Anda di halaman 1dari 22

PARALISIS PLICA VOCALIS

1. PENDAHULUAN
Paralisis plica vocalis adalah terganggunya pergerakan pita suara yang
berarti bahwa plika vokalis terpaku ditempatnya pada posisi tertentu atau terjadi
gangguan apabila satu atau dua plika vokalis tidak terbuka atau tertutup, yang
terjadi karena disfungsi saraf yang mempersarafi otot-otot laring biasanya akibat
disfungsi nervus laryngeal rekuren atau nervus vagus. Paralisis plika vokalis
merupakan akibat impuls saraf dari otak ke laring terputus sehingga tidak terjadi
pergerakan otot pita suara. Paralisis plika vokalis dapat terjadi pada semua umur
dan gejalanya dari ringan sampai mengancam jiwa. Hal ini merupakan gejala
suatu penyakit dan bukan diagnosis dan etiologinya dapat berupa kongenital dan
didapat. 1,2
Pada paralisis plica vocalis unilateral, dapat terjadi disfoni, diikuti dengan
kesulitan menelan, batuk yang lemah, dan napas pendek. Paralisis plica vocalis
dapat berdampak pada kualitas hidup pasien. Paralisis bilateral dapat mengancam
jiwa karena jalan napas yang terganggu, dan paralisis unilateral juga berpotensial
menyebabkan kematian, jika proteksi jalan napas buruk dan menyebabkan
pneumonia aspirasi. Jika pada paralisis ini, evaluasi dan penatalaksanaan
dilakukan dengan tepat, suara dalam berbicara biasanya dapat kembali normal.
Oleh karena itu setiap kasus harus di diagnosis dengan hati-hati untuk
mengetahui letak lesi dan menetukan terapi.3,4
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. 1.
ANATOMI
Batas atas rongga laring (cavum laryngis) ialah additus laring, batas
bawahnya ialah bidang yang melalui pinggir bawah kartilago krikoid. Batas
depannya ialah permukaan belakang epiglotis, tuberkulum epiglotik,
ligamentum tiroepiglotik, sudut antara kedua belah lamina kartilago tiroid dan
arkus kartilago krikoid. Batas lateralnya ialah membran kuadrangularis,
1

kartilago aritenoid, konus elastikus dan arkus kartilago krikoid, sedangkan


batas belakangnya ialah m. aritenoid transversus dan lamina krikoid.5

Gambar 1. Anatomi laring 7


Kartilago laring terbagi atas 2 (dua) kelompok, yaitu : 7
1. Kelompok kartilago mayor, terdiri dari :
Kartilago Tiroidea, 1 buah
Kartilago Krikoidea, 1 buah
Kartilago Aritenoidea, 2 buah
2. Kartilago minor, terdiri dari :
Kartilago Kornikulata Santorini, 2 buah
Kartilago Kuneiforme Wrisberg, 2 buah
Kartilago Epiglotis, 1 buah

Otot-otot laring dapat dibagi dalam dua kelompok. Otot ekstrinsik yang
terutama bekerja pada laring secara keseluruhan, sementara otot instrinsik
menyebabkan antara berbagai struktur-struktur laring sendiri. Otot ekstrinsik
dapat digolongkan menurut fungsinya. Otot depressor atau otot-otot leher
(omohioideus, sternotiroideus, sternohioideus) berasal dari bagian inferior.
Otot

elevator

(milohioideus,

geniohioideus,

genioglosus,

hioglosus,

digastrikus dan stilohioideus) meluas dari os hioideum ke mandibula, lidah


dan prosessus stiloideus pada kranium. Otot tirohioideus walaupun
digolongkan sebagai otot-otot leher, terutama berfungsi sebagai elevator.
Melekat pada os hioideum dan ujung posterior alae kartilago tiroidea adalah
otot konstriktor medius dan inferior yang melingkari faring di sebelah
posterior dan berfungsi pada saat menelan. Serat-serat paling bawah dari otot
konstriktor inferior berasal dari krikoid, membentuk krikofaringeus yang kuat,
yang berfungsi sebagai sfingter esophagus superior. 8
Anatomi otot-otot instrinsik laring paling baik dimengerti dengan
mengaitkan fungsinya. Serat-serat otot interaritenoideus (aritenoideus)
transversus dan oblikus meluas diantara kedua kartilago aritenoidea. Bila
berkontraksi, kartilago aritenoidea akan bergeser ke arah garis tengah,
mengaduksi korda vokalis. Otot krikoaritenoideus posterior meluas dari
permukaan posterior lamina krikoidea untuk berinsersi ke dalam prosessus
muskulus aritenoidea; otot ini menyebabkan rotasi aritenoid kea rah luar dan
mengabduksi korda vokalis. Antagonis utama otot ini, yaitu otot
krikoaritenoideus lateralis berorigo pada arkus krikoidea lateralis; insersinya
juga pada prosessus muskularis dan menyebabkan rotasi aritenoid ke medial,
menimbulkan aduksi. Yang membentuk tonjolan korda vokalis adalah otot
vokalis dan tiroaritenoideus yang hampir tidak dapat dipisahkan; kedua otot
ini ikut berperan dalam pembentukan tegangan korda vokalis. Pada individu
lanjut usia, tonus otot vokalis dan tiroaritenoideus agak berkurang; korda
vokalis tampak membusur ke luar dan suara menjadi lemah dan serak. Otot-

otot laring utama lainnya adalah pasangan otot krikotiroideus, yaitu otot yang
berbentuk kipas berasal dari arkus krikoidea di sebelah anterior dan berinsersi
pada permukaan lateral alae tiroid yang luas. Kontraksi otot ini menarik
kartilago tiroidea ke depan, meregang dan menegangkan korda vokalis.
Kontraksi ini juga secara pasif memutar aritenoid ke medial, sehingga otot
krikotiroideus juga dianggap sebagai otot aduktor.8
Dengan adanya lipatan mukosa pada ligamentum vokale dan
ligamentum ventrikulare, maka terbentuklah plika vokalis (pita suara asli)
dan plika ventrikularis (pita suara palsu). Bidang antara plika vokalis kiri dan
kanan, disebut rima glotis, sedangkan antara kedua plika ventrikularis, disebut
rima vestibuli. Plika vokalis dan plika ventrikularis membagi ronggga laring
dalam 3 bagian, yaitu vestibulum laring, glotik, dan subglotik. Vestibulum
laring ialah rongga laring yang terdapat di atas plika ventrikularis. Daerah ini
disebut supraglotik. Antara plika vokalis dan plika ventrikularis, pada tiap
sisinya disebut ventrikulus laring Morgagni. Rima glotis terdiri dari 2 bagian,
yaitu bagian intermembran dan bagian interkartilago. Bagian intermembran
ialah ruang antara kedua plika vokalis, dan terletak di bagian anterior,
sedangkan bagian interkartilago terletak antara kedua puncak kartilago
aritenoid, dan terletak di bagian posterior. Daerah subglotik adalah rongga
laring yang terletak di bawah plika vokalis.5

Gambar 2. Plica vocalis


Inervasi laring
Laring dipersarafi oleh cabang-cabang nervus vagus, yaitu n. laringis
superior dan n. laringis inferior. Kedua saraf ini merupakan campuran saraf
motorik dan sensorik. Nervus laringis superior mempersarafi m. krikotiroid,
sehingga memberikan sensasi pada mukosa laring di bawah pita suara. Saraf
ini mula-mula terletak di atas m. konstriktor faring medial, di sebelah medial
a. karotis interna dan eksterna, kemudian menuju ke kornu mayor tulang
hioid, dan setelah menerima hubungan dengan ganglion servikal superior,
membagi diri dalam 2 cabang, yaitu ramus eksternus dan ramus internus.11

Gambar 3. Jalur persarafan laring dimulai dari sistem saraf pusat 11

Ramus eksternus berjalan pada permukaan luar m. konstriktor dan


inferior dan menuju ke m. krikotiroid, sedangkan ramus internus tertutup oleh
m. tirohioid terletak di sebelah medial a. tiroid superior, menembus membran
hiotiroid, dan bersama-sama dengan a. laringis superior menuju ke mukosa
laring.3
Nervus laringis inferior merupakan lanjutan dari n. rekuren setelah saraf
itu memberikan cabangnya menjadi ramus kardia inferior. Nervus rekuren
merupakan cabang dari n. vagus. Nervus rekuren kanan akan menyilang a.
subklavia kanan di bawahnya, sedangkan n. rekuren kiri akan menyilang arkus
aorta. Nervus laringis inferior berjalan di antara cabang-cabang a. tiroid
inferior, dan melalui permukaan mediodorsal kelenjar tiroid akan sampai pada
permukaan medial m. krikofaring. Di sebelah posterior dari sendi
krikoaritenoid, saraf ini bercabang 2 menjadi ramus anterior dan ramus
posterior. Ramus anterior akan mempersarafi otot-otot intrinsik laring bagian
lateral, sedangkan ramus posterior mempersarafi otot-otot intrinsik laring
bagian superior dan mengadakan anastomosis dengan n. laringis superior
ramus internus.5
Vaskularisasi laring
Perdarahan untuk laring terdiri dari 2 cabang, yaitu a.laringis superior dan
a.laringis inferior.5
Arteri langiris superior merupakan cabang dari a.tiroid superior. Arteri
laringis superior berjalan agak mendatar melewati bagian belakang
membrane tirohioid bersama-sama dengan cabang internus dari n.laringis
superior kemudian menembus membran ini untuk berjalan ke bawah di
submukosa dari dinding lateral dan lantai dari sinus piriformis, untuk

memperdarahi mukosa dan otot-otot laring.5


Arteri laringis inferior merupakan cabang dari a.tiroid inferior dan
bersama-sama dengan n.laringis inferior berjalan ke belakang sendi
krikotiroid, masuk laring melalui daerah pinggir bawah dari m.konstriktor

faring inferior. Di dalam laring arteri itu bercabang-cabang, memperdarahi


mukosa dan otot serta beranastomosis dengan a.laringis superior. Pada
daerah setinggi membran krikotiroid a.tiroid superior juga memberikan
cabang yang berjalan mendatari sepanjang membran itu sampai mendekati
tiroid. Kadang-kadang arteri ini mengirimkan cabang yang kecil melalui
membran krikotiroid untuk mengadakan anastomosis dengan a.laringis

superior5
Vena laringis superior dan vena laringis inferior letaknya sejajar dengan
a.laringis superior dan inferior dan kemudian bergabung dengan vena tiroid
superior dan inferior.5

Gambar 4. Vaskuarisasi laring


II.2.

FISIOLOGI
Fungsi-fungsi laring yaitu proteksi, respirasi, sirkulasi, menelan dan

sebagai organ penghasil suara atau fonasi.


1. Proteksi

Fungsi laring untuk proteksi ialah untuk mencegah makanan dan benda
asing masuk ke dalam trakea, dengan jalan menutup aditus laring dan rima
glotis secara bersamaan. Terjadinya penutupan aditus laring ialah karena
pengangkatan laring ke atas akibat kontraksi otot-otot ekstrinsik laring.
Dalam hal ini kartilago aritenoid bergerak ke dean akibat kontraksi m.
tiroaritenoid dan m. aritenoid. Selanjutnya m. ariepiglotika berfungsi sebagai
sfingter. Penutupan rima glotis terjadi karena adduksi plika vokalis.
Kartilago aritenoid kiri dan kanan mendekat karena adduksi otot-otot
intrinsik. Selain itu dengan refleks batuk, benda asing yang telah masuk ke
dalam trakea dapat dibatukkan ke luar. Demikian juga dengan bantuan batuk,
sekret yang berasal dari paru dapat dikeluarkan.2,5,7
2. Respirasi
Fungsi respirasi dari laring ialah dengan mengatur besar kecilnya rima
glotis. Bila m. krikoaritenoid posterior berkontraksi akan menyebabkan
pprosesus vokalis kartilago aritenoid bergerak ke lateral, sehingga rima
glotis terbuka (abduksi). 5
3. Sirkulasi
Dengan terjadinya perubahan tekanan udara di dalam traktus trakeobronkial akan dapat mempengaruhi sirkulasi darah tubuh. Dengan demikian
laring berfungsi juga sebagai alat pengatur sirkulasi darah. 5
4. Menelan
Fungsi laring dalam membantu proses menelan ialah dengan tiga
mekanisme, yaitu gerakan laring bagian bawah ke atas, menutup aditus
laringis dan mendorong bolus makanan turun ke hipofaring dan tidak
mungkin masuk ke dalam laring. 5,7
5. Fonasi.
Fungsi laring yang lain ialah untuk fonasi, dengan membuat suara serta
menentukan tinggi rendahnya nada. Tinggi rendahnya nada diatur oleh
ketegangan plika vokalis. Bila plika vokalis dalam aduksi, maka m.
krikotiroid akan merotasikan kartilago tiroid ke bawah dan ke depan,
menjauhi kartilago aritenoid. Pada saat yang bersamaan m. krikoaritenoid

posterior akan menahan atau menarik kartilago aritenoid ke belakang. Plika


vokalis kini dalam keadaan yang efektif untuk berkontraksi. Sebaliknya
kontraksi m. krikoaritenoid akan mendorong kartilago aritenoid ke depan,
sehingga plika vokalis akan mengendor. Kontraksi serta mengendornya plika
vokalis akan menentukan tinggi rendahnya nada. 2,5,7
II. 3.
ETIOLOGI
Lesi penyebab paralisis plica vocalis dapat berupa:
1. Lesi kongenital
Diperkirakan frekuensi paralisis plica vocalis sekitar dari 1,5 hingga
23% dari seluruh lesi kongenital pada laring, berdasarkan beberapa penulis
dan menduduki peringkat kedua. Holinger dkk menemukan bahwa lesi
kongenital lebih sering daripada lesi yang didapat.9
2. Lesi yang didapat
Kelompok lesi yang didapat dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu:2,69
Traumatik
Lesi traumatik seringkali disebabkan oleh peregangan nervus laryngeus
rekuren pada saat partus pervaginal atau trauma operatif dalam
manajemen kista bronkogenik, fistel trakeoesofagal, atau patent ductus
arteriosus9

Infeksi
Penyakit infeksi seperti whooping cough, ensefalitis, poliomyelitis,
difteri, rabies, tetanus, sifilis, dan botulism jarang didapatkan namun
dapat menyebabkan paralisis plica vocalis.8

Neoplastik
Tumor otak dan spinal juga jarang terjadi tetapi dapat menyebabkan
paralisis plica vocalis unilateral atau bilateral4
Lesi sepanjang perjalanan nervus laringeus rekurens dapat menimbulkan

paralisis laring dan dapat dikelompokkan berdasarkan letak lesi. 8,9


10

1. Lesi intracranial
Lesi intracranial

biasanya

disertai

gejala-gejala

lain

dan

lebih

bermanifestasi sebagai gangguan neurologis dan bukannya gangguan suara


atau artikulasi.8
2. Lesi batang otak
Lesi batang otak terutama menimbulkan gangguan suara, namun dapat pula
disertai tanda-tanda neurologis lain.8
3. Lesi dasar cranium dan di bawahnya
Lesi pada dasar cranium yang secara selektif melibatkan satu atau lebih
saraf kranialis termasuk tumor nasofaring, aneurisma dan tumor
neurologik. Tumor yang berasal dari spasium laterofaringeus serta dari
lobus profunda kelenjar parotis, juga dapat menyebabkan paralisis korda
vokalis. Demikian pula tiroidektomi atau pembedahan leher lainnya.
Neoplasma tiroid, esophagus dan paru merupakan penyebab paralisis korda
vokalis yang lazim. Tekanan mekanis dari struktur kardiovaskuler yang
terdilatasi atau abnormal, kista yang teregang atau adenopati hilus yang
membesar dengan cepat, dapat pula menimbulkan paralisis korda vokalis.8
II. 4.

INSIDEN
Studi prospektif oleh Toutounchi dkk, pada 45 pasien yang didiagnosa

paralisis plica vocalis, didapatkan paralisis plica vocalis bilateral sebanyak


6,82%, paralisis plica vocalis kiri 56,82% dan kanan 63,36% dari subjek yang
diteliti. Penyebab paralisis plica vocalis yang ditemukan adalah idiopatik
(31,11%), tumor (31,11%), iatrogenic (28,89%), trauma, masalah pada otak,
penyakit sistemik dan penyebab lain (2,2%). 8
II. 5.

PATOFISIOLOGI
Patofisiologi paralisis plica vocalis bilateral belum jelas, tetapi ada

beberapa hal yang dapat menyebabkan kondisi ini, yaitu (1) kompresi nervus
vagus dalam foramen magnum, (2) traksi cervical rootlet dari nervus vagus
akibat dislokasi kaudal batang otak, atau (3) disgenesis batang otak. Banyak
penulis memilih teori kompresi karena jika dilakukan dekompresi secepatnya

11

pada penyakit hidrosefalus atau malformasi ArnoldChiari, plica vocalis dapat


berfungsi kembali. Paralisis pita suara bilateral familial dan apneu yang
persisten setelah dilakukan trakeostomi dapat dijelaskan oleh teori disgenesis.
Penyebab paralisis plica vocalis mungkin disebabkan lebih dari satu lesi. 9
Pada daerah laring, secara anatomis terdapat nervus vagus dan
cabangnya yaitu nervus laringeus rekurens yang mempersarafi otot-otot yang
membantu pergerakan pita suara, seperti otot m.krikotiroid, m.krikoarytenoid.
Dalam keadaan normal, bila plika vokalis dalam adduksi, maka m.krikotiroid
akan merotasikan kartilago tiroid ke bawah dan kedepan, menjauhi kartilago
arytenoids. Pada saat yang bersamaan m.krikoarytenoid posterior akan
menahan atau menarik kartilago arytenoids ke belakang. Plika vokalis akan
mengendor. Kontraksi serta mengendornya plika vokalis akan menentukan
tinggi rendahnya nada. 9,11,14
Nervus laringeus rekurens mempersarafi empat otot-otot intrinsik laring:
m. thyroarytenoid, m. cricoarytenoid posterior, m.cricoarytenoid lateral.
Inervasi

otot-otot

ini

bersifat

unilateral.

Otot

thyroarytenoid

dan

cricoarytenoid lateral merupakan otot adduktor dari plica vocalis. Tidak


adanya persarafan otot-otot ini secara unilateral menyebabkan glottis tidak
dapat menutup dan menghasilkan suara mendesah dan dapat terjadi aspirasi.
Otot cricoarytenoid posterior merupakan otot abduktor utama dari plica
vocalis. Paralisis dari otot ini dapat menyebabkan ketidakmampuan untuk
abduksi selama inspirasi. Tidak adanya persarafan m.cricoarytenoid posterior
biasanya menyebabkan subluksasi anteromedial kartilago arytenoid pada
paralisis plica vocalis unilateral dan m.cricoarytenoid posterior tidak dapat
menahan tarikan kartilago arytenoid ke arah anterior oleh ligamen plica
vocalis. Jika kedua otot cricoarytenoid posterior tidak mendapat persarafan,
seperti pada paralisis nervus laringeus rekurens bilateral, dapat terjadi
obstruksi jalan napas. 9,14
II. 6.

KLASIFIKASI

12

1. Paralisis plica vocalis unilateral


Paralisis nervus laryngeal rekuren unilateral dapat disebabkan oleh
iatrogenic (misalnya operasi tiroid, esophagus, tulang cervical, dan operasi
thoraks). Dapat pula disebabkan secara primer atau sekunder oleh
karsinoma paru, atau tumor esophagus dan tiroid yang malignan.
Aneurisma aorta atau dilatasi atrium kiri (Ortner sindrom) dan trauma
dapat pula mendukung kelumpuhan plica vocalis unilateral. Etiologi
paralisis plica vocalis unilateral dapat juga idiopatik 10
Paralisis pita suara unilateral harus dianggap suatu gejala, yang
menggambarkan penyakit di sepanjang perjalanan nervus laringeus
rekuren. Sebagai cabang nervus vagus, nervus rekuren mempersarafi
sebagian besar otot-otot intrinsik laring. Karena nervus laringeus rekuren
sinistra turun ke dalam mediastinum untuk melingkari aorta dan kembali ke
atas (yang kanan tidak), maka paralisis pita suara kiri sembilan kali lebih
sering terjadi daripada yang kanan.
Paralisis n.laringeal rekuren unilateral
Hal-hal yang penting dalam diagnosis adalah:
Disfoni
Batuk Bovine
Paralisis plica vocalis unilateral paramedian
Lelah dengan pemakaian suara
Evaluasi awal terhadap paralisis plica vocalis unilateral adalah untuk
menentukan apakah paralisis ini merupakan cedera n.laringeal rekuren
atau kerusakan n.vagus. Lesi yang menunjukkan karakteristik
kelumpuhan plica vocalis paramedian ditemukan di bawah dari
n.laringeus superior. Pita suara yang lumpuh ditemukan dalam posisi
paramedian karena kerja otot krikotiroid terhambat10.

Paralisis vagal komplit unilateral10


Hal yang penting dalam diagnosis:
Suara serak, lemah
Kemungkinan adanya riwayat aspirasi
Tempat cedera adalah di atas n.laringeal superior
13

Posisi plica vocalis pada intermediet lateral


Selama evaluasi kelumpuhan vagal unilateral, penting untuk
menentukan letak kerusakan saraf pada basis cranii, batang otak, atau
pada serebrum. Karena kehilangan fungsi n.laringeal superior, terjadi
penurunan sensorik dari laring di atas plica vocalis pada sisi yang
terkena dan kehilangan fungsi otot krikotiroid. Kehilangan fungsi
n.vagus, menyebabkan paralisis plica vocalis lebih ke lateral dengan
posisi intermediet, atau cadaveric.10
2. Paralisis plica vocalis bilateral
Terjadinya paralisis nervus laryngeal rekurens bilateral kebanyakan
disebabkan oleh proses pembedahan tiroid, terutama total tiroidektomi.
Penyebab lainnya yang jarang adalah karena pertumbuhan tumor tiroid
yang malignan. Paralisis nervus komplit nervus vagal bilateral biasanya
melibatkan nervus kranialis, yakni nervus glosofaringeus dan nervus
hipoglosus. Pada paralisis ini terjadi imobilisasi dari pita suara yang
berlokasi pada posisi intermediate dengan pelebaran celah glottis13,14
Paralisis korda vokalis bilateral menampilkan masalah berbeda.
Karena kedua korda vokalis biasanya dalam posisi paramedian, maka suara
tidak terlalu terpengaruh, akan tetapi rima glottis tidak cukup lebar untuk
kegiatan yang mengerahkan tenaga. Pasien bahkan mengalami sesak nafas
pada waktu istirahat. Biasanya pasien dengan paralisis korda vokalis
bilateral mempunyai korda vokalis yang hamper melekat, sehingga
sebagian besar memerlukan trakeostomi guna mengurangi obstruksi jalan
napas. Dan sangat

jarang pada pasien dengan paralisis korda vokalis

bilateral mempunyai korda vokalis yang terpisah lebar. Korda vokalis yang
dalam posisi teraduksi bukan diakibatkan lesi neurogenik, namun dapat
timbul akibat trauma laring. Pada kasus ini, jalan napas masih baik namun
suara menjadi lemah dan disertai bunyi napas. Pita suara dalam posisi

14

adduksi lebih sering ditemukan pada paralisis bilateral akibat lesi


neurologik, dan pasien memiliki suara yang baik dengan pernapasan buruk8
Paralisis n.laringeal rekuren bilatera10
Hal yang penting dalam diagnosis:
Sering datang dengan stridor
Suara dapat normal
Biasanya ada riwayat operasi tiroid
Plica vocalis menetap di posisi median hingga paramedian
Pasien dapat datang dengan riwayat operasi tiroidbiasanya
tiroidektomi total. Tumor tiroid malignant jarang menjadi penyebab
yang mendasari.10

Paralisis n.vagus komplit bilateral10,12


Hal yang penting dalam diagnosis:
Suara lemah
Riwayat aspirasi dan tersedak
Plica vocalis pada posisi intermediet
Apertura glottis baik saat istirahat
Keterlibatan n.vagal, atau batang otak bilateral jarang terjadi dan
biasanya merupakan akibat sekunder dari penyebab neurologic.
Kehilangan sensorik supraglotik secara lengkap menyebabkan risisko
aspirasi yang signifikan. Paralisis vagal biasanya disertai keterlibatan
nervus kranialis yang lain, umumnya n.glossopharyngeal dan
hypoglossal.10,11,12

II. 7.

DIAGNOSIS

Anamnesis
Gejala kelumpuhan pita suara didapat adalah suara parau, stridor atau
bahkan disertai kesulitan menelan tergantung pada penyebabnya Gejala yang
dapat timbul pada paralisis plica vocalis unilateral adalah suara desah, serak
dan lemah di mana terdapat restriksi dalam jangkauan volume dan nada.
15

Suara dapat memburuk seiring waktu akibat penggunaan mekanisme


kompensasi yang tidak benar. Seringkali suara hampir normal. Paralisis korda
vokalis unilateral pada anak memiliki cirri tambahan. Karena ukuran glottis
yang kecil, maka paralisis unilateral pada anak dapat membahayakan jalan
napas, sehingga secara klinis mengakibatkan stridor. Pada paralisis plica
vocalis bilateral, distress napas yang berat dapat menjadi gambaran yang
dominan. 5
Pemeriksaan Laringoskopi Indirect dan Direct
Pemeriksaan ini diperlukan untuk menentukan pita suara sisi mana yang
mengalami lumpuh serta gerakan adduksi dan abduksinya. Jika terjadi
paralisis nervus laryngeal superior dan rekuren, atau terjadi paralisis nervus
vagus komplit, maka plica vocalis akan berada pada posisi intermediet. Jika
hanya nervus laringeus rekuren yang mengalami paralisis, plica vocalis akan
berada pada posisi paramedian dan menyebabkan jalan napas tidak adekuat.

(a)

(b)

Gambar 5. Gambaran pada pemeriksaan laringoskopi waktu respirasi menunjukkan


plica vocalis yang paralisis (a)unilateral
dan (b) bilateral12,15

16

Gambar 6. Posisi plica vocalis pada paralisis plica vocalis unilateral9

Gambar 7: Posisi pita suarapada paralisis laring6

17

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laringeal electromyography (LEMG) dilakukan untuk
mengukur arus listrik pada otot laring. LEMG memberikan informasi
mengenai patofisiologi imobilitas dan dismotilitas. Dengan informasi ini,
dapat ditentukan pemilihan terapi berdasarkan pemahaman etiologi dari
kelainan tersebut. 5,15
2. Radiologi: foto thoraks, tomografi computer atau MRI dilakukan
tergantung pada kelainan dugaan penyebabnya, misalnya gangguan
serebral, maupun di tempat lain.5,15
II. 8.
PENANGANAN
a. Konservatif
Terapi paralisis plica vocalis unilateral dimulai dari terapi suara
konservatif, di mana harus didukung oleh stimulasi elektrik yang sinkron
untuk mencegah atrofi muscular. Stimulasi elektrik sendiri tidak berarti jika
tidak dilakukan dengan terapi suara secara sinkron. Jika terapi suara
konservatif gagal, prosedur phonosurgical harus dipertimbangkan.9,11
b. Pembedahan
Sesuai aturan, operasi tidak dilakukan hingga satu tahun setelah onset
paralisis plica vocalis untuk menunggu kemungkinan pemulihan spontan.
Dapat dipertimbangkan phonosurgery yang lebih awal untuk pasien-pasien tua
di mana terapi suara konservatif tidak efektif akibat kelemahan fisik.12
Paralisis plica vocalis unilateral
Dua pilihan pembedahan pada pasien dengan paralisis plica vocalis
unilateral adalah: 9,11
1. Medialization. Prosedur medialization termasuk laringoplasti injeksi
dan operasi laryngeal.
Laringoplasti injeksi: Beberapa materi telah diinjeksikan untuk
memperbaiki kemampuan glotik. Yang diinjeksikan termasuk
polytetrafluoroethylene (biasa diketahui sebagai Teflon), bubuk
gelatin yang dapat diabsorpsi (gelfoam), lemak, kolagen, kolagen
dermal, hydroxylapatite, dan lain-lain.

18

Operasi laryngeal: Thyroplasty dan rotasi aritenoid. Prosedur ini


bertujuan memperbaiki penutupan glottis posterior
2. Reinervasi. Beberapa prosedur reinervasi untuk paralisis plica vocalis
telah dideskripsikan menggunakan ansa cervicalis, n.phrenicus, neuron
simpatis preganglionik, n.hipoglossal, dan saraf-pedikel otot. Tujuan
utama prosedur reinervasi adalah untuk mencegah atrofi otot-otot

laring.9,11
Paralisis plica vocalis bilateral
Trakeostomi. Paralisis plica vocalis bilateral dengan distress napas
yang serius perlu diberi tindakan pada stadium akut dengan intubasi
atau trakeotomi. Pasien yang ditrakeotomi sebaiknya dipasang
speaking tube. Tube ini membiarkan trakeostomi tetap terbuka dan
juga membebaskan aliran napas. Pada ekspirasi, sebuah katup flap
kecil mengoklusi tuba tersebut dan udara yang dikeluarkan dapat
digunakan untuk fonasi seperti biasanya.10,13
Kordotomi dan aritenoidektomi merupakan dengan atau tidak adanya
jahitan lateralisasi dari plica vocalis merupakan prosedur yang paling
umum dilakukan untuk terapi plica vocalis bilateral. Pada kasus
kronik dengan respirasi yang bagus yang tidak membutuhkan
trakeostomi, dapat diusahakan pelebaran glottis dengan prosedur
operasi minor pada plica vocalis (arytenoidektomi). Namun, hal ini
hampir selalu menyebabkan perubahan suara akibat penutupan glottis
yang tidak sempurna.10

II. 9.

KESIMPULAN
Paralisis plica vocalis adalah terganggunya pergerakan pita suara di

mana plika vokalis terpaku ditempatnya pada posisi tertentu karena disfungsi
saraf yang mempersarafi otot-otot laring yaitu disfungsi nervus laryngeal
rekuren atau nervus vagus. Penyebab paralisis plica vocalis dapat berupa lesi

19

kongenital dan lesi yang didapat, di mana lesi kongenital biasa lebih banyak
ditemukan. Les didapat dapat berupa infeksi, traumatik, dan neoplasma.
Insidensi paralisis plica vocalis unilateral lebih tinggi dibandingkan bilateral
dan etiologi tersering yang menyebabkan paralisis plica vocalis adalah
idiopatik, tumor dan iatrogenik. Patofisiologi paralisis plica vocalis bilateral
belum jelas, tetapi ada beberapa hal yang dapat menyebabkan kondisi ini,
yaitu (1) kompresi nervus vagus dalam foramen magnum, (2) traksi cervical
rootlet dari nervus vagus akibat dislokasi kaudal batang otak, atau (3)
disgenesis batang otak.
Paralisis plica vocalis diklasifikasikan menjadi dua yaitu paralisis plica
vocalis unilateral dan bilateral. Paralisis plica vocalis unilateral dibagi lagi
menjadi dua kelompok berdasarkan letak lesinya yaitu paralisis nervus
laringeus rekuren unilateral dan paralisis nervus vagus komplit unilateral.
Demikian pula paralisis bilateral dibagi menjadi dua berdasarkan letak
lesinya yaitu paralisis nervus laringeus rekuren bilateral dan paralisis nervus
vagus komplit bilateral. Etiologi dan gejala yang ditimbulkan dari paralisis
plica vocalis unilateral dan bilateral berbeda. Diagnosis paralisis plica
vocalis dapat dilakukan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan laringoskopi
direk dan indirek, serta pemeriksaan penunjang lain seperti LEMG dan
radiologi sesuai dengan kemungkinan penyebabnya. Penatalaksanaan
paralisis plica vocalis dapat berupa terapi konservatif dan pembedahan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Hermany B, dkk. Kelainan Laring. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung,
tenggorokan, kepala dan leher, Edisi keenam. FKUI. Jakarta. 2009. P 242
2. Rudolf Probst, Gerhard Grevers, Heinrich Iro. "Larynx and Trachea." In Basic
Otorhinolaryngology, by Gerhard Grevers, Heinrich Iro Rudolf Probst, 338344,380-383. New York: Thieme, 2006.

20

3. Emily Kay-Rivest, Elliot Mitmaker, Richard J. Payne, Michael P. Hier, Alex M.


Mlynarek, Jonathan Young. "Preoperative vocal cord paralysis and its association
with malignant thyroid disease and other pathological features." Journal of
Otorolaryngology-Head and Neck Surgery, 2015: 1-5.
4. J.W Dankbaar, F.A.Pameijer. "Insight Imaging." Vocal cord paralysis: anatomy,
imaging and pathology, July 16, 2014: 743-751.
5. Hermany B, dkk. Disfoni. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung, tenggorokan,
kepala dan leher, Edisi keenam. FKUI. Jakarta. 2009. P 231-6
6. "Vocal Cord Paralysisi." American Academy of Otolaryngology-Head and Neck
Surgery, 2010: 1-3.
7. Christy L.Ludlow,Eric A.Mann. Neurogenic and Functional Disorders of the
Larynx. In Ballengers Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery, by James
B.Snow, John Jacob Ballenger,MD Jr, 1218-1236. Spain: BC Decker Inc, 2003.
8. Toutounchi SJS. Vocal Cord Paralysis and its Etiologies: A Prospective Study. J
Cardiovasc Thorac Res.
9. Lalwani AK. Otolaryngol Clin N Am. Current Diagnosis and Tratment . New
York: Mc Graw Hill.2007
10. Rudolf Probst, Gerhard Grevers, Heinrich Iro. "Voice Disordes." In Basic
Otorhinology, by Gerhard Grevers, Heinrich Iro Rudolf Probst, 393-395. New
York: Thieme, 2006.
11. VyVy N. Young,C. Blake Simpson. "Treatment of Vocal Fold Paralysis." In
Baileys's Head and Neck Surgery-Otorolaryngology 5th Edition, by Clark A.
Rosen Jonas T.Johnson, 1038-1057. China: Lippincott Williams & Wllkins, 2014.
12. Bansal, Mohan. Laryngeal Symptoms and Examination. In Disease of Ear,Nose
and Throat Head and Neck Surgery, by Mohan Bansal, 467-476. New Delhi:
Jaypee Brothers Medical Publishers (P) Ltd, 2013.
13. R.Bull, Tony. Color Atlas of ENT Diagnosis. New York: Thieme, 2003.
14. R.S. Dhillion, C.A East. Ear,Nose And Throat and Head And Neck Surgery.
London: Churchill Livingstone, 1999.
15. Michael Hawke, Brian Bingham,Heinz Stammberger, Bruce Benjamin.
Diagnistic Handbook of Otorhinolaryngology. London: Martin Dunitz, 2007.

21

22