Anda di halaman 1dari 20

BIAYA PENDIDIKAN MODEL BOS (SD)

MATA KULIAH
MANAJEMEN KEUANGAN PENDIDIKAN

Oleh:
KIKI WULAN SARIE

(147845006)

PRODI MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN


PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SURABAYA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu kunci penanggulangan kemiskinan dalam jangka
menengah dan jangka panjang. Namun, sampai dengan saat ini masih banyak orang miskin
yang memiliki keterbatasan akses untuk memperoleh pendidikan bermutu, hal ini disebabkan
antara lain karena mahalnya biaya pendidikan. Disisi lain, Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara
berusia 7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yang dikenal dengan Program Wajib
Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun. Konsekuensi dari hal tersebut maka pemerintah
wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan
dasar (SD/MI dan SMP/Mts serta satuan pendidikan yang sederajat).
Meningkatnya kebutuhan dalam bidang pendidikan tersebut telah mendorong pemerintah
Indonesia untuk menyalurkan berbagai bantuan demi keberlangsungan penyelenggaraan
pendidikan di Indonesia, salah satunya adalah dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Dana bantuan operasional Sekolah (BOS) ini merupakan dana bantuan pemerintah di bidang
pendidikan yang diperuntukkan bagi setiap sekolah tingkat dasar di Indonesia dengan tujuan
untuk meminimalisasi beban biaya pendidikan demi tuntasnya program Wajib belajar
sembilan tahun yang bermutu. Berkaitan dengan ini, secara khusus seluruh siswa miskin di
tingkat pendidikan dasar negeri maupun sekolah swasta bebas dari beban biaya operasional
sekolah. Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dimulai sejak bulan Juli 2005,
telah berperan secara signifikan dalam percepatan pencapaian program wajar 9 tahun. Oleh
karena itu, mulai tahun 2009 pemerintah telah melakukan perubahan tujuan, pendekatan dan
orientasi program BOS, dari perluasan akses menuju peningkatan kualitas.
Dana BOS yang diberikan untuk sekolah juga perlu dikelola dengan baik. Salah satu
faktor yang mempengaruhi keberhasilan program BOS adalah pengelolaan dana dan segala
sumberdaya yang ada dalam program BOS. Pentingnya pengelolaan dana BOS yaitu, dengan
pengelolaan yang baik akan mampu membantu ketercapaian tujuan dari program BOS
dengan efektif dan efisien. Pengelolaan dana BOS yang baik merupakan suatu keberhasilan
sekolah dalam mengelola dana BOS, melalui suatu proses kerjasama yang sistematis mulai
dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasi. Namun dengan adanya kebijakan
dana BOS ini bukan berarti turut berhentinya permasalahan pendidikan di Indonesia, dalam
kenyataan yang terjadi, masih dapat kita temukan berbagai kendala dalam penyaluran dan

realisasi dana BOS. Berbagai masalah muncul terkait dengan adanya berbagai kasus
penyelewengan dana BOS, dan mengenai ketidakefektifan pengelolan dana BOS oleh
pemerintah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, pemakalah megambil beberapa rumusan masalah yang
akan dipersempit pada pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pada jenjang
SD sebagai berikut:
1. Bagaimana manajemen BOS di tingkat sekolah dasar?
2. Apa saja komponen-komponen yang melandasi biaya pendidikan BOS di tingkat
sekolah dasar?
3. Bagaimana pengelolaan dana BOS di tingkat sekolah dasar?
4. Apakah hambatan yang di hadapi dalam pengelolaan BOS di tingkat sekolah dasar?
5. Apakah upaya yang dilakukan sekolah untuk mengatasi hambatan pengelolaan dana
BOS di tingkat sekolah dasar?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan, didapatkan tujuan pembuatan
makalah ini antara lain:
1. Mendeskripsikan manajemen BOS di tingkat sekolah dasar
2. Menjelaskan komponen-komponen yang melandasi biaya pendidikan BOS di tingkat
sekolah dasar
3. Mendeskripsikan pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di tingkat
sekolah dasar
4. Mengetahui hambatan yang di hadapi dalam pengelolaan BOS di tingkat sekolah
dasar
5. Mendeskripsikan upaya yang dilakukan sekolah untuk mengatasi hambatan
pengelolaan dana BOS di tingkat sekolah dasar

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Pembiayaan Pendidikan
Pembiayaan pendidikan menurut Fattah (2000: 112) merupakan jumlah uang yang
dihasilkan dan dibelanjakan untuk berbagai keperluan penyelenggaraan pendidikan yang
mencakup gaji guru, peningkatan professional guru, pengadaan sarana ruang belajar,

perbaikan ruang, pengadaan peralatan, pengadaan alat-alat dan buku pelajaran, alat tulis
kantor (ATK) kegiatan ekstrakulikuler, kegiatan pengelolaan pendidikan, dan supervise
pendidikan.
Mulyono (2010: 75) juga menyatakan bahwa biaya biayaan pendidikan adalah beban
masyarakat dalam perluasan dan fungsi dari sistem pendidikan. Produsen, penjual, dan
konsumen pendidikan menyatukan diri ke dalam satu transakasi ekonomi di bidang
pendidikan. Dari berbagai definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan pengertian
pembiayaan pendidikan secara umum yaitu suatu upaya mengelola anggaran pendapatan
yang diperoleh sekolah di mana digunakan untuk keperluan penyelenggaraan pendidikan
sebagai sarana demi terjaminnya keberlangsungan kegiatan sekolah
B. Sumber Pembiayaan Pendidikan
Pendidikan dengan sedikit dana dapat berlangsung, tetapi pendidikan yang bermutu
membutuhkan dana yang cukup besar. Apabila dukungan pendanaan pendididikan berkurang,
maka mutu pendidikan juga akan berkurang. Dengan demikian, seluruh kegiatan yang ada di
sekolah membutuhkan dana. Kegiatan-kegiatan itu antara lain: intrakurikuler, ektrakurikiler,
dan kegiatan lainnya. Kegiatan intrakurikuler berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar
(KBM) dan evaluasi belajar.
Sekolah Dasar Negeri (SD) pada umumnya memiliki sumber-sumber anggaran
penerimaan, yang terdiri dari pemerintah pusat, pemerintah daerah,masyarakat sekitar, serta
orangtua murid. Sedangkan anggaran dasar pengeluaran adalah jumlah uang yang
dibelanjakan setiap tahun untuk kepentingan pelaksanaan pendidikan di sekolah.
1. Pembiayaan Pendidikan dari Pemerintah Pusat
Menurut Undang-Undang No.22 tahun 1999 tentang otonomi daerah, maka
pengelolaan pendidikan menengah diserahkan kepada pemkab/pemkot. Aliran dana
dari pusat ke daerah dilakukan melalui mekanisme dana perimbangan, khususnya
melalui Dana Alokasi Umum (DAU).
Sekolah mendapat dana subsidi untuk Ujian Nasional (UN), beasiswa baik
beasiswa berprestasi maupun beasiswa untuk kurang mampu. Bantuan untuk murid
didapat dari pemerintah pusat untuk siswa yang secara ekonomi kurang mampu baik
SD negeri maupun swasta. Dana ini merupakan dana kompensasi pengurangan subsidi
bahan bakar minyak (BBM).
Selain itu, sekolah mendapat Bantuan Operasional Sekolah (BOS). BOS
merupakan program pemerintah yang pada dasarnya adalah untuk penyediaan
pendanaan biaya operasi nonpersonalia bagi satuan pendidikan dasar sebagai pelaksana
program wajib belajar 9 tahun. Sasaran program BOS adalah semua sekolah SD dan

SMP, termasuk Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (TKBM) yang diselenggarakan oleh
masyarakat, baik negeri maupun swasta di seluruh provinsi Indonesia.
2. Pembiayaan Pendidikan dari Pemerintah Kabupaten/Kota
Biaya pendidikan dari pemerintah kabupaten/kota yang diterima digunakan untuk
belanja administrasi umum yang terdiri dari: belanja pegawai, belanja barang dan
jasa, dan pemeliharaan. Biaya dari pemkab/pemkot lainnya adalah dana beasiswa
untuk siswa dan dana subsidi untuk penyelenggaraan ujian sekolah dan ujian nasional.
3. Pembiayaan Pendidikan dari Masyarakat
Biaya pendidikan dari masyarakat meliputi: sumbangan orang tua siswa,
sumbangan perusahaan/swasta, dan lainnya. Sumbangan orang tua siswa yang
dimaksud adalah dana yang disumbangkan langsung ke sekolah oleh orang tua siswa
atau dikenal dengan dana komite sekolah. Dana tersebut terdiri atas Sumbangan
Pengembangan Institusi (SPI) dan iuran atau dana Operasional Pendidikan (DOP),
untuk SD swasta masih menggunakan istilah Sumbangan Pembinaan Pendidikan
(SPP).
Pendapatan SD swasta meliputi berbagai iuran, antara lain: iuran perpustakaan,
iuran laboratorium, iuran yang bersifat incidental, seperti iuran saat menjelang
ulangan baik tengah semester, akhir semester, maupun menjelang US dan UN, serta
iuran perpisahan.
4. Pembiayaan Pendidikan dari Swasta
Biaya pendidikan dari swasta yang dimaksud adalah biaya yang disumbangkan
masyarakat (individu, perusahaan, lembaga nonpemerintah, dan lainnya) ke sekolah.
Misalnya, PT Pertamina, Sampoerna Foundation memberi beasiswa bagi anak-anak
berprestasi, dan sponsor lainnya.
C. Latar Belakang Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
Pendidikan merupakan salah satu kunci penanggulangan kemiskinan dalam jangka
menengah dan jangka panjang. Namun, sampai dengan saat ini masih banyak orang miskin
yang memiliki keterbatasan akses untuk memperoleh pendidikan bermutu, hal ini disebabkan
antara lain karena mahalnya biaya pendidikan. Disisi lain, Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara
berusia 7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yang dikenal dengan Program Wajib
Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun. Konsekuensi dari hal tersebut maka pemerintah
wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan
dasar (SD/MI dan SMP/Mts serta satuan pendidikan yang sederajat).
Kenaikan harga BBM beberapa tahun belakangan dikhawatirkan akan menurunkan
kemampuan daya beli penduduk miskin. Hal tersebut dapat menghambat upaya penuntasan

Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, karena penduduk miskin akan
semakin sulit memenuhi kebutuhan biaya pendidikan.
Dalam rangka mengatasi dampak kenaikan harga BBM tersebut Pemerintah
merealokasikan sebagian besar anggarannya ke empat program besar, yaitu program
pendidikan, kesehatan, infrastruktur pedesaan, dan subsidi langsung tunai (SLT).
Salah satu program di bidang pendidikan adalah Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
yang menyediakan bantuan bagi sekolah dengan tujuan membebaskan biaya pendidikan bagi
siswa yang tidak mampu dan meringankan beban bagi siswa yang lain dalam rangka
mendukung pencapaian Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun.
Melalui program ini, pemerintah pusat memberikan dana kepada sekolah-sekolah
setingkat SD dan SMP untuk membantu mengurangi beban biaya pendidikan yang harus
ditanggung oleh orangtua siswa. BOS diberikan kepada sekolah untuk dikelola sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan pemerintah pusat. Besarnya dana untuk tiap sekolah ditetapkan
berdasarkan jumlah murid.
D. Tujuan Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
Secara umum program BOS bertujuan untuk meringankan beban masyarakat terhadap
pembiayaan pendidikan dalam rangka wajib belajar 9 tahun yang bermutu, serta berperan
dalam mempercepat pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) pada sekolah-sekolah
yang belum memenuhi SPM, dan pencapaian Standar Nasional Pendidikan (SNP) pada
sekolah-sekolah yang sudah memenuhi SPM.
Secara khusus program BOS bertujuan untuk:
1. Membebaskan pungutan bagi seluruh peserta didik SD/SDLB negeri dan
SMP/SMPLB/SD-SMP Satap/SMPT negeri terhadap biaya operasi sekolah;
2. Membebaskan pungutan seluruh peserta didik miskin dari seluruh pungutan dalam
bentuk apapun, baik di sekolah negeri maupun swasta;
3. Meringankan beban biaya operasi sekolah bagi peserta didik di sekolah swasta.
E. Sasaran Program dan Besar Bantuan
Sasaran program BOS adalah semua sekolah SD/SDLB, SMP/SMPLB/ SMPT, dan SDSMP Satu Atap (Satap), baik negeri maupun swasta di seluruh provinsi di Indonesia yang
sudah memiliki Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) dan sudah terdata dalam sistem
Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Besar dana BOS yang diterima oleh sekolah dibedakan menjadi dua kelompok sekolah
sebagai berikut.
1. Sekolah dengan jumlah peserta didik minimal 60, baik untuk SD/SDLB maupun
SMP/SMPLB/Satap
BOS yang diterima oleh sekolah, dihitung berdasarkan jumlah peserta didik dengan
ketentuan:
a. SD/SDLB : Rp 800.000,-/peserta didik/tahun

b. SMP/SMPLB/SMPT/Satap : Rp 1.000.000,-/peserta didik/tahun


2. SD/SDLB/SMP/SMPLB/Satap dengan jumlah peserta didik di bawah 60 (sekolah
kecil)
Bagi sekolah setingkat SD dan SMP dengan jumlah peserta didik kurang dari 60 akan
diberikan dana BOS sebanyak 60 peserta didik. Kebijakan ini dimaksudkan agar
sekolah kecil yang berada di daerah terpencil/terisolir atau di daerah tertentu yang
keberadaannya sangat diperlukan masyarakat, tetap dapat menyelenggarakan
pendidikan dengan baik.
Jumlah dana BOS yang diterima sekolah dalam kelompok ini adalah:
a. SD
= 60 x Rp 800.000,-/tahun
= Rp 48.000.000,-/tahun
b. SMP/Satap
= 60 x Rp 1.000.000,-/tahun
= Rp 60.000.000,-/tahun
Khusus untuk Sekolah Luar Biasa (SLB), terdapat kemungkinan yang terjadi di
lapangan:
a. SDLB yang berdiri sendiri tidak menjadi satu dengan SMPLB, dana BOS
yang diterima sebesar = 60 x Rp 800.000,- atau sejumlah Rp
48.000.000,-/tahun.
b. SLB dimana SDLB dan SMPLB menjadi satu pengelolaan, dana BOS yang
diterima sebesar = 60 x Rp 1.000.000,- atau sejumlah Rp 60.000.000,-/tahun.
F. Larangan Penggunaan Dana BOS
Dana BOS yang diterima oleh sekolah tidak boleh digunakan untuk hal-hal berikut:
1. Disimpan dengan maksud dibungakan;
2. Dipinjamkan kepada pihak lain;
3. Membelisoftware/perangkat lunak untuk pelaporan keuangan BOS atau software
sejenis;
4. Membiayai kegiatan yang tidak menjadi prioritas sekolah dan memerlukan biaya
besar, misalnya studi banding, tur studi (karya wisata) dan sejenisnya;
5. Membayar iuran kegiatan yang diselenggarakan oleh UPTD Kecamatan/
Kabupaten/Kota/Provinsi/Pusat, atau pihak lainnya, kecuali untuk menanggung
biaya peserta didik/guru yang ikut serta dalam kegiatan tersebut;
6. Membayar bonus dan transportasi rutin untuk guru;
7. Membeli pakaian/seragam/sepatu bagi guru/peserta didik untuk kepentingan
pribadi (bukan inventaris sekolah), kecuali bagi peserta didik miskin;
8. Digunakan untuk rehabilitasi sedang dan berat;
9. Membangun gedung/ruangan baru;
10. Membeli Lembar Kerja Peserta didik (LKS) dan bahan/peralatan yang tidak
mendukung proses pembelajaran;
11. Menanamkan saham;
12. Membiayai kegiatan yang telah dibiayai dari sumber dana pemerintah pusat atau
pemerintah daerah secara penuh/wajar;

13. Membiayai kegiatan penunjang yang tidak ada kaitannya dengan operasi sekolah,
misalnya membiayai iuran dalam rangka perayaan hari besar nasional dan upacara
keagamaan/acara keagamaan;
14. Membiayai kegiatan dalam rangka mengikuti pelatihan/sosialisasi/ pendampingan
terkait program BOS/perpajakan program BOS yang diselenggarakan lembaga di
luar SKPD Pendidikan Provinsi/ Kabupaten/Kota dan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Manajemen BOS di tingkat Sekolah Dasar (SD)
Dana BOS diterima oleh sekolah secara utuh, dan dikelola secara mandiri oleh sekolah
dengan melibatkan dewan guru dan Komite Sekolah dengan menerapkan Manajemen
Berbasis Sekolah (MBS) sebagai berikut:
1. Sekolah mengelola dana secara profesional, transparan dan akuntabel;
2. Sekolah harus memiliki Rencana Jangka Menengah yang disusun 4 tahunan;
3. Sekolah harus menyusun Rencana Kerja Tahunan (RKT) dalam bentuk Rencana
Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS), dimana dana BOS merupakan bagian
integral dari RKAS tersebut;
4. Rencana Jangka Menengah dan RKAS harus didasarkan hasil evaluasi diri sekolah;
5. Rencana Jangka Menengah dan RKAS harus disetujui dalam rapat dewan pendidik
setelah memperhatikan pertimbangan Komite Sekolah dan disahkan oleh SKPD
Pendidikan Kabupaten/kota (untuk sekolah negeri) atau yayasan (untuk sekolah
swasta).
B. Komponen-komponen yang melandasi biaya pendidikan BOS di tingkat sekolah
Dasar
Penggunaan dana BOS di sekolah harus didasarkan pada kesepakatan dan keputusan
bersama antara Tim Manajemen BOS Sekolah, Dewan Guru dan Komite Sekolah. Hasil
kesepakatan di atas harus dituangkan secara tertulis dalam bentuk berita acara rapat dan
ditandatangani oleh peserta rapat. Kesepakatan penggunaan dana BOS harus didasarkan skala
prioritas kebutuhan sekolah, khususnya untuk membantu mempercepat pemenuhan standar
pelayanan minimal dan/atau standar nasional pendidikan.
Dana BOS yang diterima oleh sekolah, dapat digunakan untuk membiayai komponen
kegiatan-kegiatan berikut:

No

Komponen
Pembiayaan

Item Pembiayaan

Penjelasan

a. Membeli buku teks pelajaran untuk


peserta didik dan pegangan guru,
untuk mengganti yang rusak atau
mencukupi kekurangan jumlah. Dalam
membeli buku, sekolah harus
memastikan peserta didik miskin,
penerima KIP dan yatim mendapatkan
1

Pengembangan
perpustakaan

pinjaman buku teks tersebut.


b. Langganan publikasi berkala
c. Akses informasi online
d. Pemeliharaan buku/ koleksi
perpustakaan
e. Peningkatan kompetensi tenaga
pustakawan
f. Pengembangan database perpustakaan
g. Pemeliharaan perabot perpustakaan
h. Pemeliharaan dan pembelian AC

Kegiatan
dalam rangka
2

penerimaan
peserta didik
baru

a.
b.
c.
d.
e.

perpustakaan
Administrasi pendaftaran
Penggandaan formulir Dapodik
Administrasi pendaftaran
Pendaftaran ulang
Biaya pemasukan, validasi,

Termasuk untuk ATK dan


konsumsi panitia pada saat
proses pendaftaran

pemutakhiran data dan pengiriman


data pokok pendidikan
f. Pembuatan spanduk sekolah bebas
pungutan
g. Penyusunan RKS/ RKAS berdasarkan
hasil evaluasi diri sekolah
h. Dan kegiatan lain yang terkait dengan
penerimaan peserta didik baru

Kegiatan
pembelajaran
dan ekstra
kurikuler
peserta didik

a.
b.
c.
d.
e.
f.

PAKEM (SD)
Termasuk untuk:
Pembelajaran Kontekstual (SMP)
a. Honor jam mengajar
Pengembangan pendidikan karakter
Pembelajaran remedial
tambahan di luar jam
Pemantapan persiapan ujian
pelajaran dan di luar
Olahraga, kesenian, karya ilmiah
kewajiban jam mengajar
remaja, pramuka dan palang merah
dan biaya transportasinya
remaja,

g. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)


(termasuk di SMPT),
h. Pendidikan Lingkungan Hidup
b. Biaya transportasi dan
i. Pembiayaan lomba-lomba yang tidak
akomodasi peserta
dibiayai dari dana pemerintah/pemda
didik/guru dalam rangka
mengikuti lomba,
c. Fotocopy,
d. Membeli alat olah raga,
alat kesenian dan biaya
pendaftaran mengikuti
lomba
a. Ulangan harian,
Termasuk untuk:
b. Ulangan tengah semester,
a. Fotocopy/penggandaan soal
c. Ulangan akhir semester/Ulangan b. Pembuatan laporan

Kegiatan
4

Kenaikan Kelas
d. Ujian sekolah

pelaksanaan hasil ujian


untuk disampaikan ke
orangtua
c. Biaya transport pengawas

Ulangan dan
Ujian

ujian di luar sekolah tempat


mengajar yang tidak
dibiayai oleh
pemerintah/pemda
a. Buku tulis, kapur tulis, pensil, spidol,

Pembelian
5

bahan-bahan
habis pakai

kertas, bahan praktikum, buku induk


peserta didik, buku inventaris
b. Minuman dan makanan ringan untuk
kebutuhan sehari-hari di sekolah
c. Pengadaan suku cadang alat kantor
d. Alat-alat kebersihan sekolah
a. Listrik, air, dan telepon, internet
(fixed/mobile modem) baik dengan

Langganan
daya dan jasa

cara berlangganan maupun prabayar


b. Pembiayaan penggunaan internet
termasuk untuk pemasangan baru
c. Membeli genset atau jenis lainnya

Penggunaan internet dengan


mobile modem dapat
dilakukan untuk maksimal
pembelian voucher sebesar Rp.
250.000/bulan

yang lebih cocok di daerah tertentu


misalnya panel surya, jika di sekolah
7

Perawatan
sekolah/rehab

tidak ada jaringan listrik


a. Pengecatan, perbaikan atap bocor, Kamar mandi dan WC peserta
perbaikan pintu dan jendela

didik harus dijamin berfungsi

ringan dan
sanitasi
sekolah

b. Perbaikan mebeler
dengan baik.
c. Perbaikan sanitasi sekolah (kamar
mandi dan WC) dan saluran air hujan
d. Perbaikan lantai ubin/keramik dan
perawatan fasilitas sekolah lainnya
a. Guru
honorer
(hanya
untuk Batas maksimum dana BOS
memenuhi SPM)
b. Pegawai
administrasi

Pembayaran
honorarium
bulanan guru
8

c.
d.
e.
f.

untuk membayar honor


(termasuk

administrasi BOS untuk SD)


Pegawai perpustakaan
Penjaga Sekolah
Satpam
Pegawai kebersihan

bulanan guru/ tenaga


kependidikan honorer di
sekolah negeri sebesar 15%
dari total dana BOS yang

honorer dan

diterima.
Pengangkatan guru dan tenaga

tenaga

kependidikan honorer harus

kependidikan

memperoleh persetujuan Dinas

honorer.

Pendidikan Kabupaten/Kota
dengan mempertimbangkan
prinsip pemerataan dan
penyebaran guru dan tenaga
a. KKG/MGMP
b. KKKS/MKKS
c. Menghadiri seminar yang terkait
langsung dengan peningkatan mutu
pendidik dan ditugaskan oleh sekolah

kependidikan di kab/kota.
a. Khusus untuk sekolah
yang memperoleh
hibah/block grant
pengembangan
KKG/MGMP atau
sejenisnya pada tahun
anggaran yang sama hanya

Pengembangan

diperbolehkan

profesi guru

menggunakan dana BOS


untuk biaya transport
kegiatan apabila tidak
disediakan oleh
hibah/block grant tersebut.
b. Fotocopy
c. Biaya pendaftaran dan

10

Membantu

a. Membantu peserta didik miskin yang

akomodasi seminar
Jika dilakukan pembelian alat

peserta didik

menghadapi masalah biaya transport

miskin yang

dari dan ke sekolah


b. Membeli alat transportasi sederhana

belum
menerima
bantuan
program lain

transportasi, maka barang


tersebut harus dicatat sebagai
inventaris sekolah.

bagi peserta didik miskin (misalnya


sepeda, perahu penyeberangan, dll)
c. Membantu membeli seragam, sepatu
dan alat tulis.

seperti KIP
a. Alat tulis kantor (ATK termasuk tinta
Pembiayaan
11

printer, CD dan flash disk)


b. Penggandaan, surat-menyurat,

pengelolaan

insentif bagi bendahara dalam rangka

BOS

penyusunan laporan BOS dan biaya


transportasi dalam rangka mengambil
dana BOS di Bank/PT Pos
a. Membeli desktop/ work station
b. Membeli printer atau printer plus
scanner
c. Membeli laptop
d. Membeli proyektor

a. Printer 1 unit/tahun
b. Desktop/worksatation
maksimum 4 unit bagi SD
dan 7 unit bagi SMP untuk
digunakan dalam proses
pembelajaran.
c. Laptop 1 unit

dengan

harga maksimum Rp 6 juta


Pembelian dan
12

perawatan

dan dibeli di toko resmi.


d. Proyektor maksimum 2

perangkat

unit dengan harga tiap unit

komputer

maksimum Rp 5 juta dan


dibeli di toko resmi
e. Proses pengadaan barang
oleh sekolah harus
mengikuti peraturan yang
berlaku
f. Peralatan di atas harus
dicatat sebagai inventaris

13

Biaya lainnya

a. Peralatan pendidikan yang mendukung

jika seluruh

kurikulum 2013
b. Mesin ketik
c. Peralatan UKS

komponen 1

sekolah.
Penggunaan dana untuk
komponen ini harus dilakukan
melalui rapat dengan dewan

s.d 12 telah

d. Pembelian meja dan kursi peserta didik guru dan komite sekolah

terpenuhi

jika meja dan kursi yang ada sudah

pendanaannya

rusak berat

dari BOS
Penggunaan dana BOS di sekolah harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Prioritas utama penggunaan dana BOS adalah untuk kegiatan operasional sekolah;
2. Bagi sekolah yang telah menerima DAK, tidak diperkenankan menggunakan dana
BOS untuk peruntukan yang sama. Sebaliknya jika dana BOS tidak mencukupi untuk
pembelanjaan yang diperbolehkan (13 item pembelanjaan), maka sekolah dapat
mempertimbangkan sumber pendapatan lain yang diterima oleh sekolah, yaitu
pendapatan hibah (misalnya DAK) dan pendapatan sekolah lainnya yang sah dengan
tetap memperhatikan peraturan terkait;
3. Biaya transportasi dan uang lelah guru PNS yang bertugas di luar kewajiban jam
mengajar harus mengikuti batas kewajaran yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah;
4. Bunga Bank/Jasa Giro akibat adanya dana di rekening sekolah menjadi milik sekolah
dan digunakan untuk keperluan sekolah (beradasarkan Surat Edaran Ditjen
Perbendaharaan Nomor: S-5965/PB/2010 tanggal 10 Agustus 2010 perihal
Pemanfaatan Bunga Bank yang berasal dari Dana BOS di rekening Sekolah).
C. Penerapan Pengelolaan dana BOS di tingkat sekolah dasar (SD/MI)
Penerapan pengelolaan dana BOS di tingkat sekolah dasar (SD/MI) dapat tercermin
melalui RABPS SD/MI di luar gaji/tunjangan guru dan karyawan, seperti contoh berikut:

Biaya
Satuan
Komponen

Sub Komponen

Volu
me

per
Tahun
(Rp)

Pengembangan a. Pembelian buku teks


Perpustakaan
b.
c.
d.
e.

pelajaran
Langganan majalah
Langganan internet
Pemeliharaan buku
Peningkatan
Kompetensi Tenaga

pustakawan
f. Pengembangan
database

Biaya Per

Total Biaya

Sub

Per

Kompone

Komponen

n (Rp)

(Rp)

20 buah

5.600.000

5.600.000

4 buah
12 bln
500 bk

240.000
200.000
5.000

960.000
2.400.000
2.500.000

2 org

100.000

200.000

1 unit

200.000

200.000

12.160.000

g. Pemeliharaan perabot
perpustakaan
h. Pemeliharaan AC
a. Administrasi

Kegiatan dalam

pendaftaran
(ATK)
b. Penggandaan formulir
c. Pendaftaran ulang
d. Biaya pemasukan,

rangka

baru

5.000

100.000

2 buah

100.000

200.000

200.000

200.000

150
200.000

30.000
200.000

200.000

200.000

50.000

50.000

200.000

200.000

6 orang
18 kls
18 kls
3 paket
12 bh

30.000
60.000
90.000
100.000
100.000

180.000
1.080.000
1.620.000
300.000
1.200.000

12 bh

100.000

1.200.000

100

2.700.000

100

540.000

100

540.000

100

45.000

10.000

5.400.000

200 bh

validasi, pemuktahiran

penerimaan
peserta didik

20 buah

data dan pengiriman


data pokok pendidikan
e. Pembuatan spanduk
sekolah
f. Penyusunan

g.
Kegiatan
a.
b.
pembelajaran
c.
dan
d.

RKS/RKAS
Konsumsi Panitia
Karton (60lb/kelas)
Spidol (36 bh/kls)
Obat-obatan (UKS)
Bola Voley

1bh

ekstrakurikul
er peserta

e. Bola Sepak

880.000

5.400.000

didik

4.Kegiatan
Ulangan dan
Ujian

5. Pembelian
barang habis
pakai

a. Penggandaan soal

27.000

ulangan harian
b. Penggandaan soal
ulangan tengah
semester
c. Penggandaan soal

lembar

akhir semester
d. Penggandaan soal

lembar
450

Ujian Sekolah
e. Pembuatan laporan

lembar

pelaksanaan hasil ujian


a. Buku tulis, kapur tulis,
pensil, spidol, kertas,
bahan pratikum
b. Minuman dan
makanan
c. Alat-alat kebersihan

5.400
lembar
5.400

540 lap

9.225.000

3.600.000
12 pax

200.000

2.400.000

12 pax

50.000

600.000

12 pax

50.000

600.000

sekolah
a. Pembayaran tagihan
6. Langganan
daya dan jasa

7. Perawatan/r
ehab
sekolah
8.Pembayaran
honorarium
guru tendik
honorer
9.Pengembangan
profesi guru

listrik
b. Pembayaran tagihan air
c. Pembayaran tagihan
telephon
d. Pembayaran tagihan
a.
b.
c.
d.
e.
f.
a.
b.
c.
d.
e.
a.

internet
Ruang Kelas, dll
Toilet
Meja/Kursi siswa
Meja/kursi guru
Komputer/mesin tik
Papan tulis
Guru Honorer
Pegawai administrasi
Penjaga sekolah
Satpam
Pegawai Kebersihan
Transport Seminar
Kepala Sekolah (1

orang)
b. Transport seminar
10. Membantu
peserta didik
miskin
11. Pembiayaan
pengelolaan
BOS
12. Pembelian

guru (3 orang)
a. Transport 3 orang
siswa miskin
b. Membeli seragam,
sepatu dan alat tulis
a. Alat tulis kantor
b. Penggandaan dan surat
menyurat
c. Insentif bendahara
a. Pembelian Printer

dan
perawatan

b. Pembelian laptop

12 kali

400.000

4.800.000

12 kali

100.000

1.200.000

12 kali

100.000

1.200.000

12 kali

250.000

3.000.000

18 ruang
3 buah
200 bh
10 set
1 unit
2x13 bh
3 orang
3 orang
2 orang
2 orang
3 orang

500.000
400.000
5.000
20.000
20.000
3.000.000
2.400.000
1.800.000
1.800.000
1.800.000

9.000.000
1.200.000
2.000.000
200.000
200.000
520.000
9.000.000
7.200.000
3.600.000
3.600.000
5.400.000

20 kali

50.000

1.000.000

10.200.000

15.320.000

28.800.000

2.080.000
12 kali

30.000

1.080.000

300 kali

15.000

4.500.000
5.400.000

3 orang

300.000

900.000

1 paket

200.000

200.000

1 pax

200.000

200.000

4 kali
1 unit
1 unit

100.000
1.000.000

400.000
1.000.000

7.000.000

7.000.000

800.000

8.000.000

perangkat
komputer
TOTAL ALOKASI DANA

101.865.000

D. Hambatan yang di hadapi dalam pengelolaan BOS di tingkat sekolah dasar


Dana bantuan operasional Sekolah (BOS) diperuntukkan bagi setiap sekolah tingkat
dasar di Indonesia dengan tujuan meningkatkan beban biaya pendidikan demi tuntasnya

wajib belajar sembilan tahun yang bermutu. Namun kebijakan Dana BOS bukan berarti
berhentinya

permasalahan

pendidikan,

masalah

baru

muncul

terkait

dengan

penyelewengan dana BOS, dan ketidakefektifan pengelolan dana BOS, tujuan dari
pemerintah sendiri baik, namun terkadang sistem yang ada menjadi bumerang dan
mnghadirkan masalah baru, selain itu pribadi dan budaya manusia Indonesia ikut
berpengaruh terhadap penyelewengan dan ketidakefektifan pengelolaan dana BOS. Oleh
karena itu dibutuhkan kerja sama semua elemen dalam mewujudkan efektifitas
pengelolaan dana BOS.
Mulai pertengahan 2010, kemendiknas mulai menggunakan mekanisme baru
penyaluran dana BOS. Dana BOS tidak lagi langsung ditransfer dari bendahara negara ke
rekening sekolah, tetapi ditransfer ke kas APBD selanjutnya ke rekening sekolah.
Kemendikbud beralasan, mekanisme baru ini bertujuan untuk memberikan
kewenangan lebih besar kepada pemerintah daerah dalam penyaluran dana BOS. Dengan
cara ini, diharapkan pengelolaan menjadi lebih tepat waktu, tepat jumlah, dan tak ada
penyelewengan. Harus diakui, masalah utama dana BOS terletak pada lambatnya
penyaluran dan pengelolaan di tingkat sekolah yang tidak transparan. Selama ini,
keterlambatan transfer terjadi karena berbagai faktor, seperti keterlambatan transfer oleh
pemerintah pusat dan lamanya keluar surat pengantar pencairan dana oleh tim manajer
BOS daerah.
Akibatnya, kepala sekolah harus mencari berbagai sumber pinjaman untuk mengatasi
keterlambatan itu. Bahkan, ada yang meminjam kepada rentenir dengan bunga tinggi.
Untuk menutupi biaya ini, kepsek memanipulasi surat pertanggungjawaban yang wajib
disampaikan setiap triwulan kepada tim manajemen BOS daerah. Ini mudah karena
kuitansi kosong dan stempel toko mudah didapat.
Kepsek memiliki berbagai kuitansi kosong dan stempel dari beragam toko. Kepsek
dan bendahara sekolah dapat menyesuaikan bukti pembayaran sesuai dengan panduan
dana BOS, seakan- akan tidak melanggar prosedur.
Perubahan mekanisme penyaluran dana BOS sesuai dengan mekanisme APBD secara
tidak langsung mengundang keterlibatan birokrasi dan politisi lokal dalam penyaluran
dana BOS. Konsekuensinya, sekolah menanggung biaya politik dan birokrasi.
Sekolah harus rela membayar sejumlah uang muka ataupun pemotongan dana sebagai
syarat pencairan dana BOS. Kepsek dan guru juga harus loyal pada kepentingan politisi
lokal ketika musim pilkada. Dengan demikian, praktik korupsi dana BOS akan semakin
marak karena aktor yang terlibat dalam penyaluran semakin banyak.
Hal tersebut bisa terjadi karena didalam implementasinya, fungsi pengawasan sangat
kurang. Tidak ada partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas dalam proses implementasi
anggaran di semua tingkat penyelenggara, Kemendikbud, dinas pendidikan, maupun

sekolah. Penyebab yang lain misalnya pada tingkat penyelenggara (Sekolah) tidak ada
aturan mengenai mekanisme penyusunan anggaran, warga dan stakeholder tidak memiliki
akses untuk mendapat informasi mengenai anggaran sehingga mereka tidak bisa
melakukan pengawasan. Lembaga pengawasan internal seperti Itjen, Bawasda, Bawasko,
pun tidak mampu menjalankan fungsi. Serta pada tingkat sekolah, semua kebijakan baik
akademis maupun finansial direncanakan dan dikelola kepala sekolah, dan komite
sekolah dibajak oleh kepala sekolah sehingga menjadi kepanjangan tangan kepala
sekolah.
Cara penyelewengan dana BOS yang paling bisa terjadi adalah melalui setoran awal
kepada dinas sebelum dana BOS dicairkan atau didalam sekolah itu sendiri berhubung
sekolah tidak melakukan kewajiban mengumumkan APBS (Anggaran Pendapatan
Belanja Sekolah) pada papan pengumuman sekolah. Selain itu, penyusunan APBS
terutama pengelolaan dana bersumber dari BOS kurang melibatkan partisipasi orang tua
murid. Akhirnya, kebocoran dana BOS di tingkat sekolah tidak dapat dihindari. Serta
dokumen SPJ (Surat Pertanggungjawaban) dana BOS yang kurang atau bahkan tidak
dapat diakses oleh publik apabila ada kebutuhan informasi atau kejanggalan dalam
pengelolaan dana BOS.
E. Upaya yang dilakukan sekolah untuk mengatasi hambatan pengelolaan dana BOS
di tingkat sekolah dasar
Permasalahan yang muncul dalam pengelolaan dana BOS memang sudah banyak
disinyalir di beberapa tempat, namun tentunya juga hal ini tidak bisa digeneralisasikan di
semua tempat dan kondisi penyalahgunaan wewenang tersebut terjadi, namun jika dilihat dari
segi peluang atau kesempatan, banyak sekali peluang yang bisa digunakan oleh oknum untuk
bisa melakukan penyelewengan. Oleh karena itu hal yang paling penting adalah
meminimalisir kesempatan dan peluang supaya tidak bisa terjadi dan tidak ada kesempatan
oknum untuk keluar dari aturan yang sudah berlaku.
Menghapuskan kebijakan pendidikan yang bersubsidi jelas bukan menjadi solusi, karena
memang pada intinya pendidikan adalah kebutuhan primer yang harus terpenuhi, dan juga
Undang-Undang kita telah mengamanatkan untuk memberikan layanan gratis untuk
pendidikan dasar. Oleh karena itu, penghapusan sama sekali kebijakan BOS bukan
merupakan solusi bagi kemelut pengelolaan dana BOS.
Namun, setidaknya ada beberapa langkah yang kemungkinan bisa diambil oleh
pemerintah untuk menanggulangi permasalahan ini diantaranya :
1. Peninjauan Kembali Kebijakan
UUD 1945 menyatakan bahwa pendidkan adalah hak bagi semua warga, terlebih
pendidikan dasar untuk wajib belajar Sembilan tahun menjadi hak utama bagi warga

Negara dan Negara wajib mengusahakan pembiayaannya. Ini menjadi amanat besar
dan latar belakang utama kenapa dana BOS hadir dalam proses pendidikan wajib
belajar 9 tahun. Namun pada kenyataannya tidak semua sekolah dan tidak semua
warga Negara membutuhkan dan harus diberi subsidi untuk pendidikan dasar ini, hal
ini terbukti dengan beberapa sekolah yang tidak menerima dana BOS, tapi tetap
menjual kualitas kepada customernya.
Peninjauan kembali bukan berarti penghapusan program, tapi pembaharuan design
program BOS bisa menjadi solusi. Bisa saja pemerintah mengatur kembali pendanaan
untuk sekolah yang sudah maju secara financial dan juga aturan yang khusus untuk
warga Negara yang sudah tidak layak untuk mendapatkan subsidi.
2. Dana Berkeadilan
Adil bukan berarti sama rata, bisa saja besaran antara yang satu dengan yang
lainnya berbeda, tapi secara teknis dan hakikatnya besaran itu bisa mencukupi serta
bisa digunakan secara efektif dan efisien. Oleh karena itu dana yang berkeadilan
sudah saatnya diberlakukan untuk pengelolaan subsidi pendidikan. Tidak sepantasnya
peserta didik yang orang tuanya mampu secara financial, tapi masuk dan bersekolah
di sekolah yang mendapatkan subsidi dari pemerintah, sehingga disini dibutuhkan
peran serta dari sekolah untuk benar-benar mendata peserta didik yang layak
disubsidi.
Jika dana berkeadilan ini benar-benar diterapkan dalam sistem pengelolaan dana
subsidi pendidikan, bisa saja kedepan orang tua akan beranggapan jika dia tergolong
kedalam warga yang layak mendapatkan subsidi maka dia harus menyekolahkan
anaknya pada sekolah bersubsidi, sedangkan untuk warga yang tidak masuk kedalam
kategori layak subsidi menyekolahkan anaknya ke sekolah yang tidak bersubsidi.
Sehingga konsentrasi dana akan benar-benar terarahkan untuk peningkatan kualitas
pendidikan, dan tidak ada kesenjangangn kualitas antara sekolah yang bersubsidi
dengan sekolah yang tidak bersubsidi. Namun tentunya dana berkeadilan ini
dibutuhkan sifat manusia Indonesia yang baik, tidak mendahulukan ego dalam
3.

bertindak dan sadar akan kepentingan umum atau social.


Pengawasan yang Efektif dan Efisien
Pengawasan merupakan salah satu fungsi manajemen atau administrasi.
Pengawasan merupakan tindakan yang berfungsi untuk memperhatikan kondisi yang
terjadi di lapangan dengan kondisi yang diharapkan dari pembuat kebijakan. Kebijakan
subsidi pendidikan yang tertuang dalam program BOS sudah seharusnya mendapatkan
pengawasan yang baik dari pemerintah, karena ini merupakan program atau kebijakan
pemerintah, sehingga perhatian untuk proses pengawasan pun harus diperhatikan.

Selama ini pengawasan yang terjadi pada pengelolaan dana BOS cukup pada tataran
pelaporan saja, sedangkan implementasi kenyataan di lapangan masih kurang, pihak
pengawas, kantor dinas atau pemerintah, merasa cukup dengan laporan yang ada diatas
kertas saja, padahal jika dilihat di lapangan, belum tentu sesuai dengan apa yang ada
dalam laporan, sehingga disini benar-benar dibutuhkan pengawasan yang efektif dan
efisien untuk menanggulangi penyalahgunaan wewenang dalam penggunaan dana
BOS. Pengawasan melekat dan pengefektifan tenaga pengawasan yang ada bisa jadi
menjadi solusi bagi pengawasan yang efektif.
4. Pendampingan Dari Ahli Yang Kompeten
Tidak sedikit juga sekolah yang melakukan kesalahan dan penyelewengan tidak
dengan sengaja, ada juga faktor ketidaktahuan, atau ketidaksengajaan, sehingga oleh
oknum-oknum

pendidikan

diperdaya

dan

disalahgunakan.

Oleh

karena

itu,

pendampingan dari ahli yang kompeten bisa menjadi solusi untuk masalah ini. Ahli
yang dimaksud bukan hanya professor atau dosen dari ahli keuangan, tapi minimal
orang atau lembaga social yang faham pengelolaan pendidikan, sehingga pemahaman
terhadap pengelolaan pendidikan akan menjadi dasar yang kuat bagi teknis pelaksanaan
pengelolaan dana BOS. Hal ini dikarenakan di sekolah belum ada tenaga professional
yang menangani manajemen sekolah, tenaga yang ada hanyalah lulusan SMA atau
bahkan SMP, sedangkan untuk mengelola dana sebesar ini dibutuhkan beberapa
kompetensi yang utama, disamping tentunya kompetensi manajerial.
BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Pendidikan merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Pendidikan juga memegang
peranan penting dalam pembangunan, sehingga kemajuan pendidikan sangat di butuhkan
bagi satu bangsa yang ingin menu kemajuan. Untuk kemajuan pendidikan , dibutuhkan
konsentrasi yang tinggi berbagai element bangsa terutama pemerintah. Dalam UUD 1945,
dinyatakan bahwa pendidikan merupakan hak bagi setiap warga Negara , dan untuk program
wajib

belajar

pendidikan

dasar,

pemerintah

berkewajiban

untuk

mengupayakan

pendanaannya. Selain itu, perkembangan pendanaan pemerintah melalui APBN mengalami


perkembangan pengurangan subsidi untuk BBM mempengaruhi besaran subsidi untuk bidang
lainnya, begitu juga dengan pendidikan salah satu hasilnya yaitu dengan adanya pendanaan
Bantuan Oprasional Sekolah (BOS) dalam pendidikan.

Penyalahgunaan pengelolan dana BOS banyak di temukan di beberapa daerah, kasus yang
paling sering adalah penggelembungan jumlah siswa, penyalahgunaan dana, dan bahkan data
pelaporan fiktif sering menghiasi surat kabar tentang penyelewengan dana bos. Hal ini bisa
juga di picu oleh sistem yang berjalan, lemahnya pengawasan dan partisipasi publik yang
kurang, sehingga menyebabkan tujuan dari adanya subsidi BOS sendiri menjadi kurang dan
cenderung berkurang kebermanfaatannya. Untuk itu di perlukan tindakan preventif dari setiap
lembaga dan elemen dari bangsa ini, untuk kemajuan dan pengefektifan dana BOS.
B. Saran
1. Bagi guru, diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan kinerja guru dalam
pembelajaran dengan pemanfaatan dana BOS. Sekaligus ikut melaksanakan
pengawasan dan evaluasi pengelolaan keuangan sekolah yang efektif
2. Bagi kepala sekolah perlu mengatur laporan penggunaan dana BOS. Pengaturannya
sesuai dengan ketentuan penggunaan dana dalam petunjuk pelaksanaan.

Perlu

dilaporkan juga kepada orang tua siswa sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas
kepada publik. kepala sekolah perlu melakukan kegiatan: (a) merancang suatu program
sekolah yang ideal untuk mencapai tujuan yang diinginkan pada tahun pelajaran yang
bersangkutan, (b) melakukan peninjauan

ulang atas program awal berdasarkan

kemungkinan tersedianya dana pendukung yang dapat dihimpun

DAFTAR PUSTAKA
BSNP. 2006. Standar Biaya Pendidikan Biaya Operasional SD. Jakarta: BSNP
Mulyono. 2010. Konsep Pembiayaan Pendidikan. Jogjakarta. Ar-Ruzz Media.
Nanang Fattah. 2000. Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan, Rosda Karya, Bandung,
cetakan ke-1 (Diunduh dari www.kabarindonesia.com/beritaprint/ akses
tanggal 14 Oktober 2015)
Sofa.

2008.

Konsep
dan
Analisis
Biaya
Pendidikan
(Diunduh
http://massofa.wordpress.com/2008/01/28/konsep-dan-analisis-biayapendidikan/ akses tanggal 14 Oktober 2015)

dari

Republik Indonesia. 2014. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik


Indonesia Tahun 2014, Nomor 161. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia. Jakarta