LAPORAN KEGIATAN USAHA KESEHATAN MASYARAKAT (UKM)
F6. Upaya Pengobatan Dasar
Oleh :
dr. Devi Taurina
Periode Internsip 29 Juni-24 Oktober 2015
PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT SOOKO
MOJOKERTO
2015
HALAMAN PENGESAHAN
Nama
: dr. Devi Taurina
Judul Laporan Kasus
: Upaya Pengobatan Dasar
Mojokerto, 14 Oktober 2015
Mengetahui
Dokter Pendamping
dr. Herry Boediyono
BAB I
LATAR BELAKANG
Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi tungau Sarcoptes
Scabei varian hominis dan produknya pada tubuh. Penyakit kulit merupakan penyakit yang
mudah menular. Penyakit ini dapat ditularkan secara langsung (kontak kulit dengan kulit
misalnya berjabat tangan, tidur bersama, dan melalui hubunagn seksual). Penularan secara
tidak langsung (melalui benda), misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal, dan selimut.
Penyakit ini tidak membahayakan manusia namun adanya rasa gatal pada malam hari ini
merupakan gejala utama yang mengganggu aktivitas dan produktivitas. Penyakit ini banyak
terjangkit di (1) lingkungan yang padat penduduknya, (2) lingkungan kumuh, (3) lingkungan
yang tingkat kebersihan kurang. cenderung tinggi pada anak-anak usia sekolah, remaja,
bahkan orang dewasa.
Etiologi
Penyebabnya penyakit scabies sudah dikenal lebih dari 100 tahun lalu sebagai akibat infestasi
tungau yang dinamakan Acarus scabiei atau pada manusia disebut Sarcoptes scabiei varian
hominis. Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Acarina, super
famili Sarcoptes. Secara morfologi tungau ini berbentuk oval dan gepeng, bewarna putih
kotor, transulen dengan bagian punggung lebih lonjong dibandingkan perut, tidak bewarna,
yang betina berukuran 300-350 mikron, sedangkan yang jantan berukuran 150-200 mikron.
Stadium dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang merupakan kaki depan dan 2 pasang
lainnya kaki belakang. Siklus hidup dari telur sampai menjadi dewasa berlangsung satu
bulan. Sarcoptes scabiei betina terdapat bulu cambuk pada pasangan kaki ke-3 dan ke-4.
Sedangkan pada yang jantan bulu cambuk demikian hanya dijumpai pada pasangan kaki ke 3
saja.
Epidemiologi
Faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini antara lain sosial ekonomi yang rendah,
hygiene yang buruk, hubungan seksual dan sifatnya promiskultas (ganti-ganti pasangan),
kesalahan diagnosis dan perkembangan demografi serta ekologi. Selain itu faktor
penularannya bisa melalui tidur bersama dalam satu tempat tidur, lewat pakaian,
perlengkapan tidur atau benda-benda lainnya. Cara penularan (transmisi): kontak langsung
misal berjabat tangan, tidur bersama dan kontak seksual. Kontak tidak langsung misalnya
melalui pakaian, handuk, sprei, bantal, dan lain-lain.
Cara penularan
Penyakit scabies dapat ditularkan melaui kontak langsung maupun kontak tak langsung. Yang
paling sering adalah kontak langsung yang saling bersentuhan atau dapat pula melalui alatalat seperti tempat tidur, handuk, dan pakaian.
Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kebersihan perseorangan dan lingkungan, atau
apabila banyak orang yang tinggal secara bersama-sama di satu tempat yang relatif sempit.
Penularan scabies terjadi ketika orang-orang tidur bersama di satu tempat tidur yang sama di
lingkungan rumah tangga, sekolah-sekolah yang menyediakan fasilitas asrama dan
pemondokan, serta fasilitas-fasilitas umum lain yang dipakai secara bersama-sama di
lingkungan padat penduduk.
Gambaran klinis
Keluhan pertama yang dirasakan penderita adalah rasa gatal terutama pada malam hari
(pruritus nokturnal) atau bila cuaca panas serta pasien berkeringat. Diagnosa dapat
ditegakkan dengan menentukan 2 dari 4 tanda di bawah ini:
a. Pruritus nokturnal yaitu gatal pada malam hari karena aktifitas tungau yang lebih tinggi
pada suhu yang lembab dan panas.
b. Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok, misalnya dalam keluarga biasanya
seluruh anggota keluarganya, perkampungan yang padat penduduknya, sebagian tetangga
yang berdekatan dan akan diserang oleh tungau tersebut. Dikenal dengan hiposensitisasi
yang seluruh anggota keluarganya terkena.
c. Adanya kunikulus (terowongan) pada sempat tempat-tempat yang dicurigai berwarna putih
atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata 1 cm, pada ujung
terowongan ditemukan papula (tonjolan padat) atau vesikel (kantungan cairan). Jika ada
infeksi sekunder, timbul polimorf (gelembung leokosit).
d. Menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat ditemukan satu atau
lebih stadium hidup tungau ini. Gatal yang hebat terutama pada malm hari sebelum tidur.
Adanya tanda: papul (bintil), pustula (bintil bernanah), eksoriasi (bekas garukan), bekasbekas lesi yang bewarna hitam.
e.
Gejala yang ditunjukkan adalah warna merah, iritasi dan rasa gatal pada kulit yang
umumnya muncul disela sela jari, selangkangan dan lipatan paha, dan muncul
gelembung berair pada kulit.
Klasifikasi Scabies
Adapun bentuk-bentuk khusus scabies yang sering terjadi pada manusia adalah sebagai
berikut:
a.
Scabies pada orang bersih ( in the clean)
Tipe ini sering ditemukan bersamaan dengan penyakit menular lain. Ditandai dengan
gejala minimal dan sukar ditemukan terowongan. Kutu biasanya menghilang akibat
mandi secara teratur.
b.
Scabies pada bayi dan anak kecil
Gambaran klinis tidak khas, terowongan sulit ditemukan namun vesikel lebih banyak,
dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki.
c.
Scabies noduler (Nodular )
Lesi berupa nodul coklat kemerahan yang gatal pada daerah tertutup. Nodul dapat
bertahan beberapa bulan hingga beberapa tahun walaupun telah diberikan obat anti
scabies.
d.
Scabies in cognito
Scabies akibat pengobatan dengan menggunakan kortikosteroid topikal atau sistemik.
Pemberian obat ini hanya dapat memeperbaiki gejala klinik (rasa gatal) tapi
penyakitnya tetap ada dan tetap menular.
e.
Scabies yang ditularkan oleh hewan (Animal transmitted )
Gejala ringan, rasa gatal kurang, tidak timbul terowongan, lesi terutama terdapat pada
tempat-tempat kontak, dapat sembuh sendiri bila menjauhi hewan tersebut dan mandi
yang bersih.
f.
Scabies krustosa (crustes / keratorik)
Tipe ini jarang terjadi, namun bila ditemui kasus ini, dan terjadi keterlambatan
didiagnosis maka kondisi ini akan sangat menular.
g.
Scabies terbaring di tempat tidur (Bed ridden)
Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus terbaring di tempat tidur
dapat menderita scabies yang lesinya terbatas.
h.
Scabies yang disertai penyakit menular seksual yang lain
Apabila ada scabies di daerah genital perlu dicari kemungkinan penyakit menular
seksual yang lain, dimulai dengan pemeriksaan biakan atau gonore dan pemeriksaan
serologi untuk sifilis.
i.
Scabies dan Aquiired Immunodeficiency Syndrome (AIDS)
Ditemukan scabies atipik dan pneumonia pada seorang penderita.
j.
Scabies dishidrosiform
Jenis ini ditandai oleh lesi berupa kelompok vesikel dan pustula pada tangan dan kaki
yang sering berulang dan selalu sembuh dengan obat antiscabies.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan atas dasar: (1) Adanya terowongan yang sedikit meninggi, berbentuk
garis lurus atau kelok-kelok, panjangnya beberapa milimeter sampai 1 cm, dan pada
ujungnya tampak vesikula, papula, atau pustula (2). Tempat predileksi yang khas adalah
sela jari, pergelangan tangan bagian voalr, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan,
aerola mamae (wanita), umbilicus, bokong, genitalia eksterna (pria).
Pada orang dewasa jarang terdapat di muka dan kepala, kecuali pada penderita
immunosupresif, sedangkan pada bayi, lesi dapat terjadi di seluruh permukaan kulit. (3).
Penyembuhan cepat setelah pemberian obat antiscabies topikal yang efektif. (4). Adanya
gatal hebat pada malam hari. Bila lebih dari satu anggota keluarga menderita gatal, harus
dicurigai adanya scabies. Gatal pada malam hari ini disebabkan oelh temperatur tubuh
menjadi lebih tinggi sehingga aktivitas kutu meningkat.
BAB II
PERMASALAHAN
Selama menjalani program internship di Puskesmas Sooko, penulis sering kali menjumpai
kasus scabies. Berikut penulis ambil salah satu kasus pasien yang datang ke Bagian Poli
Umum Puskesmas Sooko pada tanggal 14 Juli 2015 dengan identitas dan riwayat penyakit di
bawah ini :
IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien
Sdr. W
Usia
14 tahun
Jenis Kelamin
Laki-laki
Pekerjaan
Swasta
Alamat
Blimbingsari-Sooko
ANAMNESIS
Pasien datang ke Puskesmas dengan keluhan bintik-bintik pada sela-sela jari dan lipatan
paha, sejak 1 minggu yang lalu disertai gatal, gatal memberat saat malam hari. Teman pasien
juga mengeluh gatal yang serupa di tangan. Pasien mondok di Pesantren, dan pulangnya
seminggu sekali. Pasien belum pernah berobat sebelumnya.
PEMERIKSAAN FISIK
Deskripsi Umum :
Kesan sakit: Tampak sakit ringan
Gizi: Kesan gizi cukup
Berat badan: 45 kg
Tinggi badan: 150 cm
Tanda Vital:
Kesadaran: Compos mentis, GCS 456
Tekanan darah: 120/80 mmHg
Nadi: 80x/menit
Pernafasan: 20x/menit
Tax: 36.7oC
Kepala :
CA (-/-), SI (-/-)
Leher
Lnn tidak teraba
Thoraks
dbn
IMT: 20 kg/m2
Abdomen
dbn
Ekstremitas
akral dingin (-), wpk <2 detik, edema (-)
Status Dermatologi
Lokasi : Sela Jari-jari tangan, lipatan paha
Distribusi
: Terlokalisir
Ruam : Papula dengan dasar eritematous, multiple, bentuk bulat, batas
ukuran 1-5mm, ekskoriasi.
Kesimpulan :
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.
DIAGNOSIS
Scabies
TERAPI
Scabisit cream no I
CTM 2x1
Olahraga teratur
Memutus rantai penularan dengan cara menjaga kebersihan diri
BAB III
PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI
tegas,
Sebelum memberikan intervensi kita harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana
patogenesis terjadinya scabies. Sehingga kita dapat menentukan terapi mana yang paling
tepat dari sekian banyak terapi yang ada.
Patogenesis:
Kelainan kulit disebabkan tidak hanya oleh tungai scabies, tetapi juga oleh penderita sendiri
akibat garukan. Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang
kuat, menyebabkan kulit timbul pada pergelangan tangan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh
sensitisasi terhadap sekret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan
setelah infestasi. Pada saat itu kelaian kulit menyerupai dermatitis dengan ditemuakannya
papul, vesikel, urtikaria dan lain-lain.
Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder. Kelainan kulit
yang gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau.
Siklus hidup tungau mulai dari telur sampai dewasa memerlukan waktu selama 10-14 hari.
Pada suhu kamar (21oC dengan kelembaban relatif 40-80%) tungau masih dapat hidup diluar
pejamu selama 24-36 jam.
Penularan secara tidak langsung (melalui benda), misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal,
dan selimut. Penyakit ini tidak membahayakan manusia namun adanya rasa gatal pada malam
hari ini merupakan gejala utama yang mengganggu aktivitas dan produktivitas. Penyakit ini
banyak terjangkit di (1) lingkungan yang padat penduduknya, (2) lingkungan kumuh, (3)
lingkungan yang tingkat kebersihan kurang. Scabies cenderung tinggi pada anak-anak usia
sekolah, remaja, bahkan orang dewasa.
Dari proses yang dijelaskan di atas patutnya kita memilih intervensi yang menjaga kebersihan
diri, mengobati pasien serumah, serta menghinderi penggunaan alat-alat pribadi bersamaan.
BAB IV
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan
1.
Secara umum
Pada pasien dianjukan untuk menjaga kebersihan dan mandi teratur setiap hari. Semua
pakaian, sprei, dan handuk yang telah digunakan harus dicuci secara teratur dan bila
perlu direndam dengan air panas. Demikian pula halnya dengan anggota keluarga yang
beresiko tinggi untuk tertular, terutama bayi dan anak-anak juga harus dijaga
kebersihannya dan untuk sementara waktu menghindari terjadinya kontak langsung.
Secara umum tingkat kebersihan lingkungan maupun perorangan dan tingkatkan status
gizinya. Beberapa syarat pengobatan yang harus diperhatikan:
1). Semua anggota keluarga harus diperiksa dan mungkin semua harus diberi pengobatan
secara serentak.
2). Hygiene perorangan : penderita harus mandi bersih, bila perlu menggunakan sikat
untuk menyikat badan. Sesudah mandi pakaian yang akan dipakai harus disetrika.
3). Semua perlengkapan rumah tangga seperti bangku, sofa, sprei, bantal, kasur, selimut
harus dibersihkan dan dijemur di bawah sinar matahari selama beberapa jam.
b. Penatalaksanaan secara khusus
1). Belerang endap (sulfur presipitatum) dengan kadar 4-20% dalam bentuk salap atau
krim. Kekurangannya ialah berbau dan mengotori pakaian dan kadang-kadang
menimbulkan iritasi. Dapat dipakai pada bayi berumur kurang dari 2 tahun.
2). Emulsi bensil-benzoas (20-25%), efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap
malam selama tiga hari. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi,
BAB V
MONITORING DAN EVALUASI
Satu minggu kemudian, yaitu pada tanggal 17 Juli 2015 pasien datang ke Bagian Poli
Umum Puskesmas Sooko untuk kontrol. Dari anamnesis didapatkan keluhan pasien telah
banyak berkurang. Sudah tidak ditemuka bintik-bintik di sela-sela jari pasien. Dalam
pemeriksaan fisik status dermatologi tidak ditemukan kelainan. Pasien diberikan edukasi
tentang:
Kebersihan badan: Mandi memakai sabun sekurang-kurangnya dua kali sehari,tangan
dalam keadaan bersih, kuku bersih dan pendek.
Kebersihan pakaian: Pakaian dicuci dan diseterika, disimpan dalam lemari.Hindari
pemakaian pakaian secara bersama-sama.
Edukasi kepada pasien mengenai faktor-faktor yang terkait mempengaruhi kesehatan
antara lain gizi makanan,sarana air bersih, pembuangan air limbah, pembuangan sampah,
polusi udara, serta kebersihan diri.
Menjaga kebersihan rumah dan berventilasi cukup
KOMENTAR/UMPAN BALIK:
Peserta
dr. Devi Taurina
Pendamping
dr. Herry Boediyono