Anda di halaman 1dari 32

Exostosis

PEMBIMBING
DR. dr. Indra Zachreini, Sp.THTKL (K)

Shinta Devi
090611058
KEPANITERAAN KLINIK SENIOR
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG
TENGGOROKAN KEPALA LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIMAL
RSUD CUT MEUTIA ACEH UTARA

PENDAHULUAN

Exostosis adalah pertumbuhan berlebihan yang jinak, terlokalisasi,


dan terjadi di perifer dari tulang dan dengan etiologi yang tidak
diketahui. Exostosis ini dapat memiliki bentuk yang nodular, flat, atau
pedunculated protuberence yang berlokasi di tulang rahang.

PENDAHULUAN

Etiologi dari exostosis ini masih


belum diketahui pasti. Beberapa
penelitian menyatakan bahwa ras,
autosomal dominan, dan bahkan
faktor nutrisi memiliki pengaruh
terhadap terjadinya exostosis.

Di rahang, tergantung pada lokasi


anatomik, exostosis disebut sebagai
Torus Palatinus (TP), Torus
Mandibularis (TM), atau Buccal Bone
Exostosis (BBE)

Anatomi

Anatomi

Palatum molle merupakan lipatan yang mudah digerakkan, yang


melekat pada pinggir posterior palatum durum

Defenisi

Exostosis adalah
pertumbuhan tulang
jinak, dari tulang wajah
yang terjadi pada
daerah maxila atau
mandibula dan sering
berlokasi di premolar
dan molar.

Exostosis ini dapat


memiliki bentuk yang
nodular, flat, atau
pedunculated
protuberence yang
berlokasi di tulang
rahang.

Defenisi

Oral tori adalah pertumbuhan tulang yang tunggal atau multipel ,


keras, dan menonjol pada palatum (torus palatinus) atau
mandibula (torus mandibularis). Keadaan ini ditemukan pada
sekitar 20% populasi.

Buccal exostosis terjadi secara bilateral, pertumbuhan tulang


lunak sepanjang bagian wajah dari maxila dan atau mandibula
alveolus. Pada palpasi, exostosis dirasakan sebagai massa yang
keras. Permukaannya ditutupi oleh mukosa yang teregang, namun
tetap intak dan memiliki warna yang normal

Defenisi

. Ulserasi bisa dapat terlihat pada orang yang mengalami exostosis


sebagai akibat dari trauma terhadap mukosa

Exostosis biasanya mulai berkembang selama masa adolesense


dan secara bertahap mulai membesar selama bertahun tahun

Defenisi

Biasanya exostosis ini bersifat self limitting dan tidak menimbulkan


rasa sakit

Ukurannya dapat berkembang sampai beberapa centimeter


sebagai akibat dari penyakit periodontal. Biasanya penyakit ini
tidak memerlukan penanganan, tapi bagi pasien yang mengalami
kondisi yang dapat mempengaruhi kondisi periodontal atau ketika
protuberensia menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan pasien,
atau ketika pembesaran tulang ini menyebabkan pseudo swelling
pada bibir, pembedahan konservatif eksisi dapat dilakukan

Defenisi

Munculnya exostosis dapat


menjadi masalah dalam
kesuksesan pembentukan
struktur gigi yang baik. Jika
ukurannya cukup besar, maka
dapat membuat gangguan
berbicara yang disebabkan
berkurangnya ruang kosong di
mulut sehingga lidah
mengalami keterbatasan untuk
bergerak

Histologi

Secara histologi jaringan yang melapisi exostosis lebih tipis


dibandingkan gingiva yang normal mudah mengalami ulserasi ketika
mengungah makanan yang keras dan tajam

Etiologi

Walaupun penyebab pastinya belum diketahui, disimpulkan bahwa


kemungkinan terjadinya perubahan formasi tulang disebabkan oleh
respons terhadap trauma dan tubuh membentuk tulang tersebut
dengan tujuan memperkuat trabekula tulang sebagai adaptasi
fungsional

Bentuk yang lain dari exostosis telah ditemukan bahwa memiliki


asosiasi dengan riwayat operasi sebelumnya. Exostosis ini biasanya
sering ditemukan pada saat peridonteal diagnosis dan pengobatan

Etiologi

Etiologi pasti dari exostosis belum diketahui, namun dikatakan bahwa


ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan exostosis,

Faktor Genetik

Faktor Lingkungan

Otot mastikasi hiperfungsi

Etiologi

Peran dari nutrisi dalam menimbulkan exostosis telah di review oleh


Eggen et all, dimana konsumsi ikan air asin di Norwaygia
kemungkinan memberikan suplai vitamin D dan asam lemak tak
jenuh , sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan dari tulang dan
dapat menimbulkan exostosis

Epidemiologi

Pada tahun 1972, Laranto mempelajari 145 tengkorak asal meksiko


dan menemukan bahwa 30 % dari tengkorak ini memiliki exostosis
palatal di maksilaris posterior. Exostosis palatal ini diklasifikasikan
sebagai small nodules, large nodules, spikes, sharp ridges, dan
kombinasi dari ketiganya

Nery et al melakukan pemeriksaan terhadap 680 tengkorak dari


beberapa etnis dan menemukan bahwa 40,05 % memiliki exostosis
palatal. Mereka menemukan bahwa prevalensi tertinggi berasal dari
tulang orang Eropa dan Asia, sedangkan prevalensi dari Afrika dan
Amerika 26 %

Epidemiologi

Pada suatu penelitian pada populasi di Amerika Serikat, palatal


exostosis lebih sering ditemukan pada Indian Amerika, eskimo, dan
pada wanita. Mandibula exostosis juga lebih banyak ditemukan pada
orang Eskimo dan Aleuts, tapi dengan prevalensi yang hampir sama
antara pria dan wanita
Pada penelitian klinis yang dilakukan oleh King dan More , dilaporkan
bahwa Afrika Amerika memiliki prevalensi lebih rendah exostosis
mandibula dibandingkan orang Kaukasia

Klasifikasi

Berdasarkan lokasi, exostosis dapat dibagi menjadi :

Torus Mandibula

Torus Palatinus

Multiple Buccal
Exostosis

Klasifikasi

Kriteria berikut digunakan untuk mengklasifikasikan perbedaan


bentuk dari torus

Flat Torus

Lobular Torus

Muncul sebagai protuberensia dengan


sedikit konveks dan dengan permukaan
yang lembut pada tori mandibula. Hal
yang sama berlaku pada tori palatal, tapi
dengan perluasan simetris pada kedua
sisi palatum

Muncul sebagai pedunculated massa


lobular yang dapat muncul dari basis
tunggal. Hal ini berlaku pada tori di kedua
lokasi.

Klasifikasi

Nodular Torus

Spindle Torus

Muncul sebagai multiple protuberensia


yang masing masing dengan individual
basis dan mereka dapat bergabung

Muncul di sepanjang midline untuk


palatal tori dan elongated tori secara
bilateral di mandibula untuk tori
mandibula

Diagnosis

Diagnosis dari buccal exostosis berdasarkan dari gejala klinis dan


pemeriksaan radiologi. Secara klinis, torus dapat muncul sebagai
protuberensia yang berjumlah banyak dengan bentuk bulat atau
kalsifikasi multiple lobulus, dimana exostosis berbentuk tunggal,
massa lebar dan lembut, dapat juga berbentuk tajam. Lesi dapat
secara perlahan lahan membesar sampai berdiamter 3 4 cm,
tapi tanpa memiliki potensi menjadi keganasan

Buccal exostosis biasanya ditemukan hanya pada permukaan wajah


dari tulang alveolar maxillary, terutama di segmen posterior

Diagnosis

Radiografik exostosis tampak sebagai struktur terkalsifikasi dengan


bentuk oval atau bulat

Tampak multiple protuberensia bertulang


di bagian labial mandibula

Tampak gambaran multiple massa


radioopaque di bagian bawah anterior
dari mandibula

Biopsi sebaiknya dilakukan jika terdapat keraguan dalam menegakkan


diagnosis

Pasien yang memiliki exostosis multiple yang tidak berada di lokasi klasik
buccal exostosis, sebaiknya di evaluasi untuk mencurigai apakah ini
merupakan suatu sindrom Gardner.

Tatalaksana

Tidak ada exostosis yang memerlukan penanganan, kecuali jika telah


menimbulkan masalah seperti berukuran besar yang dapat
mengganggu kesehatan peridontial, lokasi gigi, atau menyebabkan
ulserasi traumatik. Ketika pengobatan diberikan , lesi seharusnya
dibuang dari korteks menggunakan bone cutting bur atau instrumen
tangan

Buccal Exostosis dan Tori adalah jaringan jinak, tidak memerlukan


penanganan segera, namun memerlukan observasi secara berkala.
Namun jika tubercle bertahap membesar atau tuberkel yang baru
muncul , dispagia, cavum oral penuh, atau masalah oral hygine dan
menyebabkan masalah, tuberkel harus segera di buang dengan
pembedahan

Teknik Pembedahan

Pada teknik pembedahan untuk exostosis, anastesi digunakan untuk


memblok nervous inferior alveolar, dan kemudian digunakan secara lokal di
papilla untuk mengontrol perdarahan di daerah pembedahan.

Alat bipolar elektronik surgical dapat digunakan di lapangan kerja yang


lembab dan disarankan untuk memberikan spray air selama dilakukan
pemotongan, dimana dapat membuat jaringan terhidrasi dan jaringan flap
nya tidak hangus

Teknik Pembedahan

Eksisi exostosis di daerah mandibula tergolong aman, prosedur yang


predictable dengan minimal post operative sequela. Sebagai alternatif dari
scalpel, bipolar elektrosurgical unit memberikan hasil insisi yang baik dan
tanpa menyebabkan hangus seperti yang terjadi jika memakai monopolar
elektrosurgical unit. Alat bipolar elektronic surgical unit menghasilkan
gradien suhu yang lebih kecil dibandingkan dengan monopolar elektrosurgery
yang membuatnya lebih aman

Teknik Pembedahan

Pembesaran bilateral terlihat di


premolar dan molar

Exostosis dilihat secara bilateral

Teknik Pembedahan

Flap refleksi menampilkan


massa bertulang

Exostosis di angkat

Teknik Pembedahan

Post operasi setelah 10 hari

Terima
Kasih Atas
Perhatianny
a.