesifik tergantung pada perbandingan luas permukaan tubuh terhadap berat hewan
karena itu laju konsumsi spesifik lebih besar pada hewan berukuran kecil
dibandingkan dengan hewan dengan ukuran yang lebih besar. Untuk hewan akuatik
kelarutan gas O2 dalam air menjadi sangat penting, dan kelarutan gas O 2 dipengaruhi
oleh suhu serta tekanan atmosfir. Kelarutan gas O 2 akan berkurang pada peningkatan
suhu maupun tekanan atmosfer didalam air. Jumlah gas O 2 yang dapat larut dalam

satuan volume tertentu pada suhu 0oC, dan pada tekanan sebesar 1 atm disebut
koefisien kelarutan.
1465) Dam praktikum ini jangkrik yang ukuran tubuhnya lebih besar
mempunyai laju respirasi lebih tinggi.
G. KESIMPULAN
1466) Makin besar ukuran tubuh makin besar laju konsumsi oksigen totalnya
namun untuk laju konsumsi O2 spesifik tergantung pada perbandingan
luas permukaan tubuh terhadap berat hewan karena itu laju konsumsi
spesifik lebih besar pada hewan berukuran kecil dibandingkan dengan
hewan dengan ukuran yang lebih besar.
H. DAFTAR PUSTAKA
1467) Nurcahyo, Heru dan Tri Harjana. 2013. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan.
Yogyakarta: FMIPA UNY.
1468) Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Depdikbud Dikti.
1469) Suripto. 1998. Fisiologi Hewan. Bandung: ITB
1470)
1471)